Seorang
anak sedang asyik bermain mobil-mobilan di ruang tengah rumahnya yang hangat. Tangannya
yang mungil dengan kuat menggerakkan truk pemadam kebakaran melewati mainannya
yang lain. Suara sirine nyaring dari mulutnya menghidupkan suasana.
“Eoh?”
truk merah kesayangannya menabrak sesuatu yang terselip di bawah tumpukan
mainan. “Mama!” teriaknya berlari ke arah sofa menghampiri seorang wanita yang
sedang merajut. “Ini apa?”
Seulas
senyum lembut terbentuk di wajah wanita itu. Ia meletakkan alat rajutnya lalu
menerima sodoran album usang dari anaknya.
“Wah,
sudah lama sekali aku tidak melihat ini,” katanya. Mata cantik di balik
kacamata itu kini tengah asyik menelisik tiap halaman album dengan seksama.
“Hebat. Aku bisa merindukan kalian juga ternyata,” ujarnya.
“Mama,
mereka siapa?”
“Mereka
adalah teman mama..”
<>
15 years ago.. @Sienna University,
Singapore
Sebuah
kampus yang terletak di tengah kota berdiri kokoh memamerkan setiap sudut
bangunannya. Kampus yang asri dengan nuansa warna sienna berhasil memikat hati
tiap mahasiswa untuk terus menimba ilmu disana. Tidak banyak fakultas yang
ditawarkan, bukan termasuk universitas terpandang juga, tapi di kampus itu
semuanya bersatu dan tersenyum.
“Hei,
sudah dapat ide untuk proyek akhir universitas?” tanya seorang mahasiswi pada
temannya.
“Otakku
kosong. Sepertinya butuh asupan liburan,” jawab mahasiswa yang mengistirahatkan
punggungnya di bangku taman.
“Sudah
hampir deadline, Soonyoung,” sahut mahasiswi yang sibuk meringkas buku tebal di
atas meja taman.
“Aku
sudah mencoba memikirkan sebuah proyek berdasarkan keunikan masing-masing,”
mahasiswa mungil berkulit putih ikut menjawab.
“Wah,
keren Jihoon! Apa idenya?” kali ini mahasiswa bertubuh tinggi yang menyelipkan
antusiasmenya.
Setiap
tahun Universitas Sienna hanya meluluskan beberapa puluh mahasiswanya saja.
Selain masalah administrasi, kelengkapan prestasi serta keaktifan, ada proyek
akhir tahap universitas yang harus diselesaikan sebelum mengikuti uji skripsi.
Meski harus lebih lama mendapatkan status internasional karena jumlah kelulusan
lebih sedikit dari yang lain, Universitas Sienna lebih memilih mengakrabkan
pelajarnya.
Setiap
proyek akhir terdiri dari beberapa anggota lintas fakultas. Barusaja kita
melihat aktivitas sekelompok pelajar semester akhir yang berusaha memenuhi
persyaratan kelulusan yang paling berat, proyek akhir. Sebenarnya tema tahun
ini lebih mudah dan luas dari tahun-tahun sebelumnya. Sosial kemasyarakatan,
tema besar Universitas Sienna untuk proyek akhir mahasiswa mereka.
“Oh.
My. God. Breaking news,” sebuah suara senang yang ditekan menyapa telinga para
mahasiswi yang duduk menikmati makan siang mereka. “Aku melihat Junghan tadi!
Ya ampun dia semakin keren saja setelah lulus. Aku jadi makin cinta!!”
“Si
tuan alumni?” mahasiswi berkacamata mencoba menerka.
“Seratus
untukmu Celandine Huang!” jawab mahasiswi girang dengan wajah serius.
“Kau
masih tergabung di club pecinta kakak angkatan, El?” sambil menyelipkan
rambutnya di belakang telinga, mahasiswi itu bertanya. “Meski Junghan sudah
lulus..”
“Oh,
tentu saja! Camellia akan selalu setia pada club yang mempersatukanku dengan
Yoon Junghan!” jawab Camellia tegas.
“Kita
sudah semester akhir, kenapa tidak berhenti bertindak konyol sih?” Celandine
mengomeli temannya.
“Jangan
marah padaku saja. Nih, anak ini! Dia juga masih tergabung ke club pecinta adik
angkatan!” bantah Camellia mencari tumbal lain.
“Aku
belum rela melepas Vernon dari hari-hari sibukku,” balasnya kalem.
“Camellia
Han, Clover Cheongseol Choi, tolong buka mata kalian. Kalau kalian menghidupi
impian begini, kapan kalian mengakhiri masa solo kalian huh?” sekali lagi
Celandine menekankan dengan wajah galak.
“Akan
kami pikirkan, mam...” jawab keduanya lemas.
Celandine
mengangguk-angguk menganggap sepakat keputusannya sendiri. Pada saat mereka
hendak memulai menyantap makan siang lagi, muncullah seorang teman.
“Clover,
yo!!” sapa teman itu ceria tak lupa menepuk pundak Clover.
“Oh
my!” alhasil perempuan itu hampir tersedak mi instannya. “Soonyoung! Jangan
mengagetkan begitu!”
“Ahaha,
sorry sorry. Kalian sedang apa?” tanya Soonyoung mengambil tempat duduk di meja
itu meski belum diizinkan.
“Kau
tidak bisa lihat kami sedang-“
“Eits,
tak perlu menraktirku. Aku masih punya uang saku di dompet, tapi kalau kalian
memaksa juga tak apa sih. Auntie, aku pesan ayam goreng dan colanya ya!”
Siinngg,
hening dalam sekejap. Ketiga perempuan yang tadinya makan siang dengan tenang
kini tengah menatap pria semena-mena di antara mereka secara horor. Pria
bernama Soonyoung itu hanya tersenyum mengangkat alis seakan ada yang aneh.
“Kalian
kenal?” tanya Celandine.
“No,”
jawab Camellia dan Clover pendek serempak.
“Kalian
tega menelantarkan lelaki seimut aku? Oh man, sakit..” tak perlu dipaparkan
bagaimana pose Soonyoung sekarang.
“Pergi
sana! Nafsu makanku jadi hilang lihat dirimu, argh!” amuk Celandine galak,
lagi.
“Kau
diusir lagi, Soonyoung? Haha, daebak!” seorang pria lain mendatangi meja itu.
“Wonwoo..
kenapa aku selalu dibully mereka?” rengek Soonyoung merana.
“Entahlah,
kenapa tanya aku? Tanya ke mereka saja,” jawab Wonwoo menarik kursi dari meja
lain. “Auntie, aku pesan ayam goreng dan colanya satu porsi ya!”
“Ya,
Celandine! Kenapa kau senang membullyku?” dia benar-benar menanyakan hal ini.
“Kau tidak tahu betapa sayangnya aku padamu, eoh?”
“Ya,
Kwon Soonyoung!! She is my girl!” bentak Wonwoo cepat.
“Eih,
tenang saja. Celandine kan jijik padaku, dia hanya mencintaimu..” jawab
Soonyoung setengah berbisik.
“Nah
itu kau tahu alasannya,” sahut Celandine–dia memang anti Soonyoung.
“Eh
ternyata anak-anakku sedang bergumul disini. Tega sekali makan-makan tanpa
diriku,” kali ini suara imut dari pria mungil mengalihkan perhatian mereka.
“Kau
kan tadi kelas,” balas Wonwoo.
“Auntie,
ayam goreng dan cola ya!” pria mungil bernama Jihoon ikut duduk di meja yang
sekarang cukup sempit untuk makan mereka semua.
“Apakah
orang Korea itu suka sekali makan ayam goreng dan cola ya? Mereka bertiga pesan
menu yang sama!” bisik Camellia.
“Tidak,
itu karena mereka tidak punya cukup uang untuk beli yang lain. Paket menu ayam
dan cola kan paling murah,” jawab Clover berbisik juga.
“Ya,
kami dengar percakapan kalian,” tegur Jihoon.
“Hah,
takdir macam apa ini? Sekelompok dengan orang-orang Korea seperti kalian.
Ckckckck,” Celandine menatap angkasa.
“Kau
harus bersyukur bisa sekelompok dengan trio tampan seperti kami ini,” celetuk
Soonyoung.
“Eh
eh eh, El! Vernon Vernon Vernon! Vernon, disana!” sekejap Clover jadi
kegirangan saat melihat kehadiran adik angkatan beda fakultas kesayangannya.
“Hajar!
Sapa dia!” Camellia mengompori.
“Duh,
pipiku panas! Tunggu tunggu aku pakai bedak dulu,” ia mengaduk tasnya. “Ah!! Aku
lupa bawa bedak!”
“Ck,
mau menyapa saja repotnya minta ampun!” Soonyoung mencibir memanyunkan
bibirnya.
“Tiba-tiba
kau emosi? Kenapa? Kau cemburu? Kau suka Clover kan? Iya kan?” Wonwoo mendesak
dengan wajah nakal.
“Aku
sudah ditolak ribuan kali olehnya, kau tahu?”
“Kau
belum pernah bilang kau suka padaku. Ini serius?” tanya Clover.
“Serius
lah. Kapan aku tidak serius?”
“Err,
like.. everytime?”
“Gerae?
Kurasa kau benar,” jawab Soonyoung akhirnya.
“Sudah
ada Soonyoung kenapa tidak pacaran saja dengannya?” Celandine melempar
pertanyaan pribadi secara terbuka, hebat.
“Rambutnya
pirang, aku tidak suka..” jawab Clover seadanya.
“Ya!
Adik kelas itu rambutnya juga pirang!” sela Soonyoung.
“Tapi
dia tampan!” balas Clover.
“Jadi
aku tidak, begitu?”
“Kau
kan imut, Soonyoung..!”
“Ah
gerae? Okay, cukup adil..” mereka lalu melakukan tos keakraban.
“Silakan
pergi dan cari ruang, jangan menebar aura pink di antara kami para solo..”
tegur Jihoon, lagi.
“Yang
bisa menghandle tingkah Soonyoung memang hanya Clover,” celetuk Celandine.
“Thats
right.. dan satu-satunya orang yang bisa menghandle cintamu hanya Jeon Wonwoo,”
tambah Camellia tanpa dosa.
“G-gerae?
Ah, sou..” respon Wonwoo gugup.
“Ckckck,
saking gugupnya sampai ganti bahasa begitu responnya,” kata Jihoon mencoba
maklum.
Entah
bagaimana caranya, akhirnya mereka bisa makan dalam keadaan tenang dan saling
menerima. Paling tidak itu yang dipikirkan Jihoon, orang normal kedua setelah
Celandine. Pada satu titik, datanglah seorang pria tampan, tinggi, dan berkulit
gelap. Semua mata di kantin hanya tertuju ke pria itu. Kim Mingyu.
“Han-sunbae,
annyeonghaseyo,” sapa pria itu sopan dengan suara kalem.
“Oh,
annyeong,” jawab Camellia singkat.
Selesai.
Pria itu meninggalkan meja Camellia dengan senyum merekah dan perasaan ingin
meledak. Ini bukan hal baru untuk mereka yang dekat dengan Camellia. Kenapa?
Karena setiap ada Mingyu, pasti anak itu akan menyapa Camellia. Menyapa. Hanya.
Camellia.
“Kim
Mingyu itu kaya, tampan, cerdas, begitu sempurna kan? Kenapa tidak kau terima
saja cintanya?” tanya Clover.
“Dia
terlalu sempurna. Aku suka yang biasa-biasa saja, seperti Yoon Junghan-sunbae!”
jawab Camellia yakin.
“Sebentar
lagi sunbae kesayanganmu itu akan kembali ke Korea, pacari yang ada saja
kenapa?” timpal Celandine.
“Nona
nona sekalian. Coba bayangkan kalau aku pacaran dengan Kim Mingyu,” Camelllia
mengajak berfantasi.
“Cocok,”
jawab Clover pendek.
“Gap
antara kami sangat jauh! Dia sangat kaya, sangat tampan, dan sangat cerdas!
Kalian pikir akan jadi apa aku jika bertengger di bahunya?”
“Burung
parkit,” jawab Celandine singkat.
“Eih,
bukan bertengger macam itu. Maksudku aku tidak akan tahan bersama dengannya.
Kami terlalu berbeda, you know?”
“Ya....
kau harus membiasakan diri,” ujar Clover.
“Ah
aku tidak ada niatan berpacaran dengannya. Aku merasa dia terlalu sempurna
untuk dijadikan pacar,”
“Jadi
kau tetap setia pada Junghan?” Celandine memastikan dan Camellia mengangguk
pasti. “Yang satu berharap pacaran dengan adik angkatan, yang satu mengharapkan
kakak angkatan-“
“Dan
kau berharap pada yang seangkatan. Lengkap sudah!” sambung Camellia dan Clover.
“Hei,
aku tidak bilang begitu!” Celandine jadi sewot karena malu.
“Pick
one,” Clover menatap Celandine serius. “Jeon Wonwoo, Kwon Soonyoung..”
“Jeon
Wonwoo,” jawab perempuan itu tanpa keraguan.
“Cieeeee,”
Camellia memukul lengan Celandine pelan dengan wajah nakal.
“Kau
membandingkan Wonwoo dengan larva ini, tentu saja aku pilih Wonwoo lah!”
“Okay
okay, kurevisi.. Pick one,” Clover kembali serius. “Jeon Wonwoo, Lee Jihoon..”
Tiga
pria yang sedari tadi diam–mereka sedang makan soalnya, kini mematung menunggu
jawaban Celandine. Kecuali Soonyoung, Wonwoo dan Jihoon benar-benar diam tak bergerak.
Mereka berhenti mengunyah makan siang mereka.
“Lee
Jihoon..” jawab Celandine setelah diam beberapa saat.
Camellia,
Clover, Soonyoung, dan Jihoon bertepuk tangan takjub. Saking terharunya Jihoon
sampai menjabat tangan Celandine. Apakah pilihan Celandine seperti piala Oscar?
“Kenapa
dia? Aku lebih tinggi, manly, dan tampan darinya! Ah, harga diriku terluka...”
celoteh Wonwoo tak terima.
“Sudah,
terima saja nasibmu..” kata Jihoon mengelus punggung Wonwoo.
“Aku
suka yang imut sih,” jawab Celandine.
“Perempuan
zaman sekarang tipenya memang yang imut-imut, sudah berubah.. Haha!” sepertinya
Jihoon senang sekali dengan keputusan Celandine.
“Tak
apa, Wonwoo. Paling tidak di mata Celandine kau bukan peringkat terakhir,”
Camellia mencoba menghibur.
“Oh
iya! Masih ada larva ini, hahaha!” seketika tawa Wonwoo kembali. Semangatnya
membully Soonyoung jadi naik.
“Ujung-ujungnya
selalu aku yang dijadikan tumbal ya?” Soonyoung meratapi nasib.
Begitulah
kemesraan dalam pertemanan mereka. Celandine Huang, mahasiswi kedokteran;
Camellia Han, mahasiswi desain komunikasi visual; Clover Cheongseol Choi,
mahasiswi manajemen perhotelan; Kwon Soonyoung, mahasiswa arsitektur; Lee
Jihoon, mahasiswa seni musik; Jeon Wonwoo, mahasiswa teknik keselamatan dan
proteksi kebakaran menjadi satu kelompok dalam penyelesaian proyek akhir
universitas.
<>
Selesai
bimbingan dengan dosen, Clover bergegas menuju ke spot kelompok proyek
akhirnya. Gazebo tua yang ada di pojok dekat gedung lama di taman universitas
adalah pilihan mereka, kenapa? Karena disana wifinya sangat cepat.
“Eh,
Soonyoung? Mana yang lain?” Clover meletakkan tas dan duduk di samping
Soonyoung.
“Celandine
simulasi praktik, Camellia barusaja pergi untuk bimbingan, Jihoon ada pekerjaan
asisten dosen, Wonwoo studi lapangan, dan aku barusaja kabur dari kenyataan.
Hah...” jelas Soonyoung lemas.
“Jadi
hari ini batal rapat membicarakan proyek? Nice,” ujar Clover manggut-manggut.
“Kau kabur dari kenyataan apa? Hidup solo sejak SMA?” ledek Clover sambil
menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Enak
saja!” Soonyoung bangkit hanya untuk mengelak. “Dari SD tepatnya.. Tapi bukan
itu yang kupikirkan,” lanjutnya.
“Lalu?”
“Aku
dapat beasiswa pascasarjana..”
“Wow,
cool!!”
“Yeah,
right..” jawab Soonyoung lemas.
“Then
why are you so blue?”
“German.
Pascasarjana di German,” kata Soonyoung kemudian menatap Clover. “Aku harus
meninggalkan kampung halamanku lagi untuk kesana..”
Clover
terdiam sesaat. Ia ingat bagaimana antusiasnya seorang Soonyoung ketika studi
S1nya hampir berakhir. Bukan sudah muak belajar, tapi dia ingin cepat pulang ke
rumah, ke Korea. “Kau sudah cerita ke ibumu?” tanya Clover.
“Aku
tak berani,” pria itu kembali merebahkan tubuh. “Aku senang ibu mendukungku,
tapi aku tahu dia begitu kesepian. Aku tidak tega..”
“Heh,
nada do re mi rendah itu tidak cocok untuk Kwon Soonyoung. Cheer up, man!”
Clover menyenggol kaki Soonyoung. “Mempertimbangkan keluarga itu penting, tapi
mengabaikan harapan atas nama perasaan itu jahat sekali, apalagi harapan
seorang ibu. Kau paham maksudku kan?”
Kali
ini Soonyoung yang diam. Matanya menikmati struktur kayu yang menopang atap
gazebo itu. “What was that?” tanyanya. “Aku tidak percaya seorang Clover
Cheongseol Choi memberiku nasihat yang bagus. Ternyata kau dewasa juga.”
“What?
Oh my, aku merasa terhina. Ya!”
“Haha,
kidding. Kalau aku menerima beasiswa itu, kau akan merindukanku tidak?” goda
Soonyoung.
“Tiap
detik dalam hidupku aku akan selalu merindukanmu,” cibir Clover. “Itu jawaban
yang kau harapkan, bukan?”
“Sudah
kuduga, kau memang paling mengerti diriku..”
“Eh
aku punya cerita! Breaking news!”
“Oh
ya? Tentang apa?”
“Vernon~”
“Ah,
tiba-tiba aku mengantuk. Aduh lelah sekali, badanku sakit semua. Sepertinya aku
harus tidur.”
“Ya!!
Dengarkan ceritaku, Soonyoung!” Clover memanyunkan bibirnya menatap Soonyoung
menggeliat malas di lantai kayu gazebo.
“Ceritamu
tentang Vernon hanya itu itu saja, you know? Dia tampan lah, menggemaskan lah,
dia lewat gedung fakultasmu lah, dia bersantai dan mengobrol asyik dengan
teman-temannya, atau mungkin kau dapat foto barunya. Hanya seputar itu sa-“
“He
asked me out..”
<>
Camellia
hanya bisa menatap pintu ruang dosen bimbingannya yang tertutup rapat. Jadwal
bimbingan hari ini dikosongkan dan diganti lusa. What the..........
“Lalu
untuk apa aku bergadang menyelesaikan bab 2 semalam?” tanya Camellia merana pada
dirinya sendiri. Tubuhnya lemas di kursi ruang tunggu. Sudah beberapa kali dia
diberi harapan kosong oleh dosennya seperti ini.
“Eoh?
Mrs. Nasution sudah pulang?”
Secercah
cahaya menyilaukan mata Camellia. Ia sampai kesulitan mengendalikan kedip
kelopak matanya. O-M-G. Yoon Junghan adalah pria yang berdiri dan bertanya
padanya. “Eh?” respon Camellia kikuk.
“Hello?
Are you okay?”
“Eh?
Y-yes. Yes, I’m.. Okay...”
“Apakah
Mrs. Nasution sudah pulang atau hanya pergi sebentar?”
“Oh
itu.. Eee, sepertinya dia sudah pulang!” jawab Camellia back on her sense.
“Ah,
sayang sekali..”
Melihat
wajah kecewa Junghan, menumbuhkan rasa penasaran Camellia yang memang sudah
tinggi sejak ia TK. “Apakah ada yang bisa kubantu?” tanya Camellia. “Itu
maksudku.. Karena dia adalah dosen pembimbingku, jadi aku sering bertemu
dengannya. Kalau ada pesan atau hal yang ingin disampaikan mungkin aku bisa
bantu, supaya senior tidak kerepotan kembali ke Sienna. Senior kan sudah lulus,
hehe..” jelasnya.
“Hm?
Wajahku setua itu ya sampai kau tahu kalau aku sudah lulus?”
“Aaa,
bukan bukan. Wajah senior sangat tampan tidak ada duanya! Aku tahu karena
senior sangat terkenal.. Aku adalah fans senior!”
“Woa,
ahaha. Ternyata rasanya seperti ini mendapat pernyataan macam itu secara
tiba-tiba..” kata Junghan menahan tawanya.
“Em,
m-maaf! Aku tidak bermaksud-“
“Aigoo,
eotteokhae? Neomu kwiyowoyo..”
“He?”
Junghan
dengan senyum malaikat menatap Camellia yang masih loading dengan situasinya.
“Kau tahu namaku, tapi maaf aku belum tahu namamu. Jadi, mau berkenalan?” ia
mengajukan tangannya yang terbuka.
Meski
Camellia butuh jeda beberapa detik untuk memproses input ini, tentu ia tak akan
membuang kesempatan menjabat tangan pujaan hatinya. “Camellia Han, you may call
me Elli,” katanya.
“Junghan
Yoon. Ngomong-ngomong kau punya marga Korea? Han Camellia?”
“Ah
ya. Kakekku orang Korea..”
“Tapi
selain rambut yang hitam, wajahmu sama sekali tidak menunjukkan keturunan
Asia.”
“Benarkah?
Mengecewakan ya?”
“No
way,” elak Junghan langsung. “Yeppeuda..”
Gedung
rektorat terdiri dari 5 lantai, sepertinya jiwa Camellia sudah ada di atap
sekarang. Melayang-layang bersama kupu-kupu dan burung-burung lucu disana.
<>
Celandine
dengan malas melihat layar ponselnya. Sudah lebih dari lima kali ponsel itu
berdering menampilkan nama kontak yang sama. Papa.
“Ck,
ah! Mengganggu sekali sih!” ia begitu kesal hingga akhirnya memutuskan untuk
mengakhiri jeritan ponsel dengan menerima panggilan tersebut. “What is it?”
sapanya ketus. “Pa, sudah berapa kali kukatakan? Aku tidak akan kembali hanya
untuk menyetujui keputusan papa! Sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan
pria pilihan papa! Aku punya kehidupan dan cintaku sendiri! Sudah! Ada banyak
tugas yang harus kuselesaikan!”
Kekesalan
Celandine telah meruntuhkan moodnya. Tugas laporan yang hampir selesai di meja
belajar, berubah jadi hal paling berat sedunia. Ia malas menyelesaikan itu.
“Hey, busy?”
pesan kilat lewat chatting yang dikirim Celandine tertuju ke seseorang.
“No, I guess..”
jawaban dari kontak chatting bertuliskan Wonwoo.
“Guess?”
“I have a lot of things to be done.
But, yeah.. you know...”
“Ye ye, I know. Well, at least we
have same condition. How about supper outside?”
“I like it. Lets go!”
Wonwoo
sudah siap di depan asrama. Tak berselang lama, Celandine keluar dengan jaket
dan pakaian sederhana. Makan malam bersama di luar melepas penat, eumh, nikmat.
“Menurutmu,
apakah kita harus mengajak yang lain?” tanya Wonwoo.
“Yang
lain? Siapa yang kau bicarakan?” tanya Celandine balik.
“Soon-“
“Nope!
Berdua saja lebih baik,” sela Celandine cepat dan tegas penuh keyakinan.
“Oh,
okay..”
Selesai
memesan, mereka harus menunggu giliran pesanan mereka dibuatkan. “Bagaimana
dengan skripsimu?” tanya Wonwoo membuka topik.
“Skripsiku
sudah selesai, tinggal memenuhi persyaratan lalu aku bisa ujian..” jawab
Celandine.
“Wah,
daebak.. Bantu aku!”
“Boleh..
Bab berapa?”
“Lampiran,”
jawab Wonwoo.
“Terlalu
lama dekat dengan Soonyoung kau juga jadi absurd ya?” kata Celandine sedikit
kesal.
“Ya,
kurasa..” sahut Wonwoo sejenak refleksi.
“Aku
jadi mencemaskan teman-temanku. Bagaimana kalau mereka yang awalnya jenius
kemudian jadi gila tertular virus Soonyoung?”
“Antara
kecemasan dan materi perkuliahanmu sepertinya sedang campur aduk..”
“Kau
benar..”
“Aku
tidak tahu kenapa aku memikirkan ini..” celetuk Wonwoo setelah diam beberapa
saat.
“Tentang?”
“Kalian
sadar tidak? Namamu, Clover, dan Camellia itu semuanya berawalan C..”
“I-iya
sih..” Celandine mengangguk menyadari kebetulan itu.
“Dan
yang lebih menarik adalah...,” Wonwoo sedikit mencondongkan tubuhnya ke
Celandine. “Nama kalian berasal dari nama bunga..” bisiknya.
“Wow..
Jujur saja yang membuatku takjub bukan karena kebetulan ini. Aku lebih kaget
ketika kau tahu nama-nama bunga asing seperti Celandine dan Camellia. Kau juga
tahu kalau daun Clover punya bunga!”
“Aku...,”
pria itu merentangkan kedua tangannya. “Pecinta alam,” lanjutnya dengan wajah
datar.
<>
Sedari
tadi Jihoon hanya bisa mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak bisa
berkonsentrasi pada buku yang terbuka di tangannya itu. Rencananya dia ingin
sekali membaca buku di spot kelompok proyek akhirnya. Disana sangat sejuk,
teduh, dan ramah wifi. Tapi..
“Apa
kalian tidak bisa duduk manis?” tanya Jihoon akhirnya. “Wonwoo, kenapa kau
terus senyum-senyum begitu? Soonyoung, kenapa wajahmu murung sekali? Apa yang
terjadi?” rentetan pertanyaan secara urut keluar membanjiri gazebo.
“Kami
makan malam berdua kemarin. Hebat kan?” jawab Wonwoo bangga.
“Maksudmu
kau dan Celandine?” Wonwoo menaik turunkan alisnya cepat saking senangnya. “Oh
bagus ya. Teman kelaparan, kau enak pacaran. Ckckckck. Lalu kau kenapa
Soonyoung?” Jihoon beralih ke temannya yang memelukkayu penyangga atap gazebo
dengan pilu.
“Vernon
dan Clover pacaran.....” jawabnya sedih.
“Mwo?
Sejak kapan?”
“Kemarin.....”
masih dengan nada sedih.
“Hahahahahahahahaha!
Selamat ya!” Jihoon dan Wonwoo melakukan tos singkat. Bisa-bisanya mereka
tertawa di atas keterpurukan Soonyoung, teman mereka.
“Ya!
Jangan tertawa begitu, menyebalkan!” bentak Soonyoung melempar daun kering.
“Makanya
gerak cepat. Kalah selangkah oleh adik angkatan itu.. Wow! Hahahaha!” ledek
Wonwoo.
“Memangnya
Clover memberitahu hubungannya dengan Vernon padamu?” Jihoon menutup buku
bacaannya.
“Kemarin
dia bilang diajak kencan oleh si pirang..” jelas Soonyoung.
“Kamu
juga pirang..” sahut Wonwoo.
“Eih,
itu hanya kencan.. Belum tentu pacaran kan?” Jihoon berubah baik. Dia menghibur
temannya yang patah hati.
Belum
sempat Soonyoung mengiyakan perkataan Jihoon, Camellia dan Clover datang dengan
langkah seringan kapas. Wajah mereka berseri-seri sangat cerah. “Good morning~”
sapa mereka dengan pecahan nada.
“Morning!”
balas Jihoon dan Wonwoo.
“Soonyoung~!!!”
panggil Clover terdengar begitu bahagia. Pria yang namanya dipanggil malah
melirik ke Jihoon seakan bilang tuh-kan-mereka-jadian.
“Tidak
biasanya kalian menghiasi pagi dengan senyum begitu. Apa ada hal menyenangkan?”
tanya Wonwoo ketika Camellia sudah duduk.
“Ada!!”
jawab Camellia cepat, singkat, tegas.
“Biar
kutebak..,” suara Celandine menolehkan kepala Camellia. “Kau pasti bertemu
dengan si tuan alumni kan? Lalu Clover pasti bertemu dengan si adik
menggemaskan.” ujar Celandine sambil mengambil posisi duduk.
“No
no no no.. Tidak sebiasa itu..” elak Camellia dan Clover sombong.
“Kami
berkencan~”
“Aku
dapat kontaknya~”
“Oh,
hanya begitu?” tanya Celandine datar.
“Hanya
begitu? Ini merupakan berkah melimpah luar biasa yang pernah kami terima selama
menimba ilmu di Sienna, Celandine!” tukas Camellia menggebu.
“Ah,
sekarang aku jadi serakah sepertinya. Setelah kencan aku berharap dia
menyatakan cinta padaku..” celetuk Clover penuh harap.
“Benar,
aku juga berharap Junghan sunbae tiba-tiba mengajakku kencan..” tambah Camellia
ikut berfantasi.
“Eih
daripada membahas itu lebih baik membahas proyek.. Deadline semakin dekat!”
Soonyoung membuka topik baru.
“Wa,
mengejutkan sekali. Soonyoung bisa serius juga ya? Atau karena suatu hal?” goda
Jihoon dengan wajah nakal.
Meski
waktu efektif mereka hanya sedikit, tapi sejauh ini tahap penyelesaian proyek
kelompok mereka paling cepat. Mulai dari penyerahan proposal ide kreatif sampai
ke pelaksanaan. Kelompok mereka terbilang lancar dan gerak paling cepat
dibanding yang lain.
“Aku
sudah buat kerangka boxnya.” kata Soonyoung membuka blueprint rancangannya.
“Hmm,
aku akan usahakan mencari bahan-bahan ini. Berapa dana yang kita dapat dari
univ?” tanya Wonwoo.
“Karena
proposal kita masuk di gelombang pertama, berarti 60% dari anggaran yang kita
ajukan dari proposal kemarin.” jawab Camellia sambil membaca surat keterangan
penyerahan dana dari Universitas.
Box
‘how do you feel?’ adalah kotak ukuran phonebox yang dirancang khusus untuk
para pejalan kaki istirahat sejenak melepas kecemasan. Tiap pilihan ‘perasaan’
akan mengajukan layanan yang berbeda-beda. Mulai dari musik, film pendek, game,
relaksasi, buku, berfoto, dan lainnya. Tentu saja tiap layanan disesuaikan
dengan perasaan pengunjung. Satu box maksimal empat orang.
“Simple,
tapi box ini dibutuhkan oleh para orang sibuk yang lupa dunia.” begitulah
penutup presentasi yang disampaikan kelompok tersebut.
Box
proyek akhir itu ternyata menarik perhatian sebuah perusahaan ternama di
Singapore. Mereka membeli idenya kemudian dikembangkan. Saat ini di depan
setiap toko dengan sponsor perusahaan itu telah berdiri dengan menariknya box
‘how do you feel’.
“Wah..
Aku ingin pesta..,” ujar Jihoon merebahkan diri di lantai kayu gazebo.
“Aku
tidak menyangka ide ini akan sangat bagus.. Kita bahkan dibayar!” Clover sangat
terharu sekarang.
“Hei
hei kalian jangan santai-santai dulu!” Camellia datang bersama Celandine. “Nih
sertifikatnya proyek akhirnya sudah keluar.. Cepat serahkan ke fakultas, kita
harus urus skripsi kita sekarang..” jelasnya membagikan sertifikat-sertifikat
penyelesaian proyek akhir.
“Akhirnya
bisa sidang.. Astaga aku mau nangis, skripsiku bisa kupresentasikan oh my God
aku tidak tahan...” Wonwoo benar-benar tersentuh hatinya.
“Selesai
sidang, ayo kita jalan-jalan!” ajak Soonyoung.
“Call!”
<>
Sebuah
kedai kecil di pinggir kota merupakan tempat terbaik untuk makan kenyang tanpa
membuang banyak uang. Enam orang yang barusaja selesai sidang skripsi dan
dinyatakan lulus itu kini tengah berpesta kecil-kecilan disana. Bukan karena
mereka tidak punya teman lain selain kelompok proyek akhir ini, mereka berpikir
bagus juga kalau masih bisa saling memberi selamat begini. Lagipula saat wisuda
nanti belum tentu mereka bisa bertemu kan?
“Ayo
kita cheers untuk diri kita!” Camellia mengangkat gelas berisi air sodanya
tinggi-tinggi.
“Cheers!!”
sahut yang lain.
“Wah
daging ini pasti enak sekali! Coba lihat tekstur dan warnanya..” Wonwoo terpana
tak sabar menancapkan garpunya ke daging yang ada di atas panggangan.
“Sepertinya
sudah matang, mari makan!” Jihoon bergerak cepat mengambil daging paling besar.
“Astaga
dagingnya lumer di mulut!” Clover tampak begitu menikmati menu pesanan mereka.
“Eh
ngomong-ngomong, Camellia.. Bagaimana si tuan alumni? Apa dia tahu kau sudah
lulus?” Celandine mencoba mengangkat bahan pembicaraan.
“Kalian
penasaran?” goda Camellia sibuk menyelimuti daging sapinya dengan saus.
“Tentu
saja..!” jawab Soonyoung mantap.
“Aku
dan Junghan sunbae....” Camellia berusaha menekan perasaannya. “Kami itu...
berpacaran!!” lanjutnya girang.
“What?!!
When?!” teriak yang lain kaget.
“Ehehehehe,
beberapa hari yang lalu.. Sejak kami bertukar kontak, lalu kami sering bertemu
karena dia ada urusan dengan dosen pembimbingku, jadi yah begitulah..” jelas
Camellia menghembuskan nafas berbunga-bunga.
“Cieeee,
congrats! Berarti setelah ini kau harus menraktir kami dessert ya!” kata Wonwoo
mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Eh?
Tidak mau lah..! Anak ini juga mulai pacaran, kenapa hanya aku yang ditagih?”
lagi-lagi Camellia mencari teman untuk menemaninya.
“Me?”
Clover menunjuk dirinya.
“Kau
pacaran dengan siapa?” Soonyoung bertanya antusias.
“Vernon
lah..” jawab Clover enteng.
“Yang
ini juga sejak kapan?!!”
Hubungan
mengejutkan yang diutarakan oleh Camellia dan Clover memang terkesan tiba-tiba,
tapi memang begitu kenyataannya. Bagi Jihoon, Wonwoo, dan Celandine itu tidak
menjadi masalah. Mereka malah menganggap bagus karena akhirnya teman mereka
tidak hidup solo lagi. Namun..
“Soonyoung...”
gumam Wonwoo.
“Hm?
Kau bilang apa?” Celandine yang ada di sebelahnya sigap begitu mendengar suara
Wonwoo.
“Soonyoung..
Anak itu apa akan baik-baik saja ya?” jawabnya kemudian menghela nafas.
“Kenapa-
Hagh! Jangan-jangan....” Celandine menatap Wonwoo penuh keterkejutan.
“Ya,
perasaan Soonyoung itu asli..”
“Astaga..!
Kupikir itu adalah salah satu candaannya! Jadi selama ini dia memang menyukai
Clover?”
“Begitulah..
Mengejutkan juga melihatmu tidak tahu..”
“Tapi
kurasa dia akan baik-baik saja.. Bukankah tadi dia mengajak Clover jalan-jalan
seperti kita sekarang?”
Wonwoo
mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya. Mereka benar-benar menikmati
sejuknya taman di dekat asrama ini.
“Setelah
ini, apa rencanamu?” tanya Wonwoo.
“Ayah
memintaku kembali ke Hongkong dan tentu saja aku mengambil S2 disana.. Tapi
sebelumnya aku harus magang beberapa waktu dulu..” jelas Celandine. “Kau
bagaimana?” kali ini Celandine bertanya balik.
“Aku
akan kembali ke Korea. Melakukan beberapa tes dan pelatihan setelah itu bekerja
di kantor pemadam utama di ibukota..”
“Jadi
kita akan berpisah?”
Wonwoo
menoleh dan mendapati wajah Celandine sekarang penuh rasa penasaran. Gadis itu
sudah tidak sabar mendengar jawaban Wonwoo. Apakah mereka akan berpisah begitu
saja? Atau bagaimana?
“Korea
dan Cina itu tidak terlalu jauh, kalau aku tentusaja tidak akan melepasmu
begitu saja.. Mendapatkan hatimu itu sulit tahu?” katanya. “Bagaimana
denganmu?”
“Kau
sudah menjawab begitu, aku harus bilang apa? Mana bisa aku menolak?” ujar
Celandine membuang muka merahnya.
<>
Camellia
barusaja akan naik ke kamar ketika seorang pria memanggil namanya. Pria itu
mendatangi Camellia dengan senyum mengembang lebar. Seikat bunga pun tak luput
dari tata krama bertamu pria tersebut.
“Han-sunbae,
annyeonghaseyo..” sapa Mingyu.
“Oh,
Mingyu. Annyeong.. Ada perlu apa kemari? Ini asrama wanita, tidak seharusnya
kau disini kan?” Camellia melipat kedua tangannya.
“Hehe,
mianhamnida.. Aku hanya ingin memberikan ini ke sunbae..” ia menyodorkan buket
bunga itu ke Camellia.
“He?
Well, thanks but.. Untuk apa bunga ini?”
“Han-sunbae!
Selamat atas kelulusanmu!” teriak Mingyu tiba-tiba lalu membungkukkan badan.
“Eh
eh eh! Ssshhh, jangan keras-keras! Kau tidak mau diusir satpam kan?” cegah
Camellia.
“Oh
iya.. Maaf..” bisik Mingyu.
“Hah..
Anyway, terimakasih ucapannya.. Kau juga belajar yang tekun, jadi bisa cepat
lulus..” jiwa tua Camellia pun keluar.
“Ne,
sunbae!” anak ini menjawab dengan imut sekali. “Eee, sunbae.. Kalau boleh tahu,
setelah ini apa rencana sunbae?”
“Aku
berencana untuk bekerja..”
“Di
Singapore?” Camellia mengangguk. “Tidak mau mengambil S2?”
“Eih,
aku tidak ingin terlalu lama membebani orangtuaku dengan biaya pendidikan
begitu.. Aku akan bekerja kemudian gajinya akan kutabung untuk pendidikan
S2-ku, begitu..” jelasnya.
“Wah,
sunbae memang keren!” Mingyu menatap Camellia dengan mata berbinar-binar.
“Kau
sendiri bagaimana? Tahun depan kau lulus kan? Apa rencanamu?”
“Eh?!
A-aku??” tiba-tiba dia panik.
“Tentu
saja, memangnya daritadi aku bicara dengan siapa?”
“Ah
iya.. Hehehe.. Aku terlalu senang sampai tak percaya bisa berbincang-bincang
dengan sunbae selama ini..” Mingyu mengutarakan pikirannya secara jujur.
Kenyataannya ini memang percakapan terpanjang mereka. Dan entah kenapa kali ini
Camellia menanggapi obrolan Mingyu secara ramah. Apa karena hatinya sedang
berbunga-bunga?
“Kau
ini ada-ada saja.. Kau belum jawab pertanyaanku..!”
“Oh,
itu! Aku akan kembali ke Korea.. Kehadiranku sudah dinantikan di perusahaan
keluarga..” jelas Mingyu.
“Ah
benar juga.. Kau anak tunggal ya?”
“Ne!”
“Bagus,
bekerjalah dengan giat! Algesseo?”
“Ne!
Algesseumnida, sunbae!” sekali lagi Mingyu membungkukkan badannya.
“Baiklah
aku harus bersiap sekarang.. Aku sudah ada janji..”
“Terimakasih,
Han-sunbae!”
“Aigoo
kau ini.. Aku yang berterimakasih.. Terimakasih bunganya!”
<>
Soonyoung
dan Clover berjalan santai dalam hening. Jujur saja saat ini kepala Soonyoung
blank. Padahal tadi dia sudah punya rencana kencan implisit–hanya dia yang tahu
kalau ini adalah kencan, dengan Clover ini.
“Wah!
Itu box proyek kita kan?” suara Clover menyadarkan Soonyoung dari lamunannya.
“Hee,
jadi benar direalisasikan oleh mereka.. Cool..”
“Kau
mau kesana?”
“Kau
mau mencoba hasil karyamu sendiri?”
“Apa
salahnya? Mumpung masih gratis!” Clover menarik tangan Soonyoung.
Mereka
masuk ke box dan duduk di bangku yang sudah disediakan. Tidak banyak perubahan
atau tambahan yang dilakukan untuk memodifikasi ide awal mereka. Secara
keseluruhan box ini masih sama dengan blueprint dan proposal mereka.
“How
do you feel, hhmmm.. Lets see.. I feel good..” Clover memilih emoticon smile
yang ada di layar.
“Good?
Sekarang kau merasa senang?”
“Of
course! Aku bisa jalan-jalan berdua saja denganmu, bagaimana tidak senang?”
jawab Clover dengan nada canda. Soonyoung hanya mengangguk-angguk menanggapi.
“Musik
yang terputar groovenya enak juga.. Hhmm..” perlahan gadis itu mengikuti irama
lagu. “Ayo Soonyoung! Kau pandai membuat gerakan berirama kan?”
“Kau
ini.. Mengikuti groove lagu itu seperti ini!” Soonyoung ikut menggerakkan
badannya sesuai dengan irama lagu yang terputar.
Selesai
satu lagu, “Your turn..” kata Clover.
“Aku
juga memilih?”
“Kita
sudah terlanjur masuk kemari, pilih saja lah..”
Butuh
waktu beberapa detik untuk Soonyoung memikirkan pilihannya. Apa yang ia rasakan
sekarang? “Aku pilih ini..” ujarnya.
“Sad?
Why? Kau tidak suka jalan-jalan bersamaku?” protes Clover tak terima.
“Tidak
mungkin seperti itu..”
“Lalu?”
“Aku
hanya sedang sedih.. Itu saja..”
Mereka
pun saling diam. Hanya lantunan melodi piano ciptaan Jihoon yang terdengar.
Konsepnya adalah menangis agar lega. Tapi mereka juga tak ada yang menangis.
Mereka hanya diam. Keheningan itu membuat Clover tak nyaman. Ia menoleh dan
menatap wajah Soonyoung. Pria itu seperti bukan Soonyoung, dia terlalu diam
dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
“Soonyoung..”
panggil Clover pelan. “Waktu itu aku belum sempat mendengar keputusanmu..
Apakah sekarang kau sudah memutuskan pilihanmu?” tanyanya.
“Aku
akan mengambil beasiswa itu..”
“Really?
Wow, thats great..”
“Aku
tidak tahu apakah kita masih bisa bertemu atau tidak..”
“Heih
kau ini bicara apa? Kita hidup di zaman serba canggih!”
“Di
German kami akan dikarantina untuk mengikuti olimpiade-olimpiade yang ada
setiap bulannya.. Syarat kelulusan untuk mahasiswa beasiswa adalah 18 medali emas
dalam 2 tahun.. Kalau gagal, harus mengulangi dari nol lagi..” jelas Soonyoung.
“Hah, aku tidak tahu bisa lulus kapan..”
“Ck,
dasar.. Kau ini bicara apa sih? Kwon Soonyoung itu arsitek jenius paling hebat
yang pernah dilahirkan! Kau mendapat beasiswa itu tentu bukan karena main-main
kan? Mereka percaya kau bisa, begitu juga denganku.. Karena itu, kau juga harus
percaya pada dirimu! Got it?”
“Ya
kau benar.. Haha, kurasa aku akan merindukanmu..”
“Tentu
kau harus rindu padaku, awas saja kalau tidak..!” kata Clover dengan nada
tinggi. Ia kembali menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
“Ck,
rambutmu itu menganggu sekali..” celetuk Soonyoung kemudian merogoh sakunya. “Nih..”
“Huh?”
Clover menerima sebuah ikat rambut berwarna violet dengan hiasan bintang mainan
warna putih.
“Promise
me, you have to tie your hair.. Okay?” Soonyoung mengacungkan kelingkingnya.
“Until
when?”
“Until
we meet again.. Someday somewhere..”
Clover
mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Soonyoung. “Okay, I promise..”
<>
Sepuluh
tahun berlalu. Waktu bergulir melahap segala perasaan, kenangan, dan peristiwa.
Banyak pengalaman yang didapat selama sepuluh tahun itu. Dan banyak juga
kejadian yang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun ini.
“Bagimu,
aku hanya sunbae yang kau kagumi.. Kurasa hubungan itu tidak perlu diikat atas
nama cinta.. Aku senang bisa menjadi figure yang kau teladani.. Tapi, Vernon..
Kupikir status pacaran kita tidak perlu dilanjutkan..”
“Setelah
kupikir-pikir ternyata aku tidak bisa memandangmu sebagai seorang wanita.. Di
mataku kau adalah gadis manis yang sudah kuanggap sebagai adikku.. Aku ingin terus
melindungimu sebagai kakak.. Camellia, aku harap kau bisa mengerti perasaanku..”
“Seperti
yang kuduga, hubungan jarak jauh memang bukan style-ku.. Aku tidak bisa
melakukan ini, Wonwoo.. Sebentar lagi aku akan menikah dengan pria pilihan
keluarga, dan aku juga merasa cocok dengan pembisnis itu.. Karena itu, lebih
baik kita berhenti sekarang..”
Biarlah
yang sudah terjadi menjadi kenangan, tersimpan jauh di dalam hati. Biarlah
segala luka disembuhkan, oleh waktu yang meniti kehidupan. Biarlah penantian
tak berujung berhenti sampai disini. Masing-masing punya kehidupan yang
terbentang luas di depan mata. Ada banyak jalan yang lebih bagus dari jalan
yang kemarin. Di jalan baru itu, mereka berlari tanpa tahu kapan mereka akan
sampai, dimana mereka akan tiba, dan siapa yang akan menyambut.
31
menginjak 32. Usia matang untuk wanita karier. Celandine Huang, seorang dokter
sukses yang mewarisi perusahaan mendiang suaminya dan saat ini aktif berbisnis
di Korea. Camellia Han, ketua utama tim kreatif di perusahaan ternama di Korea.
Clover Cheongseol Choi, General Manager yang berhasil mempertahankan reputasi
hotel dan apartment elit milik sebuah perusahaan di Korea.
Ketiganya
dipertemukan lagi oleh takdir. Mereka bekerja di tempat yang sama, Idyllic.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar