Third Bite
*Japan, Tokyo, Takamura’s House
Aku
terus menatap memperhatikan tiap lekuk tubuh Haku yang sedang membaca buku. Aku
sadar tatapanku ini akan membuatnya tak nyaman. Tentu saja tak nyaman, wanita
mana yang nyaman kalau diperhatikan secara lekat oleh wanita lain? Apalagi Haku
itu perempuan yang sangat pemalu. Ck.
Dia
harus berubah!
“Haku..”,
panggilku membuat Haku menoleh sambil merapikan letak kacamatanya.
“Iya?”,
jawabnya.
“Kacamatamu..
Coba lepas saja..”, pintaku masih pada posisi nyaman di sofa.
“Eh?
Tapi nanti aku tidak bisa melihat apa-apa..”, elaknya.
“Kau
tidak perlu berjalan.. Aku hanya mau melihat wajahmu lebih jelas..”, aku
memaksa.
“T-tapi,
Rin..!”
Tanpa
seizinnya, aku menarik kacamata yang menggantung di hidungnya itu. Haku
langsung mengerutkan kening dan menyipitkan mata. Oh, dia terlihat... Aneh? Apa
karena aku sudah terbiasa melihatnya dengan kacamata?
“Rin..
Sudah belum?”, tanya Haku mulai tak nyaman melihat dengan pandangan buram.
“Mulai
saat ini, kau harus latihan pakai lensa kontak..”, ujarku tegas.
“Eh?
Kenapa tiba-tiba?”, nada suaranya terdengar heran.
“Pokoknya
harus dibiasakan.. Supaya minusmu tidak bertambah.. Mengerti?”
“T-tapi..
Aku takut pakai lensa kontak..”
“Nanti
akan kuajari.. Kalau memasangnya dengan hati-hati, tak ada yang perlu kau
cemaskan..”
“H-hai,
wakarimasu..”, akhirnya Haku menyetujui tawaranku.
Di
rumah ini, aku dan Haku tinggal bersama. Kami bukan saudara, tidak ada hubungan
darah sama sekali. Bagaimana ya? Hubungan kami cukup rumit untuk dijelaskan.
Dan aku tidak ingin membicarakan masalah ini. Pokoknya aku sudah menganggap
Haku sebagai adikku sendiri. Aku lebih tua sebulan darinya dan aku rasa aku
lebih dewasa darinya. Meski terkadang Haku jauh lebih bijaksana dan tenang dari
diriku.
$$$$$
*Japan, Tokyo, Kaijou High School
‘Brak!’
Aku
khawatir pintu ruang klub akan cepat rusak jika terus dibuka dengan keras
seperti itu.
“Yuta!
Ada kabar baik!”, Takuya menghampiriku dengan wajah berseri.
“Apa?”,
tanyaku sambil menata bantal sofa yang berserakan dimana-mana. Terimakasih
Johnny, kau berhasil memperindah ruang klub ini dengan ulahmu.
“Kita
bisa ikut eventnya!”
“Event
apa yang kau bicarakan?”
Takuya
menyeringai sambil membentang sebuah formulir pendaftaran kearahku. “Event
ini!!”, teriaknya bangga.
“Kontes
kreasi murid SMA se-Jepang?”, bacaku.
“Benar!
Event ini hanya diadakan dua tahun sekali.. Kaijou belum pernah berhasil meraih
juara satu sebelumnya..”
“Heeee..
Kita benar layak untuk ikut event bergengsi seperti itu?”
“Kenapa
kau jadi pesimis? Tentu saja layak! Selama ini kalian sudah mendapat berapa
tropi, ha?”
“Tapi
itu kontes kreasi, Takuya.. Bukan kontes band rock..”, sahutku kalem.
“Ckckckckck,
kau ini seperti baru masuk ke Kaijou saja.. Ketua OSIS sudah mengurus semua..”
Aku
langsung melebarkan mata. “Kau menyerahkan kelangsungan hidup kami ke tangan
ketua OSIS itu?!”, tanyaku tak percaya.
“Lho?
Kau terdengar tak setuju?”
“Ya
tidaklah! Dia itu menyeramkan! Dia bisa mengapa-apakan kita!”
“Heee?
Mengapa-apakan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”, Takuya menatapku dengan
senyum bodohnya.
“Dia
bisa menyuruh kita untuk pakai rok! Dia bisa memerintahkan kita untuk menyanyi
lagu teletubbies!”, aku heboh di ruang band.
“Ano..
Yuta-kun.. Pikiranmu terlalu liar..”, gumam Takuya tapi aku tak peduli. “Kau
tidak perlu cemas begitu.. Takamura-san sudah mengatur semuanya dengan baik..
Kau pasti akan suka dengan idenya itu..”.
“Jelaskan
padaku, apa idenya?”, aku melipat kedua tangan.
“Jadi..
Nanti kita akan-“
‘Brak!’
Oh
shit, pintu itu benar-benar akan rusak dengan cepat.
“Ohayou,
minna-san~”, sapa Ten masuk dengan derap langkah cerianya.
“Ohayou
gozaimasu..”, Jae masuk membungkukkan badan singkat dengan kalem.
“Yo!”,
Johnny menyapa sambil memukul-mukul pelan tas yang ia pakai di depan dadanya.
“Ohayou..”,
Sol yang terakhir masuk menutup pintu.
“Seperti
biasa, Yuta-senpai selalu datang paling pagi ya!”, Ten berdiri di depanku
dengan senyum lebar. Anak ini kelebihan asupan nutrisi atau apa?
“Wah,
ruangannya sudah rapi.. Yuta, kakkoi!”, Johnny memuji pekerjaanku.
“Jangan
tinggalkan ruang klub dalam keadaan berantakan, Johnny!!”, omelku menunjuknya
geram.
“Hai
hai, wakatta.. Kemarin aku kehilangan stick drumku.. Ternyata mereka di selipan
celana dalam bagian belakangku! Hahahaha..”, Johnny, kau tidak perlu bangga
dengan situasimu itu.
“Hei,
Yuta.. Pipimu agak bengkak.. Kenapa?”, Sol, anggota yang paling peduli dengan
kondisi fisik teman-temannya akhirnya menyadari ada yang aneh pada wajahku.
“Aku
jatuh kemarin.. Terpeleset..”, jawabku pendek tak ingin memperpanjang dusta.
Sol
mengerutkan kening tak percaya. Ia lalu melihat Jae yang sudah cekikikan
daritadi.
“Hayashi
Hakuro-san..”, ujar Jae singkat menandakan kalau aku ‘dikalahkan’ lagi oleh
perempuan itu.
“Oh..”,
Sol lalu meletakkan tas tak mempedulikanku.
“Hei,
Takuya.. Apa itu?”, Johnny akhirnya menyadari benda asing yang dibawa Takuya.
Meski itu hanya selembar kertas.
“Ini
formulir pendaftaran event dua tahun sekali yang kuperjuangkan itu..”, jawab
Takuya.
“Eh?!
Kita berhasil masuk?”, Ten langsung menaikkan alis dengan senang.
“Tentu
saja kita masuk.. Tapi kita tidak akan tampil sebagai band di kontesnya..”
“Hah???”
“Kita
akan mengikuti kontes kreasi antar SMA se-Jepang.. Karena itu, akan ada
kolaborasi yang sudah dirancang oleh OSIS..”, jelas Takuya.
“Apa?
Mereka akan mengolaborasikan semua klub?”, tanya Sol.
“Tidak,
hanya yang terpilih saja..”
“Bagaimana
mereka memilihnya? Apa syarat supaya bisa diterima?”, Johnny sok serius.
“Kalian
yang tentukan..”, Takuya menjawab dengan senyum di wajahnya.
Aku
menghela nafas sedangkan yang lain mengambil nafas cepat. Ya, mereka kaget.
Pasti mereka tidak akan terima dengan hal ini. Selama ini kami belum pernah
berkolaborasi dengan siapa pun. Tidak akan mudah membujuk klub band. Aku
tersenyum tipis memikirkan ini.
“Asyik!!!!!
Kita bisa jadi juri berarti?!”, Ten berteriak semangat.
Apa?
Eh? Aku.. Tidak salah dengar kan?
“Tentu
saja! Klub band adalah kepala konseptornya.. Jadi kalian juga yang akan
melakukan casting itu..”, jelas Takuya.
“Wohoo!!”,
Sol dan Ten berhigh-five ria.
Aku
tertegun. Mereka ternyata gampangan. Sama sepertiku, gampangan. O.O
“Kapan
kita bisa mulai perekrutannya?”, tanya Jae.
“Hari
ini Takamura-san akan survei ruang klub.. Katanya dia sudah punya konsep yang akan
dibicarakan dengan kalian.. Jadi nanti jangan pulang lebih awal..”
“Siap
lah!”, Johnny menyetujui sambil memukul drum dengan tangan kosong.
“Hmm..
Jadi dana OSIS digunakan untuk event ini?”, Jae menyadari sesuatu. Anak itu
memang jenius. Aku iri. Dia makannya apa?
“Benar..
Fee pendaftaran event ini cukup tinggi.. Ditambah biaya sarana prasarana untuk
para peserta dari Kaijou, jadi OSIS berusaha untuk menghemat dana yang
dikeluarkan dari kemarin..”, jelas Takuya.
“Ya
sudahlah, bagus kalau begitu! Kita tinggal melaksanakan saja kan yang
penting?”, Sol menyimpulkan tak ingin berpikir lebih ribet.
Takuya
mengangguk-angguk. Hah...... kolaborasi ya? Apa yang akan Takamura Rin lakukan?
$$$$$
Taeyong
sedang membersihkan kaca jendela dengan santai ketika Rin berhenti di ambang
pintu masuk ruang klub. Seperti biasa, pose paling nyaman untuk Rin adalah
melipat tangan menatap Taeyong yang sedang bekerja. Entah kenapa, depan,
belakang, samping, semua sudut, dan semua arah yang ia gunakan untuk melihat
Taeyong tak pernah membuatnya bosan.
Lihat
saja sekarang Taeyong sedang bekerja mendengarkan musik dengan earphone. Ia
tetap keren di mata Rin. Seragam yang tidak dipakai sesuai aturan, ikat rambut
polkadot yang menyatukan poninya. Ia masih tetap keren. Meski ikat polkadot itu
menggelikan.
“Taeyong-senpai..”,
Rin berjalan mendekat.
Taeyong
belum bisa mendengar suara Rin dengan volume segitu. Rin berjalan lebih dekat
sambil memanggil namanya lebih keras.
“Taeyong-senpai..!”,
ulangnya.
Tapi
Taeyong masih tak menyadari kehadiran Rin. Telinga anak ini bisa rusak kalau
terus mendengarkan musik dengan volume tinggi begitu. Ketika Rin berjalan
mendekat, samar-samar ia mendengar Taeyong bernyanyi sesuai dengan lagu yang ia
dengarkan.
“Cinta
satu malam oh indahnya...”
Rin
mengerutkan kening. Lagu apa yang sedang ia dengarkan itu? Bahasa planet mana?
Karena tak kuat mendengar gumaman tak jelas dari Taeyong, Rin memutuskan untuk
menepuk pundak pria itu agar menoleh.
“Oh,
Rin..”, sapa Taeyong melepas satu earphonenya.
“Lagu
apa sih yang kau dengarkan itu?”, tanyanya.
“Lagu
dangdut dari Indonesia..”
“Oh
ya? Apa artinya?”
“Yah
hanya tentang wanita yang menikmati seks satu malam bersama pria begitu...”,
jelas Taeyong menyimpan earphonenya di saku.
“Astaga..
Kau harus mengirimkan lagu itu ke ponselku juga..! Dasar, punya lagu bagus
tidak bagi-bagi..”, gerutu Rin.
“Ya
nanti aku akan kirimkan.. Sekarang apa yang kau lakukan disini pagi-pagi?”
“Aku
memintamu sebagai ketua klub menari untuk mengirimkan beberapa anggotamu ke
ruang band nanti..”
“Mau
diapakan?”, Taeyong bertanya curiga.
“Aku
akan melakukan seleksi disana.. Untuk kontes kreasi antar SMA se-Jepang itu..”
“Oh..
Baiklah, akan kusiapkan..”
“Terimakasih..”
Rin
hendak keluar dari ruang band jika Taeyong tak menghentikan langkah Rin.
“Matte..”,
ujar Taeyong menggenggam tangan Rin.
“Hn?
Nani?”, Rin menatap Taeyong heran.
“Masalah
Hayashi-san yang kau bicarakan semalam.......”
“Aku
akan tetap melakukannya..”
“Kau
yakin?”
“Tentu..
Memang hal buruk apa yang bisa terjadi?”
“Yuta..”,
jawab Taeyong.
Rin
sedikit menyatukan alis. Benar juga. Oh, kenapa pria itu tak ada di pikirannya
kemarin?
Sementara
itu, Hakuro sedang mengganti tanggal yang ada di papan tulis. Ia juga mengganti
air di vas bunga, menata meja guru, dan akhirnya duduk membaca buku yang ia
pinjam beberapa hari lalu dari perpustakaan.
“Selamat
pagi..”
Perlahan
satu persatu anak kelas 2-A mulai muncul memenuhi ruang kelas dengan cepat.
Hakuro diam tak tahu apa yang sudah menantinya. Rin.
$$$$$
“Hmmm..”
Ruang
band diselimuti oleh deheman yang tak kunjung selesai dari para anggotanya.
Wajah mereka serius dan beberapa ada yang sampai berkerut. Padahal mereka hanya
memikirkan berapa poin maksimal untuk seleksi nanti.
“Hei,
aku baru sadar..”, Sol angkat bicara.
“Apa?”,
tanya Ten.
“Kenapa
kita tidak memikirkan aspek-aspek yang dinilai saja? Kita malah berkutat pada
hal yang tidak penting..”
“Iya
ya..”, Johnny ikut tersadar.
“Sejak
kapan sih kita bicara hal penting?”, celetuk Jae.
“Benar
kata Jae..”, Yuta setuju dengan bangga.
“Hah..
Ya sudah, daripada membahas poin maksimal yang bisa diberikan, sekarang ayo
bahas aspek penilaiannya saja..”, ajak Ten membuka halaman baru.
“Menurutku
yang dinilai pertama itu adalah kreativitas..”, ujar Sol.
“Kalau
menurutku aspek paling penting adalah kerapian dan ketenangan..”, Jae menambahi
selagi Ten dengan giat mencatat semua usul dan ide dari teman-temannya.
“Menurutmu
bagaimana Yuta?”, tanya Johnny kehabisan bahan bakar untuk berpikir.
“Hhmmm..
Aspek yang dinilai.. Penampilan yang membawa kesegaran..”, jawab Yuta menatap
Johnny serius.
“Kesegaran
maksudmu?”, tanya Johnny mengambil kekasihnya, stick drum, dari dalam tas.
“Yang
tidak membosankan, inovatif, dan.... Membuat kita terus ketagihan!”
“Seperti
apa misalnya?”, tanya Johnny lagi kali ini sambil menggaruk betisnya yang gatal
dengan stick.
“Iklan
alat kontrasepsi..”
Tanpa
ragu Ten dan Sol langsung melempar bantal sofa ke muka Yuta.
“Itta!!
Ah, Ten! Sol!! Aku kan cuma bercanda!!”, Yuta sewot kena double hit.
“Tapi
ide Yuta-senpai bagus juga..”, Jae menengahi.
“Tuh
dengarkan!”, Yuta malah makin menjadi.
“Penampilan
inovatif, kreatif, dan tidak membosankan yang dibawakan dengan rapi, pasti akan
membuat penontonnya ketagihan..”, jelas Jae.
“Ide
bagus Jae!”, puji Ten langsung mencatat semua kata-kata Jae dengan antusias.
“Itu
kan ideku juga..”, lirih Yuta.
“Ngomong-ngomong..
Kalau seleksi ini diadakan secara terbuka, berarti semua orang bisa ikut ya?”,
tanya Johnny setelah asyik bermain dengan bulu kakinya yang tercabut tadi.
“Ya
tentulah.. Namanya juga terbuka..”, Sol menanggapi.
“Berarti
orang jelek juga bisa ikut? Syukurlah..”
“Hah?
Kau ini bicara apa?”, Ten merasa bingung.
“Kalau
orang jelek ikut, poin pada aspek penampilan sudah minus duluan!”, kata Yuta.
“Tapi
kan kita tidak menilai pada aspek penampilan fisik..”, Ten membaca aspek-aspek
yang sudah ia tuliskan.
“Hmm..
Ditambahkan saja..”, Sol meminta.
“Eh?”,
Ten agak kaget.
“Ditambahkan
juga tidak masalah sih.. Kenyataannya, kalau penampilan fisik tidak menarik
juga akan mempengaruhi penilaian penonton bukan?”, Jae ikut setuju.
“Benar
nih? Aku cantumkan ya berarti..”, Ten menuliskan aspek baru.
“Sudah
selesai kan? Sekarang ayo siapkan ruangan ini untuk menjadi ruang seleksi!”,
ajak Johnny semangat.
$$$$$
“Haku..”
Aku
yang saat itu sedang membaca, mendengar sebuah suara memanggil. Ketika
menolehkan kepala, ternyata Rin ada di ambang pintu dengan senyum hangatnya.
Aku membalas senyuman Rin lalu mengangguk.
Ya.
Sudah waktunya untuk mengikuti kemana Rin mengajakku. Aku sudah setuju akan
membantunya kemarin. Lagipula ini juga demi Kaijou. Hah, bisa memberikan
kontribusi secara langsung untuk Kaijou selalu membuatku deg-degan!
“Dadamu
sakit?”, tanya Rin.
“I-iie..”,
jawabku.
“Kenapa
kau remas begitu?”
“Aku
hanya merasa senang..”
“Karena
akhirnya bisa menyanyi?”
“Tidak..
Aku merasa senang bisa membantumu dan Kaijou..”
“Astaga,
Haku..”, Rin memegang kedua pundakku.
“Eh?”
“Kau
harus mengubah sikap lembutmu itu.. Kau terlalu lembut dan terkesan lemah!
Pantas saja para siswa dan siswi sering mengolok dan menindasmu..”, ujar Rin
kesal.
“Tapi
mereka bilang hanya bercanda..”
“Bercanda
mereka tidak lucu! Dan kau itu bukan badut yang bisa dijadikan bahan candaan!”
“Paling
tidak mereka bisa terhibur kan?”
“Ouh!!
Pokoknya kau harus berubah! Tidak boleh terlalu lembek begitu! Mengerti?”
Aku
mengangguk ragu. Dari dulu Rin selalu berdiri di depanku. Dia tidak akan segan
melibas semua orang yang berani macam-macam dengan kami. Dia seperti kakakku.
Aku suka Rin! Dia selalu membuatku senang dan tenang.
“Ano
ne, Rin..”, panggilku.
“Hn?”
“Arigatou..”
Rin
terdiam menatapku. Hanya dalam hitungan detik ia kemudian tersenyum lalu
memelukku.
“Dengar,
Haku.. Apapun yang terjadi di rumah.. Apapun keputusan papa.. Kau adalah
saudaraku.. Aku tidak akan meninggalkanmu..”
Ah,
iya. Sesaat aku lupa kalau kita hanya saudara tiri. Ibuku menikah dengan ayah
Rin di akhir masa SD kami. Aku pikir Rin tidak akan suka padaku. Kupikir dia
akan menindasku seperti teman-teman lain. Tapi tidak. Rin justru menggenggam
tanganku, membantuku berdiri, dan mengusir semua pembully itu. Dia adalah orang
pertama yang mengakui keberadaanku di keluarga Takamura.
“Ano...
Apakah aku harus berdandan seperti ini?”, tanyaku ketika Rin memoles wajahku.
“Tentu
saja.. Jurinya adalah anggota klub band.. Kau tahu kan mereka? Hanya kumpulan
orang mesum yang jorok.. Kalau kau tidak merias diri, kau bisa gagal..”, jelas
Rin.
Aku
berdehem setuju. Memang tidak bisa disangkal sih kebenaran itu. Para anggota
klub band kan memang pria-pria yang terkenal suka main wanita.
“Kau
sudah siap dengan lagunya kan?”, tanya Rin mengambil blush on di kotak rias.
“Ng!
Sudah! Ngomong-ngomong, Rin.. Sejak kapan kau punya kotak rias sendiri?”,
tanyaku sukses membuat Rin tersipu malu.
“I-ini..
Ini milik OSIS kok!”, jawabnya tergagap ragu.
“Heeee..
Tapi disitu tertera nama Takamura Rin sayangku cintaku kasihku..”
“Ugh!
Ini hadiah dari Taeyong-senpai.. Aku sudah berusaha untuk menghapus tulisan
nama yang berlebihan itu, tapi tak bisa hilang..”
“Hahaha,
jangan dihapus.. Taeyong-senpai bisa sedih..”
“Ck,
pria itu selalu saja membuatku malu.. Huh!”, Rin mengomel meski wajahnya sudah
sangat merah. Oh dia pasti sangat mencintai Taeyong-senpai.
“Aku
selalu bingung jika memikirkan hal ini..”, celetukku.
“Nani
ga?”, tanya Rin bermain dengan rambutku.
“Kenapa
kau mau pacaran dengan Taeyong-senpai? Bukankah dia sangat jauh dari tipe
idealmu?”
“Hah..
Ceritanya panjang..”
“Aku
tidak lelah untuk mendengarkan kok..”
Rin
terdiam menimbang-nimbang. Ia selalu bermain dengan bibir bawahnya kalau sedang
bergelut dengan keputusan. Sungguh kebiasaan yang lucu.
“Nanti
kalau kau sudah siap, aku akan ceritakan.. Tidak sekarang..”
“Heeeeeeee..”,
sebisa mungkin aku harus terdengar kecewa.
“Fufufufufu,
jangan begitu.. Semua pasti akan tiba waktunya.. Aku akan cerita semua tanpa
kecuali padamu.. Tapi nanti kalau kau sudah cukup dewasa..”
“Tidak
adil.. Apa bedanya sekarang dan nanti? Aku kan juga sudah dewasa sepertimu..
Kita seumuran lho..”
“Ck,
kalau kau sudah berciuman saja deh..”, kata Rin sedikit menantang.
“Eh?!”
“Aku
akan cerita kalau Haku sudah pernah ciuman dan mengerti seks..”
“Eh?!”
“Oh!
Sebelum itu, kau harus percaya diri dengan dadamu yang besar itu!”
“Eh?!”
“Hahahaha,
Haku memang masih terlalu lugu dan polos ya!”
“T-tidak
kok! Aku PD dengan tubuhku!”
“Iya
iya, aku tahu.. Tapi tidak semua orang tahu.. Makanya kau harus menunjukkan
ke-PD-anmu itu nanti ya..!”
“H-hai..”
Aku
mengangguk mengiyakan. Rin kembali tersenyum. Sampai detik ini, senyum Rin itu
tidak pernah berubah padaku. Wajah Rin juga sangat mirip dengan almarhum
ibunya, bibi Takamura. Sangat cantik dan menenangkan. Aku tidak tahu kenapa
para murid takut dan menganggap Rin itu monster. Hhmm.
$$$$$
Semua
persiapan sudah selesai. Saatnya untuk memulai seleksi. Lima juri utama sudah
duduk di belakang meja dengan aktivitas mereka masing-masing. Rin juga ada di
belakang para juri. Ia mengamati sebagai evaluator disitu.
“Panggilkan
peserta pertama..”, pinta Sol setengah berteriak ke pintu.
Tak
ada jawaban. Sol berdecak lalu mengulangi kalimatnya. Namun masih tak ada
jawaban. Rin akhirnya berdehem.
“Tidak
ada petugas yang berjaga di pintu, Sol-senpai.. Jadi kalian harus memanggil
peserta sendiri”, jelas Rin.
“Apa?!!
Ck, merepotkan..”, Sol melirik Johnny yang duduk di sebelahnya.
Johnny
sengaja tak menanggapi lirikan Sol. Ia tahu pasti Sol memberi kode untuk
memanggil peserta pertama. Malas sekali jika harus beranjak dari kursi yang
sudah nyaman ini.
Karena
Johnny hanya mematung dengan bodoh, Sol akhirnya menatap Ten yang duduk di
tengah. Oh, Ten tentu tidak bisa menolak. Sol adalah seniornya. Tapi tenang.
Ten masih punya kouhai manis yang duduk di sebelahnya. Jae.
Jae,
pria punya nyali, berani menyalurkan lirikan Sol dan Ten ke Yuta yang duduk di
paling ujung. Hello! Jae kau masih kelas satu dan kau menyuruh kakak kelas tiga
yang memanggil peserta pertama di balik pintu nan jauh disana?
“Kenapa
aku?”, protes Yuta menunjuk dirinya pilu.
“Alah,
kan biasanya juga senpai yang membukakan pintu jika ada tamu datang ke ruang
klub.. Anggap saja sekarang tamunya banyak..”, Ten mencibir.
“Dasar
kouhai kurang ajar..”, gerundel Yuta bangkit berdiri.
Meski
menolak, tapi tubuh Yuta selalu melakukan dengan rela apa yang diminta.
“Eh,
tunggu!”, cegah Rin.
“Apa?”,
tanya Yuta sudah memegang gagang pintu.
“Kau
duduk saja.. Biar aku yang disana..”, Rin memberesi barangnya dan mengambil
tempat duduk di dekat pintu.
“Kau
yakin?”, tanya Yuta tak percaya.
“Ya..
Lagipula lebih mudah juga untukku mengevaluasi darisini.. Sekalian jadi petugas
pemanggil peserta..”
Yuta
mengangguk-angguk mengerti lalu kembali duduk. Rin menghela nafas. Hampir saja.
Kalau Yuta yang memanggil peserta, bisa heboh dia. Spoiler is no!
“Baiklah,
peserta pertama..”, Rin mempersilakan peserta pertama untuk masuk.
Lee
Taeyong. Kelas 3-B. Ketua klub menari. Pria itu masuk dengan sebuah topi
terpasang menutupi setengah wajahnya. Taeyong masih pakai seragam dan akan
menari dengan style itu. Ketika ia hendak memasang lagu yang sudah disiapkan,
Yuta angkat bicara.
“Chotto
matte!”, selanya.
“Hai?”,
Taeyong menaikkan alis bingung.
“Kau,
Lee Taeyong.. Diterima!”, lanjut Yuta mengecap formulir Yuta dengan cap ‘accepted’.
Semua
mata langsung terarah ke Yuta dalam sedetik.
“Kenapa
langsung diterima? Dia bahkan belum memutar lagunya! Dia belum menampilkan
kreasinya!”, Sol yang duduk di ujung satunya mengomel.
“Aduh,
kalian ini buang-buang waktu saja.. Kita sudah tahu kemampuan Taeyong.. Untuk
apa melihatnya?”, Yuta menjawab santai.
“Ya
benar juga sih..”, sahut Johnny menusuk-nusuk pipinya dengan pena.
“Oke,
peserta kedua..”, Ten membalik halaman baru.
“Kalian
sungguh menerimaku begitu saja?”, Taeyong masih tercengang.
“Iya,
sudah jangan menangis terharu disini..”, Yuta mengusir Taeyong dengan gestur
tangan menyapu.
“Selamat
ya, senpai!”, Jae mengucapkan selamat dengan senyuman.
Taeyong
menatap Rin sambil berjalan ragu menuju pintu keluar. Mudah sekali. Rin menghela
nafas. Ia tidak bisa mengoceh disana. Sudah menjadi keputusan Rin untuk
menjadikan klub band jurinya. Percaya sajalah dengan mereka. Lagipula mereka
kan murid berprestasi yang sudah menyumbang banyak untuk Kaijou juga.
“Peserta
kedua..”
Sepasang
laki-laki dan perempuan masuk dengan dandanan meriah. Pasangan dari kelas satu.
Mereka sudah menari tango sejak SD. Dan.. menarilah kedua orang itu.
“Heee,
keren..”, Sol mengamati dengan senyum mengembang.
Sol
adalah juri paling senang dengan tarian tango saat ini. Ten dan Jae adalah juri
paling serius saat ini. Johnny dan Yuta adalah juri paling tidak bisa
diharapkan saat ini. Lihat saja kelakuan kedua murid kelas tiga yang tak pernah
dewasa disitu. Johnny, dengan asyiknya melipat-lipat kertas nilai menjadi
origami bunga. Sedang Yuta, oh dia memang jorok dari akar-akar otaknya. Dia
berkreasi dengan tulisan yang ada di kertas. Menghubungkan goresan kanji yang
ada, menjadi sebuah gambar payudara. What a great picture.
“Khekhekhekhe..”,
Yuta terkekeh disitu.
Jae
dan Ten hanya bisa menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa
mereka punya ketua klub yang begitu blak-blakan?
Peserta
demi peserta silih berganti keluar-masuk ruang klub band. Ada yang memang
berbakat, ada yang konyol, ada yang mengisi waktu luang, ada yang menarik, dan
ada yang membuat telinga sakit.
“Peserta
selanjutnya..”, panggil Rin sambil mempersiapkan halaman baru untuk catatannya.
Akhirnya
gilirannya telah tiba. Akhirnya datang juga kejutan kecil yang sudah disiapkan
Rin. Akhirnya dia masuk. Akhirnya dia..
‘Bruk!’
Ahk.
Dia jatuh.
$$$$$
Ketika
Rin memanggil peserta selanjutnya, aku hampir mati. Aku sudah lelah menilai
semua peserta ini! Aku butuh bola! Aku harus maraton! Aku stres disini! Oh,
tidak. Aku mulai membayangkan lapangan sepakbola ada di depan mataku.
‘Bruk!!’
Suara
itu cukup keras untuk membuyarkan lapangan sepak bola yang kupikirkan. Astaga!
Itu pasti sangat sakit! Peserta itu jatuh terjerembab dengan sangat keras. Hei,
tunggu dulu. Itu kan..
“Haaahhggg..!!”,
aku melahap angin dengan mata membulat.
Dada
besar!
“Ah,
ittai..”, rintihnya.
“Daijoubu?”,
tanya Sol membantunya berdiri. Tunggu! Sejak kapan Sol berjalan menghampirinya?
“Hai,
daijoubu desu.. Arigatou..”, jawab Hayashi terlihat tak baik-baik saja.
“Wah..
Ternyata kau punya wajah yang cantik juga.. Ini kali pertama aku melihat
wajahmu dari dekat..”, ujar Sol.
“Eh?
Ano.. Arigatou..?”, Hayashi ragu akan responnya sendiri.
“Hayashi-senpai
cantik juga kalau di make-up.. Benarkan?”, Jae bertanya pada Ten.
“Sou
sou.. Kireii..”, jawab Ten menyangga dagu dengan memasang senyum lebar.
Cantik
apanya sih? Aku menatap keempat temanku heran. Mereka terpesona oleh sosok
Hayashi! Oh, baik kuakui dia sedikit cantik dengan polesan make-up. Model
rambutnya juga beda dari biasanya. Ia menggerai setengah rambut bagian bawah
kemudian mengepang rambut bagian atas. Apanya yang menarik? Kacamatanya itu.
Kacamatanya sungguh mengganggu! Secara keseluruhan, yang menarik hanya bagian
dadanya. Aku beri nilai penuh untuk aspek dada.
“Apa
yang akan kau tampilkan, Hayashi-senpai?”, tanya Jae.
“Etto..
Aku.. Akan...”, Hayashi membenarkan letak kacamatanya dengan gugup.
“Tidak
apa.. Kau bisa mengambil waktu untuk menenangkan diri terlebih dulu..”, ujar
Johnny berubah jadi Johnny gentle.
Helloooooo..
Ini sudah siang. Aku lapar. Aku bosan. Aku mau main. Tidak ada waktu lebih
untuknya! Kalian sungguh tidak adil. Ck.
“Nah,
apakah kau sudah siap menampilkan apa yang sudah kau siapkan?”, tanya Ten
ramah.
“Emmm..”,
Hayashi meremas tepi seragamnya. Dia pasti sangat takut.
Aku
dapat melihat Hayashi menoleh ke Rin. Aku juga melihat Rin memberikan senyum
disana.
“Aku
akan menyanyi..”, lanjut Hayashi dengan suara pelan.
“Apa?”,
tanya Sol.
“Menyanyi,
Sol..”, ujarku.
“Ohhh..
Gomen gomen.. Duduk terlalu lama di dekat speaker membuat pendengaranku sedikit
kacau..”, ia beralasan. Hah!
“Baiklah,
lagu apa?”, tanya Johnny masih dirasuki oleh roh gentle.
“Yui-san
no taiyou no uta..”
“Wah,
hebat..! Coba tunjukkan pada kami..”, pinta Jae.
Itu
lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita bernama Yui. Lagu matahari, pilihan
lagu yang bagus. Kita lihat apakah Hayashi punya kemampuan lain selain dada
besar.
Ia
menundukkan kepala memejamkan mata. Menghembuskan nafas menenangkan hati. Satu
hal yang membuatku terkejut adalah.. Hayashi melepas kacamatanya.
Aku
dan teman-teman sedikit menegang ketika melihat tatapan mata Hayashi menatap
kami tanpa halangan kacamata. Ia menarik nafas dan mulai menyanyi.
Suaranya
jernih. Beda sekali dengan suaranya saat berbicara. Ia dapat bernyanyi tanpa
keraguan. Telingaku serasa dimanjakan dengan suaranya yang lembut tapi juga
berat. Ini... Tidak salah lagi. Hayashi punya bibit suara rock!
$$$$$
“Lalalala
goodbye days..”
Hakuro
mengakhiri nyanyiannya. Semuanya terdiam menatap Hakuro tanpa ada yang bergerak
sama sekali. Bahkan Rin sekalipun. Suasana musim semi seakan hilang begitu saja
ketika Hakuro memasang kacamata besarnya lagi.
“Ah
tidak!!! Dame (jangan)!! Kembalikan Hakuro ku!!!”, teriak Yuta heboh.
“Yang
tadi itu benar dia?”, bisik Johnny.
“Rasanya
beda sekali ya..”, bisik Sol membalas Johnny.
“Subarashii..
Kau punya suara yang bagus, Hayashi-senpai..”, puji Jae sambil tepuk tangan.
“Terimakasih
atas partisipasinya, Hayashi-san..”, ujar Ten.
Hakuro
lalu membungkuk memberi salam. Setelah itu ia keluar ruangan.
“Uhuhuhuhu..”,
Yuta menangis kelabu.
“Kenapa,
senpai?”, tanya Jae.
“Haku-chan
ku.. Dia lenyap... Hwaaaaa!!!!”
“Kau
ini ada-ada saja.. Tumben kau tidak membicarakan dadanya..”, sindir Ten.
“Aku
terlalu sibuk menikmati suara dan wajah polosnya tanpa kacamata.. Jadi tidak
sempat lihat kacamata yang di dada..”, jawab Yuta jujur.
‘pletak!!’
“Aduh!!’,
rintih Yuta ketika Rin memukulnya dengan meja jalan.
“Jangan
ngomong sembarangan tentang Haku!”, kata Rin tegas.
“Setelah
ini apa yang akan kau lakukan pada para peserta terpilih?”, tanya Sol.
“Akan
kujelaskan konsepnya ke kalian.. Jadi dengarkan baik-baik..”, ujar Rin.
Semua
langsung bersiap pada posisi mendengarkan. Rin menghela nafas lalu melipat
tangan.
“Buat
dua tim berbeda.. Aku serahkan pembagiannya ke kalian.. Tampilkan apapun sesuai
keputusan kelompok masing-masing.. Ingat, kalian tampil dalam jumlah besar,
jadi gunakan kuantitas itu untuk berkreasi sebaik mungkin..”, jelasnya.
“Hmm..
Lalu apa yang bisa kami tampilkan? Apakah ada syarat dan ketentuan tertentu?”,
tanya Jae.
“Tidak
ada.. Durasi maksimal sepuluh menit.. Kalau bisa kedua tim jangan menampilkan
suasana yang hampir sama.. Kalau berbeda akan memperbesar peluang untuk
menang..”
“Yoshaaa!
Ayo kita lakukan ini!”, Yuta mengepalkan tangan semangat.
“Hah..
Aku serahkan konsep ini kepada kalian.. Dan Nakamoto-senpai!!”, bentak Rin.
“Eh?
Hai?”, Yuta gugup.
“Jangan
apa-apakan, Haku! Mengerti!?”
“I-iya..”
“Oh
ya.. Satu lagi.. Kalau kalian mau menampilkan nyanyian atau musik, syaratnya
adalah lagu kreasi buatan sendiri..”
“Lagu
sendiri? Maksudnya dari pembuatan lirik sampai mengompos lagunya kami sendiri
yang buat?”, tanya Ten.
“Sou..”
“Wah!
Ini pasti akan sangat seru!!”, Ten terlihat tak sabar.
“Nah,
Yuta.. Lebih baik kau siapkan lirik untuk kami buatkan nadanya..”, pinta
Johnny.
“Kok
aku?”
“Bukannya
senpai sering mengarang lirik?”, kali ini Jae yang bertanya.
“Y-ya
memang.. Tapi aku sedang penat.. Tidak ada lirik yang melintas..”, jawab Yuta
sedih.
“Jangan
khawatir.. Aku akan menyuruh Haku untuk membantumu..”, celetuk Rin.
“Kenapa
dia?!”
“Lho?
Kenapa memangnya? Kau meremehkan kemampuan Haku? Dia bisa membuat lirik lagu
yang sangat bagus!”
“Aku
buat sendiri saja!”
“Terserah
deh.. Nanti kalau butuh bantuan, jangan langsung ke Haku!! Minta ke aku dulu!”
“Kau
was-was sekali sih denganku!? Aku tidak akan berbuat hal aneh ke dia!”
“Kau
temannya Taeyong! Patut dicurigai!!”
“Apa?!”
Keempat
teman Yuta mengangguk menyetujui pernyataan Rin. Mereka akui kalau Rin seratus
persen benar. Yuta memang berbahaya kalau sedang tidak sadar. Sialnya, dia
lebih sering tidak sadar ketimbang sadar.
“Tenang,
Takamura.. Nanti kalau Yuta kesulitan dan akan minta bantuan Hayashi, kami akan
mengikatnya lebih dulu..”, Johnny tersenyum penuh arti menatap Yuta.
“Yang
benar saja!”
$$$$$
Fiuh,
deg-degannya sudah agak hilang. Aku kembali membersihkan wajahku dari make-up.
Melepas ikatan rambut yang ditata Rinkemudian mengikatnya lagi seperti tatanan
rambutku biasanya. Single braid, kepang satu.
“Apa
aku benar terlihat aneh kalau pakai kacamata? Tapi kalau kulepas nanti aku
buta.. Tidak bisa lihat apa-apa..”, rengekku di depan kaca kamar mandi wanita.
Aku
harap mereka menerimaku. Aku berjanji akan berusaha dan melakukan yang terbaik!
Yosh, ganbare Hayashi Hakuro!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar