Eighth Bite
Rin
terlihat tidak bersemangat. Ia menopang dagu melihat ke gerbang sekolah dari
jendela kelasnya. Bagaimana tidak kesal? Ia kira pagi ini Rin bisa berbagi
masalah dengan Taeyong. Ia pikir ia akan lega. Tapi apa? Taeyong absen. Lalu
Haku? Dia juga absen.
“Hah..
Kemana sih semuanya?”, gumam Rin tak melepas pandangan dari gerbang sekolah.
“Kau
menunggu jodoh?”, celetuk Ten mendekati Rin.
“Aku
sudah punya jodoh..”, jawab Rin lemas.
“Kalau
kau cari Taeyong-senpai.. Dia absen..”
“Aku
tahu itu, Ten..”
“Ke
rumahnya saja lah, kenapa repot menunggunya muncul? Dia sudah sangat terlambat
untuk datang ke sekolah..”, ujar Ten santai.
“Hm..”,
dehem Rin singkat.
Ten
melirik mengamati gadis dengan wajah biasa itu. Bagi seorang Ten, selihai
apapun wanita menyembunyikan perasaannya, mereka tidak akan bisa lepas dari
mata Ten. Pria itu tahu apa yang sedang Rin pikirkan meski tak tergambar di
wajah Rin. Cemas.
$$$$$
“Nakamoto-san..
Sebenarnya kau siapa?”
Yuta
tersenyum lalu menatap langit. Otot punggungnya lebih rileks sekarang setelah
disandarkan ke sandaran bangku taman.
“Saa
na (entahlah)..”, jawab Yuta menghela nafas.
“Hei
yang disana!”, suara seorang pria mengalihkan pandangan Yuta dan Hakuro.
“Taeyong-senpai..”
“Oh,
Taeyong..”
“Jangan
hanya oh-Taeyong, dasar tidak setia kawan..!!”, geram Taeyong mencekik Yuta
dengan lengannya.
“Aduh
aduh! Iya iya! Maaf..!!”, panik Yuta meronta.
“Kau
meninggalkanku disana! Aku sampai bingung mencarimu kemana-mana! Ternyata kau
malah asyik berduaan dengan Hayashi!”, omel Taeyong.
Yuta
hanya cemberut menatap Taeyong yang melipat tangan dengan kesal.
“Eh?
Betulan Hayashi ternyata..”, beberapa detik kemudian Taeyong sadar.
“K-konnichiwa..”,
sapa Hakuro.
“Sedang
apa kau di- oh.. Ya.. Maaf, tidak seharusnya aku tanya..”, Taeyong sedikit
menundukkan kepalanya. Bodoh, untuk apa dia menanyakan hal yang ia sudah tahu?
Pasti Hakuro sedih karena pertanyaan konyolnya itu.
“Tak
apa.. Ngomong-ngomong, Taeyong-senpai.. Kau baik-baik saja kan?”
“Hm?
Baik kok..”
“Apa
kata dokter?”
“Aku
harus banyak istirahat, makan teratur, minum vitamin, jogging, ya seputar
itulah..”, jelas Taeyong santai. “Jangan cemas Hayashi, kemarin aku hanya
kelelahan bergadang saja..”, lanjutnya.
“Eh?
Lelah... Bergadang..?”, Hakuro memiringkan kepalanya heran.
“Ya..
Akhir-akhir ini aku sering bergadang tak tidur sama sekali.. Jadi ambruk..”
“Tapi
kata Nakamoto-san..........”, lirih Hakuro sambil menoleh pelan ke Yuta.
Pria
itu sudah terkekeh menutupi mulutnya. Wajahnya merah semua. Demi Tuhan dia
sudah banyak tertawa! Keterlaluan.
“Nakamoto-san!
Kau membohongiku?!!”, bentak Hakuro kesal.
“Hahahahahahahahahahahahahaha!!!
Ekspresimu lucu sih!! Hahahaha, aku jadi tidak tahan ingin menggodamu!!
Hahahahahaha!!”
“Keterlaluan
sekali.. Ugh! Hei, tertawamu terlalu puas tahu..?!”
Taeyong
dengan seulas senyum hanya bisa memiringkan kepala bingung. Apa yang
dibicarakan dua manusia ini?
“Taeyong-senpai!”,
panggil Hakuro masih sebal.
“Hai!”,
Taeyong malah tersendat kaget.
“Nakamoto-san
bilang kalau kau mengidap leukimia!! Sekarang dia sedang menemanimu
check-up!!”, Hakuro mengadu.
“Kau
percaya?”, suara Taeyong merendah dengan wajah serius.
“Eh..?
A-apakah.. Benar..?”, Hakuro yang melihat ekspresi Taeyong pun......
“Tidaklah!
Kau tertipu dua kali, Hayashi! Hahahahahahahahaha..!”, Taeyong ikut tertawa dan
masuk ke lingkaran Yuta.
“Kejam
sekali.. Kalian tidak adil!”, kesal Hakuro dengan wajah merah karena malu.
“Bagaimana
bisa kau percaya pada kebohongan seperti itu? Dua kali pula!”, kata Yuta
menghapus airmata geli yang keluar dari ujung matanya.
“Dia
sungguh menggemaskan sekali! Hahahaha..”, mereka berdua pun melakukan tos
keberhasilan.
Melihat
Taeyong dan Yuta yang asyik menertawakannya begitu, membuat Hakuro memasang
ekspresi datar. Cih.
“Aku
permisi dulu..”, pamitnya datar.
“Hei
hei hei, jangan marah..!”, cegah Yuta menarik tangan Hakuro dari tempat
duduknya.
“Tidak
ada yang perlu kulakukan lagi disini..”, ujar Hakuro masih datar.
“Kami
minta maaf.. Taeyong memang keterlaluan..”, sahut Yuta.
“Yang
mulai kan kau, sialan!!!”, protes Taeyong.
Hakuro
diam duduk di samping Yuta. Aneh, pikir Yuta. Dalam sedetik, gadis ini berubah
begitu saja. Ia saling tatap dengan Taeyong. Bukankah tadi Hakuro sempat ceria
dan ekspresif? Lalu sekarang, kenapa dia diam dan melihat kekosongan lagi?
“Hayashi,
aku benar-benar minta maaf.. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu cemas..”,
jelas Yuta.
“Bukan..”,
jawab Hakuro.
“Hm?”
“Aku
tidak keberatan bercanda seperti itu..”
“Tiba-tiba
kau diam, jadi aku pikir......”
“Aku
memikirkan Rin..”
Rin.
Nama itu membuat kepekaan Taeyong meningkat. Ia memperhatikan Hakuro.
“Dia
pergi dari rumah..”
“Eh..?”
Desiran
angin mengisi keheningan di antara mereka bertiga. Kenapa. Itu yang ingin
Taeyong tanyakan. Tapi tak bisa. Suaranya tak mau keluar. Tak ada yang berbicara
sama sekali selama beberapa saat.
“Hayashi...”,
panggil Yuta. “Kau membalas candaan kami dengan hal menarik!”, lanjutnya
berpose keren dengan senyum lebar.
“Eh?
Bercanda?”, tanya Taeyong polos.
“Pft..!
Hahahahahahahaha! Taeyong-senpai, wajahmu! Wajahmu lucu sekali!!”, kali ini
Hakuro yang bisa tertawa puas. “Nakamoto-senpai memang sulit dibohongi ya!”,
katanya.
Yuta
tertegun seketika.
“Lho?
Bohongan? Kau membalasku?! Adik kelas kurang ajar.. Awas saja kau ya! Bikin
orang panik! Huh!”, Taeyong menjitak kepala Hakuro.
“Aduh,
sakit! Akan kuadukan Rin lho..!”, ancam gadis itu.
“Tidak
peduli..”
“Kalau
kuadukan kau bergadang tidak tidur sampai jatuh pingsan, Rin pasti akan
menghancurkan harddiskmu!”
“Eh
jangan.. Jangan ya, Hayashi.. Nanti kubelikan ikat rambut deh.. Yang
polkadot..”
“Hahahahaha,
konyol sekali...!”
Taeyong
akhirnya menyadari diamnya Yuta. Ia menoleh dan mendapati pria itu masih
menatap Hakuro dengan mata melebar.
“Oi,
kau kenapa?”, tanya Taeyong.
“Senpai..”,
lirihnya.
“Hah?”,
Taeyong maju mendekat untuk mendengar lebih jelas.
“Nakamoto-senpai..
Hayashi memanggilku Nakamoto-senpai!! Dia memanggilku senpai, Taeyong!!!!!!”,
teriak Yuta heboh mengguncang-guncangkan tubuh Taeyong.
“Hentikan!
Hentikan, baka Yuta!! Aku bisa masuk rumah sakit lagi!!!”
$$$$$
Lima
puluh tujuh kali. Aku sudah menghubungi ponsel Taeyong sebanyak murid di
kelasku. Tapi hasilnya nol. Aku mengirim pesan yang mungkin bisa dilaporkan
sebagai tindak spaming.
“Taeyong-senpai
kamu kemana?!”, teriakku dalam hati.
Aku
tak peduli. Saat ini aku berjalan dengan api berkobar-kobar membakar tubuhku.
Wajahku tampak sangar dan menyeramkan. Hatiku terus meneriaki Taeyong. Awas
saja kalau dia muncul di hadapanku nanti. Akan kupeluk sampai tidak bisa nafas!
Hah!
“Takamura,
selamat siang!”, sapa Johnny lewat membawa peta.
“Siang..!”,
jawabku dengan suara pria. Sial, kenapa kegeramanku keluar secara nyata dalam
situasi begini.
“Eh?!
Kamu kenapa kok jadi makhluk mutan?!”, Johnny agak panik disana.
“Johnny-senpai
memang suka bercanda.. Aku tak apa..”, jelasku masih dalam keadaan yang sama.
Johnny
hanya bisa melihatku melangkah meninggalkannya. Sweatdrop~
“Takamura-senpai..”,
kali ini si malaikat Jae yang menyapa.
“Hm..”,
aku menoleh dengan wajah sangar.
“Sepertinya
senpai sedang semangat ya..”
“Ya,
aku sudah tidak sabar membully Lee Taeyong-san..”, jawabku malah tampak semakin
seram.
Oh,
sial. Kenapa kekesalanku sampai tampak keluar begini sih? Oh ayolah, Taeyong
adalah murid yang sering bolos. Ini bukan kali pertama ia membolos kan? Kenapa
ia harus sekesal ini?
Iie.
Bukan
ketidakhadiran Taeyong yang membuatku kesal. Tanpa kabar. Itulah yang membuatku
sebal. Tak memberitahuku apa-apa, tiba-tiba menghilang puff.. begitu saja. Aku
takut.
Ya.
Ketakutanku akan kehilangan Taeyong telah membuatku marah. Pada diriku sendiri.
$$$$$
Aku,
Yuta, dan Hayashi. Kami memutuskan untuk membolos bersama. Haha, bagus aku
terjebak. Aku jadi pengganggu disini. Sial.
“Akan
kubelikan.. Kau mau yang mana?”, tawar Yuta.
“A-aku
akan beli sendiri..”, jawab Hayashi.
“Tidak,
biar aku yang belikan.. Ini sebagai hadiah karena kau sudah memanggilku
senpai..”, kata Yuta. Meh, kata-kata manis level dasar.
“Ja..
Aku pilih fruit milk..”, lirih Hayashi.
“Oke,
rasa apa?”
“Anggur..”
Aku
menatap mereka dari jarak dua ratus senti. Aku sengaja menjaga jarak ini. Kalau
aku terlalu dekat, rasanya mau nangis. Aku rindu Rin, huhuhuhu. Aku juga mau
bolos bareng, hah...
“Taeyong,
kau tidak beli?”, tanya Yuta.
“Kalian
minggir dulu..”
“Eh?
Kenapa?”
“Pokoknya
jaga jarak! Aku tidak mau terlihat menyedihkan berada di antara kalian..
Mengganggu kencan orang itu bukan tipeku..”
“K-kencan?!!”,
mereka sama-sama memerah malu.
Fufufufu,
pasangan bodoh. Aku memilih oolong tea. Saat melirik Yuta dan Hayashi, mereka
tenggelam dalam kecanggungan luar biasa. Hebat, ternyata Yuta yang doyan wanita
bisa juga bertingkah linglung. Ah, kepalanya kan memang kosong.
“Kalian
mau kemana?”, tanyaku membuka percakapan.
“K-kau?”,
balas Yuta.
“Aku
mau ke toko aksesoris..”
“Kenapa
kesana?”
“Hah,
tentu saja beli oleh-oleh untuk Rin..”
“Kita
di kota yang sama dengannya! Jangan sebut hadiah itu oleh-oleh, Taeyong!”, Yuta
tiba-tiba sewot mengepalkan tangannya.
“Lho?
Dia kan belum pernah melangkah ke dunia membolos begini.. Jadi kubelikan
oleh-oleh dari dunia membolos bersama YuHaku couple..”, jelasku memasang
tampang datar.
“Taeyong!!!!”,
Yuta kembali memerah sampai ke telinganya.
Ah,
dia imut sekali. Seperti menggoda anak kecil. Oh! Aku harus memikirkan Hayashi
juga. Daritadi dia diam menyembunyikan wajahnya yang merah itu. Aku sudah
membuatnya tak nyaman. Tapi siapa yang peduli?
“Hayashi..”,
panggilku terdengar seperti ayahnya.
“H-hai!”,
jawab Hayashi gugup.
“Ketika
berjalan nanti, kau harus menggandeng tangan anak ini dengan erat.. Dia bisa
keluyuran dan mengikuti bibi-bibi bedak tebal jika tidak diawasi..”, jelasku
persis seperti seorang ayah.
“Eh?!
M-menggandeng?!”
“Taeyong
kamu mau mati cepat?!”, Yuta yang sekarang merahnya sampai leher mengancamku.
Nikmatnya~
Menggoda orang sensasinya memang bikin ketagihan. Fufufufu, lumayanlah.
Hitung-hitung mengobati perasaanku yang terluka karena Rin tidak disini.
Ngomong-ngomong
Rin, tumben sekali anak itu tidak mencariku? Aku belum sempat mengabarinya
tadi. Aku merogoh saku mencari ponsel. Kempes. Saku celanaku rata.
Aku
menatap saku celanaku horor. Ini pasti kesalahan. Pasti di saku lain. Aku
memeriksa kedua saku jaket. Kali ini jaketku yang kutatap horor. Apa-apaan ini?
Kenapa malah ada kondom bekas? Dimana ponselku?
“Taeyong..
Sudah cukup kau menatap tubuhmu dengan horor.. Aku tahu tubuhmu horor..”, kata
Yuta.
Tidak
tidak tidak. Ponselku pasti ada di sekitar tubuhku. Apa di dalam baju? Apa
kusimpan di celana dalam? Atau kaus kaki? Apa jangan-jangan.... Kutelan. Aku
menatap Yuta horor.
“Eh?
A-apa?”, tanyanya.
“Ponselku..
Dimana ponselku?”
“Ponselmu,
hmmm.. Tadi aku menemukanmu terkapar di lantai.. Aku langsung membawamu ke
rumah sakit.. Sepertinya masih di dalam tas..”
Tas.
Tubuhku lemas. Ini pasti cobaan dari Tuhan. Aku sudah melangkah terlalu jauh
dari jalan kebenaran. Oh, Tuhan maafkan aku. Karena aku sudah minta maaf,
sekarang kirimkan ponselku kemari Tuhan. Kumohon.
“Taeyong-senpai..
Kau baik-baik saja?”, tanya Hayashi.
“Tidak..
Aku belum mengabari Rin.. Aku tidak bisa bercakap dengannya tanpa ponselku.. Aku
mau pulang..”, jawabku lemas.
“Pulang?
Hah, kau gila? Tidak! Tidak boleh!”, larang Yuta. Tentu saja dia langsung
melarangku.
“Aku
mau ambil ponsel..”, rengekku.
“Sebentar
lagi kau harus ambil obat dan melakukan beberapa pemeriksaan.. Kau tidak boleh
terlalu jauh dari rumah sakit hari ini, kau tahu itu kan?”
“Tapi
tapi tapi........”
“Akan
kuambilkan.. Kau temani Hayashi selagi kuambilkan..”
Aku
menatap Yuta. Tawaran macam apa itu? Dia mau melepas kesempatan ini begitu
saja? Dia mau pergi meninggalkan Hayashi denganku hanya untuk mengambil
ponselku?
“Tidak..”,
tolakku cepat.
“Tidak?
Nanti kau menangis meraung di tengah jalan malah.. Sudah kuambilkan, mana kunci
kosmu?”
“Aku
tidak bisa membiarkanmu pergi dari sisi Hayashi..”
“Hah?
Kau ini bicara apa?”
“Hari
ini adalah hari YuHaku!! Haha!”
“Jangan
bicara sembarangan!!!”
“Sudahlah,
tidak usah dipikirkan.. Hayashi, aku boleh pinjam ponselmu?”, aku kembali
bersikap lembut.
“Tentu..”
“Akan
kupakai untuk menghubungi Rin, tak apa kan?”
“Ya,
pakai saja..”
Aku
tersenyum lalu menempelkan ponsel ke telinga. Aih sudah tidak sabar mendengar
suara Rin! Oh oh oh! Dia pasti akan mengomel dan kesal karena tidak
mengabarinya. Duh, pasti wajahnya sangat imut. Ayo cepatlah tersambung~
“Halo-“
“Moshi
moshi, Rin ak-“
“maaf ya aku sedang sibuk sekarang,
tinggalkan pesan setelah bunyi beep”
‘Jleng....’
Balon-balon
merah mudanya langsung lenyap. Shit. Aku lupa ini masih jam sekolah.
$$$$$
Rin
memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung di kelasnya. Ia begitu rajin mencatat
semua hal penting meski dalam keadaan tidak mood.
“Sore wa (itu).. Boku no mono da
(barangku)..”
Tubuh
Rin agak menegang. Suara Taeyong. Kejadian itu. Tiba-tiba kembali terputar di
benak Rin.
“Akan kutambah dengan angka sepuluh supaya
jadi seratus..”
Rin
tersenyum. Memori indah memang tidak bisa diprediksi ya kemunculannya. Pft,
tapi pertemuan dengan Taeyong waktu itu cukup menggelikan sih.
Rin berjalan menuju ke ruang guru. Ini
adalah tahun pertamanya di Kaijou, tapi Rin sudah menjadi sorotan para guru.
Anak itu memang pandai dan disiplin. Ketika ia berjalan mendekap bukunya dengan
santai, ia melihat secarik kertas terselip di antara bunga-bunga tanaman
samping bangunan.
“Hm? Ini...”
Kertas ujian. Hah?! N-n-n-nol..?
“Sore wa.. Boku no mono da..”
Rin menoleh dan mendapati seorang pria
tampan berwajah asing sedang menunjuk kertas yang ia bawa. Sesaat Rin terdiam
mengagumi lekuk wajah pria itu.
“Oi..”, panggil pria itu mengibaskan tangan
di depan mata Rin.
“Eh! S-sumimasen.. Hai!”, Rin mengulurkan
kertas tersebut.
“Arigatou na..”
Dasi kuning. Kelas dua ya? Kakak kelas
ternyata.
“Oh! Kau pasti Takamura Rin, benarkan?”
tanyanya.
“H-hai.. Sou desu..”, jawab Rin.
“Kau ramai dibicarakan murid Kaijou lho..
Katanya kau berhasil terpilih jadi ketua OSIS meski masih kelas satu.. Hebat
ya..!”
“Arigatou..”
“Yoshh, ganbatte na.. Ja ne (dah)!”
Pria itu pergi. Rin hanya bisa menatap
punggung pria itu semakin menjauh. Ahh, dia tidak sempat melihat namanya.
Tapi..
“Oh ya!”, pria itu kembali mengejutkan Rin yang
melamun.
“Eh! H-hai..?!”
“Soal nilai ini.. Jangan beritahu
siapa-siapa ya..”
“Hn..?”
“Akan kutambah dengan angka sepuluh supaya
jadi seratus.. Ini adalah rahasia kita..”
“Rahasia..?”
“Mohon kerjasamanya, Takamura-san..”
“Hai...”, jawab Rin.
Lee Taeyong. Pria keturunan Korea dengan
wajah tampan dan senyum sejuk itu namanya Taeyong.
Sekali dua kali tiga kali berkali-kali Rin
berharap bisa bertemu lagi dengan kakak kelasnya. Terkadang ia berpikir mungkin
sekarang Rin sudah menjadi orang yang serakah. Tapi tidak salah kan berharap
bisa bertemu dengan Taeyong lagi?
“Pst..”
Rin membalikkan badan.
“Taeyong-san.. Kenapa kau bersembunyi di
balik sampah?”
“Aku sedang main petak umpet dengan
temanku.. Cepat kemari, nanti ketahuan..!”
Rin menurut saja. Ia ikut bersembunyi di
sebelah Taeyong. Kalau dpikir-pikir, kenapa ia jadi terseret ke permainan anak
SD begini?
“Eee.. Taeyong-san, aku akan ke-“
“Kekekekekekeke..”, Taeyong menahan kekehan
gelinya.
“Taeyong-san?”
“Ah, maaf.. Aku selalu ingin tertawa kalau
melihat wajah konyol temanku disana itu..”
“Maksudmu Nakamoto Yuta-san?”
“Kau kenal?”
“Dia cukup mencolok dengan kepopulerannya
di klub band..”
“Heee.. Sou ka?”
“Ya.. Meski klub band populer begitu, aku
tetap tidak begitu suka..”
“Kenapa?”
“Mereka klub yang sangat tertutup dan
sombong sekali.. Aku lebih suka klub dance.. Mereka mau menerima semua murid
tanpa terkecuali, berjuang bersama, dan mengajari sampai bisa.. Bukankah lebih
mulia?”
Rin akhirnya sadar kalau Taeyong mengamati
wajahnya. Ia pun agak kikuk sendiri disana. Tatapan Taeyong terlalu intens!
“A-apa ada yang salah..?”, tanya Rin.
“Tidak.. Aku hanya sedang mengingat-ingat
wajahmu yang tertidur pulas.. Sepertinya agak beda dengan wajahmu sekarang..”
“Eh?! Taeyong-san! K-kapan.. Kapan kau
melihatku tidur?!”, Rin jadi panik mendengar pernyataan Taeyong.
“Hahaha, sudah kuduga.. Murid teladan
sepertimu, tidur di tengah pelajaran Kakihara-sensei, pasti akan gawat kalau
sampai ada yang tahu..”
Rin menggigit bibir bawahnya takut. Ah, ini
bisa merusak imagenya.
“Tenang saja.. Hanya aku saja yang tahu..”
“Eh? Hanya.. Taeyong-san..?”
“Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa..
Ini akan jadi rahasia kita berdua..”
Lagi-lagi senyum itu. Senyum manis
menyejukkan. Entah kenapa jika melihat Taeyong tersenyum, Rin juga ingin
tersenyum.
Sejak permintaannya untuk bertemu Taeyong
dikabulkan, Rin jadi semakin penasaran. Ia terus memperhatikan Taeyong di
tengah kesibukannya di OSIS maupun di kelas.
“Wajahnya tidak punya banyak ekspresi..
Kalau sedang diam datar hawanya seperti orang serius yang marah.. Tapi kalau
senyum... Ah!!! Tidak adil! Senyumnya bisa membuat bunga bermekaran!”, pikir
Rin di tengah pelajaran berlangsung.
Suatu hari, Rin tak melihat Taeyong sama
sekali. Ia pikir Taeyong absen. Tapi salah. Ketika ia sedang meninjau gedung
lama yang dipertahankan oleh para alumni, ia melihat Taeyong.
Dia sedang tertidur di taman belakang
gedung lama itu. Rin memberanikan diri untuk mendekat. Wah, wajahnya juga masih
tampan dalam keadaan pulas begini. Damai dan tenang sekali sih, seperti bayi.
“Eng.. Beri aku blowjob..”
...
Hai?
M-mengingau? A-apa yang dia mimpikan di
siang bolong seperti ini?! Kenapa ada blowjob segala?!
“Hng? Tidak mau pakai kondom? Hehe.. Rasa
strawberry......”
Taeyong-san bangun!!!!!!!!!!
Wajah Rin merah padam. Ia menggeleng cepat.
“Tae-taeyong.. san..”, panggil Rin sedikit
mengguncangkan tubuh Taeyong.
“Hm..?”, pria itu membuka mata.
“Jangan tidur disini.. Kau bisa sakit..”
“Hoaammmm.. Mimpiku indah sekali..”, ujar
Taeyong bangkit duduk.
Itu mimpi yang aneh, please!!
“Ano.. Apakah Taeyong-san sering kesini
sendirian?”
“Tentu.. Aku suka daerah yang sepi.. Aku
bisa tidur dengan tenang..”
“Kenapa tidak di ruang kesehatan saja?”
“Bahaya.. Kalau sedang tidur, aku sering
mengigau..”
Angin berhembus membuat rambut mereka
menari gemulai. Hening beberapa detik untuk mencerna situasi.
“Kau... Mendengarku mengigau..?”, tanya
Taeyong mendapat sekali anggukan kepala Rin.
Taeyong membuang muka. Wajahnya perlahan
merah karena malu.
“Itu.. Anu.. Eee...”, Taeyong mencoba
mencari kata tepat di benaknya.
“Pft..”
“Hm?”
“Hahahahahahahaha, Taeyong-san lucu sekali!
Bisa-bisanya memimpikan hal berbahaya di sekolah! Gawat kalau sampai ada yang
tahu.. Pft, hahahahahahaha!”, Rin tertawa keras disana.
“Kenapa kau malah tertawa?”
“Habisnya lucu! Baru kali ini aku
mendengarkan igauan seperti itu! Hahaha..”
“Kau.. Tidak takut padaku?”
“Eh? Takut? Kenapa harus?”, Rin duduk di
samping Taeyong.
“Para gadis biasanya akan langsung
menjauhiku setelah mengetahui hal ini.. Mereka akan melarikan diri dalam
keadaan canggung..”
“Heee, kejam..”
“Kau sendiri? Apakah kau tidak merasa aneh
dan menganggapku mesum?”
“Tentu saja tidak.. Blowjob, kondom rasa
strawberry, itu adalah hasrat normal yang dilalui para remaja terutama kaum
laki-laki.. Lagipula aku ada juga karena seks dari orangtuaku.. Ya kan?”
Taeyong menatap Rin dalam diam. Ia
tertegun.
“Aku ini pandai juga lho pada pelajaran
biologi..”
“Takamura..”
“Hm?”
“Ayo kita jadian..”
Waktu
itu, aku tidak bisa berpikir kenapa tiba-tiba Taeyong memintaku untuk jadi
pacarnya. Aku pikir ia hanya bercanda dan ingin menggodaku. Aku juga tidak tahu
kenapa kepalaku refleks mengangguk secara otomatis ketika aku menatap matanya.
Tapi aku tidak menyesal. Semua pradugaku juga terpatahkan ketika Taeyong
menjadi kekasihku.
Dia
benar-benar serius denganku. Dan perasaanku, tidak hanya sekadar simpati
sementara. Kami saling mencintai. Dan cinta itu semakin berkembang dari waktu
ke waktu. Banyak rahasia yang kami bagikan satu sama lain. Hobi aneh kami,
keluargaku, dan jati diri asli kami.
$$$$$
Taeyong
menatap sebuah phone-strap couple dengan kosong. Ia masih tenggelam dalam
kehampaan hati. Waktu rasanya berjalan lebih lambat. Kapan dia bisa menghubungi
Rin? Kapan kapan kapan kapan kapan?????
“Ano..
Nakamoto-senpai.. Apakah tak apa membiarkan Taeyong-senpai berkeliaran
sendirian?”, tanya Hakuro melihat Taeyong mengadahkan kepala protes pada dunia.
“Diamkan
saja.. Efek sakit..”, jawab Yuta singkat.
Hakuro
tersenyum geli. Taeyong mirip dengan Rin. Di luar mereka sangat kuat dan kokoh,
tapi sebenarnya mereka hanya bayi yang manja dan butuh kasih sayang. Hahaha.
Ah,
Rin ya. Memikirkannya, Hakuro menundukkan kepala. Yuta melirik ke arah Hakuro.
Ia lalu kembali mencari aksesoris di etalase kaca.
“Boleh
aku melihatnya?”, pinta Yuta ke penjaga toko.
“Silakan,
tuan..”
“Oi,
Hayashi.. Kemari sebentar..”
Hakuro
berjalan mendekat. Tubuhnya menegang begitu cepat ketika Yuta memasangkan
kalung di lehernya. Jaraknya tadi dekat sekali! Dia bahkan bisa mencium aroma
parfum Yuta!
“Wah,
kalung itu cocok sekali dipakai nona ini..”, ujar penjaga toko.
“Tentu
saja kau akan bilang cocok, kan ini barang daganganmu.. Coba ambilkan yang
itu..”, Yuta meminta model lain karena ia tidak puas dengan kalung yang ini.
“Baik,
tuan..”
Setelah
mendapat kalung yang ia minta, Yuta kembali memasangkannya pada Hakuro. Gadis
itu masih mematung di tempatnya tak bergerak sesenti pun.
“Hhmm..
Hayashi memang cocok dengan sakura ya! Hahaha.. Paman, aku ambil kalung yang
ini.. Berapa?”
“Yang
itu empat puluh ribu yen..”
Hakuro
dengan cepat menoleh menatap paman penjaga toko itu dengan sangat kaget. Empat
puluh ribu yen?! Mahal sekali!!
“Kemahalan..
Beri diskon, aku masih pelajar..”, kata Yuta.
“Iya
iya, akan kudiskon.. Tiga puluh sembilan ribu yen..”
“Nah,
terimakasih atas diskonnya..”
Cuma
dikurangi seribu yen! Ini masih terlalu mahal!!
“N-nakamoto-senpai!”,
panggil Hakuro akhirnya bisa bersuara.
“Hm?”
“T-tidak
usah membelikanku kalung ini..”
“Lho?
Kau tidak suka?”
“Suka
sih.. Tapi ini mahal sekali..”
“Paman
ini sudah memberi diskon, jadi tak apa..”
“Tapi
Nakamoto-senpai, diskonnya tidak tulus begitu..”
“Suka
tidak suka, mau tidak mau, akan tetap kubeli..”
“T-tapi..”
“Ini
hadiah..”
“Hadiah..
Untuk?”
“Entahlah..
Aku hanya ingin memberimu hadiah.. Apa butuh alasan?”
Kalau
alasannya seperti itu beli yang lebih murah saja kenapa sih? Ini terlalu mahal,
tidak mungkin Hakuro tega menghabiskan uang tabungan Yuta hanya karena kalung
ini.
“Lagipula
bukankah kau suka sakura?”
“Eh?
Y-ya.. Darimana-“
“Hayashi
baunya sakura sih..”
Barusaja
Hakuro bisa bergerak, ia kembali terpaku. Apa Yuta mencium aroma tubuhnya?
Bisa-bisanya bicara seperti itu.
“Eh?
Bunyi apa itu? Dug dug dug begitu..”, Yuta menatap ruangan mencari asal suara.
Apa
dia tidak tahu kalau jantung Hakuro sudah berlomba? Tapi tidak mungkin Yuta
sampai dengar kan?
‘Duk
duk duk duk duk’, suara itu memang terdengar. Tapi bukan dari jantung Hakuro.
“Yuta!!!!”,
teriak Taeyong (si biang suara dukduk) berlari mantap menerjang Yuta.
“Taeyong
apa yang- Uwah!!!!!”, Taeyong melompat ke gendongan Yuta.
“Aku
pinjam uangmu besok pasti akan kukembalikan aku mau beli ini tapi uangku untuk
beli obat jadi kumohon pinjami aku uangmu dulu ya ya ya ya ya ya!!!!”, begitu
cepat penjelasan Taeyong :’)
“I-iya..
K-kau cepat turun.. K-kau berat.. K-kau mencekikku..”, Yuta kehabisan nafas
saking eratnya pegangan Taeyong.
“Yatta
(hore)! Terimakasih! Kau memang sahabatku!”
“Taeyong-senpai
beli apa?”, tanya Hakuro mengikuti Taeyong ke kasir yang ada di belakang Yuta.
“Gelang
kaki untuk Rin..”
“Wah,
kawaii!”
“Hehe!
Hiasan kepala-kepala kucing ini akan selalu menerornya..! Hahahaha..”, Taeyong
tertawa jahat.
“Meneror
Rin? Kenapa?”
“Dia
akan selalu ingat kalau dia pernah pakai kostum pelayan kucing.. Dan lagi,
kakinya Rin itu besar.. Pasti akan semakin seru untuk menggoda Rin dengan
membelikan gelang kaki..”, bisik Taeyong.
“Pft..!
Jahat sekali.. Hahaha..”
Taeyong
menatap gelang kaki yang ia beli, meski hutang dulu sama Yuta. Ia tersenyum
disana.
“Hmm, hari ini tidak ada yang spesial.. Apa
aku bolos saja?”
Taeyong berjalan santai sambil memikirkan
niatan buruk.
“Ah, atau kutemui Takamura saja? Tapi dia
kan ketua OSIS pasti sibuknya bukan main..”
Kejadian
yang terekam baik di otaknya sampai saat ini pun kembali terputar. Kejadian
dimana sebuah rahasia kembali mengisi tabungan hubungan Taeyong dan Rin.
“O-oi.. Takamura.. Kau, kenapa..?”, tanya
Taeyong agak tertegun.
“Tinggalkan aku.. Aku tidak ingin kau melihatku
sekarang..”, jawab Rin dengan suara parau.
Saat itu, untuk pertama kalinya Taeyong
melihat Rin menangis. Ia benar-benar menangis tak bisa berhenti di sudut gudang
penyimpanan alat olahraga. Taeyong berjalan mendekat lalu ikut duduk di samping
Rin dalam diam. Ia hanya menemani Rin disana. Suara isakan dan tetesan air mata
Rin adalah penguasa ruangan disitu.
“Kenapa..”, ujar Rin. “Kenapa kau tidak
bicara apa-apa?”
“Karena aku tidak mengerti bahasa air
mata.. Jadi aku tidak tahu bagaimana aku harus bicara padamu saat ini..”
“Aku kesal pada diriku..”, kata Rin masih
tak menatap Taeyong. “Kenapa aku selalu menyesali keputusanku? Aku menyesal
telah membenci ayahku.. Tapi aku juga menyesal telah menyayanginya.. Aku
menyesal telah memikirkan untuk pergi dari rumah.. Tapi pada akhirnya aku juga menyesal
kenapa aku tidak melanjutkan niatan itu..”, jelas Rin.
Taeyong masih terdiam mendengarkan Rin. Ia
juga tak memberikan tatapan iba ke Rin. Taeyong justru menatap lantai.
“Aku sudah berusaha sebaik mungkin melampaui
batasku sendiri.. Tapi ayah tetap membelakangiku.. Aku ingin dia memberikan
perhatiannya padaku.. Sehari saja, tidak, hanya sejam pun juga tak apa.. Aku
hanya butuh sedikit waktu untuk menyalurkan perasaanku padanya..”
Rin menatap Taeyong dengan wajah basah dan
mata merah. Ia masih sedikit terisak disana. Taeyong tersenyum sambil menyeka
air mata Rin dengan jemarinya.
“Mulai sekarang, lakukanlah yang terbaik
demi diriku.. Dan berjuanglah untuk dirimu sendiri..”, ujar Taeyong. “Orang
yang memunggungimu tentu akan berbalik dengan sendirinya untuk melihat sinar
terang di belakangnya..”
“Berjuang demi dirimu dan.. diriku?”
“Ya.. Maka dari itu apapun hasilnya kau
harus puas, karena itu adalah usahamu.. Kau tidak akan menyesal..”
Rin menatap mata Taeyong yang menatapnya
dengan tenang. Ia tersenyum lalu mengusap wajahnya agar segar kembali.
“Terimakasih, Taeyong-senpai.. Oh ya, kau
tahu?”, tanya Rin dengan nada lebih ringan.
“Apa?”
“Kau adalah orang pertama yang melihat air
mataku..”
“Heee, omoshiroii (menarik).. Kalau begitu
seharusnya kupotret ya.. Hmmm..”
“Dame yo (tidak boleh)! Jadikan ini rahasia
antara kita saja.. Ya?”
Senyum Taeyong lebih lebar. Ia mengusap
kepala Rin dan mengangguk. “Tentu..”
$$$$$
Rin
mengecek ponselnya setelah kelas usai. Ada sebuah panggilan tak terjawab
disana. Dari Hakuro.
“Hm?”,
ia pun menghubungi Hakuro balik.
“Moshi
moshi, Haku?”
“Ah, Rin..”
“Ada
apa menelfonku? Oh ya! Kenapa kau tidak masuk? Apa kau sakit? Kau baik-baik
saja kan?”
“Aku menjenguk ibu, Rin.. Aku baik-baik
saja kok.. Sebenarnya yang menelfonmu adalah Taeyong-senpai..”
“Taeyong...
Senpai?”
“Un..! Taeyong-senpai, ini Rin..
Bicaralah..”
“Woh, itu Rin? Nice! Halo, Rin! Ah,
akhirnya aku bisa menghubungimu! Hahaha..”, Taeyong
terdengar riang secara maksimal.
“Harusnya
aku yang bilang begitu!!!! Aku sudah mencoba untuk menghubungimu berulang
kali!!!!”, bentak Rin geregetan.
“Ah, itu.. Ponselku ketinggalan.. He he
he..”
“He?
Memang kau kemana? Kenapa absen?!”
“Aku menemani Yuta..”
“Nakamoto-senpai?
Kenapa?”
“Dia leukimia, jadi kutemani check-up di
rumah sakit.. Lalu kami bertemu Hayashi dan memutuskan untuk bolos bersama..
Aku bawakan oleh-oleh untukmu lho!”
“Bukan
waktunya senang!!! Apa maksudmu Nakamoto-senpai leukimia? Kau jangan main-main
denganku ya!”
“Ah, Rin memang susah dibohongi..
Hahahaha.. Aku bangga sebagai pacarmu..”
“Taeyong-senpai..!!
Huh! Lalu sebenarnya kenapa kalian absen? Kemana???”
“Eeemmmm.. Rahasia!”
“Hah?
Rahasia??”
“Sudah ya, Rin! Nanti kukabari lagi!
Baibai~”
“T-tunggu,
Taeyong-senpai!!”
Hubungan
pun terputus. Rin menatap ponselnya dalam diam. Kenapa rahasia? Kenapa kata itu
harus meluncur dari mulut Taeyong? Kenapa ia menyimpan rahasia darinya?
“Tidak..
Aku tidak boleh berpikir macam-macam..”, batin Rin menggeleng-gelengkan
kepalanya agar sadar.
Tapi...
Ini pertama kalinya Taeyong merahasiakan sesuatu dari Rin. Kenapa?
$$$$$
Taeyong
menatap ponsel Hakuro sejenak. Rahasia. Seratus persen Taeyong mengatakannya
tepat di telinga Rin. Taeyong menghela nafas lalu berbalik dan mengembalikan
ponsel tersebut ke pemiliknya.
“Terimakasih,
Hayashi..”, ujar Taeyong.
Pria
itu lalu melangkah menghampiri perawat yang sudah menunggunya di ambang pintu
ruang praktek dokter.
“Kalian
jalan-jalan saja.. Jangan tunggu aku..”, kata Taeyong.
“Aku
akan tunggu sampai selesai.. Jangan cerewet cepat masuk!”, sahut Yuta tegas.
Sepeninggalan
Taeyong, Yuta kembali duduk di sebelah Hakuro. Mereka hening tak tahu harus
bicara apa.
“Taeyong-senpai..
Akan baik-baik saja kan?”, tanya Hakuro.
“Dia
sedang mengusahakannya.. Jangan khawatir..”, jawab Yuta.
Lelucon?
Bercanda? Tipuan? Taeyonglah yang tertipu.
“Tapi anak itu pasti tak ingin siapa pun
tahu tentang penyakitnya.. Mungkin dia akan mengomeliku setelah ini karena
sudah menceritakannya padamu..”, kata Yuta.
“Taeyong-senpai pasti sangat tersiksa..”
“Dia mungkin akan mengangkat topik lain
untuk menutupi rahasianya itu.. Jadi, Hayashi.. Ikuti saja dia.. Ya..?”, pinta
Yuta menatap Hakuro yang juga menatapnya.
“Hai..”
Orang
bodoh mana yang percaya kalau Taeyong hanya kelelahan karena bergadang? Dengan
keadaan seperti itu, bisa-bisanya dia masih tertawa dan menjaili temannya.
Taeyong sanggup tersenyum.
“Setelah
ini akan kuantarkan kau pulang..”, kata Yuta menoleh ke arah Hakuro.
“Tidak
perlu, Nakamoto-senpai.. Aku bisa sendiri..”
“Dame..
Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri..”
“Kau
sudah sangat baik padaku hari ini.. Membelikan minuman, kalung, dan berbicara
padaku.. Kalung ini, pasti akan kuganti..”
“Hah?
Kau bercanda? Aku kan sudah bilang itu hadiah.. Kenapa diganti?”
“Tidak
adil, Nakamoto-senpai.. Pokoknya akan kuganti..”
“Hmmm,
baik gantilah.. Tapi aku tidak terima uang..”
“Eh?”
“Besok..
Bawa dua bekal.. Aku ingin kau makan bersamaku..”
$$$$$
Aku
merebahkan diri di kasur kamar hotel ini. Aku sedang berpikir. Sampai kapan aku
akan tinggal disini? Apakah sampai ayah menemukanku? Atau sampai tabunganku
habis?
Aku
mengecek ponsel. Ayah, nenek, bibi, paman, sampai kepala pelayan, semuanya
menghubungiku. Repot juga sih, baterai ponselku jadi cepat habis karena
panggilan mereka yang tak berhenti-berhenti.
“Ternyata
mereka punya hati juga untuk memikirkanku.. Heh..”, ucapku tersenyum simpul.
Hari
ini aku memikirkan banyak hal diluar kegiatan sekolah. Pertama, Haku. Dia tidak
muncul di sekolah, tidak memberiku kabar, apa dia marah padaku? Kedua, Taeyong.
Sampai sekarang dia belum menghubungiku lagi. Apa yang dia lakukan? Dimana dia?
Pada siapa aku harus bercerita masalahku?
“Tunggu..
Aku tidak bisa beritahu Taeyong-senpai.. Dia bisa mengomel memarahiku.. Dan ini
akan membuatnya cemas.. Aku tidak suka itu..”, pikir Rin duduk di pinggir
kasur.
Tapi
bukankah tadi dia bersama Haku? Apakah Haku cerita? Sepertinya tidak. Buktinya
Taeyong masih berbicara dengan nada ceria begitu. Ah aku penasaran mereka
kemana!!! Sialan pakai main rahasia segala! Curang sekali!!!
Aku
memukuli bantal empuk tak berdosa di atas kasur ini. Setelah puas, aku
mendekapnya. Menenggelamkan wajahku disana. Bau hotel. Bantal ini tidak bau
Haku. Tidak bauku. Dan yang pasti tidak bau Taeyong.
Aku
merasa sangat asing di kamar ini. Sejujurnya, tanpa Taeyong dan Haku hari ini,
aku merasa sangat berbeda. Aku pikir aku akan menjadi gadis yang lebih lega dan
bahagia bisa keluar dari rumah. Tapi....
“Aku
kembali dilema.. Taeyong-senpai.. Sepertinya aku kembali menyesali
keputusanku..”, gumam Rin.
Barusaja
aku hendak tiduran, bel kamarku berbunyi. Dengan malas aku berjalan ke pintu
dan melihat siapa yang datang dari intercom.
Mataku
membulat sempurna, lidahku kelu seketika, tubuhku menegang dan terpaku.
“Ayah...”
$$$$$
Kediaman
Takamura. Disinilah aku sekarang. Tanpa Rin, aku tidak bisa menyebut bangunan
ini sebagai rumah. Ini adalah kediaman Takamura.
“Dasar
anak sialan.. Bisa-bisanya dia tidak mau memberitahu keluarga Rin kemana anak
itu pergi..”, bisik wanita berbibir merah berambut pendek.
“Dia
memang tidak tahu diuntung.. Sudah baik kakak membantu pengobatan ibunya..
Kakak juga merawatnya dengan adil! Tidak tahu malu!”, tambah wanita lain yang
tampak lebih muda.
“Untung
adik ipar punya channel yang bagus.. Jadi bisa menemukan putrinya dengan cepat
tanpa bantuan anak sialan itu!”, sahut pria berjas rapi dengan mata sipit.
“Makanya
ibu tidak pernah mengizinkan Yoshiko memasukkan para Hayashi itu ke keluarga
Takamura.. Mereka tidak layak sama sekali bersanding dengan kita..”, timpal
wanita tua yang diketahui sebagai nenek Takamura.
Tuli
adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untuk menghadapi mereka. Aku harus ke
dapur menyiapkan bekal untuk besok kubawa. Aku bisa saja beli, tapi
Nakamoto-senpai sudah sangat baik. Jadi akan kuturuti permintaannya itu.
“Kau
mau kemana malam-malam keluar dari kamar, hah?”, tanya bibi Michiko, adik paman
Takamura.
“Saya
mau ke dapur..”, jawabku menundukkan kepala sopan.
“Ke
dapur malam-malam, kau mau membakar rumah?”, kali ini kakak paman Takamura,
bibi Aiko yang menanyaiku.
“Saya
hendak menyiapkan bekal untuk besok.. Mohon izinkan saya untuk memakai dapurnya
sebentar..”, pintaku menundukkan kepala lebih dalam.
“Memakai
dapur untuk membuat bekal? Kau pikir kau bisa seenaknya memakai bahan-bahan
itu? Sudah menumpang, gratis, tidak tahu diri, masih seenaknya saja! Sadarlah
dengan posisimu!”, paman Ryosuke, suami bibi Aiko, benar-benar melarangku
dengan nada keras.
“Tapi
saya ada janji yang-“
“Omong
kosong..”, sela nenek datar.
Mulutku
terdiam tak berani bersuara. Nafas pun sedikit kutahan. Oh, tidak. Nenek
Takamura begitu menyeramkan. Kata-katanya sangat tajam dan menusuk. Aku tidak
tahu harus mengontrol hatiku dengan cara apa kalau nenek Takamura marah.
Aku
mendengar suara langkah sepatu kulit jutaan yen milik nenek mendekatiku.
Tubuhku agak gemetar dalam sedetik. Aku meremas tanganku meredam ketakutan.
“Aku
tidak akan membiarkan sampah sepertimu mengotori dapur mahal mendiang
menantuku.. Aku tidak tahu gen apa yang membentukmu.. Ah, tentu saja gen tidak
berguna keluargamu.. Ayah tidak bertanggungjawab yang melarikan diri dari
keluarganya sendiri.. Dan ibu murahan yang menggoda pria-pria kaya..”
Mata,
wajah, kepala, dan dadaku panas. Begitu sesak. Rasanya aku tidak bisa bernafas
sama sekali. Nenek menarik daguku mengarahkan wajahku untuk menatap wajahnya
yang bersih tanpa noda.
“Asal
kau tahu saja.. Kalau tidak karena kuasa hukum yang konyol itu, kau dan ibumu
sudah mati di tanganku..”, ucap nenek dengan nada kalem.
Aku
menangis. Airmataku akhirnya mengalir saat aku menatap nenek. Setelah ia
melepas pegangannya pada daguku, aku langsung berlari masuk ke kamar. Aku
takut. Rin, aku sangat takut. Aku tidak bisa kuat seperti perkataanmu. Rin..
$$$$$
“Rin..
Ayah tahu kau di dalam.. Cepat buka pintunya..”
Aku
masih berdiri mematung di tempatku. Ah, benar. Ayah adalah orang yang patut
ditakuti karena kekuasaannya. Aku terlalu naif berpikir bisa lepas dari ayah
begitu mudah. Ha ha.
Aku
meraih gagang pintu dan membuka kuncinya. Dapat kulihat dengan jelas sosok
ayahku berdiri tegak menatapku dengan kedua matanya. Belum-belum sorot matanya
sudah membuatku tidak nyaman. Apa dia akan menyeretku pulang dengan kekerasan?
Tapi aku tidak melihat bodyguard di sekitarnya.
“Rin..”,
panggil ayahku dengan suara pelan.
“Aku
tidak mau pulang..”, potongku tanpa menatap ayah.
Tiba-tiba
bukan tamparan atau bentakan yang kudapat. Melainkan sebuah pelukan. Pelukan
yang... tak pernah kurasakan.
Aku
terkejut sampai jantungku rasanya mau lepas. Aku baru sadar ternyata dekapan
seorang ayah berbeda dari dekapan kekasih. Pelukan ayah begitu besar dan bisa
menyelimuti badanku.
“A-ayah...”
“Kau
pasti kecewa dan ketakutan selama ini.. Ayah sudah meninggalkanmu sendiri dalam
waktu yang sangat lama.. Ayah hanya baik dalam bekerja, tapi ayah sangat buruk
dalam mempertahankan senyumanmu.. Ayah sudah melanggar janji ayah pada ibumu..
Ayah minta maaf, Rin..”
Aku
baru tahu kalau suara ayah ternyata semerdu ini. Suaranya rendah dan halus.
Kapan terakhir aku mendengar nada seperti ini? Tanpa kusadari ternyata air mata
sudah membuat jejaknya di kedua pipiku.
“Ayah
tidak tahu ternyata selama ini kau begitu menderita.. Ayah pikir dengan bekerja
keras dan memberimu sarana berlebih, kau akan bahagia.. Pikiran ayah terlalu
sempit ya?”
Suaraku
hilang. Bahkan hanya untuk mengucapkan ‘ayah’ saja sangat sulit. Tatapan ayah
lebih lembut dari biasanya. Itu yang membuatku tercengang sampai kehabisan
kata-kata. Aku terus menatapnya memperhatikan ekspresi yang sama sekali belum
pernah kulihat di wajah ayah.
“Setelah
kau pergi dari rumah.. Ayah akhirnya sadar kalau perbuatan ayah itu salah..
Ayah mohon, Rin.. Jangan tinggalkan ayah.. Jangan pergi dari sisi ayah seperti
ibumu meninggalkan ayah..”
Ah,
sou desu ne (begitu ya). Melihat wajah ayah yang sangat menyesal dan hampir
menangis, membuat ku tersadar akan sesuatu. Kita berdua sama-sama takut.
Dibalik figur kerasnya ayah, sebenarnya dia ketakutan sepertiku.
“Ayah..”,
aku memanggilnya dengan kepala tertunduk. “Maukah kau memelukku lagi?”, pintaku
masih tak menatapnya.
Tanpa
berpikir ayah langsung memelukku. Hatiku rasanya sakit. Bukan karena luka, tapi
bahagia.
“Sebelum
meninggal ibu pernah bilang padaku.. Aku tidak boleh menangis sembarangan..”,
kataku di dekapan ayah. “Aku hanya boleh menangis di tempat sepi atau.....”,
aku menggantungkan kalimat membalas pelukan ayahku sejenak. “Di pelukan ayah..”
Aku
menangis menumpahkan semua kesedihanku. Aku sudah tidak menghitung berapa banyak
air mata yang mengalir keluar. Aku tidak peduli mataku akan sembab atau
isakanku akan menghalangiku untuk bicara lancar. Aku hanya menangis dan
menangis disini. Terus menangis sembari ayah membelai kepala dan menepuk
punggungku seperti menenangkan anak kecil.
$$$$$
Yoshiko,
ayah Rin, tak datang untuk menjemput putrinya. Dia justru datang memberi waktu
sendiri untuk Rin. Lagipula Rin juga tidak berniat untuk kembali ke rumah
terlebih dulu. Ia memang butuh waktu sendiri, terlepas dari keluarga Takamura.
Dan yang paling penting, Yoshiko sama sekali tidak menyinggung masalah
perjodohan untuk mempererat hubungan kerjasama perusahaannya.
Saat
ini ayah-anak itu sedang menikmati langit malam yang bertabur bintang di
beranda kamar Rin.
“Kapan-kapan
kau harus membawa anak bernama Taeyong itu ke rumah.. Kenalkan ayah padanya..
Ya?”, ujar Yoshiko dengan nada menggoda.
“Nanti
ada waktunya..”, jawab Rin belum siap menunjukkan sosok kekasihnya yang kurang
se-ons.
“Hah..
Ibumu pasti ikut tidak sabar di atas sana.. Dia pasti akan menjadi orang paling
antusias untuk melihat kekasih Rin..”
“Iya
juga ya.. Hahaha..”
“Ayah..”,
panggil Rin.
“Hm?”
“Maafkan
aku..”, kalimat itu membuat Yoshiko menoleh. “Sekarang ayah harus memikirkan
cara lain untuk membangun hubungan kerja dengan perusahaan besar yang menjadi
incaranmu selama bertahun-tahun..”
“Kau
mengkhawatirkan perusahaan ayah?”
“Tentu
saja.. Pekerjaan ayah adalah hal yang paling kau sukai..”
“Hahaha,
kau tidak usah khawatir.. Ayah dengar putra pemilik perusahaan itu kabur dari
rumah..”
“Hah?
Kabur? Lalu kalau aku setuju, berarti aku hanya menikahi nama putra mereka
saja?”
“Sepertinya
begitu.. Tapi ini masih rumor.. Ayah belum mengecek kebenarannya..”
“Wah..
Ngeri..”
“Begitulah..
Kau tidak perlu khawatir.. Pasti ada cara lain..”
“Oh
ya, ayah..”
“Ya?”
“Haku...
Apa dia baik-baik saja di rumah?”
“Sepertinya
baik.. Kenapa?”
“Aku
juga mengkhawatirkan Haku.. Dia sedikit, eee, pemalu dan penakut..? Dia sering
dibully juga..”, ucap Rin ragu.
“Nanti
biar ayah urus.. Ayah akan menugaskan beberapa orang untuk menjaganya agar
tidak dibully..”
“Eh?
Maksud ayah bodyguard?”
“Tentu
saja!”
Awalnya
Rin hendak melarang ayahnya berbuat sejauh itu. Tapi.... Menempatkan bodyguard
untuk melindungi Hakuro? Kenapa tidak? Pasti akan menarik. Haha,
Nakamoto-senpai~ Hati-hatilah mulai sekarang.
$$$$$
Ah
sial. Kutaruh dimana obatku? Di saku jaket? Atau di atas meja makan? Ah, sakit!
Kepalaku perih sekali. Duh, tubuhku perlahan juga melemas begini. Mana obatku?
Saking
tak bisa mengontrol tubuhku sendiri, aku tak bisa menghindarkan menabrak dan
menjatuhkan barang-barang yang ada di kamarku. Suara berisik ini pasti akan
membuat Yuta terbangun.
“Taeyong!”,
benar kan kataku.
“Yuta..
Obat..”, kataku mengusahakan kalimat.
Dengan
sigap Yuta meraih kotak obat di dekat meja makan. Ia mengambilkan obat dan
segelas air putih yang ada di meja untukku. Ah, lega. Obat ini hebat sekali.
Sekali telan langsung meredakan nyeri. Hmm, akan kunamai vitamin sajalah. Toh
mulai sekarang aku harus meminumnya secara teratur. Seperti minum vitamin gitu.
“Sudah
baikan?”, tanya Yuta.
“Un,
terimakasih..”, jawabku. “Maaf ya, kau jadi repot..”
“Kau
bicara apa? Repot apa? Kau kan tahu kalau aku ini nganggur..”
“Ya
sudah pijat kakiku sini..”
“Bukan
pesuruhmu juga!”, bantahnya menjitak kepalaku pelan.
Yuta
berdiri meletakkan gelas dan obat itu ke meja yang lebih mudah kujangkau. Aku
tiduran menatap langit-langit kamar.
“Kenapa
kau tidak beritahu Takamura?”, pertanyaan itu tepat sasaran sekali.
“Mana
bisa aku memberitahunya hal seperti ini? Baka Yuta..”, jawabku datar.
“Dia
bahkan tahu kelakuan mesummu.. Dia tahu koleksi dan hobi unikmu.. Dia termasuk
orang yang paling mengerti dirimu..”
“Paling
mengerti diriku ya..?”, aku mengulang kalimat itu dengan ragu.
Aku
dapat merasakan Yuta duduk bersandar pada kasurku. Anak ini kalau sudah bangun
pasti susah tidur lagi. Hah, aku jadi merasa bersalah.
“Takamura
adalah orang pertama yang bicara padamu waktu kau kehilangan jejak menuju
Kaijou kan? Dia juga perempuan pertama yang menerima semua keanehanmu.. Kenapa
tak coba kau ceritakan saja?”, kata Yuta.
“Tentu
saja aku tidak tega menceritakan ini ke Rin.. Kau pikir bagaimana perasaannya
nanti? Dia pasti akan sangat terluka dan sedih..”
“Takamura
itu kuat.. Dia bukan tipe gadis yang bisa kau cemaskan bersedih hanya karena
ini.. Dia adalah tipe yang akan berdiri di sampingmu, membantumu..”
“Kurasa
aku tidak siap.. Melihatnya mencemaskanku..”
Kami
lalu larut dalam keheningan. Berpikir pada pikiran masing-masing, kurasa. Aku
memikirkan download-an blue film terbaru, sedang Yuta memikirkan hubunganku
dengan Rin. Haha, bercanda. Aku memikirkan cara untuk bersikap normal di
hadapan Rin besok.
“Tapi,
Taeyong.. Tetap saja kau harus-“
“Sudah,
daripada menasihatiku terus.. Lebih baik kau mempersiapkan lomba kreasi itu..
Sebentar lagi lho..”, selaku sebelum Yuta kembali merusuhi permasalahanku.
“Cih..
Kau kan juga ketuanya..”
“Oi,
Yuta..”
“Apa?”,
nada Yuta menjadi kesal.
“Hayashi..
Menurutmu dia percaya padaku?”
“Percaya
pada kebohonganmu bergadang itu?”
“Ya..”,
jawabku singkat.
“Kurasa
seperti itu.. Bukankah kau mengharapkan dia untuk percaya?”
“Tentu
saja..”
“Kalau
begitu percayalah padanya..”
Ah,
Yuta. Kau baik sekali. Kau memperbolehkanku mempercayai gadis yang kau sukai?
Fufufufu. Tapi Yuta memang bukan tipe posesif sih. Terus kenapa aku malah
memikirkan Yuta? Ah, bikin otak kotor saja.
“Sana
cepat pacaran sama Hayashi.. Aku lelah melihat kalian.. Geregetan sendiri,
tahu?”, celetukku sukses membuat Yuta tergagap.
“U-urusai
(b-berisik)! Tidur saja, cepat!”
Aku
terkekeh sambil memejamkan mata. Haha. Aku tidak sabar melihat YuHaku
benar-benar terwujud. Kapan ya? Aku juga tidak sabar.. Bertemu dengan Rin
besok. Aku pasti akan bangun kan? Tuhan, tambahkan sehari pada umurku setiap
aku melihat senyum Rin.
$$$$$
Jam
sudah menunjukkan lima pagi. Kediaman Takamura sangat hening saat ini. Kecuali
dapur.
Hakuro
sedang membuat dua set bento. Karena tak ingin memakai bahan keluarga Takamura,
ia beli bahan di pasar subuh tadi. Asyik juga, masih sepi dan segar-segar
sayurnya.
“Nona..
Apa yang sedang anda lakukan?”, tanya seorang pelayan yang akan menyiapkan
sarapan.
“Oh,
selamat pagi.. Maaf aku menggunakan dapur tanpa izin darimu..”, kata Hakuro.
“Aduh,
nona.. Jangan terlalu sopan pada pelayan seperti saya.. Nona sedang apa? Ada
yang bisa saya bantu?”
“Tidak,
aku sudah selesai kok..”
“Bento
ini untuk siapa?”
“Ee
itu.. Untuk......”
“Untuk
nona Takamura dan nona ya?”, tebak pelayan itu.
“Y-ya..”,
jawab Hakuro tak yakin.
“Wah,
ternyata nona pandai memasak juga ya.. Memakai dapurnya juga rapi dan teratur..
Persisi seperti nyonya Takamura..”
“Eh?
Ibunya Rin?”
“Ya..
Beliau adalah wanita yang sangat ramah dan suka sekali memasak.. Masakannya
sangat lezat lho!”
Hakuro
hanya bisa berpikir. Kenapa Rin tidak pintar masak juga? Apa karena dia tidak
suka? Ah, tapi untung ada Taeyong yang bisa ‘memaksa’ Rin untuk masuk dapur.
Haha.
“Nakamoto-senpai...
Mungkin ini bento pertama dan terakhir yang bisa kubuatkan untukmu.. Semoga kau
suka..”, batin Hakuro menatap bento yang sudah siap dibawa ke sekolah.
“Eh? Maaf, paman.. Saya tidak begitu
paham..”
“Aku tidak bisa memaksa putriku untuk
membantuku dalam urusan pekerjaan ini.. Karena itu aku butuh bantuanmu,
Hakuro..”
“Tapi....”
“Kau menolak? Tidak suka? Tidak tahu diri
sekali..”, celetuk Michiko sinis.
“Michiko..”, tegas Yoshiko. “Hakuro, kau
tidak perlu menyetujuinya kalau ini memberatkanmu.. Kau juga punya jalan dan
pilihan sendiri..”
Hakuro masih diam menundukkan kepala.
Menggantikan Rin..?
“Paman.. Saya bukannya menolak.. Tapi saya
tidak sesempurna Rin.. Saya tidak yakin dengan mengajukan saya sebagai mempelai
wanita dalam perjodohan itu, akan membuahkan hasil yang anda inginkan..”, ujar
Hakuro.
“Bisa berpikir juga ya dirimu.. Kau tahu
kalau kau tidak layak, bagus..”, kali ini Aiko yang berkomentar dengan sangat
sinis.
“Kak Aiko, jangan seperti itu..!”, Yoshiko
kembali menegaskan untuk tidak ikut campur. “Hakuro.. Kau itu cantik dan
pandai.. Kau hanya kurang percaya diri.. Itu saja..”
Hakuro menundukkan kepala menyembunyikan
wajahnya yang ditatap Yoshiko.
“Anggap saja dia setuju.. Aku tidak sudi menghabiskan waktu hanya untuk menunggu jawaban dari orang yang menjadi parasit
Takamura..”, kata nenek Takamura lalu bangkit berdiri sambil membuka kipas
tangannya.
Nenek melangkah meninggalkan ruangan
diikuti oleh para bibi dan paman.
“Hakuro.. Kau tidak keberatan kan?”, tanya
Yoshiko.
Parasit Takamura. Menumpang. Tidak tahu
diuntung. Kulakukan ini untuk balas budi.
“Ya, paman.. Aku bersedia..”