Encounter
Idyllic.
Sebuah nama yang mewakili beberapa gedung di kawasan bisnis Seoul, Korea
Selatan. Empat gedung 80 lantai yang menjulang tinggi, dan 1 gedung 40 lantai.
Idyllic tersusun atas..
Gedung
A, apartemen dan hotel
Gedung
B, rumah sakit
Gedung
C, kantor
Gedung
D, sekolah dan greenhouse
Gedung
Utama
dan
taman.
Gedung
A, B, C, dan D terhubung oleh jembatan kaca yang ada di lantai 40 tiap gedung.
Di tengah empat gedung itu terdapat taman luas untuk rekreasi. Kemudian di
depan ada gedung utama setinggi 40 lantai dan pada lantai paling atas tersedia
jembatan tangga yang menghubungkan kita ke jembatan gedung A ke B.
Idyllic
dirancang khusus oleh tim arsitek yang disewa beberapa pihak penanggungjawab.
Tiga perusahaan besar yang cukup berperan pada perdagangan Asia ini lah yang
menciptakan bangunan di tengah kepadatan kota Seoul. Min Pharmaceutical, Ehrgeiz
Corporation, dan Felicity Company. Ketiganya sepakat untuk membuat sebuah
kompleks gedung yang dapat menunjang kemajuan warga maupun memperkuat
eksistensi Seoul.
Sekilas
informasi singkat mengenai Idyllic ini telah tersiar sampai ke telinga dunia.
Banyak orang ingin berkunjung ke Idyllic–meskipun Idyllic bukan tempat wisata.
Untuk mengetahui lebih lanjut situasi di tiap gedung, akan ada free-tour oleh officer magang.
<>
@Idyllic, Tower C
Lantai
50, sektor A. Tempat itu merupakan tempat paling berantakan yang ada di Gedung
C. Maklum, disana adalah tempat bekerja tim kreatif. Para pemikir di bidang
hiburan, promosi, dan kreasi penjualan. Tidak banyak orang yang menempati ruang
tersebut, tapi barang mereka yang banyak.
Seorang
pria bermata bulat melangkah cepat menuju ke ruang kerja sektor A. Di dalam
ruang itu sudah ada seorang wanita sedang sibuk membuka katalog iklan. Kacamata
yang bertengger di hidungnya menyembunyikan mata lelah wanita awal tigapuluhan
itu.
“Sunbaenim!”
panggil seorang pria memasuki ruang kerja.
“Oh,
Minghao. Wae?”
“Tanggal
presentasi kita dimajukan!”
“Apa?!”
saking terkejutnya wanita itu sampai beranjak berdiri. “Kenapa seperti itu?
Mendadak sekali!” ia langsung berlari ke rak katalog.
“Pemilik
Felicity Company tiba lebih awal dari jadwal, jadi tanggal presentasi kita juga
dipercepat.”
“Aish!
Seenaknya saja! Memangnya membuat iklan itu mudah?! Main memajukan tanggal
deadline! Mau membunuh timku apa?” kali ini wanita itu menggerundel merutuki
bosnya.
“Han
sunbaenim..” panggil Minghao hati-hati.
“Hm?”
Camellia menoleh ke anak buahnya.
“Ada
tugas tambahan..” Minghao masih hati-hati dalam penyampaian berita buruk nomor
2.
“Mwo?!”
benar saja, Camellia langsung berkacak pinggang. “Sekarang apa?”
“Bagian
pengecek cuaca sudah memastikan bahwa tahun ini bukan white christmas, jadi
kita harus memikirkan salju buatannya..”
Camellia
menghela nafas panjang. “Kumpulkan tim, kita rapat sekarang,” perintahnya.
<>
@Idyllic, Tower A
Gedung
apartemen dan hotel yang mendapat klasifikasi bintang lima itu tengah sibuk
karena kedatangan tamu spesial, salahsatu komisaris Idyllic yaitu Ehrgeiz Corp.
Pria tampan dengan wajah lembut bernama Hong Joshua adalah pencipta keributan
para staff wanita disitu.
“Selamat
datang, Hong hoejangnim.” sapa pria usia awal empat puluh dengan tag ‘general
manager’.
“Bagaimana
persiapan malam natal?” tanya Joshua.
“Sesuai
dengan rencana. Saat ini kami sedang menunggu rencana pelaksanaan dari tim
kreatif,” jawabnya.
“Okay.
Ngomong-ngomong, pak Jo.. Dimana Clover?”
“Ah,
Choi Cheongseol? Dia sedang bekerja mengurus persiapan malam natal di gedung
utama.” Joshua tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Bukannya masuk pria itu
malah berbalik dan keluar dari gedung. “Hong hoejangnim! Hoejangnim! Apakah
anda tidak mau istirahat dulu?” meski begitu Joshua tetap berjalan menjauh.
Bersama
beberapa orang yang mengawalnya, Joshua mengambil mini van untuk mengantarnya
ke gedung utama. Sedangkan di gedung utama,
“Ya
ya ya! Lee Chan!!! Kau mau kabur kemana?!” teriak seorang pria dengan seragam
chef.
“Aku
ada janji dengan pacarku, chef!” jawab lelaki muda berusaha kabur dari kejaran
chef kepala.
“Yang
benar saja! Kita harus menyiapkan makan malam! Dan ada menu yang harus kita
siapkan untuk malam natal!!” kepala chef itu menjewer telinga anak buahnya yang
nakal.
“Aya
aya aya! Sakit, chef!” rintih Lee Chan.
“Enak
saja kau pergi begitu saja.. Rasakan nih, hmph!”
“Aduh
duh duh, ampun chef!”
“Ada
apa ribut-ribut?” suara seorang wanita menyelamatkan telinga Chan yang sudah
sangat merah.
“Managernim!!!”
dengan senang dan penuh haru, Chan langsung berlari bersembunyi di belakang
wanita itu.
“Ya,
awas kau! Kau tidak akan bisa lari dariku eoh!” bentak chef kepala.
“Seokmin-ssi,
tenangkan dirimu. Kenapa lagi anak ini?”
“Anak
ini mau pergi bercinta dengan kekasihnya padahal dia masih harus bekerja!”
“Ya
chef!! Aku kan hanya mau kencan!!” bantah Chan.
“Haha,
sudah sudah. Seokmin-ssi, biarkan saja dia pergi.”
“Apa?”
“Assaaaa!!!”
“Kalau
makan malam sudah siap,” lanjut wanita itu.
“Managernim!!”
rengek Chan pilu.
“Nah
sini kau! Ayo cepat masuk dan cuci baskom di sana itu!”
Wanita
dengan busana formal itu kembali melangkah melakukan tugasnya. Ia hanya bisa
tersenyum melihat hubungan antara kepala chef dan maknae chef di dapur gedung
utama ini.
“Noonim,
kenapa noonim tidak pernah memarahi mereka sih?” tanya pria dengan pipi tembam
yang ikut berjalan bersama wanita itu.
“Meski
berisik, justru itu yang mengakrabkan mereka,” jawabnya. “Sekretaris Boo
Seungkwan,”
“Ah,
ne!”
“Kau
harus cari pacar supaya mengerti perasaan Lee Chan,”
“Aigoo,
noonim.. Aku masih belum ada bayangan ke sana..” elak Seungkwan malu.
“Clover?”
panggilan itu mengalihkan semua perhatian orang. Melihat siapa yang datang
membuat mereka terkejut. Hong Joshua, salahsatu pemilik Idyllic.
“Selamat
sore, hoejangnim. Maaf saya tidak tahu anda sudah tiba di Seoul,” sahut Clover.
“Apakah ada yang bisa saya-“ Joshua memeluk Clover tak menunggu perempuan itu
menyelesaikan kalimatnya.
“I
miss you so much..” kata Joshua masih memeluk Clover dengan erat.
“Hoejangnim,
saya rasa ini tidak pantas..” balas Clover.
“Ck,
kau masih saja dingin. Sama sekali tidak berubah,” Clover hanya tersenyum
menanggapi. “Kau juga masih saja mengikat rambutmu.. Padahal kau lebih cantik
dengan rambut terurai.”
“Ini...
Karena saya punya janji.”
<>
@Idyllic, Tower B
Rumah
sakit dengan teknologi canggih berdiri dengan kokoh menjadi bagian dari
Idyllic. Kesibukan orang-orang yang bekerja disana tak kalah dengan gedung
lain. Lantai 28, ruang kerja utama dengan papan nama ketua, duduk seorang
wanita berwajah tegas mengenakan jubah putih dokter.
“Yoboseyo?
Theo-ya, kau sudah pulang? Langsung pulang ke rumah saja ya, mama ada pertemuan
dadakan. Jangan lupa kerjakan tugas sekolahmu, okay? Ne, saranghae.”
Seulas
senyum bangga menghiasi wajah lelah wanita itu. Ia memasukkan ponselnya ke saku
lalu membereskan berkas yang tercecer di atas mejanya. Pada saat itu, terdengar
suara pintu yang diketuk. “Masuk,” jawab wanita itu masih sibuk menata mejanya.
Seorang
pria dengan seragam dokter, kulit putih, bulu mata panjang, dan mata yang indah
masuk ke ruangan membawa sebuah map. “Apa kau tetap akan menghadiri rapat itu?”
tanyanya tanpa basa-basi.
“Sudah
menjadi kewajibanku sebagai direktur utama rumah sakit ini.”
“Bukankah
kau juga sudah ada janji dengan putramu?”
“Vernon,
kau tahu prioritasku kan? Aku bisa makan malam bersama Matheo kapan saja, tapi
rapat ini tidak bisa dilakukan seenak hati.”
“I
know. Tapi Celandine, ini sudah ke 85 kalinya kau membatalkan janji dengan
Matheo..” ujar Vernon membuka notesnya.
“Lebih
baik kau menggunakan notesmu itu untuk mencatat hal yang lebih penting daripada
pembatalan janjiku,” kata Celandine lalu memoles wajahnya sedikit.
“Ye
ye ye, akan kupikirkan.. Sebenarnya aku datang kemari untuk memberitahumu
sesuatu,” Vernon meletakkan map yang ia bawa. “Petugas keselamatan telah
menyetujui proposal yang kau ajukan. Mereka akan datang lusa untuk tinjau
lapangan,” jelasnya.
“Ini
kabar bagus yang kuharapkan. Lalu petugas keselamatan yang akan datang itu
apakah meliputi semua yang kuminta?”
“Hampir,
hanya pemadam kebakaran yang tidak dapat memenuhi permintaanmu.”
“Ck,
ya sudahlah tak apa. Lagipula tugas mereka bisa diback up petugas lain.”
“Kenapa
sih kau mengajukan proposal ini? Kau takut ada bencana menimpa Idyllic?”
“Tidak
ada yang tahu takdir, Vernon.”
“Yang
kita bicarakan ini Idyllic, Celandine. Bangunan paling luar biasa yang pernah
ada. Bahkan di setiap gedung ada teknologi yang menunjang prosedur keselamatan
pribadi, kau meragukan Idyllic?”
“Kapal
Titanic semegah dan secanggih pada zamannya itu saja bisa tenggelam. Aku rasa
tidak ada alasan untuk mempercayai buatan manusia.”
Vernon
terdiam menatap Celandine yang masih sibuk merias diri. Sesaat ia teringat masa
lalu bosnya itu. Sejak kecelakaan kerja yang dialami suaminya, Celandine
berubah menjadi wanita paling waspada dan penuh dengan kekhawatiran. Vernon
menghela nafas mencoba mengerti.
“Baiklah,
kurasa tidak ada salahnya juga. Oh ya, kau sudah dengar? Ketua Hong sudah tiba
di Idyllic.”
“Pesawat
jet pribadi Joshua memang selalu mengesankanku,”
<>
@Idyllic, Tower C
Camellia
menyerah. Ia sudah browsing mencari ide, ia sudah memeras otaknya sedari tadi,
tapi hasilnya nol! Sama sekali tidak ada ide untuk kelanjutan proyek Idyllic’s
white christmas eve beberapa minggu lagi. Deadline yang dimajukan seharusnya
bisa mengeluarkan semua kekreativitasannya bukan? Kenapa sekarang malah mampet
begini?
“Sunbaenim,
minumlah ini dulu. Kau akan baikan setelah minum teh herbal dari ibuku ini,”
Minghao dengan perhatian merawat ketua timnya yang sudah tak berbentuk itu.
“Terimakasih,
Minghao. Sampaikan salamku pada bibi Xu juga ya,” Camellia menerima secangkir
teh dari anak buahnya.
Aroma
teh herbal itu sangat wangi dan menenangkan, Camellia jadi ingin menghirup
udara segar. Ia memutuskan untuk keluar ke balkon. Untung saja dia ada di
sektor A, jadi dia bisa menikmati pemandangan sungai. Ah kalau ada kesempatan
dia akan berterimakasih pada bosnya yang menempatkan ruang kerja tim kreatif di
sektor riverview ini.
“Hei,
cinta sejati. Kapan kau akan datang? Apa kau akan datang menemuiku dengan
helikopter? Atau kau akan melayang dan mengajakku terbang? Hah, lama-lama aku
bisa gila. Aku harus segera mengakhiri masa soloku ini, ck.” Camellia merogoh
saku untuk mendapatkan ponselnya. Ia menekan satu kontak dan memilih videocall.
“What
is it, honey?” wajah Clover tampil di layar ponselnya.
“Hey~”
ia merengek. “Aku butuh sandaran sekarang, benar-benar butuh. Sangat butuh!”
ujarnya penuh penekanan.
“Cari
satu sana, keluar dan lihatlah keindahan kota Seoul. Jangan pacaran dengan
ruang kerjamu!” jawab Clover.
“Renyah
sekali ucapanmu. Aku juga ingin liburan, kau tahu? Aku sudah sangat penat!
Kepalaku sampai panas rasanya,” wanita itu menyesap sedikit teh hangatnya. “Kau
sedang apa?” tanya Camellia.
“Aku
sedang dalam perjalanan kembali ke gedung A, kau?”
“Aku
sedang dalam perjalanan menuju ke nirwana. Ahhh mau mati rasanya, huhuhuhu,”
rengeknya terdengar begitu menyedihkan.
“Hahaha,
baru kali ini aku melihatmu sangat berantakan. Setelah ini cobalah cuci muka
dan tidur beberapa menit, katanya itu bisa membantu melancarkan ide,”
“Akan
kucoba, oh ya nanti malam kau ada acara? Mau makan malam bersamaku?”
“Aku
sangat mau, tapi.. Sayang sekali aku sudah ada janji,”
“What?!
Kau? Ada janji? Yang benar? Kau sudah tidak solo? Kau mengkhianatiku? Cepat
katakan siapa pria yang mengambil kehidupan solomu?” Camellia sangat antusias,
nadanya terdengar galak.
“Tenang
saja, aku masih solo. Ini hanya makan malam biasa,”
“Oh
dengan ketua Hong ya? Himne!”
“Ya!
Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu kan? Ck! Himnejuseyo, Camellia Han!!”
“Hahaha,
arrasseo. Sudah ya, aku sedang tea time bersama pacar baruku. Si tuan sunset!”
“Hahahaha,
dasar solo mengenaskan!”
Camellia
mendapatkan senyumnya kembali. Entah kenapa hatinya yang tadi berat kini
sedikit lebih lega. Sinar matahari tenggelam yang menyiraminya mengingatkannya
pada Junghan. Nah, ini alasan kenapa Camellia tidak suka diam dan istirahat
berpikir. Akan ada banyak hal yang tidak ia sukai menyelinap masuk ke
pikirannya. Ia tidak suka membuka luka lama, ia tidak suka kenangan pahit, ia
tidak suka ketika perasaannya menjadi kelabu.
“Hah,
sialan. Di saat seperti ini apa kau harus muncul, huh? Ya, Yoon Junghan! Kau
dengar? Aku sudah menjadi wanita dewasa dan sukses! Kau pasti menyesal karena
menganggapku hanya sebatas adik! Ya kan? Aku benar kan?” Camellia membentak si
tuan sunset meluapkan semua kelelahannya.
“Ohoo,
ternyata sunbae masih belum bisa move on dari manager keamanan ya?” suara nakal
Minghao membuat Camellia menoleh ke pintu balkon.
“Siapa
bilang? Aku sudah melupakannya! Dan lagi kenapa kau menguping pembicaraanku?
Sana masuk! Dengarkan musik atau main game saja sana. Awas ya kalau ini sampai
menyebar ke anggota lain,”
“Hahaha,
ne~” Minghao kembali masuk dengan langkah ringan.
Benar,
kesialan lain yang dihadapi Camellia adalah.. Yoon Junghan. Dia juga bekerja di
Idyllic sebagai manager keamanan. Jadi selama ini persentase Camellia bertemu
dengan Junghan itu sangat tinggi! Bagaimana dia bisa move on kalau masih sering
bertegur sapa di parking lot?
“Ya
Tuhan.. Cepat kirimkan aku pria tampan yang mencintaiku sepenuh hati, yang
bersedia kujadikan suami. Oh ya! Tuhan, aku juga harus mencintainya ya. Kumohon
kabulkanlah doa wanita solo ini, amin.”
“Kenapa
sunbae memberi Tuhan tugas yang sulit begitu? Ckckckck,” goda Minghao
memunculkan dirinya lagi.
“Kau!
Masuk saja sana!” usir Camellia sekuat tenaga.
<>
@Idyllic, Main Tower
Gedung
utama yang terletak di depan memang tidak setinggi empat gedung lainnya. Akan
tetapi, gedung ini akan menjadi gedung paling spektakuler di malam hari. Hiasan
lampu, efek-efek kreatif yang diberikan untuk menarik perhatian sungguh memukau
para warga yang melewati daerah Idyllic. Gedung ini menjadi lobby utama dan
tempat fasilitas-fasilitas umum yang ditawarkan, seperti ruang rapat, ballroom,
restoran, bar, kolam renang, spa, fitness centre, dan lain sebagainya. Selain
itu gedung utama mempunyai parking lot paling luas dibanding gedung yang lain.
Biasanya penghuni apartemen, hotel, karyawan kantor, rumah sakit, maupun
pelajar menghabiskan waktu di gedung utama ini. Entah untuk memanfaatkan
fasilitas atau hanya sekadar makan.
Saat
ini di restoran sedang berlangsung jamuan makan malam untuk menyambut
kedatangan ketua Ehrgeiz Corporation, Hong Joshua. Di samping menu kelas atas
yang disediakan, disajikan pula lantunan melodi piano untuk menghias makan
malam itu. Adalah Lee Jihoon, pianis berbakat yang menjalin kontrak eksklusif
bersama Idyllic, yang memainkan piano di tengah ruangan resto.
“Aku
belum melihat Clover, dimana dia?” tanya Joshua mengambil tempat duduknya di
salahsatu meja makan yang sudah disiapkan.
“Dia
barusaja menyelesaikan pekerjaannya, jadi saya rasa dia akan sedikit
terlambat,” jawab pak Jo.
“Kau
masih mengharapkan Choi Clover Cheongseol?” tanya Celandine menggoda koleganya.
“Tentu
saja, selama dia masih solo masih ada harapan untukku kan?” balas Joshua.
“Duh,
aku doakan kau berhasil mengambil hatinya ya. Sebagai teman Clover, aku juga
ingin anak itu cepat mengakhiri hidup solo, haha..”
“Nah,
karena kau teman Clover, kenapa kau tidak mau membantuku mendekatinya?”
“Eih,
kau harus pakai usahamu sendiri..” tolak Celandine membuat Joshua mencibir.
Sementara
itu, Clover sedang dalam keadaan hectic. Ia merapikan makeupnya di lift,
memakai heelsnya sembari jalan menuju ke tempat parkir mini car–mobil khusus
yang disediakan untuk berkeliling sekitar Idyllic. Dia ketiduran, oh my God!
Setelah ini general manager Jo pasti akan mengomelinya. Sesampainya di parking
lot gedung utama, Clover langsung berjalan cepat menuju ke lift yang akan
membawanya ke lantai resto. Selagi menunggu lift menjemputnya, Clover
mengedarkan pandangan. Ternyata ramai juga parking lot ini. Mobil terparkir
berjajar dan mobil datang berbaris. Tapi yang mengambil perhatiannya bukan itu,
melainkan..
“Itu
kan.. Matheo?” Clover berjalan mendekati seorang anak memakai seragam TK
Idyllic dengan ragu. “Theo?” panggilnya.
“Aunt
Clo..” balas anak lelaki itu dengan suara kecil.
“Apa
yang sedang kau lakukan disini?”
“Aku
menunggu mama..”
“Apa?
Tapi ibumu masih cukup lama berada disini, ada kerjaan yang harus dia urus
kan?” Clover menyamakan tingginya dengan Matheo.
“Malam
ini mama janji mau makan malam bersama Theo.. Meski mama menyuruhku pulang, aku
akan tetap disini menunggunya.. Aunt Clo jangan beritahu mama ya,” pinta anak
itu.
“Aku
tak akan bilang ibumu, tapi kau tidak boleh ada disini.. Berbahaya,” kata
Clover. “Bagaimana kalau Theo tunggu mama di rumah? Sambil bermain, nonton TV,
menggambar.. Ya?” bujuknya.
“Tapi...”
“Kalau
Theo disini, nanti mama bisa tahu..”
Anak
itu menimbang-nimbang keputusannya. Pada akhirnya ia setuju untuk kembali ke
rumah dan menunggu Celandine disana. Hah, Celandine benar-benar harus
memperkerjakan bodyguard untuk melindungi anaknya. Sopir Matheo mudah dibujuk
sih.
“Omo!
Tunggu tunggu tunggu!!” Clover berlari menuju ke pintu lift yang akan tertutup,
namun terlambat. “Ah! Ck!” ia kembali menunggu. “Oh iya! Aku lupa merapikan
rambutku..” ujarnya sambil menyatukan rambutnya dengan jemari. Kemudian wanita
itu mengambil karet gelang yang ada di tasnya. Ketika dia mengambil karet, tak
sengaja ponselnya ikut keluar dari tas.
“Ouh,
great!” keluhnya hendak mengambil ponselnya yang jatuh. Ketika mengambil
ponselnya yang jatuh, karet gelangnya yang gantian jatuh. Mengambil karet
gelang kecil di lantai keramik dengan satu tangan sibuk memegangi rambut
ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
Pada
saat itulah, Clover mendapat bantuan tak terduga dari seorang pria. Ia
mengambilkan karet gelang yang jatuh di lantai kemudian memberikannya ke
Clover. “K-kamsahamnida..” lirihnya mengamati wajah pria itu.
“Long
time no see,” kata pria bermata sipit di depannya. “Jaljinaesseo?”
“Nugu....
Hah!” Clover menutup mulutnya saking tak percayanya dia. “Kau.. Kwon
Soonyoung?!”
Pria
berambut cepak lurus bewarna coklat tua itu kemudian tersenyum manis.
<>
Ini
sudah kesekian kalinya Camellia menghela nafas. Lagi-lagi dia harus menginap di
ruang kerja untuk lembur bersama timnya. Anggota tim kreatif Camellia begitu
setia pada bosnya, meski mereka sudah diusir oleh Camellia, mereka bersikeras
ingin lembur dan menginap di ruang kerja juga.
“Dasar,
aku tidak butuh kasihan dari kalian ya! Ingat itu! Aku tahu ini weekend tapi
aku tidak semengenaskan itu, okay?!” bentak Camellia.
“Ye
ye ye..” jawab anggotanya maklum. Mereka sudah sangat mengenal tabiat Camellia
yang sering mengomel begitu.
Mereka
sedang makan malam–delivery mie hitam dan ayam goreng, ketika ponsel Camellia
berbunyi. Bukan panggilan sih, hanya pesan masuk biasa. Mumpung masih santai,
Camellia langsung mengambil ponselnya yang sedang dicharge.
“Clover?”
gumamnya lalu membuka pesan yang masuk. “Wa, daebak!!!!!” teriak Camellia
melebarkan mata.
“Ada
apa, sunbae?” tanya Minghao berjalan mendekat.
“Ada
teman lamaku datang ke Seoul! Bahkan ada di Idyllic!!” jelas Camellia
menunjukkan layar ponselnya.
Minghao
mengamati layar ponsel Camellia yang menampilkan sebuah foto. Selfie Soonyoung
bersama Clover dengan pesan ‘MET HIM AT PARKING LOT >.<’
“Pria
ini tampan, siapa?” tanya Minghao.
“Eih,
dulu dia ini sangat tidak berbentuk. Rambutnya pirang, matanya sipit, hanya
fashionnya yang kekinian,” Camellia mencibir.
“Yang
penting sekarang dia tampan kan? Auranya dewasa sekali..” entah kenapa Minghao
mengagumi Soonyoung. “Kenapa sunbae tidak pacaran dengannya?”
“Hish,
bicaramu ngawur!” desis Camellia menjitak kepala Minghao. “Nih ya, kau tahu
Clover kan?” Minghao mengangguk. “Mereka ini pacaran..”
“Ah,
sunbae mengada-ada..” kata Minghao.
“Hah?
Maksudmu?”
“Mana
mungkin managernim pacaran dengan pria itu? Mereka kan barusan bertemu lagi, ya
kan?”
“Aih,
ternyata anakku sudah besar sekarang. Sudah pandai, good good..” Camellia mengangguk
bangga.
“Kalau
masalah cinta, aku ensiklopedinya!”
Camellia
tak menggubris Minghao, dia sibuk membuka aplikasi camera untuk membalas pesan
Clover. “Minghao, geser sini. Ayo kita selfie juga,” ajak Camellia menarik
paksa anak buahnya. Meski cemberut, tapi tetap saja camera selalu bisa
mengalahkan siapa pun. Mereka tersenyum kemudian cekrek! “Sudah sana, habiskan
makanmu. Setelah ini kita kerja lagi,” usir Camellia sibuk mengedit hasil
fotonya.
“Ne~”
jawab Minghao datar.
“Kirim!”
Camellia meletakkan ponselnya ke atas meja lagi. Ia kembali untuk menghabiskan
makan malamnya.
‘Don’t
forget to meet me, kay?’
<>
Suasana
pagi di Idyllic begitu menyejukkan. Walau banyak lalu-lalang orang yang mulai
sibuk dengan aktivitas mereka di Idyllic, tapi keasrian dan keindahan bangunan
ini sungguh menyapa harimu dengan sangat baik.
Ponsel
Minghao yang berdering cukup keras membangunkan sang empu dari dunia mimpinya.
Dengan susah payah pria itu meraih ponselnya yang ada di atas meja. Matanya
yang masih berat berusaha melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini.
“Yoboseyo?”
tanya Minghao dengan suara pagi. Mendengar suara dari sebrang, membuat mata
Minghao terbuka sempurna, ia langsung bangkit duduk. “Ne, ne. Akan saya
sampaikan. Baik, pak. Ne!” ia menurunkan ponsel kemudian beranjak untuk
membangunkan teman-temannya. “Ayo cepat bangun, kita harus bergegas!” ajaknya.
“Ah,
ini masih pagi.. Sebentar lagi.. Kemarin kita sudah bekerja sampai larut kan?”
elak teman-temannya.
“Aduh,
ini gawat! Presdir Felicity Company sudah mendarat di Incheon! Kita harus
cepat! Akan ada kunjungan ke kantor!” jelas Minghao panik.
“Mwo?!”
Kekuatan
presdir Felicity Company membangunkan tim kreatif saat itu juga. Kecuali satu
orang, Camellia Han. Wanita itu masih meringkuk di sofa, menyelam sangat dalam
di dunia mimpinya.
“Sunbae!
Sunbae, bangun! Kita tidak punya waktu banyak untuk bersiap!” Minghao berusaha
membangunkan putri tidur ini. Sedangkan anggota lain sudah sibuk merapikan
tempat kerja mereka dan beberapa ada yang mandi.
“Apa
sih? Hari ini kita libur.. Aku meliburkan kalian..” jawab Camellia enggan
berinteraksi dengan dunia pagi.
“Okay
okay setelah ini kita libur. Tapi bangun dulu, sunbae! Tempat kita akan
diperiksa presdir Felicity Company! Ayo ayo ayo..” Minghao
mengguncang-guncangkan tubuh Camellia yang seperti mayat.
“Duh,
merepotkan sekali sih?! Orang itu suka sekali ya acara dadakan?! Ck!” amarah
Camellia memuncak membuat moodnya hancur.
“Orang
yang sunbae katakan itu adalah presdir, dia yang menggaji kita.. Ayo bergegas,
sunbae! Kami tidak mau dipotong gaji hanya karena tempat kerja yang
berantakan!”
Dengan
berat hati, wajah ditekuk, dan perasaan kesal Camellia akhirnya membuka mata.
“Awas saja nanti.. Aku pasti akan membalas perbuatannya, huh!” geramnya sambil
merapikan meja kerja.
Tak
lama kemudian, ruang kerja yang tadinya seperti kapal pecah telah berubah
menjadi lebih rapi. Rahasia kecepatan kerja mereka adalah.. memasukkan semua
barang ke almari. Dari luar memang tampak begitu bersih, rapi, dan tertata.
Coba buka saja almarinya, semua barang tim kreatif pun akan tercecer.
“Baik,
jam berapa presdir akan tiba?” tanya Camellia setelah timnya sudah siap.
“Seharusnya
sekarang sudah tiba,” Minghao melihat jam.
Camellia
menghela nafas. Seperti apa presdir Felicity Company? Jujur saja, selama
bekerja di Idyllic belum pernah sekalipun ia melihat wajah atasannya.
Dengar-dengar, bosnya itu jenius idaman wanita. Sedang asyiknya bergelut dengan
pikiran sendiri, ponsel Minghao berdering.
“Yoboseyo?”
sapa Minghao. Oh bukan karena apa-apa, Camellia memang tak ingin diribeti
dengan panggilan atasan yang menyebalkan. Jadi dia menumbalkan nomor ponsel
anak buahnya, Minghao. “Ya, kami sudah siap. Eh, apa? Aaa, ne.. Ne,” Minghao
menutup ponselnya.
“Bagaimana?”,
tanya Camellia tak sabar.
“Eeemmm,”
Minghao menundukkan kepala antisipasi. “Presdir tidak jadi kemari,” lanjutnya
hati-hati.
“Hah??!!”
“Itu
katanya.. Dia akan istirahat di apartemen dulu.. Setelah makan siang mungkin
dia akan mulai kunjungannya,” jelas Minghao.
Camellia
mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Apa-apaan ini? Tidurnya yang berharga, oh
astaga! Rasanya ingin sekali membanting meja!
“Sunbae,
gwaenchana?” tanya Minghao.
“Aku
ingin sekali mencekik lehernya!!!”
<>
Suasana
pagi di gedung A lebih tenang dibanding gedung C. Tegur sapa antar staff dengan
penghuni menunjukkan betapa elitnya hotel/apartemen Idyllic ini. Lantunan musik
klasik di lobby pun turut menyambut pagi.
“Ah,
lagu Jihoon memang luar biasa..” ujar Clover menikmati rekaman musik klasik.
“Noonim
kenal dengan pemain piano ini?” tanya Seungkwan.
“Tentu
saja, kami sempat menghabiskan waktu bersama..”
“Mantan
pacar ya?”
“Bukan,
tapi teman seperjuangan..” Seungkwan mengangguk-angguk mengerti. Ia kemudian
melirik Clover, wajahnya menyiratkan rasa penasaran yang tinggi disitu.
“Eh
eh, noonim,” panggil Seungkwan setengah berbisik. “Pria yang semalam itu pacar
noonim?” tanyanya dengan nada nakal.
“Pria
yang semalam? Ketua Hong?”
“Bukan,
bukan pria yang itu..” rengek Seungkwan.
“Lalu
siapa yang kau bicarakan?”
“Yang
matanya sipit, rambutnya cokelat, dandanannya keren itu..!”
“Kwon
Soonyoung? Yang kutemui di tempat parkir?”
“Nah
nah itu! Meski aku tidak tahu namanya,” jawab Seungkwan antusias.
“Dia
juga teman seperjuanganku, Seungkwan..”
“Bukan
pacar? Ck, sayang sekali. Padahal dia sangat keren! Tubuhnya, eumh! Tatapannya,
luar biasa! Fashionnya? Trendy! Senyumnya, aih jantungku jadi berdetak
kencang!” entah kenapa Seungkwan menjadi begitu menggebu membicarakan ini.
“Kau
suka? Pacari saja dia, mumpung dia masih single juga,” kata Clover.
“Duh,
noonim bisa saja. Ngomong-ngomong apa pekerjaannya?”
“Arsitek,
kurasa..” jawab Clover berpikir.
“Tuh!
Keren kan? Dia pasti sangat-“
“Boo
Seungkwan,” sela Clover.
“Ye?”
“Kau
tahu darimana aku bertemu dengan Soonyoung?”
“Eh?
I-itu... Kebetulan kemarin aku sedang memantau di ruang keamanan,” jawab
Seungkwan nyengir kuda.
“Soonyoung
adalah temanku, sama seperti pertemanan antara aku dengan Camellia, Celandine,
Jihoon, maupun Wonwoo..”
“Wonwoo?
Aku belum pernah mendengar namanya, siapa dia?”
“Aku
tidak begitu akrab dengannya. Kami hilang kontak, mungkin Jihoon atau Celandine
masih saling kontak dengan Wonwoo,”
Seungkwan
mengangguk mengerti. Ketika mereka hendak berkeliling mengecek service dan
kondisi apartemen, ponsel Clover berdering. Sebuah panggilan masuk. “Yoboseyo?
Oppa?” sapa Clover. “Aku baik-baik saja disini. Apa? Benarkah? Kapan oppa akan
berkunjung? Oh, bersama tim ya? Baiklah, akan kutunggu. Okay, bye..”
Pria
pipi tembam di belakang Clover masih menunjukkan wajah penasarannya. “Choi Seungcheol
hyungnim?” tanyanya memastikan lalu mendapat anggukan dari Clover. Barusaja
Clover memasukkan ponselnya ke saku, seorang pelayan room service berlari
menghadapnya.
“Managernim!”
“Eoh?
Kenapa kau tergesa-gesa seperti itu?”
“Ada
permintaan khusus dari kamar 14057,” lapornya.
“Permintaan
khusus?”
<>
Clover
mencoba mengatur emosinya. Apapun yang terjadi dia harus tetap kalem dan
berwibawa. Apapun. Yang. Terjadi.
“Ah,
lapar sekali..” ucap Soonyoung lemas. “Duh, tidak ada yang menemani. Padahal
aku sudah sangat lapar, ck..”
“Tuan,
jika anda lapar, kami menyediakan sarapan di restoran gedung utama.. Jadi-“
“Aduh,
perutku.. Aku tidak tahan, kenapa pelayanan disini sangat buruk? Aku sudah
bayar mahal untuk membeli apartemen ini.. Ckck, mengecewakan..”
Clover
menghela nafas lalu duduk di depan Soonyoung. Melihat wanita itu sudah duduk di
kursi meja makannya, wajah Soonyoung pun berubah cerah. Ujung bibirnya
terangkat tinggi saking senangnya.
“Selamat
makan!” ujar Soonyoung ceria.
“Ya,
Soonyoung-a.. Kau tahu aku sibuk kan? Tidak bisakah kau dewasa sedikit? Kenapa
aku harus menemanimu sarapan, eoh?” protes Clover mengangkat sendok.
“No
no no, aku lah yang menemanimu makan..” benah Soonyoung.
“What
the.. Ck, untuk kali ini aku masih memaafkanmu.. Tapi tidak ada lain kali,
algesseo?”
“Woa,
sudah berapa lama kau di Korea? Bahasa Koreamu jadi luwes, ah aku jadi semakin
cinta!”
“Ya
ya ya, kau sama sekali tidak berubah ya? Sepertinya semua orang telah tertipu
dengan penampilanmu!”
“Oh
ya? Mereka mengira aku bagaimana? Pasti keren, iya kan?”
“Ye
ye. Pertama kali melihatmu aku juga mengira kau keren. Kupikir kau sudah
berubah menjadi gentleman, ternyata masih anak-anak,” jawab Clover.
“Berbeda
denganku, kau berubah banyak ya,” kata Soonyoung menatap Clover dengan senyum
mengembang.
“Ya
aku tahu aku tambah tua,” sahut Clover cepat.
“Haha,
kau masih ingat bagaimana kebiasaanku membully ya?” ujar pria itu kemudian
melahap sarapannya. “Kau bagaimana selama ini? Apakah hidupmu baik?”
“Seperti
yang kau lihat, aku sedang dalam perjalananku mencapai kesuksesan,”
“Oh
ya? Tapi yang kulihat hidupmu tidak sebaik itu,” Clover terdiam menatap
Soonyoung yang tak melepas tatapannya sedari tadi. “Kau belum sarapan kan?
Kapan sarapan terakhirmu?”
Jujur
saja, Clover terhenyak mendengar suara dan pertanyaan Soonyoung. Seketika pria
kanak-kanak yang belum ada sedetik punya niatan membullynya, kini berubah
menjadi pria yang hangat dengan suara yang lembut. Sejak kapan Soonyoung
menjadi begitu manis? Hei, sejak kapan senyum Soonyoung bisa membuat jantungnya
berdetak lebih cepat? Ah, benar. Clover pasti tersugesti dengan kalimat
Seungkwan. Selama ini ia hanya menganggap Soonyoung sebagai teman saja kan?
Mana mungkin perasaan cinta muncul begitu cepat? Hah.
“Terimakasih
makanannya, aku berhutang sarapan padamu..” ujar Clover sebelum bangkit berdiri
dari meja makan.
“Eoh?
Ya, Clover!” Soonyoung menyadari sesuatu dari diri Clover yang hilang. “Kau
tidak memakai ikat rambut yang kuberikan padamu?” pertanyaan itu membuat Clover
mendengus.
“Sepuluh
tahun. Kau pikir ikat rambut itu tidak bisa rusak apa? Aku terus memakainya
sampai karetnya tidak bisa melar lagi, tahu?”
“Ohooo,
jadi kau menungguku? Aduh, bagaimana ini? Aku jadi sangat bahagia, duh
sepertinya pipiku akan memerah..!” godanya sambil memegang kedua pipinya
sendiri.
“Hish!
Sudah, aku harus kembali bekerja! Kau harus banyak meditasi supaya dewasa, roh
anak-anak dalam dirimu itu harus cepat ditanggulangi,” omel Clover. “Okay,
Soonyoung.. Bye!”
Soonyoung
menyangga dagunya dengan tangan. Ia tersenyum menatap pintu masuk disana. “Dia
mulai terdengar seperti seorang istri sekarang,”
<>
Sepertinya
Dewi Fortuna sedang berpihak pada tim kreatif Camellia. Siang itu, wakil
presdir lah yang melakukan kunjungan. Ah, beruntung juga. Kenapa? Kalau presdir
sampai tahu salah satu ruang kerja di kantornya berantakan mungkin tim kreatif
mereka akan dibubarkan. Dengar-dengar presdir itu galak dan perfeksionis sih.
“Baiklah,
ayo kita keluarkan barang-barang dari almari..” ajak Camellia.
“Hati-hati
membuka pintunya.. Barangnya bisa berjatuhan..” Minghao mengingatkan.
Selesai
kunjungan atasan, belum ada satu jam ruang kerja tim kreatif pun kembali ke
keadaan semula. Berantakan. Mereka semua memang suka bekerja dalam keadaan
seperti itu. Katanya sih, lebih mudah menemukan barang kalau berantakan begitu.
“Okay,
team..” Camellia mencoba mengambil perhatian anggotanya. “Kita sudah lembur
beberapa hari untuk menyelesaikan proyek sesuai jadwal. Besok adalah hari
presentasi kita. Tidak hanya direktur saja yang akan hadir dalam rapat besok
pagi. Tiga ketua pemilik Idyllic akan hadir semua, jadi kuharap kita bisa maju
dengan keadaan prima,” jelasnya. “Kalian sudah bekerja dengan hebat, team. Beri
tepuk tangan untuk diri kalian masing-masing!”
Meski
mata panda Camellia dan anggotanya semakin hitam, tapi rasa puas bisa
menyelesaikan proyek besar dalam waktu singkat itu.. wow! Malam ini dia harus
memakai masker yang sudah ia beli beberapa bulan lalu. Belum ada waktu untuk
pakai masker itu, sekarang adalah kesempatannya! Akan tetapi..
“What
the hell...” gumam Camellia melihat bungkus masker wajahnya. “Sudah
expired?!!!”
<>
Hari
ini adalah hari besar untuk tim kreatif. Presentasi di hadapan pemilik Idyllic.
Meski ada Celandine disana, tetap saja gugup. Bahkan kalau Celandine sedang
tidak mood, dia bisa menghabisi presentasi tim kreatif. Duh, berat.
“Semua
sudah siap?” tanya Camellia.
“Siap,”
jawab Minghao mantap.
Camellia
mengangguk lalu mengambil nafas dalam. General manager sudah mempersilakan
timnya untuk presentasi. Sekarang waktunya!
Camellia
maju ke mimbar yang ada di depan ruang rapat itu. Darisana ia bisa melihat
seluruh audiens yang datang. Beberapa ada yang ia kenal, beberapa wajahnya
masih asing. Oh di barisan paling depan duduk pemilik Idyllic. Camellia bisa
melihat Celandine memberikan senyum untuk menyemangatinya, okay ini bagus. Itu
artinya Celandine dalam mood yang baik.
Kemudian
di sebelah Celandine ada Hong Joshua, ketua Ehrgeiz Corporation. Ah, wajah pria
itu sama sekali tak membawa masalah. Wajahnya ramah dan tidak memberikan
pressure sedikitpun. Cukup melegakan. Okay, di sebelah Joshua adalah presdir
Felicity Company. Bos besar gedung B, dan dia adalah..
“Kim
Mingyu..?”
Mata
mereka bertemu. Tiba-tiba saja tubuh Camellia mematung begitu melihat Mingyu duduk
di deretan kursi pemilik Idyllic. Jadi selama ini bosnya adalah Mingyu? Selama
ini dia bekerja untuk Mingyu?! Kim Mingyu yang kuliah di Sienna University
itu?! Oh. My. God.
Tak
hanya Camellia, Mingyu pun menunjukkan ekspresi terkejut. Ia tak menyangka senior
pujaannya dulu bekerja di bawah naungannya. Jadi selama ini dia melindungi
Camellia? Selama ini dia diperhatikan Camellia?!–ini hanya pikiran Mingyu saja.
“Han-ssi..
Han-ssi!” panggil sekretaris yang menjadi moderator disana.
“Ah,
ne?”
“Tolong
segera presentasikan hasil kerja timmu,” pintanya.
“Ne..”
Sekali
lagi Camellia harus tenang. Ia menarik nafas kemudian menghembuskannya supaya
lebih kalem. Baik, profesionalitas! Anggap saja tidak ada siapa-siapa, lakukan
presentasi seperti biasa.
Benar
saja, Camellia berhasil melakukan presentasi dengan lihai dan menarik. Anggota
timnya mengatur bahan presentasi yang disampaikan menggunakan hologram dan
teknologi canggih. Selain itu, penjelasan dan bahasa Camellia mudah dimengerti,
bahkan sesekali Camellia menggunakan bahasa Inggris untuk menekankan hal yang
penting.
“Kemudian
yang terakhir.. Karena sudah dipastikan tahun ini bukan white christmas, kami
berencana untuk menyebarkan artificial snowflakes menggunakan helikopter.. Kita
akan membuat Idyllic menjadi satu-satunya tempat dengan white christmas,”
jelasnya.
Tepuk
tangan apresiasi dari presentasi yang mengesankan langsung memenuhi ruang
rapat. “Baiklah, apakah ada pertanyaan dari audiens?” tanya moderator. Secara
bergilir pertanyaan diberikan oleh beberapa orang, tak terkecuali Celandine dan
Joshua. Akan tetapi semua pertanyaan itu bisa dijawab dengan baik oleh
Camellia.
“Mulai
hari ini kami akan memasang anemometer untuk melihat keadaan angin, kami juga
menggunakan helikopter yang dirancang khusus agar tidak menimbulkan suara
berisik atau menciptakan angin lebat.. Jadi untuk masalah ketenangan Idyllic,
mohon tuan dan nyonya tidak perlu khawatir..” jawab Camellia.
“Pertanyaan
berikutnya silakan dari presdir Felicity Company..” moderator itu masuk ke giliran
Mingyu.
Okay,
Camellia kembali gugup disana. Mendengar suara ‘eee’ dari Mingyu saja sudah
membuat aliran darahnya lebih cepat. Dan astaga suaranya itu semakin berat!
Pasti dia sudah berubah, pasti dia sekarang sudah dewasa dan sangat berwibawa.
Bagaimana kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan sulit dari Mingyu yang
terkenal jenius itu? Duh, kenapa Mingyu lama sekali membolak-balik materi
presentasi timnya sih? Apa yang mau dia tanyakan? Kenapa dia begitu
teliti?!–ini kecemasan Camellia.
“Oraenmaniyeyo,
Han sunbae..” sapa Mingyu memberikan senyum lebar yang sama seperti dulu.
“Ne?”
Camellia hanya bisa merespon dengan kikuk.
“Pertanyaanku
hanya satu,” kata Mingyu. “Kau siap dengan jawabanmu?” mendadak pria itu
berubah serius.
“Ne..!”
jawab Camellia mantap.
“Mogosseumnikka?”
“Ne...?”
“Mogoseumnikka?
Han sunbaenim?”
Seketika
ruang rapat hening. Camellia tidak tahu harus menjawab atau membiarkan
pertanyaan itu. Semua orang mulai berbisik dan menatap Mingyu dengan heran.
Tapi sepertinya pria itu sama sekali tidak mempedulikan mereka.
“Eee..”
Camellia mengalami masa sulit sekarang. “Ne, mogosseumnida..” jawab wanita itu
akhirnya.
“Ah,
sayang sekali..” Mingyu sedikit kecewa disana. “Pertanyaan selesai,” lanjutnya
menutup hardcopy materi presentasi.
“Presdir
Kim, apakah tidak ada pertanyaan mengenai proyek ini?” tanya moderator heran.
“Ini
proyek yang bagus. Kurasa sudah sempurna,” jawab Mingyu terdengar meyakinkan.
Joshua
menatap partnernya dengan senyum penasaran. Kenapa anak ini? Sedangkan
Celandine hanya bisa menundukkan kepala menahan rasa gelinya itu.
“Oh,
begitu.. B-baik, kalian boleh kembali ke tempat.. Presentasi selanjutnya..”
Camellia
bersama anggota timnya memberi hormat singkat sebelum keluar ruangan. Astaga,
itu tadi apa? Sampai di luar Camellia langsung menyandarkan tubuh ke tembok.
Apa dia sedang mimpi? “Ah ya ampun!! Cepat tampar aku!! Aku harus sadar
sekarang juga!” teriaknya bringas mengguncang tubuh kurus Minghao.
“Sunbae~!
Kenapa aku yang kena imbasnya?” Minghao hanya bisa pasrah.
“Astaga!
Aku tidak habis pikir kenapa anak itu tidak bisa lihat situasi?! Tadi itu
sedang rapat besar! Dan dia malah menanyakan apa aku sudah makan atau belum?
Apa sih yang dia pikirkan?!” omel Camellia panjang.
“Ternyata
sunbae sudah saling kenal dengan presdir?” tanya Minghao merapikan bajunya yang
diremas Camellia.
“Ouh,
aku tidak mau mengingat kejadian ini! Aku mau melarikan diri! Bye!”
“Sunbae!
Tunggu! Kau mau kemana?”
“Aku
mau merecoki hidup Clover!”
<>
Camellia
menghisap habis vanilla floatnya dengan cepat. Saat ini dia sedang duduk di
resto bersama dengan Clover yang hanya bisa menganga heran melihat tingkah
temannya.
“Apa
yang terjadi?” tanya Clover.
“Aku
bertemu Mingyu!” jawab Camellia cepat.
“Lalu?”
“Dia
itu presdir Felicity Company, Clover!!”
“Benarkah?!
Serius?!”
“Kalau
aku bohong tidak mungkin sekarang aku kepanasan!”
“Okay
okay, tenangkan dirimu. Jadi bagaimana kalian bertemu?”
“Dia
duduk di kursi presdir Felicity Company ketika aku sedang presentasi di rapat
besar hari ini..” rengek Camellia.
“Hhmm,
lalu kenapa kau terdengar begitu menyedihkan? Memang kau ada peristiwa apa
dengannya?”
“Dia
melakukan hal tak terduga sebagai presdir!”
“Hah!!
Dia memelukmu?! Atau menciummu?!” Clover menangkup kedua pipinya terkejut.
“Eih,
aniya. Dia tanya aku sudah makan atau belum.. dan itu di tengah rapat penting! Apa
dia tidak memikirkan wibawanya? Ck!” jelas Camellia kemudian bermain sedotan.
“Terus
kenapa kau kesal?”
“Aku
hanya terkejut.. Entahlah, kurasa.. Ya begitulah..”
“Camellia..”
Clover mencondongkan tubuhnya ke depan. “Bukan Mingyu kan yang membuatmu kesal?
Tapi perasaanmu pada Junghan..”
“Biasanya
kekesalan yang dipendam akan meledak begitu ada kesempatan untuk keluar,”
celetuk Seungkwan yang duduk di belakang Clover.
“Boo,
please..” cegah Clover.
“Ah,
ne.. Joesonghamnida..”
“Tidak,
Clo.. Dia benar..” kata Camellia. “Aku menggunakan alasan lain untuk meluapkan
emosiku..”
“El,
sudah sekian lama.. Kenapa kau tidak lupakan saja Junghan?”
“I’ve
tried.. But I can’t..” jawab Camellia. “Seberapa besar pun usahaku untuk
melupakannya, tetap tidak bisa.. Ujung-ujungnya aku malah semakin larut..”
“Kau
butuh kehadiran pria lain.. Mau kupanggilkan Soonyoung?”
“Ish,
siapapun kecuali dia!” tolak Camellia tegas.
“Hahahaha,
kau benar..”
“Oh
ya, ngomong-ngomong aku belum sempat bertemu dengannya.. Bagaimana kalau nanti
malam kita makan bersama?”
“Ide
bagus..!”
Barusaja
Clover hendak menghubungi Soonyoung, Minghao datang menghampiri Camellia.
Nafasnya tersengal akibat lari dari gedung B ke resto. Anak ini tidak tahu
fungsi lift apa?
“Sunbae!”
panggil Minghao mengatur nafasnya.
“Eoh?
Kenapa Minghao?”
“Itu..
presdir..” Minghao menunjuk-nunjuk arah gedung B.
“Kenapa
dengan presdir?”
“Hah
hah hah..” Minghao menenangkan diri sejenak. “Dia kunjungan ke tempat kerja
kita!”
“Mwo?!”
<>
Di
suatu tempat pada sore hari. Angin musim dingin yang berhembus mengajak rambut
hitam milik seorang pria untuk menari. Lekuk wajah tegas dan tatapan tajam
menjadi bagian dari ketampanannya. Tubuhnya yang kekar, tinggi, dan tegap
menambah kesan kuat seragam pemadam yang ia kenakan.
“Seungcheol
hyung..” panggil pria itu dengan deep voice yang ia miliki.
“Hm?”
“Apakah
kita harus berkunjung ke Idyllic? Bukankah kau sudah menolak proposal pimpinan
Min Pharmaceutical?”
“Aku
menolaknya karenamu, tapi kita harus tetap antisipasi..” jawab Seungcheol. “Kita
tidak tahu apa yang akan terjadi pada bangunan semegah itu. Untuk berjaga-jaga,
kita harus sudah mengenal strukturnya.. Ya meski tidak secara resmi, jadi
anggap saja kunjungan besok sebagai liburan kita..”
Pria
itu diam menatap meja. Tatapan itu, tatapan penuh kesedihan dan penyesalan.
Seungcheol bangkit berdiri untuk menepuk pundak pria itu. “Kau juga harus
bahagia..” kata Seungcheol.
“Wonwoo-ya..”