Sixth Bite
Aku
menatap Yuta yang terus termenung menatap secarik kertas di tangannya. Ini
bukan Yuta. Biasanya kan dia berisik kalau mau makan ramen. Kenapa kali ini dia
sangat diam? Aku harus menanyakan sesuatu.
“Ehm..
Yuta.. Bagaimana tadi?”, tanyaku membuat semua pandangan teman-temanku terarah
ke Yuta.
“Bagaimana
apa?”, ia balik tanya dengan nada lemas.
“Membuat
lirik dengan Hayashi-nya..”
“Oh..”
Dia
tak menjawab lebih panjang dari ‘oh’. Sialan, anak ini. Kau pikir kau sedang berhadapan
dengan siapa? Sol lho!
“Hei,
kenapa kau tidak menjawab dengan benar?”, aku mendesaknya dengan nada masih
kalem.
“Hm..”,
ia berdehem menanggapiku.
“Yuta..!”
“Eh?
Ya? Kau bicara denganku, Sol?”, kali ini respon Yuta lebih hidup. Apa dia sudah
tersadar dari lamunannya?
“Apa
yang mengganggu pikiranmu, senpai?”, tanya Jae merebut pertanyaanku. Karena dia
manis, jadi kulepaskan.
“Tidak
ada..”, elak Yuta melipat kertas itu kemudian menyimpannya di saku.
“Kau
seperti orang yang sedang memikirkan hutang saja..”, ujar Johnny lalu menyesap
jus melonnya.
“Ya
itu juga tidak salah sih.. Kosku sudah nunggak tiga bulan!”, Yuta bercerita
bangga.
“Jangan
bangga, please.. Kenapa tidak dibayar?”, Ten menimpali dengan posisi tiduran.
“Aku
lupa mau bayar..”, jawab Yuta polos.
“Jangan
sampai kau diusir darisana.. Aku tidak mau menampungmu di kos-an ku.. Wakatta
(mengerti)?”, Taeyong mengancam dengan lirikannya.
“Ehehehehe..
Kau jahat sekali.. Kita ini teman lho.. Masa kau tidak mau berbagi?”, Yuta
malah cengengesan tak bisa serius.
“Aku
tidak mau membuang tisuku secara sia-sia.. Tisu sekarang mahal!”, jelas
Taeyong.
“Tisu?
Apa yang kau lakukan dengan tisu Taeyong? Kau bermain origami dengan itu?”,
tanyaku heran.
“Tidak
juga sih..”, jawab Yuta tak yakin.
“Apa
senpai memakainya untuk mengepel?”, Jae terdengar penasaran.
“Mana
mungkin..”, bantah Yuta.
“Lalu
kau pakai untuk apa? Membersihkan sperma?”, celetuk Johnny santai.
Oh
my God. Johnny, tidakkah kamu sadar kalau kita sedang di tempat umum? Kita
sedang duduk di salah satu meja kedai ramen ini lho. Kenapa kau harus
mengucapkan kalimat itu? Pikirkan imagemu!
“Ya..
Sepertinya sebagian besar untuk itu..”, jangan dijawab serius baka Yuta!!
“Heeeee,
sepertinya asyik.. Taeyong, kapan-kapan aku juga mau ke kos-anmu ya!”, pinta
Johnny dengan mata bersinar terang penuh harapan.
“Ya..
Nanti kalau aku ada tontonan bagus..”, jawab Taeyong santai.
Astaga,
kalian tolong pertimbangkan pembicaraan ini. Disini masih ada dua anak manis di
bawah umur. Well, kita juga masih di bawah umur sih. Tapi Ten dan Jae.. Masa
kalian mau meracuni dua malaikat anggota band Kaijou?!
“Aku
mau ikut juga ya!”, Ten mengembangkan senyum selebar mungkin.
“Kalau
ada waktu, izinkan aku ikut juga ya senpai.. Akan kubawakan tisu..”, sambung
Jae dengan wajah dihiasi senyum malaikat.
“Hushhhh,
jangan ngawur!”, omelku berusaha meredam emosi yang meluap.
“Lho?
Sol-senpai tidak mau ikutan juga?”, tanya Ten mengangkat kepalanya dari bantal
tangannya.
“Yang
benar saja..”, jawabku.
“Yakin
Sol tidak mau ikut?”, tanya Johnny.
“Aku
tidak mungkin bisa menonton hal begituan ramai-ramai!”, sekarang aku
menumpahkan kekesalanku.
“Hooooo,
tapi kau tetap nonton kan? Meski sendiri..”, Yuta menyimpulkan hal yang paling
konyol.
“Kenapa
kita jadi bahas ini sih? Tadi kan aku mau bahas raut wajah Yuta yang sudah
tampak seperti kantung plastik kusut!”, aku hendak mengembalikan topik.
“Lagipula, Taeyong.. Kau tidak repot kalau mereka semua menyerbu kamar kosmu?”,
entah kenapa aku menanyakan hal ini.
“Aku
tidak keberatan..”, tuh kan Taeyong menjawab dengan santai.
“Hore!!”,
teman-teman, tidak ada yang perlu disoraki.
$$$$$
Aku
terus mengamati Haku yang sedang mengerjakan PR di meja belajarnya. Bukan
berarti aku tidak ada tugas. Tentu saja ada, banyak malah. Tapi pikiranku terus
ke dia. Haku pulang dengan raut wajah seperti itu tadi. Bagaimana aku bisa
bepikir tenang? Tanpa kusadari aku mulai memulai kebiasaanku menggigit ujung
pena yang kubawa.
“Rin,
kau lapar?”, tanya Haku.
“Hm?”,
karena tadi sempat bengong aku jadi tidak fokus pada pertanyaannya.
“Kau
lapar ya?”, tanya Haku mengulang pertanyaannya.
“Sedikit..”
“Ambil
camilan saja di dapur.. Jangan gigiti penamu begitu..”
“Eh?!”
Aku
sadar dan hanya bisa memberikan senyum garing untuk Haku.
“Rin,
bisa kita bicara sebentar?”, aku menoleh ke arah pintu dan menemukan sosok
ayahku disana.
“Ya..”,
jawabku lalu beranjak dari kursi.
Jujur
saja, ini kali pertama ayahku memanggil namaku selama beberapa bulan terakhir.
Ia jarang pulang, jarang di rumah. Kalau di rumah pun kami jarang bicara. Ia terlalu
sibuk dengan pekerjaannya. Aku ragu apakah ayahku tahu berapa umurku?
“Kudengar
kau berpacaran dengan Lee Taeyong?”, tanya ayah to the point.
“Ya..”,
jawabku santai.
“Putuskan
dia..”
“Apa?”
“Kau
tak paham? Putuskan dia.. Sekarang, kembali ke kamar dan selesaikan tugasmu..”
Ayah
lalu berlalu meninggalkanku mematung di depan kamar begitu saja. Apa? Dia
bercanda? Seenak jidat minta aku putus dengan Taeyong! Siapa kau memangnya?
Well, dia ayahku. Tapi tidak seperti itu meminta putrimu, yang tidak pernah kau
perhatikan, untuk putus dengan kekasihnya. Paling tidak beri alasan yang jelas!
Aku
masuk kamar, membanting pintu. Aku kembali duduk mengerjakan tugasku dengan
penuh emosi. Aku sadar Haku menatapku heran. Tapi aku sedang tidak mood untuk
bicara. Aku takut Haku yang kena amarahku kalau aku berbincang dengannya.
“Rin,
bisa bantu aku menjawab pertanyaan ini?”, pinta Haku.
Dia
tahu aku tidak akan bisa menolak. Tentu aku bantu meski dengan wajah masam.
“Yang
mana?”, tanyaku terdengar ketus. Oh tidak. Aku tidak ingin Haku kena semprotan
emosiku!
“Yang
ini..”, ia menunjuk nomor sepuluh.
Dengan
kesal aku mencorat-coret kertas yang ada di mejaku. Soal yang begitu mudah.
Kalau tidak salah ingat, Haku yang mengajarkan pemecahan soal ini. Kenapa
sekarang ia malah tanya padaku?
“Kau..
Bukannya sudah tahu sendiri?”, tanyaku.
“Aku
tidak tahu kalau Rin tidak cerita..”, jawab Haku.
Ah,
anak ini memang bisa saja membuat kesempatan dalam kesempitan. Dia ingin aku
cerita. Aku tersenyum entah kenapa.
“Ayah
ingin aku putus dengan Taeyong-senpai..”, ujarku masam.
“Keputusanmu
apa?”, tanya Haku.
“Tidak
mau lah! Tidak akan!”, jawabku.
“Ya
sudah, itu yang penting.. Sekarang, tidak perlu dipikirkan lagi bukan?”
Aku
kembali tersenyum. Benar kata Haku, yang paling penting adalah keputusanku.
Kenapa aku ambil pusing perintah ayah yang sama sekali tidak jelas itu?
“Nakamoto-senpai
memperlakukanmu dengan baik kan?”, tanyaku dengan mood terangkat.
“Em,
dia sangat baik.. Apa kau mengancamnya lagi?”
“Eh?!
T-tentu t-tidaklah.. Ha ha.. Kau ini..”
“Rin..
Ketahuan bohong tuh..”
“Habisnya
kalau tidak diancam nanti dia macam-macam! Tadi saja dia punya niatan jelek ke
Haku!”, rengekku.
“Apa
itu?”
“Memberi
kado bra ke Haku..”
“Hahahah..
Benarkah? Nakamoto-san memang penuh kejutan ya..”
“Kejutannya
kalau bagus tak apa.. Ini kejutan yang bikin orang ingin menonjoknya!”
“Hahahaha,
Rin baik ya.. Terimakasih sudah memperhatikanku..”
“Haku..
Sekarang bukankah tidak adik kalau hanya aku yang cerita?”, ujarku.
“Hm?”
“Apa
kau tidak punya hal untuk diceritakan?”
“Tidak
ada kok..”
“Kalau
begitu aku saja yang minta Haku bercerita sebuah topik..”
“Boleh..
Apa?”
“Tadi
kau dibully apa?”
Pertanyaanku
menghapus senyum dari wajah Haku. Ia berhenti menulis dan menatapku dengan mata
bulat.
“Eemm..
Mereka hanya bilang kalau aku terlalu banyak berlatih ikebana..”, jawab Haku.
“Oh..”
Aku
tahu dia bohong. Tak hanya Haku yang tahu kapan aku bohong. Aku pun juga tahu
kapan Haku bohong. Tapi aku tidak bisa memaksanya. Kalau Haku tidak ingin
memikirkan masalah itu, aku tak akan menggalinya. Lagipula aku tidak akan
meremehkan Haku. Dan aku sendiri bisa mencari informasi yang kubutuhkan. Tak
terkecuali informasi tentang pembullyan Hayashi Hakuro.
$$$$$
Keesokan
harinya, Hakuro berjalan menuju loker sepatunya. Disana ia akan mengganti
sepatu luar menjadi sepatu dalam ruangan. Baru saja membuka lemari loker,
surat-surat teror berhamburan jatuh ke lantai. Tak perlu diambil dan dibaca
satu-satu, sudah tampak jelas kalau tulisannya adalah..
‘bodoh!’ ‘tidak tahu diri!’ ‘mati mati mati
kau!’ ‘jauhi Yuta-kun kami!’ ‘menjijikan!’
Ia
menghela nafas berat. Pagi yang cerah begini kenapa situasi tidak mendukung?
“Ohayou,
Hayashi!”, sapa Yuta melewati loker sepatu kelas 2-A.
Cepat-cepat
Hakuro menutup lemari lokernya agar Yuta tak melihat surat-surat itu.
“Oh..
Ohayou gozaimasu, Nakamoto-san..”, balas Hakuro.
“Pulang
sekolah nanti, kau mau kan menemaniku menyusun lirik? Aku masih kesulitan di
bait kedua..”
“Ya..
Nakamoto-san, aku ke kelas dulu ya..”
“Hai
hai~ Belajar yang rajin ya!”, Yuta melihat Hakuro sudah berjalan menjauh.
Kini
tatapan Yuta langsung terarah pada secarik kertas yang terjepit di pintu loker
Hakuro. Dengan wajah datar Yuta mencabut kertas itu.
‘bodoh, jelek, mati saja sana! Jangan
dekat-dekat Yuta-senpai!’
$$$$$
Johnny
berjalan-jalan santai tak ada niatan untuk masuk ke kelasnya. Padahal sebentar
lagi kelas akan dimulai. Pelajaran pertama itu membosankan. Hawa pagi masih
melekat, jadi malas untuk fokus.
“Itu
kan....”, Johnny menajamkan pandangannya.
Ia
tak yakin dengan yang ia lihat. Bukankah itu Hakuro? Sedang apa dia di tempat
sampah? Johnny tak kuasa menahan rasa penasaran, ia langsung menghampiri
Hakuro.
“Oi,
nani surunda (apa yang kau lakukan)?”, tanya Johnny dengan dua tangan masuk
saku.
“J-johnny-senpai..
Aku sedang buang sampah..”, jawab Hakuro.
“Dari
ujung kaki sampai kepala semua orang juga tahu kalau kau sedang mengosak-asik
sampah, Hayashi..”
Hakuro
terdiam menundukkan kepalanya sambil membenarkan letak kacamatanya. Johnny
menghela nafas lalu berjalan mendekat.
“Apa
yang sedang kau cari?”, tanya Johnny membuka-buka tutup sampah.
“Eh!
I-itu.. Tidak penting kok.. Bukan barang penting..”, jawab Hakuro sungkan jika
Johnny harus ikut kotor.
“Ayolah
bantu aku.. Aku mau cari alasan untuk keluar kelas.. Jadi biarkan aku
membantumu mencari benda yang tidak penting tapi tetap kau cari sampai ke
tempat sampah ini..”
“Eh?”
“Ayo
katakan.. Akan kubantu mencari..”
Hakuro
kembali membenarkan letak kacamatanya.
“I-itu..
Aku sedang cari.. Sepatu olahragaku..”
Johnny
hening. Ia menatap Hakuro tanpa ekspresi. Anak ini bilang apa? Sapu tangan?
Sapu kelas?
“Kau
tidak bercanda kan?”, tanya Johnny.
“Aku
yakin sepatu olahragaku kusimpan di dalam tas.. Aku ke kamar mandi sebentar
sebelum pelajaran dimulai, setelah kembali... Sepatuku sudah tidak ada..”
“Lalu
kenapa kau cari di tempat sampah? Mungkin teman-temanmu menjailimu.. Mungkin di
lemari belakang kelas..”
“Karena
aku tahu teman-teman menjailiku, makanya aku cari disini..”, jawab Hakuro masih
menundukkan kepala.
Johnny
tak bertanya lebih lanjut. Tapi ia masih menatap Hakuro.
“Okay!
Kita mulai investigasinya! Hayashi, kau cuci tangan dan bersihkan diri saja..
Masuklah ke kelas.. Akan kucarikan sampai ketemu..”, ujar Johnny melakukan
peregangan.
“T-tapi,
senpai..”
“Pelajaran
olahraga jam ke berapa?”
“Ke-ketiga..
Tapi senpai tidak perlu melakukan ini! Aku akan cari sendiri..”
“Mana
bisa.. Kau adalah murid teladan, masa mau ikut membolos sepertiku? Sudah cepat
bergegas! Hap hap hap!”, Johnny menepuk tangannya agar Hakuro cepat beranjak.
“Johnny-senpai..”
“Akan
kukirimkan sebelum pelajaran olahraga dimulai! Serahkan padaku! Cepat masuk!
Atau kau ingin kucium dulu sebelum ke kelas?”
“Eh
tidak!!”, Hakuro langsung berlari meninggalkan Johnny.
“Heeee..
Apa dia sejijik itu denganku? Sampai kucium saja takutnya setengah mati..
Ckckckck..”, Johnny kembali menggali sampah.
$$$$$
Ten
berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan earphone menancap di telinganya.
Awalnya sih mau kembali ke kelas, tapi setelah lihat suasana kelas yang ramai..
bolos saja sepertinya enak. Lagipula hari ini tidak ada yang penting. Paling
hanya berdiskus tak jelas.
“Nananana,
hm? Itu Johnny-senpai bukan?”, Ten melepas satu earphonenya.
“Astaga..
Orang itu tidak dapat sarapan dari ibunya apa? Kenapa cari makan di sampah?”,
gumam Ten geleng-geleng kasihan.
Meski
kelihatannya Ten kembali berjalan dengan cuek, sebenarnya ia menghampiri
Johnny.
“Oi,
senpai!”, Ten menepuk punggung Johnny.
“He!!
Ah, hanya Ten..”, respon Johnny awalnya kaget.
“Apa
maksudmu hanya Ten?”, pria itu tak terima.
“Kupikir
kau guru atau siapa..”
“Sedang
apa sih? Kau cari makan? Memang kau gelandangan? Kau dihukum ibumu karena
mengompol ya?!”, Ten asyik bermain dengan imajinasinya.
“Daripada
kau tidak ada kerjaan dan sibuk menghinaku, lebih baik bantu aku saja..”, ujar
Johnny meremas pundak Ten dengan sulas senyum.
“A-aduh..
Aduh duh, senpai.. Iya iya, kubantu..! Aku bolos kok..”, jawab Ten jujur.
“Bagus..
Eh! Tidak bagus! Kenapa kau bolos?!”, Johnny berkacak pinggang.
“Membosankan
sekali hari ini.. Daripada aku menyakiti hati sensei dengan tidur di kelas,
lebih baik aku bolos kan?”
“Pintar..
Sekarang bantu aku cari sepatu olahraganya Hayashi..”
“Hah??”
“Sepatu
olahraganya Hayashi dibuang.. Candaan teman-teman sekelasnya berlebihan
sekali.. Ckckck.. Ayo bantu cari sebelum jam ketiga dimulai..”
“Hai
hai..”
Ten
ikut mengulurkan tangannya mencari sepatu. Ketika sedang mencari,
“Kenapa
Johnny-senpai membantu Hayashi?”, tanya Ten meski tak ada angin lewat.
“Aku
mau bolos.. Ini alibiku..”, jawab Johnny.
“Oh..”
“Kau
sendiri kenapa mau membantuku?”
“Bukankah
tadi kau memaksaku?”
“Oh
iya..”
Mereka
kembali hening. Hanya terdengar suara kantung plastik yang terdengar.
“Bohong
kok..”, Johnny memecah hening. “Aku tahu kenapa Hayashi diperlakukan seperti
ini..”, lanjutnya menatap Ten.
“Oh..
Senpai sudah tahu juga rupanya..”, sahut Ten.
“Kau
juga tahu? Tentang surat-surat itu?”
“Tentu
saja.. Yuta-senpai kan orang yang heboh.. Tadi pagi dia menangis merengek di
ruang band.. Katanya dia tidak ingin dijauhi Hayashi hanya karena fansnya.. Ia
juga tak ingin menjauhi Hayashi..”, jelas Ten.
“Hahaha,
Yuta memang polos ya..”
“Ngomong-ngomong,
senpai.. Bagaimana kalau ternyata sepatunya tidak dibuang di tempat sampah?”,
tanya Ten.
“Maksudmu?”
“Kalau
aku jadi pembully, aku tidak akan membuang benda orang ke tempat yang bsai ia
jangkau dengan mudah..”
“Lalu
menurutmu dimana?”
“Selokan..”
Johnny
dan Ten berjalan mendekati selokan sekolah. Bukan selokan kecil yang ada di
pinggir gedung, ini selokan utama yang mengalirkan air ke sungai kota. Mereka
saling menatap lalu melakukan tos keberhasilan secara singkat.
Sepatu
itu ada disana. Terjaring jeruji selokan bersama beberapa daun dan sampah.
“Jangan-jangan
kau pembullynya!”, kata Johnny mundur selangkah.
“Enak
saja.. Aku anak yang berpikir kritis!”, bela Ten.
Johnny
hanya tepuk tangan dan mengacungkan jempol bangga. Ia bangga punya adik kelas
yang bisa diandalkan.
“Kita
perlu lapor ke Yuta? Atau Takamura mungkin?”, ujar Johnny.
“Takamura
adalah pilihan yang lebih baik daripada Yuta-senpai..”, jawab Ten mendapat
anggukan setuju dari Johnny.
$$$$$
“Begitulah
Takamura..”, Johnny mengakhiri laporannya.
“Jadi
kalian membolos kelas pagi?”, tanya Takamura dengan tatapan menuduh.
“Hei,
bukan itu yang kami bahas sekarang!”, sahut Ten.
“Kalian
ini.. Membolos tetap membolos.. Apapun alasannya.. Sekalipun membantu Haku,
kalian tetap saja melanggar aturan..”, oceh Rin.
“Hah..
Kurasa lapor Takamura tidak lebih baik dari Yuta-senpai..”, bisik Ten.
“Kau
benar..”, jawab Johnny.
“Aku
bisa dengar kalian lho..”
Setelah
mengirim Johnny dan Ten ke kelas polisi, Rin menghela nafas. Kenapa Johnny dan
Ten? Kenapa bukan dia? Kenapa Haku tidak datang dan meminta bantuannya? Apapun
jawabannya, Rin sangat berterimakasih pada dua laki-laki itu. Paling tidak Haku
bisa ikut pelajaran olahraga.
“Hei
hei, nona..”, panggil Taeyong menarik pergelangan tangan seragam Rin.
“Taeyong-senpai!”
“Sedang
melamunkan apa?”, tanya Taeyong kemudian berjalan di samping Rin.
“Ya,
biasa.. Masalah Kaijou..”, jawab Rin melipat tangan.
“Oh
ya? Tidak biasanya kau memikirkan Kaijou dengan ekspresi begitu..”
“Ekspresi
begitu maksudmu?”
Taeyong
berdiri di depan Rin menghentikan langkah gadis tersebut. Ia mengamati wajah
polos penuh keheranan yang dipasang Rin sekarang. Taeyong lalu tersenyum.
“Kalau
sedang memikirkan Kaijou, Rin akan menopang dagunya.. Kalau sedang memikirkan
Haku... Pft! Keningmu akan berkerut seperti nenek-nenek..!”
“Hah??
Yang benar saja!”
“Lho?
Salah?”, tanya Taeyong datar.
“Ya
tidak juga sih..”, jawab Rin ragu.
“Hah,
pacarku ini memang berhati mulia ya.. Aku senang..”, ucap Taeyong kembali
berjalan.
Rin
tersenyum melihat Taeyong dari belakang. Ia lalu memegang keningnya. Apa benar
kalau sedang berpikir keningnya akan berkerut? Auh, memalukan.
“Eh
sudah dengar?”, Taeyong menepuk pundak Rin.
“Tentang?”
“Rumor
tetang Rin.. Akhir-akhir ini menyebar begitu cepat dan sedang heboh lho..”
“Lalu?”
“Kau
tidak mau memberantasnya?”
“Untuk
apa? Merepotkan sekali.. Lagipula rumor-rumor seperti itu tidak bisa mematahkan
fakta kalau aku ada di atas mereka sebagai ketua OSIS Kaijou..”
Taeyong
tersenyum lalu menepuk kepala Rin dengan lembut. Gadis itu menoleh menatap
Taeyong.
“Bagus..
Itu baru Rin..”
$$$$$
Yuta
berjalan tidak bersemangat menyusuri koridor menuju ke kantin. Tidak
bersemangatnya Yuta dapat dilihat dari caranya menatap orang. Saat ini
dlaporkan sudah ada sepuluh orang terkejut sampai menempel ke tembok, lima
orang berhenti berjalan dan membungkukkan badan, tujuh orang berdoa untuk mengusir
ketakutan.
Dengan
kata lain, Yuta menyeramkan.
Kedua
tangan masuk saku, seragam yang dipakai sembarangan, alis menyatu, tatapan
menusuk, wajah kesal. Semua ini gambaran Yuta yang tidak bersemangat.
“Hai,
senpai..”, sapa Jae datang dengan senyum bagaikan sinar matahari.
“Hm..”,
jawab Yuta tak peduli dengan silaunya wajah Jae.
“Kau
sakit? Kenapa lesu begitu?”
Jae
memang paling perhatian. Meski wajah Yuta sudah mengerikan begitu, dia tetap
tahu kalau Yuta lesu. Jae, you are the real MVP.
“Ck..
Aku malas bicara..”, kata Yuta mengantri mengambil jatah makan siang.
“Kalau
begitu nanti?”, Jae ikut mengantri.
Yuta
mengedikkan bahunya kilas.
“Arara,
ini wajah kenapa seperti piring pecah? Ikin kaget saja..”, celetuk bibi, er,
paman Yaotome Hikaru. Penjaga kantin.
“Tadi
dia habis jatuh, bi.. Makanya pecah..”, jelas Jae sibuk memilih lauk makan
siangnya.
“Ck..”,
Yuta cuma berdecak.
Seperti
biasa, kantin begitu ramai di jam istirahat. Untung saja, Sol sudah menyiapkan
satu meja kosong untuk anggota band duduk. Oh, bukan. Meja itu disiapkan oleh
para fans band Kaijou. Sol yang datang pertama kemudian duduk disana.
“Jae,
Yuta..! Sini..!”, panggil Sol melambaikan tangan.
“Oh,
Sol-senpai!”, jawab Jae lalu menarik lengan Yuta yang sedang menghitung lantai.
“Kalian
hanya berdua? Mana Johnny dan Ten?”, tanya Sol.
“Aku
tidak meliaht mereka.. Entahlah..”, jawab Jae lalu menatpa Yuta.
“Hah..
Aku juga tidak tahu..”, jawab Yuta.
“Sudahlah,
Yuta.. Tidak usah kepikiran begitu.. Hayashi juga belum tentu menghindarimu kan?”,
ujar Sol.
“Hm..”,
jawab Yuta.
“Ck,
hish! Coba lihat kelabilan anak ini, Jae.. Bikin emosi..”, gerutu Sol.
“Hahaha,
kalau ini masalah Hayashi-senpai.. Kenapa kau tak langsung menemuinya?”, tanya
Jae.
“Hm..”,
jawab Yuta.
“Kau
tahu kan? Untuk memastikan apakah dia benar terganggu dengan teror-teror dari
para fansmu..”
“Hm..”
“Kau
bisa minta bantuannya lagi untuk membuat lirik yang belum selesai atau apalah..
Gunakan ide gilamu itu, senpai.. Seperti biasanya..”
“Jae..
Tidak ada gunanya.. Kau hanya bicara sendiri..”, ucap Sol.
Tak
lama kemudian, suara-suara yang sangat akrab di telinga Yuta, Sol, dan Jae
terdengar. Ya, suara Johnny dan Ten.
“Permisi
permisi.. Air panas mau lewat~”, kata Johnny memakai apron sambil berlari-lari
membawa panci.
“Heh!
Jangan tinggalkan sampahmu! Buang di tempat sampah sana!”, omel Ten pada
seorang siswa.
“Ah,
mereka dihukum ternyata..”, gumam Sol.
“Johnny-senpai
dan Ten-senpai cocok sekali pakai apron ya.. Seperti ibuku saja..”, timpal Jae.
“Astaga
Jae, kau tidak menyesal menyamakan ibumu dengan dua makhluk dari Amazon itu?”
“Lho?
Bukankah mereka kelihatan imut dengan apron?”
“Jijik!”
Pada
saat itu, Rin dan Taeyong juga sampai di kantin. Mereka langsung ke counter
makanan untuk mengambil makan siang. Dan tara~ Yang melayani adalah Johnny.
“Selamat
siang! Dengan saya Johnny melayani siang anda, mau makan apa?”, tanya Johnny
(berapron) sangat bersemangat melayani orang makan.
“Jo-johnny.......?”,
gumam Taeyong merasa.. mual tiba-tiba.
“Ayo
tuan, cepat tentukan pilihanmu.. Jangan buat antrian panjang..”
“Aku
ambil set A.. Taeyong-senpai yang apa?”, tanya Rin.
“Set
B saja..”
“Satu
set A dan satu set B akan segera datang!”, Johnny mengambilkan pesanan Ri ndan
Taeyong dengan lincah.
Apa
Johnny pernah jadi pelayan di restoran? Kok dia kelihatan senang sekali? Atau
jangan-jangan keluarga Johnny itu chef? Ah, tapi Johnny cocok juga pakai apron
berenda milik paman, ee, bibi Yaotome. Semua itu adalah pikiran Taeyong. Ia
mengamati Johnny dari ujung kaki sampai kepala.
“Kau
jatuh cinta pada Johnny-senpai?”, tanya Rin yang sedari tadi mengamati Taeyong.
“Aku
hanya suka apronnya..”, jawab Taeyong.
“Hentikan
tatapan itu, Taeyong-senpai.. Kau bisa dirumorkan homo..”
“Eh?
Mana mungkin.. Aku sedang membayangkan Rin pakai apron..”
“Ha?
Aku?”
“Iya..
Pasti akan sangat cocok! Rin, pakai apron ya!”, Taeyong menatap Rin dengan mata
bersinar penuh harapan.
“Tidak!
Tidak mau..!”, tolak Rin tegas.
“Yah...
Kenapa?”
“Tidak
mau saja..”
“Bukankah
di festiva budaya nanti kau akan tetap pakai apron?”
“Eh?
T-tidak! Siapa bilang?”
“Katanya
kelas OSIS mau buka kafe kucing kan?”
“Darimana
tahu rahasia OSIS?!”
“Lho?
Rin belum tahu? Aku kan stalker sejatinya Rin..”, jawab Taeyong penuh
kebanggaan.
“-_-“
“Silakan
pesanan kalian..”, Johnny memecah pembicaraan Taeyong dan Rin yang semakin
ngelantur. Untung ada Johnny yang menyelamatkan pembicaraan tidak berguna
mereka. Hm.
Tak
berselang lama, muncul Hakuro memasuki area kantin. Seperti biasa, memeluk
buku, membenarkan letak kacamata. Kepala tertunduk, langkah melayang. Tidak
mantap maksudnya.
“Hei,
yang disana! Jangan lupa angkat sampah kalian juga! Hati-hati bawanya, jatuh
semua tuh!”, Ten sibuk mengomel. Ya dia harus mengomel, dia kebagian tugas
kebersihan kantin hari ini.
‘Bruk!’
“Ah!”
“Eh?
Hayashi? Kenapa duduk disana?”, tanya Ten tak sadar kalau dia barusaja
mendorong Hakuro dengan pantatnya yang bagus.
“Em..
T-tidak tahu..”, jawab Hakuro seadanya.
“Kau
ini amnesia apa? Masa tidak tahu? Ayo berdiri..”, Ten mengulurkan tangan lalu
membungkuk untuk mengambil buku dan beberapa kertas yang berserakan di lantai
mengkilap (hasil kerja Ten).
“Ehh,
tidak perlu diambil.. Aku bisa sendiri..”, ujar Hakuro cepat-cepat memberesi
bawaannya.
“Semua
yang jatuh disini adalah tanggungjawabku hari ini.. Nih, silakan..”
“A-arigatou..”
“Tokorode,
kenapa kau membawa surat-surat teror itu?”, tanya Ten bersandar pada tongkat
pelnya.
“Eh?!
T-tidak kok..”, jawab Hakuro panik mengeratkan pelukan pada buku yang ia bawa.
“Aku
yang memberesi barangmu.. Jadi aku tahu apa yang ada di dalam buku itu..”
“Itu...
Em..”
“Kalau
mau dibakar atau diguna-guna, ajak aku ya! Akan kubantu..”
“Apa?
I-itu tidak mungkin..”
“Hahaha..
Aku bercanda.. Tapi bagian aku akan membantumu itu tidak..”
“Eh?”
“Aku
akan membantu Hayashi.. Tenang saja..”, ujar Ten menepuk pundak Hayashi.
Hakuro
menatap senyum Ten yang begitu manis di matanya. Tangannya yang kelihatan kasar
ternyata sangat ringan dan lembut. Suaranya yang tinggi dan terdengar galak itu
ternyata sangat indah. Hakuro hanya bisa tersenyum tipis sambil menyembunyikan
wajahnya yang sedikit memerah.
“A-ariga-“
Belum
selesai Hakuro menikmati debaran di jantungnya, seseorang muncul menyambar
tangannya untuk pergi dari hadapan Ten.
“Na-nakamoto-san!”
Yuta
tak menajwab apa-apa. Dia juga tak menoleh. Pokoknya bawa pergi Hakuro dulu.
Itu yang penting.
“Hah..
Akhirnya bertindak..”, ujar Ten menyamankan kepalanya di ujung tongkat sapu.
“Nice,
Ten!”, kata Johnny mengacungkan jempol.
$$$$$
Aku
mengikuti kemana langkah kakiku pergi. Tanganku dengan erat menggenggam tangan
Hayashi yang terasa kecil. Jujur saja, aku tak tahu mau sampai kapan aku
menariknya menjauh dari kantin. Jujur juga, aku merasa malu kalau tiba-tiba
berhenti dan berbalik menatapnya.
Intinya,
sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa! Aku seperti mobil dengan rem yang
blong! Oh shit.
“N-nakamoto-san..”,
Hayashi mencoba untuk memanggilku agar berhenti menariknya.
Tapi
aku diam saja. Aku masih memikirkan, sebenarnya apa yang kulakukan?! Kenapa aku
menariknya menjauh darisana?! Melihat Hayashi diperlakukan begitu manis oleh
Ten membuat tubuhku panas. Hah, kemudian saat aku sadar, aku sudah menarik
Hayashi dan terjebak dalam keadaan ini.
“Nakamoto-san..
Kau mau mengajakku kemana?”, tany Hayashi mengikuti langkah kakiku yang cepat.
Aku
tidak tahu. Itu adalah jawabanku. Masa aku harus menjawabnya begitu? Memalukan
sekali.
“Nakamoto-san..
Kau menyakiti tanganku..”, akhirnya Hayashi membuatku sadar kalau aku terlalu
emosi sampai menyakitinya.
Aku
berhenti melangkah dan melonggarkan peganganku. Bagus. Ini adalah taman depan
sekolah. Disini tiba-tiba aku berhenti dan melepas genggamanku padanya.
Sekarang apa?
“Nakamoto-san,
daijoubu desuka?”, aku tak berani melihat kearah Hayashi.
Dari
suaranya sih sepertinya dia takut padaku. Ya iyalah, orang mana tidak cemas dan
takut kalau tiba-tiba dibawa pergi begitu? Mana sekarang aku masih belum dapat
alasan yang bagus karena telah menariknya begitu pula! Ah, aku hanya bisa
menundukkan kepala dalam diam.
“Naka-“
“Gomen..”,
selaku kemudian membalik badan tapi menghindari tatapan matanya.
“Gomen?”,
ia ragu mendengar permintaan maafku.
“Aku
menarikmu seenaknya begitu.. Kau pasti takut.. Maaf sudah membuatmu takut,
Hayashi..”, jelasku.
“Iie
(tidak).. Aku tidak takut pada Nakamoto-san karena ini.. Aku justru
mencemaskanmu..”, jawabnya dengan seulas senyum.
“Eh?
Mencemaskanku?”
“Un..
Saat menggenggam tanganku, tanganmu gemetaran.. Apa terjadi sesuatu?”
“Eh?!
Anu, itu... Eee..”
Aku
memutar otak. Gemetaran? Kenapa aku harus gemetaran? Aku tidak sadar dengan
tubuhku sendiri. Hah. Kenapa sih aku ini?
“M-mungkin
karena.. Ee..”
“Karena?”
“Karena...
Aku... Eee..”
Hayashi
masih menunggu kelanjutan kalimatku. Oh tidak. Apa yang akan kukatakan?!
“Karena
aku.. Berdebar.. Saat melihat dadamu!”
‘Zrassshhh’,
desir angin yang menerpa pepohonan.
“Nakamoto-san...
Hentai (mesum)!!!!!!”, teriak Hakuro sambil menendang....
Anuku.
Ah
sakitnya... Serasa naik ke angkasa.
Baibai,
kehidupan.
$$$$$
Aku
melihat kekocakan lain dari seorang Yuta. Anak ini kapan dewasanya sih? Kapan
dia bisa jujur pada diri dan perasaannya? Hahaha, selalu saja berakhir
mengenaskan.
“Taeyong-senpai
puas sekali tertawanya..”, celetuk Rin yang sedang menyantap saladnya.
“Yuta
memang kurang vitamin A.. Dia bodoh sekali tuh..”, jawabku membuat Rin
menyatukan alis heran.
“Vitamin
A itu untuk mata.. Bukan otak!”, katanya.
“Oh
ya? Wah, Rin pintar ya!”, ujarku terpana.
“Hish,
dasar.. Lagipula Nakamoto-senpai itu sudah kelebihan vitamin A! Sampai bisa
melihat dada bagus wanita dimanapun ia berada.. Ckckck..”
“Hmmm,
sou?”
“Ngomong-ngomong,
kenapa kau sangat penasaran dengan Nakamoto-senpai sih? Hampir setiap saat kau
mengamati tingkahnya begitu..”
“Hhmm,
kenapa ya?”, aku balik tanya dengan nada nakal.
“Aku
tidak tahu, makanya tanya..”, jawab Rin datar.
“Anggap
saja aku suka dia..”
“Eh?!!”
Rin
tampak sangat terkejut. Apa aku salah bicara? Oh, shit benar juga.
“B-bukan
suka dalam arti yang spesial!! Aku suka dia sebagai teman.. Sahabat, Rin!”,
benahku cepat.
“Sesaat
kupikir aku berpacaran dengan gay..”
“Eih..”,
cibirku sambil mengetuk dahi Rin menggunakan sumpit.
“Aduh!”,
rintihnya cemberut.
Aku
hanya tertawa. Tentu saja tertawa manis. Tidak mungkin aku tertawa
terpingkal-pingkal disini. Jangan samakan aku dengan Yuta. Aku masih bisa
mengontrol diri dengan baik kok.
“Sepulang
sekolah nanti kau ada latihan kan?”, tanya Rin.
“Ya..”
“Aku
titip Haku deh kalau begitu..”
“Tidak
masalah.. Satu jam sepuluh ribu yen..”, jawabku santai.
“Kemahalan!”,
protesnya kesal.
“Hahaha,
lho? Jadi Hayashi tidak berharga untukmu? Apa berarti Hayashi harganya murah?”,
aku terus menggoda Rin.
“Hayashi
itu tidak dijual! Tidak ada harganya! Jadi gratis..”
“Enak
saja.. aku juga butuh pemasukan untuk beli tisu ekstra bulan ini..”
“Hah??”
Oh
sial. Aku kelepasan. Aku menelan ludah berat lalu menatpa Rin yang terus
menatapku penuh selidik. Apa aku mengaku saja? Tapi nanti kamar kosku bisa
diobrak-abrik olehnya!
“Kenapa
beli tisu ekstra? Untuk apa?”, tuh kan dia mulai menyelidik.
Aku
memang mencurigakan sih tapi. Bukan salah Rin juga. Hah.
“Itu..
Sebenarnya.. Akhir pekan nanti.. Aku ada janji.. Janji, itu.. Ee..”, aku
berusaha mencari kata yang tepat agar ia tak salah paham.
“Janji
apa? Dengan siapa?”, Rin sudah tak sabar.
“Janji
nonton.. Ee.. Bersama... Anggota klub band..”, lirihku kemudian nyengir kuda.
Rin
tak memberikan respon. Ini tanda yang buruk. Rin tanpa respon itu sama dengan
bunga pemakan serangga. Tiba-tiba menutup begitu saja. Ajalku sudah dekat.
Selamat tinggal, simpanan file porno. Sepuluh ribu tahun aku tetap cinta
kalian.
“Aku
ikut ya?”
Hah????????????????
$$$$$
Pulang
sekolah. Kaijou termasuk sekolah besar yang memiliki murid-murid aktif. Meski
sudah saatnya pulang, mereka masih saja asyik beraktivitas di area sekolah.
Melakukan kesibukan masing-masing.
“Wah,
Yuta hebat! Sudah buat liriknya ya? Cepat sekali..”, puji Ten menerima selembar
kertas dari Yuta.
“Teman-teman..
Aku punya pengakuan..”, ujar Yuta setelah menyamankan pantat di sofa.
“Apa?”,
tanya Johnny menyumpit semangka yang dibawa Jae dengan stick drumnya.
“Sebenarnya..
Lirik itu... Punya Hayashi..”
“Hah?”,
Sol menaikan satu ujung bibirnya keheranan.
“Ini
lirik buatan Hayashi-senpai?”, Jae menegaskan.
“Lalu
buatanmu? Bukankah kau juga membuatnya?”, tanya Sol.
“Lirik
buatanku, semalam tidak sengaja...... Masuk mesin cuci..”, jawab Yuta sangat
serius.
Dua
detik kemudian Yuta kejatuhan rezeki. Tas, bantal, baju kotor, sepatu, melesat
dengan kecepatan penuh ke arahnya. Ruang badn terdengar ramai meski dari luar.
Haha.
Ruang
lain yaitu ruang dance terlihat begitu fokus dengan latihan mereka. Siapa dulu
ketuanya? Lee Taeyong. Dengan ketegasan, kesabaran, dan ketekunan Taeyong dapat
menghandle para peserta yang masuk ke tim B. Berbeda sekali dengan Taeyong
berjepit polkadot, Taeyong berjepit polos ini sangatlah serius namun juga penuh
kelembutan.
“Kita
lakukan part ini sekali lagi..”, pintanya.
Meski
keringat mengucur dari setiap tubuh peserta-peserta itu, tapi bibir mereka
tersenyum. Senang sekali. Oh tentu aspek ketampanan Taeyong juga harus
dipertimbangkan. Tak terasa waktu latihan sudah habis. Taeyong memang cocok
jadi pelatih (<<ini opini para peserta).
“Bagaimana?
Lelah?”, tanya Taeyong mendekati Hakuro.
“Nn,
zenzen (tidak, sama sekali)..”, Hakuro menggelengkan kepalanya.
“Ternyata
kau bisa menari juga ya.. Aku baru tahu..”
Hakuro
hanya tersenyum sambil memasukkan barangnya ke dalam tas.
“Oh
ya, Hayashi.. Akhir pekan ini kau ada acara?”, tanya Taeyong.
“Tidak..”
“Bagus..”
“Hai?”
“Oh
itu.. Aku mau minta tolong sesuatu.. Tak apa kan?”
“Minta
tolong apa?”
“Kau
bisa ajak Rin jalan-jalan?”
“Jalan-jalan?”
“Iya..
Shopping, kuliner, atau apalah.. Jalan-jalan saja biar Rin tidak bosan..”
“Aku
bisa saja mengajaknya.. Tapi keputusan mau atau tidak kan ada di tangan Rin..”
“Paksa
saja dia.. Seret kalau perlu..”
“Eh?!
M-memangnya.. Ada apa Taeyong-senpai..?”
“Rin
bersikeras mau ikut ke kosku..”
“Lalu?
Biasanya juga seperti itu kan?”
“Akhir
pekan ini beda.. Rin tidak boleh kesana..”
“Kenapa?”
Taeyong
menghela nafas lalu berjalan ke tengah ruang latihan. Ia duduk disana kemudian
memanggil Hakuro untuk ikut duduk di dekatnya. Hakuro agak ragu, tapi wajah
Taeyong tak semencurigakan Yuta, jadi yah Hakuro menurut saja.
“Kau
siap untuk mendengarkan aku mendongeng?”
“Sepertinya..”,
jawab Hakuro.
“Hhmm..
Enaknya cerita darimana ya?”
“Taeyong-senpai
memang mau cerita tentang apa?”
“Hubunganku
dengan Rin..”
“Heee..
Kalian pacaran, aku sudah tahu itu..”
Taeyong
menggeleng beberapa kali.
“Tidak..
Hubungan kami tidak sesederhana pacaran..”
“Masaka
(jangan-jangan)! Taeyong-senpai dan Rin.......”
“Juga
tidak sekompleks itu, Hayashi..”, potong Taeyong sebelum Hakuro berpikir
aneh-aneh.
“Lalu?”
“Bagaimana
ya menjelaskannya? Aku dan Rin itu seperti diary.. Aku adalah diary Rin dan Rin
adalah diaryku..”, Taeyong mulai paham jalan cerita yang akan ia utarakan. “Banyak
rahasia yang kau tulis di diary bukan? Semakin banyak isi rahasia yang kau
tuliskan disana, semakin penting pula buku itu untukmu..”, jelasnya.
“Eemm..
Jadi maksudmu tipe pacaran kalian seperti buku harian?”
“Benar
tapi juga salah..”
“He?”
“Kau
tahu kue kesukaan Rin?”
“Eeemmmm..
Cheesecake?”
“Lava
cake..”
“Eh,
masa?!”
“Kau
tahu aksesoris kesukaannya?”
“Anting..”
“Cincin..”
“Benarkah?!”
“Kalau
genre film favoritnya? Apa kau tahu?”
“Action..”
“Blue
film..”
......
......
......
“Eh?”
$$$$$
Berkutat
dengan kaata ‘seperti biasa’, Rin sedang bergulat dengan formulir darmawisata
yang tadi diedarkan ke kelas-kelas. Destinasi yang diinginkan, alasan, manfaat,
seputar itulah isi formulirnya. OSIS butuh itu untuk menentukan lokasi
darmawisata nanti.
“Wah,
tidak sabar ya.. Tahun ini banyak acara menanti!”, kata Riko.
“Sou
desu ne.. Ada festival budaya, darmawisata Kaijou, lomba kreasi, Inter-High,
uwa banyak sekali yang seru!”, Yukio menambahkan.
“Takamura-san
hebat ya bisa mengajukan proposal darmawisata semua kelas ke kepala sekolah..
Disetujui pula!”, puji Ryou.
“Ah
tidak.. Kalian kan juga membantuku..”, jawab Rin.
“Tapi
keren lho.. Baru kali ini kan Kaijou mengadakan darmawisata seluruh kelas? Dari
kelas satu sampai tiga.. Pasti akan ramai dan sangat seru!”, ujar Yukio
semangat.
“Ngomong-ngomong,
Takamura-san.. Apakah kau sudah menentukan destinasi darmawisata?”, tanya Ryou.
“Aku
memilih beberapa.. Ada Sapporo, Osaka, dan... Okinawa..”, jawab Rin.
“Okinawa?!”,
ketiga anggotanya terkejut mendegar destinasi terakhir.
“Un..
Kenapa?”, tanya Rin.
“T-tapi..
Okinawa itu kan... Sangat mahal..”, jawab Riko.
“Tenang
saja.. Ini kan masih opsi saja.. Kalau Kaijou bisa menang di Inter-High, menang
di kontes kreasi, dana untuk ke Okinawa itu kecil..”, jelas Rin.
“Kudengar
kau menyerahkan lomba kreasi ke klub band ya?”, tanya Yukio.
“Iya..
Apa ada masalah, Kasamatsu-san?”, Rin melihat ekspresi Yukio yang tak begitu
enak.
“Tidak..
Aku hanya berpikir apakah itu pilihan bagus.. Banyak yang bilang kalau klub band
itu meski populer, keren, dan kreatif tapi mereka sangat individualis juga
egois..”
“Aku
percaya mereka kok.. Dan kuharap kalian juga bersedia untuk percaya pada
mereka..”
Percaya.
Satu kata baru yang dilontarkan Rin di ruang OSIS. Seorang Rin? Mengandalkan
kepercayaan? Oh, ini harus direkam! Takamura Rin adalah sosok yang mengindahkan
ketepatan. Tapi sekarang dia pakai kata percaya. Sungguh, apa yang telah
melunakkannya?
$$$$$
Ten,
Sol, dan Jae sedang sibuk membuat nada untuk lirik lagu yang dibuat Hayashi.
Sedangkan Yuta dan Johnny? Mereka bikin origami.
“Hei
coba lihat aku buat apa!”, Johnny menarik perhatian teman-temannya.
“Hm?
Apa itu? Tidak berbentuk..”, jawab Sol.
“Itu
benda abstrak ya, senpai?”, sebisa mungkin Jae mengejek dengan kalimat positif.
“Bukankah
itu kertas tes yang kau remas-remas?”, timpal Ten.
“Kalian
kejam.....”, rengek Johnny lemas.
“Tenang,
Johnny.. Aku tahu kok..”, celetuk Yuta membawa sinar kehidupan Johnny kembali.
“Itu
bra kan?”
“Astaga,
Yuta.. Kau ini masih saja memikirkan hal begitu..”, tanya Sol menyangga
kepalanya yang tiba-tiba berat mendengar jawaban Yuta.
“Benar,
Yuta!! Kau memang paling mengerti aku!!”, ujar Johnny memeluk Yuta erat.
“Oi,
itu benar bra?!”, amuk Sol.
“Sekarang
tebak aku buat apa..?”, tantang Yuta.
“Oh
oh oh! Itu lingerie!”, jawab Johnny semangat.
“Kau
memang selalu mengerti diriku..”, Yuta mengangkat tangannya untuk high-five.
“Hah..
Yuta-senpai.. Masa depanmu hampir hilang karena tendangan maut Hayashi.. Kau
tidak kapok?”, tanya Ten menghela nafas berat.
“Please,
jangan dibahas.. Rasanya mau mati kalau ingat kejadian itu.. Sakitnya itu lho..
Sampai ke ubun-ubun..”, jawab Yuta menundukkan kepalanya.
“Makanya
jangan mesum!”, timpal Sol melempar penghapus.
“Mau
bagaimana lagi? Kemesuman ini sudah mengakar begitu dalam pada diriku..”, ujar
Yuta penuh kebanggaan.
“Aku
heran kenapa kau masih punya fans?”, Ten geleng-geleng tak paham.
“Ngomong-ngomong,
lirik yang dibuat Hayashi-senpai ini.. Kau sudah baca?”, tanya Jae ke Yuta.
“Kubaca
berkali-kali, tapi tetap tidak paham..”
“Banyak
makan protein sana!”, kali ini note saku yang dilempar Sol.
“Memang
apa liriknya?”, tanya Johnny setelah membungkus stick drumnya dengan kertas
lipat.
“Ini
sebuah surat..”, jawab Jae.
“Surat?
Surat amal? Surat kematian? Wasiat?”, Johnny asyik berkelana.
“Surat
cinta!”, benah Sol hampir naik darah melihat Yuta dan Johnny.
“Apa
kau bisa mendengarku? Apa kau bisa melihatku?”, Ten membacakan.
“Bisalah..
Kau pikir aku buta tuli?”, Yuta sewot tiba-tiba.
“Aku
sedang membacakan liriknya, senpai!!”, Ten ikut sewot.
“Sudahlah,
tidak usah dibacakan.. Sepertinya mereka kurang asupan nutrisi hari ini..”, Sol
melambaikan tangan tak lagi peduli.
Yuta
dan Johnny mencibir. Mereka kembali asyik berkreasi dengan kertas lipat warna-warni,
hasil nyomot dari klub teater.
“Aku
mau buat kondom ah..”, celetuk Johnny.
“Ide
bagus! Kita buat dalam berbagai warna..”, sahut Yuta menepuk punggung Johnny.
“Setelah
itu dijual online?”
“Dijual
ke Taeyong saja.. Dia kan pengepul benda-benda asyik..”
“Akhir
pekan ini jadi ke kos Taeyong?”
“Jadilah..
Dia bahkan sudah siap tisu.. Kau juga jangan lupa bawa kondom kertas ini..”
“Kita
mau main dengan kondom ini? Atau kita mau main wanita pakai kondom ini?”
“Kita
main diri sendiri pakai kondom ini..”
“Ah
mou (sudah)!!! Hentikan pembicaraan kalian!!”, teriak Sol melempar tas.
$$$$$
Hmm.
Kata Taeyong-senpai, Rin suka hal aneh. Dan dari hal aneh itulah hubungan
mereka terbentuk, tapi dia tak menjelaskan detilnya. Pokoknya akhir pekan ini
aku harus mengajak Rin jalan-jalan agar dia tidak ikut main ke kos
Taeyong-senpai. Ah, hubungan mereka memang sangat misterius! Selalu berhasil
membuatku penasaran. Waktu kutanya kenapa Rin tidak diizinkan main ke kos
Taeyong-senpai juga, dia hanya tersenyum dan menjawab tidak jelas.
“Rin itu punyaku, aku tidak mau
membaginya..”
Begitu
katanya.
Membaginya?
Apa akan ada beberapa tamu lain yang akan datang kesana? Apa Taeyong-senpai tak
ingin mereka jadi jatuh cinta pada Rin? Apa alasan itu yang membuat
Taeyong-senpai bersikeras melarang Rin untuk datang?
“Sudah
menunggu lama?”, tanya Rin mendatangiku yang sedang bersantai di halaman depan
sekolah.
“Tidak
kok..”
“Ayo
kita pulang..”
Aku
berjalan selangkah di belakang Rin. Apa aku harus jujur mengenai permintaan
Taeyong-senpai? Atau langsung kuajak saja?
“Rin..”,
panggilku.
“Hm?”
“Akhir
pekan ini.. Temani aku jalan-jalan ya..”
“Jalan-jalan?
Kau? Tumben.. Ah tidak, mungkin ini kali pertama kau yang mengajakku
jalan-jalan.. Ada apa?”
“Aku
ingin refreshing saja.. Dan kurasa kau bisa membantuku untuk refreshing..”
“Eemm..
Bagaimana ya?”
“Kau
sudah ada acara?”
Ia
tak kunjung menjawab. Oh jantungku rasanya mau meledak. Bagaimana kalua dia
menolak? Aku harus menambahkan sesuatu supaya Rin mau.
“Ehm..
Itu... Sebenarnya aku mau beli... Ee..”
“Beli
apa?”
“B..
B-bra..”
Ah
tidak mungkin! Aku mengucapkannya! Tidak ada benda lain yang terlintas di
otakku saat ini! Hanya ada bra bra bra dan bra! Bahkan wajah Nakamoto-san ikut
muncul di sela-sela bra itu!
“Ahahahah..
Bra?”, Rin tertawa tak percaya.
“Anu..
Aku juga mau beli hadiah untuk Johnny-senpai dan Ten-san..”
“Hadiah
untuk mereka? Kenapa?”
“Sebenarnya
tadi pagi mereka membantu mencari sepatu olahragaku.. Mereka masuk kelas polisi
dan dihukum itu juga karena aku.. Makanya aku mau memberi mereka hadiah sebagai
ucapan terimakasih dan permintaan maaf..”, jelasku. “Temani aku ya, Rin..”, aku
menangkupkan kedua tangan memohon padanya.
“Eemm..
Boleh boleh saja..”
“Benarkah?
Asyik!”
“Tapi
ada syaratnya..”
“Syarat?”
Rin
menaik-naikkan alisnya. Perasaanku tidak enak. Super tidak enak. Aku menelan
saliva berat.
$$$$$
Akhir
pekan.
Kamar
kos Taeyong penuh dengan tamu sekarang. Semuanya laki-laki dan bawa laptop
masing-masing.
“Aku
tidak percaya Ten dan Jae juga ikutan..”, kata Taeyong.
“Kami
kan juga laki-laki..”, sahut Ten.
“Kukira
kalian tidak suka hal seperti ini..”, ujar Taeyong lagi.
“Aku
cuma penasaran dengan hal yang begitu senpai gemari..”, jawab Jae tenang.
“Ingat
ya, ini hanya untuk kesenangan pribadi.. Bukan untuk dipraktekkan..”, Taeyong
memberi peringatan sebelum menyalakan komputernya.
“Iya
iya.. Kami tahu..”, jawab Sol.
“Taeyong!
Kami berdua bikin kondom kertas warna-warni lho! Nih lihat!”, Yuta dengan
senang memamerkan hasil karyanya bersama Johnny.
“Eh?”,
seketika itu juga Taeyong kehabisan kata-kata.
“Aku
mau pakai yang merah, Johnny kuning, Sol merah muda, Ten hijau, Jae ungu, Taeyong
biru!”, Yuta membagikan ‘benda’ kontroversional tersebut.
“Kok
aku merah muda?!”, Sol tak terima.
“Ini..
Untuk membungkus sosis?”, tanya Taeyong memegang kondom kertas warna biru itu
dengan tidak nyaman.
“Iya!
Sosis kita!”, jawab Johnny senang.
Sekali
lagi, Taeyong kehabisan respon. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berpikir.
Untung ia menyuruh Hakuro untuk mengajak Rin jalan-jalan hari ini. Kalau tidak,
entah apa yang akan terjadi pada sosis mereka. Mungkin jadi sosis bentuk
gurita? Mekar di salah satu ujung gitu. Ouh, tak bisa dibayangkan.
“Hei
ayo putar filmnya.. Aku sudah tidak sabar nih..”, pinta Yuta mengeluarkan
lotion yang ada di lemari Taeyong.
“Aku
mau yang bau lavender..”, pinta Johnny menggali lemari Taeyong mencari lotion
bau lavender.
“Aku
mau yang bau rose!”, Sol meminta dari ruang tengah.
“Aku
yang bau cokelat!”, Ten mengikuti.
“Aku
kopi saja kalau ada..”, Jae mengakhiri.
“Ya
ya.. Ambil saja yang kalian mau.. Aku punya semua aroma..”, kata Taeyong tak
mempedulikan tamu-tamu bringasnya dan tetap mengotak-atik komputernya.
“Kau
ambil lotion wangi apa?”, tanya Yuta.
“Wanginya
Rin..”, jawab Taeyong datar.
“Eh?!
Bagaimana bisa? Kau bercanda?!”
“Tidak
aku serius.. Aku pakai lotion yang digunakan oleh Rin..”, Taeyong masih
menjawab dengan datar.
“Begitu
ya..”, Yuta terdengar ragu.
“Kenapa?
Kau pasti sedang mengingat-ingat wangi lotionnya Hayashi kan?”, desak Taeyong
penuh tuduhan.
“E-eh?!
T-tidak kok.. T-tidak! M-mana mungkin aku.. Heh hehe.. Tidak lah..”, elak Yuta
tergagap.
“Hayashi
pakai aroma sakura.. Aku tidak punya, belum beli lagi..”
“Dia
pakai lotion bau sakura ya? Oh, baiklah..”
“Tadi
pakai acara mengelak segala! Cih..”, cibir Ten.
“Yuta-senpai
memang tipe yang seperti itu kan..?”, tambah Jae.
“Heh,
kalian diam.. Berisik.. Lebih baik ada orang asli yang dibayangkan! Kalian
sendiri? Kenapa memilih kopi dan cokelat? Mau seks dengan luwak?”
“He,
dasar.. Kami juga memilih aroma gadis yang kami sukai sendiri! Wek!”, jawab Ten
tak terima.
“Oh
ternyata kalian diam-diam juga suka seseorang ya?”, tanya Sol.
“Tentu
saja.. Kami kan juga laki-laki normal..”, jawab Ten menyilakan kedua tangannya.
“Sol-senpai
sendiri? Kenapa memilih wangi bunga mawar?”, tanya Jae.
“Karena
pacarku wanginya seperti mawar..”
“Eh?!
Sol-senpai sudah punya pacar?!”, Ten dan Jae terkejut disitu.
“Lho
kalian tidak tahu? Hahahah, iya sudah.. Dia gadis penjual bunga di toko yang
sering kulewati..”, jelas Sol.
“Wah..
Keren.. Kalau Johnny-senpai?”, tanya Ten.
“Dia
mana ada?”, jawab Yuta santai.
“Aku
punya pacar..”, jawab Johnny.
“Eh?!!
Johnny juga sudah punya?!!”, kali ini semuanya kaget.
“Kenapa
terkejut ramai-ramai?”, tanya Johnny membuka-tutup botol lotion untuk
menghilangkan bosan.
“Kok
kami tidak tahu sama sekali? Siapa wanita yang mau sama kamu? Siapa wanita yang
sudah berhasil kau guna-guna, Johnny?! Siapa?!”, Yuta dan Sol terdengar heboh
saking tak percayanya.
“Duh,
kalian ini meremehkanku ya? Ck.. Namanya Lanny..”, jelas Johnny tersenyum
dewasa.
Hening.
Seketika kamar Taeyong yang tadinya berisik, jadi hening.
“Dia..
Adik sepupumu yang masih TK itu kan...?”, tanya Yuta melirik Johnny.
“Iya..!”,
jawab Johnny.
“Oh..
Ya sudah..”, Yuta berbalik teratur memunggungi Johnny.
“Dia
lolicon (loli complex)..”, bisik Ten.
“Siscon
(sister complex) juga..”, balas Jae ikut berbisik.
“Yak,
akhirnya filmya bisa diputar.. Sudah siap semua?”, tanya Taeyong menepukkan
tangannya sekali.
“Siap!”,
jawab mereka serempak.
“Ayo
kita masturbasi massal..”