Minggu, 22 Juli 2012

Ni Yao De Bu Shi Wo -Story-


Cciiiittttt!!!
BBRRRAAAKKK!!!
Bruk!

你要的不是我 (Ni Yao De Bu Shi Wo)
Song : Ni Yao De Bu Shi Wo
By : JJ Lin (Lin Jun Jie)
Story By : Sno_Wint (Stefanny J.)

Aku adalah seorang wanita. Ya, wanita yang sudah ada yang punya. Hihi.. Katanya, aku adalah wanita paling sempurna di dunia ini. Yah, aku memang tahu tak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi, itu yang dia katakan sewaktu dia melamarku. Benar, aku sudah bersuami. Suamiku adalah pria paling baik dan lembut. Dia bekerja sebagai seorang arsitek. Hehe.. Dan aku adalah seorang dokter. Dokter hewan!
      “Bagaimana? Apakah masih sakit?” Tanya seorang wanita begitu lembut.
Ia tak mengharapkan jawaban pada yang ditanya. Ia tahu kalau agak aneh yang ditanya bisa menjawab karena ia bertanya pada seekor anjing.
      “Kau harus istirahat.. Besok, kau akan bisa bermain lagi bersama yang lain.. Hehe.. Aku pulang dulu ya, Xiao Gou..” Lanjut wanita itu sambil membawa tasnya dan berjalan keluar dari klinik.
Di jalan, ia mengambil ponselnya dan melihat jam sekilas. Ia agak berpikir disana.
      “Tao sudah makan malam belum ya? Hmm..”
Akhirnya, ia memutuskan untuk menghubungi Tao. Orang yang ia pikirkan sejak tadi. Namun, nihil! Berulang kali ia mencoba untuk menghubungi Tao yang notabenenya adalah suaminya itu, tapi tak bisa terhubung. Entah kenapa, ponselnya sedang tidak aktif. Tidak seperti biasanya, batin wanita yang seorang dokter itu.
      “Kenapa tidak aktif ya? Apa dia sedang rapat? Tapi ini kan sudah hampir jam 9..”
Ketika beberapa langkah kedepan, ponselnya berdering. Tentu, wanita itu langsung dengan sigap menerimanya.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Kenapa tidak aktif juga? Eh, ada yang telfon! Apa itu Tao? Aku mengangkat dan menerima panggilan dari ponselku itu. Dan... Nafasku sesak seketika. Mataku membulat sempurna. Dadaku kembang kempis tak teratur. Keringat dari seluruh tubuhku keluar begitu saja.
      “A.. A.. Apa??” Tanyaku kesusahan.
Sekali lagi suara orang dari seberang sana mengulangi penjelasannya. Itu ibuku, yang telfon adalah ibuku. Ya, ibuku. Tapi, Tao.. Dia.. Kecelakaan?
      “Ba.. Baiklah...! Aku akan segera kesana!”
Langkahku kembali terhenti dan tubuhku tersentak ketika mendengar jawaban dari ibuku. Apa? Tao tidak ada? Yang benar saja? Kenapa bisa begitu?
      “Maksudnya bagaimana?? Bagaimana bisa Tao tidak ada?? Hanya mobilnya yang ditemukan hancur?! Lalu Tao dimana???!!”
Aku sudah agak emosi sendiri. Aku bingung harus kemana. Akhirnya, aku kembali ke rumah dan disana sudah ada orang tua dan mertuaku.
      “Valen! Akhirnya kau datang juga!” Sapa ayahku langsung berdiri.
      “Bagaimana dengan Tao? Apakah sudah ada kabar dari polisi??” Tanyaku.
Terlihat, raut wajah mereka langsung berubah kusut. Ayahku menggeleng pelan. Tubuhku semakin terasa tak bertenaga.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “U.. Ugh...! Ng..? Ngghh...!!”
      “Nona!! Nona!! Dia sudah sadar, nona!!”
Seorang lelaki dengan susah payah membuka kedua matanya yang berat itu. Kepala, tangan dan sebagian tubuhnya yang lain terbalut dengan perban. Ia mencoba untuk meresapi apa yang ada disekitarnya. Ia terlihat bingung dan heran. Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita bersama pelayan yang tadi berteriak-teriak memanggilnya.
      “Tuan Tao!” Ujar wanita itu.
Pria yang disapa Tao itu, melihat wanita tersebut dengan.. Heran.
      “Kau... Siapa?” Tanya Tao.
      “Namaku Fa Lian.. Semalam, aku menemukanmu tergeletak di pinggir jalan dengan penuh luka.. Lalu, aku menolongmu dan membawamu ke rumah sakit ini..”
Tao melihat kesekelilinginya.
      “Tuan Tao.. Anda sudah baikan?” Tanya Fa Lian.
      “Tu.. Tuan.. Tao?”
      “Iya.. Aku tahu namamu dari kartu pengenal yang ada di dompetmu.. Hehe.. Tapi, tenang saja! Aku tidak mencuri uangmu kok!”
Tao terlihat berpikir. Ia terlihat sangat keras mencoba untuk berpikir disana.
      “Tuan Tao..? Anda baik-baik saja?”
      “Namaku Tao?”
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Dokter memeriksa Tao dengan segera. Ia melakukan berbagai tinjauan. Mulai dari foto bagian dalam tubuh hingga otak. Dan hasilnya menunjukan bahwa....
      “Apa? Dia amnesia?” Tanya Fa Lian agak kaget.
      “Benar.. Setelah hasilnya keluar, terlihat ada benturan di otaknya yang mengakibatkan amnesia..”
      “Tapi, ingatannya bisa pulih lagi kan, dok?”
Si dokter menghela nafas.
      “Saya tidak bisa jamin.. Memang ada jenis amnesia yang bersifat sementara.. Ada juga amnesia yang bisa sembuh karena ia dihadapkan dengan masa lalunya.. Tapi, ada juga amnesia permanen yang tidak bisa pulih..”
      “Lalu.. apa yang harus kami lakukan, dok? Adakah cara untuk membuatnya kembali ingat? Seperti misalnya menjalani terapi atau semacamnya begitu..”
      “Saya rasa.. Obat terbaik untuk orang yang amnesia adalah menghadapkannya dengan masa lalunya.. Misalnya, keluarganya.. Barang-barang miliknya.. Kehidupannya.. Dan sebagainya.. Saya tidak bisa jamin 100% obat yang saya berikan ini akan bisa memulihkan ingatannya.. Obat ini hanya akan membantu proses pertumbuhan ingatannya saja..” Jelas sang dokter panjang.
Fa Lian kembali ke ruang inap Tao setelah membeli obat di apotek rumah sakit. Ia terlihat bingung disana. Bagaimana caranya ia bisa memulihkan ingatan orang yang ia tolong itu? Ia bahkan sama sekali tidak mengenal orang yang bernama Tao itu. Tahu namanya saja dari kartu pengenal. Disana juga tidak ada nomor telfon rumah. Apa dia tidak punya telfon rumah? Pikir Fa Lian.
      “Tuan Tao...” Panggil Fa Lian.
Fa Lian terhenyak sesaat ketika melihat Tao sedang menikmati udara segar dari jendela yang terbuka. Angin yang berhembus, meniup beberapa helai rambut hitam pekat Tao. Matanya yang terlihat lelah dan sayu itu seperti ingin terpejam. Hidungnya yang mancung dan tajam, bibirnya yang terlihat pucat namun lembut disaat yang sama. Dan wajah yang sempurna itu, menghadap kearah Fa Lian sekarang.
      “Eee... Anu.. Ini obatnya.. Sudah kubelikan..” Ujar Fa Lian gelagapan.
Tao tersentum tipis dan berterimakasih. Wajah Fa Lian memanas dan seketika menjadi merah.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Apakah belum ada kabar dari suamiku, pak polisi??” Tanya Valen.
      “Sampai saat ini, belum ada kabar mengenai keberadaan suami anda, nyonya.. Tapi, kami akan berusaha untuk mencarinya.. Nyonya tidak perlu khawatir..”
Valen agak berat untuk mengangguki pernyataan polisi itu. Ia memegang perutnya dan mengelusnya pelan. Valen berjalan keluar dari kantor polisi. Entah, mau dicari dimana lagi? Suaminya hilang begitu saja hanya meninggalkan mobil yang hancur remuk akibat kecelakaan.
      “Tao.. Kau dimana..?” Lirih Valen ketika ia menunggu di halte bis.
Valen tak langsung pulang ke rumah, ia beristirahat di sebuah kedai sederhana langganannya sewaktu ia masih kuliah kedokteran dulu. Tatapannya terlihat lelah dan tak bertenaga. Ia juga hanya mengaduk-aduk secangkir kopi yang ada di hadapannya itu perlahan. Tiba-tiba.....
      “Tuan Tao..!”
      “Jangan panggil aku dengan tuan! Aku masih muda, tahu?!”
Valen mengangkat kepalanya cepat. Ia mengedarkan pandangan keluar jendela kedai.
      “T.. Tao.. Tao!!” Pekiknya lalu berlari keluar kedai.
Namun, Valen mengurungkan niatnya untuk mendekat ketika melihat Tao bersama dengan seorang wanita disampingnya. Sebenarnya, ia juga khawatir ketika melihat perban yang ada di kepala Tao itu.
      “Anda harus berterimakasih padaku karena kalau bukan karena aku, anda tidak akan bisa berjalan-jalan!” Ujar Fa Lian.
Tao hanya tersenyum simpul.
      “Iya iya.. Terimakasih.. Sekarang, kita mau kemana??”
      “Eemmm.. Kita jalan-jalan saja, siapa tahu ada yang mengenalimu.. Dan dengan begitu, kita bisa tahu siapa dirimu yang sebenarnya..”
Valen yang sedari tadi berjalan di belakang mereka, agak kaget mendengar hal itu.
      “Benar juga.. Kau pintar juga ya...! Hahahaha..”
Fa Lian hanya cemberut.
      “Aku ini.. Sudah punya istri belum ya?” Tanya Tao.
Dheg! Jantung Valen terasa berdetak lebih kencang pada satu detakan.
      “Eeemmmm.. Aku rasa belum... Anda kan masih muda.. Masa anda menikah muda sih?”
      “Benar juga.. Kalau punya anak sudah belum ya??”
      “Ya!! Menikah saja belum, masa sudah mau punya anak?!”
Valen hanya bisa menunduk sambil memegangi perutnya. Mereka sedang ada di taman saat ini. Tao dan Fa Lian duduk disebuah bangku disana. Valen juga ikut duduk tapi, di bangku yang berbeda.
      “Eh iya! Kenapa kau baik sekali mau menolongku??” Tanya Tao.
      “Eh?! Tidak boleh ya? Aku kan hanya ingin berbuat baik saja..”
      “Tapi, aku rasa itu terlalu berlebihan.. Jarang sekali kan orang membantu orang sampai segitunya.. Dari biaya rumah sakit sampai membantuku mencari ingatanku, kau juga bantu..”
      “Eh.. Ya, tidak apa-apa kan..? Aku kan hanya ingin membantu orang secara tuntas! Tidak setengah-setengah..”
      “Seperti tidak ada kerjaan saja.. Ckckckck..”
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Dah, Xiao Gou.. Jangan sampai sakit lagi ya.. Hehehe..” Kataku sambil melambaikan tangan kearah anjing kecil yang barusaja sembuh dari sakitnya.
Setelah kemarin, aku benar-benar merasa aneh. Tao. Dia amnesia. Ya, aku tahu itu. Aku kan seorang dokter. Aku tak ingin otaknya mendapat hantaman besar jika kemarin aku langsung mengaku dan mengejutkannya. Maka dari itu, aku berusaha untuk mencari cara lain untuk membuatnya kembali ingat. Dan hari ini, aku akan menyamar mengikutinya. Hehe.. Semangat!
      “Hari ini aku akan pulang cepat.. Apakah tidak masalah??” Tanyaku.
      “Iya, tak apa.. Jaga kesehatan ya, dok..” Jawab para asistenku.
Aku tersenyum lalu melangkah keluar klinik dan.. Wala! Saatnya mulai! Pertama, aku menuju ke rumah sakit dimana ia dirawat. Ya, aku tahu itu dimana. Tentu saja aku tahu, aku kan mengikutinya kemarin. Hihi..
      “Tuan Tao! Tuan Tao!! Anda kenapa?!!!” Tanya Fa Lian panik.
      “Dokter!!! Dokter!!!!!” Teriaknya kembali panik.
Tao terlihat sangat tersiksa di bagian kepalanya. Ia menubruk sana-sini tak menentu. Kepalanya terasa begitu pening dan sangat sakit.
      “Aaa!!! Aggghhh!! Hhhggg!! Aahhh!!!” Rintihnya.
Fa Lian mencoba untuk menenangkan Tao. Dan akhirnya, Tao menjadi tenang. Rasa sakit itu hilang ketika Fa Lian menyentuhnya. Ketika ia tersudut di sudut ruangan. Fa Lian terlihat cemas disitu.
      “Tao.. Kau baik-baik saja??” Tanya Fa Lian.
Tao perlahan mengarahkan pandangannya ke Fa Lian. Nafasnya perlahan kembali teratur.
      “Kau.. Aku ingat.. Aku ingat sekarang! Aku sudah menikah! Dan kau adalah istriku!”
Fa Lian tersentak kaget. Istri? Dia istrinya Tao? Tunggu.. Salah besar! Tapi, jujur saja. Fa Lian senang Tao mengingatnya yang bukan siapa-siapanya dia ini sebagai istrinya.
Aku kaget bercampur senang ketika Tao menyebutku sebagai istrinya. Ia mengingatku sebagai istrinya. Bagaimana bisa? Aku juga bingung. Tapi, kalau aku paksa dia untuk berpikir lagi dengan jawaban ‘tidak’, itu bisa bahaya untuknya. Jadi... Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Tao memelukku dengan erat dan penuh rasa rindu.
      “Fa Lian.. Aku ingat..! Kau adalah Fa Lian istriku yang paling kucintai!”
Valen berdiri dengan tubuh kaku didepan ruang inap Tao. Hatinya hancur tak tersisa. Jantungnya tak ingin berdetak lagi. Paru-parunya tak bisa mengembang dan mengempis. Organ dalam tubuhnya tak bisa bekerja dengan benar. Matanya terasa panas dan seketika itu juga, mengalirlah air membuat anak sungai di pipinya. Bibirnya bergetar karena rasanya sangat sakit. Entah di bagian mananya.
      “Tao....” Lirihnya sangat pelan.
Valen memilih untuk menarik dirinya dan melangkah mundur. Ia tak ingin muncul tiba-tiba dan menghancurkan jalan pikiran suaminya yang masih kacau itu. Bisa tambah rumit jika ia memaksa Tao untuk mengingatnya. Valen menenangkan diri di taman rumah sakit itu.
      “Aku akan belikan kopi untukmu..” Ujar Fa Lian.
Sial! Kenapa disaat seperti ini dia harus mendengar suara mereka lagi?
      “Baiklah.. Aku akan menunggumu disini..” Jawab Tao.
Valen terdiam. Kakinya tak bisa digerakan apalagi untuk menopang tubuhnya untuk berdiri. Ia pasrah hingga akhirnya, Tao menghampiri dirinya.
      “Permisi, nona.. Bolehkah saya duduk disini?” Tanya Tao.
Valen hanya mengangguk tanpa menatap Tao.
      “Terimakasih..”
Tao duduk dan sebenarnya juga heran melihat wanita ini begitu menyeramkan.
      “Nona.. Anda baik-baik saja?” Tanya Tao.
Valen menjawabnya dengan anggukan. Tapi, itu tak membuat Tao puas. Ia menundukan kepalanya sedikit untuk melihat wajah wanita yang duduk disebelahnya itu.
      “Nona.. Wajah anda pucat! Anda benar baik-baik saja??”
      “Iya.. Aku baik-baik saja..” Jawab Valen akhirnya.
Hening sejenak.
      “Kenalkan namaku Tao.. Kalau boleh tahu, siapa nama nona?”
      “Namaku... Va.....”
      “Tao! Ini kopinya..” Sela Fa Lian seraya memberikan kopi untuk Tao.
Benar-benar, Valen benar-benar ingin keluar darisana. Ia tidak ingin berada disana. Mana mungkin ia membiarkan orang lain melihatnya menangis? Ah, sunggu sial. Tanpa pamit dan tanpa apa-apa, Valen melangkah pergi memaksakan tubuhnya untuk bergerak menjauh.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Kutumpahkan semuanya pada bantal kesayanganku. Kutumpahkan air bah yang sudah terbendung selama perjalanan pulang tadi diatas kasurku dan suamiku ini. Kutumpahkan segala rasa kecewa dan amarahku disini. Aku sendirian. Benar, sendiri di rumah yang cukup besar ini. Sendiri diatas kasur yang untuk 2 orang ini. Dan sendirian menangis mengasihani diriku sendiri.
      “Tao.. Kenapa? Kenapa kau malah mengingatnya?? Kenapa?!! Apa aku terlalu lambat? Apa gerakanku terlalu lambat?? Tapi, aku tak ingin kau tersiksa dengan kehadiranku yang bisa membuat kepalamu akan terasa pecah! Kenapa kau tak mau bersabar sedikit lagi? Aku akan hadir dan membuatmu pulih! Kenapa kau lakukan ini padaku???”
Semalaman aku menangis sendirian. Oh tidak! Tidak sendirian. Aku masih punya Tao kecil di perutku ini. Aku masih punya dia. Ya, walaupun dia belum tumbuh besar. Tapi, tubuhku menjadi hangat ketika aku ingat padanya.
      “Maafkan, mama.. Tidak seharusnya mama membuatmu ikut sedih.. Maaf ya, Xiao Tao.. Hehe..”
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Valen!!!” Teriak Tao terbangun dari tidurnya.
Ia melihat kesekeliling dan tak ada siapa-siapa. Ia mengusap wajahnya.
      “Hah.. Mimpi buruk.. Tapi.. Siapa yang kupanggil tadi? Valen? Siapa dia? Apa dia ada hubungannya denganku??”
Keesokan harinya, Tao berjalan-jalan. Sendirian. Tanpa ada Fa Lian atau siapapun. Ia ingin berpikir jernih dan tenang untuk mengingat kehidupannya. Terutama wanita yang ia mimpikan kemarin, Valen. Tao beranjak dari kursinya dan naik ke bis. Ia duduk disalah satu sisi bis tersebut.
      “Heih heih heih! Hati-hati! Kau bisa merusak gambarku!”
Tao tersentak. Apa itu tadi? Bis itu tidak banyak orang yang naik dan mereka juga tenang. Lalu, siapa yang berteriak? Tao kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
      “Kau juga hati-hati! Kau tidak lihat apa, kucing ini sedang sakit!”
Tao langsung menoleh lagi. Tapi ia tetap tak menemukan apa-apa. Lalu, suara siapa itu tadi?
      “Gambar ini adalah hidup matiku! Kalau sampai rusak aku bisa mati!”
      “Kucing ini adalah makhluk hidup yang tidak bisa dibuat ulang! Hidupnya hanya sekali! Kalau sampai mati, sudah selesai!! Lagipula gambar itu kan bisa kau gambar ulang jika nanti rusak!”
     “Apa? Renyah sekali pernyataanmu itu..! Butuh waktu lama untuk menggambar design ini!”
      “Nyawa kucing ini lebih penting! Awas, minggir! Aku mau duduk!”
      “Eh tidak bisa! Aku yang akan duduk disini duluan!”
      “Hei!! Kau itu punya hati tidak sih?! Kau tidak lihat apa kucing ini menderita?!!”
      “Kau tidak lihat apa gulungan kertas designku ini bisa rusak kalau aku berdiri?!!”
Tao bernafas tak teratur. Jantungnya bekerja lebih cepat. Detak jantungnya semakin keras dan menggema di telinganya. Kepalanya mulai terasa perih lagi.
      “Aaggrrhhh!!” Erangnya.
Ia memegangi kepalanya dengan kencang. Matanya terpejam erat karena rasa sakit itu semakin lama semakin terasa.
      “Tao..” Panggil seseorang pelan duduk disampingnya.
Tao tak melihat siapa orang itu. Ia masih menahan rasa sakit di kepalanya itu.
      “Tenang.. Tenang..” Lanjut orang itu.
Perlahan sakit itu hilang dan Tao kembali tenang. Ia menghela nafas. Dan ketika ia membuka mata, ia melihat orang itu tersenyum. Tersenyum sangat manis dan terlihat tulus. Senyumnya menghangatkan dan menyembuhkan segala rasa sakit itu.
      “Nona Va...” Ujar Tao.
Valen geli mendengar panggilan itu.
      “Kenapa?”
      “Tidak.. Tak apa.. Sudah baikan??”
      “Iya.. Hehe.. Eee.. Ngomong-ngomong, nona mau kemana??”
      “Eh, aku? Emmm.. Kau sendiri mau kemana??”
      “Aku tidak tahu.. Aku hanya ingin berjalan-jalan berharap bisa mengingat sesuatu..”
      “Ohhh.. Bolehkah aku membantumu?”
      “Kau mau? Tentu boleh! Aku akan sangat senang!”
Tunggu! Aku akan sangat senang? Tidak. Aku tidak berjalan-jalan bersama dengan Fa Lian hari ini kan karena aku ingin sendiri dan berpikir jernih. Tapi, kenapa aku malah menerima tawarannya?
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Coba kita lihat-lihat di toko buku..” Ajak Valen.
      “Hm? Toko buku? Memangnya disana ada apa?”
      “Siapa tahu dulu kau adalah seorang pelukis atau apa kan?”
Tao hanya membulatkan mulut dan mengikuti Valen. Sesampainya di toko buku yang besar, Tao memperhatikan semua peralatan menggambar tersedia lengkap disana.
      “Sepertinya aku pernah memakai alat ini..” Ujar Tao sambil memperhatikan sebuah alat lukis.
Valen menyerahkan selembar kertas yang agak besar ke Tao.
      “Coba dipakai lagi kalau begitu..” Ujarnya.
Tao menurut dan hasilnya, mengejutkan dirinya sendiri. Darimana ia bisa menggunakan alat itu? Apa dulu ia memang seorang pelukis?
      “Tao.. Coba pakai yang ini..” Kata Valen mengambilkan alat yang lain.
Alhasil, Tao bisa menggunakan alat-alat itu dengan mudah. Ia sendiri juga kaget dengan kemampuannya. Ia merasa sudah mengenal dan dekat dengan alat-alat tersebut. Ia melirik kearah Valen. Bagaimana ia bisa menebaknya dengan tepat?
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Aku ingat!! Aku adalah seorang arsitek!! Benar!! Aku seorang arsitek!!” Ujar Tao gembira ketika ia sedang duduk-duduk santai di atap rumah sakit.
Ia segera menemui Fa Lian dan memberitahunya. Fa Lian merasa senang disana. Ia juga merasa khawatir disaat yang sama. Bagaimana kalau nanti Tao benar-benar akan ingat tentang jati dirinya yang asli?
      “Tapi, darimana kau bisa ingat Tao?” Tanya Fa Lian.
      “Dari nona Va..”
      “Nona Va? Siapa dia??”
      “Wanita yang malam itu duduk bersamaku di taman rumah sakit.. Waktu itu kau sedang membeli kopi untuk kita..” Jelas Tao.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Dokter Valen..! Anda tidak apa?!!” Tanya asistennya.
      “Tidak tidak.. Aku baik-baik saja.. Kembalilah bekerja..” Jawab Valen.
Valen menuju ke kamar mandi dan membersihkan hidungnya dari darah segar yang keluar dari hidungnya itu. Ia juga muntah-muntah, perutnya terasa mual tiba-tiba.
      “Ini, dok.. Minumlah obat ini..” Ujar asistennya.
      “Ah, iya.. Terimakasih..”
Valen minum obat sebentar lalu beristirahat.
      “Kenapa tiba-tiba aku mimisan begini? Hah.. Merepotkan saja..” Keluhnya.
Valen pergi keluar untuk membeli sesuatu. Baru beberapa langkah, pandangannya menjadi kabur. Kapalanya agak pusing. Beberapa detik kemudian, kembali normal. Sampai akhirnya ia berdiam menunggu bis datang di halte. Ketika bis sudah datang, Valen tak bergerak dan masih diam dengan kepala tertunduk.
      “Nona Va!!” Panggil Tao yang sangat semangat kebetulan melihatnya.
Tao mendekat dan menepuk pundaknya layaknya bertemu seorang sahabat. Tapi, tubuh Valen menjadi goyang dan lemas. Hampir ia terjatuh, beruntung ada Tao yang langsung menangkapnya.
      “Eh!! Nona Va!! Anda kenapa?!!” Tanya Tao panik.
Tao dibuat semakin panik ketika melihat hidung Valen mimisan dan ia dalam keadaan pingsan. Tanpa minta bantuan orang disana, Tao menggendong tubuh Valen dan membawanya masuk ke bis.
      “Pak, berhenti di depan rumah sakit ya!” Pesan Tao.
      “Baik, tuan..” Jawab supir bis yang kebetulan jalurnya lewat rumah sakit.
      “Nona Va..! Nona Va! Bangunlah..!!” Ujar Tao sambil menggoncang-goncangkan tubuh Valen dan menepuk-nepuk pipinya.
Tao terlihat panik disana. Ia menggunakan tangannya sendiri untuk membersihkan darah yang mengalir dari hidung Valen itu. Wajah Valen terlihat pucat. Lebih pucat dari hari-hari sebelumnya.
      “Nona Va..! Sadarlah.....”
Valen membuka matanya sedikit dan perlahan. Ia melihat Tao ada disampingnya sedang menopang tubuh lemahnya. Ia tersenyum kecil walau mungkin senyum itu tak terlihat.
      “Tao...” Panggil Valen pelan dan terdengar seperti bisikan.
Tao menoleh kearah Valen.
      “Eh! Nona Va! Kau sudah sadar?! Kenapa kau tiba-tiba pingsan?! Kau kenapa??! Kau sakit?!” Tanya Tao saking paniknya.
Valen hanya tersenyum geli dengan sisa tenaga yang ia punya.
      “Terimakasih.. Kau baik sekali mau menolongku..” Ujar Valen tak menjawab apa-apa.
      “Eh.. Sama.. Sama-sama.. Kau tenang saja.. Aku akan membawamu ke rumah sakit!”
Valen tersenyum sebelum kembali menutup mata.
      “Eh! Nona Va! Kenapa tidur lagi?!”
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Tao!! Kau darimana saja sih?! Aku khawatir tahu tidak?!” Bentak Fa Lian melihat Tao datang.
      “Eh?! Maaf maaf!”
      “Di.. Dia siapa??” Tanya Fa Lian.
      “Dia nona Va yang aku ceritakan waktu itu! Aku harus segera membawanya ke dokter!”
Tao berlalu darisana. Tentu saja Fa Lian mengejar dan mengikutinya. Valen dibawa ke ruang gawat darurat untuk menjalani pemeriksaan.
      “Keadaanmu itu belum pulih sepenuhnya.. Kau belum sembuh total! Jangan main-main seenaknya..!” Ujar Fa Lian.
      “Maaf.. Aku hanya tidak ingin berlama-lama melupakan kehidupanku.. Aku ingin ingat lagi! Aku ingin sembuh!” Jawab Tao.
      “Kau kan sudah ingat Tao.. Kau kan sudah ingat tentangku..”
      “Tapi aku belum ingat semuanya.. Masih belum jelas gambar bayangan itu.. Aku juga belum ingat siapa aku ini dan siapa keluarga serta teman-temanku..”
Dokter keluar memecahkan pembicaraan mereka.
      “Eh, dok! Bagaimana keadaan nona Va?” Tanya Tao.
      “Anda keluarganya??”
      “Bu.. Bukan..”
      “Maaf.. Tapi, saya harus bicara dengan keluarganya.. Apakah ada??”
      “Eee.. Tadi aku bertemu dengannya di jalan.. Aku temannya.. Aku tidak tahu siapa keluarganya..” Jelas Tao.
Dokter itu menghela nafas.
      “Kalau begitu, tunggu saja dia sampai sadar.. Setelah itu, aku akan bicara dengan keluarganya saja..” Ujar dokter itu lalu pergi.
Tao melihat Valen yang didorong keluar dari ruang gawat darurat. Ia terbaring lemas tak berdaya diatas kasur itu. Wajahnya masih pucat.
      “Tao.. Kau harus kembali ke ruanganmu..” Ujar Fa Lian.
      “Tapi.. Aku ingin.... Menemuinya sebentar.. Aku ingin menemaninya.. Paling tidak, sampai keluarganya datang..”
      “Hah.. Kalau begitu kau harus menepati janjimu itu.. Kembalilah dan istirahat.. Aku akan bekerja dulu.. Akan kuusahakan cepat selesai..”
Tao mengangguk mengerti. Ia langsung mengikuti kemana Valen dibawa. Dia duduk disamping tubuh Valen. Tao mengamati wajah Valen.
      “Nona Va.. Entah kenapa.. Setiap kali melihatmu, aku sangaaatttt senang..! Setiap kali melihatmu, aku merasa lega dan merasa nyaman.. Kenapa ya?” Tanya Tao sendiri sambil mengelus-elus punggung tangan Valen lembut.
      “Waktu pertama kali melihatmu di taman.. Rasanya aku langsung ingin sekali mengetahui apa yang terjadi padamu sehingga membuatmu menangis.. Tapi, kalau begitu bukankah terkesan aneh? Hehehe.. Ketika itu, aku juga merasakan sakit dan ingin menangis juga.. Tapi, aneh juga kan rasanya kalau aku melakukan itu? Hehe..”
Hening. Tao tak bergeming lagi ketika ia melihat sebuah cincin emas yang cantik melingkar di jari manis tangan kanan Valen. Selama beberapa detik, Tao seperti hilang tak ada didalam tubuhnya. Namun, sebuah ingatan melesat dan masuk kedalam otaknya. Hal itu membuat kepala Tao kembali merasakan sakit yang luar biasa.
      “Aaaaarrrrggghhhhhh!! Agh! Sa... Kit....!!!” Rintihnya mencoba untuk tidak berteriak.
Tao melihat gambaran-gambaran yang tampil berputar seperti sebuah potongan video sedang bermain di otaknya. Gambar itu terus muncul semakin Tao ingin menghilangkannya. Ia sendiri tak tahan dengan sakit kepala itu dan akhirnya ia pingsan.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Aku mendengar suara gemuruh dan suara petir yang menyambar. Aku juga mendengar suara air yang menetes dalam jumlah yang banyak membasahi segalanya yang tak terlindung. Hujankah?
Perlahan, kubiarkan mataku terbiasa dengan sinar-sinar minim yang ada. Ya, sepertinya ini sudah malam dan lampu sudah dimatikan. Tapi, aku masih bisa melihat apa yang ada disekitarku. Agh!! Ssshhhh...! Kepalaku masih terasa pening. Hah.. Sakit sekali!
Oh iya! Nona Va! Aku langsung membuka mataku lebar ketika mengingat nona Va. Ingin rasanya aku langsung turun dari kasur dan berlari sekencang yang kubisa untuk menemuinya. Tapi, aku harus bersabar sebentar sampai tubuhku benar-benar kuat untuk berjalan.
Dengan jalan agak sempoyongan, aku berusaha mencapai ruang inap nona Va. Untung ruang inapnya tidak begitu jauh dari ruanganku. Akan tetapi..... Tidak ada!! Ruangannya kosong! Kemana dia?
      “Maaf, suster.. Kemana pasien yang ada di ruangan ini??” Tanyaku pada suster yang lewat.
     “Hm? Tadi dia sedang jalan-jalan.. Tak apa, jangan khawatir.. Kondisinya sudah membaik..”
      “Eemmm.. Kalau boleh tahu, dia sakit apa ya??”
Suster itu terlihat mengernyitkan dahinya. Ia menatapku curiga.
      “Aku memang bukan keluarganya.. Apa tidak boleh tahu?”
      “Maaf.. Tapi, kami tidak bisa membagi rahasia pasien ke orang yang tidak termasuk keluarga si pasien..”
      “Begitu ya.. Hah.. Baiklah.. Apakah anda tahu pasien ini pergi jalan-jalan kemana?”
      “Tadi dia bersantai di taman.. Tapi aku rasa dia sudah masuk.. Di luarkan hujan.. Mungkin sekarang sedang jalan-jalan di lobby atau dimana di dalam rumah sakit ini..”
Aku berterimakasih dan mulai mencari nona Va. Aku mencari kemana saja. Ruang khusus anak-anak, khusus penyakit ringan sampai berat dan lain-lain.
      “Kemana ya?? Hhmmm.. Ah! Mungkin dia di atap!”
Tanpa berpikir panjang, aku melesat ke atap dan hasilnya ada! Aku menemukan nona Va disana. Namun, gila! Apa dia sudah gila?! Apa yang dia lakukan hujan-hujanan begitu?!
      “Nona Va!!!” Panggilku.
Tapi nona Va tidak menoleh. Hujan semakin deras dan nona Va masih tak bergerak dari posisinya. Sebenarnya, apa yang dia lakukan?! Astaga!!!
      “Nona Va!!!! Apa yang kau lakukan disana?!!!” Teriakku lagi.
Masih tak ada jawaban dan kuputuskan untuk menerjang hujan itu dan menghampirinya.
      “Nona Va! Apa yang kau lakukan hujan-hujanan disini?!!” Tanyaku agak keras.
Aku melihat wajahnya masih pucat. Ia menatapku aneh. Tatapan apa itu? Tak bisa kujelaskan.
      “Nona Va! Ayo masuk!!” Ajakku dan menarik tangannya.
Nona Va tidak mengikutiku dan tidak bergerak dari tempat duduknya. Aku semakin heran dan agak emosi sebenarnya.
      “Ayo masuk!! Kau kan sedang sakit! Belum pulih benar!! Kenapa cari penyakit sih?!!” Bentakku akhirnya memarahinya.
Ia berdiri dan menghadap kearahku. Ia tersenyum. Kenapa dengannya???
      “Sama.. Persis..” Ujarnya.
Hah? Maksudnya apa??
      “Apa yang kau bicarakan?” Tanyaku.
      “Sama.. Caramu mengkhawatirkanku.. Sama persis dengan Tao.. Caramu memperhatikan orang lain, sama persis dengan Tao.. Caramu menunjukan rasa kepedulianmu, sama persis dengan Tao..” Jelasnya.
      “Tapi.. Aku kan memang Tao..”
      “Tao yang kumaksud adalah suamiku.. Suamiku yang sedang amnesia..”
Deg! Rasanya pernyataan itu adalah sebuah pukulan di gendang telingaku. Aku tidak salah dengarkan? Dia mengatakan.. Suaminya? Jadi.. Apakah aku ini suaminya? Tapi tidak mungkin..!! Istriku kan Fa Lian.
      “Pasti hujan ini membuatmu semakin sakit! Ayo masuk!!” Ajakku.
Dia menolak dengan menggelengkan kepalanya pelan. Aku menatapnya lagi. Ia menggerakan tangannya kearah perutnya.
      “Disini.. Disini ada kehidupan.. Disini ada seorang bayi..”
Aku memperhatikannya di tengah hujan ini.
      “Disini ada Xiao Tao.. Tao kecil sayang.. Xiao Tao yang butuh kehangatan dan kasih sayang.. Disini ada anak kita..”
Aku membelalakan mataku tak percaya. Apa? Dia.. Tadi bilang... Anak.. Kita? Aku menatap kearah perutnya lalu kembali menatapnya yang sedang tersenyum samar-samar. Aku menggeleng pelan.
     “Tidak.. Tidak mungkin.. Istriku adalah Fa Lian!” Ujarku lalu melepas genggaman tanganku.
      “Tidak, Tao.. Bukan.. Istrimu bukan dia.. Istrimu adalah Valen..”
      “Valen?”
      “Nona Va.. Len..”
Aku semakin melebarkan mata. Apa? Jadi.. Nona Va benar-benar istriku? Aku tak percaya. Tak mungkin ingatanku ini salah!
      “Kau pasti bohong.. Kau pasti semakin sakit karena hujan ini!!”
      “Tidak, Tao.. Aku tidak bohong.. Percayalah padaku..” Rengeknya walaupun tak terdengar manja.
Aku menggeleng lalu menepis tangannya yang memegangi pergelanganku. Aku berlari masuk meninggalkannya. Entah apa yang terjadi padanya setelah aku pergi.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Dia pergi. Masuk. Kedalam. Tuhan.. Haruskah kau membuatnya ingat kalau istrinya adalah Fa Lian? Tapi kenapa? Apa karena kami tak berjodoh? Aku mendongakan kepalaku ke langit. Menerima semua tetesan air hujan itu di wajahku. Hah.. Rasanya semakin sulit. Semakin berat. Dan juga.. Badanku semakin lemas. Gelaplah sudah pandanganku.

能給的不是我 - neng gei de bu shi wo
(What you want) is not something I am able to give
放任你沉溺自由 - fang ren ni chen ni ji you
Hence, I’ll let you have your freedom
掩飾不了我的笨拙 - yan shi bu liao wo de ben zhuo
Trying to hide my stupidity
就連說話都會顫抖 - jiu lian shuo hua dou hui chan duo
I tremble even as I speak
我被遺忘在 你遺忘的角落 - wo bei yi yang zai ni yi wang de jiao luo
because I’m being forgotten in a corner of your forgotten memories

Tao.. Apakah kau benar-benar melupakanku?
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Tao berpikir setelah mengeringkan badannya. Ia tak tahu apa yang harus ia pikirkan. Ia bingung dengan apa yang ia hadapi sekarang.
      “Tao..” Panggil seorang wanita lembut.
Barusaja wanita itu masuk dan menampakan diri pada Tao, Tao langsung mengenali orang itu.
      “Mama..??”
Ibunya Tao langsung datang memeluk anaknya yang sudah lama menghilang.
      “Ma..!”
      “Tao.. Oh, anakku.. Kau baik-baik saja kan??”
Tao mengangguk lalu memeluk ibunya lagi. Tak hanya ibunya, ayahnya dan juga mertuanya juga datang.
      “Tao.. Mana Valen?” Tanya ibunya Valen.
Tao terlihat tersentak. Ia jadi heran sendiri. Benar-benar memusingkan kepala!!
      “Tao.. Kau baik-baik saja kan?? Tao? Tao!!”
Tao terjatuh di kasurnya. Ia pingsan setelah mendapat hentakan daritadi.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Tao.. Apakah kau benar-benar tidak ingat aku??”
      “Eng? Fa Lian??”
      “Bukan, Tao.. Bukan.. Bukan Fa Lian..”
      “Lalu.. Kau siapa??”
      “Benarkah kau tidak ingat aku? Kau tidak mengingatku atau kau tak mau mengingatku??”
      “Hah? Pertanyaan macam apa itu??”
      “Apakah sekarang aku sudah terhapus dari memorimu? Apakah sekarang ingatan tentangku sudah kau tepis jauh-jauh dari otakmu? Haruskah aku menangis di tengah-tengah kenangan yang kau lupakan??”
      “Kau bicara apa? Apa yang kau maksud? Kau siapa??”
      “Tao.. Aku yakin kau pasti ingat padaku.. Aku percaya padamu.. Aku percaya pada suamiku.. Dan Xiao Tao, percaya pada babanya..”
      “Va.. Len... Apakah itu kau??”
Seberkas cahaya memantul di mata jernih Tao. Kedua mata indah itu terlihat mulai terbuka pelan-pelan. Seakan berpikir, apa itu tadi. Tao, ia sudah sadar. Lalu, apakah ia sudah ingat?
      “Tao.. Kau sudah sadar..?” Tanya Fa Lian memastikan.
Tao melihat kesampingnya dan mendapati ternyata Fa Lian sedang menangis. Tao mengangguk, ia juga melihat senyum mengembang dari wajah Fa Lian. Ia memeluk Tao dengan hati lega.
      “Syukurlah kau baik-baik saja..” Ujarnya.
      “Fa Lian.. Mana nona Va?” Tanya Tao.
Fa Lian terdiam.
      “Fa Lian.. Jawab aku.. Mana dia? Mana Valen??”
Fa Lian menundukan kepalanya. Ketakutan dan kecemasannya benar-benar terjadi. Fa Lian menjawab dan memberitahu dimana Valen berada. Tao melebarkan mata dan langsung turun dari kasur dan berlari.
      “Tao!! Kau belum pulih!!”
Tapi, tak dipedulikan. Tao tetap berlari menuju ke Valen. Ia membuka ruang inap Valen dan menemukan istrinya terbaring lemah dan sangat tenang.
      “Valen...” Panggil Tao pelan.
Tao menutup pintu ruangan itu dan berjalan kearah Valen. Tanpa seizinnya, air matanya turun begitu saja melewati pipinya. Ia menggenggam tangan Valen yang sekarang diberi infus.
      “Maaf.. Maafkan aku..” Lirihnya.
Mata Valen terpejam begitu tenang. Dadanya naik turun sesuai irama nafas yang ia keluarkan. Tubuhnya benar-benar tak berenergi. Tao menangis disana. Ia mencoba untuk menangis sepelan mungkin.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
      “Kau mau kemana, Tao?” Tanya ibunya lewat ponsel.
      “Aku akan menemani Valen..” Jawab Tao.
Tao tersenyum dan menuju ke rumah sakit dimana Valen dirawat. Ya benar, ingatannya telah kembali. Ia telah sembuh dan pulih. Bagaimana dengan Fa Lian? Tenang saja. Sekarang, mereka berteman. Sebelum Tao masuk ke rumah sakit, ia membeli sebuah buket bunga cantik bewarna putih. Ia tersenyum dan mencium aroma bunga itu. Segera ia langkahkan kaki ke ruang inap istrinya itu.
Cklek!
Kosong. Kasur itu kosong tak ada yang memakai. Selimutnya agak berantakan. Itu artinya, Valen masih disini.
      “Valen..??” Panggilnya.
Tao membuka pintu kamar mandi, tapi Valen tak ada disana. Ia pun bertanya pada seorang suster. Dan tentu saja, suster itu menjawab pertanyaannya. Langsung saja, Tao bergegas menemui istrinya.
=Ni Yao De Bu Shi Wo=
Hah.. Sejuk sekali.. Aku memandangi segala yang ada dihadapanku. Terasa begitu tinggi darisini. Anginnya juga bertiup agak kencang, sehingga rambutku tertepa kebelakang. Tao, hehe.. Apakah kau sudah mengingatku? Andai saja, sekarang kau ada disini menemaniku. Disampingku.
      “Valen..”
Suara itu.. Suara yang sangat kukenal. Suara yang kurindukan. Suara yang ingin sekali kudengar. Aku menoleh dengan mata memanas. Tao, kaukah itu?
      “Kau sudah sadar rupanya..” Ujarnya lagi lalu mendekat kearahku.
Jantungku berdetak lebih cepat. Tiba-tiba aku jadi bisu dan terdiam seribu bahasa. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Perasaan senang ini.. Telah melebihi batas! Tao mendekat kearahku. Semakin dekat dan dekat hingga akhirnya ia memelukku.
      “Valen... Maafkan aku.. Maaf ya..”
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Astaga, Tuhan... Aku benar-benar rindu dengan pelukannya! Ia melepas pelukannya dan memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya yang besar. Matanya menatap mataku lurus dan lekat. Ia tersenyum manis kearahku. Aku membalas senyuman itu. Perlahan, ia menghapus jarak yang memisahkan kami. Benar, ia menciumku. Rindu sekali rasanya dengan ciuman ini. Hehehe..
      “Bagaimana dengan keadaan Xiao Tao?” Tanyanya setelah kami melepas tautan bibir itu.
Aku tersenyum semanis yang kubisa.
      “Dia rindu pada babanya..”
Kami kembali berciuman diatap gedung rumah sakit. Dengan terpaan angin yang menyejukan kami berdua dan sinar matahari yang menghangatkan hari-hari ini.

Romaji

zhen me neng wang
shi jian duo chang
ni kuai le ma
xiang dai ti ni hui da

ni chi dao ma
zuo le hao yuan wo cai neng qu mian dui
zhe fen qian gua
chen mo shang bei

ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong

neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo

wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo

zhen me neng wang
shi jian duo chang
ni kuai le ma
xiang dai ti ni hui da

ni chi dao ma
zuo le hao yuan wo cai neng qu mian dui
zhe fen qian gua
chen mo shang bei

ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong

neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo

wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo

ni yao de bu shi wo
xin sui de shi qu lun kuo
cheng jing gei ni de gan dong
zi shi qing shi de buo dong

neng gei de bu shi wo
fang ren ni chen ni ji you
yan shi bu liao wo de ben zhuo
jiu lian shuo hua dou hui chan duo

wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo

wo bei yi yang zai
ni yi wang de jiao luo


Kanji

怎麼能忘 時間多長
你快樂嗎 想代替你回答
你知道嗎 走了好遠
我才能去面對
這份牽掛 沉默傷悲
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落

怎麼能忘 時間多長
你快樂嗎 想代替你回答
你知道嗎 走了好遠
我才能去面對
這份牽掛 沉默傷悲
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
你要的不是我
心碎的失去輪廓
曾經給你的感動
只是情緒的波動
能給的不是我
放任你沉溺自由
掩飾不了我的笨拙
就連說話都會顫抖
我被遺忘在 你遺忘的角落
我被遺忘在 你遺忘的角落

Translation

How can I forget...how long time is
‘Are you happy?’ I feel like answering that for you (because you're not answering me)
Do you know that? I've journeyed so far
Before I have the courage to face
this worry and hurt by myself
I’m not the one you desire
The outline of my heartbreak is missing
The care and concern I used to give you
Is just a sudden urge of my mood
(What you want) is not something I am able to give
Hence, I’ll let you have your freedom
Trying to hide my stupidity
I tremble even as I speak
because I’m being forgotten

-Fin-