Rabu, 08 Juni 2016

IDYLLIC {Prolog}


Seorang anak sedang asyik bermain mobil-mobilan di ruang tengah rumahnya yang hangat. Tangannya yang mungil dengan kuat menggerakkan truk pemadam kebakaran melewati mainannya yang lain. Suara sirine nyaring dari mulutnya menghidupkan suasana.

“Eoh?” truk merah kesayangannya menabrak sesuatu yang terselip di bawah tumpukan mainan. “Mama!” teriaknya berlari ke arah sofa menghampiri seorang wanita yang sedang merajut. “Ini apa?”

Seulas senyum lembut terbentuk di wajah wanita itu. Ia meletakkan alat rajutnya lalu menerima sodoran album usang dari anaknya.

“Wah, sudah lama sekali aku tidak melihat ini,” katanya. Mata cantik di balik kacamata itu kini tengah asyik menelisik tiap halaman album dengan seksama. “Hebat. Aku bisa merindukan kalian juga ternyata,” ujarnya.
“Mama, mereka siapa?”
“Mereka adalah teman mama..”

<> 

15 years ago.. @Sienna University, Singapore
Sebuah kampus yang terletak di tengah kota berdiri kokoh memamerkan setiap sudut bangunannya. Kampus yang asri dengan nuansa warna sienna berhasil memikat hati tiap mahasiswa untuk terus menimba ilmu disana. Tidak banyak fakultas yang ditawarkan, bukan termasuk universitas terpandang juga, tapi di kampus itu semuanya bersatu dan tersenyum.

“Hei, sudah dapat ide untuk proyek akhir universitas?” tanya seorang mahasiswi pada temannya.
“Otakku kosong. Sepertinya butuh asupan liburan,” jawab mahasiswa yang mengistirahatkan punggungnya di bangku taman.
“Sudah hampir deadline, Soonyoung,” sahut mahasiswi yang sibuk meringkas buku tebal di atas meja taman.
“Aku sudah mencoba memikirkan sebuah proyek berdasarkan keunikan masing-masing,” mahasiswa mungil berkulit putih ikut menjawab.
“Wah, keren Jihoon! Apa idenya?” kali ini mahasiswa bertubuh tinggi yang menyelipkan antusiasmenya.

Setiap tahun Universitas Sienna hanya meluluskan beberapa puluh mahasiswanya saja. Selain masalah administrasi, kelengkapan prestasi serta keaktifan, ada proyek akhir tahap universitas yang harus diselesaikan sebelum mengikuti uji skripsi. Meski harus lebih lama mendapatkan status internasional karena jumlah kelulusan lebih sedikit dari yang lain, Universitas Sienna lebih memilih mengakrabkan pelajarnya.
Setiap proyek akhir terdiri dari beberapa anggota lintas fakultas. Barusaja kita melihat aktivitas sekelompok pelajar semester akhir yang berusaha memenuhi persyaratan kelulusan yang paling berat, proyek akhir. Sebenarnya tema tahun ini lebih mudah dan luas dari tahun-tahun sebelumnya. Sosial kemasyarakatan, tema besar Universitas Sienna untuk proyek akhir mahasiswa mereka.

“Oh. My. God. Breaking news,” sebuah suara senang yang ditekan menyapa telinga para mahasiswi yang duduk menikmati makan siang mereka. “Aku melihat Junghan tadi! Ya ampun dia semakin keren saja setelah lulus. Aku jadi makin cinta!!”
“Si tuan alumni?” mahasiswi berkacamata mencoba menerka.
“Seratus untukmu Celandine Huang!” jawab mahasiswi girang dengan wajah serius.

“Kau masih tergabung di club pecinta kakak angkatan, El?” sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga, mahasiswi itu bertanya. “Meski Junghan sudah lulus..”
“Oh, tentu saja! Camellia akan selalu setia pada club yang mempersatukanku dengan Yoon Junghan!” jawab Camellia tegas.
“Kita sudah semester akhir, kenapa tidak berhenti bertindak konyol sih?” Celandine mengomeli temannya.
“Jangan marah padaku saja. Nih, anak ini! Dia juga masih tergabung ke club pecinta adik angkatan!” bantah Camellia mencari tumbal lain.
“Aku belum rela melepas Vernon dari hari-hari sibukku,” balasnya kalem.

“Camellia Han, Clover Cheongseol Choi, tolong buka mata kalian. Kalau kalian menghidupi impian begini, kapan kalian mengakhiri masa solo kalian huh?” sekali lagi Celandine menekankan dengan wajah galak.
“Akan kami pikirkan, mam...” jawab keduanya lemas.
Celandine mengangguk-angguk menganggap sepakat keputusannya sendiri. Pada saat mereka hendak memulai menyantap makan siang lagi, muncullah seorang teman.

“Clover, yo!!” sapa teman itu ceria tak lupa menepuk pundak Clover.
“Oh my!” alhasil perempuan itu hampir tersedak mi instannya. “Soonyoung! Jangan mengagetkan begitu!”
“Ahaha, sorry sorry. Kalian sedang apa?” tanya Soonyoung mengambil tempat duduk di meja itu meski belum diizinkan.
“Kau tidak bisa lihat kami sedang-“
“Eits, tak perlu menraktirku. Aku masih punya uang saku di dompet, tapi kalau kalian memaksa juga tak apa sih. Auntie, aku pesan ayam goreng dan colanya ya!”

Siinngg, hening dalam sekejap. Ketiga perempuan yang tadinya makan siang dengan tenang kini tengah menatap pria semena-mena di antara mereka secara horor. Pria bernama Soonyoung itu hanya tersenyum mengangkat alis seakan ada yang aneh.

“Kalian kenal?” tanya Celandine.
“No,” jawab Camellia dan Clover pendek serempak.
“Kalian tega menelantarkan lelaki seimut aku? Oh man, sakit..” tak perlu dipaparkan bagaimana pose Soonyoung sekarang.
“Pergi sana! Nafsu makanku jadi hilang lihat dirimu, argh!” amuk Celandine galak, lagi.

“Kau diusir lagi, Soonyoung? Haha, daebak!” seorang pria lain mendatangi meja itu.

“Wonwoo.. kenapa aku selalu dibully mereka?” rengek Soonyoung merana.
“Entahlah, kenapa tanya aku? Tanya ke mereka saja,” jawab Wonwoo menarik kursi dari meja lain. “Auntie, aku pesan ayam goreng dan colanya satu porsi ya!”
“Ya, Celandine! Kenapa kau senang membullyku?” dia benar-benar menanyakan hal ini. “Kau tidak tahu betapa sayangnya aku padamu, eoh?”
“Ya, Kwon Soonyoung!! She is my girl!” bentak Wonwoo cepat.
“Eih, tenang saja. Celandine kan jijik padaku, dia hanya mencintaimu..” jawab Soonyoung setengah berbisik.
“Nah itu kau tahu alasannya,” sahut Celandine–dia memang anti Soonyoung.

“Eh ternyata anak-anakku sedang bergumul disini. Tega sekali makan-makan tanpa diriku,” kali ini suara imut dari pria mungil mengalihkan perhatian mereka.

“Kau kan tadi kelas,” balas Wonwoo.
“Auntie, ayam goreng dan cola ya!” pria mungil bernama Jihoon ikut duduk di meja yang sekarang cukup sempit untuk makan mereka semua.
“Apakah orang Korea itu suka sekali makan ayam goreng dan cola ya? Mereka bertiga pesan menu yang sama!” bisik Camellia.
“Tidak, itu karena mereka tidak punya cukup uang untuk beli yang lain. Paket menu ayam dan cola kan paling murah,” jawab Clover berbisik juga.

“Ya, kami dengar percakapan kalian,” tegur Jihoon.
“Hah, takdir macam apa ini? Sekelompok dengan orang-orang Korea seperti kalian. Ckckckck,” Celandine menatap angkasa.
“Kau harus bersyukur bisa sekelompok dengan trio tampan seperti kami ini,” celetuk Soonyoung.

“Eh eh eh, El! Vernon Vernon Vernon! Vernon, disana!” sekejap Clover jadi kegirangan saat melihat kehadiran adik angkatan beda fakultas kesayangannya.
“Hajar! Sapa dia!” Camellia mengompori.
“Duh, pipiku panas! Tunggu tunggu aku pakai bedak dulu,” ia mengaduk tasnya. “Ah!! Aku lupa bawa bedak!”
“Ck, mau menyapa saja repotnya minta ampun!” Soonyoung mencibir memanyunkan bibirnya.
“Tiba-tiba kau emosi? Kenapa? Kau cemburu? Kau suka Clover kan? Iya kan?” Wonwoo mendesak dengan wajah nakal.
“Aku sudah ditolak ribuan kali olehnya, kau tahu?”

“Kau belum pernah bilang kau suka padaku. Ini serius?” tanya Clover.
“Serius lah. Kapan aku tidak serius?”
“Err, like.. everytime?”
“Gerae? Kurasa kau benar,” jawab Soonyoung akhirnya.

“Sudah ada Soonyoung kenapa tidak pacaran saja dengannya?” Celandine melempar pertanyaan pribadi secara terbuka, hebat.
“Rambutnya pirang, aku tidak suka..” jawab Clover seadanya.
“Ya! Adik kelas itu rambutnya juga pirang!” sela Soonyoung.
“Tapi dia tampan!” balas Clover.
“Jadi aku tidak, begitu?”
“Kau kan imut, Soonyoung..!”
“Ah gerae? Okay, cukup adil..” mereka lalu melakukan tos keakraban.

“Silakan pergi dan cari ruang, jangan menebar aura pink di antara kami para solo..” tegur Jihoon, lagi.
“Yang bisa menghandle tingkah Soonyoung memang hanya Clover,” celetuk Celandine.
“Thats right.. dan satu-satunya orang yang bisa menghandle cintamu hanya Jeon Wonwoo,” tambah Camellia tanpa dosa.
“G-gerae? Ah, sou..” respon Wonwoo gugup.
“Ckckck, saking gugupnya sampai ganti bahasa begitu responnya,” kata Jihoon mencoba maklum.

Entah bagaimana caranya, akhirnya mereka bisa makan dalam keadaan tenang dan saling menerima. Paling tidak itu yang dipikirkan Jihoon, orang normal kedua setelah Celandine. Pada satu titik, datanglah seorang pria tampan, tinggi, dan berkulit gelap. Semua mata di kantin hanya tertuju ke pria itu. Kim Mingyu.

“Han-sunbae, annyeonghaseyo,” sapa pria itu sopan dengan suara kalem.
“Oh, annyeong,” jawab Camellia singkat.

Selesai. Pria itu meninggalkan meja Camellia dengan senyum merekah dan perasaan ingin meledak. Ini bukan hal baru untuk mereka yang dekat dengan Camellia. Kenapa? Karena setiap ada Mingyu, pasti anak itu akan menyapa Camellia. Menyapa. Hanya. Camellia.

“Kim Mingyu itu kaya, tampan, cerdas, begitu sempurna kan? Kenapa tidak kau terima saja cintanya?” tanya Clover.
“Dia terlalu sempurna. Aku suka yang biasa-biasa saja, seperti Yoon Junghan-sunbae!” jawab Camellia yakin.
“Sebentar lagi sunbae kesayanganmu itu akan kembali ke Korea, pacari yang ada saja kenapa?” timpal Celandine.
“Nona nona sekalian. Coba bayangkan kalau aku pacaran dengan Kim Mingyu,” Camelllia mengajak berfantasi.
“Cocok,” jawab Clover pendek.
“Gap antara kami sangat jauh! Dia sangat kaya, sangat tampan, dan sangat cerdas! Kalian pikir akan jadi apa aku jika bertengger di bahunya?”
“Burung parkit,” jawab Celandine singkat.
“Eih, bukan bertengger macam itu. Maksudku aku tidak akan tahan bersama dengannya. Kami terlalu berbeda, you know?”
“Ya.... kau harus membiasakan diri,” ujar Clover.
“Ah aku tidak ada niatan berpacaran dengannya. Aku merasa dia terlalu sempurna untuk dijadikan pacar,”
“Jadi kau tetap setia pada Junghan?” Celandine memastikan dan Camellia mengangguk pasti. “Yang satu berharap pacaran dengan adik angkatan, yang satu mengharapkan kakak angkatan-“
“Dan kau berharap pada yang seangkatan. Lengkap sudah!” sambung Camellia dan Clover.
“Hei, aku tidak bilang begitu!” Celandine jadi sewot karena malu.

“Pick one,” Clover menatap Celandine serius. “Jeon Wonwoo, Kwon Soonyoung..”
“Jeon Wonwoo,” jawab perempuan itu tanpa keraguan.
“Cieeeee,” Camellia memukul lengan Celandine pelan dengan wajah nakal.
“Kau membandingkan Wonwoo dengan larva ini, tentu saja aku pilih Wonwoo lah!”
“Okay okay, kurevisi.. Pick one,” Clover kembali serius. “Jeon Wonwoo, Lee Jihoon..”

Tiga pria yang sedari tadi diam–mereka sedang makan soalnya, kini mematung menunggu jawaban Celandine. Kecuali Soonyoung, Wonwoo dan Jihoon benar-benar diam tak bergerak. Mereka berhenti mengunyah makan siang mereka.

“Lee Jihoon..” jawab Celandine setelah diam beberapa saat.

Camellia, Clover, Soonyoung, dan Jihoon bertepuk tangan takjub. Saking terharunya Jihoon sampai menjabat tangan Celandine. Apakah pilihan Celandine seperti piala Oscar?

“Kenapa dia? Aku lebih tinggi, manly, dan tampan darinya! Ah, harga diriku terluka...” celoteh Wonwoo tak terima.
“Sudah, terima saja nasibmu..” kata Jihoon mengelus punggung Wonwoo.
“Aku suka yang imut sih,” jawab Celandine.
“Perempuan zaman sekarang tipenya memang yang imut-imut, sudah berubah.. Haha!” sepertinya Jihoon senang sekali dengan keputusan Celandine.
“Tak apa, Wonwoo. Paling tidak di mata Celandine kau bukan peringkat terakhir,” Camellia mencoba menghibur.
“Oh iya! Masih ada larva ini, hahaha!” seketika tawa Wonwoo kembali. Semangatnya membully Soonyoung jadi naik.
“Ujung-ujungnya selalu aku yang dijadikan tumbal ya?” Soonyoung meratapi nasib.

Begitulah kemesraan dalam pertemanan mereka. Celandine Huang, mahasiswi kedokteran; Camellia Han, mahasiswi desain komunikasi visual; Clover Cheongseol Choi, mahasiswi manajemen perhotelan; Kwon Soonyoung, mahasiswa arsitektur; Lee Jihoon, mahasiswa seni musik; Jeon Wonwoo, mahasiswa teknik keselamatan dan proteksi kebakaran menjadi satu kelompok dalam penyelesaian proyek akhir universitas.

<> 

Selesai bimbingan dengan dosen, Clover bergegas menuju ke spot kelompok proyek akhirnya. Gazebo tua yang ada di pojok dekat gedung lama di taman universitas adalah pilihan mereka, kenapa? Karena disana wifinya sangat cepat.

“Eh, Soonyoung? Mana yang lain?” Clover meletakkan tas dan duduk di samping Soonyoung.
“Celandine simulasi praktik, Camellia barusaja pergi untuk bimbingan, Jihoon ada pekerjaan asisten dosen, Wonwoo studi lapangan, dan aku barusaja kabur dari kenyataan. Hah...” jelas Soonyoung lemas.
“Jadi hari ini batal rapat membicarakan proyek? Nice,” ujar Clover manggut-manggut. “Kau kabur dari kenyataan apa? Hidup solo sejak SMA?” ledek Clover sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Enak saja!” Soonyoung bangkit hanya untuk mengelak. “Dari SD tepatnya.. Tapi bukan itu yang kupikirkan,” lanjutnya.
“Lalu?”
“Aku dapat beasiswa pascasarjana..”
“Wow, cool!!”
“Yeah, right..” jawab Soonyoung lemas.
“Then why are you so blue?”
“German. Pascasarjana di German,” kata Soonyoung kemudian menatap Clover. “Aku harus meninggalkan kampung halamanku lagi untuk kesana..”

Clover terdiam sesaat. Ia ingat bagaimana antusiasnya seorang Soonyoung ketika studi S1nya hampir berakhir. Bukan sudah muak belajar, tapi dia ingin cepat pulang ke rumah, ke Korea. “Kau sudah cerita ke ibumu?” tanya Clover.
“Aku tak berani,” pria itu kembali merebahkan tubuh. “Aku senang ibu mendukungku, tapi aku tahu dia begitu kesepian. Aku tidak tega..”
“Heh, nada do re mi rendah itu tidak cocok untuk Kwon Soonyoung. Cheer up, man!” Clover menyenggol kaki Soonyoung. “Mempertimbangkan keluarga itu penting, tapi mengabaikan harapan atas nama perasaan itu jahat sekali, apalagi harapan seorang ibu. Kau paham maksudku kan?”

Kali ini Soonyoung yang diam. Matanya menikmati struktur kayu yang menopang atap gazebo itu. “What was that?” tanyanya. “Aku tidak percaya seorang Clover Cheongseol Choi memberiku nasihat yang bagus. Ternyata kau dewasa juga.”
“What? Oh my, aku merasa terhina. Ya!”
“Haha, kidding. Kalau aku menerima beasiswa itu, kau akan merindukanku tidak?” goda Soonyoung.
“Tiap detik dalam hidupku aku akan selalu merindukanmu,” cibir Clover. “Itu jawaban yang kau harapkan, bukan?”
“Sudah kuduga, kau memang paling mengerti diriku..”

“Eh aku punya cerita! Breaking news!”
“Oh ya? Tentang apa?”
“Vernon~”
“Ah, tiba-tiba aku mengantuk. Aduh lelah sekali, badanku sakit semua. Sepertinya aku harus tidur.”
“Ya!! Dengarkan ceritaku, Soonyoung!” Clover memanyunkan bibirnya menatap Soonyoung menggeliat malas di lantai kayu gazebo.
“Ceritamu tentang Vernon hanya itu itu saja, you know? Dia tampan lah, menggemaskan lah, dia lewat gedung fakultasmu lah, dia bersantai dan mengobrol asyik dengan teman-temannya, atau mungkin kau dapat foto barunya. Hanya seputar itu sa-“
“He asked me out..”

<> 

Camellia hanya bisa menatap pintu ruang dosen bimbingannya yang tertutup rapat. Jadwal bimbingan hari ini dikosongkan dan diganti lusa. What the..........

“Lalu untuk apa aku bergadang menyelesaikan bab 2 semalam?” tanya Camellia merana pada dirinya sendiri. Tubuhnya lemas di kursi ruang tunggu. Sudah beberapa kali dia diberi harapan kosong oleh dosennya seperti ini.
“Eoh? Mrs. Nasution sudah pulang?”

Secercah cahaya menyilaukan mata Camellia. Ia sampai kesulitan mengendalikan kedip kelopak matanya. O-M-G. Yoon Junghan adalah pria yang berdiri dan bertanya padanya. “Eh?” respon Camellia kikuk.
“Hello? Are you okay?”
“Eh? Y-yes. Yes, I’m.. Okay...”
“Apakah Mrs. Nasution sudah pulang atau hanya pergi sebentar?”
“Oh itu.. Eee, sepertinya dia sudah pulang!” jawab Camellia back on her sense.
“Ah, sayang sekali..”

Melihat wajah kecewa Junghan, menumbuhkan rasa penasaran Camellia yang memang sudah tinggi sejak ia TK. “Apakah ada yang bisa kubantu?” tanya Camellia. “Itu maksudku.. Karena dia adalah dosen pembimbingku, jadi aku sering bertemu dengannya. Kalau ada pesan atau hal yang ingin disampaikan mungkin aku bisa bantu, supaya senior tidak kerepotan kembali ke Sienna. Senior kan sudah lulus, hehe..” jelasnya.
“Hm? Wajahku setua itu ya sampai kau tahu kalau aku sudah lulus?”
“Aaa, bukan bukan. Wajah senior sangat tampan tidak ada duanya! Aku tahu karena senior sangat terkenal.. Aku adalah fans senior!”
“Woa, ahaha. Ternyata rasanya seperti ini mendapat pernyataan macam itu secara tiba-tiba..” kata Junghan menahan tawanya.
“Em, m-maaf! Aku tidak bermaksud-“
“Aigoo, eotteokhae? Neomu kwiyowoyo..”
“He?”

Junghan dengan senyum malaikat menatap Camellia yang masih loading dengan situasinya. “Kau tahu namaku, tapi maaf aku belum tahu namamu. Jadi, mau berkenalan?” ia mengajukan tangannya yang terbuka.
Meski Camellia butuh jeda beberapa detik untuk memproses input ini, tentu ia tak akan membuang kesempatan menjabat tangan pujaan hatinya. “Camellia Han, you may call me Elli,” katanya.
“Junghan Yoon. Ngomong-ngomong kau punya marga Korea? Han Camellia?”
“Ah ya. Kakekku orang Korea..”
“Tapi selain rambut yang hitam, wajahmu sama sekali tidak menunjukkan keturunan Asia.”
“Benarkah? Mengecewakan ya?”
“No way,” elak Junghan langsung. “Yeppeuda..”

Gedung rektorat terdiri dari 5 lantai, sepertinya jiwa Camellia sudah ada di atap sekarang. Melayang-layang bersama kupu-kupu dan burung-burung lucu disana.

<> 

Celandine dengan malas melihat layar ponselnya. Sudah lebih dari lima kali ponsel itu berdering menampilkan nama kontak yang sama. Papa.

“Ck, ah! Mengganggu sekali sih!” ia begitu kesal hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri jeritan ponsel dengan menerima panggilan tersebut. “What is it?” sapanya ketus. “Pa, sudah berapa kali kukatakan? Aku tidak akan kembali hanya untuk menyetujui keputusan papa! Sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan pria pilihan papa! Aku punya kehidupan dan cintaku sendiri! Sudah! Ada banyak tugas yang harus kuselesaikan!”

Kekesalan Celandine telah meruntuhkan moodnya. Tugas laporan yang hampir selesai di meja belajar, berubah jadi hal paling berat sedunia. Ia malas menyelesaikan itu.

“Hey, busy?” pesan kilat lewat chatting yang dikirim Celandine tertuju ke seseorang.
“No, I guess..” jawaban dari kontak chatting bertuliskan Wonwoo.
“Guess?”
“I have a lot of things to be done. But, yeah.. you know...”
“Ye ye, I know. Well, at least we have same condition. How about supper outside?”
“I like it. Lets go!”

Wonwoo sudah siap di depan asrama. Tak berselang lama, Celandine keluar dengan jaket dan pakaian sederhana. Makan malam bersama di luar melepas penat, eumh, nikmat.

“Menurutmu, apakah kita harus mengajak yang lain?” tanya Wonwoo.
“Yang lain? Siapa yang kau bicarakan?” tanya Celandine balik.
“Soon-“
“Nope! Berdua saja lebih baik,” sela Celandine cepat dan tegas penuh keyakinan.
“Oh, okay..”

Selesai memesan, mereka harus menunggu giliran pesanan mereka dibuatkan. “Bagaimana dengan skripsimu?” tanya Wonwoo membuka topik.
“Skripsiku sudah selesai, tinggal memenuhi persyaratan lalu aku bisa ujian..” jawab Celandine.
“Wah, daebak.. Bantu aku!”
“Boleh.. Bab berapa?”
“Lampiran,” jawab Wonwoo.
“Terlalu lama dekat dengan Soonyoung kau juga jadi absurd ya?” kata Celandine sedikit kesal.
“Ya, kurasa..” sahut Wonwoo sejenak refleksi.
“Aku jadi mencemaskan teman-temanku. Bagaimana kalau mereka yang awalnya jenius kemudian jadi gila tertular virus Soonyoung?”
“Antara kecemasan dan materi perkuliahanmu sepertinya sedang campur aduk..”
“Kau benar..”

“Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan ini..” celetuk Wonwoo setelah diam beberapa saat.
“Tentang?”
“Kalian sadar tidak? Namamu, Clover, dan Camellia itu semuanya berawalan C..”
“I-iya sih..” Celandine mengangguk menyadari kebetulan itu.
“Dan yang lebih menarik adalah...,” Wonwoo sedikit mencondongkan tubuhnya ke Celandine. “Nama kalian berasal dari nama bunga..” bisiknya.
“Wow.. Jujur saja yang membuatku takjub bukan karena kebetulan ini. Aku lebih kaget ketika kau tahu nama-nama bunga asing seperti Celandine dan Camellia. Kau juga tahu kalau daun Clover punya bunga!”
“Aku...,” pria itu merentangkan kedua tangannya. “Pecinta alam,” lanjutnya dengan wajah datar.

<> 

Sedari tadi Jihoon hanya bisa mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada buku yang terbuka di tangannya itu. Rencananya dia ingin sekali membaca buku di spot kelompok proyek akhirnya. Disana sangat sejuk, teduh, dan ramah wifi. Tapi..

“Apa kalian tidak bisa duduk manis?” tanya Jihoon akhirnya. “Wonwoo, kenapa kau terus senyum-senyum begitu? Soonyoung, kenapa wajahmu murung sekali? Apa yang terjadi?” rentetan pertanyaan secara urut keluar membanjiri gazebo.
“Kami makan malam berdua kemarin. Hebat kan?” jawab Wonwoo bangga.
“Maksudmu kau dan Celandine?” Wonwoo menaik turunkan alisnya cepat saking senangnya. “Oh bagus ya. Teman kelaparan, kau enak pacaran. Ckckckck. Lalu kau kenapa Soonyoung?” Jihoon beralih ke temannya yang memelukkayu penyangga atap gazebo dengan pilu.
“Vernon dan Clover pacaran.....” jawabnya sedih.
“Mwo? Sejak kapan?”
“Kemarin.....” masih dengan nada sedih.

“Hahahahahahahahaha! Selamat ya!” Jihoon dan Wonwoo melakukan tos singkat. Bisa-bisanya mereka tertawa di atas keterpurukan Soonyoung, teman mereka.
“Ya! Jangan tertawa begitu, menyebalkan!” bentak Soonyoung melempar daun kering.
“Makanya gerak cepat. Kalah selangkah oleh adik angkatan itu.. Wow! Hahahaha!” ledek Wonwoo.
“Memangnya Clover memberitahu hubungannya dengan Vernon padamu?” Jihoon menutup buku bacaannya.
“Kemarin dia bilang diajak kencan oleh si pirang..” jelas Soonyoung.
“Kamu juga pirang..” sahut Wonwoo.
“Eih, itu hanya kencan.. Belum tentu pacaran kan?” Jihoon berubah baik. Dia menghibur temannya yang patah hati.

Belum sempat Soonyoung mengiyakan perkataan Jihoon, Camellia dan Clover datang dengan langkah seringan kapas. Wajah mereka berseri-seri sangat cerah. “Good morning~” sapa mereka dengan pecahan nada.
“Morning!” balas Jihoon dan Wonwoo.
“Soonyoung~!!!” panggil Clover terdengar begitu bahagia. Pria yang namanya dipanggil malah melirik ke Jihoon seakan bilang tuh-kan-mereka-jadian.
“Tidak biasanya kalian menghiasi pagi dengan senyum begitu. Apa ada hal menyenangkan?” tanya Wonwoo ketika Camellia sudah duduk.
“Ada!!” jawab Camellia cepat, singkat, tegas.
“Biar kutebak..,” suara Celandine menolehkan kepala Camellia. “Kau pasti bertemu dengan si tuan alumni kan? Lalu Clover pasti bertemu dengan si adik menggemaskan.” ujar Celandine sambil mengambil posisi duduk.

“No no no no.. Tidak sebiasa itu..” elak Camellia dan Clover sombong.
“Kami berkencan~”
“Aku dapat kontaknya~”
“Oh, hanya begitu?” tanya Celandine datar.
“Hanya begitu? Ini merupakan berkah melimpah luar biasa yang pernah kami terima selama menimba ilmu di Sienna, Celandine!” tukas Camellia menggebu.
“Ah, sekarang aku jadi serakah sepertinya. Setelah kencan aku berharap dia menyatakan cinta padaku..” celetuk Clover penuh harap.
“Benar, aku juga berharap Junghan sunbae tiba-tiba mengajakku kencan..” tambah Camellia ikut berfantasi.

“Eih daripada membahas itu lebih baik membahas proyek.. Deadline semakin dekat!” Soonyoung membuka topik baru.
“Wa, mengejutkan sekali. Soonyoung bisa serius juga ya? Atau karena suatu hal?” goda Jihoon dengan wajah nakal.

Meski waktu efektif mereka hanya sedikit, tapi sejauh ini tahap penyelesaian proyek kelompok mereka paling cepat. Mulai dari penyerahan proposal ide kreatif sampai ke pelaksanaan. Kelompok mereka terbilang lancar dan gerak paling cepat dibanding yang lain.

“Aku sudah buat kerangka boxnya.” kata Soonyoung membuka blueprint rancangannya.
“Hmm, aku akan usahakan mencari bahan-bahan ini. Berapa dana yang kita dapat dari univ?” tanya Wonwoo.
“Karena proposal kita masuk di gelombang pertama, berarti 60% dari anggaran yang kita ajukan dari proposal kemarin.” jawab Camellia sambil membaca surat keterangan penyerahan dana dari Universitas.

Box ‘how do you feel?’ adalah kotak ukuran phonebox yang dirancang khusus untuk para pejalan kaki istirahat sejenak melepas kecemasan. Tiap pilihan ‘perasaan’ akan mengajukan layanan yang berbeda-beda. Mulai dari musik, film pendek, game, relaksasi, buku, berfoto, dan lainnya. Tentu saja tiap layanan disesuaikan dengan perasaan pengunjung. Satu box maksimal empat orang.

“Simple, tapi box ini dibutuhkan oleh para orang sibuk yang lupa dunia.” begitulah penutup presentasi yang disampaikan kelompok tersebut.

Box proyek akhir itu ternyata menarik perhatian sebuah perusahaan ternama di Singapore. Mereka membeli idenya kemudian dikembangkan. Saat ini di depan setiap toko dengan sponsor perusahaan itu telah berdiri dengan menariknya box ‘how do you feel’.

“Wah.. Aku ingin pesta..,” ujar Jihoon merebahkan diri di lantai kayu gazebo.
“Aku tidak menyangka ide ini akan sangat bagus.. Kita bahkan dibayar!” Clover sangat terharu sekarang.
“Hei hei kalian jangan santai-santai dulu!” Camellia datang bersama Celandine. “Nih sertifikatnya proyek akhirnya sudah keluar.. Cepat serahkan ke fakultas, kita harus urus skripsi kita sekarang..” jelasnya membagikan sertifikat-sertifikat penyelesaian proyek akhir.
“Akhirnya bisa sidang.. Astaga aku mau nangis, skripsiku bisa kupresentasikan oh my God aku tidak tahan...” Wonwoo benar-benar tersentuh hatinya.

“Selesai sidang, ayo kita jalan-jalan!” ajak Soonyoung.
“Call!”

<> 

Sebuah kedai kecil di pinggir kota merupakan tempat terbaik untuk makan kenyang tanpa membuang banyak uang. Enam orang yang barusaja selesai sidang skripsi dan dinyatakan lulus itu kini tengah berpesta kecil-kecilan disana. Bukan karena mereka tidak punya teman lain selain kelompok proyek akhir ini, mereka berpikir bagus juga kalau masih bisa saling memberi selamat begini. Lagipula saat wisuda nanti belum tentu mereka bisa bertemu kan?

“Ayo kita cheers untuk diri kita!” Camellia mengangkat gelas berisi air sodanya tinggi-tinggi.
“Cheers!!” sahut yang lain.
“Wah daging ini pasti enak sekali! Coba lihat tekstur dan warnanya..” Wonwoo terpana tak sabar menancapkan garpunya ke daging yang ada di atas panggangan.
“Sepertinya sudah matang, mari makan!” Jihoon bergerak cepat mengambil daging paling besar.

“Astaga dagingnya lumer di mulut!” Clover tampak begitu menikmati menu pesanan mereka.

“Eh ngomong-ngomong, Camellia.. Bagaimana si tuan alumni? Apa dia tahu kau sudah lulus?” Celandine mencoba mengangkat bahan pembicaraan.
“Kalian penasaran?” goda Camellia sibuk menyelimuti daging sapinya dengan saus.
“Tentu saja..!” jawab Soonyoung mantap.
“Aku dan Junghan sunbae....” Camellia berusaha menekan perasaannya. “Kami itu... berpacaran!!” lanjutnya girang.
“What?!! When?!” teriak yang lain kaget.
“Ehehehehe, beberapa hari yang lalu.. Sejak kami bertukar kontak, lalu kami sering bertemu karena dia ada urusan dengan dosen pembimbingku, jadi yah begitulah..” jelas Camellia menghembuskan nafas berbunga-bunga.

“Cieeee, congrats! Berarti setelah ini kau harus menraktir kami dessert ya!” kata Wonwoo mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Eh? Tidak mau lah..! Anak ini juga mulai pacaran, kenapa hanya aku yang ditagih?” lagi-lagi Camellia mencari teman untuk menemaninya.
“Me?” Clover menunjuk dirinya.
“Kau pacaran dengan siapa?” Soonyoung bertanya antusias.
“Vernon lah..” jawab Clover enteng.

“Yang ini juga sejak kapan?!!”

Hubungan mengejutkan yang diutarakan oleh Camellia dan Clover memang terkesan tiba-tiba, tapi memang begitu kenyataannya. Bagi Jihoon, Wonwoo, dan Celandine itu tidak menjadi masalah. Mereka malah menganggap bagus karena akhirnya teman mereka tidak hidup solo lagi. Namun..

“Soonyoung...” gumam Wonwoo.
“Hm? Kau bilang apa?” Celandine yang ada di sebelahnya sigap begitu mendengar suara Wonwoo.
“Soonyoung.. Anak itu apa akan baik-baik saja ya?” jawabnya kemudian menghela nafas.
“Kenapa- Hagh! Jangan-jangan....” Celandine menatap Wonwoo penuh keterkejutan.
“Ya, perasaan Soonyoung itu asli..”
“Astaga..! Kupikir itu adalah salah satu candaannya! Jadi selama ini dia memang menyukai Clover?”
“Begitulah.. Mengejutkan juga melihatmu tidak tahu..”
“Tapi kurasa dia akan baik-baik saja.. Bukankah tadi dia mengajak Clover jalan-jalan seperti kita sekarang?”

Wonwoo mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya. Mereka benar-benar menikmati sejuknya taman di dekat asrama ini.

“Setelah ini, apa rencanamu?” tanya Wonwoo.
“Ayah memintaku kembali ke Hongkong dan tentu saja aku mengambil S2 disana.. Tapi sebelumnya aku harus magang beberapa waktu dulu..” jelas Celandine. “Kau bagaimana?” kali ini Celandine bertanya balik.
“Aku akan kembali ke Korea. Melakukan beberapa tes dan pelatihan setelah itu bekerja di kantor pemadam utama di ibukota..”
“Jadi kita akan berpisah?”

Wonwoo menoleh dan mendapati wajah Celandine sekarang penuh rasa penasaran. Gadis itu sudah tidak sabar mendengar jawaban Wonwoo. Apakah mereka akan berpisah begitu saja? Atau bagaimana?

“Korea dan Cina itu tidak terlalu jauh, kalau aku tentusaja tidak akan melepasmu begitu saja.. Mendapatkan hatimu itu sulit tahu?” katanya. “Bagaimana denganmu?”
“Kau sudah menjawab begitu, aku harus bilang apa? Mana bisa aku menolak?” ujar Celandine membuang muka merahnya.

<> 

Camellia barusaja akan naik ke kamar ketika seorang pria memanggil namanya. Pria itu mendatangi Camellia dengan senyum mengembang lebar. Seikat bunga pun tak luput dari tata krama bertamu pria tersebut.

“Han-sunbae, annyeonghaseyo..” sapa Mingyu.
“Oh, Mingyu. Annyeong.. Ada perlu apa kemari? Ini asrama wanita, tidak seharusnya kau disini kan?” Camellia melipat kedua tangannya.
“Hehe, mianhamnida.. Aku hanya ingin memberikan ini ke sunbae..” ia menyodorkan buket bunga itu ke Camellia.
“He? Well, thanks but.. Untuk apa bunga ini?”
“Han-sunbae! Selamat atas kelulusanmu!” teriak Mingyu tiba-tiba lalu membungkukkan badan.
“Eh eh eh! Ssshhh, jangan keras-keras! Kau tidak mau diusir satpam kan?” cegah Camellia.
“Oh iya.. Maaf..” bisik Mingyu.

“Hah.. Anyway, terimakasih ucapannya.. Kau juga belajar yang tekun, jadi bisa cepat lulus..” jiwa tua Camellia pun keluar.
“Ne, sunbae!” anak ini menjawab dengan imut sekali. “Eee, sunbae.. Kalau boleh tahu, setelah ini apa rencana sunbae?”
“Aku berencana untuk bekerja..”
“Di Singapore?” Camellia mengangguk. “Tidak mau mengambil S2?”
“Eih, aku tidak ingin terlalu lama membebani orangtuaku dengan biaya pendidikan begitu.. Aku akan bekerja kemudian gajinya akan kutabung untuk pendidikan S2-ku, begitu..” jelasnya.
“Wah, sunbae memang keren!” Mingyu menatap Camellia dengan mata berbinar-binar.

“Kau sendiri bagaimana? Tahun depan kau lulus kan? Apa rencanamu?”
“Eh?! A-aku??” tiba-tiba dia panik.
“Tentu saja, memangnya daritadi aku bicara dengan siapa?”
“Ah iya.. Hehehe.. Aku terlalu senang sampai tak percaya bisa berbincang-bincang dengan sunbae selama ini..” Mingyu mengutarakan pikirannya secara jujur. Kenyataannya ini memang percakapan terpanjang mereka. Dan entah kenapa kali ini Camellia menanggapi obrolan Mingyu secara ramah. Apa karena hatinya sedang berbunga-bunga?

“Kau ini ada-ada saja.. Kau belum jawab pertanyaanku..!”
“Oh, itu! Aku akan kembali ke Korea.. Kehadiranku sudah dinantikan di perusahaan keluarga..” jelas Mingyu.
“Ah benar juga.. Kau anak tunggal ya?”
“Ne!”
“Bagus, bekerjalah dengan giat! Algesseo?”
“Ne! Algesseumnida, sunbae!” sekali lagi Mingyu membungkukkan badannya.

“Baiklah aku harus bersiap sekarang.. Aku sudah ada janji..”
“Terimakasih, Han-sunbae!”
“Aigoo kau ini.. Aku yang berterimakasih.. Terimakasih bunganya!”

<> 

Soonyoung dan Clover berjalan santai dalam hening. Jujur saja saat ini kepala Soonyoung blank. Padahal tadi dia sudah punya rencana kencan implisit–hanya dia yang tahu kalau ini adalah kencan, dengan Clover ini.

“Wah! Itu box proyek kita kan?” suara Clover menyadarkan Soonyoung dari lamunannya.
“Hee, jadi benar direalisasikan oleh mereka.. Cool..”
“Kau mau kesana?”
“Kau mau mencoba hasil karyamu sendiri?”
“Apa salahnya? Mumpung masih gratis!” Clover menarik tangan Soonyoung.

Mereka masuk ke box dan duduk di bangku yang sudah disediakan. Tidak banyak perubahan atau tambahan yang dilakukan untuk memodifikasi ide awal mereka. Secara keseluruhan box ini masih sama dengan blueprint dan proposal mereka.

“How do you feel, hhmmm.. Lets see.. I feel good..” Clover memilih emoticon smile yang ada di layar.
“Good? Sekarang kau merasa senang?”
“Of course! Aku bisa jalan-jalan berdua saja denganmu, bagaimana tidak senang?” jawab Clover dengan nada canda. Soonyoung hanya mengangguk-angguk menanggapi.
“Musik yang terputar groovenya enak juga.. Hhmm..” perlahan gadis itu mengikuti irama lagu. “Ayo Soonyoung! Kau pandai membuat gerakan berirama kan?”
“Kau ini.. Mengikuti groove lagu itu seperti ini!” Soonyoung ikut menggerakkan badannya sesuai dengan irama lagu yang terputar.

Selesai satu lagu, “Your turn..” kata Clover.
“Aku juga memilih?”
“Kita sudah terlanjur masuk kemari, pilih saja lah..”
Butuh waktu beberapa detik untuk Soonyoung memikirkan pilihannya. Apa yang ia rasakan sekarang? “Aku pilih ini..” ujarnya.
“Sad? Why? Kau tidak suka jalan-jalan bersamaku?” protes Clover tak terima.
“Tidak mungkin seperti itu..”
“Lalu?”
“Aku hanya sedang sedih.. Itu saja..”

Mereka pun saling diam. Hanya lantunan melodi piano ciptaan Jihoon yang terdengar. Konsepnya adalah menangis agar lega. Tapi mereka juga tak ada yang menangis. Mereka hanya diam. Keheningan itu membuat Clover tak nyaman. Ia menoleh dan menatap wajah Soonyoung. Pria itu seperti bukan Soonyoung, dia terlalu diam dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.

“Soonyoung..” panggil Clover pelan. “Waktu itu aku belum sempat mendengar keputusanmu.. Apakah sekarang kau sudah memutuskan pilihanmu?” tanyanya.
“Aku akan mengambil beasiswa itu..”
“Really? Wow, thats great..”
“Aku tidak tahu apakah kita masih bisa bertemu atau tidak..”
“Heih kau ini bicara apa? Kita hidup di zaman serba canggih!”
“Di German kami akan dikarantina untuk mengikuti olimpiade-olimpiade yang ada setiap bulannya.. Syarat kelulusan untuk mahasiswa beasiswa adalah 18 medali emas dalam 2 tahun.. Kalau gagal, harus mengulangi dari nol lagi..” jelas Soonyoung. “Hah, aku tidak tahu bisa lulus kapan..”
“Ck, dasar.. Kau ini bicara apa sih? Kwon Soonyoung itu arsitek jenius paling hebat yang pernah dilahirkan! Kau mendapat beasiswa itu tentu bukan karena main-main kan? Mereka percaya kau bisa, begitu juga denganku.. Karena itu, kau juga harus percaya pada dirimu! Got it?”
“Ya kau benar.. Haha, kurasa aku akan merindukanmu..”
“Tentu kau harus rindu padaku, awas saja kalau tidak..!” kata Clover dengan nada tinggi. Ia kembali menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.

“Ck, rambutmu itu menganggu sekali..” celetuk Soonyoung kemudian merogoh sakunya. “Nih..”
“Huh?” Clover menerima sebuah ikat rambut berwarna violet dengan hiasan bintang mainan warna putih.
“Promise me, you have to tie your hair.. Okay?” Soonyoung mengacungkan kelingkingnya.
“Until when?”
“Until we meet again.. Someday somewhere..”

Clover mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Soonyoung. “Okay, I promise..”

<> 

Sepuluh tahun berlalu. Waktu bergulir melahap segala perasaan, kenangan, dan peristiwa. Banyak pengalaman yang didapat selama sepuluh tahun itu. Dan banyak juga kejadian yang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun ini.

“Bagimu, aku hanya sunbae yang kau kagumi.. Kurasa hubungan itu tidak perlu diikat atas nama cinta.. Aku senang bisa menjadi figure yang kau teladani.. Tapi, Vernon.. Kupikir status pacaran kita tidak perlu dilanjutkan..”

“Setelah kupikir-pikir ternyata aku tidak bisa memandangmu sebagai seorang wanita.. Di mataku kau adalah gadis manis yang sudah kuanggap sebagai adikku.. Aku ingin terus melindungimu sebagai kakak.. Camellia, aku harap kau bisa mengerti perasaanku..”

“Seperti yang kuduga, hubungan jarak jauh memang bukan style-ku.. Aku tidak bisa melakukan ini, Wonwoo.. Sebentar lagi aku akan menikah dengan pria pilihan keluarga, dan aku juga merasa cocok dengan pembisnis itu.. Karena itu, lebih baik kita berhenti sekarang..”

Biarlah yang sudah terjadi menjadi kenangan, tersimpan jauh di dalam hati. Biarlah segala luka disembuhkan, oleh waktu yang meniti kehidupan. Biarlah penantian tak berujung berhenti sampai disini. Masing-masing punya kehidupan yang terbentang luas di depan mata. Ada banyak jalan yang lebih bagus dari jalan yang kemarin. Di jalan baru itu, mereka berlari tanpa tahu kapan mereka akan sampai, dimana mereka akan tiba, dan siapa yang akan menyambut.
31 menginjak 32. Usia matang untuk wanita karier. Celandine Huang, seorang dokter sukses yang mewarisi perusahaan mendiang suaminya dan saat ini aktif berbisnis di Korea. Camellia Han, ketua utama tim kreatif di perusahaan ternama di Korea. Clover Cheongseol Choi, General Manager yang berhasil mempertahankan reputasi hotel dan apartment elit milik sebuah perusahaan di Korea.


Ketiganya dipertemukan lagi oleh takdir. Mereka bekerja di tempat yang sama, Idyllic.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar