Sabtu, 09 Januari 2016

TaoLen's One Month Moment

TLPC, TaoLen Production Cars, adalah satu brand mobil yang sedang melejit namanya. Selain mendesain dan meluncurkan mobil inovasi baru, mereka juga memodifikasi mobil-mobil lama. Tidak hanya desain body mobil saja, TLPC juga memperhatikan mesin mobilnya. Banyak perusahaan yang bergerak pada bidang otomotif yang ingin menjadi kolega atau sekadar menjadi sponsor TLPC, salah satunya adalah Byun Tire and Wheel yang dikepalai oleh sahabat mereka, Byun Baekhyun.

Saat ini Tao dan Valen sedang meengerjakan proyek mobil rancangan TLPC yang terbaru. Deadline waktunya sebentar lagi. Jadi mereka berdua tidak mempunyai banyak waktu untuk bersantai. Akan tetapi, kedatangan sahabat karib Tao, yaitu Suga, ternyata sedikit mengubah kesibukan mereka.

“Undangan jamuan makan dari Author..”, kata Valen membaca undangan yang ia ambil dari tumpukan majalah dan koran pagi.
“Author? Tumben.. Apa dia ingin bermain-main dengan kita lagi?”, tanya Tao menikmati sarapan paginya.
“Hmmm.. Perasaanku tidak enak.. Nanti coba kuhubungi teman-teman yang lain.. Kalau mereka datang, aku juga akan datang..”, Valen kemudian menyimpan undangan itu ke laci khusus undangan.
“Kalau teman-temanmu tidak datang, kau harus datang.. Kau terlalu ikut-ikut..”
“Biarin.. Daripada sendirian disana?”
“Kan ada aku..”
“Oh ya? Kau yakin bisa hadir? Kau kan pria super sibuk.. Bahkan waktu untuk istrimu saja terbatas..”
“Kau kesal? Kau merindukanku ya?”, goda Tao dengan wajah nakal.
“Iya pasti lah.. Mana ada istri yang tidak merindukan sosok suaminya? Tch..”, Valen berdecak lalu melahap sarapannya.

“Iya iya.. Aku janji, kalau proyek ini sudah selesai.. Aku akan hiatus untuk menemanimu..”
“Benarkah? Wah! Janji ya..!”
“Tentu saja.. Laki-laki tidak pernah mengingkari janjinya sendiri..”
Hao ba!”

Sarapan terasa begitu menyegarkan apabila melihat TaoLen. Awh, beda banget sama sarapan para jombs ea :”) (sorry, jombs nggak sarapan)

“Eh, Len.. Malam ini kau ada acara?”, tanya Tao.
“Tidak.. Aku sudah menyelesaikan desain mesin kemarin malam.. Ada apa?”
“Bagus.. Malam ini Suga mengajak kita bertemu.. Dia ingin menraktir kita makan malam.. Katanya sih, permintaan maaf karena kemarin dia tidak serius saat balapan denganmu..”, jelas Tao.
“Emmmmm..,” Valen menimbang-nimbang.
“Ikut ya ya ya ya?”, Tao mendesak Valen tak sabar.
“Iya deh, aku ikut..”
“Asyik!”
“Kenapa kau yang senang? Bukankah ini acaranya Suga?”
“Ehm.. Tidak kok.. Aku biasa saja..”, ujar Tao meminum jusnya.

@@@@@

Malam hari, Valen dan Tao sedang bersiap untuk pergi ke undangan makan malam Suga. Valen selesai mandi, sedangkan Tao masih terkapar di kasur.

“Ayo, Tao.. Mandi, cepat..”, suruhnya keluar dari kamar mandi.
“Hmm.. Lima menit..”, jawab Tao.
“Ha? Tidak tidak.. Cepat mandi sekarang.. Kau tidak boleh mengecewakan sahabatmu.. Dia jauh-jauh datang kemari..”, Valen berusaha menarik tangan Tao untuk beranjak dari kasur.
“Ah.. Ah.. Ah..”, rintih Tao lemas tangannya ditarik-tarik.

“Jangan malah mendesah! Ayo mandi!”, kini Valen memukul pantat Tao pelan agar ia cepat bergerak.
“Biarkan aku mengumpulkan jiwa dulu.. Sudah lama aku tidak merasakan tidur siang..”
“Hish..”, desis Valen.

Mengumpulkan jiwa adalah salah satu kata yang akan dilontarkan Tao untuk mendapatkan kecupan hangat dari Valen. Hm, dia mau modus ternyata. Ya sudahlah, daripada telat. Valen mengecup bibir Tao kilas.

“Sudah, ayo bangun..”, ujarnya.
“Masih setengah..”, jawab Tao.

Sebuah kecupan mendarat dengan lembut di bibirnya lagi.

“Tiga perempat..”, jawab Tao.

Kali ini sisir yang mendarat di bibirnya.

“Aw!!”, rintihnya.
“Sebelum sandal yang mendarat, ayo cepat bangun..!”, Valen jadi galak :”)
“Iya, madam.. Siap, madam..”, Tao menurut langsung.

Dengan menggerutu kesal, Valen mengeringkan rambutnya di meja rias. Tao masuk ke dalam kamar mandi tanpa menyiapkan baju. Ia pun sadar belum ambil baju, ia keluar lagi.

“Kenapa tidak mandi juga?!”, bentak Valen.
“I-ini.. Mau ambil baju, sayang..”, jawab Tao panik.
“Nanti aku yang siapkan.. Mandi sana!”, kata Valen.
“Segera, madam..”, kemudian Tao berlari menuju ke kamar mandi.

Eumh emh mhh, suami-suami takut istri.

“Valen!”, panggil Tao.
“Apa?”, jawab Valen berbentuk pertanyaan. (hah?)
“Aku boleh mandi busa?”
“Nggak usah aneh-aneh, Tao! Kita bisa telat!”, balas Valen geram.
“Yah... Sudah lama aku tidak mandi busa..”
“Besok-besok kan bisa.. Kenapa harus malam ini sih? Oh ya.. Junhui sudah di hotel katanya..”
“Benarkah? Ajak makan sekalian saja.. Biar Suga tekor..”
“Kau ini jahat sekali..”
“Sudah tak apa.. Orang itu kaya.. Ajak saja.. Sekalian kenalan dengan Suga.. Biar temannya banyak..”
“Ya sudah, aku hubungi dia..”, jawab Valen mengirim pesan ke Junhui.

Valen kemudian meraih alat kecantikannya selagi rambutnya dikeringkan dengan sebuah alat otomatis. Dengan lincah dan terampil, Valen dapat menyelesaikan dandanannya dalam waktu singkat. Selesai make-up, Valen menuju ke lemari pakaian. Ia mengambilkan setelan jas untuk suaminya. Menyiapkan sepatu, kaus kaki, celana dalam, dasi, dan sebagainya. (ada barang ajaib nyempil di daftar O.O)

“Sudah... Huf.. Enaknya pakai baju apa ya?”, kini gilirannya memilih baju untuk dirinya sendiri.

Tao akhirnya selesai mandi. Ia keluar mengacak-acak rambutnya dengan handuk agar rambutnya cepat kering. Di atas kasur sudah ada baju lengkap yang siap dipakai olehnya. Tanpa banyak protes, Tao memakai setelan jasnya. Tampan sekali, uhuy. Tapi dimana Valen?

“Len.. Kau dimana?”, tanya Tao merapikan handuk-handuk berserakan.
“Di dalam lemari..”
“Kenapa lama sekali?”, Tao berjalan mendekat ke ruangan yang disebut lemari oleh mereka.

Kedua mata Tao menyaksikan bidadari yang sedang berusaha memakai bajunya. Sepertinya terlalu sulit untuk Valen meraih zipper bagian atas gaun itu. Tao tersenyum sambil berjalan mendekat. Ia mengambil alih zipper gaun Valen dan menaikkannya dengan mulus.

“Terimakasih..”, ujar Valen.
“Kau cantik sekali..”, puji Tao menatap Valen lembut.
“Kau juga tampan.. Oh! Biar kurapikan dasimu..”, kata Valen.

Tao menatap istrinya dengan tatapan... ah, sudahlah. Terlalu manis untuk dituliskan.

“Len..”
“Hm?”
Wo ai ni..”
“Aku juga, Tao..”, jawab Valen. “Sudah, ayo berangkat..”, ajaknya.

@@@@@

Sebuah restoran besar telah disiapkan untuk makan malam kelompok atas nama Suga. Tepat pada waktu yang sudah dijanjikan, para tamu undangannya sudah datang.

“Gila, ternyata kau keren juga pakai jas..”, ledek Suga ketika tos dengan Tao.
“Baru tahu? Heh, ketinggalan zaman kau..”, balas Tao.
“Eh, nyonya Tao cantik sekali malam ini.. Datang sama pengawalnya ya?”, kata Suga.
“Bukan, ini sopir saya..”, jawab Valen.
“Hahahahahahaha.. Mati kau, Tao.. Istrimu ada di pihakku!”, Suga tertawa puas.
“Valen.... Kok gitu?”, Tao merengek kesal dengan imutnya.

“Eh? Ini siapa?”, tanya Suga menujuk Junhui.
“Oh, kenalkan.. Ini temannya Valen.. Dia barusan datang dari Beijing..”, Tao memperkenalkan pria tinggi nan tampan itu.
“Namaku Wen Junhui.. Senang berkenalan denganmu..”, Junhui berjabat tangan dengan Suga.
“Aku Suga.. Kalau begitu, silakan duduk semuanya.. Kita akan mulai makan malamnya.. Sudah lapar ini..”, Suga dengan ramah mempersilakan para tamunya untuk duduk.

Mereka berbincang dan bercanda disana. Suasana begitu hidup dan menyenangkan.

“Besok, aku akan menraktirmu sepuasnya..”, kata Tao.
“Yang benar?”
“Iya lah.. Kau kan berkunjung kemari.. Sudah seharusnya aku yang mengenak-enakkan dirimu..”
“Kau punya hati mulia juga ternyata.. Boleh deh!”, Suga langsung setuju.
“Karena malam ini adalah permintaan maafmu ke Valen, ya berarti tanggung jawabmu dulu..”
“Tentu saja.. Malam ini khusus kusiapkan untuk istrimu!”
“Heee, kau ini.. Genit sekali sama istri orang..! Ck..”

Malam itu terasa begitu akrab. Suga dan Junhui, dua teman TaoLen yang sudah lama tak bertemu.

“Jadi aku dimaafkan?”, tanya Suga.
“Eemmm.. Tergantung..”, jawab Valen.
“Hah? Belum nih?”
“Kau mengajak kami makan di restoran mewah, menyewa tempat VIP, tidak lengkap kalau kau belum menampilkan sesuatu bukan?”

“Betul betul..”, sahut Tao.
“Kalian jahat sekali sih..”, Suga meratapi nasibnya. “Ya sudah, akan kumainkan sebuah lagu dengan piano itu..”, Suga menunjuk grand piano yang tersedia di ruangan tersebut.
“Benarkah? Hebat, aku penasaran..”, kata Valen.

Suga bagkit dari tempat duduknya menuju ke kursi pemain piano.

“Junhui.. Kau bisa main?”, tanya Suga.
“Tidak buruk..”, jawab Junhui.
“Nah, main sekalian sini.. Kita featuring..”, ajak Suga.
“Eh? Aku?”
“Sudah sana ikut main sekalian.. Hibur kita..”, dorong Tao.

Junhui menyusul Suga kemudian mengambil tempat duduk di sebelah pria itu. Setelah menentukan pilihan lagu, jemari mereka tanpa ragu menekan tuts tuts piano dengan begitu lincah. Benar-benar melodi yang indah. Ketika Valen sedang serius menikmati lantunan piano Suga dan Junhui, Tao menatap Valen. Perempuan itu kemudian menatap Tao balik dengan heran.

“A-ada apa?”, tanyanya takut.
“Valen.. Aku bukan suami paling hebat yang ada di dunia ini.. Aku juga bukan pendamping yang sempurna untukmu.. Belum sempat aku membahagiakanmu, aku sudah mengecewakanmu dengan kesibukan pekerjaanku.. Aku sering membuatmu sendiri dan kesepian..”

Tao berjalan ke hadapan Valen dan berlutut dengan satu kakinya.

“Tao..?”, Valen heran melihat tingkah suaminya.

Tao tersenyum kemudian merogoh saku jasnya. Sebuah kotak bludru warna deep blue. Ia meraih tangan Valen, menariknya untuk memegang kotak tersebut. Tangan Tao berada di atas tangan Valen dengan lembut.

“Mungkin ini sudah terlambat.. Tapi masihkah kau mau menerimanya?”, Tao membuka kotak yang ia bawa. “Happy 1st anniversary..”, ucapnya dengan sepasang anting cantik berkelip di kotak tersebut.
“Tao.. Ini.. Kau tidak lupa??”, tanya Valen tak percaya.
“Bagaimana aku bisa melupakan momen paling indah dalam hidupku? Meski terlambat dan sempat membuatmu menangis sedih, kau mau menerima kadoku kan?”

Valen tersenyum melihat suaminya yang semakin dewasa itu. Ia mengangguk dan membiarkan Tao memasangkan anting cantik hadiah darinya.

“Aku berjanji akan membayar setiap tetes airmata yang telah kau luncurkan dari pelupuk matamu..”, ujar Tao lalu mengecup punggung tangan Valen.
“Aku tunggu..”, jawab Valen kemudian memeluk Tao.

Awh, mereka so sweet eak :”) Saya nggak kuat ngetik ke so sweet an mereka (lu jombs sih soalnya) iya :”) syet kan..?

@@@@@

Selesai makan malam, Tao dan Valen hendak menuju ke sebuah tempat. Tidak mungkin mereka menyia-nyiakan kesempatan malam yang indah ini untuk langsung pulang ke rumah.

“Jadi makan malam permintaan maaf Suga itu hanya kedok saja?”, tanya Valen.
“Begitulah.. Aku tidak tahu harus kapan lagi.. Mumpung ada alibi, ya kumanfaatkan sekalian saja..”, jelas Tao menyetir.
“Pantas saja dia menyewa ruangan yang ada grand pianonya..”, gumam Valen. “Oh ya, besok kita ajak Suga dan Junhui jalan-jalan, bagaimana?”, tawar Valen.
“Besok... Emmm..”, Tao sedikit ragu.
“Kau ada kerjaan?”
“Iya.. Ada pertemuan untuk membahas kelanjutan pembuatan mesin mobil baru..”
“Oh, ya sudah..”, jawab Valen lalu menatap keluar jendela.

“Kau marah?”, tanya Tao.
“Tidak.. Kenapa harus marah?”
“Karena aku mengecewakanmu lagi, mungkin..?”, jawab Tao.
“Ya sedikit sih..”
“Maaf ya..”
“Hah, tak apa.. Lagipula kau bekerja keras juga demi kita berdua.. Kalau butuh bantuan, kau jangan ragu menelfonku.. Zhidao ma?”
“Iya, madam.. Makanya malam ini aku akan memaksimalkan waktu luang denganmu.. Kau belum lelah kan?”
“Tenang saja, tadi kita sempat tidur siang.. Jadi tidak terlalu lelah..”
“Bagus..”

“Memang kau mau mengajakku kemana sih?”, tanya Valen penasaran.
“Rahasia.. Aku mau memberimu kejutan kedua..”
“Kejutan kedua? Sejak kapan kau begitu mengerti wanita?”, Valen menyilakan tangan bertanya dengan curiga.
“Sejak kapan ya? Mungkin sejak mencintaimu.. Hahahaha..”
“Ck, dasar.. Siapa yang mengajarimu begitu?”
“Baekhyun..”, jawab Tao polos.

Mobil mereka berhenti pada sebuah traffic light. Jalanan sepi dan suasana malam yang dingin tak dapat mengalahkan hawa merona dari mobil tersebut.

“Ini, kau harus pakai ini dulu..”, ujar Tao memakaikan Valen tutup mata.
“Hm? Kenapa?”
“Kan kejutan.. Tidak seru kalau kau menemukan jawaban tempat yang akan kita tuju di perjalanan nanti..”
“Iya deh.. Malam ini aku milikmu..”, ujar Valen pasrah.

Tao tersenyum setelah selesai mengikatkan penutup mata pada Valen. Semakin ditatap semakin membuat wajahnya panas. Oh, kekanak-kanakan ya? Hah, sudah menikah dan memiliki Valen.. rasanya masih saja ingin memeluknya posesif. Ck.

Lampu berubah hijau, Tao mulai mengegas mobilnya untuk melaju lagi. Tinggal satu belokan, mereka akan sampai pada tempat kejutan itu. Namun....

‘Tiiiinnnnnn!!’ ‘BRAK!’

@@@@@

Sinar-sinar asing berusaha menginvasi masuk ke dalam mataku. Suara-suara nyaring berpadu dengan kesibukan dan oceh banyak orang. Badanku serasa hilang tak dapat kugerakkan. Otakku terus saja mendapat sinyal perih dari sekujur tubuhku. Pikiranku kosong sebelum pandanganku berubah gelap.

“Detak jantungnya sangat rendah! Dia kehilangan banyak darah!”, teriak seorang wanita.
“Kita butuh oksigen lagi, cepat!”, teriak seorang pria.
“Bawakan alkohol dan perlengkapan jahitnya!”

Kesibukan tiba-tiba melanda Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit di Hongkong.

“Saya sudah urus mobilnya..”, kata seorang pria berpakaian polisi.
“Baiklah kalau begitu.. Terimakasih..”, jawab Suga.
“Bagaimana dengan sopir truknya?”, tanya Junhui sebelum polisi itu pergi.
“Dia sedang menjalani pengobatan.. Setelah itu, sudah ada tim kami yang akan memintainya keterangan..”, jelas polisi setengah baya tersebut.

Suga dan Junhui sibuk mondar-mandir di depan pintu UGD. Pandangan dan ekspresi mereka menujukkan perasaan yang sedang melanda. Khawatir.

“Apa kau bawa ponsel Tao?”, tanya Junhui.
“Ya..”, jawab Suga.
“Menurutmu, apakah kita harus menghubungi keluarga mereka?”
“Ini sudah sangat larut.. Besok saja..”
“Baiklah..”
“Oh, tapi mereka sedang di Korea kan?”
“Benarkah? Aku tidak tahu..”

Tak berselang lama, pintu terbuka dan keluarlah Tao yang terbaring tak berdaya di atas kasur pasien dengan segala luka yang ada.

“Lukanya tidak terlalu parah.. Hanya ada lebam dan beberapa luka sobek.. Aku sudah menjahit dan memberinya obat bius agar ia dapat tidur dengan lelap melewati malam ini..”, jelas perawat yang membawa Tao keluar.
“Begitu.. Terimakasih banyak..”, jawab Suga.
“Lalu istrinya?”, Junhui mengalihkan pandangan perawat tersebut.
“Dokter sedang mengusahakan yang terbaik.. Tunggulah.. Saya akan mengantar tuan ini ke kamar inapnya..”

@@@@@

Kedua mata Tao meronta untuk terbuka. Ia terlihat sangat lelah dan lemah. Matanya melihat ke kanan kiri mengidentifikasi keberadaannya sekarang.

“Tao..!”, Suga langsung mendekat ketika ia melihat pergerakan dari Tao.
“S-Suga...?”
“Ini.. Kau minumlah dulu.. Tenggorokanmu pasti sangat kering..”, pria itu menuangkan air minum ke gelas Tao.
“Terimakasih..”, Tao meminum seteguk air dari gelas tersebut. “Apa yang terjadi?”, tanyanya.
“Kau kecelakaan.. Mobilmu ditabrak truk semalam..”, jelas Suga.

Tao terdiam menatap selimutnya. Sepertinya ia sedang merecall kejadian yang telah ia alami. Seketika matanya terbuka lebar dengan tarikan nafas yang dalam.

“Valen! Dia bagaimana?!”, tanyanya panik.
“Tenang.. Dia baik-baik saja.. Sedang tertidur di kamar sebelah..”, jawab Suga.
“Aku harus menemuinya!”, Tao membuka selimut dan turun dari kasur.
“Kau barusaja sadar..! Tunggulah sampai dokter memeriksa keadaanmu..”, cegah Suga.
“Aku sudah sadar dan aku baik-baik saja.. Aku harus melihat Valen!”

Tao melepas tangan Suga yang menggenggam bahunya. Suga menggigit bibir bawahnya dan mendengus membuang muka. Tao berjalan panik ke kamar sebelah dimana Valen terbaring tak sadarkan diri. Ia membuka pintu dan menemukan seorang dokter barusaja mengecek keadaan istrinya.

“Dokter.. Bagaimana keadaan istri saya?”, tanya Tao.

Dokter itu mengamati Tao. Ia kemudian mengajak Tao untuk keluar ruangan.

“Istri anda baik-baik saja.. Luka fisiknya akan segera sembuh..”
“Syukurlah..”, gumam Tao.
“Tapi..”, dokter itu menatap Tao.
“Apa ada masalah, dok?”
“Istri anda mengalami benturan keras di bagian kepala.. Saya tidak dapat memastikan efek apa yang akan timbul sebelum ia sadar..”
“M-maksud, dokter...?”, suara Tao melirih.
“Ada kemungkinan ia akan mengalami amnesia.. Tapi itu masih prediksi saja.. Benturan di otak tidak selalu berakhir pada amnesia.. Jadi, anda tidak perlu khawatir..”, dokter tersebut kemudian meninggalkan Tao yang mematung pada tempatnya.

Tao memasuki ruang inap Valen. Ia dapat melihat dengan jelas perempuan itu sedang terlelap dengan sangat tenang di atas kasurnya. Tiga langkah dan Tao berhenti. Ia tak berani berjalan lebih dekat lagi ke Valen. Dadanya tiba-tiba sakit. Ini adalah salahnya. Ia yang menyebabkan Valen terluka sampai terbaring begitu lemah disana.
Tao keluar dari kamar Valen dan kembali ke kamarnya. Ia melihat Suga yang menatapnya prihatin.

“Tao..”, panggil Suga.

Tapi Tao tak menjawab. Ia duduk di sofa dengan tatapan kosong. Kenapa ia sudah sadar dan Valen belum? Kenapa tidak dia saja yang berada disana? Ini tidak adil. Dia yang menyetir, dia yang punya ide untuk pergi, tapi kenapa dia yang baik-baik saja?

“Seperti apa...”, gumam Tao. “Seperti apa kecelakaan kami..?”, tanyanya.
“Saat kau akan berbelok ke kiri di traffic light, sebuah truk menembus lampu merah dengan kecepatan tinggi dari arah kanan.. Dan menabrak tepat di kursi kanan bagian depan mobilmu..”, jelas Suga pelan-pelan.
“Tempat Valen duduk..”, lirih Tao.

“Dengar.. Kau tidak bisa terlihat kacau begini.. Ketika Valen sadar nanti, dia akan melihatmu.. Kau harus memberinya semangat dan menyambutnya dengan riang..”, nasihat Suga tak tega melihat Tao.
“Kau benar..”, jawab Tao tersenyum simpul dengan lemas.

Pada saat itu..

“Tuan Tao..!”, panggil seorang perawat membuka pintu ruang inapnya.

Suga dan Tao sama-sama menoleh menatap perawat itu.

“Istri anda sudah sadar!”

@@@@@

“Tenang-tenang.. Jangan kerumuni dia.. Emosinya masih belum stabil.. Dia masih kaget..”, suara dokter terdengar samar-samar mengiringi kelopak mata Valen yang perlahan terbuka.

Valen membuka mata dan melihat ke sekitar. Ruangan dan sekitarnya itu terasa asing. Dimana?

“Kau ada di rumah sakit.. Kau mengalami sebuah kecelakaan mobil..”, jelas dokter yang mengerti akan ekspresi kebingungan Valen. “Aku akan memberimu obat penurun rasa sakit setelah ini..”, lanjut dokter itu kemudian mengotak-atik lemari obat.

“Hai..”, sapa Tao.

Valen tak merespon. Ia hanya menatap Tao.

“Bagaimana perasaanmu?”
“Tidak begitu baik..”, jawab Valen ragu masih terlihat takut melihat ke sekelilingnya.
“Tenang saja.. Setelah minum obat dan istirahat lagi, kau akan pulih..”, ujar Tao mendapat tatapan cepat dari Valen.

“Kau... Siapa?”

Pertanyaan itu membuat dokter, perawat, Suga, dan Tao terdiam terpaku. Harus jawab apa?

“Dia adalah suamimu..”, jawab dokter itu mengambil alih.
“Suami..? Tapi aku.. Kenapa sudah.. Apa yang terjadi pada sekolahku?”
“Kau sudah bekerja, Valen.. Dan kau sudah menikah dengan pria ini..”

Valen terlihat tak percaya disitu. Ia melihat tangan kanannya. Ada cincin melingkar menghiasi jari manisnya.

“Aku suamimu.. Kau tidak ingat?”, tanya Tao.
“Tidak.. Aku tidak mengenalmu..”

Tao menatap dokter yang berdiri di sebelahnya. 

@@@@@

‘Brak!’, suara meja yang digebrak.

“Apa yang terjadi?! Kenapa dia lupa ingatan?!”, bentak Tao.
“Tidak ada yang tahu kepastian efek yang ditimbulkan dari benturan di kepala terutama otak, tuan Tao!”, jawab dokter itu berdiri dari kursinya menghadap Tao.

Tao terdiam di ruangan dokter. Kenapa berakhir begini?

“Apa yang harus kulakukan?”, gumamnya memegang dahinya yang pening.
“Menjalani rutinitas seperti biasa dapat menjadi salah satu cara agar ingatannya kembali...”
“Apa aku akan mengajak perempuan dengan ingatan SMP begitu saja kembali ke rumah? Dia bahkan tidak mengenalku! Apalagi percaya padaku!”
“Anda harus mencoba dan berusaha.. Pasien amnesia akan melalui tahap bingung dan penyesuaian terhadap lingkungan yang ia lupakan.. Sebagai suaminya, anda yang harus kokoh mendampinginya agar pasien tidak merasa asing..”

Tao diam. Ia tidak tahu. Bagaimana ia akan hidup dan mendampingi Valenyang menganggapnya sebagai orang asing?

“Saya akan memberinya obat penenang untuk membantunya istirahat supaya proses penyembuhan lukanya cepat..”, jelas dokter tersebut sebelum meninggalkan ruangan.

@@@@@

Tao mengamati setiap sudut tubuh Valen. Ia dibawah pengaruh obat penenang katanya. Ia sedang tidur. Karena shock tadi, sepertinya kondisi Valen menurun.

“Valen..”, Tao meraih tangan lemah istrinya. Ia menatap wajah tenang Valen, surganya. Ia menggenggam tangan hangat itu dengan erat. Mengecupnya penuh harap. Tidak ada satu kata pun yang terlontar lagi. Tao hanya diam menatap Valen, berkecamuk dengan pikirannya sendiri, hingga ia tertidur.

Suga yang kembali membawa makanan melihat Tao yang tertidur menemani, tak melepas tangan Valen. Ia menghela nafas. Suga kemudian meletakkan makanan yang ia beli untuk Tao di atas meja. Ia lalu keluar.

“Halo.. Junhui.. Kau sudah di bandara? Baiklah, kutunggu..”, pria itu menyimpan ponselnya kembali.

@@@@@

Beberapa jam kemudian, Valen terbangun. Masih sama. Ia masih di tempat dan dalam keadaan yang sama. Ini bukan mimpi. Ia benar-benar sudah besar dan dewasa. Dan ia sudah menikah!
Valen melihat cincin di jari manisnya. Ia tak percaya kalau ini bukan mimpi. Sudah berapa tahun ia lewati? Tidak. Berapa tahun yang ia lupakan? Lalu orang ini.. Eh? Bukankah pria ini adalah pria yang mengaku sebagai suaminya tadi? Oh, Tuhan.. Kenapa semua begitu mengejutkannya?

“V-Valen! Kau sudah bangun..!”, Tao mengusap wajahnya cepat.
“Kau.. Benar-benar suamiku?”, tanya Valen.
“Tidak perlu memikirkan hal itu.. Pikirkan untuk sembuh dulu saja.. Ini minumlah..”, Tao menyodorkan segelas air putih.
“Emmm.. Apa yang kau lakukan di kamar ini?”, tanya Valen lagi.
“Aku... Tidur.. Kurasa..”, jawab Tao ragu.
“Ya.. Kurasa begitu..”, balas Valen tersenyum kecil. “Eee.. Aku belum tahu namamu.. Siapa namamu?”, tanya Valen canggung.
“Tao.. Namaku Tao..”, jawab Tao menelan kepahitan di hatinya. “Apa kau membutuhkan sesuatu?”, tanya Tao.
“Eemm.. Aku sedikit lapar..”

Tao tersenyum. Ia berdiri dan menoleh. Ada kantung plastik berisi makanan. Ah, pasti Suga. Orang itu benar-benar mengerti dirinya. Sahabat yang luar biasa.

“Ini.. Makanlah.. Ini roti selai favoritmu..”, kata Tao.
“Pisang?”
“Ya.. Kenapa?”
“Sejak kapan aku suka rasa pisang?”, Valen penasaran.

“K-kurasa sejak.. SMA..”, jawab Tao ragu.
“Benarkah? Seingatku, aku paling suka selai cokelat..”
“Oh ya? Sejak berpacaran denganku, kau paling suka makan makanan rasa pisang..”
“Oh! Dimana aku bersekolah?”
“Kyurin..”
“Apa? Kyurin?”
“I-iya.. Kenapa? Bukankah dari SD kau di Kyurin?”
“Hah, tidak mungkin.. Kenapa aku tidak kembali ke Beijing setelah lulus SMP?”
“Apa? Beijing? Setahuku kau tidak pernah ada niat untuk kesana.. Kau masuk ke SMA Kyurin dan menjadi salah satu super students disana..”
“Stefanny, Arum, Ella, Morella, dan Vanessa?”
“Mereka juga di Kyurin.. Kalian Kyurin’s super woman..”

“Kenapa kita semua di Kyurin?”, Valen berpikir disana.

“Kau.. Baik-baik saja?”, tanya Tao.
“Ya.. Aku tak apa..”

Tak lama kemudian, sebuah suara menyambut ruang inap dan telinga dua orang di dalamnya.

“Mama..!”, panggil Valen melebarkan mata melihat ibunya di ambang pintu.
“Mama..?”, Tao juga tak percaya ibunya akan datang bersama mertuanya.

“Oh, Valen!!”, ibunya langsung berhambur memeluk putrinya. “Maaf mama baru datang..”
“Tak apa, ma.. Yang penting mama datang.. Aku sangat takut..”
“Junhui yang menghubungi mama dan menjemput mama di bandara tadi..”
“Junhui? Dia dimana sekarang?”

Tao menatap memperhatikan Valen. Ia lega karena wajahnya kembali senang. Seperti anak kecil yang merasa aman ketika ada ibunya.

“Dia diluar.. Junhui..!”, panggil ibunya.

“Lukamu tidak serius kan?”, tanya ibu Tao lembut.
“Ya.. Dokter sudah menangani lukaku dengan baik.. Terimakasih sudah datang, ma..”
“Kau ini bicara apa? Tentu saja ibu akan mendatangimu dimana pun kau berada kalau kau terluka!”
“Mama.. Kau masih saja memperlakukanku seperti anak SD..”
“Sampai kapan pun dimata mama kau itu tetap anak kecil, Tao..”, sahut ibunya tersenyum.

“Dokter mengatakan kalau Valen menjalani rutinitasnya seperti biasa, akan cepat untuknya pulih dari amnesia..”, jelas Suga setelah berbincang-bincang dengan dokter yang barusaja mengecek kestabilan kondisi Valen.
“Kalau kondisi Valen stabil seperti ini, besok ia sudah boleh pulang.. Rawat jalan..”, tambah Junhui yang juga bertemu dengan dokter tadi.
“Kabar bagus..!”, ibu Valen tersenyum lebar ke putrinya. “Kau harus mengingat semua yang kau lupakan.. Pelan-pelan tak apa, asalkan tidak ada yang tertinggal..”, lanjut ibunya.
“Apa aku akan pulang bersama tuan, ee, maksudku.. Tao?”, tanya Valen.
“Tentu saja.. Dia adalah suamimu dan kalian sudah menikah..”

“Ma.. Boleh tidak Junhui menemaniku?”

@@@@@

Demi kestabilan kondisi emosi dan menjaga Valen agar tidak terlalu kaget, Junhui ikut menemani. Mereka pulang ke rumah TaoLen yang sangat besar. Valen hanya melihat kemegahan rumah itu tanpa berkata apa-apa.

“Nah, ini adalah rumah kita..”, kata Tao.
“Barang-barangnya sudah diturunkan dari bagasi, pak!”, lapor Suga.
“Bagus.. Kubayar dengan makan malam di rumahku..”, jawab Tao.
“Hah, murah sekali bayaranmu..”, cibir Suga.

Ketika Tao dan Suga bercanda, Valen tak bergeming. Oke, dia cukup merasa, er, awkward berada pada situasi itu. Kenapa orang-orang ini berkelakukan begitu? Valen menggandeng tangan Junhui berlindung.

“Kau takut?”, tanya Junhui.
“Iya.. Ini semua sangat asing.. Ayo kita pulang ke rumah saja..”, ajak Valen sedikit merengek.
“Ini adalah rumahmu..”

Setelah beberapa menit, akhirnya mereka dapat masuk ke dalam rumah. Tao menjelaskan bagian-bagian rumah yang mereka lewati secara sekilas.

“Eh, aku harus pergi.. Ada pertemuan dengan...”, belum sempat Tao menyelesaikan kalimatnya, Suga menyela.
“Ssttt!! Kau di rumah saja.. Barusan keluar dari rumah sakit juga.. Lagipula kau harus menemani Valen dan mendampinginya agar ingatannya kembali.. Kau lupa yang dikatakan dokter? Ru-ti-ni-tas..!”, omel Suga.
“Hah, aku tahu.. Tapi...”
“Biar aku yang datang menggantikanmu.. Cepat beri aku arahan singkat dalam pertemuan itu..”, tegas Suga.
“Suga.. Kau baik sekali.. Aku baru sadar sekarang..”
“Kucium kau.. :”)..”

Suga akhirnya meninggalkan kediaman TaoLen. Dia benar-benar bisa diandalkan dari dulu. Hm, baiklah. Sekarang Tao mengajak Valen untuk masuk ke kamar mereka. Tempat dimana kedua orang itu bergumul bersama melampiaskan segala rasa selama ini.

“Ini adalah kamar kita..”, ujar Tao membuka pintu.

Valen mlihat kamar itu dengan cermat. Setiap sudut dan ornamen yang ada mengisi ruangan tersebut pun juga diamati. Seperti foto besar yang terpajang di tembok sisi kasur berada. Foto pernikahan mereka. Terlihat bahagia sekali wajah perempuan itu.

“Kau.. Kenapa..?”, tanya Junhui melihat ekspresi Valen tak enak.
“Aku benar-benar sudah menikah.. Aku tak mengingatnya..”, jawab Valen merasa bersalah.
“Tak apa.. Pelan-pelan saja..”, ujar Tao. “Oh ya.. Aku ke garasi dulu ya.. Ada yang tertinggal di mobil..”, pamit Tao.

Tentu saja melihat Valen begitu tidak nyaman berada di kamarnya sendiri membuat hati Tao terluka. Ia butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri sebelum bertemu dengan Valen lagi. Garasi hanya sebuah alasan belaka.

Valen berjalan kearah pintu yang merupakan almari TaoLen. Ia masuk ke dalam sana melihat jajaran baju, tas, sepatu, dan aksesoris memenuhi setiap rak dengan rapi. Matanya melihat sebuah rak album. Ia tertarik kesana. Ada judul di setiap album foto tersebut. Masa kecil Valen, sekolah, kuliah, pre-wedding, pernikahan, dan masih banyak lagi.
Perempuan itu mengerutkan dahinya dan mengambil beberapa album foto miliknya. Ia membukanya dan melihatnya satu-satu.

“Kau sedang apa?”, tanya Junhui.
“Aku ingat foto ini.. Ini diambil ketika aku dan teman-teman berlibur ke Hawaii.. Mengunjungi sepupu Morella..”, jelas Valen sibuk mengamati foto-foto yang ia lihat.

Junhui memperhatikan dari belakang.

“Aku juga ingat ini.. Ini setelah pengumuman kelulusan SMP.. Setelah itu.......”

Tak berselang lama Tao kembali ke kamar. Ia menemukan Valen dan Junhui ada di dalam almari sedang mengacak album.

“Apa yang kalian lakukan?”, tanya Tao.
“Kami sedang mengelompokkan foto-foto ini.. Foto ini jadi media Valen untuk mengukur sampai waktu mana ingatannya berada..”, jelas Junhui.
“Aku mengingat semua kejadian sampai kelulusan SMP.. Setelah pengumuman kelulusan, aku tidak ingat lagi..”, jelas Valen.
“Wah.. Bagus..”, jawab Tao mendekat.

“Kau terdengar lemas.. Apakah ini hal baru untukku? Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya?”, tanya Valen.
“Setahuku tidak.. Kau paling tidak suka hal-hal seribet ini.. Tapi aku senang kau berusaha untuk mengingat.. Akan kubantu..”, kata Tao.
“Hmm.. Kenapa aku begitu berubah ya? Seingatku, aku adalah orang yang suka hal-hal mendetail..”, ujar Valen menata foto-foto sesuai masanya.

Tao hanya tersenyum tak menjawab. Ia sibuk melepas foto dari halaman album.

“Oh ya, tuan maksudku Tao.. Apakah aku menyimpan sebuah kotak bewarna cokelat tua di rumah ini?”, Valen menatap Tao.
“Kau punya banyak sekali simpanan kotak warna cokelat.. Bagaimana spesifiknya?”
“Ada ukiran hati di tutup kotaknya.. Kuncinya kecil dan kotaknya dari kayu..”
“Sepertinya tidak ada.. Kau tidak begitu suka menggunakan kotak kayu.. Terlalu menghabiskan tempat dan berat..”, jawab Tao.
“Benarkah?”, Valen memanyunkan bibirnya sedikit.
“Memang, apa isinya? Apa yang kau cari?”
“Ah, tidak.. Bukan apa-apa..”

@@@@@

Tao mengajak Junhui dan Valen untuk makan di ruang makan. Memang sudah saatnya untuk mengisi perut. Sudah siang.

“Biar aku yang masak..”, Valen mencalonkan diri.
“Biar kubantu..”, kata Tao.

Mereka berdua memasak bersama. Sesekali, tidak, selalu. Valen selalu bertanya dimana letak barang ini dan itu. Padahal dapur adalah area Valen akhir-akhir ini. Tunggu, Tao tidak bisa berpikir seperti itu. Dia sedang amnesia, tentu dia harus membantunya.

“Disini bumbu-bumbu.. Ini tempat sayur, daging, produk olahan seperti keju dan lainnya..”, jelas Tao.

Tak butuh waktu lama, Valen dan Tao selesai memasak. Bukan masakan mewah, masakan rumah khas Valen biasanya.

“Bagaimana? Enak?”, tanya Valen antusias.
“Ya! Aku sangat suka..”, jawab Junhui terlihat begitu menyukai masakan yang dihidangkan.
“Tao..? Enak?”, tanya Valen hati-hati.
“Manis..”, komentar Tao setelah mencoba sesuap.
“Kau tidak suka?”
“Tidak.. Tentu aku suka.. Selamat makan..”, kata Tao.

Salah. Tao tidak suka. Bukan, mungkin ia tidak biasa. Valen tidak pernah sekali pun memasak masakan dengan rasa manis. Mereka berdua suka rasa asin. Itu adalah kekhasan hidangan TaoLen, asin. Tao melirik Valen dan Junhui yang terlihat sangat akrab. Suasana di antara mereka begitu hangat dan menyenangkan seperti suasananya saat bersama Valen.

“Setelah ini, aku akan kembali ke hotel sebentar.. Ada janjian dengan teman ayahku..”, kata Junhui.
“Perlu kuantar?”, tawar Tao.
“Tidak usah tak apa.. Kau temani saja Valen.. Cobalah untuk menunjukkan kebiasaannya..”, ujar Junhui.

Valen terlihat tak rela Junhui akan meninggalkannya di rumah itu. Ia butuh Junhui disana untuk menemaninya agar tak sendiri di tempat asing. Sekarang Junhui malah pergi dan membiarkannya berduaan dengan pria bernama Tao ini.

@@@@@

“Maukah kau menunjukkan tempat kerjaku?”, pinta Valen.
“Tentu saja.. Ayo..”, jawab Tao semangat.

Tao memandu Valen untuk mengikutinya ke sebuah rumah kecil di belakang rumah. Itu adalah tempat Valen menghabiskan waktunya untuk bekerja dan berkreasi. Ia membuka pintu lalu Valen masuk memutar bola matanya melihat rumah tersebut. Ia tidak berkomentar apa-apa. Hanya mengamati setiap sudut ruangan dan benda-benda yang ada.

“Apa.. Pekerjaanku?”, tanyanya mengambil secarik kertas.
“Kau mendesain mobil..”
“Apa?”, terdengar nada tak percaya dari suara Valen.
“Kau adalah kepala designer mobil di TLPC, TaoLen Production Car.. Semua mobil yang telah kita luncurkan adalah mobil hasil desainmu berkarya disini..”, jelas Tao.
Designer mobil? Aku tidak mengambil sekolah Hukum?”
“Tidak..”, jawab Tao heran.
“Astaga.. Apa yang terjadi padaku..? Kenapa aku begitu berbeda?”, gumamnya menyatukan alis.

“Kau tak suka?”

“Eh?”
“Apa kau tidak senang dengan pekerjaanmu?”, tanya Tao.
“Aku tidak pernah membayangkan pekerjaan ini sebelumnya.. Cita-citaku itu menjadi pengacara..”, kata Valen.
“Oh..”, Tao mengangguk.
“Kenapa aku tak bosan dengan keheningan ini ketika membuat desain mobil?”, tanya Valen melihat katalog mobil hasil karyanya.
“Mana bisa bosan? Kau bahkan tak bisa diganggu sama sekali kalau sudah masuk kemari.. Dan musik adalah temanmu..”

“Musik?”

“Kau biasa mendengarkan musik dari speaker itu..”, Tao menunjuk sebuah speaker di dekat jendela.
“Apa yang kudengarkan biasanya?”
“Biar kumainkan untukmu..”, ujar Tao lalu menekan tombol play di remote.

Sebuah melodi RnB langsung memenuhi ruangan tersebut dengan begitu keras. Valen memejamkan matanya erat tak tahan. Ia meminta Tao untuk mematikannya.

“Kenapa? Kau begitu suka musik ini..”, ujar Tao.
“Aku sama sekali tidak suka! Matikanlah!”, bentak Valen.

Tao mematikan musik. Ia membuang muka dan menghela nafas. Tercipta keheningan disitu.

“Aku kenapa seperti itu? Kenapa begitu berbeda? Ini sungguh membuatku gila..”, ujar Valen sedih.

Tiba-tiba Tao membanting remote yang ada di tangannya. Valen langsung menatap Tao. Mata pria itu memerah membendung airmata.

“Ini juga mengejutkan untukku.. Ini juga membuatku gila!! Dan ini juga berat untukku..”, kata Tao lalu keluar dari rumah tersebut meninggalkan Valen.

@@@@@

Tao menaiki salah satu mobilnya yang terparkir di garasi luas rumahnya. Ia termenung dan sedikit merasa bodoh. Kenapa ia harus marah tadi? Valen punya ingatan anak SMP, ia pasti sangat terkejut dan sedih melihat pria asing membentaknya. Hah..

Pintu mobil dibuka dan Valen masuk duduk di sebelah Tao yang masih menundukkan kepalanya di setir mobil. Mereka berdua diam merangkai kata untuk diucapkan.

“Aku akan kembali ke Beijing bersama ibuku..”, ucap Valen tak menatap Tao.

Mendengar itu, Tao langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Valen cepat tak percaya.

“Tapi.. Disinilah rumahmu.. Inilah rutinitasmu..”, Tao mencoba mencegah.
“Ini bukan aku, Tao.. Ada yang salah pada diriku..! Semua ini.. Tidak seperti diriku.. Bukan ini yang kuinginkan..!”, kata Valen.

Tao diam menatap Valen. Daritadi Valen memang terlihat tak percaya dengan semua rutinitasnya. Apa ia sangat berbeda dulu dan sekarang? Tapi pulang ke Beijing dan meninggalkannya sendirian disini itu.....

“Biar kutemani..”, ujar Tao.
“Tidak.. Aku akan pulang sendiri..”
“Aku akan membantumu sampai ingatanmu pulih..”
“Akan kulakukan sendiri! Aku akan menemukan caranya..”
“Bagaimana caranya? Kau butuh bantuanku, orang yang selalu bersamamu selama ini..”

“Aku lelah, Tao!”

Sekali lagi, Tao terdiam ketika bentakan Valen memukul hatinya.

“Aku lelah selalu membuatmu kecewa.. Semua yang kutanyakan, semua yang kuucapkan, semua kebiasaanku dulu.. Semuanya tidak sesuai dengan diriku ketika bersamamu..! Aku lelah melihat wajah sedih dan kecewamu.. Aku tak ingin membuatmu kecewa dan lebih bersedih lagi karenaku..”, jelas Valen menahan airmatanya menetes.
“Aku sudah berjanji padamu di altar.. Meski kau membuatku sedih, tapi aku tetap akan menerimamu.. Dalam bentuk dan keadaan apapun..”
“Kumohon Tao.. Beri aku waktu.. Ini sangat membuatku bingung..”

@@@@@

Beijing memang rumah dan kampung halaman Valen. Tapi itu dulu. Sepertinya dia benar-benar tidak mengingat apapun tentang dirinya setelah SMP. Karena itu, Tao memperbolehkan Valen untuk kembali ke rumah di Beijing. Lagipula, ibunya juga sedang mengambil barang di rumah lama itu.

“Mama..”, panggil Valen memasuki rumah.
“Valen..?”, ibunya membalik badan dan tak percaya.
“Mama..!”, Valen berlari memeluk ibunya.
“Astaga, nak! Bagaimana kamu bisa sampai disini??”
“Aku tidak kerasan disana.. Aku takut..”
“Tapi itu rumahmu.. Lagipula bukankah ada Junhui?”
“Junhui sedang menemui kolega ayahnya.. Aku tidak mau bersama dengan pria itu, ma.. Aku sama sekali tidak mengenalnya..!”

Ibunya terdiam menatap wajah sedih Valen. Ia membelai kepala putrinya dengan lembut kemudian tersenyum.

“Ya sudah.. Selama beberapa hari ini, kau boleh tinggal disini bersama mama.. Tapi setelah itu, kau harus pulang.. Kau harus mengingat Tao, nak..”, bujuk ibunya.
“Aku tidak yakin kalau dia benar-benar pria yang sangat kucintai.. Bagaimana bisa aku tidak merasakan getaran apapun saat bersamanya..? Kalau aku mencintainya, bukankah akan mudah untukku mengingatnya?”
“Pikiranmu kekanak-kanakan sekali, Len.. Tidak seperti itu cara cinta bekerja..”
“Uh, sudahlah..!”

Valen memeluk ibunya senang diizinkan tinggal disana. Paling tidak, dia bisa selamat dari keasingan rumah Tao di Hongkong. Rumah itu sungguh membuatnya ketakutan dan ia sama sekali tidak betah disana. Hah.

“Kau mau kemana, Len?”, tanya ibunya ketika sedang mengemas barang.
“Aku mau ke kamar.. Kalau tidak salah ingat, kotak itu kuletakkan di bawah kasur..”, jawab Valen langsung naik ke kamarnya.
“Kotak..??”, ibunya sedikit berpikir. “Apa dia membicarakan kotak surat itu?”, gumamnya.

Di dalam kamar, Valen mencari di setiap inci ruangan tersebut. Sebuah kotak yang sangat ia rindukan. Ia ingin menatap dan memeluk kotak itu erat. Tapi tak ada. Dimana kotaknya?

“Aneh.. Kenapa hilang begitu saja?”, batin Valen.

“Valen..”, ibunya memanggil dari luar kamar.
“Ya, ma?”
“Kotak yang kau cari itu... Apakah kotak suratmu?”
“Iya.. Apa mama melihatnya? Seingatku kuletakkan di kamarku, tapi sekarang tidak ada..”

Ibunya mengajak Valen untuk duduk. Ia menghela nafas.

“Kenapa kau begitu ingin melihat kotak itu sekarang?”
“Disana tersimpan semua surat dari Junhui, ma.. Aku ingin membacanya lagi..”, jawab Valen tersipu.

‘Deg!’, ketakutan ibunya terjadi. Ketakutan kalau Valen punya ingatan hanya sampai SMP, berarti dia masih punya rasa cinta pada Junhui.

“Kenapa Junhui?”
“Mama ini.. Aku kan sudah pernah cerita kalau aku menyukai Junhui..”
“Tapi itu dulu, sayang..”
“Ma.. Apa mama tidak tahu? Junhui berjanji akan menikahiku kalau ia kembali dari Berlin, studinya! Sekarang ia sudah kembali dan..”
“Junhui adalah masa lalumu, Len.. Cobalah untuk mengingatnya!”
“Ih, mama..! Masa lalu apa? Aku dan Junhui sudah berjanji satu sama lain..”
“Kau sudah menikahi Tao.. Dia adalah pria pilihanmu..!”
“Lalu bagaimana dengan Junhui? Kenapa ia membiarkanku menikahi Tao?!”
“Valen..”
“Pokoknya aku butuh kotak itu sekarang! Aku akan menunjukkannya ke Tao dan Junhui!”

“Kau sudah membakar dan membuang kotak itu!”, tegas ibunya.

Mata Valen melebar. Apa yang dikatakan ibunya barusan? Bakar? Buang? Kenapa?

“Apa maksud mama?”, Valen bersuara parau.
“Kau melupakan Junhui.. Itu adalah pilihanmu! Kau sudah membakar dan membuang kotak itu! Kau membuka hati dan lembar baru untuk kehidupan cintamu..”
“K-kenapa?”
“Junhui tak pernah kembali, Len.. Kau kesal dan sangat lelah menantinya.. Tapi beruntung ada Tao yang-“
“Aku tidak mungkin lelah menantinya, ma!!”, bentak Valen bangkit berdiri lalu berlari keluar ruangan.
“Valen! Valen!!”

Ketika Valen berlari, tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit. Tubuhnya jadi lemas tak bertenaga, nafasnya berat dan pandangannya gelap.

“Valen!!!!”

@@@@@

“Terimakasih, Tao.. Kau sudah jauh-jauh datang kemari..”, ujar ibunya Valen.
“Tak apa, ma.. Apa yang dikatakan dokter?”, tanya Tao.

Ibunya menangis sebelum menjawab. Tao menanti dan menenangkan.

“Valen.. Dia masih dalam masa pemulihan.. Dia tidak bisa menerima informasi yang terlalu mengejutkan dan berlebihan untuknya.. Ini semua salahku, Tao.. Aku terlalu memaksanya untuk membuka mata dan mengingat kehidupannya..”, sesal ibunya.
“Sudah, ma.. Bukan salah, mama.. Mama hanya berusaha demi kebaikannya.. Aku berterimakasih karena mama membantuku untuk mendampingi Valen..”
“Maafkan mama ya, Tao.. Mama tidak tahu harus bagaimana membuat anak itu kembali ingat..”
“Tak apa, ma.. Aku percaya.. Dia pasti bisa..”

Valen mencuri dengar dari dalam kamarnya. Ia sempat pingsan tadi, sekarang kepalanya masih agak pening. Pembicaraan ibu dan Tao begitu intens. Apa dia benar-benar memilih kehidupan ini? Dia benar-benar memilih untuk melupakan Junhui dan memilih Tao sebagai pendampingnya? Benarkah begitu? Astaga. Kenapa berakhir seperti ini? Apa yang dia pikirkan sampai dia melepas Junhui? Ia harus cari tahu.

“Ma..”, panggil Valen pelan keluar dari kamarnya.
“Valen..! Kau jangan berjalan dulu.. Kau-“
“Aku akan ikut Tao pulang..”, sela Valen.

Baik Tao maupun ibunya hanya bisa diam mematung. Senang sih, tapi juga kaget. Kenapa tiba-tiba?

@@@@@

“Kau tidur di kamar ini saja..”, kata Tao.
“Eee.. Denganmu?”, tanya Valen memastikan.

Tao menatap Valen yang terlihat masih ragu dengannya. Ia kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Aku akan tidur di kamar tamu..”

Valen mengangguk. Setelah Tao mengambil beberapa pakaian tidur dan perlengkapannya, ia keluar kamar. Valen menghela nafas mengamati kamar itu. Luas dan nyaman. Tapi bukan seleranya.

“Hoammm... Ngantuk..”

Hari memang sudah malam. Valen memutuskan untuk tidur di atas kasur kamar itu. Bagaimana pun juga, itu adalah kamarnya. Seharusnya ia bisa nyaman kan?

Keesokan harinya, pagi hari Valen sudah bangun dan sedang memilih baju. Kenapa bajunya begini semua? Ia tidak begitu suka dengan model baju seperti ini. Kenapa dibeli? Cih.

“Hoammmmm...”, sebuah suara orang menguap memasuki kamar dan menuju almari.

Valen menoleh dan melihat Tao ada di ambang pintu almari, berdiri disana melihatnya hanya memakai pakaian dalam.

“Kyaaaa!!!!!!!!”, teriak Valen menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tergantung di rak.
“Eh?! Maaf!”, Tao tersadar.
“Kenapa tidak ketuk pintu dulu?!!”
“Kebiasaan.. Maaf maaf..”, jawab Tao lalu keluar menutup pintu.

Oke, itu memalukan. Argh!! Pria itu melihatnya hanya memakai pakaian dalam saja! Aduhhhh, memalukan sekali!

“Bagaimana Valen?”, tanya Suga menyodorkan sekaleng minuman dingin.
“Belum ada kemajuan..”, jawab Tao lemas.
“Sabar, Tao.. Aku bisa bantu apa?”
“Kau sudah terlalu banyak membantuku, Suga.. Aku jadi sungkan denganmu..”
Lho? Kenapa sungkan?”
“Kau datang mengunjungiku.. Tapi aku malah merepotkanmu..”
“Kau ini mengoceh apa sih? Dengar ya, kita ini adik kakak dari TK.. Masalahmu itu juga masalahku.. Uangmu juga uangku..”, canda Suga.
“Huuu, dasar kau!”, Tao tersenyum simpul.

“Hah.. Lalu pria bernama Junhui itu?”, tanya Suga lagi.
“Dia adalah pria yang paling Valen percayai di lingkungannya saat ini.. Aku meminta bantuannya untuk menemani Valen agar ia tidak ketakutan..”
“Kau ini bagaimana sih?! Seharusnya kau yang temani Valen! Kenapa malah dilemparkan ke mulut harimau lain??”
“Mau bagaimana lagi? Valen masih belum bisa menerimaku.. Daripada ia keluar rumah karena tidak kerasan? Makanya aku meminta Junhui untuk menemani Valen siang sampai sore.. Ketika aku bekerja... Lagipula Valen tidak bisa menerima paksaan yang mengejutkan otaknya.. Jadi ya aku bisa apa?”
“Dasar kau.. Ckckckckck..”

“Sudahlah.. Sebentar lagi TLPC akan meluncurkan mobil baru.. Kau mau datang pada hari peluncurannya kan?”
“Kau gila? Tentu saja aku datang.. Aku juga mau masuk TV..”
“Dasar bodoh.. Hahahahaha..”
“Kau yang bodoh lah..”

@@@@@

Valen dan Junhui sedang jalan-jalan. Saat ini mereka ada di sebuah cafe di Mall. Biasa, berbincang dan bercanda. Hah, kalau sama Junhui itu memang asyik. Ia bisa apa adanya. Nah, mungkin ini saat yang bagus untuk menanyai Junhui. Tapi, Valen tak bisa menanyakan hal itu ke Junhui begitu saja. Akan sangat canggung nanti.

“Junhui.. Kenapa kau masih jomblo?”, tanya Valen.
“Mungkin aku terlalu fokus pada kerjaan dan tidak ada waktu untuk memikirkan wanita..”
“Keburu tua..”
“Hahaha.. Nanti saja lah.. Mudah mencari wanita kalau kau punya uang..”
“Maksudmu wanita itu gampangan?”
Lho? Salah?”
“Ya salah lah! Enak saja.. Aku bisa cari uang sendiri, tahu?!”
“Hahahaha, iya iya.. Kau kan memang hebat soalnya..”

Valen melirik Junhui yang meminum kopinya. Hmm.. Daripada menelisik alasan kenapa ia tidak kembali untuknya, bukankah lebih baik mengambil peluang ini untuk kembali bersama Junhui? Lagipula sepertinya pria bernama Tao itu tidak terlalu tertarik padanya.

Dan begitulah. Waktu yang dihabiskan Valen bersama Junhui lebih banyak dari Tao. Dan tentu saja, usaha yang Tao lakukan sia-sia. Ia tidak akan mengingat Tao kalau pria itu tidak bertindak. Namun,...

“Valen!!!”, teriak Junhui melihat Valen pingsan.
“Cepat bawa ke kamar!”, ujar Tao.

Mereka berdua membawa Valen dan membaringkannya di kasur kamarnya.

“Apa yang terjadi?”, tanya Tao barusaja pulang dari kantor TLPC.
“Aku.. Aku membentaknya..”
“Membentak?”
“Dia tidak tertarik melakukan rutinitas yang ada di jadwal.. Dia tidak mau mengingat kehidupannya.. Ia berteriak kalau ia tidak suka dengan kehidupannya ini.. Ia tidak mau mengingat apa yang dia lupakan maupun dirimu..”

Tao melebarkan mata mendengar penjelasan Junhui.

“Karena itu aku memarahinya.. Maafkan aku..”
“Tidak.. Bukan salahmu.. Kau pasti lelah, terimakasih atas bantuanmu, Junhui..”


Ia akan melukai Valen kalau ia bertindak. Lalu, apa yang harus ia lakukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar