Kamis, 18 Februari 2016

CARAMEL POPPORN STORY


Third Bite

*Japan, Tokyo, Takamura’s House
Aku terus menatap memperhatikan tiap lekuk tubuh Haku yang sedang membaca buku. Aku sadar tatapanku ini akan membuatnya tak nyaman. Tentu saja tak nyaman, wanita mana yang nyaman kalau diperhatikan secara lekat oleh wanita lain? Apalagi Haku itu perempuan yang sangat pemalu. Ck.
Dia harus berubah!

“Haku..”, panggilku membuat Haku menoleh sambil merapikan letak kacamatanya.
“Iya?”, jawabnya.
“Kacamatamu.. Coba lepas saja..”, pintaku masih pada posisi nyaman di sofa.
“Eh? Tapi nanti aku tidak bisa melihat apa-apa..”, elaknya.

“Kau tidak perlu berjalan.. Aku hanya mau melihat wajahmu lebih jelas..”, aku memaksa.
“T-tapi, Rin..!”

Tanpa seizinnya, aku menarik kacamata yang menggantung di hidungnya itu. Haku langsung mengerutkan kening dan menyipitkan mata. Oh, dia terlihat... Aneh? Apa karena aku sudah terbiasa melihatnya dengan kacamata?

“Rin.. Sudah belum?”, tanya Haku mulai tak nyaman melihat dengan pandangan buram.
“Mulai saat ini, kau harus latihan pakai lensa kontak..”, ujarku tegas.
“Eh? Kenapa tiba-tiba?”, nada suaranya terdengar heran.
“Pokoknya harus dibiasakan.. Supaya minusmu tidak bertambah.. Mengerti?”
“T-tapi.. Aku takut pakai lensa kontak..”

“Nanti akan kuajari.. Kalau memasangnya dengan hati-hati, tak ada yang perlu kau cemaskan..”
“H-hai, wakarimasu..”, akhirnya Haku menyetujui tawaranku.

Di rumah ini, aku dan Haku tinggal bersama. Kami bukan saudara, tidak ada hubungan darah sama sekali. Bagaimana ya? Hubungan kami cukup rumit untuk dijelaskan. Dan aku tidak ingin membicarakan masalah ini. Pokoknya aku sudah menganggap Haku sebagai adikku sendiri. Aku lebih tua sebulan darinya dan aku rasa aku lebih dewasa darinya. Meski terkadang Haku jauh lebih bijaksana dan tenang dari diriku.


$$$$$


*Japan, Tokyo, Kaijou High School

‘Brak!’

Aku khawatir pintu ruang klub akan cepat rusak jika terus dibuka dengan keras seperti itu.

“Yuta! Ada kabar baik!”, Takuya menghampiriku dengan wajah berseri.
“Apa?”, tanyaku sambil menata bantal sofa yang berserakan dimana-mana. Terimakasih Johnny, kau berhasil memperindah ruang klub ini dengan ulahmu.

“Kita bisa ikut eventnya!”
“Event apa yang kau bicarakan?”
Takuya menyeringai sambil membentang sebuah formulir pendaftaran kearahku. “Event ini!!”, teriaknya bangga.

“Kontes kreasi murid SMA se-Jepang?”, bacaku.
“Benar! Event ini hanya diadakan dua tahun sekali.. Kaijou belum pernah berhasil meraih juara satu sebelumnya..”
“Heeee.. Kita benar layak untuk ikut event bergengsi seperti itu?”

“Kenapa kau jadi pesimis? Tentu saja layak! Selama ini kalian sudah mendapat berapa tropi, ha?”
“Tapi itu kontes kreasi, Takuya.. Bukan kontes band rock..”, sahutku kalem.
“Ckckckckck, kau ini seperti baru masuk ke Kaijou saja.. Ketua OSIS sudah mengurus semua..”

Aku langsung melebarkan mata. “Kau menyerahkan kelangsungan hidup kami ke tangan ketua OSIS itu?!”, tanyaku tak percaya.
“Lho? Kau terdengar tak setuju?”
“Ya tidaklah! Dia itu menyeramkan! Dia bisa mengapa-apakan kita!”
“Heee? Mengapa-apakan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”, Takuya menatapku dengan senyum bodohnya.

“Dia bisa menyuruh kita untuk pakai rok! Dia bisa memerintahkan kita untuk menyanyi lagu teletubbies!”, aku heboh di ruang band.
“Ano.. Yuta-kun.. Pikiranmu terlalu liar..”, gumam Takuya tapi aku tak peduli. “Kau tidak perlu cemas begitu.. Takamura-san sudah mengatur semuanya dengan baik.. Kau pasti akan suka dengan idenya itu..”.

“Jelaskan padaku, apa idenya?”, aku melipat kedua tangan.
“Jadi.. Nanti kita akan-“

‘Brak!’

Oh shit, pintu itu benar-benar akan rusak dengan cepat.

“Ohayou, minna-san~”, sapa Ten masuk dengan derap langkah cerianya.
“Ohayou gozaimasu..”, Jae masuk membungkukkan badan singkat dengan kalem.
“Yo!”, Johnny menyapa sambil memukul-mukul pelan tas yang ia pakai di depan dadanya.
“Ohayou..”, Sol yang terakhir masuk menutup pintu.

“Seperti biasa, Yuta-senpai selalu datang paling pagi ya!”, Ten berdiri di depanku dengan senyum lebar. Anak ini kelebihan asupan nutrisi atau apa?
“Wah, ruangannya sudah rapi.. Yuta, kakkoi!”, Johnny memuji pekerjaanku.
“Jangan tinggalkan ruang klub dalam keadaan berantakan, Johnny!!”, omelku menunjuknya geram.
“Hai hai, wakatta.. Kemarin aku kehilangan stick drumku.. Ternyata mereka di selipan celana dalam bagian belakangku! Hahahaha..”, Johnny, kau tidak perlu bangga dengan situasimu itu.

“Hei, Yuta.. Pipimu agak bengkak.. Kenapa?”, Sol, anggota yang paling peduli dengan kondisi fisik teman-temannya akhirnya menyadari ada yang aneh pada wajahku.
“Aku jatuh kemarin.. Terpeleset..”, jawabku pendek tak ingin memperpanjang dusta.

Sol mengerutkan kening tak percaya. Ia lalu melihat Jae yang sudah cekikikan daritadi.

“Hayashi Hakuro-san..”, ujar Jae singkat menandakan kalau aku ‘dikalahkan’ lagi oleh perempuan itu.
“Oh..”, Sol lalu meletakkan tas tak mempedulikanku.
“Hei, Takuya.. Apa itu?”, Johnny akhirnya menyadari benda asing yang dibawa Takuya. Meski itu hanya selembar kertas.

“Ini formulir pendaftaran event dua tahun sekali yang kuperjuangkan itu..”, jawab Takuya.
“Eh?! Kita berhasil masuk?”, Ten langsung menaikkan alis dengan senang.
“Tentu saja kita masuk.. Tapi kita tidak akan tampil sebagai band di kontesnya..”

“Hah???”

“Kita akan mengikuti kontes kreasi antar SMA se-Jepang.. Karena itu, akan ada kolaborasi yang sudah dirancang oleh OSIS..”, jelas Takuya.
“Apa? Mereka akan mengolaborasikan semua klub?”, tanya Sol.
“Tidak, hanya yang terpilih saja..”
“Bagaimana mereka memilihnya? Apa syarat supaya bisa diterima?”, Johnny sok serius.
“Kalian yang tentukan..”, Takuya menjawab dengan senyum di wajahnya.

Aku menghela nafas sedangkan yang lain mengambil nafas cepat. Ya, mereka kaget. Pasti mereka tidak akan terima dengan hal ini. Selama ini kami belum pernah berkolaborasi dengan siapa pun. Tidak akan mudah membujuk klub band. Aku tersenyum tipis memikirkan ini.

“Asyik!!!!! Kita bisa jadi juri berarti?!”, Ten berteriak semangat.

Apa? Eh? Aku.. Tidak salah dengar kan?

“Tentu saja! Klub band adalah kepala konseptornya.. Jadi kalian juga yang akan melakukan casting itu..”, jelas Takuya.
“Wohoo!!”, Sol dan Ten berhigh-five ria.

Aku tertegun. Mereka ternyata gampangan. Sama sepertiku, gampangan. O.O

“Kapan kita bisa mulai perekrutannya?”, tanya Jae.
“Hari ini Takamura-san akan survei ruang klub.. Katanya dia sudah punya konsep yang akan dibicarakan dengan kalian.. Jadi nanti jangan pulang lebih awal..”
“Siap lah!”, Johnny menyetujui sambil memukul drum dengan tangan kosong.

“Hmm.. Jadi dana OSIS digunakan untuk event ini?”, Jae menyadari sesuatu. Anak itu memang jenius. Aku iri. Dia makannya apa?
“Benar.. Fee pendaftaran event ini cukup tinggi.. Ditambah biaya sarana prasarana untuk para peserta dari Kaijou, jadi OSIS berusaha untuk menghemat dana yang dikeluarkan dari kemarin..”, jelas Takuya.
“Ya sudahlah, bagus kalau begitu! Kita tinggal melaksanakan saja kan yang penting?”, Sol menyimpulkan tak ingin berpikir lebih ribet.

Takuya mengangguk-angguk. Hah...... kolaborasi ya? Apa yang akan Takamura Rin lakukan?


$$$$$


Taeyong sedang membersihkan kaca jendela dengan santai ketika Rin berhenti di ambang pintu masuk ruang klub. Seperti biasa, pose paling nyaman untuk Rin adalah melipat tangan menatap Taeyong yang sedang bekerja. Entah kenapa, depan, belakang, samping, semua sudut, dan semua arah yang ia gunakan untuk melihat Taeyong tak pernah membuatnya bosan.
Lihat saja sekarang Taeyong sedang bekerja mendengarkan musik dengan earphone. Ia tetap keren di mata Rin. Seragam yang tidak dipakai sesuai aturan, ikat rambut polkadot yang menyatukan poninya. Ia masih tetap keren. Meski ikat polkadot itu menggelikan.

“Taeyong-senpai..”, Rin berjalan mendekat.

Taeyong belum bisa mendengar suara Rin dengan volume segitu. Rin berjalan lebih dekat sambil memanggil namanya lebih keras.

“Taeyong-senpai..!”, ulangnya.

Tapi Taeyong masih tak menyadari kehadiran Rin. Telinga anak ini bisa rusak kalau terus mendengarkan musik dengan volume tinggi begitu. Ketika Rin berjalan mendekat, samar-samar ia mendengar Taeyong bernyanyi sesuai dengan lagu yang ia dengarkan.

“Cinta satu malam oh indahnya...”

Rin mengerutkan kening. Lagu apa yang sedang ia dengarkan itu? Bahasa planet mana? Karena tak kuat mendengar gumaman tak jelas dari Taeyong, Rin memutuskan untuk menepuk pundak pria itu agar menoleh.

“Oh, Rin..”, sapa Taeyong melepas satu earphonenya.
“Lagu apa sih yang kau dengarkan itu?”, tanyanya.
“Lagu dangdut dari Indonesia..”
“Oh ya? Apa artinya?”
“Yah hanya tentang wanita yang menikmati seks satu malam bersama pria begitu...”, jelas Taeyong menyimpan earphonenya di saku.

“Astaga.. Kau harus mengirimkan lagu itu ke ponselku juga..! Dasar, punya lagu bagus tidak bagi-bagi..”, gerutu Rin.
“Ya nanti aku akan kirimkan.. Sekarang apa yang kau lakukan disini pagi-pagi?”
“Aku memintamu sebagai ketua klub menari untuk mengirimkan beberapa anggotamu ke ruang band nanti..”
“Mau diapakan?”, Taeyong bertanya curiga.

“Aku akan melakukan seleksi disana.. Untuk kontes kreasi antar SMA se-Jepang itu..”
“Oh.. Baiklah, akan kusiapkan..”
“Terimakasih..”

Rin hendak keluar dari ruang band jika Taeyong tak menghentikan langkah Rin.

“Matte..”, ujar Taeyong menggenggam tangan Rin.
“Hn? Nani?”, Rin menatap Taeyong heran.
“Masalah Hayashi-san yang kau bicarakan semalam.......”
“Aku akan tetap melakukannya..”
“Kau yakin?”

“Tentu.. Memang hal buruk apa yang bisa terjadi?”
“Yuta..”, jawab Taeyong.

Rin sedikit menyatukan alis. Benar juga. Oh, kenapa pria itu tak ada di pikirannya kemarin?
Sementara itu, Hakuro sedang mengganti tanggal yang ada di papan tulis. Ia juga mengganti air di vas bunga, menata meja guru, dan akhirnya duduk membaca buku yang ia pinjam beberapa hari lalu dari perpustakaan.

“Selamat pagi..”

Perlahan satu persatu anak kelas 2-A mulai muncul memenuhi ruang kelas dengan cepat. Hakuro diam tak tahu apa yang sudah menantinya. Rin.


$$$$$


“Hmmm..”

Ruang band diselimuti oleh deheman yang tak kunjung selesai dari para anggotanya. Wajah mereka serius dan beberapa ada yang sampai berkerut. Padahal mereka hanya memikirkan berapa poin maksimal untuk seleksi nanti.

“Hei, aku baru sadar..”, Sol angkat bicara.
“Apa?”, tanya Ten.
“Kenapa kita tidak memikirkan aspek-aspek yang dinilai saja? Kita malah berkutat pada hal yang tidak penting..”
“Iya ya..”, Johnny ikut tersadar.

“Sejak kapan sih kita bicara hal penting?”, celetuk Jae.
“Benar kata Jae..”, Yuta setuju dengan bangga.

“Hah.. Ya sudah, daripada membahas poin maksimal yang bisa diberikan, sekarang ayo bahas aspek penilaiannya saja..”, ajak Ten membuka halaman baru.
“Menurutku yang dinilai pertama itu adalah kreativitas..”, ujar Sol.
“Kalau menurutku aspek paling penting adalah kerapian dan ketenangan..”, Jae menambahi selagi Ten dengan giat mencatat semua usul dan ide dari teman-temannya.

“Menurutmu bagaimana Yuta?”, tanya Johnny kehabisan bahan bakar untuk berpikir.
“Hhmmm.. Aspek yang dinilai.. Penampilan yang membawa kesegaran..”, jawab Yuta menatap Johnny serius.
“Kesegaran maksudmu?”, tanya Johnny mengambil kekasihnya, stick drum, dari dalam tas.
“Yang tidak membosankan, inovatif, dan.... Membuat kita terus ketagihan!”
“Seperti apa misalnya?”, tanya Johnny lagi kali ini sambil menggaruk betisnya yang gatal dengan stick.

“Iklan alat kontrasepsi..”

Tanpa ragu Ten dan Sol langsung melempar bantal sofa ke muka Yuta.

“Itta!! Ah, Ten! Sol!! Aku kan cuma bercanda!!”, Yuta sewot kena double hit.
“Tapi ide Yuta-senpai bagus juga..”, Jae menengahi.
“Tuh dengarkan!”, Yuta malah makin menjadi.
“Penampilan inovatif, kreatif, dan tidak membosankan yang dibawakan dengan rapi, pasti akan membuat penontonnya ketagihan..”, jelas Jae.
“Ide bagus Jae!”, puji Ten langsung mencatat semua kata-kata Jae dengan antusias.

“Itu kan ideku juga..”, lirih Yuta.
“Ngomong-ngomong.. Kalau seleksi ini diadakan secara terbuka, berarti semua orang bisa ikut ya?”, tanya Johnny setelah asyik bermain dengan bulu kakinya yang tercabut tadi.
“Ya tentulah.. Namanya juga terbuka..”, Sol menanggapi.
“Berarti orang jelek juga bisa ikut? Syukurlah..”

“Hah? Kau ini bicara apa?”, Ten merasa bingung.
“Kalau orang jelek ikut, poin pada aspek penampilan sudah minus duluan!”, kata Yuta.
“Tapi kan kita tidak menilai pada aspek penampilan fisik..”, Ten membaca aspek-aspek yang sudah ia tuliskan.
“Hmm.. Ditambahkan saja..”, Sol meminta.
“Eh?”, Ten agak kaget.

“Ditambahkan juga tidak masalah sih.. Kenyataannya, kalau penampilan fisik tidak menarik juga akan mempengaruhi penilaian penonton bukan?”, Jae ikut setuju.
“Benar nih? Aku cantumkan ya berarti..”, Ten menuliskan aspek baru.
“Sudah selesai kan? Sekarang ayo siapkan ruangan ini untuk menjadi ruang seleksi!”, ajak Johnny semangat.


$$$$$


“Haku..”

Aku yang saat itu sedang membaca, mendengar sebuah suara memanggil. Ketika menolehkan kepala, ternyata Rin ada di ambang pintu dengan senyum hangatnya. Aku membalas senyuman Rin lalu mengangguk.
Ya. Sudah waktunya untuk mengikuti kemana Rin mengajakku. Aku sudah setuju akan membantunya kemarin. Lagipula ini juga demi Kaijou. Hah, bisa memberikan kontribusi secara langsung untuk Kaijou selalu membuatku deg-degan!

“Dadamu sakit?”, tanya Rin.
“I-iie..”, jawabku.
“Kenapa kau remas begitu?”
“Aku hanya merasa senang..”
“Karena akhirnya bisa menyanyi?”
“Tidak.. Aku merasa senang bisa membantumu dan Kaijou..”
“Astaga, Haku..”, Rin memegang kedua pundakku.
“Eh?”

“Kau harus mengubah sikap lembutmu itu.. Kau terlalu lembut dan terkesan lemah! Pantas saja para siswa dan siswi sering mengolok dan menindasmu..”, ujar Rin kesal.
“Tapi mereka bilang hanya bercanda..”
“Bercanda mereka tidak lucu! Dan kau itu bukan badut yang bisa dijadikan bahan candaan!”
“Paling tidak mereka bisa terhibur kan?”
“Ouh!! Pokoknya kau harus berubah! Tidak boleh terlalu lembek begitu! Mengerti?”

Aku mengangguk ragu. Dari dulu Rin selalu berdiri di depanku. Dia tidak akan segan melibas semua orang yang berani macam-macam dengan kami. Dia seperti kakakku. Aku suka Rin! Dia selalu membuatku senang dan tenang.

“Ano ne, Rin..”, panggilku.
“Hn?”
“Arigatou..”

Rin terdiam menatapku. Hanya dalam hitungan detik ia kemudian tersenyum lalu memelukku.

“Dengar, Haku.. Apapun yang terjadi di rumah.. Apapun keputusan papa.. Kau adalah saudaraku.. Aku tidak akan meninggalkanmu..”

Ah, iya. Sesaat aku lupa kalau kita hanya saudara tiri. Ibuku menikah dengan ayah Rin di akhir masa SD kami. Aku pikir Rin tidak akan suka padaku. Kupikir dia akan menindasku seperti teman-teman lain. Tapi tidak. Rin justru menggenggam tanganku, membantuku berdiri, dan mengusir semua pembully itu. Dia adalah orang pertama yang mengakui keberadaanku di keluarga Takamura.

“Ano... Apakah aku harus berdandan seperti ini?”, tanyaku ketika Rin memoles wajahku.
“Tentu saja.. Jurinya adalah anggota klub band.. Kau tahu kan mereka? Hanya kumpulan orang mesum yang jorok.. Kalau kau tidak merias diri, kau bisa gagal..”, jelas Rin.

Aku berdehem setuju. Memang tidak bisa disangkal sih kebenaran itu. Para anggota klub band kan memang pria-pria yang terkenal suka main wanita.

“Kau sudah siap dengan lagunya kan?”, tanya Rin mengambil blush on di kotak rias.
“Ng! Sudah! Ngomong-ngomong, Rin.. Sejak kapan kau punya kotak rias sendiri?”, tanyaku sukses membuat Rin tersipu malu.
“I-ini.. Ini milik OSIS kok!”, jawabnya tergagap ragu.
“Heeee.. Tapi disitu tertera nama Takamura Rin sayangku cintaku kasihku..”

“Ugh! Ini hadiah dari Taeyong-senpai.. Aku sudah berusaha untuk menghapus tulisan nama yang berlebihan itu, tapi tak bisa hilang..”
“Hahaha, jangan dihapus.. Taeyong-senpai bisa sedih..”
“Ck, pria itu selalu saja membuatku malu.. Huh!”, Rin mengomel meski wajahnya sudah sangat merah. Oh dia pasti sangat mencintai Taeyong-senpai.

“Aku selalu bingung jika memikirkan hal ini..”, celetukku.
“Nani ga?”, tanya Rin bermain dengan rambutku.
“Kenapa kau mau pacaran dengan Taeyong-senpai? Bukankah dia sangat jauh dari tipe idealmu?”
“Hah.. Ceritanya panjang..”
“Aku tidak lelah untuk mendengarkan kok..”

Rin terdiam menimbang-nimbang. Ia selalu bermain dengan bibir bawahnya kalau sedang bergelut dengan keputusan. Sungguh kebiasaan yang lucu.

“Nanti kalau kau sudah siap, aku akan ceritakan.. Tidak sekarang..”
“Heeeeeeee..”, sebisa mungkin aku harus terdengar kecewa.
“Fufufufufu, jangan begitu.. Semua pasti akan tiba waktunya.. Aku akan cerita semua tanpa kecuali padamu.. Tapi nanti kalau kau sudah cukup dewasa..”
“Tidak adil.. Apa bedanya sekarang dan nanti? Aku kan juga sudah dewasa sepertimu.. Kita seumuran lho..”

“Ck, kalau kau sudah berciuman saja deh..”, kata Rin sedikit menantang.
“Eh?!”
“Aku akan cerita kalau Haku sudah pernah ciuman dan mengerti seks..”
“Eh?!”
“Oh! Sebelum itu, kau harus percaya diri dengan dadamu yang besar itu!”
“Eh?!”

“Hahahaha, Haku memang masih terlalu lugu dan polos ya!”
“T-tidak kok! Aku PD dengan tubuhku!”
“Iya iya, aku tahu.. Tapi tidak semua orang tahu.. Makanya kau harus menunjukkan ke-PD-anmu itu nanti ya..!”
“H-hai..”

Aku mengangguk mengiyakan. Rin kembali tersenyum. Sampai detik ini, senyum Rin itu tidak pernah berubah padaku. Wajah Rin juga sangat mirip dengan almarhum ibunya, bibi Takamura. Sangat cantik dan menenangkan. Aku tidak tahu kenapa para murid takut dan menganggap Rin itu monster. Hhmm.


$$$$$


Semua persiapan sudah selesai. Saatnya untuk memulai seleksi. Lima juri utama sudah duduk di belakang meja dengan aktivitas mereka masing-masing. Rin juga ada di belakang para juri. Ia mengamati sebagai evaluator disitu.

“Panggilkan peserta pertama..”, pinta Sol setengah berteriak ke pintu.

Tak ada jawaban. Sol berdecak lalu mengulangi kalimatnya. Namun masih tak ada jawaban. Rin akhirnya berdehem.

“Tidak ada petugas yang berjaga di pintu, Sol-senpai.. Jadi kalian harus memanggil peserta sendiri”, jelas Rin.
“Apa?!! Ck, merepotkan..”, Sol melirik Johnny yang duduk di sebelahnya.

Johnny sengaja tak menanggapi lirikan Sol. Ia tahu pasti Sol memberi kode untuk memanggil peserta pertama. Malas sekali jika harus beranjak dari kursi yang sudah nyaman ini.
Karena Johnny hanya mematung dengan bodoh, Sol akhirnya menatap Ten yang duduk di tengah. Oh, Ten tentu tidak bisa menolak. Sol adalah seniornya. Tapi tenang. Ten masih punya kouhai manis yang duduk di sebelahnya. Jae.
Jae, pria punya nyali, berani menyalurkan lirikan Sol dan Ten ke Yuta yang duduk di paling ujung. Hello! Jae kau masih kelas satu dan kau menyuruh kakak kelas tiga yang memanggil peserta pertama di balik pintu nan jauh disana?

“Kenapa aku?”, protes Yuta menunjuk dirinya pilu.
“Alah, kan biasanya juga senpai yang membukakan pintu jika ada tamu datang ke ruang klub.. Anggap saja sekarang tamunya banyak..”, Ten mencibir.
“Dasar kouhai kurang ajar..”, gerundel Yuta bangkit berdiri.

Meski menolak, tapi tubuh Yuta selalu melakukan dengan rela apa yang diminta.

“Eh, tunggu!”, cegah Rin.
“Apa?”, tanya Yuta sudah memegang gagang pintu.
“Kau duduk saja.. Biar aku yang disana..”, Rin memberesi barangnya dan mengambil tempat duduk di dekat pintu.
“Kau yakin?”, tanya Yuta tak percaya.
“Ya.. Lagipula lebih mudah juga untukku mengevaluasi darisini.. Sekalian jadi petugas pemanggil peserta..”

Yuta mengangguk-angguk mengerti lalu kembali duduk. Rin menghela nafas. Hampir saja. Kalau Yuta yang memanggil peserta, bisa heboh dia. Spoiler is no!

“Baiklah, peserta pertama..”, Rin mempersilakan peserta pertama untuk masuk.

Lee Taeyong. Kelas 3-B. Ketua klub menari. Pria itu masuk dengan sebuah topi terpasang menutupi setengah wajahnya. Taeyong masih pakai seragam dan akan menari dengan style itu. Ketika ia hendak memasang lagu yang sudah disiapkan, Yuta angkat bicara.

“Chotto matte!”, selanya.
“Hai?”, Taeyong menaikkan alis bingung.
“Kau, Lee Taeyong.. Diterima!”, lanjut Yuta mengecap formulir Yuta dengan cap ‘accepted’.

Semua mata langsung terarah ke Yuta dalam sedetik.

“Kenapa langsung diterima? Dia bahkan belum memutar lagunya! Dia belum menampilkan kreasinya!”, Sol yang duduk di ujung satunya mengomel.
“Aduh, kalian ini buang-buang waktu saja.. Kita sudah tahu kemampuan Taeyong.. Untuk apa melihatnya?”, Yuta menjawab santai.
“Ya benar juga sih..”, sahut Johnny menusuk-nusuk pipinya dengan pena.

“Oke, peserta kedua..”, Ten membalik halaman baru.
“Kalian sungguh menerimaku begitu saja?”, Taeyong masih tercengang.
“Iya, sudah jangan menangis terharu disini..”, Yuta mengusir Taeyong dengan gestur tangan menyapu.
“Selamat ya, senpai!”, Jae mengucapkan selamat dengan senyuman.

Taeyong menatap Rin sambil berjalan ragu menuju pintu keluar. Mudah sekali. Rin menghela nafas. Ia tidak bisa mengoceh disana. Sudah menjadi keputusan Rin untuk menjadikan klub band jurinya. Percaya sajalah dengan mereka. Lagipula mereka kan murid berprestasi yang sudah menyumbang banyak untuk Kaijou juga.

“Peserta kedua..”

Sepasang laki-laki dan perempuan masuk dengan dandanan meriah. Pasangan dari kelas satu. Mereka sudah menari tango sejak SD. Dan.. menarilah kedua orang itu.

“Heee, keren..”, Sol mengamati dengan senyum mengembang.

Sol adalah juri paling senang dengan tarian tango saat ini. Ten dan Jae adalah juri paling serius saat ini. Johnny dan Yuta adalah juri paling tidak bisa diharapkan saat ini. Lihat saja kelakuan kedua murid kelas tiga yang tak pernah dewasa disitu. Johnny, dengan asyiknya melipat-lipat kertas nilai menjadi origami bunga. Sedang Yuta, oh dia memang jorok dari akar-akar otaknya. Dia berkreasi dengan tulisan yang ada di kertas. Menghubungkan goresan kanji yang ada, menjadi sebuah gambar payudara. What a great picture.

“Khekhekhekhe..”, Yuta terkekeh disitu.

Jae dan Ten hanya bisa menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa mereka punya ketua klub yang begitu blak-blakan?
Peserta demi peserta silih berganti keluar-masuk ruang klub band. Ada yang memang berbakat, ada yang konyol, ada yang mengisi waktu luang, ada yang menarik, dan ada yang membuat telinga sakit.

“Peserta selanjutnya..”, panggil Rin sambil mempersiapkan halaman baru untuk catatannya.

Akhirnya gilirannya telah tiba. Akhirnya datang juga kejutan kecil yang sudah disiapkan Rin. Akhirnya dia masuk. Akhirnya dia..

‘Bruk!’

Ahk. Dia jatuh.


$$$$$


Ketika Rin memanggil peserta selanjutnya, aku hampir mati. Aku sudah lelah menilai semua peserta ini! Aku butuh bola! Aku harus maraton! Aku stres disini! Oh, tidak. Aku mulai membayangkan lapangan sepakbola ada di depan mataku.

‘Bruk!!’

Suara itu cukup keras untuk membuyarkan lapangan sepak bola yang kupikirkan. Astaga! Itu pasti sangat sakit! Peserta itu jatuh terjerembab dengan sangat keras. Hei, tunggu dulu. Itu kan..

“Haaahhggg..!!”, aku melahap angin dengan mata membulat.

Dada besar!

“Ah, ittai..”, rintihnya.
“Daijoubu?”, tanya Sol membantunya berdiri. Tunggu! Sejak kapan Sol berjalan menghampirinya?
“Hai, daijoubu desu.. Arigatou..”, jawab Hayashi terlihat tak baik-baik saja.
“Wah.. Ternyata kau punya wajah yang cantik juga.. Ini kali pertama aku melihat wajahmu dari dekat..”, ujar Sol.
“Eh? Ano.. Arigatou..?”, Hayashi ragu akan responnya sendiri.

“Hayashi-senpai cantik juga kalau di make-up.. Benarkan?”, Jae bertanya pada Ten.
“Sou sou.. Kireii..”, jawab Ten menyangga dagu dengan memasang senyum lebar.

Cantik apanya sih? Aku menatap keempat temanku heran. Mereka terpesona oleh sosok Hayashi! Oh, baik kuakui dia sedikit cantik dengan polesan make-up. Model rambutnya juga beda dari biasanya. Ia menggerai setengah rambut bagian bawah kemudian mengepang rambut bagian atas. Apanya yang menarik? Kacamatanya itu. Kacamatanya sungguh mengganggu! Secara keseluruhan, yang menarik hanya bagian dadanya. Aku beri nilai penuh untuk aspek dada.

“Apa yang akan kau tampilkan, Hayashi-senpai?”, tanya Jae.
“Etto.. Aku.. Akan...”, Hayashi membenarkan letak kacamatanya dengan gugup.
“Tidak apa.. Kau bisa mengambil waktu untuk menenangkan diri terlebih dulu..”, ujar Johnny berubah jadi Johnny gentle.

Helloooooo.. Ini sudah siang. Aku lapar. Aku bosan. Aku mau main. Tidak ada waktu lebih untuknya! Kalian sungguh tidak adil. Ck.

“Nah, apakah kau sudah siap menampilkan apa yang sudah kau siapkan?”, tanya Ten ramah.
“Emmm..”, Hayashi meremas tepi seragamnya. Dia pasti sangat takut.

Aku dapat melihat Hayashi menoleh ke Rin. Aku juga melihat Rin memberikan senyum disana.

“Aku akan menyanyi..”, lanjut Hayashi dengan suara pelan.
“Apa?”, tanya Sol.
“Menyanyi, Sol..”, ujarku.
“Ohhh.. Gomen gomen.. Duduk terlalu lama di dekat speaker membuat pendengaranku sedikit kacau..”, ia beralasan. Hah!
“Baiklah, lagu apa?”, tanya Johnny masih dirasuki oleh roh gentle.

“Yui-san no taiyou no uta..”
“Wah, hebat..! Coba tunjukkan pada kami..”, pinta Jae.

Itu lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita bernama Yui. Lagu matahari, pilihan lagu yang bagus. Kita lihat apakah Hayashi punya kemampuan lain selain dada besar.

Ia menundukkan kepala memejamkan mata. Menghembuskan nafas menenangkan hati. Satu hal yang membuatku terkejut adalah.. Hayashi melepas kacamatanya.
Aku dan teman-teman sedikit menegang ketika melihat tatapan mata Hayashi menatap kami tanpa halangan kacamata. Ia menarik nafas dan mulai menyanyi.
Suaranya jernih. Beda sekali dengan suaranya saat berbicara. Ia dapat bernyanyi tanpa keraguan. Telingaku serasa dimanjakan dengan suaranya yang lembut tapi juga berat. Ini... Tidak salah lagi. Hayashi punya bibit suara rock!


$$$$$


“Lalalala goodbye days..”

Hakuro mengakhiri nyanyiannya. Semuanya terdiam menatap Hakuro tanpa ada yang bergerak sama sekali. Bahkan Rin sekalipun. Suasana musim semi seakan hilang begitu saja ketika Hakuro memasang kacamata besarnya lagi.

“Ah tidak!!! Dame (jangan)!! Kembalikan Hakuro ku!!!”, teriak Yuta heboh.
“Yang tadi itu benar dia?”, bisik Johnny.
“Rasanya beda sekali ya..”, bisik Sol membalas Johnny.
“Subarashii.. Kau punya suara yang bagus, Hayashi-senpai..”, puji Jae sambil tepuk tangan.
“Terimakasih atas partisipasinya, Hayashi-san..”, ujar Ten.

Hakuro lalu membungkuk memberi salam. Setelah itu ia keluar ruangan.

“Uhuhuhuhu..”, Yuta menangis kelabu.
“Kenapa, senpai?”, tanya Jae.
“Haku-chan ku.. Dia lenyap... Hwaaaaa!!!!”
“Kau ini ada-ada saja.. Tumben kau tidak membicarakan dadanya..”, sindir Ten.
“Aku terlalu sibuk menikmati suara dan wajah polosnya tanpa kacamata.. Jadi tidak sempat lihat kacamata yang di dada..”, jawab Yuta jujur.

‘pletak!!’

“Aduh!!’, rintih Yuta ketika Rin memukulnya dengan meja jalan.
“Jangan ngomong sembarangan tentang Haku!”, kata Rin tegas.
“Setelah ini apa yang akan kau lakukan pada para peserta terpilih?”, tanya Sol.
“Akan kujelaskan konsepnya ke kalian.. Jadi dengarkan baik-baik..”, ujar Rin.

Semua langsung bersiap pada posisi mendengarkan. Rin menghela nafas lalu melipat tangan.

“Buat dua tim berbeda.. Aku serahkan pembagiannya ke kalian.. Tampilkan apapun sesuai keputusan kelompok masing-masing.. Ingat, kalian tampil dalam jumlah besar, jadi gunakan kuantitas itu untuk berkreasi sebaik mungkin..”, jelasnya.
“Hmm.. Lalu apa yang bisa kami tampilkan? Apakah ada syarat dan ketentuan tertentu?”, tanya Jae.
“Tidak ada.. Durasi maksimal sepuluh menit.. Kalau bisa kedua tim jangan menampilkan suasana yang hampir sama.. Kalau berbeda akan memperbesar peluang untuk menang..”
“Yoshaaa! Ayo kita lakukan ini!”, Yuta mengepalkan tangan semangat.

“Hah.. Aku serahkan konsep ini kepada kalian.. Dan Nakamoto-senpai!!”, bentak Rin.
“Eh? Hai?”, Yuta gugup.
“Jangan apa-apakan, Haku! Mengerti!?”
“I-iya..”

“Oh ya.. Satu lagi.. Kalau kalian mau menampilkan nyanyian atau musik, syaratnya adalah lagu kreasi buatan sendiri..”
“Lagu sendiri? Maksudnya dari pembuatan lirik sampai mengompos lagunya kami sendiri yang buat?”, tanya Ten.
“Sou..”
“Wah! Ini pasti akan sangat seru!!”, Ten terlihat tak sabar.

“Nah, Yuta.. Lebih baik kau siapkan lirik untuk kami buatkan nadanya..”, pinta Johnny.
“Kok aku?”
“Bukannya senpai sering mengarang lirik?”, kali ini Jae yang bertanya.
“Y-ya memang.. Tapi aku sedang penat.. Tidak ada lirik yang melintas..”, jawab Yuta sedih.

“Jangan khawatir.. Aku akan menyuruh Haku untuk membantumu..”, celetuk Rin.
“Kenapa dia?!”
“Lho? Kenapa memangnya? Kau meremehkan kemampuan Haku? Dia bisa membuat lirik lagu yang sangat bagus!”
“Aku buat sendiri saja!”
“Terserah deh.. Nanti kalau butuh bantuan, jangan langsung ke Haku!! Minta ke aku dulu!”
“Kau was-was sekali sih denganku!? Aku tidak akan berbuat hal aneh ke dia!”
“Kau temannya Taeyong! Patut dicurigai!!”
“Apa?!”

Keempat teman Yuta mengangguk menyetujui pernyataan Rin. Mereka akui kalau Rin seratus persen benar. Yuta memang berbahaya kalau sedang tidak sadar. Sialnya, dia lebih sering tidak sadar ketimbang sadar.

“Tenang, Takamura.. Nanti kalau Yuta kesulitan dan akan minta bantuan Hayashi, kami akan mengikatnya lebih dulu..”, Johnny tersenyum penuh arti menatap Yuta.
“Yang benar saja!”


$$$$$


Fiuh, deg-degannya sudah agak hilang. Aku kembali membersihkan wajahku dari make-up. Melepas ikatan rambut yang ditata Rinkemudian mengikatnya lagi seperti tatanan rambutku biasanya. Single braid, kepang satu.

“Apa aku benar terlihat aneh kalau pakai kacamata? Tapi kalau kulepas nanti aku buta.. Tidak bisa lihat apa-apa..”, rengekku di depan kaca kamar mandi wanita.

Aku harap mereka menerimaku. Aku berjanji akan berusaha dan melakukan yang terbaik! Yosh, ganbare Hayashi Hakuro!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar