Senin, 15 Februari 2016

CARAMEL POPPORN STORY


First Bite

*Japan, Tokyo, Kaijou High School
Derap langkah seseorang ikut meramaikan suasana sibuk para siswa-siswi yang sedang bersantai menikmati jam istirahat ini. Langkah orang itu sungguh ringan dan cepat menyusuri jalanan lorong. Ia melewati beberapa kelas, menaiki anak tangga, lalu sampai pada kelas tujuannya.

‘Brak!’

“Ketua! Grup band sekolah kita berhasil menyabet juara satu pada ajang lomba antar kota hari ini!”, lapornya begitu semangat memasuki ruang OSIS.
“Benarkah? Wah, hebat!”, sahut laki-laki dengan name-tag Kasamatsu Yukio.
“Aku sudah menduga mereka pasti akan menang! Nakamoto-senpai sangat keren sih!”, timpal laki-laki semangat itu sambil menyerahkan sebuah dokumen.

“Darimana kau dapat kabar itu, Sakurai-san?”, kali ini seorang perempuan bernama Aida Riko yang bertanya.
“Aku dapat kabar dari manager klub mereka, si Terada-senpai..”, jelas Sakurai Ryou.

“Ketua, apakah dengan kemenangan mereka dalam lomba itu, kelas mereka bisa mendapatkan dana bulanan lebih?”, tanya Riko.
“Tidak..”, jawab ketua OSIS yang sibuk membubuhkan tandatangannya pada setumpuk dokumen dari Ryou.
“Eh? Tapi kan mereka...”, Yukio hendak mengutarakan pendapatnya.

“Yuta, kelas 3-B.. Johnny, kelas 3-C.. Ten, kelas 2-B.. Sol, kelas 3-A.. Jae, kelas 1-C.. Ditambah manager klub, Terada Takuya, kelas 3-D.. Mereka berasal dari enam kelas yang berbeda.. Kalian ingin dana bulanan OSIS habis begitu saja hanya untuk mendanai kelas mereka?”, sela ketua OSIS dengan tegas.

“Y-ya, benar juga sih.. Pasti akan sangat boros..”, Ryou bergumam menyetujui.
“Lalu, hadiah apa yang akan OSIS keluarkan untuk kemenangan mereka?”, tanya Yukio.
“Cukup 15% dana tambahan untuk klub mereka..”

“Apa?! Tapi ketua.. Mereka kan...”
“Apakah aku harus menguranginya hingga 5% saja?”, potong ketua OSIS itu tajam.

Anggota inti OSIS yang ada disana pun hanya bisa diam dan mengikuti keputusan ketua OSIS mereka. Sama sekali tidak ada garis wajah bercanda di wajah cantik ketua OSIS itu. Benar-benar tegas dan kaku, itulah ketua OSIS Kaijou. Takamura Rin.


$$$$$


Ruang ini adalah ruang yang sangat berharga bagiku. Disini aku bisa menghabiskan waktu istirahat, waktu membolos, waktu bosan, waktu apapun yang selalu mengikutiku. Ini adalah ruang klub band SMA Kaijou. Semua alat musik tersedia dalam keadaan bagus. Microphone, drum, gitar, bass, keyboard, dan speaker. Semuanya selalu dalam keadaan prima.

“Hei, kalian sudah dengar?”, laki-laki dengan lengan seragam yang ia gulung naik berjalan duduk ke kursi drum.
“Masalah apa?”, lelaki yang sedang sibuk menyisir poninya bertanya.
“Hadiah dari OSIS..”

“Oh, aku tahu itu..”, sahut siswa lain yang sedang menyambungkan kabel keyboard.
“Apa? Beritahu kami juga lah, Johnny..”, kali ini laki-laki yang memeluk bass sudah sangat penasaran.
“Katanya klub kita hanya dapat hadiah dana 15% saja..”, Johnny, si drummer, menjawab.

“Hah?! Yang benar?! Hanya segitu saja?!”, Sol, bassist, melompat kaget dari kursinya.
“Usaha kita hanya dihargai 15% oleh OSIS? Hah, menggelikan..”, komentar Ten si gitaris.
“Sudah tak apa.. Mungkin OSIS sedang berusaha mengirit dana sekolah untuk festival budaya atau darmawisata..”, Jae si keyboardist dengan tenang mengutarakan kemungkinan yang ada.

“Seperti biasa, Jae adalah adikku yang paling bijaksana..”, entah kenapa Johnny merasa bangga disana.
“Tapi tidakkah ini terlalu keterlaluan? 15% dari dana bulanan kita.. Bukankah itu sangat sedikit?”, Sol masih tak percaya dan tak terima.
“Benar kata Sol.. Kemarin juga OSIS hanya membantu setengah biaya untuk ikut lomba.. Kostum, perawatan, dan transportasi kita sendiri yang menanggung.. Padahal kita kan berprestasi untuk Kaijou.. Bagaimana menurutmu, Yuta?”, Ten memasukkanku dalam pembicaraan ini.

“Hm? Menurutku? Eemmm.. Kalian sedang bicara apa sih daritadi?”, aku, Yuta sang vokalis, jujur saja tak menangkap pembicaraan teman-temanku.

“Kita sedang membahas tentang ketidakadilan OSIS pada klub ini, Yuta!!”, sepertinya aku telah membuat Sol naik darah.
“Ckckck, tidak biasanya kau kehilangan jejak pembicaraan kami.. Apa yang kau pikirkan?”, Johnny menanyaiku sambil menggaruk punggungnya dengan stick drum.
“Aku hanya sedang mengamati kalian..”, jawabku seadanya.

“Hah????”

Bagus. Sekarang keempat temanku pasti akan berpikir kalau aku ini gay. Dasar pikiran sempit kalian semua. Ck. Lagipula juga kenapa aku harus mengamati mereka di saat seperti ini? Untuk apa?! Hah, aku menyesali perbuatanku sendiri.

“Sejak turun dari panggung lomba, kau terus diam.. Ada apa, Yuta-senpai?”, Jae bertanya cemas sambil menyalakan keyboardnya.
“Entahlah.. Mungkin aku hanya lelah..”

Pernyataan ‘lelah’ yang kusampaikan ternyata membuat Ten bertindak tidak senonoh padaku. Punya nyali darimana anak ini berani menyentuh dahiku yang cantik secara sembarangan?

“Dia tidak panas.. Dia tidak sakit.. Tapi dia bilang lelah!!”, ujar Ten seakan ia sedang melaporkan kondisiku pada para medis.
“Wah, ini keajaiban.. Ternyata kau bisa lelah juga ya? Hebat hebat.. Sejak kapan?”, sekarang Sol malah menanyaiku layaknya pembawa acara talk show.
“Kalian ini.. Aku ini manusia..! Tentu saja bisa lelah.. Ada-ada saja, ck!”, decakku lalu menarik bantal sofa dari punggung Ten.

“Tidak tidak.. Kau ini bukan tipe pria yang cepat lelah.. Buktinya kalau sedang stres saja kau malah lari maraton.. Setelah maraton kau masih sanggup main sepak bola.. Setelah itu kau juga masih sanggup latihan vokal.. Setelah itu kau masih bisa menyaksikan film porno mingguan yang diputar online di website terlarang..”, Johnny menjelaskan aktivitasku dengan sangat baik.

Aku hanya bisa menenggelamkan wajahku ke bantal sofa yang sudah cukup beraroma pria ini. Malas untuk menanggapinya. Kuakui aku memang pria yang tak kenal lelah dan tak bisa lelah secara fisik. Tapi hatiku juga harus dipikirkan, kawan. Aku lelah secara mental, kalian tahu? Aku barusaja ditolak wanita!!!!

‘tok tok’

Suara ketukan pintu yang pelan menolehkan perhatian para anggota band disini. Semua langsung menatap kearahku. Oh tentu saja mereka langsung menatapku. Aku tahu arti tatapan itu. Yuta-cepat-buka-pintunya. Kenapa harus aku yang lakukan kalau Sol saja duduk dekat pintu.
Akhirnya karena tak nyaman dengan tatapan anggota band ini, aku pun beranjak dan berjalan menuju pintu. Hah, pasti dia. Pasti perempuan itu. Dia pasti akan mengomel menunjukkan ketidaknyamanannya.

“Konnichiwa..”, tebakanku benar, perempuan itu menyapaku.
“Ada.. Perlu apa?”, tanyaku hati-hati.
“Selamat atas kemenangan klub band di lomba antar kota.. Kami dari klub merangkai bunga mau memberikan ini..”, jelasnya lalu menyodorkan sebuah rangkaian bunga cantik untukku.
“Eh? Ini untuk klub band?”, aku masih heran dengan hadiah yang ia berikan.

“Ya, tentu saja.. Semoga kalian suka ya..”
“U-un.. Arigatou na..”, aku menjawab linglung.
“Ja, selamat berjuang!”, sebelum pergi ia memberi semangat dengan santai namun penuh unsur keriangan.

Aku menatap kepergiannya. Aku juga bisa melihat ia masuk ke ruang sebelah. Ruang sebelah memang milik klub merangkai bunga. Tapi belum pernah anggota mereka datang dan memberi rangkaian bunga begini untuk kami. Paling kalau datang kemari ya untuk protes karena kami bermain terlalu keras.

“Wah, bunganya bagus sekali..”, Johnny langsung menghampiri bunga yang ada di peganganku.
“Bahkan mereka menyantumkan nama anggota kita disana..”, tambah Jae ikut senang.

“Kita harus balas perbuatan baik mereka..”, Johnny bertekad dengan menggebu.
“Sekarang?”, Jae bertanya kalem.
“Kapan-kapan..”, jawab Johnny kembali tenang.

Hah, dasar. Selagi teman-temanku bersuka cita mendapat rangkaian bunga, aku akan pundung lagi. Aku kembali mengambil bantal duduk dan menenggelamkan wajahku disana. Meratapi nasib jalan percintaanku. Oh, ayolah. Masa SMA-ku sudah hampir habis dan aku belum pernah merasakan indahnya jalinan kasih ala SMA seperti yang di TV. Uh, menyebalkan!

“Yuta! Ayo semangat! Kau murung terus! Bantal itu bekas pantat orang banyak, jangan tenggelamkan mukamu disana!!”, omelan Ten berusaha menguasai otakku.
“Hm..”, dehemku mengiyakan dengan lemas.
“Ck.. Kenapa sih dengan dirimu? Kau habis ditolak wanita lagi ya?”

Ten, please. ‘Lagi’? Kata itukah yang harus kau sampaikan untuk menjatuhkan harga diriku lebih dalam? Oh ya memang aku ini populer. Sangat populer. Paling populer di antara mereka. Tapi kepopuleranku tak pernah membawaku dalam hubungan serius. Sialan.

“Katakan wanita mana yang kau tembak kali ini? Ceritakan kronologisnya pada kami..”, Sol mengambil kursi dan duduk di dekatku.

Sial, kenapa mereka malah penasaran begini? Kenapa mendekat kemari? Sana menjauh! Lakukan pekerjaan kalian! Jangan lihat aku pundung.

“Hah, Yuta! Apakah wanita yang kau tembak kali ini adalah siswi dari sekolah internasional itu?! Yang sempat melewati lokasi lomba!”, lagi-lagi Johnny menebak dengan benar.
“Hahahahaha.. Dasar bodoh.. Mana dia mau denganmu? Dia siswi SMA Internasional! Kau menembaknya dengan dandanan gothic begitu pasti dia takut, dasar kau ini..”, Sol mengebor hatiku. Perih.
“Yah, kalau cinta tidak memandang fisik kan?”, Jae... kau tua sebelum waktunya.

“Sudah, daripada murung begitu.. Lebih baik kita latihan saja!”, ajak Ten bangkit berdiri dengan semangat.
“Boleh.. Terada-senpai bilang kalau akan ada event yang menunggu kita di akhir bulan..”, Jae bersiap di belakang keyboardnya.
“Benar benar.. Dia banyak izin untuk mengurus event itu.. Sepertinya event besar.. Hhhmmm..”, Sol berjalan mengambil bassnya.
“Ayo, cepat.. Bernyanyilah untuk kami, Leader..”, Johnny menyerahkan mic ke arahku dengan senyum manisnya.

Johnny, ya ampun. Kau tidak perlu memasang senyuman itu. Sekarang kita seperti sedang shooting drama romance, kau tahu? Ah, kau membuat adrenalinku untuk memukulmu meningkat pesat. Ayo kita latihan!


$$$$$


Gedung klub SMA Kaijou, lantai tiga, ruang kedua. Disana tertera dengan jelas tulisan ‘klub dance’. Tapi sama sekali tak ada musik yang terdengar dari dalam ruangan.
Apakah karena ini masih jam pelajaran sehingga ruangan itu kosong? Tapi ada sepasang sepatu di rak. Dilihat dari besar ukurannya, sudah dapat dipastikan itu milik laki-laki.

Seorang siswa sedang mengamati gerak tarian tubuhnya dari kaca. Sorot matanya serius dan tajam. Ia benar-benar memperhatikan tiap detail tubuhnya itu. Tak ada musik yang terdengar dari speaker, tapi samar-samar musik dengan alunan beat yang menghentak dapat terdengar dari earphone yang terpasang di kedua telinganya.
Blazer seragam dengan name-tag Lee Taeyong tergantung rapi di gantungan. Terlihat dari namanya, dia memang bukan orang Jepang. Dia adalah orang Korea.

“Hah, lelah..”, gumamnya merebahkan diri di tengah ruang dance.

Taeyong menatap langit-langit ruangan memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian ia duduk sambil melepas earphonenya. Taeyong menatap tas yang ada di sofa dengan tatapan khawatir. Tanpa menunggu apa-apa lagi Taeyong berlari menyambar tas dan membukanya.

“Tch, sial..”, gerundelnya ketika tak menemukan sebuah buku disana.

Taeyong lalu melempar tasnya ke sofa lagi. Ia berjalan santai sambil melakukan peregangan otot-otot.

“Ya sudahlah, siapa yang peduli dengan tugas? Lagipula aku kan bolos kelas..”, batinnya.

Lee Taeyong, kelas 3-B. Ketua klub dance. Hidup matinya untuk dance. Rumah keduanya adalah ruang dance.

“Hmm.. Kira-kira anak itu sedang pelajaran apa ya?”, pikir Taeyong masih melakukan gerakan-gerakan peregangan. “Apa dia akan mengomel kalau aku ketahuan membolos kelas?”

Taeyong berhenti bergerak. Ia mendengar ada lantunan melodi yang ia suka dari luar jendela. Dengan langkah kecil ia berlari mendekati jendela. Wala! Benar saja, truk es krim favoritnya melewati jalanan depan SMA Kaijou.

“Es krim..”, gumam Taeyong.

Melihat truk es krim ternyata membuat Taeyong lapar. Ia menghela nafas lalu berbalik mengambil tas dan blazer, kemudian keluar ruangan. Kemana? Ke kantin jawabannya.
Dia paham betul di jam pelajaran begini, pasti kantin sangat sepi. Ya iyalah, dia kan membolos.

“Bibi, aku pesan roti melonnya satu..”, ujar Taeyong.
“Ini.. Kau berkeringat banyak sekali, apakah kau habis dihukum?”, tanya bibi itu.
“Ini ini, lap keringatmu dengan ini.. Kasihan sekali kau harus dihukum tidak boleh ikut pelajaran..”, timpal bibi yang lain.

“Terimakasih, Bi..”, jawab Taeyong memelaskan suaranya dengan sengaja.
“Memang apa yang kau perbuat sampai dihukum seperti ini?”, bibi penjaga kantin itu suka mengobrol ternyata.

“Aku datang terlambat tadi.. Tapi aku harus bagaimana? Di rumah ada banyak tugas pagi yang harus kuselesaikan lebih dulu, karena ibuku sedang sakit..”, dusta Taeyong.
“Astaga, kau kasihan sekali.. Seharusnya kau jelaskan pada guru BK..”
“Sudah.. Tapi dia tak mau mengerti dan malah menuduhku mengarang cerita.. Ia lalu menghukumku untuk mengepel lapangan basket..”

Selesai makan roti di kantin sambil mengasah kemampuan mengarangnya, Taeyong pergi darisitu. Sebelum ada patroli polisi sekolah. Di Kaijou memang ada polisi sekolah. Tugasnya seperti BK, mereka akan menyisir area sekolah dan menjaring siapapun yang melanggar peraturan. Setelah itu para pelanggar akan dimasukkan ke ruang polisi sekolah dan harus menyelesaikan tugas sebelum akhirnya dibebaskan.
Siapa pencetus ide ini? Takamura Rin. Ya, sang Ketua OSIS perempuan yang terkenal galak, kaku, dan sangat tegas. Meski Rin adalah orang yang seperti itu, tapi di mata Taeyong..

“Ah, sudah bel istirahat..”, kata Taeyong mendengar bel istirahat berbunyi ketika ia sedang bersantai di taman belakang.

Taeyong merapikan seragamnya kilat. Ia lalu berlari masuk ke gedung. Naik ke lantai dua, dan berhenti pada tangga yang menghubungkan lantai dua dan tiga. Ia mengatur nafas sebentar. Ketika suara berisik para murid mulai memenuhi lorong lantai dua, ia berjalan turun. Memasang wajah santainya.

“Rin..”, panggil Taeyong ketika ketua OSIS itu keluar dari kelasnya dengan setumpuk dokumen.
“Oh, Taeyong-senpai..”, balas Rin.
“Kau mau kemana?”, Taeyong mendekat lalu mengambil tumpukan dokumen itu dari tangan Rin.

“Aku mau ke ruang guru.. Menyerahkan dokumen ini..”
“Ya sudah, ayo..”, ajak Taeyong.

Rin tersenyum tipis. Sudah biasa sih soalnya. Tiba-tiba datang, membantu tanpa bilang aku-akan-membantumu-berikan-itu-padaku. Rin berjalan di samping Taeyong. Ada yang salah dengan pria ini. Bajunya agak basah, seragamnya tidak terlalu rapi. Oh, pasti dia bolos dan menari lagi.

“Taeyong-senpai..”, panggil Rin di perjalanan ke ruang guru.
“Hn?”
“Kau bolos lagi kan?”
“Tidak..”
“Benarkah? Bagus kalau begitu.. Lalu tadi di kelas apa yang kau pelajari?”
“Matematika..”

Rin berhenti melangkah. Ia berkacak pinggang di hadapan Taeyong dengan wajah menuntut.

“Apa?”, tanya Taeyong tanpa dosa.
“Hari ini kau tidak ada pelajaran Matematika.. Sebelum istirahat pelajaran kelasmu adalah Bahasa Inggris..”
“Wah kau menghafalkan jadwal kelasku?”
“Aku yang membuat jadwalmu, Taeyong-senpai..”

“Ya ya, kau hebat.. Tapi tadi guru Bahasa Inggris tidak bisa hadir, jadi guru Matematika yang masuk..”
“Kalau kau beralasan begitu terus, aku tidak akan datang malam ini..”

Glep!

“Aku bolos pelajaran dan memilih untuk latihan menari di ruang klub.. Lalu aku lapar dan menuju ke kantin.. Disana aku juga berbohong pada bibi-bibi kantin kalau aku sedang dihukum.. Lalu aku mengamankan diri di taman belakang sekolah..”, Taeyong pengakuan dosa.

Rin menghela nafas panjang lalu menoleh menatap Taeyong. Wajah pria ini biasa saja. Sama sekali tidak ada ekspresinya.

“Lain kali jangan lakukan itu.. Mengerti?”, ujar Rin menegaskan.
“Hai hai..”, jawab Taeyong dengan suara santainya.

Setelah menyerahkan dokumen ke ruang guru, Rin mengajak Taeyong untuk menemaninya makan siang. Ia sudah siapkan bento tadi pagi untuk dimakan bersama.

“Kau? Membuat bento? Kau sendiri yang buat? Kau yakin ini tidak beracun?”, Taeyong terdengar sangat ragu.
“Makan dulu baru komentar!”

“Enak..”, celetuk Taeyong makan cherry tomato.
“Makan masakan yang kubuat susah payah! Jangan makan itu..!”, Rin yang tidak sabar akhirnya menyuapkan sesendok telur gulung ke mulut Taeyong.

Taeyong mengunyah dengan wajah yang masih sama. Rin sama sekali tak bisa menerjemahkan arti ekspresi kekasihnya itu.

“Bagaimana?”, tanya Rin.
“85..”, jawab Taeyong pendek.
“85? Hanya 85?!”, Rin hampir saja membalik meja.
“85 dari 85..”, lanjut Taeyong.

“Ugh, kau ini.. Berhenti mempermainkanku.. Kejam..”, gerundel Rin.
“Karena ini enak, nanti malam aku akan memberimu sesuatu.. Bawa harddiskmu..”
“Kau mau kasih apa? Awas saja kalau sampai virus..”
“Ini film porno terbaru yang bahkan belum dirilis CD-nya..”

“Lalu darimana kau dapatkan film yang bahkan CD-nya saja belum keluar?”
“Yang membuat temanku.. Aku diberi.. Katanya sih rahasia dan hanya untuk koleksi pribadi.. Tapi karena masakanmu enak, akan kubagikan juga film porno ini untukmu..” jelas Taeyong bangga.
“Hah.. Ya ya, nanti akan kubawa..”

Lee Taeyong dan Takamura Rin. Hubungan mereka bukan hubungan rahasia. Semua murid tahu kalau ketua OSIS berpacaran dengan siswa yang berbuat onar secara pasif bernama Lee Taeyong. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana awal mereka jadian. Bahkan terkadang mereka bisa tidak saling menatap dalam seminggu di sekolah. Apakah hubungan mereka itu hanya hoax belaka?
Ckckckck, hubungannya nyata kok. Pasangan ini memang sedikit aneh. Mereka jarang melakukan kontak secara terang-terangan di depan para siswa-siswi. Karena setiap pembicaraan mereka itu selalu berujung pada hal yang namanya ‘pornografi’.

Sekarang saja, untuk menyamankan pembicaraan seks itu mereka memilih makan di gedung lama yang sepi. Sama sekali tidak ada yang mau ke gedung lama karena ada rumor berhantu itu. Namun justru tempat ini adalah tempat paling romantis untuk Taeyong dan Rin. Mereka bisa dengan santai menikmati pembicaraan yang mengalir tenang tentang pornografi.

“Taeyong-senpai, kau harus belajar dengan rajin.. Kau sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian..”, celoteh Rin.
“Aku belajar rajin kok..”
“Pelajaran di sekolah! Bukan hal porno!”, benah Rin.
“Ya, akan kuusahakan.. Hei, kau sudah dengar?”

“Tentang?”
“Akan ada perusahaan yang meluncurkan kondom fosfor..”
“Hah? Yang benar? Serius? Inovatif sekali itu!”, Rin melebarkan mata semangat.
“Aku pikir juga begitu.. Pasti perusahaannya akan cepat kaya!”, Taeyong ikut menggebu.
“Wah, impian sekali..”

“Kau masih ingin membuka bisnis kondom kelak?”, tanya Taeyong.
“Ya tentu.. Itu harapanku sih.. Tidak tahu halangan apa yang akan terjadi, paling tidak berusaha untuk diwujudkan dulu..”
“Ya sudah, aku akan mendukungmu.. Kalau butuh orang untuk mengecek kondisi kondomnya, panggil saja aku..”

“Tidak ada cek kualitas kondom pakai orang! Kita pakai mesin supaya tetap higenis!”


$$$$$


Seperti biasa, ruang klub band adalah ruang yang akan selalu ramai dan berisik oleh musik. Boro-boro kalau musik pop, ini musik rock!

‘tok tok’ ‘Tok Tok’ ‘TOK TOK’

“Eh ada yang datang..”, Ten menghentikan permainan teman-teman bandnya ketika mendengar ketukan pintu.

Yuta yang sudah mulai mendapatkan moodnya kembali, berinisiatif untuk membuka dan melihat siapa yang mengetuk.

“Si-“
“Berkali-kali kukatakan...”
“Eh, kau..!”
“Kecilkan volume musik kalian!!!”

Ini dia. Pertengkaran wajib yang terjadi di gedung klub lantai dua. Antara klub band dan klub merangkai bunga.

“Ah, jangan berteriak di telingaku!”, Yuta agak terkejut ketika salah seorang anggota klub merangkai bunga itu mengamuk.
“Tidak boleh berteriak di telingamu? Lalu kau apakan telinga kami dengan kerasnya musik kalian?”
“Ck..”, Yuta hanya bisa berdecak.

Tetetet~ Pertengkaran dengan siswi ini memang mengesalkan. Tapi melihatnya datang dan muncul di depan mata Yuta, ah, membuat moodnya naik drastis. Oh, dada besar datanglah padaku~

“Jae.. Cepat sadarkan dia.. Dia mulai melayang ke pikiran jeleknya lagi tuh!”, bisik Sol.

Melayang ke pikiran jelek yang biasa dilakukan Yuta itu bisa dilihat secara langsung. Ketika ia sudah berpikir yang aneh-aneh, Yuta hanya akan memperhatikan satu titik yang ia pikirkan. Ya, dada besar milik siswi ini.

“Nakamoto Yuta-san!!!! Kemana arah matamu melihat?!”, siswi itu menampar Yuta sebelum pergi.

‘Plak!’

Teman-teman anggota band yang lain hanya bisa menyipitkan mata membayangkan sesakit apa tamparan itu. Wajah Yuta yang tertoleh karena tamparan keras siswi tadi membuat posenya semakin keren.

“Yuta, sudah.. Aku tahu kau keren dengan pose itu.. Tapi kau baru saja di tampar LAGI olehnya..”, Sol tak tahan melihat ada anggota band yang merana begitu.
“Hahahahaha, apakah tamparannya kali ini lebih sakit dari kemarin?”, tanya Johnny sambil menusuk hidungnya dengan stick untuk memancing kotoran hidung keluar.
“Seperti biasa, hari ini Hayashi-san juga penuh dengan tenaga ya..”, ujar Jae.

“Barusan dia datang dengan manis memberikan bunga ini.. Sekarang dia datang dengan bringas menamparku.. Lagi!”, Yuta mengelus pipinya yang mulai memerah.
“Itu salahmu juga..! Kenapa kau menatap dadanya dengan bringas? Hah..”, Ten menggelengkan kepala tak paham jalan pikir Yuta.

“Yak, pertempuran kali ini dimenangkan, LAGI, oleh Hayashi Hakuro-san, kelas 2-A, ketua klub merangkai bunga..”, Jae menyipulkan dengan penekanan hasil pertengkaran lima detik tadi.
“Kenapa aku harus merana begini kalau di depan wanita sih? Ck..”, Yuta mengelus microphone, sahabatnya.
“Makanya, kalau bicara dengan wanita itu tatap matanya.. Jangan dadanya!”, sahut Sol.

Sepertinya Yuta tak menengarkan ucapan Sol. Ia sibuk menggerutu di sudur ruangan. Merutuki siswi yang notabene adik kelasnya itu.

“Apaan perempuan itu? Hayashi Hakuro.. Namanya seperti pria begitu.. Jangan-jangan dia transgender? Dadanya pakai silikon? Atau dadanya disumpal kaus kaki? Ck, dasar..”, gerutunya.

Johnny, Jae, Sol, dan Ten. Hanya bisa menghembuskan nafas panjang melihat ketuanya selalu kalah telak oleh siswi bernama Hayashi Hakuro dari klub sebelah.

“Lain kali balas saja..”, celetuk Johnny.
“Ya, hentikan tamparannya atau bagaimana gitu..”, tambah Jae.
“Tidak bisa..”, jawab Yuta.
“Kenapa tidak?, tanya Ten.

“Aku.. Tidak bisa bergerak kalau di depannya..”, jawab Yuta memainkan jemarinya.

“Heee, ternyata kau suka toh?", celetuk Sol, si ahli kesimpulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar