Senin, 22 Februari 2016

CARAMEL POPPORN STORY


Fifth Bite

*Japan, Tokyo, Kaijou High School
Aku menggigit bibir bawahku. Kakiku bergoyang-goyang tak tenang. Siang ini meski langitnya cerah, entah kenapa rasanya aku tidak senang. Bukan, mungkin aku hanya sedang gugup.

“Yuta, kau kenapa? Seperti menunggu giliran untuk disunat saja..”, celetuk Johnny yang memperhatikanku.
“Duh, aku gugup nih..”, jawabku.
“Gugup kenapa?”, kali ini Sol yang peduli padaku.
“Kalau aku tanya ke Hayashi ukuran cup branya apa.... Akan bagaimana ya?”, tanyaku.

Seketika ruang band membeku. Tak ada yang bergerak, waktu serasa berhenti dan hanya aku yang tidak berhenti. Johnny, Sol, Ten, dan Jae, mereka semua menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata.

“K-kalian.. Kenapa, teman-teman..?”, tanyaku agak takut.

Johnny bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiriku dan duduk di sebelah kananku dengan tenang. Ia mengambil ponselnya, menunjukkan sebuah gambar padaku.

“Yang ini cup A.. Ini cup B.. Ini C.. Dan ini D..”, jelasnya serius.
“Kenapa kau menunjukkan ini, Johnny?”, tanyaku heran.
“Kau bertanya pada Hayashi ukuran branya, pasti kau mau memberinya hadiah bra kan?”
“Hebat..! Kau tahu darimana?”, aku takjub Johnny bisa menebak apa yang akan kulakukan.
“Ck, kau itu temanku, tentu aku tahu lah..”, ia menjawab dengan bangga.

Sol, Ten, dan Jae menatap kami dengan tatapan, er, tak bisa dijelaskan. Mereka sampai tak bisa melanjutkan bermain alat musik gegara pernyataanku tadi.

“Senpai.. Aku tak percaya kau adalah orang yang seperti itu..”, akhirnya Ten bersuara.
“Orang seperti itu maksudmu?”, aku kembali heran.

Ia menghela nafas lalu bangkit berdiri menghampiriku. Aku menatapnya dengan bingung. Apa yang akan anak ini lakukan pada diriku yang imut? Cih, jijik.

“Kau so sweet sekali..”, lanjutnya mengacungkan jempol.
“Benarkah?”, aku tak menyangka akhirnya dapat pengakuan dari kouhai manis  bermulut tajam ini.
“Kalau senpai mau beli kado bra untuk Hayashi, kau harus memilih yang pas untuknya.. Akan kubantu..”, ia menawarkan diri sambil duduk di sebelah kiriku.
“Kau tahu hal beginian, Ten?”
“Tentu saja.. Tiap wanita punya selera yang berbeda dalam memilih desain bra.. Ada yang suka desain ribet penuh tali, ada yang sukanya yang simpel saja.. Seperti ini nih..”, Ten menunjukkan sebuah gambar bra simpel mudah pakai di layar ponselnya.
“Wah.. Ini pengetahuan baru untukku.. Sangat membantu!”, dengan senang aku berterimakasih pada Johnny dan Ten.

“Senpai..”, panggil Jae memutuskan untuk mengakhiri kondisi bekunya.

Aku menoleh melihat Jae yang sudah berjalan ke arahku.

“Kau tidak boleh menanyakan hal itu ke perempuan..”, katanya.
“Eh, kenapa?”
“Itu tidak sopan..Kau bisa digampar lagi oleh Hayashi-senpai..”, jelasnya kalem.
“Lalu bagaimana aku bisa tahu ukuran branya?”
“Ada satu cara.. Hmm..”
“Apa, Jae?”, tanyaku serius.
“Sentuh sendiri dengan tanganmu..”

“EH?!!”

Jae menatapku tajam dengan ekspresi wajah benar-benar serius. Ia tidak main-main. Bercanda memang bukan tipe Jae, berarti dia seriusan mengatakan hal itu.

“Me-menyentuhnya.. Sendiri?”, tanyaku ragu.
“Sou.. Kau harus teliti ketika menyentuhnya..”, jelas Jae masih serius.
“Benar kata Jae.. Kalau kau mau tahu ukuran branya Hayashi, kau harus teliti menentukan apakah dia cup C atau D..”, timpal Johnny.
“T-tapi.. Aku belum pernah mengerti ukuran-ukuran cup bra.. Aku pernah mencoba mengukurnya dengan tanganku..”, jawabku.

Sol menghela nafas dengan sangat panjang. Apa dia lelah? Atau kurang tidur? Eh, jangan-jangan dia kesal dengan kami?

“Kalian ini.. Dasar..”, katanya geleng-geleng kepala. “Bisa-bisanya membicarakan hal seperti itu..”, ujarnya lagi bangkit berdiri mengambil tasnya.
“Sol.. Kau mau kemana?”, tanya Johnny.
“Kalau kalian membicarakan bra tanpa praktek, tidak akan menghasilkan apa-apa..”, jawabnya.
“Praktek..? Masa kami harus memegang semua dada wanita?”, tanya Ten.
“Baka, tentu tidak.. Pakai alternatif lain sebelum memegang yang asli..”, jawab Sol.
“Apa alternatifnya?”, kali ini Jae yang tanya.

Sol menggali tasnya. Ia tersenyum ketika sudah menemukan barang yang ia cari. Balon..?


$$$$$


Taeyong berjalan menuju ke ruang klub band. Ia dan Yuta sudah janjian akan bertemu sebelum menghadiri pertemuan para peserta nanti. Barusaja akan membuka pintu, ia mendengar kata-kata asyik yang menggairahkan nafsu.

“Kalau besarnya segini, berarti cup B.. Kalau sebesar ini, berarti D..”

Taeyong agak tersentak. Ia mengerutkan kening. Apa yang sedang orang-orang itu bicarakan? Cup.. B? D? Aaaa, cup bra maksud mereka? Taeyong ahli sekali kalau dalam hal seperti itu. Ia bisa langsung tahu apa topik yang dibicarakan.

“Permisi...”, sapa Taeyong menggeser pintu.

Apa yang ia lihat tak sesuai dengan gambarannya. Oh oke, Taeyong tahu kalau anak band sedang membicarakan bra wanita. Tapi tidak dengan pose seperti ini!
Kenapa tangan Yuta menangkup dua balon ukuran cup C yang diselipkan di balik baju bagian dada Sol?!
Kenapa Ten membuat bra ukuran cup B dari balon dengan sangat rapi?!
Kenapa Johnny membandingkan dua balon ukuran cup A?
Dan kenapa Jae, kouhai paling normal di klub band, ikut-ikutan senpainya?!

Tanpa berkata apa-apa, Taeyong menggeser pintu ruang klub untuk ditutup lagi secara perlahan.

“Taeyong kamu salah paham!!”, teriak Yuta.


$$$$$


“Hah..”

Entah sudah berapa kali Rin menghela nafasnya. Ia bahkan tak sadar kalau ia terus-terusan menghembuskan nafas seperti orang kehabisan oksigen begitu. Daritadi ia juga tidak bisa fokus dengan laporan rapat yang akan dipakai untuk pertemuan OSIS nanti. Hah. Benarkan, Rin kembali menghela nafas.

“Kau lelah?”, tanya Riko.
“Tidak.. Aku baik-baik saja..”, jawab Rin.
“Ma, mungkin hanya di mataku kau terlihat tidak baik-baik saja..”
“Aku benar-benar tidak bisa membohongi mata seorang pelatih basket sepertimu ya?”
“Tidak.. Oh ya, ketua.. Sebelum rapat dimulai, apakah kau bisa menyelesaikan dokumen-dokumen ini? Hanya sedikit jadi kurasa lebih baik sekarang daripada mengulur waktu pulangmu nanti..”
“Un, tidak masalah..”

Rin menerima beberapa dokumen untuk diperiksa. Memang tidak banyak seperti biasanya, tapi tetap saja setumpuk.

“Oh ya, aku ke kelas sebentar ya.. Ada hal yang harus kusampaikan ke Hyuuga-kun..”, pamit Riko.
“Sampaikan juga perasaanmu yang sebenarnya ke dia..”, kata Rin sambil memeriksa tiap lembar dokumen di hadapannya.
“Rin..!”, Riko memerah di ambang pintu.

Takamura Rin dan Rin. Satu orang yang sama tapi bukan orang yang bsia kau lakukan secara sama setiap saat. Ketika ia berdiri sebagai ketua OSIS, ia tidak akan segan pada siapapun, tapi ketika ia menjadi Rin, siswi kelas 2-B...

“Ini..”, gumam Rin melihat sebuah laporan kelas polisi.

Lee Taeyong. Hah, anak itu kembali masuk kesana. Apalagi sih yang dia perbuat? Ck.
Rin cepat-cepat membuka map kelas polisi. Ia mencari formulir Taeyong di dalam situ. Ketemu. Ia langsung membaca kertas itu untuk mengetahui apa yang sudah dilakukan kekasihnya hari ini.

Lee Taeyong, 3-B, dihukum oleh Namikawa Daisuke sensei. Alasan dihukum, terlambat masuk kelas. Jenis hukuman, membantu petugas perpustakaan menata buku. Perjanjian untuk tidak mengulangi, aku berjanji tidak akan bermalas-malasan dan berbohong lagi.

Rin menyandarkan punggungnya yang sempat menegang. Oh, apa sih yang ia harapkan? Tulisan manis dari Taeyong seperti waktu lalu? Cih, dasar Rin bodoh. Bisa-bisanya berharap pada hal seperti itu.

“Hah..”, Rin kembali menghela nafas.

Ya, memang itu yang ia harapkan. Tulisan tidak rapi dari seorang Taeyong. Ia ingin membacanya. Ya maaf kalau terlalu naif, tapi mendiamkan Taeyong seperti ini membuat hatinya resah. Ia terlalu gegabah sampai tidak sempat mendengar penjelasan Taeyong.

“Ma, ii.. Sekarang bukan saatnya mengurus urusan pribadi..”, gumamnya lalu hendak memasukkan kertas itu kembali ke map.

Tunggu dulu. Apa ini? Ada tulsian di bagian belakang kertasnya. Mata Rin mengamati tulisan-tulisan itu dengan seksama. Benar-benar tulsian yang tidak rapi. Penuh sehalaman pula!

‘Aku tahu kalau aku salah. Kolom perjanjian kesalahan yang sekecil itu tidak akan mampu menampung semua pengakuan kesalahanku. Aku tidak tahu harus mulai darimana. Apakah aku harus mulai bercerita dari awal kita bertemu? Heh, terlalu jauh ya? Baiklah, ini saja.
Aku terlambat masuk kelas karena aku memikirkan kita. Ini bukan rayuan, aku serius memikirkan kita, em, tidak. Aku memikirkanmu. Apakah kau nyaman denganku selama ini? Apakah kau benar-benar mencintaiku? Apakah perasaanmu padaku palsu? Banyak pertanyaan yang tak bisa kujawab. Aku tidak tahu kalau ternyata pertanyaan tentangmu lebih sulit dari soal yang diberikan Himuro-sensei.
Selama ini aku terus memikirkan bagaimana cara untuk memperlakukanmu dengan baik. Aku tahu kau juga ingin mendapat hadiah manis yang membuat jantungmu berdebar dari kekasihmu, aku. Aku tahu kau juga sering melirik pasangan lain yang terlihat sangat romantis. Aku ingin memberikan itu semua padamu. Tapi aku tidak tahu caranya. Aku malah membuatmu semakin tidak nyaman bahkan marah padaku. Aku ini bodoh ya? Kurasa aku akan menjadi pacarmu yang paling buruk.
Setelah kau membaca cerita sepanjang ini, pada akhirnya yang ingin kukatakan adalah maaf untuk segalanya. Maafkan aku.
Maaf karena telah membuatmu tidak nyaman. Maaf karena membuatmu marah. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kekasih yang kau harapkan. Dan maaf, karena aku benar-benar telah jatuh cinta padamu.’

Gadis itu terpaku pada posisinya. Suara Taeyong terus memaksa masuk menembus gendang telinganya. Wajah Taeyong juga seenaknya menguasai otaknya. Jatung Rin tidak berdebar romantis seperti biasa. Well, meski bisa dikatakan kalau harapannya membaca tulisan Taeyong terkabul, tapi.. kenapa sekarang dadanya malah sakit?

“Lho? Aneh.. Kenapa tiba-tiba aku sulit bernafas?”, kata Rin.

Rin meletakkan, bukan, ia meninggakan dokumen-dokumen yang harus ia selesaikan sebelum pertemuan OSIS. Ia berlari keluar ruangan.

“Hm.. Sebenarnya Rin memang gadis yang polos juga.. Benarkan Kagami-kun?”, tanya Riko sedari tadi berdiri di luar ruang OSIS.
“Ya.. Takamura dan Taeyong-senpai memang pasangan yang polos..”, jawab Taiga, kepala kelas polisi.
“Tokorode (ngomong-ngomong), kau sengaja membiarkan Taeyong menulis sembarangan di kertas itu ya?”, tanya Riko.
“Hai.. Aku tahu dari raut wajah Taeyong-senpai, sepertinya ada yang tidak beres... Makanya aku diamkan saja.. Lagipula, Hayashi meminta tolong padaku untuk menyampaikan pesan Taeyong-senpai ke Takamura..”
“Hayashi-san ga?”


$$$$$


“Taeyong, jangan tutup pintunya begitu!! Kami bukan homo kok! Kami hanya sedang melatih diri untuk lebih peka sama payudara cewek!!”, teriak Yuta heboh berlari ke pintu.

‘Brak!!’, Yuta membuka pintu yang ditutup Taeyong.

“Taeyong!!!”, panggilnya.
“Eh..! Tidak apa-apa kok.. Kau lanjutkan saja bersenang-senangnya..”, jawab Taeyong mengibaskan tangan pelan dengan suara ragu.
“Aku cuma mau beli kado untuk Hayashi, tapi aku tak tahu ukurannya apa! Lalu mereka mengajariku..”, jelas Yuta.
“Kau seriusan mau memberi Hayashi kado bra?”, Taeyong menatap Yuta datar.
“Iya..”, Yuta mengangguk melas takut Taeyong akan jijik olehnya.
“Kau tidak takut dibantai habis?”
“Eh? Dibantai..?”, Yuta memiringkan kepala.
“Astaga.. Memangnya kalau kau memberi Hayashi hadiah seperti itu, Rin akan diam saja? Lagipula Hayashi pasti juga akan menusukmu dengan paku..”, Taeyong berkacak pinggang.
“Souka..? Hmm..”

Ketika Yuta sedang berpikir dan larut dalam pertimbangannya, seseorang melesat menerjang angin melewati Yuta. Terkejut dengan orang yang melewatinya tanpa permisi itu, Yuta sontak menoleh ke belakang dan..

“Rin...”, gumam Taeyong dengan mata membulat sempurna.

Rin memeluk Taeyong dengan begitu erat di depan ruang klub band. Disana masih ada orang, tidak sepi, lalu kenapa Rin menunjukkan afeksi pada Taeyong? Bukankah mereka tidak pernah mengumbar kemesraan meski semua orang sudah tahu status berpacaran mereka?

“Wah..!”, para anggota band terkejut.

“R-rin..? K-kita sedang tidak berdua lh-“
“Aku tidak peduli.. Aku hanya ingin memelukmu sekarang..”, potong Rin masih membenamkan wajahnya di dada Taeyong.
“Rin..”
“Gomennasai.. Aku egois dan tidak memikirkan perasaan Taeyong-senpai.. Aku pikir Taeyong-senpai sudah tidak mencintaku lagi.. Tapi ternyata Taeyong-senpai hanya ingin membuatku semakin bahagia dan nyaman berada di sisimu.. Aku tidak memikirkan semua itu dan seenaknya saja membuatmu kepikiran dengan sikapku yang dingin..”, jelas Rin menatap Taeyong lekat.
“Kau.. Membaca pesanku..?”, tanya Taeyong hati-hati.

Anggukan Rin membawa semburat merah di wajah Taeyong. Ia sampai memalingkan wajah menyembunyikan wajahnya yang panas.

“Taeyong-senpai?”, panggil Rin heran melihat Taeyong membisu.
“Ah, aku benci diriku yang seperti ini..”, ujarnya menatap tembok.
“Eh?”
“Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kubicarakan secara langsung pada Rin.. Aku juga mau berbicara dengan lancar seperti yang Rin lakukan tadi.. Tapi tidak bisa keluar dengan mudah..”, Taeyong menggaruk pelipisnya tak berani membalas tatapan mata Rin.
“Daijoubu desu yo, Taeyong-senpai.. Kau tidak perlu repot-repot mencemaskan masalahku sebagai wanita.. Selama Taeyong-senpai memperlakukanku sebagai kekasihmu, itu sudah membuatku senang..”
“Rin...”

Rin mengembangkan senyum lebarnya. Pipinya juga merah, tentu Rin juga malu mengatakan itu semua pada Taeyong. Dari awal pacaran sampai sekarang, ini adalah pertama kalinya mereka membicarakan hubungan mereka sendiri.

“Aku sudah menyiapkan flashdisk untuk kau bawa pulang.. Ada di tasku! Semoga kau suka..!”, Taeyong langsung menangkup tangan Rin dengan wajah mantap dan nada semangat.
“Hahaha.. Okeyo, terimakasih..”, jawab Rin.

Johnny, Sol, Ten, dan Jae memberikan standing applause. Oh, shit. Mereka benar-benar lupa kalau ada orang memeprhatikan mereka daritadi!

“Semoga langgeng ya!”, ucap Ten.
“Selamat, senpai.. Hubungan kalian naik level..”, sambung Jae.
“Ini bisa jadi berita paling populer di sekolah nantinya.. Hmm..”, gumam Sol.
“I love you!”, timpal Johnny memeluk dirinya sendiri.
“Ee, teman-teman.. Kalian merusak suasana yang mereka bangun susah payah lho..”, ujar Yuta memunculkan kepala dari balik pintu yang terbuka.

“Eh, apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa banyak sekali balon? Apa mau membuat pesta kejutan ulangtahun?”, tanya Rin.
“Eh?! I-itu.. Anu.. Untuk.. Untuk..”, Sol terperanjat kaget.
“Mereka sedang menajariku ukuran bra wanita..”, jawab Yuta tanpa dosa dengan bangga di sebelah Rin.

Anggota band memberikan tatapan kau-bosan-hidup-ketua-?. Sedangkan Taeyong menundukkan kepala maklum.

“Hah..???”, Rin menatap Yuta galak.
“Aku mau memberi Hayashi hadiah bra.. Supaya hubugan pertemanan kami bisa semakin erat! Kau tahu kan, dia akan bekerja bersamaku dalam membuat lirik..”, jelas Yuta. Masih bangga.
“Nakamoto-senpai...”, Rin mulai mengeluarkan aura hitamnya.
“Hm?”
“Kemari sebentar..”

Yuta ditarik keluar ruangan. Pintu ruang ditutup. Dan.. hanya keheningan yang terdengar.


$$$$$


“Wah, dia juga diterima? Hebat.. Apa sih yang dia tampilkan kemarin?”
“Mungkin dia hanya memamerkan dada saja..”
“Oh benar.. Pasti menggoda para juri dengan tubuhnya yang bagus..”
“Tidak tahu malu, dasar..”

Biasa. Itu sudah biasa kudengar kok. Kalian jangan khawatir. Meski wajahku tidak cantik, tapi tubuhku ini tidak selaras dengan rupaku. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk meminimalisir penampilan yang membuatku menonjol. Aku tidak berdandan agar mereka semakin tidak memperhatikanku. Tapi selalu saja gagal. Akhirnya aku menyerah dan dengan rela menerima semua gunjingan mereka. Lagipula mau di bagaimanakan lagi? Ini adalah tubuh anugerah orangtuaku.

“Kenapa mulainya lama sekali ya?”
“Ini sudah terlambat dari jam yang ditentukan lho..”
“Apa ada masalah?”

Aula ini sudah penuh dengan para peserta yang akan ikut andil dalam kontes kreasi tersebut. Tapi kenapa belum ada tanda-tanda akan dimulai ya pertemuannya?

“Etto.. Maaf menunggu lama.. Terimakasih sudah datang pada pertemuan perdana hari ini..”, pria bertubuh tinggi itu menyita perhatian dengan menggunakan microphone.
“Aku berdiri disini mewakili Nakamoto Yuta untuk memimpin acara pertemuan ini..”, lanjutnya.

“Dimana Yuta-senpai?”, celetuk seorang siswi cemberut. Sepertinya dia fans Nakamoto-san.
“Dia.. Berhalangan hadir.. Sedang mempersiapkan ruangan untuk kalian..”, jawabnya agak ragu.

“Baiklah, langsung saja.. Kalian akan dibagi dalam dua tim.. A dan B.. Tim A akan diketuai oleh Nakamoto Yuta dan tim B oleh Lee Taeyong.. Akan kubacakan pembagiannya..”, kata pria itu kemudian membaca kertas yang ia bawa.

Satu persatu nama murid dipanggil. Mereka yang ada di tim A berdiri di sebelah kiri panggung. Sedangkan B di kanan. Kalau aku perhatikan, tim A terdiri dari murid-murid yang pandai main musik. Dan tim B terdiri dari murid yang badannya bagus. Kuharap Rin tidak menyesali keputusannya telah memberikan kewenangan ini ke klub band.

“Hayashi Hakuro, tim B..”

Aku mendongakkan kepala ketika mendengar namaku dipanggil. Sambil membenarkan kacamata, aku berjalan ke sisi kanan panggung.

“Baik, sudah semua.. Sekarang silakan para ketua tim masuk ke lingkaran anggotanya..”

Taeyong-senpai menghampiri kumpulan tim B. Ia memasang senyum di wajah putihnya. Entah kenapa para siswi yang ada disini jadi agak berisik ketika Taeyong-senpai mendekat.

“Aku adalah Lee Taeyong, ketua tim B.. Nah, kita adalah tim kedua yang akan maju di kontes kreasi SMA se-Jepang.. Mulai hari ini, mohon kerjasamanya ya..”, ujarnya menyapa kami.
“Yoroshiku onegaishimasu (mohon kerjasama/bantuannya)..”, jawab kami serempak.

Taeyong-senpai menjelaskan konsep tim kami. Ya, secara garis besar tim B akan maju dengan penampilan mini drama musikal. Ada beberapa stage yang perlu disiapkan. Hanya itu. Setelah menentukan tanggal latihan, kami pun diizinkan untuk bubar.

“Hayashi..”, panggil Taeyong-senpai menghampiriku yang sedang menggantungkan tas.
“Hai..?”, jawabku.
“Setelah ini kau ada acara?”
“Aku ada kegiatan klub..”
“Bagus..”
“Eh?”
“Mmm, tak apa.. Pokoknya kau jangan pulang dulu ya..”
“Apa ada masalah, Taeyong-senpai?”
“Yuta.. Dia berencana untuk bertemu denganmu.. Tapi karena Rin kelepasan tenaga, jadi.. Ya.. Mungkin dia akan sedikit terlambat..”, jelas Taeyong tak yakin.
“Nakamoto-san? Baiklah..”, jawabku.

Taeyong-senpai lalu kembali ke kumpulan anak band yang sedang menanyainya dengan heboh. Kalau tidak salah dengar sih bagaimana-bagaimana kata mereka. Aku sempat melihat Taeyong-senpai mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya. Kenapa mereka bersikap begitu? Hm, sudahlah. Ada kegiatan klub yang harus kuhadiri.


$$$$$


‘Prang!!’

Sebuah vas bunga pecah di dalam ruang klub ikebana (merangkai bunga). Air yang ada di dalam vas pun membasahi beberapa kertas desain rangakaian yang ikut terjatuh dari atas meja.

“Astaga, Hayashi! Kenapa kua tidak hati-hati?!”, bentak salah seorang siswi dengan name-tag Sanada Yuu.
“Tapi aku tidak menyenggolnya.. Aku ada disini..”, jawab Hakuro dari meja ujung satunya.
“Kau pasti tidak sengaja menggeser meja hingga vasnya jatuh.. Cepat bereskan!”
“Eh? A-aku..?”
“Iya, kau.. Memangnya aku sedang bicara dengan siapa?”
“Hai..”

Hakuro keluar ruang klub untuk mengambil alat kebersihan.

“Hahahaha.. Dasar bodoh sekali sih!”, tawa Yuu.
“Dia memang mudah untuk ditindas ya! Gampang menurut begitu..! Hahaha..”, sahut temannya yang lain, Watanabe Natsuko.
“Dia mana berani melawan kita sih? Lemah begitu juga..”, tambah siswi lain, Irie Sora.
“Padahal dia ketuanya, tapi malah jadi pesuruh klub..! Hahahaha..”, timpal siswi bernama Moriyama Chisaki.

Pada saat itu, Hakuro kembali membawa alat kebersihan lalu membereskan kekacauan yang ada disitu. Ia menyapu pecahan kaca vas, mengepel air yang tumpah, dan merapikan meja kursinya lagi.

“Kertas desain ini.. Apakah boleh dibuang?”, tanya Hakuro.
“Jangan! Susah payah aku membuatnya!”, jawab Chisaki.
“Tapi warna catnya sudah luntur karena basah..”
“Dijemur saja..”, tukas Natsuko sibuk menata rangkaian bunganya.
“Dijemur??”

Baiklah. Hakuro akan menjemurnya di dekat jendela. Selesai menyelesaikan masalah yang tak pernah ia buat, Hakuro kembali berkutat pada kerjaannya. Merangkai bunga.

“Hei, kau merangkai bunga untuk acara apa?”, tanya Sora.
“Aku hanya latihan saja..”, jawab Hakuro membenarkan letak kacamatanya.
“Latihan? Kau ini aneh.. Kita semua disini merangkai bunga untuk mempersiapkan acara.. Festival budaya masing-masing kelas misalnya.. Atau mungkin merangkai bunga untuk acara pertemuan orangtua dengan guru!”, kata Yuu.
“Bukankah sensei belum memilih orang untuk mengurus acara itu?”, tanya Hakuro.
“Oh, jadi kau mau cari muka di hadapan sensei pengampu klub ini?”, tanya Chisaki.
“B-bukan begitu maksudku..”
“Hah, ternyata kau ini penjilat ya..”, ujar Sora.

Hakuro terdiam. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya menghiraukan siswi-siswi itu menyindirnya. Ia tidak pernah masalah dengan hal itu. Ia sudah biasa.

“Hei, kau tahu Takamura Rin?”, tanya Natsuko sukses membuat Hakuro menajamkan telinga.
“Tahu lah.. Dia kan ketua OSIS kita.. yang galak dan tidak becus mengurus apa-apa itu kan?”, jawab Chisaki.
“Hahaha.. Ternyata dia itu murahan sekali lho..”, ujar Natsuko.
“Maksudmu?”, tanya Sora.
“Dengar-dengar kemarin waktu Kaijou bertemu dengan SMA Shutoku, ketua OSIS kita itu menggoda ketua OSIS mereka.. Tak hanya itu, sekretaris OSIS SMA Yosen juga digoda olehnya.. Padahal kan dia sudah berpacaran dengan Taeyong-senpai yang tampan dari kelas 3-B..”, jelas Natsuko.
“Heeeee, murahan sekali dia.. Semua orang digoda.. Ckckck..”, sahut Yuu.
“Oh ya, katanya si Takamura Rin itu juga diam-diam berpacaran dengan om-om lho.. Katanya dia pernah jadi pelacur di SMP..”, tambah Sora.
“Ihhhh, menjijikan sekali..”, timpal Chisaki.

‘Brak!!!’

Hakuro menggebrak meja dengan sangat keras. Ia menatap keempat anggotanya dengan sangat tajam. Tapi karena cahay matahari membias di kacamata Hakuro, mereka jadi tidak bisa merasakan tajamnya tatapan Hakuro.

“Kenapa dia?”, bisik empat siswi itu.
“Tolong tarik ucapan kalian..”, ujar Hakuro.
“Hah? Apa urusannya denganmu?”, tanya Yuu meremehkan.
“Aku bilang tarik ucapan kalian..”, ulang Hakuro.
“Dasar aneh.. Sudah sana kembali membuat bunga saja sana! Tidak usah mengganggu kami!”, kata Sora.
“Rin bukan orang seperti itu!! Dia tidak pernah melakukan hal yang kalian bicarakan! Sama sekali tidak pernah!”, bentak Hakuro.

“Hoo, kau berani melawan kami ya ternyata..”, Chisaki melipat tangan mendekati Hakuro.
“Kami bersikap baik padamu dan kau malah menentang kami..”, tambah Sora ikut mendekati Hakuro.

Keempat siswi itu mendesak Hakuro sampai ke dinding.

“Memangnya kenapa kalau kami membicarakan wanita jalang itu?! Apa urusannya denganmu?!”, bentak Yuu kemudian memukul wajah Hakuro.

Beberapa siswi lain yang daritadi hanya diam saja tak berani berbuat apa-apa, kini berlari keluar ruangan. Mereka takut. Mereka tak ingin berurusan dengan keempat siswi kasar ini. Sebenarnya kasihan dan ingin membantu Hakuro, tapi mereka terlalu takut untuk melakukan itu.

“Kalian tidak tahu apa-apa tentang Rin.. Jangan membicarakannya seperti itu!”, bantah Hakuro.
“Anak ini berani sekali.. Oi, kau itu bukan siapa-siapa! Tidak usah membantah deh!”, teriak Chisaki.
“Dasar tidak berguna! Tempatmu di bawah sana tuh! Sebagai pesuruh dan pembantu!!”, Natsuko mendorong Hakuro hingga gadis itu terjatuh.
“Sudah, ayo pergi.. Aku tidak sudi berada di ruangan yang sama dengannya!”, ajak Yuu.

Keempat siswi itu akhirnya pergi meninggalkan ruangan. Ruang klub ikebana sekarang jadi sepi. Kenapa sih? Kenapa mereka menebarkan rumor jahat seperti itu tentang Rin? Itu semua tidak benar. Rin tidak akan melakukannya.

“Ah..”, rintih Hakuro merasakan sakit di tangan dan lututnya ketika berdiri.

Gadis itu sedang membersihkan bajunya dari kotoran ketika derap langkah cepat menghampiri ruang klub ikebana.

‘Brak!!’

“Konnichiwa~!!!”, teriak Yuta membuka pintu ruang dengan semangat.

Tidak ada respon. Hakuro hanya menatap kedatangan Yuta dengan heran. Pria itu senang sekali bisa datang ke ruang klub ini speertinya.

“Are? Kenapa disini sepi sekali?”, tanya Yuta melihat isi ruang klub. “Eh! Hayashi! Untung kau masih ada disini..”, ujar Yuta melihat Hakuro berdiri disana. “Kenapa sepi sekali? Apakah kegiatan klub sudah selesai?”, tanya Yuta masuk.

Hakuro menatap Yuta sambil bergumam memikirkan jawaban.

“Rambutmu berantakan..”, kata Yuta lalu merapikan rambut Hakuro.

Mendadak dapat perlakuan seperti itu. Hakuro terlonjak kaget. Ia agak mundur ke belakang.

“Ah, gomen..”, ujar Yuta pendek.
“Nakamoto-san.. Ada apa kemari?”, tanya Hakuro akhirnya bersuara.
“Lho? Apakah Taeyong belum memberitahumu?”

Oh iya. Tadi Taeyong sudah memberitahunya kalau Yuta akan datang untuk bertemu dengannya. Tiba-tiba ia lupa karena kesal dengan teman-temannya yang bicara jelek tentang Rin.

“O-oh, sudah kok.. Lalu, ada perlu apa mencariku?”, tanya Hakuro.
“Aku butuh bantuanmu!”, Yuta menangkupkan tangan memohon.
“Eh?”
“Aku harus cepat menyelesaikan lirik untuk kontes sebelum jam enam.. Ada janji yang harus kupenuhi setelah itu..”, jelas Yuta.
“Oh.. Ganbare (selamat berjuang)..”
“Bukan! A-aku membutuhkanmu untuk membantuku membuat lirik!”, benah Yuta cepat.
“He”
“Kenapa responmu datar sekali begitu?”
“Tapi aku tidak bisa buat lirik.. Aku mau pulang..”, jawab Hakuro mengambil tas.
“Apa?! T-tapi Takamura bilang kau pandai membuat lirik! Aku sudah minta izinnya kok.. Dia bilang boleh..”

Hakuro berhenti bergerak. Ia lalu menoleh ke Yuta.

“Rin.. Yang mnyuruhmu menemuiku?”, tanya Hakuro.
“Sou..”, jawab Yuta mengangguk mantap.
“Kau.. Tidak keberatan kalau aku yang bantu?”
“Hei, kau ini bicara apa? Justru aku berterimakasih kan?”

Gadis itu tersenyum. Ia menarik nafas dan menatap Yuta.

“Baik.. Akan kubantu..”


$$$$$


Taeyong, Johnny, Sol, Ten, dan Jae mondar-mandir tidak tenang di dalam ruang band. Mereka mencemaskan sesuatu. Apalagi kalau bukan keadaan Yuta. Dia masuk ke ruang klub ikebana menemui Hakuro. Menemuinya secara langsung lho! Duh, bagaimana kalau Yuta salah bicara dan langsung masuk surga? Ya kalau masuk surga, kalau malah jadi hantu sekolah dan gentayangan?! Oke, yang terakhir itu ekstrim.

“Kau dengar sesuatu tidak?”, tanya Ten.
“Hening sekali.. Tidak ada suara..”, jawab Johnny menempelkan telinga ke dinding pemisah ruang klub band dan ikebana.
“Kenapa Takamura-senpai mengizinkan Yuta-senpai menemui Hayashi-senpai sih?”, tanya Jae heran.
“Itu juga yang mengganggu pikiranku tadinya..”, ujar Sol.
“Mungkin Rin sudah kesal hingga tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan pada Yuta.. Hmm..”, celetuk Taeyong ikut berpikir.

“Aduh!! Kenapa jantungku berdebar begini sih? Debaran ini lebih dahsyat daripada menyatakan cinta ke orang yang kusuka..”, kata Johnny memegang dadanya.
“Bagaimana kalau Yuta-senpai kelepasan bicara? Dia kan sering asal ngomong tanpa sadar apa artinya!”, tambah Ten.
“Tadi saja dia sudah dihajar sampai pingsan oleh Takamura kan?”, ujar Sol.
“Yah, sekarang kita hanya bisa menunggu dan terus mengawasi..”, ucap Jae menyantaikan diri di sofa.
“Daripada kalian mencemaskan Yuta, kenapa tidak mulai mengarang nada?”, usul Taeyong.

“Nah, itu boleh juga..”, Johnny langsung mencari stick drumnya dengan liar.
“Johnny.. Johnny, please.. Stick drummu kau tempelkan di punggungmu dengan selotip tadi..”, kata Sol lelah melihat Johnny mulai mengacak ruang band.
“Oh iya.. Hahaha.. Bisa bantu aku mencabutnya?”

Ini fenomena baru untuk Taeyong. Ia kenal Yuta dan anggota band. Tapi ia tak tahu ternyata anggota band sekonyol ini. Hm, mirip juga dengan dirinya. Punya persona on stage dan off stage. Pasti Taeyong akan cepat akrab dengan mereka.


$$$$$


Sepanjang pertemuan OSIS, Rin terus saja mengembangkan senyum lebarnya. Nadanya begitu ringan dan kata-katanya ramah juga mudah dipahami. Siapapun yang melihatnya tentu akan langsung menebak kalau mood Rin sedang baik. Ah, syukurlah rapat kali ini berjalan dengan tenang tanpa sikap sadis ketua OSIS.

“Oh ya, di festival budaya nanti.. Apakah kalian ada ide untuk ruang OSIS?”, tanya Rin.
“Bagaimana kalau kita membuat cafe halloween?”, usul Yukio.
“Baiklah, kita tampung dulu.. Ada usul lain?”
“Ketua, emm, mungkin ini akan sedikit lebih merepotkan kita.. Tapi bagaimana kalau sekali-sekali kita mencoba membuka cafe kucing?”, usul Riko, penggila kucing.
“Cafe kucing?”, Rin sedikit memiringkan kepalanya.

“Ya.. Cafe yang bertemakan kucing.. Para pengunjung juga boleh membawa kucing mereka kemari.. Akan ada tempat bermain untuk kucing juga..”, jelas Riko.
“Oh, sepertinya aku tahu konsep cafe itu.. Kalau tidak salah di Akihabara sudah dibuka cafe-cafe seperti itu..”, timpal Ryou.
“Tapi kenapa kucing? Anjing saja bagaimana?”, usul Yukio.
“Hei, anjing terlalu berisik.. Gonggongan mereka bisa mengganggu yang lain..”, jawab Riko.
“Bukankah kucing juga merepotkan? Mereka suka mencakari orang..”, sahut Ryou.
“Menurut Ketua bagaimana?”, tanya Yukio.

Rin berpikir disitu. Ia suka kucing, tapi ia juga tidak benci anjing. Taeyong suka apa ya? Hm..

“Kalau buka cafe kucing, kita bisa pakai pakaian yang manis dan lucu!”, kata Riko senang.
“Itu untuk perempuan.. Kami??”, ujar Yukio.
“Yah pakai saja baju maid pria dan bandana kucing.. Pasti akan sangat menggemaskan! Hahaha..”
“Yang benar saja..”

“Baiklah, sudah kuputuskan..”, potong Rin mengalihkan perhatian anggotanya.
“Apa, Ketua?”, tanya Ryou.
“Kita buka cafe kucing untuk festival budaya kelas OSIS..”


$$$$$


“Tema apa yang Nakaoto-san angkat untuk membuat lirik ini?”, tanya Hayashi.
“Eemmm.. Etto.. Aku belum pikirkan..”, jawabku dengan senyum bodoh.
“Eh? Sama sekali belum?”
“Aku tidak bisa berpikir.. Otakku benar-benar mampet sekarang..”
“Kenapa tidak dirundingkan dengan Taeyong-senpai dulu?”
“Taeyong bilang dia yang akan mengikutiku saja..”
“Saat ini hal apa yang ingin Nakamoto-san lakukan?”

Aku ingin mengukur ukuran bramu. Tidak mungkin aku menjawabnya begitu kan?! Kami baru saja bercakap dengan normal, masa aku harus mati duluan? Hm.

“Hal yang ingin kulakukan? Main sepak bola?”, jawabku malah memberikan pertanyaan.
“Kalau begitu, buat lirik untuk menyemangati diri saja.. Bagaimana?”
“Menyemangati diri ya? Tapi kalau seperti itu, kontennya akan terlihat sangat membosankan..”
“Dicampur saja..”
“Bagaimana caranya?”
“Berikan makna tersirat pada lirik itu.. Lirik yang menyemangati secara lugas, tapi juga bisa menyampaikan sebuah perasaan tersembunyi..”
“Jadi bisa punya banyak arti! Wah, keren.. Boleh.. Ayo dicoba..”

Aku menyiapkan pena. Barusaja meletakkan tangan di atas kertas, otakku blank. Benar-benar putih bersih seperti halaman kertas ini. Oh, sialan.

“Aku tidak ada ide apapun!”, ujarku meratapi nasib.
“Pelan-pelan saja.. Supaya lebih mudah untuk dibuat, biasanya aku akan mulai dari kegiatan pertama yang kulakukan.. Misalnya bagun pagi, mandi, sarapan, berangkat ke sekolah..”

Aku berpikir keras disana. Bangun pagi.. Hmm..

“Jangan takut.. Untuk bangun pagi..”, kataku menatapnya.
“Eh? Terlalu lugas, Nakamoto-san..”, responnya.
“Jangan takut.. Untuk membuka matamu..”

Kalimat itu membuat Hayashi diam menatapku. Apa yang dia tatap? Apa ada sesuatu di wajahku? Atau dia sedang melamun? Apakah dia berpikir?

“Ha-hayashi..?”, panggilku mulai agak takut.
“Jangan takut.. Jangan takut untuk membuka matamu.. Jangan takut untuk melangkah maju..”, ujarnya.

Aku segera menuliskan lirik itu di secarik kertas putih milik Hayashi. Maklum, aku tidak bawa tas. Jadi ini semua milik Hayashi yang baik hati.

“Aku tidak akan pergi darimu.. Aku akan selalu ada menyelimutimu.. Untuk itu, jangan pernah takut lagi..”, sambungku lalu menatapnya cerah.
“Itu bagus sekali, Nakamoto-san..”, katanya dengan senyum mengembang.

Yey! Aku bisa buat lirik! Sepertinya otakku mulai berjalan lagi. Ah, asyiknya! Ada banyak sekali kata-kata yang muncul. Aku jadi seperti kamus berjalan. Aduh, yang mana dulu nih yang mau dituangkan? Astaga, hanya dengan sekalimat bantuan dari Hayashi, ideku langsung lancar!

“Karena aku akan menjadi nafasmu.. Arigatou na, Hayashi!”, kataku masih asyik menuliskan lirik tanpa menatapnya.
“U-un..”, jawabnya ragu.

Aku tak sempat menatapnya. Tapi kurasa nada jawabannya itu sedikit tergagap. Apa dia takut? Oh! Apa ekspresi tidak senonohku keluar tanpa kusadari?! Kuso.
Tiba-tiba suasana disini jadi tenang. Tidak ada yang bicara. Aku sibuk berkreasi dan ketika berhenti untuk berpikir, aku juga mendengar Hayashi menggoreskan penanya di secarik kertas. Karena penasaran, aku mencondongkan badan untuk melihat apa yang ia kerjakan. Sebuah lirik lagu!

“Kau juga buat?”, tanyaku.
“M-maaf..”, jawabnya.
“Kenapa minta maaf?”, aku tak habis pikir kenapa tiba-tiba aku dapat permintaan maaf darinya dengan kepala tertunduk.
“Melihat Nakamoto-san terlihat sangat senang membuat lirik, aku juga jadi ingin buat satu.. Siapa tahu lirik ini bisa membantumu kalau sedang mampet ide..”, jelasnya sama sekali tak menatapku.
“Hei, Hayashi..”, panggilku memangku dagu dengan tangan.
“H-hai..”, jawabnya terdengar takut.
“Apa aku ini menakutkan?”
“Eh? T-tidak kok..”
“Lalu kenapa kau tak berani menatapku?”
“Aku.... Itu.. Ya, karena aku...”
“Kau?”

Aku masih sabar menunggunya menjawab. Kupikir dengan memberinya waktu lebih panjang akan membuatnya merasa lebih rileks berada di dekatku. Tapi ternyata aku salah. Dia malah bangkit berdiri dan membungkuk pamit.

“Aku permisi dulu..”, katanya.

Tentu saja aku tak membiarkan anak ini berlalu meninggalkanku di ruangan ini sendiri. Aku menghentikan langkahnya dengan tubuhku yang lebih besar darinya. Ya, aku berdiri menghalangi jalannya. Dia ke kanan, aku ikut ke kanan. Ke kiri, aku juga mengikuti. Pada saat seperti inipun dia sama sekali tak mendongak untuk memarahiku. Dia masih terus saja menundukkan kepala dan sesekali membenarkan letak kacamatanya. Serius, sekarang aku benar-benar penasaran dengan Hayashi.

“Na-nakamoto-san.. Aku mau lewat..”, ujarnya.
“Dame..”, jawabku pendek lalu memegang ke dua pundaknya.

Kusamakan tatapan mataku ke matanya. Ia masih berusaha menghindari tatapanku. Haha, dia pasti sudah sangat tidak nyaman sekarang. Tapi itu justru imut!

“Kalau kau bisa adu tatap denganku selama sepuluh detik, akan kubiarkan lewat..”, tantangku.
“Eh? K-kenapa?”
“Pokoknya harus menatapku dulu selama sepuluh detik.. Kalau tidak mau, kau tidak boleh pulang..”

Duh, aku ini cari mati ya. Bagaimana kalau Takamura sampai tahu? Aku bisa diapakan olehnya karena sudah menahan Hayashi?

“Sekarang.. Ayo kita coba..”, ajakku.

Aku sudah menyiapkan wajahku di depannya. Aku juga sudah menatapnya terus. Beberapa detik kemudian Hayashi akhirnya menyerah dan mencoba untuk membalas tatapan mataku. Aku tersenyum disitu. Menghitung dalam hat, satu, dua, tiga, eh? Apa ini? Empat, lima...
Kenapa jantungku jadi bedetak cepat begini? Duh, rasanya jadi sesak nafas. Apa aku gugup? Hei, kenapa sepuluh detik rasanya sangat lama?!

“Hahaha.. Aku lupa ambil barangku..”
“Ah, Chisaki bodoh.. Untung kau ingat..”

Pada saat itu, beberapa siswi membuka ruang klub dan melihat kami. Oke, aku bisa jelaskan pada kalian. Aku tidak mencium Hayashi kok! Sungguh!! Pose kami memang mencurigakan, tapi kami cuma adu tatap saja, sumpah! Badanku yang lebih besar dari Hayashi, kepalaku yang tadi condong dan kusamakan tingginya dengan Hayashi.. Membuat mereka jadi salah sangka kalau aku sudah mencium anak ini!!! Argh!!

“Nakamoto-senpai..”, panggil salah satu dari mereka.
“Eee.. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan..”, elakku mencoba tenang.
“Hei, Hayashi! Apa yang kau lakukan pada Nakamoto-senpai ku?!”, bentak siswi itu.

Eh? Kok mereka malah memarahi Hayashi sih? Aku menatap keempat siswi itu dengan heran. Kenapa Hayashi juga diam saja? Kau kan tidak salah, ayo katakan kau tidak salah, Hayashi!

“Nakamoto-senpai sudah kau apakan, Hayashi? Ayo jawab! Kau tidak melukainya kan?”
“Apa kau mencoba untuk menggodanya juga?! Dasar, wanita murahan..”

Hah? Mereka ini...

“Oi..!”, sela-ku mengalihkan perhatian mereka dari Hayashi. “Kalian ini siapa sih? Kenapa tiba-tiba masuk dan mengganggu wak-“
“Gomennasai, Nakamoto-san..”, potong Hayashi membungkukkan badannya.
“Eh? Hayashi, kau kan-“
“Aku pulang duluan.. Maaf, Nakamoto-san..”, Hayashi meraih tasnya.
“Oi, Hayashi..”, aku mencoba memanggilnya, tapi ia tak menoleh, peduli pun tidak.

“Nakamoto-senpai baik-baik saja?”, siswi-siswi itu mencemaskan orang yang salah.
“Kalian ini-“

Tunggu. Itu semua milik Hayashi. Dia tidak sempat membereskan barangnya. Ck, kenapa main tinggal saja sih anak itu?
Aku mengambil pena dan kertas lirik yang sudah kami buat tadi. Aku tak peduli dengan panggilan para siswi itu. Aku langsung berlari keluar ruangan dan mengejar Hayashi. Semoga dia masih ada di-
Oh, shit! Dia sudah bersama Takamura! Aku bsia dihabisi kalau tiba-tiba muncul dan menghentikan Hayashi! Aduh, masa aku harus menunggu sampai besok? Nanti aku tidak bisa tidur. Oh, ibu.

“Oi, apa yang kau lakukan disini? Menguntit siapa?”, suara Taeyong menolekan kepalaku.
“Taeyong.. Sedang apa kau masih disini?”, tanyaku.
“Dasar anak tidah tahu diuntung.. Daritadi aku dan anggota bandmu itu ada di ruang klub band terus! Kami mengawasi dan berjaga kalau kau mengapa-apakan Hayashi!”, jelas Taeyong.
“Eh? Benarkah?”

Lalu aku melihat Johnny, Sol, Ten, dan Jae turun dari tangga. Mereka serius menjagaku dari ruang sebelah? Apa aku ini anak mereka, astaga.

“Itu.. Aku harus.. Argh!!”, aku menyerah.

Aku tidak tahu harus jelaskan bagaimana. Aku hanya bisa menghela nafas panjang, menutup mata sambil menyandarkan tubuhku ke dinding.

“Jelaskan dalam perjalanan..”, Johnny merangkulku.

Kurasa... Aku tidak akan sanggup menghadiri kencan buta bersama temanku itu hari ini. Tiba-tiba saja tubuhku sangat lelah.


$$$$$


“Tanganmu terluka.. Lututmu juga.. Apa yang sudah Nakamoto-senpai lakukan padamu?!”, tanya Rin heboh.
“Hahaha, dia tidak melakukan apa-apa, Rin.. Aku tadi terjatuh sendiri kok..”, jawab Hakuro berjalan di samping Rin.

Rin terdiam sesaat.

“Apa siswi-siswi itu lagi?”, tanya Rin tanpa menatap Hakuro.
“Hn? Tidak kok.. Kan aku sudah bilang kalau aku terjatuh sendiri..”, jawab Hakuro.
“Kali ini, apa yang mereka gosipkan?”, tanya Rin lagi tak menggubris alasan Hakuro.
“Rin..”
“Haku.. Aku tahu apa yang terjadi meski kau tidak cerita.. Kau bukan tipe orang yang ceroboh sampai bisa terjatuh sendiri.. Sekarang, beritahu aku..”, pinta Rin.
“Aku benar-benar tidak apa-apa kok.. Mungkin aku kelelahan sampai jatuh tadi.. Aku kurang hati-hati..”
“Haku..!”
“Oh ya! Hubunganmu dengan Taeyong-senpai sudah baikan kan?”, Hakuro mencoba mengalihkan topik.

Rin menatap wajah Hakuro yang penuh senyum. Ia ingin berdecak dan mengomel kesal. Tapi, akhirnya Rin hanya bisa menghela nafas dan mengangguk.

“Yokatta (syukurlah).. Taeyong-senpai dan Rin memang tidak pantas kalau bertengkar.. Rasanya aneh!”
“Hahah, begitukah? Ngomong-ngomong, kau memanggil Taeyong-senpai dengan senpai.. Tapi kenapa memanggil Nakamoto-senpai dengan –san?”

Hakuro tak menjawab. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa memanggil Yuta dengan –san.

“Kau.. Tidak merasa asing kan dengan Nakamoto-senpai?”, tanya Rin hati-hati.
“Tidak.. Justru aku ingin dekat dengannya.. Tapi.. Entah kenapa aku tidak berani.. Dia berada terlalu jauh dariku.. Aku tidak berani memanggilnya dengan senpai.. Kami kan belum sedekat itu..”, jelas Hakuro.
“Hah? Hahahahahaha..”
“Kenapa tertawa Rin?”, protes Hakuro.
“Habisnya, Haku lucu sih.. Nakamoto-senpai itu suka Haku lho..”
“Eh?! Kenapa Rin bilang begitu? Jangan mengerjaiku, Rin..!”
“Kenyataan kok.. Coba tanya saja dengan anggota band lain.. Mereka pasti juga bilang begitu.. Tapi Nakamoto-senpai sendiri juga masih kikuk dengan perasaannya.. Hahah, dasar labil!”

Hakuro terdiam seribu bahasa. Wajahnya memerah dan panas. Ia tak berani angkat bicara, takut kalau akan semakin gugup.

“Eh? Jangan-jangan... Haku juga suka Nakamoto-senpai ya?!”
“Rin..!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar