Kamis, 23 Agustus 2012

Zai Shuo Yi Ci Wo Ai Ni -Story-


Cklek!
Krriiieeett!
Selamat datang..!

说一次我爱你 (Zai Shuo Yi Ci Wo Ai Ni)
Song : Zai Shuo Yi Ci Wo Ai Ni
By : Andy Lau (Liu De Hua)
Story By : Sno_Wint (Stefanny J.)

4 June
Setetes air dari langit, turun dengan cepat dan pecah di bahuku. Setetes air dari mataku, turun mengalir melewati pipiku dan jatuh di dadaku. Wajahmu yang pucat itu, terlihat sangat tenang dan damai. Tak bisakah aku mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk melihat wajah cantikmu? Bolehkah aku meminta kesempatan kedua agar aku bisa bersama denganmu lagi?
            “Kris..! Hujan.. Berteduhlah dulu..!” Kata sahabatku.
Aku tak merespon. Entah, aku tak mengerti apa yang ia maksud. Otakku malas untuk diajak berpikir saat ini. Aku terus memandangi peti yang ada didepanku. Aku ingat betul seperti apa wajah orang yang berbaring disini. Aku ingat dan sangat tahu. Dan aku.. Tak ingin lupa wajah orang itu.
            “Kris! Hujannya semakin deras nih.. Berteduhlah dulu!” Seru sahabatku lagi.
Tuhan, kumohon. Tolong berilah aku kesempatan sekali lagi untuk bisa bersamanya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya ketika ia akan pergi. Tuhan, kumohon. Kabulkanlah permintaanku ini. Aku benar-benar ingin mengatakan cinta padanya sekali lagi.
From : My Honey
     Honey, kau pulang malam ya? Padahal aku sudah menyiapkan makan malam untukmu...
From : My Honey
     Selamat malam, Honey! Muach~! Wo ai ni!
From : My Honey
     Sepertinya hari ini akan turun hujan, jangan lupa bawa payung ya kalau keluar rumah.. Hehe..
Aku kembali membaca semua pesan darinya yang belum terhapus dari ponselku. Sesekali aku tersenyum geli ingat akan hari itu. Benar-benar rindu dengannya..!
            “Kris.. Tidurlah.. Ini sudah malam.. Kau harus istirahat..” Ujar ibuku.
Aku tak menjawab. Aku terdiam di kasur dengan wajah hampir basah semua akibat air mata.
            “Kris.. Dengarkan ibu.. Kalau kau terpuruk begini, kasihan istrimu.. Pasti dia tidak bisa tenang dan sedih jika melihatmu seperti ini.. Lihatlah..! Kau semakin kurus dan wajahmu semakin pucat.. Kau jadi seperti mayat hidup saja!”
Aku mendengar ibuku menasihatiku, tapi entah kenapa tak ada satu hurufpun yang kumengerti. Otakku benar-benar malas untuk bekerja saat ini. Yang kubutuhkan saat ini adalah istriku! Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin membayar waktuku yang terbuang sia-sia meninggalkannya di rumah. Aku ingin bersamanya lagi. Akhirnya, mataku terpejam sempurna akibat efek dari obat tidur.
Aku berharap bisa bertemu denganmu lewat mimpi. Aku berharap bisa melihat wajahmu lagi di mimpi. Aku berharap aku bisa bersama denganmu lagi di mimpi. Tapi, hasilnya nol. Aku sama sekali tidak bertemu denganmu. Aku tak melihat wajahmu disini. Apa kau tak mau masuk kedalam mimpiku?
            “Kris, bangun.. Ayo bangun..!”
Aku mendengar seseorang memanggilku. Ia juga menggoncang-goncangkan tubuhku sesekali. Suara itu terdengar tidak asing di telingaku ini. Aku membuka mata dan samar-samar aku melihatnya. Benarkah itu dia? Benarkah yang kulihat ini? Apa ada yang salah dengan mataku? Aku mengusap wajah dan mataku cepat dan kembali kulihat orang yang berdiri di kamar ini lagi.
            “Hei.. Kenapa denganmu?? Kenapa melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu saja!”
Aku rasa mataku telah berbentuk bulat sekarang. Dan mungkin mulutku juga menganga saat ini. Aku menoleh kearah kalender yang berdiri di meja sampingku ini. 31 Mei. Oh Tuhanku.. Benarkah yang kulihat ini bukan mimpi? Kalau memang bukan, aku sangat berterimakasih kepadamu! Aku turun dari kasur dan langsung menubruk tubuhnya dan memeluknya erat.
            “Eh, Kris..! Ahahaha.. Kau ini kenapa sih? Ckckck..”
            “Ella... Aku merindukanmu!”
Aku masih memeluknya erat dan seerat mungkin. Kuhirup aroma wangi tubuhnya. Aku benar-benar rindu dan senang!
            “Kau ini kenapa sih, Kris? Ckckck.. Sudah sana mandi..! Bangun bangun dan bau begini, berani-beraninya memelukku..! Hih!” Protesnya.
Aku hanya tersenyum senang.
            “Aku tidak akan berangkat kerja hari ini..”
Ella, istriku itu menoleh.
            “Kenapa??”
            “Aku ingin bersamamu..”
Hari itu.. Bukan, hari ini.. Tanggal 31 Mei. Hari dimana dimulainya kesibukanku yang paling super sehingga aku tidak bisa menemaninya. Aku masih ingat, semua kesalahanku sebelum ia pergi. Semua sikap kasarku karena kepalaku yang mulai stres dengan urusan kantor. Ya, itulah masalahnya. Kantor, kantor, kantor, kantor dan kantor terus yang ada di kepalaku. Tak pernah sekalipun aku memikirkan Ella yang mungkin kesepian kutinggal bekerja hingga larut. Waktu itu..
Cklek..
            “Kau sudah pulang, Kris.. Bagaimana dengan urusannya? Sudah selesai?” Tanya Ella ketika aku baru pulang.
            “Belum.. Kenapa kau belum tidur? Ini kan sudah jam 2 dini hari..”
Ia tersenyum padaku. Mungkin itu adalah senyum terakhir yang kulihat.
            “Aku ingin menunggumu..”
Itu adalah kesalahan kesekian kalinya. Aku bersikap dingin, acuh tak acuh dan selalu mendiamkannya. Tapi sekarang, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan padaku ini.
            “Hari ini kau mau belanja??” Tanyaku ketika melihatnya sudah siap-siap mau pergi.
            “Iya.. Kau mau titip apa??”
            “Aku mau ikut.....” Jawabku dengan nada manja.
            “Hah? Kau mau ikut? Yang benar?? Pekerjaanmu....................”
            “Sudah.. Tak apa.. Tidak penting pekerjaannya..” Jawabku cepat memotong kalimatnya.
Aku langsung menutup laptop lalu memakai jaket dan menarik tangannya. Ia hanya bisa melihatku dengan heran. Hihihihi.. Tentu saja heran, selama kami menikah, belum pernah aku menemaninya belanja.
            “Kita mulai beli apa dulu??” Tanyaku sambil mendorong troley belanjaan.
            “Emm.. Ke bagian perlengkapan rumah dulu saja...”
            “Kalau begitu.. Ayo..!!!”
Aku berlari mendorong troley itu layaknya anak kecil. Ia tertawa melihatku. Walaupun orang pasti berpikir aku orang gila, tapi yang penting istriku senang.
            “Nanti malam kau mau makan apa??” Tanya Ella sambil memilah sayur yang ada di lemari pendingin.
            “Apapun yang kau masak, akan kumakan.. Masakanmu kan enak sekali! Tidak ada duanya!”
            “Ahahaha.. Iya deh..”
Aku tersenyum menatapnya. Mungkin ia berpikir kenapa dengan suamiku ini? Hehe.. Rahasia!
            “Kemana lagi? Ke bagian daging??” Tanyaku semangat.
            “Daging? Emm.. Boleh juga.. Ayo kesana..”
            “Asyik!”
Setelah selesai belanja, aku baru sadar, belanjaan kami banyak sekali. Apa dikarenakan aku mengambil terlalu banyak makanan ringan ya tadi?
            “Banyak sekali..” Lirihku.
            “Tentu saja banyak, tuan.. Bagaimana bisa tidak banyak, lihat nih.. 3 kantung plastik besar khusus hanya untuk makanan ringan..!” Jawab Ella ternyata mendengar lirihanku itu.
Aku hanya bisa nyengir kuda sambil mengusap belakang kepalaku. Untung aku naik mobil, kalau naik sepeda? Bisa gawat....
            “Setelah ini kau mau apa??” Tanyaku ketika dalam perjalanan pulang.
            “Mungkin aku akan bersih-bersih rumah.. Kenapa??”
            “Tak apa.. Aku bantu ya!”
            “Hari ini kau aneh, Kris.. Ada apa???”
            “Hm? Aneh? Tidak.. Aku hanya ingin bersamamu.. Itu saja..”
Sesampainya di rumah, kami bersih-bersih rumah. Menyapu, mengepel, mencuci baju dan piring, membersihkan debu-debu dan lainnya. Sesekali eh bukan.. Berkali-kali aku bergurau dengannya. Seperti misalnya....
            “Busanya banyak, La!” Ujarku bangga.
            “Heh heh heh.. Mau apa kau? Jangan mendekat! Aaaaa!!!! Kris!!”
Hahahaha.. Aku tertawa puas ketika meniup tumpukan busa itu kearahnya.
            “Astaga, gawat... Kabur!!!!!!!”
            “Jangan lari kau ya! Awas kau!!”
Ella mengejarku dengan selang air. Bisa gawat kalau aku sampai kena. Bisa basah kuyup!
            “Ahahaha.. Kris! Kenapa kau mengepel seperti shaolin yang membersihkan lantai??” Tanya Ella ketika melihatku mengepel ala shaolin katanya.
            “Eh? Kan biar cepat..” Jawabku apa adanya.
Kami merebahkan diri, melepaskan segala kelelahan yang menyelimuti kami setelah bersih-bersih. Aku menoleh kearahnya. Matanya sedang terpejam dengan nafas teratur keluar dari hidungnya. Aku tersenyum lalu mengecup pipinya. Ia membuka mata dan menatap kearahku.
            “Aku mencintaimu Ella..” Ujarku.
Aku bisa lihat senyum manisnya sekali lagi. Dan juga...
            “Aku juga Kris.. Aku juga mencintaimu..”
Hari ini tanggal 1 Juni. Hari ulang tahunnya! Dan juga.. Hari dimana ia pergi.
            “Selamat ulang tahun sayangku!!!” Teriakku heboh.
            “Terimakasih, Kris.. Kue-nya cantik sekali...” Pujinya ketika melihat kue ultahnya sendiri.
            “Ehehehe.. Kan kau cantik, makanya aku pilihkan kue yang cantik juga..”
Ia tersenyum.
            “Hadiah tahun ini adalah... Aku!”
            “Eh? Kau?”
            “Iya.. Seharian bersama denganku..” Ucapku bangga.
            “Hah? Siapa yang mau??”
Aku langsung memajukan bibirku. Tak bisa kubiarkan kalimat itu. Harus ada hukumannya.
            “Kau bilang apa?? Kemari kau, Ella.. Aku akan menghukummu!”
            “Eh?! Tidak bisa.. Coba tangkap aku dulu.. Wekkkk!!”
Aku berlari kejar-kejaran dengannya. Sebenarnya kami ini pasangan suami istri umur berapa? Hah.. Jangan pikirkan usia jika sedang berbicara tentang cinta.
            “Nah, nona.. Kau mau kemana dulu? Aku akan belikan semua yang kau mau!” Ujarku ketika kami berjalan-jalan di pasar malam.
            “Serius???”
Aku mengangguk mantap. Ia terlihat sangat senang. Hari ini adalah hari terakhir aku bersamanya. Tidak adil! Jujur, aku masih ingin bersamanya. Walaupun sudah diberi kesempatan bisa dengannya lagi, aku belum puas. Memang itulah sifat manusia, iya kan?
            “Kris.. Coba lihat topi ini.. Lucu ya..”
            “Itu kan topi bayi..”
            “Memang.. Semua benda-benda milik bayi itu memang lucu!”
Mungkin.. Aku bisa menghentikan kecelakaan itu. Ya, mungkin aku bisa menolongnya dari kecelakaan itu! Aku langsung bernafas lega setelah menyadari kami jauh dari jalan dimana Ella tertabrak. Itu artinya, Ella bisa kuselamatkan!
            “Ella.. Berjanjilah kau akan terus menggandeng tanganku..” Kataku.
Ia sedikit memiringkan kepalanya bingung.
            “Baiklah..” Jawabnya.
Sepanjang perjalanan di hari ulang tahunnya ini, aku dan dia terus saling bergandeng tangan. Hingga...
            “Lampu pejalan kakinya lama sekali sih! Hih!” Ujarku kesal.
            “Sabar, Kris..” Tenang Ella.
Beberapa detik kemudian, lampu itu berubah hijau. Ketika aku dan Ella berjalan sampai di tengah jalan, aku melihat sesuatu. Itu kan.. Itu mobil yang menabrak Ella! Hei yang benar saja! Aku ingin menghindar dari tempat itu. Tapi sesak! Jalanan ini terlalu ramai dengan orang-orang! Aku berusaha untuk mencari celah untuk berlari ke tepi jalan, tapi tak ada! Kenapa orang-orang ini seperti menjadi penghalang dan pagar untukku meyelamatkan Ella?! Arrggghhh!!
Aku pasrah.
Perlahan kutatap istriku.
Apakah ini yang namanya takdir?
Apakah memang istriku ditakdirkan untuk mati sekarang?
            “Ella..” Lirihku dan tanpa seizinku bulir air mata mengalir.
            “Kris.. Kau kenapa?” Tanya Ella terlihat khawatir.
            “Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu...” Ujarku berulang-ulang sebelum mobil itu semakin lama semakin menghapus jarak.
            “Kris.. Kau baik-baik saja? Kau kenapa, Kris?? Kau jangan bercanda..!!”
            “Terimakasih karena kau telah memberiku kesempatan untuk bisa bersama denganmu lagi.. Terimakasih, La.. Terimakasih karena aku bisa mengucapkan cinta padamu sekali lagi..”
            “Apa yang kau bicarakan, Kris? Kris..? Kris! Mobil itu tidak mengerem..!”
Ella melihat mobil yang berjalan itu tidak memperlambat lajunya. Ya, mobil itu yang akan membunuh Ella. Istriku ini terlihat panik dan cemas. Aku menatapnya dengan sendu. Aku rasa, aku tidak akan kuat jika harus kehilangan dirinya 2 kali. Kuputuskan....
Kubalikan badanku dan kurentangkan tanganku.
BRAK!!!!!!
Aku bisa melihat senyumnya sekali lagi. Aku bisa mendengar suara tawanya sekali lagi. Aku bisa bersama dengannya sekali lagi. Aku bisa memperbaiki kesalahanku. Aku cukup puas dengan semua itu.
Keinginanku sudah terkabul.
Untuk mengatakan hal itu. Sekarang semuanya sudah berakhir. Sudah selesai.
Ella..
Istriku..
Sekali lagi akan kukatakan...
Aku mencintaimu..

Romaji
ji de na tian ni zuo zai wo de mian qian
ni de yi yuan hen ming xian deng wo de biao xian
wo shuo gai tian deng wo you zu gou shi jian
wo yi ding gei ni yi ci wan mei ai qing de xuan yan
duo xiang zhua jin mei yi shun jian
zhi pa gu shi yi shi zuo tian
cai ming bai hu lue shi wo zui da de que xian
wo zhen de hao xiang zai shuo yi ci wo ai ni
wo yuan yi fang qi suo you yi qie zhi wei huan hui ni
ru guo shi jian neng gou wei ni er dao liu
zhen de hao xiang qian zhe ni de shuang shou
zai shuo yi ci wo ai ni
hui yi yi jing mei you ni zai wo mian qian
kan shi me"

Kanji
说一次我爱你 - 刘德
记得 那天 你坐在我的面前
你的意愿很明 等我的表
改天 等我有足够时间
我一定给你一次完美 爱情的宣言
多想 紧每一瞬间
只怕故事已是昨天
才明白 忽略是我最大的缺陷
我真的 好想 说一次我爱你
我愿意放弃所有一切 为换回你
如果 时间 够为你而倒流
真的好想牵着你的双手
说一次 爱你
没有你在我面前
看什麽也会感到厌倦 闭上双眼
多想 两个人盖一张被
一同刷牙 一同洗
才明白 错把机会 给了明天
我真的 好想 说一次我爱你
我愿意放弃所有一切 为换回你
逃避 原来不是面对的道理
看清自己种下的可惜
重复後悔的延
我真的 好想 说一次我爱你
我愿意放弃所有一切 为换回你
如果 时间 够为你而倒流
真的好想牵着你的双手
说一次

Translation
Remember the day you sat in front of me
You will obviously wait for my performance
I said, another day, etc. I have enough time to
I'll give you a perfect declaration of love
More want to seize every moment
I am afraid that story yesterday
Came to realize that neglect is my biggest flaw
I really want to say again I love you
I am willing to give up everything just to exchange for your
If the time for you to turn the clock back
Really want to hold your hands
Again I love you
Memories have been you before me
See what will be tired I close my eyes
Think two people cover a
With brushing with wash
Came to realize that the wrong opportunity to lend tomorrow
I really want to say again I love you
I am willing to give up everything just to exchange for your
To escape if they are not facing the truth
Of a pity to see under their own kind
Repeated regret the continuation of
I really want to say again I love you
I am willing to give up everything just to exchange for your
If the time for you to turn the clock back
Really want to hold your hands
Again I love you


~Fin~

Pu Gong Ying De Yue Ding -Story-


Huuffff..
Dheg.. Dheg..
Ttttiiiiiiiitttt..

蒲公英的約定 (Pu Gong Ying De Yue Ding)
Song : Pu Gong Ying De Yue Ding – Secret OST
By : Jay Chou (Zhou Jie Lun)
Story  by : Sno_Wint (Stefanny J.)

Aku melangkahkan kakiku menaiki bukit kecil yang ada di dekat rumahku. Disana, tumbuh sebatang pohon yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rindang. Dibawah pohon itu adalah tempat favoritku. Aneh, pertama kali aku berpikir kenapa ia bisa suka dengan tempat ini? Padahal, pemandangan yang bisa dilihat hanyalah hamparan rumput saja.
Ctek..
Aku memetik sesuatu yang tumbuh disekitar pohon itu.
Huufff..
Aku meniup sesuatu itu, membuat benda-benda kecil yang tadinya menempel sekarang terbang menjauh.
Dandelion.
Itulah nama bunga liar yang barusan aku tiup. Meniup bunga Dandelion adalah hobiku. Dia, gadis itu memperkenalkan hal-hal baru untukku.

小學籬芭旁的蒲公英 - xiao xue li ba pang de pu gong ying
The nightingale perched on the primary school fence
是記憶裡有味道的風景 - shi ji yi li you wei dao de feng jing
Is a scenery in my memory

Aku masih ingat gambaran burung-burung bertenggeran di pagar sekolah. Gambar itu terlukis di benakku karena suatu alasan.
          “Lu Han ge..” Panggilnya.
Aku menoleh dan membalikan badan. Tak lupa aku juga tersenyum menyambutnya.
          “Sudah lama menunggunya?” Tanyanya.
Aku menggeleng.
          “Tidak.. Baru sebentar..” Jawabku.
Setiap hari, aku menunggunya pulang sekolah. Kalau tidak, dia yang menungguku pulang sekolah. Kami pulang berjalan ke rumah kami yang bersebelahan. Ya, dia adalah tetanggaku.
Mungkin karena itulah gambar burung-burung bertengger di pagar sekolah terpatri di benakku. Mungkin karena aku sering melihat hal tersebut.

午睡操場傳來蟬的聲音 - wu shui cao chang chuan lai chan de sheng yin
The sound of the crickets during the afternoon nap
多少年後也還是很好聽 - duo shao nian hou ye hai shi hen hao ting
Still sounds as beautiful years later

Semuanya masih sama. Tak ada yang berubah sedikitpun. Suara jangkrik menjelang malam, masih terdengar merdu dan indah seperti tahun lalu. Dandelion yang tumbuh cepat juga tidak berubah. Apakah hanya aku saja yang mengalami perubahan? Kini, hatiku terasa sepi dan kosong. Tidak seperti waktu kau ada disampingku. Hatiku terasa hangat dan selalu gembira.
          “Maaf ya Lu Han ge..”
          “Tidak.. Kau tidak perlu minta maaf..”
          “Tapi, gara-gara aku.. Kau jadi tidak bisa pergi bersama teman-temanmu..”
          “Tak apa.. Lagipula aku juga tidak suka pergi ke tempat itu.. Sudah.. Kau istirahat saja.. Tidurlah..”
Mata yang terpejam itu, selalu kudoakan agar bisa terbuka lagi.
          “Selamat malam, ge..”

將願望折紙飛機寄成信 - jiang yuan wang zhe zhi fei ji ji cheng xin
Folding aeroplanes carrying our wishes and sending them like letters
因為我們等不到那流星 - yin wei wo men deng bu dao na liu xing
We could not wait for the shooting star
認真投決定命運的硬幣 - ren zhen tou jue ding ming yun de ying bi
So we focused on our hard fate
卻不知道到底能去哪裡 - que bu zhi dao dao di neng qu na li
But did not know where we could go

Aku mengeluarkan secarik kertas yang kusimpan di sakuku. Aku sudah menulis sesuatu diatas kertas ini semalam. Langkah demi langkah kulewati dengan hati-hati untuk menghasilkan origami pesawat yang sempurna.
Senyum mengembang di wajahnya ketika ia berhasil membuat sebuah pesawat dengan rapi dan sempurna waktu itu.
          “Hore!!! Aku berhasil membuatnya, ge!!” Ujarnya semangat.
          “Wah! Kenapa punyaku malah tidak rapi begini?! Sobek pula!” Protesku.
          “Hahaha.. Sepertinya Lu Han ge sudah mulai tua..! Jari-jarinya sudah tidak luwes seperti dulu lagi! Hahaha..” Ledeknya.
          “Apa kau bilang? Awas kau!”
Aku mendekat kearahnya yang masih tertawa. Langsung saja kugelitiki kaki dan pinggangnya.
          “Aduh, ge.. Ampun ampun ampun! Hahaha.. Geli!!”
          “Tidak ada ampun! Akan kubuktikan kalau jari-jari ini masih luwes! Hahaha.. Rasakan pembalasanku!”
          “Iya iya iya! Aku minta maaf! Lu Han ge  masih muda kok..!”
Senyum kecil terukir di bibirku ketika kilasan kenangan itu terlintas di benakku.
          “Nah, pesawat.. Terbanglah yang jauh dan tinggi..” Ujarku lalu menerbangkan pesawat kertas itu.
Sama seperti waktu itu,
          “Kenapa kita menulis harapan kita di kertas, ge?” Tanyanya.
          “Karena kita akan menerbangkannya ke angkasa.. Kita akan melipatnya menjadi pesawat nanti.. Kau sudah selesai belum menulisnya??”
          “Sebentar lagi.. Emmm... Ah iya! Hehe.. Baiklah.. Sudah selesai!”
Kami melipat kertas harapan itu menjadi sebuah pesawat kertas sederhana.
          “Kenapa harapan kita harus diterbangkan dengan pesawat kertas??” Tanyanya lagi dengan rasa penasaran yang tinggi.
          “Karena kita tidak bisa menunggu bintang untuk jatuh dari singgahsananya..”

一起長大的約定 那樣清晰 - yi qi zhang da de yue ding na yang qing xi
The promise that grew up with us is so vividly etched,

打過勾的我相信 說好要一起旅行 - da guo gou de wo xiang xin shuo hao yao yi qi lv xing
I crossed fingers saying we would go on a holiday together. 
是妳如今 唯一堅持的任性 - shi ni ru jin wei yi jian chi de ren xing
And that promise, is the only thing that kept you strong

Kenangan demi kenangan terus berusaha untuk menguasai otakku. Tapi, aku tak akan meronta. Karena aku senang bisa mengingat segalanya tentangku dan tentangnya ketika kami bersama.
Sewaktu aku dan dia masih kecil, kami membuat sebuah janji. Janji yang tumbuh dengan kita terasa sangat hidup.
          “Jangan menangis...” Ujarku menenangkannya.
          “Aku takut Lu Han ge.. Aku tidak mau mati.. Aku belum mau pergi meninggalkan dunia dulu.. Aku masih ingin bermain bersamamu..”
          “Kau ini bicara apa? Kenapa kau begitu? Kau harus bisa mengalahkan penyakitmu itu! Kita bisa berjuang bersama-sama!”
Ia berhenti menangis dan masih terisak. Aku masih ingat dengan jelas tatapan penuh harap itu. Tatapan seorang anak kecil itu, menatap mataku yang juga masih anak-anak. Benar, dia mengidap sebuah penyakit sejak ia kecil. Hampir setiap hari ia merasa sedih dan depresi karena penyakitnya itu.
          “Aku berjanji akan mengajakmu pergi bermain besok!” Ujarku penuh keyakinan sambil menyilangkan kedua jariku, jari tengah dan jari telunjuk.
          “Benarkah?? Wah, asyik!!”
Selama ini, semua janji liburan dan bermain itu adalah hal yang selalu membuatnya kuat.

我們卻注意窗邊的蜻蜓 - wo men que zhu yi chuang bian de qing ting
We gazed at the dragonflies by the window

Melihat seekor capung terbang melewatiku, aku jadi teringat akan sesuatu. Lebih tepatnya, akan hari itu.
          “Lihat..! Capungnya bewarna-warni!” Kataku sambil membuka kaca jendela kamarnya.
          “Wah.. Cantik-cantik sekali ya...!” Jawabnya antusias.
          “Yang itu seperti sedang balap terbang ya..!”
          “Hahaha.. Iya..! Kalau yang itu seperti sedang berebut makanan, ge..!”
Kami mengamati beberapa capung yang terbang diatas taman kecil milik keluarganya. Tak cuma hari itu, kami juga sering melihat capung bertebangan dengan indahnya dari jendela kamarnya. Setidaknya, itu menjadi hiburan gratis yang bisa dinikmati olehnya.

我去到哪裡妳都跟很緊 - wo qu dao na li ni dou gen hen jin
You follow me closely wherever I go
很多的夢在等待著進行 - hen duo de meng zai deng dai zhe jin xing
And there are many dreams for us to fulfil

Dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Lebih tepatnya, dia tidak bisa jauh-jauh dariku. Karena aku selalu menggandeng tangannya. Kemanapun aku pergi, dia selalu setuju dan selalu dekat denganku.
          “Aku akan beli minum sebentar..”
          “Aku ikut!” Selanya dengan cepat.
          “Tidak usah.. Kau disini saja.. Cuma sebentar kok..”
Dia menggeleng lalu bangkit dari duduknya dan memegangi tanganku.
          “Aku mau ikut..” Rengeknya.
Aku menghela nafas.
          “Baiklah.. Ayo..!”
Diapun tersenyum. Alangkah indah senyumnya ketika permintaannya dikabulkan. Hehe..
          “Aku ingin menanam Dandelion di rumah!” Ujarnya.
          “Dandelion?? Itu kan bunga liar.. Tidak bewarna dan jelek..!”
          “Siapa bilang jelek? Aku suka kok.. Aku ingin meniup Dandelion setiap hari.. Hehehe.. Agar benih-benih kecilnya jatuh di tempat yang berbeda dan menghasilkan Dandelion baru!”
          “Tapi, mana ada orang yang menjual bibit Dandelion? Kau ini ada-ada saja..”
          “Hah.. Lu Han ge ini.. Ayo ikut aku..! Akan kutunjukan sesuatu padamu!”
Ia menarik tanganku menuju ke suatu tempat.
          “Tempat apa ini?”
          “Hehehe.. Ayo duduk disana!”
Bukit kecil dan 1 pohon tumbuh disana. Hanya ada hamparan rumput sejauh mata memandang. Kenapa dia mengajakku kemari?
          “Coba lihat.. Banyak Dandelionnya kan..??” Ujarnya sambil menunjuk sekeliling pohon itu.
Ia memetik 2 tangkai Dandelion itu dan memberikannya 1 untukku. Ia meniup bunga tersebut.
          “Sekarang giliranmu.. Ayo tiup bunganya..”
Aku menurut dan meniup bunga Dandelion itu. Mataku terbelalak heran. Sekilas, pemandangan hamparan rumput itu menjadi sangat indah dilewati dengan benih-benih Dandelion yang berterbangan.
          “Aku ingin tidur disini...” Katanya.
          “Hah?! Mana bisa? Kau bisa sakit nanti..” Jawabku cepat.
          “Yah.. Kan bisa pakai jaket dan bawa selimut....” Rengeknya.
          “Ckckck.. Ada-ada saja permintaanmu ini..”
Memang, banyak sekali permintaan yang ingin ia wujudkan. Cita-cita, keinginan dan segalanya yang mungkin belum bisa terpenuhi karena takdir berkata lain.
Aku menghela nafas dengan berat. Dadaku terasa sesak dan oksigen disekitarku terasa sangat sedikit. Kenangan itu ternyata telah membuatku ingin menangis. Lagi.
          “Lu Han..” Panggil seseorang.
Akupun menoleh dan mendapati ibuku yang memanggil. Ibuku mendekat dan duduk disampingku. Dibawah pohon ini dan ditengah-tengah hamparan rumput ini.
          “Aku merindukannya, ma..” Kataku.
          “Iya, nak.. Mama tahu.. Mama juga sangat merindukan Stefanny..”
Mendengar namanya disebut, jantungku berdetak semakin cepat. Darahku mengalir lebih deras dan dadaku terasa sesak. Tanpa kusadari, air mata sudah lolos dari mataku. Gadis itu. Dia. Ia. Adalah Stefanny.

妳是友情 - ni shi you qing
Are we friends,
還是錯過的愛情 - hai shi cuo guo de ai qing
Or are you the girl I missed out on?

Terkadang aku berpikir, apakah kami ini berteman? Atau dia adalah gadis yang kurindukan?
Kalian tahu? Kenapa aku mengajaknya membuat harapan yang diterbangkan dalam bentuk pesawat kertas? Kalian tahu kenapa aku suka tempat ini dan suka meniup bunga Dandelion? Kalian tahu apa yang kutulis semalam dan kuterbangkan hari ini?
Aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya mencintainya. Aku menyukainya dan selalu ingin membuatnya tersenyum bahagia. Aku tidak ingin melihat air matanya mengalir lagi. Aku tidak ingin membuatnya ingat akan penyakit yang merebut nyawanya itu. Aku hanya ingin dia bisa hidup layaknya gadis biasa yang bisa melakukan apa saja yang dia mau. Karena itu, aku menulis sebuah surat singkat yang ingin sekali kukirimkan ke surga untuknya. Agar dia bisa tersenyum dan tidak kesepian. Tapi, aku ingat. Dia di surga sekarang. Tempat yang lebih baik dan yang pasti dia sudah mendapatkan kebahagiaan abadi.
Sekarang aku tahu, kenapa dia suka tempat ini. Aku tahu karena aku bisa merasakan hangatnya kasih sayang dari bumi ini ketika angin berhembus dan menerbangkan benih-benih Dandelion dengan lembut.
Dia, Stefanny. Telah mengajariku banyak hal yang awalnya belum pernah kutemukan dalam hidupku.
Janji itu kini telah terbang bersama dengan Dandelion. Ke surga.

Romaji
xiao xue li ba pang de pu gong ying
shi ji yi li you wei dao de feng jing
wu shui cao chang chuan lai chan de sheng yin
duo shao nian hou ye hai shi hen hao ting

jiang yuan wang zhe zhi fei ji ji cheng xin
yin wei wo men deng bu dao na liu xing
ren zhen tou jue ding ming yun de ying bi
que bu zhi dao dao di neng qu na li

yi qi zhang da de yue ding
na yang qing xi
da guo gou de wo xiang xin
shuo hao yao yi qi lv xing
shi ni ru jin
wei yi jian chi de ren xing

zai zou lang shang fa zhan da shou xin
wo men que zhu yi chuang bian de qing ting
wo qu dao na li ni dou gen hen jin
hen duo de meng zai deng dai zhe jin xing

yi qi zhang da de yue ding
na yang qing xi
da guo gou de wo xiang xin
shuo hao yao yi qi lv xing
shi ni ru jin
wei yi jian chi de ren xing

yi qi zhang da de yue ding
na yang zhen xin
yu ni liao bu wan de ceng jing
er wo yi jing fen bu qing
ni shi you qing
hai shi cuo guo de ai qing

Kanji
小學籬芭旁的蒲公英
是記憶裡有味道的風景
午睡操場傳來蟬的聲音
多少年後也還是很好聽

將願望折紙飛機寄成信
因為我們等不到那流星
認真投決定命運的硬幣
卻不知道到底能去哪裡

#一起長大的約定
那樣清晰
打過勾的我相信
說好要一起旅行
是妳如今
唯一堅持的任性

在走廊上罰站打手心
我們卻注意窗邊的蜻蜓
我去到哪裡妳都跟很緊
很多的夢在等待著進行

Repeat


一起長大的約定
那樣真心
與妳聊不完的曾經
而我已經分不清
妳是友情
還是錯過的愛情

Translation
The nightingale perched on the primary school fence,
Is a scenery in my memory,
The sound of the crickets during the afternoon nap,
Still sounds as beautiful years later.

Folding aeroplanes carrying our wishes and sending them like letters,
We could not wait for the shooting star,
So we focused on our hard fate,
But did not know where we could go.

#The promise that grew up with us is so vividly etched,
I crossed fingers saying we would go on a holiday together.
And that promise,
Is the only thing that kept you strong.

Despite being punished at the corridors and palms stinging,
We gazed at the dragonflies by the window,
You follow me closely wherever I go,
And there are many dreams for us to fulfil.

Repeat #

The promise that grew up with us is that innocent and pure,
I was unable to recall your "we used to..." clearly,
Are we friends,
Or are you the girl I missed out on?


~Fin~