Seventh Bite
Aku
menatap Rin yang sedang memilih kemeja di seberangku. Ia terlihat santai dan
menikmati belanja hari Minggu ini. Tanpa kusadari aku tersenyum begitu saja
memperhatikan Rin.
“Kenapa
kau tersenyum begitu?”, tanya Rin membuyarkan lamunanku.
“Eh?
T-tidak kok.. Aku sedang.. Eemm.. Membayangkan..”, jawabku ragu sambil menggali
baju-baju diskon.
“Membayangkan
apa?”, Rin malah terdengar semakin tertarik.
Matilah
aku. Harus kujawab apa? Ayo, Haku cepat berpikir! Cari sesuatu!
“I-itu..
Membayangkan.. Kemesraan.. Rin dengan Taeyong-senpai..”, lirihku masih
terdengar tak yakin.
“Hah?
Kenapa kau membayangkan hal seperti itu?”, ia menaikkan satu alisnya heran.
“E-entahlah..
Terbesit begitu saja.. M-mungkin karena Rin dan Taeyong-senpai terlihat sangat
bahagia jika bersama.. S-setidaknya, di mataku..”, jelasku rancu.
“Ahahahaha..
Kau ini aneh sekali.. Kau membayangkan orang pacaran karena kau ingin pacaran,
Haku.. Aku benar kan?”
“Eh?!
Tidak begitu, Rin!”, elakku cepat dengan wajah merah padam.
“Kau
harus punya pacar yang bsia melindungimu.. Kuat, berwibawa, disegani, perhatian
hanya padamu, menyayangimu, mengayomimu, dan selalu membuatmu nyaman juga
bahagia..”, jelas Rin beralih ke rak tas.
Tanpa
menjawab, aku langsung memikirkan pria yang dimaksud Rin. Otakku langsung
membuat gambaran pria idaman. Beberapa detik akhirnya gambar pria idaman itu
muncul. Semakin jelas, jelas, jelas, dan..
“Eh?!!
Kenapa Nakamoto-san yang muncul?!”
$$$$$
Waktu
lomba sebentar lagi. Para peserta yang sudah berhasil lolos seleksi semakin
hari semakin gugup untuk naik ke atas panggung kontes kreasi. Latihan yang
dilakukan pun jadi kurang efektif. Bukannya semakin sempurna, mereka malah
membuat berbagai kesalahan.
“Baik,
kita istirahat lima belas menit dulu..”, ujar Taeyong ke anggota timnya.
Semua
langsung bubar teratur dengan bermacam-macam keluhan. Grogi. Itu yang mereka
rasakan. Dan itu yang sedang dipikirkan Taeyong. Bagaimana cara mengatasi
anggota tim B yang grogi begini?
“Taeyong-senpai..”,
Rin muncul di ambang pintu klub dance selagi Taeyong bersandar dan bepikir di
tembok.
“Oh,
Rin.. Ada apa?”, tanyanya menghampiri Rin keluar.
“Latihannya
sudah selesai? Tumben cepat sekali..”, ujar Rin.
“Tidak..
Aku mengistirahatkan mereka.. Akhir-akhir ini latihan berjalan tidak sesuai
rencanaku..”
“Hm?
Kenapa begitu?”
“Mereka
semua gugup dan grogi.. Jadi banyak melakukan kesalahan kecil..”
Rin
mengangguk mengerti sambil ikut memikirkan cara mengatasi ini.
“Oh
ya.. Kau mencariku sampai kesini, ada perlu apa?”, tanya Taeyong sekali lagi.
“Oh!
Ini.. Aku mau memberikan susunan acara untuk kontes kreasi.. Tim B tampil nomor
enam..”, jelas Rin menyerahkan beberapa lembar kertas berisi tabel acara.
“Nomor
enam? Hmm.. Tidak buruk..”
“Ngomong-ngomong,
kau sama sekali tidak memberitahuku drama apa yang akan tim B mainkan..”, kata
Rin mengedarkan pandangan ke ruang dance mencari jawaban sendiri.
“Hei..
Kau tidak sabaran sekali.. Kalau waktunya tiba nanti, kau akan tahu..”, Taeyong
menutupi pintu ruang dance dengan tangan dan tubuhnya agar Rin tak bisa
menelisik ke dalam.
“Hah,
curang sekali.. Kau senang ya membuatku tidak bisa tidur karena penasaran?”,
Rin melipat tangan mencibir Taeyong yang tersenyum.
“Mungkin
iya..”
“Hei!
Dasar.. Aku ini ketua OSIS lho.. Masa tidak diberitahu sih?”
“Anggap
saja kau adalah ketua OSIS yang kurang beruntung karena berpacaran dengan ketua
tim yang menganggapmu sebagai kekasihnya, bukan sebagai ketua OSIS..”, jawab
Taeyong.
“Kalau
sedang menyembunyikan sesuatu saja langsung jadi pintar.. Hmph..”
“Salah
Rin juga..”
“Kok
begitu?”
“Kau
membuatku ingin memberikan kejutan manis setiap saat.. Pft..”
“Arara..
Darimana kau belajar menggodaku dengan kata-kata mendebarkan itu,
Taeyong-senpai?”, Rin agak melebarkan mata tak percaya.
“Err,
anak band..?”, jawab Taeyong ragu.
“Beraninya
mereka menodai pacarku yang polos!!! Ya sudah Taeyong-senpai, aku akan ke klub
band sekarang! Awas saja kalian ya.. Huh!”, Rin pergi darisana dengan langkah
tegas dan penuh emosi.
Taeyong
terkekeh geli melihat sikap Rin yang sangat imut di matanya itu. Melihat sosok
Rin menjauh lalu menghilang dari lantai tiga, ia lalu menghela nafas singkat.
Raut wajahnya berubah drastis. Senyum bahagianya hilang. Sorot matanya menjadi
sendu.
Hakuro
yang sedang mencari inspirasi untuk menulis bait lirik di buku catatannya, tak
sengaja melihat ekspresi Taeyong. Ia memiringkan kepala heran. Kenapa Taeyong
berwajah begitu? Bukankah tadi suaranya terdengar ceria dan penuh senyuman?
Tidak, ia tidak punya keberanian untuk melangkah menanyakan keadaan Taeyong.
Sementara
itu di klub band, Yuta sedang mengajari tim vokal berlatih lagu baru yang sudah
jadi. Lirik yang dibuat Yuta dan nada yang dibuat Jae, Ten, dan Sol. Johnny
juga menambahkan beberapa ad-lib untuk mengangkat suasana lagu itu.
“Yang
disini, kita ulangi sekali lagi.. Usahakan jangan ambil nafas di tengah-tengah,
kalian akan kesulitan untuk mengikuti ritmenya..”, jelas Yuta.
“Baik..”,
jawab anggota tim A.
Rin
mengurungkan niatnya ketika ia mengintip dari balik pintu ruang band. Keseriusan
anak band membawa seulas senyum di wajah Rin. Baru kali ini ia melihat klub
band mengajari orang lain selain anggota band sendiri. Baru kali ini juga ia
melihat latihan klub band. Mereka terlihat sangat berbeda. Terlihat lebih
segar, bersemangat, dan.. keren.. mungkin..?
“Sepertinya
aku tidak perlu mencemaskan mereka..”, pikir Rin berjalan menuju tangga. “Nah,
lebih baik sekarang mengusut masalah lain sebelum festival budaya..”
$$$$$
Rin,
Riko, dan Takuya. Ketiga anggota OSIS ini sedang mempersiapkan arena untuk
festival budaya. Mereka menyusuri koridor utama Kaijou untuk merancang desain.
Yukio dan Ryou sendiri kebagian tugas mengatur denah festival di lapangan.
“Kalau
kita pasang lampu disepanjang tangga, biaya yang dikeluarkan OSIS akan semakin
tinggi..”, ujar Riko mengestimasi dana.
“Bagaimana
kalau lilin saja?”, usul Takuya.
“Lilin?
Butuh banyak sekali lilin untuk menerangi tangga saat malam hari kan?”, sahut
Riko.
“Mudah
saja.. Kita minta bantuan para murid untuk mengumpulkan masing-masing satu
batang lilin.. Nah lilin itu yang akan kita gunakan untuk menerangi tangga dan
jalan menuju lapangan..”, jelas Takuya.
“Sebenarnya
ide bagus.. Tapi bagaimana kalau nanti ada yang tidak sengaja menyenggol
lilinnya? Lilinnya mungkin bisa patah, jatuh atau bahkan terjadi kebakaran..”
“Iya
juga sih.. Hmmm..”
Rin
diam melihat tangga. Penerangan yang digunakan untuk menjadi pemandu jalan
menuju ke lapangan. Di lapangan sana sudah ada api unggun dan akan ada pesta
kembang api untuk penutupan.
“Bisa
saja.. Untuk mengurangi desak-desakkan, tiap kelas akan menuju ke lapangan
secara bergilir.. Kita tidak bisa melindungi lilinnya dari gangguan anak
nakal.. Tapi kita bisa mencegahnya dengan menempatkan polisi sekolah untuk
menjaga barisan lilin itu.. Bagaimana?”, usul Rin.
“Ide
bagus..!”, Riko dengan cekatan langsung memasukkan ide tersebut ke buku
catatan.
Mereka
kembali merancang desain bagian sekolah yang lainnya. Ketika mereka melewati
bagian rak sepatu, obrolan para gadis yang terdengar asyik mengusik telinga
Rin.
“Sou
sou! Aku sebal sekali dengan Hayashi itu.. Dia murahan sekali mau merebut
Yuta-senpai kita.. Ya kan?”
“Iya,
memang begitu.. Katanya Hayashi dan Takamura itu adalah pelacur.. Mereka
bekerja di love hotel yang sama..”
“Heee,
menjijikan.. Aku malu punya ketua OSIS seperti itu.. Bagaimana kalau Kaijou
dipandang rendah oleh sekolah lain?”
“Kelihatannya
saja sempurna, tak tahunya main belakang..”
“Ano
ne..”, sela Rin dengan nada tajam.
Suara
Rin yang begitu dingin membuat para siswi itu menoleh. Melihat ekspresi Rin
yang tersenyum tajam ke arah mereka, para siswi itu hanya bisa terdiam.
“Jadi..
Darimana rumor itu beredar, hm?”, tanya Rin masih dengan lantunan yang santai.
Tak ada yang menjawab. “Oh jadi begitu.. Jadi kalian sendiri yang menyebarkan
gosip itu ya? Sengaja berbincang dengan keras agar didengar untuk menyebarkan
rumor tak jelas seperti itu..”, ujar Rin mendekati para siswi.
“K-kami..
Kami..”, salah satu dari mereka hendak membantah.
“Hm?
Kami apa? Mengaku salah? Atau tak mau disalahkan?”, tanya Rin.
“Apa
sih? Jangan mentang-mentang kau ketua OSIS jadi bisa menindas kami seperti
itu!”, bentak salah seorang siswi disana.
“Jangan
bercanda! Kekonyolan kalian itu hanya akan membuang waktu! Kalau kalian memang
suka Nakamoto-senpai atau Taeyong-senpai, lakukan hal bermakna! Jangan jadi
penggosip tidak berguna yang hanya akan memperburuk kualitas Kaijou!”
“Apa
sih maumu? Jangan ganggu kami! Urus saja masalahmu sendiri!”, kini mereka
berani mendorong Rin.
“Hoo,
jadi mau main kasar? Baik..”
Rin
menarik kerah baju siswi yang berdiri di tengah lalu menatapnya kesal.
“Dengar
ya.. Aku bisa saja memperlakukan kalian sesuka hatiku.. Larangan jangan ganggu
kami yang kalian bentakkan ke aku itu seharusnya aku yang katakan.. Mungkin
kalian bawa kaca, tapi sepertinya kaca itu kurang besar untuk melihat diri
kalian sendiri.. Mulai sekarang, jangan ganggu aku.. Urus masalah kalian
sendiri..”, gertak Rin kalem. “Kalian tentu tidak ingin kan didepak keluar dari
Kaijou karena masalah sepele ini?”, tanya Rin dengan seulas senyum sambil
merapikan kerah baju yang ia tarik tadi.
Mereka
tak berani menjawab. Rin menghilangkan senyum di wajahnya. Ia membalik badan
lalu memerintahkan Riko dan Takuya untuk pergi darisitu. Sepeninggalkan Rin,
kaki para siswi itu langsung lemas seketika. Dikeluarkan dari sekolah? Bukan
hal mustahil untuk diwujudkan Takamura Rin.
“Sepertinya
mereka adalah kelompok siswi yang sering menebar gosip miring orang-orang lemah
yang tidak mereka sukai..”, celetuk Takuya berjalan mengikuti Rin.
“Ya..
Sudah banyak yang melaporkan tindakan mereka ke kelas polisi.. Tapi belum
pernah ditindaklanjuti karena mereka memaksa korban untuk mengakui kejahatan
mereka sebagai suatu lambang persahabatan dan candaan belaka..”, jelas Riko.
“Kalau
mereka tidak berubah.. Laporkan padaku..”, kata Rin.
“Baik,
ketua..”
$$$$$
Festival
budaya. Ramai, sesak, seru, menyenangkan. Kata-kata itu dapat disimpulkan
sebagai kesuksesan untuk Kaijou. Banyak orang umum yang datang, acaranya
berjalan lancar dan tidak ada masalah dalam keamanan. Masing-masing kelas
menyuguhkan kreasi yang berbeda-beda. Ada yang rumah hantu, maid-kafe,
photo-booth, kedai pinggiran, bahkan....
“Kafe
kucing..”, Taeyong berdiri tegak di depan kelas OSIS.
Matanya
melihat ke dalam kelas yang begitu ramai dengan gadis-gadis pecinta kucing.
Manis-manis dan imut. Tapi tujuan Taeyong kemari adalah untuk melihat Rin.
Katanya dia pakai baju maid dan bandana telinga kucing. Pokoknya harus lihat.
Sekarang. Juga.
“Kau
pasti mencari Rin..”, ujar Takuya muncul dengan pakaian pelayan dan bandana
kucing di kepalanya.
“Ya..
Dimana dia?”, tanya Taeyong langsung.
“Dia
memilih untuk bekerja di bagian pengawasan bahan.. Dia sangat malu dengan
penampilannya itu..”
“Oh
ya? Dimana aku bisa menemukannya?”
Takuya
menunjuk ke ruang penyimpanan dokumen yang dijadikan tempat persediaan bahan
kafe. Taeyong mengangguk mengucapkan terimakasih lewat pancaran sinar matanya.
Takuya mengacungkan ibu jari sebagai balasan.
Taeyong
melangkah mendekati pintu ruang dokumen. Dia sudah menyiapkan kamera ponselnya
untuk langsung menjepret sosok kucing Rin. Modenya sudah HD, resolusinya sudah
paling tinggi, kameranya sudah siap bekerja. Salahsatu ujung bibir Taeyong naik
dengan nakalnya. Perlahan ia membuka knop pintu ruang dokumen dan..... cekrek.
Oh
sial. Dia lupa mematikan suara kamera! Rin pasti akan sewot dan menggebuknya
dengan sarung tangan kucing! Tidak!
Tapi
tak terjadi apa-apa. Taeyong bangkit berdiri dari posisi meringkuk melindungi
kepala. Kenapa tidak ada respon? Jangan-jangan tidak ada orang di dalam. Hm.
Eh?
Layar
ponsel Taeyong menampilkan hasil foto yang berhasil ia ambil tadi. Taeyong
tersenyum lalu melangkah masuk ke ruang dokumen itu. Matanya melihat Rin sedang
duduk tidur dengan tenangnya. Pasti dia sangat lelah.
Taeyong
menghampiri Rin lalu berjongkok di dekatnya. Ia menyingkirkan rambut yang
menutupi wajah Rin. Oh, wajahnya sangat damai dan menentramkan. Pria ini tak
bosan-bosannya tersenyum manis saat menikmati wajah Rin.
‘Cekrek’
Anggap
foto kedua yang dia ambil ini sebagai cadangan. Taeyong kembali menyimpan
ponselnya di saku. Rin benar-benar kelelahan. Bahkan suara debaran jantung
Taeyong yang berisik pun tak dapat membangunkannya. Taeyong kembali tersenyum
disitu. Meski bibirnya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Dua perasaan yang
menyerang Taeyong secara bersamaan selalu membuatnya kesal.
“Hm...?
Eh, astaga!”, Rin terkejut sendiri saat membuka matanya. “Aku ketiduran! Aduh,
gawat..”, katanya. “Lho? Taeyong-senpai? Kenapa ada disini?”, tanya Rin
akhirnya menyadari kehadiran Taeyong.
“Aku
tidak bisa melewatkan Rin yang pakai baju pelayan dan bandana kucing kan?”,
jawab Taeyong menunjukkan layar ponselnya.
“Apa?!!
Curang sekali!! Ini pelanggaran HAM! Kau mencuri fotoku!!”, omel Rin berusaha
merebut ponsel Taeyong.
“Aku
tidak mencuri kok.. Aku mengambilnya diam-diam..”, bela Taeyong menghindari
tangan Rin.
“Taeyong-senpai,
ayo hapus..!”, rengek Rin.
“Heee,
kan sayang kalau dihapus..”, ujar Taeyong santai.
“Memalukan
sekali..! Hapus saja lah..”, pinta Rin lagi.
“Cantik
kok.. Akan kuprint dan kutempel di dinding kamarku, jadi wallpaper dinding..
Oh! Akan kuprint jadi sarung bantal juga untuk menemani tidurku.. Hm, ide
bagus..”, Taeyong menyuarakan semua rencana kotornya.
“Taeyong-senpai!!!!”
Di
luar ruang dokumen, Riko dan Ryou mengerutkan kening.
“Rin
bicara dengan siapa? Kenapa berisik sekali dia?”, tanya Riko.
“Fufufufufufu..
Sama belahan jiwanya..”, jawab Takuya kalem sambil menatap napkin.
$$$$$
Bukan
Yuta namanya kalau dia ikut berpartisipasi dalam kreasi kelas. Oke, dia ikut
bantu menyiapkan kelas. Tapi tidak terimakasih untuk tugas menjaga kelasnya.
Taeyong saja sudah kabur, kenapa dia masih harus disana? Tidak ada alasan untuk
berdiam di kelas 3-B. Saatnya berburu wanita seksi yang datang ke Kaijou!
“Yuta!”,
panggil Johnny mendekat.
“Oh,
Johnny.. Kau sedang senggang?”, tanya Yuta.
“Tidak,
aku kabur.. Hahaha..”, Johnny terdengar bangga dengan tingkahnya itu.
“Oke,
aku juga.. Ayo kita cari tempat aman..”, ajak Yuta juga terdengar bangga.
Dua
siswa kelas tiga itu kini tengah menyusuri lobby utama yang sangat ramai
dikunjungi orang umum. Banyak sekali tamu yang datang. Tidak tua, muda,
semuanya menikmati festival budaya Kaijou kali ini.
“Arah
jam dua.. Wanita yang di tengah itu.. Cocok tidak?”, tanya Yuta melihat ke arah
lain sambil menikmati jus melon.
“Dadanya
palsu.. Dia pakai sumpalan itu..”, jawab Johnny juga melihat ke arah lain.
“Jam
sembilan disana.. Dia punya lekuk tubuh yang bagus..”
“Dia
suntik botoks.. Tidak sehat..”, kata Johnny menyesap jus jeruk.
Mereka
kembali mengedarkan pandangan mencari mangsa untuk didekati.
“Arah
jam sebelas.. Posenya bagus..”, ujar Johnny penuh gaya layaknya senior
berandal.
“Itu
patung, Johnny.. Itu patung..”, jawab Yuta.
“Yang
datang bersama wanita lebih tua itu imut..”, Johnny kembali mendapat target.
“Dia
pakai seragam TK, Johnny.. Dia masih TK..”, jawab Yuta tanpa nyawa.
Ketika
kedua pria bosan itu kehabisan target, seorang malaikat turun dari tangga. Jae.
“Senpai..
Kalian sedang nunggu gajian? Kenapa duduk begitu?”, tanyanya melihat Yuta dan
Johnny layaknya orang melarat.
“Jae..
Jae, sudah datang.. Johnny.. Kita selamat..”, Yuta mengguncang-guncangkan tubuh
Johnny yang tidak karuan dengan lemas.
Tatapannya
kosong, mulutnya sedikit terbuka, sedotan bersarang di lubang hidungnya, hiasan
minuman bentuk payung bertengger di salah satu telinganya.
“Hahaha,
kalian ini selalu saja bertingkah konyol.. Kenapa tidak membantu kelas saja
sih?”, tanya Jae membantu Yuta dan Johnny bangkit berdiri.
“Not
my style..”, jawab Yuta dan Johnny kompak bergaya dengan pose yang sama.
“Ya
sudah.. Ikut aku saja..”
“Kemana?”
“Ke
lapangan basket..”
Lapangan
basket. Disana sudah ada Ten bersandar pada pagar balkon penonton lantai dua.
Wajahnya terlihat senang menikmati lomba olahraga yang diadakan. Tenis meja.
“Hai,
Ten-senpai.. Aku bawa teman..”, sapa Jae ramah.
“Astaga,
Jae.. Kenapa bawa pemulung sih?”, omel Ten sebal.
Lihat
saja penampilan Yuta dan Johnny saat ini. Seragam berantakan, rambut
acak-acakan, sampah minuman mencuat kemana-mana dari saku seragam mereka.
“Kalian
sedang lihat apa?”, tanya Johnny.
“Tenis
meja..”, jawab Ten.
“Heee,
membosankan sekali..”, Yuta mencibir.
“Lihat
dulu baru komentar..”, kata Ten.
Yuta
melirik ke lapangan basket yang saat itu sedang dijadikan arena tenis meja.
Biasa saja tuh. Membosankan sekali. Pandangan Yuta berhenti pada satu titik.
“Meja
tenis meja nomor tiga, pihak A, tim merah!”, celoteh Yuta berapi-api.
Ketiga
temannya langsung mengarahkan pandangan ke meja tenis paling ujung. Hayashi
Hakuro. Siswi itu sedang main tenis meja membawa nama kelas 2-A. Permainannya
luar biasa indah. Ternyata Hakuro bisa main tenis meja dengan baik. Meski
pandangannya buruk, tapi Hakuro bisa fokus dan konsentrasi pada bolanya. Ia
juga bisa mengatur tenaga saat memukul bola itu.
Tapi
sayang sekali.. bukan aspek permainan Hakuro yang menyita perhatian Yuta.
“Bakpao......”,
lirihnya dengan senyum mesum menatap nirwana.
“Dada
Hayashi sih lebih besar dari bakpao.. Mungkin sebeasr bola volley?”, ujar Johnny.
“Tidak
tidak.. Terlalu besar.. Mungkin sebesar biji ek..”, timpal Ten.
“Kekecilan,
senpai..”, sahut Jae kalem.
Sepanjang
permainan, hanya dada Hakuro yang dilihat Yuta. Oh sepertinya ini hadiah
cuma-cuma untuk Nakamoto Yuta. Ia bisa menonton dada Hakuro bergoyang mengikuti
irama musik di kepalanya. Selesai pertandingan, Yuta dengan bringas memeluk
Jae.
“Terimakasih,
Jae!! Kau adalah penyelamatku!!! Terimakasih sudah mengajakku kemari!! Aku suka
tenis meja!!!”, teriak Yuta heboh.
“Yuta-senpai..
Aku.. Tidak.. Bisa.. Nafas..”, Jae kehabisan oksigen saking kencangnya pelukan
Yuta.
$$$$$
Hakuro
berlari masuk ke dalam gedung utama. Ia mencari Rin. Daritadi ia belum bertemu
Rin sama sekali. Saat dikunjungi ke kelas OSIS pun, katanya Rin sedang keluar beli
bahan tambahan bersama Taeyong. Sampai sekarang Rin belum kembali lagi.
“Hah..”,
helaan nafas Hakuro begitu panjang.
Ia
memutuskan untuk duduk di taman belakang sekolah yang agak sepi dari
pengunjung. Paling tidak disana ia bisa bernafas dengan lega. Memenangkan
pertandingan tenis meja bukan hal menyenangkan untuknya. Jadi tak ada alasan
untuk Hakuro tersenyum sekarang.
“Ah..
Gedung klub pasti sepi.. Aku ke ruang klub saja..”, pikir Hakuro langsung
berlari kecil kesana.
Benar
sekali dugaannya itu. Ruang klub sepi. Oh tidak. Tidak sama sekali sepi.
“Nakamoto-san?”,
panggil Hakuro memasuki ruang klub ikebana.
“Oh!
Hayashi, selamat siang..”, balas Yuta ramah.
“Sedang
apa disini?”
“Aku
sedang melihat pertandingan sepak bola.. View dari ruang ikebana lebih bagus
ketimbang ruang band..”, jelas Yuta menatap lapangan sepak bola dari jendela.
“Oh,
baiklah.. Maaf mengganggu..”, Hakuro hendak meninggalkan ruangan.
“Tunggu..”,
cegah Yuta.
“H-hai?”
“Kau
tidak keberatan kan kalau menemaniku disini?”
“Eh?
Kenapa?”
Yuta
menundukkan kepala. Dengan satu helaan nafas...
“Johnny
pergi bermain di kelas penitipan anak Ten asyik tidur di perpustakaan tak mau
diganggu bahkan oleh ketua klubnya Jae kembali ke kelas untuk bergantian jaga
dengan temannya Sol asyik bergelut dengan kelasnya yang membuka salon
daritadi..”, jelas Yuta cepat.
Mata
Hakuro bulat sempurna menatap Yuta. Ia terdiam tak tahu harus merespon apa.
Tepuk tangan kagum? Jawaban pendek? Atau apa?
“Intinya
aku kesepian..”, simpul Yuta singkat.
“Oh..
B-baik..”, jawab Hakuro mengangguk mengerti lalu kembali masuk kelas.
Yuta
tersenyum saat Hakuro sudah berdiri di depannya. Menatapnya dengan pancaran
takut. Entah kenapa kalau berdua dengan Hakuro, Yuta tak bisa mengalihkan
perhatiannya dari wajah gadis itu. Akan tetapi kalau sedang bersama
teman-temannya, pikiran Yuta selalu nakal dan ingin menggoda Hakuro.
“Jadi..
Bukankah kau sedang menonton pertandingan sepakbola?”, tanya Hakuro memecah
bayangan Yuta.
“Oh,
benar.. Hehehe..”, jawabnya lalu bersandar menyamankan diri di kaca jendela.
Sesaat
hening tak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara ramai dari bawah yang
terdengar sampai ke ruangan itu yang mengisi ruang klub ikebana.
“Nakamoto-san..”,
panggil Hakuro memecah hening.
“Hm?”,
jawab Yuta.
“Aku
mau buat sebuah pengakuan..”, kata Hakuro tanpa menoleh.
“Pengakuan?
Apa?”
“Lirik
yang kubuat untuk membantumu itu.. Sebenarnya adalah sebuah surat untuk
seseorang..”
“Surat
untuk seseorang? Oh astaga! Apa aku melakukan kesalahan? Aku kira surat itu
adalah lirik untuk tim A..!”, Yuta agak panik. Tapi gelengan Hakuro
menenangkannya kembali.
“Tidak..
Itu memang lirik untuk tim A.. Tapi setiap kata di lirik itu... adalah
perasaanku..”
Tiba-tiba
Yuta blank. Jujur saja, yang menangani lirik Hakuro bukan dia, tapi Jae dan
Ten! Dia sama sekali belum baca apalagi paham isi liriknya. Sial, sekarang
harus bereaksi bagaimana coba?
“Kalimatnya
sengaja kubuat rumit agar orang yang kutuju tidak dapat memahaminya..”, ujar
Hakuro.
“Emm..
Etto.. Apakah itu artinya kau tidak ingin orang itu tahu suratmu? Bukankah
kalau begitu perasaanmu tak akan tersampaikan?”
“Ya..
Aku khawatir kalau orang itu tahu, dia akan memperlakukanku dengan beda..”
“Orang
itu yang kita bicarakan ini.. Siapa? Em, itu juga kalau kau mau cerita sih..”
Hakuro
tersenyum lalu menatap Yuta. Kali ini sorot matanya lembut tanpa keraguan.
“Seorang
siswa.. Waktu aku kelas satu, aku sering memperhatikannya bermain sepakbola
dari jendela ruangan ini.. Dia sangat bersemangat dan terlihat bahagia sekali..
Apalagi kalau bisa mencetak gol..”
Yuta
tertegun. Orang yang dimaksud Hakuro.. sepertinya dia kenal.
“Aku
sangat menyukai pria itu.. Aku tidak peduli kalau wajahnya kotor karena pasir..
Aku juga tidak melihat tubuhnya yang penuh bekas luka karena jatuh.. Aku hanya
suka melihatnya tersenyum lepas dan mendengar suaranya.. Dia sangat baik..”,
cerita Hakuro mengedarkan pandangan ke lapangan.
Yuta
terdiam. Ia benar-benar kenal orang yang dimaksud Hakuro. Ia kenal dengan baik
orang itu. Baru kali ini ia merasakan tercekat. Rasanya mau bicara, tapi tidak
ada yang bisa keluar dari mulutnya. Jadi Yuta hanya mendengarkan.
“Waktu
itu dia pernah rela sakit demam untuk melindungi box anak anjing yang
ditinggalkan di area pembuangan sampah Kaijou.. Dia tidak keberatan sama
sekali, bahkan wajahnya begitu bahagia.. Teman-temanku bilang dia tampan, tapi
bodoh.. Tapi kurasa.......”, Hakuro menggantungkan kalimat untuk mengambil
waktu menatap Yuta. “Nakamoto-san adalah pria tampan yang berhati tulus..”
Butuh
waktu beberapa detik untuk mencerna kalimat terakhir Hakuro. Kenapa Hakuro
menatapnya dengan seulas senyuman? Apa hubungan cerita panjangnya tadi dengan
dirinya? Proses berpikir ini membuat mulut Yuta bungkam.
“Aku
tidak pernah membenci Nakamoto-san.. Meski aku menghindarimu, bukan berarti aku
menjauhimu.. Aku tidak bisa memanggilmu dengan senpai.. Karena telingaku akan
berubah merah saking malunya.. Nakamoto-san adalah pria yang ingin kukenal
lebih baik dari sekadar ketua klub band atau pria mesum..”
“Hayashi,
kau...”
“Ya..
Kurasa aku telah jatuh cinta padamu..”
Yuta
melayang ke langit ke-tujuh dengan sebuah roket. Ini diluar dugaan!
Cintanya.....
‘Bruk!!’
“Ah,
ittai!!!”, rintih Yuta saat terjatuh dari sofa.
Hanya
mimpi belaka.
$$$$$
Tangan
Taeyong penuh dengan plastik belanjaan. Sedangkan tangan Rin bersih dari beban.
Oh tentu saja sebagai pria sejati, sebagai kekasihnya juga, Taeyong tidak bisa
membiarkan wanita, kekasihnya, Rin, membawa belanjaan yang berat. Ia harus rela
berkeringat, megeluarkan tenaga bahan bakar makan siangnya tadi untuk membawa
belanjaan kelas OSIS.
“Sini,
biar kubawakan sebagian..”, kata Rin menawarkan diri.
“Tidak..
Aku baik-baik saja..”, jawab Taeyong tersenyum keren.
“Taeyong-senpai..
Tangan dan kakimu sudah gemetaran tuh..”
“Eh?
Ini tarian, Rin.. Kau tidak tahu? Aku menemukan tipe tarian ini..”, jelas
Taeyong berceloteh omong kosong.
“Jadi
masih kuat?”, tanya Rin memastikan dengan ekspresi nakal.
“Tentu
saja..!”, jawabnya mantap.
“Kalau
begitu....... Gendong aku juga!”, Rin melompat ke punggung Taeyong.
“Rin
Rin Rin Rin Rin!!!!”
Dan
akhirnya mereka jatuh bersama secara tidak elit. Bukannya marah, Rin malah
tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Taeyong merintih kesakitan.
“Kau
ini kejam sekali.. Sakit, huhuhuhu..”, rengek Taeyong.
“Lho?
Katanya masih kuat, jadi kupikir kau masih bisa menggendongku yang sudah lelah
ini..”
“Beratmu
lebih berat tiga puluh kali lipat dari belanjaan ini, Rin..”, lirih Taeyong
membuang muka teratur.
“Apa?
Bilang apa?”
“Aku
bilang, cintaku sedalam makna dan setinggi Johnny..”
“Uwah,
tidak mutu sekali..”, gumam Rin. “Kenapa ada Johnny-senpai muncul di rayuanmu?”
“Tidak
boleh ya? Hm, iya juga sih.. Pasti menjijikan ya jadinya..”, sahut Taeyong.
Rin
mengangguk-angguk dengan ekspresi seperti melihat jamur di roti.
“Ya
sudah, lain kali aku pakai yang lain.. Sekarang, ayo beresi kekacauan ini.. Kau
tidak boleh terlalu lama meninggalkan kelas OSIS yang ramai itu..”, ajak
Taeyong.
“Hai
hai!”
Rin
dan Taeyong melakukan tugas itu dengan semangat dan perasaan senang. Tanpa
sepengetahuan mereka, sebuah kamera memotret dua sejoli dari Kaijou tersebut.
“Hmp,
ini pasti akan mengejutkan..”, gumam orang yang memotret Taeyong dan Rin dari
dalam mobilnya itu.
$$$$$
Aku
mengusap kepalaku yang barusaja dicium lantai. Apa ini karma karena telah memimpikan
Hayashi? Tapi kan aku tidak melakukan hal aneh padanya. Tunggu, memimpikannya
diam-diam itu kan termasuk hal aneh. Ah sudahlah. Apa sih yang kupikirkan?
Sakit sekali ini.
“Dimana
sih Ten menyimpan komik dewasanya? Hmm..”
Aku
mencari simpanan kebahagiaan Ten yang ada di ruang band. Anak itu meski
terlihat tidak tertarik, sebenarnya dia cukup antusias lho. Dia punya banyak
sekali simpanan. Ya contohnya, komik, majalah, poster, dan lainnya.
“Asyik
ketemu!”
Ternyata
Ten menyimpannya di dalam sofa. Anak pintar. Tapi aku lebih pintar darimu.
Haha, saatnya menyegarkan pikiran dengan nona-nona di majalah playboy ini. Hup!
“Kau
pasti mengadu ke Takamura..”, suara bentakan yang cukup keras itu membuatku
mengalihkan perhatian dari dada model gravure di majalah yang kubawa.
Hm?
Ada ramai-ramai apa di sebelah?
‘Brak!!’
Aku
sedikit terlonjak kaget mendengar gebrakan. Tidak, mungkin suara benturan.
Karena penasaran aku menempelkan telinga ke dinding yang memisahkan klub band
dan ikebana.
“Kenapa
sih kau sekolah disini?! Kenapa kau dilahirkan? Orang menyebalkan sepertimu
lebih baik mati saja! Tidak pantas hidup!! Brengsek!!”
‘Brak!’
Aku
menatap dinding dengan pikiran kacau. Apa yang terjadi? Dan tanpa kusadari aku
bangkit dari sofa lalu keluar dari ruang band. Aku membuka pintu klub ikebana
dengan wajah agak kesal.
“Y-yuta-senpai..”
Oh
jadi mereka rupanya yang berisik. Aku melihat Hayashi dengan pipi merah ada di
kepungan para siswi itu. Tanpa dijelaskan pun aku tahu apa yang sedang terjadi.
Lagi-lagi tanpa kusadari aku telah melangkah dan menggandeng tangan Hayashi.
Ya, aku membawanya keluar. Dan ini semua kulakukan tanpa berpikir.
Bagus.
Sekarang apa yang akan kulakukan pada Hayashi di ruang band? Kami berdua saja
di ruang band ini. Kenapa aku membawanya kemari? Aku masih tak habis pikir pada
diriku. Sampai kapan aku bisa belajar dari kesalahan?
“Daijoubu?”,
tanyaku membuka percakapan.
“Ya..
Terimakasih, Nakamoto-san..”, jawab Hayashi pelan.
“Duduklah..
“, aku mempersilakan dia untuk duduk bersantai.
Hayashi
tak berbicara apa-apa. Ia menatap lantai dengan kepala sedikit menunduk. Aku
mengamatinya dari sofa ini. Jujur saja, aku ingin menghampiri dan mengobati
lukanya dengan kecupan seperti di drama-drama romansa. Tapi...
Majalah
playboynya kududuki.
Kalau
aku bangkit berdiri dan Hayashi melihat ada gambar wanita bugil di bawah
pantatku, dia bisa teriak dan melancarkan serangan! Dia bisa membunuhku untuk
mempertahankan diri kan? Ah, sial. Apa yang harus kulakukan?
“Nakamoto-san..”,
terimakasih Tuhan Hayashi akhirnya mengajakku bicara.
“Y-ya?”,
jawabku lupa menenangkan diri.
“Maaf
ya..”
“Maaf?”
“Aku
tidak tahu bagaimana menjelaskannya.. Kalau aku boleh jujur, setiap aku
memanggil Nakamoto-san dalam hati, kau selalu hadir.. Benar-benar muncul di
hadapanku..”
“Eh?”,
aku sedikit menaikkan alis bingung.
“Memikirkan
hal bodoh seperti ini.. Membuat perasaanku semakin berkembang..
Nakamoto-san..”, Hayashi mengangkat kepala menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Sepertinya
aku sudah jatuh cinta padamu..”
Aku
menegakkan dudukku. Mataku membalas tatapan Hayashi. Entah kenapa aku masih
sempat berpikir kalau aku ini seperti siswi manis yang barusaja ditembak oleh
senpai idaman sekolah. Kenapa aku jadi siswinya?
“E-eh,
t-tapi aku tidak bermaksud untuk berpacaran dengan Nakamoto-san.. Aku hanya
berpikir kalau aku menyukaimu dan ingin mengenalmu lebih baik..”, ujar Hayashi
panik.
Melihatnya
begitu polos membuatku ingin mendekapnya. Tapi aku hanya tersenyum disini.
“Kalau
aku bilang aku juga suka Hayashi.. Apa kau akan percaya?”
$$$$$
Ten
tersenyum meninggalkan pintu ruang band. Ia berjalan memikirkan kejadian yang
tak sengaja ia saksikan. Sungguh, ia bahkan tak percaya dengan apa yang ia
lihat. Memikirkannya lagi membuat Ten tertawa geli.
Bagaimana
bisa Yuta kena gampar Hakuro, lagi? Hahahaha, konyol sekali senpai itu. Tapi
salah sendiri main ambil barang sakral orang tanpa izin. Jadi kena batunya kan?
Kekekeke.
Begini
kronologisnya, suasana sudah hampir merah muda sempurna ketika Yuta menyatakan
kalau dia juga menyukai Hakuro. Rencananya Yuta hendak berlutut dan menembak
Hakuro secara resmi untuk jadian dengannya. Namun naas, ia lupa majalah porno
sudah siap untuk debut di mata Hakuro. Benar sekali, majalah itu jatuh
terpampang dengan sangat jelas.
$$$$$
Aku
berjalan pulang bersama dengna Haku. Ah, bibirku sepertinya rusak. Daritadi
senyuman di bibir ini tidak hilang-hilang. Sihir apa yang Taeyong gunakan?
Hahaha.
“Senang
sekali.. Pasti terjadi sesuatu..”, tebakan Haku tepat sekali.
“Tidak..
Biasa saja..”, elakku.
“Biar
kutebak.. Kau habis bermesraan dengan Taeyong-senpai ya?”, tebakan Haku tepat
lagi.
“Tidak..
Biasa saja..”, elakku lagi.
“Haha,
Rin.. Wajahmu begitu cerah padahal hari sudah larut.. Pasti terjadi sesuatu..
Ayo ceritakan juga padaku..”
Aku
tersenyum geli lalu menatap Haku.
“Kami
berciuman..”, kataku jujur.
“Benarkah?!
Wah, keren.. Kapan? Apa waktu acara api unggun dan kembang api?”
“Ya..”
“Hei
hei, ceritakan secara detil padaku..”
“Kau
penasaran sekali.. Tidak mau ah..! Tidak ada bayarannya!”, ujarku nakal lalu
berlari kecil.
“Yah,
Rin... Nanti kubelikan es krim deh..”, rengek Haku mengejarku.
Di
festival kebudayaan, acara terakhir. Api unggun dan kembang api. Semuanya
berjalan sesuai rencana. Penerangan jalan adalah lilin, para murid berjalan
dengan rapi dan teratur. Aku mengawasi dari ruang OSIS. Kupikir semua murid
sudah turun ke lapangan, ternyata tidak.
“Kau
juga murid Kaijou, kenapa tidak turun?”, Taeyong datang menghampiriku.
“Aku
mengawasi jalannya acara darisini.. Lebih mudah soalnya.. Kau sendiri kenapa
malah kemari?”
“Lebih
mudah mengawasimu dari dekat..”, jawab Taeyong datar.
Bagaimana
bisa pria ini mengutarakan kalimat romantis dengan wajah datar? Haha, tapi
begitulah Taeyong. Tak lama lagi kembang api akan diluncurkan sebagai tanda
penutupan festival budaya Kaijou. Aku bisa melihat Riko sedang mempersiapkan
aba-aba untuk menyulut kembang api.
“Rin..”,
Taeyong membuatku menoleh dari detik-detik peluncuran kembang api.
“Hm?”,
jawabku singkat.
“Suki
da yo..”, katanya tanpa menatapku.
Kami
bukan pasangan yang jarang menyatakan cinta. Tentu kami juga sering bercanda
memperdebatkan siapa yang rasa cintanya lebih besar. Tapi kali ini beda. Nada
Taeyong terdengar serius. Namun aku bisa merasakan ada yang aneh. ‘Aku
menyukaimu’ yang Taeyong katakan kali ini.. terasa posesif. Seperti ia tak akan
melepaskanku.
“Watashi
mo (aku juga)..”, akhirnya aku menjawab seadanya. Aku kemudian kembali
memperhatikan lapangan.
“Suki
da..”, katanya lagi lalu aku menoleh ke Taeyong. Kali ini aku tak menjawab dan
melihat Taeyong yang menatapku.
“Aku
ingin kau tahu kalau aku mencintamu.. Sebelum kita memutuskan untuk berpacaran,
aku sudah menyukaimu.. Aku semakin menyukaimu ketika kita berbagi rahasia yang
sama.. Aku sangat menyukaimu karena kau adalah Rin.. Mungkin ke depannya akan
ada banyak portal yang menghalangi jalan kita.. Tapi kalau bersama Rin,
rintangan apapun bisa kulalui..”
Jujur
saja saat itu aku tak begitu mengerti kenapa Taeyong berbicara seperti itu. Aku
hanya mendengarkannya tanpa berpikir aneh-aneh. Aku fokus pada suara dan
dirinya tanpa memikirkan isi tersirat yang ingin Taeyong sampaikan.
“Apa
kau bersedia berjalan denganku?”, tanya Taeyong.
“Berjalan,
berlari, melompat.. Asalkan dengan Taeyong-senpai, akan kulakukan dengan senang
hati..”, jawabku.
Taeyong
tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ia menciumku dengan lembut.
Bibirnya hangat, tubuhku serasa tenggelam dalam kenyamanan ini. Entah kenapa
ternyata Taeyong pintar juga mencium wanita.
“Kalau
aku meminta bantuanmu untuk berjalan atau mungkin berhenti lebih dulu, kau mau
kan?”, tanya Taeyong dengan nada lebih santai.
“Eemm..
Kau berniat meninggalkanku?”, godaku.
“Siapa
yang tahu?”, Taeyong mengendikkan bahunya.
“Kau
tahu kan aku ini Takamura Rin.. Kemana pun kau pergi, dimana pun kau
bersembunyi, aku akan selalu bisa menemukanmu..”
Taeyong
lalu tersenyum sambil mengusap kepalaku. Sialan, dia pikir aku anjing?
$$$$$
Jujur
saja. Aku benar-benar tak memikirkan kalau hal ini terjadi. Aku terlalu larut
dalam kenyamanan yang Taeyong bagikan untukku. Aku tak pernah berpikir
bagaimana perasaan Taeyong sebenarnya. Aku tak memikirkan maksud asli Taeyong.
Sekarang
aku merasakan pipiku memanas sempurna. Aku bisa merasakan tatapan kasihan dari
keluarga dan kerabatku. Aku menatap ayahku tajam. Dia barusaja menamparku di
ruang tengah. Di depan para Takamura.
“Sabar,
nak.. Kau jangan terbawa emosi..”, nenekku mencoba untuk menenangkan ayahku.
Apa
yang ia usahakan dari menenangkan ayahku? Ayah bahkan tidak menyesal telah
menamparku dengan keras. Ekspresi wajahnya pun tak berubah. Sorot matanya masih
mengintimidasiku.
“Bukankah
sudah ayah katakan untuk putus?”
“Seenaknya
saja mengaturku.. Kau siapa?”, aku menantangnya.
Well,
ini sudah malam. Aku barusaja pulang sekolah, sudah beberapa hari aku kurang
tidur untuk mengurus festival dan urusan sekolah. Aku yang diselimuti rasa
lelah ini tak bisa berpikir jernih. Aku menyerahkan emosi untuk mengambil alih
kendali diriku.
“Sekarang
kau sudah berani bicara tidak sopan..”, kata ayahku masih dengan wajah yang
sama.
“Aku
bicara tidak sopan pada orang yang tidak sopan padaku..”, sahutku dengan nada
meremehkan.
“Aku
ayahmu, kepala keluarga Takamura.. Aku memintamu untuk putus dari anak itu,
tapi tak kau lakukan.. Kau membuat malu keluarga! Kau mengecewakan ayah..”
“Sepanjang
hidupku berapa kali aku mengecewakanmu, ayah?!”, aku membentaknya dengan nada
sangat tinggi saking sebalnya. Semua orang di ruangan ini terperanjat kaget
mendengarku marah.
“Kau-“
“Aku
belajar dan jadi murid teladan sesuai keinginanmu! Aku berprestasi dengan
membawa nama Takamura! Aku selalu melakukan apa yang kau aturkan untukku! Aku
tak pernah meminta penjelasan karena aku tahu kau menyayangiku! Tapi akhirnya
aku sadar... Kau hanya memanfaatkanku! Kau tiidak pernah menyayangiku! Kau memperlakukanku
seperti binatang peliharaan! Apa kau pantas menyebut dirimu sebagai ayahku!?”
“Takamura
Rin, jaga ucapanmu!”
“Aku
sudah muak dengan keluarga ini! Tidak, Takamura hanya sebuah nama bodoh yang
membuatmu gila! Takamura bukan sebuah keluarga.. Kau tahu betapa aku sangat iri
pada teman-temanku ketika hari orangtua di sekolah? Kau pernah memikirkanku
saat kau bekerja? Apa aku ini ada di hatimu? Kau bahkan tak pernah membuka
pintu kamarku.. Kau tak pernah mengucapkan selamat malam, kau tak pernah menyapaku..
Aku selalu berjuang agar bisa ada paling tidak di sudut matamu.. Tapi kau tak
pernah mau memperhatikanku..”
“Apa
ini semua gara-gara anak bernaam Taeyong itu?”, tanya ayah membuat urat emosiku
kembali nampak.
“Taeyong
tidak ada hubungannya dengan ini! Aku sedang membicarakan dirimu yang tak
pernah menjadi ayah untukku!!”, bentak Rin.
“Kalau
saja kau tidak bergaul dengan Taeyong kau pasti tidak akan berubah seperti
ini!”
Sumpah.
Aku kehabisan kata-kata. Aku lelah berbicara dengan ayah, tidak, pak tua ini.
Daripada aku meneteskan air mata di depannya, aku memilih untuk menarik Haku
dan naik ke kamarku. Biar saja mereka memanggilku aku tak akan menoleh sedikit
pun pada mereka. Biar saja aku dicap tidak sopan oleh para Takamura, toh aku
sudah lelah menjadi Takamura.
“R-rin..
K-kau m-mau kemana..?”, tanya Haku takut.
Oh
ya tentu dia ketakutan melihat diriku memindahkan isi lemari ke kopor. Aku tak
menjawab Haku dan masih sibuk dengan mata gelap. Aku benar-benar tak bias
memikirkan hal lain sekarang. Fokusku hanya satu, pergi dari rumah.
“Rin..”,
Haku memegang tanganku dengan lembut.
“Aku
akan pergi dari rumah sialan ini..”, tegasku.
“Tapi
kau mau kemana?”
“Kemana
pun asalkan tidak berurusan dengan pak tua itu!”
“Rin!
Buka pintunya! Kau sungguh tidak sopan sekali! Ini sudah kelewatan!”, ayah
menggedor-gedor pintu kamar yang kukunci.
“Haku..
Kau mau ikut atau tidak?”, aku menepuk pundak Haku dan menatapnya.
“Aku.....”
Haku
kemudian terdiam. Aku menyesal sekarang. Kenapa aku harus melibatkan Haku dalam
masalahku? Aku sudah membuat Haku
bimbang dan serba salah. Aku tahu dia ingin ikut, tapi tentu saja tidak bisa.
Ah, dasar bodoh! Aku terlalu terbawa emosi dan membuat Haku jadi kewalahan
menenangkan hatinya.
“Tak
apa.. Kau disini saja, Haku.. Maafkan aku telah merepotkanmu..”, ujarku
akhirnya.
“Rin..
Jangan pergi..”
“Aku
akan tetap pergi meski kau yang melarangku.. Aku akan tetap masuk, kita bisa
bertemu di sekolah..”
“Kalau
kau pergi.. Apa yang harus kulakukan dengan keluargamu?”
Satu
hal lagi yang tiba-tiba kulupakan di saat krusial. Keluargaku tak pernah
menerima Haku dengan baik. Bahkan meski orang tua kami sudah menikah, mereka
tak setuju untuk memasukkan nama Haku ke Takamura. Mereka bilang adalah hal
bodoh dan mustahil untuk dilakukan jika Haku menjadi Takamura Hakuro.
“Kau
pasti bisa.. Aku yakin kau punya keberanian dan bisa melindungi dirimu
sendiri..”, kataku tak ingin berlama-lama disini. Aku takut berubah pikiran.
Aku
tak mau menyesalinya lagi. Sudah berulang kali aku ingin kelaur dari rumah,
tapi selalu kuurungkan. Akibatnya aku selalu berakhir menyesal tak kelaur dari
rumah.
“Rin..”,
panggil Haku ketika aku kembali melangkah.
Aku
membuak pintu dan melihat ayah tampak terkejut melihat tas besar yang kubawa.
“Kau
mau pergi?”, tanya ayahku tak percaya.
“Sekarang
kau peduli?”, tanyaku balik.
“Aku
tidak akan mengizinkanmu untuk keluar dari rumah ini!”
“Aku
tidak peduli..”
Aku
menepis tangan ayahku. Para Takamura yang membuatku muak pun tak kugubris. Aku
memikirkan Haku. Apa dia akan baik-baik saja?
$$$$$
“Dimana
Yuta?”, tanya Johnny.
“Dia
tidak masuk..”, jawab Sol membaca majalah perawatan wajah.
“Kenapa?”
“Entahlah..
Katanya ada urusan yang harus diselesaikan si rumah sakit..”
“Hah?!
Dia sakit apa!?”, Johnny langsung panik.
“Mana
kutahu..”, jawab Sol santai.
“Kau
kejam sekali jadi temannya.. Dia sakit lho..”
“Aduh,
Johnny.. Siapa bilang Yuta sakit sih? Aku hanya bilang kalau dia ke rumah
sakit..”
“Orang
ke rumah sakit tentu untuk berobat kan? Masa nyalon?”
“Ohayou..”,
sapa Ten dan Jae menggeser pintu ruang band.
“Ou!
Pagi, adik-adikku yang imut!”, balas Johnny ramah.
“Yuta-senpai
belum datang?”, tanya Jae meletakkan tas.
“Dia
tidak masuk..”
“Kenapa?”
“Sakit..”
“Johnny,
aku kan tidak bilang Yuta sakit..”, potong Sol.
“Tapi
dia ke rumah sakit kan??”, bantah Johnny.
“Yuta-senpai
tidak masuk? Hmm.. Hayashi juga tidak masuk lho..”, celetuk Ten dengan nada
nakal.
“Terus
sekarang... Kenapa kamu bawa-bawa nama Hayashi kemari?”, tanya Sol heran.
“Lho?
Bukankah kebetulan yang bagus? Mungkin mereka bertemu di tengah jalan lalu
bolos bareng atau bagaimana kan, siapa yang tahu?”, jelas Ten asal.
“Akhir-akhir
ini Ten-senpai sering memperhatikan Hayashi-senpai ya..”, kata Jae.
“Tidak
sengaja saja.. Aku sering tidak sengaja menemukannya.. Tadi aku lewat kelas 2-A
dan tidak menemukan Hayashi.. Padahal Takamura datang lho..”
“Kenapa
kau bergosip seperti perempuan sih?”, tanya Johnny berpikir normal. Masih pagi
soalnya.
$$$$$
Yuta
mengambil minuman kaleng dari mesin minuman. Pagi-pagi harus ke rumah sakit
adalah hal langka. Bisa bolos, hehey! Ketika Yuta meminum minuman kalengnya, ia
melihat seseorang yang ia kenal melewatinya.
“Hayashi?
Kenapa dia kemari? Apa dia juga bolos sekolah?”, Yuta mengerutkan kening lalu
mengikuti Hakuro.
Setelah
berjalan cukup lama, Hakuro berhenti pada sebuah ruangan. Ia masuk ke dalam
sana. Yuta membaca nama pasien yang tertera di depan pintu.
“Hayashi
Tsukiko..?”
$$$$$
Aku
mengganti bunga dan air dalam vas bunga yang ada di ruang inap ibuku. Hari ini
bunga lili. Setelah itu aku mengecup kening ibu dan mengambil tempat duduk di
dekat kasur.
“Ohayou,
kaa-san (ibu)..”, sapaku.
Aku
masih mengharapkan balasan sapaan dari ibu. Tapi dia masih belum sadarkan diri.
Sudah berapa tahun ya? Hm, aku bahkan sudah lelah menghitungnya. Kalau tidak
ada kuasa hukum yang mengikat paman Takamura, mungkin alat-alat ini sudah
dicabut.
“Ano
ne, kaa-san.. Kemarin Rin bertengkar hebat dengan paman.. Ini kali pertama aku
meliaht Rin begitu marah pada ayahnya.. Ia bahkan pergi dari rumah.. Mungkin
karena dia kelelahan juga ya? Hm.. Oh ya, sebentar lagi akan ada kontes
kreasi... Aku sudah berusaha dengan keras untuk membanggakan nama Kaijou, jadi
doakan aku ya!”
Aku
kembali berbicara dengan ruang kosong. Aku tahu ini menggelikan, tapi aku
percaya ibu masih bisa mendengarku. Aku sering berceloteh sendiri di kamar ini.
Aku bicara sangat banyak. Setelah kelar dari ruangan ini, hatiku akan lega.
“Rin
sempat mengajakku untuk ikut pergi.. Tapi tentu saja aku tidak bisa
meninggalkanmu sendirian.. Aku juga ingin menemani Rin.. Dia mengirim sms,
katanya untuk sementara dia akan menginap di hotel..”, aku bercerita.
“Taeyong-senpai
adalah orang yang sangat berharga untuk Rin.. Jadi kupikir Rin marah memang
karena paman menyuruhnya untuk putus.. Aku tahu alasan paman meminta Rin putus
kok.. Waktu itu aku tak sengaja dengar paman mengatakannya dengan kolega kerja
yang berkunjung ke rumah.. Paman akan membangun kemitraan kerja dengan
perusahaan yang lebih besar.. Untuk mempermudah jalinan, paman berniat menjodohkan
Rin dengan koleganya itu..”
“Aku
juga kesal.. Bisa-bisanya paman memperlakukan Rin seperti itu.. Tapi aku bisa
apa? Aku siapa?”, aku menundukkan kepala.
Cukup
lama aku bebricara di dalam ruang inap ibu. Aku memutuskan untuk mengambil
kesegaran udara di taman rumah sakit.
$$$$$
“Yo..!”,
sapa Yuta duduk di sebelah Hakuro.
“Eh?
N-nakamoto.. San..?”
Yuta
tersenyum.
“Terkejut?”,
tanyanya.
“Sedang
apa disini?”
“Aneh
ya, kita punya pertanyaan yang sama.. Aku juga mau bertanya itu padamu lho..”
Hakuro
mengerutkan kening.
“Aku...
Menjenguk ibu..”, jawab Hakuro pelan.
“Sou..?
Baik, karena sudah jujur.. Akan kubalas setimpal..”
“Eh?”
“Aku
menemani Taeyong check-up..”
Alis
Hakuro agak menyatu. Ia tak percaya dengan jawaban Yuta. Apakah dia bercanda?
“Taeyong-senpai..?
Taeyong-senpai pacarnya Rin?”, tanya Hakuro memastikan.
“Ya..
Taeyong yang itu..”, jawab Yuta.
“Taeyong-senpai
kenapa?”
“Hahahaha,
keren.. Kita punya pertanyaan yang sama lagi..”, ujar Yuta menatap Hakuro.
Hakuro
menghela nafas. Sepertinya dia sedang berpikir. Sesaat ia terpikir Rin.
Bukankah ia sama sekali belum pernah mengerti Rin? Anak itu kan suka sekali
membuat Hakuro penasaran dengan semua rahasia yang ia miliki bersama Taeyong.
Mungkin kalau Hakuro bisa mengerti Rin, dia bisa membantunya.
“Ibuku
koma setelah kecelakaan beberapa tahun yang lalu..”, jawaban Hakuro membawa
seulas senyum di bibir Yuta.
“Hayashi
ternyata orang yang jujur ya.. Oke, karena kau sudah jujur lagi.. Akan kubalas
dengan layak juga..”
Darimana
Yuta tahu kalau jawaban Hakuro jujur?
“Leukimia..”
“Eh?”
“Taeyong
mengidap leukimia stadium awal..”
“Bukankah
kau mengatakan akan membalas dengan layak? Kenapa malah bohong?”
“Heh,
terdengar bohong ya? Tapi kalau aku mengatakan kebohongan, pasti akan terdengar
manis.. Kenyataan memang pahit, Hayashi..”
“Sonna
(tidak mungkin)..”
“Tenang..
Baru stadium awal kok.. Kecanggihan dan teknologi yang dimiliki ruamh sakit
ini, pasti bisa membantu proses penyembuhan Taeyong.. Jadi sebelum Taeyong
sembuh, jangan katakan ini pada Rin ya..”
“H-hai..”
Eh,
tunggu. Jangan katakan pada Rin? Apa itu artinya Rin belum tahu? Taeyong punya
rahasia yang bahkan Rin tidak tahu?
Hakuro
menatap Yuta cepat. Pria itu terlihat biasa saja dengan senyum kecil menyapa
pasien anak-anak dengan ramah. Siapa dia?
“Nakamoto-san..
Kau itu sebenarnya.. Siapa?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar