Rabu, 17 Februari 2016

CARAMEL POPPORN STORY


Second Bite

*Japan, Tokyo, Kaijou High School
Aku membuka mata. Enak juga tidur siang setelah jam istirahat. Tapi, kelas ini tiba-tiba tenang. Padahal sudah banyak murid. Butuh waktu beberapa saat untuk aku mencerna apa yang terjadi di dalam kelasku ini.

“Lee Taeyong..”, panggil pria tua dengan kumis kotak di bawah lubang hidungnya.

Aku bangkit berdiri dari kursi. Aku tahu apa yang akan terjadi. Dia pasti akan memarahiku karena tidur saat jam pelajarannya.

“Coba kau jelaskan bagaimana teori Big Bang itu..”, pinta pak guru kalem.

Aku melirik kearah Yuta, temanku, sial anak itu juga tidur di balik buku.

“Taeyong-kun?”, pak guru sudah tidak sabar mendengar celotehanku.
“Ehm.. Teori Big Bang?”
“Ya..”

“Mereka punya lagu yang bagus-bagus..”
“Apa?”
“Ya, lagu mereka bagus.. Banyak rap-nya, beatnya lumayan enak untuk menari, mereka juga populer..”, jelasku.

Aku bisa mendengar teman-teman di kelas menahan tawa geli mereka. Heee, apa jawabanku salah?

“Lee Taeyong, cepat ke kelas polisi..”, aku diusir guruku dari kelas.

Ke kelas polisi itu sama saja dengan sana-ke-ruang-BK. Bedanya kalau di kelas polisi, kita dapat tugas sebagai hukuman, kalau di ruang BK kita diberi ceramah panjang lebar. Dan kalau beruntung BK akan memberimu surat untuk memanggil orangtua ke sekolah. Hah, jadi hal ini kusyukuri saja. Paling tugasnya menata buku di perpustakaan atau menyapu koridor.

“Kelas polisi itu.. Sebelahnya ruang OSIS bukan ya?”, pikirku sambil berjalan menuruni anak tangga.

Jujur saja meski sudah kelas tiga aku masih belum hafal bangunan dan ruang kelas yang ada di Kaijou ini. Sekolah ini terlalu besar untukku! Gedung yang paling kuhafal dengan baik hanya gedung klub, selain itu aku buta.
Untung, dugaanku tepat. Kelas polisi ada di sebelah ruang OSIS. Hm, pintar juga ya aku. Baiklah. Aku masuk.

“Permisi..”, sapaku mengalihkan pandangan para anggota polisi sekolah.
“Oh, bukankah ini ketua klub menari yang terkenal di kalangan gadis?”, pria berkulit gelap menghampiriku.
“Ada perlu apa kemari?”, kali ini pria dengan alis bercabang yang bersuara.

“Shirogane sensei menyuruhku kemari..”, jawabku polos.
“Shirogane sensei? Dia guru yang jarang mengirim muridnya ke kelas polisi.. Apa yang kau lakukan?”, Aomine Daiki, pria berkulit legam itu menanyaiku heran.
“Mungkin dia tertegun mendengar jawabanku..”, aku kembali menjawab dengan polos.

“Hahahaha, pasti jawaban yang kau berikan untuknya sangat konyol ya! Shirogane sensei itu meski terlihat kalem dia adalah orang yang sangat serius.. Ngomong-ngomong, silakan isi biodatamu di formulir ini..”, si alis cabang, Kagami Taiga memberiku formulir untuk diisi.

“Kalau aku mengisi ini, apakah akan sampai ke meja ketua OSIS?”, tanyaku menyiapkan pena.
“Tentu saja.. Takamura Rin-san sangat memperhatikan perkembangan tiap siswa.. Ini untuk kemajuan nama Kaijou dalam akreditasi..”, jelas Taiga.
“Sou ka (begitu)? Baiklah..”, aku menurut dengan mudah setelah tahu kertas ini akan berakhir di meja Rin.

Biodata diri, alasan kenapa masuk ke kelas polisi, jenis hukuman, pernyataan pengakuan salah, perjanjian untuk tidak mengulangi, dan tanda tangan. Hm, sudah. Selesai mengisi formulir, Taiga dan Daiki memberikan tugas yang tidak cukup berat untuk kulakukan. Hanya membuang sampah dan menyiram tanaman.
Beruntunglah diriku. Aku akan sakit seminggu kalau sampai dapat tugas membersihkan toilet laki-laki. Disana banyak peninggalkan sakral para pria. Tidak hanya kotoran, tapi juga semen mereka. Kenapa bisa disana? Hah, ini pertanyaan mudah. Tentu saja karena toilet adalah tempat mereka masturbasi ramai-ramai.
Aku tak pernah mengatakan ini ke Rin. Ya karena aku tahu ini adalah tempat suci untuk kami para kaum adam. Tempat tenang dimana kami bisa menyalurkan libido tinggi masa remaja yang tak terkontrol itu. Bahkan aku pernah melihat beberapa pria mengajak pacar mereka dari sekolah lain untuk berhubungan di bilik kamar mandi.
Sekali-sekali aku ingin mengajak Rin kesana juga. Tapi aku takut ini akan merusak altar siswa Kaijou yang sangat berharga itu. Rin pasti akan mengobrak-abrik tempat itu. Sebagai bonus, dia akan mengubah tempat itu jadi sarang bunga.

“Hah...”, aku menghela nafas sambil menyirami tanaman.
“Helaan nafasmu panjang juga ya..”

Aku menoleh ketika suara yang kukenal mendatangiku. Yuta.

“Kau..? Kenapa bisa jalan-jalan?”, aku bertanya penasaran.
“Kau mau jawaban A atau B?”, Yuta memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Kalau A?”
“Aku akan jawab secara detil sambil kuperagakan ilustrasinya..”
“B?”
“Akan kujawab biasa secara singkat..”

“Hah, kau ini orang yang ribet.. Jawab saja dengan normal.. Ckckck..”, aku menggeleng-gelengkan kepala mencoba maklum.
“Jadi pilih A atau B?”, tanya Yuta lagi.
“Tentu saja A!”

Yuta menyunggingkan senyum. Ia lalu mundur beberapa langkah ke belakang dan mulai bergaya.

“Aku terbagun dari tidur siangku, aku menyadari kalau kau tak ada di sampingku.. Aku juga menyadari ternyata buku yang menutupi wajah tidurku itu terbalik! Tapi bukan itu masalahnya...”, Yuta menatapku tajam.

Aku balik menatapnya dengan serius. Tak sabar apa kelanjutan drama yang ia lalui tadi.

“Aku sadar kalau tasku tertinggal di ruang klub!!”
“Lalu apa yang terjadi? Jelaskan padaku!”, aku sudah sangat penasaran.
“Kemudian ketika Shirogane sensei menulis di papan tulis, aku merangkak ke bawah meja.. Aku terus merangkak hingga aku sampai di pintu yang ada di belakang kelas.. Dengan pelan aku mencoba untuk menggeser pintu itu.. Benar-benar pelan tak ingin membangunkan naga yang tidur di gua..”

Aku ikut deg-degan mendengar penjelasan ceritanya. Yuta mengilustrasikan semua itu dengan sangat baik. Gerakannya mudah dipahami.

“Dan akhirnya aku bisa keluar..”, ia mengakhiri cerita dengan tangan masuk ke saku lagi.
“Hebat.. Luar biasa! Kau sangat beruntung..”, pujiku.
“Bukan apa-apa..”

“Sekarang kau mau kemana?”, tanyaku sambil menyiram tanaman-tanaman ini.
“Aku mau ambil tas di ruang klub.. Kau mau ikut?”
“Inginnya begitu... Tapi aku harus menyirami tanaman ini dulu..”

Yuta berdecak pelan. Ia meraih selang air yang ada di tanganku. Dengan cepat dan bringas ia semprotkan aliran air itu ke tanaman yang ada disini. Model bibi-bibi enerjik yang jualan daging di pasar begitu lah.

“Nah, sudah.. Ayo ikut aku saja..”, ajaknya setelah meletakkan selang air kembali ke tempatnya.
“Kau pasti takut kan jalan sendirian?”, tebakku.
“Maksudmu?”, ia terdengar sedikit tak terima.
“Kau takut akan ada yang mengikutimu dari belakang.. Kau bisa merasakannya.. Kau bahkan bisa melihatnya dari kaca jendela.. Tapi kau tak bisa melihat sosoknya secara nyata..”, aku terus mendekatkan wajahku ke wajahnya sambil memasang tatapan horor.

“H-hentikan, bodoh! A-aku tidak takut dengan hal begituan!”, elak Yuta mengusap tengkuknya yang sempat merinding.

Aku tersenyum tipis. Kami berjalan santai menuju ke gedung klub. Ruang klub band Yuta ada di lantai dua ruang kedua, sedang ruang klub dance ada di lantai tiga ruang kedua.

“Kenapa kau bersembunyi begitu?”, aku menanyai Yuta yang sembunyi di belokan koridor.

Tatapannya tampak cemas. Ia bahkan terus mendorongku untuk tidak terlalu condong ke depan. Apa yang ia lihat? Apa ada wanita bugil menunggu di depan ruang klubnya? Atau ada hantu pakai lingerie tipis? Aku penasaran.

“Ada apa sih?”, tanyaku lagi.
“Itu.. Disana itu..! Ada itu!”, jawab Yuta agak panik.
“Ada siapa? Dimana? Katakan dengan jelas, baka Yuta..”, ujarku datar.
“Ada wanita yang sudah menolakku mentah-mentah!”, bisik Yuta geregetan.

“Hah? Wanita yang menolakmu yang mana? Ada banyak, Yuta..”, aku sedikit memiringkan kepalaku heran.
“Yang itu..”, ia malah merengek.

Hah, daripada menunggu anak kecil menangis lebih baik aku lihat sendiri. Perlahan aku dapat melihat sosok wanita cantik dengan satu mataku. Tetap harus sembunyi supaya Yuta tidak heboh. Heeee, wanita itu lumayan juga. Lingkar dadanya 80, lingkar pinggang 50, tingginya 162, beratnya 43. Pemeriksaan selesai.

“Bukankah dia wanita yang lumayan? Kenapa kau takut menemuinya?”, tanyaku santai pada Yuta yang sudah menundukkan kepala.
“Darimana dia tahu aku sekolah disini? Oh pasti dia dengar nama Kaijou disebut sewaktu aku lomba! Lalu dia mau apa? Apa dia mau menamparku karena sudah menyatakan cinta dengan dandanan gothic? Aaaaaa, Taeyong tasukete!”. Yuta merengek minta bantuanku.

Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku menyatukan alis mengerutkan kening. Apa aku harus bawa sapu dan mengusir wanita itu darisana? Atau aku harus melemparinya dengan sepatu?

“Aku bisa apa?”, tanyaku.
“Kau bisa-“
“Kau sajalah.. Aku tak mampu..”, selaku sebelum Yuta menyuruhku yang aneh-aneh.
“Aku kan belum selesai ngomong!”
“Yuta.. Kau ini kan laki-laki populer.. Masa dengan wanita begitu kau takut sih? Pasang tampang kerenmu itu, lalu berjalan dengan keren untuk menemuinya.. Jangan tatap dia dengan mata berbinar.. Tatap dengan mata tajam seperti karakter pria yang ada di komik.. Paham?”
“Sepertinya aku mengerti.. Baiklah, akan kucoba!”

Mudah sekali menyemangati Yuta. Ya dia memang gampangan sih. Aku mengamati Yuta dari tempat persembunyian kami. Anak itu benar-benar melakukan apa yang kusuruh. Dia berjalan keren dengan wajah songong seperti karakter pria populer yang ada di komik. Tiba-tiba aku ingin memukulnya dengan speaker.

“Ah, akhirnya ketemu!”, aku dapat mendengar wanita itu menyapa Yuta dengan lega.
“Kau mencariku?”, tanya Yuta dengan ekspresi tak berubah dan suara rendah.
“Ee (ya), aku sudah menunggumu.. Karena aku hanya tahu kalau kau adalah anggota band dari Kaijou, makanya aku menunggu disini..”, jelas wanita itu terus memasang senyum di wajahnya.
“Ada perlu apa?”, Yuta berusaha terdengar cuek.

“Aku mau minta maaf padamu..”
“Minta maaf?”, oh Yuta tolong kendalikan nadamu. Sekarang kau terdengar tertarik dengan wanita itu.
“Aku sudah menolakmu tanpa memikirkan perasaanmu.. Aku sungguh bodoh kemarin..”, jelas wanita itu menyesal.

Yuta terdiam disitu. Apa dia tertegun? Atau dia terharu? Aku tak tahu. Aku hanya bisa melihat punggungnya darisini.

“Aku datang kemari juga dengan harapan kau masih menyimpan pernyataan cinta itu untukku.. Apakah, kau masih menerimaku jika aku bilang iya?”

Oh, shit. Wanita itu menembak Yuta! Yuta kuatkan dirimu! Jangan terlampau batas senang!! Atur nafas dan perasaanmu, Yuta!
Tiba-tiba suasana jadi hening. Yuta masih diam bertatap mata dengan wanita itu. Aku mulai tertarik dan kembali deg-degan melihat serial drama musim ini. Apa yang akan terjadi pada mereka? Kenapa Yuta diam begitu? Aku harus menunggu berapa lama dengan posisi seperti ini?
Samar-samar aku mendengar suara beberapa wanita terkekeh menaiki anak tangga. Oh shit shit shit. Kalau mereka melihatku dalam posisi ini, mereka pasti akan salah sangka dan menatapku dengan tatapan menuduh. Aku harus biasa saja. Hm.

“Iya, adik kelas yang tergabung dalam klub band itu sangat menggemaskan.. Banyak yang suka lho..”, ujar salah satu dari perempuan itu.
“Kalau tidak salah nama panggungnya Jae kan?”, perempuan yang lain menjawab.
“Benar.. Kalau menurut Haku-chan bagaimana?”
“Eh? Aku? Emm.. Ya, dia punya wajah yang manis..”, jawab perempuan dengan kacamata yang sedang memeluk buku dan rambut yang ia kepang satu.

Oh tidak. Bukankah itu Hayashi Hakuro dari kelas 2-A? Dia kan kenalannya Rin! Bisa gawat kalau dia sampai tahu aku ada disini saat jam pelajaran! Dia bisa melaporkannya ke Rin! Ah, tolong aku Yuta! Kenapa kau masih diam saja disana sih?!
Tanpa kusadari, aku mengubah pose normalku menjadi pose yang sedikit membuat orang curiga. Ya, aku berdiri menatap tembok. Aku seperti sedang dihukum oleh guru. Mungkin mereka juga berpikir aku ini hantu yang diam menatap tembok. Tapi untungnya, mereka melewatiku begitu saja. Hah, selamat. Leganya tidak ada yang tahu.

“Bukankah tadi itu Lee Taeyong dari kelas 3-B? Apa yang dia lakukan disini?”, aku melebarkan mata ternyata mereka tahu!
“Mungkin dia sedang membolos lagi?”, hei hei hei! Aku sedang dihukum, bukan membolos ya, kouhai (junior)!
“Lho? Itu kan....”

Oh! Mereka menyadari Yuta dan wanita itu! Aku kembali mengintip apa yang terjadi di lokasi itu. Hm? Kenapa.... wanita itu menangis?


$$$$$


Yuta menatap wanita yang secara tidak langsung memintanya untuk menembaknya lagi. Awalnya ia senang wanita yang ia sukai secara kilat datang ke sekolah spesial untuk menemuinya. Tapi..

“Eh? Aku? Ya, dia punya wajah yang manis..”

Sekarang moodnya menurun drastis. Yuta jadi kesal sendiri dengan wanita yang ada di depannya. Wajahnya sekarang murni ekspresi yang menunjukkan perasaannya.

“Apa kau mau?”, wanita itu bertanya pada Yuta dengan kalem.
“Tidak..”, jawab Yuta pendek kemudian langsung masuk ke ruang klub.

Wanita itu tertohok. Ia terpaku pada tempatnya berdiri. Yuta pergi begitu saja meninggalkannya. Tentu siswi ini menangis kan?

“Hei, gadis itu menangis disana..”, salah seorang dari anggota klub merangkai bunga berbisik.
“Sudah biarkan saja..”, jawab anggota lain.
“Lho? Haku-chan mau kemana?”

Hayashi Hakuro, menghampiri wanita itu. Ia memegang pundaknya dengan wajah cemas.

“Ada apa? Kenapa menangis?”, tanya Hakuro hati-hati.

Wanita itu terus menangis sampai tak bisa menjawab. Ia begitu sedih dan sakit hati. Ia, wanita cantik incaran banyak pria, ditolak begitu saja oleh seorang vokalis anggota band Kaijou. Ini belum pernah terjadi dalam hidupnya.

“Hei, jangan menangis..”, Hakuro berusaha menenangkan.

Saking sedihnya, wanita itu sampai memeluk Hakuro erat. Hakuro kaget disana. Tapi ia tahu dan membiarkan wanita ini menangis sejenak. Hakuro menepuk punggung siswi itu sambil menenangkannya.

“Sudah, jangan menangis.. Nanti matamu bengkak..”, kata Hakuro.

Akhirnya wanita itu berhenti menangis. Hakuro tersenyum kearahnya dengan memberikan sebuah sapu tangan.

“Terimakasih..”, ujar wanita itu dengan suara serak.

Barusaja wanita itu hendak menyeka air matanya dengan sapu tangan dari Hakuro, pintu klub band terbuka keras.

‘Brak!!’

Sontak semua menoleh kearah asal suara hantaman itu. Ada Yuta sudah berdiri dengan wajah tak terima disana.

“Nakamoto-san?”
“Itu harusnya sapu tangan untukku!! Berikan!!”, Yuta merebut sapu tangan milik Hakuro dari tangan siswi sekolah internasional tersebut.

“Eh?”, Hakuro memiringkan kepala heran seheran-herannya menatap Yuta.
“Ugh! Jangan tatap aku seperti itu, nona dada be-“

‘Buak!’

Tak perlu mendengar kelanjutan kalimat Yuta, Hakuro langsung meninju Yuta. Tanpa komentar apa-apa ia kemudian menutup pintu ruang klub band.

“Nah, kalau sudah tidak ada perlu di Kaijou, kembalilah ke sekolahmu..”, kata Hakuro ramah ke wanita yang bingung dengan situasi tadi.
“H-hai..”


$$$$$


Taeyong mehana tawanya. Perutnya terasa sangat sakit disitu. Apa yang barusan terjadi disana? Drama macam apa itu? Ya ampun ini tontonan yang sangat menarik!

“Taeyong-senpai..”, panggil Rin menepuk pundak Taeyong.

Seketika semua otot Taeyong menegang. Saat ini suara Rin adalah hal terhoror yang ada di dunia ini. Ia tak berani menoleh. Pasti Rin akan menerkamnya kalau dia membalikkan badan.

“Apa yang kau lakukan disini, hm?”, tanya Rin.

Taeyong masih mematung. Membatu lebih tepatnya. Ia berharap bisa menghilang dan pindah ke kamar mandi wanita seketika itu juga. Tapi apa daya ini bukan cerita sihir.

“Kenapa kau diam saja? Taeyong-senpai..”, nada Rin semakin terdengar menyeramkan.
“Oh, Rin! Hai..”, sapa Taeyong membalik badan memasang senyum ceria.

Rin menatap Taeyong dengan tatapan hentikan-senyuman-itu-kau-terlihat-aneh.

“Jangan berikan ‘hai’ kepadaku! Apa yang kau lakukan disini, hah? Kau bolos lagi!?”
“Tidak.. Aku dihukum..”, jawab Taeyong kembali normal.
“Dihukum? Lalu kenapa malah disini? Kalau sudah selesai tugas hukumannya, segera melapor dan kembali ke kelas!”
“Aku masih menikmati waktu hukumanku..”, kata Taeyong santai.
“Apa? Hah..”, Rin menghela nafas menyabarkan dirinya sendiri.

“Hei, Rin.. Coba lihat disana.. Ada tontonan menarik..”, Taeyong menunjuk ke arah drama perang.
“Itu kan Haku dan Nakamoto-senpai.. Apa yang mereka lakukan?”
“Lihat saja.. Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba Yuta bertindak begitu..”
“Ha?”, Rin yang tidak mengikuti dari episode satu hanya bisa menaikkan satu alisnya bingung.

Disana, ya di depan ruang klub band ada Yuta dan Hakuro sedang adu tatap. Yuta menatap dengan tajam sedang Hakuro menatap Yuta tanpa ekspresi apapun.

“Kenapa kau mengambil sapu tanganku?”, tanya Hakuro ingin tahu secara datar.
“Kenapa tidak boleh?!”, balas Yuta mengerutkan kening.
“Aku kan tidak bilang kalau tidak boleh..”
“Jadi boleh?”

“Tidak.. Ayo kembalikan..”, Hakuro menyodorkan tangan kosongnya dengan ekspresi wajah masih datar.
“Aku mau ini! Lagipula kau kan bisa membuatnya lagi..” Yuta memeluk sapu tangan itu.
“Heee.. Kau kan tidak suka bunga..”
“Siapa bilang tidak suka? Aku suka kok..”
“Hontou desuka?”, Hakuro meyakinkan diri dengan mengajukan pertanyaan ‘benarkah’ ke Yuta.

“I-iya..”, jawab Yuta ragu.

Daritadi Hakuro terus berdialog dengan datar. Ia tak menunjukkan ekspresi sama sekali. Kacamatanya itu lho. Yuta jadi tidak bisa melihat mata Hakuro karena terhalang kacamata yang membiaskan cahaya itu. Huh.

“Kalau begitu kau boleh simpan..”, ujar perempuan itu.
“Eh? Benar tak apa?”
“Ya.. Seperti yang kau katakan, aku bisa membuatnya lagi..”
“T-terimakasih..”, jawab Yuta kikuk.

“Lain kali kalau kau juga mau sapu tangan, katakan saja padaku.. Akan kubuatkan untukmu.. Tapi jangan merebut milik orang lain, kasihan wanita tadi..”, kata Hakuro akhirnya dengan seulas senyum.

Mata Yuta sedikit melebar dari ukuran aslinya. Seorang Hayashi Hakuro barusaja tersenyum kearahnya dengan begitu manis. Ia barusaja menyaksikan fenomena mengejutkan yang mungkin tidak bisa dialami oleh semua pria. Dia istimewa! Dia istimewa di mata Hakuro!

“Nakamoto-san? Hah, dia kembali membeku.. Ya sudah, aku kembali ke ruang klub dulu.. Sampai jumpa..”, Hakuro pergi meninggalkan koridor dan masuk ke ruang klubnya.

Taeyong menggandeng Rin untuk menghampiri Yuta yang masih terdiam. Hari ini Yuta banyak diam ya.

“Hei, kau kenapa? Tiba-tiba diam begitu..”, ucap Taeyong.
“Nakamoto-senpai, apa yang sebenarnya terjadi?”, tanya Rin melipat tangan.
“Dia tersenyum kearahku lho..”, jawab Yuta perlahan tersenyum.. er, mesum.

“Ih! Jangan senyum begitu kearahku! Menakutkan..”, Taeyong mengibas-ngibaskan tangannya takut.
“Tadi dia senyum dan bersedia membuatkan sapu tangan untukku kalau aku minta.. Hehehe..”, Yuta menempelkan sapu tangan itu ke pipinya.

Mata Rin menangkap sesuatu dari sapu tangan yang di’sayang’ Yuta.

“Itu.. Hei, Nakamoto-senpai..”, panggil Rin.
“Hm?”, jawab Yuta masih melayang.
“Itu sapu tangan untuk bibi kantin..”, kata Rin.

Apa? Dengan cepat Yuta mengecek sapu tangannya. Dan benar saja! Disana tercantum nama Yaotome Hikaru, nama paman, em, bibi kantin.

“Ya ampun ini kan milik paman kantin yang maunya dipanggil bibi! Tidak mau!!”, teriak Yuta.
“Hahahaha, cuma namanya saja.. Haku belum memberikan sapu tangan itu ke bibi kantin Yaotome kok..”, kata Rin.
“Oh ya? Tapi tetap saja ini kan punya waria itu..”, Yuta kembali pundung.

“Lagipula, aku baru tahu kalau kau suka Hayashi-san..”, celetuk Taeyong.
“Eh? Kau suka Haku? Sejak kapan? Bagaimana bisa? Dia kan jauh dari tipe idealmu!”, Rin langsung semangat menginterogasi.
“Aku.. Tidak tahu kok.. Aku masih bingung dengan perasaan ini..”, Yuta memainkan kedua jari telunjuknya malu.
“Senpai, menjijikan.. Kau terdengar seperti perempuan yang terbelenggu pada masa pubernya..”, komentar Rin langsung menusuk hati Yuta.

“Dia kan memang sedang puber yang berkelanjutan.. Dia bahkan belum bisa pasang kondom dengan benar..”, ujar Taeyong.
“Oh ya? Ya ampun itu sangat gawat..”, Rin menanggapi serius.
“Terakhir kali dia mau pasang kondom, wajahnya malah terjepret kondom itu..”, Taeyong mendongeng.
“Uh, pasti sakit tuh..”

“Hei kalian mulai membicarakan yang tidak-tidak!! Jangan ngelantur!”, protes Yuta dengan wajah merah.


$$$$$


Sepulang sekolah, Rin tidak pulang. Ia harus mengurus dokumen yang sudah menumpuk lagi di meja ketua OSIS. Banyak yang harus diperiksa mengingat Kaijou adalah SMA elit dengan berbagai macam prestasi. Tak hanya itu, dokumen laporan kegiatan hari ini pun juga sudah siap untuk diperiksa.

“Selanjutnya dari kelas polisi..”, batin Rin mengambil map dari kelas polisi.

Rin melihat laporan itu. Tatapannya berhenti ketika ada nama Lee Taeyong di laporan kepala kelas polisi. Dengan tangan yang bergerak cepat, Rin langsung mencari formulir yang diisi Taeyong. Benar saja, formulir itu ada! Berarti Taeyong benar-benar dihukum tadi. Hah, anak itu..

“Hm? Nama, Lee Taeyong, kelas 3-B, dihukum saat pelajaran Shirogane sensei.. Alasan hukuman karena aku terus memikirkan Takamura Rin, jenis hukuman maunya sih Bondage tapi malah disuruh menyiram tanaman dan membuang sampah..”, baca Rin lalu terkekeh geli.

“Pernyataan pengakuan salah.. Ya ini tidak murni salahku.. Ada unsur salahnya Rin juga, kenapa dia mengganggu pikiranku? Aku kan jadi tidak tenang.. Jawabanku jadi ngelantur kan? Hahaha, dasar Taeyong-senpai.. Selanjutnya perjanjian tidak akan mengulangi kesalahan..”

Mata Rin membaca dengan seksama tulisan Taeyong. Ia kemudian tersenyum manis dengan lembut disitu. Tanpa komentar Rin lalu melanjutkan aktivitasnya.

‘Aku tidak mau berjanji pada hal yang tidak bisa kutepati.. Mana mungkin aku sanggup tidak memikirkan Takamura Rin barang hanya sebentar? Tapi aku akan berjanji untuk mencontek lebih kreatif supaya bisa menjawab pertanyaan pak Shirogane’ – Lee Taeyong

Selesai mengurus internal Kaijou, Rin beralih ke eksternal. Ya, hal-hal yang membahas perlombaan dan lainnya itu. Dokumennya paling banyak dari yang lain. Hah, pasti akan memakan waktu yang cukup lama.
Klub basket berhasil menjadi peserta dalam pertandingan musim panas ini. Klub renang juga sudah lengkap sarana prasarana untuk mengikuti pertandingan. Klub sepak bola dapat lolos dari babak penyisihan. Klub olahraga dapat lancar berjalan dengan aman. Klub akademik juga berhasil dalam lomba-lomba mereka. Bagus.
Dalam waktu dekat ini.. event yang cukup besar adalah pertandingan ini. Terada Takuya selaku manager klub band sedang berusaha mendaftarkan Kaijou untuk mengikuti event bergengsi ini. Hm, bagaimanapun juga Kaijou harus mengikuti event ini.

‘Drrttt’

Rin melihat ponselnya yang bergetar menampilkan nama Terada-senpai. Tak menunggu lama, Rin menjawab panggilan tersebut.

“Hah? Apa? Apakah harus begitu? Tapi Kaijou hanya punya satu tim perwakilan.. Tidak bisakah kita mendaftarkan satu tim pada tiap pertandingan? Hah, ya sudah tak apa.. Nanti kita usahakan untuk memenuhi persyaratannya..”

Rin meletakkan ponselnya lagi setelah menghela nafas. Cukup gawat juga sih. Salah satu persyaratan untuk ikut event bergengsi itu adalah tiap sekolah diwakili oleh dua tim. Bukannya tidak ada orang yang tersedia di Kaijou, tapi kalau dia mengikutkan sembarang tim yang tidak pernah disiapkan untuk ikut lomba, nama Kaijou bisa jelek nanti.

“Hm.. Apa aku harus melibatkannya dalam hal ini?”, pikir Rin tertuju pada seseorang.

Ia mengkalkulasi dan melihat profil-profil siswa-siswi Kaijou yang berpotensi untuk menjadi tim baru.

“Aku harus mencobanya.. Harus kukatakan padanya.. Lagipula ini juga sebuah kesempatan untuk membantu Nakamoto-senpai kan?”

Beberapa jam yang lalu, Rin telah menyetujui akan membantu Yuta untuk menperjelas perasaannya ke Hakuro yang masih buram tak jelas.

“Kalau Haku ikut lomba ini, pasti Nakamoto-senpai akan tercengang.. Hahaha.. Eh, tapi sulit juga sih.. Penampilan Haku kan seperti nenek-nenek begitu.. Hah, baiklah.. Langkah awal adalah memoles Haku!”


$$$$$


“Kau tegang sekali sih..?”, tanya Taeyong.
“Aku sedang berusaha, Taeyong!”, jawab Yuta.

Saat ini dilaporkan mereka sedang mencoba eksperimen, tidak, latihan memasang kondom di apartemen sederhana milik Taeyong yang jaraknya hanya sepuluh menit dari sekolah. Biaya murah, air mengalir lancar, listrik tersedia 24 jam, keamanan terjamin, dapat sarapan, dan pemilik kos-kosan ini baik.
Kembali ke aktivitas kedua pemuda yang masih labil akan masa depan mereka, Yuta dan Taeyong dengan giat belajar memasang kondom dengan rapi dan cantik pada sebuah timun.

“Hah, susah sekali sih!”, Yuta mengeluh pasrah dengan kondom sobek di tangannya.
“Kau tidak boleh menyerah sekarang.. Coba kau perhatikan aku..”

Taeyong meregangkan otot-otot jarinya. Ia membuka bungkus kondom dengan begitu seksi. Dengan hati-hati, Taeyong memasangkan kondom tersebut ke timun yang menurut diapa-apakan oleh Taeyong setiap saat. Hebat sekali! Taeyong dapat memasang kondom itu secara tepat. Benar-benar rapi dan terlihat cantik.

“Nih, mudah kan?”, tanya Taeyong.
“Kenapa kau bisa memasang dengan begitu mudah sedangkan aku tidak?”, tanya Yuta.
“Kau hanya kurang latihan saja.. Sekarang, cobalah lagi..”, Taeyong menarik melepas kondom itu dari timun hingga menimbulkan suara jepretan.
“Waktu memasang kondom, apa yang kau pikirkan?”, tanya Yuta menyiapkan sebuah kondom lagi.

“Pertanyaan bagus.. Waktu memasang kondom, kau bayangkan wanita yang benar-benar menjadi tipemu.. Wanita dengan posisi siap mengharapkan tusukan mantap darimu..”, jelas Taeyong penuh keseriusan.
“B-begitu ya?”, Yuta serius dengan ragu.
“Ya.. Dia sudah tidak sabar merasakan dirimu memenuhi tubuhnya..”, Taeyong masih menghipnotis Yuta.

Di pikiran Yuta, ia sedang membayangkan wanita seksi. Bibirnya merah mengundang, tatapan matanya sayu penuh ketidak sabaran, posenya ‘meminta’. Oh my God. Ini sangat luar biasa. Yuta bisa merasakan sensasi yang mengaliri tubuhnya dengan begitu cepat. Dia bisa melakukan ini. Dia bisa memasang kondom dengan situasi seperti ini!

‘Jeprettt!!!’

Perlahan tapi pasti, dahi Yuta memerah. Pria itu mematung dalam posisinya. Ia hanya bisa menatap timun dengan pilu. Ia gagal, lagi, memasang kondom dengan benar. Ia terkena jepretan karet, lagi.
Taeyong menepuk-nepuk bahu Yuta memahami perasaan temannya itu. Pasti sakit sekali.

Beberapa menit kemudian mereka memutuskan untuk mengisi perut dengan camilan sambil membicarakan hal-hal random yang tidak penting.

“Kau bayangkan siapa tadi waktu memasang kondom?”, tanya Taeyong.
“Nicki Minaj..”, jawab Yuta melahap keripik kentangnya dengan santai.
“Ck, ketinggianlah bayanganmu itu..”, respon Taeyong melempar satu popcorn ke arah Yuta.
“Namanya juga bayangan boleh siapa sajalah.. Bisa Megan Fox, Kim Kadarshian, Hayashi Hakuro-“

‘Singggg’ sekejap hening.

“Siapa?”, tanya Taeyong tak ingin salah dengar.
“E- Me-megan Fox..”, jawab Yuta.
“Setelah itu?”
“Kim Kadarshian...”
“Setelah itu..?”
“Nicki Minaj..”

“Kau bilang Hayashi Hakuro, Yuta! Kau mengatakannya!”, Taeyong bangkit berdiri dengan semangat entah kenapa.
“Nama itu meluncur begitu saja dari mulutku, hwaaa!!!!”, Yuta memegangi kepalanya heboh.
“Itu artinya kau memikirkannya! Kau memikirkan hal itu!”
“Hal itu? Hal apa?”

“Ah, kau pura-pura polos.. Tentu saja seks..”, jawab Taeyong kembali duduk meraih snacknya.
“Eh? Seks? Dengan Hayashi Hakuro? Seks dengannya?!”, Yuta tak percaya dengan kesimpulan Taeyong yang ngawur menurut Yuta.
“Iyalah.. Buktinya kau mengucapkan namanya tanpa kau sadari.. Jauh di dalam lubuk hatimu yang terdalam, kau ingin melakukan pengalaman itu dengan Hayashi-san, Yuta.. Akui saja..”
“B-benarkah?”

Taeyong mengangguk-angguk bangga. Tak ada yang tahu kenapa Taeyong bangga disana. Yuta merasa bimbang disitu. Kenapa juga dia memikirkan Hakuro? Oh ayolah, gadis itu bahkan tidak termasuk dalam tipe yang bisa dibayangkan untuk bahan masturbasi!

“Aku heran.. Kenapa tiba-tiba aku mengatakan nama Hayashi Hakuro begitu saja ya?”, tanya Yuta.
“Yah, kau suka mungkin..”, jawab Taeyong.
“Kau tahu kan dia seperti apa?”, Yuta menatap Taeyong.

“Dia kutu buku?”, tanya Taeyong.
“Tidak..! Bukan itu!”, jawab Yuta.
“Kacamatanya besar?”
“Bukan..!”
“Stylenya jadul?”
“Bukan..!”

“Eee.. Lalu dia apa di matamu?”
“Dia dadanya besar..”, jawab Yuta mantap penuh keseriusan.

Taeyong melirik ke arah lain untuk berpikir. Respon apa yang akan ia berikan untuk Yuta? Apakah ikut senang? Apakah biasa saja?

“Kau suka Hayashi-san karena dadanya besar?”, tanya Taeyong.
“Tidak.. Tapi aku memang suka dada besar.. Memang kau tidak suka?”
“Suka sih.. Tapi aku lebih suka punya Rin..”
“Hah! Kalian sudah pernah melakukan hubungan seks?!”
“Sembarangan.. Aku belum pernah menyentuhnya..”, jawab Taeyong.

“Eh? Belum pernah?”
“Belum lah.. Aku.. Tidak berani mengajaknya..”, Taeyong membuang muka malu.
“Ohoooooooo, ternyata bukan hanya aku yang begini.. Kau juga penakut.. Hahaha..”, Yuta merasa puas disitu.

“Aku bukan penakut! Aku bisa kok mengajaknya bercinta kapanpun aku mau! Tapi, aku tidak bisa.. Itu saja..”
“Ya, aku tahu perasaan itu.. Terkadang aku juga bisa bicara panjang dengan Hayashi.. Tapi kalau sedang tidak sadar, aku akan berubah jadi patung..”
“Karena melihat dia tersenyum?”
“Tidak, karena dadanya..”

Taeyong melempar snack utuh ke muka Yuta tanpa ekspresi. Pikiran anak ini terlalu liar dan harus dilatih untuk dikontrol.

“Kalau kau terus membicarakan dada Hayashi-san, bagaimana kau bisa memenangkan hatinya?”
“Aku tidak berniat untuk memacarinya kok..”
“Hah, kau ini.. Semua orang yang melihatmu pasti langsung tahu kalau kau itu suka dengan Hayashi-san.. Cobalah untuk tidak menatap dadanya.. Bicarakan hal romantis yang disukai wanita.. Jangan bicarakan dadanya yang besar itu!”

“Mudah bagimu mengatakan itu, Taeyong..”, Yuta memajukan mulutnya mencibir perkataan Taeyong.
“Membuat wanita terpesona itu mudah, Yuta.. Buktinya kau tidak melakukan apa-apa saja bisa populer di kalangan siswi.. Benarkan?”
“Ya itu karena aku keren.. Lalu kau sendiri bagaimana? Aku heran kenapa Takamura-san mau berpacaran denganmu.. Hmm..”
“Ceritanya panjang.. Banyak konflik.. Tidak akan selesai kalau hanya diceritakan sehari..”

“Kalian ini memang pasangan yang terlalu banyak rahasia.. Ckckck..”, ujar Yuta merebahkan diri.
“Justru karena rahasia itulah yang mempererat hubunganku dengan Rin..”, jawab Taeyong menyesap minuman sodanya.


$$$$$


Sebuah rumah besar berdiri kokoh dengan cantiknya disana. Sudah dapat dipastikan pemiliknya adalah keluarga yang kaya. Di depan pintu ada plakat kecil yang bertuliskan ‘Takamura’, nama keluarga penghuni rumah.

“Oh, Rin.. Kau sudah pulang..”
“Ya, akhirnya aku pulang.. Banyak sekali tugas OSIS yang harus diselesaikan disana.. Kau sudah makan, Haku?”
“Belum.. Aku menunggumu..”
“Benarkah? Terimakasih.. Ayo kita makan.. Setelah itu ada hal penting yang harus kukatakan padamu..”

“Hal penting?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar