Sebuah
rumah di Pulau Jeju berdiri dengan kokoh. Rumah di dekat pantai yang bernuansa
putih dengan segala macam fasilitasnya menjadikan rumah itu sebagai rumah
impian. Ketenangan, kehangatan, dan !@$#%^%*(*&^%-
“TAEYONG!!!!!!!”,
sebuah teriakan menggema begitu keras di seluruh rumah.
“Hahahahaha..
Ahahahahahahaha!!!”, sebuah tawa meledak ikut meramaikan suasana.
“Jangan
tertawa seenaknya kamu!!! Kembali kemari cepat!!!!”
“Tangkap
dulu kalau bisa! Wekkk, nenek tua!!”
“Dasar,
bocah kurang ajar! Awas saja kalau sampai tertangkap!!”, seorang perempuan
berwajah merah menggerundel menuruni anak tangga.
“Hee,
dasar.. Turun tangga saja lama!”, ledek pria berwajah mannequin bernama Taeyong.
“Nggak
usah cerewet! Cepat kemari!!”
“Nggak
mau lah! Aku tidak mau terlindas truk! Dadah!”, Taeyong kembali menghindari
amukan dari perempuan yang lebih tua darinya bernama Ella.
“Ya!!! Kau harus tanggungjawab!! Ponselku
masuk ke air gara-gara kau!!!”
“Kenapa
aku yang bertanggungjawab? Salah sendiri ceroboh!”
Tiga
menit yang lalu, Ella sedang mengecek ponselnya yang berdering menandakan ada
pesan masuk. Barusaja akan membalas pesan itu, Taeyong muncul mengagetkan Ella
dari belakang. Naas, ponsel Ella kemudian jatuh ke akuarium berenang bersama
ikan-ikan yang lucu. Dan ponselnya mati kehabisan oksigen. Sekilas info,
selesai.
“Huhuhuhuhu..
Aku harus memberitahu mereka kalau aku bisa datang.. Ini semua gara-gara kau!!
Mereka bisa salah paham!”, omel Ella.
“Alah,
kaya orang penting saja..”, Taeyong mencibir berlindung di balik sofa.
“Ini
undangan acara yang sangat penting!!”
“Iya
iya.. Maaf.. Aku tidak mengira kau akan selemah itu sampai menjatuhkan ponsel
karena terkejut.. Ck..”
“Minta
maaf yang benar! Sudah tidak ikhlas, masih tidak mengaku salah! Dasar..!!”
“Yang
penting aku sudah minta maaf..”, ujarnya hendak melenggang pergi.
“Mau
kemana? Sini dulu! Kemarikan ponselmu!”
“Mau
diapakan?! Sirheo!!”, tolak Taeyong
was-was.
“Aku
harus membalas undangan itu! Sudah cepat!”
“Ya
sudah.. Hanya sekali pesan saja, mengerti..! Setelah itu ganti pulsanya..”,
Taeyong menyodorkan ponselnya ke Ella.
“Ish,
dasar..!”
Ella
menyambar ponsel Taeyong. Ia kemudian menekan kontak dan mencari nama Kris
disana. Ketika melihat Ella menempelkan ponselnya ke telinga, Taeyong
melebarkan mata.
“Siapa
yang kau telfon? Katanya membalas pesan?!”, tanyanya cemas.
“Kau
pikir aku ingat nomornya? Aku telfon Kris..”
“Apa?
Sini kembalikan cepat!”, Taeyong langsung mendekat meminta ponselnya lagi.
“Apaan
sih?! Sana! Aku mau mengobrol sama Kris!”, Ella beranjak pergi dari sofa.
“Enak
saja! Aku tidak akan membiarkanmu mengambil ponselku begitu lama! Kau ingin
ponselku panas dan rusak?!”
“Ups,
ketahuan..”, ledek Ella kemudian berlari ke kamar.
“Ya!! Nuna!!!”,
Taeyong mengejar.
“Tidak
akan mempan! Aku tidak akan tergerak hanya karena kau memanggilku dengan
sopan!”, jawab Ella dari dalam kamar.
Gawat
gawat gawat. Ella kalau sudah menelfon Kris itu tidak ingat waktu! Berjam-jam!
Duh, baterainya... Pulsanya... Itu kan tarif internasional. Argh!!
“Ini
Ella? Kenapa pakai ponsel Taeyong?”, tanya Kris dari seberang sana.
“Ponselku
mati.. Taeyong mengagetiku, jadinya masuk air.. Huhuhuhu..”, ia langsung
mengadu.
“Apa?
Hahahaha..”
“Kenapa
tertawa? Ish, sepupu ini sama saja!”
“Wajahmu
pasti lucu..!”
“Yang
benar saja.. Huh!”
“Ya
sudah, nanti dibawa ke reparasi saja..”
“Hah..
Nanti kalau memorinya hilang semua? Disana kan ada foto-foto kita.. Sayang..”,
Ella memanyunkan bibirnya.
“Nanti
kukirim foto-foto yang ada di ponselku..”
Taeyong
mondar-mandir di depan kamar Ella. Seperti suami yang menunggu proses
persalinan istrinya gitu. Cemasnya bukan main. Bagaimanapun juga, ia harus
menyelamatkan ponselnya! Tapi bagaimana? Ah ya sudahlah, pasrah.
“Nuna!! Kalau sampai ponselku
kenapa-napa, kau harus membelikan yang baru!!”, ancam Taeyong.
Tak
ada jawaban dari kamar Ella. Nah kan, orang itu kalau sudah ngobrol sama Kris ,
gempa banjir topan tak akan mengganggunya! Huft!
@@@@@
Seperti
yang sudah direncanakan, malam ini Ella akan pergi menemani Jun. Kolega itu
harus diperlakukan dengan baik supaya ikatan kerja di antara mereka dapat
terbentuk dengan sempurna.
“You have to teach me Korean, Ella..”,
pinta Jun ketika mereka sedang menunggu makan malam di sebuah restoran.
“Sure! First is greeting..”
“Great.. What should I say to greet people in
Korea?”
“You should say annyeonghaseyo.. It means
hello..”, jelas Ella.
“Okay.. Annyeonghaseyo..”
“Wow! You’ve got perfect articulation! Daebak..”
“What is daebak?”
“Daebak means cool!”
Mereka
berdua terlihat begitu akrab dengan topik pembicaraan ini. Jun sangat berbakat
sekali dalam mempelajari bahasa Korea. Mungkin orang yang mendengarnya akan
mengira kalau Jun adalah orang Korea. Mereka terus berbincang, tiba-tiba ponsel
Taeyong yang sampai sekarang dibawa oleh Ella berdering. Ketika diperiksa,
layarnya tidak menampilkan nama, hanya nomor saja. Ella mengangkat panggilan
itu.
“Yoboseyo..”
“YA!!!!!!!!”, teriak Taeyong dari
seberang sana.
Ella
sedikit menjauhkan ponsel sitaannya itu beberapa detik. Kemudian Ella kembali
menempelkannya.
“Kau
dimana?!!!”
“Sedang
makan malam sama Jun..”
“Kembalikan
ponselku, nenek!!!”
“Ohooo..
Jadi begitu caramu memohon? Maaf aku sedang sibuk..”
“Ap-“
‘Pip’
Ella
memutus huungan tersebut dengan sadis. Ia kembali menyimpan ponselnya (ponsel
Taeyong) dan melanjutkan bincang-bincangnya dengan Jun. Pnselnya kembali
berdering.
“Sebentar
ya..”, ujar Ella permisi ke Jun.
“Silakan..”,
jawab Jun.
Ia
mengambil ponselnya dari tas, masih nomor yang sama. Oke, akan kuterima.
“Ehehehehe..
Mianhamnida, halmoni.. Maksudku, nuna..”,
kata Taeyong cengengesan(?).
“Mau
apa?”
“Kau
ada dimana? Akan kususul.. Aku butuh ponselku..”
“Untuk?”
“Main
game..”
‘Pip’
Panggilan
kembali terputus dengan sadis. Belum sempat Ella memasukkan ponselnya kembali
ke tas, ponsel itu berdering lagi.
“Kenapa?”
“Itu
kan ponselku, ayo kembalikan!!!!!”, teriak Taeyong murka.
“Ish,
dasar..! Benarkan dulu ponselku sampai dalam keadaan normal! Sebelum ponselku
benar, ponselmu kutahan!”
‘Pip’
Ella
mengakhiri panggilan Taeyong lagi. Kali ini, Ella mengubah mode dering ke diam
sebelum memasukkannya ke tas. Berapa kali pun Taeyong telfon, Ella dan Jun tak
akan terganggu lagi.
@@@@@
“Hish,
dasar nenek tua! Aku tidak akan terima! Akan kuganggu kau terus!!”, ujar
Taeyong merogoh sakunya mencari uang receh.
Ya,
dia menghubungi Ella dari telfon umum (masih zaman? Kasian kamu nak). Namun
sia-sia saja. Sama sekali tidak ada jawaban.
“Sial!
Aku sudah buang uang bayar parkirku dengan sia-sia! Huh!!”, gerundelnya.
Taeyong
menghela nafas panjang. Sebelum pulang ia memutuskan untuk jalan-jalan.
Sekalian, mumpung tidak ada ponsel mungkin ia bisa menikmati dunia dan alam
asli sejenak. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.
Lalu
lalang orang yang juga berjalan-jalan menikmati cerahnya malam ini,
pedagang-pedagang makanan yang berjajar menjajakan dagangannya terlihat begitu
menggiurkan. Taeyong menelan ludahnya lapar. Ia memang belum sempat makan
apa-apa dari siang tadi.
Bangun-bangun,
Taeyong langsung menyambar jaket dan keluar dari rumah mencari Ella. Yang ia
pikirkan hanya ponselnya saja tadi. Hah, sekarang dia menyesal. Kenapa sepanik
itu?
Tunggu.
Tentu
ia harus panik! Ponselnya itu dibawa oleh nenek sihir yang bisa merubah ponsel
kotaknya jadi segitiga! Argh! Pokoknya ponselnya harus kembali malam ini juga!
Ia tidak bisa menunggu beberapa hari sampai ponsel Ella keluar dari reparasi!
Ella keburu membuka seluruh folder dan data yang ada di memorinya! Dan yang
paling penting... Peternakannya bisa mati tidak terurus!!! <<dia
membicarakan game
Beberapa
menit kemudian Taeyong kembali normal. Ia menjadi laki-laki biasa yang berjalan
menyusuri jalanan yang cukup ramai kala itu. Kali ini ia benar-benar pasrah dan
mencoba untuk mengambil positifnya saja. Toh sudah saatnya ia melihat realita
dengan mata bukan dengan layar ponsel.
“Hmmmm..
Makan camilan apa ya? Rasanya ingin kumakan semua..”, Taeyong melihat satu
persatu jajanan jalanan yang ada di taman itu.
Aromanya
sedap. Bentuknya menggoda. Asin, pedas, manis, Ella yang menuju ke parkiran, es
serut yang menyegarkan........
Eh?
E-Ella?
Nuna!!!
Taeyong
melebarkan mata ketika matanya kembali menatap Ella yang barusaja keluar dari
sebuah restoran bersama dengan.. ugh, Jun Shison KOLEGA kerja dari Jepangnya
itu.
Dengan
wajah ditekuk, alis menyatu, langkah cepat, Taeyong menghampiri Ella. Lebih
tepatnya melabrak. Kali ini bukan karena cemburu. Tapi karena....
“Peternakanku!!”,
bentaknya menyodorkan telapak tangannya ke Ella meminta ponselnya kembali.
“Taeyong!
Sedang apa kau disini?”, Ella keheranan setelah sesaat terkejut.
“Aku
harus menyelamatkan peternakanku! Ayo kembalikan ponselku, cepat..!”, pinta
Taeyong kesal.
“Ponselku
sudah benar?”, tanya Ella santai.
“Molla..”
“Tak
akan kukembalikan..”
Taeyong
yang geram pun langsung menarik tas Ella. Beruntung Ella menahan tasnya.
Terjadi perebutan tas seharga puluhan juta disana.
“Lepaskan
Taeyong! Kau mau mengganti tas ini kalau sampai rusak?!”, Ella menarik tasnya.
“Kalau
kau tidak mau kembalikan, akan kuambil sendiri!”, ujar Taeyong menari ktas
Ella.
“Kalau
tak kau lepaskan, aku akan berteriak!”
“Coba
saja kalau berani!”
‘Ctek!’
otot kekesalan Ella nampak.
Anak
ini benar-benar sangat keras kepala. Dia menantangnya? Dia pikir dia tidak tega
berteriak ‘pencuri’? Oh, baiklah.
“Pencu-“,
belum selesai Ella berteriak, Taeyong melepas tangannya.
“Eh
iya iya..! Aku lepaskan..”, katanya mengangkat kedua tangan.
Ella
menggantungkan tasnya lagi di bahunya dengan wajah sebal. Jun sedari tadi hanya
tertawa menahan geli sambil geleng-geleng dan tangan terlipat.
“Maaf
ya, Jun.. Ada sedikit kesalahpahaman di antara kami berdua..”, jelas Ella
melirik Taeyong sinis.
“Tak
apa.. Aku paham.. Kenapa kau menyita ponselnya?”, tanya Jun.
“Ponselku
rusak gara-gara dia.. Aku pinjam ponselnya sementara.. Ngomong-ngomong, kau
mengerti pembicaraan kami?”
“Ya,
aku bisa mengira-ngira.. Kakekku adalah orang Korea..”
“Apa?
Kau tidak pernah bilang.. Wah! Aku tertipu..!”
“Ahaha,
kau tidak pernah bertanya sih..”
“Hei
hei hei..! Jangan lupakan aku!”, Taeyong menyela Ella dan Jun yang mulai
menebarkan bunga-bunga.
“Kau
pulanglah duluan.. Masak mie atau telur dadar kalau belum makan..”, ujar Ella.
“Oh iya! Kau pulang ke rumahmu saja sana..”, lanjutnya ketika ia sadar ini
kesempatan bagus untuk mengembalikan Taeyong ke rumahnya.
“Tidak
mau! Aku akan tetap menginap di rumahmu sampai Kris hyung pulang!”, elak Taeyong melipat tangan membuang muka.
Apa?!
Itu masih lama! Tidak, ia bahkan tak tahu kapan tunangannya itu akan pulang!
Apa dia mau menyiksa Ella selamanya? Hah, ridiculous.
Taeyong
kembali membuka tangannya di depan Ella. Kali ini dengan wajah yang lebih
rileks dan nada yang santai.
“Nuna.. Aku membutuhkan ponselku
sekarang.. Sebentar saja..”, pintanya lembut.
Ella
menyipitkan mata curiga. Anak ini sangat cerdik. Kalau dikembalikan, ia bisa
berlari pergi membawa ponselnya. Alhasil, ia tidak bisa berhubungan dengan Kris
untuk sementara waktu. Hm.. Tidak usah pasang wajah imut! Tak akan mempan!
Wajahmu itu kaku, tidak bisa aegyo!
(saya sudah mati mimisan membayangkan Taeyong aegyo) (die in peace)-------
“Aku
hanya akan merawat hewan ternak dan kebunku sebentar saja..”, ucapnya lagi.
“Baiklah..
Akan kuberikan selama sepuluh menit..”
“Benarkah?”,
mata Taeyong berbinar.
“Ya,
tapi dengan satu syarat..”
“Apa
apa apa??”, ia tak sabar memberi makan sapi-sapinya yang lucu.
“Kau
tidak boleh pergi dari sisiku..”
.
.
.
.
.
“Eh?”,
kepala Taeyong sedikit miring ragu.
Oh,
shit! Disaat seperti ini kenapa Ella
harus mengatakan hal yang bisa membuat orang salah paham?! Tentu saja anak ini
akan menerima dengan sangat senang, bukan? Tidak boleh pergi dari sisinya..
Sama saja bunuh diri!!!
“Ehm..
Maksudku, selama aku meminjamkan ponsel’ku’ kau harus di sebelahku.. Tidak
boleh kabur..!”, benah Ella.
“Aaaa~
‘Kay..”, jawab Taeyong
mengangguk-angguk.
@@@@@
“Terimakasih
untuk malam ini, Ella..”, kata Jun.
“Tak
perlu sungkan.. Sudah tugasku untuk membuatmu senang selama liburan disini..”,
jawab Ella.
“Apakah
besok kau akan datang ke acara tuan Lee?”, tanya Jun.
“Pft!
Hahahaha..”
“Kenapa
tertawa?”
“Tentu
aku akan datang.. Itu adalah acara ayahku..”
“Eh?!
Yang benar? Aku pikir kau menjalankan bisnis atas namamu sendiri..!”, Jun
terlihat sangat kaget. “Kau tidak pernah bilang, aku tak pernah tahu..”,
ujarnya tak percaya.
“Kau
tidak pernah tanya sih.. Aku menjalankan anak perusahan ayahku..”, jawab Ella
mengundang senyum manis di wajah Jun.
“Jadi
tuan Lee Sunho adalah ayahmu? Pantas wajah kalian mirip..” (diperankan oleh Lee
Sunho-Andy, member Shinhwa)
“Kau
baru sadar hal itu?”
Kedua
orang itu tak bosan-bosannya mengobrol dengan nada ringan. Mereka benar-benar
melupakan Taeyong yang ada di kursi belakang. Apa-apaan juga si Jun ini? Dia
pasti bohong soal ketidaktahuannya soal Lee Sunho. Mana mungkin ia tidak tahu
kalau Ella adalah anaknya? Ck!
“Ya
sudah.. Besok aku akan menjemputmu..”, kata Ella.
“Eh,
tidak perlu.. Aku akan naik taksi ke rapat itu..”
“Eih,
mana bisa begitu.. Tak apa.. Lagipula, aku akan melewati hotel ini untuk menuju
ke lokasi rapat besok..”
“Maaf
terus merepotkanmu..”
“No problem at all!”
Sudah-sudah!
Taeyong sudah muak dengan bunga dan warna pink yang membuat matanya sakit!
Bagaimana kalau ayam, sapi, domba, dan kebunnya kena virus gara-gara hawa merah
muda yang ada di sekitar kedua orang itu? Oh, sapiku yang malang.. Akan
kubelikan obat.
‘Low battery’
‘Pip’
R.I.P.
Taeyong’s Handphone
“O.O”,
ini wajah Taeyong yang menatap layar ponselnya yang hitam.
“Bye!”, Ella berdadah(?) ria sebelum
akhirnya menutup kaca mobil dan menjalankan mobilnya.
“O.O”,
ini masih wajah Taeyong.
“Hm?
Kenapa? Apa kau sedang lihat video porno?”, tanya Ella melihat ekspresi aneh
Taeyong dari kaca.
“Ponselku......”,
guman Taeyong.
“Apa?”,
Ella tak dengar saking pelannya suara Taeyong.
“MATI
HIHIHIHIHI HIKS!”, Taeyong tiba-tiba meraung menunjukkan ponselnya yang mati
kehabisan tenaga.
“Eh
eh eh!! Tenanglah! Kau menggangguku menyetir!”, ujar Ella.
“Kita
harus mengebut sampai ke rumah!! Aku harus cepat menyelamatkan nyawanya!!”,
kata Taeyong bringas.
“=_=”,
ini wajah Ella.
Ia
memilih diam daripada mengeluarkan tenaga meladeni anak generasi y ini. Dia
bahkan tidak akan sesedih itu ketika orangtuanya sakit. Dasar durhaka.
@@@@@
Singkat
kata, Taeyong dapat menghidupkan kembali ponselnya setelah dicharge beberapa menit. Oh, dia langung
kegirangan melompat ke atas kasur kembali bermain.
“Taeyong-a..
Cuci kaki dulu.. Basuh muka dan ganti baju dulu sana.. Badanmu itu kotor..
Jangan langsung naik ke kasur..”, Ella mengomel seperti mamanya Taeyong.
“Mandiin..”,
jawab Taeyong enteng tanpa menatap Ella.
‘Blam!’,
suara pintu kamar Taeong yang ditutup keras.
Lebih
baik ia merelakan Taeyong gatal-gata daripada harus memandikannya! Dia pikir
dia siapa? Ella bukan ibunya! Ella bahkan belum pernah sekamar mandi dengan
Kris! Paling-paling Ella hanya memaskeri wajah Kris saja. Dan menguncir
rambutnya. Dan menyulam alisnya. Dan menail-art
kukunya. Dan memake-up wajahnya.
Dan........
“Apa
aku terlalu kejam pada Kris ya?”, pikir Ella tersadar akan perlakuannya ke Kris
selama ini.
Ah
memikirkan Kris membuatnya ingin mendengar suaranya. Oh iya, ponselnya kan
rusak. Harus pinjam Taeyong. Tapi kasihan anak itu. Terlalu cinta peternakan.
Hmm, coba hubungi pakai laptop saja apa ya? Semoga Kris menerimanya.
@@@@@
Keesokan
harinya, Ella sudah siap untuk menghadiri rapat di resort milik ayahnya. Ia sudah berdandan dengan rapi dan cantik.
Sebentar lagi ia akan mengeluarkan mobil dari garasi lalu cus berangkat. Itu
sih rencananya tapi...
“Nuna!!!!”, panggil Taeyong dari lantai
dua.
“Hah?”,
respon Ella yang sedang mengambil kunci mobil.
“Sarapan..
Lapar..!”
“Buat
sendiri sana!”
“Kau
rela rumah ini meledak?”
“Tidak
usah manja Taeyong! Kau sudah besar.. Dan aku tahu kalau kau itu pandai masak!
Harusnya kau memasak untukku.. Huh!”, Ella menggerutu.
“Pagi-pagi
sudah marah-marah.. Seharian kau akan tertimpa sial..”, celetuk Taeyong masuk
ke dapur dengan wajah kasur.
“Mwo? Hishhhh..”, desis Ella menelan
amarahnya.
Sabar
sabar. Mesti sabar. Tidak boleh hanya karena Taeyong, moodnya rusak. Sabar, Ella. Sabar. Orang sabar disayang Tuhan.
Orang sabar banyak uang. Orang sabar ususnya panjang.
“Kau
sudah mau berangkat?”, tanya Taeyong kemudian meminum segelas air putih.
“Iya..”
“Kenapa
awal sekali?”
“Aku
harus menjemput Jun dulu..”
“Hee
dasar.. Kemarin pakai bohong kalau jalannya searah segala.. Padahal harus
memutar.. Ck, muka dua..”
“Heh,
kau! Makan serealmu, mandi, belajar!”, bentak Ella.
“Kekekeke..
Marah lagi dan kau akan bermood jelek
sepanjang hari..”, goda Taeyong senang.
Uuhhhh!!
Rasanya ingin telfon polisi! Tapi harus tenang. Tenang tenang. Jangan pedulikan
ocehan anak sinting ini.
“Kau
seharusnya mengajakku juga.. Jangan tinggalkan aku sendirian di rumahmu yang
besar ini..”, celetuk Taeyong menuang sereal.
“Kenapa
harus mengajakmu?”
“Aku
kan mewakili Kris hyung..”
“Heeee
tidak akan pernah! Kalau kau takut sendirian di rumah yang besar ini, pulanglah
ke apartemenmu sendiri..”
“Tidak
mau.. Disana kecil.. Enak disini, besar..”
Anak
ini memang gila. Bipolar? Kepribadian ganda? Labil sekali. Ck!
“Sudah
aku berangkat.. Jaga rumah!”
“Sekarang
dia malah memperlakukanku seperti anjing penjaga..”, gerundel Taeyong melahap
serealnya.
@@@@@
Ella
mengemudikan mobilnya dengan hati-hati tak terburu-buru. Masih ada waktu banyak
memang. Hah, membosankan juga sih berada di mobil sendirian. Ia tidak terbiasa
dengan keadaan sepi begini.
“Apakah
kau bisa menghubungi tuan Jun Shison? Katakan Ella sudah menunggunya di lobby..”, pinta Ella ke receptionist.
“Baik,
nona.. Mohon tunggu sebentar..”
Tak
lama kemudian, pria yang dinanti Ella datang menghampirinya dengan pakaian rapi
dan sopan. Jun terlihat sangat cocok dan tampan. Ella terpana sendiri
melihatnya.
“Apakah
ada noda di wajah atau bajuku?”, tanya Jun ke Ella yang terpana melihatnya.
“Eh?!
Tidak.. Aku hanya kagum.. Kau terlihat sangat tampan..”
“Ahah,
terimakasih.. Aku merasa bersalah.. Seharusnya aku yang memujimu terlebih
dulu..”
“Haha,
kau tidak perlu memujiku.. Aku bisa tersipu malu nanti.. Sudah siap berangkat
kan?”
“Tentu..”
Kemudian
Ella dan Jun melesat ke lokasi rapat. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai
di tempat rapat yang dijanjikan. Masih ada waktu sebelum rapat dimulai. Tapi
disana sudah ada mobil tuan Lee terparkir. Tentu saja mereka tidak bisa
berkeliaran dulu, tidak sopan.
Mereka
tidak langsung menuju ke ruang rapat. Ayahnya tidak akan masuk sebelum waktunya
mulai rapat. Ia pasti ada di atap menikmati secangkir jus menikmati udara dan
sinar matahari pagi. Dan dugaan Ella benar.
“Daddy..!”, panggil Ella.
“Oh,
putriku sudah sampai..”, sapa tuan Lee Sunho.
“Hello, dad..”, Ella memeluk ayahnya.
“Selamat
pagi, tuan Lee.. Saya Shison Jun, kolega putri anda dari Jepang..”, Jun
berjabat tangan dengan pria berwajah ramah itu.
“Wow,
kau sangat tampan..”, puji Sunho.
“Terimakasih,
tuan Lee.. Anda terlihat semakin sehat dan bugar.. Awet muda!”
“Ahahaha,
bisa saja..”
Setelah
perkenalan singkat, Sunho mempersilakan Ella dan Jun untuk duduk. Ia juga
menuangkan jus untuk Jun dan Ella. Benar-benar pak tua yang ramah.
“Jadi
bagaimana pekerjaanmu di Jepang, Jun? Lancar?”, tanya Sunho.
“Untungnya
lancar.. Hanya saja, ada beberapa masalah kecil antar karyawan baru dan lama..”
“Hhmm,
masalah mudah lah ya untuk pemuda berbakat sepertimu..”, ujar Sunho membuat Jun
tersenyum malu. “Pasti ada lah konflik-konflik begitu di sebuah perusahaan..
Apalagi perusahaan besar seperti milikmu..”.
“Ya,
anda benar sekali..”
“Lalu
bagaimana kabar ayahmu? Apa yang menjadi aktifitasnya sekarang?”
“Saat
ini ayah saya sangat tertarik dengan memancing dan mengoleksi ikan hias..
Setiap hari kalau tidak memancing ya pergi ke perkumpulan kolektor ikan
hias..”, jelas Jun.
“Ah,
enak ya.. Sudah bisa santai dan menikmati hobi sepuasnya..”
“Begitulah..
Tapi terkadang saya masih meminta saran ayah untuk mengatasi masalah di
perusahaan..”
“Bagus
kalau begitu.. Kau kapan akan mengambil alih perusahaan ayah, La? Ayah sudah
lelah lho..”, canda Sunho menyenggol
lengan putrinya.
“Daddy.. Aku kan sudah mengurus
perusahaan anak cabang..”, balas Ella.
“Ah,
itu bisa diberikan ke orang kepercayaanku yang lain.. Kalau perusahaan pusat
tentu kau yang harus memegang kendali.. Kalau tidak kau, ya Kris..”
“Sudah,
jangan membicarakan itu sekarang..”
Ella
melihat jam tangannya.
“Sudah
hampir tiba waktunya untuk rapat.. Bagaimana kalau kita masuk?”, ajak Ella.
“Tentu
tentu..”, jawab Sunho.
@@@@@
Kris
yang sedang sibuk mengurus kerjaan di negeri asing, tiba-tiba mendapat sepucuk
surat yang ada di tumpukan majalah dan koran langganannya.
“Surat
apa ini?”, batinnya membolak-balik surat itu.
Merah
muda dengan pita putih. Tulisannya alay pula.
DaTaNg EaH<3
“What the hell..”, pikir Kris horor.
Perasaannya
tak enak. Oh sungguh tak enak mengenai surat ini. Ia menelan salivanya berat. Rasa penasaran akan isi
surat itu mengalahkan perasaan janggalnya. Perlahan Kris membuka surat cantik
tersebut.
“Oh..
Undangan jamuan makan.. Kukira apa.. Hahahaha, bodohnya aku.. Aku sempat cemas
kalau akan ada Author tertera disana..”
Author
‘Sleb!!’,
mata Kris langsung terpaku pada nama yang tertera di paling bawah undangan.
Font
paling kecil yang ada di ujung paling bawah surat.
Author.
Author.
Author.
Author.
Author.
“ANIYA!!!!!!!!!!!”. Teriak Kris
menggelegar.
Kenapa
harus Author yang mengundangnya makan?! Kenapa harus dia penyelenggara jamuan
makan hits ini?! Dia harus menolak! Dia harus memikirkan alasan supaya dia bisa
terhindar dari undangan tersebut!
Dia
tidak mau mengobarkan mental yang sudah normal untuk makan enak. Author
mengundangnya dalam jamuan makan yang hits dan kekinian. Ini pasti ada sesuatu.
Ada bau amis-amisnya gitu. Dia pasti ada maunya! Dan pasti kemauannya itu yang
aneh-aneh!!
“Eh?
Ada memory card...”, Kris menemukan
kartu kecil yang diselipkan di kantung kertas di surat tersebut.
Karena
penasaran, Kris langsung memasukkannya ke laptop untuk melihat apa isinya.
Sebuah video ternyata. Coba dibuka dan......
‘Jlengggg...’,
masa kelam Kris datang.
Ini
video yang direkam oleh Author ketika ia bertingkah nista!! Ngerap pakai bahasa betawi, pakai baju
tradisional Papua dengan mahkota ratu, dan make-up
norak! Pakai bulu mata bulu glitter merah
panjang, lipstick ungu gelap, eyeshadow orange! O.M.G.
Datang eah, Kris sayang. Kamu tahu kan
apa yang akan kulakukan pada video ini kalau kamu sampai nggak datang?
Edited by = Xiumin and the Chipmunk
Baek and Yeol
Itu
adalah tulisan yang muncul pada akhir video. Kris hanya bisa menundukkan kepala
lemas. Tiba-tiba kepalanya pening. Apa dia kena vertigo dadakan? Oh tidak. Ini
akhir hidupnya, sungguh.
Video ini akan meletus dalam.......
10
9
“Eh?!
Meletus?! Yang benar?!”, Kris melompat menaiki sofa was-was.
3
2
“Kenapa
menghitungnya salah begitu?!!!”
1
“TIDAK!!!!”
‘Plop!’
Kris
yang memeluk dirinya erat membuka mata. Seperti suara kentut. Ia melihat
laptopnya baik-baik saja. Tadi itu.. Cuma efek suara? Ehe he he he. Ia tertawa
garing penuh kelegaan.
@@@@@
Rapat
telah selesai. Ketika semua sudah meninggalkan ruang rapat, Sunho memanggil
putrinya.
“Ella..”
“Hm?
Ada apa?”
“Kemari
sebentar..”
Ella
menurut. Ia berjalan mendekat. Kini hanya ada dua orang itu di dalam ruang
rapat yang kedap suara.
“Kenapa,
ayah?”
“Ada
sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu..”
“Katakan
saja..”
Sunho
menghela nafasnya. Wajahnya terlihat tidak tega.
“Kau
harus merelakan hubunganmu dengan Kris..”
“W-what?”, lirih Ella. “Apa maksud
ayah?”, tanya Ella tak yakin.
“Dia
sudah terlalu lama menggantungkan hubungan kalian..”
“Hubungan
kami tidak menggantung, ayah.. Kami hanya.. Masih fokus pada pekerjaan
masing-masing..”
“Tidak,
Ella.. Kris menggantungkan hubungan kalian.. Kris tidak memberi kepastian yang
jelas untukmu!”
“Itu
karena tuntutan pekerjaannya yang tidak menentu.. Ia sudah menjadi pemimpin
tertinggi menggantikan posisi ayahnya, banyak hal yang harus diselesaikan..”
“Ella..
Kau bisa menyelesaikan pekerjaan dimana dan kapan pun kau mau.. Tapi tidak
dengan hubungan yang serius..”
Sunho
meraih kedua tangan putrinya.
“Sebuah
hubungan tidak bisa digantung terlalu lama.. Ia sudah meninggalkanmu begitu
lama.. Kau sudah menanti dengan sangat sabar, Ella.. Cobalah untuk membuka mata
dan hatimu pada hal yang baru.. Yang ada di depanmu..”
Ella
diam menatap mata Sunho yang penuh harap. Ia mencoba mencerna dan menebak
kemauan ayahnya. Dan akhirnya ia paham.
“Jadi
ayah ingin aku menikahi Jun?”
Sunho
tersenyum. Anaknya memang sangat cerdas. Ia begitu memahami dirinya.
“Bagaimana
menurutmu?”, tanya Sunho.
“Kenapa
ayah tega?”, tanya Ella sedikit melebarkan mata Sunho. “Aku dan Kris sama-sama
berjuang mempertahankan hubungan kami sampai saat ini.. Keluargaku dan keluarga
Kris juga sudah sangat akrab.. Kami sudah bertunangan.. Tapi hanya karena kami
menjalin hubungan jarak jauh yang ayah katakan tidak ada kepastian itu, ayah
ingin aku putus dengan Kris begitu saja..”, ujar Ella dengan suara yang semakin
parau.
“Ayah
hanya ingin yang terbaik bagimu.. Ayah melihatmu selalu kesepian selama ini..
Kau hanya bisa mendengar suara dan melihatnya dari layar ponsel, tapi tak bisa
mendekapnya.. Sudah sepantasnya kau mendapatkan hal yang utuh dan pasti..”
“Kami
saling mencintai, ayah.. Tak peduli dimana pun dan kapan pun kami berada,
selama kami memandang langit yang sama.. Aku akan selalu mencintai Kris..”
Sunho
menghembuskan nafasnya. “Ayah hanya memberimu saran untuk kebaikanmu..
Pikirkanlah..”, katanya.
@@@@@
Meskipun
Ella berkata demikian pada ayahnya, ia tak bisa mengelak. Ia memang kesepian
dan selalu merasa hampa. Bahkan terkadang suara Kris tidak dapat memperbaiki
kekosongan yang ia rasakan di hatinya. Sepertinya hubungan jarak jauh tidak
begitu cocok untuknya. Kau tahu, seperti not
my style.
Beberapa
hari setelah rapat itu, perkataan Sunho tak bisa lepas dari benak Ella.
Memikirkan perkataan ayahnya, membuat Ella sering melamun, bengong, dan
menghela nafas berat.
Taeyong
sampai angkat tangan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Ella
marah padanya. Bahkan Taeyong membohongi Ella soal ponselnya yang sudah selesai
dibenarkan. Ia bilang kalau ponselnya belum benar dan Ella biasa saja. Ia
bilang ponselnya tidak akan kembali dalam bentuk semula dan Ella biasa saja. Ia
bilang ponselnya akan menjadi milik Taeyong dan sekali lagi.. Ella biasa saja.
“Aku
menyerah.. Aku menyerah, Kris hyung..!”,
adu Taeyong.
“Hmm..
Mungkin sedang ada masalah dengan perusahaannya?”, tanya Kris.
“Masalah
apa? Selama ini kerjaannya hanya menemani kolega Jepang itu saja kok.. Kalau tidak memaksa ikut, aku
ditinggal..”
“Kau
harus tetap membuatnya semangat dan ceria, Taeyong-a..”
“Aku
tidak tahu harus berbuat apa lagi.. Melihat responnya yang lesu, aku merasa
sangat berdosa menjahilinya terus..”
“Beri
kasih sayang..”, kata Kris.
“Sudah!
Aku sudah mengecup, mencium, memeluk, menggelitiki tubuhnya..”
“Taeyong..”
“Aku
juga membelai rambutnya, menangkup wajahnya!”
“Taeyong..”
“Apa?”
“Kau
benar melakukan itu semua?”
Taeyong
menggulung bibirnya ke dalam. Mampus, kelepasan saking geregetannya. Ia lalu
nyengir kuda.
“Ehehehehe..
Aku bercanda.. Melebih-lebihkan saja kok..”
“Hah..
Ella juga tidak menerima panggilan dariku.. Tidak membalas pesanku.. Aku
khawatir padanya..”
“Aku
juga, hyung.. Bagaimana nasib
dompetku kalau aku harus terus jajan di luar karena nuna malas masak?”
“Berusahalah
untuk terus menghiburnya, Taeyong.. Aku serahkan padamu..”
“Apa?
Hah.. Kapan sih kau akan pulang, hyung?”
“Akan
kukabari nanti kalau aku sudah bisa pulang..”
Taeyong
sedang berbincang dengan Kris di dalam mobil. Seperti biasa, ia menjadi ekor
Ella dan Jun kemana pun mereka pergi. Kali ini mereka ke taman dekat pantai.
“Ada
apa dengan wajah itu? Cheer up!”, Jun
menyemangati Ella yang murung.
“Hah...”,
Ella menghela nafas.
“Ini
masih siang, nona.. Nafasnya sudah berat saja seperti memikirkan negara..
Kenapa?”, tanya Jun lembut.
“Ponselku
tak kunjung kembali dari reparasi..”, dusta Ella. Ya tidak sepenuhnya bohong
sih. Ponselnya memang belum kembali dari reparasi.
“Bagus
kan?”
“Bagus
apanya?”
“Kau
bisa melihat dunia lebih luas..”
“Iya..
Kita memang terjebak pada masa dimana masyarakat lebih suka melihat dunia di
dalam kotak kecil..”, Ella tersenyum kecil memikirkan ada benarnya juga.
“Ella..”,
panggil Jun halus. “Kalau kau butuh waktu sendiri, aku tidak akan
mengganggumu.. Tapi kalau kau butuh seseorang untuk mendengarkanmu, aku ada
disini sekarang..”, kata Jun.
“Aku
tidak pandai bohong ya?”, tanya Ella merasa dirinya ketahuan berdusta.
“Sama
sekali payah..”
“Jun...”,
rengek Ella melas.
“Hahahaha..
Bercanda..”
@@@@@
“Apa
sih yang sedang nuna khawatirkan?”,
tanya Taeyong ketika ia dan Ella sedang makan snack malam di dapur.
“Tidak..
Cuma tagihan yang menumpuk..”, elak Ella.
“Nuna.. Uangmu itu segunung.. Jangan
bohong deh.. Ceritakan padaku.. Siapa tahu aku bisa membantumu menyelesaikan
masalahnya kan?”
“Kau?
Membantuku? Kau kerasukan, Tae?”
“Aku
serius!”
Ella
menatap Taeyong yang tak menunjukkan tanda-tanda sedang bercanda maupun
main-mainnya. Tapi hal ini tak bisa diceritakan oleh siapa pun. Bagaimana pun
juga Taeyong adalah sepupu Kris. Tentu dia pasti akan sakit hati kalau mendengar
saran ayahnya. Ia juga tidak bisa cerita pada Jun. Pria itu bisa tersinggung
karena usulan ayah.
“Aku
baik-baik saja kok..”
Tapi
entah kenapa Ella juga ingin mencoba saran Sunho.
“Aku
sungguh baik-baik saja..”
Setidaknya,
itu yang dikatakan Ella selama beberapa waktu ini. Ia menyimpan konflik batin
dan pikirannya untuk diolah sendiri. Ia terlalu sungkan meminta pendapat pada
teman-temannya yang lain. Mereka pasti juga sibuk dan punya masalah sendiri
yang harus diselesaikan.
“Katamu
baik-baik saja.. Tapi semakin hari wajahmu semakin kendur begitu? Tidak takut
penuaan dini?”, goda Taeyong saat mereka sarapan.
“Aku
teratur pakai cream untuk perawatan
kulit wajahku..”, jawab Ella lemas.
Taeyong
menelan candaannya. Ia tidak suka reaksi yang diberikan Ella. Tidak asyik. Ia
terlalu stres untuk diajak bercanda saat ini. Buktinya, sampai sekarang pun
Ella tak meributkan lagi ponselnya. Sama sekali tidak.
“Nuna..”, panggil Taeyong.
“Hm?”,
Ella mengaduk-aduk serealnya tanpa tenaga.
“Aku
ada hadiah untukmu..”
Taeyong
pergi ke kamarnya, mengambil ponsel Ella yang sudah menginap di lacinya selama
beberapa hari ini. Ia kemudian menyodorkan ponsel Ella ke hadapan perempuan
itu.
“Ponselmu
sudah sehat kembali, jajjan!”, ucap
Taeyong.
“Wah..
Terimakasih, Taeyong..”, jawab Ella datar tak tertarik.
“Boleh
kurusakkan lagi?”, tanya Taeyong kesal mendengar Ella tak hype seperti biasanya.
‘Ding
Dong..’, bunyi bel rumah menggema di seluruh ruangan.
“Ada
tamu..”, kata Taeyong.
“Hm..”,
jawab Ella tak beranjak.
“Ada
tamu, nuna..”, ulang Taeyong.
“Ya..”,
Ella masih tak beranjak.
“Hah..”,
Taeyong akhirnya yang beranjak menemui tamu di pagi hari.
Ia
membuka pintu dan melihat seorang pria tampan, tidak setampan dirinya sih,
sedang berdiri di depan teras rumahnya (rumah Ella), membawa satu ikat bunga
kecil. Tanpa Taeyong sadari, anak itu mengamati Jun yang terlihat mempesona
dalam busana casual.
“Taeyong..”,
panggil Jun menyadarkan Taeyong dari lamunannya.
“Eh?!
J-Jun! Ehehe.. Sepagi ini, ada apa?”
“Ah,
maaf aku tidak memberi kabar mampir kesini.. Apa aku mengganggu?”
“Iya!
Sudah sana pergi!”, usir Taeyong sinis.
“Taeyong,
masuk..”, perintah Ella.
“Ck,
ish..”, ia berdecak kesal melirik Jun yang tersenyum geli.
“Maafkan
sikap anak ini ya, Jun.. Dia jablai terlalu dimanja..”
“Tak
apa..”
“Silakan
masuk.. Akan kuseduhkan teh..”, Ella dengan ramah dan sopan menyambut Jun masuk
ke dalam rumahnya.
“Tak
perlu repot..”, jawab Jun masuk mengikuti Ella. “Oh, aku membawakan bunga ini
untukmu.. Maaf hanya seikat bunga..”
“Astaga!
Bunganya cantik sekali..! Terimakasih..”, Ella menerimanya dengan senang.
@@@@@
“Apa
yang membawamu kemari, Jun?”, tanya Ella.
“Tidak
ada tujuan khusus sih.. Aku hanya ingin melihat rumah temanku yang sudah sangat
baik padaku..”
“Ah,
kau ini..”
“Lagipula
akhir-akhir ini kau terlihat murung.. Jadi kupikir, kau butuh istirahat di
rumah.. Mungkin kau terlalu lelah menemaniku..”
“Sama
sekali tidak kok.. Aku hanya sedang
kepikiran.. Ada undangan jamuan makan yang harus kuhadiri waktu dekat ini..”
“Kenapa
mencemaskan undangan makan?”
“Penyelenggaranya
Author.. Dia orang yang sangat menyeramkan dan tidak dapat ditebak! Aku sedang
menyiapkan mental saja untuk bertemu dengannya..”
“Ahahahaha..
Pasti orang yang sangat menyenangkan..”
Jun
melihat Ella yang tidak tertawa selepas biasanya. Ia menghela nafas.
“Mungkin
aku tidak berhak meminta ini..”, katanya mendapat perhatian Ella. “Aku hanya
kolega yang datang dari Jepang dan kau adalah tuan rumahnya.. Tapi waktu yang
kita habiskan bersama selama ini, membuatku berpikir kalau kau adalah seorang
teman yang baik..”, ujar Jun. “Aku sudah menganggapmu sebagai temanku.. Dan aku
harap tidak sepihak..”
“Aku
juga menganggapmu sebagai temanku, Jun.. Kau orang yang baik..”
“Terimakasih,
Ella.. Sebagai seorang teman, aku harus meminta ini padamu..”
“Apa?”
“Kalau
kau ada masalah, ceritalah.. Kami semua kebingungan dan merindukan Ella yang
ceria.. Kalau kau tidak memberitahu kami, kami akan merasa bersalah dan tidak
mampu menjadi temanmu.. Apapun masalahnya, aku atau Taeyong past iakan
membantumu.. Meski hanya sekadar masukan..”
Ella
tersenyum. Jun ada benarnya. Tidak ada salahnya dia cerita. Selain melegakan,
dia juga bisa mendapatkan pencerahan. Baiklah.
Ketika
Ella dan Jun mengobrol di ruang tamu, Taeyong yang ada di beranda lantai dua
depan kamarnya, sedang bermain game
baru. Tetris.
“Ah!
Salah masuk! Ck.. Jadi mengganjal begini susunannya.. Sial..”, gerutunya duduk
bersandar pada pagar beranda. “Eh? Ada panggilan masuk dari Kris hyung..”, ia merasakan ponselnya
bergetar. “Yoboseyo? Wae?”, tanya Taeyong sama sekali tak
ramah. Ia terganggu tidak bisa main!
“Hee
dasar.. Aku mau tanya keadaan Ella..”, jawab Kris.
“Oh
dia baik.. Sehat.. Masih makan dengan teratur..”
“Bukan
itu, bocah :”)..”
“Hah,
ya ya.. Aku tahu maksudmu.. Akhir-akhir ini nuna
terlihat murung.. keadaannya semakin hari semakin buruk.. Aku tidak tahu apa
yang dia pikirkan sampai membuatnya tertekan begitu..”
“Aku
sudah tanya tuan Lee.. Kondisi perusahaan juga dalam keadaan stabil dan baik..
Ia juga tidak tahu kalau Ella murung..”
“Makanya
cepat pulang.. Mungkin dia jablai..”
“Aku
juga jablai, Taeyong :”)...”
“Ih,
ngaku.. Hahahaha..”
“Hei!
Kirimkan aku foto Ella yang terbaru ya! Dia belum bisa kuhubungi.. Aku sudah
sangat merindukannya..”
“Nantilah
gampang..”
“Kuberi
upah..”
“Mau
minta berapa kali foto?”
Selesai
ditelfon Kris, Taeyong hendak melanjutkan kembali gamenya. Tapi tiba-tiba sebuah ide nakal muncul di otaknya. Ia lalu
tersenyum penuh arti.
“Aku
kirim foto selfieku saja lah ke Kris hyung... Kekekeke.. Dia pasti kesal!
Pft!”, ujarnya kemudian mengambil foto selfie
dengan ponselnya. “Send..”, kemudian
dikirim ke Kris.
Sepuluh
foto Taeyong kini telah sampai di ponsel Kris.
“Anak
ini memang butuh asupan tinjuku..”, gerundel Kris melihat hanya foto-foto
Taeyong yang masuk ke ponselnya.
Baru
saja Kris hendak menghapus foto-foto itu, matanya menangkap sesuatu di foto
Taeyong. Bukan, bukan penampakan makhluk astral. Ini.....
@@@@@
Lima
puluh kali. Lima puluh kali Kris mencoba menghubungi Ella hari itu. Taeyong
juga tidak menerima panggilan darinya. Anak itu pasti berpikir ini lucu dan
sedang mengerjainya.
Setiap
Kris meletakkan ponsel, gagal menghubungi Ella, hatinya jadi semakin takut. Apa
yang dia lakukan disana? Benarkah itu Ella yang dia lihat di foto Taeyong?
Kenapa dia seperti itu?
Banyak
pertanyaan yang menghinggapi kepala Kris. Ia terus mencoba untuk berpikir
positif, tapi tetap saja ketakutannya membuat Kris tidak tenang.
“Permisi,
Kris..”, seorang pria berjas rapi masuk ke ruangannya.
“Ada
apa?”
“Ini
adalah hasil rapat besar dan data laporan terakhir..”, pria itu memberikan
beberapa map.
“Secepat
itu?”
“Beberapa
hari ini kami lembur.. Kami rasa, anda sudah terlalu lama disini.. Semakin hari
anda semakin murung, kami pikir anda merindukan rumah.. Jadi kami mempercepat
kinerja agar anda dapat pulang lebih awal..”, jelas pria baik itu.
Kris
tersenyum lebar dan memeluk pria tersebut erat. Ia berterimakasih padanya dan
pada seluruh karyawan yang telah membantunya selama disini. Yang paling
melegakan adalah..
Akhirnya
ia bisa pulang.
@@@@@
Apa
ini? Banyak sekali misscall dari
Kris. Oh, Kris! Betapa ia sangat merindukan nama dan sosok itu. Harus telfon
balik.
Nomor yang anda hubungi sedang tidak
aktif, tinggalkan pesan setelah bunyi berikut
“Hmm,
aneh.. Tidak aktif setelah menelfonku berulang kali?”, batin Ella.
Ella
berjalan menuju ke kamar Taeyong.
“Taeyong-a..”
“Hm?”,
jawab Taeyong sibuk bermain Tetris.
“Apa
Kris menghubungimu?”
“Iya..
Berulang kali.. Tapi kubiarkan..”
“Apa?
Kenapa dibiarkan? Dia menghubungi sampai berpuluhan kali begitu pasti ada
apa-apa..”
Taeyong
menghela nafas meletakkan ponselnya. Ia menatap Ella.
“Aku
mengerjainya.. Dia merindukanmu dan ingin minta fotomu yang paling terbaru..
Tapi aku mengiriminya fotoku..”, jelas Taeyong.
“Pft!
Hahahaha.. Dia pasti kesal sekali.. Coba kulihat foto apa saja yang kau kirim..”
“Tidak
boleh! Sembarang buka ponsel orang.. Ck..”
Ella
mencibir. Setelah bicara pada Jun, hatinya jadi lebih tenang dan ia bisa
berpikir dengan jernih. Dan tentu saja! Dia akan membalas semua kejahilan
Taeyong selama ia murung!
“Kemarikan!”,
Ella merebut ponsel Taeyong dan langsung berlari keluar kamar.
“Ya!!!!”, Taeyong mengejar tak terima.
Mereka
kejar-kejaran mengelilingi seisi rumah. Ella tertawa puas sedang Taeyong
menggerutu. Sampai di kolam renang, Taeyong berhasil menangkap Ella. Namun
karena kehilangan keseimbangan, mereka berdua kemudian jatuh masuk ke dalam
kolam renang.
‘Byur!’
“Ponselku!!!!!”,
Taeyong mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan menatapnya khawatir. Masih
menyala. “Oh, syukurlah..”, helanya lega.
‘Plak!’
‘Plung!’
Ella
yang muncul ke permukaan, tak sengaja menampik tangan Taeyong yang memegangi
ponselnya. Dadah, ponsel. Selamat tenggelam sehat ya.
“OvO”,
ini ekspresi Taeyong menatap ponselnya.
“Huah,
segar sekali!”, ujar Ella.
“OvO”,
ini masih ekspresi Taeyong.
“Taeyong-a..
Kau kenapa mematung begitu? Hei, Taeyong!”
OvO
OvO
OvO
OvO
Ponselku
bagaimana.. Apa ini semacam karma?
@@@@@
Ella
dan Taeyong mendekap tubuh mereka dengan handuk lebar. Mereka duduk di kursi
santai pinggir kolam. Hanya terdengar suara tawa Ella yang menggelegar.
“Kau
senang sekali..”, lirih Taeyong menundukkan kepala dengan ponsel basah di
sebelahnya.
“Jarang-jarang
aku melihatmu tersiksa! Hahahahahaha..”
“Ugh,
kau...”
Awalnya
Taeyong hendak menyentil dahi Ella dengan ekspresi marah, namun ketika melihat
Ella tertawa dengan mata berkaca-kaca, tangannya terhenti. Ia menatap Ella yang
masih tertawa dengan heran.
“Hahahahaha..
Lucu ya!”, kata Ella.
“Lucu?”
“Kehidupan
ini lucu..!”
Taeyong
kembali ke posisi semula. Ia mendengarkan.
“Kita
diberi alam yang indah, terbentang luas di depan mata.. Tapi ketika kita sudah
menemukan satu yang paling spesial, semuanya didiamkan begitu saja..”, ujar
Ella. “Tak peduli apa kata orang, tak peduli bagaimana tatapan mereka, tak
mempedulikan apapun asalkan orang spesial tersebut masih mengisi hatinya..”
Taeyong
diam tak menjawab. Ia juga tak melihat ke arah Ella.
“Hidup
itu tidak adil.. Kenapa harus ada kata cinta? Padahal cinta itu tidak memiliki
definisi yang konkrit..”, lanjut Ella menatap air kolam renangnya.
“Cinta
ada untuk melindungi keindahan yang ada di depan mata kita.. Dan dia harus
ada.. Meskipun terkadang ia terlalu semena-mena mempermainkan perasaan
manusia..”, kali ini Taeyong menatap Ella.
“Seperti
ia mempermainkan perasaanku..”, kalimat itu membuat Ella menoleh. “Aku tahu aku
salah kalau aku mencintai dan ingin memilikimu.. Kau adalah tunangan kakak
sepupuku.. Apapun yang terjadi, suka atau tidak suka, selain menjadi adik
iparmu, aku juga akan menjadi pria yang mencintaimu.. Karena itu, kalau ada
orang yang mengganggu hubunganmu dengan Kris hyung, aku tidak akan membiarkannya begitu saja.. Begitu juga kalau
Kris hyung bermain-main dengan
keseriusanmu.. Aku tidak akan segan berdiri di depanmu..”
Tatapan
Taeyong berbeda dengan tatapannya selama ini. Tatapannya dalam, penuh
ketulusan.
“Taeyong-a..”
“Jangan
khawatir, nuna..”, ucap Taeyong
memebrikan senyumannya.
@@@@@
Bercakap
dengan Taeyong, membuat hati Ella terasa begitu lega entah kenapa. Meski ia
tidak menceritakan masalahnya, Taeyong seakan menyerap semua kekhawatirannya.
Hal ini membuat Ella kembali menjadi Ella yang penuh dengan senyuman.
Kali
ini, ia dan Jun sedang berada di sebuah resort
melihat-lihat desain bangunan dan fasilitas yang ada. Tentu saja Taeyong
menjadi ekornya Ella. Selain itu ia juga jadi nyamuk ._.
“Nuna.. Aku ke toilet sebentar..”, ujar
Taeyong.
“Ya..”,
jawab Ella.
Taeyong
memanyunkan bibirnya. Biasa, kalau sudah sama Jun, dia jadi begitu cuek
terhadap dirinya. Hah, sudahlah. Pipis dulu.
“Akhirnya
aku bisa lihat senyuman itu lagi..”, ujar Jun.
“Hahaha..
Kau ini.. Terimakasih ya.. Kau benar-benar baik..”
“Tak
perlu sungkan.. Aku akan selalu ada untuk membantumu..”, Jun mengacak rambut
Ella.
“Duh..
Jangan rusak tatanan rambut wanita, Jun! Pantas saja kau masih menjomblo sampai
sekarang..”, ledek Ella.
“Heih,
dasar.. Oh ya.. Aku punya sesuatu untukmu..”
“Hm?
Apa itu?”
Jun
mengambil sesuatu di sakunya. Sebuah kalung.
“Wah,
cantik sekali..”, Ella terlihat menyukai model kalung yang dibawa Jun.
“Ini
hadiah untukmu.. Kau mau memakainya?”
“Tentu!”
“Kau
tidak keberatan kalau kupakaikan?”
“Tentu
saja.. Ini kan hadiah yang kau berikan..”
Jun
lalu memakaikan kalung itu ke leher Ella. Terlihat sangat pas dan coock dipakai
olehnya.
“Manis
sekali..”, puji Jun.
“Aha,
terimakasih..”
“Hadiah
ini kuberikan sekaligus untuk perpisahan..”
“Eh?”
“Aku
akan kembali ke Jepang..”
“Apa?
Kenapa cepat sekali? Bukankah masih ada proyek yang harus kau selesaikan dengan
ayahku?”
“Akan
kupantau dari Jepang.. Perusahaanku sudah membutuhkanku..”
“Yah,
Jun......”
Ella
cemberut sedih. Ia tak rela satu-satunya teman yang menemaninya akhirnya akan
pulang ke Jepang, meninggalkannya.
“Jangan
pasang wajah itu, nona.. Kita masih bisa saling mengontak..”, kata Jun.
Ella
lalu memeluk Jun. Pria itu agak terkejut dengan pelukan yang diberikan Ella.
Perlahan dan hati-hati, Jun membalas pelukan Ella.
“Ella..”,
suara yang tak asing masuk ke gendang telinga Ella.
@@@@@
Kris
menaiki anak tangga menuju ke rooftop.
Barusaja tiba, ia langsung disambut dengan pemandangan yang luar biasa
menusuknya.
“Ella..”,
panggil Kris.
Perempuan
itu melepas pelukan perpisahannya pada Jun. Ia menoleh dan melihat sosok Kris,
tunangannya, pria yang paling ia rindukan, berdiri mematung disana.
“Kris!”,
sapa Ella balik.
Kris
menatap Jun. Pria itu adalah pria yang sama yang ia lihat dari foto Taeyong.
Dia juga yang memeluk Ella di ruang tamu.
“Kau
sudah kembali! Kenapa tidak beri kabar?”, tanya Ella menghampiri Kris.
“Kalau
kuberi kabar, apa kau akan menjauhi pria ini terlebih dulu?”
“Eh?
Apa maksudmu?”
“Ayo
kita pulang..”, Kris menangkap pergelangan tangan Ella dengan erat dan kencang.
“Ah,
Kris! Sakit!”, rintih Ella.
Kris
tak peduli. Ia terus menarik Ella tanpa mempedulikan rintihan kesakitannya. Jun
menghentikan Kris dengan menarik bahunya.
“Kau
menyakitinya..”, ujar Jun melepas pegangan tangan Kris dari Ella.
Tanpa
berkata apa-apa, Kris berbalik dan langsung memukul wajah Jun.
“Kris!!”,
pekik Ella terkejut. “Apa yang kau lakukan?! Kau tak apa Jun?”, Ella
menghampiri Jun yang terjatuh.
“Pulang,
sekarang..!”, bentak Kris kembali menarik tangan Ella kasar.
“Lepas,
Kris! Kenapa sih denganmu?! Kau menyakitiku!”
“Lepaskan,
hyung..”
Kris
menoleh dan mendapati Taeyong berdiri menangkap tangannya. Anak itu menatap
Kris dengan tajam.
“Kau
tidak perlu ikut campur, Taeyong.. Pulanglah.. Terimakasih sudah MENJAGA Ella
selama aku tidak ada..”, kata Kris penuh penekanan.
“Kau
tidak boleh menyakiti wanita.. Tak akan kuizinkan kau pergi darisini
membawanya..”
“Jadi
kau mau melawanku?”
“Aku
sudah pernah berucap di depan nuna..
Aku akan berdiri di depannya, aku yang akan kau hadapi pertama kalau kau menyakitinya..”
“Kau
menggelikan.. Kau hanya menggertak..”
Kris
kembali melangkah dengan menarik Ella kasar. Taeyong pun ambil tindakan. Ia
berjalan cepat kehadapan Kris dan memukulnya.
“Apa
kau harus dipukul supaya sadar?!”, bentaknya.
Kris
tak menjawab. Ia membalas pukulan Taeyong. Terjadi pergulatan disitu.
“Hentikan!
Kris! Taeyong!!”, teriak Ella.
Mereka
berdua berhenti berkelahi. Ella berjalan menatap Kris.
“Kau
barusaja kembali, tidak tahu apa-apa, langsung seenaknya! Apa maumu?!”, bentak
Ella.
“Tidak
tahu apa-apa? Aku tahu! Aku tahu semua yang kau lakukan selama aku tidak ada,
Ella!”
“Oh
ya? Kau benar tahu? Lalu kenapa kau memukul Jun dan berkelahi dengan Taeyong?
Kenapa kau begitu kasar terhadapku?”
“Aku
tidak akan memberikanmu ke pria itu! Kau adalah calon istriku, milikku!”
“Aku
bukan barang yang bisa kau miliki atau kau berikan pada siapapun!!”
Kris
terdiam.
“Awalnya
aku bimbang dan meragukan keseriusanmu padaku.. Tapi berkat Jun dan Taeyong!
Aku yakin kalau kau adalah pria tepat untukku! Tapi sekarang apa?! Kau sendiri
yang membuktikan kalau kau tidak pantas untukku!”
“Apa?
Tidak pantas? Aku terus memantau keadaanmu meski aku sedang sibuk.. Tapi kau
menghindariku karena ada pria lain! Kau tidak memberiku kabar, tidak menjawab
panggilanku, tidak membalas pesanku, kau menambah beban pikiran dan
kecemasanku! Kau pikir kau pantas untukku?!”
“Oh,
baik.. Jadi aku tidak pantas karena tidak bisa menjaga kelabilan kecemburuanmu
itu! Kau hanya memantauku melalui sekotak mesin canggih! Apa yang kulakukan
lebih besar dari itu! Dan aku tidak butuh telfon dan smsmu! Aku butuh dirimu
hadir menemaniku! Di sisiku! Tapi kau selalu pergi! Selama ini kau tidak ada
disini!”
“Aku
bekerja, Ella..”
“Aku
juga bekerja, Jun juga bekerja, Taeyong juga bekerja, semua orang bekerja!!
Kenapa kau harus memakai pekerjaan sebagai alasan kalau kau tidak serius
terhadapku?!”
@@@@@
Setelah
beradu pendapat dan saling meluapkan emosi, Ella pergi meninggalkan Kris dengan
begitu dingin. Rasanya dingin sekali. Dari luar, dalam, ia tidak bisa merasakan
tubuhnya. Jemarinya kaku, lidahnya kelu, dadanya sesak. Apa ini yang dirasakan
orang ketika hatinya pecah?
@@@@@
“Nuna baik-baik saja?”, tanya Taeyong
melihat pergelangan tangan Ella yang merah.
Ella
hanya mengangguk. Ia terdiam dengan pikiran kosong. Ia tak tahu apa yang ada di
sekitarnya saat itu. Sungguh. Otaknya berhenti bekerja. Itu suara apa, itu
benda apa, dan ini.. perasaan apa?
Ia
ingin menangis rasanya. Kenapa ia harus ikut emosi ketika Kris emosi? Kenapa
mereka harus saling membentak? Kenapa hubungan yang telah lama dijaga dengan
baik, retak begitu saja? Apakah hanya segini kekuatan tali yang mengikat mereka
berdua?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar