Minggu, 29 Mei 2016

CARAMEL POPPORN STORY

Ninth Bite


Pipiku memanas seiring dengan munculnya semburat merah disana. Mataku menatap pria di hadapanku dengan penuh keterkejutan. Aku tak tahu harus bilang apa. Aku kehilangan kata-kata.

“Omae no koto ga zenbu (semua tentangmu).. Suki da..”

Semua ini berawal dari beberapa saat yang lalu. Seperti yang sudah kujanjikan, aku akan membawa bento untuk Nakamoto-senpai. Ketika aku hendak menuju ke kelasnya, Nakamoto-senpai malah sudah menunggu di depan pintu kelasku dengan wajah berseri.

“Nakamoto-senpai.. Apa yang kau lakukan disini?”, tanyaku melihatnya berjongkok sambil menopang dagunya dengan dua tangan. Wajahnya seperti ikan kelaparan minta makan.
“He.. Tentu saja aku menunggumu!”, jawabnya bangkit berdiri.
“Oh..”, aku memberikan respon singkat lalu menundukkan kepala.
“Nah, ayo kita ke kantin!”, ajaknya semangat.

Aku mengikuti langkah kaki ceria Nakamoto-senpai. Jujur saja, aku merasa kembali ke TK. Dia sudah kelas tiga, kenapa berjalan dengan begitu menggemaskan?

“Eh, tunggu!!”, tiba-tiba Nakamoto-senpai berhenti dengan wajah horor.
“K-kenapa?”, aku jadi gugup saat melihat wajahnya menatapku lekat.
“Kalau kita ke kantin, para parasit itu pasti akan menyerbu bento buatanmu.. Tidak tidak, itu tidak boleh terjadi.. Hanya aku yang boleh menikmati bento buatan tangan Hayashi!! Hiyah!”, jelasnya menggebu.
“Aku buat banyak, jadi bisa kau bagikan ke teman-temanmu..”, kataku di belakang Nakamoto-senpai yang masih berkobar.
“Tidak mau! Sudah, kita ke atap saja!”

Tangan Nakamoto-senpai tiba-tiba menangkap pergelangan tanganku. Ia membawaku untuk mengikuti langkahnya. Oh, tolonglah. Kalau dia menggenggam pergelangan tanganku seperti ini, detak jantung tak karuanku pasti akan ketahuan!

“Huwah~ Segarnya angin disini! Hah, angin di bawah dan di atas memang beda! Hihi!”, Nakamoto-senpai kembali menjadi anak-anak. Ia memamerkan barisan gigi super rapinya itu padaku.

Dengan santai dan hati-hati aku menyiapkan bento yang sudah kusiapkan tadi pagi. Seperti perjanjian, aku buat dua kotak dengan menu yang sama.

“Hai, douzo..”, kataku mempersilakan.
“Wah, sugeeee..! Ini semua buatan tanganmu, Hayashi?”, mata Nakamoto-senpai memancarkan sinar tak percaya.
“Ya.. Aku tidak tahu selera Nakamoto-senpai.. Jadi kuharap kau tidak menyesal setelah menyantapnya..”, jawabku ragu.
“Itadakimasu!”

Dengan cepat Nakamoto-senpai melahap sepotong telur gulung. Ia membuka mata. Apa dia tersedak? Apa keasinan? Apa tidak enak? Kenapa ekspresinya begitu?

“Hayashi...”, panggilnya datar.
“H-hai.....”, lirihku takut.
“Ini enak sekali..!”, entah kenapa Nakamoto-senpai terharu dengan jempol diacungkan ke arahku.
“Eh.. H-honto desuka (benarkah)?”
“Aku baru memakan telur gulung, tapi enaknya sudah selangit! Apalagi daging dan sayurnya? Ah, surga dunia...”, mungkin hanya perasaanku tapi wajah Nakamoto-senpai terlihat seperti ini (=w=).
“Yokatta.. Aku lega kalau Nakamoto-senpai suka..”, ujarku dengan senyum mengembang.

Melihatku tersenyum, Nakamoto-senpai langsung mematung. Oh tidak. Apa dia takut? Apa aku terlihat aneh? Tanpa berkata apa-apa, Nakamoto-senpai lalu melanjutkan aktivitasnya menyantap bento itu.

“Ah, aku lupa!”, pekikku menampar kening.
“Hm? Lupa apa?”
“Aku tidak membawa minum.. B-biar kubelikan di bawah!”, ujarku cepat dengan sungkan.
“Eh eh! Biar aku saja!”, sahut Nakamoto-senpai lalu mendudukkanku kembali.

Ia lalu berlari masuk menuruni anak tangga, meninggalkanku disini. Hah.. Dadaku rasanya hangat. Perasaan apa ini? Mungkin aku benar-benar menyukai Nakamoto-senpai. Hm, mungkin. Tapi..
Sou ne (iya ya). Aku tidak bisa menyukainya lebih dalam. Aku hanya akan menyakiti diriku sendiri. Setelah ini, aku tidak boleh bertemu dengannya lagi. Apapun yang terjadi, ini adalah yang terakhir. Aku juga tidak boleh egois dan memberinya harapan.
Kehangatan ini telah menusukku. Rasanya sakit jika memikirkan perasaan sukaku pada Nakamoto-senpai.

“Hei, kau!”


$$$$$


Du du du~ Menuruni anak tangga dengan perasaan melayang itu mengasyikkan! Badanku rasanya ringan dan setengah terbang. Jangan-jangan aku penyihir? Hm.

“Oi!”

Sebuah suara familiar menghentikan langkahku yang sudah tersetting untuk menuju ke kantin. Aku menoleh dan mendapati Ten dengan satu earphone menancap di telinganya. Anak itu tahu benar pose yang membuatnya keren.

“Oh, Ten.. Selamat siang!”, aku menyapanya dengan riang. Maklum, moodku sangat bagus setelah makan masakan Hayashi. Uhuy~<3
“Kau mencurigakan.. Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tidak ke kantin dan berisik disana? Kenapa tidak ke ruang klub dan meninggalkan rempah snack disana? Kenapa tidak di kelas dan tidur di meja? Kenapa tidak bersama Taeyong-senpai dan bermain petak umpet?”, jujur saja aku tidak bisa mencerna kalimat Ten dengan baik.
“Hah?”, kuputuskan meresponnya dengan pendek.
“Kau pasti sedang bersama Hayashi kan?”
“Sou..”, jawabku jujur.
“Pantas saja badanmu terlihat seringan kapas.. Sedang apa bersama dengannya?”
“Heeee, kau penasaran? Kau cemburu? Eh kalau kau cemburu berarti kau suka Hayashi juga.. Tidak boleh!!”
“Aku kan tidak bilang kalau aku juga suka..”, lirih Ten menatapku heran.
“Lalu kenapa banyak tanya?”

“Kau tidak tahu?”, suara Ten merendah.
“Tentang apa?”
“Hayashi..”
“Hayashi... Kenapa?”
“Kau tidak akan percaya kalau aku yang jelaskan..”
“Benar..”
“Oi!!”

Ten menyandarkan badannya ke tembok dengan tangan terlipat. Kenapa wajah anak ini sangat kesal? Apakah ia serius kali ini?

“Memang.. Ada apa dengan Hayashi?”, tanyaku mendekati Ten.
“Lebih baik jangan dekati dia lagi.. Kau hanya akan menyusahkannya, dan dia hanya akan menyusahkanmu..”
“Hah? Kau ini bicara apa? Bicaramu tidak jelas.. Aku tidak mengerti..!”
“Kau hanya akan mengerti kalau mendengarnya sendiri dari Hayashi! Tanyakan saja padanya..”
“Apa yang harus kutanyakan kalau aku tidak tahu apa-apa.. Ah, kau memang membingungkan! Otakku tidak bisa menyaingi otakmu.. Sudah ya, aku harus beli minum!”

Aku tak mempedulikan perkataan Ten. Aku tidak terlalu bodoh untuk mengerti pesan tersirat yang ingin Ten sampaikan padaku. Tapi aku mencoba.. untuk tidak memikirkannya.

“Seharusnya kau sudah tahu kan?”, kali ini suara Sol yang menghentikan langkah ringanku. Ia bersandar pada jendela sambil membaca buku.

Aku tak menatapnya, karena aku tahu Sol juga tak menatapku. Aku bahkan tak berbalik dan terus memunggungi temanku ini.

“Kau selalu pura-pura bodoh.. Apa bagusnya?”, tanya Sol masih asyik memandangi huruf-huruf di buku.
“Aku bisa menjadi Nakamoto Yuta bersama dengannya..”, aku menoleh menatap Sol. “Itu bagusnya..”

Helaan nafas Sol dapat kudengar sebelum aku kembali melangkahkan kaki dari tempat itu. Baiklah, pertanyaannya adalah.. Darimana mereka tahu soal ini?


$$$$$


Saat ini cuaca cerah. Matahari bersinar terang, awan putih, dan langit biru. Tapi kenapa suasana Rin mendung begitu? Aku jadi was-was sendiri. Hm. Kalau aku menepuk bahunya.. apa aku akan diterkam?

“Ini catatan minggu lalu..”
“Terimakasih..”

Dia sedang berkutat pada tugas OSIS. Oh ya tentu dia sibuk. Sebentar lagi kita akan lomba, banyak surat yang harus dia urus. Oh oh! Apalagi akan ada darmawisata juga. Pasti padat sekali jadwalnya. Ah, aku ingin menghibur dan menemaninya. Tapi aku takut digigit...

“Taeyong-senpai.. Kenapa mengintip ruang OSIS?”, tanya Kagami menatapku heran.
“Aku sedang mengobservasi suasana hati wanita..”, jawabku datar.
“Eh? Apakah yang kau maksud itu ketua OSIS?”
“Menurutmu?”, aku masih saja mengamati Rin dari tempat persembunyianku.
“Etto (Eemm).. Kenapa tidak langsung masuk dan pastikan saja?”
“Aku masih muda.. Belum mau mati dulu..”

“Takamura! Ada yang sibuk mencarimu!”, teriak Kagami.
“Dasar anak monyet.. Kurang ajar.. Dia berani menipuku.. Dia mengerjaiku.. Awas saja.. Kudoakan kau terpeleset saat memakai dasi..”, aku langsung bergumam mengutuk Kagami.

“Hm?”, Rin menoleh ke arah pintu.
“Ada tamu untukmu..”, lapor Kagami dengan senyum nakal.
“Siapa? Lee Taeyong dari kelas 3-B?”, tanya Rin memastikan. Uh, deg-degan juga.
“Iya..”, nada Kagami masih terdengar nakal.
“Usir, aku sibuk..”

....................

Eh?

Perlahan aku memucat pada posisi dan poseku. Sendi dan ototku kaku tak mau bergerak. Aku benar-benar jadi patung. Oh! Sepertinya Kagami ikut shock juga. Dia sama sekali tak bergerak di sampingku.

Rin marah. Satu hal itu yang menguasai pikiranku saat ini. Oh baka! Tentu saja dia marah! Kemarin sampai rumah aku langsung menggeletak di kasur. Aku tidak sempat mengotak-atik ponselku.

“Takamura, tapi-“
“Tak apa, Kagami.. Aku akan tunggu sampai dia selesai..”, selaku sebelum Kagami mengutarakan keterkejutannya.
“Taeyong-senpai.. Kalau kau menunggunya... Bagaimana dengan kelasmu?”

Aku terdiam. Shit. Anak ini kenapa malah memperjelas motif membolosku sih? Kenapa juga dia memperburuk suasana hati Rin dengan mengatakan hal itu? Dasar pria tidak peka. Cih. Pantas saja masih single.
Tanpa kusadari, aku telah menggerundel merutuki Kagami.


$$$$$


Taeyong benar-benar menungguiku. Dia pasti memanfaatkan kesempatan ini untuk membolos. Lihat saja, kemanapun aku pergi Taeyong selalu mengikuti. Ia terus mengekor dalam diam. Meski aku tak mempedulikannya, dia masih menatapku berharap aku akan menoleh.
Tidak. Aku masih marah denganmu. Kau pikir enak apa digantung tanpa kepastian yang jelas? Aku sangat khawatir! Seharian aku memikirkanmu! Dasar pria tidak peka!!
Tanpa kusadari, aku sudah meremas draft proposal dari Riko.

“Ano.. Apa kau sangat tidak suka dengan ide itu, Rin?”, tanya Riko hati-hati.
“He?! Oh! T-tidak kok.. Aku suka..”, jawabku cepat sadar.
“Lalu kenapa... diremas?”, suaranya pelan.
“Aku sangat suka dan tidak sabar.. Jadi gemas sendiri..”, kataku.
“Souka..”

Aku kembali merapikan draft yang kuremas ini. Sekilas aku dapat melihat Taeyong masih mengintip menatapku dari balik pintu. Okay, dia mulai menakutkan. Dia seperti stalker! Dan yang lebih parah, wajah melasnya yang datar itu seperti hantu di film horor!
Ugh.. Kenapa dia tidak latihan saja sih? Tidak tahu apa kalau sebentar lagi akan lomba? Mana Haku? Mana Yuta? Mana anggota timnya? Siapapun seret dia untuk latihan segera!! Aku sudah tidak kuat melihatnya disana. Rasanya ingin ku.... peluk.
Argh! Tuh kan, aku mulai melunak. Sial! Aku tak pernah bisa bertahan lama untuk terus marah padanya. Hah, shikatanai (sayang sekali).

Aku melirik ke arah Taeyong. Sepertinya dia menyadari tatapanku ini. Ia terlihat menegakkan badan dengan mata berbinar. Aku bangkit berdiri dan berjalan mendekati Taeyong. Sekarang aku bisa membayangkan ekor pria itu bergoyang cepat saking senangnya.

“Kenapa tidak latihan?”, tanyaku dengan nada ketus.
“Aku minta maaf..”, ujarnya tak menjawab pertanyaanku.
“Untuk?”, kedua tanganku terlipat.
“Karena sudah pergi tanpa mengabarimu.. Karena sudah membuatmu khawatir.. Karena sudah mementingkan tidur daripada dirimu.. Karena-“
“Cukup.. Kalau mau tidur, tidurlah.. Aku juga tidak memaksamu untuk menomor satukan aku kan?”
“Kau sudah tidak marah?”, tanya Taeyong dengan nada sedikti ceria.
“Aku marah karena aku tidak bisa menemukanmu di saat aku membutuhkanmu.. Aku harap, tidak ada lain kali..”

“Tentu! Akan kupastikan harapanmu terkabul.. Jadi.. Masih marah?”
“Masih..”, jawabku pura-pura kesal sambil membuang muka.
“Apa yang harus kulakukan supaya kau tidak marah lagi?”

Aku mengulurkan tangan tanpa menatap Taeyong. Aku bisa melihat senyum kecil di bibir Taeyong dari sudut mataku. Ia lalu menangkap menggandeng tanganku.

“Ayo makan siang.. Akan kutraktir!”

Aku lalu tersenyum. Memang tidak bisa dipungkiri. Aku tidak bisa marah terlalu lama padanya. Coba saja bayangkan betapa teganya aku kalau sampai membuatnya sedih? Astaga, aku yang marah kenapa aku yang menyesal?
Yah, memang begitulah perasaan rumitku pada Taeyong.


$$$$$


“Nani (apa)? Kau kabur dari rumah?”, tanya Taeyong saat memotek sumpit kayunya.
“Ya..”
“Ternyata Hayashi tidak bercanda waktu itu..”, gumam Taeyong.
“Hm? Kau bilang apa? Hayashi?”
“Waktu aku jalan-jalan dengan Yuta, kami bertemu Hayashi.. Dia bilang kau pergi dari rumah.. Kupikir dia hanya bercanda..”

Rin menghentikan gerakannya. Ia sepenuhnya menatap Taeyong dengan heran.

“Bertemu dengan Hayashi? Untuk apa kalian ke rumah sakit?”, tanya Rin.
“Eh? Aku kan tidak bilang kalau bertemu di rumah sakit..”
“Rumah, sekolah, perpustakaan, dan rumah sakit.. Empat tempat itu adalah rutinitas Haku tanpaku.. Kemarin jadwal Haku ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya, jadi kenapa kalian ke rumah sakit juga?”
“Kami bertemunya di luar rumah sakit..”, jawab Taeyong menyantap makan siangnya.

Rin menatap Taeyong curiga.

“Kalau tidak percaya tanya saja Yuta.. Dia bahkan mengajak Hayashi kencan mendadak.. Aku jadi obat nyamuk..”
“Kau tahu kan aku tidak bisa percaya dengan Nakamoto-senpai.. Dia lebih mencurigakan darimu..”
“Hahaha, benar juga.. Oh ya, kalau kau pergi dari rumah.. Lalu sekarang tidur dimana?”
“Di hotel.. Kemarin ayah sempat datang, kami sudah baikan.. Tapi aku masih ingin sendiri.. Jadi kuputuskan untuk sementara waktu aku akan tinggal disana..”
“Hotel? Sendirian?”, tanya Taeyong dengan ekspresi nakal.
“Iya.. Mau main?”, tantang Rin dengan ekspresi nakal juga.
“Eh?!”, Taeyong agak mundur terkejut.
“Kebetulan aku sedang tidak datang bulan juga lho..”, tambah Rin semakin nakal.

“Kyahhhhh!!!!”

Rin hanya tertawa melihat Taeyong sudah semerah kepiting rebus Hokkaido sekarang. Haha. Yang mana yang wanita? Kenapa Taeyong yang tersipu? Dasar laki-laki setengah tulen.


$$$$$


Hakuro terpaku pada tempatnya berdiri. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling meremas takut. Gerombolan wanita dengan tatapan sangar telah mengepungnya.

“Tidak tahu diri ya kau itu..”, ujar salah satu dari mereka.
“Berani sekali mendekati Nakamoto Yuta dengan cara seperti itu.. Dasar penjilat!”, timpal yang lain.
“Kami tahu kalau kau hanya memanfaatkannya sebagai tameng untuk melindungimu saja kan?”
“Oh mungkin kau juga mau hartanya saja? Begitu kan?!”

“T-tidak..”, jawab Hakuro pelan.
“Jangan bohong!!”, salah satu dari mereka melayangkan tamparan tepat di pipi Hakuro.
“Kami semua tahu kalau kau adalah anak dari keluarga miskin dan berantakan!! Kau pasti hanya mengincar harta Yuta-kun saja!”, bentak siswi lain.

“Dia bukan berasal dari keluarga seperti itu..”

Sebuah suara khas perempuan mengalihkan perhatian para siswi yang mengepung Hakuro.

“Yuu..”

Yuu dan teman-temannya berjalan mendekat. Mereka termasuk golongan siswi populer yang cantik dan kaya. Menundukkan gerombolan siswi berandal tentu bukan masalah untuk Yuu dan teman-temannya.

“Jadi kau masih saja berani mendekati Yuta-kun setelah apa yang kau lakukan padanya?”, tanya Yuu dengan tangan terlipat menatap Hakuro.
“Hah? Melakukan apa? Dia sudah apakan Yuta-kun?”, tanya salah seorang dari gerombolan siswi berandal.
“Gadis ini sudah menyia-nyiakan perasaan Yuta-kun untuknya..”, kata Yuu.
“Apa?! Kurang ajar sekali!”
“Kemarin ayahku mengatakan kalau tuan Takamura menggantikan posisi putrinya dalam perjodohan itu.. Kukira aku tidak akan mengenal anak angkat tuan Takamura.. Tapi tak sangka, ternyata yang dimaksud adalah kau.. Hayashi Hakuro..”, jelas Yuu.
“Dia menerima tawaran perjodohan itu.. Jadi bisa dikatakan kalau orang ini telah menyakiti Yuta-kun..”, simpul Sora.
“Kau.. Berani-beraninya-“

“Pukul saja aku sepuasmu..”, sela Hakuro.

“Hah?”
“Kalau kau kesal dan ingin memukulku, pukul saja.. Kalian boleh mengeroyokku.. Menampar, memukul, menendang.. Akan kuterima semua itu.. Aku rasa aku pantas..”, ujar Hakuro dengan kepala masih tertunduk.
“Kau pasti akan mengadukan kami ke Yuta-kun! Kau pasti ingin merusak image kami kan?!”
“Kalau bisa pukul aku sampai mati..”

Seketika hening. Mereka menatap Hakuro agak takut. Apa yang dibicarakannya?
Pada saat itu, sebuah uluran tangan memecah fokus mereka. Yuta datang menarik Hakuro keluar dari gerombolan para siswi disana. Ia terus menarik Hakuro tanpa berkata apa-apa. Menoleh saja tidak. Dan bisa dipastikan kalau Yuta juga tidak tersenyum. Sama sekali.


$$$$$


Taman belakang. Tempat ini adalah tempat paling sepi. Yuta telah menarik Hakuro dari atap sampai ke taman belakang. Sepanjang perjalanan pun tak ada yang berbicara.
Yuta melepas genggaman tangannya dari pergelangan Hakuro. Ia membalikkan badan menatap gadis dengan kepala tertunduk di hadapannya.

“Hayashi..”, panggil Yuta tegas. “Hayashi, aku memanggilmu.. Jadi aku mohon, tatap aku..”, pinta Yuta.

Hakuro mengangkat wajahnya. Ia juga menatap Yuta.

“Maaf.. Nakamoto-senpai...”, lirih Hakuro. “Aku bersalah menerima perjodohan itu.. Aku bersalah karena tidak mempertimbangkan perasaanmu..”, jelasnya lemas.
“Bodoh..”, kata singkat itu mengangkat wajah Hakuro cepat. “Aku tidak memikirkan hal itu.. Bukan itu yang membuatku marah..”
“Lalu....?”
“Aku marah karena kau ingin mati..”

Yuta menepuk kedua pundak Hakuro yang menatapnya tak percaya.

“Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menyerah seperti itu.. Yah, kuakui aku sedikit shock mendengarnya.. Itu adalah pilihanmu dan aku belum berhak menjadi salah satu pertimbangamu..”
“Nakamoto-senpai..”
“Tapi bukan berarti aku akan tinggal diam tak melakukan apa-apa.. Tentu saja aku akan berusaha agar bisa kau pertimbangkan.. Omae no koto ga zenbu.. Suki da..”

Hakuro bisa melihat senyum manis di wajah Yuta. Ia memikirkan banyak hal saat menatap pria ini.

“Sebenarnya kau itu.. siapa?”


$$$$$


Malam ini adalah malam yang sangat menegangkan untukku. Akhirnya untuk yang pertama kali, aku akan bertemu dengan calon suamiku. Benar, ini malam pertemuan acara perjodohan antara Takamura dengan Nakajima.
Aku melihat diriku di kaca. Aku tampak sangat berbeda dari biasanya. Pakaianku sangat cantik, rambutku indah, wajahku juga dimake-up. Rin, aku takut. Seandainya kau ada disini, aku tak akan merasa setakut ini. Tubuhku gemetar kalau aku memikirkan hal ini.

“Nona.. Anda sudah ditunggu tuan besar..”, ujar seorang pelayan.

Aku menghela nafas lalu turun ke lantai satu untuk menemui paman dan keluarga Takamura yang lainnya. Mungkin hanya perasaanku, tapi aku melihat para Takamura sedikit terpaku saat menatap diriku.

“Kau sangat cantik..”, kata paman menyambutku dengan ramah.
“Terimakasih, paman..”
“Apa kau gugup?”
“Ya..”, jawabku jujur.
“Itu wajar saja jadi tak apa.. Santai saja ya, Hakuro..”, paman menenangkanku.

“Acara malam ini tak hanya akan dihadiri oleh dua belah pihak.. Ada beberapa keluarga perusahaan lain juga, jadi jangan mengacau.. Mengerti?”, tegas nenek mengambil tas tangannya.
“Baik, saya mengerti..”

Jujur saja aku tak bisa berpikir jernih. Rasanya ingin kabur dari situasi ini. Aku butuh Rin. Tak apa aku tetap di posisi ini, tapi setidaknya kalau ada Rin aku bisa tenang. Berada di tengah dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, membuatku cemas.
Bagaimana kalau aku mengecewakan paman? Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku? Bagaimana kalau aku menangis disana? Apa yang harus kulakukan untuk menekan perasaanku? Meski aku sudah berjanji akan melupakan Nakamoto-senpai, tapi... sampai sekarang aku belum berhasil.

Sebuah gedung megah berdiri kokoh di depan mataku. Gemerlap lampu yang mengindahkan bangunan itu membuat suasana mewah menyelimutinya. Aku menelan saliva berat. Mungkin kalau aku diam dan tersenyum tidak akan masalah. Baiklah.
Orang-orang penting dengan dandanan luar biasa mahal langsung menyambutku ketika aku turun dari mobil. Ini hanya acara makan malam biasa, tapi kesannya seperti acara pernikahan. Paman lalu mengajakku untuk masuk dan menyapa beberapa tamu lain, kenalan paman.
Aku hanya bisa tersenyum mendengarkan obrolan orang-orang disini. Rin memang hebat, dia bisa bertahan dengan situasi begini kaku.

“Aku dengar putra Nakajima telah kembali..”
“Benarkah? Itu berita bagus..”

Jadi aku tidak akan menikahi sebuah nama? Akhirnya putra keluarga Nakajima telah kembali. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh aula megah nan luas ini. Apa yang kuharapkan dari mengedarkan pandangan? Hah, konyol kalau kuberitahu jawabannya.

“Perhatian semuanya..”, seorang pria tua yang berdiri di balkon lantai 2 mengambil perhatian para tamunya. “Malam ini adalah malam yang sangat spesial.. Karena pada akhirnya perusahaanku dan perusahaan Takamura akan menjalin kemitraan.. Pada malam ini juga aku mengadakan pesta untuk menyambut kepulangan putraku, Nakajima Yuto..”

Para tamu bertepuk tangan seiring dengan keluarnya seorang pria bertuxedo rapi. Badannya tinggi dan agak berotot. Matanya sangat tajam tapi senyumnya ramah. Apa itu yang akan menjadi suamiku? Nakajima Yuto.

“Aku sempat mendengar rumor miring tentang diriku yang kabur dari rumah.. Tapi perlu ketegaskan kalau sebenarnya aku hanya pergi untuk melanjutkan studi di luar negeri waktu itu.. Setelah menyelesaikan studi S3ku di Berlin, akhirnya aku kembali untuk membantu bisnis ayahku..”, jelas Nakajima-san dengan nada lembut.
“Nah sekarang, aku sudah tidak sabar mengundang calon istriku untuk menyambutku malam ini..”

Aku mengangkat wajah dengan tubuh menegang. Oh tidak aku gugup. Jangan bilang aku harus maju ke depan dan berdiri di samping pria setampan Nakajima itu! Aku tidak akan mampu, aduhhh.

“Hakuro, temuilah dia..”, bisik paman.

Aku menarik nafas dalam. Kuberanikan diri untuk melangkah menuju ke Nakajima-san. Astaga mereka semua menatapku dengan begitu lekat. Sangat tidak nyaman!

“Selamat malam, nona..”, Nakajima-san menyambutku dengan sangat gentle. Dia mengambil satu tanganku lalu mengecup kilas punggung tanganku itu. Oh astaga, wajahku memanas saking malunya!
“Ya! Malam ini, pesta perjodohan antara Takamura dan Nakajima resmi di-“

“Tunggu!”

Seseorang memotong kalimat tuan Nakajima. Tentu saja suara yang cukup keras dan tegas tadi membuat semua tamu menoleh ke arah pintu utama. Seorang pria bertubuh kekar berdiri tegak di tengah pintu. Siapa dia?

“Tuan muda sudah datang..”, katanya seperti melaporkan sesuatu.
“Apa?”, aku bisa mendengar tuan Nakajima agak terkejut disitu.

Aku mengalihkan tatapan ke Nakajima-san. Berbeda dengan ekspresi ayahnya, wajah Nakajima-san begitu antusias dan tertarik dengan kedatangan seseorang dari balik pintu utama.
Tak menyiakan waktu, aku pun ikut memandang pintu utama dengan tidak sabar. Sepenting itu kah tamu yang ada di balik pintu utama itu? Hingga tuan rumah pun harus menunggu kehadirannya.

Pintu paling besar disana akhirnya terbuka lebar menampakkan sesosok pria berjas rapi dengan sebuah senyuman. Melihatnya membuat jantungku hampir berhenti. Nafasku tercekat. Aku tak bisa berkata apa-apa.

“Seantusias itu kah papa dengan perjodohan ini?”, tanya pria itu ketika ia berdiri di depan tuan Nakajima.
“Aku tidak ingat mendidikmu menjadi begitu lancang.. Menyela sembarangan seperti itu..”, sahut tuan Nakajima.
“Akhirnya putra bungsumu kembali menginjakkan kaki ke rumah, apa kau tidak senang?”
“Tidak dengan cara seperti itu, Yuta!”

Nakamoto-senpai. Dia benar Nakamoto Yuta yang sekolah di Kaijou itu kan? Dia vokalis band rock yang mesum itu kan? Dia kakak kelasku yang itu kan? Benar dia?!


$$$$$


“Pft, maaf.. Tadi agak sedikit macet, jadi aku terpaksa terlambat..”, Yuta mengalihkan pandangan ke Yuto. “Jadi kakak, kau benar melepas studi S3mu hanya karena ini?”
“Keluarga lebih penting bukan? Lagipula tidak ada yang bisa diandalkan lagi disini.. Tentu aku harus turun tangan..”, jawab Yuto kalem.
“Tidak bisa diandalkan? Haha, darimana muncul frasa seperti itu? Kau terlalu mencemaskan papa.. Sebuah jalinan kemitraan, tidak harus dibangun dengan perjodohan kan?”, tanya Yuta melirik ayahnya.
“Yuta, yang sekarang menjadi pertanyaan adalah kenapa kau repot-repot hadir ke acara yang bahkan kau tak suka? Apa ada hal yang harus kau selesaikan?”, tanya Yuto.

Yuta menatap Hakuro yang sedari tadi diam mematung pada tempatnya. “Ada..”, jawabnya membuat Yuto juga melirik ke Hakuro.
“Souka.. Kalau begitu, selesaikanlah..”, ujar Yuto merangkul Hakuro.
“Tentu.. Dengan senang hati..”

Yuta menarik tangan Hakuro agar menjauh dari Yuto. “Pertama, jangan sentuh dia sembarangan..”
“Yuta, kau tidak boleh mengacaukan pesta..!”, geram ayahnya.
“Kedua, kalian tidak berhak bertindak sembarangan padaku juga padanya..”, Yuta tersenyum menggandeng Hakuro menuruni anak tangga.
“Yuta, kau mau kemana?!”, tanya ayahnya kesal.
“Ketiga, selamat melanjutkan pesta! Maaf mengganggu sebentar..”

Begitulah. Putra yang dikabarkan kabur dari rumah adalah anak bungsu Nakajima. Dan dia juga yang membawa kabur calon mempelai wanitanya.


$$$$$


‘Brak!!’

Astaga pintu kosku yang malang. Aku hanya bisa menatap pintu kayu itu dengan pilu. Membiarkan pria jangkung berdiri dengan pose klasiknya.

“Good evening, ladies..”, sapa Johnny dengan suara mendesah.
“Kau hampir saja merusak properti berharga, tuan..”, sahutku datar.
“Lho? Takamura-senpai ada disini juga?”, kali ini adik manis bernama Jae yang bicara. Ia melepas jaket dan tas seakan ini adalah rumahnya sendiri.
“Untuk apa kalian kemari?”, tanya Rin ketus. Iyalah. Kita baru dinner berdua dalam tenang! Kemudian dua alien menyerang kamar kosku.

“Wah ini masakan Taeyong? Selamat makan!”, Johnny menyendok nasi kare panasku seenak jidatnya.
“Hei, jangan diamkan aku!!”, protes Rin ketika tak mendapat jawaban dari dua makhluk unik ini.
“Kami bosan nih..”, ujar Jae mengambil kare dari panci. Oh, dia dengan baik melayani diri sendiri di rumah orang.
“Kalau bosan kenapa kemari? Sana jalan-jalan.. Biasanya juga ke club kan?”, tanya Rin setengah kesal.
“Kami mau makan dulu..”, jawab Johnny.
“Jangan makan di rumah orang seenaknya saja!!!”, bentak Rin akhirnya kesal maksimal.

“Hahahahaha.. Rakyat jelata memang beda.. Ngomong-ngomong, dimana Ten, Sol, dan Yuta?”, tanyaku membuat Johnny dan Jae saling tatap sedetik.
“Kalian tidak tahu?”, tanya Johnny balik.

Aku dan Rin menggeleng kompak.

“Mereka menghadiri pesta perjodohan Takamura dengan Nakajima..”, jawab Jae.
“Hah? Perjodohan Takamura? Takamura keluarganya Rin maksud kalian?”, aku memiringkan kepala bingung.
“Hmm.. Sepertinya kalian memang sama sekali tidak tahu soal ini..”, ujar Jae tak menjawab kebingunganku.

“Takamura Yoshiko dan Nakajima Kento.. Kedua pria itu telah setuju untuk menjodohkan anak mereka demi terlaksananya jalinan kemitraan kedua belah pihak..”, jelas Johnny.
“T-tunggu.. Kau bilang Takamura Yoshiko? Jadi benar ayahnya Rin? Tapi kalau Rin-nya disini, lalu siapa yang dijodohkan? Rin kan anak tunggal..”, sepertinya nadaku terdengar sangat penasaran.

Aku dapat melihat Johnny dan Jae melirik ke Rin. Aku mengikuti arah pandang kedua pria itu. Sekarang aku bisa meliaht Rin sedang mengerutkan kening berpikir. Aku tahu alasan Rin kabur dari rumah. Dia sudah cerita sebelum Johnny dan Jae datang. Kupikir ayahnya setuju untuk melakukan hal lain selain perjodohan. Apa ayah Rin akan menikahkan ‘nama’ anaknya sendiri dengan pihak sebelah? Itu gila!

“Tuan Takamura tidak memberitahumu, Takamura-senpai?”, tanya Jae membuyarkan pikiranku.
“Aku memikirkan seseorang.. Dia memang terlihat aneh sepanjang hari.. Hah, tapi masa dia? Hah, ayah setega itu?”, Rin tersenyum ragu tak ingin percaya pada pikirannya sendiri.
“Sayangnya iya.. Ayahmu meminta Hayashi untuk menggantikan posisimu pada perjodohan itu..”, jawab Johnny.

Aku dapat merasakan betapa terkejutnya Rin. Ia terlihat kaku dan tertohok saat itu juga. Aku menggenggam tangan Rin yang ada di atas pangkuan gadis itu. Benar dugaanku, tangannya dingin dan sedikit gemetar.

“Lalu.. Kenapa Yuta, Sol, dan Ten kesana?”, tanyaku.
“Sol dan Ten hanya menemani Yuta untuk menculik sang putri..”, jawab Jae.

Aku dan Rin menatap Jae dengan mata lebar. Mereka senekad itu?! Apa mereka tidak sayang kehidupan? Perjalanan hidup mereka masih panjang, kenapa disia-siakan begitu?

“Apa? Mereka apa?”, Rin mencondongkan tubuhnya ke depan saking tak percayanya.
“Kalau rencana berjalan mulus.. Mungkin mereka akan tiba sekitar  dua puluh menit dari sekarang..”, jelas Johnny melihat jam tangannya.
“Astaga.. Mereka itu mikir apa sih? Bagaimana kalau mereka sampai dihajar para bodyguard Nakajima dan Takamura? Itu kan pesta besar yang dihadiri banyak pihak..”, Rin menangkupkan dua tangannya ke wajah.

Diam beberapa detik ternyata bisa menjernihkan otakku. Aku ingat sesuatu yang Rin tak tahu. Nakamoto Yuta. Tidak semudah itu menyingkirkannya bukan? Ah iya, kenapa aku tak kepikiran hal ini? Heh, bodoh.
Melihatku menggelengkan kepala sambil senyum menertawakan diri membuat orang di sekitarku keheranan.

“Kau kenapa Taeyong?”, tanya Johnny agak khawatir.
“Tidak.. Aku cuma geli.. Kalau begitu, lebih baik kita berdoa dan menunggu mereka sampai di kos ini dalam keadaan utuh dan selamat..”, kataku memberikan seulas senyum tenang.


$$$$$


“Mission accomplished!!!! Lets go!!! Yahay!!!!!!!”, Yuta dengan heboh menyodorkan jempolnya ke arahku dan Ten yang duduk di kursi bagian depan mobil.
“Hai hai..”, jawabku lalu menancap gas.

Aku melihat Hayashi duduk tenang dari kaca. Anak itu pasti ketakutan dan kebingungan. Yuta memang terlalu mengejutkan! Beruntung Hayashi mau, bagaimana kalau dia ditolak di tengah keramaian pesta? Mau ditaruh mana wibawanya sebagai direktur utama Nakamoto group?

“Jadi kau bertemu dengan kakakmu?”, tanya Ten fokus ke ponselnya.
“Ya.. Dia tambah kurus.. Dan semakin tampan!”, jawab Yuta senang.
“Lalu bagaimana dengan ayahmu?”
“Dia tambah gendut.. Rambutnya jadi hitam!”
“Itu disemir, senpai.. Kemudian tuan Takamura.. Kau bertemu dengannya?”
“Tidak.. Aku terlalu cepat menghilang darisana..”
“Hah.. Kau benar-benar menculik putri tuan Takamura, senpai.. Kenapa tidak kau temui dia dulu, sapa sebentar, lalu minta izin untuk mengambil Hayashi?”
“Aku tidak tahu.. Aku hanya mengikuti langkahku saja..”

Aku menghela nafas dengan fokus ke jalanan. Saat traffic light berubah merah dan menghentikan laju mobilku, aku melirik ke spion... Oh bagus. Bagus sekali! Ini pasti hadiah karena telah meninggalkan pesta tanpa izin dari tuan Takamura.

“Oi, kita punya ekor di belakang..”, laporku datar.
“Lakukan hobimu, Sol..”, sahut Yuta sambil memasangkan sabuk pengaman Hayashi.
“Apapun perintahmu, tuan Nakamoto..”, jawabku menyunggingkan senyuman.
“Ingat, kita akan ke kos Taeyong-senpai.. Jangan lewat rute biasa, nanti ketahuan destinasi kita.. Ikuti jalan rahasia yang sudah kusiapkan di GPS mobil ini.. Kalau bisa, buat mereka kehilangan jejak kita di tengah jalan..”, jelas Ten panjang.
“Hai hai.. Pakai sabuk pengamanmu, Ten.. Yuta, jangan nekad tidak pasang sabuk pengaman! Pakai dulu cepat!”, bentakku galak saat melihat Yuta masih saja duduk santai.
“Ehhhh.. Tapi kan tidak seru kalau pakai sabuk pengaman..”, rengeknya.

Aku berdecak. Kuarahkan pandanganku ke Hayashi yang masih duduk diam tak bergeming sama sekali. Aku menyenggol tangannya yang kaku. Ia agak terlonjak kaget sebelum melihat ke arahku.

“Nona.. Tolong urus anak ini ya.. Aku tidak mau menanggung amukan ibunya kalau dia sampai terluka..”, ujarku memunculkan tanda tanya di kepala Hayashi.
“C-curang! Sol kau tidak boleh bermain kotor!! Kau kan tahu aku tidak berkutik kalau sama Hayashi!”, omel Yuta.
“Omong kosong.. Kau berani menculiknya dari pesta besar, masih bilang tak berkutik? Hah..”
“Hayashi, tolong pakaikan sabuk pengamannya ya.. Selotip pakai ini kalau sudah..”, Ten menyerahkan selotip hitam ke Hayashi.
“Eh?!! A-aku pakai! Aku pakai nih! Sudah!”, Yuta menurut kilat.

$$$$$

Ayah menjodohkan Haku dengan keluarga Nakajima? Kenapa ayah setega itu? Tanpa kusadari aku telah meremas bajuku. Kesal, itulah yang kurasakan.

“Rin..”, suara Taeyong sedikit melemaskan ototku yang menegang sesaat.
“Hm?”
“Percayalah pada Yuta.. Anak itu walau terlihat tidak bisa diandalkan, tapi untuk urusan begini dia adalah orang yang harus kau percayai..”

Aku mengangguk. Yang membuatku tenang bukan perkataan Taeyong. Hei, mana bisa aku tenang ketika dia bilang Nakamoto-senpai bisa dipercaya? Satu-satunya yang membuatku tenang itu senyum Taeyong.

“Hmm, aku mendengar suara mesin mobil..”, tiba-tiba Johnny memejamkan mata seakan mendapat pendengaran ajaib.
“Ah! Itu suara pintu mobil kan?”, Jae menambahkan.
“Biar kuperiksa..”, Taeyong bangkit berdiri meninggalkan meja makan menuju pintu.

Keheningan langsung tercipta. Tentu saja aku tegang! Kita belum tahu siapa yang datang dan bagaimana keadaan Haku! Astaga, seharusnya ini menjadi dinner tentramku dengan Taeyong, kenapa malah jadi dinner mencekam begini?

“Hey yo wassap bro!!”

Suara itu............ membuatku kesal.

“Lho Takamura? Kau mau kemana?”, tanya Johnny melihatku berdiri dari kursi.

Aku tak menjawab. Aku menuju pintu untuk keluar dan benar saja. Aku bisa langsung melihat targetku dengan jelas tertawa bodoh disana.

“Na.. Ka.. Mo.. To.. Sen.. Pai..”, geramku.
“Eh? Sepertinya ada yang memanggil?”
“Kau apakan Haku, hah?!!!!” bentakku menyerangnya dengan flying kick jurus spesial.
“Uwogh!! Ugh..!”

“R-rin, tunggu! Nakamoto-senpai menyelamatkanku kok!”, cegah Haku.
“Kau baik-baik saja kan? Dia tidak menyentuhmu sembarangan kan? Heh, kalian berdua!”, aku menunjuk Sol dan Ten galak.
“Eh? Kok kami juga....”, lirih mereka.
“Si rumput laut ini tidak macam-macam pada Haku kan?”, aku memicingkan mata menunjuk Nakamoto senpai.

“Oi! Siapa yang rumput laut?!”

“Hhmm.. Sepertinya tidak.. Tenang saja, Takamura..”, jawab Ten.
“Ten! Kau ini di pihak siapa? Kenapa jawabanmu tidak mendukungku begitu?”, protes Nakamoto senpai.
“Sudah bagus jawabannya setengah mendukungmu, Yuta..”, timpal Sol.
“Mereka jahat sekali.. Taeyong........”, sekarang Nakamoto senpai mendekap Taeyong pilu.

Sekejap suasana jadi ramai. Aku tidak marah, aku sangat lega dan senang mereka bisa mengeluarkan Haku darisana. Terimakasih Nakamoto senpai.

$$$$$

Johnny dan Jae menyambut kedatangan tiga temannya secara kalem. American swag style. Pada akhirnya kamar kos Taeyong berubah jadi rumah cinta yang ramai dengan orang-orang tak bertanggung jawab. Kasihan Taeyong.

“Wah, kare! Kebetulan aku belum makan.. Ten, kau mau juga?”, tanya Sol mengmabil piring.
“Boleh..”, jawab Ten ikut menyiapkan piring.
“Ya ampun.. Kenapa aku harus memberi makan kalian orang-orang jelata sih?”, Taeyong hanya bisa memijat pelipis.
“Tak apa lah.. Hitung-hitung ini ucapan terimakasihku telah menolong Haku disaat aku tak tahu masalahnya.. Jangan sedih Taeyong-senpai.. Kapan-kapan kita dinner di restoran bintang lima!”, ujar Rin semangat.
“Hahaha, boleh.. Aku harus kerja ekstra kalau begitu, hmm..” sahut Taeyong mengestimasi pengeluaran makan malam di restoran mahal.

Rin menoleh ke kanan kiri mencari seseorang. Hakuro. Matanya tertuju pada teras kos Taeyong. Ada Yuta dan Hakuro disana. Barusaja Rin hendak melinting lengan baju dan melabrak Yuta, Taeyong menghentikan langkahnya. Pria itu menggeleng pelan dengan seulas senyum.

“Beri Yuta waktu sebentar..”

Rin mengangguk menyetujui. Ia kemudian memilih untuk masuk ke dapur bersama Taeyong.

“Maaf aku tidak memberitahumu soal diriku..”, ujar Yuta.
“Tak apa.. Dari awal aku tahu Nakamoto-senpai bukan orang sembarangan..”, jawab Hakuro.
“Hei, Hayashi..”
“Hm?”
“Kalau aku tidak datang menarikmu dari pesta itu.. Apa kau benar akan merima perjodohan ini begitu saja?”
“Aku berpikir seperti itu.. Tapi melihat Nakamoto-senpai malam ini, kegelisahanku sirna.. Terimakasih, Nakamoto-senpai..”

Yuta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia takk berani menatap Hakuro sekarang, sumpah.

“Nakamoto-senpai?”
“H-hai?”
“Aku merasa sedikit tidak adil..”
“Kenapa?”
“Kau tahu banyak tentangku.. Bahkan yang orang lain tak tahu, kau sudah tahu.. Kurasa tak adil jika hanya kau yang tahu tentangku.. Apakah aku juga boleh mengenalmu lebih dalam?”

Yuta terdiam beberapa detik. Ia paham pertanyaan Hakuro yang sebenarnya. Sebelum menjawab Yuta menghela nafas.

“Ayah dan ibuku bercerai waktu aku SD.. Yah, masalahnya sepele.. Mereka adalah kepala dari perusahaan yang berbeda.. Ibu tidak mau menjadi bagian dari perusahaan ayah, dan ayah juga menolak penggabungan dua perusahaan mereka.. Mereka kemudian berpisah.. Kakak ikut ayah, sedangkan aku dengan ibu..” jelas Yuta.
“Karena itulah namamu menjadi Nakamoto?”
“Benar.. Itu marga ibuku.. Akhir-akhir ini kondisi ibu kurang baik, jadi aku yang menghandle pekerjaannya.. Ditambah ibu jadi semakin manja sekarang.. Karena itu sekalian mengantar Taeyong, aku juga menjenguk ibu di rumah sakit keluarga..”
“T-tunggu dulu..”
“Hm?”
“Rumah sakit keluarga? R-rumah sakit yang kemarin itu.. Itu rumah sakit punya senpai?”
“Sou..”

Hakuro diam dengan mata lebar. Jadi selama ini ibunya dirawat di rumah sakit milik Yuta? Bahkan di rumah sakit itu ada nyonya Nakamoto juga. Lho lho tunggu sebentar.

“Apa Nyonya Nakamoto mengenal Tuan Takamura?”, tanya Hakuro.
“Hahahaha, pertanyaan lucu..”
“Eh?”
“Tuan Takamura adalah mantan pacar ibuku semasa SMA..”
“Apa? I-itu... Benarkah?”
“Kapan aku main-main?”
“Eemm.. Setiap saat..?”
“Oh iya.. Hm, kali ini benar.. Mereka dulu berpacaran.. Tapi karena satu dua alasan akhirnya mereka putus..”

“Kalau begitu bukankah gawat?”
“Gawat? Kenapa?”
“Nakamoto-senpai telah merusak pesta perjodohan kemitraan paman kan? Bagaimana kalau hubungan Nyonya Nakamoto dengan paman menjadi semakin buruk?”
“Oh, hahaha tenang saja.. Itu tidak mungkin terjadi.. Tuan Takamura itu sudah menjadi sahabat ibuku.. Mungkin dia hanya akan tersenyum maklum dengan sikapku..”
“Kalau paman sudah mengenal Nakamoto-senpai dengan baik, kenapa Rin tidak mengenalmu juga?”
“Hmm, benar juga.. Mungkin aku kurang eksis..”, jawab Yuta menatap masa lalu.

“Heh kalian berdua sudah belum berduaannya?”, tanya Ten berdiri di ambang pintu.
“Ck, kau mengganggu sekali.. Aku bahkan belum sempat menggodanya!”, decak Yuta.
“Kau bisa menggodanya sesuka hatimu setelah ini.. Sekarang masuk, ada yang harus kau siapkan besok..”, ajak Sol.

Yuta dan Hakuro mengikuti Ten dan Sol untuk masuk ke kamar kos Taeyong. Entah kenapa sekarang suasana kembali menegang. Rin memangku kepalanya yang pusing tiba-tiba.

“Dia kenapa?”, tanya Yuta setengah berbisik.
“Ayahnya telpon..”, jawab Johnny.
“Hoh!! Lalu? Bagaimana?!”
“Masa kau tidak bisa lihat dari ekspresinya? Apakah sekarang Takamura kelihatan bahagia?”
“Dia dimarahi ya?”

“Nakamoto-senpai..”, panggil Rin mengalihkan perhatian Yuta.
“Ya?!”, jawab Yuta panik.
“Ayahku barusan telpon.. Dia bilang ada pria tampan kenalannya yang dengan percaya diri menarik putrinya keluar dari pesta..”, suara Rin membuat Yuta menelan ludahnya berat. “Dia juga bilang untuk menyampaikan salamnya pada anak itu kalau aku bertemu dengannya.. Apa kau tahu selanjutnya ayahku bilang apa?”
“T-tidak..”
“Dia menerimamu sebagai pacar Haku!!!”, geram Rin.
“Eh benarkah?!!!!”, Yuta terjungkal ke belakang.
“Aku tidak percaya! Dengan kelakuanmu yang seenaknya tadi, ayah tetap menyetujui hubunganmu dengan Haku? Apa-apaan ini, hah?!”
“Kenapa kau tidak senang?”
“Tentu saja aku tidak senang! Aku tidak yakin kau bisa menjamin keselamatan Haku..”, ujar Rin horor mendekap Hakuro posesif.

“Aku tidak sesembrono itu! Tentu saja aku akan menjaganya! Jangan remehkan Nakamoto Yuta!”, bantah Yuta bangkit berdiri.
“Oh begitu..”, Taeyong menengahi dengan nada nakal. “Sudah dapat izin dari orangtua, sudah menembak, sudah dapat jawaban belum?”, godanya.
“Taeyong yang benar saja!”, sahut Yuta memerah.
“Lho? Dia digantung? Hahahahahaha..”, Johnny ikut tertawa jahat.
“Kalian.. Awas kualat..”, gerundel Yuta di sudut ruangan.

“Kau tidak mau menjawabnya Hayashi?”, tanya Ten.
“Menjawab?”
“Kau menerima perasaan Yuta?”, kali ini Sol yang memastikan.
“Eh? Itu....”, Hakuro ikut memerah. “Aku.. Sebenarnya.. Sangat senang.. Karena aku juga menyukai Nakamoto-senpai..”, jelas gadis itu pelan-pelan.
“Hm? Apa?”, Jae pura-pura tuli.
“Ah hazukashii (memalukan)!!”, Hakuro menutupi wajahnya.
“Astaga disini kita punya pasangan imut yang saling malu-malu.. Ehem!!”, Jae geleng-geleng kepala.

Malam itu secara resmi (disahkan oleh beberapa orang) hubungan YuHaku mulai terbentuk. Ini hal bagus untuk motivasi Yuta. Lihat saja pria itu saat ini, sudah menyanyi rock beberapa jam masih kuat saja dia. Padahal hari sudah sore =_=

“Make some noise!! Ayo lusa sudah lomba!!!!!”, teriaknya heboh mengguncang ruang latihan klub band.
“Istirahat sebentar kenapa? Tenggorokanmu tidak kering apa? Nih, minum..” Johnny melempar botol minum untuk vokalis membahananya.
“Aku sedang bersemangat, hiyah..!”, jawab Yuta kemudian menenggak air botol minum itu.

“Ckckck, biasanya orang yang sedang jatuh cinta itu akan menjadi lebih kalem, dewasa, nuansa merah muda.. Lah ini? Malah semakin liar berapi-api..”, celetuk Ten menyetel gitarnya.
“Yuta-senpai memang beda kan?”, tambah Jae.
“Heh heh heh kalian..”, panggil Sol yang berkutat pada ponselnya. “Coba dengar ini..”
“Apa apa apa?”, Johnny melangkah ringan mendekat ke sofa.

“Perusahaan asing yang kalah saing dengan perusahaan Takamura sudah kembali dari lahan kematian..”, jelas Sol.
“Lahan kematian? Mereka perusahaan zombie?”, tanya Yuta mendekat.
“Itu hanya istilah untuk perusahaan yang mati, senpai..”, jawab Jae menjelaskan dengan sabar.
“Heee.. Lalu kenapa memangnya?”
“Ah, aku ingat.. Perusahaan yang benar-benar dibabat habis oleh keeksisan Takamura beberapa tahun lalu itu kan?”, tanya Ten.
“Benar.. Sekarang mereka sedang ramai jadi bahan pembicaraan para pembisnis kelas kakap..”
“Kok kalian bahasannya jadi berat begini sih? Memangnya kenapa kalau perusahaan itu kembali eksis? Bukankah keren?”, Yuta sudah tak kuat berkutat pada bahan berat seperti ini. Kepalanya mulai bau gosong.
“Ck.. Kau ini pembisnis, seharusnya tahu kabar-kabar seperti ini.. Bagaimana sih? Jangan-jangan kau lupa darimana Taeyong berasal?”, Johnny mengingatkan.

Selang beberapa detik untuk Yuta berpikir. Ia mencetikkan jari, membulatkan bibir menatap teman-temannya takjub.

“Ooohhh!!!! Perusahaan asing itu milik keluarga Taeyong kan? Karena itu kalian membahas ini?”
“Sekarang baru paham?”, Ten memastikan.
“Tunggu.. Kalau itu perusahaannya Taeyong.. Tidak tidak.. Argh! Aku ini berpikir apa sih? Hahaha tidak mungkin kan hubungan mereka akan ditentang.. Hehehe..”

Sekejap hening. Mereka semua serempak menatap Yuta yang tersenyum menenangkan pikiran liarnya.

$$$$$

Rin membawaku ke suatu tempat. Katanya dia ingin mengenalkanku pada ayahnya. Beberapa waktu lalu ayah Rin memang ingin bertemu denganku. Karena itu sekarang mumpung ada kesempatan, Rin mempertemukan kami di sebuah restoran bintang lima untuk makan malam.

“Ayahku itu meski tampak kaku dan tegas, sebenarnya dia mudah luluh hatinya..”, jelas Rin.
“Benarkah?”, tanyaku di tengah perjalanan. Kami naik bus untuk sampai ke lokasi yang sudah dipesan ayahnya Rin.
“Oh ya.. Ayah suka membicarakan hal berat seperti bisnis, politik, filosofi, dan semacamnya.. Tapi aku yakin Taeyong-senpai pasti bisa menanggapinya dengan lihai! Ya kan?”
“Tentu saja.. Setiap hari aku sudah berlatih membaca komik untuk ini..”
“Heee, dasar..”

Aku menusuk pipi Rin yang mengembung kesal dengan jari telunjuk. Oh shit. Harusnya kufoto saja ya? Sial, aku melewatkan moment bagus.

“Hei, Rin..”
“Apa?”
“Ayo pasang wajah seperti tadi.. Gembungkan pipimu..”, pintaku menyiapkan ponsel di saku ke mode kamera.
“He? Untuk apa?”
“Sepertinya tadi ada sesuatu di pipimu..”
“Tidak mungkin.. Kau pasti mau melakukan hal aneh kan?”
“Aku serius.. Aku melihat hal aneh saat pipimu menggembung..”

Rin mengerutkan kening. Oh ini akan menjadi semakin bagus karena ekspresinya kesal. Dan, cekrek! Aku berhasil mengabadikan foto Rin. Ha ha ha :^D

“Taeyong-senpai!! Curang!!!”
“Heeee, duh.. Sepertinya tanganku terpleset.. Tidak sengaja, maaf ya..” jawabku.

Karena jawabanku yang menyebalkan, Rin menangkup kedua pipiku dan menekannya.

“Untung ini tempat umum.. Coba kalau di kos, sudah kuterkam kau..”, ancamnya.
“Pulang ke kos saja kalau begitu.. Bibirku sangat kissable kan?”, aku menaik turunkan alisku cepat.
“Kau pakai lipbalm?” tanya Rin.
“Entahlah.. Yuta memberikan barang ini untukku.. Katanya aku harus pakai untuk menghadiri event-event penting..”, aku menunjukkan sebuah silinder kecil warna warni.
“Pft! Hahahaha.. Ini lipbalm merah muda rasa cherry yang biasa dipakai cewek!!”
“Eh? Eh Rin Rin Rin! Kau bawa tisu kan?”, aku agak panik sekarang. Pasti bibirku seperti banci saat ini. Oh Yuta, awas saja kau.
“Jangan dihapus.. Kau cantik pakai lipbalm itu.. Haahhaha..”
“Tapi aku mau bertemu ayahmu, masa tampilanku begini?”
“Asal kau tidak menggoda ayahku saja tak apa.. Pft!”
“Rin~”, rengekku pelan mengoyang-goyangkan lengannya.

“Sudah tak apa.. Cocok kok..”
“Tapi menjijikan Rin.. Apalagi itu dari Yuta kan? Aku tidak mau..”
“Kau terlihat semakin tampan dengan lipbalm ini, senpai.. Tenang saja..”
“Ck..”, aku berdecak melipat tanganku sebal.
“Taeyong-senpai..?”, panggilnya.

‘Chu~’

Aku menoleh ke arah Rin cepat dengan mata lebar. Dia barusaja.. menciumku?

“Wah, rasanya benar cherry..”, katanya dengan senyum mengembang.

Tadi barusan kita ciuman kan? Kita berbagi lipbalm di tempat umum. Oh my God. Kenapa aku harus bertingkah seakan aku ini gadisnya? Seharusnya aku yang manly kan? Ah, apa obat yang selama ini kutelan itu jangan-jangan peningkat hormon wanita? Kyah!

$$$$$

Restoran bintang lima memang beda dari kedai pinggir jalan. Aroma masakan yang menggugah selera mengambil alih ruang makan. Alunan musik klasik dan pelayanan memuaskan tersedia untuk tiap meja. Ayah Rin, Takamura Yoshiko, sudah duduk di meja yang ia pesan. Lima belas menit lebih cepat dari waktu janjian. Maklum Yoshiko barusaja ada rapat di dekat sana, jadi jarak tempuhnya lebih dekat.
Tak berselang lama, Rin dan Taeyong tiba. Mereka masuk ke restoran setelah pelayan membukakan pintu.

“Takamura Yoshiko..”, ujar Rin melaporkan nama meja reservasinya.
“Mari saya antar..”, ajak pelayan.
“Baik.. Ayo, senpai..”

Rin agak terpaku melihat ekspresi Taeyong. Sangat berbeda dari Taeyong yang ada di bus tadi. Taeyong yang ini.. menyebar aura dingin. Well, dia tersenyum. Tapi senyuman itu bukan tanda sapa yang ramah.

“Emm.. Kau tidak perlu setegang itu..”, kata Rin mencoba memahami kekasihnya.
“Aku berusaha sebiasa mungkin..”, jawab Taeyong terdengar sangat santai, tidak, datar.
“Ah, itu ayah..”, Rin melihat sosok ayahnya di salah satu meja di tengah ruangan.

Mereka lalu berjalan mendekat. Yoshiko yang melihat kedatangan putrinya pun mengembangkan senyum. Namun senyum itu perlahan hilang ketika ia melihat sosok pria yang ada di belakang Rin.

“Ayah sudah lama disini?”, tanya Rin setelah memeluk ayahnya singkat.
“Tidak, barusaja..”, jawab Yoshiko. “Rin, ini......”
“Oh! Ini lelaki yang pernah kuceritakan pada ayah waktu itu.. Pacarku..”, Rin mengenalkan Taeyong ke ayahnya.

“Selamat sore, Tuan Takamura Yoshiko.. Senang bisa bertemu dengan anda lagi..”


Rin mengerjapkan matanya beberapa kali. Lagi?