Fifth Bite
*Japan, Tokyo, Kaijou High School
Aku
menggigit bibir bawahku. Kakiku bergoyang-goyang tak tenang. Siang ini meski
langitnya cerah, entah kenapa rasanya aku tidak senang. Bukan, mungkin aku
hanya sedang gugup.
“Yuta,
kau kenapa? Seperti menunggu giliran untuk disunat saja..”, celetuk Johnny yang
memperhatikanku.
“Duh,
aku gugup nih..”, jawabku.
“Gugup
kenapa?”, kali ini Sol yang peduli padaku.
“Kalau
aku tanya ke Hayashi ukuran cup branya apa.... Akan bagaimana ya?”, tanyaku.
Seketika
ruang band membeku. Tak ada yang bergerak, waktu serasa berhenti dan hanya aku
yang tidak berhenti. Johnny, Sol, Ten, dan Jae, mereka semua menatapku tanpa
mengucapkan sepatah kata.
“K-kalian..
Kenapa, teman-teman..?”, tanyaku agak takut.
Johnny
bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiriku dan duduk di sebelah kananku
dengan tenang. Ia mengambil ponselnya, menunjukkan sebuah gambar padaku.
“Yang
ini cup A.. Ini cup B.. Ini C.. Dan ini D..”, jelasnya serius.
“Kenapa
kau menunjukkan ini, Johnny?”, tanyaku heran.
“Kau
bertanya pada Hayashi ukuran branya, pasti kau mau memberinya hadiah bra kan?”
“Hebat..!
Kau tahu darimana?”, aku takjub Johnny bisa menebak apa yang akan kulakukan.
“Ck,
kau itu temanku, tentu aku tahu lah..”, ia menjawab dengan bangga.
Sol,
Ten, dan Jae menatap kami dengan tatapan, er, tak bisa dijelaskan. Mereka
sampai tak bisa melanjutkan bermain alat musik gegara pernyataanku tadi.
“Senpai..
Aku tak percaya kau adalah orang yang seperti itu..”, akhirnya Ten bersuara.
“Orang
seperti itu maksudmu?”, aku kembali heran.
Ia
menghela nafas lalu bangkit berdiri menghampiriku. Aku menatapnya dengan
bingung. Apa yang akan anak ini lakukan pada diriku yang imut? Cih, jijik.
“Kau
so sweet sekali..”, lanjutnya mengacungkan jempol.
“Benarkah?”,
aku tak menyangka akhirnya dapat pengakuan dari kouhai manis bermulut tajam ini.
“Kalau
senpai mau beli kado bra untuk Hayashi, kau harus memilih yang pas untuknya..
Akan kubantu..”, ia menawarkan diri sambil duduk di sebelah kiriku.
“Kau
tahu hal beginian, Ten?”
“Tentu
saja.. Tiap wanita punya selera yang berbeda dalam memilih desain bra.. Ada
yang suka desain ribet penuh tali, ada yang sukanya yang simpel saja.. Seperti
ini nih..”, Ten menunjukkan sebuah gambar bra simpel mudah pakai di layar
ponselnya.
“Wah..
Ini pengetahuan baru untukku.. Sangat membantu!”, dengan senang aku
berterimakasih pada Johnny dan Ten.
“Senpai..”,
panggil Jae memutuskan untuk mengakhiri kondisi bekunya.
Aku
menoleh melihat Jae yang sudah berjalan ke arahku.
“Kau
tidak boleh menanyakan hal itu ke perempuan..”, katanya.
“Eh,
kenapa?”
“Itu
tidak sopan..Kau bisa digampar lagi oleh Hayashi-senpai..”, jelasnya kalem.
“Lalu
bagaimana aku bisa tahu ukuran branya?”
“Ada
satu cara.. Hmm..”
“Apa,
Jae?”, tanyaku serius.
“Sentuh
sendiri dengan tanganmu..”
“EH?!!”
Jae
menatapku tajam dengan ekspresi wajah benar-benar serius. Ia tidak main-main.
Bercanda memang bukan tipe Jae, berarti dia seriusan mengatakan hal itu.
“Me-menyentuhnya..
Sendiri?”, tanyaku ragu.
“Sou..
Kau harus teliti ketika menyentuhnya..”, jelas Jae masih serius.
“Benar
kata Jae.. Kalau kau mau tahu ukuran branya Hayashi, kau harus teliti
menentukan apakah dia cup C atau D..”, timpal Johnny.
“T-tapi..
Aku belum pernah mengerti ukuran-ukuran cup bra.. Aku pernah mencoba
mengukurnya dengan tanganku..”, jawabku.
Sol
menghela nafas dengan sangat panjang. Apa dia lelah? Atau kurang tidur? Eh,
jangan-jangan dia kesal dengan kami?
“Kalian
ini.. Dasar..”, katanya geleng-geleng kepala. “Bisa-bisanya membicarakan hal
seperti itu..”, ujarnya lagi bangkit berdiri mengambil tasnya.
“Sol..
Kau mau kemana?”, tanya Johnny.
“Kalau
kalian membicarakan bra tanpa praktek, tidak akan menghasilkan apa-apa..”,
jawabnya.
“Praktek..?
Masa kami harus memegang semua dada wanita?”, tanya Ten.
“Baka,
tentu tidak.. Pakai alternatif lain sebelum memegang yang asli..”, jawab Sol.
“Apa
alternatifnya?”, kali ini Jae yang tanya.
Sol
menggali tasnya. Ia tersenyum ketika sudah menemukan barang yang ia cari.
Balon..?
$$$$$
Taeyong
berjalan menuju ke ruang klub band. Ia dan Yuta sudah janjian akan bertemu
sebelum menghadiri pertemuan para peserta nanti. Barusaja akan membuka pintu,
ia mendengar kata-kata asyik yang menggairahkan nafsu.
“Kalau
besarnya segini, berarti cup B.. Kalau sebesar ini, berarti D..”
Taeyong
agak tersentak. Ia mengerutkan kening. Apa yang sedang orang-orang itu
bicarakan? Cup.. B? D? Aaaa, cup bra maksud mereka? Taeyong ahli sekali kalau
dalam hal seperti itu. Ia bisa langsung tahu apa topik yang dibicarakan.
“Permisi...”,
sapa Taeyong menggeser pintu.
Apa
yang ia lihat tak sesuai dengan gambarannya. Oh oke, Taeyong tahu kalau anak
band sedang membicarakan bra wanita. Tapi tidak dengan pose seperti ini!
Kenapa
tangan Yuta menangkup dua balon ukuran cup C yang diselipkan di balik baju
bagian dada Sol?!
Kenapa
Ten membuat bra ukuran cup B dari balon dengan sangat rapi?!
Kenapa
Johnny membandingkan dua balon ukuran cup A?
Dan
kenapa Jae, kouhai paling normal di klub band, ikut-ikutan senpainya?!
Tanpa
berkata apa-apa, Taeyong menggeser pintu ruang klub untuk ditutup lagi secara
perlahan.
“Taeyong
kamu salah paham!!”, teriak Yuta.
$$$$$
“Hah..”
Entah
sudah berapa kali Rin menghela nafasnya. Ia bahkan tak sadar kalau ia
terus-terusan menghembuskan nafas seperti orang kehabisan oksigen begitu.
Daritadi ia juga tidak bisa fokus dengan laporan rapat yang akan dipakai untuk
pertemuan OSIS nanti. Hah. Benarkan, Rin kembali menghela nafas.
“Kau
lelah?”, tanya Riko.
“Tidak..
Aku baik-baik saja..”, jawab Rin.
“Ma,
mungkin hanya di mataku kau terlihat tidak baik-baik saja..”
“Aku
benar-benar tidak bisa membohongi mata seorang pelatih basket sepertimu ya?”
“Tidak..
Oh ya, ketua.. Sebelum rapat dimulai, apakah kau bisa menyelesaikan
dokumen-dokumen ini? Hanya sedikit jadi kurasa lebih baik sekarang daripada
mengulur waktu pulangmu nanti..”
“Un,
tidak masalah..”
Rin
menerima beberapa dokumen untuk diperiksa. Memang tidak banyak seperti
biasanya, tapi tetap saja setumpuk.
“Oh
ya, aku ke kelas sebentar ya.. Ada hal yang harus kusampaikan ke Hyuuga-kun..”,
pamit Riko.
“Sampaikan
juga perasaanmu yang sebenarnya ke dia..”, kata Rin sambil memeriksa tiap
lembar dokumen di hadapannya.
“Rin..!”,
Riko memerah di ambang pintu.
Takamura
Rin dan Rin. Satu orang yang sama tapi bukan orang yang bsia kau lakukan secara
sama setiap saat. Ketika ia berdiri sebagai ketua OSIS, ia tidak akan segan
pada siapapun, tapi ketika ia menjadi Rin, siswi kelas 2-B...
“Ini..”,
gumam Rin melihat sebuah laporan kelas polisi.
Lee
Taeyong. Hah, anak itu kembali masuk kesana. Apalagi sih yang dia perbuat? Ck.
Rin
cepat-cepat membuka map kelas polisi. Ia mencari formulir Taeyong di dalam
situ. Ketemu. Ia langsung membaca kertas itu untuk mengetahui apa yang sudah
dilakukan kekasihnya hari ini.
Lee
Taeyong, 3-B, dihukum oleh Namikawa Daisuke sensei. Alasan dihukum, terlambat
masuk kelas. Jenis hukuman, membantu petugas perpustakaan menata buku.
Perjanjian untuk tidak mengulangi, aku berjanji tidak akan bermalas-malasan dan
berbohong lagi.
Rin
menyandarkan punggungnya yang sempat menegang. Oh, apa sih yang ia harapkan?
Tulisan manis dari Taeyong seperti waktu lalu? Cih, dasar Rin bodoh.
Bisa-bisanya berharap pada hal seperti itu.
“Hah..”,
Rin kembali menghela nafas.
Ya,
memang itu yang ia harapkan. Tulisan tidak rapi dari seorang Taeyong. Ia ingin
membacanya. Ya maaf kalau terlalu naif, tapi mendiamkan Taeyong seperti ini
membuat hatinya resah. Ia terlalu gegabah sampai tidak sempat mendengar
penjelasan Taeyong.
“Ma,
ii.. Sekarang bukan saatnya mengurus urusan pribadi..”, gumamnya lalu hendak
memasukkan kertas itu kembali ke map.
Tunggu
dulu. Apa ini? Ada tulsian di bagian belakang kertasnya. Mata Rin mengamati
tulisan-tulisan itu dengan seksama. Benar-benar tulsian yang tidak rapi. Penuh
sehalaman pula!
‘Aku tahu kalau aku salah. Kolom perjanjian
kesalahan yang sekecil itu tidak akan mampu menampung semua pengakuan
kesalahanku. Aku tidak tahu harus mulai darimana. Apakah aku harus mulai
bercerita dari awal kita bertemu? Heh, terlalu jauh ya? Baiklah, ini saja.
Aku terlambat masuk kelas karena aku
memikirkan kita. Ini bukan rayuan, aku serius memikirkan kita, em, tidak. Aku
memikirkanmu. Apakah kau nyaman denganku selama ini? Apakah kau benar-benar
mencintaiku? Apakah perasaanmu padaku palsu? Banyak pertanyaan yang tak bisa
kujawab. Aku tidak tahu kalau ternyata pertanyaan tentangmu lebih sulit dari
soal yang diberikan Himuro-sensei.
Selama ini aku terus memikirkan bagaimana
cara untuk memperlakukanmu dengan baik. Aku tahu kau juga ingin mendapat hadiah
manis yang membuat jantungmu berdebar dari kekasihmu, aku. Aku tahu kau juga
sering melirik pasangan lain yang terlihat sangat romantis. Aku ingin
memberikan itu semua padamu. Tapi aku tidak tahu caranya. Aku malah membuatmu
semakin tidak nyaman bahkan marah padaku. Aku ini bodoh ya? Kurasa aku akan
menjadi pacarmu yang paling buruk.
Setelah kau membaca cerita sepanjang ini,
pada akhirnya yang ingin kukatakan adalah maaf untuk segalanya. Maafkan aku.
Maaf karena telah membuatmu tidak nyaman.
Maaf karena membuatmu marah. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kekasih yang
kau harapkan. Dan maaf, karena aku benar-benar telah jatuh cinta padamu.’
Gadis
itu terpaku pada posisinya. Suara Taeyong terus memaksa masuk menembus gendang
telinganya. Wajah Taeyong juga seenaknya menguasai otaknya. Jatung Rin tidak
berdebar romantis seperti biasa. Well, meski bisa dikatakan kalau harapannya
membaca tulisan Taeyong terkabul, tapi.. kenapa sekarang dadanya malah sakit?
“Lho?
Aneh.. Kenapa tiba-tiba aku sulit bernafas?”, kata Rin.
Rin
meletakkan, bukan, ia meninggakan dokumen-dokumen yang harus ia selesaikan
sebelum pertemuan OSIS. Ia berlari keluar ruangan.
“Hm..
Sebenarnya Rin memang gadis yang polos juga.. Benarkan Kagami-kun?”, tanya Riko
sedari tadi berdiri di luar ruang OSIS.
“Ya..
Takamura dan Taeyong-senpai memang pasangan yang polos..”, jawab Taiga, kepala
kelas polisi.
“Tokorode
(ngomong-ngomong), kau sengaja membiarkan Taeyong menulis sembarangan di kertas
itu ya?”, tanya Riko.
“Hai..
Aku tahu dari raut wajah Taeyong-senpai, sepertinya ada yang tidak beres...
Makanya aku diamkan saja.. Lagipula, Hayashi meminta tolong padaku untuk
menyampaikan pesan Taeyong-senpai ke Takamura..”
“Hayashi-san
ga?”
$$$$$
“Taeyong,
jangan tutup pintunya begitu!! Kami bukan homo kok! Kami hanya sedang melatih
diri untuk lebih peka sama payudara cewek!!”, teriak Yuta heboh berlari ke
pintu.
‘Brak!!’,
Yuta membuka pintu yang ditutup Taeyong.
“Taeyong!!!”,
panggilnya.
“Eh..!
Tidak apa-apa kok.. Kau lanjutkan saja bersenang-senangnya..”, jawab Taeyong
mengibaskan tangan pelan dengan suara ragu.
“Aku
cuma mau beli kado untuk Hayashi, tapi aku tak tahu ukurannya apa! Lalu mereka
mengajariku..”, jelas Yuta.
“Kau
seriusan mau memberi Hayashi kado bra?”, Taeyong menatap Yuta datar.
“Iya..”,
Yuta mengangguk melas takut Taeyong akan jijik olehnya.
“Kau
tidak takut dibantai habis?”
“Eh?
Dibantai..?”, Yuta memiringkan kepala.
“Astaga..
Memangnya kalau kau memberi Hayashi hadiah seperti itu, Rin akan diam saja?
Lagipula Hayashi pasti juga akan menusukmu dengan paku..”, Taeyong berkacak
pinggang.
“Souka..?
Hmm..”
Ketika
Yuta sedang berpikir dan larut dalam pertimbangannya, seseorang melesat
menerjang angin melewati Yuta. Terkejut dengan orang yang melewatinya tanpa
permisi itu, Yuta sontak menoleh ke belakang dan..
“Rin...”,
gumam Taeyong dengan mata membulat sempurna.
Rin
memeluk Taeyong dengan begitu erat di depan ruang klub band. Disana masih ada
orang, tidak sepi, lalu kenapa Rin menunjukkan afeksi pada Taeyong? Bukankah
mereka tidak pernah mengumbar kemesraan meski semua orang sudah tahu status
berpacaran mereka?
“Wah..!”,
para anggota band terkejut.
“R-rin..?
K-kita sedang tidak berdua lh-“
“Aku
tidak peduli.. Aku hanya ingin memelukmu sekarang..”, potong Rin masih
membenamkan wajahnya di dada Taeyong.
“Rin..”
“Gomennasai..
Aku egois dan tidak memikirkan perasaan Taeyong-senpai.. Aku pikir
Taeyong-senpai sudah tidak mencintaku lagi.. Tapi ternyata Taeyong-senpai hanya
ingin membuatku semakin bahagia dan nyaman berada di sisimu.. Aku tidak
memikirkan semua itu dan seenaknya saja membuatmu kepikiran dengan sikapku yang
dingin..”, jelas Rin menatap Taeyong lekat.
“Kau..
Membaca pesanku..?”, tanya Taeyong hati-hati.
Anggukan
Rin membawa semburat merah di wajah Taeyong. Ia sampai memalingkan wajah
menyembunyikan wajahnya yang panas.
“Taeyong-senpai?”,
panggil Rin heran melihat Taeyong membisu.
“Ah,
aku benci diriku yang seperti ini..”, ujarnya menatap tembok.
“Eh?”
“Sebenarnya
ada banyak hal yang ingin kubicarakan secara langsung pada Rin.. Aku juga mau
berbicara dengan lancar seperti yang Rin lakukan tadi.. Tapi tidak bisa keluar
dengan mudah..”, Taeyong menggaruk pelipisnya tak berani membalas tatapan mata
Rin.
“Daijoubu
desu yo, Taeyong-senpai.. Kau tidak perlu repot-repot mencemaskan masalahku
sebagai wanita.. Selama Taeyong-senpai memperlakukanku sebagai kekasihmu, itu
sudah membuatku senang..”
“Rin...”
Rin
mengembangkan senyum lebarnya. Pipinya juga merah, tentu Rin juga malu
mengatakan itu semua pada Taeyong. Dari awal pacaran sampai sekarang, ini
adalah pertama kalinya mereka membicarakan hubungan mereka sendiri.
“Aku
sudah menyiapkan flashdisk untuk kau bawa pulang.. Ada di tasku! Semoga kau
suka..!”, Taeyong langsung menangkup tangan Rin dengan wajah mantap dan nada
semangat.
“Hahaha..
Okeyo, terimakasih..”, jawab Rin.
Johnny,
Sol, Ten, dan Jae memberikan standing applause. Oh, shit. Mereka benar-benar
lupa kalau ada orang memeprhatikan mereka daritadi!
“Semoga
langgeng ya!”, ucap Ten.
“Selamat,
senpai.. Hubungan kalian naik level..”, sambung Jae.
“Ini
bisa jadi berita paling populer di sekolah nantinya.. Hmm..”, gumam Sol.
“I
love you!”, timpal Johnny memeluk dirinya sendiri.
“Ee,
teman-teman.. Kalian merusak suasana yang mereka bangun susah payah lho..”,
ujar Yuta memunculkan kepala dari balik pintu yang terbuka.
“Eh,
apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa banyak sekali balon? Apa mau membuat
pesta kejutan ulangtahun?”, tanya Rin.
“Eh?!
I-itu.. Anu.. Untuk.. Untuk..”, Sol terperanjat kaget.
“Mereka
sedang menajariku ukuran bra wanita..”, jawab Yuta tanpa dosa dengan bangga di
sebelah Rin.
Anggota
band memberikan tatapan kau-bosan-hidup-ketua-?. Sedangkan Taeyong menundukkan
kepala maklum.
“Hah..???”,
Rin menatap Yuta galak.
“Aku
mau memberi Hayashi hadiah bra.. Supaya hubugan pertemanan kami bisa semakin
erat! Kau tahu kan, dia akan bekerja bersamaku dalam membuat lirik..”, jelas
Yuta. Masih bangga.
“Nakamoto-senpai...”,
Rin mulai mengeluarkan aura hitamnya.
“Hm?”
“Kemari
sebentar..”
Yuta
ditarik keluar ruangan. Pintu ruang ditutup. Dan.. hanya keheningan yang
terdengar.
$$$$$
“Wah,
dia juga diterima? Hebat.. Apa sih yang dia tampilkan kemarin?”
“Mungkin
dia hanya memamerkan dada saja..”
“Oh
benar.. Pasti menggoda para juri dengan tubuhnya yang bagus..”
“Tidak
tahu malu, dasar..”
Biasa.
Itu sudah biasa kudengar kok. Kalian jangan khawatir. Meski wajahku tidak
cantik, tapi tubuhku ini tidak selaras dengan rupaku. Aku sudah berusaha sebisa
mungkin untuk meminimalisir penampilan yang membuatku menonjol. Aku tidak
berdandan agar mereka semakin tidak memperhatikanku. Tapi selalu saja gagal.
Akhirnya aku menyerah dan dengan rela menerima semua gunjingan mereka. Lagipula
mau di bagaimanakan lagi? Ini adalah tubuh anugerah orangtuaku.
“Kenapa
mulainya lama sekali ya?”
“Ini
sudah terlambat dari jam yang ditentukan lho..”
“Apa
ada masalah?”
Aula
ini sudah penuh dengan para peserta yang akan ikut andil dalam kontes kreasi
tersebut. Tapi kenapa belum ada tanda-tanda akan dimulai ya pertemuannya?
“Etto..
Maaf menunggu lama.. Terimakasih sudah datang pada pertemuan perdana hari
ini..”, pria bertubuh tinggi itu menyita perhatian dengan menggunakan
microphone.
“Aku
berdiri disini mewakili Nakamoto Yuta untuk memimpin acara pertemuan ini..”,
lanjutnya.
“Dimana
Yuta-senpai?”, celetuk seorang siswi cemberut. Sepertinya dia fans
Nakamoto-san.
“Dia..
Berhalangan hadir.. Sedang mempersiapkan ruangan untuk kalian..”, jawabnya agak
ragu.
“Baiklah,
langsung saja.. Kalian akan dibagi dalam dua tim.. A dan B.. Tim A akan
diketuai oleh Nakamoto Yuta dan tim B oleh Lee Taeyong.. Akan kubacakan
pembagiannya..”, kata pria itu kemudian membaca kertas yang ia bawa.
Satu
persatu nama murid dipanggil. Mereka yang ada di tim A berdiri di sebelah kiri
panggung. Sedangkan B di kanan. Kalau aku perhatikan, tim A terdiri dari
murid-murid yang pandai main musik. Dan tim B terdiri dari murid yang badannya
bagus. Kuharap Rin tidak menyesali keputusannya telah memberikan kewenangan ini
ke klub band.
“Hayashi
Hakuro, tim B..”
Aku
mendongakkan kepala ketika mendengar namaku dipanggil. Sambil membenarkan
kacamata, aku berjalan ke sisi kanan panggung.
“Baik,
sudah semua.. Sekarang silakan para ketua tim masuk ke lingkaran anggotanya..”
Taeyong-senpai
menghampiri kumpulan tim B. Ia memasang senyum di wajah putihnya. Entah kenapa
para siswi yang ada disini jadi agak berisik ketika Taeyong-senpai mendekat.
“Aku
adalah Lee Taeyong, ketua tim B.. Nah, kita adalah tim kedua yang akan maju di
kontes kreasi SMA se-Jepang.. Mulai hari ini, mohon kerjasamanya ya..”, ujarnya
menyapa kami.
“Yoroshiku
onegaishimasu (mohon kerjasama/bantuannya)..”, jawab kami serempak.
Taeyong-senpai
menjelaskan konsep tim kami. Ya, secara garis besar tim B akan maju dengan
penampilan mini drama musikal. Ada beberapa stage yang perlu disiapkan. Hanya
itu. Setelah menentukan tanggal latihan, kami pun diizinkan untuk bubar.
“Hayashi..”,
panggil Taeyong-senpai menghampiriku yang sedang menggantungkan tas.
“Hai..?”,
jawabku.
“Setelah
ini kau ada acara?”
“Aku
ada kegiatan klub..”
“Bagus..”
“Eh?”
“Mmm,
tak apa.. Pokoknya kau jangan pulang dulu ya..”
“Apa
ada masalah, Taeyong-senpai?”
“Yuta..
Dia berencana untuk bertemu denganmu.. Tapi karena Rin kelepasan tenaga, jadi..
Ya.. Mungkin dia akan sedikit terlambat..”, jelas Taeyong tak yakin.
“Nakamoto-san?
Baiklah..”, jawabku.
Taeyong-senpai
lalu kembali ke kumpulan anak band yang sedang menanyainya dengan heboh. Kalau
tidak salah dengar sih bagaimana-bagaimana kata mereka. Aku sempat melihat
Taeyong-senpai mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya. Kenapa mereka bersikap
begitu? Hm, sudahlah. Ada kegiatan klub yang harus kuhadiri.
$$$$$
‘Prang!!’
Sebuah
vas bunga pecah di dalam ruang klub ikebana (merangkai bunga). Air yang ada di
dalam vas pun membasahi beberapa kertas desain rangakaian yang ikut terjatuh
dari atas meja.
“Astaga,
Hayashi! Kenapa kua tidak hati-hati?!”, bentak salah seorang siswi dengan
name-tag Sanada Yuu.
“Tapi
aku tidak menyenggolnya.. Aku ada disini..”, jawab Hakuro dari meja ujung
satunya.
“Kau
pasti tidak sengaja menggeser meja hingga vasnya jatuh.. Cepat bereskan!”
“Eh?
A-aku..?”
“Iya,
kau.. Memangnya aku sedang bicara dengan siapa?”
“Hai..”
Hakuro
keluar ruang klub untuk mengambil alat kebersihan.
“Hahahaha..
Dasar bodoh sekali sih!”, tawa Yuu.
“Dia
memang mudah untuk ditindas ya! Gampang menurut begitu..! Hahaha..”, sahut
temannya yang lain, Watanabe Natsuko.
“Dia
mana berani melawan kita sih? Lemah begitu juga..”, tambah siswi lain, Irie
Sora.
“Padahal
dia ketuanya, tapi malah jadi pesuruh klub..! Hahahaha..”, timpal siswi bernama
Moriyama Chisaki.
Pada
saat itu, Hakuro kembali membawa alat kebersihan lalu membereskan kekacauan
yang ada disitu. Ia menyapu pecahan kaca vas, mengepel air yang tumpah, dan
merapikan meja kursinya lagi.
“Kertas
desain ini.. Apakah boleh dibuang?”, tanya Hakuro.
“Jangan!
Susah payah aku membuatnya!”, jawab Chisaki.
“Tapi
warna catnya sudah luntur karena basah..”
“Dijemur
saja..”, tukas Natsuko sibuk menata rangkaian bunganya.
“Dijemur??”
Baiklah.
Hakuro akan menjemurnya di dekat jendela. Selesai menyelesaikan masalah yang
tak pernah ia buat, Hakuro kembali berkutat pada kerjaannya. Merangkai bunga.
“Hei,
kau merangkai bunga untuk acara apa?”, tanya Sora.
“Aku
hanya latihan saja..”, jawab Hakuro membenarkan letak kacamatanya.
“Latihan?
Kau ini aneh.. Kita semua disini merangkai bunga untuk mempersiapkan acara..
Festival budaya masing-masing kelas misalnya.. Atau mungkin merangkai bunga
untuk acara pertemuan orangtua dengan guru!”, kata Yuu.
“Bukankah
sensei belum memilih orang untuk mengurus acara itu?”, tanya Hakuro.
“Oh,
jadi kau mau cari muka di hadapan sensei pengampu klub ini?”, tanya Chisaki.
“B-bukan
begitu maksudku..”
“Hah,
ternyata kau ini penjilat ya..”, ujar Sora.
Hakuro
terdiam. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya menghiraukan siswi-siswi itu
menyindirnya. Ia tidak pernah masalah dengan hal itu. Ia sudah biasa.
“Hei,
kau tahu Takamura Rin?”, tanya Natsuko sukses membuat Hakuro menajamkan
telinga.
“Tahu
lah.. Dia kan ketua OSIS kita.. yang galak dan tidak becus mengurus apa-apa itu
kan?”, jawab Chisaki.
“Hahaha..
Ternyata dia itu murahan sekali lho..”, ujar Natsuko.
“Maksudmu?”,
tanya Sora.
“Dengar-dengar
kemarin waktu Kaijou bertemu dengan SMA Shutoku, ketua OSIS kita itu menggoda
ketua OSIS mereka.. Tak hanya itu, sekretaris OSIS SMA Yosen juga digoda
olehnya.. Padahal kan dia sudah berpacaran dengan Taeyong-senpai yang tampan
dari kelas 3-B..”, jelas Natsuko.
“Heeeee,
murahan sekali dia.. Semua orang digoda.. Ckckck..”, sahut Yuu.
“Oh
ya, katanya si Takamura Rin itu juga diam-diam berpacaran dengan om-om lho..
Katanya dia pernah jadi pelacur di SMP..”, tambah Sora.
“Ihhhh,
menjijikan sekali..”, timpal Chisaki.
‘Brak!!!’
Hakuro
menggebrak meja dengan sangat keras. Ia menatap keempat anggotanya dengan
sangat tajam. Tapi karena cahay matahari membias di kacamata Hakuro, mereka
jadi tidak bisa merasakan tajamnya tatapan Hakuro.
“Kenapa
dia?”, bisik empat siswi itu.
“Tolong
tarik ucapan kalian..”, ujar Hakuro.
“Hah?
Apa urusannya denganmu?”, tanya Yuu meremehkan.
“Aku
bilang tarik ucapan kalian..”, ulang Hakuro.
“Dasar
aneh.. Sudah sana kembali membuat bunga saja sana! Tidak usah mengganggu
kami!”, kata Sora.
“Rin
bukan orang seperti itu!! Dia tidak pernah melakukan hal yang kalian bicarakan!
Sama sekali tidak pernah!”, bentak Hakuro.
“Hoo,
kau berani melawan kami ya ternyata..”, Chisaki melipat tangan mendekati
Hakuro.
“Kami
bersikap baik padamu dan kau malah menentang kami..”, tambah Sora ikut
mendekati Hakuro.
Keempat
siswi itu mendesak Hakuro sampai ke dinding.
“Memangnya
kenapa kalau kami membicarakan wanita jalang itu?! Apa urusannya denganmu?!”,
bentak Yuu kemudian memukul wajah Hakuro.
Beberapa
siswi lain yang daritadi hanya diam saja tak berani berbuat apa-apa, kini berlari
keluar ruangan. Mereka takut. Mereka tak ingin berurusan dengan keempat siswi
kasar ini. Sebenarnya kasihan dan ingin membantu Hakuro, tapi mereka terlalu
takut untuk melakukan itu.
“Kalian
tidak tahu apa-apa tentang Rin.. Jangan membicarakannya seperti itu!”, bantah
Hakuro.
“Anak
ini berani sekali.. Oi, kau itu bukan siapa-siapa! Tidak usah membantah deh!”,
teriak Chisaki.
“Dasar
tidak berguna! Tempatmu di bawah sana tuh! Sebagai pesuruh dan pembantu!!”,
Natsuko mendorong Hakuro hingga gadis itu terjatuh.
“Sudah,
ayo pergi.. Aku tidak sudi berada di ruangan yang sama dengannya!”, ajak Yuu.
Keempat
siswi itu akhirnya pergi meninggalkan ruangan. Ruang klub ikebana sekarang jadi
sepi. Kenapa sih? Kenapa mereka menebarkan rumor jahat seperti itu tentang Rin?
Itu semua tidak benar. Rin tidak akan melakukannya.
“Ah..”,
rintih Hakuro merasakan sakit di tangan dan lututnya ketika berdiri.
Gadis
itu sedang membersihkan bajunya dari kotoran ketika derap langkah cepat
menghampiri ruang klub ikebana.
‘Brak!!’
“Konnichiwa~!!!”,
teriak Yuta membuka pintu ruang dengan semangat.
Tidak
ada respon. Hakuro hanya menatap kedatangan Yuta dengan heran. Pria itu senang
sekali bisa datang ke ruang klub ini speertinya.
“Are?
Kenapa disini sepi sekali?”, tanya Yuta melihat isi ruang klub. “Eh! Hayashi!
Untung kau masih ada disini..”, ujar Yuta melihat Hakuro berdiri disana.
“Kenapa sepi sekali? Apakah kegiatan klub sudah selesai?”, tanya Yuta masuk.
Hakuro
menatap Yuta sambil bergumam memikirkan jawaban.
“Rambutmu
berantakan..”, kata Yuta lalu merapikan rambut Hakuro.
Mendadak
dapat perlakuan seperti itu. Hakuro terlonjak kaget. Ia agak mundur ke
belakang.
“Ah,
gomen..”, ujar Yuta pendek.
“Nakamoto-san..
Ada apa kemari?”, tanya Hakuro akhirnya bersuara.
“Lho?
Apakah Taeyong belum memberitahumu?”
Oh
iya. Tadi Taeyong sudah memberitahunya kalau Yuta akan datang untuk bertemu
dengannya. Tiba-tiba ia lupa karena kesal dengan teman-temannya yang bicara
jelek tentang Rin.
“O-oh,
sudah kok.. Lalu, ada perlu apa mencariku?”, tanya Hakuro.
“Aku
butuh bantuanmu!”, Yuta menangkupkan tangan memohon.
“Eh?”
“Aku
harus cepat menyelesaikan lirik untuk kontes sebelum jam enam.. Ada janji yang
harus kupenuhi setelah itu..”, jelas Yuta.
“Oh..
Ganbare (selamat berjuang)..”
“Bukan!
A-aku membutuhkanmu untuk membantuku membuat lirik!”, benah Yuta cepat.
“He”
“Kenapa
responmu datar sekali begitu?”
“Tapi
aku tidak bisa buat lirik.. Aku mau pulang..”, jawab Hakuro mengambil tas.
“Apa?!
T-tapi Takamura bilang kau pandai membuat lirik! Aku sudah minta izinnya kok..
Dia bilang boleh..”
Hakuro
berhenti bergerak. Ia lalu menoleh ke Yuta.
“Rin..
Yang mnyuruhmu menemuiku?”, tanya Hakuro.
“Sou..”,
jawab Yuta mengangguk mantap.
“Kau..
Tidak keberatan kalau aku yang bantu?”
“Hei,
kau ini bicara apa? Justru aku berterimakasih kan?”
Gadis
itu tersenyum. Ia menarik nafas dan menatap Yuta.
“Baik..
Akan kubantu..”
$$$$$
Taeyong,
Johnny, Sol, Ten, dan Jae mondar-mandir tidak tenang di dalam ruang band.
Mereka mencemaskan sesuatu. Apalagi kalau bukan keadaan Yuta. Dia masuk ke
ruang klub ikebana menemui Hakuro. Menemuinya secara langsung lho! Duh,
bagaimana kalau Yuta salah bicara dan langsung masuk surga? Ya kalau masuk
surga, kalau malah jadi hantu sekolah dan gentayangan?! Oke, yang terakhir itu
ekstrim.
“Kau
dengar sesuatu tidak?”, tanya Ten.
“Hening
sekali.. Tidak ada suara..”, jawab Johnny menempelkan telinga ke dinding
pemisah ruang klub band dan ikebana.
“Kenapa
Takamura-senpai mengizinkan Yuta-senpai menemui Hayashi-senpai sih?”, tanya Jae
heran.
“Itu
juga yang mengganggu pikiranku tadinya..”, ujar Sol.
“Mungkin
Rin sudah kesal hingga tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan pada Yuta..
Hmm..”, celetuk Taeyong ikut berpikir.
“Aduh!!
Kenapa jantungku berdebar begini sih? Debaran ini lebih dahsyat daripada
menyatakan cinta ke orang yang kusuka..”, kata Johnny memegang dadanya.
“Bagaimana
kalau Yuta-senpai kelepasan bicara? Dia kan sering asal ngomong tanpa sadar apa
artinya!”, tambah Ten.
“Tadi
saja dia sudah dihajar sampai pingsan oleh Takamura kan?”, ujar Sol.
“Yah,
sekarang kita hanya bisa menunggu dan terus mengawasi..”, ucap Jae menyantaikan
diri di sofa.
“Daripada
kalian mencemaskan Yuta, kenapa tidak mulai mengarang nada?”, usul Taeyong.
“Nah,
itu boleh juga..”, Johnny langsung mencari stick drumnya dengan liar.
“Johnny..
Johnny, please.. Stick drummu kau tempelkan di punggungmu dengan selotip
tadi..”, kata Sol lelah melihat Johnny mulai mengacak ruang band.
“Oh
iya.. Hahaha.. Bisa bantu aku mencabutnya?”
Ini
fenomena baru untuk Taeyong. Ia kenal Yuta dan anggota band. Tapi ia tak tahu
ternyata anggota band sekonyol ini. Hm, mirip juga dengan dirinya. Punya persona
on stage dan off stage. Pasti Taeyong akan cepat akrab dengan mereka.
$$$$$
Sepanjang
pertemuan OSIS, Rin terus saja mengembangkan senyum lebarnya. Nadanya begitu
ringan dan kata-katanya ramah juga mudah dipahami. Siapapun yang melihatnya
tentu akan langsung menebak kalau mood Rin sedang baik. Ah, syukurlah rapat
kali ini berjalan dengan tenang tanpa sikap sadis ketua OSIS.
“Oh
ya, di festival budaya nanti.. Apakah kalian ada ide untuk ruang OSIS?”, tanya
Rin.
“Bagaimana
kalau kita membuat cafe halloween?”, usul Yukio.
“Baiklah,
kita tampung dulu.. Ada usul lain?”
“Ketua,
emm, mungkin ini akan sedikit lebih merepotkan kita.. Tapi bagaimana kalau
sekali-sekali kita mencoba membuka cafe kucing?”, usul Riko, penggila kucing.
“Cafe
kucing?”, Rin sedikit memiringkan kepalanya.
“Ya..
Cafe yang bertemakan kucing.. Para pengunjung juga boleh membawa kucing mereka
kemari.. Akan ada tempat bermain untuk kucing juga..”, jelas Riko.
“Oh,
sepertinya aku tahu konsep cafe itu.. Kalau tidak salah di Akihabara sudah dibuka
cafe-cafe seperti itu..”, timpal Ryou.
“Tapi
kenapa kucing? Anjing saja bagaimana?”, usul Yukio.
“Hei,
anjing terlalu berisik.. Gonggongan mereka bisa mengganggu yang lain..”, jawab
Riko.
“Bukankah
kucing juga merepotkan? Mereka suka mencakari orang..”, sahut Ryou.
“Menurut
Ketua bagaimana?”, tanya Yukio.
Rin
berpikir disitu. Ia suka kucing, tapi ia juga tidak benci anjing. Taeyong suka
apa ya? Hm..
“Kalau
buka cafe kucing, kita bisa pakai pakaian yang manis dan lucu!”, kata Riko
senang.
“Itu
untuk perempuan.. Kami??”, ujar Yukio.
“Yah
pakai saja baju maid pria dan bandana kucing.. Pasti akan sangat menggemaskan!
Hahaha..”
“Yang
benar saja..”
“Baiklah,
sudah kuputuskan..”, potong Rin mengalihkan perhatian anggotanya.
“Apa,
Ketua?”, tanya Ryou.
“Kita
buka cafe kucing untuk festival budaya kelas OSIS..”
$$$$$
“Tema
apa yang Nakaoto-san angkat untuk membuat lirik ini?”, tanya Hayashi.
“Eemmm..
Etto.. Aku belum pikirkan..”, jawabku dengan senyum bodoh.
“Eh?
Sama sekali belum?”
“Aku
tidak bisa berpikir.. Otakku benar-benar mampet sekarang..”
“Kenapa
tidak dirundingkan dengan Taeyong-senpai dulu?”
“Taeyong
bilang dia yang akan mengikutiku saja..”
“Saat
ini hal apa yang ingin Nakamoto-san lakukan?”
Aku
ingin mengukur ukuran bramu. Tidak mungkin aku menjawabnya begitu kan?! Kami
baru saja bercakap dengan normal, masa aku harus mati duluan? Hm.
“Hal
yang ingin kulakukan? Main sepak bola?”, jawabku malah memberikan pertanyaan.
“Kalau
begitu, buat lirik untuk menyemangati diri saja.. Bagaimana?”
“Menyemangati
diri ya? Tapi kalau seperti itu, kontennya akan terlihat sangat membosankan..”
“Dicampur
saja..”
“Bagaimana
caranya?”
“Berikan
makna tersirat pada lirik itu.. Lirik yang menyemangati secara lugas, tapi juga
bisa menyampaikan sebuah perasaan tersembunyi..”
“Jadi
bisa punya banyak arti! Wah, keren.. Boleh.. Ayo dicoba..”
Aku
menyiapkan pena. Barusaja meletakkan tangan di atas kertas, otakku blank.
Benar-benar putih bersih seperti halaman kertas ini. Oh, sialan.
“Aku
tidak ada ide apapun!”, ujarku meratapi nasib.
“Pelan-pelan
saja.. Supaya lebih mudah untuk dibuat, biasanya aku akan mulai dari kegiatan
pertama yang kulakukan.. Misalnya bagun pagi, mandi, sarapan, berangkat ke
sekolah..”
Aku
berpikir keras disana. Bangun pagi.. Hmm..
“Jangan
takut.. Untuk bangun pagi..”, kataku menatapnya.
“Eh?
Terlalu lugas, Nakamoto-san..”, responnya.
“Jangan
takut.. Untuk membuka matamu..”
Kalimat
itu membuat Hayashi diam menatapku. Apa yang dia tatap? Apa ada sesuatu di
wajahku? Atau dia sedang melamun? Apakah dia berpikir?
“Ha-hayashi..?”,
panggilku mulai agak takut.
“Jangan
takut.. Jangan takut untuk membuka matamu.. Jangan takut untuk melangkah
maju..”, ujarnya.
Aku
segera menuliskan lirik itu di secarik kertas putih milik Hayashi. Maklum, aku
tidak bawa tas. Jadi ini semua milik Hayashi yang baik hati.
“Aku
tidak akan pergi darimu.. Aku akan selalu ada menyelimutimu.. Untuk itu, jangan
pernah takut lagi..”, sambungku lalu menatapnya cerah.
“Itu
bagus sekali, Nakamoto-san..”, katanya dengan senyum mengembang.
Yey!
Aku bisa buat lirik! Sepertinya otakku mulai berjalan lagi. Ah, asyiknya! Ada
banyak sekali kata-kata yang muncul. Aku jadi seperti kamus berjalan. Aduh,
yang mana dulu nih yang mau dituangkan? Astaga, hanya dengan sekalimat bantuan
dari Hayashi, ideku langsung lancar!
“Karena
aku akan menjadi nafasmu.. Arigatou na, Hayashi!”, kataku masih asyik
menuliskan lirik tanpa menatapnya.
“U-un..”,
jawabnya ragu.
Aku
tak sempat menatapnya. Tapi kurasa nada jawabannya itu sedikit tergagap. Apa
dia takut? Oh! Apa ekspresi tidak senonohku keluar tanpa kusadari?! Kuso.
Tiba-tiba
suasana disini jadi tenang. Tidak ada yang bicara. Aku sibuk berkreasi dan
ketika berhenti untuk berpikir, aku juga mendengar Hayashi menggoreskan penanya
di secarik kertas. Karena penasaran, aku mencondongkan badan untuk melihat apa
yang ia kerjakan. Sebuah lirik lagu!
“Kau
juga buat?”, tanyaku.
“M-maaf..”,
jawabnya.
“Kenapa
minta maaf?”, aku tak habis pikir kenapa tiba-tiba aku dapat permintaan maaf
darinya dengan kepala tertunduk.
“Melihat
Nakamoto-san terlihat sangat senang membuat lirik, aku juga jadi ingin buat
satu.. Siapa tahu lirik ini bisa membantumu kalau sedang mampet ide..”,
jelasnya sama sekali tak menatapku.
“Hei,
Hayashi..”, panggilku memangku dagu dengan tangan.
“H-hai..”,
jawabnya terdengar takut.
“Apa
aku ini menakutkan?”
“Eh?
T-tidak kok..”
“Lalu
kenapa kau tak berani menatapku?”
“Aku....
Itu.. Ya, karena aku...”
“Kau?”
Aku
masih sabar menunggunya menjawab. Kupikir dengan memberinya waktu lebih panjang
akan membuatnya merasa lebih rileks berada di dekatku. Tapi ternyata aku salah.
Dia malah bangkit berdiri dan membungkuk pamit.
“Aku
permisi dulu..”, katanya.
Tentu
saja aku tak membiarkan anak ini berlalu meninggalkanku di ruangan ini sendiri.
Aku menghentikan langkahnya dengan tubuhku yang lebih besar darinya. Ya, aku
berdiri menghalangi jalannya. Dia ke kanan, aku ikut ke kanan. Ke kiri, aku
juga mengikuti. Pada saat seperti inipun dia sama sekali tak mendongak untuk
memarahiku. Dia masih terus saja menundukkan kepala dan sesekali membenarkan
letak kacamatanya. Serius, sekarang aku benar-benar penasaran dengan Hayashi.
“Na-nakamoto-san..
Aku mau lewat..”, ujarnya.
“Dame..”,
jawabku pendek lalu memegang ke dua pundaknya.
Kusamakan
tatapan mataku ke matanya. Ia masih berusaha menghindari tatapanku. Haha, dia
pasti sudah sangat tidak nyaman sekarang. Tapi itu justru imut!
“Kalau
kau bisa adu tatap denganku selama sepuluh detik, akan kubiarkan lewat..”,
tantangku.
“Eh?
K-kenapa?”
“Pokoknya
harus menatapku dulu selama sepuluh detik.. Kalau tidak mau, kau tidak boleh
pulang..”
Duh,
aku ini cari mati ya. Bagaimana kalau Takamura sampai tahu? Aku bisa diapakan
olehnya karena sudah menahan Hayashi?
“Sekarang..
Ayo kita coba..”, ajakku.
Aku
sudah menyiapkan wajahku di depannya. Aku juga sudah menatapnya terus. Beberapa
detik kemudian Hayashi akhirnya menyerah dan mencoba untuk membalas tatapan
mataku. Aku tersenyum disitu. Menghitung dalam hat, satu, dua, tiga, eh? Apa
ini? Empat, lima...
Kenapa
jantungku jadi bedetak cepat begini? Duh, rasanya jadi sesak nafas. Apa aku
gugup? Hei, kenapa sepuluh detik rasanya sangat lama?!
“Hahaha..
Aku lupa ambil barangku..”
“Ah,
Chisaki bodoh.. Untung kau ingat..”
Pada
saat itu, beberapa siswi membuka ruang klub dan melihat kami. Oke, aku bisa
jelaskan pada kalian. Aku tidak mencium Hayashi kok! Sungguh!! Pose kami memang
mencurigakan, tapi kami cuma adu tatap saja, sumpah! Badanku yang lebih besar
dari Hayashi, kepalaku yang tadi condong dan kusamakan tingginya dengan Hayashi..
Membuat mereka jadi salah sangka kalau aku sudah mencium anak ini!!! Argh!!
“Nakamoto-senpai..”,
panggil salah satu dari mereka.
“Eee..
Ini tidak seperti yang kalian bayangkan..”, elakku mencoba tenang.
“Hei,
Hayashi! Apa yang kau lakukan pada Nakamoto-senpai ku?!”, bentak siswi itu.
Eh?
Kok mereka malah memarahi Hayashi sih? Aku menatap keempat siswi itu dengan
heran. Kenapa Hayashi juga diam saja? Kau kan tidak salah, ayo katakan kau
tidak salah, Hayashi!
“Nakamoto-senpai
sudah kau apakan, Hayashi? Ayo jawab! Kau tidak melukainya kan?”
“Apa
kau mencoba untuk menggodanya juga?! Dasar, wanita murahan..”
Hah?
Mereka ini...
“Oi..!”,
sela-ku mengalihkan perhatian mereka dari Hayashi. “Kalian ini siapa sih?
Kenapa tiba-tiba masuk dan mengganggu wak-“
“Gomennasai,
Nakamoto-san..”, potong Hayashi membungkukkan badannya.
“Eh?
Hayashi, kau kan-“
“Aku
pulang duluan.. Maaf, Nakamoto-san..”, Hayashi meraih tasnya.
“Oi,
Hayashi..”, aku mencoba memanggilnya, tapi ia tak menoleh, peduli pun tidak.
“Nakamoto-senpai
baik-baik saja?”, siswi-siswi itu mencemaskan orang yang salah.
“Kalian
ini-“
Tunggu.
Itu semua milik Hayashi. Dia tidak sempat membereskan barangnya. Ck, kenapa
main tinggal saja sih anak itu?
Aku
mengambil pena dan kertas lirik yang sudah kami buat tadi. Aku tak peduli
dengan panggilan para siswi itu. Aku langsung berlari keluar ruangan dan
mengejar Hayashi. Semoga dia masih ada di-
Oh,
shit! Dia sudah bersama Takamura! Aku bsia dihabisi kalau tiba-tiba muncul dan
menghentikan Hayashi! Aduh, masa aku harus menunggu sampai besok? Nanti aku
tidak bisa tidur. Oh, ibu.
“Oi,
apa yang kau lakukan disini? Menguntit siapa?”, suara Taeyong menolekan
kepalaku.
“Taeyong..
Sedang apa kau masih disini?”, tanyaku.
“Dasar
anak tidah tahu diuntung.. Daritadi aku dan anggota bandmu itu ada di ruang
klub band terus! Kami mengawasi dan berjaga kalau kau mengapa-apakan Hayashi!”,
jelas Taeyong.
“Eh?
Benarkah?”
Lalu
aku melihat Johnny, Sol, Ten, dan Jae turun dari tangga. Mereka serius
menjagaku dari ruang sebelah? Apa aku ini anak mereka, astaga.
“Itu..
Aku harus.. Argh!!”, aku menyerah.
Aku
tidak tahu harus jelaskan bagaimana. Aku hanya bisa menghela nafas panjang,
menutup mata sambil menyandarkan tubuhku ke dinding.
“Jelaskan
dalam perjalanan..”, Johnny merangkulku.
Kurasa...
Aku tidak akan sanggup menghadiri kencan buta bersama temanku itu hari ini.
Tiba-tiba saja tubuhku sangat lelah.
$$$$$
“Tanganmu
terluka.. Lututmu juga.. Apa yang sudah Nakamoto-senpai lakukan padamu?!”,
tanya Rin heboh.
“Hahaha,
dia tidak melakukan apa-apa, Rin.. Aku tadi terjatuh sendiri kok..”, jawab
Hakuro berjalan di samping Rin.
Rin
terdiam sesaat.
“Apa
siswi-siswi itu lagi?”, tanya Rin tanpa menatap Hakuro.
“Hn?
Tidak kok.. Kan aku sudah bilang kalau aku terjatuh sendiri..”, jawab Hakuro.
“Kali
ini, apa yang mereka gosipkan?”, tanya Rin lagi tak menggubris alasan Hakuro.
“Rin..”
“Haku..
Aku tahu apa yang terjadi meski kau tidak cerita.. Kau bukan tipe orang yang
ceroboh sampai bisa terjatuh sendiri.. Sekarang, beritahu aku..”, pinta Rin.
“Aku
benar-benar tidak apa-apa kok.. Mungkin aku kelelahan sampai jatuh tadi.. Aku
kurang hati-hati..”
“Haku..!”
“Oh
ya! Hubunganmu dengan Taeyong-senpai sudah baikan kan?”, Hakuro mencoba
mengalihkan topik.
Rin
menatap wajah Hakuro yang penuh senyum. Ia ingin berdecak dan mengomel kesal.
Tapi, akhirnya Rin hanya bisa menghela nafas dan mengangguk.
“Yokatta
(syukurlah).. Taeyong-senpai dan Rin memang tidak pantas kalau bertengkar..
Rasanya aneh!”
“Hahah,
begitukah? Ngomong-ngomong, kau memanggil Taeyong-senpai dengan senpai.. Tapi
kenapa memanggil Nakamoto-senpai dengan –san?”
Hakuro
tak menjawab. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa memanggil Yuta dengan –san.
“Kau..
Tidak merasa asing kan dengan Nakamoto-senpai?”, tanya Rin hati-hati.
“Tidak..
Justru aku ingin dekat dengannya.. Tapi.. Entah kenapa aku tidak berani.. Dia
berada terlalu jauh dariku.. Aku tidak berani memanggilnya dengan senpai.. Kami
kan belum sedekat itu..”, jelas Hakuro.
“Hah?
Hahahahahaha..”
“Kenapa
tertawa Rin?”, protes Hakuro.
“Habisnya,
Haku lucu sih.. Nakamoto-senpai itu suka Haku lho..”
“Eh?!
Kenapa Rin bilang begitu? Jangan mengerjaiku, Rin..!”
“Kenyataan
kok.. Coba tanya saja dengan anggota band lain.. Mereka pasti juga bilang
begitu.. Tapi Nakamoto-senpai sendiri juga masih kikuk dengan perasaannya..
Hahah, dasar labil!”
Hakuro
terdiam seribu bahasa. Wajahnya memerah dan panas. Ia tak berani angkat bicara,
takut kalau akan semakin gugup.
“Eh?
Jangan-jangan... Haku juga suka Nakamoto-senpai ya?!”
“Rin..!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar