Jumat, 19 Februari 2016

CARAMEL POPPORN STORY


Fourth Bite

*Japan, Tokyo, Takamura’s House
Rin dan Haku sedang menikmati aktivitas mereka masing-masing. Rin mengurus keperluan OSIS, sedang Haku membaca buku. Sesekali Rin tersenyum menatap ponselnya.

“Taeyong-senpai ya?”, celetuk Haku ketika melihat Rin berkutat pada ponselnya.
“Ya.. Dia suka sekali membuat lelucon yang aneh.. Hahaha, dasar..”, jawab Rin.
“Asyik ya jadi Rin..”
“Hn? Doushite?”
“Rin kan punya pacar.. Ada orang yang bisa diajak melakukan sesuatu bersama-sama.. Ada yang menghibur juga..!”, jelas Haku.

“Aduh, Haku.. Punya pacar itu tidak seenak yang kau bayangkan.. Ya harus kuakui semua yang kau katakan itu benar, tapi tidak setiap saat menyenangkan juga.. Ada kalanya kami bertengkar karena hal sepele, ada kalanya kami beda pendapat dan akhirnya tidak jadi melakukan apa-apa karena tak ada keputusan akhir..”, ujar Rin.
“Tapi Rin dan Taeyong-senpai kan selalu bisa melewati semua perdebatan itu.. Rin hebat sih..”
“Tidak.. Biasanya yang mengalah Taeyong-senpai dulu kok..”
“Taeyong-senpai orang yang baik ya..”

Rin tersenyum lalu menatap Haku kemudian mengangguk mengiyakan. Benar, Taeyong memang orang yang sangat baik.


$$$$$


“Akhirnya bisa keluar!!! Fiuh!”, ujarku setengah berteriak dengan lega.
“Kok bisa sih?! Kenapa aku tidak?!”, protes Yuta menatapku tak terima.
“Kau kurang mendalami sih..”, jawabku sambil menutup video porno yang barusaja kami berdua nikmati.

Saat ini aku dan Yuta sedang mencoba hal baru. Lebih tepatnya, menonton film porno baru yang kudapat dari jual-beli online.

“Kau punya film apa lagi yang lebih hot dari ini? Film ini terlalu biasa..”, Yuta mengambil tisu baru di rak sebelah komputer.
“Ada banyak.. Masa kau tidak mencapai klimaks dengan suguhan tadi sih? Padahal untuk para pemula, film itu sangat merangsang..”, kataku mengotak-atik folder privasiku.
“Hei hei, maksudmu aku pemula? Enak saja.. Aku juga sudah pro dalam hal beginian..”, elak Yuta melempar tisu kotor ke tempat sampah yang sudah penuh dengan tisu-tisu ‘bekas’ kami.

“Memasang kondom saja belum bisa..”, cibirku.
“B-bisa kok! Kalau latihan sendiri di rumah, aku bisa melakukannya kok! T-tapi kalau ada orang yang melihat aku jadi gugup..”, jelasnya sedikit tergagap.

Aku hanya tersenyum geli. Yuta memang polos. Bukan polos secara harafiah. Dia sudah sangat kotor untuk ukuran polos secara harafiah. Maksudku adalah Yuta itu mudah ditebak. Dia tidak pandai menutupi perasaan yang menyeruak di hatinya. Hm, aku jadi penasaran dengan satu hal.

“Hei, Yuta.. Kau pernah jatuh cinta?”, tanyaku sambil menelusuri jejak-jejak film porno di folderku.
“Pernah lah..”
“Kapan?”
“Sering..”
“Aku tidak tanya berapa kali kau pacaran.. Aku tanya kau pernah jatuh cinta atau tidak..”, tegasku.

“Jatuh.. Cinta? Emmm, memang apa bedanya? Darimana kau tahu kalau kau jatuh cinta?”, seperti dugaanku, Yuta belum pernah merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya.
“Aku tidak bisa jawab itu.. Tiap orang punya sensasi yang beda-beda..”
“Contohnya?”
“Ada yang bilang waktu jadi berhenti, ada yang katakan oksigen jadi menipis, bahkan ada yang bilang jantung serasa mau copot..”, jawabku.
“Dia jatuh cinta atau lihat hantu?”, Yuta mengerutkan kening.

Aku tertawa mendengarnya. Selalu saja begitu. Bisa-bisanya dia berkata demikian dengan wajah yang serius.

“Malah tertawa.. Aku serius ingin tahu..”, ujar Yuta.
“Kau konyol sih..”
“Kau sendiri bagaimana? Pernah?”, tanya Yuta mengambil minuman kaleng di atas meja.
“Pernah..”
“Oh ya? Lalu sensasi apa yang kau rasakan?”

Aku memutar bola mata dengan menggumam, berpikir. Sensasi waktu jatuh cinta yang pernah kurasakan itu.. seperti terbang ke angkasa. Tertegun, terpesona, tubuh rasanya sangat ringan. Perasaan juga senang seakan kau bisa mengakses semua web porno tanpa halangan apapun dengan internet super cepat dan kuota tak terbatas. Hmm.

“Mematung.. Kurasa..”, jawabku akhirnya.
“Hah? Mematung? Saja?”
“Anggap saja iya..”
“Angga saja..? Yang benar kau ah.. Cepat ceritakan padaku.. Aku penasaran..”
“Nanti kan kau bisa merasakan sensasimu sendiri, Yuta.. Kalau kuceritakan pengalamanku, kau akan terpaku pada cerita itu.. Jadinya sensasi yang tidak natural..”, jelasku terdengar seperti profesor.

Yuta mencoba untuk mengerti dengan cemberut. Aku tersenyum. Apa-apaan sih aku ini? Mengangkat topik tidak penting, membual seperti itu. Jujur saja aku juga ingin tahu rasanya jatuh cinta.

“Kalau jatuh cinta itu sensasinya hanya sekali atau berkali-kali?”, Yuta masih saja penasaran dengan perasaan abstrak tersebut.
“Bisa sekali bisa berkali-kali..”, jawabku asal.
“Heeeee.. Aku jadi penasaran..”
“Makanya pacari wanita yang benar-benar kau cintai.. Biar bisa merasakan jatuh cinta dengan benar..”
“Hai hai, sedang kuusahakan.. Sudah temukan film selanjutnya yang bisa kita nikmati belum?”

Aku menjawab sudah kemudian menampilkan video itu ke Yuta. Kami menonton bersama. Beda dengan sebelum-sebelumnya, aku tidak pernah tidak fokus pada film yang kutonton. Kali ini aku tenggelam pada pikiranku sendiri. Jatuh cinta. Aku yang mengangkat topik itu dan aku juga yang kepikiran. Hah, baka.
Kalau terus berpikir seperti ini, aku jadi merasa bersalah pada Rin. Well, aku menyukainya. Dia gadis yang unik dan menarik. Tapi.. apakah Rin merasakan perasaan yang sama? Dia pernah berpikir seperti ini juga tidak ya? Ah, kenapa jadi kacau sih jalan pikirku ini? Ck! Sudahlah lupakan. Kalau begini aku jadi terdengar seperti hanya bermain-main saja dengan Rin.

“Bermain-main...?”, tanpa kusadari aku menggumamkan apa yang kupikirkan.
“Hn? Kau bilang apa?”, tanya Yuta mengembalikan kesadaranku.
“Eh? Tidak.. Hanya perasaanmu saja..”

Yuta terdiam beberapa detik. Mungkin dia merasa horor disitu. Jelas-jelas dia mendengar suara tapi ternyata tidak ada yang bersuara. Bukankah mengerikan? Apa dia berpikir seperti itu?

“Oh..”, jawab Yuta lalu kembali menikmati video yang sedang terputar di layar komputerku.

Dia sedang nonton film porno. Kenapa posenya seperti nonton film detektif begitu?


$$$$$


Pagi hari di hall gedung utama SMA Kaijou, sudah berkumpul banyak murid. Mereka menunggu lembaran daftar nama yang diterima menjadi peserta mewakili Kaijou dalam kontes kreasi antar SMA se-Jepang.

“Aku deg-degan sekali.. Diterima tidak ya?”, tanya seorang siswi.
“Aku juga.. Akan sangat menyenangkan kalau kita berdua diterima! Kita bisa terus latihan dengan Nakamoto-senpai..”, jawab temannya.
“Duhhh, lama sekali ya? Aku sudah tidak sabar nih.. Aku bisa membawa nama Kaijou bersama dengan Jae-kun!”, ujar siswi lain.
“Kalau diterima, aku tidak tahu harus bagaimana nanti tiap latihan dan bertemu dengan Ten-kun!”, sahut siswi satunya.
“Semoga aku bisa menjadi salah satu pesertanya juga.. Aku sudah berdoa agar aku diterima dan bisa berduaan dengan Sol-senpai..”
“Aku sudah membayangkan akan latihan dengan Johnny-senpai! Aduh, gugup sekali!”

Ramai. Mereka semua berisik. Sebagian besar dari mereka mengikuti seleksi dengan harapan bisa dekat dengan idola mereka. Tidak bisa dipungkiri, anggota klub band memang begitu luar biasa pesona dan kepopulerannya. Klub band memiliki jumlah fans paling banyak di Kaijou.
Tak lama kemudian, Takuya, manager klub band yang juga merupakan anggota OSIS, datang untuk menempel pengumuman. Semua langsung memperebutkan barisan depan agar dapat melihat lebih dulu. Namun....

“Heeee!! Ini bukan pengumuman peserta yang lolos seleksi! Ini pengumuman untuk menyumbang sandang pangan yang akan dibagikan ke rakyat miskin!”

Takuya terkekeh geli disana. Ia lalu mendapat lirikan tajam dari para murid yang sudah menanti.

“Kalian tidak tahu ya?”, tanya Takuya.
“Apa?”, jawab salah seorang dari mereka.
“Nama peserta yang lolos tidak akan ditempel disini..”
“Eh? Lalu?”
“Mereka dikabari via email..”
“EHHH??!!!!”

Pagi-pagi, Haku sudah sampai di Kaijou. Seperti biasa, ia mengganti tangga, mengganti air vas bunga, merapikan meja, membersihkan debu yang menyelimuti lemari belakang kelas. Setelah itu ia duduk membuka buku, melanjutkan membaca.

‘Kling..’

Mendengar ponselnya berbunyi, Haku lalu mengecek pesan yang masuk. Ia membuka pesan itu.

“Heeee, ada diskon 30% hari ini di toko kue Ichigo dengan minimal pembelian dua slice..”, ujarnya.

Setelah menyimpan kupon 30% via pesan tersebut, Haku kembali membaca.

“Ojamashimasu~”, sebuah suara kembali mengalihkan perhatian Haku dari buku bacaannya.
“Hai?”, jawab Haku membenarkan letak kacamatanya.
“Oh! Kebetulan sekali langsung ketemu!”, pria itu berjalan cepat dengan langkah ceria menghampiri Haku.
“Kau.. Mencariku?”, tanya Haku ragu.
“Mochiron (tentu)!”, jawabnya sambil berlutut di sebelah Haku.

“Eh? K-kenapa berlutut?”
“Ah, tenang saja.. Aku nyaman dengan pose ini..”
“Sou desuka.. Lalu ada apa mencariku?”
“Aku mau bilang kalau kau lolos seleksi..”
“Eh?! Hontou desuka?!”, tanya Haku tak percaya.
“Kau terkejut sekali? Jangan-jangan kau tak percaya dengan penampilanmu ya?”
“Emm.. Aku hanya tak menyangka ternyata aku bisa terpilih dari banyaknya peserta yang ikut..”
“Heih, kau terlalu rendah diri.. Pokoknya selamat ya!”
“A-arigatou..”
“Ya sudah.. Ja ne!”, pria itu kemudian menghilang dari kelas 2-A setelah melambaikan tangannya.

Haku membalas lambaian tangan itu secara singkat. Setelah yakin pria itu benar-benar menghilang dari kelasnya, Haku kembali menatap buku yang ia baca. Karena tak yakin dengan kalimat terakhir, ia membacanya ulang untuk dimengerti. Namun..

“Ohayou..”, seseorang dengan suara lembut dan ramah menyapa telinga Haku.
“Ohayougozaimasu..”, balas Haku menoleh.
“Sudah kuduga, Hayashi-senpai pasti datang paling pagi..”, kata pria itu dengan wajah penuh senyum kehangatan.
“A-ano.. Ada perlu apa ya ke kelas 2-A? Apakah kau mencari seseorang?”
“Tentu.. Tapi sudah kutemukan langsung kok..”
“Eh?! A-apa kau juga mencariku?”
“Juga? Jadi sebelumnya sudah ada yang kemari?”
“U-un..”, Haku mengangguk.
“Heeee.. Pasti Ten-senpai ya?”
“Hai..”, jawab Haku ragu.
“Dia memang selalu semangat untuk urusan seperti ini.. Hahaha, ya sudah.. Berarti Hayashi-senpai sudah tahu kalau lolos dalam seleksi kan?”
“Ya.. Terimakasih sudah mengabariku secara langsung..”
“Don’t mind.. Baiklah, aku kembali ke kelasku.. Ja, mata..”, pamit pria manis itu kemudian keluar dengan tenang.

Haku sedikit mengerutkan kening. Ia heran disana. Ma, ii. Tidak usah dipikirkan. Ia kembali membaca kalimat terakhir untuk ia pahami sebelum membaca kalimat berikutnya. Tapi..

“Hayashi?”, seseorang yang hanya memunculkan kepalanya di pintu kelas 2-A memanggil Hakuro.
“Hai..”, jawab Hakuro menoleh cepat ke asal suara.
“Oh, untung kau sudah datang..”, pria tinggi itu masuk dengan santai menghampiri tempat duduk Hakuro.

“Ano, senpai.. Kau mencariku?”
“Sou.. Aku mau mengabari kalau...... Tapi kau jangan kaget ya..!”, pria itu menunjukkan wajah jailnya.
“Akan kuusahakan..”, jawab Haku.
“Kau.. Hayashi Hakuro.. Kelas 2-A.. Jangan heboh ya kalau kuberitahu ini..”, ia kembali memasang wajah jailnya.
“H-hai.. Senpai, kau membuatku merasa gugup..”, kata Hakuro.
“Hahahaha, tenang saja.. Ini kabar gembira kok.. Kau lolos seleksi!!”
“Ah.. T-terimakasih telah susah payah memberitahuku lagi.. Kalian pasti sangat repot..”

“Eh? Lagi? Kau sudah tahu?”
“Ya.. Tadi sudah ada Ten-san dan Jae-san yang memberitahu..”
“Apa?! Mereka sudah datang duluan?!”
“U-un..”
“Kuso, aku kedahuluan oleh para kouhai!”, pria itu berdecak kesal.

Hakuro terdiam menatap pria itu dari balik kacamata besarnya. Pria itu mengacak rambut entah kenapa. Apa dia menunggu dipuji? Atau menunggu diusir?

“Daijoubu desuka, Johnny-senpai?”, tanya Hakuro membuat Johnny mengangkat wajahnya.
“Eh? Daijoubu da.. Ja, aku pergi dulu.. Selamat ya!”, pamitnya lalu keluar kelas.

Kali ini Hakuro menunggu beberapa detik sebelum kembali menatap bukunya. Ia memastikan kalau tidak akan ada yang datang lagi. Setelah yakin akan sepinya pagi, ia lalu menoleh menatap bukunya lagi. Akan tetapi-

“Hakuro-chan, ohayou..”, seorang pria lain masuk begitu saja langsung mendekati Hakuro.
“O-ohayougozaimasu.. Senpai..”, balas Hakuro.
“Heeee, kau rajin sekali ya..” kata pria itu melihat buku yang dibaca Hakuro.
“Etto.. Apa senpai mencari seseorang dari kelas 2-A?”
“Kalau kau termasuk dari kelas ini, jawabannya adalah iya..”
“Senpai mencariku? Ada perlu apa?”

Pria itu kemudian menarik kedua tangan Hakuro dan menangkupnya. Ia menatap Hakuro dengan lekat sambil memasang senyum kerennya.

“Omedetou na! Kau lolos seleksi.. Kau akan menjadi salah satu peserta dalam kontes kreasi antar SMA se-Jepang itu..”, jelasnya senang.
“Heee, s-sou desuka? Y-yokatta desu ne..”, Hakuro merespon dengan ragu.
“Kau terdengar tidak senang? Apa kau tidak ingin menjadi pesertanya?”
“Ingin kok.. Aku hanya kehabisan respon untuk kabar itu..”
“Kau sudah tahu ya?”
“Iya..”
“Souka.. Hahaha, lucu sekali!”
“Eh? Apanya yang lucu, senpai?”
“Tidak, aku hanya berpikir kalau kau ini manis.. Ya sudah.. Aku akan kembali ke kelas.. Belajar yang giat ya, Hakuro-chan! Baibai..”
“Sol-senpai mo ganbatte ne (kak Sol juga semangat ya)..”, sahut Hakuro.

Kali ini. Kali ini ia berharap sudah tidak ada yang datang. Daritadi ia terus mengulang membaca satu kalimat yang sama berkali-kali karena banyak gangguan. Hm, tidak sepenuhnya gangguan sih. Bukankah mereka datang dengan kabar baik? Jadi ya tidak apa deh. Sekarang Hakuro bisa membaca dengan tenang.
Setidaknya itu yang dia pikirkan.

“Nona dada besar!!!!!!”

“Mou wakarimasuyo ((aku) sudah tahu)!!!!!!!!!”, teriak Hakuro kesal kemudian meninju pria yang berteriak memanggilnya secara tidak senonoh.

‘Buak!!!’

“Ugh!! Uaaahhhhh..!!”, pria itu kemudian terpelanting jauh seperti di anime action.

Clean hit. Critical hit, poin plus 10.

“Nakamoto-senpai.. Ada perlu apa datang kemari?”, tanya Hakuro datar dengan bias cahaya di kacamata menutupi matanya.
“Itte tte.. Ittaaaaa..”, rintih Yuta kesakitan.
“Gomennasai.. Daijoubu desuka?”, tanya Hakuro menghampiri Yuta.
“Daijoubu janai! Sakit sekali, aduh..”, jawab Yuta benar-benar tak baik-baik saja.
“Aku kelepasan tenaga, karena aku tidak bisa membaca dengan tenang daritadi.. Maafkan aku, Nakamoto-senpai..”, ujar Hakuro.
“Sialnya aku.. Kenapa aku yang dijadikan pelampiasan?”, Yuta bergumam meratapi nasib.
“Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan..”
“Eh eh eh, tidak perlu..”, cegah Yuta menarik tangan Hakuro yang hendak pergi.
“Kau yakin?”
“Ya, nanti aku akan kesana sendiri.. Kalau bersamamu, aku bisa berpikir yang aneh-aneh..”, ujar Yuta dengan santai secara jujur.

“He. Sou desuka.”, Hakuro menatap Yuta dengan datar.
“Hm? Kenapa tiba-tiba kau berdiri sangat jauh dariku? Ada apa dengan pose melindungi payudaramu itu, hah?!”
“Apa aku perlu menjelaskannya?”
“Sialan.. Aku datang mau bawa kabar baik kau malah berpikir buruk tentangku.. Ck..”, gerutu Yuta membersihkan dirinya dari kotoran dan debu.
“Kau kan juga berpikir buruk tentangku..”
“Aku selalu memikirkanmu dengan baik, enak saja!”

"Jadi Nakamoto-senpai selalu memikirkanku dengan baik?”
“Tentu saja..!”

Yuta kemudian menyadari kata-katanya. Ia langsung menatap Hakuro cepat dengan mata bulatnya.

“B-bukan itu maksudku! Maksudku adalah.. Eee.. Etto.. Aku.. Kau tahu kan? Memikirkanmu dengan baik.. Aku adalah orang yang positif..”, Yuta meracau tak jelas saking gugupnya.
“Pft..! Ahahahaha..”, Hakuro geli sendiri melihat Yuta yang salah tingkah.

Entah kenapa, sesaat kelegaan menyelimuti hati Yuta. Tiba-tiba saja bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman ketika melihat Hakuro tertawa karena dirinya.

“Hei, sudah.. Jangan tertawa begitu.. Kau benar-benar membuatku terlihat sangat bodoh disini..”, kata Yuta.
“Hahaha, iya maaf.. Ngomong-ngomong, apakah kau kemari untuk memberitahu kalau aku lolos seleksi?”
“Kau sudah tahu?”
“Un! Ten-san, Jae-san, Johnny-senpai, dan Sol-senpai.. Mereka semua sudah memberitahuku secara bergantian tadi..”
“Chikusooooo (sial)! Aku paling terakhir! Ck.. Ini semua salahmu..”
“Watashi no (salahku)??”, Hakuro memiringkan kepalanya.
“Seharusnya kau menyantumkan alamat emailmu di formulir! Jadi kami tidak perlu repot menghubungimu secara pribadi.. Hah..”

“Uh, gomennasai..”, Hakuro membungkukkan badan meminta maaf.
“Jangan minta maaf padaku begitu.. Aku jadi tidak tahu harus membalas apa..”
“Ah, maaf-, maksudku.. Baiklah..”
“Ya sudah.. Sampai bertemu lagi ya nanti.. Ja!”

Yuta menepuk kepala Hakuro kilas sebelum keluar dari kelasnya. Hakuro melihat kepergian Yuta dengan kedua matanya. Tangannya tadi..

“Lembut..”


$$$$$


Aku melihat Taeyong sedang cekikikan melihat kelas 2-A. Itu kelasnya Haku. Ada apa dia disana? Apa yang ia lihat?

“Tuan, apa yang sedang kau nikmati?”, tanyaku ikut bersembunyi di sebelah Taeyong.
“Siaran pagi secara LIVE..”, jawabnya masih menahan tawa.
“Eh?”

Aku yang kebingungan dalam rasa penasaranku pun melihat kemana Taeyong memperhatikan. Yuta dan Haku. Heee, Taeyong suka sekali sih menonton drama mereka. Eh, itu Haku mau diapakan sama Yuta?!

“Kau mau kemana?”, Taeyong mencegahku untuk beranjak.
“Aku harus melindungi Haku dari Nakamoto-senpai!”
“Jangan..”, larangnya sambil tersenyum kearahku.
“Tapi..”
“Biarkan Hayashi yang selesaikan sendiri.. Kau cukup melihatnya darisini..”

Aku ingin membantah dan menepis tangannya. Tapi melihat ekspresi yang Taeyong berikan padaku, aku tak bisa mengelak dan bergerak. Jujur, ekspresi itu belum pernah ia tunjukkan padaku. Tatapannya lembut, senyumnya manis. Ekspresi se-gentle itu.. kenapa tiba-tiba Taeyong memberikannya padaku?

“Eh iya.. Kemarin Yuta memberitahuku untuk menjadi penanggung jawab tim B..”, kata Taeyong.
“Nakamoto-senpai yang memutuskan begitu?”, tanyaku.
“Ya.. Dia bilang, tim A akan dipegang olehnya.. Sedangkan dia menyerahkan tim B untukku.. Sepulang sekolah nanti kami akan membagi para peserta sesuai dengan konsep tampilan tim A dan B.. Bagaimana menurutmu?”

Aku ingin menjawab, bisa tidak kita tidak bicara dengan posisi seperti ini? Sekarang kita sedang jongkok menguntit kondisi orang lain lho, senpai. Tapi karena Taeyong terdengar kalem begitu, aku jadi larut dalam suaranya yang memanjakan.

“Boleh juga idenya..”, jawabku.
“Benarkah? Kalau begitu, nanti kau bisa hadir dalam pertemuan para peserta juga tidak? Bantu kami untuk membagi mereka..”
“Akan kususul.. Tidak apa kan?”
“Kau ada kerjaan setelah pulang sekolah?”
“Begitulah.. Ada rapat OSIS.. Kami harus membicarakan festival budaya dan darmawisata yang akan datang..”
“Heeee.. Baiklah, tak apa.. Kalau kau sudah lelah dan tidak sempat, lebih baik pulang saja.. Jangan paksakan dirimu..”

Aku sedikit mengerutkan kening heran. Sebenarnya ada apa dengan Taeyong? Suara, nada, ekspresi. Semuanya begitu berbeda. Dia terlihat dan terdengar jauh lebih.. ee.. memperlakukanku sebagai wanita?

“Taeyong-senpai..”, panggilku.
“Ya?”, jawabnya.
“Aku sudah kehabisan persediaan film porno.. Kau punya yang baru?”, tanyaku mengangkat topik vulgar seperti biasanya kami.
“Sayang sekali, tidak ada.. Aku belum sempat mengunduh yang baru..”, jawabnya.
“Heee, sou desuka..”
“Oh ya, Rin.. Kau bawa bento? Nanti kita makan bersama mau?”, tanyanya.
“B-boleh..”, jawabku ragu.

Kenapa dia minta izin segala? Kok dia beda sekali sih?

“Taeyong-senpai.. Aku sudah bosan dengan lagu-lagu yang ada di playlistku.. Kau ada lagu baru yang bagus untuk didengarkan?”, tanyaku berharap dia akan menjawab dengan topik yang biasa kami singgung.
“Ada beberapa lagu bagus sih, menurutku.. Penyanyinya BTS, 2AM, Westlife..”
“Tunggu tunggu tunggu..”, selaku.
“Hn?”
“BTS? 2AM? Westlife?”
“Ya, kau tidak suka?

Tidak! Itu kan penyanyi dengan lagu yang digemari kebanyakan wanita. Yang liriknya memanjakan hati wanita. Ada apa dengan Taeyong sebenarnya?

“Kau tidak salah makan kan?”, tanyaku sambil memeriksa keningnya apakah panas atau tidak.
“Tidak.. Aku baik-baik saja..”, jawab Taeyong menatapku heran.
“Kau kerasukan? Siapapun roh yang merasuki Taeyong, pergilah!”, aku mencoba untuk mengusir roh yang merasuki kekasihku.
“Hahaha, Rin..! Kau ini ada-ada saja.. Aku Taeyong..”, katanya.
“Kau tidak seperti Taeyong..”, jawabku.
“Maksudmu aku lebih tampan? Aku masih Taeyong kok..”

“Mungkin kau memang Taeyong.. Tapi bukan Taeyong-ku..”, ujarku tegas dengan penekanan.
“Rin..”
“Sudah ya, Taeyong-senpai.. Aku harus mengambil data di ruang guru.. Sampai jumpa..”, ucapku kemudian bangkit berdiri dan berjalan menjauh.

Aku merasakan kalau Taeyong masih menatapku dari tempatnya. Aku tidak mau menoleh. Apa-apaan dia? Kenapa tiba-tiba berubah begitu? Dia pikir aku tidak akan menyadarinya? Tapi aku tidak bisa membiarkannya bersikap seperti itu padaku. Aku jadi merasa aneh kalau Taeyong memperlakukanku seperti tadi.

Aku merasa seperti orang lain untuknya.


$$$$$


Benar. Rin pasti akan terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba berbeda. Tapi aku harus mencoba ini. Kalau aku terus-terusan memperlakukan Rin seperti aku memperlakukan teman atau mainanku dengan nyaman, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Pokoknya aku harus mencoba untuk memperlakukannya lebih baik. Lebih diperlakukan seperti wanita. Seperti seorang kekasih.

“Lihat apa di langit sana?”
“Ah, kau..”

Morimoto Ryutaro, teman seklub menariku. Dia duduk di sampingku yang sedang menikmati luasnya langit di atasku.

“Baru pertama kali aku melihatmu termenung begitu dalam.. Apa yang kau pikirkan?”, tanyanya.
“Bukankah aku memang jarang bicara dan sering bengong?”, kataku.
“Tentu saja itu dirimu.. Tapi seratus persen kau sedang tidak bengong sekarang..”
“Hah, tidak bisa dipungkiri kau memang anak dari psikolog berbakat..”, ujarku tersenyum masam.
“Heih, ayahku yang psikolog hebat.. Bukan aku.. Aku hanya melihatmu tidak seperti biasanya, Taeyong..”
“Kau juga melihatku berbeda?”
“Siapapun yang sudah mengenal dan mengerti dirimu yang asli, tentu saja akan berpikiran sama denganku..”
“Begitu ya?”

Aku terus menatap langit. Mengikuti arah awan berjalan. Kalau aku berubah lebih baik, apakah itu hal buruk?

“Bukankah bagus kalau aku berubah?”
“Perubahan itu memang perlu untuk memperbaiki kesalahan.. Tapi tidak semua perubahan menghasilkan keberhasilan yang kita harapkan..”, jawab Ryutaro ikut merebahkan badan menatap langit biru.
“Aku hanya ingin berubah agar aku bisa meyakinkan diriku, kalau aku tidak akan menyakiti orang yang kusayangi..”
“Itu egois..”
“Eh? Kenapa?”

Ryutaro dengan santai menatapku yang masih keheranan sendiri. Kenapa egois? Sudah jelas aku memikirkan orang lain kan? Aku memikirkan Rin!

“Memangnya kalau kau sudah yakin kau tidak akan menyakiti, mereka yang benar-benar menyayangimu tidak akan tersakiti?”

Butuh waktu beberapa detik untukku mencerna kalimat panjang Ryutaro. Tapi setelah aku paham, aku baru sadar. Dia benar. Aku egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaan Rin karena sikapku. Dia pasti sudah nyaman dengan hubungan kami yang tidak seperti sepasang kekasih itu. Tapi justru itu yang membuat kami terus menjalin hubungan kan? Bukankah kami membangun hubungan ini atas dasar keburukan yang ada pada diri kami?
Ah, Taeyong. Kau begitu naif dan berpikiran sempit. Aku terus mengatakan kalau aku ingin berubah agar Rin nyaman sebagai wanita. Tapi bukan itu kan yang Rin harapkan dariku? Itu hanya pikiranku saja. Selama ini Rin nyaman berada di sampingku sebagai kekasihku, bukan sebagai wanita. Hah...
Astaga. Secara tidak langsung aku sudah memaksanya untuk berubah juga. Pasti Rin sangat kecewa padaku. Aku harus menemuinya.

“Kau mau kemana?”, tanya Ryutaro melihatku berjalan cepat.
“Aku harus menemui seseorang!”, jawabku tak menunggu ia sahutannya.

“Tapi Taeyong! Ini sudah jam masuk kelas, kita terlambat!”


$$$$$


Seorang guru setengah baya, menatap Taeyong dengan galak. Alisnya yang tegas dan kumisnya yang sangat tertata rapi, sungguh membuat Taeyong bergidik ngeri. Namikawa Daisuke sensei, guru BK, sekaligus penanggungjawab kelas polisi. Oh, betapa lengkap paket yang ia dapatkan.

“Taeyong-kun.. Sedang apa berlarian di koridor saat jam belajar mengajar sudah dimulai sejak tadi?”, tanya guru itu galak.
“Em... Anu, sensei.. Aku tadi.. Dari toilet..”, jawab Taeyong mencoba untuk tenang.
“Toilet di luar gedung? Kau ke toilet di rumahmu atau dimana?”
“Tadi ada barang yang harus kuletakkan di gedung olahraga.. Lalu aku sekalian ke toilet disana.. Mengurus bisnis besar di toilet, sensei..”, jawab Taeyong memegangi perutnya.

Namikawa sensei memicingkan matanya. Ia curiga pada anak yang notabene langganan keluar masuk kelas polisi ini. Wajahnya memang polos sih, tapi justru itu senjatanya untuk mengelabuhi para guru dengan alasan yang selalu ia buat dengan kreatif.

“Apa pelajaran pertama di kelasmu?”, tanya guru itu.
“Sejarah, sensei..”
“Masuk ke kelas, katakan pada guru yang sedang mengajar, kau harus membantu merapikan buku di perpustakaan..”

Oh tidak. Alibinya tidak kuat untuk menembus benteng seorang Namikawa Daisuke. Shit. Dia kena hukuman. Lagi.

“Aku.. Dihukum?”, tanya Taeyong memasang tampang pucatnya.
“Ya..”
“T-tapi kenapa? Saya tidak bersalah kan? Saya terlambat karena mengembalikan barang di gedung olahraga lalu ke toilet, sensei..”, Taeyong berusaha untuk tidak kena hukuman.
“Kesalahanmu adalah berbohong.. Kau sudah sangat beruntung aku tidak memasukkanmu ke ruang BK, Taeyong-kun..”
“Oh, ayolah sensei..”
“Sekarang, cepat ke kelas polisi dan kerjakan tugasmu.. Sebelum aku berubah pikiran..”

Taeyong menghela nafas. Mau tidak mau, dia harus menjalani hukumannya. Tunggu dulu! Bukankah kalau dia masuk ke kelas polisi, dia bisa menulis surat (laporan kesalahan) yang akan sampai di meja ketua OSIS? Bagus, ini kesempatan emas! Aduh, tapi dia jadi tidak bisa makan bersama Rin saat istirahat. Ah, menjengkelkan!


$$$$$


Waktu istirahat telah tiba, Hakuro keluar kelas menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Disana, ia melihat sesosok pria yang ia kenal. Taeyong.

“Taeyong-senpai..”, panggil Hakuro membuat Taeyong yang sedang menata buku langsung menoleh.
“Eh, Hayashi.. Sedang apa kau disini?”, tanya Taeyong.
“Aku mau mengembalikan buku.. Senpai sendiri? Tumben sekali datang ke perpustakaan..”
“Hah, ini juga bukan kemauanku..”
“Eh? Artinya....”
“Sou, ini adalah hukuman..”
“Heeee, apa yang senpai lakukan hingga kena hukuman lagi?”

Mendengar kata ‘lagi’ yang diucapkan Hakuro dengan begitu menuduh berhasil melubangi hati Taeyong.

“L-la.. gi..”, lirihnya.
“Rin suka cerita tentang senpai kalau di rumah.. Jadi aku juga tahu beberapa hal tentang Taeyong senpai..”, jelas Hakuro.
“Hee, Rin sering cerita tentangku?”, Taeyong terdengar takjub dengan datar.
“Ya.. Eeemmm, mungkin 90% cerita Rin adalah tentang Taeyong-senpai..”
“Eh? Sebanyak itukah? Jadi diam-diam kalian membicarakanku?”
“B-bukan begitu.. Tidak dalam konteks yang buruk kok.. Wajah Rin sangat senang saat membicarakan Taeyong-senpai, jadi aku tidak mau mengganti topik pembicaraannya..”

Taeyong terdiam. Ia tak melepas tatapannya dari Hakuro yang sedang memilih buku di rak. Apa benar Rin begitu ketika di rumah?

“Kalau Rin suka cerita tentangku, berarti kau juga tahu kebiasaan kami?”, tanya Taeyong menata buku-buku di keranjang kembali ke rak.
“Sebagian saja.. Misalnya makan siang, mengobrol santai, yah, hanya sebatas itu.. Rin tidak pernah membahas konten yang kalian bicarakan padaku..”
“Hahaha, kau pasti sangat penasaran ya jadinya..”
“Tentu saja.. Rin bahkan tidak mau menceritakan bagaimana awal kalian berpacaran.. Huh..!”
“Kalau masalah itu, aku akan setuju dengan Rin..”
“Eh?! Jahat.. Kenapa?”
“Hayashi masih terlalu polos untuk mengerti hal yang membangun hubungan kami..”
“Astaga, kata-kata senpai persis dengan yang Rin pernah katakan padaku.. Apakah aku benar sepolos itu di mata kalian?”

“Ya, begitu polos dan lugu.. Hampir sama seperti seseorang..”
“Hn? Daredesuka (siapa)?”, Hakuro memiringkan kepalanya.
“Himitsu da (rahasia)..”
“Heeeeee, tidak adil.. Rin dan senpai memang pasangan yang pelit ya..”
“Hahaha, begitulah.. Kami memang suka menyimpan rahasia untuk kami sendiri.. Karena rahasia-rahasia itu lah yang memperkuat hubunganku dengan Rin..”

Hakuro menatap Taeyong yang sibuk menata buku. Jujur saja, ini adalah obrolan terpanjang mereka. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Taeyong hingga ia begitu banyak bicara saat ini?

“Taeyong-senpai.. Apa kau sedang bertengkar dengan Rin?”, tanya Hakuro.
“Bertengkar? Tidak kok.. Rin tidak melakukan apa-apa.. Aku yang mulai..”, jawab Taeyong  menatap Hakuro dengan seulas senyum.


$$$$$


“Heh, nona galak dada biasa saja..”, Yuta berdiri di belakang perempuan yang hendak menaiki tangga.

Ia sempat berhenti beberapa detik. Tapi karena tak tertarik untuk meladeni orang yang memanggilnya itu, ia kembali melangkah.

“O-oi! Takamura!!”, panggil Yuta mengejar Rin.

Yuta berhenti di depan Rin.

“Ada apa, Nakamoto-senpai?”, tanya Rin melipat tangan.
“I-itu.. Aku sepertinya.. Tidak bisa membuat lirik.. Hehehe..”, Yuta menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
“Kenapa tak bisa? Jelaskan alasanmu akan kupertimbangkan..”, ujar Rin tegas.
“Daritadi ada apa sih dengan nadamu? Kau sedang marah? Bertengkar dengan orang?”
“Aku tidak ada waktu untuk meladenimu ya, senpai.. Jadi cepatlah..”

“Hah.. Iya iya.. Ada kencan buta yang harus kuhadiri..”
“Nani?”
“Jadi kurasa tidak akan sempat untuk membuat liriknya tepat waktu..”
“Batalkan..”, kata Rin pendek lalu kembali melangkah.
“Hah?! Batalkan? Oi, matte! Takamura, kau ini kenapa?”, Yuta menghentikan langkah Rin.

“Sudah kubilang aku akan mempertimbangkan alasanmu.. Tapi kalau alasanmu tidak bisa karena kau mau pergi bersenang-senang, tentu saja tidak boleh!”
“A-aku kan juga mau bilang kalau aku butuh bantuan Hayashi..”
“Bantuan Haku? Untuk menggantikanmu membuat lirik ketika kau pergi?! Dame (tidak boleh)!”
“Tapi ini sangat penting untuk temanku.. Dia sudah menyerah karena tak kunjung diperhatikan wanita.. Karena itu dia mengajakku.. Untuk bahan tampan saja sih..”

“Nakamoto-senpai.. Kalau kau mau pergi, selesaikan lirikmu lebih dulu..”, tegas Rin akhirnya kembali melangkah meninggalkan Yuta.
“T-tapi, Takamura! Aku kan sudah bilang kalau ini penting! Aku sudah janji dari sebulan yang lalu dengan temanku itu..!”
“Kau bisa minta bantuan Haku untuk membantumu menyelesaikan lirik itu sebelum waktunya kan?!!”, bentak Rin kesal.

Huh! Paginya sudah badmood dengan sikap Taeyong. Ia benar-benar seperti gunung berapi saat ini. Siap meletus kapan saja. Kasihan Yuta, dia jadi pelampiasan terus hari ini. Tapi bagi Yuta ini adalah......

“Berduaan dengan Hayashi.. Membuat lirik bersama dengannya..? Nice!! Dada besar aku datang!!”

Peluang untuk melihat oppai -_-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar