Ninth Bite
Pipiku
memanas seiring dengan munculnya semburat merah disana. Mataku menatap pria di
hadapanku dengan penuh keterkejutan. Aku tak tahu harus bilang apa. Aku
kehilangan kata-kata.
“Omae
no koto ga zenbu (semua tentangmu).. Suki da..”
Semua
ini berawal dari beberapa saat yang lalu. Seperti yang sudah kujanjikan, aku
akan membawa bento untuk Nakamoto-senpai. Ketika aku hendak menuju ke kelasnya,
Nakamoto-senpai malah sudah menunggu di depan pintu kelasku dengan wajah berseri.
“Nakamoto-senpai..
Apa yang kau lakukan disini?”, tanyaku melihatnya berjongkok sambil menopang
dagunya dengan dua tangan. Wajahnya seperti ikan kelaparan minta makan.
“He..
Tentu saja aku menunggumu!”, jawabnya bangkit berdiri.
“Oh..”,
aku memberikan respon singkat lalu menundukkan kepala.
“Nah,
ayo kita ke kantin!”, ajaknya semangat.
Aku
mengikuti langkah kaki ceria Nakamoto-senpai. Jujur saja, aku merasa kembali ke
TK. Dia sudah kelas tiga, kenapa berjalan dengan begitu menggemaskan?
“Eh,
tunggu!!”, tiba-tiba Nakamoto-senpai berhenti dengan wajah horor.
“K-kenapa?”,
aku jadi gugup saat melihat wajahnya menatapku lekat.
“Kalau
kita ke kantin, para parasit itu pasti akan menyerbu bento buatanmu.. Tidak
tidak, itu tidak boleh terjadi.. Hanya aku yang boleh menikmati bento buatan
tangan Hayashi!! Hiyah!”, jelasnya menggebu.
“Aku
buat banyak, jadi bisa kau bagikan ke teman-temanmu..”, kataku di belakang
Nakamoto-senpai yang masih berkobar.
“Tidak
mau! Sudah, kita ke atap saja!”
Tangan
Nakamoto-senpai tiba-tiba menangkap pergelangan tanganku. Ia membawaku untuk
mengikuti langkahnya. Oh, tolonglah. Kalau dia menggenggam pergelangan tanganku
seperti ini, detak jantung tak karuanku pasti akan ketahuan!
“Huwah~
Segarnya angin disini! Hah, angin di bawah dan di atas memang beda! Hihi!”,
Nakamoto-senpai kembali menjadi anak-anak. Ia memamerkan barisan gigi super
rapinya itu padaku.
Dengan
santai dan hati-hati aku menyiapkan bento yang sudah kusiapkan tadi pagi.
Seperti perjanjian, aku buat dua kotak dengan menu yang sama.
“Hai,
douzo..”, kataku mempersilakan.
“Wah,
sugeeee..! Ini semua buatan tanganmu, Hayashi?”, mata Nakamoto-senpai
memancarkan sinar tak percaya.
“Ya..
Aku tidak tahu selera Nakamoto-senpai.. Jadi kuharap kau tidak menyesal setelah
menyantapnya..”, jawabku ragu.
“Itadakimasu!”
Dengan
cepat Nakamoto-senpai melahap sepotong telur gulung. Ia membuka mata. Apa dia
tersedak? Apa keasinan? Apa tidak enak? Kenapa ekspresinya begitu?
“Hayashi...”,
panggilnya datar.
“H-hai.....”,
lirihku takut.
“Ini
enak sekali..!”, entah kenapa Nakamoto-senpai terharu dengan jempol diacungkan
ke arahku.
“Eh..
H-honto desuka (benarkah)?”
“Aku
baru memakan telur gulung, tapi enaknya sudah selangit! Apalagi daging dan
sayurnya? Ah, surga dunia...”, mungkin hanya perasaanku tapi wajah Nakamoto-senpai
terlihat seperti ini (=w=).
“Yokatta..
Aku lega kalau Nakamoto-senpai suka..”, ujarku dengan senyum mengembang.
Melihatku
tersenyum, Nakamoto-senpai langsung mematung. Oh tidak. Apa dia takut? Apa aku
terlihat aneh? Tanpa berkata apa-apa, Nakamoto-senpai lalu melanjutkan
aktivitasnya menyantap bento itu.
“Ah,
aku lupa!”, pekikku menampar kening.
“Hm?
Lupa apa?”
“Aku
tidak membawa minum.. B-biar kubelikan di bawah!”, ujarku cepat dengan sungkan.
“Eh
eh! Biar aku saja!”, sahut Nakamoto-senpai lalu mendudukkanku kembali.
Ia
lalu berlari masuk menuruni anak tangga, meninggalkanku disini. Hah.. Dadaku
rasanya hangat. Perasaan apa ini? Mungkin aku benar-benar menyukai
Nakamoto-senpai. Hm, mungkin. Tapi..
Sou
ne (iya ya). Aku tidak bisa menyukainya lebih dalam. Aku hanya akan menyakiti
diriku sendiri. Setelah ini, aku tidak boleh bertemu dengannya lagi. Apapun
yang terjadi, ini adalah yang terakhir. Aku juga tidak boleh egois dan
memberinya harapan.
Kehangatan
ini telah menusukku. Rasanya sakit jika memikirkan perasaan sukaku pada
Nakamoto-senpai.
“Hei,
kau!”
$$$$$
Du
du du~ Menuruni anak tangga dengan perasaan melayang itu mengasyikkan! Badanku
rasanya ringan dan setengah terbang. Jangan-jangan aku penyihir? Hm.
“Oi!”
Sebuah
suara familiar menghentikan langkahku yang sudah tersetting untuk menuju ke
kantin. Aku menoleh dan mendapati Ten dengan satu earphone menancap di
telinganya. Anak itu tahu benar pose yang membuatnya keren.
“Oh,
Ten.. Selamat siang!”, aku menyapanya dengan riang. Maklum, moodku sangat bagus
setelah makan masakan Hayashi. Uhuy~<3
“Kau
mencurigakan.. Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tidak ke kantin dan berisik
disana? Kenapa tidak ke ruang klub dan meninggalkan rempah snack disana? Kenapa
tidak di kelas dan tidur di meja? Kenapa tidak bersama Taeyong-senpai dan
bermain petak umpet?”, jujur saja aku tidak bisa mencerna kalimat Ten dengan
baik.
“Hah?”,
kuputuskan meresponnya dengan pendek.
“Kau
pasti sedang bersama Hayashi kan?”
“Sou..”,
jawabku jujur.
“Pantas
saja badanmu terlihat seringan kapas.. Sedang apa bersama dengannya?”
“Heeee,
kau penasaran? Kau cemburu? Eh kalau kau cemburu berarti kau suka Hayashi
juga.. Tidak boleh!!”
“Aku
kan tidak bilang kalau aku juga suka..”, lirih Ten menatapku heran.
“Lalu
kenapa banyak tanya?”
“Kau
tidak tahu?”, suara Ten merendah.
“Tentang
apa?”
“Hayashi..”
“Hayashi...
Kenapa?”
“Kau
tidak akan percaya kalau aku yang jelaskan..”
“Benar..”
“Oi!!”
Ten
menyandarkan badannya ke tembok dengan tangan terlipat. Kenapa wajah anak ini
sangat kesal? Apakah ia serius kali ini?
“Memang..
Ada apa dengan Hayashi?”, tanyaku mendekati Ten.
“Lebih
baik jangan dekati dia lagi.. Kau hanya akan menyusahkannya, dan dia hanya akan
menyusahkanmu..”
“Hah?
Kau ini bicara apa? Bicaramu tidak jelas.. Aku tidak mengerti..!”
“Kau
hanya akan mengerti kalau mendengarnya sendiri dari Hayashi! Tanyakan saja
padanya..”
“Apa
yang harus kutanyakan kalau aku tidak tahu apa-apa.. Ah, kau memang
membingungkan! Otakku tidak bisa menyaingi otakmu.. Sudah ya, aku harus beli
minum!”
Aku
tak mempedulikan perkataan Ten. Aku tidak terlalu bodoh untuk mengerti pesan
tersirat yang ingin Ten sampaikan padaku. Tapi aku mencoba.. untuk tidak
memikirkannya.
“Seharusnya
kau sudah tahu kan?”, kali ini suara Sol yang menghentikan langkah ringanku. Ia
bersandar pada jendela sambil membaca buku.
Aku
tak menatapnya, karena aku tahu Sol juga tak menatapku. Aku bahkan tak berbalik
dan terus memunggungi temanku ini.
“Kau
selalu pura-pura bodoh.. Apa bagusnya?”, tanya Sol masih asyik memandangi
huruf-huruf di buku.
“Aku
bisa menjadi Nakamoto Yuta bersama dengannya..”, aku menoleh menatap Sol. “Itu
bagusnya..”
Helaan
nafas Sol dapat kudengar sebelum aku kembali melangkahkan kaki dari tempat itu.
Baiklah, pertanyaannya adalah.. Darimana mereka tahu soal ini?
$$$$$
Saat
ini cuaca cerah. Matahari bersinar terang, awan putih, dan langit biru. Tapi
kenapa suasana Rin mendung begitu? Aku jadi was-was sendiri. Hm. Kalau aku
menepuk bahunya.. apa aku akan diterkam?
“Ini
catatan minggu lalu..”
“Terimakasih..”
Dia
sedang berkutat pada tugas OSIS. Oh ya tentu dia sibuk. Sebentar lagi kita akan
lomba, banyak surat yang harus dia urus. Oh oh! Apalagi akan ada darmawisata
juga. Pasti padat sekali jadwalnya. Ah, aku ingin menghibur dan menemaninya.
Tapi aku takut digigit...
“Taeyong-senpai..
Kenapa mengintip ruang OSIS?”, tanya Kagami menatapku heran.
“Aku
sedang mengobservasi suasana hati wanita..”, jawabku datar.
“Eh?
Apakah yang kau maksud itu ketua OSIS?”
“Menurutmu?”,
aku masih saja mengamati Rin dari tempat persembunyianku.
“Etto
(Eemm).. Kenapa tidak langsung masuk dan pastikan saja?”
“Aku
masih muda.. Belum mau mati dulu..”
“Takamura!
Ada yang sibuk mencarimu!”, teriak Kagami.
“Dasar
anak monyet.. Kurang ajar.. Dia berani menipuku.. Dia mengerjaiku.. Awas saja..
Kudoakan kau terpeleset saat memakai dasi..”, aku langsung bergumam mengutuk
Kagami.
“Hm?”,
Rin menoleh ke arah pintu.
“Ada
tamu untukmu..”, lapor Kagami dengan senyum nakal.
“Siapa?
Lee Taeyong dari kelas 3-B?”, tanya Rin memastikan. Uh, deg-degan juga.
“Iya..”,
nada Kagami masih terdengar nakal.
“Usir,
aku sibuk..”
....................
Eh?
Perlahan
aku memucat pada posisi dan poseku. Sendi dan ototku kaku tak mau bergerak. Aku
benar-benar jadi patung. Oh! Sepertinya Kagami ikut shock juga. Dia sama sekali
tak bergerak di sampingku.
Rin
marah. Satu hal itu yang menguasai pikiranku saat ini. Oh baka! Tentu saja dia
marah! Kemarin sampai rumah aku langsung menggeletak di kasur. Aku tidak sempat
mengotak-atik ponselku.
“Takamura,
tapi-“
“Tak
apa, Kagami.. Aku akan tunggu sampai dia selesai..”, selaku sebelum Kagami
mengutarakan keterkejutannya.
“Taeyong-senpai..
Kalau kau menunggunya... Bagaimana dengan kelasmu?”
Aku
terdiam. Shit. Anak ini kenapa malah memperjelas motif membolosku sih? Kenapa
juga dia memperburuk suasana hati Rin dengan mengatakan hal itu? Dasar pria
tidak peka. Cih. Pantas saja masih single.
Tanpa
kusadari, aku telah menggerundel merutuki Kagami.
$$$$$
Taeyong
benar-benar menungguiku. Dia pasti memanfaatkan kesempatan ini untuk membolos.
Lihat saja, kemanapun aku pergi Taeyong selalu mengikuti. Ia terus mengekor
dalam diam. Meski aku tak mempedulikannya, dia masih menatapku berharap aku
akan menoleh.
Tidak.
Aku masih marah denganmu. Kau pikir enak apa digantung tanpa kepastian yang
jelas? Aku sangat khawatir! Seharian aku memikirkanmu! Dasar pria tidak peka!!
Tanpa
kusadari, aku sudah meremas draft proposal dari Riko.
“Ano..
Apa kau sangat tidak suka dengan ide itu, Rin?”, tanya Riko hati-hati.
“He?!
Oh! T-tidak kok.. Aku suka..”, jawabku cepat sadar.
“Lalu
kenapa... diremas?”, suaranya pelan.
“Aku
sangat suka dan tidak sabar.. Jadi gemas sendiri..”, kataku.
“Souka..”
Aku
kembali merapikan draft yang kuremas ini. Sekilas aku dapat melihat Taeyong masih
mengintip menatapku dari balik pintu. Okay, dia mulai menakutkan. Dia seperti
stalker! Dan yang lebih parah, wajah melasnya yang datar itu seperti hantu di
film horor!
Ugh..
Kenapa dia tidak latihan saja sih? Tidak tahu apa kalau sebentar lagi akan lomba?
Mana Haku? Mana Yuta? Mana anggota timnya? Siapapun seret dia untuk latihan
segera!! Aku sudah tidak kuat melihatnya disana. Rasanya ingin ku.... peluk.
Argh!
Tuh kan, aku mulai melunak. Sial! Aku tak pernah bisa bertahan lama untuk terus
marah padanya. Hah, shikatanai (sayang sekali).
Aku
melirik ke arah Taeyong. Sepertinya dia menyadari tatapanku ini. Ia terlihat
menegakkan badan dengan mata berbinar. Aku bangkit berdiri dan berjalan
mendekati Taeyong. Sekarang aku bisa membayangkan ekor pria itu bergoyang cepat
saking senangnya.
“Kenapa
tidak latihan?”, tanyaku dengan nada ketus.
“Aku
minta maaf..”, ujarnya tak menjawab pertanyaanku.
“Untuk?”,
kedua tanganku terlipat.
“Karena
sudah pergi tanpa mengabarimu.. Karena sudah membuatmu khawatir.. Karena sudah
mementingkan tidur daripada dirimu.. Karena-“
“Cukup..
Kalau mau tidur, tidurlah.. Aku juga tidak memaksamu untuk menomor satukan aku
kan?”
“Kau
sudah tidak marah?”, tanya Taeyong dengan nada sedikti ceria.
“Aku
marah karena aku tidak bisa menemukanmu di saat aku membutuhkanmu.. Aku harap,
tidak ada lain kali..”
“Tentu!
Akan kupastikan harapanmu terkabul.. Jadi.. Masih marah?”
“Masih..”,
jawabku pura-pura kesal sambil membuang muka.
“Apa
yang harus kulakukan supaya kau tidak marah lagi?”
Aku
mengulurkan tangan tanpa menatap Taeyong. Aku bisa melihat senyum kecil di
bibir Taeyong dari sudut mataku. Ia lalu menangkap menggandeng tanganku.
“Ayo
makan siang.. Akan kutraktir!”
Aku
lalu tersenyum. Memang tidak bisa dipungkiri. Aku tidak bisa marah terlalu lama
padanya. Coba saja bayangkan betapa teganya aku kalau sampai membuatnya sedih?
Astaga, aku yang marah kenapa aku yang menyesal?
Yah,
memang begitulah perasaan rumitku pada Taeyong.
$$$$$
“Nani
(apa)? Kau kabur dari rumah?”, tanya Taeyong saat memotek sumpit kayunya.
“Ya..”
“Ternyata
Hayashi tidak bercanda waktu itu..”, gumam Taeyong.
“Hm?
Kau bilang apa? Hayashi?”
“Waktu
aku jalan-jalan dengan Yuta, kami bertemu Hayashi.. Dia bilang kau pergi dari
rumah.. Kupikir dia hanya bercanda..”
Rin
menghentikan gerakannya. Ia sepenuhnya menatap Taeyong dengan heran.
“Bertemu
dengan Hayashi? Untuk apa kalian ke rumah sakit?”, tanya Rin.
“Eh?
Aku kan tidak bilang kalau bertemu di rumah sakit..”
“Rumah,
sekolah, perpustakaan, dan rumah sakit.. Empat tempat itu adalah rutinitas Haku
tanpaku.. Kemarin jadwal Haku ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya, jadi
kenapa kalian ke rumah sakit juga?”
“Kami
bertemunya di luar rumah sakit..”, jawab Taeyong menyantap makan siangnya.
Rin
menatap Taeyong curiga.
“Kalau
tidak percaya tanya saja Yuta.. Dia bahkan mengajak Hayashi kencan mendadak..
Aku jadi obat nyamuk..”
“Kau
tahu kan aku tidak bisa percaya dengan Nakamoto-senpai.. Dia lebih mencurigakan
darimu..”
“Hahaha,
benar juga.. Oh ya, kalau kau pergi dari rumah.. Lalu sekarang tidur dimana?”
“Di
hotel.. Kemarin ayah sempat datang, kami sudah baikan.. Tapi aku masih ingin
sendiri.. Jadi kuputuskan untuk sementara waktu aku akan tinggal disana..”
“Hotel?
Sendirian?”, tanya Taeyong dengan ekspresi nakal.
“Iya..
Mau main?”, tantang Rin dengan ekspresi nakal juga.
“Eh?!”,
Taeyong agak mundur terkejut.
“Kebetulan
aku sedang tidak datang bulan juga lho..”, tambah Rin semakin nakal.
“Kyahhhhh!!!!”
Rin
hanya tertawa melihat Taeyong sudah semerah kepiting rebus Hokkaido sekarang.
Haha. Yang mana yang wanita? Kenapa Taeyong yang tersipu? Dasar laki-laki
setengah tulen.
$$$$$
Hakuro
terpaku pada tempatnya berdiri. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling
meremas takut. Gerombolan wanita dengan tatapan sangar telah mengepungnya.
“Tidak
tahu diri ya kau itu..”, ujar salah satu dari mereka.
“Berani
sekali mendekati Nakamoto Yuta dengan cara seperti itu.. Dasar penjilat!”,
timpal yang lain.
“Kami
tahu kalau kau hanya memanfaatkannya sebagai tameng untuk melindungimu saja
kan?”
“Oh
mungkin kau juga mau hartanya saja? Begitu kan?!”
“T-tidak..”,
jawab Hakuro pelan.
“Jangan
bohong!!”, salah satu dari mereka melayangkan tamparan tepat di pipi Hakuro.
“Kami
semua tahu kalau kau adalah anak dari keluarga miskin dan berantakan!! Kau pasti
hanya mengincar harta Yuta-kun saja!”, bentak siswi lain.
“Dia
bukan berasal dari keluarga seperti itu..”
Sebuah
suara khas perempuan mengalihkan perhatian para siswi yang mengepung Hakuro.
“Yuu..”
Yuu
dan teman-temannya berjalan mendekat. Mereka termasuk golongan siswi populer
yang cantik dan kaya. Menundukkan gerombolan siswi berandal tentu bukan masalah
untuk Yuu dan teman-temannya.
“Jadi
kau masih saja berani mendekati Yuta-kun setelah apa yang kau lakukan
padanya?”, tanya Yuu dengan tangan terlipat menatap Hakuro.
“Hah?
Melakukan apa? Dia sudah apakan Yuta-kun?”, tanya salah seorang dari gerombolan
siswi berandal.
“Gadis
ini sudah menyia-nyiakan perasaan Yuta-kun untuknya..”, kata Yuu.
“Apa?!
Kurang ajar sekali!”
“Kemarin
ayahku mengatakan kalau tuan Takamura menggantikan posisi putrinya dalam
perjodohan itu.. Kukira aku tidak akan mengenal anak angkat tuan Takamura..
Tapi tak sangka, ternyata yang dimaksud adalah kau.. Hayashi Hakuro..”, jelas
Yuu.
“Dia
menerima tawaran perjodohan itu.. Jadi bisa dikatakan kalau orang ini telah
menyakiti Yuta-kun..”, simpul Sora.
“Kau..
Berani-beraninya-“
“Pukul
saja aku sepuasmu..”, sela Hakuro.
“Hah?”
“Kalau
kau kesal dan ingin memukulku, pukul saja.. Kalian boleh mengeroyokku..
Menampar, memukul, menendang.. Akan kuterima semua itu.. Aku rasa aku
pantas..”, ujar Hakuro dengan kepala masih tertunduk.
“Kau
pasti akan mengadukan kami ke Yuta-kun! Kau pasti ingin merusak image kami
kan?!”
“Kalau
bisa pukul aku sampai mati..”
Seketika
hening. Mereka menatap Hakuro agak takut. Apa yang dibicarakannya?
Pada
saat itu, sebuah uluran tangan memecah fokus mereka. Yuta datang menarik Hakuro
keluar dari gerombolan para siswi disana. Ia terus menarik Hakuro tanpa berkata
apa-apa. Menoleh saja tidak. Dan bisa dipastikan kalau Yuta juga tidak
tersenyum. Sama sekali.
$$$$$
Taman
belakang. Tempat ini adalah tempat paling sepi. Yuta telah menarik Hakuro dari
atap sampai ke taman belakang. Sepanjang perjalanan pun tak ada yang berbicara.
Yuta
melepas genggaman tangannya dari pergelangan Hakuro. Ia membalikkan badan
menatap gadis dengan kepala tertunduk di hadapannya.
“Hayashi..”,
panggil Yuta tegas. “Hayashi, aku memanggilmu.. Jadi aku mohon, tatap aku..”,
pinta Yuta.
Hakuro
mengangkat wajahnya. Ia juga menatap Yuta.
“Maaf..
Nakamoto-senpai...”, lirih Hakuro. “Aku bersalah menerima perjodohan itu.. Aku
bersalah karena tidak mempertimbangkan perasaanmu..”, jelasnya lemas.
“Bodoh..”,
kata singkat itu mengangkat wajah Hakuro cepat. “Aku tidak memikirkan hal itu..
Bukan itu yang membuatku marah..”
“Lalu....?”
“Aku
marah karena kau ingin mati..”
Yuta
menepuk kedua pundak Hakuro yang menatapnya tak percaya.
“Apapun
yang terjadi, kau tidak boleh menyerah seperti itu.. Yah, kuakui aku sedikit
shock mendengarnya.. Itu adalah pilihanmu dan aku belum berhak menjadi salah
satu pertimbangamu..”
“Nakamoto-senpai..”
“Tapi
bukan berarti aku akan tinggal diam tak melakukan apa-apa.. Tentu saja aku akan
berusaha agar bisa kau pertimbangkan.. Omae no koto ga zenbu.. Suki da..”
Hakuro
bisa melihat senyum manis di wajah Yuta. Ia memikirkan banyak hal saat menatap
pria ini.
“Sebenarnya
kau itu.. siapa?”
$$$$$
Malam
ini adalah malam yang sangat menegangkan untukku. Akhirnya untuk yang pertama
kali, aku akan bertemu dengan calon suamiku. Benar, ini malam pertemuan acara
perjodohan antara Takamura dengan Nakajima.
Aku
melihat diriku di kaca. Aku tampak sangat berbeda dari biasanya. Pakaianku
sangat cantik, rambutku indah, wajahku juga dimake-up. Rin, aku takut.
Seandainya kau ada disini, aku tak akan merasa setakut ini. Tubuhku gemetar
kalau aku memikirkan hal ini.
“Nona..
Anda sudah ditunggu tuan besar..”, ujar seorang pelayan.
Aku
menghela nafas lalu turun ke lantai satu untuk menemui paman dan keluarga
Takamura yang lainnya. Mungkin hanya perasaanku, tapi aku melihat para Takamura
sedikit terpaku saat menatap diriku.
“Kau
sangat cantik..”, kata paman menyambutku dengan ramah.
“Terimakasih,
paman..”
“Apa
kau gugup?”
“Ya..”,
jawabku jujur.
“Itu
wajar saja jadi tak apa.. Santai saja ya, Hakuro..”, paman menenangkanku.
“Acara
malam ini tak hanya akan dihadiri oleh dua belah pihak.. Ada beberapa keluarga
perusahaan lain juga, jadi jangan mengacau.. Mengerti?”, tegas nenek mengambil
tas tangannya.
“Baik,
saya mengerti..”
Jujur
saja aku tak bisa berpikir jernih. Rasanya ingin kabur dari situasi ini. Aku
butuh Rin. Tak apa aku tetap di posisi ini, tapi setidaknya kalau ada Rin aku
bisa tenang. Berada di tengah dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya,
membuatku cemas.
Bagaimana
kalau aku mengecewakan paman? Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?
Bagaimana kalau aku menangis disana? Apa yang harus kulakukan untuk menekan
perasaanku? Meski aku sudah berjanji akan melupakan Nakamoto-senpai, tapi...
sampai sekarang aku belum berhasil.
Sebuah
gedung megah berdiri kokoh di depan mataku. Gemerlap lampu yang mengindahkan
bangunan itu membuat suasana mewah menyelimutinya. Aku menelan saliva berat.
Mungkin kalau aku diam dan tersenyum tidak akan masalah. Baiklah.
Orang-orang
penting dengan dandanan luar biasa mahal langsung menyambutku ketika aku turun
dari mobil. Ini hanya acara makan malam biasa, tapi kesannya seperti acara
pernikahan. Paman lalu mengajakku untuk masuk dan menyapa beberapa tamu lain,
kenalan paman.
Aku
hanya bisa tersenyum mendengarkan obrolan orang-orang disini. Rin memang hebat,
dia bisa bertahan dengan situasi begini kaku.
“Aku
dengar putra Nakajima telah kembali..”
“Benarkah?
Itu berita bagus..”
Jadi
aku tidak akan menikahi sebuah nama? Akhirnya putra keluarga Nakajima telah
kembali. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh aula megah nan luas ini. Apa yang
kuharapkan dari mengedarkan pandangan? Hah, konyol kalau kuberitahu jawabannya.
“Perhatian
semuanya..”, seorang pria tua yang berdiri di balkon lantai 2 mengambil
perhatian para tamunya. “Malam ini adalah malam yang sangat spesial.. Karena
pada akhirnya perusahaanku dan perusahaan Takamura akan menjalin kemitraan..
Pada malam ini juga aku mengadakan pesta untuk menyambut kepulangan putraku,
Nakajima Yuto..”
Para
tamu bertepuk tangan seiring dengan keluarnya seorang pria bertuxedo rapi. Badannya
tinggi dan agak berotot. Matanya sangat tajam tapi senyumnya ramah. Apa itu
yang akan menjadi suamiku? Nakajima Yuto.
“Aku
sempat mendengar rumor miring tentang diriku yang kabur dari rumah.. Tapi perlu
ketegaskan kalau sebenarnya aku hanya pergi untuk melanjutkan studi di luar
negeri waktu itu.. Setelah menyelesaikan studi S3ku di Berlin, akhirnya aku
kembali untuk membantu bisnis ayahku..”, jelas Nakajima-san dengan nada lembut.
“Nah
sekarang, aku sudah tidak sabar mengundang calon istriku untuk menyambutku
malam ini..”
Aku
mengangkat wajah dengan tubuh menegang. Oh tidak aku gugup. Jangan bilang aku
harus maju ke depan dan berdiri di samping pria setampan Nakajima itu! Aku
tidak akan mampu, aduhhh.
“Hakuro,
temuilah dia..”, bisik paman.
Aku
menarik nafas dalam. Kuberanikan diri untuk melangkah menuju ke Nakajima-san.
Astaga mereka semua menatapku dengan begitu lekat. Sangat tidak nyaman!
“Selamat
malam, nona..”, Nakajima-san menyambutku dengan sangat gentle. Dia mengambil
satu tanganku lalu mengecup kilas punggung tanganku itu. Oh astaga, wajahku
memanas saking malunya!
“Ya!
Malam ini, pesta perjodohan antara Takamura dan Nakajima resmi di-“
“Tunggu!”
Seseorang
memotong kalimat tuan Nakajima. Tentu saja suara yang cukup keras dan tegas
tadi membuat semua tamu menoleh ke arah pintu utama. Seorang pria bertubuh
kekar berdiri tegak di tengah pintu. Siapa dia?
“Tuan
muda sudah datang..”, katanya seperti melaporkan sesuatu.
“Apa?”,
aku bisa mendengar tuan Nakajima agak terkejut disitu.
Aku
mengalihkan tatapan ke Nakajima-san. Berbeda dengan ekspresi ayahnya, wajah
Nakajima-san begitu antusias dan tertarik dengan kedatangan seseorang dari
balik pintu utama.
Tak
menyiakan waktu, aku pun ikut memandang pintu utama dengan tidak sabar.
Sepenting itu kah tamu yang ada di balik pintu utama itu? Hingga tuan rumah pun
harus menunggu kehadirannya.
Pintu
paling besar disana akhirnya terbuka lebar menampakkan sesosok pria berjas rapi
dengan sebuah senyuman. Melihatnya membuat jantungku hampir berhenti. Nafasku
tercekat. Aku tak bisa berkata apa-apa.
“Seantusias
itu kah papa dengan perjodohan ini?”, tanya pria itu ketika ia berdiri di depan
tuan Nakajima.
“Aku
tidak ingat mendidikmu menjadi begitu lancang.. Menyela sembarangan seperti
itu..”, sahut tuan Nakajima.
“Akhirnya
putra bungsumu kembali menginjakkan kaki ke rumah, apa kau tidak senang?”
“Tidak
dengan cara seperti itu, Yuta!”
Nakamoto-senpai.
Dia benar Nakamoto Yuta yang sekolah di Kaijou itu kan? Dia vokalis band rock
yang mesum itu kan? Dia kakak kelasku yang itu kan? Benar dia?!
$$$$$
“Pft,
maaf.. Tadi agak sedikit macet, jadi aku terpaksa terlambat..”, Yuta
mengalihkan pandangan ke Yuto. “Jadi kakak, kau benar melepas studi S3mu hanya
karena ini?”
“Keluarga
lebih penting bukan? Lagipula tidak ada yang bisa diandalkan lagi disini..
Tentu aku harus turun tangan..”, jawab Yuto kalem.
“Tidak
bisa diandalkan? Haha, darimana muncul frasa seperti itu? Kau terlalu
mencemaskan papa.. Sebuah jalinan kemitraan, tidak harus dibangun dengan
perjodohan kan?”, tanya Yuta melirik ayahnya.
“Yuta,
yang sekarang menjadi pertanyaan adalah kenapa kau repot-repot hadir ke acara
yang bahkan kau tak suka? Apa ada hal yang harus kau selesaikan?”, tanya Yuto.
Yuta
menatap Hakuro yang sedari tadi diam mematung pada tempatnya. “Ada..”, jawabnya
membuat Yuto juga melirik ke Hakuro.
“Souka..
Kalau begitu, selesaikanlah..”, ujar Yuto merangkul Hakuro.
“Tentu..
Dengan senang hati..”
Yuta
menarik tangan Hakuro agar menjauh dari Yuto. “Pertama, jangan sentuh dia
sembarangan..”
“Yuta,
kau tidak boleh mengacaukan pesta..!”, geram ayahnya.
“Kedua,
kalian tidak berhak bertindak sembarangan padaku juga padanya..”, Yuta
tersenyum menggandeng Hakuro menuruni anak tangga.
“Yuta,
kau mau kemana?!”, tanya ayahnya kesal.
“Ketiga,
selamat melanjutkan pesta! Maaf mengganggu sebentar..”
Begitulah.
Putra yang dikabarkan kabur dari rumah adalah anak bungsu Nakajima. Dan dia
juga yang membawa kabur calon mempelai wanitanya.
$$$$$
‘Brak!!’
Astaga
pintu kosku yang malang. Aku hanya bisa menatap pintu kayu itu dengan pilu.
Membiarkan pria jangkung berdiri dengan pose klasiknya.
“Good
evening, ladies..”, sapa Johnny dengan suara mendesah.
“Kau
hampir saja merusak properti berharga, tuan..”, sahutku datar.
“Lho?
Takamura-senpai ada disini juga?”, kali ini adik manis bernama Jae yang bicara.
Ia melepas jaket dan tas seakan ini adalah rumahnya sendiri.
“Untuk
apa kalian kemari?”, tanya Rin ketus. Iyalah. Kita baru dinner berdua dalam
tenang! Kemudian dua alien menyerang kamar kosku.
“Wah
ini masakan Taeyong? Selamat makan!”, Johnny menyendok nasi kare panasku seenak
jidatnya.
“Hei,
jangan diamkan aku!!”, protes Rin ketika tak mendapat jawaban dari dua makhluk
unik ini.
“Kami
bosan nih..”, ujar Jae mengambil kare dari panci. Oh, dia dengan baik melayani
diri sendiri di rumah orang.
“Kalau
bosan kenapa kemari? Sana jalan-jalan.. Biasanya juga ke club kan?”, tanya Rin
setengah kesal.
“Kami
mau makan dulu..”, jawab Johnny.
“Jangan
makan di rumah orang seenaknya saja!!!”, bentak Rin akhirnya kesal maksimal.
“Hahahahaha..
Rakyat jelata memang beda.. Ngomong-ngomong, dimana Ten, Sol, dan Yuta?”,
tanyaku membuat Johnny dan Jae saling tatap sedetik.
“Kalian
tidak tahu?”, tanya Johnny balik.
Aku
dan Rin menggeleng kompak.
“Mereka
menghadiri pesta perjodohan Takamura dengan Nakajima..”, jawab Jae.
“Hah?
Perjodohan Takamura? Takamura keluarganya Rin maksud kalian?”, aku memiringkan
kepala bingung.
“Hmm..
Sepertinya kalian memang sama sekali tidak tahu soal ini..”, ujar Jae tak menjawab
kebingunganku.
“Takamura
Yoshiko dan Nakajima Kento.. Kedua pria itu telah setuju untuk menjodohkan anak
mereka demi terlaksananya jalinan kemitraan kedua belah pihak..”, jelas Johnny.
“T-tunggu..
Kau bilang Takamura Yoshiko? Jadi benar ayahnya Rin? Tapi kalau Rin-nya disini,
lalu siapa yang dijodohkan? Rin kan anak tunggal..”, sepertinya nadaku
terdengar sangat penasaran.
Aku
dapat melihat Johnny dan Jae melirik ke Rin. Aku mengikuti arah pandang kedua
pria itu. Sekarang aku bisa meliaht Rin sedang mengerutkan kening berpikir. Aku
tahu alasan Rin kabur dari rumah. Dia sudah cerita sebelum Johnny dan Jae
datang. Kupikir ayahnya setuju untuk melakukan hal lain selain perjodohan. Apa
ayah Rin akan menikahkan ‘nama’ anaknya sendiri dengan pihak sebelah? Itu gila!
“Tuan
Takamura tidak memberitahumu, Takamura-senpai?”, tanya Jae membuyarkan
pikiranku.
“Aku
memikirkan seseorang.. Dia memang terlihat aneh sepanjang hari.. Hah, tapi masa
dia? Hah, ayah setega itu?”, Rin tersenyum ragu tak ingin percaya pada pikirannya
sendiri.
“Sayangnya
iya.. Ayahmu meminta Hayashi untuk menggantikan posisimu pada perjodohan
itu..”, jawab Johnny.
Aku
dapat merasakan betapa terkejutnya Rin. Ia terlihat kaku dan tertohok saat itu
juga. Aku menggenggam tangan Rin yang ada di atas pangkuan gadis itu. Benar
dugaanku, tangannya dingin dan sedikit gemetar.
“Lalu..
Kenapa Yuta, Sol, dan Ten kesana?”, tanyaku.
“Sol
dan Ten hanya menemani Yuta untuk menculik sang putri..”, jawab Jae.
Aku
dan Rin menatap Jae dengan mata lebar. Mereka senekad itu?! Apa mereka tidak
sayang kehidupan? Perjalanan hidup mereka masih panjang, kenapa disia-siakan
begitu?
“Apa?
Mereka apa?”, Rin mencondongkan tubuhnya ke depan saking tak percayanya.
“Kalau
rencana berjalan mulus.. Mungkin mereka akan tiba sekitar dua puluh menit dari sekarang..”, jelas
Johnny melihat jam tangannya.
“Astaga..
Mereka itu mikir apa sih? Bagaimana kalau mereka sampai dihajar para bodyguard
Nakajima dan Takamura? Itu kan pesta besar yang dihadiri banyak pihak..”, Rin
menangkupkan dua tangannya ke wajah.
Diam
beberapa detik ternyata bisa menjernihkan otakku. Aku ingat sesuatu yang Rin
tak tahu. Nakamoto Yuta. Tidak semudah itu menyingkirkannya bukan? Ah iya,
kenapa aku tak kepikiran hal ini? Heh, bodoh.
Melihatku
menggelengkan kepala sambil senyum menertawakan diri membuat orang di sekitarku
keheranan.
“Kau
kenapa Taeyong?”, tanya Johnny agak khawatir.
“Tidak..
Aku cuma geli.. Kalau begitu, lebih baik kita berdoa dan menunggu mereka sampai
di kos ini dalam keadaan utuh dan selamat..”, kataku memberikan seulas senyum
tenang.
$$$$$
“Mission
accomplished!!!! Lets go!!! Yahay!!!!!!!”, Yuta dengan heboh menyodorkan
jempolnya ke arahku dan Ten yang duduk di kursi bagian depan mobil.
“Hai
hai..”, jawabku lalu menancap gas.
Aku
melihat Hayashi duduk tenang dari kaca. Anak itu pasti ketakutan dan
kebingungan. Yuta memang terlalu mengejutkan! Beruntung Hayashi mau, bagaimana
kalau dia ditolak di tengah keramaian pesta? Mau ditaruh mana wibawanya sebagai
direktur utama Nakamoto group?
“Jadi
kau bertemu dengan kakakmu?”, tanya Ten fokus ke ponselnya.
“Ya..
Dia tambah kurus.. Dan semakin tampan!”, jawab Yuta senang.
“Lalu
bagaimana dengan ayahmu?”
“Dia
tambah gendut.. Rambutnya jadi hitam!”
“Itu
disemir, senpai.. Kemudian tuan Takamura.. Kau bertemu dengannya?”
“Tidak..
Aku terlalu cepat menghilang darisana..”
“Hah..
Kau benar-benar menculik putri tuan Takamura, senpai.. Kenapa tidak kau temui
dia dulu, sapa sebentar, lalu minta izin untuk mengambil Hayashi?”
“Aku
tidak tahu.. Aku hanya mengikuti langkahku saja..”
Aku
menghela nafas dengan fokus ke jalanan. Saat traffic light berubah merah dan
menghentikan laju mobilku, aku melirik ke spion... Oh bagus. Bagus sekali! Ini
pasti hadiah karena telah meninggalkan pesta tanpa izin dari tuan Takamura.
“Oi,
kita punya ekor di belakang..”, laporku datar.
“Lakukan
hobimu, Sol..”, sahut Yuta sambil memasangkan sabuk pengaman Hayashi.
“Apapun
perintahmu, tuan Nakamoto..”, jawabku menyunggingkan senyuman.
“Ingat,
kita akan ke kos Taeyong-senpai.. Jangan lewat rute biasa, nanti ketahuan
destinasi kita.. Ikuti jalan rahasia yang sudah kusiapkan di GPS mobil ini..
Kalau bisa, buat mereka kehilangan jejak kita di tengah jalan..”, jelas Ten
panjang.
“Hai
hai.. Pakai sabuk pengamanmu, Ten.. Yuta, jangan nekad tidak pasang sabuk
pengaman! Pakai dulu cepat!”, bentakku galak saat melihat Yuta masih saja duduk
santai.
“Ehhhh..
Tapi kan tidak seru kalau pakai sabuk pengaman..”, rengeknya.
Aku
berdecak. Kuarahkan pandanganku ke Hayashi yang masih duduk diam tak bergeming
sama sekali. Aku menyenggol tangannya yang kaku. Ia agak terlonjak kaget
sebelum melihat ke arahku.
“Nona..
Tolong urus anak ini ya.. Aku tidak mau menanggung amukan ibunya kalau dia
sampai terluka..”, ujarku memunculkan tanda tanya di kepala Hayashi.
“C-curang!
Sol kau tidak boleh bermain kotor!! Kau kan tahu aku tidak berkutik kalau sama
Hayashi!”, omel Yuta.
“Omong
kosong.. Kau berani menculiknya dari pesta besar, masih bilang tak berkutik?
Hah..”
“Hayashi,
tolong pakaikan sabuk pengamannya ya.. Selotip pakai ini kalau sudah..”, Ten
menyerahkan selotip hitam ke Hayashi.
“Eh?!!
A-aku pakai! Aku pakai nih! Sudah!”, Yuta menurut kilat.
$$$$$
Ayah
menjodohkan Haku dengan keluarga Nakajima? Kenapa ayah setega itu? Tanpa
kusadari aku telah meremas bajuku. Kesal, itulah yang kurasakan.
“Rin..”,
suara Taeyong sedikit melemaskan ototku yang menegang sesaat.
“Hm?”
“Percayalah
pada Yuta.. Anak itu walau terlihat tidak bisa diandalkan, tapi untuk urusan
begini dia adalah orang yang harus kau percayai..”
Aku
mengangguk. Yang membuatku tenang bukan perkataan Taeyong. Hei, mana bisa aku
tenang ketika dia bilang Nakamoto-senpai bisa dipercaya? Satu-satunya yang
membuatku tenang itu senyum Taeyong.
“Hmm,
aku mendengar suara mesin mobil..”, tiba-tiba Johnny memejamkan mata seakan
mendapat pendengaran ajaib.
“Ah!
Itu suara pintu mobil kan?”, Jae menambahkan.
“Biar
kuperiksa..”, Taeyong bangkit berdiri meninggalkan meja makan menuju pintu.
Keheningan
langsung tercipta. Tentu saja aku tegang! Kita belum tahu siapa yang datang dan
bagaimana keadaan Haku! Astaga, seharusnya ini menjadi dinner tentramku dengan
Taeyong, kenapa malah jadi dinner mencekam begini?
“Hey
yo wassap bro!!”
Suara
itu............ membuatku kesal.
“Lho
Takamura? Kau mau kemana?”, tanya Johnny melihatku berdiri dari kursi.
Aku
tak menjawab. Aku menuju pintu untuk keluar dan benar saja. Aku bisa langsung
melihat targetku dengan jelas tertawa bodoh disana.
“Na..
Ka.. Mo.. To.. Sen.. Pai..”, geramku.
“Eh?
Sepertinya ada yang memanggil?”
“Kau
apakan Haku, hah?!!!!” bentakku menyerangnya dengan flying kick jurus spesial.
“Uwogh!!
Ugh..!”
“R-rin,
tunggu! Nakamoto-senpai menyelamatkanku kok!”, cegah Haku.
“Kau
baik-baik saja kan? Dia tidak menyentuhmu sembarangan kan? Heh, kalian
berdua!”, aku menunjuk Sol dan Ten galak.
“Eh?
Kok kami juga....”, lirih mereka.
“Si
rumput laut ini tidak macam-macam pada Haku kan?”, aku memicingkan mata
menunjuk Nakamoto senpai.
“Oi!
Siapa yang rumput laut?!”
“Hhmm..
Sepertinya tidak.. Tenang saja, Takamura..”, jawab Ten.
“Ten!
Kau ini di pihak siapa? Kenapa jawabanmu tidak mendukungku begitu?”, protes
Nakamoto senpai.
“Sudah
bagus jawabannya setengah mendukungmu, Yuta..”, timpal Sol.
“Mereka
jahat sekali.. Taeyong........”, sekarang Nakamoto senpai mendekap Taeyong pilu.
Sekejap
suasana jadi ramai. Aku tidak marah, aku sangat lega dan senang mereka bisa
mengeluarkan Haku darisana. Terimakasih Nakamoto senpai.
$$$$$
Johnny
dan Jae menyambut kedatangan tiga temannya secara kalem. American swag style.
Pada akhirnya kamar kos Taeyong berubah jadi rumah cinta yang ramai dengan
orang-orang tak bertanggung jawab. Kasihan Taeyong.
“Wah,
kare! Kebetulan aku belum makan.. Ten, kau mau juga?”, tanya Sol mengmabil
piring.
“Boleh..”,
jawab Ten ikut menyiapkan piring.
“Ya
ampun.. Kenapa aku harus memberi makan kalian orang-orang jelata sih?”, Taeyong
hanya bisa memijat pelipis.
“Tak
apa lah.. Hitung-hitung ini ucapan terimakasihku telah menolong Haku disaat aku
tak tahu masalahnya.. Jangan sedih Taeyong-senpai.. Kapan-kapan kita dinner di
restoran bintang lima!”, ujar Rin semangat.
“Hahaha,
boleh.. Aku harus kerja ekstra kalau begitu, hmm..” sahut Taeyong mengestimasi
pengeluaran makan malam di restoran mahal.
Rin
menoleh ke kanan kiri mencari seseorang. Hakuro. Matanya tertuju pada teras kos
Taeyong. Ada Yuta dan Hakuro disana. Barusaja Rin hendak melinting lengan baju
dan melabrak Yuta, Taeyong menghentikan langkahnya. Pria itu menggeleng pelan
dengan seulas senyum.
“Beri
Yuta waktu sebentar..”
Rin
mengangguk menyetujui. Ia kemudian memilih untuk masuk ke dapur bersama
Taeyong.
“Maaf
aku tidak memberitahumu soal diriku..”, ujar Yuta.
“Tak
apa.. Dari awal aku tahu Nakamoto-senpai bukan orang sembarangan..”, jawab
Hakuro.
“Hei,
Hayashi..”
“Hm?”
“Kalau
aku tidak datang menarikmu dari pesta itu.. Apa kau benar akan merima
perjodohan ini begitu saja?”
“Aku
berpikir seperti itu.. Tapi melihat Nakamoto-senpai malam ini, kegelisahanku
sirna.. Terimakasih, Nakamoto-senpai..”
Yuta
menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia takk berani menatap Hakuro sekarang,
sumpah.
“Nakamoto-senpai?”
“H-hai?”
“Aku
merasa sedikit tidak adil..”
“Kenapa?”
“Kau
tahu banyak tentangku.. Bahkan yang orang lain tak tahu, kau sudah tahu..
Kurasa tak adil jika hanya kau yang tahu tentangku.. Apakah aku juga boleh mengenalmu
lebih dalam?”
Yuta
terdiam beberapa detik. Ia paham pertanyaan Hakuro yang sebenarnya. Sebelum
menjawab Yuta menghela nafas.
“Ayah
dan ibuku bercerai waktu aku SD.. Yah, masalahnya sepele.. Mereka adalah kepala
dari perusahaan yang berbeda.. Ibu tidak mau menjadi bagian dari perusahaan
ayah, dan ayah juga menolak penggabungan dua perusahaan mereka.. Mereka
kemudian berpisah.. Kakak ikut ayah, sedangkan aku dengan ibu..” jelas Yuta.
“Karena
itulah namamu menjadi Nakamoto?”
“Benar..
Itu marga ibuku.. Akhir-akhir ini kondisi ibu kurang baik, jadi aku yang
menghandle pekerjaannya.. Ditambah ibu jadi semakin manja sekarang.. Karena itu
sekalian mengantar Taeyong, aku juga menjenguk ibu di rumah sakit keluarga..”
“T-tunggu
dulu..”
“Hm?”
“Rumah
sakit keluarga? R-rumah sakit yang kemarin itu.. Itu rumah sakit punya senpai?”
“Sou..”
Hakuro
diam dengan mata lebar. Jadi selama ini ibunya dirawat di rumah sakit milik
Yuta? Bahkan di rumah sakit itu ada nyonya Nakamoto juga. Lho lho tunggu
sebentar.
“Apa
Nyonya Nakamoto mengenal Tuan Takamura?”, tanya Hakuro.
“Hahahaha,
pertanyaan lucu..”
“Eh?”
“Tuan
Takamura adalah mantan pacar ibuku semasa SMA..”
“Apa?
I-itu... Benarkah?”
“Kapan
aku main-main?”
“Eemm..
Setiap saat..?”
“Oh
iya.. Hm, kali ini benar.. Mereka dulu berpacaran.. Tapi karena satu dua alasan
akhirnya mereka putus..”
“Kalau
begitu bukankah gawat?”
“Gawat?
Kenapa?”
“Nakamoto-senpai
telah merusak pesta perjodohan kemitraan paman kan? Bagaimana kalau hubungan
Nyonya Nakamoto dengan paman menjadi semakin buruk?”
“Oh,
hahaha tenang saja.. Itu tidak mungkin terjadi.. Tuan Takamura itu sudah
menjadi sahabat ibuku.. Mungkin dia hanya akan tersenyum maklum dengan
sikapku..”
“Kalau
paman sudah mengenal Nakamoto-senpai dengan baik, kenapa Rin tidak mengenalmu
juga?”
“Hmm,
benar juga.. Mungkin aku kurang eksis..”, jawab Yuta menatap masa lalu.
“Heh
kalian berdua sudah belum berduaannya?”, tanya Ten berdiri di ambang pintu.
“Ck,
kau mengganggu sekali.. Aku bahkan belum sempat menggodanya!”, decak Yuta.
“Kau
bisa menggodanya sesuka hatimu setelah ini.. Sekarang masuk, ada yang harus kau
siapkan besok..”, ajak Sol.
Yuta
dan Hakuro mengikuti Ten dan Sol untuk masuk ke kamar kos Taeyong. Entah kenapa
sekarang suasana kembali menegang. Rin memangku kepalanya yang pusing
tiba-tiba.
“Dia
kenapa?”, tanya Yuta setengah berbisik.
“Ayahnya
telpon..”, jawab Johnny.
“Hoh!!
Lalu? Bagaimana?!”
“Masa
kau tidak bisa lihat dari ekspresinya? Apakah sekarang Takamura kelihatan
bahagia?”
“Dia
dimarahi ya?”
“Nakamoto-senpai..”,
panggil Rin mengalihkan perhatian Yuta.
“Ya?!”,
jawab Yuta panik.
“Ayahku
barusan telpon.. Dia bilang ada pria tampan kenalannya yang dengan percaya diri
menarik putrinya keluar dari pesta..”, suara Rin membuat Yuta menelan ludahnya
berat. “Dia juga bilang untuk menyampaikan salamnya pada anak itu kalau aku
bertemu dengannya.. Apa kau tahu selanjutnya ayahku bilang apa?”
“T-tidak..”
“Dia
menerimamu sebagai pacar Haku!!!”, geram Rin.
“Eh
benarkah?!!!!”, Yuta terjungkal ke belakang.
“Aku
tidak percaya! Dengan kelakuanmu yang seenaknya tadi, ayah tetap menyetujui
hubunganmu dengan Haku? Apa-apaan ini, hah?!”
“Kenapa
kau tidak senang?”
“Tentu
saja aku tidak senang! Aku tidak yakin kau bisa menjamin keselamatan Haku..”,
ujar Rin horor mendekap Hakuro posesif.
“Aku
tidak sesembrono itu! Tentu saja aku akan menjaganya! Jangan remehkan Nakamoto
Yuta!”, bantah Yuta bangkit berdiri.
“Oh
begitu..”, Taeyong menengahi dengan nada nakal. “Sudah dapat izin dari
orangtua, sudah menembak, sudah dapat jawaban belum?”, godanya.
“Taeyong
yang benar saja!”, sahut Yuta memerah.
“Lho?
Dia digantung? Hahahahahaha..”, Johnny ikut tertawa jahat.
“Kalian..
Awas kualat..”, gerundel Yuta di sudut ruangan.
“Kau
tidak mau menjawabnya Hayashi?”, tanya Ten.
“Menjawab?”
“Kau
menerima perasaan Yuta?”, kali ini Sol yang memastikan.
“Eh?
Itu....”, Hakuro ikut memerah. “Aku.. Sebenarnya.. Sangat senang.. Karena aku
juga menyukai Nakamoto-senpai..”, jelas gadis itu pelan-pelan.
“Hm?
Apa?”, Jae pura-pura tuli.
“Ah
hazukashii (memalukan)!!”, Hakuro menutupi wajahnya.
“Astaga
disini kita punya pasangan imut yang saling malu-malu.. Ehem!!”, Jae
geleng-geleng kepala.
Malam
itu secara resmi (disahkan oleh beberapa orang) hubungan YuHaku mulai
terbentuk. Ini hal bagus untuk motivasi Yuta. Lihat saja pria itu saat ini,
sudah menyanyi rock beberapa jam masih kuat saja dia. Padahal hari sudah sore
=_=
“Make
some noise!! Ayo lusa sudah lomba!!!!!”, teriaknya heboh mengguncang ruang
latihan klub band.
“Istirahat
sebentar kenapa? Tenggorokanmu tidak kering apa? Nih, minum..” Johnny melempar
botol minum untuk vokalis membahananya.
“Aku
sedang bersemangat, hiyah..!”, jawab Yuta kemudian menenggak air botol minum
itu.
“Ckckck,
biasanya orang yang sedang jatuh cinta itu akan menjadi lebih kalem, dewasa,
nuansa merah muda.. Lah ini? Malah semakin liar berapi-api..”, celetuk Ten
menyetel gitarnya.
“Yuta-senpai
memang beda kan?”, tambah Jae.
“Heh
heh heh kalian..”, panggil Sol yang berkutat pada ponselnya. “Coba dengar ini..”
“Apa
apa apa?”, Johnny melangkah ringan mendekat ke sofa.
“Perusahaan
asing yang kalah saing dengan perusahaan Takamura sudah kembali dari lahan
kematian..”, jelas Sol.
“Lahan
kematian? Mereka perusahaan zombie?”, tanya Yuta mendekat.
“Itu
hanya istilah untuk perusahaan yang mati, senpai..”, jawab Jae menjelaskan
dengan sabar.
“Heee..
Lalu kenapa memangnya?”
“Ah,
aku ingat.. Perusahaan yang benar-benar dibabat habis oleh keeksisan Takamura beberapa
tahun lalu itu kan?”, tanya Ten.
“Benar..
Sekarang mereka sedang ramai jadi bahan pembicaraan para pembisnis kelas
kakap..”
“Kok
kalian bahasannya jadi berat begini sih? Memangnya kenapa kalau perusahaan itu
kembali eksis? Bukankah keren?”, Yuta sudah tak kuat berkutat pada bahan berat
seperti ini. Kepalanya mulai bau gosong.
“Ck..
Kau ini pembisnis, seharusnya tahu kabar-kabar seperti ini.. Bagaimana sih?
Jangan-jangan kau lupa darimana Taeyong berasal?”, Johnny mengingatkan.
Selang
beberapa detik untuk Yuta berpikir. Ia mencetikkan jari, membulatkan bibir
menatap teman-temannya takjub.
“Ooohhh!!!!
Perusahaan asing itu milik keluarga Taeyong kan? Karena itu kalian membahas
ini?”
“Sekarang
baru paham?”, Ten memastikan.
“Tunggu..
Kalau itu perusahaannya Taeyong.. Tidak tidak.. Argh! Aku ini berpikir apa sih?
Hahaha tidak mungkin kan hubungan mereka akan ditentang.. Hehehe..”
Sekejap
hening. Mereka semua serempak menatap Yuta yang tersenyum menenangkan pikiran
liarnya.
$$$$$
Rin
membawaku ke suatu tempat. Katanya dia ingin mengenalkanku pada ayahnya.
Beberapa waktu lalu ayah Rin memang ingin bertemu denganku. Karena itu sekarang
mumpung ada kesempatan, Rin mempertemukan kami di sebuah restoran bintang lima
untuk makan malam.
“Ayahku
itu meski tampak kaku dan tegas, sebenarnya dia mudah luluh hatinya..”, jelas
Rin.
“Benarkah?”,
tanyaku di tengah perjalanan. Kami naik bus untuk sampai ke lokasi yang sudah
dipesan ayahnya Rin.
“Oh
ya.. Ayah suka membicarakan hal berat seperti bisnis, politik, filosofi, dan
semacamnya.. Tapi aku yakin Taeyong-senpai pasti bisa menanggapinya dengan lihai!
Ya kan?”
“Tentu
saja.. Setiap hari aku sudah berlatih membaca komik untuk ini..”
“Heee,
dasar..”
Aku
menusuk pipi Rin yang mengembung kesal dengan jari telunjuk. Oh shit. Harusnya
kufoto saja ya? Sial, aku melewatkan moment bagus.
“Hei,
Rin..”
“Apa?”
“Ayo
pasang wajah seperti tadi.. Gembungkan pipimu..”, pintaku menyiapkan ponsel di
saku ke mode kamera.
“He?
Untuk apa?”
“Sepertinya
tadi ada sesuatu di pipimu..”
“Tidak
mungkin.. Kau pasti mau melakukan hal aneh kan?”
“Aku
serius.. Aku melihat hal aneh saat pipimu menggembung..”
Rin
mengerutkan kening. Oh ini akan menjadi semakin bagus karena ekspresinya kesal.
Dan, cekrek! Aku berhasil mengabadikan foto Rin. Ha ha ha :^D
“Taeyong-senpai!!
Curang!!!”
“Heeee,
duh.. Sepertinya tanganku terpleset.. Tidak sengaja, maaf ya..” jawabku.
Karena
jawabanku yang menyebalkan, Rin menangkup kedua pipiku dan menekannya.
“Untung
ini tempat umum.. Coba kalau di kos, sudah kuterkam kau..”, ancamnya.
“Pulang
ke kos saja kalau begitu.. Bibirku sangat kissable kan?”, aku menaik turunkan
alisku cepat.
“Kau
pakai lipbalm?” tanya Rin.
“Entahlah..
Yuta memberikan barang ini untukku.. Katanya aku harus pakai untuk menghadiri
event-event penting..”, aku menunjukkan sebuah silinder kecil warna warni.
“Pft!
Hahahaha.. Ini lipbalm merah muda rasa cherry yang biasa dipakai cewek!!”
“Eh?
Eh Rin Rin Rin! Kau bawa tisu kan?”, aku agak panik sekarang. Pasti bibirku
seperti banci saat ini. Oh Yuta, awas saja kau.
“Jangan
dihapus.. Kau cantik pakai lipbalm itu.. Haahhaha..”
“Tapi
aku mau bertemu ayahmu, masa tampilanku begini?”
“Asal
kau tidak menggoda ayahku saja tak apa.. Pft!”
“Rin~”,
rengekku pelan mengoyang-goyangkan lengannya.
“Sudah
tak apa.. Cocok kok..”
“Tapi
menjijikan Rin.. Apalagi itu dari Yuta kan? Aku tidak mau..”
“Kau
terlihat semakin tampan dengan lipbalm ini, senpai.. Tenang saja..”
“Ck..”,
aku berdecak melipat tanganku sebal.
“Taeyong-senpai..?”,
panggilnya.
‘Chu~’
Aku
menoleh ke arah Rin cepat dengan mata lebar. Dia barusaja.. menciumku?
“Wah,
rasanya benar cherry..”, katanya dengan senyum mengembang.
Tadi
barusan kita ciuman kan? Kita berbagi lipbalm di tempat umum. Oh my God. Kenapa
aku harus bertingkah seakan aku ini gadisnya? Seharusnya aku yang manly kan?
Ah, apa obat yang selama ini kutelan itu jangan-jangan peningkat hormon wanita?
Kyah!
$$$$$
Restoran
bintang lima memang beda dari kedai pinggir jalan. Aroma masakan yang menggugah
selera mengambil alih ruang makan. Alunan musik klasik dan pelayanan memuaskan
tersedia untuk tiap meja. Ayah Rin, Takamura Yoshiko, sudah duduk di meja yang
ia pesan. Lima belas menit lebih cepat dari waktu janjian. Maklum Yoshiko
barusaja ada rapat di dekat sana, jadi jarak tempuhnya lebih dekat.
Tak
berselang lama, Rin dan Taeyong tiba. Mereka masuk ke restoran setelah pelayan
membukakan pintu.
“Takamura
Yoshiko..”, ujar Rin melaporkan nama meja reservasinya.
“Mari
saya antar..”, ajak pelayan.
“Baik..
Ayo, senpai..”
Rin
agak terpaku melihat ekspresi Taeyong. Sangat berbeda dari Taeyong yang ada di
bus tadi. Taeyong yang ini.. menyebar aura dingin. Well, dia tersenyum. Tapi
senyuman itu bukan tanda sapa yang ramah.
“Emm..
Kau tidak perlu setegang itu..”, kata Rin mencoba memahami kekasihnya.
“Aku
berusaha sebiasa mungkin..”, jawab Taeyong terdengar sangat santai, tidak,
datar.
“Ah,
itu ayah..”, Rin melihat sosok ayahnya di salah satu meja di tengah ruangan.
Mereka
lalu berjalan mendekat. Yoshiko yang melihat kedatangan putrinya pun
mengembangkan senyum. Namun senyum itu perlahan hilang ketika ia melihat sosok
pria yang ada di belakang Rin.
“Ayah
sudah lama disini?”, tanya Rin setelah memeluk ayahnya singkat.
“Tidak,
barusaja..”, jawab Yoshiko. “Rin, ini......”
“Oh!
Ini lelaki yang pernah kuceritakan pada ayah waktu itu.. Pacarku..”, Rin
mengenalkan Taeyong ke ayahnya.
“Selamat
sore, Tuan Takamura Yoshiko.. Senang bisa bertemu dengan anda lagi..”
Rin
mengerjapkan matanya beberapa kali. Lagi?