Second Bite
*Japan, Tokyo, Kaijou High School
Aku
membuka mata. Enak juga tidur siang setelah jam istirahat. Tapi, kelas ini
tiba-tiba tenang. Padahal sudah banyak murid. Butuh waktu beberapa saat untuk
aku mencerna apa yang terjadi di dalam kelasku ini.
“Lee
Taeyong..”, panggil pria tua dengan kumis kotak di bawah lubang hidungnya.
Aku
bangkit berdiri dari kursi. Aku tahu apa yang akan terjadi. Dia pasti akan
memarahiku karena tidur saat jam pelajarannya.
“Coba
kau jelaskan bagaimana teori Big Bang itu..”, pinta pak guru kalem.
Aku
melirik kearah Yuta, temanku, sial anak itu juga tidur di balik buku.
“Taeyong-kun?”,
pak guru sudah tidak sabar mendengar celotehanku.
“Ehm..
Teori Big Bang?”
“Ya..”
“Mereka
punya lagu yang bagus-bagus..”
“Apa?”
“Ya,
lagu mereka bagus.. Banyak rap-nya, beatnya lumayan enak untuk menari, mereka
juga populer..”, jelasku.
Aku
bisa mendengar teman-teman di kelas menahan tawa geli mereka. Heee, apa
jawabanku salah?
“Lee
Taeyong, cepat ke kelas polisi..”, aku diusir guruku dari kelas.
Ke
kelas polisi itu sama saja dengan sana-ke-ruang-BK. Bedanya kalau di kelas
polisi, kita dapat tugas sebagai hukuman, kalau di ruang BK kita diberi ceramah
panjang lebar. Dan kalau beruntung BK akan memberimu surat untuk memanggil
orangtua ke sekolah. Hah, jadi hal ini kusyukuri saja. Paling tugasnya menata
buku di perpustakaan atau menyapu koridor.
“Kelas
polisi itu.. Sebelahnya ruang OSIS bukan ya?”, pikirku sambil berjalan menuruni
anak tangga.
Jujur
saja meski sudah kelas tiga aku masih belum hafal bangunan dan ruang kelas yang
ada di Kaijou ini. Sekolah ini terlalu besar untukku! Gedung yang paling
kuhafal dengan baik hanya gedung klub, selain itu aku buta.
Untung,
dugaanku tepat. Kelas polisi ada di sebelah ruang OSIS. Hm, pintar juga ya aku.
Baiklah. Aku masuk.
“Permisi..”,
sapaku mengalihkan pandangan para anggota polisi sekolah.
“Oh,
bukankah ini ketua klub menari yang terkenal di kalangan gadis?”, pria berkulit
gelap menghampiriku.
“Ada
perlu apa kemari?”, kali ini pria dengan alis bercabang yang bersuara.
“Shirogane
sensei menyuruhku kemari..”, jawabku polos.
“Shirogane
sensei? Dia guru yang jarang mengirim muridnya ke kelas polisi.. Apa yang kau
lakukan?”, Aomine Daiki, pria berkulit legam itu menanyaiku heran.
“Mungkin
dia tertegun mendengar jawabanku..”, aku kembali menjawab dengan polos.
“Hahahaha,
pasti jawaban yang kau berikan untuknya sangat konyol ya! Shirogane sensei itu
meski terlihat kalem dia adalah orang yang sangat serius.. Ngomong-ngomong,
silakan isi biodatamu di formulir ini..”, si alis cabang, Kagami Taiga
memberiku formulir untuk diisi.
“Kalau
aku mengisi ini, apakah akan sampai ke meja ketua OSIS?”, tanyaku menyiapkan
pena.
“Tentu
saja.. Takamura Rin-san sangat memperhatikan perkembangan tiap siswa.. Ini
untuk kemajuan nama Kaijou dalam akreditasi..”, jelas Taiga.
“Sou
ka (begitu)? Baiklah..”, aku menurut dengan mudah setelah tahu kertas ini akan
berakhir di meja Rin.
Biodata
diri, alasan kenapa masuk ke kelas polisi, jenis hukuman, pernyataan pengakuan
salah, perjanjian untuk tidak mengulangi, dan tanda tangan. Hm, sudah. Selesai
mengisi formulir, Taiga dan Daiki memberikan tugas yang tidak cukup berat untuk
kulakukan. Hanya membuang sampah dan menyiram tanaman.
Beruntunglah
diriku. Aku akan sakit seminggu kalau sampai dapat tugas membersihkan toilet
laki-laki. Disana banyak peninggalkan sakral para pria. Tidak hanya kotoran,
tapi juga semen mereka. Kenapa bisa disana? Hah, ini pertanyaan mudah. Tentu
saja karena toilet adalah tempat mereka masturbasi ramai-ramai.
Aku
tak pernah mengatakan ini ke Rin. Ya karena aku tahu ini adalah tempat suci
untuk kami para kaum adam. Tempat tenang dimana kami bisa menyalurkan libido
tinggi masa remaja yang tak terkontrol itu. Bahkan aku pernah melihat beberapa
pria mengajak pacar mereka dari sekolah lain untuk berhubungan di bilik kamar
mandi.
Sekali-sekali
aku ingin mengajak Rin kesana juga. Tapi aku takut ini akan merusak altar siswa
Kaijou yang sangat berharga itu. Rin pasti akan mengobrak-abrik tempat itu.
Sebagai bonus, dia akan mengubah tempat itu jadi sarang bunga.
“Hah...”,
aku menghela nafas sambil menyirami tanaman.
“Helaan
nafasmu panjang juga ya..”
Aku
menoleh ketika suara yang kukenal mendatangiku. Yuta.
“Kau..?
Kenapa bisa jalan-jalan?”, aku bertanya penasaran.
“Kau
mau jawaban A atau B?”, Yuta memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Kalau
A?”
“Aku
akan jawab secara detil sambil kuperagakan ilustrasinya..”
“B?”
“Akan
kujawab biasa secara singkat..”
“Hah,
kau ini orang yang ribet.. Jawab saja dengan normal.. Ckckck..”, aku
menggeleng-gelengkan kepala mencoba maklum.
“Jadi
pilih A atau B?”, tanya Yuta lagi.
“Tentu
saja A!”
Yuta
menyunggingkan senyum. Ia lalu mundur beberapa langkah ke belakang dan mulai
bergaya.
“Aku
terbagun dari tidur siangku, aku menyadari kalau kau tak ada di sampingku.. Aku
juga menyadari ternyata buku yang menutupi wajah tidurku itu terbalik! Tapi
bukan itu masalahnya...”, Yuta menatapku tajam.
Aku
balik menatapnya dengan serius. Tak sabar apa kelanjutan drama yang ia lalui
tadi.
“Aku
sadar kalau tasku tertinggal di ruang klub!!”
“Lalu
apa yang terjadi? Jelaskan padaku!”, aku sudah sangat penasaran.
“Kemudian
ketika Shirogane sensei menulis di papan tulis, aku merangkak ke bawah meja..
Aku terus merangkak hingga aku sampai di pintu yang ada di belakang kelas..
Dengan pelan aku mencoba untuk menggeser pintu itu.. Benar-benar pelan tak
ingin membangunkan naga yang tidur di gua..”
Aku
ikut deg-degan mendengar penjelasan ceritanya. Yuta mengilustrasikan semua itu
dengan sangat baik. Gerakannya mudah dipahami.
“Dan
akhirnya aku bisa keluar..”, ia mengakhiri cerita dengan tangan masuk ke saku
lagi.
“Hebat..
Luar biasa! Kau sangat beruntung..”, pujiku.
“Bukan
apa-apa..”
“Sekarang
kau mau kemana?”, tanyaku sambil menyiram tanaman-tanaman ini.
“Aku
mau ambil tas di ruang klub.. Kau mau ikut?”
“Inginnya
begitu... Tapi aku harus menyirami tanaman ini dulu..”
Yuta
berdecak pelan. Ia meraih selang air yang ada di tanganku. Dengan cepat dan
bringas ia semprotkan aliran air itu ke tanaman yang ada disini. Model
bibi-bibi enerjik yang jualan daging di pasar begitu lah.
“Nah,
sudah.. Ayo ikut aku saja..”, ajaknya setelah meletakkan selang air kembali ke
tempatnya.
“Kau
pasti takut kan jalan sendirian?”, tebakku.
“Maksudmu?”,
ia terdengar sedikit tak terima.
“Kau
takut akan ada yang mengikutimu dari belakang.. Kau bisa merasakannya.. Kau
bahkan bisa melihatnya dari kaca jendela.. Tapi kau tak bisa melihat sosoknya
secara nyata..”, aku terus mendekatkan wajahku ke wajahnya sambil memasang
tatapan horor.
“H-hentikan,
bodoh! A-aku tidak takut dengan hal begituan!”, elak Yuta mengusap tengkuknya
yang sempat merinding.
Aku
tersenyum tipis. Kami berjalan santai menuju ke gedung klub. Ruang klub band
Yuta ada di lantai dua ruang kedua, sedang ruang klub dance ada di lantai tiga
ruang kedua.
“Kenapa
kau bersembunyi begitu?”, aku menanyai Yuta yang sembunyi di belokan koridor.
Tatapannya
tampak cemas. Ia bahkan terus mendorongku untuk tidak terlalu condong ke depan.
Apa yang ia lihat? Apa ada wanita bugil menunggu di depan ruang klubnya? Atau
ada hantu pakai lingerie tipis? Aku penasaran.
“Ada
apa sih?”, tanyaku lagi.
“Itu..
Disana itu..! Ada itu!”, jawab Yuta agak panik.
“Ada
siapa? Dimana? Katakan dengan jelas, baka Yuta..”, ujarku datar.
“Ada
wanita yang sudah menolakku mentah-mentah!”, bisik Yuta geregetan.
“Hah?
Wanita yang menolakmu yang mana? Ada banyak, Yuta..”, aku sedikit memiringkan
kepalaku heran.
“Yang
itu..”, ia malah merengek.
Hah,
daripada menunggu anak kecil menangis lebih baik aku lihat sendiri. Perlahan
aku dapat melihat sosok wanita cantik dengan satu mataku. Tetap harus sembunyi
supaya Yuta tidak heboh. Heeee, wanita itu lumayan juga. Lingkar dadanya 80,
lingkar pinggang 50, tingginya 162, beratnya 43. Pemeriksaan selesai.
“Bukankah
dia wanita yang lumayan? Kenapa kau takut menemuinya?”, tanyaku santai pada
Yuta yang sudah menundukkan kepala.
“Darimana
dia tahu aku sekolah disini? Oh pasti dia dengar nama Kaijou disebut sewaktu
aku lomba! Lalu dia mau apa? Apa dia mau menamparku karena sudah menyatakan
cinta dengan dandanan gothic? Aaaaaa, Taeyong tasukete!”. Yuta merengek minta
bantuanku.
Memangnya
apa yang bisa kulakukan? Aku menyatukan alis mengerutkan kening. Apa aku harus
bawa sapu dan mengusir wanita itu darisana? Atau aku harus melemparinya dengan
sepatu?
“Aku
bisa apa?”, tanyaku.
“Kau
bisa-“
“Kau
sajalah.. Aku tak mampu..”, selaku sebelum Yuta menyuruhku yang aneh-aneh.
“Aku
kan belum selesai ngomong!”
“Yuta..
Kau ini kan laki-laki populer.. Masa dengan wanita begitu kau takut sih? Pasang
tampang kerenmu itu, lalu berjalan dengan keren untuk menemuinya.. Jangan tatap
dia dengan mata berbinar.. Tatap dengan mata tajam seperti karakter pria yang
ada di komik.. Paham?”
“Sepertinya
aku mengerti.. Baiklah, akan kucoba!”
Mudah
sekali menyemangati Yuta. Ya dia memang gampangan sih. Aku mengamati Yuta dari
tempat persembunyian kami. Anak itu benar-benar melakukan apa yang kusuruh. Dia
berjalan keren dengan wajah songong seperti karakter pria populer yang ada di
komik. Tiba-tiba aku ingin memukulnya dengan speaker.
“Ah,
akhirnya ketemu!”, aku dapat mendengar wanita itu menyapa Yuta dengan lega.
“Kau
mencariku?”, tanya Yuta dengan ekspresi tak berubah dan suara rendah.
“Ee
(ya), aku sudah menunggumu.. Karena aku hanya tahu kalau kau adalah anggota
band dari Kaijou, makanya aku menunggu disini..”, jelas wanita itu terus
memasang senyum di wajahnya.
“Ada
perlu apa?”, Yuta berusaha terdengar cuek.
“Aku
mau minta maaf padamu..”
“Minta
maaf?”, oh Yuta tolong kendalikan nadamu. Sekarang kau terdengar tertarik
dengan wanita itu.
“Aku
sudah menolakmu tanpa memikirkan perasaanmu.. Aku sungguh bodoh kemarin..”,
jelas wanita itu menyesal.
Yuta
terdiam disitu. Apa dia tertegun? Atau dia terharu? Aku tak tahu. Aku hanya
bisa melihat punggungnya darisini.
“Aku
datang kemari juga dengan harapan kau masih menyimpan pernyataan cinta itu
untukku.. Apakah, kau masih menerimaku jika aku bilang iya?”
Oh,
shit. Wanita itu menembak Yuta! Yuta kuatkan dirimu! Jangan terlampau batas
senang!! Atur nafas dan perasaanmu, Yuta!
Tiba-tiba
suasana jadi hening. Yuta masih diam bertatap mata dengan wanita itu. Aku mulai
tertarik dan kembali deg-degan melihat serial drama musim ini. Apa yang akan terjadi
pada mereka? Kenapa Yuta diam begitu? Aku harus menunggu berapa lama dengan
posisi seperti ini?
Samar-samar
aku mendengar suara beberapa wanita terkekeh menaiki anak tangga. Oh shit shit
shit. Kalau mereka melihatku dalam posisi ini, mereka pasti akan salah sangka
dan menatapku dengan tatapan menuduh. Aku harus biasa saja. Hm.
“Iya,
adik kelas yang tergabung dalam klub band itu sangat menggemaskan.. Banyak yang
suka lho..”, ujar salah satu dari perempuan itu.
“Kalau
tidak salah nama panggungnya Jae kan?”, perempuan yang lain menjawab.
“Benar..
Kalau menurut Haku-chan bagaimana?”
“Eh?
Aku? Emm.. Ya, dia punya wajah yang manis..”, jawab perempuan dengan kacamata
yang sedang memeluk buku dan rambut yang ia kepang satu.
Oh
tidak. Bukankah itu Hayashi Hakuro dari kelas 2-A? Dia kan kenalannya Rin! Bisa
gawat kalau dia sampai tahu aku ada disini saat jam pelajaran! Dia bisa
melaporkannya ke Rin! Ah, tolong aku Yuta! Kenapa kau masih diam saja disana
sih?!
Tanpa
kusadari, aku mengubah pose normalku menjadi pose yang sedikit membuat orang
curiga. Ya, aku berdiri menatap tembok. Aku seperti sedang dihukum oleh guru.
Mungkin mereka juga berpikir aku ini hantu yang diam menatap tembok. Tapi
untungnya, mereka melewatiku begitu saja. Hah, selamat. Leganya tidak ada yang
tahu.
“Bukankah
tadi itu Lee Taeyong dari kelas 3-B? Apa yang dia lakukan disini?”, aku
melebarkan mata ternyata mereka tahu!
“Mungkin
dia sedang membolos lagi?”, hei hei hei! Aku sedang dihukum, bukan membolos ya,
kouhai (junior)!
“Lho?
Itu kan....”
Oh!
Mereka menyadari Yuta dan wanita itu! Aku kembali mengintip apa yang terjadi di
lokasi itu. Hm? Kenapa.... wanita itu menangis?
$$$$$
Yuta
menatap wanita yang secara tidak langsung memintanya untuk menembaknya lagi.
Awalnya ia senang wanita yang ia sukai secara kilat datang ke sekolah spesial
untuk menemuinya. Tapi..
“Eh?
Aku? Ya, dia punya wajah yang manis..”
Sekarang
moodnya menurun drastis. Yuta jadi kesal sendiri dengan wanita yang ada di
depannya. Wajahnya sekarang murni ekspresi yang menunjukkan perasaannya.
“Apa
kau mau?”, wanita itu bertanya pada Yuta dengan kalem.
“Tidak..”,
jawab Yuta pendek kemudian langsung masuk ke ruang klub.
Wanita
itu tertohok. Ia terpaku pada tempatnya berdiri. Yuta pergi begitu saja
meninggalkannya. Tentu siswi ini menangis kan?
“Hei,
gadis itu menangis disana..”, salah seorang dari anggota klub merangkai bunga
berbisik.
“Sudah
biarkan saja..”, jawab anggota lain.
“Lho?
Haku-chan mau kemana?”
Hayashi
Hakuro, menghampiri wanita itu. Ia memegang pundaknya dengan wajah cemas.
“Ada
apa? Kenapa menangis?”, tanya Hakuro hati-hati.
Wanita
itu terus menangis sampai tak bisa menjawab. Ia begitu sedih dan sakit hati.
Ia, wanita cantik incaran banyak pria, ditolak begitu saja oleh seorang vokalis
anggota band Kaijou. Ini belum pernah terjadi dalam hidupnya.
“Hei,
jangan menangis..”, Hakuro berusaha menenangkan.
Saking
sedihnya, wanita itu sampai memeluk Hakuro erat. Hakuro kaget disana. Tapi ia
tahu dan membiarkan wanita ini menangis sejenak. Hakuro menepuk punggung siswi
itu sambil menenangkannya.
“Sudah,
jangan menangis.. Nanti matamu bengkak..”, kata Hakuro.
Akhirnya
wanita itu berhenti menangis. Hakuro tersenyum kearahnya dengan memberikan
sebuah sapu tangan.
“Terimakasih..”,
ujar wanita itu dengan suara serak.
Barusaja
wanita itu hendak menyeka air matanya dengan sapu tangan dari Hakuro, pintu
klub band terbuka keras.
‘Brak!!’
Sontak
semua menoleh kearah asal suara hantaman itu. Ada Yuta sudah berdiri dengan
wajah tak terima disana.
“Nakamoto-san?”
“Itu
harusnya sapu tangan untukku!! Berikan!!”, Yuta merebut sapu tangan milik
Hakuro dari tangan siswi sekolah internasional tersebut.
“Eh?”,
Hakuro memiringkan kepala heran seheran-herannya menatap Yuta.
“Ugh!
Jangan tatap aku seperti itu, nona dada be-“
‘Buak!’
Tak
perlu mendengar kelanjutan kalimat Yuta, Hakuro langsung meninju Yuta. Tanpa
komentar apa-apa ia kemudian menutup pintu ruang klub band.
“Nah,
kalau sudah tidak ada perlu di Kaijou, kembalilah ke sekolahmu..”, kata Hakuro
ramah ke wanita yang bingung dengan situasi tadi.
“H-hai..”
$$$$$
Taeyong
mehana tawanya. Perutnya terasa sangat sakit disitu. Apa yang barusan terjadi
disana? Drama macam apa itu? Ya ampun ini tontonan yang sangat menarik!
“Taeyong-senpai..”,
panggil Rin menepuk pundak Taeyong.
Seketika
semua otot Taeyong menegang. Saat ini suara Rin adalah hal terhoror yang ada di
dunia ini. Ia tak berani menoleh. Pasti Rin akan menerkamnya kalau dia
membalikkan badan.
“Apa
yang kau lakukan disini, hm?”, tanya Rin.
Taeyong
masih mematung. Membatu lebih tepatnya. Ia berharap bisa menghilang dan pindah
ke kamar mandi wanita seketika itu juga. Tapi apa daya ini bukan cerita sihir.
“Kenapa
kau diam saja? Taeyong-senpai..”, nada Rin semakin terdengar menyeramkan.
“Oh,
Rin! Hai..”, sapa Taeyong membalik badan memasang senyum ceria.
Rin
menatap Taeyong dengan tatapan hentikan-senyuman-itu-kau-terlihat-aneh.
“Jangan
berikan ‘hai’ kepadaku! Apa yang kau lakukan disini, hah? Kau bolos lagi!?”
“Tidak..
Aku dihukum..”, jawab Taeyong kembali normal.
“Dihukum?
Lalu kenapa malah disini? Kalau sudah selesai tugas hukumannya, segera melapor
dan kembali ke kelas!”
“Aku
masih menikmati waktu hukumanku..”, kata Taeyong santai.
“Apa?
Hah..”, Rin menghela nafas menyabarkan dirinya sendiri.
“Hei,
Rin.. Coba lihat disana.. Ada tontonan menarik..”, Taeyong menunjuk ke arah
drama perang.
“Itu
kan Haku dan Nakamoto-senpai.. Apa yang mereka lakukan?”
“Lihat
saja.. Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba Yuta bertindak begitu..”
“Ha?”,
Rin yang tidak mengikuti dari episode satu hanya bisa menaikkan satu alisnya
bingung.
Disana,
ya di depan ruang klub band ada Yuta dan Hakuro sedang adu tatap. Yuta menatap
dengan tajam sedang Hakuro menatap Yuta tanpa ekspresi apapun.
“Kenapa
kau mengambil sapu tanganku?”, tanya Hakuro ingin tahu secara datar.
“Kenapa
tidak boleh?!”, balas Yuta mengerutkan kening.
“Aku
kan tidak bilang kalau tidak boleh..”
“Jadi
boleh?”
“Tidak..
Ayo kembalikan..”, Hakuro menyodorkan tangan kosongnya dengan ekspresi wajah
masih datar.
“Aku
mau ini! Lagipula kau kan bisa membuatnya lagi..” Yuta memeluk sapu tangan itu.
“Heee..
Kau kan tidak suka bunga..”
“Siapa
bilang tidak suka? Aku suka kok..”
“Hontou
desuka?”, Hakuro meyakinkan diri dengan mengajukan pertanyaan ‘benarkah’ ke
Yuta.
“I-iya..”,
jawab Yuta ragu.
Daritadi
Hakuro terus berdialog dengan datar. Ia tak menunjukkan ekspresi sama sekali.
Kacamatanya itu lho. Yuta jadi tidak bisa melihat mata Hakuro karena terhalang
kacamata yang membiaskan cahaya itu. Huh.
“Kalau
begitu kau boleh simpan..”, ujar perempuan itu.
“Eh?
Benar tak apa?”
“Ya..
Seperti yang kau katakan, aku bisa membuatnya lagi..”
“T-terimakasih..”,
jawab Yuta kikuk.
“Lain
kali kalau kau juga mau sapu tangan, katakan saja padaku.. Akan kubuatkan
untukmu.. Tapi jangan merebut milik orang lain, kasihan wanita tadi..”, kata
Hakuro akhirnya dengan seulas senyum.
Mata
Yuta sedikit melebar dari ukuran aslinya. Seorang Hayashi Hakuro barusaja
tersenyum kearahnya dengan begitu manis. Ia barusaja menyaksikan fenomena
mengejutkan yang mungkin tidak bisa dialami oleh semua pria. Dia istimewa! Dia
istimewa di mata Hakuro!
“Nakamoto-san?
Hah, dia kembali membeku.. Ya sudah, aku kembali ke ruang klub dulu.. Sampai
jumpa..”, Hakuro pergi meninggalkan koridor dan masuk ke ruang klubnya.
Taeyong
menggandeng Rin untuk menghampiri Yuta yang masih terdiam. Hari ini Yuta banyak
diam ya.
“Hei,
kau kenapa? Tiba-tiba diam begitu..”, ucap Taeyong.
“Nakamoto-senpai,
apa yang sebenarnya terjadi?”, tanya Rin melipat tangan.
“Dia
tersenyum kearahku lho..”, jawab Yuta perlahan tersenyum.. er, mesum.
“Ih!
Jangan senyum begitu kearahku! Menakutkan..”, Taeyong mengibas-ngibaskan
tangannya takut.
“Tadi
dia senyum dan bersedia membuatkan sapu tangan untukku kalau aku minta..
Hehehe..”, Yuta menempelkan sapu tangan itu ke pipinya.
Mata
Rin menangkap sesuatu dari sapu tangan yang di’sayang’ Yuta.
“Itu..
Hei, Nakamoto-senpai..”, panggil Rin.
“Hm?”,
jawab Yuta masih melayang.
“Itu
sapu tangan untuk bibi kantin..”, kata Rin.
Apa?
Dengan cepat Yuta mengecek sapu tangannya. Dan benar saja! Disana tercantum
nama Yaotome Hikaru, nama paman, em, bibi kantin.
“Ya
ampun ini kan milik paman kantin yang maunya dipanggil bibi! Tidak mau!!”,
teriak Yuta.
“Hahahaha,
cuma namanya saja.. Haku belum memberikan sapu tangan itu ke bibi kantin
Yaotome kok..”, kata Rin.
“Oh
ya? Tapi tetap saja ini kan punya waria itu..”, Yuta kembali pundung.
“Lagipula,
aku baru tahu kalau kau suka Hayashi-san..”, celetuk Taeyong.
“Eh?
Kau suka Haku? Sejak kapan? Bagaimana bisa? Dia kan jauh dari tipe idealmu!”,
Rin langsung semangat menginterogasi.
“Aku..
Tidak tahu kok.. Aku masih bingung dengan perasaan ini..”, Yuta memainkan kedua
jari telunjuknya malu.
“Senpai,
menjijikan.. Kau terdengar seperti perempuan yang terbelenggu pada masa pubernya..”,
komentar Rin langsung menusuk hati Yuta.
“Dia
kan memang sedang puber yang berkelanjutan.. Dia bahkan belum bisa pasang
kondom dengan benar..”, ujar Taeyong.
“Oh
ya? Ya ampun itu sangat gawat..”, Rin menanggapi serius.
“Terakhir
kali dia mau pasang kondom, wajahnya malah terjepret kondom itu..”, Taeyong
mendongeng.
“Uh,
pasti sakit tuh..”
“Hei
kalian mulai membicarakan yang tidak-tidak!! Jangan ngelantur!”, protes Yuta
dengan wajah merah.
$$$$$
Sepulang
sekolah, Rin tidak pulang. Ia harus mengurus dokumen yang sudah menumpuk lagi
di meja ketua OSIS. Banyak yang harus diperiksa mengingat Kaijou adalah SMA
elit dengan berbagai macam prestasi. Tak hanya itu, dokumen laporan kegiatan
hari ini pun juga sudah siap untuk diperiksa.
“Selanjutnya
dari kelas polisi..”, batin Rin mengambil map dari kelas polisi.
Rin
melihat laporan itu. Tatapannya berhenti ketika ada nama Lee Taeyong di laporan
kepala kelas polisi. Dengan tangan yang bergerak cepat, Rin langsung mencari
formulir yang diisi Taeyong. Benar saja, formulir itu ada! Berarti Taeyong
benar-benar dihukum tadi. Hah, anak itu..
“Hm?
Nama, Lee Taeyong, kelas 3-B, dihukum saat pelajaran Shirogane sensei.. Alasan
hukuman karena aku terus memikirkan Takamura Rin, jenis hukuman maunya sih
Bondage tapi malah disuruh menyiram tanaman dan membuang sampah..”, baca Rin
lalu terkekeh geli.
“Pernyataan
pengakuan salah.. Ya ini tidak murni salahku.. Ada unsur salahnya Rin juga,
kenapa dia mengganggu pikiranku? Aku kan jadi tidak tenang.. Jawabanku jadi
ngelantur kan? Hahaha, dasar Taeyong-senpai.. Selanjutnya perjanjian tidak akan
mengulangi kesalahan..”
Mata
Rin membaca dengan seksama tulisan Taeyong. Ia kemudian tersenyum manis dengan
lembut disitu. Tanpa komentar Rin lalu melanjutkan aktivitasnya.
‘Aku tidak mau berjanji pada hal yang tidak
bisa kutepati.. Mana mungkin aku sanggup tidak memikirkan Takamura Rin barang
hanya sebentar? Tapi aku akan berjanji untuk mencontek lebih kreatif supaya
bisa menjawab pertanyaan pak Shirogane’ – Lee Taeyong
Selesai
mengurus internal Kaijou, Rin beralih ke eksternal. Ya, hal-hal yang membahas
perlombaan dan lainnya itu. Dokumennya paling banyak dari yang lain. Hah, pasti
akan memakan waktu yang cukup lama.
Klub
basket berhasil menjadi peserta dalam pertandingan musim panas ini. Klub renang
juga sudah lengkap sarana prasarana untuk mengikuti pertandingan. Klub sepak
bola dapat lolos dari babak penyisihan. Klub olahraga dapat lancar berjalan
dengan aman. Klub akademik juga berhasil dalam lomba-lomba mereka. Bagus.
Dalam
waktu dekat ini.. event yang cukup besar adalah pertandingan ini. Terada Takuya
selaku manager klub band sedang berusaha mendaftarkan Kaijou untuk mengikuti
event bergengsi ini. Hm, bagaimanapun juga Kaijou harus mengikuti event ini.
‘Drrttt’
Rin
melihat ponselnya yang bergetar menampilkan nama Terada-senpai. Tak menunggu
lama, Rin menjawab panggilan tersebut.
“Hah?
Apa? Apakah harus begitu? Tapi Kaijou hanya punya satu tim perwakilan.. Tidak
bisakah kita mendaftarkan satu tim pada tiap pertandingan? Hah, ya sudah tak
apa.. Nanti kita usahakan untuk memenuhi persyaratannya..”
Rin
meletakkan ponselnya lagi setelah menghela nafas. Cukup gawat juga sih. Salah
satu persyaratan untuk ikut event bergengsi itu adalah tiap sekolah diwakili
oleh dua tim. Bukannya tidak ada orang yang tersedia di Kaijou, tapi kalau dia
mengikutkan sembarang tim yang tidak pernah disiapkan untuk ikut lomba, nama
Kaijou bisa jelek nanti.
“Hm..
Apa aku harus melibatkannya dalam hal ini?”, pikir Rin tertuju pada seseorang.
Ia
mengkalkulasi dan melihat profil-profil siswa-siswi Kaijou yang berpotensi
untuk menjadi tim baru.
“Aku
harus mencobanya.. Harus kukatakan padanya.. Lagipula ini juga sebuah
kesempatan untuk membantu Nakamoto-senpai kan?”
Beberapa
jam yang lalu, Rin telah menyetujui akan membantu Yuta untuk menperjelas
perasaannya ke Hakuro yang masih buram tak jelas.
“Kalau
Haku ikut lomba ini, pasti Nakamoto-senpai akan tercengang.. Hahaha.. Eh, tapi
sulit juga sih.. Penampilan Haku kan seperti nenek-nenek begitu.. Hah,
baiklah.. Langkah awal adalah memoles Haku!”
$$$$$
“Kau
tegang sekali sih..?”, tanya Taeyong.
“Aku
sedang berusaha, Taeyong!”, jawab Yuta.
Saat
ini dilaporkan mereka sedang mencoba eksperimen, tidak, latihan memasang kondom
di apartemen sederhana milik Taeyong yang jaraknya hanya sepuluh menit dari
sekolah. Biaya murah, air mengalir lancar, listrik tersedia 24 jam, keamanan
terjamin, dapat sarapan, dan pemilik kos-kosan ini baik.
Kembali
ke aktivitas kedua pemuda yang masih labil akan masa depan mereka, Yuta dan
Taeyong dengan giat belajar memasang kondom dengan rapi dan cantik pada sebuah
timun.
“Hah,
susah sekali sih!”, Yuta mengeluh pasrah dengan kondom sobek di tangannya.
“Kau
tidak boleh menyerah sekarang.. Coba kau perhatikan aku..”
Taeyong
meregangkan otot-otot jarinya. Ia membuka bungkus kondom dengan begitu seksi.
Dengan hati-hati, Taeyong memasangkan kondom tersebut ke timun yang menurut
diapa-apakan oleh Taeyong setiap saat. Hebat sekali! Taeyong dapat memasang
kondom itu secara tepat. Benar-benar rapi dan terlihat cantik.
“Nih,
mudah kan?”, tanya Taeyong.
“Kenapa
kau bisa memasang dengan begitu mudah sedangkan aku tidak?”, tanya Yuta.
“Kau
hanya kurang latihan saja.. Sekarang, cobalah lagi..”, Taeyong menarik melepas
kondom itu dari timun hingga menimbulkan suara jepretan.
“Waktu
memasang kondom, apa yang kau pikirkan?”, tanya Yuta menyiapkan sebuah kondom
lagi.
“Pertanyaan
bagus.. Waktu memasang kondom, kau bayangkan wanita yang benar-benar menjadi
tipemu.. Wanita dengan posisi siap mengharapkan tusukan mantap darimu..”, jelas
Taeyong penuh keseriusan.
“B-begitu
ya?”, Yuta serius dengan ragu.
“Ya..
Dia sudah tidak sabar merasakan dirimu memenuhi tubuhnya..”, Taeyong masih
menghipnotis Yuta.
Di
pikiran Yuta, ia sedang membayangkan wanita seksi. Bibirnya merah mengundang,
tatapan matanya sayu penuh ketidak sabaran, posenya ‘meminta’. Oh my God. Ini
sangat luar biasa. Yuta bisa merasakan sensasi yang mengaliri tubuhnya dengan
begitu cepat. Dia bisa melakukan ini. Dia bisa memasang kondom dengan situasi
seperti ini!
‘Jeprettt!!!’
Perlahan
tapi pasti, dahi Yuta memerah. Pria itu mematung dalam posisinya. Ia hanya bisa
menatap timun dengan pilu. Ia gagal, lagi, memasang kondom dengan benar. Ia
terkena jepretan karet, lagi.
Taeyong
menepuk-nepuk bahu Yuta memahami perasaan temannya itu. Pasti sakit sekali.
Beberapa
menit kemudian mereka memutuskan untuk mengisi perut dengan camilan sambil
membicarakan hal-hal random yang tidak penting.
“Kau
bayangkan siapa tadi waktu memasang kondom?”, tanya Taeyong.
“Nicki
Minaj..”, jawab Yuta melahap keripik kentangnya dengan santai.
“Ck,
ketinggianlah bayanganmu itu..”, respon Taeyong melempar satu popcorn ke arah
Yuta.
“Namanya
juga bayangan boleh siapa sajalah.. Bisa Megan Fox, Kim Kadarshian, Hayashi
Hakuro-“
‘Singggg’
sekejap hening.
“Siapa?”,
tanya Taeyong tak ingin salah dengar.
“E-
Me-megan Fox..”, jawab Yuta.
“Setelah
itu?”
“Kim
Kadarshian...”
“Setelah
itu..?”
“Nicki
Minaj..”
“Kau
bilang Hayashi Hakuro, Yuta! Kau mengatakannya!”, Taeyong bangkit berdiri
dengan semangat entah kenapa.
“Nama
itu meluncur begitu saja dari mulutku, hwaaa!!!!”, Yuta memegangi kepalanya
heboh.
“Itu
artinya kau memikirkannya! Kau memikirkan hal itu!”
“Hal
itu? Hal apa?”
“Ah,
kau pura-pura polos.. Tentu saja seks..”, jawab Taeyong kembali duduk meraih
snacknya.
“Eh?
Seks? Dengan Hayashi Hakuro? Seks dengannya?!”, Yuta tak percaya dengan
kesimpulan Taeyong yang ngawur menurut Yuta.
“Iyalah..
Buktinya kau mengucapkan namanya tanpa kau sadari.. Jauh di dalam lubuk hatimu
yang terdalam, kau ingin melakukan pengalaman itu dengan Hayashi-san, Yuta..
Akui saja..”
“B-benarkah?”
Taeyong
mengangguk-angguk bangga. Tak ada yang tahu kenapa Taeyong bangga disana. Yuta
merasa bimbang disitu. Kenapa juga dia memikirkan Hakuro? Oh ayolah, gadis itu
bahkan tidak termasuk dalam tipe yang bisa dibayangkan untuk bahan masturbasi!
“Aku
heran.. Kenapa tiba-tiba aku mengatakan nama Hayashi Hakuro begitu saja ya?”,
tanya Yuta.
“Yah,
kau suka mungkin..”, jawab Taeyong.
“Kau
tahu kan dia seperti apa?”, Yuta menatap Taeyong.
“Dia
kutu buku?”, tanya Taeyong.
“Tidak..!
Bukan itu!”, jawab Yuta.
“Kacamatanya
besar?”
“Bukan..!”
“Stylenya
jadul?”
“Bukan..!”
“Eee..
Lalu dia apa di matamu?”
“Dia
dadanya besar..”, jawab Yuta mantap penuh keseriusan.
Taeyong
melirik ke arah lain untuk berpikir. Respon apa yang akan ia berikan untuk
Yuta? Apakah ikut senang? Apakah biasa saja?
“Kau
suka Hayashi-san karena dadanya besar?”, tanya Taeyong.
“Tidak..
Tapi aku memang suka dada besar.. Memang kau tidak suka?”
“Suka
sih.. Tapi aku lebih suka punya Rin..”
“Hah!
Kalian sudah pernah melakukan hubungan seks?!”
“Sembarangan..
Aku belum pernah menyentuhnya..”, jawab Taeyong.
“Eh?
Belum pernah?”
“Belum
lah.. Aku.. Tidak berani mengajaknya..”, Taeyong membuang muka malu.
“Ohoooooooo,
ternyata bukan hanya aku yang begini.. Kau juga penakut.. Hahaha..”, Yuta
merasa puas disitu.
“Aku
bukan penakut! Aku bisa kok mengajaknya bercinta kapanpun aku mau! Tapi, aku
tidak bisa.. Itu saja..”
“Ya,
aku tahu perasaan itu.. Terkadang aku juga bisa bicara panjang dengan Hayashi..
Tapi kalau sedang tidak sadar, aku akan berubah jadi patung..”
“Karena
melihat dia tersenyum?”
“Tidak,
karena dadanya..”
Taeyong
melempar snack utuh ke muka Yuta tanpa ekspresi. Pikiran anak ini terlalu liar
dan harus dilatih untuk dikontrol.
“Kalau
kau terus membicarakan dada Hayashi-san, bagaimana kau bisa memenangkan
hatinya?”
“Aku
tidak berniat untuk memacarinya kok..”
“Hah,
kau ini.. Semua orang yang melihatmu pasti langsung tahu kalau kau itu suka
dengan Hayashi-san.. Cobalah untuk tidak menatap dadanya.. Bicarakan hal
romantis yang disukai wanita.. Jangan bicarakan dadanya yang besar itu!”
“Mudah
bagimu mengatakan itu, Taeyong..”, Yuta memajukan mulutnya mencibir perkataan
Taeyong.
“Membuat
wanita terpesona itu mudah, Yuta.. Buktinya kau tidak melakukan apa-apa saja
bisa populer di kalangan siswi.. Benarkan?”
“Ya
itu karena aku keren.. Lalu kau sendiri bagaimana? Aku heran kenapa
Takamura-san mau berpacaran denganmu.. Hmm..”
“Ceritanya
panjang.. Banyak konflik.. Tidak akan selesai kalau hanya diceritakan sehari..”
“Kalian
ini memang pasangan yang terlalu banyak rahasia.. Ckckck..”, ujar Yuta
merebahkan diri.
“Justru
karena rahasia itulah yang mempererat hubunganku dengan Rin..”, jawab Taeyong
menyesap minuman sodanya.
$$$$$
Sebuah
rumah besar berdiri kokoh dengan cantiknya disana. Sudah dapat dipastikan
pemiliknya adalah keluarga yang kaya. Di depan pintu ada plakat kecil yang
bertuliskan ‘Takamura’, nama keluarga penghuni rumah.
“Oh,
Rin.. Kau sudah pulang..”
“Ya,
akhirnya aku pulang.. Banyak sekali tugas OSIS yang harus diselesaikan disana..
Kau sudah makan, Haku?”
“Belum..
Aku menunggumu..”
“Benarkah?
Terimakasih.. Ayo kita makan.. Setelah itu ada hal penting yang harus kukatakan
padamu..”
“Hal
penting?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar