Senin, 04 Januari 2016

SteKai's One Month Moment

Angin lembut yang membawa kehangatan musim ini, membuat bunga-bunga menari. Di tengah suka cita dedaunan yang saling mengintip, sepasang bola mata menatap sepucuk surat dengan begitu intens.

“Bakar..”, ujarnya santai.
“Baik.. Eh? B-bakar? Anda tidak akan memenuhi undangan itu?”, pria imut berambut pirang di belakangnya sedikit menganga tak percaya.
“Jangan sampai ada yang tahu.. Terutama Yang Mulia Kaisar..”
“Ano, Ny-chan.. Kau terlalu banyak menonton Empress Ki..”, jawab pria itu.
“Hm, benar.. Tapi aku serius, Ren..! Kau harus membakarnya.. Jangan sampai siapapun tahu soal ini.. Terutama Kai..”
“Kenapa?”
“Kalau dia tahu aku akan pergi darisini, kau pikir apa yang akan dia lakukan?”

Ren berpikir dengan melihat ke langit-langit ruangan. “Bunuh diri, mungkin..”, jawabnya setengah yakin.
“Masa dia segitunya sih?”, Stefanny heran sendiri. “Ah sudahlah.. Pokoknya sembunyikan ini..”.
“Baiklah..”
“Oh! Ambil kupon doorprizenya.. Siapa tahu kita dapat undian..”
“Okidoki, Ny-chan!”, jawab Ren kemudian beranjak.

Ketika Stefanny hendak melanjutkan merajutnya, ia dikejutkan oleh penampakan yang berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya begitu dekat dan lekat menatap Stefanny secara dalam penuh rasa penasaran. Siapa lagi kalau bukan pemilik wahana (read = rumah) ini?

“Apa yang kalian sembunyikan?”, tanya Kai menyipitkan kedua matanya.
“E-eh!? Ah, Kai! Kau mengejutkanku!”, kata Stefanny terlonjak kaget melihat dakochan raksasa.
“Apa yang kau bicarakan dengan Ren? Apa yang disembunyikan? Ayo beritahu aku.. Ya? Ya? Ya?”, rengek Kai tanpa henti.
“Hah, baiklah..”, desah Stefanny menyerah. “Ada undangan arisan..”, jawab Stefanny sambil mengangkat jarum rajutnya.
“Hm? Masa? Hanya itu? Tidak mungkin.. Kau bohong kan?”
“Tidak.. Untuk apa aku bohong?”
“Kau selalu membuang muka kalau bohong..”
“Ah masa? Hanya perasaanmu saja..”
“Ah, Stef~ Ayo beritahu aku..! Aku bisa insomnia karena penasaran!”, rengek Kai sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan cemberut.
“Tingkahmu tidak sesuai dengan umur, Kai.. Ckckck..”
“Habisnya kau begitu sih..”, bela Kai menusuk-nusuk Stefanny dengan jari telunjuknya.
“Aku tidak akan terpancing dengan aegyomu.. Tidak akan..”, tolak Stefanny masih merajut.
“Ayo beritahu, Stef~! Stef, ah!!”, Kai guling-guling dan akhirnya terjerat benang wol. Babo :”)

Stefanny menahan tawa geli selagi Kai memelas minta bantuan padanya. Ah, wajahnya tidak pernah membuat harinya biru. Sama sekali tidak membosankan. Bersama Kai itu seperti, ah! Aya..

“Stefanny!”, pekik Kai ketika melihat darah segar keluar dari ujung jarinya.
“Haha, tak apa Kai.. Hanya tertusuk jarum benang..”
“Kau mau ambil apa di kotak ini? Biar kuambilkan..”, ujar Kai bangkit setelah meloloskan diri dari jeratan benang wol dengan mudah. Oh, jadi dia pura-pura tidak berdaya? Dasar.
“Aku mau ambil gunting.. Tapi sepertinya tidak ada.. Hhmm, ditaruh dimana ya?”
“Akan kuminta pelayan untuk mengambilkan yang lain..”
“Terimakasih..”
“Kemarikan jarimu.. Akan kuobati..”
“Cuma tertusuk jarum, Kai.. Sama sekali tidak berbekas.. Aku baik-baik saja..”
“Bagaimana kalau jarumnya sudah berkarat? Bagaimana kalau jarumnya diolesi racun oleh musuh? Bagaimana kalau-“
“Sstt! Kau terlalu banyak nonton Empress Ki..”, sela Stefanny.
“Cih.. Kesempatan skinship denganmu jadi hilang kan.. Tch..”, decak Kai memalingkan tubuh kesal.
“Pft.. Hahaha.. Dasar mesum..”

‘JLEB’ aku hidup dimana <<Kai’s mind

Oyabun-sama.. Kehadiran anda sudah dinantikan di Balai Agung..”
“Kenapa semua jadi berlatar Empress Ki :”)”

*TAKE TWO*

Oyabun-sama.. Kehadiran anda sudah dinantikan di Washitsu (bagian serbaguna pada sebuah rumah tradisional) utama..”, suara lembut seorang pelayan mengalihkan obrolan SteKai.
“Kai, kau dipanggil tuh..”, ujar Stefanny masih sibuk merajut.
“Kuhidup dengan siapa.. Ku tak tahu kau siapa..”, Kai masih pundung.
“Kai.. Kai!”, panggil Stefanny lagi.
“Cium aku dan aku akan beranjak!”, jawab Kai menoleh cepat ke Stefanny.
“Heh, teruslah disana.. Tempelkan saja pantatmu disana selamanya.. Jangan salahkan aku kalau Jimin berhasil membawaku pergi..”, cibir Stefanny santai.

“Tunjukkan padaku dimana Washitsu utama..”, kata Kai langsung beranjak membuka pintu menemui pelayannya dengan wajah dan nada cool.
“Ini kan rumahmu sendiri, babo..” gumam Stefanny.
“Yamada-sama.. Anda juga diharapkan untuk hadir..”
“Eh? Aku juga?”

Washitsu utama. Sebuah ruang serbaguna yang dapat dijadikan tempat apasaja sesuai selera. Ruang tamu, keluarga, santai, makan, belajar, dan lain sebagainya tergantung perabot yang disimpan di Oshiire (lemari tempat bobok cantiknya si Doraemon itu loh). Ah, sekarang bukan saatnya menjadi kamus. Saat ini di Washitsu utama rumah Kai telah duduk dengan tegak beberapa manusia yang membuat jantung Kai berdetak lebih cepat. Luhan, Jimin, Ten, nenek tua penilai calon mempelai, paman mencurigakan berkumis kotak, Souta, Anne, dan.. Emi. Glep! (diperankan oleh aktris Jepang Emi Takei~)
Bagaimanapun juga apapun yang terjadi prinsip utama klan Uekusa. Jangan tunjukkan emosi dan perasaanmu.

“Kalian berkumpul lebih awal dari waktu yang dijadwalkan..”, ujar Kai mengawali dengan kalem.
“Emi-chan datang lebih cepat..”, jawab Anne.
“Meski begitu, Emi-san barusaja tiba.. Biarlah dia istirahat lebih dulu..”, sahut Kai sebenarnya sebal karena SteKai time jadi tersita.
“Lebih cepat lebih baik.. Lagipula, adikku..”, Souta menatap Kai meledek. “Kau kan menganggur.. Jangan sok sibuk deh..”, lanjutnya.
Oke, Kai. Sabar. “Ehm.. Ya, aku memang sedang tidak ada kerjaan.. Tapi Emi-san pasti lelah..”, bela Kai.
“Rumahnya cuma beberapa blok darisini, Kai..”, kali ini Anne yang menjawab.
“Benarkah? Kau sudah pindah rumah? Oh begitu..”, jawab Kai manggut-manggut mengerti.
“Kenapa aku punya adik sepertimu sih?”, gerundel Anne.
“Dari kau masih ileran sampai ngompolan juga rumahnya Emi disana terus, bocah..”, timpal Souta kalem.
“Oh ya? Oh, aku baru tahu.. Ehm, baiklah! Karena sekarang semua sudah ada disini, bagaimana kalau kita mulai saja?”, Kai cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. “Jadi, apa mau kalian?”, tanya Kai tegas.
Semua menundukkan kepala. “Kau tidak lupa dengan perjanjiannya kan, nak?”, tanya Souta.
“Kalian masih ingat? Ck.. Aku harap kalian lupa padahal.. Hah.. Ya sudah.. Mulai hari ini rumahku akan ramai.. Bibi Gong Li akan melatih Emi-san dan Stefanny untuk sayembara nanti..”, jelas Kai mendapat bungkukkan badan dari wanita tua berwajah muda dan tegas. (Gong Li aktris Cina itu loh.. Yang syantique :3)
“Paman Ken yang akan menjadi pemandu duel antara Jimin dan aniki..”, jelas Kai lagi dengan malas. (Ken = Ken Watanabe, aktor Jepang, bapaknya Anne Watanabe :’>)
“Oh jadi aku yang sayembara? Kau tidak mau duel demi cintamu? Ya sudah kukalahkan saja, biar Stefanny balik ke rumahnya..”, bantah Souta mencibir.
“Tadi aku bilang siapa? Aku bilang Jimin dan Kai kok..”, ulang Kai tak mau kalah kemudian menjulurkan lidah.
“Kakak dan adik sama childishnya.. Hishh..”, desis Anne kesal.
“Bibi Gong Li, tolong jelaskan pada para peserta.. Apa dan bagaimana penilaian yang akan dialkukan nanti..”, pinta Kai seakan sayembara terbuka.

Wanita awet muda itu berdiri dengan kimononya yang cantik. Wajahnya masih sama daritadi. Tegas dan dingin menunjukkan prinsip wanita Uekusa yang sebenarnya, angkuh dan mahal.

“Akan ada tiga tahap penilaian.. Tiap tahap akan dinilai oleh juri yang berbeda sesuai dengan bidang dan temanya.. Poin tiga untuk yang menang, poin dua jika seri, dan satu untuk yang kalah..”, jelasnya. “Selama masa pelatihan, peserta dilarang melakukan kontak dengan siapapun kecuali pihak yang punya izin kewenangan.. Ada pertanyaan?”.
“Jadi.. Aku tidak boleh bertemu Stefanny, begitu?”, tanya Kai memastikan dengan wajah setengah tidak terima.
“Ya, tuan.. Anda dilarang bertemu sebelum waktu pelatihan berakhir..”
“Tapi nanti.. Bagaimana kalau aku tidak bisa makan? Tidur? Atau..”
“Tuan..”, bibi itu memperingatkan dengan nada dan tatapannya.
“Ehm, maaf.. Silakan lanjutkan..”
“Tahap satu adalah ujian dalam hal rumah tangga, dan keteguhan pada prinsip Uekusa setiap saat.. Mohon para peserta bersiap untuk itu..”, lanjut bibi Gong Li masih kalem namun tajam.
“Baik..”, jawab Stefanny dan Emi.
“Juri untuk tahap pertama ini adalah para pelayan dan tuan besar.. Tahap dua dan tiga akan diumumkan setelah tahap satu selesai..”, bibi Gong Li mengakhiri penjelasannya.
“Aku jadi juri juga? Yehet..”, Kai senang tanpa ada yang tahu kenapa. “Baiklah, paman Ken.. Silakan mulai penjelasannya..”, pinta Kai.
Pria tua dengan wajah tegas dan galak bangkit berdiri. “Tiga ronde duel.. Ronde pertama uji ketangkasan dalam menggunakan senjata.. Ronde kedua adalah uji keterampilan dalam berkendara.. Ronde tiga akan ditentukan oleh Uekusa-sama..”, jelas paman Ken.
“Uekusa-sama yang kau maksud itu.....”, Kai menggantungkan kalimatnya.
“Kakek..”, jawab Souta.
Mwo?!! Dia kan sedang jalan-jalan ria di Afrika bersama kakek mertua!”
“Tadi aku menghubungi kakek.. Dia ikut excited dengan duel ini.. Makanya dia mau ikut andil juga..”
“Kakek tua menyebalkan! Ingat umur kenapa sih?! Tidak suka kalau cucunya bahagia dengan tenang ya?!”, Kai menendang-nendang tumpukan bantal duduk.
“Waktu jeda antara ronde satu dengan selanjutnya akan digunakan peserta untuk latihan dan uji coba duel.. Sekian..”, paman Ken kembali duduk.
“Baiklah.. Pertandingan akan dimulai minggu depan.. Mulai hari ini kalian sudah diperbolehkan untuk latihan..”, Anne berkalimat sebelum meninggalkan ruangan.
“Kai dan Jimin akan menempati rumah dekat dojo.. Emi dan Stefanny akan menempati rumah dekat dapur.. Kalau sudah mengerti.. Bubar..”, ujar Souta.
“Pemimpin klannya kan aku.. Kenapa dia yang memberi titah?”, gerundel Kai mencabuti duri kaktus.

Pada siang hari itu, para peserta bersiap untuk pindah ke hunian yang sudah ditentukan.

“Stef..”, panggil Kai menggandeng tangan Stefanny ketika ia sedang berkemas.
“Hm?”, tapi Kai tak menjawab. “Ada apa? Jangan berwajah sedih begitu..”, kata Stefanny.
“Maafkan aku ya..”
“Untuk?”
“Seharusnya kita sudah bisa merancang pernikahan kita.. Tapi gara-gara kakakku, kau jadi ikut terseret seperti ini..”
“Tak apa.. Lagipula aku lebih suka begini daripada harus susah payah melewati pelatihan yang strict..”
“Berjanjilah padaku..”, Kai menangkup wajah Stefanny. “Kau akan memenangkan semua tahap.. Kau akan menjadi pemenang mutlak.. Arraseo?”.
“Kau juga harus melakukan itu, tuan besar..”, Stefanny tersenyum sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Kai.

“Mungkin aku terdengar jahat.. Tapi bagaimanapun juga aku adalah protagonisnya..”, suara Jimin mengalihkan perhatian SteKai. “Aku akan menghapus janji kalian.. Itu janjiku..”, lanjutnya memutus kaitan kelingking SteKai.
“Hish, anak ini benar-benar..”, Kai kembali menggerundel kesal.

Di lain sisi, Anne menghampiri Souta yang sedang tiduran santai di Roka (teras samping rumah). “Aniki..”, panggilnya dengan tangan terlipat.
“Hm?”, respon Souta tanpa bergerak.
“Kenapa sih kau pakai sayembara segala? Bukankah sejak anak itu lahir sudah diputuskan oleh klan kalau pendampingnya adalah Emi..?”
“Pikiranmu terlalu sempit, Anne..”, Souta membuka kedua kelopak matanya. “Aku memanfaatkan Stefanny dan Emi untuk mengamati kemampuan anak dari klan Hanamatsu itu..”
“Apa? Tapi itu terlalu gegabah dan egois, aniki.. Kau barusaja mengesampingkan keputusan klan hanya untuk keegoisanmu!”
“Tenang saja, adikku sayang.. Nenek bukan tipe yang seenaknya sepertiku..”
“Apa maksudmu?”
“Nenek pasti akan menentang hubungan Stefanny dan Kai.. Dia akan berpegang teguh pada keputusan yang mengikat Kai dan Emi.. Meski kakek setuju dan sudah nyaman pada klan Yamada, kemungkinan besar kakek masih akan patuh pada perintah nenek, bukan?”
“Tujuanmu itu terlalu membahayakan klan, aniki.. Hanya untuk melihat perkembangan Hanamatsu, kau menjadikan adikmu sebagai umpan.. Hah, kau tidak berubah sama sekali..”, Souta diam saja pada omelan Anne. “Kau tidak sungkan pada Emi? Dia tidak tahu apa-apa soal ini.. Bahkan mengenai hubungan Stefanny yang hampir menikah dengan Kai pun dia tidak tahu sama sekali!”.

Souta tertawa kecil. “Kau meragukan kemampuan Emi?”, tanya Souta.
“Dibandingkan dengan Stefanny, dia-”
“Dibandingkan dengan Stefanny, potensi Emi jauh lebih tinggi..”, sela Souta. “Meski bukan dari keluarga yakuza, tapi Emi adalah pilihan nenek.. Dan kau tahu sendiri kan kalau pilihan nenek itu tidak bisa diuji maupun diragukan lagi..”
“Kau juga tidak bisa meremehkan Stefanny, aniki.. Kau tidak ingat dia dari klan Yamada? Dia punya sejarah yang dapat membentuknya menjadi perempuan yang jauh lebih menakutkan dari potensi Emi..”
“Hah, aku lelah mendengar kecemasanmu itu.. Daripada menceramahi aku, lebih baik kau pantau saja perkembangan mereka.. Dan pastikan kau mengatur semuanya dengan baik..”
Anne menghela nafas panjang. “Kau benar-benar licik, aniki..”
Souta menyunggingkan senyum tajamnya, “Oh ya?”.

@@@@@

“Yamada-san..”, panggil kakek Uekusa dari atas unta.
“Oh, Uekusa-san.. Kau sudah kembali.. Bagaimana perjalananmu naik unta?”, kakek Yamada bertanya sambil membawa setusuk daging panggang.
“Luar biasa.. Besok ayo kita beli sepasang unta untuk jalan-jalan santai di rumah cucu kita..”
“Oh! Kau berencana untuk tinggal di rumah Kai nantinya?”
“Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan anak itu hidup tenang..”
“Hahahaha.. Kita punya rencana yang sama..”
“Kau juga berencana untuk ikut tinggal bersama Stefanny setelah dia menikah nanti?”, kakek Uekusa melebarkan mata.
“Iyalah.. Aku tidak bisa lepas dari cucu kesayanganku..”
“Hebat! Kalau begitu, kita jadi tidak kesepian.. Hahaha..”

Obrolan mereka sangat jahat ya. Mau merusuhi kehidupan rumah tangga cucu mereka. Oh oh oh, kakek yang menggemaskan :”)

“Oh, Yamada-san..”, kakek Uekusa mengambil setusuk sate. “Aku dapat kabar dari cucu tertuaku.. Dia bilang kalau ada sayembara yang akan dilakukan di kediaman Uekusa..”
“Sayembara apa?”
“Sayembara antara cucuku dengan orang dari klan Hanamatsu.. Juga sayembara antara cucumu dengan pilihan klan..”
“Hm? Apa maksudmu? Aku tidak paham.. Klan Hanamatsu kenapa sampai ke rumahmu?”
“Dia hendak menjemput cucumu.. Tapi Kai tidak menyetujuinya.. Karena itu cucu tertuaku mengusulkan sebuah pertandingan..”
“Usir saja.. Stefanny dan Kai kan sudah hampir menikah.. Kenapa repot begitu?”
“Masalahnya adalah....”

Kakek Yamada menanti kalimat yang akan dilontarkan kakek Uekusa selanjutnya. Ia menghela nafas berat sebelum mebuka mulut untuk melanjutkan.

“Klan kami punya tradisi yang sudah diakhiri sekarang.. Kai adalah keturunan terakhir yang terikat tradisi ini..”, cerita kakek Uekusa.
“Tradisi apa itu?”
“Tradisi untuk menandai pendamping hidup oyabun klan.. Sebenarnya waktu itu kepala Uekusa adalah kakak pertama Kai, Uekusa Souta, tapi karena suatu hal ia menolak dan menghilang dari rumah.. Karena itu, Kai sebagai keturunan laki-laki yang ada terkena imbasnya..”
Kakek Yamada mendengarkan dengan serius dan seksama. Ia benar-benar teliti untuk hal seperti ini.

“Waktu itu istriku memilih seorang anak perempuan yang cantik dari keluarga biasa, tetangga kami.. Namanya Takei Emi.. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya keluarga itu terikat dengan perjanjian.. Mereka menyetujui ikatan putri mereka dengan cucuku..”
“Tunggu, Uekusa-san.. Kalau Kai terikat dengan perempuan itu, kenapa klan membebaskannya berhuru-hara dengan bebas? Ia sekolah di sekolah umum, melakukan banyak hal tanpa syarat dan larangan..”
“Itu karena istriku pindah ke Rusia.. Ketika umur Kai tujuh tahun, ia kupindahkan ke sekolah umum demi kenormalan hubungan sosialnya.. Aku sama sekali tidak setuju dengan tradisi ini.. Karena itu aku diam-diam menghapus ikatan tradisi secara perlahan..”
“Lalu bagaimana dengan nyonya Uekusa?”
“Ia tidak akan pernah kembali ke Jepang.. Dia sudah menetap disana, menjadi penanggungjawab klan di Rusia..”
“Kalau begitu, bukankah sudah selesai masalahnya?”
“Souta dan Anne membawa kembali ikatan itu.. Mereka adalah cucu kesayangan istriku.. Jadi mana mungkin mereka berpihak padaku?”
“Jadi sekarang cucuku harus mematahkan ikatan Emi dan Kai melalui sayembara?”
“Benar..”

Pria tua itu hening sejenak. Tenggelam dalam proses berpikir di otaknya.

“Aku punya ide..”, kata kakek Yamada.
“Apa? Beritahu aku cepat..”

@@@@@

Bersih-bersih adalah hal dasar yang harus dipahami oleh semua istri yang baik. Tentu tidak hanya memahami, melainkan juga harus melaksanakan. Kebersihan, kerapihan, ketekunan, dan daya juang. Nilai-nilai itu harus ada dalam diri seorang istri yang akan menjadi pendamping oyabun Uekusa.

“Teknik menyapu harus dilakukan dengan benar dalam keadaan stabil..”, baca Stefanny. “Teknik menyapu melingkar dari Belanda, menyapu lurus dari Asia, ini apa-apaan sih?”, gumamnya heran.
“Menyapu tinggal menyapu.. Kenapa pakai teknik-teknik begini? Tch..”, decaknya menutup buku ‘Sapu Bersih Rumahmu dengan Cantik’ karangan Author Mewek. Ia mengambil buku selanjutnya dari tumpukan di sebelahnya duduk.
“Hidangan lezat dengan biaya hemat.. Buku resep karangan Chef Suho.. Suho? Hah, Suho?! Hahahahahaha, judulnya alay!”, tawanya sambil membayangkan wajah Suho.
“Buku berikutnya apa nih? Meditasi untuk inspirasi diri.. Karangan Kris.. Mwo? Kris? Ah benar juga.. Dia kan sempat studi di pegunungan kuil para biksu..”, pada akhirnya Stefanny larut pada buku ajaib Kris ini. Kris is such a great author.

Semalaman baik Stefanny maupun Emi menghabiskan waktu untuk belajar menggali informasi dari buku-buku yang mereka ambil dari perpustakaan keluarga. Saat fajar menyingsing, pendidikan dari bibi Gong Li pun juga dimulai.
Pertama adalah membersihkan rumah. Tanggap, bersih, dan cekatan adalah aspek pentingnya. Kedua adalah menyiapkan sarapan. Menu yang sehat, variatif, dan tidak menghabiskan waktu banyak merupakan kunci dasarnya. Ketiga yaitu menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan oyabun hari itu. Cermat, teliti, dan cepat menjadi prinsip utamanya. Keempat, menyiapkan makan siang. Kelima, menyambut kedatangan tamu dan kembalinya suami. Keenam, menyiapkan makan malam. Ketujuh, melayani kebutuhan oyabun. Itu adalah serangkaian tugas yang harus dilakukan peserta.

“Ada pertanyaan?”, tanya bibi Gong.
“Melayani kebutuhan oyabun disini.. Apa maksudnya?”, tanya Stefanny.
“Kebutuhan secara keseluruhan.. Pakaian, camilan, waktu santai, waktu lembur, sampai kebutuhan biologis...”
“Baik saya mengerti..”

MWO?! Kebutuhan biologis dia bilang?! What the hell.. Lagipula ini adalah ujian untuk menjadi pendamping Kai, bukan ujian masuk menjadi pembantunya! Apa-apaan dengan semua tugas itu? Hah, gila.

“Permisi, maaf mengganggu..”, seorang pelayan membungkukkan badan memasuki ruang belajar.
“Ada masalah apa?”, tanya bibi Gong dingin.
“Kehadiran anda dan para peserta dinantikan di Washitsu utama.. Uekusa-sama dan Yamada-sama telah kembali dari liburan mereka..”
“Apa? Secepat itu?”

Tanpa banyak bincang, Gong Li membawa Emi dan Stefanny menuju ke Washitsu utama. Disana sudah ada seorang kakek berwajah riang (juga hitam terbakar terik matahari Afrika).

“Gong Li! Ohohoho.. Kau tidak berubah sama sekali!”, sapa kakek Uekusa.
“Terimakasih, Uekusa-sama.. Tapi anda hanya seminggu meninggalkan Jepang, jadi tentu saja belum ada perubahan dari diri saya..”, jawab bibi Gong.
“Benar juga.. Oh lihat! Emi-chan sudah disini! Bagaimana kabar keluargamu?”, kakek Uekusa bergeser perhatian ke perempuan di sebelah bibi Gong.
“Terimakasih sudah bertanya, Uekusa-sama.. Keadaan mereka baik-baik saja dan sehat.. Ini juga berkat kebaikan anda..”, jawab Emi tersenyum dan membungkuk sopan.
“Bagus.. Aku senang mendengarnya.. Lalu, Stefanny.. Kau terlihat menawan dengan busana khas Uekusa.. Apa kau kerasan disini?”
“Tentu saja.. Semuanya memperlakukanku dengan baik disini.. Aku sangat berterimakasih pada klan Uekusa.. Ngomong-ngomong, kakek.. Dimana kakekku?”
“Oh dia sedang menurunkan oleh-oleh.. Kami bawa unta!”, lapornya bangga. Untanya benar-benar dibeli :”)

Saat itu, sebuah suara familiar memenuhi ruangan. “Uekusa-san! Kaktusnya mau ditaruh mana?”, begitu katanya.
“Ah benar! Taruh saja di kamar Kai! Itu hadiah dariku untuknya..!”, jawab kakek Uekusa menghampiri.

Tiga perempuan disana pun ikut keluar mengikuti jejak kakek Uekusa. Mereka disuguhi pemandangan oleh-oleh yang fantastis. Kaktus, unta, pakaian gurun, senjata suku Afrika, sampai orang lokal juga dibawa pulang. Benar-benar kakek yang berbahaya :”)
Singkat kata, akhirnya mereka bisa duduk dengan tenang di Washitsu utama dengan suguhan secangkir teh hijau hangat dan camilan kue beras.

“Aku sudah mendengar semuanya.. Aku juga tidak bisa menentang dan membatalkan hal ini..”, ujar kakek Uekusa serius. “Karena itu aku lebih memilih untuk ikut andil dalam keputusan disini..”, lanjutnya.
“Hoammm.. Kenapa pagi-pagi sudah ribut sekali?”, Kai memasuki Washitsu dengan mata tertutup dan badan loyo. Ia duduk di deretan kursi, tak sadar akan tatapan kakeknya.
“Kau sudah bekerja dengan keras, Kai..”, sapa kakek Uekusa.
“Hm? Kakek..? Kakek?!”, Kai terkejut melihat sosok kakeknya.
“Maafkan ketidaksanggupan saya, Uekusa-sama.. Saya lalai menyadarkan tuan besar..”, lapor paman Ken masuk bersama Jimin.
“Sudah biasa.. Kau bukan orang pertama yang rela mati untuk membangunkan Kai..”, jawab kakek Uekusa kalem.
“Ehm.. Maaf kalau saya lancang, Uekusa-sama.. Tapi tidakkah anda terlalu santai di hadapan para tamu?”, bibi Gong ingin menyadarkan kakek Uekusa.
“Santai? Oh.. Maksudmu aku harus memasang wajah serius, kaku, dingin, tajam, menusuk itu di hadapan mereka? Tidak tidak tidak.. Aku tidak bisa melakukan itu.. Ekspresi itu hanya digunakan untuk bertemu kelompok lain..”, jelasnya. “Atau ketika ada istriku disini..”, lanjutnya membawa senyum geli di wajah Stefanny dan Jimin.
“Nenek semengerikan itu ya?”, tanya Kai serius.
“Dia lebih buas dari hiu.. Dia akan mencabikmu hanya dengan ketajaman ekspresinya..”
“Karena itulah nenek menjadi perempuan pilihan klan..”, potong Souta masuk ke Washitsu. “Dia bukan perempuan sembarangan..”, ujarnya menatap kakek Uekusa.
“Jadi kakek tidak perlu meragukan pilihan nenek lagi.. Emi-chan tidak akan mengecewakan klan.. Sayembara ini hanya sebagai latihan untuk Emi-chan.. Benar kan, aniki?”, Anne berjalan duduk sambil menimpali.
“Kakak! Kenapa bicara seperti itu? Kemarin bukan begitu kan motif kalian!”, sahut Kai tidak terima.
“Sudah sudah.. Jangan mulai bertengkar..”, sela kakek Uekusa. “Aku pulang lebih awal karena aku juga ingin menjadi bagian dari sayembara ini.. Ada hal penting yang harus kububuhkan pada pertandingan kali ini..”.

Souta melirik kakeknya menunggu kalimat penting.

“Aku akan menambahkan beberapa peserta lain untuk mengikuti sayembara pendamping Kai..”
“Apa?”, Anne menyuarakan ketidaksetujuannya.
“Gong Li, Ken.. Cepat kalian sebar berita ini.. Cari peserta dan seleksi mereka secepatnya.. Enam atau delapan peserta tambahan akan cukup..”, perintahnya pada orang kepercayaan kakek Uekusa.
“Kakek tidak bisa seenaknya saja! Dari dulu kita tidak pernah melakukan hal ini!”, bentak Anne.
“Kenapa aku tidak boleh? Selama Kai belum menikah, aku masih memegang posisi pada klan ini.. Dengan kata lain aku juga bertanggungjawab pada Kai, cucuku sendiri.. Jadi aku punya hak..”, kakek Uekusa membuat Anne menggigit bibirnya kesal. “Souta.. Anne.. Kalian jangan marah padaku.. Pilihan ini, kalianlah yang memulainya.. Kakek hanya membantu dan mendukung..”, lanjutnya santai namun terkesan sinis.

“Kalau nenek sampai tahu.. Apa yang akan kakek lakukan?”, tanya Souta.
“Bukankah sayembara ini untuk melatih kemampuan Emi? Bagus kan kalau Emi bisa mengalahkan semua peserta? Tentu nenek akan bangga dan kita semua akan diyakinkan oleh itu..”
“Hmp.. Jawaban bagus, kek..”, respon Souta tersenyum simpul. “Lalu bagaimana kau akan mengatur hadiahnya?”, tanya pria itu.
“Masalah itu...”, kakek Uekusa mengambil cangkir tehnya. “Serahkan saja padaku..”, lanjutnya kemudian menyruput teh hijau dengan senyum tajam.

@@@@@

“Ah, jinjja..”, keluh Kai menatap awan.
“Ada apa, Uekusa-sama?”, Luhan dengan perhatian bertanya sambil menata oleh-oleh dari kakek Uekusa.
“Aku merasa tidak nyaman.. Di rumahku sendiri..”
“Kenapa?”
“Aku adalah pemimpin klan.. Tinggal selangkah lagi aku dapat menikahi Stefanny.. Tapi tiba-tiba semua iblis itu muncul memperkarakan masalah ini! Argh!! Daridulu sampai sekarang mereka tidak pernah puas mempermainkanku.. Aahhhh..”, desah Kai meratapi nasibnya.
“Maaf kalau saya lancang.. Apakah saya boleh mengutarakan tanggapan?”
“Bicaralah.. Hibur aku..”, jawab Kai masih pada posisi meratapi masa depan.
“Jika saya ada di posisi anda, tentu saya akan sangat bersyukur..”, kata Luhan membuat Kai menegakkan tubuhnya. “Andai kata anda sudah menikah dengan nona Yamada tanpa menyelesaikan perkara ini.. Mungkin dampaknya akan lebih buruk, bukan?”, lanjut Luhan.
“Luhan, kau... Aku sayang padamu!!!”, Kai memeluk Luhan cepat dengan erat. “Berjanjilah padaku satu hal..”, pinta Kai melepas pelukan.
“Tentu.. Saya akan patuh pada Uekusa-sama..”
Pria itu menatap Luhan lekat setelah menghembuskan nafas.

@@@@@

“Kakek Yamada sudah kembali ke kediamannya..”, Ten memasuki ruangan.
“Apa yang kau dapatkan?”, Jimin yang berdiri di Roka mulai bersuara tanpa membalikkan badan.
“Aku tidak tahu harus mulai darimana.. Klan Uekusa punya lajur benang yang sangat kusut.. Karena banyak, tidak, karena terlalu rumit, aku jadi tidak dapat menyusun alurnya..”, jawab Ten menunjukkan ekspresi tertariknya.
“Katakan saja apa yang kau tahu..”, ujar Jimin. “Biar aku yang memikirkan alurnya sendiri..”.
“Seperti yang kakek anda katakan, Jimin-sama.. Orang yang paling berperan dalam mengatur keturunan pada klan Uekusa adalah istri Uekusa-sama..”, Ten mulai melapor. “Kakek dan nenek Kai itu, mereka tidak pernah sependapat dalam hal apapun.. Di klan ini meski terlihat kokoh, sebenarnya mereka terbagi dalam dua kubu..”
“Kakek Uekusa dan nenek Uekusa..”
“Benar.. Kai adalah cucu kesayangan kakek Uekusa.. Sedangkan Souta dan Anne adalah kaki tangan nenek Uekusa.. Untuk wanita bernama Emi itu.. Heh..”, Ten tertawa kecil.
“Kenapa dengannya?”
“Dia akan membuatmu merinding ketakutan..”
Mwo..?”
“Tapi tenang saja, Jimin-sama.. Di antara mereka semua, orang yang paling berbahaya tidak lain adalah Uekusa Souta..”

Jimin menatap taman samping kamarnya dengan tajam. “Kalau aku bisa menguasai Souta.. Akan lebih mudah untukku memisahkan mereka..”.
“Tidak salah, Jimin-sama..”
“Tunggu saja, Kai.. Kau akan berlutut memohon padaku.. Pada saat itulah, aku akan tertawa dan menginjak harga dirimu di depan Stefanny..”

@@@@@

Ujian tahap pertama. Hari ini terasa begitu menegangkan sekali ya! Coba lihat kediaman Uekusa yang sudah sangat sibuk menyiapkan lokasi penilaian. Tes pekerjaan rumah tangga pada tahap awal sayembara terbuka ini diikuti oleh beberapa peserta.

“Wah semuanya cantik-cantik ya..”, komentar kakek Uekusa.
“Kami sudah menyortir peserta sesuai perintah anda, Uekusa-sama.. Klan Kamiya, klan Ono, klan Himura, dan tiga perempuan biasa.. Total peserta, delapan orang..”, lapor bibi Gong.
“Bagus.. Baiklah kita langsung mulai saja..”, ujar kakek Uekusa. “Penjurian akan dilakukan olehku, Gong Li, Souta, Anne, Kai, Jimin, dan para pelayan.. Pada tahap ini hanya akan dipilih empat orang dengan skor paling tinggi.. Empat lainnya akan dinyatakan gugur dan dipulangkan..”, terdengar bisik-bisik tak terima dari beberapa peserta.
“Jaga perilaku kalian!! Uekusa-sama sedang bicara!”, bentak bibi Gong.
“Akan kulanjutkan.. Peserta dengan nilai paling tinggi akan mendapat empat poin.. Tertinggi kedua, tiga poin, dan seterusnya.. Poin ini menentukan oleh siapa kau akan dipilih untuk pelatihan menghadapi tahap dua.. Ada pertanyaan?”, tak ada yang berani berbicara.
“Kalian memang pandai.. Nah, poin satu akan mendapat hak dipilih oleh Anne dari klan Uekusa..”, lanjut kakek Uekusa menjelaskan.

Anne dan Souta menoleh cepat menatap kakeknya. Setelah mendengar nama Anne di hadiah keempat, mereka paham apa rencana kakek mereka.

“Poin dua akan dilatih oleh Souta dari klan Uekusa..”, kalimat itu membuat jantung Souta semakin berdebar kesal.
“Poin tiga oleh Kai dari klan Uekusa..”, Jimin melirik kakek Uekusa. “Itu artinya Jimin akan menjadi hadiah untuk pemegang poin tertinggi..”, kakek itu mengakhiri penjelasannya.
“Aku keberatan!”, Anne angkat bicara. “Kai dan Jimin tidak bisa menjadi reward..! Mereka berdua juga akan berduel! Banyak yang harus disiapkan!”, katanya.
“Aku tidak membuka waktu untuk pertanyaan atau keberatan.. Jika ada yang tidak senang, pintu keluar ada di belakang kalian..”, ujar kakek Uekusa dingin. “Gong Li, mulai tesnya..”
“Baik, Uekusa-sama..”

@@@@@

‘Brak!!!’, meja dipukul dengan keras.

“Apa yang kakek rencanakan?!”, bentak Anne. “Aniki! Kau jangan diam saja”.
“Hmp, ternyata otak kakek masih cerdik..”, ujarnya tersenyum simpul.
“Apa maksudmu?”
“Memperbanyak peserta adalah kedok belaka.. Ia menggunakan peserta lain agar dapat menerapkan sistem hadiah dan poin ini.. Dia bahkan menempatkan Jimin sebagai hadiah pertama dan Kai sebagai hadiah kedua.. Siasat yang baik..”
“Aku tidak paham.. Memang kenapa kakek melakukan hal itu?”
“Bukan hal sulit untuk seorang Stefanny menempatkan posisinya pada juara dua.. Ia tahu potensi Emi dengan sangat baik, karena itulah estimasi kakek adalah Emi juara satu dan Stefanny juara dua..”
“Dengan begitu Stefanny bisa bersama dengan Kai! Kakek ingin mempererat mereka!”, Anne akhirnya mengerti dan dapat membuat simpulan sendiri. “Hah, kakek itu boleh juga.. Kita harus menghentikannya, aniki..!”.
“Hmm.. Kita beri Stefanny penilaian paling rendah.. Dua juri dengan nilai paling rendah sudah akan menurunkan peringkatnya.. Kalau seperti itu, perhitungannya...”, Souta menatap Anne. “Stefanny akan bertemu denganmu atau denganku..”

@@@@@

Sayembara dimulai. Mereka benar-benar mengetes semua kegiatan dari segala aspek. Membersihkan rumah, melayani, semuanya! Dengan batas waktu yang diberikan, para peserta harus menyelesaikan deretan tugas mereka. Membersihkan rumah adalah hal mudah untuk para peserta itu. Semua juri menilai secara objektif dan adil. Kemudian, menyiapkan santapan, emm, sedikit lebih susah.

“Persediaan bahan makan di dapur akan digunakan untuk menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam.. Kalian berdelapan akan dibagi menjadi dua gelombang.. Pertama, Emi putri Takei, Hiroko klan Kamiya, Ai klan Ono, dan Kagura klan Himura.. Kedua, Ryukichi klan Yamada, Yui putri Aragaki, Ayuri putri Yoshinaga, dan Maki putri Horikita..”, jelas bibi Gong.
“Setiap gelombang punya waktu dua jam! Cukup hidangkan satu menu saja untuk tiap sajian.. Silakan mulai, gelombang pertama! Gelombang kedua akan mengerjakan beberapa soal tes..”
“Soal tes?” “Mereka tidak mengatakan soal ini?” “Kenapa tiba-tiba?”, bisik para peserta.

Tak lama kemudian peserta gelombang pertama keluar dengan tiga piring menu mereka. Sarapan, makan siang, dan makan malam. Berikutnya, gelombang kedua.

“Astaga! Mereka menggunakan semua bahannya!”, kata Ayuri.
“Hanya tersisa sayuran dan beberapa onggok daging..”, timpal Yui.
“Bahkan mereka tidak menyisakan beras yang cukup untuk kita berempat..”, sahut Maki.
“Apa yang harus kita lakukan? Hanya tersisa sampah..”, ujar Ayuri.

Ting! Sampah? Stefanny mendapatkan ide.

“Aku akan meminimalisir penggunaan bahan mentah.. Kalian bagilah dan gunakan dengan bijak..”, katanya.
“Lalu kau bagaimana?”, Yui bertanya.
“Aku akan menggunakan bahan itu..”, jawabnya menunjuk keranjang-keranjang kosong yang menyisakan sampah.
“Itu kan tidak bisa dipakai lagi!”, pekik Maki.
“Aku akan memasak menuku sendiri.. Kalian juga masaklah dengan maksimal..”

Pertama Stefanny menggulung lengan panjang bajunya lalu cuci tangan. Sarapan, hm, bubur adalah menu simpel yang tidak mengonsumsi banyak bahan. Tapi persediaan bahan beras sudah sangat sedikit. Oh, gunakan telur saja! Makan siang, ah, dia bisa melunakkan duri ikan lalu menghaluskannya dan dibentuk jadi bakso. Kemudian rebusan tulang ayam yang dikentalkan akan digunakan untuk saus pelengkap baksonya, jangan lupa sayurnya juga. Lalu makan malamnya... Apa yang bisa digunakan? Makan malam adalah hal penting dan krusial dari semua sajian. Hmm..

@@@@@

“Jelaskan masakanmu pada kami..”, pinta kakek Uekusa.

Satu persatu peserta gelombang pertama menjelaskan menu mereka dengan cantik dan luwes (iyalah anak yakuza smua :v). Menunya pun sangat sehat dengan mutu terjamin. Salad, spagetti, steak, sushi, sashimi, omelet, hamburger, lobster, dan lainnya. Terlihat menggiurkan (Author laper :”D). Tiba saatnya Emi, ia membuka tudung saji dan membuat seisi ruangan terpesona. Seperti menu restoran bintang lima!

Sandwich dengan roti gandum, ham, selada, tomat, dan timun.. Mengawali hari dengan menu ini akan sangat bermanfaat bagi tubuh.. Saya memperhatikan kandungan kalori, nutrisi, dan gizi baik yang bagus dicerna di pagi hari pada roti lapis ini..”, beberapa juri manggut-manggut setuju.
“Makan siang yang saya siapkan adalah daging ayam tanpa lemak dan kulit yang dikukus dengan campuran rempah yang dapat menghangatkan dan menjaga stamina tubuh..”, Emi menjelaskan dengan mantap.
“Terakhir adalah makan malam.. Disini saya menyiapkan lobster yang dipadukan dengan daging domba pilihan dan menggunakan saus sayuran dan mayonaise rendah lemak..”
“Bagus, sekarang saatnya untuk mencicipi..”, ujar kakek Uekusa.

Para juri mencicipi setiap hidangan dengan teliti. Memang tidak bisa dipungkiri, Emi memang paling menonjol dan unggul di antara peserta di gelombang pertama.

“Baiklah, kalian boleh menunggu dan mengerjakan tes.. Panggilkan gelombang kedua!”, perintah kakek.

Para peserta gelombang dua masuk dengan wajah yang lebih pikiran daripada gelombang pertama. Mereka cemas, takut, dan khawatir. Kecuali Stefanny, ia tetap menjaga kestabilan ekspresinya.
Mereka mulai menjelaskan menu-menu yang telah mereka buat. Menunya lebih sederhana dan kurang variatif. Daging lada hitam, tumis sayur, kare, masakan rumah biasa.

“Ste, ehm.. Yamada Ryukichi, giliranmu..”, kata kakek Uekusa.

Stefanny membuka tudung saji dengan eskpresi tak berubah.

“Hah? Hanya telur untuk sarapan?”, tanya Anne tak percaya.
“Coba kau jelaskan..”, bibi Gong meminta.
“Membuat telur di pagi hari tidak memakan waktu banyak dan praktis.. Telur dapat digunakan sebagai pengganti sereal.. Kandungan protein, kalori, karbohidrat, dan lemak keduanya sama.. Selain itu, mengonsumsi telur di pagi hari akan membawa rasa kenyang lebih lama..”, jelas Stefanny.
“Tapi, bagaimana bulat telur yang kau hidangkan itu bisa besar sekali?”, tanya Jimin.
“Saya mencampur tiga putih telur dan hanya mengambil satu kuning telur.. Saya merebusnya dalam wadah bulat sehingga kuning telurnya dapat berada di tengah dan akan mempertahankan bentuk oval telur..”, jelasnya lagi membawa senyuman di wajah para juri.
“Makan siang yang saya buat adalah-“
“Hanya itu?”, sela Anne kembali sinis.
“Dengarkan penjelasan peserta sampai akhir!”, sahut kakek Uekusa. “Lanjutkan..”
“Baik.. Bakso ini saya olah dari duri ikan salmon dan tuna yang sudah dilunakkan dan dicincang halus.. Untuk sausnya saya menggunakan kaldu tulang ayam yang kemudian dikentalkan dengan tepung jagung.. Sebagai pelengkap akhirnya adalah saus parutan batang brokoli yang dibuat lebih ringan teksturnya..”
“Makan malam?”, tanya Kai. Stefanny menelan ludahnya sambil memantapkan hati. Ketika tudung saji dibuka....

“Apa.. itu..?”, bisik para juri.
“B-bisa kau jelaskan?”, pinta Kai.
“Makan malam adalah waktu paling penting dalam budaya Asia.. Namun, kesibukan kerja dan lembur membuat kebanyakan keluarga tidak dapat menghabiskan waktu secara utuh saat makan malam.. Estimasi selesai kerjapun juga tidak menentu.. Makan malam yang dihangatkan tentu akan menghilangkan cita rasa dan kehangatan awalnya.. Oleh karena itu, saya akan menunggu sampai suami saya menyelesaikan pekerjaannya.. Kemudian kami akan makan malam bersama di luar..”

Hening.
.
.
.

“T-ta-tapi tetap saja! Kau tidak bisa menyajikan sebuah permen di atas piring makan malam!”, bantah Anne.
“Permen ini akan saya hisap untuk menanti suami saya.. Atau mungkin, kami berdua bisa makan permen ini dalam perjalanan mencari makan malam..”
“Kau kan tidak membuat permen itu!”, kata Anne sebal. “Kakek, dia tidak bisa dinyatakan berhasil dalam tes menyajikan santapan..!!”.
“Dia membuat dua menu lainnya dengan filosofi yang baik..”, komentar bibi Gong.
“Meski dia pandai membual, tugas pada tahap ini adalah untuk membuat dan menyiapkan santapan.. Dia berani menghidangkan menu yang bukan dari hasil tangannya.. Apakah itu masih dianggap layak?”, Souta melirik kakek Uekusa dengan tangan menyila.

Kakek Uekusa menghela nafas panjang. Memang benar sih harus objektif. Tapi tetap saja hatinya tak rela.

@@@@@

“Pada tes berikut ini kalian akan dinilai dalam merapikan busana oyabun..”, jelas bibi Gong.
“Souta, Kai, Jimin, dan aku akan berperan sebagai oyabunnya..”, tambah kakek Uekusa.
“Eh?!”, para peserta pun terkejut. Wajah mereka memerah membayangkan dapat kesempatan menatap pujaan hati dari dekat.

Pada ruangan yang sama, empat pria berdiri sejajar dengan konsep pakaian yang berbeda. Kakek Uekusa memakai hakama yang belum rapi, Souta memakai piyama merah muda cetar, Kai pakai setelan jas, dan Jimin pakai setelan musim dingin.
Peserta diminta untuk membalik badan memunggungi subjek. Dimulai dari Emi. Ia harus merapikan baju mereka dengan tepat. Masing-masing baju memiliki karakteristiknya sendiri. Karena itu, bila tidak tahu apa yang kurang dari busana itu, dadah :”)

“Semoga hari anda menyenangkan, oyabun­-sama..”, ujar Emi setelah selesai merapikan hakama kakek Uekusa. Pria itu manggut-manggut mengalkulasi penilaian. “Mimpi indah, oyabun-sama..”, kata Emi menyelesaikan pakaian Souta. Menuju ke berikutnya, Kai. Ia sempat terdiam tak tahu harus mengucapkan apa. Jujur saja Emi deg-deg an. Awh~
“S-semoga pekerjaan anda lancar.. Oyabun-sama..”, ucapnya ragu. Berikutnya adalah Jimin dengan tampang datar. “Semoga anda selamat sampai tujuan, oyabun-sama..”, Emi mengakhiri tesnya.

Peserta maju satu persatu dan tiba saatnya giliran Stefanny. Perempuan yang langsung mencerahkan wajah kusut Kai dan Jimin daritadi. Pertama ia menghadap ke kakek Uekusa dan membungkukkan badan singkat. Oho, terlihat sangat jelas kalau sabuk hakama adalah unsur yang hilang.

“Apa rencana kegiatan anda hari ini?”, tanya Stefanny mengambil sabuk hakama.
“Hm? Oh..! Rencananya aku mau ke taman bersama teman-temanku.. Bersantai saja..”, jawab kakek Uekusa tak menyangka akan muncul pertanyaan.
“Hee, tanoshii desu ne (menyenangkan ya).. Kalau begitu, saya tidak akan mengikatnya terlalu kencang supaya tubuh anda lebih nyaman..”
“Baik, lakukan saja..”, jawab kakek Uekusa tersenyum lebar menunjukkan rasa puasnya. Selanjutnya menghadapi Souta dengan baju tidur yang sedikit, er, berantakan. “Apakah anda sudah cuci muka dan gosok gigi?”, tanya Stefanny membuka semua kancing baju Souta, tapi pria itu memilih diam saja.
“Tidur yang nyenyak, oyabun-sama..”, Stefanny selesai membenarkan kancing yang salah. Ia membungkuk memberi salam. Saat menegakkan tubuh, sesaat ia menghela nafas seperti memantapkan hati sejenak. Tentu saja karena subjek berikutnya adalah Kai dengan wajah bersemangat dan antusias. Wajahnya babo :”)
“Anda memilih setelan yang bagus, oyabun-sama..”, Stefanny mengalungkan dasi ke kerah baju Kai.
“Oh ya? Aku beli dari India... Ngomong-ngomong, semalam kau memanggilku Kai dengan begitu mesra.. Kenapa sekarang kau sangat formal sekali?”, goda Kai sukses mendapat tatapan maut dari peserta klan Yamada ini. Tidak tahu apa kalau ini sedang tes?!
“Ehm.. Saya mana berani bertindak segegabah itu di hadapan anda..”, jawab Stefanny membuat simpul dasi sambil meredam tinjunya.
“Berkali-kali kulihat pun tidak pernah membuatku bosan..”
“Maaf?”
“Dirimu.. Nanti malam jangan lupa ya! Siapkan kasur, aku akan membuatmu puas dan tidak menyesal telah meni- ugh!!”, Stefanny menarik dasi yang melingkar di leher Kai dengan kuat. Ya, Kai.. kamu tercekik.
“Saya senang melihat semangat anda hari ini, oyabun-sama.. Semoga beruntung!”, ia mengakhiri sesi dengan Kai. Hah, lega. Selanjutnya Jimin. Oh oh oh, imut sekali anak ini. Wajahnya sedikit tertekuk karena cemburu, tapi begitu Stefanny mendekatinya.. Ia tersenyum dengan sangat lebar menyapanya!
Nuna! Ehehe..”, sapa Jimin.
“Selamat pagi, oyabun-sama.. Anda terlihat ceria sekali hari ini..”, balas Stefanny kalem lalu mengambil syal.
“Tadi malam aku mimpi berkencan dengan nuna di puncak gunung Himalaya..”
“Benarkah? Saya tersanjung bisa muncul di mimpi anda..”, responnya sambil mengalungkan syal.
“Iya, kita kencan.. Asyik sekali.. Tapi tiba-tiba ada kecoa raksasa..!”, sindirnya melirik Kai sinis. Pria di sebelahnya itu hanya bisa mencibir.
“Terimakasih telah memimpikan diri saya, oyabun-sama.. Jaga diri anda tetap hangat..”

Selesai. Paling tidak itu yang dipikirkan Stefanny. Namun ternyata salah. Ada tes yang lebih menakutkan dari ini. Tak lain dan tak salah adalah.. melayani kebutuhan oyabun. Itu tuh, yang ada kebutuhan biologis segala :v ah phak.
Kebutuhan biologis. Bagaimana ia melakukan ini?! Argh! Ayo berpikir berpikir berpikir! (terus jadi Jimmy Neutron -3-) Tidak mungkin dia harus menggerayangi tubuh pria-pria itu kan? Tidak mungkin juga dia harus bugil kan?! Oh, Tuhan....... Bagaimana ini? Ah, benar!

@@@@@

Tes kali ini berada di lokasi yang berbeda. Di kamar khusus yang sudah didesain dengan kaca one way lebih tepatnya. Para juri akan menilai dari balik kaca. Sedangkan yang berperan sebagai oyabunnya adalah, hah... Uekusa, Kai.
Emi membuka ikat rambutnya. Kemudian perlahan ia mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Sorot matanya lurus menatap pria yang duduk di pinggir kasur. Senyum kecil terus menghiasi wajah cantiknya. Pakaian atas sudah terbuka. Kini ekspresinya sedikit dibuat lebih seduktif. Tangannya hendak melepas pengait pakaian dalam, namun..

“Cukup sampai disini..”, sela Kai menghentikan pergerakan Emi.
“Tapi dia barusaja mulai..”, terdengar suara dari speaker. Suara milik Anne.
“Peserta selanjutnya..!”, panggil Kai setengah berteriak.
“Kai!”
“Aku yang merasakan dan aku yang akan memutuskan.. Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuannya padaku..”, kata Kai. “Selanjutnya!”, ia kembali memanggil.

Huh.. Tenang.. Tenang.. Namaku dipanggil. Aku harus tenang. Giliranku telah tiba. Dibalik pintu itu ada Kai. Ya, Kai. Calon suaminya! Jadi apa yang harus ditakuti? Ya benar! Tidak perlu takut. Disana hanya ada Kai. Argh, justru karena disitu ada Kai yang membuat jantungku meledak!!!!!!!

“Silakan memasuki ruangan, Yamada Ryukichi-sama..”, pelayan mempersilakan.

Stefanny mengambil nafas dan menghembuskannya singkat. Ia berjalan dan membuka pintu itu. Sejauh ini masih stabil. Ia sudah masuk dan pintu di tutup. Ruangan itu tidak terang, tapi juga tidak terlalu gelap. Masih bisalah untuk melihat pria telanjang dada di atas kasur itu. Omo!! Pria telanjang dada?! Ah, Kai!! Hentikan membuat jantungku berdebar tidak karuan, dasar wajah mesum!

“Ehem..”, Stefanny menghilangkan sedikit rasa gugupnya dengan anggun. Ia sudah berdiri di depan Kai yang duduk di pinggir kasur. Kemudian tanpa berkata apa-apa ia berlutut. Keadaan jadi hening. Para juri mengamati dan Kai menanti.

Oh shit disaat seperti ini otaknya malah ngeblank. Tadi dia mau apa coba berlutut di hadapan Kai? Em.. Apa dia mau memuji tatto Kai yang keren? Apa? Apa yang akan dilakukannya, apa apa apa?! Karena diam saja, Kai akhirnya mengeluarkan suara. “Apa yang kau lakukan? Kenapa hanya berlutut disini?”, tanyanya.
“Saya.. Ee.. Saya.. Mau...”, Kai menatap menunggu jawabannya. Stefanny menelan ludah dan akhirnya menekatkan diri. “Saya menanti anda..”, jawabnya.
“Eh? Menanti untuk apa?”
“Untuk membelai kepala saya.. Mengarahkan wajah saya untuk menatap anda.. Untuk melepas jaket dan melucuti pakaian saya..”, jelasnya menatap Kai dengan mata bersinar. “Saya minta maaf karena saat ini saya harus egois.. Saya ingin merasakan sentuhan kedua tangan anda yang kuat dan lebih besar dari milik saya.. Membelai, mendekap, memeluk, dan menjadikan saya milik anda..”, lanjutnya memegang satu tangan Kai.

Kini giliran Stefanny yang menunggu respon Kai. Pria itu diam saja pada posisi dan ekspresinya. Dia mematung? Apa waktu berhenti? Apakah Tao datang menyelamatkan?!

Oyabun-sama..? Oyabun-sama..!”, panggil Stefanny perlahan berdiri.
“E-eh? Y-ya?!”, Kai terkejut dan tersadar.
“Anda.. Baik-baik saja?”

Kai menatap Stefanny mengingat langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dua detik kemudian ia telah menjatuhkan tubuh Stefanny di kasur dalam posisi menindihnya. Wajah mereka begitu dekat sampai mereka dapat merasakan hembusan nafas masing-masing.

“Kau.. Menyerahkan dirimu secara pasrah padaku?”, tanya Kai datar, dingin, atau apalah nadanya. Ia terdengar sangat cool.
“Suatu kehormatan bagi saya dapat membuat anda senang..”, jawab Stefanny.
“Baiklah.. Aku akan memperlakukanmu sesuka hatiku..”, lanjutnya tenang kemudian menenggelamkan wajahnya ke leher Stefanny.

Tunggu. K-kai! Apa yang dia lakukan?! Kenapa dia meneruskan tindakannya? Ya! Kai! Hentikan, Kai! Stefanny sedikit mendorong tubuh Kai untuk bangkit dari tubuhnya, tapi tenaganya lebih besar. Ia sama sekali tak melepas Stefanny. Ya, Kai!

Y-ya..! Kai..”, erang Stefanny. Tidak tidak, tunggu dulu. Para juri belum mengakhiri waktunya. Dan ekspresi Kai tadi sangat tenang. Ini pasti bagian dari tes. Kai tidak mungkin berani menyentuhnya seperti ini. Ia pasti akan heboh dan malu sendiri.
“Kenapa? Apa kau tidak suka?”, tanya Kai masih dengan dingin.
Stefanny tersenyum, “Tidak.. Saya hanya bahagia dapat merasakan kehangatan tubuh anda..”.

‘Ding Dong Daeng~’, suara bel menandakan tes selesai.

“Yak, tes selesai.. Peserta boleh meninggalkan ruangan..”, ujar speaker bersuara seperti kakek Uekusa.
“Kai, gwaenchana?”, tanya Stefanny duduk dan menelisik Kai yang memeluk kedua kakinya erat.
“Aku mau mati rasanya!!! Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!”, teriaknya heboh dengan wajah merah padam.
“Pft..! Hahahahahaha..”
“Kenapa kau tertawa begitu? Hiks hiks..”, Kai mewek.
“Kau memang Kai.. Jangan berubah ya..”
“Stefanny.. Uhuuuuu.. Peluk ya..”, pintanya merentangkan kedua tangan.

Stefanny merentangkan kedua tangan juga. Tapi ketika Kai hendak memeluknya, Jimin masuk dan mengambil kesempatan berpelukan dengan Stefanny itu.

YAAA!!! Apa yang kau lakukan?!!!!”, bentak Kai tak terima.
Jimin menjulurkan lidah. “Kau sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan! Tak akan kubiarkan kau menyentuh nuna lagi!! Ayo, nuna!”, ajaknya menarik Stefanny yang tersenyum geli.

@@@@@

Kini tiba saatnya untuk mengumumkan siapa yang akan maju ke tahap kedua. Kakek Uekusa beserta para juri memasuki Washitsu Utama yang sudah dipenuhi dengan dag dig dug peserta. Ada sebuah gulungan kertas yang dibawa kakek Uekusa. Ia berdiri dengan tegak di depan para peserta. Menatapnya satu persatu dengan mantap.

“Hasilnya sudah keluar.. Ingat, apapun hasilnya nanti, semua dilakukan secara objektif dan berdasarkan upaya kalian masing-masing.. Kalian sudah berusaha dengan baik, para peserta..”, kakek Uekusa membuka gulungan kertas itu. “Ehm..”, ia bersiap-siap. “Kai!”, panggilnya.
“Ya?”
“Kau saja yang bacakan.. Aku tidak tega..”, bisik kakek Uekusa menyerahkan hasil ujian.
“Kenapa aku?! Kek, kakek!”
“Sudah tak apa.. Aku tahu kau pemberani.. Sana cepat umumkan!”

Kai cemberut kemudian membaca hasilnya. Matanya sempat terbelalak terkejut. Ia menggigit bibir bawahnya terlihat kesal. Para peserta sudah menunggu hasil yang tertera diatas kertas itu.

“Apa yang kau tunggu? Cepat bacakan..”, pinta Anne.
Kai menghela nafas melepas emosinya. “Peringkat keempat diduduki oleh Hiroko dari klan Kamiya..”, baca Kai diiringi tepuk tangan dan ucapan selamat untuk Hiroko. “Selamat ya, untuk tahap selanjutnya kau akan dilatih oleh Anne..”, lanjutnya.
“Berikutnya peringkat ketiga diraih oleh.. Yui putri Aragaki.. Selamat, Yui.. Kau akan dilatih oleh Souta..”, Kai kembali membacakan. “Selanjutnya peringkat kedua diraih oleh..”, Kai menghala nafas singkat. “Emi putri Takei..”, kalimat itu mengundang bisik para peserta. Emi peringkat dua? Sehebat apa perempuan peringkat satu itu? “Kau akan kulatih untuk tahap kedua..”.
“Terimakasih, oyabun-sama..”, jawab Emi.
“Peringkat pertama diraih oleh..”, Kai melirik Stefanny sekilas. Ia kembali menghela nafas, “Ryukichi dari klan Yamada..”.

Semua tatapan langsung tertuju ke Stefanny dengan cepat. Dia? Kok bisa?
“Selamat, Ryukichi.. Kau akan dilatih oleh Jimin..”, ujar Kai tak rela.
“Terimakasih, oyabun-sama..”, jawab Stefanny agak ragu juga.

Souta tersenyum simpul ketika ditatap oleh kakeknya.

10 menit sebelum penjurian..

“Anne..”, panggil Souta. “Ubah rencana..”, katanya.
“Ubah bagaimana maksud kakak?”
“Beri Stefanny nilai penuh..”
“Hah?! Kenapa???”
“Melihat caranya melewati tes tadi.. Sudah dapat dipastikan dia meraih nilai tinggi dari para juri.. Meski kita beri dia nilai rendah, jatuhnya tetap pada Kai.. Karena itu, kita unggulkan dia..”
“Baiklah, aku paham..”

Back to normal time..

“Tindakan yang tepat, cucuku..”, kata kakek Uekusa.
“Tentu saja.. Aku belajar banyak hal darimu dan nenek..”, jawab Souta.
“Kalau kau menganggap seperti itu.. Baiklah, cu..”, kakek Uekusa maju ke depan. “Sekarang aku akan mengumumkan ujian tahap dua, mohon perhatiannya..”, semuanya diam. “Keempat peserta yang lolos akan diuji dalam hal keterampilan dan kerajinan tangan..”, lanjutnya.

Souta, Anne, dan Kai melebarkan mata kaget. Kerajinan? Kerajinan dia bilang?! Kai kan paling payah kalau soal itu!!

Souta’s and Anne’s minds = Matilah Emi.. Bagaimana dia bisa belajar kerajinan dari Kai kalau Kai-nya saja buta soal kerajinan tangan?! Kakek ini benar-benar mengerikan, heh..
Kai’s mind = Kalau ujian tahap duanya kerajinan... Lalu kenapa aku dijadikan hadiah juara dua? :”) Ah.. Aku mau nangis rasanya........

“Dalam waktu lima hari, keempat peserta ini akan mempresentasikan hasil kerajinan tangannya disini.. Selama lima hari itulah para peserta akan membuat kerajinan bersama pendampingnya masing-masing.. Ada pertanyaan?”

@@@@@

‘Crep!’, suara anak panah yang menancap di papan sasaran.

Lima kali tembakan, lima kali skor penuh. Kai hendak menyeka keringatnya dengan lengan bajunya, tapi...

“Biar saya yang menyeka..”, cegah Emi lalu mengelap keringat di wajah Kai dengan handuk.
“Eh?! I-iya..”, jawab Kai agak kaget.
“Permainan anda luar biasa, oyabun-sama..”, puji Emi.
“Benarkah? Aku masih perlu banyak latihan..”, respon Kai padahal dalam hati dia sudah menyombong ria.
“Anda pasti menang dalam duel ini, oyabun-sama..”, kata Emi.
“Kau ingin aku menang dalam duel ini?”, Kai mengambil anak panah yang ada di sebelahnya.
“Tentu saja..”
“Apa alasannya?”
“Dilihat sekilas saja, kemampuan anda jauh lebih tinggi dari kemampuan Hanamatsu.. Tidak ada alasan untuk anda kalah..”
“Kalau aku menang...”, Kai menembakkan anak panahnya dan tepat sasaran. “Aku bisa menikahi Stefanny, kau tahu?”.
Emi tersenyum kecil. “Anda sungguh lucu, oyabun-sama..”, katanya.
“Lucu?”
“Dalam sayembara ini, pemenangnya adalah saya..”

@@@@@

“Bagaimana dengan ini?”, tanya Stefanny menunjukkan rangkaian bunga mini yang ia susun.
“Hmm.. Tidak tidak.. Masih kurang..”, ujar Jimin.
Beberapa menit kemudian..
“Kalau begini?”, tanya Stefanny mengangkat kerajinan tangannya.
“Tch.. Kurang cantik..”
Beberapa menit kemudian..
“Ini bagaimana?”
“Tidak sebanding..”
Beberapa menit kemudian..
“Jimin, yang ini?”
“Tidak mungkin..”
“Lalu yang bagus itu yang bagaimana? Huh! Aku sudah mengulang berkali-kali tapi gagal terus di matamu.. Padahal aku sudah melakukan apa instruksimu..”, keluh Stefanny melipat kedua tangan.
“Habisnya kau membandingkan kerajinan tanganmu dengan wajahmu sih.. Tentu saja terlihat jelek kalau di sebelahmu..”
“Aku kan menyuruhmu menilai kerajinan tangan yang sudah kubuat.. Kenapa malah membandingkannya dengan wajahku? Duh, babo..”
“Hahaha.. Aku hanya bercanda.. Bagus kok.. Semua rangkaian bunga yang kau buat, hasilnya bagus dan cantik.. Aku rasa aku tidak perlu mengajarimu apa-apa..”, kata Jimin.
“Benarkah? Huft, melegakan..”
“Tapi masih belum sempurna.. Nuna harus sempurna agar bisa menang dari Emi..”
“Ajari aku..”
Jimin menggeleng. “Untuk kesempurnaan itu, tidak bisa diajarkan..”, jelasnya.
“Lalu harus bagaimana?”
“Kau harus membuatnya dari hati.. Dengan perasaan..”
“Perasaan?”
“Ya.. Apapun bentuk kerajinan yang nuna buat.. Kalau dikerjakan dengan tulus, menuangkan perasaan nuna disana.. Pasti orang akan tersentuh.. Ya, meski tidak semua orang bisa merasakan makna tersirat itu sih..”
“Jimin..”
“Hm?”
“Kau tambah dewasa ya..”
“T-tentu saja! A-apa maksudnya..?”, gerundel Jimin malu. “Sudah daripada mulai menggodaku, lebih baik belajar merajut!”, ajak Jimin mengambil kotak merajut.

Merajut apa ya? Hmm.. Merajut cita-cita.. Ahahay~ Oh oh! Merajut angan! Oh! Atau merajut kisah cinta? Owh, manis sekali :3

“Kenapa nuna senyum-senyum sendiri begitu?”, tanya Jimin berhenti merajut.
“Eh?! A-aku.. Ehm.. Wajahku kan memang seperti ini..”, bela Stefanny.
“Tidak mungkin.. Wajah nuna itu seperti harimau.. Menakutkannya sampai merasuk ke tulang..”
“Kutusuk pakai jarum rajut, mau?”

@@@@@

Aaaahhhhhh, menyebalkan..! Bosan! Stefanny sedang apa ya? Oh iya, pasti sedang latihan sama Jimin.. Uh, bocah menyebalkan..! Awas saja kau! Akan kutunjukkan siapa mempelai pria Stefanny! Kai! Ya, Uekusa Kai!! Hiyah!!!

Oyabun-sama..? Anda sedang kesal?”, tanya Emi sedang menyulam dengan tenang.
“Eh? T-tidak.. Aku baik-baik saja..”, jawab Kai mengambil sulamannya lagi.
“Dari tadi saya perhatikan, anda terus menghela nafas.. Apakah anda tidak nyaman berdua dengan saya?”
“Haha, tidaklah.. Aku hanya merasa bosan.. Kenapa semua perempuan suka hal membosankan seperti ini? Ck..”
“Kerajinan tangan adalah cara perempuan untuk menunjukkan perasaannya.. Mengalirkan emosi yang menyeruak di dada, agar dapat menjadi lebih tenang..”, jelas Emi lembut.
Kai tersenyum dan mengangguk kecil, “Begitukah?”.

Kalau seperti itu, apa Stefanny bukan perempuan? :”) <<ini adalah kecemasan Kai
Dia balapan liar, bertarung, main senjata, istriku buas ya :”) << ini adalah ketakutan Kai
Hah, Emi dan Stefanny sama sekali berbeda. Yang satu lembut, tenang, adem. Yang satu... ah sudahlah.

@@@@@

Sehari sebelum penjurian tahap dua dimulai, diadakan duel ronde satu. Seperti yang sudah direncanakan, duel ronde satu adalah uji ketangkasan dalam menggunakan senjata. Senjata yang akan dinilai adalah panah, pedang, dan pistol.

“Jurinya adalah aku, Souta, dan Ken..”, kata kakek Uekusa. “Kalau tidak ada pertanyaan, silakan mulai..”.

Kedua peserta menyiapkan panah dan anak panahnya. Masing-masing peserta diberi waktu semenit untuk menembakkan lima anak panah mereka. Bibi Gong memberi aba-aba untuk mulai. Barusaja Kai akan membidik, suara panah tertancap sudah terdengar. Milik Jimin.

“Wah, cepat sekali..” “Keren ya..”, bisik orang yang menonton.

Jimin terlihat santai dan tenang. Ia dengan mudah menyelesaikan lima anak panahnya dengan nilai penuh yaitu 50/50. Hebat sekali. Melihat permainan Jimin, Souta merasa curiga. Bukan seperti itu gaya Hanamatsu. Tenang dan cepat bukan milik klan yakuza itu.
Kai juga berhasil mendapatkan poin sempurna, 50/50. Namun waktu yang dihabiskan lebih banyak dari Jimin. Berikutnya pindah lokasi ke dojo.

“Selanjutnya adalah ketangkasan menggunakan pedang.. Tentu saja pedang bukan hal asing untuk kalian.. Karena itu, berjuanglah! Tunjukkan keindahan permainan pedang kalian pada kami..”, ujar kakek Uekusa.

Pertama Kai. Ia menarik pedang dari sarungnya lalu melakukan beberapa gerakan. Seperti yang diduga, gerakan khas Uekusa, tegas dan kuat. Permainan pedang Kai sungguh luar biasa menakjubkan. Ia membuat penonton terperangah saking sempurnanya. Peserta kedua adalah Jimin. Seperti rumor yang beredar, permainan pedang klan Hanamatsu itu seperti tarian. Luwes dan tajam. Gerakan yan Jimin tunjukkan membuat para penonton terpesona saking indahnya.

“Dari dulu gaya bertarung Hanamatsu itu membentuk irama dan gerakan.. Tapi permainan panahnya tadi jelas bukan miliknya.. Jimin, darimana kau belajar itu?”, batin Souta masih kepikiran.
“Baiklah.. Kita sudah melihat penampilan kedua peserta dalam ketangkasan menggunakan pedang.. Selanjutnya kita akan melihat ketangkasan mereka dalam menggunakan senjata api..”, kata kakek Uekusa membuyarkan lamunan Souta.

Lokasi berpindah ke tempat latihan menembak. Disana sudah disiapkan sepuluh papan sasaran. Nilai penuhnya adalah 1000. Setiap papan sudah didesain untuk bergerak pada pola yang berbeda-beda. Peserta harus membidik papan-papan itu dalam waktu yang secepat-cepatnya.
Baik Kai maupun Jimin langsung maju ke bilik mereka masing-masing. Ketika aba-aba sudah dimulai, papan-papan itu bergerak sesuai pola mereka. Tidak ada semenit, bunyi tembakan sudah berhenti dari Kai. Semua orang dibuat heran disana. Apa dia main serampangan?

“Hanamatsu Jimin, poin 990/1000..”, lapor pengecek poin. “Uekusa Kai, poin 995/1000..”, lanjutnya.

Kai melepas kacamata dan penutup telinganya diiringi oleh bisikan para penonton. Waktunya lebih singkat, poinnya lebih banyak. Dia dewa? (Author yang menciptakan :^D)

@@@@@

Keesokan harinya, di Washitsu Utama sudah tertata dengan rapi hasil kerajinan tangan dari empat peserta sayembara. Kakek Uekusa beserta para juri memasuki Washitsu.

“Hari ini akan ada dua pengumuman, dua peserta sayembara dari pihak perempuan.. Juga pemenang ronde pertama dari duel kemarin..”, umun kakek Uekusa. “Peringkat pertama akan dapat poin dua dan berhak berlatih bersama Kai untuk mempersiakan tahap ketiga.. Pemenang kedua dapat poin satu dan berlatih bersama Jimin..”, jelasnya. “Nah, kita mulai saja.. Mulai dari Hiroko.. Jelaskan apa yang sudah kau buat..”, pintanya.
“Baik, oyabun-sama.. Saya telah membuat rangkaian bunga tiga dimensi.. Rangkaian ini sengaja saya buat tidak terlalu rumit agar dapat diletakkan di semua bagian ruangan.. Kesan yang elegan dan dapat dipajang setiap musim.. Saya memadukan warna yang tidak terlalu mengambil perhatian supaya kesan tenang tetap terjaga..”, jelasnya mengundang senyum di wajah kakek Uekusa.
“Saya membuat lukisan burung merpati yang terbang bebas di angkasa.. Saya ingin menggambarkan angkasa terang yang terbentang luas di depan mata.. Burung yang terbang bebas ini menggambarkan kita yang juga berusaha meraih ketentraman batin..”, jelas Yui mendapat anggukan setuju dari kakek Uekusa.
“Ini adalah sulaman bunga peony merah dan merah muda yang sedang mekar.. Saya berharap dengan melihat ini, kebahagiaan akan menyelimuti hati.. Seperti arti bunga ini sendiri yaitu kebahagiaan..”, kali ini Emi yang menjelaskan.
“Ini hanya sebuah syal merah yang digunakan untuk menghangatkan leher..”, kata Stefanny.
“Hanya itu?”, tanya kakek Uekusa.
“Ya.. Saya hanya berharap dengan syal ini, orang yang memakainya bisa merasa nyaman dan menjaga tubuhnya tetap hangat..”, jawabnya.

Kakek Uekusa terdiam. Kai berdecak mengambil syal Stefanny dari atas meja pajangan.

“Kalau mau menilai syal tentu harus kau pa-“, Kai memakai syal itu lalu terpaku.
“Kai.. Kau kenapa, cu?”, kakek Uekusa melambai-lambaikan tangannya. “Cu.. Cucu! Kai! Kau kenapa?!”
“Kakek harus pakai ini!!”, Kai tiba-tiba heboh sambil mengalungi kakeknya syal merah itu. Kakek Uekusa terdiam dengan mulut sedikit terbuka. “Spektakuler kan rasanya?! Iya kan, kek?!”, tanya Kai masih heboh.
“Spektakuler apa sih?”, Souta penasaran lalu menarik syal tersebut dan memakainya. Diam.
“Nyaman kan?! Hangat kan?!”, Kai masih juga heboh.
“Anne, kau harus coba ini..!!”, paksa Souta mengalungkan syal tersebut.

Selama beberapa menit, mereka heboh bergantian memakai syal tersebut. Suasan jadi ramai sekali. Pada akhirnya, mereka tersadar dan kembali ke jati diri normal mereka.

“Ehm ehm.. Pemenangnya adalah.....”

@@@@@

Kai menyamankan dirinya di kolam air panas. Ah, rasanya enak sekali. Kapan terakhir kali dia bersantai seperti ini? Dua bulan atau tiga bulan yang lalu? Kolam air panas, oh, lebih tepatnya jacuzzi yang ada di kamarnya. Irezumi (tato sekujur tubuh) yang dapat dilihat di punggung Kai melukiskan seekor binatang mistis dari Cina. Binatang berbentuk singa yang mereka sebut sebagai Karajishi, terlihat galak menghiasi punggung Kai.

“Ah, nyaman sekali.. Aku tidak ingin beranjak darisini..”, gumamnya menutup muka dengan handuk hangat.

Tanpa sepengetahuannya, sepasang kaki mulus memasuki kamar mandi dimana Kai sedang bersantai di dalam jacuzzi. Perempuan itu menggunakan mantel mandi yang menutupi tubuhnya. Telapak kakinya yang beradu dengan genangan air, menyadarkan Kai akan kehadirannya. Kai membuka handuk yang menutupi wajahnya dan menoleh.

“Ah!! Ouh, mengejutkan saja..”, gerundelnya mengelus dada. “Sejak kapan kau disitu?”, tanya Kai.
“Barusaja..”
“Kenapa berdiri disana? Masuklah kemari..”, ajak Kai.
“Jadi kau tidak keberatan melihatku melepas mantel ini?”
“Hm?”, Kai berpikir dan tersadar. Oh, otaknya membayangkan yang tidak tidak. Ck, disaat seperti ini juga. “Y-ya.. Tentu saja.. Itu juga kalau kau.. Yang.. Tidak keberatan..”, suaranya semakin lama semakin mengecil.
“Pft.. Hahaha.. Kubuka ya.. Siap tidak?”
“Buka tinggal buka saja..”, jawab Kai memalingkan wajah malu.
“Lihat sini.. Kan aku mau buka..”

Perlahan dengan ragu Kai menatap sosok perempuan yang siap membuka mantelnya itu. Ia sudah menyiapkan batin, mental, dan pikiran. Jantungnya sudah berdebar daritadi. Wajahnya pasti sudah merah. Tinggal menunggu mimisan saja mungkin.

Jajjan~”, mantel dibuka dan jatuh ke lantai.
“Kya!!!!!!”, Kai menceburkan diri ke air.
“Hahahahahaha..”, suara tawa meledak begitu saja.
Ya, Stefanny-ssi!!!! Jangan main-main sama jantung orang!! Jantungku hampir meledak, tahu!?”, omel Kai.
Lho? Kau berharap aku telanjang?”, Stefanny masuk ke kolam dengan baju renang.
“Y-ya t-tentu t-tidak!”, jawab Kai gelagapan.
“Nanti nanti.. Akan ada saatnya.. Hahaha.. Wajahmu lucu!”
“Sudah hentikan..! Kau juga lucu.. Mana ada orang yang masuk ke jacuzzi pakai baju renang?!”, gerundel Kai.
“Ada, aku..”, ujar Stefanny tanpa dosa.

Kai berdecak lalu mencipratkan air ke arah Stefanny. Karena tidak terima Stefanny membalas perbuatan Kai. Lalu mereka perang air panas :”) Beberapa menit kemudian akhirnya kamar mandi kembali tenang. Seperti biasa, mereka berdua menatap langit-langit.

“Akhirnya aku bisa bersamamu..”, ujar Kai.
“Belum, Kai.. Ini masih sementara..”, jawab Stefanny.
“Paling tidak, bisalah mengobati rasa rindu dan tidak relaku kau bersama Jimin..”
“Akurlah dengannya.. Dia tidak serius kok..”
“Tidak mau.. Dia menyebalkan.. Ck..”
“Kau kan yang lebih tua dan dewasa.. Calon suamiku pula..”
“Ya, nanti aku akan akur dengannya kalau dibayar..”
“Hahaha, dasar.. Jangan lupa, kau harus melatihku untuk tahap ketiga..”
“Hah? Kau mau latihan apa? Tahap ketiga adalah ujian melindungi diri, bisa-bisa kau yang melatihku.. Kau kan sudah sangat jago..”
“Tetap harus latihan.. Aku kan tidak tahu kemampuan Emi..”
“Dia itu tipe keibuan.. Kalau dibandingkan denganmu, tentu saja kau yang menang telak.. Kau kan kebapakan..”
“Kai-ssi.. Bosan hidup?”, Stefanny menutup wajah Kai dengan handuk.

@@@@@

“Kau sudah menyiapkan semuanya?”, bisik Emi pada bayangan. “Bagus..”, jawabnya ketika melihat anggukan. “Kita lihat.. Seberapa tangguh Yamada Ryukichi itu..”, ujarnya sinis.

Ren yang tidak sengaja melihat Emi di taman gelap terbelalak terkejut. Ia langsung berlari bergegas menuju ke tuannya.

“Yamada-sama!!”, panggil Ren memasuki kamar Kai.
“Ada apa Ren?”, tanya Luhan.
“Aku harus menemui Yamada-sama.. Ada yang tidak beres..”
“Uekusa-sama dan Yamada-sama sedang berlatih di dojo..”, jawab Luhan dan Ren hendak pergi. “Tunggu, Ren.. Ada masalah apa?”, ia menghentikan langkah Ren.

Sementara itu, SteKai sedang asyik pedang-pedangan di dojo. Kaya anak kecil main perang-perangan gitu :”)

“Iyah iyah iyah! Thana minggil thana..! Huth..!”, usir Kai mengibas-ngibaskan pedang kayu dengan cadel. Terinspirasi dari Sehun. “Nenek cihil, babay!”
Bukannya kembali menyerang, Stefanny malah tertawa terpingkal-pingkal sampai tidak bisa berkata apa-apa. “Babo, hahahaha.. Babo babo..!”, ujarnya.
Ya! Kenapa malah guling-guling?! Ayo hadapi aku..!”, tantang Kai.
“Tunggu tunggu.. Biar kusave dulu..”, Stefanny mengotak-atik ponselnya.
“Kau merekamnya?! Ya!! Ayo cepat hapussssss!!”
Sirheo! Ini harta karunku..!”

Akhirnya mereka masuk sesi tenang. Fluktuatif memang mereka itu -_-

“Stef..”
“Hm?”
“Aku ingin kentut..”
“Kentutlah.. Nanti kubalas..”

“Kai..”
“Hm?”
“Besok kau harus menang ya..!”
“Tentu saja.. Kalau aku kalah, kesempatan untuk bersamamu melayang sudah..”
“Kau sih, pakai kalah segala di ronde pertama.. Ck..”
“Hahahaha, ya maaf.. Habisnya aku butuh penyegar sih.. Tidak bersamamu membuat permainanku menurun.. Tapi kali ini aku menghabiskan waktu bersamamu, jadi tentu saja aku pasti akan membawa kemenangan untukmu..”
“Ecieh, romantis...”, goda Stefanny.
“Kau juga harus menang ya.. Sekali lagi kau menang, kau akan menjadi pemenang mutlak..”
“Em, oke..”

“Yamada-sama!!”

@@@@@

Keesokan harinya, ujian tahap tiga dan duel ronde dua. Ujian tahap tiga adalah keterampilan melindungi diri sendiri. Bagi seorang yakuza tentu akan selalu ada serangan dari kelompok lain. Tentu saja soerang nyonya besar harus bisa melindungi diri sendiri dan klannya dari serangan itu. Emi dan Stefanny akan dihadapkan pada situasi dimana mereka harus bertahan dari serangan musuh. Jumlahnya ada lima orang musuh bersenjata. Melindungi diri dengan cara apapun. Waktu untuk bertahannya sepuluh menit. Jurinya Anne, bibi Gong Li, dan para pelayan.
Sedangkan pada jam yang lebih awal, Jimin dan Kai sudah menuju ke lintasan untuk balapan. Ronde dua menguji ketangkasan dalam berkendara. Yang menjadi kendaraannya adalah mobil, kendaraan, dan kuda. Pertama menguji kecepatan membawa mobil, lalu ketanggapan mengemudikan motor, kemudian teknik berkuda. Hal mudahlah untuk mereka. Jurinya adalah kakek Uekusa, paman Ken, dan Souta.

“Peserta pertama silakan masuk ke ruangan..”, pinta Anne.

Desain ruangan berbentuk taman dengan kaca one way untuk penilaian para juri. Emi memasuki ruangan dengan siaga. Sejauh ini belum tampak akan ada musuh menyerang. Ketika ia sudah berdiri di tengah ruangan, orang dengan pedang kayu hendak menyerangnya. Tapi dengan mudah Emi menghindar dan membalas serangan. Para juri dibuat heran dengan kemampuannya bertarung. Ternyata seorang Emi dapat bermain senjata juga. Pasti Jimin mengajarinya dengan sangat giat. Terlihat permainan pedang Emi memiliki gaya yang sama seperti klan Hanamatsu.
Baru sibuk mengurusi serangan pedang, muncul anak panah yang merobek baju bagian belakangnya.

“Itu....”, gumam salah seorang pelayan.
“Itu adalah tato Emi..”, sambung Anne.
“Emi juga melakukan irezumi?”, tanya bibi Gong fokus pada Emi.
“Bukan irezumi.. Dia hanya memiliki satu tato di tubuhnya..”
“Tatonya bagus.. Sebuah bunga..”, timpal seorang pelayan.
“Bukan bunga biasa.. Itu adalah bunga peony..”, jelas Anne. “Bagaimanapun juga Emi dan Kai sudah terikat dari kecil.. Ketika Kai melakukan irezumi pada tubuhnya, Emi juga menerima tato.. Ketika Kai menato tubuhnya dengan lukisan Karajishi, Emi menato tubuhnya dengan bunga Peony yang....”
Karajishi no botan..”, sela bibi Gong. “Kau mau bilang kalau Emi adalah bunga peony yang melindungi Karajishi dari kutu yang menghabisi nyawanya.. Benar, nona Uekusa?”.
“Mereka sudah ditakdirkan bersama..”
“Mereka dipaksa bersama.. Maaf kelancangan saya, tapi saya mohon anda bisa membedakan antara paksaan dan kemauan sendiri..”, ujar bibi Gong.

Waktu sepuluh menit akhirnya telah usai. Emi dapat bertahan dengan sedikit luka. Kemudian waktunya untuk peserta kedua. Ren mengepalkan tangannya kesal. Ia benci dirinya ketika tak bisa berbuat apa-apa.

Flashback...

“Apa? Emi mengganti talent yang digunakan untuk uji bertahan besok?”, tanya Kai tak percaya.
“Tidak salah, Uekusa-sama.. Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan nona Emi dengan orang bertato tadi.. Dia mengatakan akan mengganti semua talent dan senjata tumpul yang digunakan Yamada-sama besok..”, jelas Ren.
“Kita harus menghentikannya.. Aku akan bilang ke kakek..”
“Tunggu, Kai..”, sela Stefanny.
“Kenapa? Kau mau membiarkannya begitu saja?”
“Aku akan bertahan..”
“Aku tidak akan membiarkanmu terluka atau bahkan terbunuh hanya karena sayembara bodoh ini..!”
“Aku tidak keberatan..”

Kai dan Ren menoleh. Ia melihat aura dan ekspresi Stefanny sudah berubah. Terlihat lebih menusuk meski ia tersenyum.

“Aku ingin tahu, siapa yang diajaknya bersekongkol.. Lagipula, sudah lama aku tidak bermain senjata sungguhan..”

Normal Time..

Stefanny memasuki ruangan. Keheningan terasa begitu pekat disana. Hawanya juga lebih berat. Ia berusaha merasakan kehadiran musuh di ruangan itu. Tenang, hening, dingin.

“Senjata apa yang dia gunakan? Kenapa ia bertangan kosong?”, tanya Anne.
“Yamada-sama tidak terlalu suka membawa pedang..”, jawab Ren.
“Lalu dia mau bertahan dengan apa?”, tanya bibi Gong.

Seorang pria bertubuh lebih kekar dari musuh Emi tadi muncul dan hendak menyerang menggunakan bola besi berduri pisau. Stefanny berhasil melompat menghindar.

“Banyak yang bilang kalau Yamada-sama menyimpan banyak sekali pisau di seluruh tubuhnya.. Ia dikenal dengan wanita seribu pisau..”

Stefanny melempar pisau belati yang ia ambil dari kakinya ke lengan pria kekar itu. Dalam sekejap tangan kanan pria itu lumpuh tak bergerak. Kemudian ada pria kekar lagi muncul secara bersamaan membawa tombak dan katana. Dia menangkap tombak yang terhunus kearahnya kemudian memukulkan tongkat tombak itu ke pemiliknya. Ketika menghindari hunusan pedang, ada anak panah melayang kearahnya. Stefanny menangkap anak panah itu kemudian menusukkannya ke pria kekar membawa pedang.

“Senjata mereka...”, bibi Gong mengamati. “Itu senjata asli! Cepat hentikan mereka!”, perintah bibi Gong.
“Kalau kau menghentikan prosesnya sekarang, Yamada Ryukichi akan dinyatakan gugur karena tidak menyelesaikan tesnya!”, sela Anne.
“Tapi nyawanya dalam bahaya! Apapula pria-pria itu? Mereka bukan orang yang kita siapkan!”
“Perkataan nona Anne ada benarnya juga, Gong Li-san..”, tambah Ren.

Tak ada waktu untuk bernafas, dua pria dengan pedang dan cambuk berpisau melompat kearahnya siap menebasnya hidup-hidup, namun Stefanny dapat menghindari serangan pria berpedang. Ia menangkis pedang itu dengan katana yang ia tarik dari punggungnya, tapi serangan pria bercambuk pisau tersebut tak dapat dihindarkan. Pisaunya menancap dengan sempurna di lengan Stefanny.

“Ack!”, rintihnya.

Dengan sigap Stefanny langsung mencabut pisau itu kemudian menarik cambuk tersebut hingga pria kekar di hadapannya tersendat. Setelah itu Stefanny menyikut tengkuk pria kekar itu membuatnya jatuh tersungkur. Stefanny mengatur nafasnya siaga dengan lima pria yang sudah tak berdaya di sekelilingnya. Para juri mematung di tempat mereka. Satu menit. Itu adalah waktu yang dihabiskan Stefanny untuk menghajar semua pria tadi.

“Gong Li-san..”, panggil Ren membuyarkan lamunan bibi Gong.
“Oh! Ehm.. Sepertinya Yamada-sama dapat melindungi dirinya dengan sangat baik..”, ujar bibi Gong.

@@@@@

“Siapa?”, tanya Stefanny geram. “Siapa yang menyuruh kalian?”.
“Hanamatsu!”, jawab salah satu pria secara langsung ketika melihat tatapan membunuh Stefanny.
“Hanamatsu? Kalau kau bohong, aku tidak akan segan mengulitimu..”
“Hanamatsu! Benar yang menyuruh kami adalah pria bernama Jimin dari klan Hanamatsu..!”
“Beraninya kau berdusta padaku!!”, Stefanny hendak menebaskan pedangnya.
“Cukup!! Hentikan!”, tegas Anne memasuki ruang tes. “Tangkap mereka..”, ia menyuruh pengawal untuk menangkap pria-pria tak berdaya itu. “Mereka akan ditahan dan dimintai keterangan.. Kau, obatilah lukamu..”, ujar Anne lalu meninggalkan ruang tes.

“Anda baik-baik saja, Yamada-sama?”, Ren mendekati Stefanny.
“Tak apa.. Ren, kau coba ikuti mereka..”
“Baik..”

@@@@@

‘Brak!!!’

“Stefanny!!!!!”, Kai membuka pintu keras dengan bringas.
“Kai! Ada apa?”, tanya Stefanny sedikit terkejut.
“Kau baik-baik saja? Aku dengar kau terluka! Katanya ada paman-paman gila yang mencoba untuk membunuhmu saat tes! Dan kau terluka! Sudah diobati?! Tidak infeksi kan? Lukanya dalam?”, ia begitu panik.
“Tenang, Kai.. Lukanya sudah diobati.. Pelayanmu mengobatiku dengan begitu baik..”
“Huh! Siapa sih yang berani melakukan ini semua! Kurang ajar.. Aku akan ke ruang interogasi..”, Kai hendak keluar dari kamar Stefanny.
“Tunggu, Kai!”, Kai membalikkan badan. “Kau.. Jangan mudah percaya pada mereka ya..”, kata Stefanny.

Setelah kepergian Kai dari kamar Stefanny, Jimin dan Ten masuk. Mereka duduk di hadapan Stefanny yang sedang minum teh.

Nuna baik-baik saja?”, tanya Jimin menatap Stefanny intens.
“Aku baik-baik saja.. Tidak perlu cemas begitu..”, jawab Stefanny mencubit pipi Jimin yang terlihat sangat takut.
“Ten.. Kau bawa obatnya?”, tanya Jimin.
“Tentu.. Ini..”, Ten menyerahkan obat oles ke Jimin.
“Eh! Kau mau apa?”, tanya Stefanny was-was ketika Jimin mendekat kearahnya.
“Aku akan mengoleskan obat ini ke luka nuna..”, jelasnya.
“Sudah diobati kok.. Sebentar juga sembuh..”
“Aku harus yakin dengan melihat luka itu sendiri..”
“Jangan khawatir, Stefanny-san.. Obat ini adalah obat yang paling manjur untuk luka sobek di klan Hanamatsu..”, tambah Ten.
“Akan kuoleskan sendiri..”, ujar Stefanny mengambil obat itu dari tangan Jimin.

Awalnya Jimin menurut dan kembali duduk di bantal duduknya. Namun ketika melihat perempuan di depannya itu mengolesi luka secara bringas dan serampangan, ia jadi tidak tahan sendiri. Jimin lalu merebut obat tersebut dan mengoleskannya secara perlahan dan rata ke seluruh bagian luka Stefanny tanpa banyak bicara.

“Jimin-a..”
“Hm?”
“Aku mau bertanya beberapa hal padamu..”
“Tanyalah..”
“Apa kau punya alasan untuk membunuhku?”
“Eemmm.. Biar aku berpikir dulu.. Membunuh nuna? Hmm, aku tidak punya alasan.. Kenapa harus membunuh nuna yang paling kucintai?”
“Hah, kau masih saja pandai membuatku tersenyum malu.. Lalu, misalnya kau membenci orang.. Katakanlah Kai.. Apa kau punya alasan untuk memfitnahnya demi tujuanmu?”
“Lebih baik aku membunuhnya daripada memfitnahnya.. Aku akan lebih kesal kalau melihat Kai lolos dari fitnahanku bukan? Karena itu, buat apa memfitnahnya? Dia terlalu cerdik untuk keluar dari status kambing hitam..”, jelas Jimin.
“Kau benar..”
“Ada apa, nuna? Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”
Stefanny tersenyum tipis. “Ada lalat yang ingin bermain denganku..”

@@@@@

Sepanjang hari itu, Stefanny dan Kai sama sekali tidak bertemu lagi. Meski Stefanny hanya diam di kamar dengan gelar pemenang, Kai sama sekali tidak berkunjung lagi setelah dari ruang interogasi. Sebenarnya ia ingin keluar dan menemui Kai, tapi itu melanggar aturan. Duel Kai dan Jimin belum selesai, ia tidak bisa menemui Kai seenaknya, kecuali Kai sendiri yang berjalan ke pintu kamarnya. Hah. Semoga kau menang, Kai! Jangan sampai terluka, Jimin.
Keesokan harinya, duel ronde ketiga.

“Ronde pertama dimenangkan oleh Jimin dari klan Hanamatsu.. Ronde kedua dimenangkan oleh Kai dari klan Uekusa.. Oleh karena itu, ronde ketiga ini adalah penentuan siapa yang akan menjadi pemenang sebenarnya..”, jelas paman Ken.
“Pada duel ronde ketiga ini, aku yang akan menentukan jenis lombanya..”, kata kakek Uekusa.

Semua orang menanti keputusan kakek Uekusa. Terlihat wajah serius Kai dan Jimin. Tidak. Itu bukan wajah serius Kai. Itu wajah...

“Ren.. Apa yang terjadi di ruang interogasi kemarin?”, tanya Stefanny kemudian Ren membisikkan jawabannya. Mata Stefanny terbelalak kaget. Ini gawat.

“Duel ronde ketiga adalah pertarungan sampai mati..”, kalimat dari kakek Uekusa membuat semua orang keheranan. “Mereka akan bertarung dengan senjata pilihan masing-masing.. Peraturannya sederhana.. Bertarunglah sampai salah satu dari kalian mati..”.

Jimin sedikit terkejut dan ragu disitu. Ia melirik Kai yang masih memasang ekspresi sama daritadi. Ia mengalihkan pandangan ke Souta. Oh orang itu ternyata. Wajahnya terlihat berseri walau tanpa senyuman.

“Sekarang semuanya menuju ke dojo..”, ajak paman Ken.

Stefanny hendak mendekati Kai ketika kakek Uekusa memerintahkan semua untuk bubar. Tapi Kai berjalan sangat cepat tanpa melihat kearah lain selain lurus ke depan. Dia apa? Kuda? Kai! Lihat sini! Aku harus mengatakan hal ini padamu!! Kai-ya!! Namun, percuma saja. Sampai di dojo pun Stefanny tidak bisa bertatapan dengan Kai. Oh tidak nyawa Jimin dalam bahaya!

“Ini adalah hadiah terakhir untukmu dariku.. Anggap saja ini ucapan selamat karena kau berhasil menjadi nyonya Uekusa dan merebut Uekusa Kai-sama dari ikatannya bersamaku..”, ujar Emi mendekati Stefanny.
“Terimakasih atas hadiahmu.. Aku tersanjung melihat kebaikan dan kebijaksanaanmu.. Kau sungguh wanita yang lapang dada dan tegar, Emi-san..”, jawab Stefanny mengontrol ekspresinya.
“Tak perlu sungkan..”
“Tapi sayang... Aku harus menolak hadiahmu.. Aku tidak bisa menerima hadiah yang kotor.. Aku takut akan mengotori tanganku yang cantik.. Permisi..”, lanjut Stefanny melenggang pergi.
“Masih bisa sok.. Haha, lihat saja.. Kau akan menangis..”, ujar Emi.

Duh, ini benar-benar gawat! Saat ini pasti kakek Uekusa pun sangat marah. Bukan langkah bijak untuk menemuinya sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Ah, ia berharap ada meteor yang jatuh ke dojo dan menghentikan duel! Ck.

@@@@@

Kai menggunakan pedang kayu, Jimin pakai katana. Mereka berdua masuk ke arena duel yang terasa mencekam. Jimin merasa heran disitu. Kenapa Kai pakai pedang kayu? Wasit memasuki arena dan mengulurkan kipas yang membagi dua kubu itu. Ia melihat ke kanan kiri kemudian mengangkat kipas menandakan duel dimulai.
Seperti yang dilihat sebelumnya, gerakan klan Hanamatsu itu indah seperti orang menari, sedangkan gerakan klan Uekusa mantap dan tegas. Dalam waktu beberapa detik, Kai berhasil menyudutkan Jimin. Padahal dia pakai pedang kayu, darimana semua kekuatan dan kestabilan pedang itu? Mana mungkin pedangnya tidak patah melawan katananya yang terbuat dari baja?

‘Ptash!!!’

“Ack!!”, Kai berhasil memukul punggung Jimin dengan pedang kayunya. Gila, sakit sekali. Ini lebih sakit dari tebasan pedang.
Tanpa berkata apa-apa, Kai maju dan menyerang lagi. Beberapa kali Jimin menerima pukulan pedang kayu Kai. Rasa perihnya lebih tahan lama dari luka gores.

“Bagaimana kau akan membunuhku dengan senjata itu..? Kenapa... Kenapa pedang kayu?”, tanya Jimin geregetan sambil menahan pedang kayu Kai.
“Kenapa kau tanya?”, Kai merespon dengan datar.

Ia melepas aduan pedang kayu dan katana, lalu melompat dan memukul bahu kiri Jimin membuat anak itu jatuh kesakitan.

“Aku akan lebih suka menyiksamu sampai mati daripada langsung membunuhmu..”, jawabnya menghunuskan pedang kayunya ke wajah Jimin.

Jimin menampik pedang kayu Kai dengan katananya. Sumpah, tangan kirinya mati rasa. Sepertinya ada yang patah. Kai tidak main-main dengan perkataannya. Ia benar-benar ‘bermain’ bersama Jimin. Stefanny menggigit bibir bawahnya. Kalau dibiarkan anak itu bisa mati kesakitan. Oh ayolah kakek Uekusa. Bertindaklah!

“Anda mau apa, Yamada-sama?”, tanya Ren melihat Stefanny hendak berdiri.
“Aku harus menghentikan ini..!”
“Jangan..”
“Kenapa tidak? Jimin bisa mati!”
“Kalau anda menghentikan duel, secara tidak langsung anda membuat tuan muda kalah..”, jelas Ten.
“Kalau anda masuk membela Uekusa-samapun.. Kemenangan anda akan sia-sia..”, tambah Ren.

Argh! Lalu apa yang harus dilakukan? Menembakkan anak panah kesana? Melempar surat anonim yang menyatakan perang? Ah! Kau pikir ini drama?! Ayo cepat pikirkan sesuatu, Stefanny!!!
Pada saat itu, ketika Jimin sudah tergeletak tak berdaya dan Kai hampir melayangkan tebasan pedang kayunya yang terakhir..

‘Tak!!!’

Luhan menahan ayunan pedang kayu Kai. Semua orang dibuat terperangah kaget melihat hal ini. Itu Luhan! Pengawal pribadinya Kai! Apa yang yang dilakukan orang kepercayaannya disana?

“Apa yang kau lakukan? Menyingkir..”, perintah Kai.
“Anda sudah melewati batas anda sendiri, Uekusa-sama...”
“Batas? Heh.. Batas apa?”

Tak menghilangkan kesempatan ini, Stefanny langsung masuk ke arena dan membantu Jimin. Melihat Stefanny yang begitu memperhatikan Jimin, Kai semakin naik darah.

“Kenapa kau disana?”, tanyanya. Stefanny hanya melirik tajam tak menjawab. “Aku tanya padamu, apa yang kau lakukan disana?!”, bentak Kai.
“Aku menolongnya!”, jawab Stefanny dengan nada tinggi juga.
Mwo? Menolongnya?”

“Duel ini akan berhenti disini..”, sela wasit. Ia kemudian berjalan ke kakek Uekusa yang bingung menentukan siapa pemenangnya. Di satu sisi, Luhan adalah orangnya Kai, tapi di sisi lain Luhan membantu Jimin. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab menerima kekalahan ini?

“Luhan..”, panggil kakek Uekusa.
Oyabun-sama..”, jawab Luhan.
“Kau ada di pihak siapa?”
“Saya ada di pihak nona Yamada..”

Jawaban itu mengejutkan beberapa orang disana. Apa yang dia bicarakan?

Aniki..”, panggil Anne.
“Dia ingin membuat hasil duel ini ambigu..”, jawab Souta.

“Yamada-san.. Kau, ada di pihak siapa?”, tanya kakek Uekusa.
“Saya tidak berpihak pada siapapun.. Saya tidak setuju dengan duel ini..”
“Kau tahu alasan kenapa aku menentukan duel sampai mati?”
“Apapun alasannya, keputusan yang anda buat tidak bijaksana..”

Kakek Uekusa menghela nafas panjang. Stefanny kembali membantu Jimin yang terluka parah. Kai menghentikan langkah Stefanny dengan menarik tangannya.

“Dia berusaha membunuhmu, apa kau tidak tahu?”, tanya Kai.
“Bukan dia yang berusaha membunuhku, Kai.. Aku sudah mengatakannya padamu.. Jangan mudah percaya pada paman-paman itu!”
“Aku menghabiskan waktuku untuk menginterogasi mereka dengan cara apapun.. Dan jawaban mereka tetap sama! Bahkan mereka punya bukti dan mereka juga punya tato Hanamatsu di tubuh mereka! Kau masih tidak percaya dan membelanya?”
“Aku juga bisa menato tubuhku dengan tato semua klan hanya untuk mengelabuhimu! Aku bisa menjawab dengan satu jawaban yang sama sampai mulutku berbusa hanya untuk membuatmu lelah dan percaya, Kai!”

“Argh! Kenapa sih kau terus berada di pihaknya? Kau adalah calon istriku! Berpihaklah padaku! Aku begitu kesal ketika kau terluka karena paman-paman suruhan itu.. Karena itu aku akan menghabisi orang yang menyuruh mereka..”
“Aku ada di pihakmu Kai.. Tapi kau tidak percaya padaku..! Bukan Jimin yang menyuruh mereka!”
“Lalu siapa?! Siapa yang kau tuduh? Souta? Anne? Emi? Kakek? Aku?! Bilang saja kalau kau mencintai Jimin dan tidak rela kalau dia bersalah!”, Kai meninggikan suaranya dengan kesal.
“Apa? Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Aku tidak ingin baik Jimin maupun kau ada yang terluka hanya karena aku! Kau terlalu berlebihan dan kekanak-kanakan, Kai!”, Stefanny ikut kesal.
“Berlebihan? Kekanak-kanakan katamu? Apa seorang suami yang melindungi istrinya itu berlebihan dan kekanak-kanakan?!”
“Apa kau akan melakukan hal seperti ini lagi kalau ada yang mencoba melukaiku?”
“Tentu saja! Aku tidak akan memaafkan mereka yang menyentuhmu!”
“Apa kau senang berbuat seperti itu?”
“Apakah kau harus menanyakan hal itu padaku? Kenapa? Kau tidak senang?”
“Membunuh Jimin untuk membalaskan dendam konyolmu lewat duel ini begitu menyebalkan, bodoh, tidak dewasa, dan membuatku kesal!!”

“Mwo? Hah, geurae.. Aku lupa dia adalah orang yang begitu penting dalam hidupmu..”, Kai manggut-manggut dengan senyum sinis.
“Apa lagi maksudmu? Kau dan dia sama-sama penting..!”
“Sudahlah! Kalau kau tidak suka berada disini, tidak usah berbelit-belit.. Pulang tinggal pulang..!”
“Sekarang kau mengusirku?”
“Bukankah itu maumu? Kau ingin pulang kan? Kau ingin pulang dan tinggal bersama dengannya! Iya kan?!”, bentak Kai.
“Kupikir kau sudah berubah.. Kau masih sama, tidak, kau lebih buruk dari Kai yang kukenal.. Kau benar-benar.. Bodoh!”
“Benar, aku memang bodoh!!”
“Tidak dewasa!”
“Tentu saja aku tidak dewasa! Aku bodoh dan kekanak-kanakan telah mencintai dan melindungimu!”
“Kalau begitu jangan cintai aku!”

Kalimat itu menampar Kai. Membakar dada dan menghitamkan pandangannya. Dengan tatapan tajam dan nafas pendek karena kesal, Kai berbalik meninggalkan dojo setelah membanting pedang kayunya hingga patah tanpa berkata apa-apa.
Stefanny, Ten, dan Ren membantu Jimin menuju ke kamarnya untuk diobati. Lukanya sangat parah. Lebam dan luka dalam.
Kakek Uekusa menghela nafas dan menyudahi duel hari itu. Terlihat senyum kemenangan di wajah Souta, Anne, dan.. Emi.

@@@@@

“Apa yang akan anda lakukan sekarang, Stefanny-san?”, tanya Ten.
“Aku akan pulang ke rumah..”

Ren menoleh ke Stefanny cepat. “Tapi...”
“Tidak ada alasan untuk ada disini lagi, Ren..”
“Anda tidak boleh menyerahkan Uekusa-sama begitu saja ke Emi-san..!”, Ren sedikit tidak setuju.
“Aku tidak menyerahkannya, Ren.. Kau tidak lihat? Kai sendiri yang pergi kan?”
“Anda harus tetap berada di sisi Uekusa-sama! Jangan biarkan Emi-san menang!”
“Cukup, Ren! Untuk sementara.. Aku tidak ingin mendengar nama Kai atau siapapun yang menyangkut Uekusa.. Aku sudah terlalu lelah..”

Ren dan Ten terdiam. Tidak tidak. Meski ia senang Stefanny akan pulang bersama Jimin, tapi tidak dalam keadaan tegang seperti ini. Ten dan Jimin hanya menggoda dan mengetes suami Stefanny saja. Ia tak tahu akan jadi seperti ini akhirnya.

“Siapkan kepulangan.. Kalau bisa, aku ingin pulang sebelum fajar..”
“Akan saya usahakan..”, jawab Ren.

Di lain tempat, kakek Uekusa sedang menghubungi kakek Yamada melalui ponselnya yang canggih.

“Begitulah..”, ia menjelaskan situasinya.
“Hah.. Akan sedikit sulit untuk memperbaiki ini..”, kata kakek Yamada.
“Aku sudah melakukan sebisaku disini.. Karena itu, bujuklah Stefanny agar mau baikan dengan Kai.. Aku menyerahkannya padamu..”
“Tentu, aku akan melakukan itu.. Masalah Stefanny biar aku yang tangani.. Kau tangani Kai juga ya..”
“Ya..”

Setelah berbincang sebentar, kakek Uekusa mengakhiri panggilannya. Di belakangnya sudah duduk dengan manis Luhan, pengawal pribadi cucunya.

“Jelaskan tindakanmu tadi..”, pinta kakek Uekusa.
“Tempo hari Uekusa Kai-sama meminta saya untuk berpihak pada nona Stefanny jika beliau sudah melewati batasnya..”, jawab Luhan.
“Batas apa yang kau maksud?”
“Amarah.. Uekusa-sama tahu kalau suatu saat di pertandingan ini, ia pasti akan kelepasan tenaga atau ada situasi yang membuat amarahnya memuncak.. Karena itu, beliau memerintahkan saya untuk menghentikan tindakannya..”
“Begitu ternyata.. Hah.. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah berucap.. Ya sudah, Luhan.. Kau temani Kai terus.. Pantau dan amati dia.. Aku takut dia akan menangis menyesali keputusannya.. Dia bisa membangunkan seisi rumah dengan tangisannya itu.. Hah..”, hela kakek Uekusa lelah.
“Baik, Uekusa-sama..”

@@@@@

Tidak. Apa yang Luhan lihat tidak salah. Sama sekali fakta realita! Kai tidak menangis. Tak satu titik air mata pun ia teteskan setelah perginya Stefanny dan Jimin dari kediaman Uekusa. Ia tidak bergelayut manja, ia tidak merengek, ia tidak menyesali keputusannya. Sebenarnya ini melegakan, tapi ini juga gawat.

“Uekusa-sama..”, panggil Luhan mendekat. “Ada surat untuk anda..”, ia menyerahkan sebuah amplop warna merah muda, dengan pita putih dan beberapa hiasan norak lainnya.

Kai hanya menatap undangan jamuan makan itu dengan ekspresi datar. Ia membaca lalu meletakkannya lagi ke lantai dengan ekspresi tak berubah. Luhan menelan ludahnya, biasanya ia akan heboh menerima surat unik dari Author. Tapi reaksinya kali ini.. membuatnya merinding cemas.

@@@@@

“Kakek.. Aku pulang..”, sapa Stefanny memasuki kediaman Yamada.
“Oh, cucuku sudah pulang..”, sahut kakeknya.

Stefanny tersenyum kecil menatap kakeknya. Kakek Yamada menatap wajah lelah cucunya, tidak, wajahnya sedih. Oh, cucuku yang malang. Kakek Yamada lalu memeluk Stefanny dengan erat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya memeluk dan menepuk pundaknya lembut. Setelah dipeluk, Stefanny izin masuk ke kamar.

“Ren..”, panggil kakek Yamada.
“Saya, oyabun-sama..”
“Amati cucuku.. Dia tidak mudah menangis bahkan di depan kakeknya sendiri.. Jangan biarkan siapapun mengganggunya, mengerti?”
“Baik, oyabun-sama..”
“Dia butuh waktu untuk sendiri..”

Ren mengintip Stefanny yang terbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Di kamar itu sangat hening. Tidak ada isakan. Lebih tepatnya, tak ada tangisan dari Stefanny. Hah.. Nona, kau harus menangis. Kau butuh itu agar perasaan anda lega. Menangislah, nona.

“Aku akan pergi ke tempat biasa.. Aku akan bertemu dengan teman-temanku.. Siapkan semuanya, Ren..”, ujar Stefanny.

“Baik, Yamada-sama..”, jawab Ren.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar