Sabtu, 27 Februari 2016

CARAMEL POPPORN STORY


Sixth Bite

Aku menatap Yuta yang terus termenung menatap secarik kertas di tangannya. Ini bukan Yuta. Biasanya kan dia berisik kalau mau makan ramen. Kenapa kali ini dia sangat diam? Aku harus menanyakan sesuatu.

“Ehm.. Yuta.. Bagaimana tadi?”, tanyaku membuat semua pandangan teman-temanku terarah ke Yuta.
“Bagaimana apa?”, ia balik tanya dengan nada lemas.
“Membuat lirik dengan Hayashi-nya..”
“Oh..”

Dia tak menjawab lebih panjang dari ‘oh’. Sialan, anak ini. Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa? Sol lho!

“Hei, kenapa kau tidak menjawab dengan benar?”, aku mendesaknya dengan nada masih kalem.
“Hm..”, ia berdehem menanggapiku.
“Yuta..!”
“Eh? Ya? Kau bicara denganku, Sol?”, kali ini respon Yuta lebih hidup. Apa dia sudah tersadar dari lamunannya?

“Apa yang mengganggu pikiranmu, senpai?”, tanya Jae merebut pertanyaanku. Karena dia manis, jadi kulepaskan.
“Tidak ada..”, elak Yuta melipat kertas itu kemudian menyimpannya di saku.
“Kau seperti orang yang sedang memikirkan hutang saja..”, ujar Johnny lalu menyesap jus melonnya.
“Ya itu juga tidak salah sih.. Kosku sudah nunggak tiga bulan!”, Yuta bercerita bangga.
“Jangan bangga, please.. Kenapa tidak dibayar?”, Ten menimpali dengan posisi tiduran.
“Aku lupa mau bayar..”, jawab Yuta polos.
“Jangan sampai kau diusir darisana.. Aku tidak mau menampungmu di kos-an ku.. Wakatta (mengerti)?”, Taeyong mengancam dengan lirikannya.
“Ehehehehe.. Kau jahat sekali.. Kita ini teman lho.. Masa kau tidak mau berbagi?”, Yuta malah cengengesan tak bisa serius.
“Aku tidak mau membuang tisuku secara sia-sia.. Tisu sekarang mahal!”, jelas Taeyong.

“Tisu? Apa yang kau lakukan dengan tisu Taeyong? Kau bermain origami dengan itu?”, tanyaku heran.
“Tidak juga sih..”, jawab Yuta tak yakin.
“Apa senpai memakainya untuk mengepel?”, Jae terdengar penasaran.
“Mana mungkin..”, bantah Yuta.
“Lalu kau pakai untuk apa? Membersihkan sperma?”, celetuk Johnny santai.

Oh my God. Johnny, tidakkah kamu sadar kalau kita sedang di tempat umum? Kita sedang duduk di salah satu meja kedai ramen ini lho. Kenapa kau harus mengucapkan kalimat itu? Pikirkan imagemu!

“Ya.. Sepertinya sebagian besar untuk itu..”, jangan dijawab serius baka Yuta!!
“Heeeee, sepertinya asyik.. Taeyong, kapan-kapan aku juga mau ke kos-anmu ya!”, pinta Johnny dengan mata bersinar terang penuh harapan.
“Ya.. Nanti kalau aku ada tontonan bagus..”, jawab Taeyong santai.

Astaga, kalian tolong pertimbangkan pembicaraan ini. Disini masih ada dua anak manis di bawah umur. Well, kita juga masih di bawah umur sih. Tapi Ten dan Jae.. Masa kalian mau meracuni dua malaikat anggota band Kaijou?!

“Aku mau ikut juga ya!”, Ten mengembangkan senyum selebar mungkin.
“Kalau ada waktu, izinkan aku ikut juga ya senpai.. Akan kubawakan tisu..”, sambung Jae dengan wajah dihiasi senyum malaikat.
“Hushhhh, jangan ngawur!”, omelku berusaha meredam emosi yang meluap.
“Lho? Sol-senpai tidak mau ikutan juga?”, tanya Ten mengangkat kepalanya dari bantal tangannya.
“Yang benar saja..”, jawabku.
“Yakin Sol tidak mau ikut?”, tanya Johnny.
“Aku tidak mungkin bisa menonton hal begituan ramai-ramai!”, sekarang aku menumpahkan kekesalanku.
“Hooooo, tapi kau tetap nonton kan? Meski sendiri..”, Yuta menyimpulkan hal yang paling konyol.

“Kenapa kita jadi bahas ini sih? Tadi kan aku mau bahas raut wajah Yuta yang sudah tampak seperti kantung plastik kusut!”, aku hendak mengembalikan topik. “Lagipula, Taeyong.. Kau tidak repot kalau mereka semua menyerbu kamar kosmu?”, entah kenapa aku menanyakan hal ini.
“Aku tidak keberatan..”, tuh kan Taeyong menjawab dengan santai.
“Hore!!”, teman-teman, tidak ada yang perlu disoraki.


$$$$$


Aku terus mengamati Haku yang sedang mengerjakan PR di meja belajarnya. Bukan berarti aku tidak ada tugas. Tentu saja ada, banyak malah. Tapi pikiranku terus ke dia. Haku pulang dengan raut wajah seperti itu tadi. Bagaimana aku bisa bepikir tenang? Tanpa kusadari aku mulai memulai kebiasaanku menggigit ujung pena yang kubawa.

“Rin, kau lapar?”, tanya Haku.
“Hm?”, karena tadi sempat bengong aku jadi tidak fokus pada pertanyaannya.
“Kau lapar ya?”, tanya Haku mengulang pertanyaannya.
“Sedikit..”
“Ambil camilan saja di dapur.. Jangan gigiti penamu begitu..”
“Eh?!”

Aku sadar dan hanya bisa memberikan senyum garing untuk Haku.

“Rin, bisa kita bicara sebentar?”, aku menoleh ke arah pintu dan menemukan sosok ayahku disana.
“Ya..”, jawabku lalu beranjak dari kursi.

Jujur saja, ini kali pertama ayahku memanggil namaku selama beberapa bulan terakhir. Ia jarang pulang, jarang di rumah. Kalau di rumah pun kami jarang bicara. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku ragu apakah ayahku tahu berapa umurku?

“Kudengar kau berpacaran dengan Lee Taeyong?”, tanya ayah to the point.
“Ya..”, jawabku santai.
“Putuskan dia..”
“Apa?”
“Kau tak paham? Putuskan dia.. Sekarang, kembali ke kamar dan selesaikan tugasmu..”

Ayah lalu berlalu meninggalkanku mematung di depan kamar begitu saja. Apa? Dia bercanda? Seenak jidat minta aku putus dengan Taeyong! Siapa kau memangnya? Well, dia ayahku. Tapi tidak seperti itu meminta putrimu, yang tidak pernah kau perhatikan, untuk putus dengan kekasihnya. Paling tidak beri alasan yang jelas!
Aku masuk kamar, membanting pintu. Aku kembali duduk mengerjakan tugasku dengan penuh emosi. Aku sadar Haku menatapku heran. Tapi aku sedang tidak mood untuk bicara. Aku takut Haku yang kena amarahku kalau aku berbincang dengannya.

“Rin, bisa bantu aku menjawab pertanyaan ini?”, pinta Haku.

Dia tahu aku tidak akan bisa menolak. Tentu aku bantu meski dengan wajah masam.

“Yang mana?”, tanyaku terdengar ketus. Oh tidak. Aku tidak ingin Haku kena semprotan emosiku!
“Yang ini..”, ia menunjuk nomor sepuluh.

Dengan kesal aku mencorat-coret kertas yang ada di mejaku. Soal yang begitu mudah. Kalau tidak salah ingat, Haku yang mengajarkan pemecahan soal ini. Kenapa sekarang ia malah tanya padaku?

“Kau.. Bukannya sudah tahu sendiri?”, tanyaku.
“Aku tidak tahu kalau Rin tidak cerita..”, jawab Haku.

Ah, anak ini memang bisa saja membuat kesempatan dalam kesempitan. Dia ingin aku cerita. Aku tersenyum entah kenapa.

“Ayah ingin aku putus dengan Taeyong-senpai..”, ujarku masam.
“Keputusanmu apa?”, tanya Haku.
“Tidak mau lah! Tidak akan!”, jawabku.
“Ya sudah, itu yang penting.. Sekarang, tidak perlu dipikirkan lagi bukan?”

Aku kembali tersenyum. Benar kata Haku, yang paling penting adalah keputusanku. Kenapa aku ambil pusing perintah ayah yang sama sekali tidak jelas itu?

“Nakamoto-senpai memperlakukanmu dengan baik kan?”, tanyaku dengan mood terangkat.
“Em, dia sangat baik.. Apa kau mengancamnya lagi?”
“Eh?! T-tentu t-tidaklah.. Ha ha.. Kau ini..”
“Rin.. Ketahuan bohong tuh..”
“Habisnya kalau tidak diancam nanti dia macam-macam! Tadi saja dia punya niatan jelek ke Haku!”, rengekku.
“Apa itu?”
“Memberi kado bra ke Haku..”
“Hahahah.. Benarkah? Nakamoto-san memang penuh kejutan ya..”
“Kejutannya kalau bagus tak apa.. Ini kejutan yang bikin orang ingin menonjoknya!”

“Hahahaha, Rin baik ya.. Terimakasih sudah memperhatikanku..”
“Haku.. Sekarang bukankah tidak adik kalau hanya aku yang cerita?”, ujarku.
“Hm?”
“Apa kau tidak punya hal untuk diceritakan?”
“Tidak ada kok..”
“Kalau begitu aku saja yang minta Haku bercerita sebuah topik..”
“Boleh.. Apa?”
“Tadi kau dibully apa?”

Pertanyaanku menghapus senyum dari wajah Haku. Ia berhenti menulis dan menatapku dengan mata bulat.

“Eemm.. Mereka hanya bilang kalau aku terlalu banyak berlatih ikebana..”, jawab Haku.
“Oh..”

Aku tahu dia bohong. Tak hanya Haku yang tahu kapan aku bohong. Aku pun juga tahu kapan Haku bohong. Tapi aku tidak bisa memaksanya. Kalau Haku tidak ingin memikirkan masalah itu, aku tak akan menggalinya. Lagipula aku tidak akan meremehkan Haku. Dan aku sendiri bisa mencari informasi yang kubutuhkan. Tak terkecuali informasi tentang pembullyan Hayashi Hakuro.


$$$$$


Keesokan harinya, Hakuro berjalan menuju loker sepatunya. Disana ia akan mengganti sepatu luar menjadi sepatu dalam ruangan. Baru saja membuka lemari loker, surat-surat teror berhamburan jatuh ke lantai. Tak perlu diambil dan dibaca satu-satu, sudah tampak jelas kalau tulisannya adalah..

‘bodoh!’ ‘tidak tahu diri!’ ‘mati mati mati kau!’ ‘jauhi Yuta-kun kami!’ ‘menjijikan!’

Ia menghela nafas berat. Pagi yang cerah begini kenapa situasi tidak mendukung?

“Ohayou, Hayashi!”, sapa Yuta melewati loker sepatu kelas 2-A.

Cepat-cepat Hakuro menutup lemari lokernya agar Yuta tak melihat surat-surat itu.

“Oh.. Ohayou gozaimasu, Nakamoto-san..”, balas Hakuro.
“Pulang sekolah nanti, kau mau kan menemaniku menyusun lirik? Aku masih kesulitan di bait kedua..”
“Ya.. Nakamoto-san, aku ke kelas dulu ya..”
“Hai hai~ Belajar yang rajin ya!”, Yuta melihat Hakuro sudah berjalan menjauh.

Kini tatapan Yuta langsung terarah pada secarik kertas yang terjepit di pintu loker Hakuro. Dengan wajah datar Yuta mencabut kertas itu.

‘bodoh, jelek, mati saja sana! Jangan dekat-dekat Yuta-senpai!’


$$$$$


Johnny berjalan-jalan santai tak ada niatan untuk masuk ke kelasnya. Padahal sebentar lagi kelas akan dimulai. Pelajaran pertama itu membosankan. Hawa pagi masih melekat, jadi malas untuk fokus.

“Itu kan....”, Johnny menajamkan pandangannya.

Ia tak yakin dengan yang ia lihat. Bukankah itu Hakuro? Sedang apa dia di tempat sampah? Johnny tak kuasa menahan rasa penasaran, ia langsung menghampiri Hakuro.

“Oi, nani surunda (apa yang kau lakukan)?”, tanya Johnny dengan dua tangan masuk saku.
“J-johnny-senpai.. Aku sedang buang sampah..”, jawab Hakuro.
“Dari ujung kaki sampai kepala semua orang juga tahu kalau kau sedang mengosak-asik sampah, Hayashi..”

Hakuro terdiam menundukkan kepalanya sambil membenarkan letak kacamatanya. Johnny menghela nafas lalu berjalan mendekat.

“Apa yang sedang kau cari?”, tanya Johnny membuka-buka tutup sampah.
“Eh! I-itu.. Tidak penting kok.. Bukan barang penting..”, jawab Hakuro sungkan jika Johnny harus ikut kotor.
“Ayolah bantu aku.. Aku mau cari alasan untuk keluar kelas.. Jadi biarkan aku membantumu mencari benda yang tidak penting tapi tetap kau cari sampai ke tempat sampah ini..”
“Eh?”
“Ayo katakan.. Akan kubantu mencari..”

Hakuro kembali membenarkan letak kacamatanya.

“I-itu.. Aku sedang cari.. Sepatu olahragaku..”

Johnny hening. Ia menatap Hakuro tanpa ekspresi. Anak ini bilang apa? Sapu tangan? Sapu kelas?

“Kau tidak bercanda kan?”, tanya Johnny.
“Aku yakin sepatu olahragaku kusimpan di dalam tas.. Aku ke kamar mandi sebentar sebelum pelajaran dimulai, setelah kembali... Sepatuku sudah tidak ada..”
“Lalu kenapa kau cari di tempat sampah? Mungkin teman-temanmu menjailimu.. Mungkin di lemari belakang kelas..”
“Karena aku tahu teman-teman menjailiku, makanya aku cari disini..”, jawab Hakuro masih menundukkan kepala.

Johnny tak bertanya lebih lanjut. Tapi ia masih menatap Hakuro.

“Okay! Kita mulai investigasinya! Hayashi, kau cuci tangan dan bersihkan diri saja.. Masuklah ke kelas.. Akan kucarikan sampai ketemu..”, ujar Johnny melakukan peregangan.
“T-tapi, senpai..”
“Pelajaran olahraga jam ke berapa?”
“Ke-ketiga.. Tapi senpai tidak perlu melakukan ini! Aku akan cari sendiri..”
“Mana bisa.. Kau adalah murid teladan, masa mau ikut membolos sepertiku? Sudah cepat bergegas! Hap hap hap!”, Johnny menepuk tangannya agar Hakuro cepat beranjak.

“Johnny-senpai..”
“Akan kukirimkan sebelum pelajaran olahraga dimulai! Serahkan padaku! Cepat masuk! Atau kau ingin kucium dulu sebelum ke kelas?”
“Eh tidak!!”, Hakuro langsung berlari meninggalkan Johnny.

“Heeee.. Apa dia sejijik itu denganku? Sampai kucium saja takutnya setengah mati.. Ckckckck..”, Johnny kembali menggali sampah.


$$$$$


Ten berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan earphone menancap di telinganya. Awalnya sih mau kembali ke kelas, tapi setelah lihat suasana kelas yang ramai.. bolos saja sepertinya enak. Lagipula hari ini tidak ada yang penting. Paling hanya berdiskus tak jelas.

“Nananana, hm? Itu Johnny-senpai bukan?”, Ten melepas satu earphonenya.
“Astaga.. Orang itu tidak dapat sarapan dari ibunya apa? Kenapa cari makan di sampah?”, gumam Ten geleng-geleng kasihan.

Meski kelihatannya Ten kembali berjalan dengan cuek, sebenarnya ia menghampiri Johnny.

“Oi, senpai!”, Ten menepuk punggung Johnny.
“He!! Ah, hanya Ten..”, respon Johnny awalnya kaget.
“Apa maksudmu hanya Ten?”, pria itu tak terima.
“Kupikir kau guru atau siapa..”

“Sedang apa sih? Kau cari makan? Memang kau gelandangan? Kau dihukum ibumu karena mengompol ya?!”, Ten asyik bermain dengan imajinasinya.
“Daripada kau tidak ada kerjaan dan sibuk menghinaku, lebih baik bantu aku saja..”, ujar Johnny meremas pundak Ten dengan sulas senyum.
“A-aduh.. Aduh duh, senpai.. Iya iya, kubantu..! Aku bolos kok..”, jawab Ten jujur.
“Bagus.. Eh! Tidak bagus! Kenapa kau bolos?!”, Johnny berkacak pinggang.
“Membosankan sekali hari ini.. Daripada aku menyakiti hati sensei dengan tidur di kelas, lebih baik aku bolos kan?”
“Pintar.. Sekarang bantu aku cari sepatu olahraganya Hayashi..”

“Hah??”

“Sepatu olahraganya Hayashi dibuang.. Candaan teman-teman sekelasnya berlebihan sekali.. Ckckck.. Ayo bantu cari sebelum jam ketiga dimulai..”
“Hai hai..”

Ten ikut mengulurkan tangannya mencari sepatu. Ketika sedang mencari,

“Kenapa Johnny-senpai membantu Hayashi?”, tanya Ten meski tak ada angin lewat.
“Aku mau bolos.. Ini alibiku..”, jawab Johnny.
“Oh..”
“Kau sendiri kenapa mau membantuku?”
“Bukankah tadi kau memaksaku?”
“Oh iya..”

Mereka kembali hening. Hanya terdengar suara kantung plastik yang terdengar.

“Bohong kok..”, Johnny memecah hening. “Aku tahu kenapa Hayashi diperlakukan seperti ini..”, lanjutnya menatap Ten.
“Oh.. Senpai sudah tahu juga rupanya..”, sahut Ten.
“Kau juga tahu? Tentang surat-surat itu?”
“Tentu saja.. Yuta-senpai kan orang yang heboh.. Tadi pagi dia menangis merengek di ruang band.. Katanya dia tidak ingin dijauhi Hayashi hanya karena fansnya.. Ia juga tak ingin menjauhi Hayashi..”, jelas Ten.
“Hahaha, Yuta memang polos ya..”

“Ngomong-ngomong, senpai.. Bagaimana kalau ternyata sepatunya tidak dibuang di tempat sampah?”, tanya Ten.
“Maksudmu?”
“Kalau aku jadi pembully, aku tidak akan membuang benda orang ke tempat yang bsai ia jangkau dengan mudah..”
“Lalu menurutmu dimana?”
“Selokan..”

Johnny dan Ten berjalan mendekati selokan sekolah. Bukan selokan kecil yang ada di pinggir gedung, ini selokan utama yang mengalirkan air ke sungai kota. Mereka saling menatap lalu melakukan tos keberhasilan secara singkat.
Sepatu itu ada disana. Terjaring jeruji selokan bersama beberapa daun dan sampah.

“Jangan-jangan kau pembullynya!”, kata Johnny mundur selangkah.
“Enak saja.. Aku anak yang berpikir kritis!”, bela Ten.

Johnny hanya tepuk tangan dan mengacungkan jempol bangga. Ia bangga punya adik kelas yang bisa diandalkan.

“Kita perlu lapor ke Yuta? Atau Takamura mungkin?”, ujar Johnny.
“Takamura adalah pilihan yang lebih baik daripada Yuta-senpai..”, jawab Ten mendapat anggukan setuju dari Johnny.


$$$$$


“Begitulah Takamura..”, Johnny mengakhiri laporannya.
“Jadi kalian membolos kelas pagi?”, tanya Takamura dengan tatapan menuduh.
“Hei, bukan itu yang kami bahas sekarang!”, sahut Ten.
“Kalian ini.. Membolos tetap membolos.. Apapun alasannya.. Sekalipun membantu Haku, kalian tetap saja melanggar aturan..”, oceh Rin.

“Hah.. Kurasa lapor Takamura tidak lebih baik dari Yuta-senpai..”, bisik Ten.
“Kau benar..”, jawab Johnny.

“Aku bisa dengar kalian lho..”

Setelah mengirim Johnny dan Ten ke kelas polisi, Rin menghela nafas. Kenapa Johnny dan Ten? Kenapa bukan dia? Kenapa Haku tidak datang dan meminta bantuannya? Apapun jawabannya, Rin sangat berterimakasih pada dua laki-laki itu. Paling tidak Haku bisa ikut pelajaran olahraga.

“Hei hei, nona..”, panggil Taeyong menarik pergelangan tangan seragam Rin.
“Taeyong-senpai!”
“Sedang melamunkan apa?”, tanya Taeyong kemudian berjalan di samping Rin.
“Ya, biasa.. Masalah Kaijou..”, jawab Rin melipat tangan.
“Oh ya? Tidak biasanya kau memikirkan Kaijou dengan ekspresi begitu..”
“Ekspresi begitu maksudmu?”

Taeyong berdiri di depan Rin menghentikan langkah gadis tersebut. Ia mengamati wajah polos penuh keheranan yang dipasang Rin sekarang. Taeyong lalu tersenyum.

“Kalau sedang memikirkan Kaijou, Rin akan menopang dagunya.. Kalau sedang memikirkan Haku... Pft! Keningmu akan berkerut seperti nenek-nenek..!”
“Hah?? Yang benar saja!”
“Lho? Salah?”, tanya Taeyong datar.
“Ya tidak juga sih..”, jawab Rin ragu.
“Hah, pacarku ini memang berhati mulia ya.. Aku senang..”, ucap Taeyong kembali berjalan.

Rin tersenyum melihat Taeyong dari belakang. Ia lalu memegang keningnya. Apa benar kalau sedang berpikir keningnya akan berkerut? Auh, memalukan.

“Eh sudah dengar?”, Taeyong menepuk pundak Rin.
“Tentang?”
“Rumor tetang Rin.. Akhir-akhir ini menyebar begitu cepat dan sedang heboh lho..”
“Lalu?”
“Kau tidak mau memberantasnya?”
“Untuk apa? Merepotkan sekali.. Lagipula rumor-rumor seperti itu tidak bisa mematahkan fakta kalau aku ada di atas mereka sebagai ketua OSIS Kaijou..”

Taeyong tersenyum lalu menepuk kepala Rin dengan lembut. Gadis itu menoleh menatap Taeyong.

“Bagus.. Itu baru Rin..”


$$$$$


Yuta berjalan tidak bersemangat menyusuri koridor menuju ke kantin. Tidak bersemangatnya Yuta dapat dilihat dari caranya menatap orang. Saat ini dlaporkan sudah ada sepuluh orang terkejut sampai menempel ke tembok, lima orang berhenti berjalan dan membungkukkan badan, tujuh orang berdoa untuk mengusir ketakutan.
Dengan kata lain, Yuta menyeramkan.
Kedua tangan masuk saku, seragam yang dipakai sembarangan, alis menyatu, tatapan menusuk, wajah kesal. Semua ini gambaran Yuta yang tidak bersemangat.

“Hai, senpai..”, sapa Jae datang dengan senyum bagaikan sinar matahari.
“Hm..”, jawab Yuta tak peduli dengan silaunya wajah Jae.
“Kau sakit? Kenapa lesu begitu?”

Jae memang paling perhatian. Meski wajah Yuta sudah mengerikan begitu, dia tetap tahu kalau Yuta lesu. Jae, you are the real MVP.

“Ck.. Aku malas bicara..”, kata Yuta mengantri mengambil jatah makan siang.
“Kalau begitu nanti?”, Jae ikut mengantri.

Yuta mengedikkan bahunya kilas.

“Arara, ini wajah kenapa seperti piring pecah? Ikin kaget saja..”, celetuk bibi, er, paman Yaotome Hikaru. Penjaga kantin.
“Tadi dia habis jatuh, bi.. Makanya pecah..”, jelas Jae sibuk memilih lauk makan siangnya.
“Ck..”, Yuta cuma berdecak.

Seperti biasa, kantin begitu ramai di jam istirahat. Untung saja, Sol sudah menyiapkan satu meja kosong untuk anggota band duduk. Oh, bukan. Meja itu disiapkan oleh para fans band Kaijou. Sol yang datang pertama kemudian duduk disana.

“Jae, Yuta..! Sini..!”, panggil Sol melambaikan tangan.
“Oh, Sol-senpai!”, jawab Jae lalu menarik lengan Yuta yang sedang menghitung lantai.
“Kalian hanya berdua? Mana Johnny dan Ten?”, tanya Sol.
“Aku tidak meliaht mereka.. Entahlah..”, jawab Jae lalu menatpa Yuta.
“Hah.. Aku juga tidak tahu..”, jawab Yuta.

“Sudahlah, Yuta.. Tidak usah kepikiran begitu.. Hayashi juga belum tentu menghindarimu kan?”, ujar Sol.
“Hm..”, jawab Yuta.
“Ck, hish! Coba lihat kelabilan anak ini, Jae.. Bikin emosi..”, gerutu Sol.
“Hahaha, kalau ini masalah Hayashi-senpai.. Kenapa kau tak langsung menemuinya?”, tanya Jae.
“Hm..”, jawab Yuta.
“Kau tahu kan? Untuk memastikan apakah dia benar terganggu dengan teror-teror dari para fansmu..”
“Hm..”
“Kau bisa minta bantuannya lagi untuk membuat lirik yang belum selesai atau apalah.. Gunakan ide gilamu itu, senpai.. Seperti biasanya..”

“Jae.. Tidak ada gunanya.. Kau hanya bicara sendiri..”, ucap Sol.

Tak lama kemudian, suara-suara yang sangat akrab di telinga Yuta, Sol, dan Jae terdengar. Ya, suara Johnny dan Ten.

“Permisi permisi.. Air panas mau lewat~”, kata Johnny memakai apron sambil berlari-lari membawa panci.
“Heh! Jangan tinggalkan sampahmu! Buang di tempat sampah sana!”, omel Ten pada seorang siswa.

“Ah, mereka dihukum ternyata..”, gumam Sol.
“Johnny-senpai dan Ten-senpai cocok sekali pakai apron ya.. Seperti ibuku saja..”, timpal Jae.
“Astaga Jae, kau tidak menyesal menyamakan ibumu dengan dua makhluk dari Amazon itu?”
“Lho? Bukankah mereka kelihatan imut dengan apron?”
“Jijik!”

Pada saat itu, Rin dan Taeyong juga sampai di kantin. Mereka langsung ke counter makanan untuk mengambil makan siang. Dan tara~ Yang melayani adalah Johnny.

“Selamat siang! Dengan saya Johnny melayani siang anda, mau makan apa?”, tanya Johnny (berapron) sangat bersemangat melayani orang makan.
“Jo-johnny.......?”, gumam Taeyong merasa.. mual tiba-tiba.
“Ayo tuan, cepat tentukan pilihanmu.. Jangan buat antrian panjang..”
“Aku ambil set A.. Taeyong-senpai yang apa?”, tanya Rin.
“Set B saja..”
“Satu set A dan satu set B akan segera datang!”, Johnny mengambilkan pesanan Ri ndan Taeyong dengan lincah.

Apa Johnny pernah jadi pelayan di restoran? Kok dia kelihatan senang sekali? Atau jangan-jangan keluarga Johnny itu chef? Ah, tapi Johnny cocok juga pakai apron berenda milik paman, ee, bibi Yaotome. Semua itu adalah pikiran Taeyong. Ia mengamati Johnny dari ujung kaki sampai kepala.

“Kau jatuh cinta pada Johnny-senpai?”, tanya Rin yang sedari tadi mengamati Taeyong.
“Aku hanya suka apronnya..”, jawab Taeyong.
“Hentikan tatapan itu, Taeyong-senpai.. Kau bisa dirumorkan homo..”
“Eh? Mana mungkin.. Aku sedang membayangkan Rin pakai apron..”
“Ha? Aku?”
“Iya.. Pasti akan sangat cocok! Rin, pakai apron ya!”, Taeyong menatap Rin dengan mata bersinar penuh harapan.
“Tidak! Tidak mau..!”, tolak Rin tegas.

“Yah... Kenapa?”
“Tidak mau saja..”
“Bukankah di festiva budaya nanti kau akan tetap pakai apron?”
“Eh? T-tidak! Siapa bilang?”
“Katanya kelas OSIS mau buka kafe kucing kan?”
“Darimana tahu rahasia OSIS?!”
“Lho? Rin belum tahu? Aku kan stalker sejatinya Rin..”, jawab Taeyong penuh kebanggaan.
“-_-“

“Silakan pesanan kalian..”, Johnny memecah pembicaraan Taeyong dan Rin yang semakin ngelantur. Untung ada Johnny yang menyelamatkan pembicaraan tidak berguna mereka. Hm.

Tak berselang lama, muncul Hakuro memasuki area kantin. Seperti biasa, memeluk buku, membenarkan letak kacamata. Kepala tertunduk, langkah melayang. Tidak mantap maksudnya.

“Hei, yang disana! Jangan lupa angkat sampah kalian juga! Hati-hati bawanya, jatuh semua tuh!”, Ten sibuk mengomel. Ya dia harus mengomel, dia kebagian tugas kebersihan kantin hari ini.

‘Bruk!’

“Ah!”
“Eh? Hayashi? Kenapa duduk disana?”, tanya Ten tak sadar kalau dia barusaja mendorong Hakuro dengan pantatnya yang bagus.
“Em.. T-tidak tahu..”, jawab Hakuro seadanya.
“Kau ini amnesia apa? Masa tidak tahu? Ayo berdiri..”, Ten mengulurkan tangan lalu membungkuk untuk mengambil buku dan beberapa kertas yang berserakan di lantai mengkilap (hasil kerja Ten).
“Ehh, tidak perlu diambil.. Aku bisa sendiri..”, ujar Hakuro cepat-cepat memberesi bawaannya.
“Semua yang jatuh disini adalah tanggungjawabku hari ini.. Nih, silakan..”
“A-arigatou..”

“Tokorode, kenapa kau membawa surat-surat teror itu?”, tanya Ten bersandar pada tongkat pelnya.
“Eh?! T-tidak kok..”, jawab Hakuro panik mengeratkan pelukan pada buku yang ia bawa.
“Aku yang memberesi barangmu.. Jadi aku tahu apa yang ada di dalam buku itu..”
“Itu... Em..”
“Kalau mau dibakar atau diguna-guna, ajak aku ya! Akan kubantu..”
“Apa? I-itu tidak mungkin..”
“Hahaha.. Aku bercanda.. Tapi bagian aku akan membantumu itu tidak..”
“Eh?”
“Aku akan membantu Hayashi.. Tenang saja..”, ujar Ten menepuk pundak Hayashi.

Hakuro menatap senyum Ten yang begitu manis di matanya. Tangannya yang kelihatan kasar ternyata sangat ringan dan lembut. Suaranya yang tinggi dan terdengar galak itu ternyata sangat indah. Hakuro hanya bisa tersenyum tipis sambil menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah.

“A-ariga-“

Belum selesai Hakuro menikmati debaran di jantungnya, seseorang muncul menyambar tangannya untuk pergi dari hadapan Ten.

“Na-nakamoto-san!”

Yuta tak menajwab apa-apa. Dia juga tak menoleh. Pokoknya bawa pergi Hakuro dulu. Itu yang penting.

“Hah.. Akhirnya bertindak..”, ujar Ten menyamankan kepalanya di ujung tongkat sapu.
“Nice, Ten!”, kata Johnny mengacungkan jempol.


$$$$$


Aku mengikuti kemana langkah kakiku pergi. Tanganku dengan erat menggenggam tangan Hayashi yang terasa kecil. Jujur saja, aku tak tahu mau sampai kapan aku menariknya menjauh dari kantin. Jujur juga, aku merasa malu kalau tiba-tiba berhenti dan berbalik menatapnya.
Intinya, sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa! Aku seperti mobil dengan rem yang blong! Oh shit.

“N-nakamoto-san..”, Hayashi mencoba untuk memanggilku agar berhenti menariknya.

Tapi aku diam saja. Aku masih memikirkan, sebenarnya apa yang kulakukan?! Kenapa aku menariknya menjauh darisana?! Melihat Hayashi diperlakukan begitu manis oleh Ten membuat tubuhku panas. Hah, kemudian saat aku sadar, aku sudah menarik Hayashi dan terjebak dalam keadaan ini.

“Nakamoto-san.. Kau mau mengajakku kemana?”, tany Hayashi mengikuti langkah kakiku yang cepat.

Aku tidak tahu. Itu adalah jawabanku. Masa aku harus menjawabnya begitu? Memalukan sekali.

“Nakamoto-san.. Kau menyakiti tanganku..”, akhirnya Hayashi membuatku sadar kalau aku terlalu emosi sampai menyakitinya.

Aku berhenti melangkah dan melonggarkan peganganku. Bagus. Ini adalah taman depan sekolah. Disini tiba-tiba aku berhenti dan melepas genggamanku padanya. Sekarang apa?

“Nakamoto-san, daijoubu desuka?”, aku tak berani melihat kearah Hayashi.

Dari suaranya sih sepertinya dia takut padaku. Ya iyalah, orang mana tidak cemas dan takut kalau tiba-tiba dibawa pergi begitu? Mana sekarang aku masih belum dapat alasan yang bagus karena telah menariknya begitu pula! Ah, aku hanya bisa menundukkan kepala dalam diam.

“Naka-“
“Gomen..”, selaku kemudian membalik badan tapi menghindari tatapan matanya.
“Gomen?”, ia ragu mendengar permintaan maafku.
“Aku menarikmu seenaknya begitu.. Kau pasti takut.. Maaf sudah membuatmu takut, Hayashi..”, jelasku.
“Iie (tidak).. Aku tidak takut pada Nakamoto-san karena ini.. Aku justru mencemaskanmu..”, jawabnya dengan seulas senyum.
“Eh? Mencemaskanku?”
“Un.. Saat menggenggam tanganku, tanganmu gemetaran.. Apa terjadi sesuatu?”
“Eh?! Anu, itu... Eee..”

Aku memutar otak. Gemetaran? Kenapa aku harus gemetaran? Aku tidak sadar dengan tubuhku sendiri. Hah. Kenapa sih aku ini?

“M-mungkin karena.. Ee..”
“Karena?”
“Karena... Aku... Eee..”

Hayashi masih menunggu kelanjutan kalimatku. Oh tidak. Apa yang akan kukatakan?!

“Karena aku.. Berdebar.. Saat melihat dadamu!”

‘Zrassshhh’, desir angin yang menerpa pepohonan.

“Nakamoto-san... Hentai (mesum)!!!!!!”, teriak Hakuro sambil menendang....

Anuku.
Ah sakitnya... Serasa naik ke angkasa.

Baibai, kehidupan.


$$$$$


Aku melihat kekocakan lain dari seorang Yuta. Anak ini kapan dewasanya sih? Kapan dia bisa jujur pada diri dan perasaannya? Hahaha, selalu saja berakhir mengenaskan.

“Taeyong-senpai puas sekali tertawanya..”, celetuk Rin yang sedang menyantap saladnya.
“Yuta memang kurang vitamin A.. Dia bodoh sekali tuh..”, jawabku membuat Rin menyatukan alis heran.
“Vitamin A itu untuk mata.. Bukan otak!”, katanya.
“Oh ya? Wah, Rin pintar ya!”, ujarku terpana.
“Hish, dasar.. Lagipula Nakamoto-senpai itu sudah kelebihan vitamin A! Sampai bisa melihat dada bagus wanita dimanapun ia berada.. Ckckck..”
“Hmmm, sou?”

“Ngomong-ngomong, kenapa kau sangat penasaran dengan Nakamoto-senpai sih? Hampir setiap saat kau mengamati tingkahnya begitu..”
“Hhmm, kenapa ya?”, aku balik tanya dengan nada nakal.
“Aku tidak tahu, makanya tanya..”, jawab Rin datar.
“Anggap saja aku suka dia..”
“Eh?!!”

Rin tampak sangat terkejut. Apa aku salah bicara? Oh, shit benar juga.

“B-bukan suka dalam arti yang spesial!! Aku suka dia sebagai teman.. Sahabat, Rin!”, benahku cepat.
“Sesaat kupikir aku berpacaran dengan gay..”
“Eih..”, cibirku sambil mengetuk dahi Rin menggunakan sumpit.
“Aduh!”, rintihnya cemberut.

Aku hanya tertawa. Tentu saja tertawa manis. Tidak mungkin aku tertawa terpingkal-pingkal disini. Jangan samakan aku dengan Yuta. Aku masih bisa mengontrol diri dengan baik kok.

“Sepulang sekolah nanti kau ada latihan kan?”, tanya Rin.
“Ya..”
“Aku titip Haku deh kalau begitu..”
“Tidak masalah.. Satu jam sepuluh ribu yen..”, jawabku santai.
“Kemahalan!”, protesnya kesal.
“Hahaha, lho? Jadi Hayashi tidak berharga untukmu? Apa berarti Hayashi harganya murah?”, aku terus menggoda Rin.
“Hayashi itu tidak dijual! Tidak ada harganya! Jadi gratis..”
“Enak saja.. aku juga butuh pemasukan untuk beli tisu ekstra bulan ini..”
“Hah??”

Oh sial. Aku kelepasan. Aku menelan ludah berat lalu menatpa Rin yang terus menatapku penuh selidik. Apa aku mengaku saja? Tapi nanti kamar kosku bisa diobrak-abrik olehnya!

“Kenapa beli tisu ekstra? Untuk apa?”, tuh kan dia mulai menyelidik.

Aku memang mencurigakan sih tapi. Bukan salah Rin juga. Hah.

“Itu.. Sebenarnya.. Akhir pekan nanti.. Aku ada janji.. Janji, itu.. Ee..”, aku berusaha mencari kata yang tepat agar ia tak salah paham.
“Janji apa? Dengan siapa?”, Rin sudah tak sabar.
“Janji nonton.. Ee.. Bersama... Anggota klub band..”, lirihku kemudian nyengir kuda.

Rin tak memberikan respon. Ini tanda yang buruk. Rin tanpa respon itu sama dengan bunga pemakan serangga. Tiba-tiba menutup begitu saja. Ajalku sudah dekat. Selamat tinggal, simpanan file porno. Sepuluh ribu tahun aku tetap cinta kalian.

“Aku ikut ya?”

Hah????????????????


$$$$$


Pulang sekolah. Kaijou termasuk sekolah besar yang memiliki murid-murid aktif. Meski sudah saatnya pulang, mereka masih saja asyik beraktivitas di area sekolah. Melakukan kesibukan masing-masing.

“Wah, Yuta hebat! Sudah buat liriknya ya? Cepat sekali..”, puji Ten menerima selembar kertas dari Yuta.
“Teman-teman.. Aku punya pengakuan..”, ujar Yuta setelah menyamankan pantat di sofa.
“Apa?”, tanya Johnny menyumpit semangka yang dibawa Jae dengan stick drumnya.
“Sebenarnya.. Lirik itu... Punya Hayashi..”

“Hah?”, Sol menaikan satu ujung bibirnya keheranan.
“Ini lirik buatan Hayashi-senpai?”, Jae menegaskan.
“Lalu buatanmu? Bukankah kau juga membuatnya?”, tanya Sol.
“Lirik buatanku, semalam tidak sengaja...... Masuk mesin cuci..”, jawab Yuta sangat serius.

Dua detik kemudian Yuta kejatuhan rezeki. Tas, bantal, baju kotor, sepatu, melesat dengan kecepatan penuh ke arahnya. Ruang badn terdengar ramai meski dari luar. Haha.
Ruang lain yaitu ruang dance terlihat begitu fokus dengan latihan mereka. Siapa dulu ketuanya? Lee Taeyong. Dengan ketegasan, kesabaran, dan ketekunan Taeyong dapat menghandle para peserta yang masuk ke tim B. Berbeda sekali dengan Taeyong berjepit polkadot, Taeyong berjepit polos ini sangatlah serius namun juga penuh kelembutan.

“Kita lakukan part ini sekali lagi..”, pintanya.

Meski keringat mengucur dari setiap tubuh peserta-peserta itu, tapi bibir mereka tersenyum. Senang sekali. Oh tentu aspek ketampanan Taeyong juga harus dipertimbangkan. Tak terasa waktu latihan sudah habis. Taeyong memang cocok jadi pelatih (<<ini opini para peserta).

“Bagaimana? Lelah?”, tanya Taeyong mendekati Hakuro.
“Nn, zenzen (tidak, sama sekali)..”, Hakuro menggelengkan kepalanya.
“Ternyata kau bisa menari juga ya.. Aku baru tahu..”

Hakuro hanya tersenyum sambil memasukkan barangnya ke dalam tas.

“Oh ya, Hayashi.. Akhir pekan ini kau ada acara?”, tanya Taeyong.
“Tidak..”
“Bagus..”
“Hai?”
“Oh itu.. Aku mau minta tolong sesuatu.. Tak apa kan?”
“Minta tolong apa?”
“Kau bisa ajak Rin jalan-jalan?”
“Jalan-jalan?”
“Iya.. Shopping, kuliner, atau apalah.. Jalan-jalan saja biar Rin tidak bosan..”
“Aku bisa saja mengajaknya.. Tapi keputusan mau atau tidak kan ada di tangan Rin..”
“Paksa saja dia.. Seret kalau perlu..”
“Eh?! M-memangnya.. Ada apa Taeyong-senpai..?”
“Rin bersikeras mau ikut ke kosku..”
“Lalu? Biasanya juga seperti itu kan?”
“Akhir pekan ini beda.. Rin tidak boleh kesana..”
“Kenapa?”

Taeyong menghela nafas lalu berjalan ke tengah ruang latihan. Ia duduk disana kemudian memanggil Hakuro untuk ikut duduk di dekatnya. Hakuro agak ragu, tapi wajah Taeyong tak semencurigakan Yuta, jadi yah Hakuro menurut saja.

“Kau siap untuk mendengarkan aku mendongeng?”
“Sepertinya..”, jawab Hakuro.
“Hhmm.. Enaknya cerita darimana ya?”
“Taeyong-senpai memang mau cerita tentang apa?”
“Hubunganku dengan Rin..”
“Heee.. Kalian pacaran, aku sudah tahu itu..”

Taeyong menggeleng beberapa kali.

“Tidak.. Hubungan kami tidak sesederhana pacaran..”
“Masaka (jangan-jangan)! Taeyong-senpai dan Rin.......”
“Juga tidak sekompleks itu, Hayashi..”, potong Taeyong sebelum Hakuro berpikir aneh-aneh.
“Lalu?”
“Bagaimana ya menjelaskannya? Aku dan Rin itu seperti diary.. Aku adalah diary Rin dan Rin adalah diaryku..”, Taeyong mulai paham jalan cerita yang akan ia utarakan. “Banyak rahasia yang kau tulis di diary bukan? Semakin banyak isi rahasia yang kau tuliskan disana, semakin penting pula buku itu untukmu..”, jelasnya.

“Eemm.. Jadi maksudmu tipe pacaran kalian seperti buku harian?”
“Benar tapi juga salah..”
“He?”
“Kau tahu kue kesukaan Rin?”
“Eeemmmm.. Cheesecake?”
“Lava cake..”
“Eh, masa?!”
“Kau tahu aksesoris kesukaannya?”
“Anting..”
“Cincin..”
“Benarkah?!”
“Kalau genre film favoritnya? Apa kau tahu?”
“Action..”
“Blue film..”

......
......
......

“Eh?”


$$$$$


Berkutat dengan kaata ‘seperti biasa’, Rin sedang bergulat dengan formulir darmawisata yang tadi diedarkan ke kelas-kelas. Destinasi yang diinginkan, alasan, manfaat, seputar itulah isi formulirnya. OSIS butuh itu untuk menentukan lokasi darmawisata nanti.

“Wah, tidak sabar ya.. Tahun ini banyak acara menanti!”, kata Riko.
“Sou desu ne.. Ada festival budaya, darmawisata Kaijou, lomba kreasi, Inter-High, uwa banyak sekali yang seru!”, Yukio menambahkan.
“Takamura-san hebat ya bisa mengajukan proposal darmawisata semua kelas ke kepala sekolah.. Disetujui pula!”, puji Ryou.
“Ah tidak.. Kalian kan juga membantuku..”, jawab Rin.

“Tapi keren lho.. Baru kali ini kan Kaijou mengadakan darmawisata seluruh kelas? Dari kelas satu sampai tiga.. Pasti akan ramai dan sangat seru!”, ujar Yukio semangat.
“Ngomong-ngomong, Takamura-san.. Apakah kau sudah menentukan destinasi darmawisata?”, tanya Ryou.
“Aku memilih beberapa.. Ada Sapporo, Osaka, dan... Okinawa..”, jawab Rin.
“Okinawa?!”, ketiga anggotanya terkejut mendegar destinasi terakhir.
“Un.. Kenapa?”, tanya Rin.
“T-tapi.. Okinawa itu kan... Sangat mahal..”, jawab Riko.
“Tenang saja.. Ini kan masih opsi saja.. Kalau Kaijou bisa menang di Inter-High, menang di kontes kreasi, dana untuk ke Okinawa itu kecil..”, jelas Rin.

“Kudengar kau menyerahkan lomba kreasi ke klub band ya?”, tanya Yukio.
“Iya.. Apa ada masalah, Kasamatsu-san?”, Rin melihat ekspresi Yukio yang tak begitu enak.
“Tidak.. Aku hanya berpikir apakah itu pilihan bagus.. Banyak yang bilang kalau klub band itu meski populer, keren, dan kreatif tapi mereka sangat individualis juga egois..”
“Aku percaya mereka kok.. Dan kuharap kalian juga bersedia untuk percaya pada mereka..”

Percaya. Satu kata baru yang dilontarkan Rin di ruang OSIS. Seorang Rin? Mengandalkan kepercayaan? Oh, ini harus direkam! Takamura Rin adalah sosok yang mengindahkan ketepatan. Tapi sekarang dia pakai kata percaya. Sungguh, apa yang telah melunakkannya?


$$$$$


Ten, Sol, dan Jae sedang sibuk membuat nada untuk lirik lagu yang dibuat Hayashi. Sedangkan Yuta dan Johnny? Mereka bikin origami.

“Hei coba lihat aku buat apa!”, Johnny menarik perhatian teman-temannya.
“Hm? Apa itu? Tidak berbentuk..”, jawab Sol.
“Itu benda abstrak ya, senpai?”, sebisa mungkin Jae mengejek dengan kalimat positif.
“Bukankah itu kertas tes yang kau remas-remas?”, timpal Ten.
“Kalian kejam.....”, rengek Johnny lemas.
“Tenang, Johnny.. Aku tahu kok..”, celetuk Yuta membawa sinar kehidupan Johnny kembali.
“Itu bra kan?”

“Astaga, Yuta.. Kau ini masih saja memikirkan hal begitu..”, tanya Sol menyangga kepalanya yang tiba-tiba berat mendengar jawaban Yuta.
“Benar, Yuta!! Kau memang paling mengerti aku!!”, ujar Johnny memeluk Yuta erat.
“Oi, itu benar bra?!”, amuk Sol.

“Sekarang tebak aku buat apa..?”, tantang Yuta.
“Oh oh oh! Itu lingerie!”, jawab Johnny semangat.
“Kau memang selalu mengerti diriku..”, Yuta mengangkat tangannya untuk high-five.
“Hah.. Yuta-senpai.. Masa depanmu hampir hilang karena tendangan maut Hayashi.. Kau tidak kapok?”, tanya Ten menghela nafas berat.
“Please, jangan dibahas.. Rasanya mau mati kalau ingat kejadian itu.. Sakitnya itu lho.. Sampai ke ubun-ubun..”, jawab Yuta menundukkan kepalanya.
“Makanya jangan mesum!”, timpal Sol melempar penghapus.

“Mau bagaimana lagi? Kemesuman ini sudah mengakar begitu dalam pada diriku..”, ujar Yuta penuh kebanggaan.
“Aku heran kenapa kau masih punya fans?”, Ten geleng-geleng tak paham.
“Ngomong-ngomong, lirik yang dibuat Hayashi-senpai ini.. Kau sudah baca?”, tanya Jae ke Yuta.
“Kubaca berkali-kali, tapi tetap tidak paham..”
“Banyak makan protein sana!”, kali ini note saku yang dilempar Sol.
“Memang apa liriknya?”, tanya Johnny setelah membungkus stick drumnya dengan kertas lipat.

“Ini sebuah surat..”, jawab Jae.
“Surat? Surat amal? Surat kematian? Wasiat?”, Johnny asyik berkelana.
“Surat cinta!”, benah Sol hampir naik darah melihat Yuta dan Johnny.
“Apa kau bisa mendengarku? Apa kau bisa melihatku?”, Ten membacakan.
“Bisalah.. Kau pikir aku buta tuli?”, Yuta sewot tiba-tiba.
“Aku sedang membacakan liriknya, senpai!!”, Ten ikut sewot.
“Sudahlah, tidak usah dibacakan.. Sepertinya mereka kurang asupan nutrisi hari ini..”, Sol melambaikan tangan tak lagi peduli.

Yuta dan Johnny mencibir. Mereka kembali asyik berkreasi dengan kertas lipat warna-warni, hasil nyomot dari klub teater.

“Aku mau buat kondom ah..”, celetuk Johnny.
“Ide bagus! Kita buat dalam berbagai warna..”, sahut Yuta menepuk punggung Johnny.
“Setelah itu dijual online?”
“Dijual ke Taeyong saja.. Dia kan pengepul benda-benda asyik..”
“Akhir pekan ini jadi ke kos Taeyong?”
“Jadilah.. Dia bahkan sudah siap tisu.. Kau juga jangan lupa bawa kondom kertas ini..”
“Kita mau main dengan kondom ini? Atau kita mau main wanita pakai kondom ini?”
“Kita main diri sendiri pakai kondom ini..”

“Ah mou (sudah)!!! Hentikan pembicaraan kalian!!”, teriak Sol melempar tas.


$$$$$


Hmm. Kata Taeyong-senpai, Rin suka hal aneh. Dan dari hal aneh itulah hubungan mereka terbentuk, tapi dia tak menjelaskan detilnya. Pokoknya akhir pekan ini aku harus mengajak Rin jalan-jalan agar dia tidak ikut main ke kos Taeyong-senpai. Ah, hubungan mereka memang sangat misterius! Selalu berhasil membuatku penasaran. Waktu kutanya kenapa Rin tidak diizinkan main ke kos Taeyong-senpai juga, dia hanya tersenyum dan menjawab tidak jelas.

“Rin itu punyaku, aku tidak mau membaginya..”

Begitu katanya.
Membaginya? Apa akan ada beberapa tamu lain yang akan datang kesana? Apa Taeyong-senpai tak ingin mereka jadi jatuh cinta pada Rin? Apa alasan itu yang membuat Taeyong-senpai bersikeras melarang Rin untuk datang?

“Sudah menunggu lama?”, tanya Rin mendatangiku yang sedang bersantai di halaman depan sekolah.
“Tidak kok..”
“Ayo kita pulang..”

Aku berjalan selangkah di belakang Rin. Apa aku harus jujur mengenai permintaan Taeyong-senpai? Atau langsung kuajak saja?

“Rin..”, panggilku.
“Hm?”
“Akhir pekan ini.. Temani aku jalan-jalan ya..”
“Jalan-jalan? Kau? Tumben.. Ah tidak, mungkin ini kali pertama kau yang mengajakku jalan-jalan.. Ada apa?”
“Aku ingin refreshing saja.. Dan kurasa kau bisa membantuku untuk refreshing..”
“Eemm.. Bagaimana ya?”
“Kau sudah ada acara?”

Ia tak kunjung menjawab. Oh jantungku rasanya mau meledak. Bagaimana kalua dia menolak? Aku harus menambahkan sesuatu supaya Rin mau.

“Ehm.. Itu... Sebenarnya aku mau beli... Ee..”
“Beli apa?”
“B.. B-bra..”

Ah tidak mungkin! Aku mengucapkannya! Tidak ada benda lain yang terlintas di otakku saat ini! Hanya ada bra bra bra dan bra! Bahkan wajah Nakamoto-san ikut muncul di sela-sela bra itu!

“Ahahahah.. Bra?”, Rin tertawa tak percaya.
“Anu.. Aku juga mau beli hadiah untuk Johnny-senpai dan Ten-san..”
“Hadiah untuk mereka? Kenapa?”
“Sebenarnya tadi pagi mereka membantu mencari sepatu olahragaku.. Mereka masuk kelas polisi dan dihukum itu juga karena aku.. Makanya aku mau memberi mereka hadiah sebagai ucapan terimakasih dan permintaan maaf..”, jelasku. “Temani aku ya, Rin..”, aku menangkupkan kedua tangan memohon padanya.
“Eemm.. Boleh boleh saja..”
“Benarkah? Asyik!”
“Tapi ada syaratnya..”
“Syarat?”

Rin menaik-naikkan alisnya. Perasaanku tidak enak. Super tidak enak. Aku menelan saliva berat.


$$$$$


Akhir pekan.

Kamar kos Taeyong penuh dengan tamu sekarang. Semuanya laki-laki dan bawa laptop masing-masing.

“Aku tidak percaya Ten dan Jae juga ikutan..”, kata Taeyong.
“Kami kan juga laki-laki..”, sahut Ten.
“Kukira kalian tidak suka hal seperti ini..”, ujar Taeyong lagi.
“Aku cuma penasaran dengan hal yang begitu senpai gemari..”, jawab Jae tenang.
“Ingat ya, ini hanya untuk kesenangan pribadi.. Bukan untuk dipraktekkan..”, Taeyong memberi peringatan sebelum menyalakan komputernya.
“Iya iya.. Kami tahu..”, jawab Sol.

“Taeyong! Kami berdua bikin kondom kertas warna-warni lho! Nih lihat!”, Yuta dengan senang memamerkan hasil karyanya bersama Johnny.
“Eh?”, seketika itu juga Taeyong kehabisan kata-kata.
“Aku mau pakai yang merah, Johnny kuning, Sol merah muda, Ten hijau, Jae ungu, Taeyong biru!”, Yuta membagikan ‘benda’ kontroversional tersebut.

“Kok aku merah muda?!”, Sol tak terima.
“Ini.. Untuk membungkus sosis?”, tanya Taeyong memegang kondom kertas warna biru itu dengan tidak nyaman.
“Iya! Sosis kita!”, jawab Johnny senang.

Sekali lagi, Taeyong kehabisan respon. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berpikir. Untung ia menyuruh Hakuro untuk mengajak Rin jalan-jalan hari ini. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada sosis mereka. Mungkin jadi sosis bentuk gurita? Mekar di salah satu ujung gitu. Ouh, tak bisa dibayangkan.

“Hei ayo putar filmnya.. Aku sudah tidak sabar nih..”, pinta Yuta mengeluarkan lotion yang ada di lemari Taeyong.
“Aku mau yang bau lavender..”, pinta Johnny menggali lemari Taeyong mencari lotion bau lavender.
“Aku mau yang bau rose!”, Sol meminta dari ruang tengah.
“Aku yang bau cokelat!”, Ten mengikuti.
“Aku kopi saja kalau ada..”, Jae mengakhiri.

“Ya ya.. Ambil saja yang kalian mau.. Aku punya semua aroma..”, kata Taeyong tak mempedulikan tamu-tamu bringasnya dan tetap mengotak-atik komputernya.

“Kau ambil lotion wangi apa?”, tanya Yuta.
“Wanginya Rin..”, jawab Taeyong datar.
“Eh?! Bagaimana bisa? Kau bercanda?!”
“Tidak aku serius.. Aku pakai lotion yang digunakan oleh Rin..”, Taeyong masih menjawab dengan datar.
“Begitu ya..”, Yuta terdengar ragu.
“Kenapa? Kau pasti sedang mengingat-ingat wangi lotionnya Hayashi kan?”, desak Taeyong penuh tuduhan.
“E-eh?! T-tidak kok.. T-tidak! M-mana mungkin aku.. Heh hehe.. Tidak lah..”, elak Yuta tergagap.
“Hayashi pakai aroma sakura.. Aku tidak punya, belum beli lagi..”
“Dia pakai lotion bau sakura ya? Oh, baiklah..”

“Tadi pakai acara mengelak segala! Cih..”, cibir Ten.
“Yuta-senpai memang tipe yang seperti itu kan..?”, tambah Jae.
“Heh, kalian diam.. Berisik.. Lebih baik ada orang asli yang dibayangkan! Kalian sendiri? Kenapa memilih kopi dan cokelat? Mau seks dengan luwak?”
“He, dasar.. Kami juga memilih aroma gadis yang kami sukai sendiri! Wek!”, jawab Ten tak terima.
“Oh ternyata kalian diam-diam juga suka seseorang ya?”, tanya Sol.
“Tentu saja.. Kami kan juga laki-laki normal..”, jawab Ten menyilakan kedua tangannya.
“Sol-senpai sendiri? Kenapa memilih wangi bunga mawar?”, tanya Jae.
“Karena pacarku wanginya seperti mawar..”

“Eh?! Sol-senpai sudah punya pacar?!”, Ten dan Jae terkejut disitu.
“Lho kalian tidak tahu? Hahahah, iya sudah.. Dia gadis penjual bunga di toko yang sering kulewati..”, jelas Sol.
“Wah.. Keren.. Kalau Johnny-senpai?”, tanya Ten.
“Dia mana ada?”, jawab Yuta santai.
“Aku punya pacar..”, jawab Johnny.

“Eh?!! Johnny juga sudah punya?!!”, kali ini semuanya kaget.

“Kenapa terkejut ramai-ramai?”, tanya Johnny membuka-tutup botol lotion untuk menghilangkan bosan.
“Kok kami tidak tahu sama sekali? Siapa wanita yang mau sama kamu? Siapa wanita yang sudah berhasil kau guna-guna, Johnny?! Siapa?!”, Yuta dan Sol terdengar heboh saking tak percayanya.
“Duh, kalian ini meremehkanku ya? Ck.. Namanya Lanny..”, jelas Johnny tersenyum dewasa.

Hening. Seketika kamar Taeyong yang tadinya berisik, jadi hening.

“Dia.. Adik sepupumu yang masih TK itu kan...?”, tanya Yuta melirik Johnny.
“Iya..!”, jawab Johnny.
“Oh.. Ya sudah..”, Yuta berbalik teratur memunggungi Johnny.

“Dia lolicon (loli complex)..”, bisik Ten.
“Siscon (sister complex) juga..”, balas Jae ikut berbisik.

“Yak, akhirnya filmya bisa diputar.. Sudah siap semua?”, tanya Taeyong menepukkan tangannya sekali.
“Siap!”, jawab mereka serempak.
“Ayo kita masturbasi massal..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar