Angin
lembut yang membawa kehangatan musim ini, membuat bunga-bunga menari. Di tengah
suka cita dedaunan yang saling mengintip, sepasang bola mata menatap sepucuk
surat dengan begitu intens.
“Bakar..”,
ujarnya santai.
“Baik..
Eh? B-bakar? Anda tidak akan memenuhi undangan itu?”, pria imut berambut pirang
di belakangnya sedikit menganga tak percaya.
“Jangan
sampai ada yang tahu.. Terutama Yang Mulia Kaisar..”
“Ano,
Ny-chan.. Kau terlalu banyak menonton
Empress Ki..”, jawab pria itu.
“Hm,
benar.. Tapi aku serius, Ren..! Kau harus membakarnya.. Jangan sampai siapapun
tahu soal ini.. Terutama Kai..”
“Kenapa?”
“Kalau
dia tahu aku akan pergi darisini, kau pikir apa yang akan dia lakukan?”
Ren
berpikir dengan melihat ke langit-langit ruangan. “Bunuh diri, mungkin..”,
jawabnya setengah yakin.
“Masa
dia segitunya sih?”, Stefanny heran sendiri. “Ah sudahlah.. Pokoknya
sembunyikan ini..”.
“Baiklah..”
“Oh!
Ambil kupon doorprizenya.. Siapa tahu
kita dapat undian..”
“Okidoki,
Ny-chan!”, jawab Ren kemudian
beranjak.
Ketika
Stefanny hendak melanjutkan merajutnya, ia dikejutkan oleh penampakan yang
berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya begitu dekat dan lekat menatap Stefanny
secara dalam penuh rasa penasaran. Siapa lagi kalau bukan pemilik wahana (read
= rumah) ini?
“Apa
yang kalian sembunyikan?”, tanya Kai menyipitkan kedua matanya.
“E-eh!?
Ah, Kai! Kau mengejutkanku!”, kata Stefanny terlonjak kaget melihat dakochan
raksasa.
“Apa
yang kau bicarakan dengan Ren? Apa yang disembunyikan? Ayo beritahu aku.. Ya?
Ya? Ya?”, rengek Kai tanpa henti.
“Hah,
baiklah..”, desah Stefanny menyerah. “Ada undangan arisan..”, jawab Stefanny
sambil mengangkat jarum rajutnya.
“Hm?
Masa? Hanya itu? Tidak mungkin.. Kau bohong kan?”
“Tidak..
Untuk apa aku bohong?”
“Kau
selalu membuang muka kalau bohong..”
“Ah
masa? Hanya perasaanmu saja..”
“Ah,
Stef~ Ayo beritahu aku..! Aku bisa insomnia karena penasaran!”, rengek Kai
sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan cemberut.
“Tingkahmu
tidak sesuai dengan umur, Kai.. Ckckck..”
“Habisnya
kau begitu sih..”, bela Kai menusuk-nusuk Stefanny dengan jari telunjuknya.
“Aku
tidak akan terpancing dengan aegyomu..
Tidak akan..”, tolak Stefanny masih merajut.
“Ayo
beritahu, Stef~! Stef, ah!!”, Kai guling-guling dan akhirnya terjerat benang
wol. Babo :”)
Stefanny
menahan tawa geli selagi Kai memelas minta bantuan padanya. Ah, wajahnya tidak
pernah membuat harinya biru. Sama sekali tidak membosankan. Bersama Kai itu
seperti, ah! Aya..
“Stefanny!”,
pekik Kai ketika melihat darah segar keluar dari ujung jarinya.
“Haha,
tak apa Kai.. Hanya tertusuk jarum benang..”
“Kau
mau ambil apa di kotak ini? Biar kuambilkan..”, ujar Kai bangkit setelah
meloloskan diri dari jeratan benang wol dengan mudah. Oh, jadi dia pura-pura
tidak berdaya? Dasar.
“Aku
mau ambil gunting.. Tapi sepertinya tidak ada.. Hhmm, ditaruh dimana ya?”
“Akan
kuminta pelayan untuk mengambilkan yang lain..”
“Terimakasih..”
“Kemarikan
jarimu.. Akan kuobati..”
“Cuma
tertusuk jarum, Kai.. Sama sekali tidak berbekas.. Aku baik-baik saja..”
“Bagaimana
kalau jarumnya sudah berkarat? Bagaimana kalau jarumnya diolesi racun oleh
musuh? Bagaimana kalau-“
“Sstt!
Kau terlalu banyak nonton Empress Ki..”, sela Stefanny.
“Cih..
Kesempatan skinship denganmu jadi
hilang kan.. Tch..”, decak Kai memalingkan tubuh kesal.
“Pft..
Hahaha.. Dasar mesum..”
‘JLEB’
aku hidup dimana <<Kai’s mind
“Oyabun-sama.. Kehadiran anda sudah
dinantikan di Balai Agung..”
“Kenapa
semua jadi berlatar Empress Ki :”)”
*TAKE TWO*
“Oyabun-sama.. Kehadiran anda sudah
dinantikan di Washitsu (bagian serbaguna pada sebuah rumah tradisional)
utama..”, suara lembut seorang pelayan mengalihkan obrolan SteKai.
“Kai,
kau dipanggil tuh..”, ujar Stefanny masih sibuk merajut.
“Kuhidup
dengan siapa.. Ku tak tahu kau siapa..”, Kai masih pundung.
“Kai..
Kai!”, panggil Stefanny lagi.
“Cium
aku dan aku akan beranjak!”, jawab Kai menoleh cepat ke Stefanny.
“Heh,
teruslah disana.. Tempelkan saja pantatmu disana selamanya.. Jangan salahkan
aku kalau Jimin berhasil membawaku pergi..”, cibir Stefanny santai.
“Tunjukkan
padaku dimana Washitsu utama..”, kata Kai langsung beranjak membuka pintu
menemui pelayannya dengan wajah dan nada cool.
“Ini
kan rumahmu sendiri, babo..” gumam
Stefanny.
“Yamada-sama.. Anda juga diharapkan untuk
hadir..”
“Eh?
Aku juga?”
Washitsu
utama. Sebuah ruang serbaguna yang dapat dijadikan tempat apasaja sesuai
selera. Ruang tamu, keluarga, santai, makan, belajar, dan lain sebagainya
tergantung perabot yang disimpan di Oshiire (lemari tempat bobok cantiknya si
Doraemon itu loh). Ah, sekarang bukan saatnya menjadi kamus. Saat ini di
Washitsu utama rumah Kai telah duduk dengan tegak beberapa manusia yang membuat
jantung Kai berdetak lebih cepat. Luhan, Jimin, Ten, nenek tua penilai calon
mempelai, paman mencurigakan berkumis kotak, Souta, Anne, dan.. Emi. Glep!
(diperankan oleh aktris Jepang Emi Takei~)
Bagaimanapun
juga apapun yang terjadi prinsip utama klan Uekusa. Jangan tunjukkan emosi dan
perasaanmu.
“Kalian
berkumpul lebih awal dari waktu yang dijadwalkan..”, ujar Kai mengawali dengan
kalem.
“Emi-chan datang lebih cepat..”, jawab Anne.
“Meski
begitu, Emi-san barusaja tiba..
Biarlah dia istirahat lebih dulu..”, sahut Kai sebenarnya sebal karena SteKai time jadi tersita.
“Lebih
cepat lebih baik.. Lagipula, adikku..”, Souta menatap Kai meledek. “Kau kan
menganggur.. Jangan sok sibuk deh..”, lanjutnya.
Oke,
Kai. Sabar. “Ehm.. Ya, aku memang sedang tidak ada kerjaan.. Tapi Emi-san pasti lelah..”, bela Kai.
“Rumahnya
cuma beberapa blok darisini, Kai..”, kali ini Anne yang menjawab.
“Benarkah?
Kau sudah pindah rumah? Oh begitu..”, jawab Kai manggut-manggut mengerti.
“Kenapa
aku punya adik sepertimu sih?”, gerundel Anne.
“Dari
kau masih ileran sampai ngompolan juga rumahnya Emi disana terus, bocah..”,
timpal Souta kalem.
“Oh
ya? Oh, aku baru tahu.. Ehm, baiklah! Karena sekarang semua sudah ada disini,
bagaimana kalau kita mulai saja?”, Kai cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Jadi, apa mau kalian?”, tanya Kai tegas.
Semua
menundukkan kepala. “Kau tidak lupa dengan perjanjiannya kan, nak?”, tanya
Souta.
“Kalian
masih ingat? Ck.. Aku harap kalian lupa padahal.. Hah.. Ya sudah.. Mulai hari
ini rumahku akan ramai.. Bibi Gong Li akan melatih Emi-san dan Stefanny untuk sayembara nanti..”, jelas Kai mendapat
bungkukkan badan dari wanita tua berwajah muda dan tegas. (Gong Li aktris Cina
itu loh.. Yang syantique :3)
“Paman
Ken yang akan menjadi pemandu duel antara Jimin dan aniki..”, jelas Kai lagi dengan malas. (Ken = Ken Watanabe, aktor
Jepang, bapaknya Anne Watanabe :’>)
“Oh
jadi aku yang sayembara? Kau tidak mau duel demi cintamu? Ya sudah kukalahkan
saja, biar Stefanny balik ke rumahnya..”, bantah Souta mencibir.
“Tadi
aku bilang siapa? Aku bilang Jimin dan Kai kok..”,
ulang Kai tak mau kalah kemudian menjulurkan lidah.
“Kakak
dan adik sama childishnya.. Hishh..”,
desis Anne kesal.
“Bibi
Gong Li, tolong jelaskan pada para peserta.. Apa dan bagaimana penilaian yang
akan dialkukan nanti..”, pinta Kai seakan sayembara terbuka.
Wanita
awet muda itu berdiri dengan kimononya yang cantik. Wajahnya masih sama
daritadi. Tegas dan dingin menunjukkan prinsip wanita Uekusa yang sebenarnya,
angkuh dan mahal.
“Akan
ada tiga tahap penilaian.. Tiap tahap akan dinilai oleh juri yang berbeda
sesuai dengan bidang dan temanya.. Poin tiga untuk yang menang, poin dua jika
seri, dan satu untuk yang kalah..”, jelasnya. “Selama masa pelatihan, peserta
dilarang melakukan kontak dengan siapapun kecuali pihak yang punya izin
kewenangan.. Ada pertanyaan?”.
“Jadi..
Aku tidak boleh bertemu Stefanny, begitu?”, tanya Kai memastikan dengan wajah
setengah tidak terima.
“Ya,
tuan.. Anda dilarang bertemu sebelum waktu pelatihan berakhir..”
“Tapi
nanti.. Bagaimana kalau aku tidak bisa makan? Tidur? Atau..”
“Tuan..”,
bibi itu memperingatkan dengan nada dan tatapannya.
“Ehm,
maaf.. Silakan lanjutkan..”
“Tahap
satu adalah ujian dalam hal rumah tangga, dan keteguhan pada prinsip Uekusa
setiap saat.. Mohon para peserta bersiap untuk itu..”, lanjut bibi Gong Li
masih kalem namun tajam.
“Baik..”,
jawab Stefanny dan Emi.
“Juri
untuk tahap pertama ini adalah para pelayan dan tuan besar.. Tahap dua dan tiga
akan diumumkan setelah tahap satu selesai..”, bibi Gong Li mengakhiri
penjelasannya.
“Aku
jadi juri juga? Yehet..”, Kai senang tanpa ada yang tahu kenapa. “Baiklah,
paman Ken.. Silakan mulai penjelasannya..”, pinta Kai.
Pria
tua dengan wajah tegas dan galak bangkit berdiri. “Tiga ronde duel.. Ronde
pertama uji ketangkasan dalam menggunakan senjata.. Ronde kedua adalah uji
keterampilan dalam berkendara.. Ronde tiga akan ditentukan oleh Uekusa-sama..”, jelas paman Ken.
“Uekusa-sama yang kau maksud itu.....”, Kai
menggantungkan kalimatnya.
“Kakek..”,
jawab Souta.
“Mwo?!! Dia kan sedang jalan-jalan ria di
Afrika bersama kakek mertua!”
“Tadi
aku menghubungi kakek.. Dia ikut excited
dengan duel ini.. Makanya dia mau ikut andil juga..”
“Kakek
tua menyebalkan! Ingat umur kenapa sih?! Tidak suka kalau cucunya bahagia
dengan tenang ya?!”, Kai menendang-nendang tumpukan bantal duduk.
“Waktu
jeda antara ronde satu dengan selanjutnya akan digunakan peserta untuk latihan
dan uji coba duel.. Sekian..”, paman Ken kembali duduk.
“Baiklah..
Pertandingan akan dimulai minggu depan.. Mulai hari ini kalian sudah
diperbolehkan untuk latihan..”, Anne berkalimat sebelum meninggalkan ruangan.
“Kai
dan Jimin akan menempati rumah dekat dojo.. Emi dan Stefanny akan menempati
rumah dekat dapur.. Kalau sudah mengerti.. Bubar..”, ujar Souta.
“Pemimpin
klannya kan aku.. Kenapa dia yang memberi titah?”, gerundel Kai mencabuti duri
kaktus.
Pada
siang hari itu, para peserta bersiap untuk pindah ke hunian yang sudah
ditentukan.
“Stef..”,
panggil Kai menggandeng tangan Stefanny ketika ia sedang berkemas.
“Hm?”,
tapi Kai tak menjawab. “Ada apa? Jangan berwajah sedih begitu..”, kata
Stefanny.
“Maafkan
aku ya..”
“Untuk?”
“Seharusnya
kita sudah bisa merancang pernikahan kita.. Tapi gara-gara kakakku, kau jadi
ikut terseret seperti ini..”
“Tak
apa.. Lagipula aku lebih suka begini daripada harus susah payah melewati
pelatihan yang strict..”
“Berjanjilah
padaku..”, Kai menangkup wajah Stefanny. “Kau akan memenangkan semua tahap..
Kau akan menjadi pemenang mutlak.. Arraseo?”.
“Kau
juga harus melakukan itu, tuan besar..”, Stefanny tersenyum sambil mengaitkan
kelingkingnya pada kelingking Kai.
“Mungkin
aku terdengar jahat.. Tapi bagaimanapun juga aku adalah protagonisnya..”, suara
Jimin mengalihkan perhatian SteKai. “Aku akan menghapus janji kalian.. Itu
janjiku..”, lanjutnya memutus kaitan kelingking SteKai.
“Hish,
anak ini benar-benar..”, Kai kembali menggerundel kesal.
Di
lain sisi, Anne menghampiri Souta yang sedang tiduran santai di Roka (teras
samping rumah). “Aniki..”, panggilnya
dengan tangan terlipat.
“Hm?”,
respon Souta tanpa bergerak.
“Kenapa
sih kau pakai sayembara segala? Bukankah sejak anak itu lahir sudah diputuskan
oleh klan kalau pendampingnya adalah Emi..?”
“Pikiranmu
terlalu sempit, Anne..”, Souta membuka kedua kelopak matanya. “Aku memanfaatkan
Stefanny dan Emi untuk mengamati kemampuan anak dari klan Hanamatsu itu..”
“Apa?
Tapi itu terlalu gegabah dan egois, aniki..
Kau barusaja mengesampingkan keputusan klan hanya untuk keegoisanmu!”
“Tenang
saja, adikku sayang.. Nenek bukan tipe yang seenaknya sepertiku..”
“Apa
maksudmu?”
“Nenek
pasti akan menentang hubungan Stefanny dan Kai.. Dia akan berpegang teguh pada keputusan
yang mengikat Kai dan Emi.. Meski kakek setuju dan sudah nyaman pada klan
Yamada, kemungkinan besar kakek masih akan patuh pada perintah nenek, bukan?”
“Tujuanmu
itu terlalu membahayakan klan, aniki..
Hanya untuk melihat perkembangan Hanamatsu, kau menjadikan adikmu sebagai
umpan.. Hah, kau tidak berubah sama sekali..”, Souta diam saja pada omelan
Anne. “Kau tidak sungkan pada Emi? Dia tidak tahu apa-apa soal ini.. Bahkan
mengenai hubungan Stefanny yang hampir menikah dengan Kai pun dia tidak tahu
sama sekali!”.
Souta
tertawa kecil. “Kau meragukan kemampuan Emi?”, tanya Souta.
“Dibandingkan
dengan Stefanny, dia-”
“Dibandingkan
dengan Stefanny, potensi Emi jauh lebih tinggi..”, sela Souta. “Meski bukan
dari keluarga yakuza, tapi Emi adalah
pilihan nenek.. Dan kau tahu sendiri kan kalau pilihan nenek itu tidak bisa
diuji maupun diragukan lagi..”
“Kau
juga tidak bisa meremehkan Stefanny, aniki..
Kau tidak ingat dia dari klan Yamada? Dia punya sejarah yang dapat membentuknya
menjadi perempuan yang jauh lebih menakutkan dari potensi Emi..”
“Hah,
aku lelah mendengar kecemasanmu itu.. Daripada menceramahi aku, lebih baik kau
pantau saja perkembangan mereka.. Dan pastikan kau mengatur semuanya dengan
baik..”
Anne
menghela nafas panjang. “Kau benar-benar licik, aniki..”
Souta
menyunggingkan senyum tajamnya, “Oh ya?”.
@@@@@
“Yamada-san..”, panggil kakek Uekusa dari atas
unta.
“Oh,
Uekusa-san.. Kau sudah kembali..
Bagaimana perjalananmu naik unta?”, kakek Yamada bertanya sambil membawa
setusuk daging panggang.
“Luar
biasa.. Besok ayo kita beli sepasang unta untuk jalan-jalan santai di rumah
cucu kita..”
“Oh!
Kau berencana untuk tinggal di rumah Kai nantinya?”
“Tentu
saja! Aku tidak akan membiarkan anak itu hidup tenang..”
“Hahahaha..
Kita punya rencana yang sama..”
“Kau
juga berencana untuk ikut tinggal bersama Stefanny setelah dia menikah nanti?”,
kakek Uekusa melebarkan mata.
“Iyalah..
Aku tidak bisa lepas dari cucu kesayanganku..”
“Hebat!
Kalau begitu, kita jadi tidak kesepian.. Hahaha..”
Obrolan
mereka sangat jahat ya. Mau merusuhi kehidupan rumah tangga cucu mereka. Oh oh
oh, kakek yang menggemaskan :”)
“Oh,
Yamada-san..”, kakek Uekusa mengambil
setusuk sate. “Aku dapat kabar dari cucu tertuaku.. Dia bilang kalau ada
sayembara yang akan dilakukan di kediaman Uekusa..”
“Sayembara
apa?”
“Sayembara
antara cucuku dengan orang dari klan Hanamatsu.. Juga sayembara antara cucumu
dengan pilihan klan..”
“Hm?
Apa maksudmu? Aku tidak paham.. Klan Hanamatsu kenapa sampai ke rumahmu?”
“Dia
hendak menjemput cucumu.. Tapi Kai tidak menyetujuinya.. Karena itu cucu
tertuaku mengusulkan sebuah pertandingan..”
“Usir
saja.. Stefanny dan Kai kan sudah hampir menikah.. Kenapa repot begitu?”
“Masalahnya
adalah....”
Kakek
Yamada menanti kalimat yang akan dilontarkan kakek Uekusa selanjutnya. Ia
menghela nafas berat sebelum mebuka mulut untuk melanjutkan.
“Klan
kami punya tradisi yang sudah diakhiri sekarang.. Kai adalah keturunan terakhir
yang terikat tradisi ini..”, cerita kakek Uekusa.
“Tradisi
apa itu?”
“Tradisi
untuk menandai pendamping hidup oyabun
klan.. Sebenarnya waktu itu kepala Uekusa adalah kakak pertama Kai, Uekusa
Souta, tapi karena suatu hal ia menolak dan menghilang dari rumah.. Karena itu,
Kai sebagai keturunan laki-laki yang ada terkena imbasnya..”
Kakek
Yamada mendengarkan dengan serius dan seksama. Ia benar-benar teliti untuk hal
seperti ini.
“Waktu
itu istriku memilih seorang anak perempuan yang cantik dari keluarga biasa,
tetangga kami.. Namanya Takei Emi.. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya
keluarga itu terikat dengan perjanjian.. Mereka menyetujui ikatan putri mereka
dengan cucuku..”
“Tunggu,
Uekusa-san.. Kalau Kai terikat dengan
perempuan itu, kenapa klan membebaskannya berhuru-hara dengan bebas? Ia sekolah
di sekolah umum, melakukan banyak hal tanpa syarat dan larangan..”
“Itu
karena istriku pindah ke Rusia.. Ketika umur Kai tujuh tahun, ia kupindahkan ke
sekolah umum demi kenormalan hubungan sosialnya.. Aku sama sekali tidak setuju
dengan tradisi ini.. Karena itu aku diam-diam menghapus ikatan tradisi secara
perlahan..”
“Lalu
bagaimana dengan nyonya Uekusa?”
“Ia
tidak akan pernah kembali ke Jepang.. Dia sudah menetap disana, menjadi
penanggungjawab klan di Rusia..”
“Kalau
begitu, bukankah sudah selesai masalahnya?”
“Souta
dan Anne membawa kembali ikatan itu.. Mereka adalah cucu kesayangan istriku..
Jadi mana mungkin mereka berpihak padaku?”
“Jadi
sekarang cucuku harus mematahkan ikatan Emi dan Kai melalui sayembara?”
“Benar..”
Pria
tua itu hening sejenak. Tenggelam dalam proses berpikir di otaknya.
“Aku
punya ide..”, kata kakek Yamada.
“Apa?
Beritahu aku cepat..”
@@@@@
Bersih-bersih
adalah hal dasar yang harus dipahami oleh semua istri yang baik. Tentu tidak
hanya memahami, melainkan juga harus melaksanakan. Kebersihan, kerapihan,
ketekunan, dan daya juang. Nilai-nilai itu harus ada dalam diri seorang istri
yang akan menjadi pendamping oyabun
Uekusa.
“Teknik
menyapu harus dilakukan dengan benar dalam keadaan stabil..”, baca Stefanny.
“Teknik menyapu melingkar dari Belanda, menyapu lurus dari Asia, ini apa-apaan
sih?”, gumamnya heran.
“Menyapu
tinggal menyapu.. Kenapa pakai teknik-teknik begini? Tch..”, decaknya menutup
buku ‘Sapu Bersih Rumahmu dengan Cantik’ karangan Author Mewek. Ia mengambil
buku selanjutnya dari tumpukan di sebelahnya duduk.
“Hidangan
lezat dengan biaya hemat.. Buku resep karangan Chef Suho.. Suho? Hah, Suho?!
Hahahahahaha, judulnya alay!”, tawanya sambil membayangkan wajah Suho.
“Buku
berikutnya apa nih? Meditasi untuk inspirasi diri.. Karangan Kris.. Mwo? Kris? Ah benar juga.. Dia kan
sempat studi di pegunungan kuil para biksu..”, pada akhirnya Stefanny larut
pada buku ajaib Kris ini. Kris is such a
great author.
Semalaman
baik Stefanny maupun Emi menghabiskan waktu untuk belajar menggali informasi
dari buku-buku yang mereka ambil dari perpustakaan keluarga. Saat fajar
menyingsing, pendidikan dari bibi Gong Li pun juga dimulai.
Pertama
adalah membersihkan rumah. Tanggap, bersih, dan cekatan adalah aspek pentingnya.
Kedua adalah menyiapkan sarapan. Menu yang sehat, variatif, dan tidak
menghabiskan waktu banyak merupakan kunci dasarnya. Ketiga yaitu menyiapkan
perlengkapan yang dibutuhkan oyabun
hari itu. Cermat, teliti, dan cepat menjadi prinsip utamanya. Keempat,
menyiapkan makan siang. Kelima, menyambut kedatangan tamu dan kembalinya suami.
Keenam, menyiapkan makan malam. Ketujuh, melayani kebutuhan oyabun. Itu adalah serangkaian tugas
yang harus dilakukan peserta.
“Ada
pertanyaan?”, tanya bibi Gong.
“Melayani
kebutuhan oyabun disini.. Apa
maksudnya?”, tanya Stefanny.
“Kebutuhan
secara keseluruhan.. Pakaian, camilan, waktu santai, waktu lembur, sampai
kebutuhan biologis...”
“Baik
saya mengerti..”
MWO?! Kebutuhan
biologis dia bilang?! What the hell..
Lagipula ini adalah ujian untuk menjadi pendamping Kai, bukan ujian masuk
menjadi pembantunya! Apa-apaan dengan semua tugas itu? Hah, gila.
“Permisi,
maaf mengganggu..”, seorang pelayan membungkukkan badan memasuki ruang belajar.
“Ada
masalah apa?”, tanya bibi Gong dingin.
“Kehadiran
anda dan para peserta dinantikan di Washitsu utama.. Uekusa-sama dan Yamada-sama telah kembali dari liburan mereka..”
“Apa?
Secepat itu?”
Tanpa
banyak bincang, Gong Li membawa Emi dan Stefanny menuju ke Washitsu utama.
Disana sudah ada seorang kakek berwajah riang (juga hitam terbakar terik
matahari Afrika).
“Gong
Li! Ohohoho.. Kau tidak berubah sama sekali!”, sapa kakek Uekusa.
“Terimakasih,
Uekusa-sama.. Tapi anda hanya
seminggu meninggalkan Jepang, jadi tentu saja belum ada perubahan dari diri
saya..”, jawab bibi Gong.
“Benar
juga.. Oh lihat! Emi-chan sudah
disini! Bagaimana kabar keluargamu?”, kakek Uekusa bergeser perhatian ke
perempuan di sebelah bibi Gong.
“Terimakasih
sudah bertanya, Uekusa-sama.. Keadaan
mereka baik-baik saja dan sehat.. Ini juga berkat kebaikan anda..”, jawab Emi
tersenyum dan membungkuk sopan.
“Bagus..
Aku senang mendengarnya.. Lalu, Stefanny.. Kau terlihat menawan dengan busana
khas Uekusa.. Apa kau kerasan disini?”
“Tentu
saja.. Semuanya memperlakukanku dengan baik disini.. Aku sangat berterimakasih
pada klan Uekusa.. Ngomong-ngomong, kakek.. Dimana kakekku?”
“Oh
dia sedang menurunkan oleh-oleh.. Kami bawa unta!”, lapornya bangga. Untanya
benar-benar dibeli :”)
Saat
itu, sebuah suara familiar memenuhi ruangan. “Uekusa-san! Kaktusnya mau ditaruh mana?”, begitu katanya.
“Ah
benar! Taruh saja di kamar Kai! Itu hadiah dariku untuknya..!”, jawab kakek
Uekusa menghampiri.
Tiga
perempuan disana pun ikut keluar mengikuti jejak kakek Uekusa. Mereka disuguhi
pemandangan oleh-oleh yang fantastis. Kaktus, unta, pakaian gurun, senjata suku
Afrika, sampai orang lokal juga dibawa pulang. Benar-benar kakek yang berbahaya
:”)
Singkat
kata, akhirnya mereka bisa duduk dengan tenang di Washitsu utama dengan suguhan
secangkir teh hijau hangat dan camilan kue beras.
“Aku
sudah mendengar semuanya.. Aku juga tidak bisa menentang dan membatalkan hal
ini..”, ujar kakek Uekusa serius. “Karena itu aku lebih memilih untuk ikut
andil dalam keputusan disini..”, lanjutnya.
“Hoammm..
Kenapa pagi-pagi sudah ribut sekali?”, Kai memasuki Washitsu dengan mata
tertutup dan badan loyo. Ia duduk di deretan kursi, tak sadar akan tatapan
kakeknya.
“Kau
sudah bekerja dengan keras, Kai..”, sapa kakek Uekusa.
“Hm?
Kakek..? Kakek?!”, Kai terkejut melihat sosok kakeknya.
“Maafkan
ketidaksanggupan saya, Uekusa-sama..
Saya lalai menyadarkan tuan besar..”, lapor paman Ken masuk bersama Jimin.
“Sudah
biasa.. Kau bukan orang pertama yang rela mati untuk membangunkan Kai..”, jawab
kakek Uekusa kalem.
“Ehm..
Maaf kalau saya lancang, Uekusa-sama..
Tapi tidakkah anda terlalu santai di hadapan para tamu?”, bibi Gong ingin
menyadarkan kakek Uekusa.
“Santai?
Oh.. Maksudmu aku harus memasang wajah serius, kaku, dingin, tajam, menusuk itu
di hadapan mereka? Tidak tidak tidak.. Aku tidak bisa melakukan itu.. Ekspresi
itu hanya digunakan untuk bertemu kelompok lain..”, jelasnya. “Atau ketika ada
istriku disini..”, lanjutnya membawa senyum geli di wajah Stefanny dan Jimin.
“Nenek
semengerikan itu ya?”, tanya Kai serius.
“Dia
lebih buas dari hiu.. Dia akan mencabikmu hanya dengan ketajaman ekspresinya..”
“Karena
itulah nenek menjadi perempuan pilihan klan..”, potong Souta masuk ke Washitsu.
“Dia bukan perempuan sembarangan..”, ujarnya menatap kakek Uekusa.
“Jadi
kakek tidak perlu meragukan pilihan nenek lagi.. Emi-chan tidak akan mengecewakan klan.. Sayembara ini hanya sebagai
latihan untuk Emi-chan.. Benar kan, aniki?”, Anne berjalan duduk sambil menimpali.
“Kakak!
Kenapa bicara seperti itu? Kemarin bukan begitu kan motif kalian!”, sahut Kai
tidak terima.
“Sudah
sudah.. Jangan mulai bertengkar..”, sela kakek Uekusa. “Aku pulang lebih awal
karena aku juga ingin menjadi bagian dari sayembara ini.. Ada hal penting yang
harus kububuhkan pada pertandingan kali ini..”.
Souta
melirik kakeknya menunggu kalimat penting.
“Aku
akan menambahkan beberapa peserta lain untuk mengikuti sayembara pendamping
Kai..”
“Apa?”,
Anne menyuarakan ketidaksetujuannya.
“Gong
Li, Ken.. Cepat kalian sebar berita ini.. Cari peserta dan seleksi mereka
secepatnya.. Enam atau delapan peserta tambahan akan cukup..”, perintahnya pada
orang kepercayaan kakek Uekusa.
“Kakek
tidak bisa seenaknya saja! Dari dulu kita tidak pernah melakukan hal ini!”,
bentak Anne.
“Kenapa
aku tidak boleh? Selama Kai belum menikah, aku masih memegang posisi pada klan
ini.. Dengan kata lain aku juga bertanggungjawab pada Kai, cucuku sendiri..
Jadi aku punya hak..”, kakek Uekusa membuat Anne menggigit bibirnya kesal.
“Souta.. Anne.. Kalian jangan marah padaku.. Pilihan ini, kalianlah yang
memulainya.. Kakek hanya membantu dan mendukung..”, lanjutnya santai namun
terkesan sinis.
“Kalau
nenek sampai tahu.. Apa yang akan kakek lakukan?”, tanya Souta.
“Bukankah
sayembara ini untuk melatih kemampuan Emi? Bagus kan kalau Emi bisa mengalahkan
semua peserta? Tentu nenek akan bangga dan kita semua akan diyakinkan oleh
itu..”
“Hmp..
Jawaban bagus, kek..”, respon Souta tersenyum simpul. “Lalu bagaimana kau akan
mengatur hadiahnya?”, tanya pria itu.
“Masalah
itu...”, kakek Uekusa mengambil cangkir tehnya. “Serahkan saja padaku..”,
lanjutnya kemudian menyruput teh hijau dengan senyum tajam.
@@@@@
“Ah,
jinjja..”, keluh Kai menatap awan.
“Ada
apa, Uekusa-sama?”, Luhan dengan
perhatian bertanya sambil menata oleh-oleh dari kakek Uekusa.
“Aku
merasa tidak nyaman.. Di rumahku sendiri..”
“Kenapa?”
“Aku
adalah pemimpin klan.. Tinggal selangkah lagi aku dapat menikahi Stefanny..
Tapi tiba-tiba semua iblis itu muncul memperkarakan masalah ini! Argh!!
Daridulu sampai sekarang mereka tidak pernah puas mempermainkanku.. Aahhhh..”,
desah Kai meratapi nasibnya.
“Maaf
kalau saya lancang.. Apakah saya boleh mengutarakan tanggapan?”
“Bicaralah..
Hibur aku..”, jawab Kai masih pada posisi meratapi masa depan.
“Jika
saya ada di posisi anda, tentu saya akan sangat bersyukur..”, kata Luhan
membuat Kai menegakkan tubuhnya. “Andai kata anda sudah menikah dengan nona
Yamada tanpa menyelesaikan perkara ini.. Mungkin dampaknya akan lebih buruk,
bukan?”, lanjut Luhan.
“Luhan,
kau... Aku sayang padamu!!!”, Kai memeluk Luhan cepat dengan erat. “Berjanjilah
padaku satu hal..”, pinta Kai melepas pelukan.
“Tentu..
Saya akan patuh pada Uekusa-sama..”
Pria
itu menatap Luhan lekat setelah menghembuskan nafas.
@@@@@
“Kakek
Yamada sudah kembali ke kediamannya..”, Ten memasuki ruangan.
“Apa
yang kau dapatkan?”, Jimin yang berdiri di Roka mulai bersuara tanpa
membalikkan badan.
“Aku
tidak tahu harus mulai darimana.. Klan Uekusa punya lajur benang yang sangat
kusut.. Karena banyak, tidak, karena terlalu rumit, aku jadi tidak dapat
menyusun alurnya..”, jawab Ten menunjukkan ekspresi tertariknya.
“Katakan
saja apa yang kau tahu..”, ujar Jimin. “Biar aku yang memikirkan alurnya
sendiri..”.
“Seperti
yang kakek anda katakan, Jimin-sama..
Orang yang paling berperan dalam mengatur keturunan pada klan Uekusa adalah
istri Uekusa-sama..”, Ten mulai
melapor. “Kakek dan nenek Kai itu, mereka tidak pernah sependapat dalam hal
apapun.. Di klan ini meski terlihat kokoh, sebenarnya mereka terbagi dalam dua
kubu..”
“Kakek
Uekusa dan nenek Uekusa..”
“Benar..
Kai adalah cucu kesayangan kakek Uekusa.. Sedangkan Souta dan Anne adalah kaki
tangan nenek Uekusa.. Untuk wanita bernama Emi itu.. Heh..”, Ten tertawa kecil.
“Kenapa
dengannya?”
“Dia
akan membuatmu merinding ketakutan..”
“Mwo..?”
“Tapi
tenang saja, Jimin-sama.. Di antara
mereka semua, orang yang paling berbahaya tidak lain adalah Uekusa Souta..”
Jimin
menatap taman samping kamarnya dengan tajam. “Kalau aku bisa menguasai Souta..
Akan lebih mudah untukku memisahkan mereka..”.
“Tidak
salah, Jimin-sama..”
“Tunggu
saja, Kai.. Kau akan berlutut memohon padaku.. Pada saat itulah, aku akan
tertawa dan menginjak harga dirimu di depan Stefanny..”
@@@@@
Ujian
tahap pertama. Hari ini terasa begitu menegangkan sekali ya! Coba lihat
kediaman Uekusa yang sudah sangat sibuk menyiapkan lokasi penilaian. Tes
pekerjaan rumah tangga pada tahap awal sayembara terbuka ini diikuti oleh
beberapa peserta.
“Wah
semuanya cantik-cantik ya..”, komentar kakek Uekusa.
“Kami
sudah menyortir peserta sesuai perintah anda, Uekusa-sama.. Klan Kamiya, klan Ono, klan Himura, dan tiga perempuan
biasa.. Total peserta, delapan orang..”, lapor bibi Gong.
“Bagus..
Baiklah kita langsung mulai saja..”, ujar kakek Uekusa. “Penjurian akan
dilakukan olehku, Gong Li, Souta, Anne, Kai, Jimin, dan para pelayan.. Pada
tahap ini hanya akan dipilih empat orang dengan skor paling tinggi.. Empat
lainnya akan dinyatakan gugur dan dipulangkan..”, terdengar bisik-bisik tak
terima dari beberapa peserta.
“Jaga
perilaku kalian!! Uekusa-sama sedang
bicara!”, bentak bibi Gong.
“Akan
kulanjutkan.. Peserta dengan nilai paling tinggi akan mendapat empat poin..
Tertinggi kedua, tiga poin, dan seterusnya.. Poin ini menentukan oleh siapa kau
akan dipilih untuk pelatihan menghadapi tahap dua.. Ada pertanyaan?”, tak ada
yang berani berbicara.
“Kalian
memang pandai.. Nah, poin satu akan mendapat hak dipilih oleh Anne dari klan
Uekusa..”, lanjut kakek Uekusa menjelaskan.
Anne
dan Souta menoleh cepat menatap kakeknya. Setelah mendengar nama Anne di hadiah
keempat, mereka paham apa rencana kakek mereka.
“Poin
dua akan dilatih oleh Souta dari klan Uekusa..”, kalimat itu membuat jantung
Souta semakin berdebar kesal.
“Poin
tiga oleh Kai dari klan Uekusa..”, Jimin melirik kakek Uekusa. “Itu artinya
Jimin akan menjadi hadiah untuk pemegang poin tertinggi..”, kakek itu
mengakhiri penjelasannya.
“Aku
keberatan!”, Anne angkat bicara. “Kai dan Jimin tidak bisa menjadi reward..! Mereka berdua juga akan
berduel! Banyak yang harus disiapkan!”, katanya.
“Aku
tidak membuka waktu untuk pertanyaan atau keberatan.. Jika ada yang tidak
senang, pintu keluar ada di belakang kalian..”, ujar kakek Uekusa dingin. “Gong
Li, mulai tesnya..”
“Baik,
Uekusa-sama..”
@@@@@
‘Brak!!!’,
meja dipukul dengan keras.
“Apa
yang kakek rencanakan?!”, bentak Anne. “Aniki!
Kau jangan diam saja”.
“Hmp,
ternyata otak kakek masih cerdik..”, ujarnya tersenyum simpul.
“Apa
maksudmu?”
“Memperbanyak
peserta adalah kedok belaka.. Ia menggunakan peserta lain agar dapat menerapkan
sistem hadiah dan poin ini.. Dia bahkan menempatkan Jimin sebagai hadiah
pertama dan Kai sebagai hadiah kedua.. Siasat yang baik..”
“Aku
tidak paham.. Memang kenapa kakek melakukan hal itu?”
“Bukan
hal sulit untuk seorang Stefanny menempatkan posisinya pada juara dua.. Ia tahu
potensi Emi dengan sangat baik, karena itulah estimasi kakek adalah Emi juara
satu dan Stefanny juara dua..”
“Dengan
begitu Stefanny bisa bersama dengan Kai! Kakek ingin mempererat mereka!”, Anne
akhirnya mengerti dan dapat membuat simpulan sendiri. “Hah, kakek itu boleh
juga.. Kita harus menghentikannya, aniki..!”.
“Hmm..
Kita beri Stefanny penilaian paling rendah.. Dua juri dengan nilai paling
rendah sudah akan menurunkan peringkatnya.. Kalau seperti itu,
perhitungannya...”, Souta menatap Anne. “Stefanny akan bertemu denganmu atau
denganku..”
@@@@@
Sayembara
dimulai. Mereka benar-benar mengetes semua kegiatan dari segala aspek. Membersihkan
rumah, melayani, semuanya! Dengan batas waktu yang diberikan, para peserta
harus menyelesaikan deretan tugas mereka. Membersihkan rumah adalah hal mudah
untuk para peserta itu. Semua juri menilai secara objektif dan adil. Kemudian,
menyiapkan santapan, emm, sedikit lebih susah.
“Persediaan
bahan makan di dapur akan digunakan untuk menyiapkan sarapan, makan siang, dan
makan malam.. Kalian berdelapan akan dibagi menjadi dua gelombang.. Pertama,
Emi putri Takei, Hiroko klan Kamiya, Ai klan Ono, dan Kagura klan Himura..
Kedua, Ryukichi klan Yamada, Yui putri Aragaki, Ayuri putri Yoshinaga, dan Maki
putri Horikita..”, jelas bibi Gong.
“Setiap
gelombang punya waktu dua jam! Cukup hidangkan satu menu saja untuk tiap
sajian.. Silakan mulai, gelombang pertama! Gelombang kedua akan mengerjakan
beberapa soal tes..”
“Soal
tes?” “Mereka tidak mengatakan soal ini?” “Kenapa tiba-tiba?”, bisik para
peserta.
Tak
lama kemudian peserta gelombang pertama keluar dengan tiga piring menu mereka.
Sarapan, makan siang, dan makan malam. Berikutnya, gelombang kedua.
“Astaga!
Mereka menggunakan semua bahannya!”, kata Ayuri.
“Hanya
tersisa sayuran dan beberapa onggok daging..”, timpal Yui.
“Bahkan
mereka tidak menyisakan beras yang cukup untuk kita berempat..”, sahut Maki.
“Apa
yang harus kita lakukan? Hanya tersisa sampah..”, ujar Ayuri.
Ting!
Sampah? Stefanny mendapatkan ide.
“Aku
akan meminimalisir penggunaan bahan mentah.. Kalian bagilah dan gunakan dengan
bijak..”, katanya.
“Lalu
kau bagaimana?”, Yui bertanya.
“Aku
akan menggunakan bahan itu..”, jawabnya menunjuk keranjang-keranjang kosong
yang menyisakan sampah.
“Itu
kan tidak bisa dipakai lagi!”, pekik Maki.
“Aku
akan memasak menuku sendiri.. Kalian juga masaklah dengan maksimal..”
Pertama
Stefanny menggulung lengan panjang bajunya lalu cuci tangan. Sarapan, hm, bubur
adalah menu simpel yang tidak mengonsumsi banyak bahan. Tapi persediaan bahan
beras sudah sangat sedikit. Oh, gunakan telur saja! Makan siang, ah, dia bisa
melunakkan duri ikan lalu menghaluskannya dan dibentuk jadi bakso. Kemudian
rebusan tulang ayam yang dikentalkan akan digunakan untuk saus pelengkap
baksonya, jangan lupa sayurnya juga. Lalu makan malamnya... Apa yang bisa
digunakan? Makan malam adalah hal penting dan krusial dari semua sajian. Hmm..
@@@@@
“Jelaskan
masakanmu pada kami..”, pinta kakek Uekusa.
Satu
persatu peserta gelombang pertama menjelaskan menu mereka dengan cantik dan
luwes (iyalah anak yakuza smua :v). Menunya pun sangat sehat dengan mutu
terjamin. Salad, spagetti, steak, sushi, sashimi, omelet, hamburger, lobster,
dan lainnya. Terlihat menggiurkan (Author laper :”D). Tiba saatnya Emi, ia
membuka tudung saji dan membuat seisi ruangan terpesona. Seperti menu restoran
bintang lima!
“Sandwich dengan roti gandum, ham,
selada, tomat, dan timun.. Mengawali hari dengan menu ini akan sangat
bermanfaat bagi tubuh.. Saya memperhatikan kandungan kalori, nutrisi, dan gizi
baik yang bagus dicerna di pagi hari pada roti lapis ini..”, beberapa juri
manggut-manggut setuju.
“Makan
siang yang saya siapkan adalah daging ayam tanpa lemak dan kulit yang dikukus
dengan campuran rempah yang dapat menghangatkan dan menjaga stamina tubuh..”,
Emi menjelaskan dengan mantap.
“Terakhir
adalah makan malam.. Disini saya menyiapkan lobster yang dipadukan dengan
daging domba pilihan dan menggunakan saus sayuran dan mayonaise rendah lemak..”
“Bagus,
sekarang saatnya untuk mencicipi..”, ujar kakek Uekusa.
Para
juri mencicipi setiap hidangan dengan teliti. Memang tidak bisa dipungkiri, Emi
memang paling menonjol dan unggul di antara peserta di gelombang pertama.
“Baiklah,
kalian boleh menunggu dan mengerjakan tes.. Panggilkan gelombang kedua!”,
perintah kakek.
Para
peserta gelombang dua masuk dengan wajah yang lebih pikiran daripada gelombang
pertama. Mereka cemas, takut, dan khawatir. Kecuali Stefanny, ia tetap menjaga
kestabilan ekspresinya.
Mereka
mulai menjelaskan menu-menu yang telah mereka buat. Menunya lebih sederhana dan
kurang variatif. Daging lada hitam, tumis sayur, kare, masakan rumah biasa.
“Ste,
ehm.. Yamada Ryukichi, giliranmu..”, kata kakek Uekusa.
Stefanny
membuka tudung saji dengan eskpresi tak berubah.
“Hah?
Hanya telur untuk sarapan?”, tanya Anne tak percaya.
“Coba
kau jelaskan..”, bibi Gong meminta.
“Membuat
telur di pagi hari tidak memakan waktu banyak dan praktis.. Telur dapat
digunakan sebagai pengganti sereal.. Kandungan protein, kalori, karbohidrat,
dan lemak keduanya sama.. Selain itu, mengonsumsi telur di pagi hari akan
membawa rasa kenyang lebih lama..”, jelas Stefanny.
“Tapi,
bagaimana bulat telur yang kau hidangkan itu bisa besar sekali?”, tanya Jimin.
“Saya
mencampur tiga putih telur dan hanya mengambil satu kuning telur.. Saya
merebusnya dalam wadah bulat sehingga kuning telurnya dapat berada di tengah
dan akan mempertahankan bentuk oval telur..”, jelasnya lagi membawa senyuman di
wajah para juri.
“Makan
siang yang saya buat adalah-“
“Hanya
itu?”, sela Anne kembali sinis.
“Dengarkan
penjelasan peserta sampai akhir!”, sahut kakek Uekusa. “Lanjutkan..”
“Baik..
Bakso ini saya olah dari duri ikan salmon dan tuna yang sudah dilunakkan dan
dicincang halus.. Untuk sausnya saya menggunakan kaldu tulang ayam yang
kemudian dikentalkan dengan tepung jagung.. Sebagai pelengkap akhirnya adalah
saus parutan batang brokoli yang dibuat lebih ringan teksturnya..”
“Makan
malam?”, tanya Kai. Stefanny menelan ludahnya sambil memantapkan hati. Ketika
tudung saji dibuka....
“Apa..
itu..?”, bisik para juri.
“B-bisa
kau jelaskan?”, pinta Kai.
“Makan
malam adalah waktu paling penting dalam budaya Asia.. Namun, kesibukan kerja
dan lembur membuat kebanyakan keluarga tidak dapat menghabiskan waktu secara
utuh saat makan malam.. Estimasi selesai kerjapun juga tidak menentu.. Makan
malam yang dihangatkan tentu akan menghilangkan cita rasa dan kehangatan
awalnya.. Oleh karena itu, saya akan menunggu sampai suami saya menyelesaikan
pekerjaannya.. Kemudian kami akan makan malam bersama di luar..”
Hening.
.
.
.
“T-ta-tapi
tetap saja! Kau tidak bisa menyajikan sebuah permen di atas piring makan
malam!”, bantah Anne.
“Permen
ini akan saya hisap untuk menanti suami saya.. Atau mungkin, kami berdua bisa
makan permen ini dalam perjalanan mencari makan malam..”
“Kau
kan tidak membuat permen itu!”, kata Anne sebal. “Kakek, dia tidak bisa
dinyatakan berhasil dalam tes menyajikan santapan..!!”.
“Dia
membuat dua menu lainnya dengan filosofi yang baik..”, komentar bibi Gong.
“Meski
dia pandai membual, tugas pada tahap ini adalah untuk membuat dan menyiapkan
santapan.. Dia berani menghidangkan menu yang bukan dari hasil tangannya..
Apakah itu masih dianggap layak?”, Souta melirik kakek Uekusa dengan tangan
menyila.
Kakek
Uekusa menghela nafas panjang. Memang benar sih harus objektif. Tapi tetap saja
hatinya tak rela.
@@@@@
“Pada
tes berikut ini kalian akan dinilai dalam merapikan busana oyabun..”, jelas bibi Gong.
“Souta,
Kai, Jimin, dan aku akan berperan sebagai oyabunnya..”,
tambah kakek Uekusa.
“Eh?!”,
para peserta pun terkejut. Wajah mereka memerah membayangkan dapat kesempatan
menatap pujaan hati dari dekat.
Pada
ruangan yang sama, empat pria berdiri sejajar dengan konsep pakaian yang
berbeda. Kakek Uekusa memakai hakama
yang belum rapi, Souta memakai piyama merah muda cetar, Kai pakai setelan jas,
dan Jimin pakai setelan musim dingin.
Peserta
diminta untuk membalik badan memunggungi subjek. Dimulai dari Emi. Ia harus
merapikan baju mereka dengan tepat. Masing-masing baju memiliki
karakteristiknya sendiri. Karena itu, bila tidak tahu apa yang kurang dari
busana itu, dadah :”)
“Semoga
hari anda menyenangkan, oyabun-sama..”,
ujar Emi setelah selesai merapikan hakama
kakek Uekusa. Pria itu manggut-manggut mengalkulasi penilaian. “Mimpi indah, oyabun-sama..”, kata Emi menyelesaikan
pakaian Souta. Menuju ke berikutnya, Kai. Ia sempat terdiam tak tahu harus
mengucapkan apa. Jujur saja Emi deg-deg an. Awh~
“S-semoga
pekerjaan anda lancar.. Oyabun-sama..”,
ucapnya ragu. Berikutnya adalah Jimin dengan tampang datar. “Semoga anda
selamat sampai tujuan, oyabun-sama..”,
Emi mengakhiri tesnya.
Peserta
maju satu persatu dan tiba saatnya giliran Stefanny. Perempuan yang langsung
mencerahkan wajah kusut Kai dan Jimin daritadi. Pertama ia menghadap ke kakek
Uekusa dan membungkukkan badan singkat. Oho, terlihat sangat jelas kalau sabuk hakama adalah unsur yang hilang.
“Apa
rencana kegiatan anda hari ini?”, tanya Stefanny mengambil sabuk hakama.
“Hm?
Oh..! Rencananya aku mau ke taman bersama teman-temanku.. Bersantai saja..”,
jawab kakek Uekusa tak menyangka akan muncul pertanyaan.
“Hee,
tanoshii desu ne (menyenangkan ya)..
Kalau begitu, saya tidak akan mengikatnya terlalu kencang supaya tubuh anda
lebih nyaman..”
“Baik,
lakukan saja..”, jawab kakek Uekusa tersenyum lebar menunjukkan rasa puasnya.
Selanjutnya menghadapi Souta dengan baju tidur yang sedikit, er, berantakan.
“Apakah anda sudah cuci muka dan gosok gigi?”, tanya Stefanny membuka semua
kancing baju Souta, tapi pria itu memilih diam saja.
“Tidur
yang nyenyak, oyabun-sama..”,
Stefanny selesai membenarkan kancing yang salah. Ia membungkuk memberi salam.
Saat menegakkan tubuh, sesaat ia menghela nafas seperti memantapkan hati
sejenak. Tentu saja karena subjek berikutnya adalah Kai dengan wajah
bersemangat dan antusias. Wajahnya babo
:”)
“Anda
memilih setelan yang bagus, oyabun-sama..”,
Stefanny mengalungkan dasi ke kerah baju Kai.
“Oh
ya? Aku beli dari India... Ngomong-ngomong, semalam kau memanggilku Kai dengan
begitu mesra.. Kenapa sekarang kau sangat formal sekali?”, goda Kai sukses
mendapat tatapan maut dari peserta klan Yamada ini. Tidak tahu apa kalau ini
sedang tes?!
“Ehm..
Saya mana berani bertindak segegabah itu di hadapan anda..”, jawab Stefanny
membuat simpul dasi sambil meredam tinjunya.
“Berkali-kali
kulihat pun tidak pernah membuatku bosan..”
“Maaf?”
“Dirimu..
Nanti malam jangan lupa ya! Siapkan kasur, aku akan membuatmu puas dan tidak
menyesal telah meni- ugh!!”, Stefanny menarik dasi yang melingkar di leher Kai
dengan kuat. Ya, Kai.. kamu tercekik.
“Saya
senang melihat semangat anda hari ini, oyabun-sama..
Semoga beruntung!”, ia mengakhiri sesi dengan Kai. Hah, lega. Selanjutnya
Jimin. Oh oh oh, imut sekali anak ini. Wajahnya sedikit tertekuk karena
cemburu, tapi begitu Stefanny mendekatinya.. Ia tersenyum dengan sangat lebar
menyapanya!
“Nuna! Ehehe..”, sapa Jimin.
“Selamat
pagi, oyabun-sama.. Anda terlihat
ceria sekali hari ini..”, balas Stefanny kalem lalu mengambil syal.
“Tadi
malam aku mimpi berkencan dengan nuna
di puncak gunung Himalaya..”
“Benarkah?
Saya tersanjung bisa muncul di mimpi anda..”, responnya sambil mengalungkan
syal.
“Iya,
kita kencan.. Asyik sekali.. Tapi tiba-tiba ada kecoa raksasa..!”, sindirnya
melirik Kai sinis. Pria di sebelahnya itu hanya bisa mencibir.
“Terimakasih
telah memimpikan diri saya, oyabun-sama..
Jaga diri anda tetap hangat..”
Selesai.
Paling tidak itu yang dipikirkan Stefanny. Namun ternyata salah. Ada tes yang
lebih menakutkan dari ini. Tak lain dan tak salah adalah.. melayani kebutuhan oyabun. Itu tuh, yang ada kebutuhan
biologis segala :v ah phak.
Kebutuhan
biologis. Bagaimana ia melakukan ini?! Argh! Ayo berpikir berpikir berpikir!
(terus jadi Jimmy Neutron -3-) Tidak mungkin dia harus menggerayangi tubuh
pria-pria itu kan? Tidak mungkin juga dia harus bugil kan?! Oh, Tuhan.......
Bagaimana ini? Ah, benar!
@@@@@
Tes
kali ini berada di lokasi yang berbeda. Di kamar khusus yang sudah didesain
dengan kaca one way lebih tepatnya.
Para juri akan menilai dari balik kaca. Sedangkan yang berperan sebagai oyabunnya adalah, hah... Uekusa, Kai.
Emi
membuka ikat rambutnya. Kemudian perlahan ia mulai membuka kancing bajunya satu
persatu. Sorot matanya lurus menatap pria yang duduk di pinggir kasur. Senyum
kecil terus menghiasi wajah cantiknya. Pakaian atas sudah terbuka. Kini
ekspresinya sedikit dibuat lebih seduktif. Tangannya hendak melepas pengait
pakaian dalam, namun..
“Cukup
sampai disini..”, sela Kai menghentikan pergerakan Emi.
“Tapi
dia barusaja mulai..”, terdengar suara dari speaker.
Suara milik Anne.
“Peserta
selanjutnya..!”, panggil Kai setengah berteriak.
“Kai!”
“Aku
yang merasakan dan aku yang akan memutuskan.. Aku merasa tidak nyaman dengan
perlakuannya padaku..”, kata Kai. “Selanjutnya!”, ia kembali memanggil.
Huh..
Tenang.. Tenang.. Namaku dipanggil. Aku harus tenang. Giliranku telah tiba.
Dibalik pintu itu ada Kai. Ya, Kai. Calon suaminya! Jadi apa yang harus
ditakuti? Ya benar! Tidak perlu takut. Disana hanya ada Kai. Argh, justru
karena disitu ada Kai yang membuat jantungku meledak!!!!!!!
“Silakan
memasuki ruangan, Yamada Ryukichi-sama..”,
pelayan mempersilakan.
Stefanny
mengambil nafas dan menghembuskannya singkat. Ia berjalan dan membuka pintu
itu. Sejauh ini masih stabil. Ia sudah masuk dan pintu di tutup. Ruangan itu
tidak terang, tapi juga tidak terlalu gelap. Masih bisalah untuk melihat pria
telanjang dada di atas kasur itu. Omo!!
Pria telanjang dada?! Ah, Kai!! Hentikan membuat jantungku berdebar tidak
karuan, dasar wajah mesum!
“Ehem..”,
Stefanny menghilangkan sedikit rasa gugupnya dengan anggun. Ia sudah berdiri di
depan Kai yang duduk di pinggir kasur. Kemudian tanpa berkata apa-apa ia
berlutut. Keadaan jadi hening. Para juri mengamati dan Kai menanti.
Oh
shit disaat seperti ini otaknya malah
ngeblank. Tadi dia mau apa coba
berlutut di hadapan Kai? Em.. Apa dia mau memuji tatto Kai yang keren? Apa? Apa
yang akan dilakukannya, apa apa apa?! Karena diam saja, Kai akhirnya
mengeluarkan suara. “Apa yang kau lakukan? Kenapa hanya berlutut disini?”,
tanyanya.
“Saya..
Ee.. Saya.. Mau...”, Kai menatap menunggu jawabannya. Stefanny menelan ludah
dan akhirnya menekatkan diri. “Saya menanti anda..”, jawabnya.
“Eh?
Menanti untuk apa?”
“Untuk
membelai kepala saya.. Mengarahkan wajah saya untuk menatap anda.. Untuk
melepas jaket dan melucuti pakaian saya..”, jelasnya menatap Kai dengan mata
bersinar. “Saya minta maaf karena saat ini saya harus egois.. Saya ingin
merasakan sentuhan kedua tangan anda yang kuat dan lebih besar dari milik
saya.. Membelai, mendekap, memeluk, dan menjadikan saya milik anda..”,
lanjutnya memegang satu tangan Kai.
Kini
giliran Stefanny yang menunggu respon Kai. Pria itu diam saja pada posisi dan
ekspresinya. Dia mematung? Apa waktu berhenti? Apakah Tao datang
menyelamatkan?!
“Oyabun-sama..? Oyabun-sama..!”, panggil Stefanny perlahan berdiri.
“E-eh?
Y-ya?!”, Kai terkejut dan tersadar.
“Anda..
Baik-baik saja?”
Kai
menatap Stefanny mengingat langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dua
detik kemudian ia telah menjatuhkan tubuh Stefanny di kasur dalam posisi
menindihnya. Wajah mereka begitu dekat sampai mereka dapat merasakan hembusan
nafas masing-masing.
“Kau..
Menyerahkan dirimu secara pasrah padaku?”, tanya Kai datar, dingin, atau apalah
nadanya. Ia terdengar sangat cool.
“Suatu
kehormatan bagi saya dapat membuat anda senang..”, jawab Stefanny.
“Baiklah..
Aku akan memperlakukanmu sesuka hatiku..”, lanjutnya tenang kemudian
menenggelamkan wajahnya ke leher Stefanny.
Tunggu.
K-kai! Apa yang dia lakukan?! Kenapa dia meneruskan tindakannya? Ya! Kai! Hentikan, Kai! Stefanny sedikit
mendorong tubuh Kai untuk bangkit dari tubuhnya, tapi tenaganya lebih besar. Ia
sama sekali tak melepas Stefanny. Ya,
Kai!
“Y-ya..! Kai..”, erang Stefanny. Tidak
tidak, tunggu dulu. Para juri belum mengakhiri waktunya. Dan ekspresi Kai tadi
sangat tenang. Ini pasti bagian dari tes. Kai tidak mungkin berani menyentuhnya
seperti ini. Ia pasti akan heboh dan malu sendiri.
“Kenapa?
Apa kau tidak suka?”, tanya Kai masih dengan dingin.
Stefanny
tersenyum, “Tidak.. Saya hanya bahagia dapat merasakan kehangatan tubuh
anda..”.
‘Ding
Dong Daeng~’, suara bel menandakan tes selesai.
“Yak,
tes selesai.. Peserta boleh meninggalkan ruangan..”, ujar speaker bersuara seperti kakek Uekusa.
“Kai,
gwaenchana?”, tanya Stefanny duduk
dan menelisik Kai yang memeluk kedua kakinya erat.
“Aku
mau mati rasanya!!! Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!”, teriaknya heboh dengan wajah merah
padam.
“Pft..!
Hahahahahaha..”
“Kenapa
kau tertawa begitu? Hiks hiks..”, Kai mewek.
“Kau
memang Kai.. Jangan berubah ya..”
“Stefanny..
Uhuuuuu.. Peluk ya..”, pintanya merentangkan kedua tangan.
Stefanny
merentangkan kedua tangan juga. Tapi ketika Kai hendak memeluknya, Jimin masuk
dan mengambil kesempatan berpelukan dengan Stefanny itu.
“YAAA!!! Apa yang kau lakukan?!!!!”,
bentak Kai tak terima.
Jimin
menjulurkan lidah. “Kau sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan! Tak akan
kubiarkan kau menyentuh nuna lagi!!
Ayo, nuna!”, ajaknya menarik Stefanny
yang tersenyum geli.
@@@@@
Kini
tiba saatnya untuk mengumumkan siapa yang akan maju ke tahap kedua. Kakek
Uekusa beserta para juri memasuki Washitsu Utama yang sudah dipenuhi dengan dag
dig dug peserta. Ada sebuah gulungan kertas yang dibawa kakek Uekusa. Ia
berdiri dengan tegak di depan para peserta. Menatapnya satu persatu dengan
mantap.
“Hasilnya
sudah keluar.. Ingat, apapun hasilnya nanti, semua dilakukan secara objektif
dan berdasarkan upaya kalian masing-masing.. Kalian sudah berusaha dengan baik,
para peserta..”, kakek Uekusa membuka gulungan kertas itu. “Ehm..”, ia
bersiap-siap. “Kai!”, panggilnya.
“Ya?”
“Kau
saja yang bacakan.. Aku tidak tega..”, bisik kakek Uekusa menyerahkan hasil
ujian.
“Kenapa
aku?! Kek, kakek!”
“Sudah
tak apa.. Aku tahu kau pemberani.. Sana cepat umumkan!”
Kai
cemberut kemudian membaca hasilnya. Matanya sempat terbelalak terkejut. Ia
menggigit bibir bawahnya terlihat kesal. Para peserta sudah menunggu hasil yang
tertera diatas kertas itu.
“Apa
yang kau tunggu? Cepat bacakan..”, pinta Anne.
Kai
menghela nafas melepas emosinya. “Peringkat keempat diduduki oleh Hiroko dari
klan Kamiya..”, baca Kai diiringi tepuk tangan dan ucapan selamat untuk Hiroko.
“Selamat ya, untuk tahap selanjutnya kau akan dilatih oleh Anne..”, lanjutnya.
“Berikutnya
peringkat ketiga diraih oleh.. Yui putri Aragaki.. Selamat, Yui.. Kau akan
dilatih oleh Souta..”, Kai kembali membacakan. “Selanjutnya peringkat kedua
diraih oleh..”, Kai menghala nafas singkat. “Emi putri Takei..”, kalimat itu
mengundang bisik para peserta. Emi peringkat dua? Sehebat apa perempuan
peringkat satu itu? “Kau akan kulatih untuk tahap kedua..”.
“Terimakasih,
oyabun-sama..”, jawab Emi.
“Peringkat
pertama diraih oleh..”, Kai melirik Stefanny sekilas. Ia kembali menghela
nafas, “Ryukichi dari klan Yamada..”.
Semua
tatapan langsung tertuju ke Stefanny dengan cepat. Dia? Kok bisa?
“Selamat,
Ryukichi.. Kau akan dilatih oleh Jimin..”, ujar Kai tak rela.
“Terimakasih,
oyabun-sama..”, jawab Stefanny agak
ragu juga.
Souta
tersenyum simpul ketika ditatap oleh kakeknya.
10 menit sebelum penjurian..
“Anne..”,
panggil Souta. “Ubah rencana..”, katanya.
“Ubah
bagaimana maksud kakak?”
“Beri
Stefanny nilai penuh..”
“Hah?!
Kenapa???”
“Melihat
caranya melewati tes tadi.. Sudah dapat dipastikan dia meraih nilai tinggi dari
para juri.. Meski kita beri dia nilai rendah, jatuhnya tetap pada Kai.. Karena
itu, kita unggulkan dia..”
“Baiklah,
aku paham..”
Back to normal time..
“Tindakan
yang tepat, cucuku..”, kata kakek Uekusa.
“Tentu
saja.. Aku belajar banyak hal darimu dan nenek..”, jawab Souta.
“Kalau
kau menganggap seperti itu.. Baiklah, cu..”, kakek Uekusa maju ke depan.
“Sekarang aku akan mengumumkan ujian tahap dua, mohon perhatiannya..”, semuanya
diam. “Keempat peserta yang lolos akan diuji dalam hal keterampilan dan
kerajinan tangan..”, lanjutnya.
Souta,
Anne, dan Kai melebarkan mata kaget. Kerajinan? Kerajinan dia bilang?! Kai kan
paling payah kalau soal itu!!
Souta’s and Anne’s minds
= Matilah Emi.. Bagaimana dia bisa belajar kerajinan dari Kai kalau Kai-nya
saja buta soal kerajinan tangan?! Kakek ini benar-benar mengerikan, heh..
Kai’s mind
= Kalau ujian tahap duanya kerajinan... Lalu kenapa aku dijadikan hadiah juara
dua? :”) Ah.. Aku mau nangis rasanya........
“Dalam
waktu lima hari, keempat peserta ini akan mempresentasikan hasil kerajinan
tangannya disini.. Selama lima hari itulah para peserta akan membuat kerajinan
bersama pendampingnya masing-masing.. Ada pertanyaan?”
@@@@@
‘Crep!’,
suara anak panah yang menancap di papan sasaran.
Lima
kali tembakan, lima kali skor penuh. Kai hendak menyeka keringatnya dengan
lengan bajunya, tapi...
“Biar
saya yang menyeka..”, cegah Emi lalu mengelap keringat di wajah Kai dengan
handuk.
“Eh?!
I-iya..”, jawab Kai agak kaget.
“Permainan
anda luar biasa, oyabun-sama..”, puji
Emi.
“Benarkah?
Aku masih perlu banyak latihan..”, respon Kai padahal dalam hati dia sudah
menyombong ria.
“Anda
pasti menang dalam duel ini, oyabun-sama..”,
kata Emi.
“Kau
ingin aku menang dalam duel ini?”, Kai mengambil anak panah yang ada di
sebelahnya.
“Tentu
saja..”
“Apa
alasannya?”
“Dilihat
sekilas saja, kemampuan anda jauh lebih tinggi dari kemampuan Hanamatsu.. Tidak
ada alasan untuk anda kalah..”
“Kalau
aku menang...”, Kai menembakkan anak panahnya dan tepat sasaran. “Aku bisa
menikahi Stefanny, kau tahu?”.
Emi
tersenyum kecil. “Anda sungguh lucu, oyabun-sama..”,
katanya.
“Lucu?”
“Dalam
sayembara ini, pemenangnya adalah saya..”
@@@@@
“Bagaimana
dengan ini?”, tanya Stefanny menunjukkan rangkaian bunga mini yang ia susun.
“Hmm..
Tidak tidak.. Masih kurang..”, ujar Jimin.
Beberapa
menit kemudian..
“Kalau
begini?”, tanya Stefanny mengangkat kerajinan tangannya.
“Tch..
Kurang cantik..”
Beberapa
menit kemudian..
“Ini
bagaimana?”
“Tidak
sebanding..”
Beberapa
menit kemudian..
“Jimin,
yang ini?”
“Tidak
mungkin..”
“Lalu
yang bagus itu yang bagaimana? Huh! Aku sudah mengulang berkali-kali tapi gagal
terus di matamu.. Padahal aku sudah melakukan apa instruksimu..”, keluh
Stefanny melipat kedua tangan.
“Habisnya
kau membandingkan kerajinan tanganmu dengan wajahmu sih.. Tentu saja terlihat
jelek kalau di sebelahmu..”
“Aku
kan menyuruhmu menilai kerajinan tangan yang sudah kubuat.. Kenapa malah
membandingkannya dengan wajahku? Duh, babo..”
“Hahaha..
Aku hanya bercanda.. Bagus kok..
Semua rangkaian bunga yang kau buat, hasilnya bagus dan cantik.. Aku rasa aku
tidak perlu mengajarimu apa-apa..”, kata Jimin.
“Benarkah?
Huft, melegakan..”
“Tapi
masih belum sempurna.. Nuna harus
sempurna agar bisa menang dari Emi..”
“Ajari
aku..”
Jimin
menggeleng. “Untuk kesempurnaan itu, tidak bisa diajarkan..”, jelasnya.
“Lalu
harus bagaimana?”
“Kau
harus membuatnya dari hati.. Dengan perasaan..”
“Perasaan?”
“Ya..
Apapun bentuk kerajinan yang nuna
buat.. Kalau dikerjakan dengan tulus, menuangkan perasaan nuna disana.. Pasti orang akan tersentuh.. Ya, meski tidak semua
orang bisa merasakan makna tersirat itu sih..”
“Jimin..”
“Hm?”
“Kau
tambah dewasa ya..”
“T-tentu
saja! A-apa maksudnya..?”, gerundel Jimin malu. “Sudah daripada mulai
menggodaku, lebih baik belajar merajut!”, ajak Jimin mengambil kotak merajut.
Merajut
apa ya? Hmm.. Merajut cita-cita.. Ahahay~ Oh oh! Merajut angan! Oh! Atau
merajut kisah cinta? Owh, manis sekali :3
“Kenapa
nuna senyum-senyum sendiri begitu?”,
tanya Jimin berhenti merajut.
“Eh?!
A-aku.. Ehm.. Wajahku kan memang seperti ini..”, bela Stefanny.
“Tidak
mungkin.. Wajah nuna itu seperti
harimau.. Menakutkannya sampai merasuk ke tulang..”
“Kutusuk
pakai jarum rajut, mau?”
@@@@@
Aaaahhhhhh,
menyebalkan..! Bosan! Stefanny sedang apa ya? Oh iya, pasti sedang latihan sama
Jimin.. Uh, bocah menyebalkan..! Awas saja kau! Akan kutunjukkan siapa mempelai
pria Stefanny! Kai! Ya, Uekusa Kai!! Hiyah!!!
“Oyabun-sama..? Anda sedang kesal?”,
tanya Emi sedang menyulam dengan tenang.
“Eh?
T-tidak.. Aku baik-baik saja..”, jawab Kai mengambil sulamannya lagi.
“Dari
tadi saya perhatikan, anda terus menghela nafas.. Apakah anda tidak nyaman berdua
dengan saya?”
“Haha,
tidaklah.. Aku hanya merasa bosan.. Kenapa semua perempuan suka hal membosankan
seperti ini? Ck..”
“Kerajinan
tangan adalah cara perempuan untuk menunjukkan perasaannya.. Mengalirkan emosi
yang menyeruak di dada, agar dapat menjadi lebih tenang..”, jelas Emi lembut.
Kai
tersenyum dan mengangguk kecil, “Begitukah?”.
Kalau
seperti itu, apa Stefanny bukan perempuan? :”) <<ini adalah kecemasan Kai
Dia
balapan liar, bertarung, main senjata, istriku buas ya :”) << ini adalah
ketakutan Kai
Hah,
Emi dan Stefanny sama sekali berbeda. Yang satu lembut, tenang, adem. Yang
satu... ah sudahlah.
@@@@@
Sehari
sebelum penjurian tahap dua dimulai, diadakan duel ronde satu. Seperti yang
sudah direncanakan, duel ronde satu adalah uji ketangkasan dalam menggunakan
senjata. Senjata yang akan dinilai adalah panah, pedang, dan pistol.
“Jurinya
adalah aku, Souta, dan Ken..”, kata kakek Uekusa. “Kalau tidak ada pertanyaan,
silakan mulai..”.
Kedua
peserta menyiapkan panah dan anak panahnya. Masing-masing peserta diberi waktu
semenit untuk menembakkan lima anak panah mereka. Bibi Gong memberi aba-aba
untuk mulai. Barusaja Kai akan membidik, suara panah tertancap sudah terdengar.
Milik Jimin.
“Wah,
cepat sekali..” “Keren ya..”, bisik orang yang menonton.
Jimin
terlihat santai dan tenang. Ia dengan mudah menyelesaikan lima anak panahnya
dengan nilai penuh yaitu 50/50. Hebat sekali. Melihat permainan Jimin, Souta
merasa curiga. Bukan seperti itu gaya Hanamatsu. Tenang dan cepat bukan milik
klan yakuza itu.
Kai
juga berhasil mendapatkan poin sempurna, 50/50. Namun waktu yang dihabiskan
lebih banyak dari Jimin. Berikutnya pindah lokasi ke dojo.
“Selanjutnya
adalah ketangkasan menggunakan pedang.. Tentu saja pedang bukan hal asing untuk
kalian.. Karena itu, berjuanglah! Tunjukkan keindahan permainan pedang kalian
pada kami..”, ujar kakek Uekusa.
Pertama
Kai. Ia menarik pedang dari sarungnya lalu melakukan beberapa gerakan. Seperti
yang diduga, gerakan khas Uekusa, tegas dan kuat. Permainan pedang Kai sungguh luar
biasa menakjubkan. Ia membuat penonton terperangah saking sempurnanya. Peserta
kedua adalah Jimin. Seperti rumor yang beredar, permainan pedang klan Hanamatsu
itu seperti tarian. Luwes dan tajam. Gerakan yan Jimin tunjukkan membuat para
penonton terpesona saking indahnya.
“Dari
dulu gaya bertarung Hanamatsu itu membentuk irama dan gerakan.. Tapi permainan
panahnya tadi jelas bukan miliknya.. Jimin, darimana kau belajar itu?”, batin
Souta masih kepikiran.
“Baiklah..
Kita sudah melihat penampilan kedua peserta dalam ketangkasan menggunakan
pedang.. Selanjutnya kita akan melihat ketangkasan mereka dalam menggunakan
senjata api..”, kata kakek Uekusa membuyarkan lamunan Souta.
Lokasi
berpindah ke tempat latihan menembak. Disana sudah disiapkan sepuluh papan
sasaran. Nilai penuhnya adalah 1000. Setiap papan sudah didesain untuk bergerak
pada pola yang berbeda-beda. Peserta harus membidik papan-papan itu dalam waktu
yang secepat-cepatnya.
Baik
Kai maupun Jimin langsung maju ke bilik mereka masing-masing. Ketika aba-aba
sudah dimulai, papan-papan itu bergerak sesuai pola mereka. Tidak ada semenit,
bunyi tembakan sudah berhenti dari Kai. Semua orang dibuat heran disana. Apa
dia main serampangan?
“Hanamatsu
Jimin, poin 990/1000..”, lapor pengecek poin. “Uekusa Kai, poin 995/1000..”,
lanjutnya.
Kai
melepas kacamata dan penutup telinganya diiringi oleh bisikan para penonton. Waktunya
lebih singkat, poinnya lebih banyak. Dia dewa? (Author yang menciptakan :^D)
@@@@@
Keesokan
harinya, di Washitsu Utama sudah tertata dengan rapi hasil kerajinan tangan
dari empat peserta sayembara. Kakek Uekusa beserta para juri memasuki Washitsu.
“Hari
ini akan ada dua pengumuman, dua peserta sayembara dari pihak perempuan.. Juga
pemenang ronde pertama dari duel kemarin..”, umun kakek Uekusa. “Peringkat
pertama akan dapat poin dua dan berhak berlatih bersama Kai untuk mempersiakan
tahap ketiga.. Pemenang kedua dapat poin satu dan berlatih bersama Jimin..”,
jelasnya. “Nah, kita mulai saja.. Mulai dari Hiroko.. Jelaskan apa yang sudah
kau buat..”, pintanya.
“Baik,
oyabun-sama.. Saya telah membuat
rangkaian bunga tiga dimensi.. Rangkaian ini sengaja saya buat tidak terlalu
rumit agar dapat diletakkan di semua bagian ruangan.. Kesan yang elegan dan
dapat dipajang setiap musim.. Saya memadukan warna yang tidak terlalu mengambil
perhatian supaya kesan tenang tetap terjaga..”, jelasnya mengundang senyum di
wajah kakek Uekusa.
“Saya
membuat lukisan burung merpati yang terbang bebas di angkasa.. Saya ingin
menggambarkan angkasa terang yang terbentang luas di depan mata.. Burung yang
terbang bebas ini menggambarkan kita yang juga berusaha meraih ketentraman
batin..”, jelas Yui mendapat anggukan setuju dari kakek Uekusa.
“Ini
adalah sulaman bunga peony merah dan merah muda yang sedang mekar.. Saya
berharap dengan melihat ini, kebahagiaan akan menyelimuti hati.. Seperti arti
bunga ini sendiri yaitu kebahagiaan..”, kali ini Emi yang menjelaskan.
“Ini
hanya sebuah syal merah yang digunakan untuk menghangatkan leher..”, kata
Stefanny.
“Hanya
itu?”, tanya kakek Uekusa.
“Ya..
Saya hanya berharap dengan syal ini, orang yang memakainya bisa merasa nyaman
dan menjaga tubuhnya tetap hangat..”, jawabnya.
Kakek
Uekusa terdiam. Kai berdecak mengambil syal Stefanny dari atas meja pajangan.
“Kalau
mau menilai syal tentu harus kau pa-“, Kai memakai syal itu lalu terpaku.
“Kai..
Kau kenapa, cu?”, kakek Uekusa melambai-lambaikan tangannya. “Cu.. Cucu! Kai!
Kau kenapa?!”
“Kakek
harus pakai ini!!”, Kai tiba-tiba heboh sambil mengalungi kakeknya syal merah
itu. Kakek Uekusa terdiam dengan mulut sedikit terbuka. “Spektakuler kan
rasanya?! Iya kan, kek?!”, tanya Kai masih heboh.
“Spektakuler
apa sih?”, Souta penasaran lalu menarik syal tersebut dan memakainya. Diam.
“Nyaman
kan?! Hangat kan?!”, Kai masih juga heboh.
“Anne,
kau harus coba ini..!!”, paksa Souta mengalungkan syal tersebut.
Selama
beberapa menit, mereka heboh bergantian memakai syal tersebut. Suasan jadi
ramai sekali. Pada akhirnya, mereka tersadar dan kembali ke jati diri normal
mereka.
“Ehm
ehm.. Pemenangnya adalah.....”
@@@@@
Kai
menyamankan dirinya di kolam air panas. Ah, rasanya enak sekali. Kapan terakhir
kali dia bersantai seperti ini? Dua bulan atau tiga bulan yang lalu? Kolam air
panas, oh, lebih tepatnya jacuzzi
yang ada di kamarnya. Irezumi (tato
sekujur tubuh) yang dapat dilihat di punggung Kai melukiskan seekor binatang
mistis dari Cina. Binatang berbentuk singa yang mereka sebut sebagai Karajishi,
terlihat galak menghiasi punggung Kai.
“Ah,
nyaman sekali.. Aku tidak ingin beranjak darisini..”, gumamnya menutup muka
dengan handuk hangat.
Tanpa
sepengetahuannya, sepasang kaki mulus memasuki kamar mandi dimana Kai sedang
bersantai di dalam jacuzzi. Perempuan
itu menggunakan mantel mandi yang menutupi tubuhnya. Telapak kakinya yang
beradu dengan genangan air, menyadarkan Kai akan kehadirannya. Kai membuka
handuk yang menutupi wajahnya dan menoleh.
“Ah!!
Ouh, mengejutkan saja..”, gerundelnya mengelus dada. “Sejak kapan kau disitu?”,
tanya Kai.
“Barusaja..”
“Kenapa
berdiri disana? Masuklah kemari..”, ajak Kai.
“Jadi
kau tidak keberatan melihatku melepas mantel ini?”
“Hm?”,
Kai berpikir dan tersadar. Oh, otaknya membayangkan yang tidak tidak. Ck,
disaat seperti ini juga. “Y-ya.. Tentu saja.. Itu juga kalau kau.. Yang.. Tidak
keberatan..”, suaranya semakin lama semakin mengecil.
“Pft..
Hahaha.. Kubuka ya.. Siap tidak?”
“Buka
tinggal buka saja..”, jawab Kai memalingkan wajah malu.
“Lihat
sini.. Kan aku mau buka..”
Perlahan
dengan ragu Kai menatap sosok perempuan yang siap membuka mantelnya itu. Ia
sudah menyiapkan batin, mental, dan pikiran. Jantungnya sudah berdebar
daritadi. Wajahnya pasti sudah merah. Tinggal menunggu mimisan saja mungkin.
“Jajjan~”, mantel dibuka dan jatuh ke
lantai.
“Kya!!!!!!”,
Kai menceburkan diri ke air.
“Hahahahahaha..”,
suara tawa meledak begitu saja.
“Ya, Stefanny-ssi!!!! Jangan main-main sama jantung orang!! Jantungku hampir
meledak, tahu!?”, omel Kai.
“Lho? Kau berharap aku telanjang?”,
Stefanny masuk ke kolam dengan baju renang.
“Y-ya
t-tentu t-tidak!”, jawab Kai gelagapan.
“Nanti
nanti.. Akan ada saatnya.. Hahaha.. Wajahmu lucu!”
“Sudah
hentikan..! Kau juga lucu.. Mana ada orang yang masuk ke jacuzzi pakai baju renang?!”, gerundel Kai.
“Ada,
aku..”, ujar Stefanny tanpa dosa.
Kai
berdecak lalu mencipratkan air ke arah Stefanny. Karena tidak terima Stefanny
membalas perbuatan Kai. Lalu mereka perang air panas :”) Beberapa menit
kemudian akhirnya kamar mandi kembali tenang. Seperti biasa, mereka berdua
menatap langit-langit.
“Akhirnya
aku bisa bersamamu..”, ujar Kai.
“Belum,
Kai.. Ini masih sementara..”, jawab Stefanny.
“Paling
tidak, bisalah mengobati rasa rindu dan tidak relaku kau bersama Jimin..”
“Akurlah
dengannya.. Dia tidak serius kok..”
“Tidak
mau.. Dia menyebalkan.. Ck..”
“Kau
kan yang lebih tua dan dewasa.. Calon suamiku pula..”
“Ya,
nanti aku akan akur dengannya kalau dibayar..”
“Hahaha,
dasar.. Jangan lupa, kau harus melatihku untuk tahap ketiga..”
“Hah?
Kau mau latihan apa? Tahap ketiga adalah ujian melindungi diri, bisa-bisa kau
yang melatihku.. Kau kan sudah sangat jago..”
“Tetap
harus latihan.. Aku kan tidak tahu kemampuan Emi..”
“Dia
itu tipe keibuan.. Kalau dibandingkan denganmu, tentu saja kau yang menang
telak.. Kau kan kebapakan..”
“Kai-ssi.. Bosan hidup?”, Stefanny menutup
wajah Kai dengan handuk.
@@@@@
“Kau
sudah menyiapkan semuanya?”, bisik Emi pada bayangan. “Bagus..”, jawabnya
ketika melihat anggukan. “Kita lihat.. Seberapa tangguh Yamada Ryukichi itu..”,
ujarnya sinis.
Ren
yang tidak sengaja melihat Emi di taman gelap terbelalak terkejut. Ia langsung
berlari bergegas menuju ke tuannya.
“Yamada-sama!!”, panggil Ren memasuki kamar Kai.
“Ada
apa Ren?”, tanya Luhan.
“Aku
harus menemui Yamada-sama.. Ada yang
tidak beres..”
“Uekusa-sama dan Yamada-sama sedang berlatih di dojo..”, jawab Luhan dan Ren hendak pergi.
“Tunggu, Ren.. Ada masalah apa?”, ia menghentikan langkah Ren.
Sementara
itu, SteKai sedang asyik pedang-pedangan di dojo. Kaya anak kecil main
perang-perangan gitu :”)
“Iyah
iyah iyah! Thana minggil thana..! Huth..!”, usir Kai mengibas-ngibaskan pedang
kayu dengan cadel. Terinspirasi dari Sehun. “Nenek cihil, babay!”
Bukannya
kembali menyerang, Stefanny malah tertawa terpingkal-pingkal sampai tidak bisa
berkata apa-apa. “Babo, hahahaha.. Babo babo..!”, ujarnya.
“Ya! Kenapa malah guling-guling?! Ayo
hadapi aku..!”, tantang Kai.
“Tunggu
tunggu.. Biar kusave dulu..”,
Stefanny mengotak-atik ponselnya.
“Kau
merekamnya?! Ya!! Ayo cepat
hapussssss!!”
“Sirheo! Ini harta karunku..!”
Akhirnya
mereka masuk sesi tenang. Fluktuatif memang mereka itu -_-
“Stef..”
“Hm?”
“Aku
ingin kentut..”
“Kentutlah..
Nanti kubalas..”
“Kai..”
“Hm?”
“Besok
kau harus menang ya..!”
“Tentu
saja.. Kalau aku kalah, kesempatan untuk bersamamu melayang sudah..”
“Kau
sih, pakai kalah segala di ronde pertama.. Ck..”
“Hahahaha,
ya maaf.. Habisnya aku butuh penyegar sih.. Tidak bersamamu membuat permainanku
menurun.. Tapi kali ini aku menghabiskan waktu bersamamu, jadi tentu saja aku
pasti akan membawa kemenangan untukmu..”
“Ecieh,
romantis...”, goda Stefanny.
“Kau
juga harus menang ya.. Sekali lagi kau menang, kau akan menjadi pemenang
mutlak..”
“Em,
oke..”
“Yamada-sama!!”
@@@@@
Keesokan
harinya, ujian tahap tiga dan duel ronde dua. Ujian tahap tiga adalah
keterampilan melindungi diri sendiri. Bagi seorang yakuza tentu akan selalu ada serangan dari kelompok lain. Tentu
saja soerang nyonya besar harus bisa melindungi diri sendiri dan klannya dari
serangan itu. Emi dan Stefanny akan dihadapkan pada situasi dimana mereka harus
bertahan dari serangan musuh. Jumlahnya ada lima orang musuh bersenjata.
Melindungi diri dengan cara apapun. Waktu untuk bertahannya sepuluh menit.
Jurinya Anne, bibi Gong Li, dan para pelayan.
Sedangkan
pada jam yang lebih awal, Jimin dan Kai sudah menuju ke lintasan untuk balapan.
Ronde dua menguji ketangkasan dalam berkendara. Yang menjadi kendaraannya
adalah mobil, kendaraan, dan kuda. Pertama menguji kecepatan membawa mobil,
lalu ketanggapan mengemudikan motor, kemudian teknik berkuda. Hal mudahlah
untuk mereka. Jurinya adalah kakek Uekusa, paman Ken, dan Souta.
“Peserta
pertama silakan masuk ke ruangan..”, pinta Anne.
Desain
ruangan berbentuk taman dengan kaca one
way untuk penilaian para juri. Emi memasuki ruangan dengan siaga. Sejauh
ini belum tampak akan ada musuh menyerang. Ketika ia sudah berdiri di tengah
ruangan, orang dengan pedang kayu hendak menyerangnya. Tapi dengan mudah Emi
menghindar dan membalas serangan. Para juri dibuat heran dengan kemampuannya
bertarung. Ternyata seorang Emi dapat bermain senjata juga. Pasti Jimin mengajarinya
dengan sangat giat. Terlihat permainan pedang Emi memiliki gaya yang sama
seperti klan Hanamatsu.
Baru
sibuk mengurusi serangan pedang, muncul anak panah yang merobek baju bagian
belakangnya.
“Itu....”,
gumam salah seorang pelayan.
“Itu
adalah tato Emi..”, sambung Anne.
“Emi
juga melakukan irezumi?”, tanya bibi
Gong fokus pada Emi.
“Bukan
irezumi.. Dia hanya memiliki satu
tato di tubuhnya..”
“Tatonya
bagus.. Sebuah bunga..”, timpal seorang pelayan.
“Bukan
bunga biasa.. Itu adalah bunga peony..”, jelas Anne. “Bagaimanapun juga Emi dan
Kai sudah terikat dari kecil.. Ketika Kai melakukan irezumi pada tubuhnya, Emi juga menerima tato.. Ketika Kai menato
tubuhnya dengan lukisan Karajishi, Emi menato tubuhnya dengan bunga Peony
yang....”
“Karajishi no botan..”, sela bibi Gong.
“Kau mau bilang kalau Emi adalah bunga peony yang melindungi Karajishi dari
kutu yang menghabisi nyawanya.. Benar, nona Uekusa?”.
“Mereka
sudah ditakdirkan bersama..”
“Mereka
dipaksa bersama.. Maaf kelancangan saya, tapi saya mohon anda bisa membedakan
antara paksaan dan kemauan sendiri..”, ujar bibi Gong.
Waktu
sepuluh menit akhirnya telah usai. Emi dapat bertahan dengan sedikit luka.
Kemudian waktunya untuk peserta kedua. Ren mengepalkan tangannya kesal. Ia
benci dirinya ketika tak bisa berbuat apa-apa.
Flashback...
“Apa?
Emi mengganti talent yang digunakan
untuk uji bertahan besok?”, tanya Kai tak percaya.
“Tidak
salah, Uekusa-sama.. Saya tidak
sengaja mendengar pembicaraan nona Emi dengan orang bertato tadi.. Dia
mengatakan akan mengganti semua talent
dan senjata tumpul yang digunakan Yamada-sama
besok..”, jelas Ren.
“Kita
harus menghentikannya.. Aku akan bilang ke kakek..”
“Tunggu,
Kai..”, sela Stefanny.
“Kenapa?
Kau mau membiarkannya begitu saja?”
“Aku
akan bertahan..”
“Aku
tidak akan membiarkanmu terluka atau bahkan terbunuh hanya karena sayembara
bodoh ini..!”
“Aku
tidak keberatan..”
Kai
dan Ren menoleh. Ia melihat aura dan ekspresi Stefanny sudah berubah. Terlihat
lebih menusuk meski ia tersenyum.
“Aku
ingin tahu, siapa yang diajaknya bersekongkol.. Lagipula, sudah lama aku tidak
bermain senjata sungguhan..”
Normal Time..
Stefanny
memasuki ruangan. Keheningan terasa begitu pekat disana. Hawanya juga lebih
berat. Ia berusaha merasakan kehadiran musuh di ruangan itu. Tenang, hening,
dingin.
“Senjata
apa yang dia gunakan? Kenapa ia bertangan kosong?”, tanya Anne.
“Yamada-sama tidak terlalu suka membawa
pedang..”, jawab Ren.
“Lalu
dia mau bertahan dengan apa?”, tanya bibi Gong.
Seorang
pria bertubuh lebih kekar dari musuh Emi tadi muncul dan hendak menyerang
menggunakan bola besi berduri pisau. Stefanny berhasil melompat menghindar.
“Banyak
yang bilang kalau Yamada-sama
menyimpan banyak sekali pisau di seluruh tubuhnya.. Ia dikenal dengan wanita
seribu pisau..”
Stefanny
melempar pisau belati yang ia ambil dari kakinya ke lengan pria kekar itu.
Dalam sekejap tangan kanan pria itu lumpuh tak bergerak. Kemudian ada pria
kekar lagi muncul secara bersamaan membawa tombak dan katana. Dia menangkap
tombak yang terhunus kearahnya kemudian memukulkan tongkat tombak itu ke
pemiliknya. Ketika menghindari hunusan pedang, ada anak panah melayang
kearahnya. Stefanny menangkap anak panah itu kemudian menusukkannya ke pria
kekar membawa pedang.
“Senjata
mereka...”, bibi Gong mengamati. “Itu senjata asli! Cepat hentikan mereka!”,
perintah bibi Gong.
“Kalau
kau menghentikan prosesnya sekarang, Yamada Ryukichi akan dinyatakan gugur
karena tidak menyelesaikan tesnya!”, sela Anne.
“Tapi
nyawanya dalam bahaya! Apapula pria-pria itu? Mereka bukan orang yang kita
siapkan!”
“Perkataan
nona Anne ada benarnya juga, Gong Li-san..”,
tambah Ren.
Tak
ada waktu untuk bernafas, dua pria dengan pedang dan cambuk berpisau melompat
kearahnya siap menebasnya hidup-hidup, namun Stefanny dapat menghindari
serangan pria berpedang. Ia menangkis pedang itu dengan katana yang ia tarik
dari punggungnya, tapi serangan pria bercambuk pisau tersebut tak dapat
dihindarkan. Pisaunya menancap dengan sempurna di lengan Stefanny.
“Ack!”,
rintihnya.
Dengan
sigap Stefanny langsung mencabut pisau itu kemudian menarik cambuk tersebut
hingga pria kekar di hadapannya tersendat. Setelah itu Stefanny menyikut
tengkuk pria kekar itu membuatnya jatuh tersungkur. Stefanny mengatur nafasnya
siaga dengan lima pria yang sudah tak berdaya di sekelilingnya. Para juri
mematung di tempat mereka. Satu menit. Itu adalah waktu yang dihabiskan
Stefanny untuk menghajar semua pria tadi.
“Gong
Li-san..”, panggil Ren membuyarkan
lamunan bibi Gong.
“Oh!
Ehm.. Sepertinya Yamada-sama dapat
melindungi dirinya dengan sangat baik..”, ujar bibi Gong.
@@@@@
“Siapa?”,
tanya Stefanny geram. “Siapa yang menyuruh kalian?”.
“Hanamatsu!”,
jawab salah satu pria secara langsung ketika melihat tatapan membunuh Stefanny.
“Hanamatsu?
Kalau kau bohong, aku tidak akan segan mengulitimu..”
“Hanamatsu!
Benar yang menyuruh kami adalah pria bernama Jimin dari klan Hanamatsu..!”
“Beraninya
kau berdusta padaku!!”, Stefanny hendak menebaskan pedangnya.
“Cukup!!
Hentikan!”, tegas Anne memasuki ruang tes. “Tangkap mereka..”, ia menyuruh
pengawal untuk menangkap pria-pria tak berdaya itu. “Mereka akan ditahan dan
dimintai keterangan.. Kau, obatilah lukamu..”, ujar Anne lalu meninggalkan
ruang tes.
“Anda
baik-baik saja, Yamada-sama?”, Ren
mendekati Stefanny.
“Tak
apa.. Ren, kau coba ikuti mereka..”
“Baik..”
@@@@@
‘Brak!!!’
“Stefanny!!!!!”,
Kai membuka pintu keras dengan bringas.
“Kai!
Ada apa?”, tanya Stefanny sedikit terkejut.
“Kau
baik-baik saja? Aku dengar kau terluka! Katanya ada paman-paman gila yang
mencoba untuk membunuhmu saat tes! Dan kau terluka! Sudah diobati?! Tidak
infeksi kan? Lukanya dalam?”, ia begitu panik.
“Tenang,
Kai.. Lukanya sudah diobati.. Pelayanmu mengobatiku dengan begitu baik..”
“Huh!
Siapa sih yang berani melakukan ini semua! Kurang ajar.. Aku akan ke ruang
interogasi..”, Kai hendak keluar dari kamar Stefanny.
“Tunggu,
Kai!”, Kai membalikkan badan. “Kau.. Jangan mudah percaya pada mereka ya..”,
kata Stefanny.
Setelah
kepergian Kai dari kamar Stefanny, Jimin dan Ten masuk. Mereka duduk di hadapan
Stefanny yang sedang minum teh.
“Nuna baik-baik saja?”, tanya Jimin
menatap Stefanny intens.
“Aku
baik-baik saja.. Tidak perlu cemas begitu..”, jawab Stefanny mencubit pipi
Jimin yang terlihat sangat takut.
“Ten..
Kau bawa obatnya?”, tanya Jimin.
“Tentu..
Ini..”, Ten menyerahkan obat oles ke Jimin.
“Eh!
Kau mau apa?”, tanya Stefanny was-was ketika Jimin mendekat kearahnya.
“Aku
akan mengoleskan obat ini ke luka nuna..”,
jelasnya.
“Sudah
diobati kok.. Sebentar juga sembuh..”
“Aku
harus yakin dengan melihat luka itu sendiri..”
“Jangan
khawatir, Stefanny-san.. Obat ini
adalah obat yang paling manjur untuk luka sobek di klan Hanamatsu..”, tambah
Ten.
“Akan
kuoleskan sendiri..”, ujar Stefanny mengambil obat itu dari tangan Jimin.
Awalnya
Jimin menurut dan kembali duduk di bantal duduknya. Namun ketika melihat
perempuan di depannya itu mengolesi luka secara bringas dan serampangan, ia
jadi tidak tahan sendiri. Jimin lalu merebut obat tersebut dan mengoleskannya
secara perlahan dan rata ke seluruh bagian luka Stefanny tanpa banyak bicara.
“Jimin-a..”
“Hm?”
“Aku
mau bertanya beberapa hal padamu..”
“Tanyalah..”
“Apa
kau punya alasan untuk membunuhku?”
“Eemmm..
Biar aku berpikir dulu.. Membunuh nuna?
Hmm, aku tidak punya alasan.. Kenapa harus membunuh nuna yang paling kucintai?”
“Hah,
kau masih saja pandai membuatku tersenyum malu.. Lalu, misalnya kau membenci
orang.. Katakanlah Kai.. Apa kau punya alasan untuk memfitnahnya demi
tujuanmu?”
“Lebih
baik aku membunuhnya daripada memfitnahnya.. Aku akan lebih kesal kalau melihat
Kai lolos dari fitnahanku bukan? Karena itu, buat apa memfitnahnya? Dia terlalu
cerdik untuk keluar dari status kambing hitam..”, jelas Jimin.
“Kau
benar..”
“Ada
apa, nuna? Kenapa kau menanyakan hal
seperti itu?”
Stefanny
tersenyum tipis. “Ada lalat yang ingin bermain denganku..”
@@@@@
Sepanjang
hari itu, Stefanny dan Kai sama sekali tidak bertemu lagi. Meski Stefanny hanya
diam di kamar dengan gelar pemenang, Kai sama sekali tidak berkunjung lagi
setelah dari ruang interogasi. Sebenarnya ia ingin keluar dan menemui Kai, tapi
itu melanggar aturan. Duel Kai dan Jimin belum selesai, ia tidak bisa menemui
Kai seenaknya, kecuali Kai sendiri yang berjalan ke pintu kamarnya. Hah. Semoga
kau menang, Kai! Jangan sampai terluka, Jimin.
Keesokan
harinya, duel ronde ketiga.
“Ronde
pertama dimenangkan oleh Jimin dari klan Hanamatsu.. Ronde kedua dimenangkan
oleh Kai dari klan Uekusa.. Oleh karena itu, ronde ketiga ini adalah penentuan
siapa yang akan menjadi pemenang sebenarnya..”, jelas paman Ken.
“Pada
duel ronde ketiga ini, aku yang akan menentukan jenis lombanya..”, kata kakek
Uekusa.
Semua
orang menanti keputusan kakek Uekusa. Terlihat wajah serius Kai dan Jimin.
Tidak. Itu bukan wajah serius Kai. Itu wajah...
“Ren..
Apa yang terjadi di ruang interogasi kemarin?”, tanya Stefanny kemudian Ren membisikkan
jawabannya. Mata Stefanny terbelalak kaget. Ini gawat.
“Duel
ronde ketiga adalah pertarungan sampai mati..”, kalimat dari kakek Uekusa
membuat semua orang keheranan. “Mereka akan bertarung dengan senjata pilihan
masing-masing.. Peraturannya sederhana.. Bertarunglah sampai salah satu dari
kalian mati..”.
Jimin
sedikit terkejut dan ragu disitu. Ia melirik Kai yang masih memasang ekspresi
sama daritadi. Ia mengalihkan pandangan ke Souta. Oh orang itu ternyata.
Wajahnya terlihat berseri walau tanpa senyuman.
“Sekarang
semuanya menuju ke dojo..”, ajak paman Ken.
Stefanny
hendak mendekati Kai ketika kakek Uekusa memerintahkan semua untuk bubar. Tapi
Kai berjalan sangat cepat tanpa melihat kearah lain selain lurus ke depan. Dia
apa? Kuda? Kai! Lihat sini! Aku harus mengatakan hal ini padamu!! Kai-ya!!
Namun, percuma saja. Sampai di dojo pun Stefanny tidak bisa bertatapan dengan
Kai. Oh tidak nyawa Jimin dalam bahaya!
“Ini
adalah hadiah terakhir untukmu dariku.. Anggap saja ini ucapan selamat karena kau
berhasil menjadi nyonya Uekusa dan merebut Uekusa Kai-sama dari ikatannya bersamaku..”, ujar Emi mendekati Stefanny.
“Terimakasih
atas hadiahmu.. Aku tersanjung melihat kebaikan dan kebijaksanaanmu.. Kau
sungguh wanita yang lapang dada dan tegar, Emi-san..”, jawab Stefanny mengontrol ekspresinya.
“Tak
perlu sungkan..”
“Tapi
sayang... Aku harus menolak hadiahmu.. Aku tidak bisa menerima hadiah yang
kotor.. Aku takut akan mengotori tanganku yang cantik.. Permisi..”, lanjut
Stefanny melenggang pergi.
“Masih
bisa sok.. Haha, lihat saja.. Kau akan menangis..”, ujar Emi.
Duh,
ini benar-benar gawat! Saat ini pasti kakek Uekusa pun sangat marah. Bukan
langkah bijak untuk menemuinya sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Ah, ia
berharap ada meteor yang jatuh ke dojo dan menghentikan duel! Ck.
@@@@@
Kai
menggunakan pedang kayu, Jimin pakai katana. Mereka berdua masuk ke arena duel
yang terasa mencekam. Jimin merasa heran disitu. Kenapa Kai pakai pedang kayu?
Wasit memasuki arena dan mengulurkan kipas yang membagi dua kubu itu. Ia
melihat ke kanan kiri kemudian mengangkat kipas menandakan duel dimulai.
Seperti
yang dilihat sebelumnya, gerakan klan Hanamatsu itu indah seperti orang menari,
sedangkan gerakan klan Uekusa mantap dan tegas. Dalam waktu beberapa detik, Kai
berhasil menyudutkan Jimin. Padahal dia pakai pedang kayu, darimana semua
kekuatan dan kestabilan pedang itu? Mana mungkin pedangnya tidak patah melawan
katananya yang terbuat dari baja?
‘Ptash!!!’
“Ack!!”,
Kai berhasil memukul punggung Jimin dengan pedang kayunya. Gila, sakit sekali.
Ini lebih sakit dari tebasan pedang.
Tanpa
berkata apa-apa, Kai maju dan menyerang lagi. Beberapa kali Jimin menerima
pukulan pedang kayu Kai. Rasa perihnya lebih tahan lama dari luka gores.
“Bagaimana
kau akan membunuhku dengan senjata itu..? Kenapa... Kenapa pedang kayu?”, tanya
Jimin geregetan sambil menahan pedang kayu Kai.
“Kenapa
kau tanya?”, Kai merespon dengan datar.
Ia
melepas aduan pedang kayu dan katana, lalu melompat dan memukul bahu kiri Jimin
membuat anak itu jatuh kesakitan.
“Aku
akan lebih suka menyiksamu sampai mati daripada langsung membunuhmu..”,
jawabnya menghunuskan pedang kayunya ke wajah Jimin.
Jimin
menampik pedang kayu Kai dengan katananya. Sumpah, tangan kirinya mati rasa.
Sepertinya ada yang patah. Kai tidak main-main dengan perkataannya. Ia
benar-benar ‘bermain’ bersama Jimin. Stefanny menggigit bibir bawahnya. Kalau
dibiarkan anak itu bisa mati kesakitan. Oh ayolah kakek Uekusa. Bertindaklah!
“Anda
mau apa, Yamada-sama?”, tanya Ren
melihat Stefanny hendak berdiri.
“Aku
harus menghentikan ini..!”
“Jangan..”
“Kenapa
tidak? Jimin bisa mati!”
“Kalau
anda menghentikan duel, secara tidak langsung anda membuat tuan muda kalah..”,
jelas Ten.
“Kalau
anda masuk membela Uekusa-samapun..
Kemenangan anda akan sia-sia..”, tambah Ren.
Argh!
Lalu apa yang harus dilakukan? Menembakkan anak panah kesana? Melempar surat
anonim yang menyatakan perang? Ah! Kau pikir ini drama?! Ayo cepat pikirkan
sesuatu, Stefanny!!!
Pada
saat itu, ketika Jimin sudah tergeletak tak berdaya dan Kai hampir melayangkan
tebasan pedang kayunya yang terakhir..
‘Tak!!!’
Luhan
menahan ayunan pedang kayu Kai. Semua orang dibuat terperangah kaget melihat
hal ini. Itu Luhan! Pengawal pribadinya Kai! Apa yang yang dilakukan orang
kepercayaannya disana?
“Apa
yang kau lakukan? Menyingkir..”, perintah Kai.
“Anda
sudah melewati batas anda sendiri, Uekusa-sama...”
“Batas?
Heh.. Batas apa?”
Tak
menghilangkan kesempatan ini, Stefanny langsung masuk ke arena dan membantu
Jimin. Melihat Stefanny yang begitu memperhatikan Jimin, Kai semakin naik
darah.
“Kenapa
kau disana?”, tanyanya. Stefanny hanya melirik tajam tak menjawab. “Aku tanya
padamu, apa yang kau lakukan disana?!”, bentak Kai.
“Aku
menolongnya!”, jawab Stefanny dengan nada tinggi juga.
“Mwo? Menolongnya?”
“Duel
ini akan berhenti disini..”, sela wasit. Ia kemudian berjalan ke kakek Uekusa
yang bingung menentukan siapa pemenangnya. Di satu sisi, Luhan adalah orangnya
Kai, tapi di sisi lain Luhan membantu Jimin. Lalu siapa yang akan bertanggung
jawab menerima kekalahan ini?
“Luhan..”,
panggil kakek Uekusa.
“Oyabun-sama..”, jawab Luhan.
“Kau
ada di pihak siapa?”
“Saya
ada di pihak nona Yamada..”
Jawaban
itu mengejutkan beberapa orang disana. Apa yang dia bicarakan?
“Aniki..”, panggil Anne.
“Dia
ingin membuat hasil duel ini ambigu..”, jawab Souta.
“Yamada-san.. Kau, ada di pihak siapa?”, tanya
kakek Uekusa.
“Saya
tidak berpihak pada siapapun.. Saya tidak setuju dengan duel ini..”
“Kau
tahu alasan kenapa aku menentukan duel sampai mati?”
“Apapun
alasannya, keputusan yang anda buat tidak bijaksana..”
Kakek
Uekusa menghela nafas panjang. Stefanny kembali membantu Jimin yang terluka
parah. Kai menghentikan langkah Stefanny dengan menarik tangannya.
“Dia
berusaha membunuhmu, apa kau tidak tahu?”, tanya Kai.
“Bukan
dia yang berusaha membunuhku, Kai.. Aku sudah mengatakannya padamu.. Jangan
mudah percaya pada paman-paman itu!”
“Aku
menghabiskan waktuku untuk menginterogasi mereka dengan cara apapun.. Dan
jawaban mereka tetap sama! Bahkan mereka punya bukti dan mereka juga punya tato
Hanamatsu di tubuh mereka! Kau masih tidak percaya dan membelanya?”
“Aku
juga bisa menato tubuhku dengan tato semua klan hanya untuk mengelabuhimu! Aku
bisa menjawab dengan satu jawaban yang sama sampai mulutku berbusa hanya untuk
membuatmu lelah dan percaya, Kai!”
“Argh!
Kenapa sih kau terus berada di pihaknya? Kau adalah calon istriku! Berpihaklah
padaku! Aku begitu kesal ketika kau terluka karena paman-paman suruhan itu..
Karena itu aku akan menghabisi orang yang menyuruh mereka..”
“Aku
ada di pihakmu Kai.. Tapi kau tidak percaya padaku..! Bukan Jimin yang menyuruh
mereka!”
“Lalu
siapa?! Siapa yang kau tuduh? Souta? Anne? Emi? Kakek? Aku?! Bilang saja kalau
kau mencintai Jimin dan tidak rela kalau dia bersalah!”, Kai meninggikan
suaranya dengan kesal.
“Apa?
Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Aku tidak ingin baik Jimin maupun kau
ada yang terluka hanya karena aku! Kau terlalu berlebihan dan kekanak-kanakan,
Kai!”, Stefanny ikut kesal.
“Berlebihan?
Kekanak-kanakan katamu? Apa seorang suami yang melindungi istrinya itu
berlebihan dan kekanak-kanakan?!”
“Apa
kau akan melakukan hal seperti ini lagi kalau ada yang mencoba melukaiku?”
“Tentu
saja! Aku tidak akan memaafkan mereka yang menyentuhmu!”
“Apa
kau senang berbuat seperti itu?”
“Apakah
kau harus menanyakan hal itu padaku? Kenapa? Kau tidak senang?”
“Membunuh
Jimin untuk membalaskan dendam konyolmu lewat duel ini begitu menyebalkan,
bodoh, tidak dewasa, dan membuatku kesal!!”
“Mwo? Hah, geurae.. Aku lupa dia adalah orang yang begitu penting dalam
hidupmu..”, Kai manggut-manggut dengan senyum sinis.
“Apa
lagi maksudmu? Kau dan dia sama-sama penting..!”
“Sudahlah!
Kalau kau tidak suka berada disini, tidak usah berbelit-belit.. Pulang tinggal
pulang..!”
“Sekarang
kau mengusirku?”
“Bukankah
itu maumu? Kau ingin pulang kan? Kau ingin pulang dan tinggal bersama
dengannya! Iya kan?!”, bentak Kai.
“Kupikir
kau sudah berubah.. Kau masih sama, tidak, kau lebih buruk dari Kai yang
kukenal.. Kau benar-benar.. Bodoh!”
“Benar,
aku memang bodoh!!”
“Tidak
dewasa!”
“Tentu
saja aku tidak dewasa! Aku bodoh dan kekanak-kanakan telah mencintai dan
melindungimu!”
“Kalau
begitu jangan cintai aku!”
Kalimat
itu menampar Kai. Membakar dada dan menghitamkan pandangannya. Dengan tatapan
tajam dan nafas pendek karena kesal, Kai berbalik meninggalkan dojo setelah
membanting pedang kayunya hingga patah tanpa berkata apa-apa.
Stefanny,
Ten, dan Ren membantu Jimin menuju ke kamarnya untuk diobati. Lukanya sangat
parah. Lebam dan luka dalam.
Kakek
Uekusa menghela nafas dan menyudahi duel hari itu. Terlihat senyum kemenangan
di wajah Souta, Anne, dan.. Emi.
@@@@@
“Apa
yang akan anda lakukan sekarang, Stefanny-san?”,
tanya Ten.
“Aku
akan pulang ke rumah..”
Ren
menoleh ke Stefanny cepat. “Tapi...”
“Tidak
ada alasan untuk ada disini lagi, Ren..”
“Anda
tidak boleh menyerahkan Uekusa-sama
begitu saja ke Emi-san..!”, Ren
sedikit tidak setuju.
“Aku
tidak menyerahkannya, Ren.. Kau tidak lihat? Kai sendiri yang pergi kan?”
“Anda
harus tetap berada di sisi Uekusa-sama!
Jangan biarkan Emi-san menang!”
“Cukup,
Ren! Untuk sementara.. Aku tidak ingin mendengar nama Kai atau siapapun yang
menyangkut Uekusa.. Aku sudah terlalu lelah..”
Ren
dan Ten terdiam. Tidak tidak. Meski ia senang Stefanny akan pulang bersama
Jimin, tapi tidak dalam keadaan tegang seperti ini. Ten dan Jimin hanya
menggoda dan mengetes suami Stefanny saja. Ia tak tahu akan jadi seperti ini
akhirnya.
“Siapkan
kepulangan.. Kalau bisa, aku ingin pulang sebelum fajar..”
“Akan
saya usahakan..”, jawab Ren.
Di
lain tempat, kakek Uekusa sedang menghubungi kakek Yamada melalui ponselnya
yang canggih.
“Begitulah..”,
ia menjelaskan situasinya.
“Hah..
Akan sedikit sulit untuk memperbaiki ini..”, kata kakek Yamada.
“Aku
sudah melakukan sebisaku disini.. Karena itu, bujuklah Stefanny agar mau baikan
dengan Kai.. Aku menyerahkannya padamu..”
“Tentu,
aku akan melakukan itu.. Masalah Stefanny biar aku yang tangani.. Kau tangani
Kai juga ya..”
“Ya..”
Setelah
berbincang sebentar, kakek Uekusa mengakhiri panggilannya. Di belakangnya sudah
duduk dengan manis Luhan, pengawal pribadi cucunya.
“Jelaskan
tindakanmu tadi..”, pinta kakek Uekusa.
“Tempo
hari Uekusa Kai-sama meminta saya
untuk berpihak pada nona Stefanny jika beliau sudah melewati batasnya..”, jawab
Luhan.
“Batas
apa yang kau maksud?”
“Amarah..
Uekusa-sama tahu kalau suatu saat di
pertandingan ini, ia pasti akan kelepasan tenaga atau ada situasi yang membuat
amarahnya memuncak.. Karena itu, beliau memerintahkan saya untuk menghentikan
tindakannya..”
“Begitu
ternyata.. Hah.. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah berucap.. Ya sudah, Luhan..
Kau temani Kai terus.. Pantau dan amati dia.. Aku takut dia akan menangis
menyesali keputusannya.. Dia bisa membangunkan seisi rumah dengan tangisannya
itu.. Hah..”, hela kakek Uekusa lelah.
“Baik,
Uekusa-sama..”
@@@@@
Tidak.
Apa yang Luhan lihat tidak salah. Sama sekali fakta realita! Kai tidak
menangis. Tak satu titik air mata pun ia teteskan setelah perginya Stefanny dan
Jimin dari kediaman Uekusa. Ia tidak bergelayut manja, ia tidak merengek, ia
tidak menyesali keputusannya. Sebenarnya ini melegakan, tapi ini juga gawat.
“Uekusa-sama..”, panggil Luhan mendekat. “Ada
surat untuk anda..”, ia menyerahkan sebuah amplop warna merah muda, dengan pita
putih dan beberapa hiasan norak lainnya.
Kai
hanya menatap undangan jamuan makan itu dengan ekspresi datar. Ia membaca lalu
meletakkannya lagi ke lantai dengan ekspresi tak berubah. Luhan menelan
ludahnya, biasanya ia akan heboh menerima surat unik dari Author. Tapi
reaksinya kali ini.. membuatnya merinding cemas.
@@@@@
“Kakek..
Aku pulang..”, sapa Stefanny memasuki kediaman Yamada.
“Oh,
cucuku sudah pulang..”, sahut kakeknya.
Stefanny
tersenyum kecil menatap kakeknya. Kakek Yamada menatap wajah lelah cucunya,
tidak, wajahnya sedih. Oh, cucuku yang malang. Kakek Yamada lalu memeluk
Stefanny dengan erat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya memeluk dan
menepuk pundaknya lembut. Setelah dipeluk, Stefanny izin masuk ke kamar.
“Ren..”,
panggil kakek Yamada.
“Saya,
oyabun-sama..”
“Amati
cucuku.. Dia tidak mudah menangis bahkan di depan kakeknya sendiri.. Jangan
biarkan siapapun mengganggunya, mengerti?”
“Baik,
oyabun-sama..”
“Dia
butuh waktu untuk sendiri..”
Ren
mengintip Stefanny yang terbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Di
kamar itu sangat hening. Tidak ada isakan. Lebih tepatnya, tak ada tangisan
dari Stefanny. Hah.. Nona, kau harus menangis. Kau butuh itu agar perasaan anda
lega. Menangislah, nona.
“Aku
akan pergi ke tempat biasa.. Aku akan bertemu dengan teman-temanku.. Siapkan
semuanya, Ren..”, ujar Stefanny.
“Baik,
Yamada-sama..”, jawab Ren.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar