Jumat, 20 Juli 2012

Shuo Le Zai Jian -Story-

Byur!
Tolong!!
Mati kau!!!

說了再見 (Shuo Le Zai Jian)
Song : Shuo Le Zai Jian
By : Jay Chou (Zhou Jie Lun)
Story by : Sno_Wint (Stefanny J.)

天涼了 雨下了 妳走了 - tian liang le, yu xia le, ni zou le
The weather is cool, the rain is falling, you are leaving

Dingin. Dingin sekali. Angin yang berhembus membawa beberapa titik hujan itu, menembus diriku yang tampak kuat ini. Hujan turun semakin lama semakin deras. Tapi, rasanya enggan untuk meninggalkan tempat ini. Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku secepat ini? Kenapa kau pergi?

清楚了 我愛的 遺失了 - qing chu le, wo ai de, yi shi le
It is crystal clear that I have lost my dear one

Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat tadi. Aku tak percaya dan tak yakin kalau pria yang berbaring di ruang mayat itu adalah kau. Kau yang kusayang. Cintaku, sayangku dan suamiku. Apakah aku harus menerima kalau aku sudah kehilangan orang yang paling kucintai?

落葉飄在湖面上睡著了 - luo ye piao zai hu mian shang shui zhao le
The fallen leaves rest upon the surface of the lake

Tempat ini terasa begitu sepi. Tanpamu, disampingku. Angin ini terasa seperti pisau. Tanpa kehadiranmu. Hujan ini terasa seperti air mata. Tanpamu, disini. Danau ini, tempat favorit kita. Keindahan ini terasa fana dan sia-sia, kalau tidak ada kau bersamaku. Rasanya sepi. Sangat sangat sangat sepi. Apakah hanya aku saja yang merasa tempat ini begitu sepi? Daun yang jatuh tertimpa air hujan itu, mendarat di permukaan air danau membuat gelombang air kecil disana.

想要放 放不掉 淚在飄 - xiang yao fang fang bu diao lei zai piao
I want to let go, but it is hard to do so, the tears are falling 

Aku tidak bisa melepas kepergianmu. Aku tak bisa! Sekalipun aku berusaha dan mau melepas kepergianmu, tapi itu.. Sangat berat. Sangat berat, untuk dilakukan. Air mataku kembali membuat anak sungai di pipi yang terasa semakin tirus ini. Tuhan, jawablah aku. Kenapa Kau mengambilnya? Aku masih membutuhkannya disini. Kenapa Kau begitu kejam? Kau mengambil seorang yang kucintai, dengan cara yang tidak wajar! Kenapa Kau begitu kejam terhadapku, Tuhan?!
=說了再見=
            “Mo.. Kau harus tegar.. Kau harus kuat.. Kalau Chen melihatmu seperti ini, kasihan dia..”
Terdengar suara-suara yang sepertinya kukenal terus menenangkan diriku. Ya, wajar jika mereka khawatir dan prihatin terhadap keadaanku. Aku sudah pingsan beberapa kali. Aku tak ingat berapa jumlahnya. Pikiranku kosong. Aku tidak bisa berpikir apa-apa saat ini.
            “Chen..” Lirihku.
Air mata mulai kembali berhasil lolos membasahi pipi ini. Aku benar-benar kacau!
            “Chen.. Kenapa kau meninggalkan aku....?” Tanyaku dengan suara yang sangat pelan dan agak serak.
Banyak orang-orang yang terus memeluk dan menggenggam tanganku. Aku kembali menangis sejadi-jadinya.
Flashback ON
            “Hari ini sepertinya, aku akan pulang malam.. Apakah tidak apa-apa??” Tanya Chen sambil membenarkan dasinya.
            “Tak apa.. Hati-hati saja, jangan sampai menyetir sambil mengantuk!” Jawab istrinya lalu membantu Chen membenarkan dasi.
            “Oh ya.. Kemarin aku belum sempat memberimu hadiah karena telah berhasil meraih juara 1 lomba renang..” Ujar Chen.
            “Ah, tidak usah..”
Tiba-tiba, Chen mengecup bibir istrinya itu.
            “Hadiah untukmu sekalian morning kiss, goodbye kiss and lucky kiss..” Jelas Chen tersenyum.
Istrinya memajukan bibir.
            “Kenapa? Tidak suka?”
            “Tidak.. Kenapa jadi 1 paket begitu?? Tidak mau! Maunya satu-satu...” Pinta istrinya.
Chen tertawa kecil karena geli. Iapun mengabulkan permintaan istrinya.
            “Dan yang terakhir, goodbye kiss..”
Chen mencium istrinya. Kali ini, lebih lama dan lebih dalam.
            “Rasanya kopi..” Ujar si istri setelah ciuman terakhir itu.
            “Hehe.. Tentu saja.. Aku kan habis minum kopi.. Aku berangkat dulu ya.. Dah..”
Chen melambaikan tangannya lalu dibalas dengan istrinya.
Flashback OFF
Setidaknya, itulah kenangan terakhirku bersama dengan Chen. Suamiku. Setelah itu, ia benar-benar pulang sangat terlambat, tapi sebenarnya ia tak pernah pulang.
=說了再見=
Chen berangkat menuju ke kantornya. Ia bekerja sebagai direktur utama dalam sebuah perusahaan air.  Biasanya, pihak pemilik kolam renanglah yang bekerja sama dengannya. Dan darisitulah, ia bertemu dengan istrinya yang seorang perenang.
            “Pak Chen, selamat pagi..” Sapa seorang karyawan.
            “Selamat pagi..” Balas Chen ramah.
Chen melangkahkan kakinya lagi menuju ke ruangannya.
            “Pak Chen.. Sesuai rencana kemarin, hari ini kita akan pergi ke lokasi..”
            “Iya, baik.. Tidak masalah..”
Sore tiba, dan saatnya menuju ke lokasi yang dimaksud. Sesampainya disana, Chen dan beberapa orang lainnya bekerja mengamati lokasi dan menyelidiki sekitar tempat itu. Hingga larut malam, akhirnya selesai. Chen sedang pergi ke toilet sebelum ia pulang.
            “Iya, Mo.. Sebentar lagi aku pulang.. Kau tidurlah dulu..” Ujar Chen lewat ponsel.
‘Pip!’ Ponsel dimatikan dan Chen hendak keluar dari toilet, namun...
            “Pak Chen..” Panggil seorang pria menghalangi Chen keluar.
            “Eh, pak Jin.. Ada apa??”
Pak Jin yang merupakan tangan kanan Chen itu, mendekat dan semakin mendekat kearah Chen dengan wajah sadis. Chen agak bingung dan takut. Ia perlahan berjalan mundur sedikit demi sedikit.
            “Pak Jin.. Kau.. Baik-baik saja??” Tanya Chen hati-hati.
            “Kau! Chen! Hah..! Pria paling beruntung di dunia ini..”
            “Apa.. Maksudmu?? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan..”
            “Kau memiliki istri yang cantik.. Kau terpilih menjadi direktur utama.. Kau juga disukai banyak orang..”
‘Grep!’ 2 orang yang berbadan besar menghentikan langkah mundur Chen.
            “Kau mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku!!” Bentak pak Jin.
            “Kau merebut Morella dari tanganku!! Kau mengambil jabatan direktur utama itu dari pandanganku!! Kau mengambil semua yang kupunya!!”
            “Pak Jin.. Aku tidak...”
            “DIAM!!”
Chen tersentak. Pak Jin menundukan kepalanya dan menangis. Chen agak ragu untuk mendekat. Tapi, pak Jin adalah sahabatnya. Ia harus membantunya. Chen pun mendekat dan agak menenangkan pak Jin perlahan.
            “Pak Chen..”
Chen tersenyum. Pak Jin memeluk Chen tiba-tiba.
            “Maafkan aku.. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu.. Tidak seharusnya aku berkata begitu padamu..” Ujar pak Jin.
            “Tak apa.. Tak apa, pak Jin..”
Dan... ‘Jleb!’ Sebuah pisau menembus perut Chen.
            “Heh.. Kau pikir aku akan termakan dengan kelembutanmu?! Jangan harap!! Kau! Tidak ada apa-apanya!! Kau tidak berguna!! Sebaiknya kau mati saja!! Morella tidak butuh suami sepertimu!! Perusahaan ini tidak membutuhkan sosok direktur sepertimu!!!!”
‘Jleb!’ ‘Jleb!’ ‘Jleb!’ Pisau itu bertubi-tubi menusuk tubuh Chen.
Chen tidak bisa berkata apa-apa. Ia tak tahu, suaranya tak bisa keluar dan rasa sakit ini begitu.. Menyiksanya.
            “Bawa dia!!”
            “Baik, pak!”
2 orang berbadan kekar itu menyeret Chen. Mereka mengikuti sang bos. Dan ternyata, mereka menuju ke kolam renang.
            “Masukan dia kesana!”
            “Siap, pak!”
Chen menggapai tangan pak Jin. Ia menggenggam kemejanya begitu erat.
            “Lepaskan aku!! Jangan kotori bajuku dengan darah kotormu itu!!”
Pak Jin melepas genggaman Chen. Dan, Chen terjebur ke kolam renang.
‘Byur!’
            “Mati kau!!! Hahahahaha!! Mati kau!! Mati!!!” Teriak pak Jin sangat puas.
            “Dengan begini, akulah yang akan menjadi direktur perusahaan ini! Dan akulah yang akan menjadi pasangan Morella yang pantas!!! Hahahahahaha!!!” Lanjut pak Jin begitu bangga.
Air kolam renang sedikit tercampur dengan darah Chen yang tiada hentinya mengalir keluar dari tubuhnya itu. Matanya masih terbuka dan melihat 3 orang yang berdiri disamping kolam. Ia tak bisa menggerakan tubuhnya.
            “To... Long.....” Ujarnya tak jelas karena berada didalam air.
Tak butuh waktu lama untuk membuat paru-parunya berhenti bekerja.
            “Hahahahahaha!! Rasakan itu!! Kau pantas mati!! Kau tidak pantas untuk hidup di dunia ini!!!”
Di rumah, sang istri yang bernama Morella itu terbangun dari tidurnya, bersamaan dengan petir yang menggelegar terdengar horor disertai hujan deras dan angin kencang.
            “Chen!!” Panggilnya.
Ia melihat ke samping kanannya. Tempat dimana Chen tidur. Tapi, tak ada. Tak ada siapa-siapa disebelahnya.
            “Semoga perasaanku salah... Hah..”
Morella beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju ke dapur. Ia mengambil gelas dan menuang air untuk ia minum. Morella menenggak begitu banyak air putih untuk menghilangkan perasaan buruknya. Ketika selesai minum dan ia membalikan badan hendak meletakan gelas,
‘Grep!’ Seseorang memeluknya.
Morella sangat terkejut disitu. Gelas yang ia bawa terjatuh dan pecah. Tapi, ia tahu siapa yang memeluknya.
            “Chen... Pulangnya larut sekali.. Ini sudah pukul setengah 3 pagi...” Ujar Morella membalas pelukan Chen.
Chen tak menjawab dan masih memeluk Morella.
            “Chen.. Kau kehujanan ya? Kau basah kuyup.. Cepat ganti baju, nanti kau masuk angin..”
Morella melepas pelukan tapi, Chen malah mempereratnya.
            “Eh?! Chen..”
            “Mo.. Biarkan aku memelukmu... Sebentar..”
Morella terdiam dan kembali memeluk Chen. Keesokan harinya, Morella terbangun dan ia sudah ada diatas kasurnya. Matanya perlahan memperhatikan apa yang ada disekitarnya. Tangan kanannya meraih kasur bagian kanan mencari seseorang. Namun, nihil. Orang itu tak ada di kasur bersamanya.
            “Chen..!” Panggil Morella sambil memakai mantel rumahnya dan berjalan keluar.
Tak ada jawaban.
            “Chen...!!” Ulangnya lebih keras.
Masih hening tak ada jawaban. Morella mengernyitkan dahinya. Ia mencari di garasi.
            “Lho? Mobilnya tidak ada.. Apa dia sudah berangkat kerja? Pagi sekali berangkat kerjanya.. Apa dia tidak sarapan??”
Morella kembali masuk dan menuju dapur. Ketika melangkah kesana, ia menginjak sesuatu.
            “Eh? Apa ini.. Air?? Apa atapnya bocor?”
Morella mengambil kain pel untuk mengelap air yang membasahi sebagian lantai rumahnya itu.
            “Eemm.. Aku bawakan makan siang ah, untuk Chen! Hehehe.. Pasti dia lupa makan kalau sudah asyik kerja.. Ckckck..”
Morella mulai memasak masakan kesukaan Chen. Ia mengemasnya dengan rapi kedalam sebuah kotak makanan yang simple. Tak lupa juga Morella sedikit memoles wajahnya dengan beberapa make-up natural. Ia memakai baju yang rapi dan sopan. Setelah selesai, Morella menuju ke garasi dan naik ke mobil miliknya. Iapun melesat ke kantor Chen. Sesampainya disana.
            “Selamat pagi, nyonya..” Sapa seorang karyawan.
            “Pagi..” Jawab Morella sangat ramah.
            “Nona Morella..” Panggil pak Jin.
Morella menoleh.
            “Pak Jin.. Kenapa memanggilku dengan nona? Aku ini sudah menjadi nyonya Chen..” Jawab Morella tersenyum.
            “Benarkah? Ahahaha.. Iya, aku lupa.. Kau terlihat sangat muda.. Oh ya.. Kau mencari siapa??” Tanya pak Jin.
            “Hm? Tentu saja suamiku.. Dia ada di ruangannya??”
            “Pak Chen?? Tapi, sampai sekarang pak Chen belum datang..” Jawab pak Jin.
            “Apa? Belum datang? Tapi ia berangkat sangat pagi tadi..”
Pak Jin mengangkat bahunya. Morella dan pak Jin menuju ke ruangan Chen. Dan disana, memang tak ada siapa-siapa. Morella masuk kedalam dan melihat mejanya. Matanya tertuju pada sebuah kalender yang belum tersilang tanggal kemarin.
            “Biasanya kan Chen akan menyilang tanggal yang sudah berlalu..” Ujar Morella pelan.
Ia tahu benar, kebiasaan suaminya itu. Dan darisana, ia bisa tahu kalau Chen memang belum datang ke kantor. Morella mencoba menghubungi suaminya itu lewat ponsel. Alhasil, tak ada yang menerima. Malah, ponselnya tidak aktif. Morella agak khawatir bercampur kesal.
            “Kemana sih kau?? Membuat orang cemas saja..” Gerutu Morella.
Selang beberapa detik, ponsel Morella bunyi. Cepat-cepat ia menerimanya.
            “Wei?”
Morella melebarkan matanya dan mengerem mobilnya secara mendadak. Ia mendengarkan penjelasan dari suara yang keluar dari telfon itu. Rasanya, tulang-tulang Morella menghilang entah kemana. Tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Matanya memerah dengan cepat dan mengeluarkan buliran-buliran bening. Pikirannya menjadi kacau seketika. Perasaannya campur aduk. Ia menangis sesegukan di dalam mobil.
=說了再見=
            “Chen!!” Teriak Morella ketika ia sampai didepan sebuah ruangan.
Sudah ada beberapa orang yang ia kenal berdiri dan menangis tersedu-sedu disana. Diantaranya adalah ibunya dan mertuanya. Morella perlahan berjalan mendekat. Ia agak takut untuk menghampiri orang-orang itu.
            “Mama.. Chen mana...?” Tanya Morella lirih dan mulai serak.
            “Morella.. Kau harus tabah ya..” Jawab si ibu masih menangis.
            “Kenapa mama menangis semua? Ada apa dengan Chen? Dia baik-baik saja kan?” Tanya Morella menghibur diri.
Ibu dan mertuanya semakin tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Mereka menyuruh Morella untuk masuk kalau dia mau. Morella menelan ludahnya sangat berat ketika membaca ruangan yang akan ia masuki itu bertuliskan, ‘ruang mayat’.
            “Chen.. Apa yang kau lakukan didalam?” Batin Morella sambil perlahan mencoba untuk meraih pegangan pintu itu.
‘Krriieett!’ Suara pintu yang terbuka agak berat.
Morella masuk kedalam ruangan itu dengan sangat takut. Ia melihat ayah dan ayah mertuanya ada disana. Mereka terlihat habis menangis karena mata mereka merah dan agak bengkak.
            “Morella..!  Kau tidak perlu melihatnya, nak!” Larang si ayah.
Tapi, Morella tidak mempedulikannya. Ia tetap berjalan mendekat kearah orang yang tertutup semua oleh selimut putih. Belum sampai saja, Morella sudah meneteskan ribuan air mata.
            “Morella..” Panggil ayah mertuanya.
Morella tetap diam dan tetap bersikeras dengan niatnya. Ia perlahan sampai lalu tangannya meraih selimut yang menutupi orang yang berbaring itu. Dibukanya perlahan selimut itu, berdoa agar jangan Chen yang ada disana. Namun,
            “C.. Ch..”
Belum sempat Morella memanggil nama itu, ia pingsan.
            “Morella!!”
=說了再見=
Hari ini, banyak sekali orang-orang yang memakai baju hitam. Kenapa? Lalu, kenapa aku dan keluargaku memakai baju putih? Apakah ada yang meninggal? Siapa? Mataku masih terlalu berat untuk kubuka. Kesadaranku juga belum kembali sepenuhnya. Otak ini seperti mengalami amnesia.
            “Morella.. Minumlah..” Ujar ibuku lembut sambil memberikan segelas air untukku.
Aku enggan untuk meminumnya. Rasanya tenggorokanku sakit sekali. Tapi, aku sangat haus.
            “Ma.. Chen.. Chen mana??” Tanyaku setelah meminum 1 teguk air itu.
Aku melihat raut wajah ibuku langsung berubah. Wajahnya menjadi merah dan matanya membendung air mata. Kenapa?
            “Mo... Kau harus bisa merelakannya, Mo.. Kau harus bisa mengikhlaskan kepergiannya.. Jangan hambat jalannya, Mo.. Kasihan dia..” Ucap ibuku sambil memelukku.
Aku kembali meneteskan air mata. Aku tak tahu, sampai kapan mataku ini akan kering akan air mata? Kenapa air mata ini terus mengalir dengan deras? Dan jiwaku, rasanya hilang sebelah.
            “Pak Chen.. Selamat jalan..” Ujar para karyawan Chen yang sepertinya aku mengenal mereka.
Aku tahu. Aku ingat sekarang. Chen, suamiku. Sedang berbaring tertidur di dalam peti ini. Aku menatapnya kosong. Tatapan ini benar-benar tak ada isinya.
=說了再見=
Sekarang, aku sendirian. Sendirian di rumah ini. Ada orang tua dan mertuaku menemaniku. Tapi, entah kenapa rasanya aku sedang sendirian. Aku duduk diatas kasur sambil memeluk kakiku. Tanpa sadar, aku juga memainkan sebuah musik dari ponselku. Lagu yang sesuai dengan keadaanku saat ini. Heh.. Aku hanya bisa tersenyum miris.

說了再見 才發現再也見不到 - shuo le zai jian cai fa xian zai ye jian bu dao
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again 

我不能就這樣失去妳的微笑 - wo bu neng jiu zhe yang shi qu ni de wei xiao
I can't just lose your smile like this

口紅待在桌角 而妳我找不到 - kou hong dai zai zhuo jiao er ni wo zhao bu dao
The lipstick sits on the edge of the table, But I can no longer find you

若角色對調妳說好不好 - ruo jiao se dui diao ni shuo hao bu hao
What do you say to reversing roles with each other?

說了再見 才發現再也見不到 - shuo le zai jian cai fa xian zai ye jian bu dao
Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again

能不能就這樣忍著痛淚不掉 - neng bu neng jiu zhe yang ren zhe tong lei bu diao
Can I just hold back my tears, and hope they won't fall?

說好陪我到老 永恆往哪裡找 - shuo hao pei wo dao lao yong heng wang na li zhao
You said you'd be with me till we were old, Where do I find forever now?

再次擁抱一分一秒都好 - zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao
Just another embrace, just for a minute or even a second more.

Sepertinya beberapa bulir air mata kembali lolos dari mataku ini. Lagu ini benar-benar melukiskan diriku sekarang. Aku jadi teringat, kau memelukku ketika kau pulang sangat larut. Tidak. Bukan. Kau tidak pulang, Chen. Kau tidak pulang. Sampai saat ini. Kau tidak pernah pulang.
=說了再見=
Kubuka kedua mataku yang agak bengkak ini. Rasanya berat sekali hanya untuk membukanya. Aku sedikit menggeliat dan meregangkan otot-ototku. Kuresapi dan kuingat-ingat lagi apa yang telah kulalui.
            “Mo Mo..!”
Terdengar suara seseorang dari arah luar kamar. Aku langsung mendudukan posisiku. Karena, aku tahu suara itu. Aku tahu! Aku sangat kenal dan akrab dengan suara itu. Chen!
            “Chen...!”
Aku langsung keluar kamar tanpa memakai alas rumah dan tanpa memakai mantel rumahku. Aku berlari keluar dan... Tak kutemukan siapa-siapa. Kosong.
            “Chen.....” Lirihku sambil mendudukan diri di sofa.
Suasana benar-benar hening. Tak ada yang bisa kudengar selain nafasku sendiri.
            “Mo.. Sarapan hari ini apa?”
Aku menoleh kaget karena sesaat tadi, aku mendengar suara Chen tepat di telingaku. Aku benar-benar mendengar suara itu. Suaranya sangat jelas.
            “Chen...??”
Mataku tertuju kearah dapur. Aku tertarik untuk menuju kesana karena aku melihat ada secangkir kopi dan makanan ringan terletak diatas meja. Aku mendekat dan mendapati secarik kertas yang ternyata dari ibuku.
=說了再見=
            “Pak Jin.. Bagaimana kalau anda menjadi direktur kami? Pengganti pak Chen..” Usul seorang karyawan ketika ada rapat.
            “Saya? Ah.. Tidak tidak.. Saya tidak sehebat pak Chen.. Saya tidak pantas menggantikan pak Chen sebagai direktur..” Elak pak Jin.
            “Tapi, anda adalah wakilnya dan tidak ada orang yang bisa menyamai pak Chen selain anda..”
Pak Jin tersenyum diatas kemenangannya. Rencananya untuk menjadi seorang direktur utama melengserkan Chen pun berhasil. Banyak karyawan memberi selamat atas jadinya dia sebagai direktur.
            “Selamat ya, pak Jin..!”
            “Ahahaha.. Iya iya.. Terimakasih.. Mohon perhatian! Untuk merayakannya, bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama? Akan kutraktir kalian semua!” Umum pak Jin.
Para karyawan bersorak sorai senang. Di tengah-tengah gerombolan karyawan itu, pak Jin menghentikan pandangannya pada seorang pria. Matanya terbelalak tak percaya.
            “C... Ch.. Chen......” Ujarnya pelan.
Pak Jin mengusap-usap matanya cepat. Setelah dilihat lagi, ternyata tak ada siapa-siapa.
            “Mungkin hanya perasaanku saja..” Lirihnya lagi.
Malam harinya, sesuai rencana, pak Jin menraktir para karyawan untuk makan malam bersama. Mereka bersenang-senang hingga larut malam. Makan sepuasnya, minum alkohol bersama dan lainnya. Hingga hampir tengah malam, mereka mencukupi acara itu lalu kembali ke rumah masing-masing.
            “Hah.. Ini baru hidup.. Hehe.. Akhirnya aku bisa menjadi direktur utama.. Hahaha..” Ujar pak Jin puas ketika ia bersandar di kursi mobilnya.
            “Eh, tunggu.. Belum lengkap rasanya hidup ini kalau belum dilengkapi dengan senyumannya.. Hehe.. Pak.. Pergi ke rumahnya pak Chen, sekarang..” Ujar pak Jin.
            “Baik, tuan..”
Mobil berbalik arah dan melesat menuju ke rumah Chen yang disana hanya ada Morella seorang. Morella sedang menonton TV, walaupun tak benar-benar ditonton. Tatapannya ke TV namun kosong. Pikirannya tak ada di ruangan itu.
            “Mo Mo! Hahaha..”
            “Chen! Kau ini membuatku kaget saja.. Ckckck..”         
            “Hahaha.. Ya, maaf.. Kau sedang masak apa sih?? Sibuk sekali..”
            “Tentu saja masak makanan kesukaanmu..”
            “Hah?! Yang benar?”
            “Tentu saja! Sekalian kan, katanya teman-teman kantormu mau main ke rumah.. Makanya aku masak banyak..”
            “Hehehe.. Kau benar-benar istriku yang paling the best! Aku saja lupa kalau pak Jin dan kawan-kawan mau main.. Hahaha..”
            “Hah, kau ini.. Ck..”
Morella tersenyum miris ketika ia teringat akan potongan memorinya dengan Chen. Lamunannya terpecah oleh suara bel yang bersuara.
            “Eh.. Siapa yang datang malam-malam begini..?” Tanya Morella sambil melihat kearah jam.
Morella berjalan menuju  ke pintu. Ia membukakan pintu dan...... Bruk!
            “Eh!! Pak..!! Pak Jin?!”
Pak Jin terjatuh entah pingsan atau apa. Ia menindih tubuh Morella yang lemas karena tak makan apapun dari tadi.
            “Mo..” Panggil pak Jin tepat di telinga Morella.
            “Pak Jin.. Anda mabuk?! Berdirilah kumohon.. Se.. Sak..!”
Morella berhasil lepas dari tindihan itu. Ia mengambil oksigen sebanyak yang dia bisa. Dengan agak berat, pak Jin berdiri lalu memeluk Morella.
            “Pak.. Jin? Apa yang anda lakukan?!!” Bentak Morella merasa tak nyaman.
            “Kumohon.. Jangan panggil aku pak Jin.. Jangan bersikap formal padaku.. Kumohon, Mo..”
            “Eh..? Apa.. Yang anda bicarakan? Pak Jin.. Anda terlalu mabuk!”
            “Dengarkan aku, Mo.. Aku mencintaimu.. Tidakkah kau melupakan Chen?! Dia sudah pergi meninggalkanmu sendirian! Dia tega meninggalkan dirimu yang begitu menawan ini..”
Morella berusaha untuk melepas pelukan itu. Namun, badannya benar-benar tak bertenaga. Pak Jin menatap Morella yang sudah agak gemetar ketakutan.
            “Mo.. Mo Mo..” Panggil pak Jin.
Dipanggil seperti itu, Morella sesaat merasa terpanggil oleh Chen. Panggilan itu, hanya Chen yang memanggilnya begitu. Panggilan itu dibuat oleh Chen untuk panggilan sayang. Mata Morella memerah dan kembali membendung beberapa debit air mata.
            “Chen...” Lirihnya.
Pak Jin tersenyum lalu tanpa persetujuan ia menggendong tubuh lemas Morella. Ia berjalan menuju ke kamar.
            “Chen... Apakah.. Itu kau? Apa yang sedang menggendongku ini adalah dirimu? Kalau iya, aku takkan menolak, tapi.. Kalau bukan, tolong aku, Chen.. Aku.. Tak punya tenaga lagi untuk meronta...” Batin Morella.
Pak Jin membuka pintu kamar Morella dan Chen. Ia meletakan tubuh Morella diatas kasur. Lagi, Morella tak bergerak. Entah apa yang menghalanginya untuk bergerak, tapi yang pasti ‘hal itu’ hangat. Pak Jin membuka jas dan pakaiannya. Ketika ia membalikan badan,
‘Jder!!’ Suara petir yang terdengar sangat keras.
Pak Jin membelalakan mata selebar mungkin. Ia tersentak ketakutan hingga ia mundur kebelakang. Ia melihat sosok pria yang telah ia bunuh, kini tengah duduk di tempat ia membaringkan Morella tadi.
            “Pak.. C.. Chen!”
Pak Jin mengusap matanya berulang kali dan melihat kearah semula. Tak ada Chen disana. Tak ada, hanya ada Morella yang masih terbaring kian lama kian melemas. Pak Jin mengatur nafasnya lalu kembali melanjutkan aktifitas semulanya. Kembali, ia melepas bajunya lalu menindih Morella. Ia mengamati setiap garis wajah itu.
            “Wajahmu... Cantik.. Kulitmu.. Lembut.. Tapi, kau terlihat sangat lemah dan pucat...” Kata pak Jin membelai wajah istrinya Chen itu.
Pak Jin mendekatkan mulutnya ke Morella. Ia memejamkan mata, tiba-tiba ia merasakan mulutnya terhalangi oleh sebuah tangan. Pak Jin membuka mata langsung dan disana sudah ada Chen dengan wajah penuh kebenciannya.
            “Wa!! Chen!!!”
Pak Jin melompat dari kasur dengan sangat ketakutan. Kembali ia mencoba mengusap matanya dan hal itu berhasil tak ada Chen disana. Pak Jin menghela nafas.
‘Tes.. Tes.. Tes..’ Bunyi tetesan air dari arah samping pak Jin.
Pak Jin menoleh perlahan. Disampingnya sudah berdiri seorang pria dengan wajah sangat sangat pucat dan tubuh basah kuyup. Pak Jin sangat ketakutan disana hingga tubuhnya menjadi kaku tak bisa bergerak. Chen mengangkat kedua tangannya dan hendak mencekik pak Jin.
            “Pak Chen.. Maafkan aku.. Kumohon maafkan aku..” Ujar pak Jin gemetar.
Morella menolehkan kepalanya kearah pak Jin. Ia melihat orang itu ketakutan sendiri seperti orang gila. Chen? Tidak salah dengarkan telinganya? Tapi, ia sama sekali tidak melihat Chen ada disana.
            “Chen...” Panggil Morella bangkit duduk.
Tiba-tiba Chen menghilang dari hadapan pak Jin. Morella masih heran disitu. Pak Jin menghela nafas lega lalu menatap Morella. Ia menarik tangan Morella lalu menyambar bajunya yang tergeletak di lantai.
            “Kita.. Mau kemana?” Tanya Morella masih ditarik oleh pak Jin.
Tak ada jawaban. Pak Jin terus menarik Morella hingga keluar rumah. Ketika pintu rumah dibuka, Chen ada dihadapannya dengan tatapan membunuh. Pak Jin bersembunyi dibelakang Morella. Chen menghilang dari hadapannya. Kembali, pak Jin berjalan menarik tangan Morella kasar dan agak panik menuju ke mobilnya.
            “Kita pulang!” Perintah pak Jin.
Mobil dihidupkan dan melesat menjauhi rumah Morella dan Chen.
            “Apa?! Pak Jin! Kau mau membawaku kemana?!” Bentak Morella.
            “Mo.. Begini.. Aku melihat pak Chen daritadi.. Wajahnya penuh dendam dan hasrat ingin membunuh..”
            “Chen..? Anda melihat Chen?!”
            “Iya.. Tapi, bukan Chen yang kita kenal.. Wajahnya sangat menyeramkan dan daritadi ia ingin membunuhku... Ia mengejarku dan ketika ada dirimu, ia menghilang..”
Morella agak belum mengerti apa maksudnya. Chen menghilang ketika ada dirinya? Apa dia membencinya? Kenapa ia menghilang? Pak Jin terus menjelaskan hal-hal yang buruk mengenai Chen ke Morella, berharap ia bisa berbalik ke pelukannya.
            “Hei..! Kenapa kau membawa kami kemari?! Aku kan tadi bilang, pulang!” Bentak pak Jin ketika ia melihat jalan yang ia lewati bukanlah jalan pulang ke rumah.
            “Entah, tuan.. Saya sudah mengambil jalan yang benar.. Tapi, daritadi saya terus kembali ke tempat ini..” Jelas si supir.
            “Apa?”
            “Ini tempat apa?” Tanya Morella mengedarkan pandangannya ke luar jendela.
            “Ah, tidak.. Ini bukan tempat apa-apa.. Apapun caranya, keluarkan kami dari tempat ini!!”
            “Baik, pak!”
Pak supir itu kembali menginjak gas namun, tiba-tiba Chen ada di tengah jalan dan membuat si supir menjadi panik seketika. Ia membanting setir dan membuat mobil menjadi oleng.
=說了再見=
Ugh! Uhuk! Uhuk! Ugh.... Ng? Aku.. Masih hidup? Aku membuka mata dan memegangi kepalaku yang terasa sangat perih ini. Aku berusaha untuk keluar dari mobil. Aku terjatuh karena tubuh lemah ini terasa sangat perih. Ah, sial! Kenapa tubuhku menjadi tak berdaya begini?! Aku mendengar pak Jin keluar dari mobil dengan masih hidup. Syukurlah dia selamat. Tapi, ini dimana? Tempat apa ini? Perlahan aku mencoba untuk mengamati tempat itu. Kolam.. Renang?
            “Mo.. Mo Mo! Kau tak apa?” Tanya pak Jin khawatir.
Aku mengangguk dan entah kenapa ia malah memelukku.
            “Syukurlah.. Aku lega kau selamat..” Ujarnya.
            “Ini.. Tempat apa? Kolam renang?” Tanyaku.
Terlihat, pak Jin merasa aneh berada di tempat itu. Apa ia merasa tak nyaman berada disini? Tapi kenapa? Bukankah tadi dia bilang dia tidak tahu tempat ini?
            “Lebih baik kita pergi darisini..!” Ajak pak Jin.
Aku dan pak Jin saling membantu untuk berdiri dan berjalan. Namun, belum ada selangkah, aku mendengar seseorang berteriak.
            “AAAAAAAAAAAAAAA!!!! TOLONG!!!!”
Teriakan itu benar-benar sangat keras.
            “Suara siapa itu?!” Tanyaku.
            “Suara? Suara apa??”
            “Tadi.. Ada yang berteriak! Kita harus menolongnya!!”
Aku berlari masuk kedalam tempat yang cukup gelap itu. Pak Jin memanggilku tapi tak kuhiraukan.
            “Kau dimana?! Jawab aku!” Teriakku menoleh ke kanan kiri mencari orang yang meminta tolong tadi.
Aku berlari lagi semakin masuk.
            “Hei!! Kau dimana?!!”
Aku kembali mendengar suara. Kali ini suara barang terjatuh. Tanpa babibubebo, aku berlari kearah asalnya suara. Aku mengikuti langkah kakiku dan aku tiba di sebuah ruangan. Kamar mandi?
            “Halo! Kau dimana?! Jawab aku!” Teriakku lagi.
Tapi, tak kudengar jawaban apa-apa.
=說了再見=
Sial! Dia masuk ke tempat terkutuk itu! Masa aku harus masuk juga? Tapi, pulang juga tak mungkin. Baiklah, aku akan mengejarnya! Aku berlari mengejar Morella. Aku sudah hafal betul tempat ini karena ini adalah lokasi yang waktu itu aku dan pak Chen kunjungi.
            “Mo!! Mo Mo!!!” Teriakku memanggil namanya terus menerus.
Ah! Itu dia! Aku segera berlari kearahnya. Ia keluar dari sebuah ruangan. Tunggu! Ruangan itu... Kamar mandi...
            “Mo... Mo Mo!!” Teriakku.
Kulihat, Morella menoleh dan berlari kecil kearahku. Aku juga berlari kearahnya, tapi.. Dibelakangnya... Ada........... Chen!
=說了再見=
            “Pak Jin! Hm? Anda.. Kenapa?” Tanya Morella.
Pak Jin tak menjawab dan masih terlihat takut melihat kearah belakang Morela. Morella mengikuti arah pandang pak Jin, tapi tak dilihatnya apa-apa.
            “Pak Jin.. Anda.. Baik-baik saja kan??”
Lagi-lagi tak menjawab, Morella kembali menoleh kebelakang dan tak melihat apapun. Ketika ia membalikan kepalanya kearah pak Jin, entah kenapa pak Jin menjadi semakin histeris dan gemetar panik ketakutan. Pak Jin melihat wajah Morella berubah menjadi wajah menyeramkan Chen. Pak Jin lalu menyerang Morella. Ia memukul Morella.
=說了再見=
Aku... Aku dimana? Ah! Sa.. Sakit sekali..
            “Dimana ini....?” Lirihku sembari mengamati keadaan sekitar.
Woa!! Aku tersentak ketika melihat kebawah. Kenapa aku bisa ada diatas sini? Kenapa aku terikat? Pak Jin..? Ya, dimana dia?!
            “Hahahahaha!! Kau akan mati lagi, Chen!! Kau akan mati lagi!!” Teriak seseorang dari bawah.
Hm? Siapa pria itu? Tunggu.. Itu kan.. Pak Jin!
            “Pak Jin!! Apa yang kau lakukan?!!! Aku Morella!!!” Teriakku.
            “Kau takkan bisa membodohiku, Chen!! Kau akan mati tenggelam untuk kedua kalinya di kolam yang sama!! Kau akan mati!!!”
            “Pak Jin ini aku!!!! Aku Morella!!!”
Ia tak mendengarkanku. Tapi dia bilang....... Hah! Apakah tadi maksudnya.... Chen... Ini tempat.. Tempat dimana mayatmu ditemukan.. Apakah berarti kau mati disini? Chen.. Kolam ini, apakah kau tenggelam disini? Apakah.. Pak Jin.. Hiks.. Hiks.. Apa dia.. Hiks.. Yang telah.. Hiks.. Membunuhmu..??
Tali ini semakin mendekat ke tengah kolam. Aku menangis menyadari kenyataan yang harus kudengar. Suamiku.. Dibunuh oleh sahabatnya sendiri.. Suamiku mati disini.. Suamiku mati di kolam ini.. Suamiku.. Suamiku..

Aku datang..

BYUR!!!
=說了再見=
Pak Jin tertawa puas bisa membunuh rivalnya untuk kedua kalinya. Ia menceburkan Morella ke kolam renang dalam keadaan masih terikat. Walaupun Morella adalah seorang perenang handal, tapi tubuhnya sulit untuk digerakan akibat luka dan ketidak adaannya energi di tubuhnya. Morella menatap ke permukaan air yang terlihat bergelombang. Sangat tenang sekali berada di dalam kolam renang itu. Ia melihat pak Jin tertawa disana. Tapi, ia tersenyum dan memejamkan mata.
            “Hahahahahaha!!! Rasakan itu, Chen!! Rasakan!!!”
Pak Jin membalikan badan dan mendapati Chen ada disana. Chen dengan dada yang kembang kempis menahan amarah itu langsung mencekik pak Jin dan mendorongnya ke kolam.
Byur!
Pak Jin menggeliat meronta dan tak bisa nafas. Morella melihat pak Jin menendang-nendangkan kakinya dan terlihat sangat tersiksa di dalam air. Apa dia terkena serangan jantung? Morella hendak menolong orang jahat itu, tapi kali ini ia bisa melihat Chen yang sedang mencekik pak Jin. Morella tersentak kaget, apalagi setelah Chen menoleh kearahnya dengan tatapan dingin. Chen melepas cekikan tangannya dari pak Jin dan melesat kearah Morella. Morella sudah agak takut disana. Ia hendak berenang tapi, semua menjadi gelap.
=說了再見=
Untuk yang ketiga kalinya, aku membuka mataku. Badanku basah, kepalaku masih sakit, tubuhku semakin lemas, badanku sakit semua dan nafasku sesak. Dan juga aku bersandar di bahu suamiku.
Dheg! Jantungku rasanya berhenti berdetak, ketika bisa melihat lagi orang yang kusayangi tersenyum. Air mataku menghias di bawah mata. Rasa sakit semuanya hilang. Angin malam yang dingin menjadi hangat.
            “Mo..” Panggilnya masih dengan senyum.
            “C... Ch.. Chen...” Jawabku agak kesusahan.
Ia semakin melebarkan senyumnya. Astaga, Tuhan. Terimakasih banyak aku masih bisa melihatnya lagi. Aku langsung memeluknya erat. Kali ini, tak kutahan lagi air mataku untuk keluar.
            “Chen...!”
Aku menangis di dekapannya. Pelukan yang hangat itu, aku rindu.

妳的笑 妳的好 腦海裡 一直在繞 - ni de xiao, ni de hao, nao hai li yi zhi zai rao
Your smile, your goodness, they're spinning around in my mind

Senyuman itu. Kehangatan itu. Kelembutan itu. Aku rindu semua. Semuanya.
            “Chen.. Aku merindukanmu, Chen..” Ujarku di sela-sela tangisku ini.
Memang terdengar sedikit serak, tapi aku yakin ia mengerti apa yang kubicarakan.
            “Aku juga rindu, Mo..” Jawabnya sambil mengelus rambutku.
            “Kau tahu? Aku sangat tersiksa.. Rasanya benar-benar sakit, Chen.. Jiwaku seperti hilang separuh.. Aku sama seperti dengan orang yang sudah mati, Chen..!”
Kembali kubasahi dadanya dengan airmataku.

我的手 忘不了 妳手的溫度 - wo de shou wang bu liao ni shou de wen du
My hands, can't forget the warmth of your hands

心碎了一地 撿不回 - xin sui le yi di jian bu hui
My heart's shattered on the floor, never to be mended again

從前的心跳 身陷過去 - cong qian de xin tiao sheng xian guo qu
My rapid heartbeats from before

我無力逃跑 - wo wu li tao pao
I can't escape from the past

            “Chen..”
            “Hm?”
            “Jangan pergi lagi ya..”
Ia tersenyum manis walaupun aku tak melihatnya. Ia melepas pelukan dan memegangi kedua pipiku yang basah.
            “Tidak bisa, Mo.. Aku harus pergi lagi.. Pergi tugas ke luar..”
            “Berapa hari?”
            “Sampai waktu memberiku kesempatan untuk bisa bertemu denganmu lagi..”
            “Tapi...”
            “Mo.. Kau adalah wanita yang tegar dan kuat.. Aku menyukaimu karena itu.. Kau tahu itu kan?”
Aku mengangguk teringat kalimatnya yang hancur ketika ia menyatakan perasaannya padaku. Ia tersenyum lagi dan mengusap kedua pipiku lembut untuk menghilangkan bekas basah.
            “Chen.. Bagaimana kalau aku rindu padamu?”
            “Aku kan selalu disini..” Jawabnya lembut dan penuh kehangatan.
Rasanya hati ini menjadi tenang dan tidak khawatir lagi. Hatiku rasanya lega dan nyaman. Rasanya menjadi ringan untuk bisa tersenyum sekarang. Aku tahu ini adalah perpisahan. Dan setelah mengatakan salam perpisahan, aku tahu kalau kita takkan bisa bertemu lagi sampai aku menyusulnya nanti. Aku tahu itu semua.
Aku tahu setelah ini, aku takkan bisa lagi merasakan tangan hangatnya. Aku takkan bisa melihat senyum lembutnya. Aku takkan lagi mendapatkan kecupan manisnya. Dan aku takkan bisa lagi untuk bermanjaan dengannya. Tapi, aku adalah wanita yang tegar!
            “Chen.. Hehe.. Aku hamil..” Ujarku akhirnya membongkar rahasia kejutan yang sebenarnya sudah kusiapkan matang-matang.
            “Benarkah? Wah.. Hehehe.. Selamat ya, Mo! Hihihi.. Aku akan menjadi ayah!”
Kulihat ia begitu senang. Ia juga mengelus perutku yang belum besar ini. Tapi aku senang ia bisa tertawa. Untuk terakhir kalinya.
            “Mo..” Panggilnya walaupun daritadi kami sudah saling menatap.
Ia tersenyum padaku. Aku membalas senyum itu dengan memberikan senyuman terbaikku. Ia memberikanku kesempatan sekali lagi dan kesempatan terakhir untuk merasakan kelembutan dan rasa manis bibirnya. Walaupun dihiasi dengan air mata yang mengalir di pipi, tapi rasanya masih sama dengan ciuman Chen seperti biasanya. Rasanya enggan untuk melepas ciuman ini, tapi aku butuh oksigen untuk bernafas kan? Hehe.. Kami saling tersenyum satu sama lain, hingga ia menghilang dengan lembut.
=說了再見=
Morella duduk di kursi penonton yang ada di barisan paling atas. Ia tersenyum disana bersamaan dengan munculnya matahari. Dan bersamaan dengan hilangnya Chen. Untuk yang kedua kalinya.
            “Selamat jalan Chen.. Zai jian..” Bisiknya lalu tersenyum penuh kelegaan.
=說了再見=
            “Huaaa....!! Kau hamil, Mo!!” Ujar ibunya dan ibu mertuanya gembira.
Morella ikut senang dan ikut berlonjak-lonjak ria bersama dengan ibu-ibu itu.
            “Eh eh eh.. Jangan loncat-loncat.. Hahaha.. Kau harus jaga cucu kami!” Kata para ibu serius.
Morella menunjukan ibu jarinya tanda siap. Mereka tertawa dan tersenyum. Morella berjalan keluar untuk sekedar menghirup udara segar. Ia menikmati angin yang berhembus dengan hangat itu.
            “Chen.. Hihi..”

Romaji
tian liang le
yu xia le
ni zou le
qing chu le
wo ai de
yi shi le
luo ye piao zai hu mian shang shui zhao le

xiang yao fang
fang bu diao
lei zai piao
ni kan kan
ni kan kan bu dao
wo jia zhuang guo qu bu zhong yao
que fa xian zi ji ban bu dao

shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
wo bu neng jiu zhe yang shi qu ni de wei xiao
kou hong dai zai zhuo jiao
er ni wo zhao bu dao
ruo jiao se dui diao ni shuo hao bu hao

shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
neng bu neng jiu zhe yang ren zhe tong lei bu diao
shuo hao pei wo dao lao
yong heng wang na li zhao
zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao

tian liang le
yu xia le
ni zou le
qing chu le
wo ai de
yi shi le
luo ye piao zai hu mian shang shui zhao le

xiang yao fang
fang bu diao
lei zai piao
ni kan kan
ni kan kan bu dao
wo jia zhuang guo qu bu zhong yao
que fa xian zi ji ban bu dao

shuo le zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
wo bu neng jiu zhe yang shi qu ni de wei xiao
kou hong dai zai zhuo jiao
er ni wo zhao bu dao
ruo jiao se dui diao ni shuo hao bu hao

ni de xiao
ni de hao
nao hai li
yi zhi zai rao
wo de shou
wang bu liao
ni shou de wen du
xin sui le yi di
jian bu hui
cong qian de xin tiao
sheng xian guo qu
wo wu li tao pao

shuo zai jian
cai fa xian zai ye jian bu dao
neng bu neng jiu zhe yang ren zhe tong lei bu diao
shuo hao pei wo dao lao
yong heng wang na li zhao
zai ci yong bao yi fen yi miao dou hao

Kanji
天涼了 雨下了 妳走了
清楚了 我愛的 遺失了
落葉飄在湖面上睡著了

想要放 放不掉 淚在飄
妳看看 妳看看不到
我假裝過去不重要 卻發現自己辦不到

說了再見 才發現再也見不到
我不能就這樣失去妳的微笑
口紅待在桌角 而妳我找不到
若角色對調妳說好不好

說了再見 才發現再也見不到
能不能就這樣忍著痛淚不掉
說好陪我到老 永恆往哪裡找
再次擁抱一分一秒都好

天涼了 雨下了 妳走了
清楚了 我愛的 遺失了
落葉飄在湖面上睡著了

想要放 放不掉 淚在飄
妳看看 妳看看不到
我假裝過去不重要 卻發現自己辦不到

說了再見 才發現再也見不到
我不能就這樣失去妳的微笑
口紅待在桌角 而妳我找不到
若角色對調你說好不好

妳的笑 妳的好
腦海裡 一直在繞
我的手 忘不了 妳手的溫度
心碎了一地 撿不回
從前的心跳 身陷過去我無力逃跑

說再見 才發現再也見不到
能不能就這樣忍著痛淚不掉
說好陪我到老 永恒往哪裡找
再次擁抱一分一秒都好

Translation
The weather is cool, the rain is falling, you are leaving
It is crystal clear that I have lost my dear one
The fallen leaves rest upon the surface of the lake

I want to let go, but it is hard to do so, the tears are falling
You look, but you don't see
I pretend to myself that the past is insignificant, but I realize that I cannot do it

Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
I can't just lose your smile like this
The lipstick sits on the edge of the table
But I can no longer find you
What do you say to reversing roles with each other?

Having said goodbye, I realize that I will probably never see you again
Can I just hold back my tears, and hope they won't fall?
You said you'd be with me till we were old
Where do I find forever now?
Just another embrace, just for a minute or even a second more.

Your smile, your goodness,
they're spinning around in my mind
My hands, can't forget the warmth of your hands
My heart's shattered on the floor, never to be mended again
My rapid heartbeats from before,
I can't escape from the past


-Fin-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar