Byur!
Tolong!!
Mati kau!!!
說了再見 (Shuo
Le Zai Jian)
Song : Shuo Le Zai Jian
By : Jay Chou (Zhou Jie Lun)
Story by : Sno_Wint (Stefanny J.)
天涼了 雨下了 妳走了 - tian liang le, yu xia le, ni zou le
The weather is cool, the
rain is falling, you are leaving
Dingin. Dingin sekali. Angin yang
berhembus membawa beberapa titik hujan itu, menembus diriku yang tampak kuat
ini. Hujan turun semakin lama semakin deras. Tapi, rasanya enggan untuk
meninggalkan tempat ini. Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku secepat ini? Kenapa
kau pergi?
清楚了 我愛的 遺失了 -
qing chu le, wo ai de, yi shi le
It is crystal clear that I have lost my dear one
It is crystal clear that I have lost my dear one
Aku masih tak percaya dengan apa yang
kulihat tadi. Aku tak percaya dan tak yakin kalau pria yang berbaring di ruang
mayat itu adalah kau. Kau yang kusayang. Cintaku, sayangku dan suamiku. Apakah
aku harus menerima kalau aku sudah kehilangan orang yang paling kucintai?
落葉飄在湖面上睡著了 - luo ye piao zai
hu mian shang shui zhao le
The fallen leaves rest upon the surface of the lake
The fallen leaves rest upon the surface of the lake
Tempat ini terasa begitu sepi. Tanpamu,
disampingku. Angin ini terasa seperti pisau. Tanpa kehadiranmu. Hujan ini
terasa seperti air mata. Tanpamu, disini. Danau ini, tempat favorit kita.
Keindahan ini terasa fana dan sia-sia, kalau tidak ada kau bersamaku. Rasanya
sepi. Sangat sangat sangat sepi. Apakah hanya aku saja yang merasa tempat ini
begitu sepi? Daun yang jatuh tertimpa air hujan itu, mendarat di permukaan air
danau membuat gelombang air kecil disana.
想要放 放不掉 淚在飄 -
xiang yao fang fang bu diao lei zai piao
I want to let go, but it
is hard to do so, the tears are falling
Aku tidak bisa melepas kepergianmu. Aku
tak bisa! Sekalipun aku berusaha dan mau melepas kepergianmu, tapi itu.. Sangat
berat. Sangat berat, untuk dilakukan. Air mataku kembali membuat anak sungai di
pipi yang terasa semakin tirus ini. Tuhan, jawablah aku. Kenapa Kau
mengambilnya? Aku masih membutuhkannya disini. Kenapa Kau begitu kejam? Kau
mengambil seorang yang kucintai, dengan cara yang tidak wajar! Kenapa Kau
begitu kejam terhadapku, Tuhan?!
=說了再見=
“Mo.. Kau harus tegar.. Kau harus
kuat.. Kalau Chen melihatmu seperti ini, kasihan dia..”
Terdengar
suara-suara yang sepertinya kukenal terus menenangkan diriku. Ya, wajar jika
mereka khawatir dan prihatin terhadap keadaanku. Aku sudah pingsan beberapa
kali. Aku tak ingat berapa jumlahnya. Pikiranku kosong. Aku tidak bisa berpikir
apa-apa saat ini.
“Chen..” Lirihku.
Air mata mulai
kembali berhasil lolos membasahi pipi ini. Aku benar-benar kacau!
“Chen.. Kenapa kau meninggalkan
aku....?” Tanyaku dengan suara yang sangat pelan dan agak serak.
Banyak
orang-orang yang terus memeluk dan menggenggam tanganku. Aku kembali menangis
sejadi-jadinya.
Flashback ON
“Hari ini sepertinya, aku akan
pulang malam.. Apakah tidak apa-apa??” Tanya Chen sambil membenarkan dasinya.
“Tak apa.. Hati-hati saja, jangan
sampai menyetir sambil mengantuk!” Jawab istrinya lalu membantu Chen
membenarkan dasi.
“Oh ya.. Kemarin aku belum sempat
memberimu hadiah karena telah berhasil meraih juara 1 lomba renang..” Ujar
Chen.
“Ah, tidak usah..”
Tiba-tiba, Chen
mengecup bibir istrinya itu.
“Hadiah untukmu sekalian morning kiss, goodbye kiss and lucky kiss..”
Jelas Chen tersenyum.
Istrinya
memajukan bibir.
“Kenapa? Tidak suka?”
“Tidak.. Kenapa jadi 1 paket
begitu?? Tidak mau! Maunya satu-satu...” Pinta istrinya.
Chen tertawa
kecil karena geli. Iapun mengabulkan permintaan istrinya.
“Dan yang terakhir, goodbye kiss..”
Chen mencium
istrinya. Kali ini, lebih lama dan lebih dalam.
“Rasanya kopi..” Ujar si istri
setelah ciuman terakhir itu.
“Hehe.. Tentu saja.. Aku kan habis
minum kopi.. Aku berangkat dulu ya.. Dah..”
Chen melambaikan
tangannya lalu dibalas dengan istrinya.
Flashback OFF
Setidaknya,
itulah kenangan terakhirku bersama dengan Chen. Suamiku. Setelah itu, ia
benar-benar pulang sangat terlambat, tapi sebenarnya ia tak pernah pulang.
=說了再見=
Chen berangkat
menuju ke kantornya. Ia bekerja sebagai direktur utama dalam sebuah perusahaan
air. Biasanya, pihak pemilik kolam
renanglah yang bekerja sama dengannya. Dan darisitulah, ia bertemu dengan
istrinya yang seorang perenang.
“Pak Chen, selamat pagi..” Sapa
seorang karyawan.
“Selamat pagi..” Balas Chen ramah.
Chen
melangkahkan kakinya lagi menuju ke ruangannya.
“Pak Chen.. Sesuai rencana kemarin,
hari ini kita akan pergi ke lokasi..”
“Iya, baik.. Tidak masalah..”
Sore tiba, dan
saatnya menuju ke lokasi yang dimaksud. Sesampainya disana, Chen dan beberapa
orang lainnya bekerja mengamati lokasi dan menyelidiki sekitar tempat itu.
Hingga larut malam, akhirnya selesai. Chen sedang pergi ke toilet sebelum ia
pulang.
“Iya, Mo.. Sebentar lagi aku pulang..
Kau tidurlah dulu..” Ujar Chen lewat ponsel.
‘Pip!’ Ponsel
dimatikan dan Chen hendak keluar dari toilet, namun...
“Pak Chen..” Panggil seorang pria
menghalangi Chen keluar.
“Eh, pak Jin.. Ada apa??”
Pak Jin yang
merupakan tangan kanan Chen itu, mendekat dan semakin mendekat kearah Chen
dengan wajah sadis. Chen agak bingung dan takut. Ia perlahan berjalan mundur
sedikit demi sedikit.
“Pak Jin.. Kau.. Baik-baik saja??”
Tanya Chen hati-hati.
“Kau! Chen! Hah..! Pria paling
beruntung di dunia ini..”
“Apa.. Maksudmu?? Aku tidak mengerti
apa yang kau bicarakan..”
“Kau memiliki istri yang cantik..
Kau terpilih menjadi direktur utama.. Kau juga disukai banyak orang..”
‘Grep!’ 2 orang
yang berbadan besar menghentikan langkah mundur Chen.
“Kau mengambil semua yang seharusnya
menjadi milikku!!” Bentak pak Jin.
“Kau merebut Morella dari tanganku!!
Kau mengambil jabatan direktur utama itu dari pandanganku!! Kau mengambil semua
yang kupunya!!”
“Pak Jin.. Aku tidak...”
“DIAM!!”
Chen tersentak.
Pak Jin menundukan kepalanya dan menangis. Chen agak ragu untuk mendekat. Tapi,
pak Jin adalah sahabatnya. Ia harus membantunya. Chen pun mendekat dan agak
menenangkan pak Jin perlahan.
“Pak Chen..”
Chen tersenyum.
Pak Jin memeluk Chen tiba-tiba.
“Maafkan aku.. Seharusnya aku tidak
berkata seperti itu.. Tidak seharusnya aku berkata begitu padamu..” Ujar pak
Jin.
“Tak apa.. Tak apa, pak Jin..”
Dan... ‘Jleb!’
Sebuah pisau menembus perut Chen.
“Heh.. Kau pikir aku akan termakan
dengan kelembutanmu?! Jangan harap!! Kau! Tidak ada apa-apanya!! Kau tidak
berguna!! Sebaiknya kau mati saja!! Morella tidak butuh suami sepertimu!!
Perusahaan ini tidak membutuhkan sosok direktur sepertimu!!!!”
‘Jleb!’ ‘Jleb!’
‘Jleb!’ Pisau itu bertubi-tubi menusuk tubuh Chen.
Chen tidak bisa berkata
apa-apa. Ia tak tahu, suaranya tak bisa keluar dan rasa sakit ini begitu..
Menyiksanya.
“Bawa dia!!”
“Baik, pak!”
2 orang berbadan
kekar itu menyeret Chen. Mereka mengikuti sang bos. Dan ternyata, mereka menuju
ke kolam renang.
“Masukan dia kesana!”
“Siap, pak!”
Chen menggapai
tangan pak Jin. Ia menggenggam kemejanya begitu erat.
“Lepaskan aku!! Jangan kotori bajuku
dengan darah kotormu itu!!”
Pak Jin melepas
genggaman Chen. Dan, Chen terjebur ke kolam renang.
‘Byur!’
“Mati kau!!! Hahahahaha!! Mati kau!!
Mati!!!” Teriak pak Jin sangat puas.
“Dengan begini, akulah yang akan
menjadi direktur perusahaan ini! Dan akulah yang akan menjadi pasangan Morella
yang pantas!!! Hahahahahaha!!!” Lanjut pak Jin begitu bangga.
Air kolam renang
sedikit tercampur dengan darah Chen yang tiada hentinya mengalir keluar dari
tubuhnya itu. Matanya masih terbuka dan melihat 3 orang yang berdiri disamping
kolam. Ia tak bisa menggerakan tubuhnya.
“To... Long.....” Ujarnya tak jelas
karena berada didalam air.
Tak butuh waktu lama
untuk membuat paru-parunya berhenti bekerja.
“Hahahahahaha!! Rasakan itu!! Kau
pantas mati!! Kau tidak pantas untuk hidup di dunia ini!!!”
Di rumah, sang
istri yang bernama Morella itu terbangun dari tidurnya, bersamaan dengan petir
yang menggelegar terdengar horor disertai hujan deras dan angin kencang.
“Chen!!” Panggilnya.
Ia melihat ke
samping kanannya. Tempat dimana Chen tidur. Tapi, tak ada. Tak ada siapa-siapa
disebelahnya.
“Semoga perasaanku salah... Hah..”
Morella beranjak
dari kasurnya dan berjalan menuju ke dapur. Ia mengambil gelas dan menuang air
untuk ia minum. Morella menenggak begitu banyak air putih untuk menghilangkan
perasaan buruknya. Ketika selesai minum dan ia membalikan badan hendak
meletakan gelas,
‘Grep!’
Seseorang memeluknya.
Morella sangat
terkejut disitu. Gelas yang ia bawa terjatuh dan pecah. Tapi, ia tahu siapa
yang memeluknya.
“Chen... Pulangnya larut sekali..
Ini sudah pukul setengah 3 pagi...” Ujar Morella membalas pelukan Chen.
Chen tak
menjawab dan masih memeluk Morella.
“Chen.. Kau kehujanan ya? Kau basah
kuyup.. Cepat ganti baju, nanti kau masuk angin..”
Morella melepas
pelukan tapi, Chen malah mempereratnya.
“Eh?! Chen..”
“Mo.. Biarkan aku memelukmu...
Sebentar..”
Morella terdiam
dan kembali memeluk Chen. Keesokan harinya, Morella terbangun dan ia sudah ada
diatas kasurnya. Matanya perlahan memperhatikan apa yang ada disekitarnya.
Tangan kanannya meraih kasur bagian kanan mencari seseorang. Namun, nihil.
Orang itu tak ada di kasur bersamanya.
“Chen..!” Panggil Morella sambil
memakai mantel rumahnya dan berjalan keluar.
Tak ada jawaban.
“Chen...!!” Ulangnya lebih keras.
Masih hening tak
ada jawaban. Morella mengernyitkan dahinya. Ia mencari di garasi.
“Lho?
Mobilnya tidak ada.. Apa dia sudah berangkat kerja? Pagi sekali berangkat
kerjanya.. Apa dia tidak sarapan??”
Morella kembali
masuk dan menuju dapur. Ketika melangkah kesana, ia menginjak sesuatu.
“Eh? Apa ini.. Air?? Apa atapnya
bocor?”
Morella
mengambil kain pel untuk mengelap air yang membasahi sebagian lantai rumahnya
itu.
“Eemm.. Aku bawakan makan siang ah,
untuk Chen! Hehehe.. Pasti dia lupa makan kalau sudah asyik kerja.. Ckckck..”
Morella mulai
memasak masakan kesukaan Chen. Ia mengemasnya dengan rapi kedalam sebuah kotak
makanan yang simple. Tak lupa juga
Morella sedikit memoles wajahnya dengan beberapa make-up natural. Ia memakai baju yang rapi dan sopan. Setelah
selesai, Morella menuju ke garasi dan naik ke mobil miliknya. Iapun melesat ke
kantor Chen. Sesampainya disana.
“Selamat pagi, nyonya..” Sapa
seorang karyawan.
“Pagi..” Jawab Morella sangat ramah.
“Nona Morella..” Panggil pak Jin.
Morella menoleh.
“Pak Jin.. Kenapa memanggilku dengan
nona? Aku ini sudah menjadi nyonya Chen..” Jawab Morella tersenyum.
“Benarkah? Ahahaha.. Iya, aku lupa..
Kau terlihat sangat muda.. Oh ya.. Kau mencari siapa??” Tanya pak Jin.
“Hm? Tentu saja suamiku.. Dia ada di
ruangannya??”
“Pak Chen?? Tapi, sampai sekarang
pak Chen belum datang..” Jawab pak Jin.
“Apa? Belum datang? Tapi ia
berangkat sangat pagi tadi..”
Pak Jin
mengangkat bahunya. Morella dan pak Jin menuju ke ruangan Chen. Dan disana,
memang tak ada siapa-siapa. Morella masuk kedalam dan melihat mejanya. Matanya
tertuju pada sebuah kalender yang belum tersilang tanggal kemarin.
“Biasanya kan Chen akan menyilang
tanggal yang sudah berlalu..” Ujar Morella pelan.
Ia tahu benar,
kebiasaan suaminya itu. Dan darisana, ia bisa tahu kalau Chen memang belum
datang ke kantor. Morella mencoba menghubungi suaminya itu lewat ponsel.
Alhasil, tak ada yang menerima. Malah, ponselnya tidak aktif. Morella agak
khawatir bercampur kesal.
“Kemana sih kau?? Membuat orang
cemas saja..” Gerutu Morella.
Selang beberapa
detik, ponsel Morella bunyi. Cepat-cepat ia menerimanya.
“Wei?”
Morella
melebarkan matanya dan mengerem mobilnya secara mendadak. Ia mendengarkan
penjelasan dari suara yang keluar dari telfon itu. Rasanya, tulang-tulang
Morella menghilang entah kemana. Tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Matanya
memerah dengan cepat dan mengeluarkan buliran-buliran bening. Pikirannya
menjadi kacau seketika. Perasaannya campur aduk. Ia menangis sesegukan di dalam
mobil.
=說了再見=
“Chen!!” Teriak Morella ketika ia
sampai didepan sebuah ruangan.
Sudah ada
beberapa orang yang ia kenal berdiri dan menangis tersedu-sedu disana.
Diantaranya adalah ibunya dan mertuanya. Morella perlahan berjalan mendekat. Ia
agak takut untuk menghampiri orang-orang itu.
“Mama..
Chen mana...?” Tanya Morella lirih dan mulai serak.
“Morella.. Kau harus tabah ya..”
Jawab si ibu masih menangis.
“Kenapa mama menangis semua? Ada apa dengan Chen? Dia baik-baik saja kan?”
Tanya Morella menghibur diri.
Ibu dan
mertuanya semakin tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Mereka menyuruh
Morella untuk masuk kalau dia mau. Morella menelan ludahnya sangat berat ketika
membaca ruangan yang akan ia masuki itu bertuliskan, ‘ruang mayat’.
“Chen..
Apa yang kau lakukan didalam?” Batin Morella sambil perlahan mencoba untuk
meraih pegangan pintu itu.
‘Krriieett!’
Suara pintu yang terbuka agak berat.
Morella masuk
kedalam ruangan itu dengan sangat takut. Ia melihat ayah dan ayah mertuanya ada
disana. Mereka terlihat habis menangis karena mata mereka merah dan agak
bengkak.
“Morella..! Kau tidak perlu melihatnya, nak!” Larang si
ayah.
Tapi, Morella
tidak mempedulikannya. Ia tetap berjalan mendekat kearah orang yang tertutup
semua oleh selimut putih. Belum sampai saja, Morella sudah meneteskan ribuan
air mata.
“Morella..” Panggil ayah mertuanya.
Morella tetap
diam dan tetap bersikeras dengan niatnya. Ia perlahan sampai lalu tangannya
meraih selimut yang menutupi orang yang berbaring itu. Dibukanya perlahan
selimut itu, berdoa agar jangan Chen yang ada disana. Namun,
“C.. Ch..”
Belum sempat
Morella memanggil nama itu, ia pingsan.
“Morella!!”
=說了再見=
Hari ini, banyak
sekali orang-orang yang memakai baju hitam. Kenapa? Lalu, kenapa aku dan
keluargaku memakai baju putih? Apakah ada yang meninggal? Siapa? Mataku masih
terlalu berat untuk kubuka. Kesadaranku juga belum kembali sepenuhnya. Otak ini
seperti mengalami amnesia.
“Morella.. Minumlah..” Ujar ibuku
lembut sambil memberikan segelas air untukku.
Aku enggan untuk
meminumnya. Rasanya tenggorokanku sakit sekali. Tapi, aku sangat haus.
“Ma..
Chen.. Chen mana??” Tanyaku setelah meminum 1 teguk air itu.
Aku melihat raut
wajah ibuku langsung berubah. Wajahnya menjadi merah dan matanya membendung air
mata. Kenapa?
“Mo... Kau harus bisa merelakannya,
Mo.. Kau harus bisa mengikhlaskan kepergiannya.. Jangan hambat jalannya, Mo..
Kasihan dia..” Ucap ibuku sambil memelukku.
Aku kembali
meneteskan air mata. Aku tak tahu, sampai kapan mataku ini akan kering akan air
mata? Kenapa air mata ini terus mengalir dengan deras? Dan jiwaku, rasanya
hilang sebelah.
“Pak Chen.. Selamat jalan..” Ujar
para karyawan Chen yang sepertinya aku mengenal mereka.
Aku tahu. Aku
ingat sekarang. Chen, suamiku. Sedang berbaring tertidur di dalam peti ini. Aku
menatapnya kosong. Tatapan ini benar-benar tak ada isinya.
=說了再見=
Sekarang, aku
sendirian. Sendirian di rumah ini. Ada orang tua dan mertuaku menemaniku. Tapi,
entah kenapa rasanya aku sedang sendirian. Aku duduk diatas kasur sambil
memeluk kakiku. Tanpa sadar, aku juga memainkan sebuah musik dari ponselku.
Lagu yang sesuai dengan keadaanku saat ini. Heh.. Aku hanya bisa tersenyum
miris.
說了再見 才發現再也見不到 - shuo le zai jian cai fa xian zai ye
jian bu dao
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
我不能就這樣失去妳的微笑 - wo bu neng jiu
zhe yang shi qu ni de wei xiao
I can't just lose your smile like this
I can't just lose your smile like this
口紅待在桌角 而妳我找不到 - kou hong dai zai
zhuo jiao er ni wo zhao bu dao
The lipstick sits on the edge of the table, But I can no longer find you
The lipstick sits on the edge of the table, But I can no longer find you
若角色對調妳說好不好 - ruo jiao se dui
diao ni shuo hao bu hao
What do you say to reversing roles with each other?
What do you say to reversing roles with each other?
說了再見 才發現再也見不到 - shuo le zai jian cai fa xian zai ye
jian bu dao
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
能不能就這樣忍著痛淚不掉 - neng bu neng jiu
zhe yang ren zhe tong lei bu diao
Can I just hold back my tears, and hope they won't fall?
Can I just hold back my tears, and hope they won't fall?
說好陪我到老 永恆往哪裡找 - shuo hao pei wo dao
lao yong heng wang na li zhao
You said you'd be with me till we were old, Where do I find forever now?
You said you'd be with me till we were old, Where do I find forever now?
再次擁抱一分一秒都好 -
zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao
Just another embrace, just for a minute or even a second more.
Just another embrace, just for a minute or even a second more.
Sepertinya beberapa bulir air mata kembali
lolos dari mataku ini. Lagu ini benar-benar melukiskan diriku sekarang. Aku
jadi teringat, kau memelukku ketika kau pulang sangat larut. Tidak. Bukan. Kau
tidak pulang, Chen. Kau tidak pulang. Sampai saat ini. Kau tidak pernah pulang.
=說了再見=
Kubuka kedua mataku yang agak bengkak ini.
Rasanya berat sekali hanya untuk membukanya. Aku sedikit menggeliat dan
meregangkan otot-ototku. Kuresapi dan kuingat-ingat lagi apa yang telah
kulalui.
“Mo
Mo..!”
Terdengar suara seseorang dari arah luar
kamar. Aku langsung mendudukan posisiku. Karena, aku tahu suara itu. Aku tahu!
Aku sangat kenal dan akrab dengan suara itu. Chen!
“Chen...!”
Aku langsung keluar kamar tanpa memakai alas
rumah dan tanpa memakai mantel rumahku. Aku berlari keluar dan... Tak kutemukan
siapa-siapa. Kosong.
“Chen.....”
Lirihku sambil mendudukan diri di sofa.
Suasana benar-benar hening. Tak ada yang bisa
kudengar selain nafasku sendiri.
“Mo..
Sarapan hari ini apa?”
Aku menoleh kaget karena sesaat tadi, aku
mendengar suara Chen tepat di telingaku. Aku benar-benar mendengar suara itu.
Suaranya sangat jelas.
“Chen...??”
Mataku tertuju kearah dapur. Aku tertarik
untuk menuju kesana karena aku melihat ada secangkir kopi dan makanan ringan
terletak diatas meja. Aku mendekat dan mendapati secarik kertas yang ternyata
dari ibuku.
=說了再見=
“Pak
Jin.. Bagaimana kalau anda menjadi direktur kami? Pengganti pak Chen..” Usul
seorang karyawan ketika ada rapat.
“Saya?
Ah.. Tidak tidak.. Saya tidak sehebat pak Chen.. Saya tidak pantas menggantikan
pak Chen sebagai direktur..” Elak pak Jin.
“Tapi,
anda adalah wakilnya dan tidak ada orang yang bisa menyamai pak Chen selain
anda..”
Pak Jin tersenyum diatas kemenangannya.
Rencananya untuk menjadi seorang direktur utama melengserkan Chen pun berhasil.
Banyak karyawan memberi selamat atas jadinya dia sebagai direktur.
“Selamat
ya, pak Jin..!”
“Ahahaha..
Iya iya.. Terimakasih.. Mohon perhatian! Untuk merayakannya, bagaimana kalau
nanti kita makan malam bersama? Akan kutraktir kalian semua!” Umum pak Jin.
Para karyawan bersorak sorai senang. Di
tengah-tengah gerombolan karyawan itu, pak Jin menghentikan pandangannya pada
seorang pria. Matanya terbelalak tak percaya.
“C...
Ch.. Chen......” Ujarnya pelan.
Pak Jin mengusap-usap matanya cepat. Setelah
dilihat lagi, ternyata tak ada siapa-siapa.
“Mungkin
hanya perasaanku saja..” Lirihnya lagi.
Malam harinya, sesuai rencana, pak Jin
menraktir para karyawan untuk makan malam bersama. Mereka bersenang-senang
hingga larut malam. Makan sepuasnya, minum alkohol bersama dan lainnya. Hingga
hampir tengah malam, mereka mencukupi acara itu lalu kembali ke rumah
masing-masing.
“Hah..
Ini baru hidup.. Hehe.. Akhirnya aku bisa menjadi direktur utama.. Hahaha..”
Ujar pak Jin puas ketika ia bersandar di kursi mobilnya.
“Eh,
tunggu.. Belum lengkap rasanya hidup ini kalau belum dilengkapi dengan
senyumannya.. Hehe.. Pak.. Pergi ke rumahnya pak Chen, sekarang..” Ujar pak
Jin.
“Baik,
tuan..”
Mobil berbalik arah dan melesat menuju ke
rumah Chen yang disana hanya ada Morella seorang. Morella sedang menonton TV,
walaupun tak benar-benar ditonton. Tatapannya ke TV namun kosong. Pikirannya
tak ada di ruangan itu.
“Mo Mo! Hahaha..”
“Chen! Kau ini membuatku kaget
saja.. Ckckck..”
“Hahaha.. Ya, maaf.. Kau sedang
masak apa sih?? Sibuk sekali..”
“Tentu saja masak makanan
kesukaanmu..”
“Hah?! Yang benar?”
“Tentu saja! Sekalian kan, katanya
teman-teman kantormu mau main ke rumah.. Makanya aku masak banyak..”
“Hehehe.. Kau benar-benar istriku
yang paling the best! Aku saja lupa kalau pak Jin dan kawan-kawan mau main..
Hahaha..”
“Hah, kau ini.. Ck..”
Morella tersenyum miris ketika ia teringat
akan potongan memorinya dengan Chen. Lamunannya terpecah oleh suara bel yang
bersuara.
“Eh..
Siapa yang datang malam-malam begini..?” Tanya Morella sambil melihat kearah
jam.
Morella berjalan menuju ke pintu. Ia membukakan pintu dan...... Bruk!
“Eh!!
Pak..!! Pak Jin?!”
Pak Jin terjatuh entah pingsan atau apa. Ia
menindih tubuh Morella yang lemas karena tak makan apapun dari tadi.
“Mo..”
Panggil pak Jin tepat di telinga Morella.
“Pak
Jin.. Anda mabuk?! Berdirilah kumohon.. Se.. Sak..!”
Morella berhasil lepas dari tindihan itu. Ia
mengambil oksigen sebanyak yang dia bisa. Dengan agak berat, pak Jin berdiri
lalu memeluk Morella.
“Pak..
Jin? Apa yang anda lakukan?!!” Bentak Morella merasa tak nyaman.
“Kumohon..
Jangan panggil aku pak Jin.. Jangan bersikap formal padaku.. Kumohon, Mo..”
“Eh..?
Apa.. Yang anda bicarakan? Pak Jin.. Anda terlalu mabuk!”
“Dengarkan
aku, Mo.. Aku mencintaimu.. Tidakkah kau melupakan Chen?! Dia sudah pergi
meninggalkanmu sendirian! Dia tega meninggalkan dirimu yang begitu menawan
ini..”
Morella berusaha untuk melepas pelukan itu.
Namun, badannya benar-benar tak bertenaga. Pak Jin menatap Morella yang sudah
agak gemetar ketakutan.
“Mo..
Mo Mo..” Panggil pak Jin.
Dipanggil seperti itu, Morella sesaat merasa
terpanggil oleh Chen. Panggilan itu, hanya Chen yang memanggilnya begitu.
Panggilan itu dibuat oleh Chen untuk panggilan sayang. Mata Morella memerah dan
kembali membendung beberapa debit air mata.
“Chen...”
Lirihnya.
Pak Jin tersenyum lalu tanpa persetujuan ia
menggendong tubuh lemas Morella. Ia berjalan menuju ke kamar.
“Chen... Apakah.. Itu kau? Apa yang sedang
menggendongku ini adalah dirimu? Kalau iya, aku takkan menolak, tapi.. Kalau
bukan, tolong aku, Chen.. Aku.. Tak punya tenaga lagi untuk meronta...” Batin
Morella.
Pak Jin membuka pintu kamar Morella dan Chen.
Ia meletakan tubuh Morella diatas kasur. Lagi, Morella tak bergerak. Entah apa
yang menghalanginya untuk bergerak, tapi yang pasti ‘hal itu’ hangat. Pak Jin
membuka jas dan pakaiannya. Ketika ia membalikan badan,
‘Jder!!’ Suara petir yang terdengar sangat
keras.
Pak Jin membelalakan mata selebar mungkin. Ia
tersentak ketakutan hingga ia mundur kebelakang. Ia melihat sosok pria yang
telah ia bunuh, kini tengah duduk di tempat ia membaringkan Morella tadi.
“Pak..
C.. Chen!”
Pak Jin mengusap matanya berulang kali dan
melihat kearah semula. Tak ada Chen disana. Tak ada, hanya ada Morella yang
masih terbaring kian lama kian melemas. Pak Jin mengatur nafasnya lalu kembali
melanjutkan aktifitas semulanya. Kembali, ia melepas bajunya lalu menindih
Morella. Ia mengamati setiap garis wajah itu.
“Wajahmu...
Cantik.. Kulitmu.. Lembut.. Tapi, kau terlihat sangat lemah dan pucat...” Kata
pak Jin membelai wajah istrinya Chen itu.
Pak Jin mendekatkan mulutnya ke Morella. Ia
memejamkan mata, tiba-tiba ia merasakan mulutnya terhalangi oleh sebuah tangan.
Pak Jin membuka mata langsung dan disana sudah ada Chen dengan wajah penuh
kebenciannya.
“Wa!!
Chen!!!”
Pak Jin melompat dari kasur dengan sangat
ketakutan. Kembali ia mencoba mengusap matanya dan hal itu berhasil tak ada
Chen disana. Pak Jin menghela nafas.
‘Tes.. Tes.. Tes..’ Bunyi tetesan air dari
arah samping pak Jin.
Pak Jin menoleh perlahan. Disampingnya sudah
berdiri seorang pria dengan wajah sangat sangat pucat dan tubuh basah kuyup.
Pak Jin sangat ketakutan disana hingga tubuhnya menjadi kaku tak bisa bergerak.
Chen mengangkat kedua tangannya dan hendak mencekik pak Jin.
“Pak
Chen.. Maafkan aku.. Kumohon maafkan aku..” Ujar pak Jin gemetar.
Morella menolehkan kepalanya kearah pak Jin.
Ia melihat orang itu ketakutan sendiri seperti orang gila. Chen? Tidak salah
dengarkan telinganya? Tapi, ia sama sekali tidak melihat Chen ada disana.
“Chen...”
Panggil Morella bangkit duduk.
Tiba-tiba Chen menghilang dari hadapan pak
Jin. Morella masih heran disitu. Pak Jin menghela nafas lega lalu menatap
Morella. Ia menarik tangan Morella lalu menyambar bajunya yang tergeletak di
lantai.
“Kita..
Mau kemana?” Tanya Morella masih ditarik oleh pak Jin.
Tak ada jawaban. Pak Jin terus menarik
Morella hingga keluar rumah. Ketika pintu rumah dibuka, Chen ada dihadapannya
dengan tatapan membunuh. Pak Jin bersembunyi dibelakang Morella. Chen
menghilang dari hadapannya. Kembali, pak Jin berjalan menarik tangan Morella
kasar dan agak panik menuju ke mobilnya.
“Kita
pulang!” Perintah pak Jin.
Mobil dihidupkan dan melesat menjauhi rumah
Morella dan Chen.
“Apa?!
Pak Jin! Kau mau membawaku kemana?!” Bentak Morella.
“Mo..
Begini.. Aku melihat pak Chen daritadi.. Wajahnya penuh dendam dan hasrat ingin
membunuh..”
“Chen..?
Anda melihat Chen?!”
“Iya..
Tapi, bukan Chen yang kita kenal.. Wajahnya sangat menyeramkan dan daritadi ia
ingin membunuhku... Ia mengejarku dan ketika ada dirimu, ia menghilang..”
Morella agak belum mengerti apa maksudnya.
Chen menghilang ketika ada dirinya? Apa dia membencinya? Kenapa ia menghilang?
Pak Jin terus menjelaskan hal-hal yang buruk mengenai Chen ke Morella, berharap
ia bisa berbalik ke pelukannya.
“Hei..!
Kenapa kau membawa kami kemari?! Aku kan tadi bilang, pulang!” Bentak pak Jin
ketika ia melihat jalan yang ia lewati bukanlah jalan pulang ke rumah.
“Entah,
tuan.. Saya sudah mengambil jalan yang benar.. Tapi, daritadi saya terus
kembali ke tempat ini..” Jelas si supir.
“Apa?”
“Ini
tempat apa?” Tanya Morella mengedarkan pandangannya ke luar jendela.
“Ah,
tidak.. Ini bukan tempat apa-apa.. Apapun caranya, keluarkan kami dari tempat
ini!!”
“Baik,
pak!”
Pak supir itu kembali menginjak gas namun,
tiba-tiba Chen ada di tengah jalan dan membuat si supir menjadi panik seketika.
Ia membanting setir dan membuat mobil menjadi oleng.
=說了再見=
Ugh! Uhuk! Uhuk! Ugh.... Ng? Aku.. Masih
hidup? Aku membuka mata dan memegangi kepalaku yang terasa sangat perih ini.
Aku berusaha untuk keluar dari mobil. Aku terjatuh karena tubuh lemah ini
terasa sangat perih. Ah, sial! Kenapa tubuhku menjadi tak berdaya begini?! Aku
mendengar pak Jin keluar dari mobil dengan masih hidup. Syukurlah dia selamat.
Tapi, ini dimana? Tempat apa ini? Perlahan aku mencoba untuk mengamati tempat
itu. Kolam.. Renang?
“Mo..
Mo Mo! Kau tak apa?” Tanya pak Jin khawatir.
Aku mengangguk dan entah kenapa ia malah
memelukku.
“Syukurlah..
Aku lega kau selamat..” Ujarnya.
“Ini..
Tempat apa? Kolam renang?” Tanyaku.
Terlihat, pak Jin merasa aneh berada di
tempat itu. Apa ia merasa tak nyaman berada disini? Tapi kenapa? Bukankah tadi
dia bilang dia tidak tahu tempat ini?
“Lebih
baik kita pergi darisini..!” Ajak pak Jin.
Aku dan pak Jin saling membantu untuk berdiri
dan berjalan. Namun, belum ada selangkah, aku mendengar seseorang berteriak.
“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!
TOLONG!!!!”
Teriakan itu benar-benar sangat keras.
“Suara
siapa itu?!” Tanyaku.
“Suara?
Suara apa??”
“Tadi..
Ada yang berteriak! Kita harus menolongnya!!”
Aku berlari masuk kedalam tempat yang cukup
gelap itu. Pak Jin memanggilku tapi tak kuhiraukan.
“Kau
dimana?! Jawab aku!” Teriakku menoleh ke kanan kiri mencari orang yang meminta
tolong tadi.
Aku berlari lagi semakin masuk.
“Hei!!
Kau dimana?!!”
Aku kembali mendengar suara. Kali ini suara
barang terjatuh. Tanpa babibubebo, aku berlari kearah asalnya suara. Aku
mengikuti langkah kakiku dan aku tiba di sebuah ruangan. Kamar mandi?
“Halo!
Kau dimana?! Jawab aku!” Teriakku lagi.
Tapi, tak kudengar jawaban apa-apa.
=說了再見=
Sial! Dia masuk ke tempat terkutuk itu! Masa
aku harus masuk juga? Tapi, pulang juga tak mungkin. Baiklah, aku akan
mengejarnya! Aku berlari mengejar Morella. Aku sudah hafal betul tempat ini
karena ini adalah lokasi yang waktu itu aku dan pak Chen kunjungi.
“Mo!!
Mo Mo!!!” Teriakku memanggil namanya terus menerus.
Ah! Itu dia! Aku segera berlari kearahnya. Ia
keluar dari sebuah ruangan. Tunggu! Ruangan itu... Kamar mandi...
“Mo...
Mo Mo!!” Teriakku.
Kulihat, Morella menoleh dan berlari kecil
kearahku. Aku juga berlari kearahnya, tapi.. Dibelakangnya... Ada...........
Chen!
=說了再見=
“Pak
Jin! Hm? Anda.. Kenapa?” Tanya Morella.
Pak Jin tak menjawab dan masih terlihat takut
melihat kearah belakang Morela. Morella mengikuti arah pandang pak Jin, tapi
tak dilihatnya apa-apa.
“Pak
Jin.. Anda.. Baik-baik saja kan??”
Lagi-lagi tak menjawab, Morella kembali
menoleh kebelakang dan tak melihat apapun. Ketika ia membalikan kepalanya
kearah pak Jin, entah kenapa pak Jin menjadi semakin histeris dan gemetar panik
ketakutan. Pak Jin melihat wajah Morella berubah menjadi wajah menyeramkan
Chen. Pak Jin lalu menyerang Morella. Ia memukul Morella.
=說了再見=
Aku... Aku dimana? Ah! Sa.. Sakit sekali..
“Dimana
ini....?” Lirihku sembari mengamati keadaan sekitar.
Woa!! Aku tersentak ketika melihat kebawah.
Kenapa aku bisa ada diatas sini? Kenapa aku terikat? Pak Jin..? Ya, dimana
dia?!
“Hahahahaha!!
Kau akan mati lagi, Chen!! Kau akan mati lagi!!” Teriak seseorang dari bawah.
Hm? Siapa pria itu? Tunggu.. Itu kan.. Pak
Jin!
“Pak
Jin!! Apa yang kau lakukan?!!! Aku Morella!!!” Teriakku.
“Kau
takkan bisa membodohiku, Chen!! Kau akan mati tenggelam untuk kedua kalinya di kolam
yang sama!! Kau akan mati!!!”
“Pak
Jin ini aku!!!! Aku Morella!!!”
Ia tak mendengarkanku. Tapi dia bilang.......
Hah! Apakah tadi maksudnya.... Chen... Ini tempat.. Tempat dimana mayatmu
ditemukan.. Apakah berarti kau mati disini? Chen.. Kolam ini, apakah kau
tenggelam disini? Apakah.. Pak Jin.. Hiks.. Hiks.. Apa dia.. Hiks.. Yang
telah.. Hiks.. Membunuhmu..??
Tali ini semakin mendekat ke tengah kolam.
Aku menangis menyadari kenyataan yang harus kudengar. Suamiku.. Dibunuh oleh
sahabatnya sendiri.. Suamiku mati disini.. Suamiku mati di kolam ini..
Suamiku.. Suamiku..
Aku datang..
BYUR!!!
=說了再見=
Pak Jin tertawa puas bisa membunuh rivalnya
untuk kedua kalinya. Ia menceburkan Morella ke kolam renang dalam keadaan masih
terikat. Walaupun Morella adalah seorang perenang handal, tapi tubuhnya sulit
untuk digerakan akibat luka dan ketidak adaannya energi di tubuhnya. Morella
menatap ke permukaan air yang terlihat bergelombang. Sangat tenang sekali berada
di dalam kolam renang itu. Ia melihat pak Jin tertawa disana. Tapi, ia
tersenyum dan memejamkan mata.
“Hahahahahaha!!!
Rasakan itu, Chen!! Rasakan!!!”
Pak Jin membalikan badan dan mendapati Chen
ada disana. Chen dengan dada yang kembang kempis menahan amarah itu langsung
mencekik pak Jin dan mendorongnya ke kolam.
Byur!
Pak Jin menggeliat meronta dan tak bisa
nafas. Morella melihat pak Jin menendang-nendangkan kakinya dan terlihat sangat
tersiksa di dalam air. Apa dia terkena serangan jantung? Morella hendak
menolong orang jahat itu, tapi kali ini ia bisa melihat Chen yang sedang
mencekik pak Jin. Morella tersentak kaget, apalagi setelah Chen menoleh
kearahnya dengan tatapan dingin. Chen melepas cekikan tangannya dari pak Jin
dan melesat kearah Morella. Morella sudah agak takut disana. Ia hendak berenang
tapi, semua menjadi gelap.
=說了再見=
Untuk yang ketiga kalinya, aku membuka
mataku. Badanku basah, kepalaku masih sakit, tubuhku semakin lemas, badanku
sakit semua dan nafasku sesak. Dan juga aku bersandar di bahu suamiku.
Dheg! Jantungku rasanya berhenti berdetak,
ketika bisa melihat lagi orang yang kusayangi tersenyum. Air mataku menghias di
bawah mata. Rasa sakit semuanya hilang. Angin malam yang dingin menjadi hangat.
“Mo..”
Panggilnya masih dengan senyum.
“C...
Ch.. Chen...” Jawabku agak kesusahan.
Ia semakin melebarkan senyumnya. Astaga,
Tuhan. Terimakasih banyak aku masih bisa melihatnya lagi. Aku langsung
memeluknya erat. Kali ini, tak kutahan lagi air mataku untuk keluar.
“Chen...!”
Aku menangis di dekapannya. Pelukan yang
hangat itu, aku rindu.
妳的笑 妳的好 腦海裡 一直在繞 - ni de xiao, ni de hao, nao hai li yi
zhi zai rao
Your smile, your goodness, they're spinning around in my mind
Senyuman itu.
Kehangatan itu. Kelembutan itu. Aku rindu semua. Semuanya.
“Chen.. Aku merindukanmu, Chen..”
Ujarku di sela-sela tangisku ini.
Memang terdengar
sedikit serak, tapi aku yakin ia mengerti apa yang kubicarakan.
“Aku juga rindu, Mo..” Jawabnya
sambil mengelus rambutku.
“Kau tahu? Aku sangat tersiksa..
Rasanya benar-benar sakit, Chen.. Jiwaku seperti hilang separuh.. Aku sama
seperti dengan orang yang sudah mati, Chen..!”
Kembali kubasahi
dadanya dengan airmataku.
我的手 忘不了 妳手的溫度 -
wo de shou wang bu liao ni shou de wen du
My hands, can't forget the warmth of your hands
My hands, can't forget the warmth of your hands
心碎了一地 撿不回 - xin sui le yi di jian bu hui
My heart's shattered on
the floor, never to be mended again
從前的心跳 身陷過去 - cong
qian de xin tiao sheng xian guo qu
My rapid heartbeats from before
My rapid heartbeats from before
我無力逃跑 - wo wu li tao pao
I can't escape from the
past
“Chen..”
“Hm?”
“Jangan
pergi lagi ya..”
Ia tersenyum manis walaupun aku tak
melihatnya. Ia melepas pelukan dan memegangi kedua pipiku yang basah.
“Tidak
bisa, Mo.. Aku harus pergi lagi.. Pergi tugas ke luar..”
“Berapa
hari?”
“Sampai
waktu memberiku kesempatan untuk bisa bertemu denganmu lagi..”
“Tapi...”
“Mo..
Kau adalah wanita yang tegar dan kuat.. Aku menyukaimu karena itu.. Kau tahu
itu kan?”
Aku mengangguk teringat kalimatnya yang
hancur ketika ia menyatakan perasaannya padaku. Ia tersenyum lagi dan mengusap
kedua pipiku lembut untuk menghilangkan bekas basah.
“Chen..
Bagaimana kalau aku rindu padamu?”
“Aku
kan selalu disini..” Jawabnya lembut dan penuh kehangatan.
Rasanya hati ini menjadi tenang dan
tidak khawatir lagi. Hatiku rasanya lega dan nyaman. Rasanya menjadi ringan
untuk bisa tersenyum sekarang. Aku tahu ini adalah perpisahan. Dan setelah
mengatakan salam perpisahan, aku tahu kalau kita takkan bisa bertemu lagi
sampai aku menyusulnya nanti. Aku tahu itu semua.
Aku tahu setelah ini, aku takkan bisa
lagi merasakan tangan hangatnya. Aku takkan bisa melihat senyum lembutnya. Aku
takkan lagi mendapatkan kecupan manisnya. Dan aku takkan bisa lagi untuk
bermanjaan dengannya. Tapi, aku adalah wanita yang tegar!
“Chen..
Hehe.. Aku hamil..” Ujarku akhirnya membongkar rahasia kejutan yang sebenarnya
sudah kusiapkan matang-matang.
“Benarkah?
Wah.. Hehehe.. Selamat ya, Mo! Hihihi.. Aku akan menjadi ayah!”
Kulihat ia begitu senang. Ia juga
mengelus perutku yang belum besar ini. Tapi aku senang ia bisa tertawa. Untuk
terakhir kalinya.
“Mo..”
Panggilnya walaupun daritadi kami sudah saling menatap.
Ia tersenyum padaku. Aku membalas
senyum itu dengan memberikan senyuman terbaikku. Ia memberikanku kesempatan
sekali lagi dan kesempatan terakhir untuk merasakan kelembutan dan rasa manis
bibirnya. Walaupun dihiasi dengan air mata yang mengalir di pipi, tapi rasanya
masih sama dengan ciuman Chen seperti biasanya. Rasanya enggan untuk melepas
ciuman ini, tapi aku butuh oksigen untuk bernafas kan? Hehe.. Kami saling
tersenyum satu sama lain, hingga ia menghilang dengan lembut.
=說了再見=
Morella duduk di kursi penonton yang
ada di barisan paling atas. Ia tersenyum disana bersamaan dengan munculnya
matahari. Dan bersamaan dengan hilangnya Chen. Untuk yang kedua kalinya.
“Selamat
jalan Chen.. Zai jian..” Bisiknya
lalu tersenyum penuh kelegaan.
=說了再見=
“Huaaa....!!
Kau hamil, Mo!!” Ujar ibunya dan ibu mertuanya gembira.
Morella ikut senang dan ikut
berlonjak-lonjak ria bersama dengan ibu-ibu itu.
“Eh
eh eh.. Jangan loncat-loncat.. Hahaha.. Kau harus jaga cucu kami!” Kata para
ibu serius.
Morella menunjukan ibu jarinya tanda
siap. Mereka tertawa dan tersenyum. Morella berjalan keluar untuk sekedar
menghirup udara segar. Ia menikmati angin yang berhembus dengan hangat itu.
“Chen..
Hihi..”
Romaji
tian liang le
yu xia le
ni zou le
qing chu le
wo ai de
yi shi le
luo ye piao zai hu mian shang shui zhao le
xiang yao fang
fang bu diao
lei zai piao
ni kan kan
ni kan kan bu dao
wo jia zhuang guo qu bu zhong yao
que fa xian zi ji ban bu dao
shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
wo bu neng jiu zhe yang shi qu ni de wei xiao
kou hong dai zai zhuo jiao
er ni wo zhao bu dao
ruo jiao se dui diao ni shuo hao bu hao
shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
neng bu neng jiu zhe yang ren zhe tong lei bu diao
shuo hao pei wo dao lao
yong heng wang na li zhao
zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao
tian liang le
yu xia le
ni zou le
qing chu le
wo ai de
yi shi le
luo ye piao zai hu mian shang shui zhao le
xiang yao fang
fang bu diao
lei zai piao
ni kan kan
ni kan kan bu dao
wo jia zhuang guo qu bu zhong yao
que fa xian zi ji ban bu dao
shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
wo bu neng jiu zhe yang shi qu ni de wei xiao
kou hong dai zai zhuo jiao
er ni wo zhao bu dao
ruo jiao se dui diao ni shuo hao bu hao
ni de xiao
ni de hao
nao hai li
yi zhi zai rao
wo de shou
wang bu liao
ni shou de wen du
xin sui le yi di
jian bu hui
cong qian de xin tiao
sheng xian guo qu
wo wu li tao pao
shuo zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
neng bu neng jiu zhe yang ren zhe tong lei bu diao
shuo hao pei wo dao lao
yong heng wang na li zhao
zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao
yu xia le
ni zou le
qing chu le
wo ai de
yi shi le
luo ye piao zai hu mian shang shui zhao le
xiang yao fang
fang bu diao
lei zai piao
ni kan kan
ni kan kan bu dao
wo jia zhuang guo qu bu zhong yao
que fa xian zi ji ban bu dao
shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
wo bu neng jiu zhe yang shi qu ni de wei xiao
kou hong dai zai zhuo jiao
er ni wo zhao bu dao
ruo jiao se dui diao ni shuo hao bu hao
shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
neng bu neng jiu zhe yang ren zhe tong lei bu diao
shuo hao pei wo dao lao
yong heng wang na li zhao
zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao
tian liang le
yu xia le
ni zou le
qing chu le
wo ai de
yi shi le
luo ye piao zai hu mian shang shui zhao le
xiang yao fang
fang bu diao
lei zai piao
ni kan kan
ni kan kan bu dao
wo jia zhuang guo qu bu zhong yao
que fa xian zi ji ban bu dao
shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
wo bu neng jiu zhe yang shi qu ni de wei xiao
kou hong dai zai zhuo jiao
er ni wo zhao bu dao
ruo jiao se dui diao ni shuo hao bu hao
ni de xiao
ni de hao
nao hai li
yi zhi zai rao
wo de shou
wang bu liao
ni shou de wen du
xin sui le yi di
jian bu hui
cong qian de xin tiao
sheng xian guo qu
wo wu li tao pao
shuo zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
neng bu neng jiu zhe yang ren zhe tong lei bu diao
shuo hao pei wo dao lao
yong heng wang na li zhao
zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao
Kanji
天涼了 雨下了 妳走了
清楚了 我愛的 遺失了
落葉飄在湖面上睡著了
想要放 放不掉 淚在飄
妳看看 妳看看不到
我假裝過去不重要 卻發現自己辦不到
說了再見 才發現再也見不到
我不能就這樣失去妳的微笑
口紅待在桌角 而妳我找不到
若角色對調妳說好不好
說了再見 才發現再也見不到
能不能就這樣忍著痛淚不掉
說好陪我到老 永恆往哪裡找
再次擁抱一分一秒都好
天涼了 雨下了 妳走了
清楚了 我愛的 遺失了
落葉飄在湖面上睡著了
想要放 放不掉 淚在飄
妳看看 妳看看不到
我假裝過去不重要 卻發現自己辦不到
說了再見 才發現再也見不到
我不能就這樣失去妳的微笑
口紅待在桌角 而妳我找不到
若角色對調你說好不好
妳的笑 妳的好
腦海裡 一直在繞
我的手 忘不了 妳手的溫度
心碎了一地 撿不回
從前的心跳 身陷過去我無力逃跑
說再見 才發現再也見不到
能不能就這樣忍著痛淚不掉
說好陪我到老 永恒往哪裡找
再次擁抱一分一秒都好
天涼了 雨下了 妳走了
清楚了 我愛的 遺失了
落葉飄在湖面上睡著了
想要放 放不掉 淚在飄
妳看看 妳看看不到
我假裝過去不重要 卻發現自己辦不到
說了再見 才發現再也見不到
我不能就這樣失去妳的微笑
口紅待在桌角 而妳我找不到
若角色對調妳說好不好
說了再見 才發現再也見不到
能不能就這樣忍著痛淚不掉
說好陪我到老 永恆往哪裡找
再次擁抱一分一秒都好
天涼了 雨下了 妳走了
清楚了 我愛的 遺失了
落葉飄在湖面上睡著了
想要放 放不掉 淚在飄
妳看看 妳看看不到
我假裝過去不重要 卻發現自己辦不到
說了再見 才發現再也見不到
我不能就這樣失去妳的微笑
口紅待在桌角 而妳我找不到
若角色對調你說好不好
妳的笑 妳的好
腦海裡 一直在繞
我的手 忘不了 妳手的溫度
心碎了一地 撿不回
從前的心跳 身陷過去我無力逃跑
說再見 才發現再也見不到
能不能就這樣忍著痛淚不掉
說好陪我到老 永恒往哪裡找
再次擁抱一分一秒都好
Translation
The weather is cool, the rain is falling, you are leaving
It is crystal clear that I have lost my dear one
The fallen leaves rest upon the surface of the lake
I want to let go, but it is hard to do so, the tears are falling
You look, but you don't see
I pretend to myself that the past is insignificant, but I realize that I cannot do it
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
I can't just lose your smile like this
The lipstick sits on the edge of the table
But I can no longer find you
What do you say to reversing roles with each other?
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
Can I just hold back my tears, and hope they won't fall?
You said you'd be with me till we were old
Where do I find forever now?
Just another embrace, just for a minute or even a second more.
Your smile, your goodness,
they're spinning around in my mind
My hands, can't forget the warmth of your hands
My heart's shattered on the floor, never to be mended again
My rapid heartbeats from before,
I can't escape from the past
It is crystal clear that I have lost my dear one
The fallen leaves rest upon the surface of the lake
I want to let go, but it is hard to do so, the tears are falling
You look, but you don't see
I pretend to myself that the past is insignificant, but I realize that I cannot do it
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
I can't just lose your smile like this
The lipstick sits on the edge of the table
But I can no longer find you
What do you say to reversing roles with each other?
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
Can I just hold back my tears, and hope they won't fall?
You said you'd be with me till we were old
Where do I find forever now?
Just another embrace, just for a minute or even a second more.
Your smile, your goodness,
they're spinning around in my mind
My hands, can't forget the warmth of your hands
My heart's shattered on the floor, never to be mended again
My rapid heartbeats from before,
I can't escape from the past
-Fin-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar