Alteration
Berubah
bukanlah hal yang negatif. Meskipun berubah menjadi lebih buruk atau ada
perubahan dari peningkatan ke penurunan, di baliknya selalu ada alasan yang
mendasari. Entah emosi, perilaku, maupun situasi yang menjadi faktor
pengubahnya. Setiap manusia setuju tidak setuju, mau tidak mau, suka tidak
suka, harus merasakan perubahan dalam hidupnya. Karena variasi itu nantinya
akan membentuk manusia menjadi lebih bernyawa.
Perubahan
tak hanya terjadi sekali seumur hidup. Ada perubahan yang menanti di setiap
langkah kita. Pilihan untuk dinamis atau statis tentu masih dipegang
masing-masing manusia. Namun, apabila perasaan sudah terjun di tengah jalan
kehidupan yang akan kita lalui, kurasa apapun pilihan yang kau buat, hasilnya
hanya dua.
Suka
dan duka.
“Ya,
chef hyungnim..!” panggil Chan bersandar di counter dapur.
“Mwoya?”
respon Seokmin sibuk mengecek menu malam natal.
“Pria
yang duduk di meja 6 itu, siapa?”
Seokmin
sejenak mendongak untuk melihat pria yang dimaksud. “Eih, kenapa kau tanyakan
itu padaku? Kau tahu kan hidupku habis di dapur? Nona resepsionis saja aku
tidak kenal!” chef dapur iblis itu pun emosi.
“Tidak
perlu marah juga kan..? Aku hanya tanya karena penasaran...” lirih Chan mundur
selangkah.
“Memang
kenapa dengannya? Sejak kapan kau jadi gay?”
“Enak
saja! Aku tidak gay, hyung!!” elak Chan cepat ikut emosi.
“Lalu
kenapa kau penasaran padanya?”
“Tuh!
Daritadi pria itu terus menatap managernim yang sedang menemani ketua Hong
lunch!” ujar Chan kembali berpangku dagu.
Pria
itu, Kwon Soonyoung, sejak jam 12 sudah siap di meja resto untuk mengambil
lunchnya. Oh tidak, sebenarnya dia cuma mau menggoda Clover saja. Tapi niatnya
sirna ketika pria bernama Hong Joshua menarik Clover dari hadapannya.
“Dilaporkan
saat ini terjadi kebakaran manusia di meja nomor 6, restoran gedung utama. Saya
Boo Seungkwan, Idyllic, melaporkan..” Seungkwan berdiri di samping Seokmin,
mengakhiri laporannya.
“Sekretaris
Boo, kau kenal pria itu?” tanya Seokmin ikut penasaran.
“Duh
kalian ini seperti manusia goa saja. Makanya keluar dan lihat dunia, ckckckck. Kasihan
sekali banyak ketinggalan berita,” sindir Seungkwan sinis.
“Hih,
kupanggang juga mulutmu..!” Seokmin mengangkat alat roastednya.
“Hahaha,
bercanda,” benahnya cepat sebelum kehilangan mulut seksi. “Itu calon pacarnya
noonim,” kali ini ia berbisik dengan hati-hati.
“Jinjja?
Woa, kenapa mendadak managernim mau pacaran dengan pria asing?” Chan terdengar
sangat antusias.
“He,
dasar anak kecil.. Tentu saja mereka itu sudah saling mengenal, kau ini
bagaimana sih?”
“Tapi
dari pengamatanku, cinta pria itu bertepuk sebelah tangan ya?” chef kepala
melakukan analisis saat itu juga.
“Darimana
hyung tahu?” kepolosan Chan benar-benar membuat Seungkwan pusing.
“Aku
ini seorang suami dan seorang ayah. Sudah pernah lah melewati masa-masa
percintaan begitu, jadi tahu..” jawab Seokmin sedikit bangga.
“Eh!
Berikan secangkir teh untukku,” pinta Seungkwan. “Teh apa saja..!” lanjutnya.
“Kau
mau apa?” nada Seokmin terdengar curiga.
“Aku
ada ide..”
Seungkwan
berjalan membawa cangkir tehnya ke meja nomor 6. Ia mengambil tempat duduk
tepat di depan Soonyoung yang masih menatap meja 14–tempat duduk Joshua dan
Clover. Meski Seungkwan sudah duduk di sana tapi tatapan Soonyoung masih sama,
tajam terbakar api cemburu.
“Good
afternoon!” sapa Seungkwan ramah setelah menyamankan pantatnya di bantal kursi.
“Minggir,”
jawab Soonyoung pendek. Seungkwan menutupi pandangannya dari Clover.
“Aigoo
i saram.. Mister, kalau hanya ditatap saja tidak akan bisa datang sendiri..”
ucap Seungkwan.
“Tch,
kau ini mengganggu saja.. Apa maksudmu?”
“Biar
kujelaskan, ah sayang aku tidak bawa papan tulis, tapi tak apa..” Seungkwan
berdehem sekali. “Ini mister, ini noonim, dan ini daya tatap mister.. Daya ini
tidak cukup kuat untuk merubuhkan sistem imun noonim yang sangat kebal dengan
keadaan sekitarnya.. Paham?”
“Jadi
menurutmu aku harus bagaimana?”
“Langsung
terjun hancurkan duar!” Seungkwan menusuk-nusuk meja dengan jarinya. Ia sangat
yakin saat ini.
“Ya,
kau tahu?” Soonyoung menyandarkan tubuhnya ke pinggir meja. “Pria yang disana
itu Hong Joshua, ketua Ehrgeiz Corporation, salah satu pemilik Idyllic..”
“Eo,
lalu?” Seungkwan ikut mencondongkan tubuhnya.
“Dia
yang membayarku untuk membuat bangunan ini, kau paham?” kali ini Soonyoung yang
menunjamkan jarinya ke meja.
“Jamkkan!
Wait wait wait..!” sela Seungkwan. “Kau bilang apa barusan? Membayarmu membuat
Idyllic?” pertanyaan itu mendapat anggukan kilas dari Soonyoung.
“Wae?”
tanya Soonyoung melihat wajah Seungkwan menjadi, err, tidak bisa dijelaskan.
“Holysh-“
hampir saja Seungkwan mengumpat. “Oh my God! Kau! Ternyata kau adalah..! Oh,
sh-!”
“Apa
sih? Kenapa kau malah mengata-ngataiku begitu..?!” protes Soonyoung.
“Oh
God! Kau.. Adalah.. Tim arsitek Idyllic??”
“Ya,
aku kepala timnya.. Kenapa?”
Kehabisan
kata, Seungkwan memilih mundur. Ia berjalan cepat kembali ke counter dapur
untuk memberitahu para makhluk goa tentang breaking news ini. Sedangkan
Soonyoung hanya bisa terdiam keheranan di tempatnya.
“Hm?
Oh, is that really him?” gumam Joshua menyipitkan matanya.
“Who
are you staring at?” tanya Clover kemudian menoleh mengikuti arah pandang
Joshua. “Soonyo-“
“Edward!!”
panggil Joshua dengan nada antusias.
“Edward?”
Clover menaikkan satu alisnya bingung.
Joshua
mengajak Soonyoung untuk duduk di bersama di meja itu. “Here, you look lonely
there. You can sit with us,” kata Joshua ramah.
“Well,
thanks..” jawab Soonyoung duduk di antara Joshua dan Clover.
“Oh,
Clover.. It must be your first time meet Edward, right?” tanya Joshua. “And, Edward..
This is Clover, my precious lady..” lanjutnya beralih menatap Soonyoung. “So,
why don’t you greet each other?”
“Seriously,
Josh? You want me to greet your lady?” tanya Soonyoung nakal.
“You
can’t do much though.. This lady is as cold as ice,” jawab Joshua pura-pura
serius.
“Oh
really? Is that how you think about me?” Clover menyilakan tangannya.
“Why?
It is true, anyway..”
“Well,
maybe this ice-lady-like should go and just act cold around you from now on..”
“Oh,
no~ I am just kidding.. Please don’t do that to me..” rengek Joshua. “By the
way, you two haven’t greet each other.. Its not polite, you know?”
Soonyoung
saling tatap dengan Clover. Si Ice-Lady yang pertama kali mengulurkan tangan,
kemudian dibalas oleh Soonyoung. “So, Soonyoung.. You have an interesting
english name. How did you get that? Did you choose it by yourself?” tanya
Clover.
“You
mean Edward? No, my friends made it for me,” jawab Soonyoung.
“Wowowow,
hold on guys..” sela Joshua. “You’ve already know each other?”
“As
you see, Josh..” kata Soonyoung santai.
“What?
Why didn’t you tell me before? Oh my God, so I am the stranger here? Nice..”
“Haha,
you are overreacting..”
“Sekarang,
bagaimana kalian bisa saling kenal?” tanya Clover.
“Kau
tidak tahu, Clo?” Joshua mengembalikkan pertanyaan itu.
“Tentang
kalian? Nope,” jawab Clover.
“Astaga,
Edward adalah ketua tim arsitek yang kukontrak untuk membangun Idyllic..”
“Apa?”
tanya Clover cepat saking tak percayanya.
“Pria
ini adalah arsitek jenius yang merancang struktur bangunan Idyllic, Clover..
Dia mengambil peran besar dalam pembangunan Idyllic ini..” jelas Joshua sekali
lagi.
“Jin..jja...”
lirih Clover mengalihkan tatapan ke Soonyoung yang sudah memasang senyum bangga
sambil mengangguk-anggukan kepala. “Wah, pandanganku terhadapmu langsung
berubah drastis!”
“Mwo?
Jadi selama ini kau memandangku bagaimana?” tanya Soonyoung sedikit tak terima.
<>
Minghao
meremas ujung bajunya gugup. Saat ini anggota tim kreatif dengan rapi berjajar
di sisi ruang kerja mereka. Benar, mereka menanti kedatangan seseorang. Presdir
Kim Mingyu, pemilik Felicity Company.
Camellia
menggerak-gerakkan kakinya tak sabar. Ia belum makan siang, please! Kenapa juga
presdir datang di jam istirahat? Sebentar lagi waktu makan siang juga sudah mau
habis, lalu dia dan anggotanya harus mati kelaparan begitu?! Wanita itu mendengus
pelan agar general manager tak menyemprotnya dengan omelan. Pria bermata bulat
yang berdiri di sebelah Camellia, Minghao, semakin cemas melihat rambut
berantakan ketua tim mereka. Well, itu memang style Camellia Han.
Rambut
yang disisir dengan tangan, dijepit satu kemudian poni yang disibakkan dengan
sirkam. Oh jangan lupa kacamata yang bertengger di kepalanya. Sweater lengan
panjang dengan potongan turtle neck, celana kain hitam, dan flat shoes. Hello!
Siapa sangka presdir akan kunjungan secara mendadak begini? Ia keburu ganti
pakaian tadi, hah.
“Presdir
sudah datang,” sebuah suara tak dikenal menyiagakan orang-orang di dalam ruang.
“Sunbaenim,
rambutnya ditata dulu..!” bisiknya khawatir.
“I
don’t care, ck!” jawab Camellia sudah kesal.
“Selamat
siang, presdir Kim..” general manager langsung menyapa begitu melihat Mingyu.
Pria itu tak menjawab, hanya membagi pandangannya beberapa detik lalu
mengalihkannya ke yang lain.
“Sunbae,
ayo sambut dia..” bisik Minghao menyenggol lengan Camellia.
“Ck,
hish!” desis wanita itu sebal. “Selamat datang, presdir Kim..” sapa Camellia
berubah ramah. Ia menampilkan senyum terbaiknya berharap Mingyu segera pergi.
Demi Tuhan dia sudah lapar!
“Selamat
siang, Han sunbae..” balas Mingyu melempar senyum lebar. Wajah anak itu berubah
drastis, dari tegas ke ramah. “Ruang kerja tim kreatif sangat rapi ya, ini
pasti berkat sunbae.. Aku lega ada sunbae disini sebagai ketua tim kreatif..”
ujar Mingyu.
“N-ne,
begitulah..” jawab Camellia ragu.
“Kurasa
tim kreatif patut mendapat hadiah karena kebersihan ruang kerja ini.. Bagaimana
menurutmu, sekretaris Lee?”
“Ya,
presdir. Saya sependapat dengan presdir Kim,”
“Baiklah-“
‘Gubrak!!!’
suara keras itu memotong kalimat Mingyu. Semua mata langsung teralih ke asal
suara. Berbagai macam benda yang dijejalkan ke lemari kini berserakan mengotori
ruangan itu dalam sekejap. Seluruh anggota tim kreatif sudah menelan ludahnya
berat. This is bad.
Perlahan
Camellia menatap Mingyu. Ouh, ini sangat memalukan sekali! “Ehem,” dehem Mingyu
mengembalikan perhatian orang-orang disitu. “General Manager Oh!” panggil
Mingyu galak.
“Saya,
presdir..” jawab Pak Oh membungkukkan badannya. “Saya benar-benar minta maaf
atas kelalaian ini, saya-“
“Kenapa
ruang kerja tim kreatif sempit sekali, eoh?” sela Mingyu.
“Ye?”
mungkin Pak Oh salah dengar.
“Kau
tidak lihat mereka punya dan butuh banyak space untuk menyimpan barang-barang
mereka. Bekerja di tempat sempit juga tidak membantu melancarkan ide kreatif!
Segera renovasi ruang kerja ini!” perintahnya.
Pak
Oh terdiam sesaat. “Ah, baik.. Baik, presdir Kim!” jawabnya menurut.
Camellia
dan anggota tim kreatifnya hanya bisa mengerjapkan mata. Dia tidak menyalahkan
mereka tapi malah menyalahkan ruangannya? Hee..
“Astaga!
Ini sudah lewat jam istirahat..” kata Mingyu melihat jam tangannya. “Han
sunbae,” Mingyu menatap Camellia dengan mata berbinar-binar. “Ada rapat yang
harus kuhadiri, aku harus pergi..”
“Oh..
Okay..” jawab Camellia seadanya. Dia masih mencerna kejadian ini.
“Berhubung
sudah lama kita tidak bertemu, ada banyak hal yang harus kubicarakan padamu..”
“Hal
yang harus dibicarakan?” Camellia sedikit memiringkan kepalanya. Memangnya apa
coba? Dia kan sama sekali tidak pernah dekat dengan adik kelas ini.
“Aku
ada jam kosong saat makan malam, kuharap Han sunbae tidak keberatan meeting
denganku saat makan malam..”
“Tidak
juga, aku akan datang..” jawab Camellia. Heh! Mana mungkin dia menolak? Pak Oh
daritadi sudah melempar death glare begitu, bisa dipenggal kalau macam-macam
dengan presdir Kim kan?
Pada
akhirnya tim kreatif masih bisa menghela nafas lega. Nyawa mereka selamat untuk
saat ini. Untung Pak Oh langsung pergi mengikuti jejak Mingyu, coba kalau
tidak. Beuh, telinga mereka bisa merah diceramahi general manager itu. Baiklah,
karena Tuhan masih sayang mereka, sekarang waktunya bersih-bersih yang
sesungguhnya. Tidak boleh asal jejal ke almari!
“Hello,
Clo?” Camellia menyapa dari bluetooth.
“Eoh?
Wae?” jawab Clover dari seberang sana.
“Sepertinya
aku tidak bisa makan malam bersama Soonyoung nanti.. Sorry,” ucap Camellia
dengan nada lemas. Jujur saja, dia sangat ingin menghabiskan waktu bersama
teman lamanya. Refreshing! Tapi si Mingyu malah mengajaknya meeting.
“Yah,
sayang sekali.. Dari nadamu pasti kau ada kerjaan ya?”
“Begitulah..”
“Ya
sudah tak apa.. Lain kali masih bisa, semangat ya!!”
Selesai
mengadu kesedihan ke Clover, Camellia berkacak pinggang. Oh oh, iblisnya mulai
keluar. Minghao sudah beberapa langkah menjauh dari wanita itu, antisipasi.
“Kim
Mingyu...” geram Camellia. “Lebih baik ini meeting yang penting atau kutarik
rambutmu itu, hmph!!”
<>
Celandine
berjalan cepat sambil membolak-balik berkas pasien VVIP yang menumpuk di meja
kerjanya. Dia paling malas kalau harus berurusan dengan pasien VVIP. Kenapa?
Karena alasan mereka dirawat di rumah sakit ini sangat konyol!
Coba
lihat saja, ada yang minta perpanjangan rawat inap karena ia jatuh cinta pada
perawat, ada yang masuk ke sini hanya karena tertusuk duri kaktus. Ouh! Mereka
pasien elit yang manjanya keterlaluan! Tapi apa daya, sudah menjadi tugasnya untuk
menangani pasien VVIP. Bagaimanapun dia adalah dokter kepala rumah sakit
Idyllic ini.
“Vernon,”
panggil Celandine menghampiri meja counter registrasi.
“Hm,
wae?” tanya Vernon balik juga sibuk memeriksa data pasien naungannya.
“Bisa
tidak kau alihkan tugas ini ke dokter lain?” Celandine sedikit membanting map
berkas yang ia bawa ke meja. Vernon membaca sekilas lalu tersenyum paham.
“Kenapa
kau bertanya padaku? Bukankah kau adalah direktur utamanya?” jawab Vernon tak
menatap Celandine.
Sesaat
Celandine terdiam. Kenapa tidak terpikir olehnya? Ouh, ini sungguh memalukan!
“Ah, akan kuganti sendiri kalau begitu,” ujarnya menarik kembali map dari atas
meja.
“Tapi
kau harus mengurus prosedur rumah sakit lebih dulu. Ada surat perjanjian yang
harus diproses sebelum akhirnya kau melimpahkan tugas dokter VVIP ke dokter
lain,” celetuk Vernon. Celandine memutar bola matanya. Seharusnya ia tahu hal
ini!
Wanita
itu membalik badan menatap Vernon santai. “Kalau kau membantuku mengurus ini,
akan kuberi tahu kunci mendekati Clover lagi,” katanya.
“Call,”
jawab Vernon singkat sambil mengambil map berkas VVIP dari tangan Celandine.
Senyum
penuh kemenangan langsung tergambar di raut wajah Celandine. “Sudah ya, aku
akan off selama beberapa jam. Ada janji yang harus kutepati hari ini,” pamit
Celandine kembali ke ruangannya.
“Ye
ye. Jangan kembali sebelum Matheo tidur!”
Bukan
Choi Hansol Vernon kalau ia tak tahu ketuanya, Celandine Huang. Janji yang ia
buat hari ini lebih penting dari janji rapat sebelum-sebelumnya yang pernah
ada. Hari ini Celandine harus off kerja apapun caranya untuk mengajak Matheo
keliling Idyllic. Ini pertama kalinya Celandine menunjukkan tempat kerjanya ke
Matheo.
“Theo-ya~”
panggil Celandine begitu melihat sosok anaknya celingukan di depan pintu masuk
sekolah Idyllic.
“Mama!!”
sahut Matheo dengan nada riang. Ia langsung berlari memeluk ibunya.
“Aigoo,
anak mama..” Celandine mengelus kepala anaknya dengan senyum bangga. “Kita
pergi sekarang?” ajaknya.
“Eung!”
Celandine
dan Matheo bergandengan tangan menuju ke mini car. Tentu saja mereka akan ke
gedung utama terlebih dulu. Sekalian makan siang–meski sudah lewat jam makan
siang sih. Sepanjang perjalanan Celandine menunjuk-nujuk taman sembari
menjelaskan itu tempat apa dan apa yang ada disana. Matheo juga sesekali mengajak
bercanda ibunya, saling menggelitik, menusuk pipi, lalu mengecup kilas. Ini benar-benar
waktu yang sangat berharga.
“Nah,
kita sudah sampai.. Hap!” Celandine memegangi tangan anaknya yang melompat dari
mini car. “Theo, mama lapar.. Kita makan dulu ya,” pintanya.
“Matheo
sudah makan.. Boleh kalau Theo beli es krim saja?”
“Boleh
saja!”
Celandine
yang ini sungguh beda dari Celandine Huang, si dokter kaku. Tangannya yang
terus menggandeng tangan kecil Matheo terkesan sangat kuat tak bisa dilepaskan.
Ia sungguh mengasihi Matheo. Siapapun ayahnya.
Mata
Celandine menangkap sebuah sosok pria yang sangat familiar untuknya. Pria itu
pakai mantel hitam, duduk membaca buku di bangku taman area gedung utama.
Selama beberapa detik pandangan Celandine terpaku hanya pada pria itu.
“Mirip
sekali..” gumamnya pelan.
“Hm?
Mama bilang apa?”
“Ah,
tidak. Bukan apa-apa,” jawab Celandine. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke
pria disana. Sosok yang sangat ia rindukan, sosok yang berhasil membuka luka
lama hanya dengan postur tubuhnya, sosok yang membuatnya menjadi kuat, dan
sosok yang pernah ia sakiti.
<>
Seorang
pria berkulit putih, berwajah tegas sangat berwibawa, masuk ke gedung utama. Ia
segera mengedarkan pandangan mencari seseorang. Karena tak kunjung menemukan
orang yang ia cari, pria itu pun berjalan ke meja resepsionis.
“Permisi,”
sapanya dengan suara khas–nice manly voice, mengalihkan pandangan officer.
Kehadirannya memporak porandakan degup jantung para officer resepsionis saat
itu juga. Hampir sepuluh detik para officer wanita di meja resepsionis
terpesona mengamati wajah pria ini.
Lekuk
yang sangat dewasa dan aura yang sangat husband material. Pria itu ikut
terdiam, heran dengan situasi yang ia hadapi sekarang.
“Dahinya..
Dahinya..!” bisik salah seorang officer kegirangan. “Sesange... Matanya
menarikku ke dalam...” sahut yang lain.
“Eee,
apakah ada yang salah?” tanya pria itu hati-hati.
“Tentu
saja tidak, tuan!!!” jawab mereka serempak berebut tempat duduk untuk
melayaninya.
“Itu..
Aku hanya mau bertanya dimana aku bisa menemukan Choi Cheongseol,” katanya.
“Choi
Cheongseol?” mereka saling tatap. “Itu bukannya manager bagian perhotelan?
Clover managernim,” ujar mereka.
“Ya,
dia yang kumaksud..”
“Oppa?”
Suara
Clover menolehkan kepala mereka yang ada disana. Bisik-bisik officer ‘Oppa?
Oppa?’ sedikit terdengar.
“Cheongseol-a,
annyeong!” sapa pria itu menunjukkan senyum ceria.
“Hah,
kenapa tidak menghubungi aku dulu?” Clover berjalan mendekat.
“Surprise?”
pria itu membuka dua tangannya.
“Hyungnim?!!!!!!”
teriakan Seungkwan membahana menarik perhatian. Ugh, Clover sudah membuang muka
malu berharap ia tak mengenal pria tembam itu. “Seungcheol hyung!!” teriak
Seungkwan berlari kemudian membungkuk 90 derajat saking senangnya.
“Oho,
kau berkembang dengan sangat pesat ya.. Terakhir kita bertemu, kau masih
terlihat seperti batita!”
“Ah,
hyungnim ini.. Kalau sekarang?”
“Balita,”
jawab Seungcheol pendek.
“Hyungnim~”
rengeknya.
“Haha,
bagaimana? Apa kau menjaga adikku seperti yang kutugaskan padamu?”
“Tentu
saja! Sekarang aku akan melaporkan kondisi noonim saat ini, ehem hm!”
“Kalian
berdua, please..” cegah Clover lelah.
“Seperti
biasa, noonim masih belum menerima cinta Ketua Hong..” lapor Seungkwan dan
Seungcheol manggut-manggut mendengarkan. “Kesehatan fisik, bagus. Suara, masih
saja lembut. Profesionalitas kerja, sangat tinggi. Jumlah rambut, sangat
banyak. Kulit, putih merona dengan sehat. Makan, kalau ada waktu. Kapan ada
waktu? Jeo do moregesseoyo..”
“Mwo?
Ya, Choi Cheongseol..! Kau melewatkan waktu makanmu lagi, eoh?”
“Eih,
kenapa oppa mendengarkan dia sih? Aku makan dengan baik kok,”
“Dan
yang paling hot, terkini, menjadi top search adalah...” Seungkwan menyipitkan
matanya memotong omelan Seungcheol. “Pacar noonim datang,” bisiknya.
“Hah?
Nugu?” bisik Seungcheol penasaran.
“Namanya
adalah.. Kwon.. Soon..”
“Ehem!
Hei, kalian masih single? Mau tidak pacaran dengan kakakku? Dia ini ketua di
markas utama pemadam kebakaran lho. Coba lihat tubuhnya! Wow, kencang! Berotot.
Wajahnya? Tidak perlu diragukan lagi, bukan? Sifatnya? Eumh, kalian pasti akan
mati bahagia!” Clover mempromosikan kakaknya di antara officer resepsionis.
“Ya
ya ya! Geumanhae..!” Seungcheol menarik Clover menjauh sebelum ia menjadi lebih
malu dari sekarang. Mereka kemudian pergi darisana menuju ke hall.
“Ada
denah hologram yang akan membantu oppa untuk mengenali gedung,” jelas Clover
memandu Seungcheol ke tengah hall. “Denah hologram ini didesain sama dengan
denah pemantau yang ada di ruang kontrol keamanan. Ia bisa menunjukkan kondisi
gedung, misalnya ada titik api, kemiringan, atau kendala-kendala lainnya,”
lanjut Clover memperlihatkan akses keyboard pengendali denah dalam keadaan
terkunci. “Khusus yang ini hanya disetting untuk menggambarkan gedung saja.
Nanti aku akan minta bantuan manager keamanan untuk mengoperasikan ini lebih
spesifik,”
“Kau
masih menyukai Soonyoung?” tanya Seungcheol.
“Oppa..
Aku sudah menjelaskan panjang lebar dan kau menanyakan hal yang sama sekali
tidak ada hubungannya dengan ini?”
“Aku
sudah paham, kau menjelaskannya dengan baik. Sekarang tutup masalah itu dan
jawab saja pertanyaanku,” Seungcheol melipat kedua tangannya di dada. Menatap
Clover dengan wajah serius. Wanita itu menghela nafas kemudian membalas tatapan
Seungcheol.
<>
“Celandine?”
Nama
yang dipanggil pun menoleh. Seorang pria berwajah imut mengembangkan senyumnya
lebih lebar. “Wah, tidak menyangka bisa bertemu dengan direktur utama Min
Pharmaceutical di resto!”
“Jihoon?”
Celandine menatap Jihoon tak percaya.
“Apa
aku berubah banyak? Kau terlihat sangat terkejut..”
“Mama
mama! Siapa dia?” tanya Matheo dengan mulut belepotan es krim.
“Ini
teman mama waktu kuliah di Singapore dulu,” jawabnya.
“Hai,
Lee Jihoon samchoneyo..”
“Matheo
imnida..” anak itu memberikan salam sopan seperti yang sudah diajarkan.
“Astaga,
Jihoon! Tumben kau datang ke Idyllic? Duduklah bersama kami,” Celandine
mempersilakan.
“Tak
perlu, aku sudah harus pergi sebentar lagi. Aku tadi hanya mengantar album
baruku untuk diputar minggu depan.. Sekalian mengecek persiapan instrumental
untuk malam natal,” ceritanya.
“Ah,
kau akan menampilkan solo live orchestramu di malam natal nanti? Daebak..”
“Begitulah..
Oh, kau sudah bertemu Soonyoung?”
“Soonyoung?
Kwon Soonyoung yang itu?”
“Eoh.
Tadi aku sempat bertegur sapa dengannya di ballroom.. Dia habis berbincang
dengan ketua Hong..”
“Omo!
Jangan-jangan Edward Kwon yang sering dipuji mendiang suamiku saat membangun
Idyllic itu... Kwon Soonyoung?!”
“Kau
baru tahu? Kupikir kau adalah orang pertama yang tahu kalau Soonyoung yang
merancang struktur bangunan ini..”
“Sebelum
Idyllic diresmikan aku sibuk di Hongkong..”
Mereka
berbincang beberapa menit sebelum akhirnya Jihoon benar-benar sudah harus
bergegas pergi. Ada rekaman penting, katanya. Sepeninggalan Jihoon, ternyata
sedari tadi Matheo terus mengamati pria itu.
“Mama..”
panggilnya.
“Hm?
Apa kau mau pesan yang lain?” tanya Celandine kemudian membuka menu.
“Paman
itu mirip papa ya..” Celandine meletakkan buku menu perlahan dalam diam.
Perasaan aneh kembali menghinggapi hatinya yang berlubang.
“Oh
ya? Apanya yang mirip, Theo?” tanya Celandine lembut.
“Wajahnya..”
“Theo
merindukan papa ya?”
“Teman-teman
Theo punya papa semua lho! Kemarin kami menggambar papa masing-masing, tapi
karena Theo tidak bisa menggambar papa, jadi Theo diperbolehkan menggambar
mama!” cerita anak itu.
“Gerae?”
“Eung!
Theo menggambar mama dengan sangat cantik! Gambar Theo dapat bintang dari guru,
lalu gambarnya ditempel di dinding kelas..!”
Celandine
terus tersenyum mendengarkan anaknya bercerita. Sesekali ia mengelap bibir
Matheo yang belepotan es krim, sesekali ia juga mencubit pipi anaknya pelan
saking menggemaskannya dia. Momen-momen ini begitu langka bagi seorang
Celandine. Bisa duduk bersantai bersama Matheo, merupakan refreshing tersendiri
untuknya.
“Apa
Theo tidak boleh punya papa?”
<>
Bibir
Soonyoung terus terangkat. Senyumnya sangat lebar, langkahnya juga ringan. Mood
baik dan perasaan melayang ini ia manfaatkan untuk ke taman. Apa yang
membuatnya senang adalah hal sepele. Jawaban ‘ne’ dari Clover yang tak sengaja
ia dengar di hall tadi.
“Aih,
ternyata dia pemalu sekali. Duh, aku jadi ikut malu! Eih, kenapa harus malu sih
dia? Sudah jelas aku juga menyukainya kan?” Soonyoung tiba-tiba menikmati
monolog yang ia lakukan. “Aahh ternyata Clover sudah sangat berubah! Choi
Clover Cheongseol yang dulu bukanlah yang sekarang.. Ah, menggemaskan sekali!”
pria berfashion bagus itu menangkup pipinya sendiri. OMG.
“Hm?
Itu kan...” Soonyoung berjalan mendekati sosok yang menarik perhatiannya. “Jeon
Wonwoo?”
“Soonyoung..?”
terdengar dan terlihat raut ragu dari pria yang barusaja mengangkat wajahnya.
“Ini
benar Wonwoo yang dulu kuliah di Sienna?!”
“Kau
benar Soonyoung yang cuma unggul di fashion saja itu kan?!”
“Astaga,
bro!!”
“Soonyoung!!!”
Mereka
berpelukan lupa usia, lupa tempat. Namanya juga kawan lama.
“Iyah...
Kau jadi sangat tampan begini.. Aku menyesal tidak menerima cintamu waktu itu..
Ckckck, tahu begitu aku pacaran saja denganmu ya?” goda Soonyoung.
“Kukuncir
juga mulutmu.. Masih saja suka bercanda..!” Wonwoo memperhatikan temannya dari
bawah sampai atas dengan seksama. “Kau banyak berubah ya..?” katanya.
“Masa?
Aku hanya merubah gaya rambutku saja.. Karantina di German sangat ketat!
Brrr..”
“Ani..
Kau terlihat seperti bukan Soonyoung.. Kalau kau diam, kesannya kau sangat
dewasa dan.. err, tampan?” Wonwoo agak ngeri harus mengucapkan itu semua.
“Sayangnya
aku tidak bisa diam, haha!” sahut Soonyoung bangga menunjukkan smiley eyesnya.
“Oh
oh oh!! Kau sudah bertemu Clover?”
“Tentu
saja..”
“Dia
tambah cantik kan? Beda dengan Clover yang dulu sangat klop denganmu.. Sekarang
dia lebih dewasa..”
“Ya
begitulah.. Aku jadi merasa asing kalau memikirkannya,” tambah Soonyoung. “Kau
sendiri? Hubunganmu dengan Celandine?”
Pertanyaan
itu sontak menutup mulut Wonwoo. Ekspresi wajahnya berubah drastis. Masam
bercampur pahit. Ia menundukkan kepala sambil tersenyum kecil–menertawakan
dirinya.
“Kami
putus.. Dia sudah menikah dengan pria kaya..” jelasnya berat.
“Oh,
maaf.. Aku-“
“Gwaenchana..”
Wonwoo menghembuskan nafas panjang. “Aku dengar dari Seungcheol hyung, suaminya
adalah salahsatu pemilik Idyllic ini.. Min Pharmaceutical kalau tidak salah,”
ucapnya sembari mengingat-ingat.
“Jinjja?!”
Soonyoung terlonjak kaget.
“Wae?”
“Heee,
daebak.. Takdir ini membuatku merinding..”
Mereka
sedang asyik berbincang di bangku itu. Layaknya dua sejoli yang bertemu kembali
setelah sekian lama, banyak sekali hal yang mereka bicarakan terlepas dari
masalah bisnis.
“Ngomong-ngomong
kau punya tinggal disini?” tanya Soonyoung.
“Tidaklah,
apartemen ini mahal sekali..!” elak Wonwoo mengibaskan tangannya. “Bagaimana
ya? Emm, anggap saja aku kemari hanya untuk menemani Seungcheol hyung..”
“Anggap
saja? Aneh..”
“Kau
tinggal disini?”
“Begitulah..
Eh! Besok temani aku jalan-jalan ya!”
“Hah??
Memang aku pacarmu? Kau terdengar seperti perempuan, ck! Kenapa?”
“Eih,
kau ini.. Jalan-jalan antar lelaki tulen itu namanya bromance! Lagipula aku
jarang keliling Seoul, hitung-hitung kau jadi tourguideku begitu..”
“Hah..
Baiklah, tapi aku tidak bisa pergi sepanjang hari.. Hanya saat jam istirahat
makan siang,”
“Itu
sudah bagus!” Soonyoung merangkul Wonwoo. “Ada yang mau kubeli,”
<>
Mingyu
terus memasang senyumnya sejak membuka mata tadi pagi. Ia mengejutkan
sekretaris, sopir, semua pelayan dan karyawannya. Apakah tuan besar mereka itu
mengalami kecelakaan? Atau mungkin dia salah makan? Bagaimana bisa seseorang
berubah drastis hanya dalam semalam?
“Selamat
pagi, pak Lee!” sapanya ceria sebelum masuk ke dalam mobil.
“N-ne..
Selamat pagi, presdir..” jawab sekretarisnya agak kikuk.
“Ah,
hari ini cerah sekali. Moodku jadi baik!” katanya kemudian membuka laptop yang
ada di pangkuannya. “Oh ya, Lee-ssi.. Hari ini apakah aku ada jadwal kosong?”
“Seperti
biasa, tentu saja tidak ada, presdir.. Saya sudah menata jadwal anda supaya
pada dan tidak ada istirahat terlalu panjang..” jawab pak Lee bangga.
“Kalau
begitu buatkan satu,” pinta Mingyu lalu memasang kacamatanya.
“J-jadwal
kosong, presdir?” sekretaris pria usia akhir 40 itu pun menatap tuannya heran.
Ini
kali pertama seorang Kim Mingyu meminta sebuah jadwal kosong dalam satu hari
kerjanya. Selama ini padahal ia bisa saja membanting laptop kalau menemukan
satu jeda yang panjang. Mingyu benar-benar tidak bisa menolerir istirahat pada
hari kerja, tapi sekarang? Dia meminta jam kosong.
“Eee,
presdir.. Anda baik-baik saja kan?” tanya pak Lee cemas.
“Tentu..
Waeyo?” tanya Mingyu balik.
“Itu..
Jadwal kosongnya hanya bercanda karena mood anda sedang baik ya?”
“Eih,
seolma.. Aku benar-benar meminta jam kosong.. Eemm, kalau bisa waktu makan
siang..”
“B-begitu?
B-baik.. Akan saya aturkan..”
“Kamsahamnida,
Lee-ssi..” satu kalimat ini membuka mata pak Lee lebih lebar. Kim Mingyu, baru
saja berterimakasih padanya. Oh my God.
Pak
Lee hanya bisa menatap wajah sumringah Mingyu. Sebenarnya apa yang merubah
sikap Mingyu sih? Jangan-jangan dia ini doppelganger?
“Eoh?
Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Mingyu.
“T-tidak,
tidak, presdir.. Wajah anda sangat tampan sekali!” pria itu mengacungkan dua
jempol.
“Oh
ya? Bagus, hari ini mungkin dia bisa terpesona dengan ketampananku, haha!”
“Anu,
presdir.. Dia yang dimaksud ini, siapa?”
“Tentu
saja Han sunbae!”
“Han
sunbae?”
“Sudah
lama aku tidak bertemu dengannya, dia jadi semakin dewasa dan menawan! Ah, aku
jadi teringat makan malam kemarin..”
Benar
sekali. Kemarin Mingyu mengajak Camellia untuk makan malam, ehm, meeting bersama.
Dan tolong dicatat digaris bawahi, Mingyu meminta Camellia untuk bersikap apa
adanya dia sewaktu mereka kuliah di Sienna. Benar, salah satunya adalah
menghilangkan formalitas. Seperti ini kejadian kemarin malam,
“Kenapa
kau menatapku begitu? Apa ada noda saus di wajahku?” tanya Camellia.
“Aniyo..”
jawab Mingyu masih menatap Camellia. Tubuhnya condong ke depan, tangannya
menyangga kepala, ekspresinya tak bisa dijelaskan.
“Kalau
begitu berhenti menatapku begitu dan cepat makan.. Keburu dingin..”
“Duh,
aku belum puas melepas rinduku pada sunbae.. Sudah lama aku tidak melihat
sunbae, jadi aku merasa sangat senang..”
“Astaga
Mingyu, kau masih sama cheesynya ya? Ubahlah sikapmu itu, sekarang kau presdir
lho. Kau punya banyak anak buah, berwibawalah..”
“Ne,
sunbaenim!”
“Sekarang,
ayo makan..”
“Ne!”
jawabb Mingyu tak melakukan apa-apa.
“Kenapa
diam saja? Ayo angkat pisau dan garpumu.. Potong daging steaknya..” ujar
Camellia.
“Ne,
nanti akan kulakukan.. Aku mau melihat Han sunbae makan dulu..”
“Mwo?
Ck, dasar anak ini..” Camellia menarik piring Mingyu ke tengah lalu
memotong-motong daging steaknya. “Kau pasti ingin aku melakukan ini kan?
Setelah kupotong begini, kau harus makan, okay?”
“Ne!”
jawab Mingyu mantap.
Dari
jauh karyawan yang mengenal Mingyu pun hanya bisa tercengang. Helllooooo, dia
ini presdir iblis workholic perfeksionis yang pernah ada dalam sejarah keluarga
Kim! Begitu mudahnya wanita itu meluluhkan Mingyu! Siapa sebenarnya wanita
disana? Dengar-dengar dia adalah ketua tim kreatif Idyllic, lalu kenapa presdir
Kim begitu menurut dengannya?
“Ah,
kalau saja aku tahu lebih cepat Han sunbae bekerja di sini, aku pasti akan
mengalokasikan diriku sendiri kembali ke Seoul. Hahaha!” Mingyu masih saja
dalam posisi yang sama.
“Memang
sebelumnya kau ada dimana?”
“Tidak
menentu, tapi paling lama di Indonesia..”
“Oh
ya? Apa kau ke Bali?”
“Terkadang,
kalau ada jadwal pertemuan disana..”
“Bagaimana
Bali? Wah, aku ingin sekali berlibur ke Bali!”
Makan
malam mereka, bukan, makan malam Camellia berjalan dengan lancar. Well, pada
akhirnya Mingyu hanya makan sepotong daging ketika Camellia sudah selesai
makan. Pria itu benar-benar menikmati sosok Camellia yang bersedia makan malam
bersamanya. Apalagi, yang perlu digaris bawahi adalah sikap Camellia tidak
berubah. Itu yang melegakan Mingyu. Ya, meskipun sikap Camellia sekarang karena
permintaan Mingyu sih.
Tapi,
ketika semua orang selalu menunduk tak berani menatapnya, baru Camellia yang
memberinya senyum penyemangat. Dan itu sangat berarti. Jujur saja, selama ini
Mingyu memang kesepian. Sejak ia mewarisi perusahaan keluarga, pandangan semua
orang jadi berbeda. Bahkan lama-kelamaan sikapnya pun jadi berubah.
“Hari
ini tim kreatif ada kerjaan tidak?” tanya Mingyu.
“Akan
saya tanyakan ke manager..”
“Eh
eh eh! Tidak usah, jangan!” cegah Mingyu. “Aku akan cari tahu sendiri.. Ehm!”
<>
Alis
Camellia menyatu sempurna. Ia terbakar sekarang. Karena siapa?
“S-sunbae..nim....”
panggil Minghao hati-hati.
“Apa??”
jawab Camellia tegas.
Minghao
menelan ludah sebentar. “Ada proyek akhir bulan...” lapornya. Camellia
menyerobot kertas yang dibawa Minghao cepat. Ia membacanya sekilas. Pada bagian
akhir, ‘tertanda, Presdir Kim Mingyu’, kepalanya langsung memanas.
“Ihhh!!!!!!
Menyebalkan sekali!!!!!” bentaknya hendak merobek kertas itu.
“Sunbaenim!”
cegah Minghao panik.
Apa
yang terjadi? Kenapa ia begitu marah saat ini? Jawabannya adalah Kim Mingyu.
Semalam ia hampir membalik meja makan dan menyisir rambut Mingyu dengan garpu
kalau Pak Oh tidak memberinya peringatan. Benar, Pak Oh adalah alasan Mingyu
masih bernafas pagi ini. Ia mengingatkan agar Camellia menjaga sikapnya di
depan presdir, ia juga mengatakan untuk menjaga tata krama dan berperilaku
profesional sebagaimana ketua tim kreatif seharusnya. Sebagai bonus, Pak Oh
juga meminta Camellia untuk bersikap sesuai kehendak Mingyu. Menjadi Han
Camellia, sunbaenya di Sienna University.
“Kenapa
sunbae marah sekali hari ini?” tanya Minghao ketika ia–dirinya sendiri, sudah
tenang.
“Aku
harus menahan amarahku semalaman di hadapan pria itu!! Ia sangat memuakkan,
Minghao! Melihat senyum, wajah, tatapannya itu membuatku semakin kesal!”
“Lho?
Memang kenapa? Apa yang sudah dilakukan Presdir Kim pada sunbae? Bukankah
semalam sunbae diajak meeting?”
“Meeting
apanya?!!! Dia hanya mengajakku dinner berdua! Aku membatalkan janji makan malamku
bersama Soonyoung dan Clover hanya demi dia! Kukira ini meeting penting
sehingga ia harus bicara empat mata denganku! Tapi apa?! Apa?!!”
“A-apa,
sunbae..?”
“Dia
cuma memandangiku makan!!!!”
“Sunbae,”
panggil seorang anggota memasuki ruang.
“Apa?!!”
bentak Camellia terbawa emosi.
“Eh?!
I-itu... Presdir Kim..” lirihnya takut sambil menunjuk telfon yang ada di atas
meja kerja Camellia.
Camellia
menenangkan dirinya sejenak. Ia mengangkat gagang telfon lalu tersenyum ramah.
“Yoboseyo? Camellia imnida,” katanya dengan nada lembut dimanis-maniskan.
“Oh,
Han sunbae! Aku lihat hari ini kau tidak ada jadwal penting ya?”
tanya Mingyu.
“Apakah
ada masalah, presdir?”
“Sunbae,
bukankah aku memintamu untuk tidak bersikap formal seperti itu?”
“Ah,
kukira itu hanya berlaku saat makan malam kemarin saja,” Camellia meremas
kertas mengalirkan kekesalannya kesana.
“Tidak,
ini berlaku selamanya! Haha, oh ya.. Karena hari ini sunbae tidak ada jadwal
penting, aku akan mengajak sunbae ke suatu tempat..”
“Hm?
Kemana? Aku tidak bisa meninggalkan timku bekerja sendirian bukan?”
“Acara
ini lebih penting dari pekerjaan harian sunbae.. Nanti Pak Oh akan mengabari
sunbae kalau sudah waktunya berangkat, okay?”
“NOT OKAY! KAU PIKIR MENGERJAKAN
PROYEK DARIMU ITU MUDAH APA?! TIDAK PENTING, EOH?!”–“Gerae?
O-okay..” jawab Camellia.
Selesai.
Minghao punya firasat buruk akan hal ini. Ia mundur dua langkah untuk
antisipasi.
“Kita
lihat seberapa penting acara yang dia maksud itu.. Hm...” geramnya penuh
penekanan.
“S-sunbae..”
panggil Minghao.
“Hm?”
“Mohon
bantuan dan kerjasamanya.. Nyawa tim kreatif ada di tangan sunbae sepenuhnya,”
anak itu membungkukkan badan berharap ketuanya tidak kelepasan tenaga.
“Huft..
Akan kulakukan sebaik mungkin demi kalian..”
Barusaja
Camellia hendak membuka file melanjutkan proyek yang menumpuk, Pak Oh datang.
“Han-ssi, kau sudah ditunggu Presdir Kim..” katanya.
“Mwo?!
Secepat itu?!”
<>
Camellia
tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia kehabisan kata-kata. Apa yang ada di
depannya sekarang, apa yang ia lihat ini semua nyata!
“Han
sunbae! Ayo naik!!” teriak Mingyu.
“Mingyu-ya!”
panggil Camellia juga berteriak. “Apakah kita harus naik helikopter?!”
“Eoh?!”
sepertinya suara baling-baling lebih keras dari teriakan Camellia.
“Apakah
harus naik helikopter?!!” ulang Camellia lebih keras.
“Tentu
saja!” hanya itu jawaban Mingyu. “Ayo, Han sunbae! Rambutmu bisa kusut kalau
kelamaan disana!”
Anak
ini, rasanya ingin kuremas wajahnya!–pikiran ekstrem Camellia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar