Jumat, 01 Juli 2016

IDYLLIC {Part 2}

Alteration

Berubah bukanlah hal yang negatif. Meskipun berubah menjadi lebih buruk atau ada perubahan dari peningkatan ke penurunan, di baliknya selalu ada alasan yang mendasari. Entah emosi, perilaku, maupun situasi yang menjadi faktor pengubahnya. Setiap manusia setuju tidak setuju, mau tidak mau, suka tidak suka, harus merasakan perubahan dalam hidupnya. Karena variasi itu nantinya akan membentuk manusia menjadi lebih bernyawa.
Perubahan tak hanya terjadi sekali seumur hidup. Ada perubahan yang menanti di setiap langkah kita. Pilihan untuk dinamis atau statis tentu masih dipegang masing-masing manusia. Namun, apabila perasaan sudah terjun di tengah jalan kehidupan yang akan kita lalui, kurasa apapun pilihan yang kau buat, hasilnya hanya dua.
Suka dan duka.

“Ya, chef hyungnim..!” panggil Chan bersandar di counter dapur.
“Mwoya?” respon Seokmin sibuk mengecek menu malam natal.
“Pria yang duduk di meja 6 itu, siapa?”
Seokmin sejenak mendongak untuk melihat pria yang dimaksud. “Eih, kenapa kau tanyakan itu padaku? Kau tahu kan hidupku habis di dapur? Nona resepsionis saja aku tidak kenal!” chef dapur iblis itu pun emosi.
“Tidak perlu marah juga kan..? Aku hanya tanya karena penasaran...” lirih Chan mundur selangkah.
“Memang kenapa dengannya? Sejak kapan kau jadi gay?”
“Enak saja! Aku tidak gay, hyung!!” elak Chan cepat ikut emosi.
“Lalu kenapa kau penasaran padanya?”
“Tuh! Daritadi pria itu terus menatap managernim yang sedang menemani ketua Hong lunch!” ujar Chan kembali berpangku dagu.

Pria itu, Kwon Soonyoung, sejak jam 12 sudah siap di meja resto untuk mengambil lunchnya. Oh tidak, sebenarnya dia cuma mau menggoda Clover saja. Tapi niatnya sirna ketika pria bernama Hong Joshua menarik Clover dari hadapannya.

“Dilaporkan saat ini terjadi kebakaran manusia di meja nomor 6, restoran gedung utama. Saya Boo Seungkwan, Idyllic, melaporkan..” Seungkwan berdiri di samping Seokmin, mengakhiri laporannya.
“Sekretaris Boo, kau kenal pria itu?” tanya Seokmin ikut penasaran.
“Duh kalian ini seperti manusia goa saja. Makanya keluar dan lihat dunia, ckckckck. Kasihan sekali banyak ketinggalan berita,” sindir Seungkwan sinis.
“Hih, kupanggang juga mulutmu..!” Seokmin mengangkat alat roastednya.
“Hahaha, bercanda,” benahnya cepat sebelum kehilangan mulut seksi. “Itu calon pacarnya noonim,” kali ini ia berbisik dengan hati-hati.
“Jinjja? Woa, kenapa mendadak managernim mau pacaran dengan pria asing?” Chan terdengar sangat antusias.
“He, dasar anak kecil.. Tentu saja mereka itu sudah saling mengenal, kau ini bagaimana sih?”

“Tapi dari pengamatanku, cinta pria itu bertepuk sebelah tangan ya?” chef kepala melakukan analisis saat itu juga.
“Darimana hyung tahu?” kepolosan Chan benar-benar membuat Seungkwan pusing.
“Aku ini seorang suami dan seorang ayah. Sudah pernah lah melewati masa-masa percintaan begitu, jadi tahu..” jawab Seokmin sedikit bangga.
“Eh! Berikan secangkir teh untukku,” pinta Seungkwan. “Teh apa saja..!” lanjutnya.
“Kau mau apa?” nada Seokmin terdengar curiga.
“Aku ada ide..”

Seungkwan berjalan membawa cangkir tehnya ke meja nomor 6. Ia mengambil tempat duduk tepat di depan Soonyoung yang masih menatap meja 14–tempat duduk Joshua dan Clover. Meski Seungkwan sudah duduk di sana tapi tatapan Soonyoung masih sama, tajam terbakar api cemburu.

“Good afternoon!” sapa Seungkwan ramah setelah menyamankan pantatnya di bantal kursi.
“Minggir,” jawab Soonyoung pendek. Seungkwan menutupi pandangannya dari Clover.
“Aigoo i saram.. Mister, kalau hanya ditatap saja tidak akan bisa datang sendiri..” ucap Seungkwan.
“Tch, kau ini mengganggu saja.. Apa maksudmu?”
“Biar kujelaskan, ah sayang aku tidak bawa papan tulis, tapi tak apa..” Seungkwan berdehem sekali. “Ini mister, ini noonim, dan ini daya tatap mister.. Daya ini tidak cukup kuat untuk merubuhkan sistem imun noonim yang sangat kebal dengan keadaan sekitarnya.. Paham?”
“Jadi menurutmu aku harus bagaimana?”
“Langsung terjun hancurkan duar!” Seungkwan menusuk-nusuk meja dengan jarinya. Ia sangat yakin saat ini.

“Ya, kau tahu?” Soonyoung menyandarkan tubuhnya ke pinggir meja. “Pria yang disana itu Hong Joshua, ketua Ehrgeiz Corporation, salah satu pemilik Idyllic..”
“Eo, lalu?” Seungkwan ikut mencondongkan tubuhnya.
“Dia yang membayarku untuk membuat bangunan ini, kau paham?” kali ini Soonyoung yang menunjamkan jarinya ke meja.
“Jamkkan! Wait wait wait..!” sela Seungkwan. “Kau bilang apa barusan? Membayarmu membuat Idyllic?” pertanyaan itu mendapat anggukan kilas dari Soonyoung.
“Wae?” tanya Soonyoung melihat wajah Seungkwan menjadi, err, tidak bisa dijelaskan.
“Holysh-“ hampir saja Seungkwan mengumpat. “Oh my God! Kau! Ternyata kau adalah..! Oh, sh-!”
“Apa sih? Kenapa kau malah mengata-ngataiku begitu..?!” protes Soonyoung.
“Oh God! Kau.. Adalah.. Tim arsitek Idyllic??”
“Ya, aku kepala timnya.. Kenapa?”

Kehabisan kata, Seungkwan memilih mundur. Ia berjalan cepat kembali ke counter dapur untuk memberitahu para makhluk goa tentang breaking news ini. Sedangkan Soonyoung hanya bisa terdiam keheranan di tempatnya.

“Hm? Oh, is that really him?” gumam Joshua menyipitkan matanya.
“Who are you staring at?” tanya Clover kemudian menoleh mengikuti arah pandang Joshua. “Soonyo-“
“Edward!!” panggil Joshua dengan nada antusias.
“Edward?” Clover menaikkan satu alisnya bingung.

Joshua mengajak Soonyoung untuk duduk di bersama di meja itu. “Here, you look lonely there. You can sit with us,” kata Joshua ramah.
“Well, thanks..” jawab Soonyoung duduk di antara Joshua dan Clover.
“Oh, Clover.. It must be your first time meet Edward, right?” tanya Joshua. “And, Edward.. This is Clover, my precious lady..” lanjutnya beralih menatap Soonyoung. “So, why don’t you greet each other?”
“Seriously, Josh? You want me to greet your lady?” tanya Soonyoung nakal.
“You can’t do much though.. This lady is as cold as ice,” jawab Joshua pura-pura serius.
“Oh really? Is that how you think about me?” Clover menyilakan tangannya.
“Why? It is true, anyway..”
“Well, maybe this ice-lady-like should go and just act cold around you from now on..”
“Oh, no~ I am just kidding.. Please don’t do that to me..” rengek Joshua. “By the way, you two haven’t greet each other.. Its not polite, you know?”

Soonyoung saling tatap dengan Clover. Si Ice-Lady yang pertama kali mengulurkan tangan, kemudian dibalas oleh Soonyoung. “So, Soonyoung.. You have an interesting english name. How did you get that? Did you choose it by yourself?” tanya Clover.
“You mean Edward? No, my friends made it for me,” jawab Soonyoung.
“Wowowow, hold on guys..” sela Joshua. “You’ve already know each other?”
“As you see, Josh..” kata Soonyoung santai.
“What? Why didn’t you tell me before? Oh my God, so I am the stranger here? Nice..”
“Haha, you are overreacting..”

“Sekarang, bagaimana kalian bisa saling kenal?” tanya Clover.
“Kau tidak tahu, Clo?” Joshua mengembalikkan pertanyaan itu.
“Tentang kalian? Nope,” jawab Clover.
“Astaga, Edward adalah ketua tim arsitek yang kukontrak untuk membangun Idyllic..”
“Apa?” tanya Clover cepat saking tak percayanya.
“Pria ini adalah arsitek jenius yang merancang struktur bangunan Idyllic, Clover.. Dia mengambil peran besar dalam pembangunan Idyllic ini..” jelas Joshua sekali lagi.
“Jin..jja...” lirih Clover mengalihkan tatapan ke Soonyoung yang sudah memasang senyum bangga sambil mengangguk-anggukan kepala. “Wah, pandanganku terhadapmu langsung berubah drastis!”
“Mwo? Jadi selama ini kau memandangku bagaimana?” tanya Soonyoung sedikit tak terima.

<> 

Minghao meremas ujung bajunya gugup. Saat ini anggota tim kreatif dengan rapi berjajar di sisi ruang kerja mereka. Benar, mereka menanti kedatangan seseorang. Presdir Kim Mingyu, pemilik Felicity Company.
Camellia menggerak-gerakkan kakinya tak sabar. Ia belum makan siang, please! Kenapa juga presdir datang di jam istirahat? Sebentar lagi waktu makan siang juga sudah mau habis, lalu dia dan anggotanya harus mati kelaparan begitu?! Wanita itu mendengus pelan agar general manager tak menyemprotnya dengan omelan. Pria bermata bulat yang berdiri di sebelah Camellia, Minghao, semakin cemas melihat rambut berantakan ketua tim mereka. Well, itu memang style Camellia Han.
Rambut yang disisir dengan tangan, dijepit satu kemudian poni yang disibakkan dengan sirkam. Oh jangan lupa kacamata yang bertengger di kepalanya. Sweater lengan panjang dengan potongan turtle neck, celana kain hitam, dan flat shoes. Hello! Siapa sangka presdir akan kunjungan secara mendadak begini? Ia keburu ganti pakaian tadi, hah.

“Presdir sudah datang,” sebuah suara tak dikenal menyiagakan orang-orang di dalam ruang.
“Sunbaenim, rambutnya ditata dulu..!” bisiknya khawatir.
“I don’t care, ck!” jawab Camellia sudah kesal.

“Selamat siang, presdir Kim..” general manager langsung menyapa begitu melihat Mingyu. Pria itu tak menjawab, hanya membagi pandangannya beberapa detik lalu mengalihkannya ke yang lain.
“Sunbae, ayo sambut dia..” bisik Minghao menyenggol lengan Camellia.
“Ck, hish!” desis wanita itu sebal. “Selamat datang, presdir Kim..” sapa Camellia berubah ramah. Ia menampilkan senyum terbaiknya berharap Mingyu segera pergi. Demi Tuhan dia sudah lapar!

“Selamat siang, Han sunbae..” balas Mingyu melempar senyum lebar. Wajah anak itu berubah drastis, dari tegas ke ramah. “Ruang kerja tim kreatif sangat rapi ya, ini pasti berkat sunbae.. Aku lega ada sunbae disini sebagai ketua tim kreatif..” ujar Mingyu.
“N-ne, begitulah..” jawab Camellia ragu.
“Kurasa tim kreatif patut mendapat hadiah karena kebersihan ruang kerja ini.. Bagaimana menurutmu, sekretaris Lee?”
“Ya, presdir. Saya sependapat dengan presdir Kim,”
“Baiklah-“

‘Gubrak!!!’ suara keras itu memotong kalimat Mingyu. Semua mata langsung teralih ke asal suara. Berbagai macam benda yang dijejalkan ke lemari kini berserakan mengotori ruangan itu dalam sekejap. Seluruh anggota tim kreatif sudah menelan ludahnya berat. This is bad.

Perlahan Camellia menatap Mingyu. Ouh, ini sangat memalukan sekali! “Ehem,” dehem Mingyu mengembalikan perhatian orang-orang disitu. “General Manager Oh!” panggil Mingyu galak.
“Saya, presdir..” jawab Pak Oh membungkukkan badannya. “Saya benar-benar minta maaf atas kelalaian ini, saya-“
“Kenapa ruang kerja tim kreatif sempit sekali, eoh?” sela Mingyu.
“Ye?” mungkin Pak Oh salah dengar.
“Kau tidak lihat mereka punya dan butuh banyak space untuk menyimpan barang-barang mereka. Bekerja di tempat sempit juga tidak membantu melancarkan ide kreatif! Segera renovasi ruang kerja ini!” perintahnya.
Pak Oh terdiam sesaat. “Ah, baik.. Baik, presdir Kim!” jawabnya menurut.

Camellia dan anggota tim kreatifnya hanya bisa mengerjapkan mata. Dia tidak menyalahkan mereka tapi malah menyalahkan ruangannya? Hee..

“Astaga! Ini sudah lewat jam istirahat..” kata Mingyu melihat jam tangannya. “Han sunbae,” Mingyu menatap Camellia dengan mata berbinar-binar. “Ada rapat yang harus kuhadiri, aku harus pergi..”
“Oh.. Okay..” jawab Camellia seadanya. Dia masih mencerna kejadian ini.
“Berhubung sudah lama kita tidak bertemu, ada banyak hal yang harus kubicarakan padamu..”
“Hal yang harus dibicarakan?” Camellia sedikit memiringkan kepalanya. Memangnya apa coba? Dia kan sama sekali tidak pernah dekat dengan adik kelas ini.
“Aku ada jam kosong saat makan malam, kuharap Han sunbae tidak keberatan meeting denganku saat makan malam..”
“Tidak juga, aku akan datang..” jawab Camellia. Heh! Mana mungkin dia menolak? Pak Oh daritadi sudah melempar death glare begitu, bisa dipenggal kalau macam-macam dengan presdir Kim kan?

Pada akhirnya tim kreatif masih bisa menghela nafas lega. Nyawa mereka selamat untuk saat ini. Untung Pak Oh langsung pergi mengikuti jejak Mingyu, coba kalau tidak. Beuh, telinga mereka bisa merah diceramahi general manager itu. Baiklah, karena Tuhan masih sayang mereka, sekarang waktunya bersih-bersih yang sesungguhnya. Tidak boleh asal jejal ke almari!

“Hello, Clo?” Camellia menyapa dari bluetooth.
“Eoh? Wae?” jawab Clover dari seberang sana.
“Sepertinya aku tidak bisa makan malam bersama Soonyoung nanti.. Sorry,” ucap Camellia dengan nada lemas. Jujur saja, dia sangat ingin menghabiskan waktu bersama teman lamanya. Refreshing! Tapi si Mingyu malah mengajaknya meeting.
“Yah, sayang sekali.. Dari nadamu pasti kau ada kerjaan ya?”
“Begitulah..”
“Ya sudah tak apa.. Lain kali masih bisa, semangat ya!!”

Selesai mengadu kesedihan ke Clover, Camellia berkacak pinggang. Oh oh, iblisnya mulai keluar. Minghao sudah beberapa langkah menjauh dari wanita itu, antisipasi.

“Kim Mingyu...” geram Camellia. “Lebih baik ini meeting yang penting atau kutarik rambutmu itu, hmph!!”

<> 

Celandine berjalan cepat sambil membolak-balik berkas pasien VVIP yang menumpuk di meja kerjanya. Dia paling malas kalau harus berurusan dengan pasien VVIP. Kenapa? Karena alasan mereka dirawat di rumah sakit ini sangat konyol!
Coba lihat saja, ada yang minta perpanjangan rawat inap karena ia jatuh cinta pada perawat, ada yang masuk ke sini hanya karena tertusuk duri kaktus. Ouh! Mereka pasien elit yang manjanya keterlaluan! Tapi apa daya, sudah menjadi tugasnya untuk menangani pasien VVIP. Bagaimanapun dia adalah dokter kepala rumah sakit Idyllic ini.

“Vernon,” panggil Celandine menghampiri meja counter registrasi.
“Hm, wae?” tanya Vernon balik juga sibuk memeriksa data pasien naungannya.
“Bisa tidak kau alihkan tugas ini ke dokter lain?” Celandine sedikit membanting map berkas yang ia bawa ke meja. Vernon membaca sekilas lalu tersenyum paham.
“Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah kau adalah direktur utamanya?” jawab Vernon tak menatap Celandine.

Sesaat Celandine terdiam. Kenapa tidak terpikir olehnya? Ouh, ini sungguh memalukan! “Ah, akan kuganti sendiri kalau begitu,” ujarnya menarik kembali map dari atas meja.
“Tapi kau harus mengurus prosedur rumah sakit lebih dulu. Ada surat perjanjian yang harus diproses sebelum akhirnya kau melimpahkan tugas dokter VVIP ke dokter lain,” celetuk Vernon. Celandine memutar bola matanya. Seharusnya ia tahu hal ini!
Wanita itu membalik badan menatap Vernon santai. “Kalau kau membantuku mengurus ini, akan kuberi tahu kunci mendekati Clover lagi,” katanya.
“Call,” jawab Vernon singkat sambil mengambil map berkas VVIP dari tangan Celandine.
Senyum penuh kemenangan langsung tergambar di raut wajah Celandine. “Sudah ya, aku akan off selama beberapa jam. Ada janji yang harus kutepati hari ini,” pamit Celandine kembali ke ruangannya.
“Ye ye. Jangan kembali sebelum Matheo tidur!”

Bukan Choi Hansol Vernon kalau ia tak tahu ketuanya, Celandine Huang. Janji yang ia buat hari ini lebih penting dari janji rapat sebelum-sebelumnya yang pernah ada. Hari ini Celandine harus off kerja apapun caranya untuk mengajak Matheo keliling Idyllic. Ini pertama kalinya Celandine menunjukkan tempat kerjanya ke Matheo.

“Theo-ya~” panggil Celandine begitu melihat sosok anaknya celingukan di depan pintu masuk sekolah Idyllic.
“Mama!!” sahut Matheo dengan nada riang. Ia langsung berlari memeluk ibunya.
“Aigoo, anak mama..” Celandine mengelus kepala anaknya dengan senyum bangga. “Kita pergi sekarang?” ajaknya.
“Eung!”

Celandine dan Matheo bergandengan tangan menuju ke mini car. Tentu saja mereka akan ke gedung utama terlebih dulu. Sekalian makan siang–meski sudah lewat jam makan siang sih. Sepanjang perjalanan Celandine menunjuk-nujuk taman sembari menjelaskan itu tempat apa dan apa yang ada disana. Matheo juga sesekali mengajak bercanda ibunya, saling menggelitik, menusuk pipi, lalu mengecup kilas. Ini benar-benar waktu yang sangat berharga.

“Nah, kita sudah sampai.. Hap!” Celandine memegangi tangan anaknya yang melompat dari mini car. “Theo, mama lapar.. Kita makan dulu ya,” pintanya.
“Matheo sudah makan.. Boleh kalau Theo beli es krim saja?”
“Boleh saja!”

Celandine yang ini sungguh beda dari Celandine Huang, si dokter kaku. Tangannya yang terus menggandeng tangan kecil Matheo terkesan sangat kuat tak bisa dilepaskan. Ia sungguh mengasihi Matheo. Siapapun ayahnya.
Mata Celandine menangkap sebuah sosok pria yang sangat familiar untuknya. Pria itu pakai mantel hitam, duduk membaca buku di bangku taman area gedung utama. Selama beberapa detik pandangan Celandine terpaku hanya pada pria itu.

“Mirip sekali..” gumamnya pelan.
“Hm? Mama bilang apa?”
“Ah, tidak. Bukan apa-apa,” jawab Celandine. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke pria disana. Sosok yang sangat ia rindukan, sosok yang berhasil membuka luka lama hanya dengan postur tubuhnya, sosok yang membuatnya menjadi kuat, dan sosok yang pernah ia sakiti.

<> 

Seorang pria berkulit putih, berwajah tegas sangat berwibawa, masuk ke gedung utama. Ia segera mengedarkan pandangan mencari seseorang. Karena tak kunjung menemukan orang yang ia cari, pria itu pun berjalan ke meja resepsionis.

“Permisi,” sapanya dengan suara khas–nice manly voice, mengalihkan pandangan officer. Kehadirannya memporak porandakan degup jantung para officer resepsionis saat itu juga. Hampir sepuluh detik para officer wanita di meja resepsionis terpesona mengamati wajah pria ini.

Lekuk yang sangat dewasa dan aura yang sangat husband material. Pria itu ikut terdiam, heran dengan situasi yang ia hadapi sekarang.

“Dahinya.. Dahinya..!” bisik salah seorang officer kegirangan. “Sesange... Matanya menarikku ke dalam...” sahut yang lain.
“Eee, apakah ada yang salah?” tanya pria itu hati-hati.
“Tentu saja tidak, tuan!!!” jawab mereka serempak berebut tempat duduk untuk melayaninya.
“Itu.. Aku hanya mau bertanya dimana aku bisa menemukan Choi Cheongseol,” katanya.
“Choi Cheongseol?” mereka saling tatap. “Itu bukannya manager bagian perhotelan? Clover managernim,” ujar mereka.
“Ya, dia yang kumaksud..”

“Oppa?”

Suara Clover menolehkan kepala mereka yang ada disana. Bisik-bisik officer ‘Oppa? Oppa?’ sedikit terdengar.

“Cheongseol-a, annyeong!” sapa pria itu menunjukkan senyum ceria.
“Hah, kenapa tidak menghubungi aku dulu?” Clover berjalan mendekat.
“Surprise?” pria itu membuka dua tangannya.

“Hyungnim?!!!!!!” teriakan Seungkwan membahana menarik perhatian. Ugh, Clover sudah membuang muka malu berharap ia tak mengenal pria tembam itu. “Seungcheol hyung!!” teriak Seungkwan berlari kemudian membungkuk 90 derajat saking senangnya.
“Oho, kau berkembang dengan sangat pesat ya.. Terakhir kita bertemu, kau masih terlihat seperti batita!”
“Ah, hyungnim ini.. Kalau sekarang?”
“Balita,” jawab Seungcheol pendek.
“Hyungnim~” rengeknya.
“Haha, bagaimana? Apa kau menjaga adikku seperti yang kutugaskan padamu?”
“Tentu saja! Sekarang aku akan melaporkan kondisi noonim saat ini, ehem hm!”

“Kalian berdua, please..” cegah Clover lelah.

“Seperti biasa, noonim masih belum menerima cinta Ketua Hong..” lapor Seungkwan dan Seungcheol manggut-manggut mendengarkan. “Kesehatan fisik, bagus. Suara, masih saja lembut. Profesionalitas kerja, sangat tinggi. Jumlah rambut, sangat banyak. Kulit, putih merona dengan sehat. Makan, kalau ada waktu. Kapan ada waktu? Jeo do moregesseoyo..”
“Mwo? Ya, Choi Cheongseol..! Kau melewatkan waktu makanmu lagi, eoh?”
“Eih, kenapa oppa mendengarkan dia sih? Aku makan dengan baik kok,”
“Dan yang paling hot, terkini, menjadi top search adalah...” Seungkwan menyipitkan matanya memotong omelan Seungcheol. “Pacar noonim datang,” bisiknya.
“Hah? Nugu?” bisik Seungcheol penasaran.
“Namanya adalah.. Kwon.. Soon..”

“Ehem! Hei, kalian masih single? Mau tidak pacaran dengan kakakku? Dia ini ketua di markas utama pemadam kebakaran lho. Coba lihat tubuhnya! Wow, kencang! Berotot. Wajahnya? Tidak perlu diragukan lagi, bukan? Sifatnya? Eumh, kalian pasti akan mati bahagia!” Clover mempromosikan kakaknya di antara officer resepsionis.
“Ya ya ya! Geumanhae..!” Seungcheol menarik Clover menjauh sebelum ia menjadi lebih malu dari sekarang. Mereka kemudian pergi darisana menuju ke hall.

“Ada denah hologram yang akan membantu oppa untuk mengenali gedung,” jelas Clover memandu Seungcheol ke tengah hall. “Denah hologram ini didesain sama dengan denah pemantau yang ada di ruang kontrol keamanan. Ia bisa menunjukkan kondisi gedung, misalnya ada titik api, kemiringan, atau kendala-kendala lainnya,” lanjut Clover memperlihatkan akses keyboard pengendali denah dalam keadaan terkunci. “Khusus yang ini hanya disetting untuk menggambarkan gedung saja. Nanti aku akan minta bantuan manager keamanan untuk mengoperasikan ini lebih spesifik,”

“Kau masih menyukai Soonyoung?” tanya Seungcheol.
“Oppa.. Aku sudah menjelaskan panjang lebar dan kau menanyakan hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini?”
“Aku sudah paham, kau menjelaskannya dengan baik. Sekarang tutup masalah itu dan jawab saja pertanyaanku,” Seungcheol melipat kedua tangannya di dada. Menatap Clover dengan wajah serius. Wanita itu menghela nafas kemudian membalas tatapan Seungcheol.

<> 

“Celandine?”

Nama yang dipanggil pun menoleh. Seorang pria berwajah imut mengembangkan senyumnya lebih lebar. “Wah, tidak menyangka bisa bertemu dengan direktur utama Min Pharmaceutical di resto!”
“Jihoon?” Celandine menatap Jihoon tak percaya.
“Apa aku berubah banyak? Kau terlihat sangat terkejut..”
“Mama mama! Siapa dia?” tanya Matheo dengan mulut belepotan es krim.
“Ini teman mama waktu kuliah di Singapore dulu,” jawabnya.

“Hai, Lee Jihoon samchoneyo..”
“Matheo imnida..” anak itu memberikan salam sopan seperti yang sudah diajarkan.
“Astaga, Jihoon! Tumben kau datang ke Idyllic? Duduklah bersama kami,” Celandine mempersilakan.
“Tak perlu, aku sudah harus pergi sebentar lagi. Aku tadi hanya mengantar album baruku untuk diputar minggu depan.. Sekalian mengecek persiapan instrumental untuk malam natal,” ceritanya.
“Ah, kau akan menampilkan solo live orchestramu di malam natal nanti? Daebak..”
“Begitulah.. Oh, kau sudah bertemu Soonyoung?”
“Soonyoung? Kwon Soonyoung yang itu?”
“Eoh. Tadi aku sempat bertegur sapa dengannya di ballroom.. Dia habis berbincang dengan ketua Hong..”
“Omo! Jangan-jangan Edward Kwon yang sering dipuji mendiang suamiku saat membangun Idyllic itu... Kwon Soonyoung?!”
“Kau baru tahu? Kupikir kau adalah orang pertama yang tahu kalau Soonyoung yang merancang struktur bangunan ini..”
“Sebelum Idyllic diresmikan aku sibuk di Hongkong..”

Mereka berbincang beberapa menit sebelum akhirnya Jihoon benar-benar sudah harus bergegas pergi. Ada rekaman penting, katanya. Sepeninggalan Jihoon, ternyata sedari tadi Matheo terus mengamati pria itu.

“Mama..” panggilnya.
“Hm? Apa kau mau pesan yang lain?” tanya Celandine kemudian membuka menu.
“Paman itu mirip papa ya..” Celandine meletakkan buku menu perlahan dalam diam. Perasaan aneh kembali menghinggapi hatinya yang berlubang.
“Oh ya? Apanya yang mirip, Theo?” tanya Celandine lembut.
“Wajahnya..”
“Theo merindukan papa ya?”
“Teman-teman Theo punya papa semua lho! Kemarin kami menggambar papa masing-masing, tapi karena Theo tidak bisa menggambar papa, jadi Theo diperbolehkan menggambar mama!” cerita anak itu.
“Gerae?”
“Eung! Theo menggambar mama dengan sangat cantik! Gambar Theo dapat bintang dari guru, lalu gambarnya ditempel di dinding kelas..!”

Celandine terus tersenyum mendengarkan anaknya bercerita. Sesekali ia mengelap bibir Matheo yang belepotan es krim, sesekali ia juga mencubit pipi anaknya pelan saking menggemaskannya dia. Momen-momen ini begitu langka bagi seorang Celandine. Bisa duduk bersantai bersama Matheo, merupakan refreshing tersendiri untuknya.

“Apa Theo tidak boleh punya papa?”

<> 

Bibir Soonyoung terus terangkat. Senyumnya sangat lebar, langkahnya juga ringan. Mood baik dan perasaan melayang ini ia manfaatkan untuk ke taman. Apa yang membuatnya senang adalah hal sepele. Jawaban ‘ne’ dari Clover yang tak sengaja ia dengar di hall tadi.

“Aih, ternyata dia pemalu sekali. Duh, aku jadi ikut malu! Eih, kenapa harus malu sih dia? Sudah jelas aku juga menyukainya kan?” Soonyoung tiba-tiba menikmati monolog yang ia lakukan. “Aahh ternyata Clover sudah sangat berubah! Choi Clover Cheongseol yang dulu bukanlah yang sekarang.. Ah, menggemaskan sekali!” pria berfashion bagus itu menangkup pipinya sendiri. OMG.

“Hm? Itu kan...” Soonyoung berjalan mendekati sosok yang menarik perhatiannya. “Jeon Wonwoo?”
“Soonyoung..?” terdengar dan terlihat raut ragu dari pria yang barusaja mengangkat wajahnya.
“Ini benar Wonwoo yang dulu kuliah di Sienna?!”
“Kau benar Soonyoung yang cuma unggul di fashion saja itu kan?!”
“Astaga, bro!!”
“Soonyoung!!!”

Mereka berpelukan lupa usia, lupa tempat. Namanya juga kawan lama.

“Iyah... Kau jadi sangat tampan begini.. Aku menyesal tidak menerima cintamu waktu itu.. Ckckck, tahu begitu aku pacaran saja denganmu ya?” goda Soonyoung.
“Kukuncir juga mulutmu.. Masih saja suka bercanda..!” Wonwoo memperhatikan temannya dari bawah sampai atas dengan seksama. “Kau banyak berubah ya..?” katanya.
“Masa? Aku hanya merubah gaya rambutku saja.. Karantina di German sangat ketat! Brrr..”
“Ani.. Kau terlihat seperti bukan Soonyoung.. Kalau kau diam, kesannya kau sangat dewasa dan.. err, tampan?” Wonwoo agak ngeri harus mengucapkan itu semua.
“Sayangnya aku tidak bisa diam, haha!” sahut Soonyoung bangga menunjukkan smiley eyesnya.

“Oh oh oh!! Kau sudah bertemu Clover?”
“Tentu saja..”
“Dia tambah cantik kan? Beda dengan Clover yang dulu sangat klop denganmu.. Sekarang dia lebih dewasa..”
“Ya begitulah.. Aku jadi merasa asing kalau memikirkannya,” tambah Soonyoung. “Kau sendiri? Hubunganmu dengan Celandine?”

Pertanyaan itu sontak menutup mulut Wonwoo. Ekspresi wajahnya berubah drastis. Masam bercampur pahit. Ia menundukkan kepala sambil tersenyum kecil–menertawakan dirinya.

“Kami putus.. Dia sudah menikah dengan pria kaya..” jelasnya berat.
“Oh, maaf.. Aku-“
“Gwaenchana..” Wonwoo menghembuskan nafas panjang. “Aku dengar dari Seungcheol hyung, suaminya adalah salahsatu pemilik Idyllic ini.. Min Pharmaceutical kalau tidak salah,” ucapnya sembari mengingat-ingat.
“Jinjja?!” Soonyoung terlonjak kaget.
“Wae?”
“Heee, daebak.. Takdir ini membuatku merinding..”

Mereka sedang asyik berbincang di bangku itu. Layaknya dua sejoli yang bertemu kembali setelah sekian lama, banyak sekali hal yang mereka bicarakan terlepas dari masalah bisnis.

“Ngomong-ngomong kau punya tinggal disini?” tanya Soonyoung.
“Tidaklah, apartemen ini mahal sekali..!” elak Wonwoo mengibaskan tangannya. “Bagaimana ya? Emm, anggap saja aku kemari hanya untuk menemani Seungcheol hyung..”
“Anggap saja? Aneh..”
“Kau tinggal disini?”
“Begitulah.. Eh! Besok temani aku jalan-jalan ya!”
“Hah?? Memang aku pacarmu? Kau terdengar seperti perempuan, ck! Kenapa?”
“Eih, kau ini.. Jalan-jalan antar lelaki tulen itu namanya bromance! Lagipula aku jarang keliling Seoul, hitung-hitung kau jadi tourguideku begitu..”
“Hah.. Baiklah, tapi aku tidak bisa pergi sepanjang hari.. Hanya saat jam istirahat makan siang,”
“Itu sudah bagus!” Soonyoung merangkul Wonwoo. “Ada yang mau kubeli,”

<> 

Mingyu terus memasang senyumnya sejak membuka mata tadi pagi. Ia mengejutkan sekretaris, sopir, semua pelayan dan karyawannya. Apakah tuan besar mereka itu mengalami kecelakaan? Atau mungkin dia salah makan? Bagaimana bisa seseorang berubah drastis hanya dalam semalam?

“Selamat pagi, pak Lee!” sapanya ceria sebelum masuk ke dalam mobil.
“N-ne.. Selamat pagi, presdir..” jawab sekretarisnya agak kikuk.
“Ah, hari ini cerah sekali. Moodku jadi baik!” katanya kemudian membuka laptop yang ada di pangkuannya. “Oh ya, Lee-ssi.. Hari ini apakah aku ada jadwal kosong?”
“Seperti biasa, tentu saja tidak ada, presdir.. Saya sudah menata jadwal anda supaya pada dan tidak ada istirahat terlalu panjang..” jawab pak Lee bangga.
“Kalau begitu buatkan satu,” pinta Mingyu lalu memasang kacamatanya.
“J-jadwal kosong, presdir?” sekretaris pria usia akhir 40 itu pun menatap tuannya heran.

Ini kali pertama seorang Kim Mingyu meminta sebuah jadwal kosong dalam satu hari kerjanya. Selama ini padahal ia bisa saja membanting laptop kalau menemukan satu jeda yang panjang. Mingyu benar-benar tidak bisa menolerir istirahat pada hari kerja, tapi sekarang? Dia meminta jam kosong.

“Eee, presdir.. Anda baik-baik saja kan?” tanya pak Lee cemas.
“Tentu.. Waeyo?” tanya Mingyu balik.
“Itu.. Jadwal kosongnya hanya bercanda karena mood anda sedang baik ya?”
“Eih, seolma.. Aku benar-benar meminta jam kosong.. Eemm, kalau bisa waktu makan siang..”
“B-begitu? B-baik.. Akan saya aturkan..”
“Kamsahamnida, Lee-ssi..” satu kalimat ini membuka mata pak Lee lebih lebar. Kim Mingyu, baru saja berterimakasih padanya. Oh my God.

Pak Lee hanya bisa menatap wajah sumringah Mingyu. Sebenarnya apa yang merubah sikap Mingyu sih? Jangan-jangan dia ini doppelganger?

“Eoh? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Mingyu.
“T-tidak, tidak, presdir.. Wajah anda sangat tampan sekali!” pria itu mengacungkan dua jempol.
“Oh ya? Bagus, hari ini mungkin dia bisa terpesona dengan ketampananku, haha!”
“Anu, presdir.. Dia yang dimaksud ini, siapa?”
“Tentu saja Han sunbae!”
“Han sunbae?”
“Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, dia jadi semakin dewasa dan menawan! Ah, aku jadi teringat makan malam kemarin..”

Benar sekali. Kemarin Mingyu mengajak Camellia untuk makan malam, ehm, meeting bersama. Dan tolong dicatat digaris bawahi, Mingyu meminta Camellia untuk bersikap apa adanya dia sewaktu mereka kuliah di Sienna. Benar, salah satunya adalah menghilangkan formalitas. Seperti ini kejadian kemarin malam,

“Kenapa kau menatapku begitu? Apa ada noda saus di wajahku?” tanya Camellia.
“Aniyo..” jawab Mingyu masih menatap Camellia. Tubuhnya condong ke depan, tangannya menyangga kepala, ekspresinya tak bisa dijelaskan.
“Kalau begitu berhenti menatapku begitu dan cepat makan.. Keburu dingin..”
“Duh, aku belum puas melepas rinduku pada sunbae.. Sudah lama aku tidak melihat sunbae, jadi aku merasa sangat senang..”
“Astaga Mingyu, kau masih sama cheesynya ya? Ubahlah sikapmu itu, sekarang kau presdir lho. Kau punya banyak anak buah, berwibawalah..”
“Ne, sunbaenim!”
“Sekarang, ayo makan..”
“Ne!” jawabb Mingyu tak melakukan apa-apa.

“Kenapa diam saja? Ayo angkat pisau dan garpumu.. Potong daging steaknya..” ujar Camellia.
“Ne, nanti akan kulakukan.. Aku mau melihat Han sunbae makan dulu..”
“Mwo? Ck, dasar anak ini..” Camellia menarik piring Mingyu ke tengah lalu memotong-motong daging steaknya. “Kau pasti ingin aku melakukan ini kan? Setelah kupotong begini, kau harus makan, okay?”
“Ne!” jawab Mingyu mantap.

Dari jauh karyawan yang mengenal Mingyu pun hanya bisa tercengang. Helllooooo, dia ini presdir iblis workholic perfeksionis yang pernah ada dalam sejarah keluarga Kim! Begitu mudahnya wanita itu meluluhkan Mingyu! Siapa sebenarnya wanita disana? Dengar-dengar dia adalah ketua tim kreatif Idyllic, lalu kenapa presdir Kim begitu menurut dengannya?

“Ah, kalau saja aku tahu lebih cepat Han sunbae bekerja di sini, aku pasti akan mengalokasikan diriku sendiri kembali ke Seoul. Hahaha!” Mingyu masih saja dalam posisi yang sama.
“Memang sebelumnya kau ada dimana?”
“Tidak menentu, tapi paling lama di Indonesia..”
“Oh ya? Apa kau ke Bali?”
“Terkadang, kalau ada jadwal pertemuan disana..”
“Bagaimana Bali? Wah, aku ingin sekali berlibur ke Bali!”

Makan malam mereka, bukan, makan malam Camellia berjalan dengan lancar. Well, pada akhirnya Mingyu hanya makan sepotong daging ketika Camellia sudah selesai makan. Pria itu benar-benar menikmati sosok Camellia yang bersedia makan malam bersamanya. Apalagi, yang perlu digaris bawahi adalah sikap Camellia tidak berubah. Itu yang melegakan Mingyu. Ya, meskipun sikap Camellia sekarang karena permintaan Mingyu sih.
Tapi, ketika semua orang selalu menunduk tak berani menatapnya, baru Camellia yang memberinya senyum penyemangat. Dan itu sangat berarti. Jujur saja, selama ini Mingyu memang kesepian. Sejak ia mewarisi perusahaan keluarga, pandangan semua orang jadi berbeda. Bahkan lama-kelamaan sikapnya pun jadi berubah.

“Hari ini tim kreatif ada kerjaan tidak?” tanya Mingyu.
“Akan saya tanyakan ke manager..”
“Eh eh eh! Tidak usah, jangan!” cegah Mingyu. “Aku akan cari tahu sendiri.. Ehm!”

<> 

Alis Camellia menyatu sempurna. Ia terbakar sekarang. Karena siapa?

“S-sunbae..nim....” panggil Minghao hati-hati.
“Apa??” jawab Camellia tegas.
Minghao menelan ludah sebentar. “Ada proyek akhir bulan...” lapornya. Camellia menyerobot kertas yang dibawa Minghao cepat. Ia membacanya sekilas. Pada bagian akhir, ‘tertanda, Presdir Kim Mingyu’, kepalanya langsung memanas.
“Ihhh!!!!!! Menyebalkan sekali!!!!!” bentaknya hendak merobek kertas itu.
“Sunbaenim!” cegah Minghao panik.

Apa yang terjadi? Kenapa ia begitu marah saat ini? Jawabannya adalah Kim Mingyu. Semalam ia hampir membalik meja makan dan menyisir rambut Mingyu dengan garpu kalau Pak Oh tidak memberinya peringatan. Benar, Pak Oh adalah alasan Mingyu masih bernafas pagi ini. Ia mengingatkan agar Camellia menjaga sikapnya di depan presdir, ia juga mengatakan untuk menjaga tata krama dan berperilaku profesional sebagaimana ketua tim kreatif seharusnya. Sebagai bonus, Pak Oh juga meminta Camellia untuk bersikap sesuai kehendak Mingyu. Menjadi Han Camellia, sunbaenya di Sienna University.

“Kenapa sunbae marah sekali hari ini?” tanya Minghao ketika ia–dirinya sendiri, sudah tenang.
“Aku harus menahan amarahku semalaman di hadapan pria itu!! Ia sangat memuakkan, Minghao! Melihat senyum, wajah, tatapannya itu membuatku semakin kesal!”
“Lho? Memang kenapa? Apa yang sudah dilakukan Presdir Kim pada sunbae? Bukankah semalam sunbae diajak meeting?”
“Meeting apanya?!!! Dia hanya mengajakku dinner berdua! Aku membatalkan janji makan malamku bersama Soonyoung dan Clover hanya demi dia! Kukira ini meeting penting sehingga ia harus bicara empat mata denganku! Tapi apa?! Apa?!!”
“A-apa, sunbae..?”
“Dia cuma memandangiku makan!!!!”

“Sunbae,” panggil seorang anggota memasuki ruang.
“Apa?!!” bentak Camellia terbawa emosi.
“Eh?! I-itu... Presdir Kim..” lirihnya takut sambil menunjuk telfon yang ada di atas meja kerja Camellia.

Camellia menenangkan dirinya sejenak. Ia mengangkat gagang telfon lalu tersenyum ramah. “Yoboseyo? Camellia imnida,” katanya dengan nada lembut dimanis-maniskan.
“Oh, Han sunbae! Aku lihat hari ini kau tidak ada jadwal penting ya?” tanya Mingyu.
“Apakah ada masalah, presdir?”
“Sunbae, bukankah aku memintamu untuk tidak bersikap formal seperti itu?”
“Ah, kukira itu hanya berlaku saat makan malam kemarin saja,” Camellia meremas kertas mengalirkan kekesalannya kesana.
“Tidak, ini berlaku selamanya! Haha, oh ya.. Karena hari ini sunbae tidak ada jadwal penting, aku akan mengajak sunbae ke suatu tempat..”
“Hm? Kemana? Aku tidak bisa meninggalkan timku bekerja sendirian bukan?”
“Acara ini lebih penting dari pekerjaan harian sunbae.. Nanti Pak Oh akan mengabari sunbae kalau sudah waktunya berangkat, okay?”
“NOT OKAY! KAU PIKIR MENGERJAKAN PROYEK DARIMU ITU MUDAH APA?! TIDAK PENTING, EOH?!”–“Gerae? O-okay..” jawab Camellia.

Selesai. Minghao punya firasat buruk akan hal ini. Ia mundur dua langkah untuk antisipasi.

“Kita lihat seberapa penting acara yang dia maksud itu.. Hm...” geramnya penuh penekanan.
“S-sunbae..” panggil Minghao.
“Hm?”
“Mohon bantuan dan kerjasamanya.. Nyawa tim kreatif ada di tangan sunbae sepenuhnya,” anak itu membungkukkan badan berharap ketuanya tidak kelepasan tenaga.
“Huft.. Akan kulakukan sebaik mungkin demi kalian..”

Barusaja Camellia hendak membuka file melanjutkan proyek yang menumpuk, Pak Oh datang. “Han-ssi, kau sudah ditunggu Presdir Kim..” katanya.
“Mwo?! Secepat itu?!”

<> 

Camellia tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia kehabisan kata-kata. Apa yang ada di depannya sekarang, apa yang ia lihat ini semua nyata!

“Han sunbae! Ayo naik!!” teriak Mingyu.
“Mingyu-ya!” panggil Camellia juga berteriak. “Apakah kita harus naik helikopter?!”
“Eoh?!” sepertinya suara baling-baling lebih keras dari teriakan Camellia.
“Apakah harus naik helikopter?!!” ulang Camellia lebih keras.
“Tentu saja!” hanya itu jawaban Mingyu. “Ayo, Han sunbae! Rambutmu bisa kusut kalau kelamaan disana!”


Anak ini, rasanya ingin kuremas wajahnya!–pikiran ekstrem Camellia.