TLPC,
TaoLen Production Cars, adalah satu brand mobil yang sedang melejit namanya.
Selain mendesain dan meluncurkan mobil inovasi baru, mereka juga memodifikasi
mobil-mobil lama. Tidak hanya desain body
mobil saja, TLPC juga memperhatikan mesin mobilnya. Banyak perusahaan yang
bergerak pada bidang otomotif yang ingin menjadi kolega atau sekadar menjadi
sponsor TLPC, salah satunya adalah Byun Tire
and Wheel yang dikepalai oleh sahabat mereka, Byun Baekhyun.
Saat
ini Tao dan Valen sedang meengerjakan proyek mobil rancangan TLPC yang terbaru.
Deadline waktunya sebentar lagi. Jadi
mereka berdua tidak mempunyai banyak waktu untuk bersantai. Akan tetapi,
kedatangan sahabat karib Tao, yaitu Suga, ternyata sedikit mengubah kesibukan
mereka.
“Undangan
jamuan makan dari Author..”, kata Valen membaca undangan yang ia ambil dari
tumpukan majalah dan koran pagi.
“Author?
Tumben.. Apa dia ingin bermain-main dengan kita lagi?”, tanya Tao menikmati
sarapan paginya.
“Hmmm..
Perasaanku tidak enak.. Nanti coba kuhubungi teman-teman yang lain.. Kalau
mereka datang, aku juga akan datang..”, Valen kemudian menyimpan undangan itu
ke laci khusus undangan.
“Kalau
teman-temanmu tidak datang, kau harus datang.. Kau terlalu ikut-ikut..”
“Biarin..
Daripada sendirian disana?”
“Kan
ada aku..”
“Oh
ya? Kau yakin bisa hadir? Kau kan pria super sibuk.. Bahkan waktu untuk istrimu
saja terbatas..”
“Kau
kesal? Kau merindukanku ya?”, goda Tao dengan wajah nakal.
“Iya
pasti lah.. Mana ada istri yang tidak merindukan sosok suaminya? Tch..”, Valen
berdecak lalu melahap sarapannya.
“Iya
iya.. Aku janji, kalau proyek ini sudah selesai.. Aku akan hiatus untuk
menemanimu..”
“Benarkah?
Wah! Janji ya..!”
“Tentu
saja.. Laki-laki tidak pernah mengingkari janjinya sendiri..”
“Hao ba!”
Sarapan
terasa begitu menyegarkan apabila melihat TaoLen. Awh, beda banget sama sarapan
para jombs ea :”) (sorry, jombs nggak sarapan)
“Eh,
Len.. Malam ini kau ada acara?”, tanya Tao.
“Tidak..
Aku sudah menyelesaikan desain mesin kemarin malam.. Ada apa?”
“Bagus..
Malam ini Suga mengajak kita bertemu.. Dia ingin menraktir kita makan malam..
Katanya sih, permintaan maaf karena kemarin dia tidak serius saat balapan
denganmu..”, jelas Tao.
“Emmmmm..,”
Valen menimbang-nimbang.
“Ikut
ya ya ya ya?”, Tao mendesak Valen tak sabar.
“Iya
deh, aku ikut..”
“Asyik!”
“Kenapa
kau yang senang? Bukankah ini acaranya Suga?”
“Ehm..
Tidak kok.. Aku biasa saja..”, ujar
Tao meminum jusnya.
@@@@@
Malam
hari, Valen dan Tao sedang bersiap untuk pergi ke undangan makan malam Suga.
Valen selesai mandi, sedangkan Tao masih terkapar di kasur.
“Ayo,
Tao.. Mandi, cepat..”, suruhnya keluar dari kamar mandi.
“Hmm..
Lima menit..”, jawab Tao.
“Ha?
Tidak tidak.. Cepat mandi sekarang.. Kau tidak boleh mengecewakan sahabatmu..
Dia jauh-jauh datang kemari..”, Valen berusaha menarik tangan Tao untuk
beranjak dari kasur.
“Ah..
Ah.. Ah..”, rintih Tao lemas tangannya ditarik-tarik.
“Jangan
malah mendesah! Ayo mandi!”, kini Valen memukul pantat Tao pelan agar ia cepat
bergerak.
“Biarkan
aku mengumpulkan jiwa dulu.. Sudah lama aku tidak merasakan tidur siang..”
“Hish..”,
desis Valen.
Mengumpulkan
jiwa adalah salah satu kata yang akan dilontarkan Tao untuk mendapatkan kecupan
hangat dari Valen. Hm, dia mau modus ternyata. Ya sudahlah, daripada telat.
Valen mengecup bibir Tao kilas.
“Sudah,
ayo bangun..”, ujarnya.
“Masih
setengah..”, jawab Tao.
Sebuah
kecupan mendarat dengan lembut di bibirnya lagi.
“Tiga
perempat..”, jawab Tao.
Kali
ini sisir yang mendarat di bibirnya.
“Aw!!”,
rintihnya.
“Sebelum
sandal yang mendarat, ayo cepat bangun..!”, Valen jadi galak :”)
“Iya,
madam.. Siap, madam..”, Tao menurut langsung.
Dengan
menggerutu kesal, Valen mengeringkan rambutnya di meja rias. Tao masuk ke dalam
kamar mandi tanpa menyiapkan baju. Ia pun sadar belum ambil baju, ia keluar
lagi.
“Kenapa
tidak mandi juga?!”, bentak Valen.
“I-ini..
Mau ambil baju, sayang..”, jawab Tao panik.
“Nanti
aku yang siapkan.. Mandi sana!”, kata Valen.
“Segera,
madam..”, kemudian Tao berlari menuju ke kamar mandi.
Eumh
emh mhh, suami-suami takut istri.
“Valen!”,
panggil Tao.
“Apa?”,
jawab Valen berbentuk pertanyaan. (hah?)
“Aku
boleh mandi busa?”
“Nggak
usah aneh-aneh, Tao! Kita bisa telat!”, balas Valen geram.
“Yah...
Sudah lama aku tidak mandi busa..”
“Besok-besok
kan bisa.. Kenapa harus malam ini sih? Oh ya.. Junhui sudah di hotel katanya..”
“Benarkah?
Ajak makan sekalian saja.. Biar Suga tekor..”
“Kau
ini jahat sekali..”
“Sudah
tak apa.. Orang itu kaya.. Ajak saja.. Sekalian kenalan dengan Suga.. Biar
temannya banyak..”
“Ya
sudah, aku hubungi dia..”, jawab Valen mengirim pesan ke Junhui.
Valen
kemudian meraih alat kecantikannya selagi rambutnya dikeringkan dengan sebuah
alat otomatis. Dengan lincah dan terampil, Valen dapat menyelesaikan
dandanannya dalam waktu singkat. Selesai make-up,
Valen menuju ke lemari pakaian. Ia mengambilkan setelan jas untuk suaminya.
Menyiapkan sepatu, kaus kaki, celana dalam, dasi, dan sebagainya. (ada barang
ajaib nyempil di daftar O.O)
“Sudah...
Huf.. Enaknya pakai baju apa ya?”, kini gilirannya memilih baju untuk dirinya
sendiri.
Tao
akhirnya selesai mandi. Ia keluar mengacak-acak rambutnya dengan handuk agar
rambutnya cepat kering. Di atas kasur sudah ada baju lengkap yang siap dipakai
olehnya. Tanpa banyak protes, Tao memakai setelan jasnya. Tampan sekali, uhuy.
Tapi dimana Valen?
“Len..
Kau dimana?”, tanya Tao merapikan handuk-handuk berserakan.
“Di
dalam lemari..”
“Kenapa
lama sekali?”, Tao berjalan mendekat ke ruangan yang disebut lemari oleh
mereka.
Kedua
mata Tao menyaksikan bidadari yang sedang berusaha memakai bajunya. Sepertinya
terlalu sulit untuk Valen meraih zipper
bagian atas gaun itu. Tao tersenyum sambil berjalan mendekat. Ia mengambil alih
zipper gaun Valen dan menaikkannya
dengan mulus.
“Terimakasih..”,
ujar Valen.
“Kau
cantik sekali..”, puji Tao menatap Valen lembut.
“Kau
juga tampan.. Oh! Biar kurapikan dasimu..”, kata Valen.
Tao
menatap istrinya dengan tatapan... ah, sudahlah. Terlalu manis untuk
dituliskan.
“Len..”
“Hm?”
“Wo ai ni..”
“Aku
juga, Tao..”, jawab Valen. “Sudah, ayo berangkat..”, ajaknya.
@@@@@
Sebuah
restoran besar telah disiapkan untuk makan malam kelompok atas nama Suga. Tepat
pada waktu yang sudah dijanjikan, para tamu undangannya sudah datang.
“Gila,
ternyata kau keren juga pakai jas..”, ledek Suga ketika tos dengan Tao.
“Baru
tahu? Heh, ketinggalan zaman kau..”, balas Tao.
“Eh,
nyonya Tao cantik sekali malam ini.. Datang sama pengawalnya ya?”, kata Suga.
“Bukan,
ini sopir saya..”, jawab Valen.
“Hahahahahahaha..
Mati kau, Tao.. Istrimu ada di pihakku!”, Suga tertawa puas.
“Valen....
Kok gitu?”, Tao merengek kesal dengan
imutnya.
“Eh?
Ini siapa?”, tanya Suga menujuk Junhui.
“Oh,
kenalkan.. Ini temannya Valen.. Dia barusan datang dari Beijing..”, Tao
memperkenalkan pria tinggi nan tampan itu.
“Namaku
Wen Junhui.. Senang berkenalan denganmu..”, Junhui berjabat tangan dengan Suga.
“Aku
Suga.. Kalau begitu, silakan duduk semuanya.. Kita akan mulai makan malamnya..
Sudah lapar ini..”, Suga dengan ramah mempersilakan para tamunya untuk duduk.
Mereka
berbincang dan bercanda disana. Suasana begitu hidup dan menyenangkan.
“Besok,
aku akan menraktirmu sepuasnya..”, kata Tao.
“Yang
benar?”
“Iya
lah.. Kau kan berkunjung kemari.. Sudah seharusnya aku yang mengenak-enakkan
dirimu..”
“Kau
punya hati mulia juga ternyata.. Boleh deh!”, Suga langsung setuju.
“Karena
malam ini adalah permintaan maafmu ke Valen, ya berarti tanggung jawabmu
dulu..”
“Tentu
saja.. Malam ini khusus kusiapkan untuk istrimu!”
“Heee,
kau ini.. Genit sekali sama istri orang..! Ck..”
Malam
itu terasa begitu akrab. Suga dan Junhui, dua teman TaoLen yang sudah lama tak
bertemu.
“Jadi
aku dimaafkan?”, tanya Suga.
“Eemmm..
Tergantung..”, jawab Valen.
“Hah?
Belum nih?”
“Kau
mengajak kami makan di restoran mewah, menyewa tempat VIP, tidak lengkap kalau
kau belum menampilkan sesuatu bukan?”
“Betul
betul..”, sahut Tao.
“Kalian
jahat sekali sih..”, Suga meratapi nasibnya. “Ya sudah, akan kumainkan sebuah
lagu dengan piano itu..”, Suga menunjuk grand
piano yang tersedia di ruangan tersebut.
“Benarkah?
Hebat, aku penasaran..”, kata Valen.
Suga
bagkit dari tempat duduknya menuju ke kursi pemain piano.
“Junhui..
Kau bisa main?”, tanya Suga.
“Tidak
buruk..”, jawab Junhui.
“Nah,
main sekalian sini.. Kita featuring..”,
ajak Suga.
“Eh?
Aku?”
“Sudah
sana ikut main sekalian.. Hibur kita..”, dorong Tao.
Junhui
menyusul Suga kemudian mengambil tempat duduk di sebelah pria itu. Setelah
menentukan pilihan lagu, jemari mereka tanpa ragu menekan tuts tuts piano
dengan begitu lincah. Benar-benar melodi yang indah. Ketika Valen sedang serius
menikmati lantunan piano Suga dan Junhui, Tao menatap Valen. Perempuan itu
kemudian menatap Tao balik dengan heran.
“A-ada
apa?”, tanyanya takut.
“Valen..
Aku bukan suami paling hebat yang ada di dunia ini.. Aku juga bukan pendamping
yang sempurna untukmu.. Belum sempat aku membahagiakanmu, aku sudah
mengecewakanmu dengan kesibukan pekerjaanku.. Aku sering membuatmu sendiri dan
kesepian..”
Tao
berjalan ke hadapan Valen dan berlutut dengan satu kakinya.
“Tao..?”,
Valen heran melihat tingkah suaminya.
Tao
tersenyum kemudian merogoh saku jasnya. Sebuah kotak bludru warna deep blue. Ia meraih tangan Valen,
menariknya untuk memegang kotak tersebut. Tangan Tao berada di atas tangan
Valen dengan lembut.
“Mungkin
ini sudah terlambat.. Tapi masihkah kau mau menerimanya?”, Tao membuka kotak
yang ia bawa. “Happy 1st anniversary..”,
ucapnya dengan sepasang anting cantik berkelip di kotak tersebut.
“Tao..
Ini.. Kau tidak lupa??”, tanya Valen tak percaya.
“Bagaimana
aku bisa melupakan momen paling indah dalam hidupku? Meski terlambat dan sempat
membuatmu menangis sedih, kau mau menerima kadoku kan?”
Valen
tersenyum melihat suaminya yang semakin dewasa itu. Ia mengangguk dan
membiarkan Tao memasangkan anting cantik hadiah darinya.
“Aku
berjanji akan membayar setiap tetes airmata yang telah kau luncurkan dari pelupuk
matamu..”, ujar Tao lalu mengecup punggung tangan Valen.
“Aku
tunggu..”, jawab Valen kemudian memeluk Tao.
Awh,
mereka so sweet eak :”) Saya nggak kuat ngetik ke so sweet an mereka (lu jombs
sih soalnya) iya :”) syet kan..?
@@@@@
Selesai
makan malam, Tao dan Valen hendak menuju ke sebuah tempat. Tidak mungkin mereka
menyia-nyiakan kesempatan malam yang indah ini untuk langsung pulang ke rumah.
“Jadi
makan malam permintaan maaf Suga itu hanya kedok saja?”, tanya Valen.
“Begitulah..
Aku tidak tahu harus kapan lagi.. Mumpung ada alibi, ya kumanfaatkan sekalian
saja..”, jelas Tao menyetir.
“Pantas
saja dia menyewa ruangan yang ada grand
pianonya..”, gumam Valen. “Oh ya, besok kita ajak Suga dan Junhui
jalan-jalan, bagaimana?”, tawar Valen.
“Besok...
Emmm..”, Tao sedikit ragu.
“Kau
ada kerjaan?”
“Iya..
Ada pertemuan untuk membahas kelanjutan pembuatan mesin mobil baru..”
“Oh,
ya sudah..”, jawab Valen lalu menatap keluar jendela.
“Kau
marah?”, tanya Tao.
“Tidak..
Kenapa harus marah?”
“Karena
aku mengecewakanmu lagi, mungkin..?”, jawab Tao.
“Ya
sedikit sih..”
“Maaf
ya..”
“Hah,
tak apa.. Lagipula kau bekerja keras juga demi kita berdua.. Kalau butuh
bantuan, kau jangan ragu menelfonku.. Zhidao
ma?”
“Iya,
madam.. Makanya malam ini aku akan memaksimalkan waktu luang denganmu.. Kau
belum lelah kan?”
“Tenang
saja, tadi kita sempat tidur siang.. Jadi tidak terlalu lelah..”
“Bagus..”
“Memang
kau mau mengajakku kemana sih?”, tanya Valen penasaran.
“Rahasia..
Aku mau memberimu kejutan kedua..”
“Kejutan
kedua? Sejak kapan kau begitu mengerti wanita?”, Valen menyilakan tangan
bertanya dengan curiga.
“Sejak
kapan ya? Mungkin sejak mencintaimu.. Hahahaha..”
“Ck,
dasar.. Siapa yang mengajarimu begitu?”
“Baekhyun..”,
jawab Tao polos.
Mobil
mereka berhenti pada sebuah traffic light.
Jalanan sepi dan suasana malam yang dingin tak dapat mengalahkan hawa merona
dari mobil tersebut.
“Ini,
kau harus pakai ini dulu..”, ujar Tao memakaikan Valen tutup mata.
“Hm?
Kenapa?”
“Kan
kejutan.. Tidak seru kalau kau menemukan jawaban tempat yang akan kita tuju di
perjalanan nanti..”
“Iya
deh.. Malam ini aku milikmu..”, ujar Valen pasrah.
Tao
tersenyum setelah selesai mengikatkan penutup mata pada Valen. Semakin ditatap
semakin membuat wajahnya panas. Oh, kekanak-kanakan ya? Hah, sudah menikah dan
memiliki Valen.. rasanya masih saja ingin memeluknya posesif. Ck.
Lampu
berubah hijau, Tao mulai mengegas mobilnya untuk melaju lagi. Tinggal satu
belokan, mereka akan sampai pada tempat kejutan itu. Namun....
‘Tiiiinnnnnn!!’
‘BRAK!’
@@@@@
Sinar-sinar
asing berusaha menginvasi masuk ke dalam mataku. Suara-suara nyaring berpadu
dengan kesibukan dan oceh banyak orang. Badanku serasa hilang tak dapat
kugerakkan. Otakku terus saja mendapat sinyal perih dari sekujur tubuhku.
Pikiranku kosong sebelum pandanganku berubah gelap.
“Detak
jantungnya sangat rendah! Dia kehilangan banyak darah!”, teriak seorang wanita.
“Kita
butuh oksigen lagi, cepat!”, teriak seorang pria.
“Bawakan
alkohol dan perlengkapan jahitnya!”
Kesibukan
tiba-tiba melanda Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit di Hongkong.
“Saya
sudah urus mobilnya..”, kata seorang pria berpakaian polisi.
“Baiklah
kalau begitu.. Terimakasih..”, jawab Suga.
“Bagaimana
dengan sopir truknya?”, tanya Junhui sebelum polisi itu pergi.
“Dia
sedang menjalani pengobatan.. Setelah itu, sudah ada tim kami yang akan
memintainya keterangan..”, jelas polisi setengah baya tersebut.
Suga
dan Junhui sibuk mondar-mandir di depan pintu UGD. Pandangan dan ekspresi
mereka menujukkan perasaan yang sedang melanda. Khawatir.
“Apa
kau bawa ponsel Tao?”, tanya Junhui.
“Ya..”,
jawab Suga.
“Menurutmu,
apakah kita harus menghubungi keluarga mereka?”
“Ini
sudah sangat larut.. Besok saja..”
“Baiklah..”
“Oh,
tapi mereka sedang di Korea kan?”
“Benarkah?
Aku tidak tahu..”
Tak
berselang lama, pintu terbuka dan keluarlah Tao yang terbaring tak berdaya di
atas kasur pasien dengan segala luka yang ada.
“Lukanya
tidak terlalu parah.. Hanya ada lebam dan beberapa luka sobek.. Aku sudah
menjahit dan memberinya obat bius agar ia dapat tidur dengan lelap melewati
malam ini..”, jelas perawat yang membawa Tao keluar.
“Begitu..
Terimakasih banyak..”, jawab Suga.
“Lalu
istrinya?”, Junhui mengalihkan pandangan perawat tersebut.
“Dokter
sedang mengusahakan yang terbaik.. Tunggulah.. Saya akan mengantar tuan ini ke
kamar inapnya..”
@@@@@
Kedua
mata Tao meronta untuk terbuka. Ia terlihat sangat lelah dan lemah. Matanya
melihat ke kanan kiri mengidentifikasi keberadaannya sekarang.
“Tao..!”,
Suga langsung mendekat ketika ia melihat pergerakan dari Tao.
“S-Suga...?”
“Ini..
Kau minumlah dulu.. Tenggorokanmu pasti sangat kering..”, pria itu menuangkan
air minum ke gelas Tao.
“Terimakasih..”,
Tao meminum seteguk air dari gelas tersebut. “Apa yang terjadi?”, tanyanya.
“Kau
kecelakaan.. Mobilmu ditabrak truk semalam..”, jelas Suga.
Tao
terdiam menatap selimutnya. Sepertinya ia sedang merecall kejadian yang telah ia alami. Seketika matanya terbuka lebar
dengan tarikan nafas yang dalam.
“Valen!
Dia bagaimana?!”, tanyanya panik.
“Tenang..
Dia baik-baik saja.. Sedang tertidur di kamar sebelah..”, jawab Suga.
“Aku
harus menemuinya!”, Tao membuka selimut dan turun dari kasur.
“Kau
barusaja sadar..! Tunggulah sampai dokter memeriksa keadaanmu..”, cegah Suga.
“Aku
sudah sadar dan aku baik-baik saja.. Aku harus melihat Valen!”
Tao
melepas tangan Suga yang menggenggam bahunya. Suga menggigit bibir bawahnya dan
mendengus membuang muka. Tao berjalan panik ke kamar sebelah dimana Valen
terbaring tak sadarkan diri. Ia membuka pintu dan menemukan seorang dokter
barusaja mengecek keadaan istrinya.
“Dokter..
Bagaimana keadaan istri saya?”, tanya Tao.
Dokter
itu mengamati Tao. Ia kemudian mengajak Tao untuk keluar ruangan.
“Istri
anda baik-baik saja.. Luka fisiknya akan segera sembuh..”
“Syukurlah..”,
gumam Tao.
“Tapi..”,
dokter itu menatap Tao.
“Apa
ada masalah, dok?”
“Istri
anda mengalami benturan keras di bagian kepala.. Saya tidak dapat memastikan
efek apa yang akan timbul sebelum ia sadar..”
“M-maksud,
dokter...?”, suara Tao melirih.
“Ada
kemungkinan ia akan mengalami amnesia.. Tapi itu masih prediksi saja.. Benturan
di otak tidak selalu berakhir pada amnesia.. Jadi, anda tidak perlu
khawatir..”, dokter tersebut kemudian meninggalkan Tao yang mematung pada
tempatnya.
Tao
memasuki ruang inap Valen. Ia dapat melihat dengan jelas perempuan itu sedang
terlelap dengan sangat tenang di atas kasurnya. Tiga langkah dan Tao berhenti.
Ia tak berani berjalan lebih dekat lagi ke Valen. Dadanya tiba-tiba sakit. Ini
adalah salahnya. Ia yang menyebabkan Valen terluka sampai terbaring begitu
lemah disana.
Tao
keluar dari kamar Valen dan kembali ke kamarnya. Ia melihat Suga yang
menatapnya prihatin.
“Tao..”,
panggil Suga.
Tapi
Tao tak menjawab. Ia duduk di sofa dengan tatapan kosong. Kenapa ia sudah sadar
dan Valen belum? Kenapa tidak dia saja yang berada disana? Ini tidak adil. Dia
yang menyetir, dia yang punya ide untuk pergi, tapi kenapa dia yang baik-baik
saja?
“Seperti
apa...”, gumam Tao. “Seperti apa kecelakaan kami..?”, tanyanya.
“Saat
kau akan berbelok ke kiri di traffic light, sebuah truk menembus lampu merah
dengan kecepatan tinggi dari arah kanan.. Dan menabrak tepat di kursi kanan bagian
depan mobilmu..”, jelas Suga pelan-pelan.
“Tempat
Valen duduk..”, lirih Tao.
“Dengar..
Kau tidak bisa terlihat kacau begini.. Ketika Valen sadar nanti, dia akan
melihatmu.. Kau harus memberinya semangat dan menyambutnya dengan riang..”,
nasihat Suga tak tega melihat Tao.
“Kau
benar..”, jawab Tao tersenyum simpul dengan lemas.
Pada
saat itu..
“Tuan
Tao..!”, panggil seorang perawat membuka pintu ruang inapnya.
Suga
dan Tao sama-sama menoleh menatap perawat itu.
“Istri
anda sudah sadar!”
@@@@@
“Tenang-tenang..
Jangan kerumuni dia.. Emosinya masih belum stabil.. Dia masih kaget..”, suara
dokter terdengar samar-samar mengiringi kelopak mata Valen yang perlahan
terbuka.
Valen
membuka mata dan melihat ke sekitar. Ruangan dan sekitarnya itu terasa asing.
Dimana?
“Kau
ada di rumah sakit.. Kau mengalami sebuah kecelakaan mobil..”, jelas dokter
yang mengerti akan ekspresi kebingungan Valen. “Aku akan memberimu obat penurun
rasa sakit setelah ini..”, lanjut dokter itu kemudian mengotak-atik lemari
obat.
“Hai..”,
sapa Tao.
Valen
tak merespon. Ia hanya menatap Tao.
“Bagaimana
perasaanmu?”
“Tidak
begitu baik..”, jawab Valen ragu masih terlihat takut melihat ke sekelilingnya.
“Tenang
saja.. Setelah minum obat dan istirahat lagi, kau akan pulih..”, ujar Tao
mendapat tatapan cepat dari Valen.
“Kau...
Siapa?”
Pertanyaan
itu membuat dokter, perawat, Suga, dan Tao terdiam terpaku. Harus jawab apa?
“Dia
adalah suamimu..”, jawab dokter itu mengambil alih.
“Suami..?
Tapi aku.. Kenapa sudah.. Apa yang terjadi pada sekolahku?”
“Kau
sudah bekerja, Valen.. Dan kau sudah menikah dengan pria ini..”
Valen
terlihat tak percaya disitu. Ia melihat tangan kanannya. Ada cincin melingkar
menghiasi jari manisnya.
“Aku
suamimu.. Kau tidak ingat?”, tanya Tao.
“Tidak..
Aku tidak mengenalmu..”
Tao
menatap dokter yang berdiri di sebelahnya.
@@@@@
‘Brak!’,
suara meja yang digebrak.
“Apa
yang terjadi?! Kenapa dia lupa ingatan?!”, bentak Tao.
“Tidak
ada yang tahu kepastian efek yang ditimbulkan dari benturan di kepala terutama
otak, tuan Tao!”, jawab dokter itu berdiri dari kursinya menghadap Tao.
Tao
terdiam di ruangan dokter. Kenapa berakhir begini?
“Apa
yang harus kulakukan?”, gumamnya memegang dahinya yang pening.
“Menjalani
rutinitas seperti biasa dapat menjadi salah satu cara agar ingatannya
kembali...”
“Apa
aku akan mengajak perempuan dengan ingatan SMP begitu saja kembali ke rumah?
Dia bahkan tidak mengenalku! Apalagi percaya padaku!”
“Anda
harus mencoba dan berusaha.. Pasien amnesia akan melalui tahap bingung dan
penyesuaian terhadap lingkungan yang ia lupakan.. Sebagai suaminya, anda yang
harus kokoh mendampinginya agar pasien tidak merasa asing..”
Tao
diam. Ia tidak tahu. Bagaimana ia akan hidup dan mendampingi Valenyang
menganggapnya sebagai orang asing?
“Saya
akan memberinya obat penenang untuk membantunya istirahat supaya proses
penyembuhan lukanya cepat..”, jelas dokter tersebut sebelum meninggalkan
ruangan.
@@@@@
Tao
mengamati setiap sudut tubuh Valen. Ia dibawah pengaruh obat penenang katanya.
Ia sedang tidur. Karena shock tadi,
sepertinya kondisi Valen menurun.
“Valen..”,
Tao meraih tangan lemah istrinya. Ia menatap wajah tenang Valen, surganya. Ia
menggenggam tangan hangat itu dengan erat. Mengecupnya penuh harap. Tidak ada
satu kata pun yang terlontar lagi. Tao hanya diam menatap Valen, berkecamuk
dengan pikirannya sendiri, hingga ia tertidur.
Suga
yang kembali membawa makanan melihat Tao yang tertidur menemani, tak melepas
tangan Valen. Ia menghela nafas. Suga kemudian meletakkan makanan yang ia beli
untuk Tao di atas meja. Ia lalu keluar.
“Halo..
Junhui.. Kau sudah di bandara? Baiklah, kutunggu..”, pria itu menyimpan
ponselnya kembali.
@@@@@
Beberapa
jam kemudian, Valen terbangun. Masih sama. Ia masih di tempat dan dalam keadaan
yang sama. Ini bukan mimpi. Ia benar-benar sudah besar dan dewasa. Dan ia sudah
menikah!
Valen
melihat cincin di jari manisnya. Ia tak percaya kalau ini bukan mimpi. Sudah
berapa tahun ia lewati? Tidak. Berapa tahun yang ia lupakan? Lalu orang ini..
Eh? Bukankah pria ini adalah pria yang mengaku sebagai suaminya tadi? Oh,
Tuhan.. Kenapa semua begitu mengejutkannya?
“V-Valen!
Kau sudah bangun..!”, Tao mengusap wajahnya cepat.
“Kau..
Benar-benar suamiku?”, tanya Valen.
“Tidak
perlu memikirkan hal itu.. Pikirkan untuk sembuh dulu saja.. Ini minumlah..”,
Tao menyodorkan segelas air putih.
“Emmm..
Apa yang kau lakukan di kamar ini?”, tanya Valen lagi.
“Aku...
Tidur.. Kurasa..”, jawab Tao ragu.
“Ya..
Kurasa begitu..”, balas Valen tersenyum kecil. “Eee.. Aku belum tahu namamu..
Siapa namamu?”, tanya Valen canggung.
“Tao..
Namaku Tao..”, jawab Tao menelan kepahitan di hatinya. “Apa kau membutuhkan
sesuatu?”, tanya Tao.
“Eemm..
Aku sedikit lapar..”
Tao
tersenyum. Ia berdiri dan menoleh. Ada kantung plastik berisi makanan. Ah,
pasti Suga. Orang itu benar-benar mengerti dirinya. Sahabat yang luar biasa.
“Ini..
Makanlah.. Ini roti selai favoritmu..”, kata Tao.
“Pisang?”
“Ya..
Kenapa?”
“Sejak
kapan aku suka rasa pisang?”, Valen penasaran.
“K-kurasa
sejak.. SMA..”, jawab Tao ragu.
“Benarkah?
Seingatku, aku paling suka selai cokelat..”
“Oh
ya? Sejak berpacaran denganku, kau paling suka makan makanan rasa pisang..”
“Oh!
Dimana aku bersekolah?”
“Kyurin..”
“Apa?
Kyurin?”
“I-iya..
Kenapa? Bukankah dari SD kau di Kyurin?”
“Hah,
tidak mungkin.. Kenapa aku tidak kembali ke Beijing setelah lulus SMP?”
“Apa?
Beijing? Setahuku kau tidak pernah ada niat untuk kesana.. Kau masuk ke SMA
Kyurin dan menjadi salah satu super
students disana..”
“Stefanny,
Arum, Ella, Morella, dan Vanessa?”
“Mereka
juga di Kyurin.. Kalian Kyurin’s super
woman..”
“Kenapa
kita semua di Kyurin?”, Valen berpikir disana.
“Kau..
Baik-baik saja?”, tanya Tao.
“Ya..
Aku tak apa..”
Tak
lama kemudian, sebuah suara menyambut ruang inap dan telinga dua orang di
dalamnya.
“Mama..!”,
panggil Valen melebarkan mata melihat ibunya di ambang pintu.
“Mama..?”,
Tao juga tak percaya ibunya akan datang bersama mertuanya.
“Oh,
Valen!!”, ibunya langsung berhambur memeluk putrinya. “Maaf mama baru datang..”
“Tak
apa, ma.. Yang penting mama datang.. Aku sangat takut..”
“Junhui
yang menghubungi mama dan menjemput mama di bandara tadi..”
“Junhui?
Dia dimana sekarang?”
Tao
menatap memperhatikan Valen. Ia lega karena wajahnya kembali senang. Seperti
anak kecil yang merasa aman ketika ada ibunya.
“Dia
diluar.. Junhui..!”, panggil ibunya.
“Lukamu
tidak serius kan?”, tanya ibu Tao lembut.
“Ya..
Dokter sudah menangani lukaku dengan baik.. Terimakasih sudah datang, ma..”
“Kau
ini bicara apa? Tentu saja ibu akan mendatangimu dimana pun kau berada kalau
kau terluka!”
“Mama..
Kau masih saja memperlakukanku seperti anak SD..”
“Sampai
kapan pun dimata mama kau itu tetap anak kecil, Tao..”, sahut ibunya tersenyum.
“Dokter
mengatakan kalau Valen menjalani rutinitasnya seperti biasa, akan cepat
untuknya pulih dari amnesia..”, jelas Suga setelah berbincang-bincang dengan
dokter yang barusaja mengecek kestabilan kondisi Valen.
“Kalau
kondisi Valen stabil seperti ini, besok ia sudah boleh pulang.. Rawat jalan..”,
tambah Junhui yang juga bertemu dengan dokter tadi.
“Kabar
bagus..!”, ibu Valen tersenyum lebar ke putrinya. “Kau harus mengingat semua yang
kau lupakan.. Pelan-pelan tak apa, asalkan tidak ada yang tertinggal..”, lanjut
ibunya.
“Apa
aku akan pulang bersama tuan, ee, maksudku.. Tao?”, tanya Valen.
“Tentu
saja.. Dia adalah suamimu dan kalian sudah menikah..”
“Ma..
Boleh tidak Junhui menemaniku?”
@@@@@
Demi
kestabilan kondisi emosi dan menjaga Valen agar tidak terlalu kaget, Junhui
ikut menemani. Mereka pulang ke rumah TaoLen yang sangat besar. Valen hanya
melihat kemegahan rumah itu tanpa berkata apa-apa.
“Nah,
ini adalah rumah kita..”, kata Tao.
“Barang-barangnya
sudah diturunkan dari bagasi, pak!”, lapor Suga.
“Bagus..
Kubayar dengan makan malam di rumahku..”, jawab Tao.
“Hah,
murah sekali bayaranmu..”, cibir Suga.
Ketika
Tao dan Suga bercanda, Valen tak bergeming. Oke, dia cukup merasa, er, awkward berada pada situasi itu. Kenapa
orang-orang ini berkelakukan begitu? Valen menggandeng tangan Junhui
berlindung.
“Kau
takut?”, tanya Junhui.
“Iya..
Ini semua sangat asing.. Ayo kita pulang ke rumah saja..”, ajak Valen sedikit
merengek.
“Ini
adalah rumahmu..”
Setelah
beberapa menit, akhirnya mereka dapat masuk ke dalam rumah. Tao menjelaskan
bagian-bagian rumah yang mereka lewati secara sekilas.
“Eh,
aku harus pergi.. Ada pertemuan dengan...”, belum sempat Tao menyelesaikan
kalimatnya, Suga menyela.
“Ssttt!!
Kau di rumah saja.. Barusan keluar dari rumah sakit juga.. Lagipula kau harus
menemani Valen dan mendampinginya agar ingatannya kembali.. Kau lupa yang
dikatakan dokter? Ru-ti-ni-tas..!”, omel Suga.
“Hah,
aku tahu.. Tapi...”
“Biar
aku yang datang menggantikanmu.. Cepat beri aku arahan singkat dalam pertemuan
itu..”, tegas Suga.
“Suga..
Kau baik sekali.. Aku baru sadar sekarang..”
“Kucium
kau.. :”)..”
Suga
akhirnya meninggalkan kediaman TaoLen. Dia benar-benar bisa diandalkan dari
dulu. Hm, baiklah. Sekarang Tao mengajak Valen untuk masuk ke kamar mereka.
Tempat dimana kedua orang itu bergumul bersama melampiaskan segala rasa selama
ini.
“Ini
adalah kamar kita..”, ujar Tao membuka pintu.
Valen
mlihat kamar itu dengan cermat. Setiap sudut dan ornamen yang ada mengisi
ruangan tersebut pun juga diamati. Seperti foto besar yang terpajang di tembok
sisi kasur berada. Foto pernikahan mereka. Terlihat bahagia sekali wajah
perempuan itu.
“Kau..
Kenapa..?”, tanya Junhui melihat ekspresi Valen tak enak.
“Aku
benar-benar sudah menikah.. Aku tak mengingatnya..”, jawab Valen merasa
bersalah.
“Tak
apa.. Pelan-pelan saja..”, ujar Tao. “Oh ya.. Aku ke garasi dulu ya.. Ada yang
tertinggal di mobil..”, pamit Tao.
Tentu
saja melihat Valen begitu tidak nyaman berada di kamarnya sendiri membuat hati
Tao terluka. Ia butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri sebelum bertemu
dengan Valen lagi. Garasi hanya sebuah alasan belaka.
Valen
berjalan kearah pintu yang merupakan almari TaoLen. Ia masuk ke dalam sana melihat
jajaran baju, tas, sepatu, dan aksesoris memenuhi setiap rak dengan rapi.
Matanya melihat sebuah rak album. Ia tertarik kesana. Ada judul di setiap album
foto tersebut. Masa kecil Valen, sekolah, kuliah, pre-wedding, pernikahan, dan masih banyak lagi.
Perempuan
itu mengerutkan dahinya dan mengambil beberapa album foto miliknya. Ia
membukanya dan melihatnya satu-satu.
“Kau
sedang apa?”, tanya Junhui.
“Aku
ingat foto ini.. Ini diambil ketika aku dan teman-teman berlibur ke Hawaii..
Mengunjungi sepupu Morella..”, jelas Valen sibuk mengamati foto-foto yang ia
lihat.
Junhui
memperhatikan dari belakang.
“Aku
juga ingat ini.. Ini setelah pengumuman kelulusan SMP.. Setelah itu.......”
Tak
berselang lama Tao kembali ke kamar. Ia menemukan Valen dan Junhui ada di dalam
almari sedang mengacak album.
“Apa
yang kalian lakukan?”, tanya Tao.
“Kami
sedang mengelompokkan foto-foto ini.. Foto ini jadi media Valen untuk mengukur
sampai waktu mana ingatannya berada..”, jelas Junhui.
“Aku
mengingat semua kejadian sampai kelulusan SMP.. Setelah pengumuman kelulusan,
aku tidak ingat lagi..”, jelas Valen.
“Wah..
Bagus..”, jawab Tao mendekat.
“Kau
terdengar lemas.. Apakah ini hal baru untukku? Aku tidak pernah melakukan ini
sebelumnya?”, tanya Valen.
“Setahuku
tidak.. Kau paling tidak suka hal-hal seribet ini.. Tapi aku senang kau
berusaha untuk mengingat.. Akan kubantu..”, kata Tao.
“Hmm..
Kenapa aku begitu berubah ya? Seingatku, aku adalah orang yang suka hal-hal
mendetail..”, ujar Valen menata foto-foto sesuai masanya.
Tao
hanya tersenyum tak menjawab. Ia sibuk melepas foto dari halaman album.
“Oh
ya, tuan maksudku Tao.. Apakah aku menyimpan sebuah kotak bewarna cokelat tua
di rumah ini?”, Valen menatap Tao.
“Kau
punya banyak sekali simpanan kotak warna cokelat.. Bagaimana spesifiknya?”
“Ada
ukiran hati di tutup kotaknya.. Kuncinya kecil dan kotaknya dari kayu..”
“Sepertinya
tidak ada.. Kau tidak begitu suka menggunakan kotak kayu.. Terlalu menghabiskan
tempat dan berat..”, jawab Tao.
“Benarkah?”,
Valen memanyunkan bibirnya sedikit.
“Memang,
apa isinya? Apa yang kau cari?”
“Ah,
tidak.. Bukan apa-apa..”
@@@@@
Tao
mengajak Junhui dan Valen untuk makan di ruang makan. Memang sudah saatnya
untuk mengisi perut. Sudah siang.
“Biar
aku yang masak..”, Valen mencalonkan diri.
“Biar
kubantu..”, kata Tao.
Mereka
berdua memasak bersama. Sesekali, tidak, selalu. Valen selalu bertanya dimana
letak barang ini dan itu. Padahal dapur adalah area Valen akhir-akhir ini.
Tunggu, Tao tidak bisa berpikir seperti itu. Dia sedang amnesia, tentu dia
harus membantunya.
“Disini
bumbu-bumbu.. Ini tempat sayur, daging, produk olahan seperti keju dan
lainnya..”, jelas Tao.
Tak
butuh waktu lama, Valen dan Tao selesai memasak. Bukan masakan mewah, masakan
rumah khas Valen biasanya.
“Bagaimana?
Enak?”, tanya Valen antusias.
“Ya!
Aku sangat suka..”, jawab Junhui terlihat begitu menyukai masakan yang
dihidangkan.
“Tao..?
Enak?”, tanya Valen hati-hati.
“Manis..”,
komentar Tao setelah mencoba sesuap.
“Kau
tidak suka?”
“Tidak..
Tentu aku suka.. Selamat makan..”, kata Tao.
Salah.
Tao tidak suka. Bukan, mungkin ia tidak biasa. Valen tidak pernah sekali pun
memasak masakan dengan rasa manis. Mereka berdua suka rasa asin. Itu adalah
kekhasan hidangan TaoLen, asin. Tao melirik Valen dan Junhui yang terlihat
sangat akrab. Suasana di antara mereka begitu hangat dan menyenangkan seperti
suasananya saat bersama Valen.
“Setelah
ini, aku akan kembali ke hotel sebentar.. Ada janjian dengan teman ayahku..”,
kata Junhui.
“Perlu
kuantar?”, tawar Tao.
“Tidak
usah tak apa.. Kau temani saja Valen.. Cobalah untuk menunjukkan kebiasaannya..”,
ujar Junhui.
Valen
terlihat tak rela Junhui akan meninggalkannya di rumah itu. Ia butuh Junhui
disana untuk menemaninya agar tak sendiri di tempat asing. Sekarang Junhui
malah pergi dan membiarkannya berduaan dengan pria bernama Tao ini.
@@@@@
“Maukah
kau menunjukkan tempat kerjaku?”, pinta Valen.
“Tentu
saja.. Ayo..”, jawab Tao semangat.
Tao
memandu Valen untuk mengikutinya ke sebuah rumah kecil di belakang rumah. Itu
adalah tempat Valen menghabiskan waktunya untuk bekerja dan berkreasi. Ia
membuka pintu lalu Valen masuk memutar bola matanya melihat rumah tersebut. Ia
tidak berkomentar apa-apa. Hanya mengamati setiap sudut ruangan dan benda-benda
yang ada.
“Apa..
Pekerjaanku?”, tanyanya mengambil secarik kertas.
“Kau
mendesain mobil..”
“Apa?”,
terdengar nada tak percaya dari suara Valen.
“Kau
adalah kepala designer mobil di TLPC,
TaoLen Production Car.. Semua mobil
yang telah kita luncurkan adalah mobil hasil desainmu berkarya disini..”, jelas
Tao.
“Designer mobil? Aku tidak mengambil
sekolah Hukum?”
“Tidak..”,
jawab Tao heran.
“Astaga..
Apa yang terjadi padaku..? Kenapa aku begitu berbeda?”, gumamnya menyatukan
alis.
“Kau
tak suka?”
“Eh?”
“Apa
kau tidak senang dengan pekerjaanmu?”, tanya Tao.
“Aku
tidak pernah membayangkan pekerjaan ini sebelumnya.. Cita-citaku itu menjadi
pengacara..”, kata Valen.
“Oh..”,
Tao mengangguk.
“Kenapa
aku tak bosan dengan keheningan ini ketika membuat desain mobil?”, tanya Valen
melihat katalog mobil hasil karyanya.
“Mana
bisa bosan? Kau bahkan tak bisa diganggu sama sekali kalau sudah masuk kemari..
Dan musik adalah temanmu..”
“Musik?”
“Kau
biasa mendengarkan musik dari speaker
itu..”, Tao menunjuk sebuah speaker
di dekat jendela.
“Apa
yang kudengarkan biasanya?”
“Biar
kumainkan untukmu..”, ujar Tao lalu menekan tombol play di remote.
Sebuah
melodi RnB langsung memenuhi ruangan tersebut dengan begitu keras. Valen
memejamkan matanya erat tak tahan. Ia meminta Tao untuk mematikannya.
“Kenapa?
Kau begitu suka musik ini..”, ujar Tao.
“Aku
sama sekali tidak suka! Matikanlah!”, bentak Valen.
Tao
mematikan musik. Ia membuang muka dan menghela nafas. Tercipta keheningan
disitu.
“Aku
kenapa seperti itu? Kenapa begitu berbeda? Ini sungguh membuatku gila..”, ujar
Valen sedih.
Tiba-tiba
Tao membanting remote yang ada di
tangannya. Valen langsung menatap Tao. Mata pria itu memerah membendung
airmata.
“Ini
juga mengejutkan untukku.. Ini juga membuatku gila!! Dan ini juga berat
untukku..”, kata Tao lalu keluar dari rumah tersebut meninggalkan Valen.
@@@@@
Tao
menaiki salah satu mobilnya yang terparkir di garasi luas rumahnya. Ia
termenung dan sedikit merasa bodoh. Kenapa ia harus marah tadi? Valen punya
ingatan anak SMP, ia pasti sangat terkejut dan sedih melihat pria asing
membentaknya. Hah..
Pintu
mobil dibuka dan Valen masuk duduk di sebelah Tao yang masih menundukkan
kepalanya di setir mobil. Mereka berdua diam merangkai kata untuk diucapkan.
“Aku
akan kembali ke Beijing bersama ibuku..”, ucap Valen tak menatap Tao.
Mendengar
itu, Tao langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Valen cepat tak percaya.
“Tapi..
Disinilah rumahmu.. Inilah rutinitasmu..”, Tao mencoba mencegah.
“Ini
bukan aku, Tao.. Ada yang salah pada diriku..! Semua ini.. Tidak seperti
diriku.. Bukan ini yang kuinginkan..!”, kata Valen.
Tao
diam menatap Valen. Daritadi Valen memang terlihat tak percaya dengan semua
rutinitasnya. Apa ia sangat berbeda dulu dan sekarang? Tapi pulang ke Beijing
dan meninggalkannya sendirian disini itu.....
“Biar
kutemani..”, ujar Tao.
“Tidak..
Aku akan pulang sendiri..”
“Aku
akan membantumu sampai ingatanmu pulih..”
“Akan
kulakukan sendiri! Aku akan menemukan caranya..”
“Bagaimana
caranya? Kau butuh bantuanku, orang yang selalu bersamamu selama ini..”
“Aku
lelah, Tao!”
Sekali
lagi, Tao terdiam ketika bentakan Valen memukul hatinya.
“Aku
lelah selalu membuatmu kecewa.. Semua yang kutanyakan, semua yang kuucapkan,
semua kebiasaanku dulu.. Semuanya tidak sesuai dengan diriku ketika
bersamamu..! Aku lelah melihat wajah sedih dan kecewamu.. Aku tak ingin
membuatmu kecewa dan lebih bersedih lagi karenaku..”, jelas Valen menahan
airmatanya menetes.
“Aku
sudah berjanji padamu di altar.. Meski kau membuatku sedih, tapi aku tetap akan
menerimamu.. Dalam bentuk dan keadaan apapun..”
“Kumohon
Tao.. Beri aku waktu.. Ini sangat membuatku bingung..”
@@@@@
Beijing
memang rumah dan kampung halaman Valen. Tapi itu dulu. Sepertinya dia
benar-benar tidak mengingat apapun tentang dirinya setelah SMP. Karena itu, Tao
memperbolehkan Valen untuk kembali ke rumah di Beijing. Lagipula, ibunya juga
sedang mengambil barang di rumah lama itu.
“Mama..”,
panggil Valen memasuki rumah.
“Valen..?”,
ibunya membalik badan dan tak percaya.
“Mama..!”,
Valen berlari memeluk ibunya.
“Astaga,
nak! Bagaimana kamu bisa sampai disini??”
“Aku
tidak kerasan disana.. Aku takut..”
“Tapi
itu rumahmu.. Lagipula bukankah ada Junhui?”
“Junhui
sedang menemui kolega ayahnya.. Aku tidak mau bersama dengan pria itu, ma.. Aku
sama sekali tidak mengenalnya..!”
Ibunya
terdiam menatap wajah sedih Valen. Ia membelai kepala putrinya dengan lembut
kemudian tersenyum.
“Ya
sudah.. Selama beberapa hari ini, kau boleh tinggal disini bersama mama.. Tapi
setelah itu, kau harus pulang.. Kau harus mengingat Tao, nak..”, bujuk ibunya.
“Aku
tidak yakin kalau dia benar-benar pria yang sangat kucintai.. Bagaimana bisa
aku tidak merasakan getaran apapun saat bersamanya..? Kalau aku mencintainya,
bukankah akan mudah untukku mengingatnya?”
“Pikiranmu
kekanak-kanakan sekali, Len.. Tidak seperti itu cara cinta bekerja..”
“Uh,
sudahlah..!”
Valen
memeluk ibunya senang diizinkan tinggal disana. Paling tidak, dia bisa selamat
dari keasingan rumah Tao di Hongkong. Rumah itu sungguh membuatnya ketakutan
dan ia sama sekali tidak betah disana. Hah.
“Kau
mau kemana, Len?”, tanya ibunya ketika sedang mengemas barang.
“Aku
mau ke kamar.. Kalau tidak salah ingat, kotak itu kuletakkan di bawah kasur..”,
jawab Valen langsung naik ke kamarnya.
“Kotak..??”,
ibunya sedikit berpikir. “Apa dia membicarakan kotak surat itu?”, gumamnya.
Di
dalam kamar, Valen mencari di setiap inci ruangan tersebut. Sebuah kotak yang
sangat ia rindukan. Ia ingin menatap dan memeluk kotak itu erat. Tapi tak ada.
Dimana kotaknya?
“Aneh..
Kenapa hilang begitu saja?”, batin Valen.
“Valen..”,
ibunya memanggil dari luar kamar.
“Ya,
ma?”
“Kotak
yang kau cari itu... Apakah kotak suratmu?”
“Iya..
Apa mama melihatnya? Seingatku kuletakkan di kamarku, tapi sekarang tidak ada..”
Ibunya
mengajak Valen untuk duduk. Ia menghela nafas.
“Kenapa
kau begitu ingin melihat kotak itu sekarang?”
“Disana
tersimpan semua surat dari Junhui, ma.. Aku ingin membacanya lagi..”, jawab
Valen tersipu.
‘Deg!’,
ketakutan ibunya terjadi. Ketakutan kalau Valen punya ingatan hanya sampai SMP,
berarti dia masih punya rasa cinta pada Junhui.
“Kenapa
Junhui?”
“Mama
ini.. Aku kan sudah pernah cerita kalau aku menyukai Junhui..”
“Tapi
itu dulu, sayang..”
“Ma..
Apa mama tidak tahu? Junhui berjanji akan menikahiku kalau ia kembali dari
Berlin, studinya! Sekarang ia sudah kembali dan..”
“Junhui
adalah masa lalumu, Len.. Cobalah untuk mengingatnya!”
“Ih,
mama..! Masa lalu apa? Aku dan Junhui sudah berjanji satu sama lain..”
“Kau
sudah menikahi Tao.. Dia adalah pria pilihanmu..!”
“Lalu
bagaimana dengan Junhui? Kenapa ia membiarkanku menikahi Tao?!”
“Valen..”
“Pokoknya
aku butuh kotak itu sekarang! Aku akan menunjukkannya ke Tao dan Junhui!”
“Kau
sudah membakar dan membuang kotak itu!”, tegas ibunya.
Mata
Valen melebar. Apa yang dikatakan ibunya barusan? Bakar? Buang? Kenapa?
“Apa
maksud mama?”, Valen bersuara parau.
“Kau
melupakan Junhui.. Itu adalah pilihanmu! Kau sudah membakar dan membuang kotak
itu! Kau membuka hati dan lembar baru untuk kehidupan cintamu..”
“K-kenapa?”
“Junhui
tak pernah kembali, Len.. Kau kesal dan sangat lelah menantinya.. Tapi
beruntung ada Tao yang-“
“Aku
tidak mungkin lelah menantinya, ma!!”, bentak Valen bangkit berdiri lalu
berlari keluar ruangan.
“Valen!
Valen!!”
Ketika
Valen berlari, tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit. Tubuhnya jadi lemas tak
bertenaga, nafasnya berat dan pandangannya gelap.
“Valen!!!!”
@@@@@
“Terimakasih,
Tao.. Kau sudah jauh-jauh datang kemari..”, ujar ibunya Valen.
“Tak
apa, ma.. Apa yang dikatakan dokter?”, tanya Tao.
Ibunya
menangis sebelum menjawab. Tao menanti dan menenangkan.
“Valen..
Dia masih dalam masa pemulihan.. Dia tidak bisa menerima informasi yang terlalu
mengejutkan dan berlebihan untuknya.. Ini semua salahku, Tao.. Aku terlalu
memaksanya untuk membuka mata dan mengingat kehidupannya..”, sesal ibunya.
“Sudah,
ma.. Bukan salah, mama.. Mama hanya berusaha demi kebaikannya.. Aku
berterimakasih karena mama membantuku untuk mendampingi Valen..”
“Maafkan
mama ya, Tao.. Mama tidak tahu harus bagaimana membuat anak itu kembali ingat..”
“Tak
apa, ma.. Aku percaya.. Dia pasti bisa..”
Valen
mencuri dengar dari dalam kamarnya. Ia sempat pingsan tadi, sekarang kepalanya
masih agak pening. Pembicaraan ibu dan Tao begitu intens. Apa dia benar-benar
memilih kehidupan ini? Dia benar-benar memilih untuk melupakan Junhui dan
memilih Tao sebagai pendampingnya? Benarkah begitu? Astaga. Kenapa berakhir
seperti ini? Apa yang dia pikirkan sampai dia melepas Junhui? Ia harus cari
tahu.
“Ma..”,
panggil Valen pelan keluar dari kamarnya.
“Valen..!
Kau jangan berjalan dulu.. Kau-“
“Aku
akan ikut Tao pulang..”, sela Valen.
Baik
Tao maupun ibunya hanya bisa diam mematung. Senang sih, tapi juga kaget. Kenapa
tiba-tiba?
@@@@@
“Kau
tidur di kamar ini saja..”, kata Tao.
“Eee..
Denganmu?”, tanya Valen memastikan.
Tao
menatap Valen yang terlihat masih ragu dengannya. Ia kemudian tersenyum sambil
menggelengkan kepala.
“Aku
akan tidur di kamar tamu..”
Valen
mengangguk. Setelah Tao mengambil beberapa pakaian tidur dan perlengkapannya,
ia keluar kamar. Valen menghela nafas mengamati kamar itu. Luas dan nyaman.
Tapi bukan seleranya.
“Hoammm...
Ngantuk..”
Hari
memang sudah malam. Valen memutuskan untuk tidur di atas kasur kamar itu.
Bagaimana pun juga, itu adalah kamarnya. Seharusnya ia bisa nyaman kan?
Keesokan
harinya, pagi hari Valen sudah bangun dan sedang memilih baju. Kenapa bajunya
begini semua? Ia tidak begitu suka dengan model baju seperti ini. Kenapa
dibeli? Cih.
“Hoammmmm...”,
sebuah suara orang menguap memasuki kamar dan menuju almari.
Valen
menoleh dan melihat Tao ada di ambang pintu almari, berdiri disana melihatnya
hanya memakai pakaian dalam.
“Kyaaaa!!!!!!!!”,
teriak Valen menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tergantung di rak.
“Eh?!
Maaf!”, Tao tersadar.
“Kenapa
tidak ketuk pintu dulu?!!”
“Kebiasaan..
Maaf maaf..”, jawab Tao lalu keluar menutup pintu.
Oke,
itu memalukan. Argh!! Pria itu melihatnya hanya memakai pakaian dalam saja!
Aduhhhh, memalukan sekali!
“Bagaimana
Valen?”, tanya Suga menyodorkan sekaleng minuman dingin.
“Belum
ada kemajuan..”, jawab Tao lemas.
“Sabar,
Tao.. Aku bisa bantu apa?”
“Kau
sudah terlalu banyak membantuku, Suga.. Aku jadi sungkan denganmu..”
“Lho? Kenapa sungkan?”
“Kau
datang mengunjungiku.. Tapi aku malah merepotkanmu..”
“Kau
ini mengoceh apa sih? Dengar ya, kita ini adik kakak dari TK.. Masalahmu itu
juga masalahku.. Uangmu juga uangku..”, canda Suga.
“Huuu,
dasar kau!”, Tao tersenyum simpul.
“Hah..
Lalu pria bernama Junhui itu?”, tanya Suga lagi.
“Dia
adalah pria yang paling Valen percayai di lingkungannya saat ini.. Aku meminta
bantuannya untuk menemani Valen agar ia tidak ketakutan..”
“Kau
ini bagaimana sih?! Seharusnya kau yang temani Valen! Kenapa malah dilemparkan
ke mulut harimau lain??”
“Mau
bagaimana lagi? Valen masih belum bisa menerimaku.. Daripada ia keluar rumah
karena tidak kerasan? Makanya aku meminta Junhui untuk menemani Valen siang
sampai sore.. Ketika aku bekerja... Lagipula Valen tidak bisa menerima paksaan
yang mengejutkan otaknya.. Jadi ya aku bisa apa?”
“Dasar
kau.. Ckckckckck..”
“Sudahlah..
Sebentar lagi TLPC akan meluncurkan mobil baru.. Kau mau datang pada hari
peluncurannya kan?”
“Kau
gila? Tentu saja aku datang.. Aku juga mau masuk TV..”
“Dasar
bodoh.. Hahahahaha..”
“Kau
yang bodoh lah..”
@@@@@
Valen
dan Junhui sedang jalan-jalan. Saat ini mereka ada di sebuah cafe di Mall.
Biasa, berbincang dan bercanda. Hah, kalau sama Junhui itu memang asyik. Ia
bisa apa adanya. Nah, mungkin ini saat yang bagus untuk menanyai Junhui. Tapi, Valen
tak bisa menanyakan hal itu ke Junhui begitu saja. Akan sangat canggung nanti.
“Junhui..
Kenapa kau masih jomblo?”, tanya Valen.
“Mungkin
aku terlalu fokus pada kerjaan dan tidak ada waktu untuk memikirkan wanita..”
“Keburu
tua..”
“Hahaha..
Nanti saja lah.. Mudah mencari wanita kalau kau punya uang..”
“Maksudmu
wanita itu gampangan?”
“Lho? Salah?”
“Ya
salah lah! Enak saja.. Aku bisa cari uang sendiri, tahu?!”
“Hahahaha,
iya iya.. Kau kan memang hebat soalnya..”
Valen
melirik Junhui yang meminum kopinya. Hmm.. Daripada menelisik alasan kenapa ia
tidak kembali untuknya, bukankah lebih baik mengambil peluang ini untuk kembali
bersama Junhui? Lagipula sepertinya pria bernama Tao itu tidak terlalu tertarik
padanya.
Dan
begitulah. Waktu yang dihabiskan Valen bersama Junhui lebih banyak dari Tao.
Dan tentu saja, usaha yang Tao lakukan sia-sia. Ia tidak akan mengingat Tao
kalau pria itu tidak bertindak. Namun,...
“Valen!!!”,
teriak Junhui melihat Valen pingsan.
“Cepat
bawa ke kamar!”, ujar Tao.
Mereka
berdua membawa Valen dan membaringkannya di kasur kamarnya.
“Apa
yang terjadi?”, tanya Tao barusaja pulang dari kantor TLPC.
“Aku..
Aku membentaknya..”
“Membentak?”
“Dia
tidak tertarik melakukan rutinitas yang ada di jadwal.. Dia tidak mau mengingat
kehidupannya.. Ia berteriak kalau ia tidak suka dengan kehidupannya ini.. Ia
tidak mau mengingat apa yang dia lupakan maupun dirimu..”
Tao
melebarkan mata mendengar penjelasan Junhui.
“Karena
itu aku memarahinya.. Maafkan aku..”
“Tidak..
Bukan salahmu.. Kau pasti lelah, terimakasih atas bantuanmu, Junhui..”
Ia
akan melukai Valen kalau ia bertindak. Lalu, apa yang harus ia lakukan?