Kamis, 03 Maret 2016

CARAMEL POPPORN STORY

Seventh Bite

Aku menatap Rin yang sedang memilih kemeja di seberangku. Ia terlihat santai dan menikmati belanja hari Minggu ini. Tanpa kusadari aku tersenyum begitu saja memperhatikan Rin.

“Kenapa kau tersenyum begitu?”, tanya Rin membuyarkan lamunanku.
“Eh? T-tidak kok.. Aku sedang.. Eemm.. Membayangkan..”, jawabku ragu sambil menggali baju-baju diskon.
“Membayangkan apa?”, Rin malah terdengar semakin tertarik.

Matilah aku. Harus kujawab apa? Ayo, Haku cepat berpikir! Cari sesuatu!

“I-itu.. Membayangkan.. Kemesraan.. Rin dengan Taeyong-senpai..”, lirihku masih terdengar tak yakin.
“Hah? Kenapa kau membayangkan hal seperti itu?”, ia menaikkan satu alisnya heran.
“E-entahlah.. Terbesit begitu saja.. M-mungkin karena Rin dan Taeyong-senpai terlihat sangat bahagia jika bersama.. S-setidaknya, di mataku..”, jelasku rancu.
“Ahahahaha.. Kau ini aneh sekali.. Kau membayangkan orang pacaran karena kau ingin pacaran, Haku.. Aku benar kan?”
“Eh?! Tidak begitu, Rin!”, elakku cepat dengan wajah merah padam.
“Kau harus punya pacar yang bsia melindungimu.. Kuat, berwibawa, disegani, perhatian hanya padamu, menyayangimu, mengayomimu, dan selalu membuatmu nyaman juga bahagia..”, jelas Rin beralih ke rak tas.

Tanpa menjawab, aku langsung memikirkan pria yang dimaksud Rin. Otakku langsung membuat gambaran pria idaman. Beberapa detik akhirnya gambar pria idaman itu muncul. Semakin jelas, jelas, jelas, dan..

“Eh?!! Kenapa Nakamoto-san yang muncul?!”


$$$$$


Waktu lomba sebentar lagi. Para peserta yang sudah berhasil lolos seleksi semakin hari semakin gugup untuk naik ke atas panggung kontes kreasi. Latihan yang dilakukan pun jadi kurang efektif. Bukannya semakin sempurna, mereka malah membuat berbagai kesalahan.

“Baik, kita istirahat lima belas menit dulu..”, ujar Taeyong ke anggota timnya.

Semua langsung bubar teratur dengan bermacam-macam keluhan. Grogi. Itu yang mereka rasakan. Dan itu yang sedang dipikirkan Taeyong. Bagaimana cara mengatasi anggota tim B yang grogi begini?

“Taeyong-senpai..”, Rin muncul di ambang pintu klub dance selagi Taeyong bersandar dan bepikir di tembok.
“Oh, Rin.. Ada apa?”, tanyanya menghampiri Rin keluar.
“Latihannya sudah selesai? Tumben cepat sekali..”, ujar Rin.
“Tidak.. Aku mengistirahatkan mereka.. Akhir-akhir ini latihan berjalan tidak sesuai rencanaku..”
“Hm? Kenapa begitu?”
“Mereka semua gugup dan grogi.. Jadi banyak melakukan kesalahan kecil..”

Rin mengangguk mengerti sambil ikut memikirkan cara mengatasi ini.

“Oh ya.. Kau mencariku sampai kesini, ada perlu apa?”, tanya Taeyong sekali lagi.
“Oh! Ini.. Aku mau memberikan susunan acara untuk kontes kreasi.. Tim B tampil nomor enam..”, jelas Rin menyerahkan beberapa lembar kertas berisi tabel acara.
“Nomor enam? Hmm.. Tidak buruk..”

“Ngomong-ngomong, kau sama sekali tidak memberitahuku drama apa yang akan tim B mainkan..”, kata Rin mengedarkan pandangan ke ruang dance mencari jawaban sendiri.
“Hei.. Kau tidak sabaran sekali.. Kalau waktunya tiba nanti, kau akan tahu..”, Taeyong menutupi pintu ruang dance dengan tangan dan tubuhnya agar Rin tak bisa menelisik ke dalam.
“Hah, curang sekali.. Kau senang ya membuatku tidak bisa tidur karena penasaran?”, Rin melipat tangan mencibir Taeyong yang tersenyum.
“Mungkin iya..”
“Hei! Dasar.. Aku ini ketua OSIS lho.. Masa tidak diberitahu sih?”
“Anggap saja kau adalah ketua OSIS yang kurang beruntung karena berpacaran dengan ketua tim yang menganggapmu sebagai kekasihnya, bukan sebagai ketua OSIS..”, jawab Taeyong.

“Kalau sedang menyembunyikan sesuatu saja langsung jadi pintar.. Hmph..”
“Salah Rin juga..”
“Kok begitu?”
“Kau membuatku ingin memberikan kejutan manis setiap saat.. Pft..”
“Arara.. Darimana kau belajar menggodaku dengan kata-kata mendebarkan itu, Taeyong-senpai?”, Rin agak melebarkan mata tak percaya.
“Err, anak band..?”, jawab Taeyong ragu.

“Beraninya mereka menodai pacarku yang polos!!! Ya sudah Taeyong-senpai, aku akan ke klub band sekarang! Awas saja kalian ya.. Huh!”, Rin pergi darisana dengan langkah tegas dan penuh emosi.

Taeyong terkekeh geli melihat sikap Rin yang sangat imut di matanya itu. Melihat sosok Rin menjauh lalu menghilang dari lantai tiga, ia lalu menghela nafas singkat. Raut wajahnya berubah drastis. Senyum bahagianya hilang. Sorot matanya menjadi sendu.
Hakuro yang sedang mencari inspirasi untuk menulis bait lirik di buku catatannya, tak sengaja melihat ekspresi Taeyong. Ia memiringkan kepala heran. Kenapa Taeyong berwajah begitu? Bukankah tadi suaranya terdengar ceria dan penuh senyuman? Tidak, ia tidak punya keberanian untuk melangkah menanyakan keadaan Taeyong.

Sementara itu di klub band, Yuta sedang mengajari tim vokal berlatih lagu baru yang sudah jadi. Lirik yang dibuat Yuta dan nada yang dibuat Jae, Ten, dan Sol. Johnny juga menambahkan beberapa ad-lib untuk mengangkat suasana lagu itu.

“Yang disini, kita ulangi sekali lagi.. Usahakan jangan ambil nafas di tengah-tengah, kalian akan kesulitan untuk mengikuti ritmenya..”, jelas Yuta.
“Baik..”, jawab anggota tim A.

Rin mengurungkan niatnya ketika ia mengintip dari balik pintu ruang band. Keseriusan anak band membawa seulas senyum di wajah Rin. Baru kali ini ia melihat klub band mengajari orang lain selain anggota band sendiri. Baru kali ini juga ia melihat latihan klub band. Mereka terlihat sangat berbeda. Terlihat lebih segar, bersemangat, dan.. keren.. mungkin..?

“Sepertinya aku tidak perlu mencemaskan mereka..”, pikir Rin berjalan menuju tangga. “Nah, lebih baik sekarang mengusut masalah lain sebelum festival budaya..”


$$$$$


Rin, Riko, dan Takuya. Ketiga anggota OSIS ini sedang mempersiapkan arena untuk festival budaya. Mereka menyusuri koridor utama Kaijou untuk merancang desain. Yukio dan Ryou sendiri kebagian tugas mengatur denah festival di lapangan.

“Kalau kita pasang lampu disepanjang tangga, biaya yang dikeluarkan OSIS akan semakin tinggi..”, ujar Riko mengestimasi dana.
“Bagaimana kalau lilin saja?”, usul Takuya.
“Lilin? Butuh banyak sekali lilin untuk menerangi tangga saat malam hari kan?”, sahut Riko.
“Mudah saja.. Kita minta bantuan para murid untuk mengumpulkan masing-masing satu batang lilin.. Nah lilin itu yang akan kita gunakan untuk menerangi tangga dan jalan menuju lapangan..”, jelas Takuya.
“Sebenarnya ide bagus.. Tapi bagaimana kalau nanti ada yang tidak sengaja menyenggol lilinnya? Lilinnya mungkin bisa patah, jatuh atau bahkan terjadi kebakaran..”
“Iya juga sih.. Hmmm..”

Rin diam melihat tangga. Penerangan yang digunakan untuk menjadi pemandu jalan menuju ke lapangan. Di lapangan sana sudah ada api unggun dan akan ada pesta kembang api untuk penutupan.

“Bisa saja.. Untuk mengurangi desak-desakkan, tiap kelas akan menuju ke lapangan secara bergilir.. Kita tidak bisa melindungi lilinnya dari gangguan anak nakal.. Tapi kita bisa mencegahnya dengan menempatkan polisi sekolah untuk menjaga barisan lilin itu.. Bagaimana?”, usul Rin.
“Ide bagus..!”, Riko dengan cekatan langsung memasukkan ide tersebut ke buku catatan.

Mereka kembali merancang desain bagian sekolah yang lainnya. Ketika mereka melewati bagian rak sepatu, obrolan para gadis yang terdengar asyik mengusik telinga Rin.

“Sou sou! Aku sebal sekali dengan Hayashi itu.. Dia murahan sekali mau merebut Yuta-senpai kita.. Ya kan?”
“Iya, memang begitu.. Katanya Hayashi dan Takamura itu adalah pelacur.. Mereka bekerja di love hotel yang sama..”
“Heee, menjijikan.. Aku malu punya ketua OSIS seperti itu.. Bagaimana kalau Kaijou dipandang rendah oleh sekolah lain?”
“Kelihatannya saja sempurna, tak tahunya main belakang..”

“Ano ne..”, sela Rin dengan nada tajam.

Suara Rin yang begitu dingin membuat para siswi itu menoleh. Melihat ekspresi Rin yang tersenyum tajam ke arah mereka, para siswi itu hanya bisa terdiam.

“Jadi.. Darimana rumor itu beredar, hm?”, tanya Rin masih dengan lantunan yang santai. Tak ada yang menjawab. “Oh jadi begitu.. Jadi kalian sendiri yang menyebarkan gosip itu ya? Sengaja berbincang dengan keras agar didengar untuk menyebarkan rumor tak jelas seperti itu..”, ujar Rin mendekati para siswi.
“K-kami.. Kami..”, salah satu dari mereka hendak membantah.
“Hm? Kami apa? Mengaku salah? Atau tak mau disalahkan?”, tanya Rin.
“Apa sih? Jangan mentang-mentang kau ketua OSIS jadi bisa menindas kami seperti itu!”, bentak salah seorang siswi disana.

“Jangan bercanda! Kekonyolan kalian itu hanya akan membuang waktu! Kalau kalian memang suka Nakamoto-senpai atau Taeyong-senpai, lakukan hal bermakna! Jangan jadi penggosip tidak berguna yang hanya akan memperburuk kualitas Kaijou!”
“Apa sih maumu? Jangan ganggu kami! Urus saja masalahmu sendiri!”, kini mereka berani mendorong Rin.
“Hoo, jadi mau main kasar? Baik..”

Rin menarik kerah baju siswi yang berdiri di tengah lalu menatapnya kesal.

“Dengar ya.. Aku bisa saja memperlakukan kalian sesuka hatiku.. Larangan jangan ganggu kami yang kalian bentakkan ke aku itu seharusnya aku yang katakan.. Mungkin kalian bawa kaca, tapi sepertinya kaca itu kurang besar untuk melihat diri kalian sendiri.. Mulai sekarang, jangan ganggu aku.. Urus masalah kalian sendiri..”, gertak Rin kalem. “Kalian tentu tidak ingin kan didepak keluar dari Kaijou karena masalah sepele ini?”, tanya Rin dengan seulas senyum sambil merapikan kerah baju yang ia tarik tadi.

Mereka tak berani menjawab. Rin menghilangkan senyum di wajahnya. Ia membalik badan lalu memerintahkan Riko dan Takuya untuk pergi darisitu. Sepeninggalkan Rin, kaki para siswi itu langsung lemas seketika. Dikeluarkan dari sekolah? Bukan hal mustahil untuk diwujudkan Takamura Rin.

“Sepertinya mereka adalah kelompok siswi yang sering menebar gosip miring orang-orang lemah yang tidak mereka sukai..”, celetuk Takuya berjalan mengikuti Rin.
“Ya.. Sudah banyak yang melaporkan tindakan mereka ke kelas polisi.. Tapi belum pernah ditindaklanjuti karena mereka memaksa korban untuk mengakui kejahatan mereka sebagai suatu lambang persahabatan dan candaan belaka..”, jelas Riko.
“Kalau mereka tidak berubah.. Laporkan padaku..”, kata Rin.
“Baik, ketua..”


$$$$$


Festival budaya. Ramai, sesak, seru, menyenangkan. Kata-kata itu dapat disimpulkan sebagai kesuksesan untuk Kaijou. Banyak orang umum yang datang, acaranya berjalan lancar dan tidak ada masalah dalam keamanan. Masing-masing kelas menyuguhkan kreasi yang berbeda-beda. Ada yang rumah hantu, maid-kafe, photo-booth, kedai pinggiran, bahkan....

“Kafe kucing..”, Taeyong berdiri tegak di depan kelas OSIS.

Matanya melihat ke dalam kelas yang begitu ramai dengan gadis-gadis pecinta kucing. Manis-manis dan imut. Tapi tujuan Taeyong kemari adalah untuk melihat Rin. Katanya dia pakai baju maid dan bandana telinga kucing. Pokoknya harus lihat. Sekarang. Juga.

“Kau pasti mencari Rin..”, ujar Takuya muncul dengan pakaian pelayan dan bandana kucing di kepalanya.
“Ya.. Dimana dia?”, tanya Taeyong langsung.
“Dia memilih untuk bekerja di bagian pengawasan bahan.. Dia sangat malu dengan penampilannya itu..”
“Oh ya? Dimana aku bisa menemukannya?”

Takuya menunjuk ke ruang penyimpanan dokumen yang dijadikan tempat persediaan bahan kafe. Taeyong mengangguk mengucapkan terimakasih lewat pancaran sinar matanya. Takuya mengacungkan ibu jari sebagai balasan.
Taeyong melangkah mendekati pintu ruang dokumen. Dia sudah menyiapkan kamera ponselnya untuk langsung menjepret sosok kucing Rin. Modenya sudah HD, resolusinya sudah paling tinggi, kameranya sudah siap bekerja. Salahsatu ujung bibir Taeyong naik dengan nakalnya. Perlahan ia membuka knop pintu ruang dokumen dan..... cekrek.

Oh sial. Dia lupa mematikan suara kamera! Rin pasti akan sewot dan menggebuknya dengan sarung tangan kucing! Tidak!

Tapi tak terjadi apa-apa. Taeyong bangkit berdiri dari posisi meringkuk melindungi kepala. Kenapa tidak ada respon? Jangan-jangan tidak ada orang di dalam. Hm. Eh?
Layar ponsel Taeyong menampilkan hasil foto yang berhasil ia ambil tadi. Taeyong tersenyum lalu melangkah masuk ke ruang dokumen itu. Matanya melihat Rin sedang duduk tidur dengan tenangnya. Pasti dia sangat lelah.
Taeyong menghampiri Rin lalu berjongkok di dekatnya. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Rin. Oh, wajahnya sangat damai dan menentramkan. Pria ini tak bosan-bosannya tersenyum manis saat menikmati wajah Rin.

‘Cekrek’

Anggap foto kedua yang dia ambil ini sebagai cadangan. Taeyong kembali menyimpan ponselnya di saku. Rin benar-benar kelelahan. Bahkan suara debaran jantung Taeyong yang berisik pun tak dapat membangunkannya. Taeyong kembali tersenyum disitu. Meski bibirnya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Dua perasaan yang menyerang Taeyong secara bersamaan selalu membuatnya kesal.

“Hm...? Eh, astaga!”, Rin terkejut sendiri saat membuka matanya. “Aku ketiduran! Aduh, gawat..”, katanya. “Lho? Taeyong-senpai? Kenapa ada disini?”, tanya Rin akhirnya menyadari kehadiran Taeyong.
“Aku tidak bisa melewatkan Rin yang pakai baju pelayan dan bandana kucing kan?”, jawab Taeyong menunjukkan layar ponselnya.
“Apa?!! Curang sekali!! Ini pelanggaran HAM! Kau mencuri fotoku!!”, omel Rin berusaha merebut ponsel Taeyong.
“Aku tidak mencuri kok.. Aku mengambilnya diam-diam..”, bela Taeyong menghindari tangan Rin.

“Taeyong-senpai, ayo hapus..!”, rengek Rin.
“Heee, kan sayang kalau dihapus..”, ujar Taeyong santai.
“Memalukan sekali..! Hapus saja lah..”, pinta Rin lagi.
“Cantik kok.. Akan kuprint dan kutempel di dinding kamarku, jadi wallpaper dinding.. Oh! Akan kuprint jadi sarung bantal juga untuk menemani tidurku.. Hm, ide bagus..”, Taeyong menyuarakan semua rencana kotornya.
“Taeyong-senpai!!!!”

Di luar ruang dokumen, Riko dan Ryou mengerutkan kening.

“Rin bicara dengan siapa? Kenapa berisik sekali dia?”, tanya Riko.
“Fufufufufufu.. Sama belahan jiwanya..”, jawab Takuya kalem sambil menatap napkin.


$$$$$


Bukan Yuta namanya kalau dia ikut berpartisipasi dalam kreasi kelas. Oke, dia ikut bantu menyiapkan kelas. Tapi tidak terimakasih untuk tugas menjaga kelasnya. Taeyong saja sudah kabur, kenapa dia masih harus disana? Tidak ada alasan untuk berdiam di kelas 3-B. Saatnya berburu wanita seksi yang datang ke Kaijou!

“Yuta!”, panggil Johnny mendekat.
“Oh, Johnny.. Kau sedang senggang?”, tanya Yuta.
“Tidak, aku kabur.. Hahaha..”, Johnny terdengar bangga dengan tingkahnya itu.
“Oke, aku juga.. Ayo kita cari tempat aman..”, ajak Yuta juga terdengar bangga.

Dua siswa kelas tiga itu kini tengah menyusuri lobby utama yang sangat ramai dikunjungi orang umum. Banyak sekali tamu yang datang. Tidak tua, muda, semuanya menikmati festival budaya Kaijou kali ini.

“Arah jam dua.. Wanita yang di tengah itu.. Cocok tidak?”, tanya Yuta melihat ke arah lain sambil menikmati jus melon.
“Dadanya palsu.. Dia pakai sumpalan itu..”, jawab Johnny juga melihat ke arah lain.
“Jam sembilan disana.. Dia punya lekuk tubuh yang bagus..”
“Dia suntik botoks.. Tidak sehat..”, kata Johnny menyesap jus jeruk.

Mereka kembali mengedarkan pandangan mencari mangsa untuk didekati.

“Arah jam sebelas.. Posenya bagus..”, ujar Johnny penuh gaya layaknya senior berandal.
“Itu patung, Johnny.. Itu patung..”, jawab Yuta.
“Yang datang bersama wanita lebih tua itu imut..”, Johnny kembali mendapat target.
“Dia pakai seragam TK, Johnny.. Dia masih TK..”, jawab Yuta tanpa nyawa.

Ketika kedua pria bosan itu kehabisan target, seorang malaikat turun dari tangga. Jae.

“Senpai.. Kalian sedang nunggu gajian? Kenapa duduk begitu?”, tanyanya melihat Yuta dan Johnny layaknya orang melarat.
“Jae.. Jae, sudah datang.. Johnny.. Kita selamat..”, Yuta mengguncang-guncangkan tubuh Johnny yang tidak karuan dengan lemas.

Tatapannya kosong, mulutnya sedikit terbuka, sedotan bersarang di lubang hidungnya, hiasan minuman bentuk payung bertengger di salah satu telinganya.

“Hahaha, kalian ini selalu saja bertingkah konyol.. Kenapa tidak membantu kelas saja sih?”, tanya Jae membantu Yuta dan Johnny bangkit berdiri.
“Not my style..”, jawab Yuta dan Johnny kompak bergaya dengan pose yang sama.
“Ya sudah.. Ikut aku saja..”
“Kemana?”
“Ke lapangan basket..”

Lapangan basket. Disana sudah ada Ten bersandar pada pagar balkon penonton lantai dua. Wajahnya terlihat senang menikmati lomba olahraga yang diadakan. Tenis meja.

“Hai, Ten-senpai.. Aku bawa teman..”, sapa Jae ramah.
“Astaga, Jae.. Kenapa bawa pemulung sih?”, omel Ten sebal.

Lihat saja penampilan Yuta dan Johnny saat ini. Seragam berantakan, rambut acak-acakan, sampah minuman mencuat kemana-mana dari saku seragam mereka.

“Kalian sedang lihat apa?”, tanya Johnny.
“Tenis meja..”, jawab Ten.
“Heee, membosankan sekali..”, Yuta mencibir.
“Lihat dulu baru komentar..”, kata Ten.

Yuta melirik ke lapangan basket yang saat itu sedang dijadikan arena tenis meja. Biasa saja tuh. Membosankan sekali. Pandangan Yuta berhenti pada satu titik.

“Meja tenis meja nomor tiga, pihak A, tim merah!”, celoteh Yuta berapi-api.

Ketiga temannya langsung mengarahkan pandangan ke meja tenis paling ujung. Hayashi Hakuro. Siswi itu sedang main tenis meja membawa nama kelas 2-A. Permainannya luar biasa indah. Ternyata Hakuro bisa main tenis meja dengan baik. Meski pandangannya buruk, tapi Hakuro bisa fokus dan konsentrasi pada bolanya. Ia juga bisa mengatur tenaga saat memukul bola itu.
Tapi sayang sekali.. bukan aspek permainan Hakuro yang menyita perhatian Yuta.

“Bakpao......”, lirihnya dengan senyum mesum menatap nirwana.
“Dada Hayashi sih lebih besar dari bakpao.. Mungkin sebeasr bola volley?”, ujar Johnny.
“Tidak tidak.. Terlalu besar.. Mungkin sebesar biji ek..”, timpal Ten.
“Kekecilan, senpai..”, sahut Jae kalem.

Sepanjang permainan, hanya dada Hakuro yang dilihat Yuta. Oh sepertinya ini hadiah cuma-cuma untuk Nakamoto Yuta. Ia bisa menonton dada Hakuro bergoyang mengikuti irama musik di kepalanya. Selesai pertandingan, Yuta dengan bringas memeluk Jae.

“Terimakasih, Jae!! Kau adalah penyelamatku!!! Terimakasih sudah mengajakku kemari!! Aku suka tenis meja!!!”, teriak Yuta heboh.
“Yuta-senpai.. Aku.. Tidak.. Bisa.. Nafas..”, Jae kehabisan oksigen saking kencangnya pelukan Yuta.


$$$$$


Hakuro berlari masuk ke dalam gedung utama. Ia mencari Rin. Daritadi ia belum bertemu Rin sama sekali. Saat dikunjungi ke kelas OSIS pun, katanya Rin sedang keluar beli bahan tambahan bersama Taeyong. Sampai sekarang Rin belum kembali lagi.

“Hah..”, helaan nafas Hakuro begitu panjang.

Ia memutuskan untuk duduk di taman belakang sekolah yang agak sepi dari pengunjung. Paling tidak disana ia bisa bernafas dengan lega. Memenangkan pertandingan tenis meja bukan hal menyenangkan untuknya. Jadi tak ada alasan untuk Hakuro tersenyum sekarang.

“Ah.. Gedung klub pasti sepi.. Aku ke ruang klub saja..”, pikir Hakuro langsung berlari kecil kesana.

Benar sekali dugaannya itu. Ruang klub sepi. Oh tidak. Tidak sama sekali sepi.

“Nakamoto-san?”, panggil Hakuro memasuki ruang klub ikebana.
“Oh! Hayashi, selamat siang..”, balas Yuta ramah.
“Sedang apa disini?”
“Aku sedang melihat pertandingan sepak bola.. View dari ruang ikebana lebih bagus ketimbang ruang band..”, jelas Yuta menatap lapangan sepak bola dari jendela.
“Oh, baiklah.. Maaf mengganggu..”, Hakuro hendak meninggalkan ruangan.

“Tunggu..”, cegah Yuta.
“H-hai?”
“Kau tidak keberatan kan kalau menemaniku disini?”
“Eh? Kenapa?”

Yuta menundukkan kepala. Dengan satu helaan nafas...

“Johnny pergi bermain di kelas penitipan anak Ten asyik tidur di perpustakaan tak mau diganggu bahkan oleh ketua klubnya Jae kembali ke kelas untuk bergantian jaga dengan temannya Sol asyik bergelut dengan kelasnya yang membuka salon daritadi..”, jelas Yuta cepat.

Mata Hakuro bulat sempurna menatap Yuta. Ia terdiam tak tahu harus merespon apa. Tepuk tangan kagum? Jawaban pendek? Atau apa?

“Intinya aku kesepian..”, simpul Yuta singkat.
“Oh.. B-baik..”, jawab Hakuro mengangguk mengerti lalu kembali masuk kelas.

Yuta tersenyum saat Hakuro sudah berdiri di depannya. Menatapnya dengan pancaran takut. Entah kenapa kalau berdua dengan Hakuro, Yuta tak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah gadis itu. Akan tetapi kalau sedang bersama teman-temannya, pikiran Yuta selalu nakal dan ingin menggoda Hakuro.

“Jadi.. Bukankah kau sedang menonton pertandingan sepakbola?”, tanya Hakuro memecah bayangan Yuta.
“Oh, benar.. Hehehe..”, jawabnya lalu bersandar menyamankan diri di kaca jendela.

Sesaat hening tak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara ramai dari bawah yang terdengar sampai ke ruangan itu yang mengisi ruang klub ikebana.

“Nakamoto-san..”, panggil Hakuro memecah hening.
“Hm?”, jawab Yuta.
“Aku mau buat sebuah pengakuan..”, kata Hakuro tanpa menoleh.
“Pengakuan? Apa?”
“Lirik yang kubuat untuk membantumu itu.. Sebenarnya adalah sebuah surat untuk seseorang..”
“Surat untuk seseorang? Oh astaga! Apa aku melakukan kesalahan? Aku kira surat itu adalah lirik untuk tim A..!”, Yuta agak panik. Tapi gelengan Hakuro menenangkannya kembali.
“Tidak.. Itu memang lirik untuk tim A.. Tapi setiap kata di lirik itu... adalah perasaanku..”

Tiba-tiba Yuta blank. Jujur saja, yang menangani lirik Hakuro bukan dia, tapi Jae dan Ten! Dia sama sekali belum baca apalagi paham isi liriknya. Sial, sekarang harus bereaksi bagaimana coba?

“Kalimatnya sengaja kubuat rumit agar orang yang kutuju tidak dapat memahaminya..”, ujar Hakuro.
“Emm.. Etto.. Apakah itu artinya kau tidak ingin orang itu tahu suratmu? Bukankah kalau begitu perasaanmu tak akan tersampaikan?”
“Ya.. Aku khawatir kalau orang itu tahu, dia akan memperlakukanku dengan beda..”
“Orang itu yang kita bicarakan ini.. Siapa? Em, itu juga kalau kau mau cerita sih..”

Hakuro tersenyum lalu menatap Yuta. Kali ini sorot matanya lembut tanpa keraguan.

“Seorang siswa.. Waktu aku kelas satu, aku sering memperhatikannya bermain sepakbola dari jendela ruangan ini.. Dia sangat bersemangat dan terlihat bahagia sekali.. Apalagi kalau bisa mencetak gol..”

Yuta tertegun. Orang yang dimaksud Hakuro.. sepertinya dia kenal.

“Aku sangat menyukai pria itu.. Aku tidak peduli kalau wajahnya kotor karena pasir.. Aku juga tidak melihat tubuhnya yang penuh bekas luka karena jatuh.. Aku hanya suka melihatnya tersenyum lepas dan mendengar suaranya.. Dia sangat baik..”, cerita Hakuro mengedarkan pandangan ke lapangan.

Yuta terdiam. Ia benar-benar kenal orang yang dimaksud Hakuro. Ia kenal dengan baik orang itu. Baru kali ini ia merasakan tercekat. Rasanya mau bicara, tapi tidak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Jadi Yuta hanya mendengarkan.

“Waktu itu dia pernah rela sakit demam untuk melindungi box anak anjing yang ditinggalkan di area pembuangan sampah Kaijou.. Dia tidak keberatan sama sekali, bahkan wajahnya begitu bahagia.. Teman-temanku bilang dia tampan, tapi bodoh.. Tapi kurasa.......”, Hakuro menggantungkan kalimat untuk mengambil waktu menatap Yuta. “Nakamoto-san adalah pria tampan yang berhati tulus..”

Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kalimat terakhir Hakuro. Kenapa Hakuro menatapnya dengan seulas senyuman? Apa hubungan cerita panjangnya tadi dengan dirinya? Proses berpikir ini membuat mulut Yuta bungkam.

“Aku tidak pernah membenci Nakamoto-san.. Meski aku menghindarimu, bukan berarti aku menjauhimu.. Aku tidak bisa memanggilmu dengan senpai.. Karena telingaku akan berubah merah saking malunya.. Nakamoto-san adalah pria yang ingin kukenal lebih baik dari sekadar ketua klub band atau pria mesum..”
“Hayashi, kau...”
“Ya.. Kurasa aku telah jatuh cinta padamu..”

Yuta melayang ke langit ke-tujuh dengan sebuah roket. Ini diluar dugaan! Cintanya.....

‘Bruk!!’

“Ah, ittai!!!”, rintih Yuta saat terjatuh dari sofa.

Hanya mimpi belaka.


$$$$$


Tangan Taeyong penuh dengan plastik belanjaan. Sedangkan tangan Rin bersih dari beban. Oh tentu saja sebagai pria sejati, sebagai kekasihnya juga, Taeyong tidak bisa membiarkan wanita, kekasihnya, Rin, membawa belanjaan yang berat. Ia harus rela berkeringat, megeluarkan tenaga bahan bakar makan siangnya tadi untuk membawa belanjaan kelas OSIS.

“Sini, biar kubawakan sebagian..”, kata Rin menawarkan diri.
“Tidak.. Aku baik-baik saja..”, jawab Taeyong tersenyum keren.
“Taeyong-senpai.. Tangan dan kakimu sudah gemetaran tuh..”
“Eh? Ini tarian, Rin.. Kau tidak tahu? Aku menemukan tipe tarian ini..”, jelas Taeyong berceloteh omong kosong.

“Jadi masih kuat?”, tanya Rin memastikan dengan ekspresi nakal.
“Tentu saja..!”, jawabnya mantap.
“Kalau begitu....... Gendong aku juga!”, Rin melompat ke punggung Taeyong.
“Rin Rin Rin Rin Rin!!!!”

Dan akhirnya mereka jatuh bersama secara tidak elit. Bukannya marah, Rin malah tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Taeyong merintih kesakitan.

“Kau ini kejam sekali.. Sakit, huhuhuhu..”, rengek Taeyong.
“Lho? Katanya masih kuat, jadi kupikir kau masih bisa menggendongku yang sudah lelah ini..”
“Beratmu lebih berat tiga puluh kali lipat dari belanjaan ini, Rin..”, lirih Taeyong membuang muka teratur.
“Apa? Bilang apa?”
“Aku bilang, cintaku sedalam makna dan setinggi Johnny..”
“Uwah, tidak mutu sekali..”, gumam Rin. “Kenapa ada Johnny-senpai muncul di rayuanmu?”
“Tidak boleh ya? Hm, iya juga sih.. Pasti menjijikan ya jadinya..”, sahut Taeyong.

Rin mengangguk-angguk dengan ekspresi seperti melihat jamur di roti.

“Ya sudah, lain kali aku pakai yang lain.. Sekarang, ayo beresi kekacauan ini.. Kau tidak boleh terlalu lama meninggalkan kelas OSIS yang ramai itu..”, ajak Taeyong.
“Hai hai!”

Rin dan Taeyong melakukan tugas itu dengan semangat dan perasaan senang. Tanpa sepengetahuan mereka, sebuah kamera memotret dua sejoli dari Kaijou tersebut.

“Hmp, ini pasti akan mengejutkan..”, gumam orang yang memotret Taeyong dan Rin dari dalam mobilnya itu.


$$$$$


Aku mengusap kepalaku yang barusaja dicium lantai. Apa ini karma karena telah memimpikan Hayashi? Tapi kan aku tidak melakukan hal aneh padanya. Tunggu, memimpikannya diam-diam itu kan termasuk hal aneh. Ah sudahlah. Apa sih yang kupikirkan? Sakit sekali ini.

“Dimana sih Ten menyimpan komik dewasanya? Hmm..”

Aku mencari simpanan kebahagiaan Ten yang ada di ruang band. Anak itu meski terlihat tidak tertarik, sebenarnya dia cukup antusias lho. Dia punya banyak sekali simpanan. Ya contohnya, komik, majalah, poster, dan lainnya.

“Asyik ketemu!”

Ternyata Ten menyimpannya di dalam sofa. Anak pintar. Tapi aku lebih pintar darimu. Haha, saatnya menyegarkan pikiran dengan nona-nona di majalah playboy ini. Hup!

“Kau pasti mengadu ke Takamura..”, suara bentakan yang cukup keras itu membuatku mengalihkan perhatian dari dada model gravure di majalah yang kubawa.

Hm? Ada ramai-ramai apa di sebelah?

‘Brak!!’

Aku sedikit terlonjak kaget mendengar gebrakan. Tidak, mungkin suara benturan. Karena penasaran aku menempelkan telinga ke dinding yang memisahkan klub band dan ikebana.

“Kenapa sih kau sekolah disini?! Kenapa kau dilahirkan? Orang menyebalkan sepertimu lebih baik mati saja! Tidak pantas hidup!! Brengsek!!”

‘Brak!’

Aku menatap dinding dengan pikiran kacau. Apa yang terjadi? Dan tanpa kusadari aku bangkit dari sofa lalu keluar dari ruang band. Aku membuka pintu klub ikebana dengan wajah agak kesal.

“Y-yuta-senpai..”

Oh jadi mereka rupanya yang berisik. Aku melihat Hayashi dengan pipi merah ada di kepungan para siswi itu. Tanpa dijelaskan pun aku tahu apa yang sedang terjadi. Lagi-lagi tanpa kusadari aku telah melangkah dan menggandeng tangan Hayashi. Ya, aku membawanya keluar. Dan ini semua kulakukan tanpa berpikir.

Bagus. Sekarang apa yang akan kulakukan pada Hayashi di ruang band? Kami berdua saja di ruang band ini. Kenapa aku membawanya kemari? Aku masih tak habis pikir pada diriku. Sampai kapan aku bisa belajar dari kesalahan?

“Daijoubu?”, tanyaku membuka percakapan.
“Ya.. Terimakasih, Nakamoto-san..”, jawab Hayashi pelan.
“Duduklah.. “, aku mempersilakan dia untuk duduk bersantai.

Hayashi tak berbicara apa-apa. Ia menatap lantai dengan kepala sedikit menunduk. Aku mengamatinya dari sofa ini. Jujur saja, aku ingin menghampiri dan mengobati lukanya dengan kecupan seperti di drama-drama romansa. Tapi...
Majalah playboynya kududuki.
Kalau aku bangkit berdiri dan Hayashi melihat ada gambar wanita bugil di bawah pantatku, dia bisa teriak dan melancarkan serangan! Dia bisa membunuhku untuk mempertahankan diri kan? Ah, sial. Apa yang harus kulakukan?

“Nakamoto-san..”, terimakasih Tuhan Hayashi akhirnya mengajakku bicara.
“Y-ya?”, jawabku lupa menenangkan diri.
“Maaf ya..”
“Maaf?”
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.. Kalau aku boleh jujur, setiap aku memanggil Nakamoto-san dalam hati, kau selalu hadir.. Benar-benar muncul di hadapanku..”
“Eh?”, aku sedikit menaikkan alis bingung.
“Memikirkan hal bodoh seperti ini.. Membuat perasaanku semakin berkembang.. Nakamoto-san..”, Hayashi mengangkat kepala menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu..”

Aku menegakkan dudukku. Mataku membalas tatapan Hayashi. Entah kenapa aku masih sempat berpikir kalau aku ini seperti siswi manis yang barusaja ditembak oleh senpai idaman sekolah. Kenapa aku jadi siswinya?

“E-eh, t-tapi aku tidak bermaksud untuk berpacaran dengan Nakamoto-san.. Aku hanya berpikir kalau aku menyukaimu dan ingin mengenalmu lebih baik..”, ujar Hayashi panik.

Melihatnya begitu polos membuatku ingin mendekapnya. Tapi aku hanya tersenyum disini.

“Kalau aku bilang aku juga suka Hayashi.. Apa kau akan percaya?”


$$$$$


Ten tersenyum meninggalkan pintu ruang band. Ia berjalan memikirkan kejadian yang tak sengaja ia saksikan. Sungguh, ia bahkan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Memikirkannya lagi membuat Ten tertawa geli.
Bagaimana bisa Yuta kena gampar Hakuro, lagi? Hahahaha, konyol sekali senpai itu. Tapi salah sendiri main ambil barang sakral orang tanpa izin. Jadi kena batunya kan? Kekekeke.

Begini kronologisnya, suasana sudah hampir merah muda sempurna ketika Yuta menyatakan kalau dia juga menyukai Hakuro. Rencananya Yuta hendak berlutut dan menembak Hakuro secara resmi untuk jadian dengannya. Namun naas, ia lupa majalah porno sudah siap untuk debut di mata Hakuro. Benar sekali, majalah itu jatuh terpampang dengan sangat jelas.


$$$$$


Aku berjalan pulang bersama dengna Haku. Ah, bibirku sepertinya rusak. Daritadi senyuman di bibir ini tidak hilang-hilang. Sihir apa yang Taeyong gunakan? Hahaha.

“Senang sekali.. Pasti terjadi sesuatu..”, tebakan Haku tepat sekali.
“Tidak.. Biasa saja..”, elakku.
“Biar kutebak.. Kau habis bermesraan dengan Taeyong-senpai ya?”, tebakan Haku tepat lagi.
“Tidak.. Biasa saja..”, elakku lagi.
“Haha, Rin.. Wajahmu begitu cerah padahal hari sudah larut.. Pasti terjadi sesuatu.. Ayo ceritakan juga padaku..”

Aku tersenyum geli lalu menatap Haku.

“Kami berciuman..”, kataku jujur.
“Benarkah?! Wah, keren.. Kapan? Apa waktu acara api unggun dan kembang api?”
“Ya..”
“Hei hei, ceritakan secara detil padaku..”
“Kau penasaran sekali.. Tidak mau ah..! Tidak ada bayarannya!”, ujarku nakal lalu berlari kecil.
“Yah, Rin... Nanti kubelikan es krim deh..”, rengek Haku mengejarku.

Di festival kebudayaan, acara terakhir. Api unggun dan kembang api. Semuanya berjalan sesuai rencana. Penerangan jalan adalah lilin, para murid berjalan dengan rapi dan teratur. Aku mengawasi dari ruang OSIS. Kupikir semua murid sudah turun ke lapangan, ternyata tidak.

“Kau juga murid Kaijou, kenapa tidak turun?”, Taeyong datang menghampiriku.
“Aku mengawasi jalannya acara darisini.. Lebih mudah soalnya.. Kau sendiri kenapa malah kemari?”
“Lebih mudah mengawasimu dari dekat..”, jawab Taeyong datar.

Bagaimana bisa pria ini mengutarakan kalimat romantis dengan wajah datar? Haha, tapi begitulah Taeyong. Tak lama lagi kembang api akan diluncurkan sebagai tanda penutupan festival budaya Kaijou. Aku bisa melihat Riko sedang mempersiapkan aba-aba untuk menyulut kembang api.

“Rin..”, Taeyong membuatku menoleh dari detik-detik peluncuran kembang api.
“Hm?”, jawabku singkat.
“Suki da yo..”, katanya tanpa menatapku.

Kami bukan pasangan yang jarang menyatakan cinta. Tentu kami juga sering bercanda memperdebatkan siapa yang rasa cintanya lebih besar. Tapi kali ini beda. Nada Taeyong terdengar serius. Namun aku bisa merasakan ada yang aneh. ‘Aku menyukaimu’ yang Taeyong katakan kali ini.. terasa posesif. Seperti ia tak akan melepaskanku.

“Watashi mo (aku juga)..”, akhirnya aku menjawab seadanya. Aku kemudian kembali memperhatikan lapangan.
“Suki da..”, katanya lagi lalu aku menoleh ke Taeyong. Kali ini aku tak menjawab dan melihat Taeyong yang menatapku.

“Aku ingin kau tahu kalau aku mencintamu.. Sebelum kita memutuskan untuk berpacaran, aku sudah menyukaimu.. Aku semakin menyukaimu ketika kita berbagi rahasia yang sama.. Aku sangat menyukaimu karena kau adalah Rin.. Mungkin ke depannya akan ada banyak portal yang menghalangi jalan kita.. Tapi kalau bersama Rin, rintangan apapun bisa kulalui..”

Jujur saja saat itu aku tak begitu mengerti kenapa Taeyong berbicara seperti itu. Aku hanya mendengarkannya tanpa berpikir aneh-aneh. Aku fokus pada suara dan dirinya tanpa memikirkan isi tersirat yang ingin Taeyong sampaikan.

“Apa kau bersedia berjalan denganku?”, tanya Taeyong.
“Berjalan, berlari, melompat.. Asalkan dengan Taeyong-senpai, akan kulakukan dengan senang hati..”, jawabku.

Taeyong tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ia menciumku dengan lembut. Bibirnya hangat, tubuhku serasa tenggelam dalam kenyamanan ini. Entah kenapa ternyata Taeyong pintar juga mencium wanita.

“Kalau aku meminta bantuanmu untuk berjalan atau mungkin berhenti lebih dulu, kau mau kan?”, tanya Taeyong dengan nada lebih santai.
“Eemm.. Kau berniat meninggalkanku?”, godaku.
“Siapa yang tahu?”, Taeyong mengendikkan bahunya.
“Kau tahu kan aku ini Takamura Rin.. Kemana pun kau pergi, dimana pun kau bersembunyi, aku akan selalu bisa menemukanmu..”

Taeyong lalu tersenyum sambil mengusap kepalaku. Sialan, dia pikir aku anjing?


$$$$$


Jujur saja. Aku benar-benar tak memikirkan kalau hal ini terjadi. Aku terlalu larut dalam kenyamanan yang Taeyong bagikan untukku. Aku tak pernah berpikir bagaimana perasaan Taeyong sebenarnya. Aku tak memikirkan maksud asli Taeyong.
Sekarang aku merasakan pipiku memanas sempurna. Aku bisa merasakan tatapan kasihan dari keluarga dan kerabatku. Aku menatap ayahku tajam. Dia barusaja menamparku di ruang tengah. Di depan para Takamura.

“Sabar, nak.. Kau jangan terbawa emosi..”, nenekku mencoba untuk menenangkan ayahku.

Apa yang ia usahakan dari menenangkan ayahku? Ayah bahkan tidak menyesal telah menamparku dengan keras. Ekspresi wajahnya pun tak berubah. Sorot matanya masih mengintimidasiku.

“Bukankah sudah ayah katakan untuk putus?”
“Seenaknya saja mengaturku.. Kau siapa?”, aku menantangnya.

Well, ini sudah malam. Aku barusaja pulang sekolah, sudah beberapa hari aku kurang tidur untuk mengurus festival dan urusan sekolah. Aku yang diselimuti rasa lelah ini tak bisa berpikir jernih. Aku menyerahkan emosi untuk mengambil alih kendali diriku.

“Sekarang kau sudah berani bicara tidak sopan..”, kata ayahku masih dengan wajah yang sama.
“Aku bicara tidak sopan pada orang yang tidak sopan padaku..”, sahutku dengan nada meremehkan.
“Aku ayahmu, kepala keluarga Takamura.. Aku memintamu untuk putus dari anak itu, tapi tak kau lakukan.. Kau membuat malu keluarga! Kau mengecewakan ayah..”

“Sepanjang hidupku berapa kali aku mengecewakanmu, ayah?!”, aku membentaknya dengan nada sangat tinggi saking sebalnya. Semua orang di ruangan ini terperanjat kaget mendengarku marah.
“Kau-“
“Aku belajar dan jadi murid teladan sesuai keinginanmu! Aku berprestasi dengan membawa nama Takamura! Aku selalu melakukan apa yang kau aturkan untukku! Aku tak pernah meminta penjelasan karena aku tahu kau menyayangiku! Tapi akhirnya aku sadar... Kau hanya memanfaatkanku! Kau tiidak pernah menyayangiku! Kau memperlakukanku seperti binatang peliharaan! Apa kau pantas menyebut dirimu sebagai ayahku!?”
“Takamura Rin, jaga ucapanmu!”

“Aku sudah muak dengan keluarga ini! Tidak, Takamura hanya sebuah nama bodoh yang membuatmu gila! Takamura bukan sebuah keluarga.. Kau tahu betapa aku sangat iri pada teman-temanku ketika hari orangtua di sekolah? Kau pernah memikirkanku saat kau bekerja? Apa aku ini ada di hatimu? Kau bahkan tak pernah membuka pintu kamarku.. Kau tak pernah mengucapkan selamat malam, kau tak pernah menyapaku.. Aku selalu berjuang agar bisa ada paling tidak di sudut matamu.. Tapi kau tak pernah mau memperhatikanku..”

“Apa ini semua gara-gara anak bernaam Taeyong itu?”, tanya ayah membuat urat emosiku kembali nampak.
“Taeyong tidak ada hubungannya dengan ini! Aku sedang membicarakan dirimu yang tak pernah menjadi ayah untukku!!”, bentak Rin.
“Kalau saja kau tidak bergaul dengan Taeyong kau pasti tidak akan berubah seperti ini!”

Sumpah. Aku kehabisan kata-kata. Aku lelah berbicara dengan ayah, tidak, pak tua ini. Daripada aku meneteskan air mata di depannya, aku memilih untuk menarik Haku dan naik ke kamarku. Biar saja mereka memanggilku aku tak akan menoleh sedikit pun pada mereka. Biar saja aku dicap tidak sopan oleh para Takamura, toh aku sudah lelah menjadi Takamura.

“R-rin.. K-kau m-mau kemana..?”, tanya Haku takut.

Oh ya tentu dia ketakutan melihat diriku memindahkan isi lemari ke kopor. Aku tak menjawab Haku dan masih sibuk dengan mata gelap. Aku benar-benar tak bias memikirkan hal lain sekarang. Fokusku hanya satu, pergi dari rumah.

“Rin..”, Haku memegang tanganku dengan lembut.
“Aku akan pergi dari rumah sialan ini..”, tegasku.
“Tapi kau mau kemana?”
“Kemana pun asalkan tidak berurusan dengan pak tua itu!”

“Rin! Buka pintunya! Kau sungguh tidak sopan sekali! Ini sudah kelewatan!”, ayah menggedor-gedor pintu kamar yang kukunci.

“Haku.. Kau mau ikut atau tidak?”, aku menepuk pundak Haku dan menatapnya.
“Aku.....”

Haku kemudian terdiam. Aku menyesal sekarang. Kenapa aku harus melibatkan Haku dalam masalahku?  Aku sudah membuat Haku bimbang dan serba salah. Aku tahu dia ingin ikut, tapi tentu saja tidak bisa. Ah, dasar bodoh! Aku terlalu terbawa emosi dan membuat Haku jadi kewalahan menenangkan hatinya.

“Tak apa.. Kau disini saja, Haku.. Maafkan aku telah merepotkanmu..”, ujarku akhirnya.
“Rin.. Jangan pergi..”
“Aku akan tetap pergi meski kau yang melarangku.. Aku akan tetap masuk, kita bisa bertemu di sekolah..”
“Kalau kau pergi.. Apa yang harus kulakukan dengan keluargamu?”

Satu hal lagi yang tiba-tiba kulupakan di saat krusial. Keluargaku tak pernah menerima Haku dengan baik. Bahkan meski orang tua kami sudah menikah, mereka tak setuju untuk memasukkan nama Haku ke Takamura. Mereka bilang adalah hal bodoh dan mustahil untuk dilakukan jika Haku menjadi Takamura Hakuro.

“Kau pasti bisa.. Aku yakin kau punya keberanian dan bisa melindungi dirimu sendiri..”, kataku tak ingin berlama-lama disini. Aku takut berubah pikiran.

Aku tak mau menyesalinya lagi. Sudah berulang kali aku ingin kelaur dari rumah, tapi selalu kuurungkan. Akibatnya aku selalu berakhir menyesal tak kelaur dari rumah.

“Rin..”, panggil Haku ketika aku kembali melangkah.

Aku membuak pintu dan melihat ayah tampak terkejut melihat tas besar yang kubawa.

“Kau mau pergi?”, tanya ayahku tak percaya.
“Sekarang kau peduli?”, tanyaku balik.
“Aku tidak akan mengizinkanmu untuk keluar dari rumah ini!”
“Aku tidak peduli..”

Aku menepis tangan ayahku. Para Takamura yang membuatku muak pun tak kugubris. Aku memikirkan Haku. Apa dia akan baik-baik saja?


$$$$$


“Dimana Yuta?”, tanya Johnny.
“Dia tidak masuk..”, jawab Sol membaca majalah perawatan wajah.
“Kenapa?”
“Entahlah.. Katanya ada urusan yang harus diselesaikan si rumah sakit..”
“Hah?! Dia sakit apa!?”, Johnny langsung panik.
“Mana kutahu..”, jawab Sol santai.
“Kau kejam sekali jadi temannya.. Dia sakit lho..”
“Aduh, Johnny.. Siapa bilang Yuta sakit sih? Aku hanya bilang kalau dia ke rumah sakit..”
“Orang ke rumah sakit tentu untuk berobat kan? Masa nyalon?”

“Ohayou..”, sapa Ten dan Jae menggeser pintu ruang band.

“Ou! Pagi, adik-adikku yang imut!”, balas Johnny ramah.
“Yuta-senpai belum datang?”, tanya Jae meletakkan tas.
“Dia tidak masuk..”
“Kenapa?”
“Sakit..”

“Johnny, aku kan tidak bilang Yuta sakit..”, potong Sol.
“Tapi dia ke rumah sakit kan??”, bantah Johnny.
“Yuta-senpai tidak masuk? Hmm.. Hayashi juga tidak masuk lho..”, celetuk Ten dengan nada nakal.

“Terus sekarang... Kenapa kamu bawa-bawa nama Hayashi kemari?”, tanya Sol heran.
“Lho? Bukankah kebetulan yang bagus? Mungkin mereka bertemu di tengah jalan lalu bolos bareng atau bagaimana kan, siapa yang tahu?”, jelas Ten asal.
“Akhir-akhir ini Ten-senpai sering memperhatikan Hayashi-senpai ya..”, kata Jae.
“Tidak sengaja saja.. Aku sering tidak sengaja menemukannya.. Tadi aku lewat kelas 2-A dan tidak menemukan Hayashi.. Padahal Takamura datang lho..”
“Kenapa kau bergosip seperti perempuan sih?”, tanya Johnny berpikir normal. Masih pagi soalnya.


$$$$$


Yuta mengambil minuman kaleng dari mesin minuman. Pagi-pagi harus ke rumah sakit adalah hal langka. Bisa bolos, hehey! Ketika Yuta meminum minuman kalengnya, ia melihat seseorang yang ia kenal melewatinya.

“Hayashi? Kenapa dia kemari? Apa dia juga bolos sekolah?”, Yuta mengerutkan kening lalu mengikuti Hakuro.

Setelah berjalan cukup lama, Hakuro berhenti pada sebuah ruangan. Ia masuk ke dalam sana. Yuta membaca nama pasien yang tertera di depan pintu.

“Hayashi Tsukiko..?”


$$$$$


Aku mengganti bunga dan air dalam vas bunga yang ada di ruang inap ibuku. Hari ini bunga lili. Setelah itu aku mengecup kening ibu dan mengambil tempat duduk di dekat kasur.

“Ohayou, kaa-san (ibu)..”, sapaku.

Aku masih mengharapkan balasan sapaan dari ibu. Tapi dia masih belum sadarkan diri. Sudah berapa tahun ya? Hm, aku bahkan sudah lelah menghitungnya. Kalau tidak ada kuasa hukum yang mengikat paman Takamura, mungkin alat-alat ini sudah dicabut.

“Ano ne, kaa-san.. Kemarin Rin bertengkar hebat dengan paman.. Ini kali pertama aku meliaht Rin begitu marah pada ayahnya.. Ia bahkan pergi dari rumah.. Mungkin karena dia kelelahan juga ya? Hm.. Oh ya, sebentar lagi akan ada kontes kreasi... Aku sudah berusaha dengan keras untuk membanggakan nama Kaijou, jadi doakan aku ya!”

Aku kembali berbicara dengan ruang kosong. Aku tahu ini menggelikan, tapi aku percaya ibu masih bisa mendengarku. Aku sering berceloteh sendiri di kamar ini. Aku bicara sangat banyak. Setelah kelar dari ruangan ini, hatiku akan lega.

“Rin sempat mengajakku untuk ikut pergi.. Tapi tentu saja aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.. Aku juga ingin menemani Rin.. Dia mengirim sms, katanya untuk sementara dia akan menginap di hotel..”, aku bercerita.
“Taeyong-senpai adalah orang yang sangat berharga untuk Rin.. Jadi kupikir Rin marah memang karena paman menyuruhnya untuk putus.. Aku tahu alasan paman meminta Rin putus kok.. Waktu itu aku tak sengaja dengar paman mengatakannya dengan kolega kerja yang berkunjung ke rumah.. Paman akan membangun kemitraan kerja dengan perusahaan yang lebih besar.. Untuk mempermudah jalinan, paman berniat menjodohkan Rin dengan koleganya itu..”
“Aku juga kesal.. Bisa-bisanya paman memperlakukan Rin seperti itu.. Tapi aku bisa apa? Aku siapa?”, aku menundukkan kepala.

Cukup lama aku bebricara di dalam ruang inap ibu. Aku memutuskan untuk mengambil kesegaran udara di taman rumah sakit.


$$$$$


“Yo..!”, sapa Yuta duduk di sebelah Hakuro.
“Eh? N-nakamoto.. San..?”

Yuta tersenyum.

“Terkejut?”, tanyanya.
“Sedang apa disini?”
“Aneh ya, kita punya pertanyaan yang sama.. Aku juga mau bertanya itu padamu lho..”

Hakuro mengerutkan kening.

“Aku... Menjenguk ibu..”, jawab Hakuro pelan.
“Sou..? Baik, karena sudah jujur.. Akan kubalas setimpal..”
“Eh?”
“Aku menemani Taeyong check-up..”

Alis Hakuro agak menyatu. Ia tak percaya dengan jawaban Yuta. Apakah dia bercanda?

“Taeyong-senpai..? Taeyong-senpai pacarnya Rin?”, tanya Hakuro memastikan.
“Ya.. Taeyong yang itu..”, jawab Yuta.
“Taeyong-senpai kenapa?”
“Hahahaha, keren.. Kita punya pertanyaan yang sama lagi..”, ujar Yuta menatap Hakuro.

Hakuro menghela nafas. Sepertinya dia sedang berpikir. Sesaat ia terpikir Rin. Bukankah ia sama sekali belum pernah mengerti Rin? Anak itu kan suka sekali membuat Hakuro penasaran dengan semua rahasia yang ia miliki bersama Taeyong. Mungkin kalau Hakuro bisa mengerti Rin, dia bisa membantunya.

“Ibuku koma setelah kecelakaan beberapa tahun yang lalu..”, jawaban Hakuro membawa seulas senyum di bibir Yuta.
“Hayashi ternyata orang yang jujur ya.. Oke, karena kau sudah jujur lagi.. Akan kubalas dengan layak juga..”

Darimana Yuta tahu kalau jawaban Hakuro jujur?

“Leukimia..”
“Eh?”
“Taeyong mengidap leukimia stadium awal..”
“Bukankah kau mengatakan akan membalas dengan layak? Kenapa malah bohong?”
“Heh, terdengar bohong ya? Tapi kalau aku mengatakan kebohongan, pasti akan terdengar manis.. Kenyataan memang pahit, Hayashi..”
“Sonna (tidak mungkin)..”

“Tenang.. Baru stadium awal kok.. Kecanggihan dan teknologi yang dimiliki ruamh sakit ini, pasti bisa membantu proses penyembuhan Taeyong.. Jadi sebelum Taeyong sembuh, jangan katakan ini pada Rin ya..”
“H-hai..”

Eh, tunggu. Jangan katakan pada Rin? Apa itu artinya Rin belum tahu? Taeyong punya rahasia yang bahkan Rin tidak tahu?
Hakuro menatap Yuta cepat. Pria itu terlihat biasa saja dengan senyum kecil menyapa pasien anak-anak dengan ramah. Siapa dia?


“Nakamoto-san.. Kau itu sebenarnya.. Siapa?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar