Fourth Bite
*Japan, Tokyo, Takamura’s House
Rin
dan Haku sedang menikmati aktivitas mereka masing-masing. Rin mengurus
keperluan OSIS, sedang Haku membaca buku. Sesekali Rin tersenyum menatap
ponselnya.
“Taeyong-senpai
ya?”, celetuk Haku ketika melihat Rin berkutat pada ponselnya.
“Ya..
Dia suka sekali membuat lelucon yang aneh.. Hahaha, dasar..”, jawab Rin.
“Asyik
ya jadi Rin..”
“Hn?
Doushite?”
“Rin
kan punya pacar.. Ada orang yang bisa diajak melakukan sesuatu bersama-sama..
Ada yang menghibur juga..!”, jelas Haku.
“Aduh,
Haku.. Punya pacar itu tidak seenak yang kau bayangkan.. Ya harus kuakui semua
yang kau katakan itu benar, tapi tidak setiap saat menyenangkan juga.. Ada
kalanya kami bertengkar karena hal sepele, ada kalanya kami beda pendapat dan
akhirnya tidak jadi melakukan apa-apa karena tak ada keputusan akhir..”, ujar
Rin.
“Tapi
Rin dan Taeyong-senpai kan selalu bisa melewati semua perdebatan itu.. Rin
hebat sih..”
“Tidak..
Biasanya yang mengalah Taeyong-senpai dulu kok..”
“Taeyong-senpai
orang yang baik ya..”
Rin
tersenyum lalu menatap Haku kemudian mengangguk mengiyakan. Benar, Taeyong
memang orang yang sangat baik.
$$$$$
“Akhirnya
bisa keluar!!! Fiuh!”, ujarku setengah berteriak dengan lega.
“Kok
bisa sih?! Kenapa aku tidak?!”, protes Yuta menatapku tak terima.
“Kau
kurang mendalami sih..”, jawabku sambil menutup video porno yang barusaja kami
berdua nikmati.
Saat
ini aku dan Yuta sedang mencoba hal baru. Lebih tepatnya, menonton film porno
baru yang kudapat dari jual-beli online.
“Kau
punya film apa lagi yang lebih hot dari ini? Film ini terlalu biasa..”, Yuta
mengambil tisu baru di rak sebelah komputer.
“Ada
banyak.. Masa kau tidak mencapai klimaks dengan suguhan tadi sih? Padahal untuk
para pemula, film itu sangat merangsang..”, kataku mengotak-atik folder
privasiku.
“Hei
hei, maksudmu aku pemula? Enak saja.. Aku juga sudah pro dalam hal beginian..”,
elak Yuta melempar tisu kotor ke tempat sampah yang sudah penuh dengan
tisu-tisu ‘bekas’ kami.
“Memasang
kondom saja belum bisa..”, cibirku.
“B-bisa
kok! Kalau latihan sendiri di rumah, aku bisa melakukannya kok! T-tapi kalau
ada orang yang melihat aku jadi gugup..”, jelasnya sedikit tergagap.
Aku
hanya tersenyum geli. Yuta memang polos. Bukan polos secara harafiah. Dia sudah
sangat kotor untuk ukuran polos secara harafiah. Maksudku adalah Yuta itu mudah
ditebak. Dia tidak pandai menutupi perasaan yang menyeruak di hatinya. Hm, aku
jadi penasaran dengan satu hal.
“Hei,
Yuta.. Kau pernah jatuh cinta?”, tanyaku sambil menelusuri jejak-jejak film
porno di folderku.
“Pernah
lah..”
“Kapan?”
“Sering..”
“Aku
tidak tanya berapa kali kau pacaran.. Aku tanya kau pernah jatuh cinta atau
tidak..”, tegasku.
“Jatuh..
Cinta? Emmm, memang apa bedanya? Darimana kau tahu kalau kau jatuh cinta?”,
seperti dugaanku, Yuta belum pernah merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya.
“Aku
tidak bisa jawab itu.. Tiap orang punya sensasi yang beda-beda..”
“Contohnya?”
“Ada
yang bilang waktu jadi berhenti, ada yang katakan oksigen jadi menipis, bahkan
ada yang bilang jantung serasa mau copot..”, jawabku.
“Dia
jatuh cinta atau lihat hantu?”, Yuta mengerutkan kening.
Aku
tertawa mendengarnya. Selalu saja begitu. Bisa-bisanya dia berkata demikian
dengan wajah yang serius.
“Malah
tertawa.. Aku serius ingin tahu..”, ujar Yuta.
“Kau
konyol sih..”
“Kau
sendiri bagaimana? Pernah?”, tanya Yuta mengambil minuman kaleng di atas meja.
“Pernah..”
“Oh
ya? Lalu sensasi apa yang kau rasakan?”
Aku
memutar bola mata dengan menggumam, berpikir. Sensasi waktu jatuh cinta yang
pernah kurasakan itu.. seperti terbang ke angkasa. Tertegun, terpesona, tubuh
rasanya sangat ringan. Perasaan juga senang seakan kau bisa mengakses semua web
porno tanpa halangan apapun dengan internet super cepat dan kuota tak terbatas.
Hmm.
“Mematung..
Kurasa..”, jawabku akhirnya.
“Hah?
Mematung? Saja?”
“Anggap
saja iya..”
“Angga
saja..? Yang benar kau ah.. Cepat ceritakan padaku.. Aku penasaran..”
“Nanti
kan kau bisa merasakan sensasimu sendiri, Yuta.. Kalau kuceritakan pengalamanku,
kau akan terpaku pada cerita itu.. Jadinya sensasi yang tidak natural..”,
jelasku terdengar seperti profesor.
Yuta
mencoba untuk mengerti dengan cemberut. Aku tersenyum. Apa-apaan sih aku ini?
Mengangkat topik tidak penting, membual seperti itu. Jujur saja aku juga ingin
tahu rasanya jatuh cinta.
“Kalau
jatuh cinta itu sensasinya hanya sekali atau berkali-kali?”, Yuta masih saja
penasaran dengan perasaan abstrak tersebut.
“Bisa
sekali bisa berkali-kali..”, jawabku asal.
“Heeeee..
Aku jadi penasaran..”
“Makanya
pacari wanita yang benar-benar kau cintai.. Biar bisa merasakan jatuh cinta
dengan benar..”
“Hai
hai, sedang kuusahakan.. Sudah temukan film selanjutnya yang bisa kita nikmati
belum?”
Aku
menjawab sudah kemudian menampilkan video itu ke Yuta. Kami menonton bersama.
Beda dengan sebelum-sebelumnya, aku tidak pernah tidak fokus pada film yang
kutonton. Kali ini aku tenggelam pada pikiranku sendiri. Jatuh cinta. Aku yang
mengangkat topik itu dan aku juga yang kepikiran. Hah, baka.
Kalau
terus berpikir seperti ini, aku jadi merasa bersalah pada Rin. Well, aku
menyukainya. Dia gadis yang unik dan menarik. Tapi.. apakah Rin merasakan
perasaan yang sama? Dia pernah berpikir seperti ini juga tidak ya? Ah, kenapa
jadi kacau sih jalan pikirku ini? Ck! Sudahlah lupakan. Kalau begini aku jadi
terdengar seperti hanya bermain-main saja dengan Rin.
“Bermain-main...?”,
tanpa kusadari aku menggumamkan apa yang kupikirkan.
“Hn?
Kau bilang apa?”, tanya Yuta mengembalikan kesadaranku.
“Eh?
Tidak.. Hanya perasaanmu saja..”
Yuta
terdiam beberapa detik. Mungkin dia merasa horor disitu. Jelas-jelas dia
mendengar suara tapi ternyata tidak ada yang bersuara. Bukankah mengerikan? Apa
dia berpikir seperti itu?
“Oh..”,
jawab Yuta lalu kembali menikmati video yang sedang terputar di layar
komputerku.
Dia
sedang nonton film porno. Kenapa posenya seperti nonton film detektif begitu?
$$$$$
Pagi
hari di hall gedung utama SMA Kaijou, sudah berkumpul banyak murid. Mereka
menunggu lembaran daftar nama yang diterima menjadi peserta mewakili Kaijou
dalam kontes kreasi antar SMA se-Jepang.
“Aku
deg-degan sekali.. Diterima tidak ya?”, tanya seorang siswi.
“Aku
juga.. Akan sangat menyenangkan kalau kita berdua diterima! Kita bisa terus
latihan dengan Nakamoto-senpai..”, jawab temannya.
“Duhhh,
lama sekali ya? Aku sudah tidak sabar nih.. Aku bisa membawa nama Kaijou
bersama dengan Jae-kun!”, ujar siswi lain.
“Kalau
diterima, aku tidak tahu harus bagaimana nanti tiap latihan dan bertemu dengan
Ten-kun!”, sahut siswi satunya.
“Semoga
aku bisa menjadi salah satu pesertanya juga.. Aku sudah berdoa agar aku
diterima dan bisa berduaan dengan Sol-senpai..”
“Aku
sudah membayangkan akan latihan dengan Johnny-senpai! Aduh, gugup sekali!”
Ramai.
Mereka semua berisik. Sebagian besar dari mereka mengikuti seleksi dengan
harapan bisa dekat dengan idola mereka. Tidak bisa dipungkiri, anggota klub
band memang begitu luar biasa pesona dan kepopulerannya. Klub band memiliki
jumlah fans paling banyak di Kaijou.
Tak
lama kemudian, Takuya, manager klub band yang juga merupakan anggota OSIS,
datang untuk menempel pengumuman. Semua langsung memperebutkan barisan depan
agar dapat melihat lebih dulu. Namun....
“Heeee!!
Ini bukan pengumuman peserta yang lolos seleksi! Ini pengumuman untuk
menyumbang sandang pangan yang akan dibagikan ke rakyat miskin!”
Takuya
terkekeh geli disana. Ia lalu mendapat lirikan tajam dari para murid yang sudah
menanti.
“Kalian
tidak tahu ya?”, tanya Takuya.
“Apa?”,
jawab salah seorang dari mereka.
“Nama
peserta yang lolos tidak akan ditempel disini..”
“Eh?
Lalu?”
“Mereka
dikabari via email..”
“EHHH??!!!!”
Pagi-pagi,
Haku sudah sampai di Kaijou. Seperti biasa, ia mengganti tangga, mengganti air
vas bunga, merapikan meja, membersihkan debu yang menyelimuti lemari belakang kelas.
Setelah itu ia duduk membuka buku, melanjutkan membaca.
‘Kling..’
Mendengar
ponselnya berbunyi, Haku lalu mengecek pesan yang masuk. Ia membuka pesan itu.
“Heeee,
ada diskon 30% hari ini di toko kue Ichigo dengan minimal pembelian dua
slice..”, ujarnya.
Setelah
menyimpan kupon 30% via pesan tersebut, Haku kembali membaca.
“Ojamashimasu~”,
sebuah suara kembali mengalihkan perhatian Haku dari buku bacaannya.
“Hai?”,
jawab Haku membenarkan letak kacamatanya.
“Oh!
Kebetulan sekali langsung ketemu!”, pria itu berjalan cepat dengan langkah
ceria menghampiri Haku.
“Kau..
Mencariku?”, tanya Haku ragu.
“Mochiron
(tentu)!”, jawabnya sambil berlutut di sebelah Haku.
“Eh?
K-kenapa berlutut?”
“Ah,
tenang saja.. Aku nyaman dengan pose ini..”
“Sou
desuka.. Lalu ada apa mencariku?”
“Aku
mau bilang kalau kau lolos seleksi..”
“Eh?!
Hontou desuka?!”, tanya Haku tak percaya.
“Kau
terkejut sekali? Jangan-jangan kau tak percaya dengan penampilanmu ya?”
“Emm..
Aku hanya tak menyangka ternyata aku bisa terpilih dari banyaknya peserta yang
ikut..”
“Heih,
kau terlalu rendah diri.. Pokoknya selamat ya!”
“A-arigatou..”
“Ya
sudah.. Ja ne!”, pria itu kemudian menghilang dari kelas 2-A setelah
melambaikan tangannya.
Haku
membalas lambaian tangan itu secara singkat. Setelah yakin pria itu benar-benar
menghilang dari kelasnya, Haku kembali menatap buku yang ia baca. Karena tak
yakin dengan kalimat terakhir, ia membacanya ulang untuk dimengerti. Namun..
“Ohayou..”,
seseorang dengan suara lembut dan ramah menyapa telinga Haku.
“Ohayougozaimasu..”,
balas Haku menoleh.
“Sudah
kuduga, Hayashi-senpai pasti datang paling pagi..”, kata pria itu dengan wajah
penuh senyum kehangatan.
“A-ano..
Ada perlu apa ya ke kelas 2-A? Apakah kau mencari seseorang?”
“Tentu..
Tapi sudah kutemukan langsung kok..”
“Eh?!
A-apa kau juga mencariku?”
“Juga?
Jadi sebelumnya sudah ada yang kemari?”
“U-un..”,
Haku mengangguk.
“Heeee..
Pasti Ten-senpai ya?”
“Hai..”,
jawab Haku ragu.
“Dia
memang selalu semangat untuk urusan seperti ini.. Hahaha, ya sudah.. Berarti
Hayashi-senpai sudah tahu kalau lolos dalam seleksi kan?”
“Ya..
Terimakasih sudah mengabariku secara langsung..”
“Don’t
mind.. Baiklah, aku kembali ke kelasku.. Ja, mata..”, pamit pria manis itu
kemudian keluar dengan tenang.
Haku
sedikit mengerutkan kening. Ia heran disana. Ma, ii. Tidak usah dipikirkan. Ia
kembali membaca kalimat terakhir untuk ia pahami sebelum membaca kalimat
berikutnya. Tapi..
“Hayashi?”,
seseorang yang hanya memunculkan kepalanya di pintu kelas 2-A memanggil Hakuro.
“Hai..”,
jawab Hakuro menoleh cepat ke asal suara.
“Oh,
untung kau sudah datang..”, pria tinggi itu masuk dengan santai menghampiri
tempat duduk Hakuro.
“Ano,
senpai.. Kau mencariku?”
“Sou..
Aku mau mengabari kalau...... Tapi kau jangan kaget ya..!”, pria itu menunjukkan
wajah jailnya.
“Akan
kuusahakan..”, jawab Haku.
“Kau..
Hayashi Hakuro.. Kelas 2-A.. Jangan heboh ya kalau kuberitahu ini..”, ia
kembali memasang wajah jailnya.
“H-hai..
Senpai, kau membuatku merasa gugup..”, kata Hakuro.
“Hahahaha,
tenang saja.. Ini kabar gembira kok.. Kau lolos seleksi!!”
“Ah..
T-terimakasih telah susah payah memberitahuku lagi.. Kalian pasti sangat
repot..”
“Eh?
Lagi? Kau sudah tahu?”
“Ya..
Tadi sudah ada Ten-san dan Jae-san yang memberitahu..”
“Apa?!
Mereka sudah datang duluan?!”
“U-un..”
“Kuso,
aku kedahuluan oleh para kouhai!”, pria itu berdecak kesal.
Hakuro
terdiam menatap pria itu dari balik kacamata besarnya. Pria itu mengacak rambut
entah kenapa. Apa dia menunggu dipuji? Atau menunggu diusir?
“Daijoubu
desuka, Johnny-senpai?”, tanya Hakuro membuat Johnny mengangkat wajahnya.
“Eh?
Daijoubu da.. Ja, aku pergi dulu.. Selamat ya!”, pamitnya lalu keluar kelas.
Kali
ini Hakuro menunggu beberapa detik sebelum kembali menatap bukunya. Ia
memastikan kalau tidak akan ada yang datang lagi. Setelah yakin akan sepinya
pagi, ia lalu menoleh menatap bukunya lagi. Akan tetapi-
“Hakuro-chan,
ohayou..”, seorang pria lain masuk begitu saja langsung mendekati Hakuro.
“O-ohayougozaimasu..
Senpai..”, balas Hakuro.
“Heeee,
kau rajin sekali ya..” kata pria itu melihat buku yang dibaca Hakuro.
“Etto..
Apa senpai mencari seseorang dari kelas 2-A?”
“Kalau
kau termasuk dari kelas ini, jawabannya adalah iya..”
“Senpai
mencariku? Ada perlu apa?”
Pria
itu kemudian menarik kedua tangan Hakuro dan menangkupnya. Ia menatap Hakuro
dengan lekat sambil memasang senyum kerennya.
“Omedetou
na! Kau lolos seleksi.. Kau akan menjadi salah satu peserta dalam kontes kreasi
antar SMA se-Jepang itu..”, jelasnya senang.
“Heee,
s-sou desuka? Y-yokatta desu ne..”, Hakuro merespon dengan ragu.
“Kau
terdengar tidak senang? Apa kau tidak ingin menjadi pesertanya?”
“Ingin
kok.. Aku hanya kehabisan respon untuk kabar itu..”
“Kau
sudah tahu ya?”
“Iya..”
“Souka..
Hahaha, lucu sekali!”
“Eh?
Apanya yang lucu, senpai?”
“Tidak,
aku hanya berpikir kalau kau ini manis.. Ya sudah.. Aku akan kembali ke kelas..
Belajar yang giat ya, Hakuro-chan! Baibai..”
“Sol-senpai
mo ganbatte ne (kak Sol juga semangat ya)..”, sahut Hakuro.
Kali
ini. Kali ini ia berharap sudah tidak ada yang datang. Daritadi ia terus
mengulang membaca satu kalimat yang sama berkali-kali karena banyak gangguan.
Hm, tidak sepenuhnya gangguan sih. Bukankah mereka datang dengan kabar baik?
Jadi ya tidak apa deh. Sekarang Hakuro bisa membaca dengan tenang.
Setidaknya
itu yang dia pikirkan.
“Nona
dada besar!!!!!!”
“Mou
wakarimasuyo ((aku) sudah tahu)!!!!!!!!!”, teriak Hakuro kesal kemudian meninju
pria yang berteriak memanggilnya secara tidak senonoh.
‘Buak!!!’
“Ugh!!
Uaaahhhhh..!!”, pria itu kemudian terpelanting jauh seperti di anime action.
Clean
hit. Critical hit, poin plus 10.
“Nakamoto-senpai..
Ada perlu apa datang kemari?”, tanya Hakuro datar dengan bias cahaya di
kacamata menutupi matanya.
“Itte
tte.. Ittaaaaa..”, rintih Yuta kesakitan.
“Gomennasai..
Daijoubu desuka?”, tanya Hakuro menghampiri Yuta.
“Daijoubu
janai! Sakit sekali, aduh..”, jawab Yuta benar-benar tak baik-baik saja.
“Aku
kelepasan tenaga, karena aku tidak bisa membaca dengan tenang daritadi..
Maafkan aku, Nakamoto-senpai..”, ujar Hakuro.
“Sialnya
aku.. Kenapa aku yang dijadikan pelampiasan?”, Yuta bergumam meratapi nasib.
“Aku
akan mengantarmu ke ruang kesehatan..”
“Eh
eh eh, tidak perlu..”, cegah Yuta menarik tangan Hakuro yang hendak pergi.
“Kau
yakin?”
“Ya,
nanti aku akan kesana sendiri.. Kalau bersamamu, aku bisa berpikir yang
aneh-aneh..”, ujar Yuta dengan santai secara jujur.
“He.
Sou desuka.”, Hakuro menatap Yuta dengan datar.
“Hm?
Kenapa tiba-tiba kau berdiri sangat jauh dariku? Ada apa dengan pose melindungi
payudaramu itu, hah?!”
“Apa
aku perlu menjelaskannya?”
“Sialan..
Aku datang mau bawa kabar baik kau malah berpikir buruk tentangku.. Ck..”,
gerutu Yuta membersihkan dirinya dari kotoran dan debu.
“Kau
kan juga berpikir buruk tentangku..”
“Aku
selalu memikirkanmu dengan baik, enak saja!”
"Jadi
Nakamoto-senpai selalu memikirkanku dengan baik?”
“Tentu
saja..!”
Yuta
kemudian menyadari kata-katanya. Ia langsung menatap Hakuro cepat dengan mata
bulatnya.
“B-bukan
itu maksudku! Maksudku adalah.. Eee.. Etto.. Aku.. Kau tahu kan? Memikirkanmu
dengan baik.. Aku adalah orang yang positif..”, Yuta meracau tak jelas saking
gugupnya.
“Pft..!
Ahahahaha..”, Hakuro geli sendiri melihat Yuta yang salah tingkah.
Entah
kenapa, sesaat kelegaan menyelimuti hati Yuta. Tiba-tiba saja bibirnya
terangkat membentuk sebuah senyuman ketika melihat Hakuro tertawa karena
dirinya.
“Hei,
sudah.. Jangan tertawa begitu.. Kau benar-benar membuatku terlihat sangat bodoh
disini..”, kata Yuta.
“Hahaha,
iya maaf.. Ngomong-ngomong, apakah kau kemari untuk memberitahu kalau aku lolos
seleksi?”
“Kau
sudah tahu?”
“Un!
Ten-san, Jae-san, Johnny-senpai, dan Sol-senpai.. Mereka semua sudah
memberitahuku secara bergantian tadi..”
“Chikusooooo
(sial)! Aku paling terakhir! Ck.. Ini semua salahmu..”
“Watashi
no (salahku)??”, Hakuro memiringkan kepalanya.
“Seharusnya
kau menyantumkan alamat emailmu di formulir! Jadi kami tidak perlu repot
menghubungimu secara pribadi.. Hah..”
“Uh,
gomennasai..”, Hakuro membungkukkan badan meminta maaf.
“Jangan
minta maaf padaku begitu.. Aku jadi tidak tahu harus membalas apa..”
“Ah,
maaf-, maksudku.. Baiklah..”
“Ya
sudah.. Sampai bertemu lagi ya nanti.. Ja!”
Yuta
menepuk kepala Hakuro kilas sebelum keluar dari kelasnya. Hakuro melihat
kepergian Yuta dengan kedua matanya. Tangannya tadi..
“Lembut..”
$$$$$
Aku
melihat Taeyong sedang cekikikan melihat kelas 2-A. Itu kelasnya Haku. Ada apa
dia disana? Apa yang ia lihat?
“Tuan,
apa yang sedang kau nikmati?”, tanyaku ikut bersembunyi di sebelah Taeyong.
“Siaran
pagi secara LIVE..”, jawabnya masih menahan tawa.
“Eh?”
Aku
yang kebingungan dalam rasa penasaranku pun melihat kemana Taeyong
memperhatikan. Yuta dan Haku. Heee, Taeyong suka sekali sih menonton drama
mereka. Eh, itu Haku mau diapakan sama Yuta?!
“Kau
mau kemana?”, Taeyong mencegahku untuk beranjak.
“Aku
harus melindungi Haku dari Nakamoto-senpai!”
“Jangan..”,
larangnya sambil tersenyum kearahku.
“Tapi..”
“Biarkan
Hayashi yang selesaikan sendiri.. Kau cukup melihatnya darisini..”
Aku
ingin membantah dan menepis tangannya. Tapi melihat ekspresi yang Taeyong
berikan padaku, aku tak bisa mengelak dan bergerak. Jujur, ekspresi itu belum
pernah ia tunjukkan padaku. Tatapannya lembut, senyumnya manis. Ekspresi
se-gentle itu.. kenapa tiba-tiba Taeyong memberikannya padaku?
“Eh
iya.. Kemarin Yuta memberitahuku untuk menjadi penanggung jawab tim B..”, kata
Taeyong.
“Nakamoto-senpai
yang memutuskan begitu?”, tanyaku.
“Ya..
Dia bilang, tim A akan dipegang olehnya.. Sedangkan dia menyerahkan tim B
untukku.. Sepulang sekolah nanti kami akan membagi para peserta sesuai dengan
konsep tampilan tim A dan B.. Bagaimana menurutmu?”
Aku
ingin menjawab, bisa tidak kita tidak bicara dengan posisi seperti ini?
Sekarang kita sedang jongkok menguntit kondisi orang lain lho, senpai. Tapi
karena Taeyong terdengar kalem begitu, aku jadi larut dalam suaranya yang
memanjakan.
“Boleh
juga idenya..”, jawabku.
“Benarkah?
Kalau begitu, nanti kau bisa hadir dalam pertemuan para peserta juga tidak?
Bantu kami untuk membagi mereka..”
“Akan
kususul.. Tidak apa kan?”
“Kau
ada kerjaan setelah pulang sekolah?”
“Begitulah..
Ada rapat OSIS.. Kami harus membicarakan festival budaya dan darmawisata yang
akan datang..”
“Heeee..
Baiklah, tak apa.. Kalau kau sudah lelah dan tidak sempat, lebih baik pulang
saja.. Jangan paksakan dirimu..”
Aku
sedikit mengerutkan kening heran. Sebenarnya ada apa dengan Taeyong? Suara,
nada, ekspresi. Semuanya begitu berbeda. Dia terlihat dan terdengar jauh
lebih.. ee.. memperlakukanku sebagai wanita?
“Taeyong-senpai..”,
panggilku.
“Ya?”,
jawabnya.
“Aku
sudah kehabisan persediaan film porno.. Kau punya yang baru?”, tanyaku mengangkat
topik vulgar seperti biasanya kami.
“Sayang
sekali, tidak ada.. Aku belum sempat mengunduh yang baru..”, jawabnya.
“Heee,
sou desuka..”
“Oh
ya, Rin.. Kau bawa bento? Nanti kita makan bersama mau?”, tanyanya.
“B-boleh..”,
jawabku ragu.
Kenapa
dia minta izin segala? Kok dia beda sekali sih?
“Taeyong-senpai..
Aku sudah bosan dengan lagu-lagu yang ada di playlistku.. Kau ada lagu baru
yang bagus untuk didengarkan?”, tanyaku berharap dia akan menjawab dengan topik
yang biasa kami singgung.
“Ada
beberapa lagu bagus sih, menurutku.. Penyanyinya BTS, 2AM, Westlife..”
“Tunggu
tunggu tunggu..”, selaku.
“Hn?”
“BTS?
2AM? Westlife?”
“Ya,
kau tidak suka?
Tidak!
Itu kan penyanyi dengan lagu yang digemari kebanyakan wanita. Yang liriknya
memanjakan hati wanita. Ada apa dengan Taeyong sebenarnya?
“Kau
tidak salah makan kan?”, tanyaku sambil memeriksa keningnya apakah panas atau
tidak.
“Tidak..
Aku baik-baik saja..”, jawab Taeyong menatapku heran.
“Kau
kerasukan? Siapapun roh yang merasuki Taeyong, pergilah!”, aku mencoba untuk
mengusir roh yang merasuki kekasihku.
“Hahaha,
Rin..! Kau ini ada-ada saja.. Aku Taeyong..”, katanya.
“Kau
tidak seperti Taeyong..”, jawabku.
“Maksudmu
aku lebih tampan? Aku masih Taeyong kok..”
“Mungkin
kau memang Taeyong.. Tapi bukan Taeyong-ku..”, ujarku tegas dengan penekanan.
“Rin..”
“Sudah
ya, Taeyong-senpai.. Aku harus mengambil data di ruang guru.. Sampai jumpa..”,
ucapku kemudian bangkit berdiri dan berjalan menjauh.
Aku
merasakan kalau Taeyong masih menatapku dari tempatnya. Aku tidak mau menoleh.
Apa-apaan dia? Kenapa tiba-tiba berubah begitu? Dia pikir aku tidak akan
menyadarinya? Tapi aku tidak bisa membiarkannya bersikap seperti itu padaku.
Aku jadi merasa aneh kalau Taeyong memperlakukanku seperti tadi.
Aku
merasa seperti orang lain untuknya.
$$$$$
Benar.
Rin pasti akan terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba berbeda. Tapi aku harus
mencoba ini. Kalau aku terus-terusan memperlakukan Rin seperti aku
memperlakukan teman atau mainanku dengan nyaman, aku tidak akan memaafkan
diriku sendiri. Pokoknya aku harus mencoba untuk memperlakukannya lebih baik.
Lebih diperlakukan seperti wanita. Seperti seorang kekasih.
“Lihat
apa di langit sana?”
“Ah,
kau..”
Morimoto
Ryutaro, teman seklub menariku. Dia duduk di sampingku yang sedang menikmati
luasnya langit di atasku.
“Baru
pertama kali aku melihatmu termenung begitu dalam.. Apa yang kau pikirkan?”,
tanyanya.
“Bukankah
aku memang jarang bicara dan sering bengong?”, kataku.
“Tentu
saja itu dirimu.. Tapi seratus persen kau sedang tidak bengong sekarang..”
“Hah,
tidak bisa dipungkiri kau memang anak dari psikolog berbakat..”, ujarku
tersenyum masam.
“Heih,
ayahku yang psikolog hebat.. Bukan aku.. Aku hanya melihatmu tidak seperti
biasanya, Taeyong..”
“Kau
juga melihatku berbeda?”
“Siapapun
yang sudah mengenal dan mengerti dirimu yang asli, tentu saja akan berpikiran
sama denganku..”
“Begitu
ya?”
Aku
terus menatap langit. Mengikuti arah awan berjalan. Kalau aku berubah lebih
baik, apakah itu hal buruk?
“Bukankah
bagus kalau aku berubah?”
“Perubahan
itu memang perlu untuk memperbaiki kesalahan.. Tapi tidak semua perubahan
menghasilkan keberhasilan yang kita harapkan..”, jawab Ryutaro ikut merebahkan
badan menatap langit biru.
“Aku
hanya ingin berubah agar aku bisa meyakinkan diriku, kalau aku tidak akan
menyakiti orang yang kusayangi..”
“Itu
egois..”
“Eh?
Kenapa?”
Ryutaro
dengan santai menatapku yang masih keheranan sendiri. Kenapa egois? Sudah jelas
aku memikirkan orang lain kan? Aku memikirkan Rin!
“Memangnya
kalau kau sudah yakin kau tidak akan menyakiti, mereka yang benar-benar
menyayangimu tidak akan tersakiti?”
Butuh
waktu beberapa detik untukku mencerna kalimat panjang Ryutaro. Tapi setelah aku
paham, aku baru sadar. Dia benar. Aku egois. Aku hanya memikirkan diriku
sendiri. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaan Rin karena sikapku. Dia pasti
sudah nyaman dengan hubungan kami yang tidak seperti sepasang kekasih itu. Tapi
justru itu yang membuat kami terus menjalin hubungan kan? Bukankah kami
membangun hubungan ini atas dasar keburukan yang ada pada diri kami?
Ah,
Taeyong. Kau begitu naif dan berpikiran sempit. Aku terus mengatakan kalau aku
ingin berubah agar Rin nyaman sebagai wanita. Tapi bukan itu kan yang Rin
harapkan dariku? Itu hanya pikiranku saja. Selama ini Rin nyaman berada di
sampingku sebagai kekasihku, bukan sebagai wanita. Hah...
Astaga.
Secara tidak langsung aku sudah memaksanya untuk berubah juga. Pasti Rin sangat
kecewa padaku. Aku harus menemuinya.
“Kau
mau kemana?”, tanya Ryutaro melihatku berjalan cepat.
“Aku
harus menemui seseorang!”, jawabku tak menunggu ia sahutannya.
“Tapi
Taeyong! Ini sudah jam masuk kelas, kita terlambat!”
$$$$$
Seorang
guru setengah baya, menatap Taeyong dengan galak. Alisnya yang tegas dan
kumisnya yang sangat tertata rapi, sungguh membuat Taeyong bergidik ngeri. Namikawa
Daisuke sensei, guru BK, sekaligus penanggungjawab kelas polisi. Oh, betapa
lengkap paket yang ia dapatkan.
“Taeyong-kun..
Sedang apa berlarian di koridor saat jam belajar mengajar sudah dimulai sejak
tadi?”, tanya guru itu galak.
“Em...
Anu, sensei.. Aku tadi.. Dari toilet..”, jawab Taeyong mencoba untuk tenang.
“Toilet
di luar gedung? Kau ke toilet di rumahmu atau dimana?”
“Tadi
ada barang yang harus kuletakkan di gedung olahraga.. Lalu aku sekalian ke
toilet disana.. Mengurus bisnis besar di toilet, sensei..”, jawab Taeyong
memegangi perutnya.
Namikawa
sensei memicingkan matanya. Ia curiga pada anak yang notabene langganan keluar
masuk kelas polisi ini. Wajahnya memang polos sih, tapi justru itu senjatanya
untuk mengelabuhi para guru dengan alasan yang selalu ia buat dengan kreatif.
“Apa
pelajaran pertama di kelasmu?”, tanya guru itu.
“Sejarah,
sensei..”
“Masuk
ke kelas, katakan pada guru yang sedang mengajar, kau harus membantu merapikan
buku di perpustakaan..”
Oh
tidak. Alibinya tidak kuat untuk menembus benteng seorang Namikawa Daisuke.
Shit. Dia kena hukuman. Lagi.
“Aku..
Dihukum?”, tanya Taeyong memasang tampang pucatnya.
“Ya..”
“T-tapi
kenapa? Saya tidak bersalah kan? Saya terlambat karena mengembalikan barang di
gedung olahraga lalu ke toilet, sensei..”, Taeyong berusaha untuk tidak kena
hukuman.
“Kesalahanmu
adalah berbohong.. Kau sudah sangat beruntung aku tidak memasukkanmu ke ruang
BK, Taeyong-kun..”
“Oh,
ayolah sensei..”
“Sekarang,
cepat ke kelas polisi dan kerjakan tugasmu.. Sebelum aku berubah pikiran..”
Taeyong
menghela nafas. Mau tidak mau, dia harus menjalani hukumannya. Tunggu dulu!
Bukankah kalau dia masuk ke kelas polisi, dia bisa menulis surat (laporan
kesalahan) yang akan sampai di meja ketua OSIS? Bagus, ini kesempatan emas!
Aduh, tapi dia jadi tidak bisa makan bersama Rin saat istirahat. Ah,
menjengkelkan!
$$$$$
Waktu
istirahat telah tiba, Hakuro keluar kelas menuju ke perpustakaan untuk
mengembalikan buku. Disana, ia melihat sesosok pria yang ia kenal. Taeyong.
“Taeyong-senpai..”,
panggil Hakuro membuat Taeyong yang sedang menata buku langsung menoleh.
“Eh,
Hayashi.. Sedang apa kau disini?”, tanya Taeyong.
“Aku
mau mengembalikan buku.. Senpai sendiri? Tumben sekali datang ke perpustakaan..”
“Hah,
ini juga bukan kemauanku..”
“Eh?
Artinya....”
“Sou,
ini adalah hukuman..”
“Heeee,
apa yang senpai lakukan hingga kena hukuman lagi?”
Mendengar
kata ‘lagi’ yang diucapkan Hakuro dengan begitu menuduh berhasil melubangi hati
Taeyong.
“L-la..
gi..”, lirihnya.
“Rin
suka cerita tentang senpai kalau di rumah.. Jadi aku juga tahu beberapa hal
tentang Taeyong senpai..”, jelas Hakuro.
“Hee,
Rin sering cerita tentangku?”, Taeyong terdengar takjub dengan datar.
“Ya..
Eeemmm, mungkin 90% cerita Rin adalah tentang Taeyong-senpai..”
“Eh?
Sebanyak itukah? Jadi diam-diam kalian membicarakanku?”
“B-bukan
begitu.. Tidak dalam konteks yang buruk kok.. Wajah Rin sangat senang saat
membicarakan Taeyong-senpai, jadi aku tidak mau mengganti topik
pembicaraannya..”
Taeyong
terdiam. Ia tak melepas tatapannya dari Hakuro yang sedang memilih buku di rak.
Apa benar Rin begitu ketika di rumah?
“Kalau
Rin suka cerita tentangku, berarti kau juga tahu kebiasaan kami?”, tanya Taeyong
menata buku-buku di keranjang kembali ke rak.
“Sebagian
saja.. Misalnya makan siang, mengobrol santai, yah, hanya sebatas itu.. Rin
tidak pernah membahas konten yang kalian bicarakan padaku..”
“Hahaha,
kau pasti sangat penasaran ya jadinya..”
“Tentu
saja.. Rin bahkan tidak mau menceritakan bagaimana awal kalian berpacaran..
Huh..!”
“Kalau
masalah itu, aku akan setuju dengan Rin..”
“Eh?!
Jahat.. Kenapa?”
“Hayashi
masih terlalu polos untuk mengerti hal yang membangun hubungan kami..”
“Astaga,
kata-kata senpai persis dengan yang Rin pernah katakan padaku.. Apakah aku
benar sepolos itu di mata kalian?”
“Ya,
begitu polos dan lugu.. Hampir sama seperti seseorang..”
“Hn?
Daredesuka (siapa)?”, Hakuro memiringkan kepalanya.
“Himitsu
da (rahasia)..”
“Heeeeee,
tidak adil.. Rin dan senpai memang pasangan yang pelit ya..”
“Hahaha,
begitulah.. Kami memang suka menyimpan rahasia untuk kami sendiri.. Karena
rahasia-rahasia itu lah yang memperkuat hubunganku dengan Rin..”
Hakuro
menatap Taeyong yang sibuk menata buku. Jujur saja, ini adalah obrolan
terpanjang mereka. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Taeyong hingga ia
begitu banyak bicara saat ini?
“Taeyong-senpai..
Apa kau sedang bertengkar dengan Rin?”, tanya Hakuro.
“Bertengkar?
Tidak kok.. Rin tidak melakukan apa-apa.. Aku yang mulai..”, jawab Taeyong menatap Hakuro dengan seulas senyum.
$$$$$
“Heh,
nona galak dada biasa saja..”, Yuta berdiri di belakang perempuan yang hendak
menaiki tangga.
Ia
sempat berhenti beberapa detik. Tapi karena tak tertarik untuk meladeni orang
yang memanggilnya itu, ia kembali melangkah.
“O-oi!
Takamura!!”, panggil Yuta mengejar Rin.
Yuta
berhenti di depan Rin.
“Ada
apa, Nakamoto-senpai?”, tanya Rin melipat tangan.
“I-itu..
Aku sepertinya.. Tidak bisa membuat lirik.. Hehehe..”, Yuta menggaruk belakang
kepalanya yang tak gatal.
“Kenapa
tak bisa? Jelaskan alasanmu akan kupertimbangkan..”, ujar Rin tegas.
“Daritadi
ada apa sih dengan nadamu? Kau sedang marah? Bertengkar dengan orang?”
“Aku
tidak ada waktu untuk meladenimu ya, senpai.. Jadi cepatlah..”
“Hah..
Iya iya.. Ada kencan buta yang harus kuhadiri..”
“Nani?”
“Jadi
kurasa tidak akan sempat untuk membuat liriknya tepat waktu..”
“Batalkan..”,
kata Rin pendek lalu kembali melangkah.
“Hah?!
Batalkan? Oi, matte! Takamura, kau ini kenapa?”, Yuta menghentikan langkah Rin.
“Sudah
kubilang aku akan mempertimbangkan alasanmu.. Tapi kalau alasanmu tidak bisa
karena kau mau pergi bersenang-senang, tentu saja tidak boleh!”
“A-aku
kan juga mau bilang kalau aku butuh bantuan Hayashi..”
“Bantuan
Haku? Untuk menggantikanmu membuat lirik ketika kau pergi?! Dame (tidak boleh)!”
“Tapi
ini sangat penting untuk temanku.. Dia sudah menyerah karena tak kunjung
diperhatikan wanita.. Karena itu dia mengajakku.. Untuk bahan tampan saja sih..”
“Nakamoto-senpai..
Kalau kau mau pergi, selesaikan lirikmu lebih dulu..”, tegas Rin akhirnya
kembali melangkah meninggalkan Yuta.
“T-tapi,
Takamura! Aku kan sudah bilang kalau ini penting! Aku sudah janji dari sebulan
yang lalu dengan temanku itu..!”
“Kau
bisa minta bantuan Haku untuk membantumu menyelesaikan lirik itu sebelum
waktunya kan?!!”, bentak Rin kesal.
Huh!
Paginya sudah badmood dengan sikap Taeyong. Ia benar-benar seperti gunung berapi
saat ini. Siap meletus kapan saja. Kasihan Yuta, dia jadi pelampiasan terus
hari ini. Tapi bagi Yuta ini adalah......
“Berduaan
dengan Hayashi.. Membuat lirik bersama dengannya..? Nice!! Dada besar aku
datang!!”
Peluang
untuk melihat oppai -_-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar