Cciiiittttt!!!
BBRRRAAAKKK!!!
Bruk!
你要的不是我 (Ni Yao De Bu Shi Wo)
Song
: Ni Yao De Bu Shi Wo
By
: JJ Lin (Lin Jun Jie)
Story
By : Sno_Wint (Stefanny J.)
Aku adalah seorang wanita. Ya, wanita yang
sudah ada yang punya. Hihi.. Katanya, aku adalah wanita paling sempurna di
dunia ini. Yah, aku memang tahu tak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi, itu
yang dia katakan sewaktu dia melamarku. Benar, aku sudah bersuami. Suamiku
adalah pria paling baik dan lembut. Dia bekerja sebagai seorang arsitek. Hehe..
Dan aku adalah seorang dokter. Dokter hewan!
“Bagaimana?
Apakah masih sakit?” Tanya seorang wanita begitu lembut.
Ia tak mengharapkan jawaban pada yang ditanya.
Ia tahu kalau agak aneh yang ditanya bisa menjawab karena ia bertanya pada
seekor anjing.
“Kau
harus istirahat.. Besok, kau akan bisa bermain lagi bersama yang lain.. Hehe..
Aku pulang dulu ya, Xiao Gou..” Lanjut wanita itu sambil membawa tasnya dan
berjalan keluar dari klinik.
Di jalan, ia mengambil ponselnya dan melihat
jam sekilas. Ia agak berpikir disana.
“Tao
sudah makan malam belum ya? Hmm..”
Akhirnya, ia memutuskan untuk menghubungi Tao.
Orang yang ia pikirkan sejak tadi. Namun, nihil! Berulang kali ia mencoba untuk
menghubungi Tao yang notabenenya adalah suaminya itu, tapi tak bisa terhubung.
Entah kenapa, ponselnya sedang tidak aktif. Tidak seperti biasanya, batin
wanita yang seorang dokter itu.
“Kenapa
tidak aktif ya? Apa dia sedang rapat? Tapi ini kan sudah hampir jam 9..”
Ketika beberapa langkah kedepan, ponselnya
berdering. Tentu, wanita itu langsung dengan sigap menerimanya.
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
Kenapa tidak aktif juga? Eh, ada yang telfon!
Apa itu Tao? Aku mengangkat dan menerima panggilan dari ponselku itu. Dan...
Nafasku sesak seketika. Mataku membulat sempurna. Dadaku kembang kempis tak
teratur. Keringat dari seluruh tubuhku keluar begitu saja.
“A..
A.. Apa??” Tanyaku kesusahan.
Sekali lagi suara orang dari seberang sana
mengulangi penjelasannya. Itu ibuku, yang telfon adalah ibuku. Ya, ibuku. Tapi,
Tao.. Dia.. Kecelakaan?
“Ba..
Baiklah...! Aku akan segera kesana!”
Langkahku kembali terhenti dan tubuhku
tersentak ketika mendengar jawaban dari ibuku. Apa? Tao tidak ada? Yang benar
saja? Kenapa bisa begitu?
“Maksudnya
bagaimana?? Bagaimana bisa Tao tidak ada?? Hanya mobilnya yang ditemukan
hancur?! Lalu Tao dimana???!!”
Aku sudah agak emosi sendiri. Aku bingung harus
kemana. Akhirnya, aku kembali ke rumah dan disana sudah ada orang tua dan
mertuaku.
“Valen!
Akhirnya kau datang juga!” Sapa ayahku langsung berdiri.
“Bagaimana
dengan Tao? Apakah sudah ada kabar dari polisi??” Tanyaku.
Terlihat, raut wajah mereka langsung berubah
kusut. Ayahku menggeleng pelan. Tubuhku semakin terasa tak bertenaga.
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“U..
Ugh...! Ng..? Ngghh...!!”
“Nona!!
Nona!! Dia sudah sadar, nona!!”
Seorang lelaki dengan susah payah membuka kedua
matanya yang berat itu. Kepala, tangan dan sebagian tubuhnya yang lain terbalut
dengan perban. Ia mencoba untuk meresapi apa yang ada disekitarnya. Ia terlihat
bingung dan heran. Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita bersama pelayan
yang tadi berteriak-teriak memanggilnya.
“Tuan
Tao!” Ujar wanita itu.
Pria yang disapa Tao itu, melihat wanita tersebut
dengan.. Heran.
“Kau...
Siapa?” Tanya Tao.
“Namaku
Fa Lian.. Semalam, aku menemukanmu tergeletak di pinggir jalan dengan penuh
luka.. Lalu, aku menolongmu dan membawamu ke rumah sakit ini..”
Tao melihat kesekelilinginya.
“Tuan
Tao.. Anda sudah baikan?” Tanya Fa Lian.
“Tu..
Tuan.. Tao?”
“Iya..
Aku tahu namamu dari kartu pengenal yang ada di dompetmu.. Hehe.. Tapi, tenang
saja! Aku tidak mencuri uangmu kok!”
Tao terlihat berpikir. Ia terlihat sangat keras
mencoba untuk berpikir disana.
“Tuan
Tao..? Anda baik-baik saja?”
“Namaku
Tao?”
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
Dokter memeriksa Tao dengan segera. Ia
melakukan berbagai tinjauan. Mulai dari foto bagian dalam tubuh hingga otak.
Dan hasilnya menunjukan bahwa....
“Apa?
Dia amnesia?” Tanya Fa Lian agak kaget.
“Benar..
Setelah hasilnya keluar, terlihat ada benturan di otaknya yang mengakibatkan
amnesia..”
“Tapi,
ingatannya bisa pulih lagi kan, dok?”
Si dokter menghela nafas.
“Saya
tidak bisa jamin.. Memang ada jenis amnesia yang bersifat sementara.. Ada juga
amnesia yang bisa sembuh karena ia dihadapkan dengan masa lalunya.. Tapi, ada
juga amnesia permanen yang tidak bisa pulih..”
“Lalu..
apa yang harus kami lakukan, dok? Adakah cara untuk membuatnya kembali ingat?
Seperti misalnya menjalani terapi atau semacamnya begitu..”
“Saya
rasa.. Obat terbaik untuk orang yang amnesia adalah menghadapkannya dengan masa
lalunya.. Misalnya, keluarganya.. Barang-barang miliknya.. Kehidupannya.. Dan
sebagainya.. Saya tidak bisa jamin 100% obat yang saya berikan ini akan bisa
memulihkan ingatannya.. Obat ini hanya akan membantu proses pertumbuhan
ingatannya saja..” Jelas sang dokter panjang.
Fa Lian kembali ke ruang inap Tao setelah
membeli obat di apotek rumah sakit. Ia terlihat bingung disana. Bagaimana
caranya ia bisa memulihkan ingatan orang yang ia tolong itu? Ia bahkan sama
sekali tidak mengenal orang yang bernama Tao itu. Tahu namanya saja dari kartu
pengenal. Disana juga tidak ada nomor telfon rumah. Apa dia tidak punya telfon
rumah? Pikir Fa Lian.
“Tuan
Tao...” Panggil Fa Lian.
Fa Lian terhenyak sesaat ketika melihat Tao
sedang menikmati udara segar dari jendela yang terbuka. Angin yang berhembus,
meniup beberapa helai rambut hitam pekat Tao. Matanya yang terlihat lelah dan
sayu itu seperti ingin terpejam. Hidungnya yang mancung dan tajam, bibirnya
yang terlihat pucat namun lembut disaat yang sama. Dan wajah yang sempurna itu,
menghadap kearah Fa Lian sekarang.
“Eee...
Anu.. Ini obatnya.. Sudah kubelikan..” Ujar Fa Lian gelagapan.
Tao tersentum tipis dan berterimakasih. Wajah
Fa Lian memanas dan seketika menjadi merah.
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“Apakah
belum ada kabar dari suamiku, pak polisi??” Tanya Valen.
“Sampai
saat ini, belum ada kabar mengenai keberadaan suami anda, nyonya.. Tapi, kami
akan berusaha untuk mencarinya.. Nyonya tidak perlu khawatir..”
Valen agak berat untuk mengangguki pernyataan
polisi itu. Ia memegang perutnya dan mengelusnya pelan. Valen berjalan keluar
dari kantor polisi. Entah, mau dicari dimana lagi? Suaminya hilang begitu saja
hanya meninggalkan mobil yang hancur remuk akibat kecelakaan.
“Tao..
Kau dimana..?” Lirih Valen ketika ia menunggu di halte bis.
Valen tak langsung pulang ke rumah, ia
beristirahat di sebuah kedai sederhana langganannya sewaktu ia masih kuliah
kedokteran dulu. Tatapannya terlihat lelah dan tak bertenaga. Ia juga hanya
mengaduk-aduk secangkir kopi yang ada di hadapannya itu perlahan.
Tiba-tiba.....
“Tuan
Tao..!”
“Jangan
panggil aku dengan tuan! Aku masih muda, tahu?!”
Valen mengangkat kepalanya cepat. Ia mengedarkan
pandangan keluar jendela kedai.
“T..
Tao.. Tao!!” Pekiknya lalu berlari keluar kedai.
Namun, Valen mengurungkan niatnya untuk
mendekat ketika melihat Tao bersama dengan seorang wanita disampingnya.
Sebenarnya, ia juga khawatir ketika melihat perban yang ada di kepala Tao itu.
“Anda
harus berterimakasih padaku karena kalau bukan karena aku, anda tidak akan bisa
berjalan-jalan!” Ujar Fa Lian.
Tao hanya tersenyum simpul.
“Iya
iya.. Terimakasih.. Sekarang, kita mau kemana??”
“Eemmm..
Kita jalan-jalan saja, siapa tahu ada yang mengenalimu.. Dan dengan begitu,
kita bisa tahu siapa dirimu yang sebenarnya..”
Valen yang sedari tadi berjalan di belakang
mereka, agak kaget mendengar hal itu.
“Benar
juga.. Kau pintar juga ya...! Hahahaha..”
Fa Lian hanya cemberut.
“Aku
ini.. Sudah punya istri belum ya?” Tanya Tao.
Dheg! Jantung Valen terasa berdetak lebih
kencang pada satu detakan.
“Eeemmmm..
Aku rasa belum... Anda kan masih muda.. Masa anda menikah muda sih?”
“Benar
juga.. Kalau punya anak sudah belum ya??”
“Ya!!
Menikah saja belum, masa sudah mau punya anak?!”
Valen hanya bisa menunduk sambil memegangi
perutnya. Mereka sedang ada di taman saat ini. Tao dan Fa Lian duduk disebuah
bangku disana. Valen juga ikut duduk tapi, di bangku yang berbeda.
“Eh
iya! Kenapa kau baik sekali mau menolongku??” Tanya Tao.
“Eh?!
Tidak boleh ya? Aku kan hanya ingin berbuat baik saja..”
“Tapi,
aku rasa itu terlalu berlebihan.. Jarang sekali kan orang membantu orang sampai
segitunya.. Dari biaya rumah sakit sampai membantuku mencari ingatanku, kau
juga bantu..”
“Eh..
Ya, tidak apa-apa kan..? Aku kan hanya ingin membantu orang secara tuntas!
Tidak setengah-setengah..”
“Seperti
tidak ada kerjaan saja.. Ckckckck..”
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“Dah,
Xiao Gou.. Jangan sampai sakit lagi ya.. Hehehe..” Kataku sambil melambaikan
tangan kearah anjing kecil yang barusaja sembuh dari sakitnya.
Setelah kemarin, aku benar-benar merasa aneh.
Tao. Dia amnesia. Ya, aku tahu itu. Aku kan seorang dokter. Aku tak ingin
otaknya mendapat hantaman besar jika kemarin aku langsung mengaku dan
mengejutkannya. Maka dari itu, aku berusaha untuk mencari cara lain untuk
membuatnya kembali ingat. Dan hari ini, aku akan menyamar mengikutinya. Hehe..
Semangat!
“Hari
ini aku akan pulang cepat.. Apakah tidak masalah??” Tanyaku.
“Iya,
tak apa.. Jaga kesehatan ya, dok..” Jawab para asistenku.
Aku tersenyum lalu melangkah keluar klinik
dan.. Wala! Saatnya mulai! Pertama, aku menuju ke rumah sakit dimana ia
dirawat. Ya, aku tahu itu dimana. Tentu saja aku tahu, aku kan mengikutinya
kemarin. Hihi..
“Tuan
Tao! Tuan Tao!! Anda kenapa?!!!” Tanya Fa Lian panik.
“Dokter!!!
Dokter!!!!!” Teriaknya kembali panik.
Tao terlihat sangat tersiksa di bagian
kepalanya. Ia menubruk sana-sini tak menentu. Kepalanya terasa begitu pening
dan sangat sakit.
“Aaa!!!
Aggghhh!! Hhhggg!! Aahhh!!!” Rintihnya.
Fa Lian mencoba untuk menenangkan Tao. Dan
akhirnya, Tao menjadi tenang. Rasa sakit itu hilang ketika Fa Lian
menyentuhnya. Ketika ia tersudut di sudut ruangan. Fa Lian terlihat cemas disitu.
“Tao..
Kau baik-baik saja??” Tanya Fa Lian.
Tao perlahan mengarahkan pandangannya ke Fa
Lian. Nafasnya perlahan kembali teratur.
“Kau..
Aku ingat.. Aku ingat sekarang! Aku sudah menikah! Dan kau adalah istriku!”
Fa Lian tersentak kaget. Istri? Dia istrinya
Tao? Tunggu.. Salah besar! Tapi, jujur saja. Fa Lian senang Tao mengingatnya
yang bukan siapa-siapanya dia ini sebagai istrinya.
Aku kaget bercampur senang ketika Tao
menyebutku sebagai istrinya. Ia mengingatku sebagai istrinya. Bagaimana bisa?
Aku juga bingung. Tapi, kalau aku paksa dia untuk berpikir lagi dengan jawaban
‘tidak’, itu bisa bahaya untuknya. Jadi... Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Tao memelukku dengan erat dan penuh rasa rindu.
“Fa
Lian.. Aku ingat..! Kau adalah Fa Lian istriku yang paling kucintai!”
Valen berdiri dengan tubuh kaku didepan ruang
inap Tao. Hatinya hancur tak tersisa. Jantungnya tak ingin berdetak lagi.
Paru-parunya tak bisa mengembang dan mengempis. Organ dalam tubuhnya tak bisa
bekerja dengan benar. Matanya terasa panas dan seketika itu juga, mengalirlah
air membuat anak sungai di pipinya. Bibirnya bergetar karena rasanya sangat
sakit. Entah di bagian mananya.
“Tao....”
Lirihnya sangat pelan.
Valen memilih untuk menarik dirinya dan
melangkah mundur. Ia tak ingin muncul tiba-tiba dan menghancurkan jalan pikiran
suaminya yang masih kacau itu. Bisa tambah rumit jika ia memaksa Tao untuk
mengingatnya. Valen menenangkan diri di taman rumah sakit itu.
“Aku
akan belikan kopi untukmu..” Ujar Fa Lian.
Sial! Kenapa disaat seperti ini dia harus
mendengar suara mereka lagi?
“Baiklah..
Aku akan menunggumu disini..” Jawab Tao.
Valen terdiam. Kakinya tak bisa digerakan
apalagi untuk menopang tubuhnya untuk berdiri. Ia pasrah hingga akhirnya, Tao
menghampiri dirinya.
“Permisi,
nona.. Bolehkah saya duduk disini?” Tanya Tao.
Valen hanya mengangguk tanpa menatap Tao.
“Terimakasih..”
Tao duduk dan sebenarnya juga heran melihat
wanita ini begitu menyeramkan.
“Nona..
Anda baik-baik saja?” Tanya Tao.
Valen menjawabnya dengan anggukan. Tapi, itu
tak membuat Tao puas. Ia menundukan kepalanya sedikit untuk melihat wajah
wanita yang duduk disebelahnya itu.
“Nona..
Wajah anda pucat! Anda benar baik-baik saja??”
“Iya..
Aku baik-baik saja..” Jawab Valen akhirnya.
Hening sejenak.
“Kenalkan
namaku Tao.. Kalau boleh tahu, siapa nama nona?”
“Namaku...
Va.....”
“Tao!
Ini kopinya..” Sela Fa Lian seraya memberikan kopi untuk Tao.
Benar-benar, Valen benar-benar ingin keluar darisana.
Ia tidak ingin berada disana. Mana mungkin ia membiarkan orang lain melihatnya
menangis? Ah, sunggu sial. Tanpa pamit dan tanpa apa-apa, Valen melangkah pergi
memaksakan tubuhnya untuk bergerak menjauh.
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
Kutumpahkan semuanya pada bantal kesayanganku.
Kutumpahkan air bah yang sudah terbendung selama perjalanan pulang tadi diatas
kasurku dan suamiku ini. Kutumpahkan segala rasa kecewa dan amarahku disini.
Aku sendirian. Benar, sendiri di rumah yang cukup besar ini. Sendiri diatas
kasur yang untuk 2 orang ini. Dan sendirian menangis mengasihani diriku
sendiri.
“Tao..
Kenapa? Kenapa kau malah mengingatnya?? Kenapa?!! Apa aku terlalu lambat? Apa
gerakanku terlalu lambat?? Tapi, aku tak ingin kau tersiksa dengan kehadiranku
yang bisa membuat kepalamu akan terasa pecah! Kenapa kau tak mau bersabar
sedikit lagi? Aku akan hadir dan membuatmu pulih! Kenapa kau lakukan ini
padaku???”
Semalaman aku menangis sendirian. Oh tidak!
Tidak sendirian. Aku masih punya Tao kecil di perutku ini. Aku masih punya dia.
Ya, walaupun dia belum tumbuh besar. Tapi, tubuhku menjadi hangat ketika aku
ingat padanya.
“Maafkan,
mama.. Tidak seharusnya mama membuatmu ikut sedih.. Maaf ya, Xiao Tao.. Hehe..”
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“Valen!!!”
Teriak Tao terbangun dari tidurnya.
Ia melihat kesekeliling dan tak ada
siapa-siapa. Ia mengusap wajahnya.
“Hah..
Mimpi buruk.. Tapi.. Siapa yang kupanggil tadi? Valen? Siapa dia? Apa dia ada
hubungannya denganku??”
Keesokan harinya, Tao berjalan-jalan.
Sendirian. Tanpa ada Fa Lian atau siapapun. Ia ingin berpikir jernih dan tenang
untuk mengingat kehidupannya. Terutama wanita yang ia mimpikan kemarin, Valen.
Tao beranjak dari kursinya dan naik ke bis. Ia duduk disalah satu sisi bis
tersebut.
“Heih heih heih! Hati-hati! Kau bisa
merusak gambarku!”
Tao tersentak. Apa itu tadi? Bis itu tidak
banyak orang yang naik dan mereka juga tenang. Lalu, siapa yang berteriak? Tao
kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
“Kau juga hati-hati! Kau tidak lihat apa,
kucing ini sedang sakit!”
Tao langsung menoleh lagi. Tapi ia tetap tak
menemukan apa-apa. Lalu, suara siapa itu tadi?
“Gambar ini adalah hidup matiku! Kalau
sampai rusak aku bisa mati!”
“Kucing ini adalah makhluk hidup yang
tidak bisa dibuat ulang! Hidupnya hanya sekali! Kalau sampai mati, sudah
selesai!! Lagipula gambar itu kan bisa kau gambar ulang jika nanti rusak!”
“Apa? Renyah sekali pernyataanmu itu..!
Butuh waktu lama untuk menggambar design ini!”
“Nyawa kucing ini lebih penting! Awas,
minggir! Aku mau duduk!”
“Eh tidak bisa! Aku yang akan duduk disini
duluan!”
“Hei!! Kau itu punya hati tidak sih?! Kau
tidak lihat apa kucing ini menderita?!!”
“Kau tidak lihat apa gulungan kertas
designku ini bisa rusak kalau aku berdiri?!!”
Tao bernafas tak teratur. Jantungnya bekerja
lebih cepat. Detak jantungnya semakin keras dan menggema di telinganya.
Kepalanya mulai terasa perih lagi.
“Aaggrrhhh!!”
Erangnya.
Ia memegangi kepalanya dengan kencang. Matanya
terpejam erat karena rasa sakit itu semakin lama semakin terasa.
“Tao..”
Panggil seseorang pelan duduk disampingnya.
Tao tak melihat siapa orang itu. Ia masih
menahan rasa sakit di kepalanya itu.
“Tenang..
Tenang..” Lanjut orang itu.
Perlahan sakit itu hilang dan Tao kembali
tenang. Ia menghela nafas. Dan ketika ia membuka mata, ia melihat orang itu
tersenyum. Tersenyum sangat manis dan terlihat tulus. Senyumnya menghangatkan
dan menyembuhkan segala rasa sakit itu.
“Nona
Va...” Ujar Tao.
Valen geli mendengar panggilan itu.
“Kenapa?”
“Tidak..
Tak apa.. Sudah baikan??”
“Iya..
Hehe.. Eee.. Ngomong-ngomong, nona mau kemana??”
“Eh,
aku? Emmm.. Kau sendiri mau kemana??”
“Aku
tidak tahu.. Aku hanya ingin berjalan-jalan berharap bisa mengingat sesuatu..”
“Ohhh..
Bolehkah aku membantumu?”
“Kau
mau? Tentu boleh! Aku akan sangat senang!”
Tunggu! Aku akan sangat senang? Tidak. Aku
tidak berjalan-jalan bersama dengan Fa Lian hari ini kan karena aku ingin
sendiri dan berpikir jernih. Tapi, kenapa aku malah menerima tawarannya?
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“Coba
kita lihat-lihat di toko buku..” Ajak Valen.
“Hm?
Toko buku? Memangnya disana ada apa?”
“Siapa
tahu dulu kau adalah seorang pelukis atau apa kan?”
Tao hanya membulatkan mulut dan mengikuti
Valen. Sesampainya di toko buku yang besar, Tao memperhatikan semua peralatan
menggambar tersedia lengkap disana.
“Sepertinya
aku pernah memakai alat ini..” Ujar Tao sambil memperhatikan sebuah alat lukis.
Valen menyerahkan selembar kertas yang agak
besar ke Tao.
“Coba
dipakai lagi kalau begitu..” Ujarnya.
Tao menurut dan hasilnya, mengejutkan dirinya
sendiri. Darimana ia bisa menggunakan alat itu? Apa dulu ia memang seorang
pelukis?
“Tao..
Coba pakai yang ini..” Kata Valen mengambilkan alat yang lain.
Alhasil, Tao bisa menggunakan alat-alat itu
dengan mudah. Ia sendiri juga kaget dengan kemampuannya. Ia merasa sudah
mengenal dan dekat dengan alat-alat tersebut. Ia melirik kearah Valen.
Bagaimana ia bisa menebaknya dengan tepat?
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“Aku
ingat!! Aku adalah seorang arsitek!! Benar!! Aku seorang arsitek!!” Ujar Tao
gembira ketika ia sedang duduk-duduk santai di atap rumah sakit.
Ia segera menemui Fa Lian dan memberitahunya.
Fa Lian merasa senang disana. Ia juga merasa khawatir disaat yang sama.
Bagaimana kalau nanti Tao benar-benar akan ingat tentang jati dirinya yang
asli?
“Tapi,
darimana kau bisa ingat Tao?” Tanya Fa Lian.
“Dari
nona Va..”
“Nona
Va? Siapa dia??”
“Wanita
yang malam itu duduk bersamaku di taman rumah sakit.. Waktu itu kau sedang
membeli kopi untuk kita..” Jelas Tao.
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“Dokter
Valen..! Anda tidak apa?!!” Tanya asistennya.
“Tidak
tidak.. Aku baik-baik saja.. Kembalilah bekerja..” Jawab Valen.
Valen menuju ke kamar mandi dan membersihkan
hidungnya dari darah segar yang keluar dari hidungnya itu. Ia juga
muntah-muntah, perutnya terasa mual tiba-tiba.
“Ini,
dok.. Minumlah obat ini..” Ujar asistennya.
“Ah,
iya.. Terimakasih..”
Valen minum obat sebentar lalu beristirahat.
“Kenapa
tiba-tiba aku mimisan begini? Hah.. Merepotkan saja..” Keluhnya.
Valen pergi keluar untuk membeli sesuatu. Baru
beberapa langkah, pandangannya menjadi kabur. Kapalanya agak pusing. Beberapa
detik kemudian, kembali normal. Sampai akhirnya ia berdiam menunggu bis datang
di halte. Ketika bis sudah datang, Valen tak bergerak dan masih diam dengan
kepala tertunduk.
“Nona
Va!!” Panggil Tao yang sangat semangat kebetulan melihatnya.
Tao mendekat dan menepuk pundaknya layaknya
bertemu seorang sahabat. Tapi, tubuh Valen menjadi goyang dan lemas. Hampir ia
terjatuh, beruntung ada Tao yang langsung menangkapnya.
“Eh!!
Nona Va!! Anda kenapa?!!” Tanya Tao panik.
Tao dibuat semakin panik ketika melihat hidung
Valen mimisan dan ia dalam keadaan pingsan. Tanpa minta bantuan orang disana,
Tao menggendong tubuh Valen dan membawanya masuk ke bis.
“Pak,
berhenti di depan rumah sakit ya!” Pesan Tao.
“Baik,
tuan..” Jawab supir bis yang kebetulan jalurnya lewat rumah sakit.
“Nona
Va..! Nona Va! Bangunlah..!!” Ujar Tao sambil menggoncang-goncangkan tubuh
Valen dan menepuk-nepuk pipinya.
Tao terlihat panik disana. Ia menggunakan
tangannya sendiri untuk membersihkan darah yang mengalir dari hidung Valen itu.
Wajah Valen terlihat pucat. Lebih pucat dari hari-hari sebelumnya.
“Nona
Va..! Sadarlah.....”
Valen membuka matanya sedikit dan perlahan. Ia
melihat Tao ada disampingnya sedang menopang tubuh lemahnya. Ia tersenyum kecil
walau mungkin senyum itu tak terlihat.
“Tao...”
Panggil Valen pelan dan terdengar seperti bisikan.
Tao menoleh kearah Valen.
“Eh!
Nona Va! Kau sudah sadar?! Kenapa kau tiba-tiba pingsan?! Kau kenapa??! Kau
sakit?!” Tanya Tao saking paniknya.
Valen hanya tersenyum geli dengan sisa tenaga
yang ia punya.
“Terimakasih..
Kau baik sekali mau menolongku..” Ujar Valen tak menjawab apa-apa.
“Eh..
Sama.. Sama-sama.. Kau tenang saja.. Aku akan membawamu ke rumah sakit!”
Valen tersenyum sebelum kembali menutup mata.
“Eh!
Nona Va! Kenapa tidur lagi?!”
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
“Tao!!
Kau darimana saja sih?! Aku khawatir tahu tidak?!” Bentak Fa Lian melihat Tao
datang.
“Eh?!
Maaf maaf!”
“Di..
Dia siapa??” Tanya Fa Lian.
“Dia
nona Va yang aku ceritakan waktu itu! Aku harus segera membawanya ke dokter!”
Tao berlalu darisana. Tentu saja Fa Lian
mengejar dan mengikutinya. Valen dibawa ke ruang gawat darurat untuk menjalani
pemeriksaan.
“Keadaanmu
itu belum pulih sepenuhnya.. Kau belum sembuh total! Jangan main-main
seenaknya..!” Ujar Fa Lian.
“Maaf..
Aku hanya tidak ingin berlama-lama melupakan kehidupanku.. Aku ingin ingat
lagi! Aku ingin sembuh!” Jawab Tao.
“Kau
kan sudah ingat Tao.. Kau kan sudah ingat tentangku..”
“Tapi
aku belum ingat semuanya.. Masih belum jelas gambar bayangan itu.. Aku juga
belum ingat siapa aku ini dan siapa keluarga serta teman-temanku..”
Dokter keluar memecahkan pembicaraan mereka.
“Eh,
dok! Bagaimana keadaan nona Va?” Tanya Tao.
“Anda
keluarganya??”
“Bu..
Bukan..”
“Maaf..
Tapi, saya harus bicara dengan keluarganya.. Apakah ada??”
“Eee..
Tadi aku bertemu dengannya di jalan.. Aku temannya.. Aku tidak tahu siapa
keluarganya..” Jelas Tao.
Dokter itu menghela nafas.
“Kalau
begitu, tunggu saja dia sampai sadar.. Setelah itu, aku akan bicara dengan
keluarganya saja..” Ujar dokter itu lalu pergi.
Tao melihat Valen yang didorong keluar dari
ruang gawat darurat. Ia terbaring lemas tak berdaya diatas kasur itu. Wajahnya
masih pucat.
“Tao..
Kau harus kembali ke ruanganmu..” Ujar Fa Lian.
“Tapi..
Aku ingin.... Menemuinya sebentar.. Aku ingin menemaninya.. Paling tidak,
sampai keluarganya datang..”
“Hah..
Kalau begitu kau harus menepati janjimu itu.. Kembalilah dan istirahat.. Aku
akan bekerja dulu.. Akan kuusahakan cepat selesai..”
Tao mengangguk mengerti. Ia langsung mengikuti
kemana Valen dibawa. Dia duduk disamping tubuh Valen. Tao mengamati wajah
Valen.
“Nona
Va.. Entah kenapa.. Setiap kali melihatmu, aku sangaaatttt senang..! Setiap
kali melihatmu, aku merasa lega dan merasa nyaman.. Kenapa ya?” Tanya Tao
sendiri sambil mengelus-elus punggung tangan Valen lembut.
“Waktu
pertama kali melihatmu di taman.. Rasanya aku langsung ingin sekali mengetahui
apa yang terjadi padamu sehingga membuatmu menangis.. Tapi, kalau begitu
bukankah terkesan aneh? Hehehe.. Ketika itu, aku juga merasakan sakit dan ingin
menangis juga.. Tapi, aneh juga kan rasanya kalau aku melakukan itu? Hehe..”
Hening. Tao tak bergeming lagi ketika ia
melihat sebuah cincin emas yang cantik melingkar di jari manis tangan kanan
Valen. Selama beberapa detik, Tao seperti hilang tak ada didalam tubuhnya.
Namun, sebuah ingatan melesat dan masuk kedalam otaknya. Hal itu membuat kepala
Tao kembali merasakan sakit yang luar biasa.
“Aaaaarrrrggghhhhhh!!
Agh! Sa... Kit....!!!” Rintihnya mencoba untuk tidak berteriak.
Tao melihat gambaran-gambaran yang tampil
berputar seperti sebuah potongan video sedang bermain di otaknya. Gambar itu
terus muncul semakin Tao ingin menghilangkannya. Ia sendiri tak tahan dengan
sakit kepala itu dan akhirnya ia pingsan.
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
Aku mendengar suara gemuruh dan suara petir
yang menyambar. Aku juga mendengar suara air yang menetes dalam jumlah yang
banyak membasahi segalanya yang tak terlindung. Hujankah?
Perlahan, kubiarkan mataku terbiasa dengan
sinar-sinar minim yang ada. Ya, sepertinya ini sudah malam dan lampu sudah
dimatikan. Tapi, aku masih bisa melihat apa yang ada disekitarku. Agh!!
Ssshhhh...! Kepalaku masih terasa pening. Hah.. Sakit sekali!
Oh iya! Nona Va! Aku langsung membuka mataku
lebar ketika mengingat nona Va. Ingin rasanya aku langsung turun dari kasur dan
berlari sekencang yang kubisa untuk menemuinya. Tapi, aku harus bersabar
sebentar sampai tubuhku benar-benar kuat untuk berjalan.
Dengan jalan agak sempoyongan, aku berusaha
mencapai ruang inap nona Va. Untung ruang inapnya tidak begitu jauh dari
ruanganku. Akan tetapi..... Tidak ada!! Ruangannya kosong! Kemana dia?
“Maaf,
suster.. Kemana pasien yang ada di ruangan ini??” Tanyaku pada suster yang
lewat.
“Hm?
Tadi dia sedang jalan-jalan.. Tak apa, jangan khawatir.. Kondisinya sudah
membaik..”
“Eemmm..
Kalau boleh tahu, dia sakit apa ya??”
Suster itu terlihat mengernyitkan dahinya. Ia
menatapku curiga.
“Aku
memang bukan keluarganya.. Apa tidak boleh tahu?”
“Maaf..
Tapi, kami tidak bisa membagi rahasia pasien ke orang yang tidak termasuk
keluarga si pasien..”
“Begitu
ya.. Hah.. Baiklah.. Apakah anda tahu pasien ini pergi jalan-jalan kemana?”
“Tadi
dia bersantai di taman.. Tapi aku rasa dia sudah masuk.. Di luarkan hujan..
Mungkin sekarang sedang jalan-jalan di lobby atau dimana di dalam rumah sakit
ini..”
Aku berterimakasih dan mulai mencari nona Va.
Aku mencari kemana saja. Ruang khusus anak-anak, khusus penyakit ringan sampai
berat dan lain-lain.
“Kemana
ya?? Hhmmm.. Ah! Mungkin dia di atap!”
Tanpa berpikir panjang, aku melesat ke atap dan
hasilnya ada! Aku menemukan nona Va disana. Namun, gila! Apa dia sudah gila?!
Apa yang dia lakukan hujan-hujanan begitu?!
“Nona
Va!!!” Panggilku.
Tapi nona Va tidak menoleh. Hujan semakin deras
dan nona Va masih tak bergerak dari posisinya. Sebenarnya, apa yang dia
lakukan?! Astaga!!!
“Nona
Va!!!! Apa yang kau lakukan disana?!!!” Teriakku lagi.
Masih tak ada jawaban dan kuputuskan untuk
menerjang hujan itu dan menghampirinya.
“Nona
Va! Apa yang kau lakukan hujan-hujanan disini?!!” Tanyaku agak keras.
Aku melihat wajahnya masih pucat. Ia menatapku
aneh. Tatapan apa itu? Tak bisa kujelaskan.
“Nona
Va! Ayo masuk!!” Ajakku dan menarik tangannya.
Nona Va tidak mengikutiku dan tidak bergerak
dari tempat duduknya. Aku semakin heran dan agak emosi sebenarnya.
“Ayo
masuk!! Kau kan sedang sakit! Belum pulih benar!! Kenapa cari penyakit sih?!!”
Bentakku akhirnya memarahinya.
Ia berdiri dan menghadap kearahku. Ia tersenyum.
Kenapa dengannya???
“Sama..
Persis..” Ujarnya.
Hah? Maksudnya apa??
“Apa
yang kau bicarakan?” Tanyaku.
“Sama..
Caramu mengkhawatirkanku.. Sama persis dengan Tao.. Caramu memperhatikan orang
lain, sama persis dengan Tao.. Caramu menunjukan rasa kepedulianmu, sama persis
dengan Tao..” Jelasnya.
“Tapi..
Aku kan memang Tao..”
“Tao
yang kumaksud adalah suamiku.. Suamiku yang sedang amnesia..”
Deg! Rasanya pernyataan itu adalah sebuah
pukulan di gendang telingaku. Aku tidak salah dengarkan? Dia mengatakan..
Suaminya? Jadi.. Apakah aku ini suaminya? Tapi tidak mungkin..!! Istriku kan Fa
Lian.
“Pasti
hujan ini membuatmu semakin sakit! Ayo masuk!!” Ajakku.
Dia menolak dengan menggelengkan kepalanya
pelan. Aku menatapnya lagi. Ia menggerakan tangannya kearah perutnya.
“Disini..
Disini ada kehidupan.. Disini ada seorang bayi..”
Aku memperhatikannya di tengah hujan ini.
“Disini
ada Xiao Tao.. Tao kecil sayang.. Xiao Tao yang butuh kehangatan dan kasih
sayang.. Disini ada anak kita..”
Aku membelalakan mataku tak percaya. Apa? Dia..
Tadi bilang... Anak.. Kita? Aku menatap kearah perutnya lalu kembali menatapnya
yang sedang tersenyum samar-samar. Aku menggeleng pelan.
“Tidak..
Tidak mungkin.. Istriku adalah Fa Lian!” Ujarku lalu melepas genggaman tanganku.
“Tidak,
Tao.. Bukan.. Istrimu bukan dia.. Istrimu adalah Valen..”
“Valen?”
“Nona
Va.. Len..”
Aku semakin melebarkan mata. Apa? Jadi.. Nona
Va benar-benar istriku? Aku tak percaya. Tak mungkin ingatanku ini salah!
“Kau
pasti bohong.. Kau pasti semakin sakit karena hujan ini!!”
“Tidak,
Tao.. Aku tidak bohong.. Percayalah padaku..” Rengeknya walaupun tak terdengar
manja.
Aku menggeleng lalu menepis tangannya yang
memegangi pergelanganku. Aku berlari masuk meninggalkannya. Entah apa yang
terjadi padanya setelah aku pergi.
=Ni
Yao De Bu Shi Wo=
Dia pergi. Masuk. Kedalam. Tuhan.. Haruskah kau
membuatnya ingat kalau istrinya adalah Fa Lian? Tapi kenapa? Apa karena kami
tak berjodoh? Aku mendongakan kepalaku ke langit. Menerima semua tetesan air
hujan itu di wajahku. Hah.. Rasanya semakin sulit. Semakin berat. Dan juga..
Badanku semakin lemas. Gelaplah sudah pandanganku.
能給的不是我 - neng gei de bu shi wo
(What you want) is not something I am able to give
(What you want) is not something I am able to give
放任你沉溺自由 - fang ren ni chen ni
ji you
Hence, I’ll let you have your freedom
Hence, I’ll let you have your freedom
掩飾不了我的笨拙 - yan shi bu liao wo de
ben zhuo
Trying to hide my stupidity
就連說話都會顫抖 - jiu lian shuo hua dou hui chan duo
I tremble even as I speak
我被遺忘在 你遺忘的角落 - wo bei yi yang zai ni yi wang de jiao luo
Trying to hide my stupidity
就連說話都會顫抖 - jiu lian shuo hua dou hui chan duo
I tremble even as I speak
我被遺忘在 你遺忘的角落 - wo bei yi yang zai ni yi wang de jiao luo
because I’m being forgotten in a corner of your
forgotten memories
Tao..
Apakah kau benar-benar melupakanku?
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Tao
berpikir setelah mengeringkan badannya. Ia tak tahu apa yang harus ia pikirkan.
Ia bingung dengan apa yang ia hadapi sekarang.
“Tao..” Panggil seorang wanita lembut.
Barusaja
wanita itu masuk dan menampakan diri pada Tao, Tao langsung mengenali orang
itu.
“Mama..??”
Ibunya
Tao langsung datang memeluk anaknya yang sudah lama menghilang.
“Ma..!”
“Tao.. Oh, anakku.. Kau baik-baik saja
kan??”
Tao
mengangguk lalu memeluk ibunya lagi. Tak hanya ibunya, ayahnya dan juga
mertuanya juga datang.
“Tao.. Mana Valen?” Tanya ibunya Valen.
Tao
terlihat tersentak. Ia jadi heran sendiri. Benar-benar memusingkan kepala!!
“Tao.. Kau baik-baik saja kan?? Tao? Tao!!”
Tao
terjatuh di kasurnya. Ia pingsan setelah mendapat hentakan daritadi.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
“Tao..
Apakah kau benar-benar tidak ingat aku??”
“Eng?
Fa Lian??”
“Bukan,
Tao.. Bukan.. Bukan Fa Lian..”
“Lalu..
Kau siapa??”
“Benarkah
kau tidak ingat aku? Kau tidak mengingatku atau kau tak mau mengingatku??”
“Hah?
Pertanyaan macam apa itu??”
“Apakah
sekarang aku sudah terhapus dari memorimu? Apakah sekarang ingatan tentangku
sudah kau tepis jauh-jauh dari otakmu? Haruskah aku menangis di tengah-tengah
kenangan yang kau lupakan??”
“Kau
bicara apa? Apa yang kau maksud? Kau siapa??”
“Tao..
Aku yakin kau pasti ingat padaku.. Aku percaya padamu.. Aku percaya pada
suamiku.. Dan Xiao Tao, percaya pada babanya..”
“Va..
Len... Apakah itu kau??”
Seberkas
cahaya memantul di mata jernih Tao. Kedua mata indah itu terlihat mulai terbuka
pelan-pelan. Seakan berpikir, apa itu tadi. Tao, ia sudah sadar. Lalu, apakah
ia sudah ingat?
“Tao.. Kau sudah sadar..?” Tanya Fa Lian
memastikan.
Tao
melihat kesampingnya dan mendapati ternyata Fa Lian sedang menangis. Tao
mengangguk, ia juga melihat senyum mengembang dari wajah Fa Lian. Ia memeluk
Tao dengan hati lega.
“Syukurlah kau baik-baik saja..” Ujarnya.
“Fa Lian.. Mana nona Va?” Tanya Tao.
Fa
Lian terdiam.
“Fa Lian.. Jawab aku.. Mana dia? Mana
Valen??”
Fa
Lian menundukan kepalanya. Ketakutan dan kecemasannya benar-benar terjadi. Fa
Lian menjawab dan memberitahu dimana Valen berada. Tao melebarkan mata dan
langsung turun dari kasur dan berlari.
“Tao!! Kau belum pulih!!”
Tapi,
tak dipedulikan. Tao tetap berlari menuju ke Valen. Ia membuka ruang inap Valen
dan menemukan istrinya terbaring lemah dan sangat tenang.
“Valen...” Panggil Tao pelan.
Tao
menutup pintu ruangan itu dan berjalan kearah Valen. Tanpa seizinnya, air
matanya turun begitu saja melewati pipinya. Ia menggenggam tangan Valen yang
sekarang diberi infus.
“Maaf.. Maafkan aku..” Lirihnya.
Mata
Valen terpejam begitu tenang. Dadanya naik turun sesuai irama nafas yang ia
keluarkan. Tubuhnya benar-benar tak berenergi. Tao menangis disana. Ia mencoba
untuk menangis sepelan mungkin.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
“Kau mau kemana, Tao?” Tanya ibunya lewat
ponsel.
“Aku akan menemani Valen..” Jawab Tao.
Tao
tersenyum dan menuju ke rumah sakit dimana Valen dirawat. Ya benar, ingatannya
telah kembali. Ia telah sembuh dan pulih. Bagaimana dengan Fa Lian? Tenang
saja. Sekarang, mereka berteman. Sebelum Tao masuk ke rumah sakit, ia membeli
sebuah buket bunga cantik bewarna putih. Ia tersenyum dan mencium aroma bunga
itu. Segera ia langkahkan kaki ke ruang inap istrinya itu.
Cklek!
Kosong.
Kasur itu kosong tak ada yang memakai. Selimutnya agak berantakan. Itu artinya,
Valen masih disini.
“Valen..??” Panggilnya.
Tao
membuka pintu kamar mandi, tapi Valen tak ada disana. Ia pun bertanya pada
seorang suster. Dan tentu saja, suster itu menjawab pertanyaannya. Langsung
saja, Tao bergegas menemui istrinya.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Hah..
Sejuk sekali.. Aku memandangi segala yang ada dihadapanku. Terasa begitu tinggi
darisini. Anginnya juga bertiup agak kencang, sehingga rambutku tertepa
kebelakang. Tao, hehe.. Apakah kau sudah mengingatku? Andai saja, sekarang kau
ada disini menemaniku. Disampingku.
“Valen..”
Suara
itu.. Suara yang sangat kukenal. Suara yang kurindukan. Suara yang ingin sekali
kudengar. Aku menoleh dengan mata memanas. Tao, kaukah itu?
“Kau sudah sadar rupanya..” Ujarnya lagi
lalu mendekat kearahku.
Jantungku
berdetak lebih cepat. Tiba-tiba aku jadi bisu dan terdiam seribu bahasa. Aku
tak tahu apa yang harus kukatakan. Perasaan senang ini.. Telah melebihi batas!
Tao mendekat kearahku. Semakin dekat dan dekat hingga akhirnya ia memelukku.
“Valen... Maafkan aku.. Maaf ya..”
Aku
hanya menjawabnya dengan anggukan. Astaga, Tuhan... Aku benar-benar rindu
dengan pelukannya! Ia melepas pelukannya dan memegang kedua pipiku dengan kedua
tangannya yang besar. Matanya menatap mataku lurus dan lekat. Ia tersenyum
manis kearahku. Aku membalas senyuman itu. Perlahan, ia menghapus jarak yang
memisahkan kami. Benar, ia menciumku. Rindu sekali rasanya dengan ciuman ini.
Hehehe..
“Bagaimana dengan keadaan Xiao Tao?”
Tanyanya setelah kami melepas tautan bibir itu.
Aku
tersenyum semanis yang kubisa.
“Dia rindu pada babanya..”
Kami
kembali berciuman diatap gedung rumah sakit. Dengan terpaan angin yang
menyejukan kami berdua dan sinar matahari yang menghangatkan hari-hari ini.
Romaji
zhen me
neng wang
shi jian duo chang
ni kuai le ma
xiang dai ti ni hui da
ni chi dao ma
zuo le hao yuan wo cai neng qu mian dui
zhe fen qian gua
chen mo shang bei
ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong
neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
zhen me neng wang
shi jian duo chang
ni kuai le ma
xiang dai ti ni hui da
ni chi dao ma
zuo le hao yuan wo cai neng qu mian dui
zhe fen qian gua
chen mo shang bei
ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong
neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong
neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
shi jian duo chang
ni kuai le ma
xiang dai ti ni hui da
ni chi dao ma
zuo le hao yuan wo cai neng qu mian dui
zhe fen qian gua
chen mo shang bei
ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong
neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
zhen me neng wang
shi jian duo chang
ni kuai le ma
xiang dai ti ni hui da
ni chi dao ma
zuo le hao yuan wo cai neng qu mian dui
zhe fen qian gua
chen mo shang bei
ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong
neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong
neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo
Kanji
怎麼能忘 時間多長
你快樂嗎 想代替你回答
你知道嗎 走了好遠
我才能去面對
這份牽掛 沉默傷悲
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
怎麼能忘 時間多長
你快樂嗎 想代替你回答
你知道嗎 走了好遠
我才能去面對
這份牽掛 沉默傷悲
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
我被遺忘在 你遺忘的角落
你快樂嗎 想代替你回答
你知道嗎 走了好遠
我才能去面對
這份牽掛 沉默傷悲
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
怎麼能忘 時間多長
你快樂嗎 想代替你回答
你知道嗎 走了好遠
我才能去面對
這份牽掛 沉默傷悲
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
我被遺忘在 你遺忘的角落
Translation
How can I
forget...how long time is
‘Are you happy?’ I feel like answering that for you (because you're not answering me)
Do you know that? I've journeyed so far
Before I have the courage to face
this worry and hurt by myself
I’m not the one you desire
The outline of my heartbreak is missing
The care and concern I used to give you
Is just a sudden urge of my mood
(What you want) is not something I am able to give
Hence, I’ll let you have your freedom
Trying to hide my stupidity
I tremble even as I speak
because I’m being forgotten
‘Are you happy?’ I feel like answering that for you (because you're not answering me)
Do you know that? I've journeyed so far
Before I have the courage to face
this worry and hurt by myself
I’m not the one you desire
The outline of my heartbreak is missing
The care and concern I used to give you
Is just a sudden urge of my mood
(What you want) is not something I am able to give
Hence, I’ll let you have your freedom
Trying to hide my stupidity
I tremble even as I speak
because I’m being forgotten
-Fin-