First Bite
*Japan,
Tokyo, Kaijou High School
Derap langkah seseorang ikut meramaikan
suasana sibuk para siswa-siswi yang sedang bersantai menikmati jam istirahat
ini. Langkah orang itu sungguh ringan dan cepat menyusuri jalanan lorong. Ia
melewati beberapa kelas, menaiki anak tangga, lalu sampai pada kelas tujuannya.
‘Brak!’
“Ketua! Grup band sekolah kita berhasil
menyabet juara satu pada ajang lomba antar kota hari ini!”, lapornya begitu
semangat memasuki ruang OSIS.
“Benarkah? Wah, hebat!”, sahut laki-laki
dengan name-tag Kasamatsu Yukio.
“Aku sudah menduga mereka pasti akan
menang! Nakamoto-senpai sangat keren sih!”, timpal laki-laki semangat itu
sambil menyerahkan sebuah dokumen.
“Darimana kau dapat kabar itu,
Sakurai-san?”, kali ini seorang perempuan bernama Aida Riko yang bertanya.
“Aku dapat kabar dari manager klub mereka,
si Terada-senpai..”, jelas Sakurai Ryou.
“Ketua, apakah dengan kemenangan mereka
dalam lomba itu, kelas mereka bisa mendapatkan dana bulanan lebih?”, tanya
Riko.
“Tidak..”, jawab ketua OSIS yang sibuk
membubuhkan tandatangannya pada setumpuk dokumen dari Ryou.
“Eh? Tapi kan mereka...”, Yukio hendak
mengutarakan pendapatnya.
“Yuta, kelas 3-B.. Johnny, kelas 3-C.. Ten,
kelas 2-B.. Sol, kelas 3-A.. Jae, kelas 1-C.. Ditambah manager klub, Terada
Takuya, kelas 3-D.. Mereka berasal dari enam kelas yang berbeda.. Kalian ingin
dana bulanan OSIS habis begitu saja hanya untuk mendanai kelas mereka?”, sela
ketua OSIS dengan tegas.
“Y-ya, benar juga sih.. Pasti akan sangat
boros..”, Ryou bergumam menyetujui.
“Lalu, hadiah apa yang akan OSIS keluarkan
untuk kemenangan mereka?”, tanya Yukio.
“Cukup 15% dana tambahan untuk klub
mereka..”
“Apa?! Tapi ketua.. Mereka kan...”
“Apakah aku harus menguranginya hingga 5% saja?”,
potong ketua OSIS itu tajam.
Anggota inti OSIS yang ada disana pun hanya
bisa diam dan mengikuti keputusan ketua OSIS mereka. Sama sekali tidak ada
garis wajah bercanda di wajah cantik ketua OSIS itu. Benar-benar tegas dan
kaku, itulah ketua OSIS Kaijou. Takamura Rin.
$$$$$
Ruang ini adalah ruang yang sangat berharga
bagiku. Disini aku bisa menghabiskan waktu istirahat, waktu membolos, waktu
bosan, waktu apapun yang selalu mengikutiku. Ini adalah ruang klub band SMA
Kaijou. Semua alat musik tersedia dalam keadaan bagus. Microphone, drum, gitar,
bass, keyboard, dan speaker. Semuanya selalu dalam keadaan prima.
“Hei, kalian sudah dengar?”, laki-laki
dengan lengan seragam yang ia gulung naik berjalan duduk ke kursi drum.
“Masalah apa?”, lelaki yang sedang sibuk
menyisir poninya bertanya.
“Hadiah dari OSIS..”
“Oh, aku tahu itu..”, sahut siswa lain yang
sedang menyambungkan kabel keyboard.
“Apa? Beritahu kami juga lah, Johnny..”,
kali ini laki-laki yang memeluk bass sudah sangat penasaran.
“Katanya klub kita hanya dapat hadiah dana
15% saja..”, Johnny, si drummer, menjawab.
“Hah?! Yang benar?! Hanya segitu saja?!”,
Sol, bassist, melompat kaget dari kursinya.
“Usaha kita hanya dihargai 15% oleh OSIS?
Hah, menggelikan..”, komentar Ten si gitaris.
“Sudah tak apa.. Mungkin OSIS sedang
berusaha mengirit dana sekolah untuk festival budaya atau darmawisata..”, Jae
si keyboardist dengan tenang mengutarakan kemungkinan yang ada.
“Seperti biasa, Jae adalah adikku yang
paling bijaksana..”, entah kenapa Johnny merasa bangga disana.
“Tapi tidakkah ini terlalu keterlaluan? 15%
dari dana bulanan kita.. Bukankah itu sangat sedikit?”, Sol masih tak percaya
dan tak terima.
“Benar kata Sol.. Kemarin juga OSIS hanya
membantu setengah biaya untuk ikut lomba.. Kostum, perawatan, dan transportasi
kita sendiri yang menanggung.. Padahal kita kan berprestasi untuk Kaijou..
Bagaimana menurutmu, Yuta?”, Ten memasukkanku dalam pembicaraan ini.
“Hm? Menurutku? Eemmm.. Kalian sedang
bicara apa sih daritadi?”, aku, Yuta sang vokalis, jujur saja tak menangkap
pembicaraan teman-temanku.
“Kita sedang membahas tentang ketidakadilan
OSIS pada klub ini, Yuta!!”, sepertinya aku telah membuat Sol naik darah.
“Ckckck, tidak biasanya kau kehilangan
jejak pembicaraan kami.. Apa yang kau pikirkan?”, Johnny menanyaiku sambil
menggaruk punggungnya dengan stick drum.
“Aku hanya sedang mengamati kalian..”,
jawabku seadanya.
“Hah????”
Bagus. Sekarang keempat temanku pasti akan
berpikir kalau aku ini gay. Dasar pikiran sempit kalian semua. Ck. Lagipula
juga kenapa aku harus mengamati mereka di saat seperti ini? Untuk apa?! Hah,
aku menyesali perbuatanku sendiri.
“Sejak turun dari panggung lomba, kau terus
diam.. Ada apa, Yuta-senpai?”, Jae bertanya cemas sambil menyalakan
keyboardnya.
“Entahlah.. Mungkin aku hanya lelah..”
Pernyataan ‘lelah’ yang kusampaikan
ternyata membuat Ten bertindak tidak senonoh padaku. Punya nyali darimana anak
ini berani menyentuh dahiku yang cantik secara sembarangan?
“Dia tidak panas.. Dia tidak sakit.. Tapi
dia bilang lelah!!”, ujar Ten seakan ia sedang melaporkan kondisiku pada para
medis.
“Wah, ini keajaiban.. Ternyata kau bisa
lelah juga ya? Hebat hebat.. Sejak kapan?”, sekarang Sol malah menanyaiku
layaknya pembawa acara talk show.
“Kalian ini.. Aku ini manusia..! Tentu saja
bisa lelah.. Ada-ada saja, ck!”, decakku lalu menarik bantal sofa dari punggung
Ten.
“Tidak tidak.. Kau ini bukan tipe pria yang
cepat lelah.. Buktinya kalau sedang stres saja kau malah lari maraton.. Setelah
maraton kau masih sanggup main sepak bola.. Setelah itu kau juga masih sanggup
latihan vokal.. Setelah itu kau masih bisa menyaksikan film porno mingguan yang
diputar online di website terlarang..”, Johnny menjelaskan aktivitasku dengan
sangat baik.
Aku hanya bisa menenggelamkan wajahku ke
bantal sofa yang sudah cukup beraroma pria ini. Malas untuk menanggapinya. Kuakui
aku memang pria yang tak kenal lelah dan tak bisa lelah secara fisik. Tapi
hatiku juga harus dipikirkan, kawan. Aku lelah secara mental, kalian tahu? Aku
barusaja ditolak wanita!!!!
‘tok tok’
Suara ketukan pintu yang pelan menolehkan
perhatian para anggota band disini. Semua langsung menatap kearahku. Oh tentu
saja mereka langsung menatapku. Aku tahu arti tatapan itu.
Yuta-cepat-buka-pintunya. Kenapa harus aku yang lakukan kalau Sol saja duduk
dekat pintu.
Akhirnya karena tak nyaman dengan tatapan
anggota band ini, aku pun beranjak dan berjalan menuju pintu. Hah, pasti dia.
Pasti perempuan itu. Dia pasti akan mengomel menunjukkan ketidaknyamanannya.
“Konnichiwa..”, tebakanku benar, perempuan
itu menyapaku.
“Ada.. Perlu apa?”, tanyaku hati-hati.
“Selamat atas kemenangan klub band di lomba
antar kota.. Kami dari klub merangkai bunga mau memberikan ini..”, jelasnya
lalu menyodorkan sebuah rangkaian bunga cantik untukku.
“Eh? Ini untuk klub band?”, aku masih heran
dengan hadiah yang ia berikan.
“Ya, tentu saja.. Semoga kalian suka ya..”
“U-un.. Arigatou na..”, aku menjawab
linglung.
“Ja, selamat berjuang!”, sebelum pergi ia
memberi semangat dengan santai namun penuh unsur keriangan.
Aku menatap kepergiannya. Aku juga bisa
melihat ia masuk ke ruang sebelah. Ruang sebelah memang milik klub merangkai
bunga. Tapi belum pernah anggota mereka datang dan memberi rangkaian bunga
begini untuk kami. Paling kalau datang kemari ya untuk protes karena kami
bermain terlalu keras.
“Wah, bunganya bagus sekali..”, Johnny langsung
menghampiri bunga yang ada di peganganku.
“Bahkan mereka menyantumkan nama anggota
kita disana..”, tambah Jae ikut senang.
“Kita harus balas perbuatan baik mereka..”,
Johnny bertekad dengan menggebu.
“Sekarang?”, Jae bertanya kalem.
“Kapan-kapan..”, jawab Johnny kembali
tenang.
Hah, dasar. Selagi teman-temanku bersuka
cita mendapat rangkaian bunga, aku akan pundung lagi. Aku kembali mengambil
bantal duduk dan menenggelamkan wajahku disana. Meratapi nasib jalan
percintaanku. Oh, ayolah. Masa SMA-ku sudah hampir habis dan aku belum pernah
merasakan indahnya jalinan kasih ala SMA seperti yang di TV. Uh, menyebalkan!
“Yuta! Ayo semangat! Kau murung terus!
Bantal itu bekas pantat orang banyak, jangan tenggelamkan mukamu disana!!”,
omelan Ten berusaha menguasai otakku.
“Hm..”, dehemku mengiyakan dengan lemas.
“Ck.. Kenapa sih dengan dirimu? Kau habis
ditolak wanita lagi ya?”
Ten, please. ‘Lagi’? Kata itukah yang harus
kau sampaikan untuk menjatuhkan harga diriku lebih dalam? Oh ya memang aku ini
populer. Sangat populer. Paling populer di antara mereka. Tapi kepopuleranku
tak pernah membawaku dalam hubungan serius. Sialan.
“Katakan wanita mana yang kau tembak kali ini?
Ceritakan kronologisnya pada kami..”, Sol mengambil kursi dan duduk di dekatku.
Sial, kenapa mereka malah penasaran begini?
Kenapa mendekat kemari? Sana menjauh! Lakukan pekerjaan kalian! Jangan lihat
aku pundung.
“Hah, Yuta! Apakah wanita yang kau tembak
kali ini adalah siswi dari sekolah internasional itu?! Yang sempat melewati
lokasi lomba!”, lagi-lagi Johnny menebak dengan benar.
“Hahahahaha.. Dasar bodoh.. Mana dia mau
denganmu? Dia siswi SMA Internasional! Kau menembaknya dengan dandanan gothic
begitu pasti dia takut, dasar kau ini..”, Sol mengebor hatiku. Perih.
“Yah, kalau cinta tidak memandang fisik
kan?”, Jae... kau tua sebelum waktunya.
“Sudah, daripada murung begitu.. Lebih baik
kita latihan saja!”, ajak Ten bangkit berdiri dengan semangat.
“Boleh.. Terada-senpai bilang kalau akan
ada event yang menunggu kita di akhir bulan..”, Jae bersiap di belakang
keyboardnya.
“Benar benar.. Dia banyak izin untuk
mengurus event itu.. Sepertinya event besar.. Hhhmmm..”, Sol berjalan mengambil
bassnya.
“Ayo, cepat.. Bernyanyilah untuk kami,
Leader..”, Johnny menyerahkan mic ke arahku dengan senyum manisnya.
Johnny, ya ampun. Kau tidak perlu memasang
senyuman itu. Sekarang kita seperti sedang shooting drama romance, kau tahu?
Ah, kau membuat adrenalinku untuk memukulmu meningkat pesat. Ayo kita latihan!
$$$$$
Gedung klub SMA Kaijou, lantai tiga, ruang
kedua. Disana tertera dengan jelas tulisan ‘klub dance’. Tapi sama sekali tak
ada musik yang terdengar dari dalam ruangan.
Apakah karena ini masih jam pelajaran
sehingga ruangan itu kosong? Tapi ada sepasang sepatu di rak. Dilihat dari
besar ukurannya, sudah dapat dipastikan itu milik laki-laki.
Seorang siswa sedang mengamati gerak tarian
tubuhnya dari kaca. Sorot matanya serius dan tajam. Ia benar-benar
memperhatikan tiap detail tubuhnya itu. Tak ada musik yang terdengar dari
speaker, tapi samar-samar musik dengan alunan beat yang menghentak dapat
terdengar dari earphone yang terpasang di kedua telinganya.
Blazer seragam dengan name-tag Lee Taeyong
tergantung rapi di gantungan. Terlihat dari namanya, dia memang bukan orang
Jepang. Dia adalah orang Korea.
“Hah, lelah..”, gumamnya merebahkan diri di
tengah ruang dance.
Taeyong menatap langit-langit ruangan
memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian ia duduk sambil melepas
earphonenya. Taeyong menatap tas yang ada di sofa dengan tatapan khawatir.
Tanpa menunggu apa-apa lagi Taeyong berlari menyambar tas dan membukanya.
“Tch, sial..”, gerundelnya ketika tak
menemukan sebuah buku disana.
Taeyong lalu melempar tasnya ke sofa lagi.
Ia berjalan santai sambil melakukan peregangan otot-otot.
“Ya sudahlah, siapa yang peduli dengan
tugas? Lagipula aku kan bolos kelas..”, batinnya.
Lee Taeyong, kelas 3-B. Ketua klub dance.
Hidup matinya untuk dance. Rumah keduanya adalah ruang dance.
“Hmm.. Kira-kira anak itu sedang pelajaran
apa ya?”, pikir Taeyong masih melakukan gerakan-gerakan peregangan. “Apa dia
akan mengomel kalau aku ketahuan membolos kelas?”
Taeyong berhenti bergerak. Ia mendengar ada
lantunan melodi yang ia suka dari luar jendela. Dengan langkah kecil ia berlari
mendekati jendela. Wala! Benar saja, truk es krim favoritnya melewati jalanan
depan SMA Kaijou.
“Es krim..”, gumam Taeyong.
Melihat truk es krim ternyata membuat
Taeyong lapar. Ia menghela nafas lalu berbalik mengambil tas dan blazer,
kemudian keluar ruangan. Kemana? Ke kantin jawabannya.
Dia paham betul di jam pelajaran begini,
pasti kantin sangat sepi. Ya iyalah, dia kan membolos.
“Bibi, aku pesan roti melonnya satu..”,
ujar Taeyong.
“Ini.. Kau berkeringat banyak sekali,
apakah kau habis dihukum?”, tanya bibi itu.
“Ini ini, lap keringatmu dengan ini..
Kasihan sekali kau harus dihukum tidak boleh ikut pelajaran..”, timpal bibi
yang lain.
“Terimakasih, Bi..”, jawab Taeyong
memelaskan suaranya dengan sengaja.
“Memang apa yang kau perbuat sampai dihukum
seperti ini?”, bibi penjaga kantin itu suka mengobrol ternyata.
“Aku datang terlambat tadi.. Tapi aku harus
bagaimana? Di rumah ada banyak tugas pagi yang harus kuselesaikan lebih dulu,
karena ibuku sedang sakit..”, dusta Taeyong.
“Astaga, kau kasihan sekali.. Seharusnya
kau jelaskan pada guru BK..”
“Sudah.. Tapi dia tak mau mengerti dan
malah menuduhku mengarang cerita.. Ia lalu menghukumku untuk mengepel lapangan
basket..”
Selesai makan roti di kantin sambil
mengasah kemampuan mengarangnya, Taeyong pergi darisitu. Sebelum ada patroli
polisi sekolah. Di Kaijou memang ada polisi sekolah. Tugasnya seperti BK,
mereka akan menyisir area sekolah dan menjaring siapapun yang melanggar
peraturan. Setelah itu para pelanggar akan dimasukkan ke ruang polisi sekolah
dan harus menyelesaikan tugas sebelum akhirnya dibebaskan.
Siapa pencetus ide ini? Takamura Rin. Ya,
sang Ketua OSIS perempuan yang terkenal galak, kaku, dan sangat tegas. Meski
Rin adalah orang yang seperti itu, tapi di mata Taeyong..
“Ah, sudah bel istirahat..”, kata Taeyong
mendengar bel istirahat berbunyi ketika ia sedang bersantai di taman belakang.
Taeyong merapikan seragamnya kilat. Ia lalu
berlari masuk ke gedung. Naik ke lantai dua, dan berhenti pada tangga yang
menghubungkan lantai dua dan tiga. Ia mengatur nafas sebentar. Ketika suara
berisik para murid mulai memenuhi lorong lantai dua, ia berjalan turun.
Memasang wajah santainya.
“Rin..”, panggil Taeyong ketika ketua OSIS
itu keluar dari kelasnya dengan setumpuk dokumen.
“Oh, Taeyong-senpai..”, balas Rin.
“Kau mau kemana?”, Taeyong mendekat lalu
mengambil tumpukan dokumen itu dari tangan Rin.
“Aku mau ke ruang guru.. Menyerahkan
dokumen ini..”
“Ya sudah, ayo..”, ajak Taeyong.
Rin tersenyum tipis. Sudah biasa sih
soalnya. Tiba-tiba datang, membantu tanpa bilang
aku-akan-membantumu-berikan-itu-padaku. Rin berjalan di samping Taeyong. Ada
yang salah dengan pria ini. Bajunya agak basah, seragamnya tidak terlalu rapi.
Oh, pasti dia bolos dan menari lagi.
“Taeyong-senpai..”, panggil Rin di
perjalanan ke ruang guru.
“Hn?”
“Kau bolos lagi kan?”
“Tidak..”
“Benarkah? Bagus kalau begitu.. Lalu tadi
di kelas apa yang kau pelajari?”
“Matematika..”
Rin berhenti melangkah. Ia berkacak
pinggang di hadapan Taeyong dengan wajah menuntut.
“Apa?”, tanya Taeyong tanpa dosa.
“Hari ini kau tidak ada pelajaran
Matematika.. Sebelum istirahat pelajaran kelasmu adalah Bahasa Inggris..”
“Wah kau menghafalkan jadwal kelasku?”
“Aku yang membuat jadwalmu,
Taeyong-senpai..”
“Ya ya, kau hebat.. Tapi tadi guru Bahasa
Inggris tidak bisa hadir, jadi guru Matematika yang masuk..”
“Kalau kau beralasan begitu terus, aku
tidak akan datang malam ini..”
Glep!
“Aku bolos pelajaran dan memilih untuk
latihan menari di ruang klub.. Lalu aku lapar dan menuju ke kantin.. Disana aku
juga berbohong pada bibi-bibi kantin kalau aku sedang dihukum.. Lalu aku
mengamankan diri di taman belakang sekolah..”, Taeyong pengakuan dosa.
Rin menghela nafas panjang lalu menoleh
menatap Taeyong. Wajah pria ini biasa saja. Sama sekali tidak ada ekspresinya.
“Lain kali jangan lakukan itu.. Mengerti?”,
ujar Rin menegaskan.
“Hai hai..”, jawab Taeyong dengan suara santainya.
Setelah menyerahkan dokumen ke ruang guru,
Rin mengajak Taeyong untuk menemaninya makan siang. Ia sudah siapkan bento tadi
pagi untuk dimakan bersama.
“Kau? Membuat bento? Kau sendiri yang buat?
Kau yakin ini tidak beracun?”, Taeyong terdengar sangat ragu.
“Makan dulu baru komentar!”
“Enak..”, celetuk Taeyong makan cherry
tomato.
“Makan masakan yang kubuat susah payah!
Jangan makan itu..!”, Rin yang tidak sabar akhirnya menyuapkan sesendok telur
gulung ke mulut Taeyong.
Taeyong mengunyah dengan wajah yang masih
sama. Rin sama sekali tak bisa menerjemahkan arti ekspresi kekasihnya itu.
“Bagaimana?”, tanya Rin.
“85..”, jawab Taeyong pendek.
“85? Hanya 85?!”, Rin hampir saja membalik
meja.
“85 dari 85..”, lanjut Taeyong.
“Ugh, kau ini.. Berhenti mempermainkanku..
Kejam..”, gerundel Rin.
“Karena ini enak, nanti malam aku akan
memberimu sesuatu.. Bawa harddiskmu..”
“Kau mau kasih apa? Awas saja kalau sampai
virus..”
“Ini film porno terbaru yang bahkan belum
dirilis CD-nya..”
“Lalu darimana kau dapatkan film yang
bahkan CD-nya saja belum keluar?”
“Yang membuat temanku.. Aku diberi..
Katanya sih rahasia dan hanya untuk koleksi pribadi.. Tapi karena masakanmu
enak, akan kubagikan juga film porno ini untukmu..” jelas Taeyong bangga.
“Hah.. Ya ya, nanti akan kubawa..”
Lee Taeyong dan Takamura Rin. Hubungan
mereka bukan hubungan rahasia. Semua murid tahu kalau ketua OSIS berpacaran
dengan siswa yang berbuat onar secara pasif bernama Lee Taeyong. Tapi tidak ada
yang tahu bagaimana awal mereka jadian. Bahkan terkadang mereka bisa tidak
saling menatap dalam seminggu di sekolah. Apakah hubungan mereka itu hanya hoax
belaka?
Ckckckck, hubungannya nyata kok. Pasangan
ini memang sedikit aneh. Mereka jarang melakukan kontak secara terang-terangan
di depan para siswa-siswi. Karena setiap pembicaraan mereka itu selalu berujung
pada hal yang namanya ‘pornografi’.
Sekarang saja, untuk menyamankan
pembicaraan seks itu mereka memilih makan di gedung lama yang sepi. Sama sekali
tidak ada yang mau ke gedung lama karena ada rumor berhantu itu. Namun justru
tempat ini adalah tempat paling romantis untuk Taeyong dan Rin. Mereka bisa
dengan santai menikmati pembicaraan yang mengalir tenang tentang pornografi.
“Taeyong-senpai, kau harus belajar dengan
rajin.. Kau sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian..”, celoteh Rin.
“Aku belajar rajin kok..”
“Pelajaran di sekolah! Bukan hal porno!”,
benah Rin.
“Ya, akan kuusahakan.. Hei, kau sudah
dengar?”
“Tentang?”
“Akan ada perusahaan yang meluncurkan
kondom fosfor..”
“Hah? Yang benar? Serius? Inovatif sekali
itu!”, Rin melebarkan mata semangat.
“Aku pikir juga begitu.. Pasti
perusahaannya akan cepat kaya!”, Taeyong ikut menggebu.
“Wah, impian sekali..”
“Kau masih ingin membuka bisnis kondom
kelak?”, tanya Taeyong.
“Ya tentu.. Itu harapanku sih.. Tidak tahu
halangan apa yang akan terjadi, paling tidak berusaha untuk diwujudkan dulu..”
“Ya sudah, aku akan mendukungmu.. Kalau
butuh orang untuk mengecek kondisi kondomnya, panggil saja aku..”
“Tidak ada cek kualitas kondom pakai orang!
Kita pakai mesin supaya tetap higenis!”
$$$$$
Seperti biasa, ruang klub band adalah ruang
yang akan selalu ramai dan berisik oleh musik. Boro-boro kalau musik pop, ini
musik rock!
‘tok tok’ ‘Tok Tok’ ‘TOK TOK’
“Eh ada yang datang..”, Ten menghentikan
permainan teman-teman bandnya ketika mendengar ketukan pintu.
Yuta yang sudah mulai mendapatkan moodnya
kembali, berinisiatif untuk membuka dan melihat siapa yang mengetuk.
“Si-“
“Berkali-kali kukatakan...”
“Eh, kau..!”
“Kecilkan volume musik kalian!!!”
Ini dia. Pertengkaran wajib yang terjadi di
gedung klub lantai dua. Antara klub band dan klub merangkai bunga.
“Ah, jangan berteriak di telingaku!”, Yuta
agak terkejut ketika salah seorang anggota klub merangkai bunga itu mengamuk.
“Tidak boleh berteriak di telingamu? Lalu
kau apakan telinga kami dengan kerasnya musik kalian?”
“Ck..”, Yuta hanya bisa berdecak.
Tetetet~ Pertengkaran dengan siswi ini
memang mengesalkan. Tapi melihatnya datang dan muncul di depan mata Yuta, ah,
membuat moodnya naik drastis. Oh, dada besar datanglah padaku~
“Jae.. Cepat sadarkan dia.. Dia mulai
melayang ke pikiran jeleknya lagi tuh!”, bisik Sol.
Melayang ke pikiran jelek yang biasa
dilakukan Yuta itu bisa dilihat secara langsung. Ketika ia sudah berpikir yang
aneh-aneh, Yuta hanya akan memperhatikan satu titik yang ia pikirkan. Ya, dada
besar milik siswi ini.
“Nakamoto Yuta-san!!!! Kemana arah matamu
melihat?!”, siswi itu menampar Yuta sebelum pergi.
‘Plak!’
Teman-teman anggota band yang lain hanya
bisa menyipitkan mata membayangkan sesakit apa tamparan itu. Wajah Yuta yang
tertoleh karena tamparan keras siswi tadi membuat posenya semakin keren.
“Yuta, sudah.. Aku tahu kau keren dengan
pose itu.. Tapi kau baru saja di tampar LAGI olehnya..”, Sol tak tahan melihat
ada anggota band yang merana begitu.
“Hahahahaha, apakah tamparannya kali ini
lebih sakit dari kemarin?”, tanya Johnny sambil menusuk hidungnya dengan stick
untuk memancing kotoran hidung keluar.
“Seperti biasa, hari ini Hayashi-san juga
penuh dengan tenaga ya..”, ujar Jae.
“Barusan dia datang dengan manis memberikan
bunga ini.. Sekarang dia datang dengan bringas menamparku.. Lagi!”, Yuta
mengelus pipinya yang mulai memerah.
“Itu salahmu juga..! Kenapa kau menatap
dadanya dengan bringas? Hah..”, Ten menggelengkan kepala tak paham jalan pikir
Yuta.
“Yak, pertempuran kali ini dimenangkan,
LAGI, oleh Hayashi Hakuro-san, kelas 2-A, ketua klub merangkai bunga..”, Jae
menyipulkan dengan penekanan hasil pertengkaran lima detik tadi.
“Kenapa aku harus merana begini kalau di
depan wanita sih? Ck..”, Yuta mengelus microphone, sahabatnya.
“Makanya, kalau bicara dengan wanita itu
tatap matanya.. Jangan dadanya!”, sahut Sol.
Sepertinya Yuta tak menengarkan ucapan Sol.
Ia sibuk menggerutu di sudur ruangan. Merutuki siswi yang notabene adik
kelasnya itu.
“Apaan perempuan itu? Hayashi Hakuro..
Namanya seperti pria begitu.. Jangan-jangan dia transgender? Dadanya pakai
silikon? Atau dadanya disumpal kaus kaki? Ck, dasar..”, gerutunya.
Johnny, Jae, Sol, dan Ten. Hanya bisa
menghembuskan nafas panjang melihat ketuanya selalu kalah telak oleh siswi
bernama Hayashi Hakuro dari klub sebelah.
“Lain kali balas saja..”, celetuk Johnny.
“Ya, hentikan tamparannya atau bagaimana
gitu..”, tambah Jae.
“Tidak bisa..”, jawab Yuta.
“Kenapa tidak?, tanya Ten.
“Aku.. Tidak bisa bergerak kalau di
depannya..”, jawab Yuta memainkan jemarinya.
“Heee, ternyata kau suka toh?", celetuk Sol,
si ahli kesimpulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar