Minggu, 12 Juni 2016

IDYLLIC {Part 1}

Encounter

Idyllic. Sebuah nama yang mewakili beberapa gedung di kawasan bisnis Seoul, Korea Selatan. Empat gedung 80 lantai yang menjulang tinggi, dan 1 gedung 40 lantai. Idyllic tersusun atas..

Gedung A, apartemen dan hotel
Gedung B, rumah sakit
Gedung C, kantor
Gedung D, sekolah dan greenhouse
Gedung Utama
dan taman.

Gedung A, B, C, dan D terhubung oleh jembatan kaca yang ada di lantai 40 tiap gedung. Di tengah empat gedung itu terdapat taman luas untuk rekreasi. Kemudian di depan ada gedung utama setinggi 40 lantai dan pada lantai paling atas tersedia jembatan tangga yang menghubungkan kita ke jembatan gedung A ke B.
Idyllic dirancang khusus oleh tim arsitek yang disewa beberapa pihak penanggungjawab. Tiga perusahaan besar yang cukup berperan pada perdagangan Asia ini lah yang menciptakan bangunan di tengah kepadatan kota Seoul. Min Pharmaceutical, Ehrgeiz Corporation, dan Felicity Company. Ketiganya sepakat untuk membuat sebuah kompleks gedung yang dapat menunjang kemajuan warga maupun memperkuat eksistensi Seoul.
Sekilas informasi singkat mengenai Idyllic ini telah tersiar sampai ke telinga dunia. Banyak orang ingin berkunjung ke Idyllic–meskipun Idyllic bukan tempat wisata. Untuk mengetahui lebih lanjut situasi di tiap gedung, akan ada free-tour oleh officer magang.

<> 

@Idyllic, Tower C
Lantai 50, sektor A. Tempat itu merupakan tempat paling berantakan yang ada di Gedung C. Maklum, disana adalah tempat bekerja tim kreatif. Para pemikir di bidang hiburan, promosi, dan kreasi penjualan. Tidak banyak orang yang menempati ruang tersebut, tapi barang mereka yang banyak.
Seorang pria bermata bulat melangkah cepat menuju ke ruang kerja sektor A. Di dalam ruang itu sudah ada seorang wanita sedang sibuk membuka katalog iklan. Kacamata yang bertengger di hidungnya menyembunyikan mata lelah wanita awal tigapuluhan itu.

“Sunbaenim!” panggil seorang pria memasuki ruang kerja.
“Oh, Minghao. Wae?”
“Tanggal presentasi kita dimajukan!”
“Apa?!” saking terkejutnya wanita itu sampai beranjak berdiri. “Kenapa seperti itu? Mendadak sekali!” ia langsung berlari ke rak katalog.
“Pemilik Felicity Company tiba lebih awal dari jadwal, jadi tanggal presentasi kita juga dipercepat.”
“Aish! Seenaknya saja! Memangnya membuat iklan itu mudah?! Main memajukan tanggal deadline! Mau membunuh timku apa?” kali ini wanita itu menggerundel merutuki bosnya.

“Han sunbaenim..” panggil Minghao hati-hati.
“Hm?” Camellia menoleh ke anak buahnya.
“Ada tugas tambahan..” Minghao masih hati-hati dalam penyampaian berita buruk nomor 2.
“Mwo?!” benar saja, Camellia langsung berkacak pinggang. “Sekarang apa?”
“Bagian pengecek cuaca sudah memastikan bahwa tahun ini bukan white christmas, jadi kita harus memikirkan salju buatannya..”

Camellia menghela nafas panjang. “Kumpulkan tim, kita rapat sekarang,” perintahnya.

<> 

@Idyllic, Tower A
Gedung apartemen dan hotel yang mendapat klasifikasi bintang lima itu tengah sibuk karena kedatangan tamu spesial, salahsatu komisaris Idyllic yaitu Ehrgeiz Corp. Pria tampan dengan wajah lembut bernama Hong Joshua adalah pencipta keributan para staff wanita disitu.

“Selamat datang, Hong hoejangnim.” sapa pria usia awal empat puluh dengan tag ‘general manager’.
“Bagaimana persiapan malam natal?” tanya Joshua.
“Sesuai dengan rencana. Saat ini kami sedang menunggu rencana pelaksanaan dari tim kreatif,” jawabnya.
“Okay. Ngomong-ngomong, pak Jo.. Dimana Clover?”
“Ah, Choi Cheongseol? Dia sedang bekerja mengurus persiapan malam natal di gedung utama.” Joshua tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Bukannya masuk pria itu malah berbalik dan keluar dari gedung. “Hong hoejangnim! Hoejangnim! Apakah anda tidak mau istirahat dulu?” meski begitu Joshua tetap berjalan menjauh.

Bersama beberapa orang yang mengawalnya, Joshua mengambil mini van untuk mengantarnya ke gedung utama. Sedangkan di gedung utama,

“Ya ya ya! Lee Chan!!! Kau mau kabur kemana?!” teriak seorang pria dengan seragam chef.
“Aku ada janji dengan pacarku, chef!” jawab lelaki muda berusaha kabur dari kejaran chef kepala.
“Yang benar saja! Kita harus menyiapkan makan malam! Dan ada menu yang harus kita siapkan untuk malam natal!!” kepala chef itu menjewer telinga anak buahnya yang nakal.
“Aya aya aya! Sakit, chef!” rintih Lee Chan.
“Enak saja kau pergi begitu saja.. Rasakan nih, hmph!”
“Aduh duh duh, ampun chef!”

“Ada apa ribut-ribut?” suara seorang wanita menyelamatkan telinga Chan yang sudah sangat merah.
“Managernim!!!” dengan senang dan penuh haru, Chan langsung berlari bersembunyi di belakang wanita itu.
“Ya, awas kau! Kau tidak akan bisa lari dariku eoh!” bentak chef kepala.
“Seokmin-ssi, tenangkan dirimu. Kenapa lagi anak ini?”
“Anak ini mau pergi bercinta dengan kekasihnya padahal dia masih harus bekerja!”
“Ya chef!! Aku kan hanya mau kencan!!” bantah Chan.
“Haha, sudah sudah. Seokmin-ssi, biarkan saja dia pergi.”
“Apa?”
“Assaaaa!!!”
“Kalau makan malam sudah siap,” lanjut wanita itu.
“Managernim!!” rengek Chan pilu.
“Nah sini kau! Ayo cepat masuk dan cuci baskom di sana itu!”

Wanita dengan busana formal itu kembali melangkah melakukan tugasnya. Ia hanya bisa tersenyum melihat hubungan antara kepala chef dan maknae chef di dapur gedung utama ini.

“Noonim, kenapa noonim tidak pernah memarahi mereka sih?” tanya pria dengan pipi tembam yang ikut berjalan bersama wanita itu.
“Meski berisik, justru itu yang mengakrabkan mereka,” jawabnya. “Sekretaris Boo Seungkwan,”
“Ah, ne!”
“Kau harus cari pacar supaya mengerti perasaan Lee Chan,”
“Aigoo, noonim.. Aku masih belum ada bayangan ke sana..” elak Seungkwan malu.

“Clover?” panggilan itu mengalihkan semua perhatian orang. Melihat siapa yang datang membuat mereka terkejut. Hong Joshua, salahsatu pemilik Idyllic.
“Selamat sore, hoejangnim. Maaf saya tidak tahu anda sudah tiba di Seoul,” sahut Clover. “Apakah ada yang bisa saya-“ Joshua memeluk Clover tak menunggu perempuan itu menyelesaikan kalimatnya.
“I miss you so much..” kata Joshua masih memeluk Clover dengan erat.
“Hoejangnim, saya rasa ini tidak pantas..” balas Clover.
“Ck, kau masih saja dingin. Sama sekali tidak berubah,” Clover hanya tersenyum menanggapi. “Kau juga masih saja mengikat rambutmu.. Padahal kau lebih cantik dengan rambut terurai.”
“Ini... Karena saya punya janji.”

<> 

@Idyllic, Tower B
Rumah sakit dengan teknologi canggih berdiri dengan kokoh menjadi bagian dari Idyllic. Kesibukan orang-orang yang bekerja disana tak kalah dengan gedung lain. Lantai 28, ruang kerja utama dengan papan nama ketua, duduk seorang wanita berwajah tegas mengenakan jubah putih dokter.

“Yoboseyo? Theo-ya, kau sudah pulang? Langsung pulang ke rumah saja ya, mama ada pertemuan dadakan. Jangan lupa kerjakan tugas sekolahmu, okay? Ne, saranghae.”

Seulas senyum bangga menghiasi wajah lelah wanita itu. Ia memasukkan ponselnya ke saku lalu membereskan berkas yang tercecer di atas mejanya. Pada saat itu, terdengar suara pintu yang diketuk. “Masuk,” jawab wanita itu masih sibuk menata mejanya.
Seorang pria dengan seragam dokter, kulit putih, bulu mata panjang, dan mata yang indah masuk ke ruangan membawa sebuah map. “Apa kau tetap akan menghadiri rapat itu?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Sudah menjadi kewajibanku sebagai direktur utama rumah sakit ini.”
“Bukankah kau juga sudah ada janji dengan putramu?”
“Vernon, kau tahu prioritasku kan? Aku bisa makan malam bersama Matheo kapan saja, tapi rapat ini tidak bisa dilakukan seenak hati.”
“I know. Tapi Celandine, ini sudah ke 85 kalinya kau membatalkan janji dengan Matheo..” ujar Vernon membuka notesnya.
“Lebih baik kau menggunakan notesmu itu untuk mencatat hal yang lebih penting daripada pembatalan janjiku,” kata Celandine lalu memoles wajahnya sedikit.

“Ye ye ye, akan kupikirkan.. Sebenarnya aku datang kemari untuk memberitahumu sesuatu,” Vernon meletakkan map yang ia bawa. “Petugas keselamatan telah menyetujui proposal yang kau ajukan. Mereka akan datang lusa untuk tinjau lapangan,” jelasnya.
“Ini kabar bagus yang kuharapkan. Lalu petugas keselamatan yang akan datang itu apakah meliputi semua yang kuminta?”
“Hampir, hanya pemadam kebakaran yang tidak dapat memenuhi permintaanmu.”
“Ck, ya sudahlah tak apa. Lagipula tugas mereka bisa diback up petugas lain.”
“Kenapa sih kau mengajukan proposal ini? Kau takut ada bencana menimpa Idyllic?”
“Tidak ada yang tahu takdir, Vernon.”
“Yang kita bicarakan ini Idyllic, Celandine. Bangunan paling luar biasa yang pernah ada. Bahkan di setiap gedung ada teknologi yang menunjang prosedur keselamatan pribadi, kau meragukan Idyllic?”
“Kapal Titanic semegah dan secanggih pada zamannya itu saja bisa tenggelam. Aku rasa tidak ada alasan untuk mempercayai buatan manusia.”

Vernon terdiam menatap Celandine yang masih sibuk merias diri. Sesaat ia teringat masa lalu bosnya itu. Sejak kecelakaan kerja yang dialami suaminya, Celandine berubah menjadi wanita paling waspada dan penuh dengan kekhawatiran. Vernon menghela nafas mencoba mengerti.

“Baiklah, kurasa tidak ada salahnya juga. Oh ya, kau sudah dengar? Ketua Hong sudah tiba di Idyllic.”
“Pesawat jet pribadi Joshua memang selalu mengesankanku,”

<> 

@Idyllic, Tower C
Camellia menyerah. Ia sudah browsing mencari ide, ia sudah memeras otaknya sedari tadi, tapi hasilnya nol! Sama sekali tidak ada ide untuk kelanjutan proyek Idyllic’s white christmas eve beberapa minggu lagi. Deadline yang dimajukan seharusnya bisa mengeluarkan semua kekreativitasannya bukan? Kenapa sekarang malah mampet begini?

“Sunbaenim, minumlah ini dulu. Kau akan baikan setelah minum teh herbal dari ibuku ini,” Minghao dengan perhatian merawat ketua timnya yang sudah tak berbentuk itu.
“Terimakasih, Minghao. Sampaikan salamku pada bibi Xu juga ya,” Camellia menerima secangkir teh dari anak buahnya.

Aroma teh herbal itu sangat wangi dan menenangkan, Camellia jadi ingin menghirup udara segar. Ia memutuskan untuk keluar ke balkon. Untung saja dia ada di sektor A, jadi dia bisa menikmati pemandangan sungai. Ah kalau ada kesempatan dia akan berterimakasih pada bosnya yang menempatkan ruang kerja tim kreatif di sektor riverview ini.

“Hei, cinta sejati. Kapan kau akan datang? Apa kau akan datang menemuiku dengan helikopter? Atau kau akan melayang dan mengajakku terbang? Hah, lama-lama aku bisa gila. Aku harus segera mengakhiri masa soloku ini, ck.” Camellia merogoh saku untuk mendapatkan ponselnya. Ia menekan satu kontak dan memilih videocall.

“What is it, honey?” wajah Clover tampil di layar ponselnya.
“Hey~” ia merengek. “Aku butuh sandaran sekarang, benar-benar butuh. Sangat butuh!” ujarnya penuh penekanan.
“Cari satu sana, keluar dan lihatlah keindahan kota Seoul. Jangan pacaran dengan ruang kerjamu!” jawab Clover.
“Renyah sekali ucapanmu. Aku juga ingin liburan, kau tahu? Aku sudah sangat penat! Kepalaku sampai panas rasanya,” wanita itu menyesap sedikit teh hangatnya. “Kau sedang apa?” tanya Camellia.
“Aku sedang dalam perjalanan kembali ke gedung A, kau?”
“Aku sedang dalam perjalanan menuju ke nirwana. Ahhh mau mati rasanya, huhuhuhu,” rengeknya terdengar begitu menyedihkan.
“Hahaha, baru kali ini aku melihatmu sangat berantakan. Setelah ini cobalah cuci muka dan tidur beberapa menit, katanya itu bisa membantu melancarkan ide,”
“Akan kucoba, oh ya nanti malam kau ada acara? Mau makan malam bersamaku?”
“Aku sangat mau, tapi.. Sayang sekali aku sudah ada janji,”
“What?! Kau? Ada janji? Yang benar? Kau sudah tidak solo? Kau mengkhianatiku? Cepat katakan siapa pria yang mengambil kehidupan solomu?” Camellia sangat antusias, nadanya terdengar galak.
“Tenang saja, aku masih solo. Ini hanya makan malam biasa,”
“Oh dengan ketua Hong ya? Himne!”
“Ya! Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu kan? Ck! Himnejuseyo, Camellia Han!!”
“Hahaha, arrasseo. Sudah ya, aku sedang tea time bersama pacar baruku. Si tuan sunset!”
“Hahahaha, dasar solo mengenaskan!”

Camellia mendapatkan senyumnya kembali. Entah kenapa hatinya yang tadi berat kini sedikit lebih lega. Sinar matahari tenggelam yang menyiraminya mengingatkannya pada Junghan. Nah, ini alasan kenapa Camellia tidak suka diam dan istirahat berpikir. Akan ada banyak hal yang tidak ia sukai menyelinap masuk ke pikirannya. Ia tidak suka membuka luka lama, ia tidak suka kenangan pahit, ia tidak suka ketika perasaannya menjadi kelabu.

“Hah, sialan. Di saat seperti ini apa kau harus muncul, huh? Ya, Yoon Junghan! Kau dengar? Aku sudah menjadi wanita dewasa dan sukses! Kau pasti menyesal karena menganggapku hanya sebatas adik! Ya kan? Aku benar kan?” Camellia membentak si tuan sunset meluapkan semua kelelahannya.
“Ohoo, ternyata sunbae masih belum bisa move on dari manager keamanan ya?” suara nakal Minghao membuat Camellia menoleh ke pintu balkon.
“Siapa bilang? Aku sudah melupakannya! Dan lagi kenapa kau menguping pembicaraanku? Sana masuk! Dengarkan musik atau main game saja sana. Awas ya kalau ini sampai menyebar ke anggota lain,”
“Hahaha, ne~” Minghao kembali masuk dengan langkah ringan.

Benar, kesialan lain yang dihadapi Camellia adalah.. Yoon Junghan. Dia juga bekerja di Idyllic sebagai manager keamanan. Jadi selama ini persentase Camellia bertemu dengan Junghan itu sangat tinggi! Bagaimana dia bisa move on kalau masih sering bertegur sapa di parking lot?

“Ya Tuhan.. Cepat kirimkan aku pria tampan yang mencintaiku sepenuh hati, yang bersedia kujadikan suami. Oh ya! Tuhan, aku juga harus mencintainya ya. Kumohon kabulkanlah doa wanita solo ini, amin.”
“Kenapa sunbae memberi Tuhan tugas yang sulit begitu? Ckckckck,” goda Minghao memunculkan dirinya lagi.
“Kau! Masuk saja sana!” usir Camellia sekuat tenaga.

<> 

@Idyllic, Main Tower
Gedung utama yang terletak di depan memang tidak setinggi empat gedung lainnya. Akan tetapi, gedung ini akan menjadi gedung paling spektakuler di malam hari. Hiasan lampu, efek-efek kreatif yang diberikan untuk menarik perhatian sungguh memukau para warga yang melewati daerah Idyllic. Gedung ini menjadi lobby utama dan tempat fasilitas-fasilitas umum yang ditawarkan, seperti ruang rapat, ballroom, restoran, bar, kolam renang, spa, fitness centre, dan lain sebagainya. Selain itu gedung utama mempunyai parking lot paling luas dibanding gedung yang lain. Biasanya penghuni apartemen, hotel, karyawan kantor, rumah sakit, maupun pelajar menghabiskan waktu di gedung utama ini. Entah untuk memanfaatkan fasilitas atau hanya sekadar makan.
Saat ini di restoran sedang berlangsung jamuan makan malam untuk menyambut kedatangan ketua Ehrgeiz Corporation, Hong Joshua. Di samping menu kelas atas yang disediakan, disajikan pula lantunan melodi piano untuk menghias makan malam itu. Adalah Lee Jihoon, pianis berbakat yang menjalin kontrak eksklusif bersama Idyllic, yang memainkan piano di tengah ruangan resto.

“Aku belum melihat Clover, dimana dia?” tanya Joshua mengambil tempat duduknya di salahsatu meja makan yang sudah disiapkan.
“Dia barusaja menyelesaikan pekerjaannya, jadi saya rasa dia akan sedikit terlambat,” jawab pak Jo.
“Kau masih mengharapkan Choi Clover Cheongseol?” tanya Celandine menggoda koleganya.
“Tentu saja, selama dia masih solo masih ada harapan untukku kan?” balas Joshua.
“Duh, aku doakan kau berhasil mengambil hatinya ya. Sebagai teman Clover, aku juga ingin anak itu cepat mengakhiri hidup solo, haha..”
“Nah, karena kau teman Clover, kenapa kau tidak mau membantuku mendekatinya?”
“Eih, kau harus pakai usahamu sendiri..” tolak Celandine membuat Joshua mencibir.

Sementara itu, Clover sedang dalam keadaan hectic. Ia merapikan makeupnya di lift, memakai heelsnya sembari jalan menuju ke tempat parkir mini car–mobil khusus yang disediakan untuk berkeliling sekitar Idyllic. Dia ketiduran, oh my God! Setelah ini general manager Jo pasti akan mengomelinya. Sesampainya di parking lot gedung utama, Clover langsung berjalan cepat menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai resto. Selagi menunggu lift menjemputnya, Clover mengedarkan pandangan. Ternyata ramai juga parking lot ini. Mobil terparkir berjajar dan mobil datang berbaris. Tapi yang mengambil perhatiannya bukan itu, melainkan..

“Itu kan.. Matheo?” Clover berjalan mendekati seorang anak memakai seragam TK Idyllic dengan ragu. “Theo?” panggilnya.
“Aunt Clo..” balas anak lelaki itu dengan suara kecil.
“Apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Aku menunggu mama..”
“Apa? Tapi ibumu masih cukup lama berada disini, ada kerjaan yang harus dia urus kan?” Clover menyamakan tingginya dengan Matheo.
“Malam ini mama janji mau makan malam bersama Theo.. Meski mama menyuruhku pulang, aku akan tetap disini menunggunya.. Aunt Clo jangan beritahu mama ya,” pinta anak itu.
“Aku tak akan bilang ibumu, tapi kau tidak boleh ada disini.. Berbahaya,” kata Clover. “Bagaimana kalau Theo tunggu mama di rumah? Sambil bermain, nonton TV, menggambar.. Ya?” bujuknya.
“Tapi...”
“Kalau Theo disini, nanti mama bisa tahu..”

Anak itu menimbang-nimbang keputusannya. Pada akhirnya ia setuju untuk kembali ke rumah dan menunggu Celandine disana. Hah, Celandine benar-benar harus memperkerjakan bodyguard untuk melindungi anaknya. Sopir Matheo mudah dibujuk sih.

“Omo! Tunggu tunggu tunggu!!” Clover berlari menuju ke pintu lift yang akan tertutup, namun terlambat. “Ah! Ck!” ia kembali menunggu. “Oh iya! Aku lupa merapikan rambutku..” ujarnya sambil menyatukan rambutnya dengan jemari. Kemudian wanita itu mengambil karet gelang yang ada di tasnya. Ketika dia mengambil karet, tak sengaja ponselnya ikut keluar dari tas.
“Ouh, great!” keluhnya hendak mengambil ponselnya yang jatuh. Ketika mengambil ponselnya yang jatuh, karet gelangnya yang gantian jatuh. Mengambil karet gelang kecil di lantai keramik dengan satu tangan sibuk memegangi rambut ternyata tak semudah yang ia bayangkan.

Pada saat itulah, Clover mendapat bantuan tak terduga dari seorang pria. Ia mengambilkan karet gelang yang jatuh di lantai kemudian memberikannya ke Clover. “K-kamsahamnida..” lirihnya mengamati wajah pria itu.
“Long time no see,” kata pria bermata sipit di depannya. “Jaljinaesseo?”
“Nugu.... Hah!” Clover menutup mulutnya saking tak percayanya dia. “Kau.. Kwon Soonyoung?!”

Pria berambut cepak lurus bewarna coklat tua itu kemudian tersenyum manis.

<> 

Ini sudah kesekian kalinya Camellia menghela nafas. Lagi-lagi dia harus menginap di ruang kerja untuk lembur bersama timnya. Anggota tim kreatif Camellia begitu setia pada bosnya, meski mereka sudah diusir oleh Camellia, mereka bersikeras ingin lembur dan menginap di ruang kerja juga.

“Dasar, aku tidak butuh kasihan dari kalian ya! Ingat itu! Aku tahu ini weekend tapi aku tidak semengenaskan itu, okay?!” bentak Camellia.
“Ye ye ye..” jawab anggotanya maklum. Mereka sudah sangat mengenal tabiat Camellia yang sering mengomel begitu.

Mereka sedang makan malam–delivery mie hitam dan ayam goreng, ketika ponsel Camellia berbunyi. Bukan panggilan sih, hanya pesan masuk biasa. Mumpung masih santai, Camellia langsung mengambil ponselnya yang sedang dicharge.

“Clover?” gumamnya lalu membuka pesan yang masuk. “Wa, daebak!!!!!” teriak Camellia melebarkan mata.
“Ada apa, sunbae?” tanya Minghao berjalan mendekat.
“Ada teman lamaku datang ke Seoul! Bahkan ada di Idyllic!!” jelas Camellia menunjukkan layar ponselnya.

Minghao mengamati layar ponsel Camellia yang menampilkan sebuah foto. Selfie Soonyoung bersama Clover dengan pesan ‘MET HIM AT PARKING LOT >.<’

“Pria ini tampan, siapa?” tanya Minghao.
“Eih, dulu dia ini sangat tidak berbentuk. Rambutnya pirang, matanya sipit, hanya fashionnya yang kekinian,” Camellia mencibir.
“Yang penting sekarang dia tampan kan? Auranya dewasa sekali..” entah kenapa Minghao mengagumi Soonyoung. “Kenapa sunbae tidak pacaran dengannya?”
“Hish, bicaramu ngawur!” desis Camellia menjitak kepala Minghao. “Nih ya, kau tahu Clover kan?” Minghao mengangguk. “Mereka ini pacaran..”
“Ah, sunbae mengada-ada..” kata Minghao.
“Hah? Maksudmu?”
“Mana mungkin managernim pacaran dengan pria itu? Mereka kan barusan bertemu lagi, ya kan?”
“Aih, ternyata anakku sudah besar sekarang. Sudah pandai, good good..” Camellia mengangguk bangga.
“Kalau masalah cinta, aku ensiklopedinya!”

Camellia tak menggubris Minghao, dia sibuk membuka aplikasi camera untuk membalas pesan Clover. “Minghao, geser sini. Ayo kita selfie juga,” ajak Camellia menarik paksa anak buahnya. Meski cemberut, tapi tetap saja camera selalu bisa mengalahkan siapa pun. Mereka tersenyum kemudian cekrek! “Sudah sana, habiskan makanmu. Setelah ini kita kerja lagi,” usir Camellia sibuk mengedit hasil fotonya.
“Ne~” jawab Minghao datar.
“Kirim!” Camellia meletakkan ponselnya ke atas meja lagi. Ia kembali untuk menghabiskan makan malamnya.

‘Don’t forget to meet me, kay?’

<> 

Suasana pagi di Idyllic begitu menyejukkan. Walau banyak lalu-lalang orang yang mulai sibuk dengan aktivitas mereka di Idyllic, tapi keasrian dan keindahan bangunan ini sungguh menyapa harimu dengan sangat baik.
Ponsel Minghao yang berdering cukup keras membangunkan sang empu dari dunia mimpinya. Dengan susah payah pria itu meraih ponselnya yang ada di atas meja. Matanya yang masih berat berusaha melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini.

“Yoboseyo?” tanya Minghao dengan suara pagi. Mendengar suara dari sebrang, membuat mata Minghao terbuka sempurna, ia langsung bangkit duduk. “Ne, ne. Akan saya sampaikan. Baik, pak. Ne!” ia menurunkan ponsel kemudian beranjak untuk membangunkan teman-temannya. “Ayo cepat bangun, kita harus bergegas!” ajaknya.
“Ah, ini masih pagi.. Sebentar lagi.. Kemarin kita sudah bekerja sampai larut kan?” elak teman-temannya.
“Aduh, ini gawat! Presdir Felicity Company sudah mendarat di Incheon! Kita harus cepat! Akan ada kunjungan ke kantor!” jelas Minghao panik.
“Mwo?!”

Kekuatan presdir Felicity Company membangunkan tim kreatif saat itu juga. Kecuali satu orang, Camellia Han. Wanita itu masih meringkuk di sofa, menyelam sangat dalam di dunia mimpinya.

“Sunbae! Sunbae, bangun! Kita tidak punya waktu banyak untuk bersiap!” Minghao berusaha membangunkan putri tidur ini. Sedangkan anggota lain sudah sibuk merapikan tempat kerja mereka dan beberapa ada yang mandi.
“Apa sih? Hari ini kita libur.. Aku meliburkan kalian..” jawab Camellia enggan berinteraksi dengan dunia pagi.
“Okay okay setelah ini kita libur. Tapi bangun dulu, sunbae! Tempat kita akan diperiksa presdir Felicity Company! Ayo ayo ayo..” Minghao mengguncang-guncangkan tubuh Camellia yang seperti mayat.
“Duh, merepotkan sekali sih?! Orang itu suka sekali ya acara dadakan?! Ck!” amarah Camellia memuncak membuat moodnya hancur.
“Orang yang sunbae katakan itu adalah presdir, dia yang menggaji kita.. Ayo bergegas, sunbae! Kami tidak mau dipotong gaji hanya karena tempat kerja yang berantakan!”
Dengan berat hati, wajah ditekuk, dan perasaan kesal Camellia akhirnya membuka mata. “Awas saja nanti.. Aku pasti akan membalas perbuatannya, huh!” geramnya sambil merapikan meja kerja.

Tak lama kemudian, ruang kerja yang tadinya seperti kapal pecah telah berubah menjadi lebih rapi. Rahasia kecepatan kerja mereka adalah.. memasukkan semua barang ke almari. Dari luar memang tampak begitu bersih, rapi, dan tertata. Coba buka saja almarinya, semua barang tim kreatif pun akan tercecer.

“Baik, jam berapa presdir akan tiba?” tanya Camellia setelah timnya sudah siap.
“Seharusnya sekarang sudah tiba,” Minghao melihat jam.

Camellia menghela nafas. Seperti apa presdir Felicity Company? Jujur saja, selama bekerja di Idyllic belum pernah sekalipun ia melihat wajah atasannya. Dengar-dengar, bosnya itu jenius idaman wanita. Sedang asyiknya bergelut dengan pikiran sendiri, ponsel Minghao berdering.

“Yoboseyo?” sapa Minghao. Oh bukan karena apa-apa, Camellia memang tak ingin diribeti dengan panggilan atasan yang menyebalkan. Jadi dia menumbalkan nomor ponsel anak buahnya, Minghao. “Ya, kami sudah siap. Eh, apa? Aaa, ne.. Ne,” Minghao menutup ponselnya.
“Bagaimana?”, tanya Camellia tak sabar.
“Eeemmm,” Minghao menundukkan kepala antisipasi. “Presdir tidak jadi kemari,” lanjutnya hati-hati.
“Hah??!!”
“Itu katanya.. Dia akan istirahat di apartemen dulu.. Setelah makan siang mungkin dia akan mulai kunjungannya,” jelas Minghao.

Camellia mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Apa-apaan ini? Tidurnya yang berharga, oh astaga! Rasanya ingin sekali membanting meja!

“Sunbae, gwaenchana?” tanya Minghao.
“Aku ingin sekali mencekik lehernya!!!”

<> 

Suasana pagi di gedung A lebih tenang dibanding gedung C. Tegur sapa antar staff dengan penghuni menunjukkan betapa elitnya hotel/apartemen Idyllic ini. Lantunan musik klasik di lobby pun turut menyambut pagi.

“Ah, lagu Jihoon memang luar biasa..” ujar Clover menikmati rekaman musik klasik.
“Noonim kenal dengan pemain piano ini?” tanya Seungkwan.
“Tentu saja, kami sempat menghabiskan waktu bersama..”
“Mantan pacar ya?”
“Bukan, tapi teman seperjuangan..” Seungkwan mengangguk-angguk mengerti. Ia kemudian melirik Clover, wajahnya menyiratkan rasa penasaran yang tinggi disitu.

“Eh eh, noonim,” panggil Seungkwan setengah berbisik. “Pria yang semalam itu pacar noonim?” tanyanya dengan nada nakal.
“Pria yang semalam? Ketua Hong?”
“Bukan, bukan pria yang itu..” rengek Seungkwan.
“Lalu siapa yang kau bicarakan?”
“Yang matanya sipit, rambutnya cokelat, dandanannya keren itu..!”
“Kwon Soonyoung? Yang kutemui di tempat parkir?”
“Nah nah itu! Meski aku tidak tahu namanya,” jawab Seungkwan antusias.
“Dia juga teman seperjuanganku, Seungkwan..”

“Bukan pacar? Ck, sayang sekali. Padahal dia sangat keren! Tubuhnya, eumh! Tatapannya, luar biasa! Fashionnya? Trendy! Senyumnya, aih jantungku jadi berdetak kencang!” entah kenapa Seungkwan menjadi begitu menggebu membicarakan ini.
“Kau suka? Pacari saja dia, mumpung dia masih single juga,” kata Clover.
“Duh, noonim bisa saja. Ngomong-ngomong apa pekerjaannya?”
“Arsitek, kurasa..” jawab Clover berpikir.
“Tuh! Keren kan? Dia pasti sangat-“
“Boo Seungkwan,” sela Clover.
“Ye?”
“Kau tahu darimana aku bertemu dengan Soonyoung?”
“Eh? I-itu... Kebetulan kemarin aku sedang memantau di ruang keamanan,” jawab Seungkwan nyengir kuda.
“Soonyoung adalah temanku, sama seperti pertemanan antara aku dengan Camellia, Celandine, Jihoon, maupun Wonwoo..”
“Wonwoo? Aku belum pernah mendengar namanya, siapa dia?”
“Aku tidak begitu akrab dengannya. Kami hilang kontak, mungkin Jihoon atau Celandine masih saling kontak dengan Wonwoo,”

Seungkwan mengangguk mengerti. Ketika mereka hendak berkeliling mengecek service dan kondisi apartemen, ponsel Clover berdering. Sebuah panggilan masuk. “Yoboseyo? Oppa?” sapa Clover. “Aku baik-baik saja disini. Apa? Benarkah? Kapan oppa akan berkunjung? Oh, bersama tim ya? Baiklah, akan kutunggu. Okay, bye..”
Pria pipi tembam di belakang Clover masih menunjukkan wajah penasarannya. “Choi Seungcheol hyungnim?” tanyanya memastikan lalu mendapat anggukan dari Clover. Barusaja Clover memasukkan ponselnya ke saku, seorang pelayan room service berlari menghadapnya.

“Managernim!”
“Eoh? Kenapa kau tergesa-gesa seperti itu?”
“Ada permintaan khusus dari kamar 14057,” lapornya.
“Permintaan khusus?”

<> 

Clover mencoba mengatur emosinya. Apapun yang terjadi dia harus tetap kalem dan berwibawa. Apapun. Yang. Terjadi.

“Ah, lapar sekali..” ucap Soonyoung lemas. “Duh, tidak ada yang menemani. Padahal aku sudah sangat lapar, ck..”
“Tuan, jika anda lapar, kami menyediakan sarapan di restoran gedung utama.. Jadi-“
“Aduh, perutku.. Aku tidak tahan, kenapa pelayanan disini sangat buruk? Aku sudah bayar mahal untuk membeli apartemen ini.. Ckck, mengecewakan..”

Clover menghela nafas lalu duduk di depan Soonyoung. Melihat wanita itu sudah duduk di kursi meja makannya, wajah Soonyoung pun berubah cerah. Ujung bibirnya terangkat tinggi saking senangnya.

“Selamat makan!” ujar Soonyoung ceria.
“Ya, Soonyoung-a.. Kau tahu aku sibuk kan? Tidak bisakah kau dewasa sedikit? Kenapa aku harus menemanimu sarapan, eoh?” protes Clover mengangkat sendok.
“No no no, aku lah yang menemanimu makan..” benah Soonyoung.
“What the.. Ck, untuk kali ini aku masih memaafkanmu.. Tapi tidak ada lain kali, algesseo?”
“Woa, sudah berapa lama kau di Korea? Bahasa Koreamu jadi luwes, ah aku jadi semakin cinta!”
“Ya ya ya, kau sama sekali tidak berubah ya? Sepertinya semua orang telah tertipu dengan penampilanmu!”
“Oh ya? Mereka mengira aku bagaimana? Pasti keren, iya kan?”
“Ye ye. Pertama kali melihatmu aku juga mengira kau keren. Kupikir kau sudah berubah menjadi gentleman, ternyata masih anak-anak,” jawab Clover.

“Berbeda denganku, kau berubah banyak ya,” kata Soonyoung menatap Clover dengan senyum mengembang.
“Ya aku tahu aku tambah tua,” sahut Clover cepat.
“Haha, kau masih ingat bagaimana kebiasaanku membully ya?” ujar pria itu kemudian melahap sarapannya. “Kau bagaimana selama ini? Apakah hidupmu baik?”
“Seperti yang kau lihat, aku sedang dalam perjalananku mencapai kesuksesan,”
“Oh ya? Tapi yang kulihat hidupmu tidak sebaik itu,” Clover terdiam menatap Soonyoung yang tak melepas tatapannya sedari tadi. “Kau belum sarapan kan? Kapan sarapan terakhirmu?”

Jujur saja, Clover terhenyak mendengar suara dan pertanyaan Soonyoung. Seketika pria kanak-kanak yang belum ada sedetik punya niatan membullynya, kini berubah menjadi pria yang hangat dengan suara yang lembut. Sejak kapan Soonyoung menjadi begitu manis? Hei, sejak kapan senyum Soonyoung bisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat? Ah, benar. Clover pasti tersugesti dengan kalimat Seungkwan. Selama ini ia hanya menganggap Soonyoung sebagai teman saja kan? Mana mungkin perasaan cinta muncul begitu cepat? Hah.

“Terimakasih makanannya, aku berhutang sarapan padamu..” ujar Clover sebelum bangkit berdiri dari meja makan.
“Eoh? Ya, Clover!” Soonyoung menyadari sesuatu dari diri Clover yang hilang. “Kau tidak memakai ikat rambut yang kuberikan padamu?” pertanyaan itu membuat Clover mendengus.
“Sepuluh tahun. Kau pikir ikat rambut itu tidak bisa rusak apa? Aku terus memakainya sampai karetnya tidak bisa melar lagi, tahu?”
“Ohooo, jadi kau menungguku? Aduh, bagaimana ini? Aku jadi sangat bahagia, duh sepertinya pipiku akan memerah..!” godanya sambil memegang kedua pipinya sendiri.
“Hish! Sudah, aku harus kembali bekerja! Kau harus banyak meditasi supaya dewasa, roh anak-anak dalam dirimu itu harus cepat ditanggulangi,” omel Clover. “Okay, Soonyoung.. Bye!”

Soonyoung menyangga dagunya dengan tangan. Ia tersenyum menatap pintu masuk disana. “Dia mulai terdengar seperti seorang istri sekarang,”

<> 

Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada tim kreatif Camellia. Siang itu, wakil presdir lah yang melakukan kunjungan. Ah, beruntung juga. Kenapa? Kalau presdir sampai tahu salah satu ruang kerja di kantornya berantakan mungkin tim kreatif mereka akan dibubarkan. Dengar-dengar presdir itu galak dan perfeksionis sih.

“Baiklah, ayo kita keluarkan barang-barang dari almari..” ajak Camellia.
“Hati-hati membuka pintunya.. Barangnya bisa berjatuhan..” Minghao mengingatkan.

Selesai kunjungan atasan, belum ada satu jam ruang kerja tim kreatif pun kembali ke keadaan semula. Berantakan. Mereka semua memang suka bekerja dalam keadaan seperti itu. Katanya sih, lebih mudah menemukan barang kalau berantakan begitu.

“Okay, team..” Camellia mencoba mengambil perhatian anggotanya. “Kita sudah lembur beberapa hari untuk menyelesaikan proyek sesuai jadwal. Besok adalah hari presentasi kita. Tidak hanya direktur saja yang akan hadir dalam rapat besok pagi. Tiga ketua pemilik Idyllic akan hadir semua, jadi kuharap kita bisa maju dengan keadaan prima,” jelasnya. “Kalian sudah bekerja dengan hebat, team. Beri tepuk tangan untuk diri kalian masing-masing!”

Meski mata panda Camellia dan anggotanya semakin hitam, tapi rasa puas bisa menyelesaikan proyek besar dalam waktu singkat itu.. wow! Malam ini dia harus memakai masker yang sudah ia beli beberapa bulan lalu. Belum ada waktu untuk pakai masker itu, sekarang adalah kesempatannya! Akan tetapi..

“What the hell...” gumam Camellia melihat bungkus masker wajahnya. “Sudah expired?!!!”

<> 

Hari ini adalah hari besar untuk tim kreatif. Presentasi di hadapan pemilik Idyllic. Meski ada Celandine disana, tetap saja gugup. Bahkan kalau Celandine sedang tidak mood, dia bisa menghabisi presentasi tim kreatif. Duh, berat.

“Semua sudah siap?” tanya Camellia.
“Siap,” jawab Minghao mantap.

Camellia mengangguk lalu mengambil nafas dalam. General manager sudah mempersilakan timnya untuk presentasi. Sekarang waktunya!
Camellia maju ke mimbar yang ada di depan ruang rapat itu. Darisana ia bisa melihat seluruh audiens yang datang. Beberapa ada yang ia kenal, beberapa wajahnya masih asing. Oh di barisan paling depan duduk pemilik Idyllic. Camellia bisa melihat Celandine memberikan senyum untuk menyemangatinya, okay ini bagus. Itu artinya Celandine dalam mood yang baik.
Kemudian di sebelah Celandine ada Hong Joshua, ketua Ehrgeiz Corporation. Ah, wajah pria itu sama sekali tak membawa masalah. Wajahnya ramah dan tidak memberikan pressure sedikitpun. Cukup melegakan. Okay, di sebelah Joshua adalah presdir Felicity Company. Bos besar gedung B, dan dia adalah..

“Kim Mingyu..?”

Mata mereka bertemu. Tiba-tiba saja tubuh Camellia mematung begitu melihat Mingyu duduk di deretan kursi pemilik Idyllic. Jadi selama ini bosnya adalah Mingyu? Selama ini dia bekerja untuk Mingyu?! Kim Mingyu yang kuliah di Sienna University itu?! Oh. My. God.
Tak hanya Camellia, Mingyu pun menunjukkan ekspresi terkejut. Ia tak menyangka senior pujaannya dulu bekerja di bawah naungannya. Jadi selama ini dia melindungi Camellia? Selama ini dia diperhatikan Camellia?!–ini hanya pikiran Mingyu saja.

“Han-ssi.. Han-ssi!” panggil sekretaris yang menjadi moderator disana.
“Ah, ne?”
“Tolong segera presentasikan hasil kerja timmu,” pintanya.
“Ne..”

Sekali lagi Camellia harus tenang. Ia menarik nafas kemudian menghembuskannya supaya lebih kalem. Baik, profesionalitas! Anggap saja tidak ada siapa-siapa, lakukan presentasi seperti biasa.
Benar saja, Camellia berhasil melakukan presentasi dengan lihai dan menarik. Anggota timnya mengatur bahan presentasi yang disampaikan menggunakan hologram dan teknologi canggih. Selain itu, penjelasan dan bahasa Camellia mudah dimengerti, bahkan sesekali Camellia menggunakan bahasa Inggris untuk menekankan hal yang penting.

“Kemudian yang terakhir.. Karena sudah dipastikan tahun ini bukan white christmas, kami berencana untuk menyebarkan artificial snowflakes menggunakan helikopter.. Kita akan membuat Idyllic menjadi satu-satunya tempat dengan white christmas,” jelasnya.

Tepuk tangan apresiasi dari presentasi yang mengesankan langsung memenuhi ruang rapat. “Baiklah, apakah ada pertanyaan dari audiens?” tanya moderator. Secara bergilir pertanyaan diberikan oleh beberapa orang, tak terkecuali Celandine dan Joshua. Akan tetapi semua pertanyaan itu bisa dijawab dengan baik oleh Camellia.

“Mulai hari ini kami akan memasang anemometer untuk melihat keadaan angin, kami juga menggunakan helikopter yang dirancang khusus agar tidak menimbulkan suara berisik atau menciptakan angin lebat.. Jadi untuk masalah ketenangan Idyllic, mohon tuan dan nyonya tidak perlu khawatir..” jawab Camellia.
“Pertanyaan berikutnya silakan dari presdir Felicity Company..” moderator itu masuk ke giliran Mingyu.

Okay, Camellia kembali gugup disana. Mendengar suara ‘eee’ dari Mingyu saja sudah membuat aliran darahnya lebih cepat. Dan astaga suaranya itu semakin berat! Pasti dia sudah berubah, pasti dia sekarang sudah dewasa dan sangat berwibawa. Bagaimana kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan sulit dari Mingyu yang terkenal jenius itu? Duh, kenapa Mingyu lama sekali membolak-balik materi presentasi timnya sih? Apa yang mau dia tanyakan? Kenapa dia begitu teliti?!–ini kecemasan Camellia.

“Oraenmaniyeyo, Han sunbae..” sapa Mingyu memberikan senyum lebar yang sama seperti dulu.
“Ne?” Camellia hanya bisa merespon dengan kikuk.
“Pertanyaanku hanya satu,” kata Mingyu. “Kau siap dengan jawabanmu?” mendadak pria itu berubah serius.
“Ne..!” jawab Camellia mantap.

“Mogosseumnikka?”
“Ne...?”
“Mogoseumnikka? Han sunbaenim?”

Seketika ruang rapat hening. Camellia tidak tahu harus menjawab atau membiarkan pertanyaan itu. Semua orang mulai berbisik dan menatap Mingyu dengan heran. Tapi sepertinya pria itu sama sekali tidak mempedulikan mereka.

“Eee..” Camellia mengalami masa sulit sekarang. “Ne, mogosseumnida..” jawab wanita itu akhirnya.
“Ah, sayang sekali..” Mingyu sedikit kecewa disana. “Pertanyaan selesai,” lanjutnya menutup hardcopy materi presentasi.
“Presdir Kim, apakah tidak ada pertanyaan mengenai proyek ini?” tanya moderator heran.
“Ini proyek yang bagus. Kurasa sudah sempurna,” jawab Mingyu terdengar meyakinkan.

Joshua menatap partnernya dengan senyum penasaran. Kenapa anak ini? Sedangkan Celandine hanya bisa menundukkan kepala menahan rasa gelinya itu.

“Oh, begitu.. B-baik, kalian boleh kembali ke tempat.. Presentasi selanjutnya..”

Camellia bersama anggota timnya memberi hormat singkat sebelum keluar ruangan. Astaga, itu tadi apa? Sampai di luar Camellia langsung menyandarkan tubuh ke tembok. Apa dia sedang mimpi? “Ah ya ampun!! Cepat tampar aku!! Aku harus sadar sekarang juga!” teriaknya bringas mengguncang tubuh kurus Minghao.
“Sunbae~! Kenapa aku yang kena imbasnya?” Minghao hanya bisa pasrah.
“Astaga! Aku tidak habis pikir kenapa anak itu tidak bisa lihat situasi?! Tadi itu sedang rapat besar! Dan dia malah menanyakan apa aku sudah makan atau belum? Apa sih yang dia pikirkan?!” omel Camellia panjang.
“Ternyata sunbae sudah saling kenal dengan presdir?” tanya Minghao merapikan bajunya yang diremas Camellia.
“Ouh, aku tidak mau mengingat kejadian ini! Aku mau melarikan diri! Bye!”
“Sunbae! Tunggu! Kau mau kemana?”
“Aku mau merecoki hidup Clover!”

<> 

Camellia menghisap habis vanilla floatnya dengan cepat. Saat ini dia sedang duduk di resto bersama dengan Clover yang hanya bisa menganga heran melihat tingkah temannya.

“Apa yang terjadi?” tanya Clover.
“Aku bertemu Mingyu!” jawab Camellia cepat.
“Lalu?”
“Dia itu presdir Felicity Company, Clover!!”
“Benarkah?! Serius?!”
“Kalau aku bohong tidak mungkin sekarang aku kepanasan!”

“Okay okay, tenangkan dirimu. Jadi bagaimana kalian bertemu?”
“Dia duduk di kursi presdir Felicity Company ketika aku sedang presentasi di rapat besar hari ini..” rengek Camellia.
“Hhmm, lalu kenapa kau terdengar begitu menyedihkan? Memang kau ada peristiwa apa dengannya?”
“Dia melakukan hal tak terduga sebagai presdir!”
“Hah!! Dia memelukmu?! Atau menciummu?!” Clover menangkup kedua pipinya terkejut.
“Eih, aniya. Dia tanya aku sudah makan atau belum.. dan itu di tengah rapat penting! Apa dia tidak memikirkan wibawanya? Ck!” jelas Camellia kemudian bermain sedotan.

“Terus kenapa kau kesal?”
“Aku hanya terkejut.. Entahlah, kurasa.. Ya begitulah..”
“Camellia..” Clover mencondongkan tubuhnya ke depan. “Bukan Mingyu kan yang membuatmu kesal? Tapi perasaanmu pada Junghan..”
“Biasanya kekesalan yang dipendam akan meledak begitu ada kesempatan untuk keluar,” celetuk Seungkwan yang duduk di belakang Clover.
“Boo, please..” cegah Clover.
“Ah, ne.. Joesonghamnida..”

“Tidak, Clo.. Dia benar..” kata Camellia. “Aku menggunakan alasan lain untuk meluapkan emosiku..”
“El, sudah sekian lama.. Kenapa kau tidak lupakan saja Junghan?”
“I’ve tried.. But I can’t..” jawab Camellia. “Seberapa besar pun usahaku untuk melupakannya, tetap tidak bisa.. Ujung-ujungnya aku malah semakin larut..”
“Kau butuh kehadiran pria lain.. Mau kupanggilkan Soonyoung?”
“Ish, siapapun kecuali dia!” tolak Camellia tegas.
“Hahahaha, kau benar..”
“Oh ya, ngomong-ngomong aku belum sempat bertemu dengannya.. Bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama?”
“Ide bagus..!”

Barusaja Clover hendak menghubungi Soonyoung, Minghao datang menghampiri Camellia. Nafasnya tersengal akibat lari dari gedung B ke resto. Anak ini tidak tahu fungsi lift apa?

“Sunbae!” panggil Minghao mengatur nafasnya.
“Eoh? Kenapa Minghao?”
“Itu.. presdir..” Minghao menunjuk-nunjuk arah gedung B.
“Kenapa dengan presdir?”
“Hah hah hah..” Minghao menenangkan diri sejenak. “Dia kunjungan ke tempat kerja kita!”
“Mwo?!”

<> 

Di suatu tempat pada sore hari. Angin musim dingin yang berhembus mengajak rambut hitam milik seorang pria untuk menari. Lekuk wajah tegas dan tatapan tajam menjadi bagian dari ketampanannya. Tubuhnya yang kekar, tinggi, dan tegap menambah kesan kuat seragam pemadam yang ia kenakan.

“Seungcheol hyung..” panggil pria itu dengan deep voice yang ia miliki.
“Hm?”
“Apakah kita harus berkunjung ke Idyllic? Bukankah kau sudah menolak proposal pimpinan Min Pharmaceutical?”
“Aku menolaknya karenamu, tapi kita harus tetap antisipasi..” jawab Seungcheol. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada bangunan semegah itu. Untuk berjaga-jaga, kita harus sudah mengenal strukturnya.. Ya meski tidak secara resmi, jadi anggap saja kunjungan besok sebagai liburan kita..”

Pria itu diam menatap meja. Tatapan itu, tatapan penuh kesedihan dan penyesalan. Seungcheol bangkit berdiri untuk menepuk pundak pria itu. “Kau juga harus bahagia..” kata Seungcheol.


“Wonwoo-ya..”