Selasa, 05 Januari 2016

ElRis's One Month Moment

Sebuah rumah di Pulau Jeju berdiri dengan kokoh. Rumah di dekat pantai yang bernuansa putih dengan segala macam fasilitasnya menjadikan rumah itu sebagai rumah impian. Ketenangan, kehangatan, dan !@$#%^%*(*&^%-

“TAEYONG!!!!!!!”, sebuah teriakan menggema begitu keras di seluruh rumah.
“Hahahahaha.. Ahahahahahahaha!!!”, sebuah tawa meledak ikut meramaikan suasana.
“Jangan tertawa seenaknya kamu!!! Kembali kemari cepat!!!!”
“Tangkap dulu kalau bisa! Wekkk, nenek tua!!”
“Dasar, bocah kurang ajar! Awas saja kalau sampai tertangkap!!”, seorang perempuan berwajah merah menggerundel menuruni anak tangga.

“Hee, dasar.. Turun tangga saja lama!”, ledek pria berwajah mannequin bernama Taeyong.
“Nggak usah cerewet! Cepat kemari!!”
“Nggak mau lah! Aku tidak mau terlindas truk! Dadah!”, Taeyong kembali menghindari amukan dari perempuan yang lebih tua darinya bernama Ella.
Ya!!! Kau harus tanggungjawab!! Ponselku masuk ke air gara-gara kau!!!”
“Kenapa aku yang bertanggungjawab? Salah sendiri ceroboh!”

Tiga menit yang lalu, Ella sedang mengecek ponselnya yang berdering menandakan ada pesan masuk. Barusaja akan membalas pesan itu, Taeyong muncul mengagetkan Ella dari belakang. Naas, ponsel Ella kemudian jatuh ke akuarium berenang bersama ikan-ikan yang lucu. Dan ponselnya mati kehabisan oksigen. Sekilas info, selesai.

“Huhuhuhuhu.. Aku harus memberitahu mereka kalau aku bisa datang.. Ini semua gara-gara kau!! Mereka bisa salah paham!”, omel Ella.
“Alah, kaya orang penting saja..”, Taeyong mencibir berlindung di balik sofa.
“Ini undangan acara yang sangat penting!!”
“Iya iya.. Maaf.. Aku tidak mengira kau akan selemah itu sampai menjatuhkan ponsel karena terkejut.. Ck..”
“Minta maaf yang benar! Sudah tidak ikhlas, masih tidak mengaku salah! Dasar..!!”
“Yang penting aku sudah minta maaf..”, ujarnya hendak melenggang pergi.

“Mau kemana? Sini dulu! Kemarikan ponselmu!”
“Mau diapakan?! Sirheo!!”, tolak Taeyong was-was.
“Aku harus membalas undangan itu! Sudah cepat!”
“Ya sudah.. Hanya sekali pesan saja, mengerti..! Setelah itu ganti pulsanya..”, Taeyong menyodorkan ponselnya ke Ella.
“Ish, dasar..!”

Ella menyambar ponsel Taeyong. Ia kemudian menekan kontak dan mencari nama Kris disana. Ketika melihat Ella menempelkan ponselnya ke telinga, Taeyong melebarkan mata.

“Siapa yang kau telfon? Katanya membalas pesan?!”, tanyanya cemas.
“Kau pikir aku ingat nomornya? Aku telfon Kris..”
“Apa? Sini kembalikan cepat!”, Taeyong langsung mendekat meminta ponselnya lagi.
“Apaan sih?! Sana! Aku mau mengobrol sama Kris!”, Ella beranjak pergi dari sofa.
“Enak saja! Aku tidak akan membiarkanmu mengambil ponselku begitu lama! Kau ingin ponselku panas dan rusak?!”
“Ups, ketahuan..”, ledek Ella kemudian berlari ke kamar.

Ya!! Nuna!!!”, Taeyong mengejar.
“Tidak akan mempan! Aku tidak akan tergerak hanya karena kau memanggilku dengan sopan!”, jawab Ella dari dalam kamar.

Gawat gawat gawat. Ella kalau sudah menelfon Kris itu tidak ingat waktu! Berjam-jam! Duh, baterainya... Pulsanya... Itu kan tarif internasional. Argh!!

“Ini Ella? Kenapa pakai ponsel Taeyong?”, tanya Kris dari seberang sana.
“Ponselku mati.. Taeyong mengagetiku, jadinya masuk air.. Huhuhuhu..”, ia langsung mengadu.
“Apa? Hahahaha..”
“Kenapa tertawa? Ish, sepupu ini sama saja!”
“Wajahmu pasti lucu..!”
“Yang benar saja.. Huh!”

“Ya sudah, nanti dibawa ke reparasi saja..”
“Hah.. Nanti kalau memorinya hilang semua? Disana kan ada foto-foto kita.. Sayang..”, Ella memanyunkan bibirnya.
“Nanti kukirim foto-foto yang ada di ponselku..”

Taeyong mondar-mandir di depan kamar Ella. Seperti suami yang menunggu proses persalinan istrinya gitu. Cemasnya bukan main. Bagaimanapun juga, ia harus menyelamatkan ponselnya! Tapi bagaimana? Ah ya sudahlah, pasrah.

Nuna!! Kalau sampai ponselku kenapa-napa, kau harus membelikan yang baru!!”, ancam Taeyong.

Tak ada jawaban dari kamar Ella. Nah kan, orang itu kalau sudah ngobrol sama Kris , gempa banjir topan tak akan mengganggunya! Huft!

@@@@@

Seperti yang sudah direncanakan, malam ini Ella akan pergi menemani Jun. Kolega itu harus diperlakukan dengan baik supaya ikatan kerja di antara mereka dapat terbentuk dengan sempurna.

You have to teach me Korean, Ella..”, pinta Jun ketika mereka sedang menunggu makan malam di sebuah restoran.
Sure! First is greeting..
Great.. What should I say to greet people in Korea?”
You should say annyeonghaseyo.. It means hello..”, jelas Ella.
Okay.. Annyeonghaseyo..”
Wow! You’ve got perfect articulation! Daebak..”
What is daebak?”
Daebak means cool!

Mereka berdua terlihat begitu akrab dengan topik pembicaraan ini. Jun sangat berbakat sekali dalam mempelajari bahasa Korea. Mungkin orang yang mendengarnya akan mengira kalau Jun adalah orang Korea. Mereka terus berbincang, tiba-tiba ponsel Taeyong yang sampai sekarang dibawa oleh Ella berdering. Ketika diperiksa, layarnya tidak menampilkan nama, hanya nomor saja. Ella mengangkat panggilan itu.

Yoboseyo..”
YA!!!!!!!!”, teriak Taeyong dari seberang sana.

Ella sedikit menjauhkan ponsel sitaannya itu beberapa detik. Kemudian Ella kembali menempelkannya.

“Kau dimana?!!!”
“Sedang makan malam sama Jun..”
“Kembalikan ponselku, nenek!!!”
“Ohooo.. Jadi begitu caramu memohon? Maaf aku sedang sibuk..”
“Ap-“

‘Pip’

Ella memutus huungan tersebut dengan sadis. Ia kembali menyimpan ponselnya (ponsel Taeyong) dan melanjutkan bincang-bincangnya dengan Jun. Pnselnya kembali berdering.

“Sebentar ya..”, ujar Ella permisi ke Jun.
“Silakan..”, jawab Jun.

Ia mengambil ponselnya dari tas, masih nomor yang sama. Oke, akan kuterima.

“Ehehehehe.. Mianhamnida, halmoni.. Maksudku, nuna..”, kata Taeyong cengengesan(?).
“Mau apa?”
“Kau ada dimana? Akan kususul.. Aku butuh ponselku..”
“Untuk?”
“Main game..”

‘Pip’

Panggilan kembali terputus dengan sadis. Belum sempat Ella memasukkan ponselnya kembali ke tas, ponsel itu berdering lagi.

“Kenapa?”
“Itu kan ponselku, ayo kembalikan!!!!!”, teriak Taeyong murka.
“Ish, dasar..! Benarkan dulu ponselku sampai dalam keadaan normal! Sebelum ponselku benar, ponselmu kutahan!”

‘Pip’

Ella mengakhiri panggilan Taeyong lagi. Kali ini, Ella mengubah mode dering ke diam sebelum memasukkannya ke tas. Berapa kali pun Taeyong telfon, Ella dan Jun tak akan terganggu lagi.

@@@@@

“Hish, dasar nenek tua! Aku tidak akan terima! Akan kuganggu kau terus!!”, ujar Taeyong merogoh sakunya mencari uang receh.

Ya, dia menghubungi Ella dari telfon umum (masih zaman? Kasian kamu nak). Namun sia-sia saja. Sama sekali tidak ada jawaban.

“Sial! Aku sudah buang uang bayar parkirku dengan sia-sia! Huh!!”, gerundelnya.

Taeyong menghela nafas panjang. Sebelum pulang ia memutuskan untuk jalan-jalan. Sekalian, mumpung tidak ada ponsel mungkin ia bisa menikmati dunia dan alam asli sejenak. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.
Lalu lalang orang yang juga berjalan-jalan menikmati cerahnya malam ini, pedagang-pedagang makanan yang berjajar menjajakan dagangannya terlihat begitu menggiurkan. Taeyong menelan ludahnya lapar. Ia memang belum sempat makan apa-apa dari siang tadi.
Bangun-bangun, Taeyong langsung menyambar jaket dan keluar dari rumah mencari Ella. Yang ia pikirkan hanya ponselnya saja tadi. Hah, sekarang dia menyesal. Kenapa sepanik itu?

Tunggu.

Tentu ia harus panik! Ponselnya itu dibawa oleh nenek sihir yang bisa merubah ponsel kotaknya jadi segitiga! Argh! Pokoknya ponselnya harus kembali malam ini juga! Ia tidak bisa menunggu beberapa hari sampai ponsel Ella keluar dari reparasi! Ella keburu membuka seluruh folder dan data yang ada di memorinya! Dan yang paling penting... Peternakannya bisa mati tidak terurus!!! <<dia membicarakan game

Beberapa menit kemudian Taeyong kembali normal. Ia menjadi laki-laki biasa yang berjalan menyusuri jalanan yang cukup ramai kala itu. Kali ini ia benar-benar pasrah dan mencoba untuk mengambil positifnya saja. Toh sudah saatnya ia melihat realita dengan mata bukan dengan layar ponsel.

“Hmmmm.. Makan camilan apa ya? Rasanya ingin kumakan semua..”, Taeyong melihat satu persatu jajanan jalanan yang ada di taman itu.

Aromanya sedap. Bentuknya menggoda. Asin, pedas, manis, Ella yang menuju ke parkiran, es serut yang menyegarkan........

Eh?

E-Ella?

Nuna!!!

Taeyong melebarkan mata ketika matanya kembali menatap Ella yang barusaja keluar dari sebuah restoran bersama dengan.. ugh, Jun Shison KOLEGA kerja dari Jepangnya itu.

Dengan wajah ditekuk, alis menyatu, langkah cepat, Taeyong menghampiri Ella. Lebih tepatnya melabrak. Kali ini bukan karena cemburu. Tapi karena....

“Peternakanku!!”, bentaknya menyodorkan telapak tangannya ke Ella meminta ponselnya kembali.
“Taeyong! Sedang apa kau disini?”, Ella keheranan setelah sesaat terkejut.
“Aku harus menyelamatkan peternakanku! Ayo kembalikan ponselku, cepat..!”, pinta Taeyong kesal.

“Ponselku sudah benar?”, tanya Ella santai.
Molla..”
“Tak akan kukembalikan..”

Taeyong yang geram pun langsung menarik tas Ella. Beruntung Ella menahan tasnya. Terjadi perebutan tas seharga puluhan juta disana.

“Lepaskan Taeyong! Kau mau mengganti tas ini kalau sampai rusak?!”, Ella menarik tasnya.
“Kalau kau tidak mau kembalikan, akan kuambil sendiri!”, ujar Taeyong menari ktas Ella.
“Kalau tak kau lepaskan, aku akan berteriak!”
“Coba saja kalau berani!”

‘Ctek!’ otot kekesalan Ella nampak.

Anak ini benar-benar sangat keras kepala. Dia menantangnya? Dia pikir dia tidak tega berteriak ‘pencuri’? Oh, baiklah.

“Pencu-“, belum selesai Ella berteriak, Taeyong melepas tangannya.
“Eh iya iya..! Aku lepaskan..”, katanya mengangkat kedua tangan.
Ella menggantungkan tasnya lagi di bahunya dengan wajah sebal. Jun sedari tadi hanya tertawa menahan geli sambil geleng-geleng dan tangan terlipat.

“Maaf ya, Jun.. Ada sedikit kesalahpahaman di antara kami berdua..”, jelas Ella melirik Taeyong sinis.
“Tak apa.. Aku paham.. Kenapa kau menyita ponselnya?”, tanya Jun.
“Ponselku rusak gara-gara dia.. Aku pinjam ponselnya sementara.. Ngomong-ngomong, kau mengerti pembicaraan kami?”
“Ya, aku bisa mengira-ngira.. Kakekku adalah orang Korea..”
“Apa? Kau tidak pernah bilang.. Wah! Aku tertipu..!”
“Ahaha, kau tidak pernah bertanya sih..”

“Hei hei hei..! Jangan lupakan aku!”, Taeyong menyela Ella dan Jun yang mulai menebarkan bunga-bunga.

“Kau pulanglah duluan.. Masak mie atau telur dadar kalau belum makan..”, ujar Ella. “Oh iya! Kau pulang ke rumahmu saja sana..”, lanjutnya ketika ia sadar ini kesempatan bagus untuk mengembalikan Taeyong ke rumahnya.
“Tidak mau! Aku akan tetap menginap di rumahmu sampai Kris hyung pulang!”, elak Taeyong melipat tangan membuang muka.

Apa?! Itu masih lama! Tidak, ia bahkan tak tahu kapan tunangannya itu akan pulang! Apa dia mau menyiksa Ella selamanya? Hah, ridiculous.
Taeyong kembali membuka tangannya di depan Ella. Kali ini dengan wajah yang lebih rileks dan nada yang santai.

Nuna.. Aku membutuhkan ponselku sekarang.. Sebentar saja..”, pintanya lembut.

Ella menyipitkan mata curiga. Anak ini sangat cerdik. Kalau dikembalikan, ia bisa berlari pergi membawa ponselnya. Alhasil, ia tidak bisa berhubungan dengan Kris untuk sementara waktu. Hm.. Tidak usah pasang wajah imut! Tak akan mempan! Wajahmu itu kaku, tidak bisa aegyo! (saya sudah mati mimisan membayangkan Taeyong aegyo) (die in peace)-------

“Aku hanya akan merawat hewan ternak dan kebunku sebentar saja..”, ucapnya lagi.
“Baiklah.. Akan kuberikan selama sepuluh menit..”
“Benarkah?”, mata Taeyong berbinar.
“Ya, tapi dengan satu syarat..”
“Apa apa apa??”, ia tak sabar memberi makan sapi-sapinya yang lucu.

“Kau tidak boleh pergi dari sisiku..”
.
.
.
.
.
“Eh?”, kepala Taeyong sedikit miring ragu.

Oh, shit! Disaat seperti ini kenapa Ella harus mengatakan hal yang bisa membuat orang salah paham?! Tentu saja anak ini akan menerima dengan sangat senang, bukan? Tidak boleh pergi dari sisinya.. Sama saja bunuh diri!!!

“Ehm.. Maksudku, selama aku meminjamkan ponsel’ku’ kau harus di sebelahku.. Tidak boleh kabur..!”, benah Ella.
“Aaaa~ ‘Kay..”, jawab Taeyong mengangguk-angguk.

@@@@@

“Terimakasih untuk malam ini, Ella..”, kata Jun.
“Tak perlu sungkan.. Sudah tugasku untuk membuatmu senang selama liburan disini..”, jawab Ella.
“Apakah besok kau akan datang ke acara tuan Lee?”, tanya Jun.
“Pft! Hahahaha..”
“Kenapa tertawa?”
“Tentu aku akan datang.. Itu adalah acara ayahku..”
“Eh?! Yang benar? Aku pikir kau menjalankan bisnis atas namamu sendiri..!”, Jun terlihat sangat kaget. “Kau tidak pernah bilang, aku tak pernah tahu..”, ujarnya tak percaya.

“Kau tidak pernah tanya sih.. Aku menjalankan anak perusahan ayahku..”, jawab Ella mengundang senyum manis di wajah Jun.
“Jadi tuan Lee Sunho adalah ayahmu? Pantas wajah kalian mirip..” (diperankan oleh Lee Sunho-Andy, member Shinhwa)
“Kau baru sadar hal itu?”

Kedua orang itu tak bosan-bosannya mengobrol dengan nada ringan. Mereka benar-benar melupakan Taeyong yang ada di kursi belakang. Apa-apaan juga si Jun ini? Dia pasti bohong soal ketidaktahuannya soal Lee Sunho. Mana mungkin ia tidak tahu kalau Ella adalah anaknya? Ck!

“Ya sudah.. Besok aku akan menjemputmu..”, kata Ella.
“Eh, tidak perlu.. Aku akan naik taksi ke rapat itu..”
“Eih, mana bisa begitu.. Tak apa.. Lagipula, aku akan melewati hotel ini untuk menuju ke lokasi rapat besok..”
“Maaf terus merepotkanmu..”
No problem at all!”

Sudah-sudah! Taeyong sudah muak dengan bunga dan warna pink yang membuat matanya sakit! Bagaimana kalau ayam, sapi, domba, dan kebunnya kena virus gara-gara hawa merah muda yang ada di sekitar kedua orang itu? Oh, sapiku yang malang.. Akan kubelikan obat.

Low battery
‘Pip’

R.I.P. Taeyong’s Handphone

“O.O”, ini wajah Taeyong yang menatap layar ponselnya yang hitam.
Bye!”, Ella berdadah(?) ria sebelum akhirnya menutup kaca mobil dan menjalankan mobilnya.

“O.O”, ini masih wajah Taeyong.
“Hm? Kenapa? Apa kau sedang lihat video porno?”, tanya Ella melihat ekspresi aneh Taeyong dari kaca.
“Ponselku......”, guman Taeyong.
“Apa?”, Ella tak dengar saking pelannya suara Taeyong.
“MATI HIHIHIHIHI HIKS!”, Taeyong tiba-tiba meraung menunjukkan ponselnya yang mati kehabisan tenaga.

“Eh eh eh!! Tenanglah! Kau menggangguku menyetir!”, ujar Ella.
“Kita harus mengebut sampai ke rumah!! Aku harus cepat menyelamatkan nyawanya!!”, kata Taeyong bringas.
“=_=”, ini wajah Ella.

Ia memilih diam daripada mengeluarkan tenaga meladeni anak generasi y ini. Dia bahkan tidak akan sesedih itu ketika orangtuanya sakit. Dasar durhaka.

@@@@@

Singkat kata, Taeyong dapat menghidupkan kembali ponselnya setelah dicharge beberapa menit. Oh, dia langung kegirangan melompat ke atas kasur kembali bermain.

“Taeyong-a.. Cuci kaki dulu.. Basuh muka dan ganti baju dulu sana.. Badanmu itu kotor.. Jangan langsung naik ke kasur..”, Ella mengomel seperti mamanya Taeyong.
“Mandiin..”, jawab Taeyong enteng tanpa menatap Ella.

‘Blam!’, suara pintu kamar Taeong yang ditutup keras.

Lebih baik ia merelakan Taeyong gatal-gata daripada harus memandikannya! Dia pikir dia siapa? Ella bukan ibunya! Ella bahkan belum pernah sekamar mandi dengan Kris! Paling-paling Ella hanya memaskeri wajah Kris saja. Dan menguncir rambutnya. Dan menyulam alisnya. Dan menail-art kukunya. Dan memake-up wajahnya. Dan........

“Apa aku terlalu kejam pada Kris ya?”, pikir Ella tersadar akan perlakuannya ke Kris selama ini.

Ah memikirkan Kris membuatnya ingin mendengar suaranya. Oh iya, ponselnya kan rusak. Harus pinjam Taeyong. Tapi kasihan anak itu. Terlalu cinta peternakan. Hmm, coba hubungi pakai laptop saja apa ya? Semoga Kris menerimanya.

@@@@@

Keesokan harinya, Ella sudah siap untuk menghadiri rapat di resort milik ayahnya. Ia sudah berdandan dengan rapi dan cantik. Sebentar lagi ia akan mengeluarkan mobil dari garasi lalu cus berangkat. Itu sih rencananya tapi...

Nuna!!!!”, panggil Taeyong dari lantai dua.
“Hah?”, respon Ella yang sedang mengambil kunci mobil.
“Sarapan.. Lapar..!”
“Buat sendiri sana!”
“Kau rela rumah ini meledak?”
“Tidak usah manja Taeyong! Kau sudah besar.. Dan aku tahu kalau kau itu pandai masak! Harusnya kau memasak untukku.. Huh!”, Ella menggerutu.

“Pagi-pagi sudah marah-marah.. Seharian kau akan tertimpa sial..”, celetuk Taeyong masuk ke dapur dengan wajah kasur.
Mwo? Hishhhh..”, desis Ella menelan amarahnya.

Sabar sabar. Mesti sabar. Tidak boleh hanya karena Taeyong, moodnya rusak. Sabar, Ella. Sabar. Orang sabar disayang Tuhan. Orang sabar banyak uang. Orang sabar ususnya panjang.

“Kau sudah mau berangkat?”, tanya Taeyong kemudian meminum segelas air putih.
“Iya..”
“Kenapa awal sekali?”
“Aku harus menjemput Jun dulu..”
“Hee dasar.. Kemarin pakai bohong kalau jalannya searah segala.. Padahal harus memutar.. Ck, muka dua..”
“Heh, kau! Makan serealmu, mandi, belajar!”, bentak Ella.
“Kekekeke.. Marah lagi dan kau akan bermood jelek sepanjang hari..”, goda Taeyong senang.

Uuhhhh!! Rasanya ingin telfon polisi! Tapi harus tenang. Tenang tenang. Jangan pedulikan ocehan anak sinting ini.

“Kau seharusnya mengajakku juga.. Jangan tinggalkan aku sendirian di rumahmu yang besar ini..”, celetuk Taeyong menuang sereal.
“Kenapa harus mengajakmu?”
“Aku kan mewakili Kris hyung..”
“Heeee tidak akan pernah! Kalau kau takut sendirian di rumah yang besar ini, pulanglah ke apartemenmu sendiri..”
“Tidak mau.. Disana kecil.. Enak disini, besar..”

Anak ini memang gila. Bipolar? Kepribadian ganda? Labil sekali. Ck!

“Sudah aku berangkat.. Jaga rumah!”
“Sekarang dia malah memperlakukanku seperti anjing penjaga..”, gerundel Taeyong melahap serealnya.

@@@@@

Ella mengemudikan mobilnya dengan hati-hati tak terburu-buru. Masih ada waktu banyak memang. Hah, membosankan juga sih berada di mobil sendirian. Ia tidak terbiasa dengan keadaan sepi begini.

“Apakah kau bisa menghubungi tuan Jun Shison? Katakan Ella sudah menunggunya di lobby..”, pinta Ella ke receptionist.
“Baik, nona.. Mohon tunggu sebentar..”

Tak lama kemudian, pria yang dinanti Ella datang menghampirinya dengan pakaian rapi dan sopan. Jun terlihat sangat cocok dan tampan. Ella terpana sendiri melihatnya.

“Apakah ada noda di wajah atau bajuku?”, tanya Jun ke Ella yang terpana melihatnya.
“Eh?! Tidak.. Aku hanya kagum.. Kau terlihat sangat tampan..”
“Ahah, terimakasih.. Aku merasa bersalah.. Seharusnya aku yang memujimu terlebih dulu..”
“Haha, kau tidak perlu memujiku.. Aku bisa tersipu malu nanti.. Sudah siap berangkat kan?”
“Tentu..”

Kemudian Ella dan Jun melesat ke lokasi rapat. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di tempat rapat yang dijanjikan. Masih ada waktu sebelum rapat dimulai. Tapi disana sudah ada mobil tuan Lee terparkir. Tentu saja mereka tidak bisa berkeliaran dulu, tidak sopan.
Mereka tidak langsung menuju ke ruang rapat. Ayahnya tidak akan masuk sebelum waktunya mulai rapat. Ia pasti ada di atap menikmati secangkir jus menikmati udara dan sinar matahari pagi. Dan dugaan Ella benar.

Daddy..!”, panggil Ella.
“Oh, putriku sudah sampai..”, sapa tuan Lee Sunho.
Hello, dad..”, Ella memeluk ayahnya.

“Selamat pagi, tuan Lee.. Saya Shison Jun, kolega putri anda dari Jepang..”, Jun berjabat tangan dengan pria berwajah ramah itu.
“Wow, kau sangat tampan..”, puji Sunho.
“Terimakasih, tuan Lee.. Anda terlihat semakin sehat dan bugar.. Awet muda!”
“Ahahaha, bisa saja..”

Setelah perkenalan singkat, Sunho mempersilakan Ella dan Jun untuk duduk. Ia juga menuangkan jus untuk Jun dan Ella. Benar-benar pak tua yang ramah.

“Jadi bagaimana pekerjaanmu di Jepang, Jun? Lancar?”, tanya Sunho.
“Untungnya lancar.. Hanya saja, ada beberapa masalah kecil antar karyawan baru dan lama..”
“Hhmm, masalah mudah lah ya untuk pemuda berbakat sepertimu..”, ujar Sunho membuat Jun tersenyum malu. “Pasti ada lah konflik-konflik begitu di sebuah perusahaan.. Apalagi perusahaan besar seperti milikmu..”.
“Ya, anda benar sekali..”

“Lalu bagaimana kabar ayahmu? Apa yang menjadi aktifitasnya sekarang?”
“Saat ini ayah saya sangat tertarik dengan memancing dan mengoleksi ikan hias.. Setiap hari kalau tidak memancing ya pergi ke perkumpulan kolektor ikan hias..”, jelas Jun.
“Ah, enak ya.. Sudah bisa santai dan menikmati hobi sepuasnya..”
“Begitulah.. Tapi terkadang saya masih meminta saran ayah untuk mengatasi masalah di perusahaan..”
“Bagus kalau begitu.. Kau kapan akan mengambil alih perusahaan ayah, La? Ayah sudah lelah lho..”, canda Sunho menyenggol lengan putrinya.

Daddy.. Aku kan sudah mengurus perusahaan anak cabang..”, balas Ella.
“Ah, itu bisa diberikan ke orang kepercayaanku yang lain.. Kalau perusahaan pusat tentu kau yang harus memegang kendali.. Kalau tidak kau, ya Kris..”
“Sudah, jangan membicarakan itu sekarang..”

Ella melihat jam tangannya.

“Sudah hampir tiba waktunya untuk rapat.. Bagaimana kalau kita masuk?”, ajak Ella.
“Tentu tentu..”, jawab Sunho.

@@@@@

Kris yang sedang sibuk mengurus kerjaan di negeri asing, tiba-tiba mendapat sepucuk surat yang ada di tumpukan majalah dan koran langganannya.

“Surat apa ini?”, batinnya membolak-balik surat itu.

Merah muda dengan pita putih. Tulisannya alay pula.

DaTaNg EaH<3

What the hell..”, pikir Kris horor.

Perasaannya tak enak. Oh sungguh tak enak mengenai surat ini. Ia menelan salivanya berat. Rasa penasaran akan isi surat itu mengalahkan perasaan janggalnya. Perlahan Kris membuka surat cantik tersebut.

“Oh.. Undangan jamuan makan.. Kukira apa.. Hahahaha, bodohnya aku.. Aku sempat cemas kalau akan ada Author tertera disana..”

Author

‘Sleb!!’, mata Kris langsung terpaku pada nama yang tertera di paling bawah undangan.

Font paling kecil yang ada di ujung paling bawah surat.
Author.
Author.
Author.
Author.
Author.

ANIYA!!!!!!!!!!!”. Teriak Kris menggelegar.

Kenapa harus Author yang mengundangnya makan?! Kenapa harus dia penyelenggara jamuan makan hits ini?! Dia harus menolak! Dia harus memikirkan alasan supaya dia bisa terhindar dari undangan tersebut!
Dia tidak mau mengobarkan mental yang sudah normal untuk makan enak. Author mengundangnya dalam jamuan makan yang hits dan kekinian. Ini pasti ada sesuatu. Ada bau amis-amisnya gitu. Dia pasti ada maunya! Dan pasti kemauannya itu yang aneh-aneh!!

“Eh? Ada memory card...”, Kris menemukan kartu kecil yang diselipkan di kantung kertas di surat tersebut.

Karena penasaran, Kris langsung memasukkannya ke laptop untuk melihat apa isinya. Sebuah video ternyata. Coba dibuka dan......

‘Jlengggg...’, masa kelam Kris datang.

Ini video yang direkam oleh Author ketika ia bertingkah nista!! Ngerap pakai bahasa betawi, pakai baju tradisional Papua dengan mahkota ratu, dan make-up norak! Pakai bulu mata bulu glitter merah panjang, lipstick ungu gelap, eyeshadow orange! O.M.G.

Datang eah, Kris sayang. Kamu tahu kan apa yang akan kulakukan pada video ini kalau kamu sampai nggak datang?
Edited by = Xiumin and the Chipmunk Baek and Yeol

Itu adalah tulisan yang muncul pada akhir video. Kris hanya bisa menundukkan kepala lemas. Tiba-tiba kepalanya pening. Apa dia kena vertigo dadakan? Oh tidak. Ini akhir hidupnya, sungguh.

Video ini akan meletus dalam.......
10
9

“Eh?! Meletus?! Yang benar?!”, Kris melompat menaiki sofa was-was.

3
2

“Kenapa menghitungnya salah begitu?!!!”

1

“TIDAK!!!!”

‘Plop!’

Kris yang memeluk dirinya erat membuka mata. Seperti suara kentut. Ia melihat laptopnya baik-baik saja. Tadi itu.. Cuma efek suara? Ehe he he he. Ia tertawa garing penuh kelegaan.

@@@@@

Rapat telah selesai. Ketika semua sudah meninggalkan ruang rapat, Sunho memanggil putrinya.

“Ella..”
“Hm? Ada apa?”
“Kemari sebentar..”

Ella menurut. Ia berjalan mendekat. Kini hanya ada dua orang itu di dalam ruang rapat yang kedap suara.

“Kenapa, ayah?”
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu..”
“Katakan saja..”

Sunho menghela nafasnya. Wajahnya terlihat tidak tega.

“Kau harus merelakan hubunganmu dengan Kris..”
W-what?”, lirih Ella. “Apa maksud ayah?”, tanya Ella tak yakin.
“Dia sudah terlalu lama menggantungkan hubungan kalian..”
“Hubungan kami tidak menggantung, ayah.. Kami hanya.. Masih fokus pada pekerjaan masing-masing..”
“Tidak, Ella.. Kris menggantungkan hubungan kalian.. Kris tidak memberi kepastian yang jelas untukmu!”
“Itu karena tuntutan pekerjaannya yang tidak menentu.. Ia sudah menjadi pemimpin tertinggi menggantikan posisi ayahnya, banyak hal yang harus diselesaikan..”
“Ella.. Kau bisa menyelesaikan pekerjaan dimana dan kapan pun kau mau.. Tapi tidak dengan hubungan yang serius..”

Sunho meraih kedua tangan putrinya.

“Sebuah hubungan tidak bisa digantung terlalu lama.. Ia sudah meninggalkanmu begitu lama.. Kau sudah menanti dengan sangat sabar, Ella.. Cobalah untuk membuka mata dan hatimu pada hal yang baru.. Yang ada di depanmu..”

Ella diam menatap mata Sunho yang penuh harap. Ia mencoba mencerna dan menebak kemauan ayahnya. Dan akhirnya ia paham.

“Jadi ayah ingin aku menikahi Jun?”

Sunho tersenyum. Anaknya memang sangat cerdas. Ia begitu memahami dirinya.

“Bagaimana menurutmu?”, tanya Sunho.
“Kenapa ayah tega?”, tanya Ella sedikit melebarkan mata Sunho. “Aku dan Kris sama-sama berjuang mempertahankan hubungan kami sampai saat ini.. Keluargaku dan keluarga Kris juga sudah sangat akrab.. Kami sudah bertunangan.. Tapi hanya karena kami menjalin hubungan jarak jauh yang ayah katakan tidak ada kepastian itu, ayah ingin aku putus dengan Kris begitu saja..”, ujar Ella dengan suara yang semakin parau.

“Ayah hanya ingin yang terbaik bagimu.. Ayah melihatmu selalu kesepian selama ini.. Kau hanya bisa mendengar suara dan melihatnya dari layar ponsel, tapi tak bisa mendekapnya.. Sudah sepantasnya kau mendapatkan hal yang utuh dan pasti..”
“Kami saling mencintai, ayah.. Tak peduli dimana pun dan kapan pun kami berada, selama kami memandang langit yang sama.. Aku akan selalu mencintai Kris..”

Sunho menghembuskan nafasnya. “Ayah hanya memberimu saran untuk kebaikanmu.. Pikirkanlah..”, katanya.

@@@@@

Meskipun Ella berkata demikian pada ayahnya, ia tak bisa mengelak. Ia memang kesepian dan selalu merasa hampa. Bahkan terkadang suara Kris tidak dapat memperbaiki kekosongan yang ia rasakan di hatinya. Sepertinya hubungan jarak jauh tidak begitu cocok untuknya. Kau tahu, seperti not my style.

Beberapa hari setelah rapat itu, perkataan Sunho tak bisa lepas dari benak Ella. Memikirkan perkataan ayahnya, membuat Ella sering melamun, bengong, dan menghela nafas berat.
Taeyong sampai angkat tangan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Ella marah padanya. Bahkan Taeyong membohongi Ella soal ponselnya yang sudah selesai dibenarkan. Ia bilang kalau ponselnya belum benar dan Ella biasa saja. Ia bilang ponselnya tidak akan kembali dalam bentuk semula dan Ella biasa saja. Ia bilang ponselnya akan menjadi milik Taeyong dan sekali lagi.. Ella biasa saja.

“Aku menyerah.. Aku menyerah, Kris hyung..!”, adu Taeyong.
“Hmm.. Mungkin sedang ada masalah dengan perusahaannya?”, tanya Kris.
“Masalah apa? Selama ini kerjaannya hanya menemani kolega Jepang itu saja kok.. Kalau tidak memaksa ikut, aku ditinggal..”
“Kau harus tetap membuatnya semangat dan ceria, Taeyong-a..”
“Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.. Melihat responnya yang lesu, aku merasa sangat berdosa menjahilinya terus..”

“Beri kasih sayang..”, kata Kris.
“Sudah! Aku sudah mengecup, mencium, memeluk, menggelitiki tubuhnya..”
“Taeyong..”
“Aku juga membelai rambutnya, menangkup wajahnya!”
“Taeyong..”
“Apa?”
“Kau benar melakukan itu semua?”

Taeyong menggulung bibirnya ke dalam. Mampus, kelepasan saking geregetannya. Ia lalu nyengir kuda.

“Ehehehehe.. Aku bercanda.. Melebih-lebihkan saja kok..”
“Hah.. Ella juga tidak menerima panggilan dariku.. Tidak membalas pesanku.. Aku khawatir padanya..”
“Aku juga, hyung.. Bagaimana nasib dompetku kalau aku harus terus jajan di luar karena nuna malas masak?”
“Berusahalah untuk terus menghiburnya, Taeyong.. Aku serahkan padamu..”
“Apa? Hah.. Kapan sih kau akan pulang, hyung?”
“Akan kukabari nanti kalau aku sudah bisa pulang..”

Taeyong sedang berbincang dengan Kris di dalam mobil. Seperti biasa, ia menjadi ekor Ella dan Jun kemana pun mereka pergi. Kali ini mereka ke taman dekat pantai.

“Ada apa dengan wajah itu? Cheer up!”, Jun menyemangati Ella yang murung.
“Hah...”, Ella menghela nafas.
“Ini masih siang, nona.. Nafasnya sudah berat saja seperti memikirkan negara.. Kenapa?”, tanya Jun lembut.
“Ponselku tak kunjung kembali dari reparasi..”, dusta Ella. Ya tidak sepenuhnya bohong sih. Ponselnya memang belum kembali dari reparasi.

“Bagus kan?”
“Bagus apanya?”
“Kau bisa melihat dunia lebih luas..”
“Iya.. Kita memang terjebak pada masa dimana masyarakat lebih suka melihat dunia di dalam kotak kecil..”, Ella tersenyum kecil memikirkan ada benarnya juga.

“Ella..”, panggil Jun halus. “Kalau kau butuh waktu sendiri, aku tidak akan mengganggumu.. Tapi kalau kau butuh seseorang untuk mendengarkanmu, aku ada disini sekarang..”, kata Jun.
“Aku tidak pandai bohong ya?”, tanya Ella merasa dirinya ketahuan berdusta.
“Sama sekali payah..”
“Jun...”, rengek Ella melas.
“Hahahaha.. Bercanda..”

@@@@@

“Apa sih yang sedang nuna khawatirkan?”, tanya Taeyong ketika ia dan Ella sedang makan snack malam di dapur.
“Tidak.. Cuma tagihan yang menumpuk..”, elak Ella.
Nuna.. Uangmu itu segunung.. Jangan bohong deh.. Ceritakan padaku.. Siapa tahu aku bisa membantumu menyelesaikan masalahnya kan?”
“Kau? Membantuku? Kau kerasukan, Tae?”
“Aku serius!”

Ella menatap Taeyong yang tak menunjukkan tanda-tanda sedang bercanda maupun main-mainnya. Tapi hal ini tak bisa diceritakan oleh siapa pun. Bagaimana pun juga Taeyong adalah sepupu Kris. Tentu dia pasti akan sakit hati kalau mendengar saran ayahnya. Ia juga tidak bisa cerita pada Jun. Pria itu bisa tersinggung karena usulan ayah.

“Aku baik-baik saja kok..”

Tapi entah kenapa Ella juga ingin mencoba saran Sunho.

“Aku sungguh baik-baik saja..”

Setidaknya, itu yang dikatakan Ella selama beberapa waktu ini. Ia menyimpan konflik batin dan pikirannya untuk diolah sendiri. Ia terlalu sungkan meminta pendapat pada teman-temannya yang lain. Mereka pasti juga sibuk dan punya masalah sendiri yang harus diselesaikan.

“Katamu baik-baik saja.. Tapi semakin hari wajahmu semakin kendur begitu? Tidak takut penuaan dini?”, goda Taeyong saat mereka sarapan.
“Aku teratur pakai cream untuk perawatan kulit wajahku..”, jawab Ella lemas.

Taeyong menelan candaannya. Ia tidak suka reaksi yang diberikan Ella. Tidak asyik. Ia terlalu stres untuk diajak bercanda saat ini. Buktinya, sampai sekarang pun Ella tak meributkan lagi ponselnya. Sama sekali tidak.

Nuna..”, panggil Taeyong.
“Hm?”, Ella mengaduk-aduk serealnya tanpa tenaga.
“Aku ada hadiah untukmu..”

Taeyong pergi ke kamarnya, mengambil ponsel Ella yang sudah menginap di lacinya selama beberapa hari ini. Ia kemudian menyodorkan ponsel Ella ke hadapan perempuan itu.

“Ponselmu sudah sehat kembali, jajjan!”, ucap Taeyong.
“Wah.. Terimakasih, Taeyong..”, jawab Ella datar tak tertarik.
“Boleh kurusakkan lagi?”, tanya Taeyong kesal mendengar Ella tak hype seperti biasanya.

‘Ding Dong..’, bunyi bel rumah menggema di seluruh ruangan.

“Ada tamu..”, kata Taeyong.
“Hm..”, jawab Ella tak beranjak.
“Ada tamu, nuna..”, ulang Taeyong.
“Ya..”, Ella masih tak beranjak.
“Hah..”, Taeyong akhirnya yang beranjak menemui tamu di pagi hari.

Ia membuka pintu dan melihat seorang pria tampan, tidak setampan dirinya sih, sedang berdiri di depan teras rumahnya (rumah Ella), membawa satu ikat bunga kecil. Tanpa Taeyong sadari, anak itu mengamati Jun yang terlihat mempesona dalam busana casual.

“Taeyong..”, panggil Jun menyadarkan Taeyong dari lamunannya.
“Eh?! J-Jun! Ehehe.. Sepagi ini, ada apa?”
“Ah, maaf aku tidak memberi kabar mampir kesini.. Apa aku mengganggu?”
“Iya! Sudah sana pergi!”, usir Taeyong sinis.

“Taeyong, masuk..”, perintah Ella.
“Ck, ish..”, ia berdecak kesal melirik Jun yang tersenyum geli.
“Maafkan sikap anak ini ya, Jun.. Dia jablai terlalu dimanja..”
“Tak apa..”
“Silakan masuk.. Akan kuseduhkan teh..”, Ella dengan ramah dan sopan menyambut Jun masuk ke dalam rumahnya.
“Tak perlu repot..”, jawab Jun masuk mengikuti Ella. “Oh, aku membawakan bunga ini untukmu.. Maaf hanya seikat bunga..”
“Astaga! Bunganya cantik sekali..! Terimakasih..”, Ella menerimanya dengan senang.

@@@@@

“Apa yang membawamu kemari, Jun?”, tanya Ella.
“Tidak ada tujuan khusus sih.. Aku hanya ingin melihat rumah temanku yang sudah sangat baik padaku..”
“Ah, kau ini..”
“Lagipula akhir-akhir ini kau terlihat murung.. Jadi kupikir, kau butuh istirahat di rumah.. Mungkin kau terlalu lelah menemaniku..”
“Sama sekali tidak kok.. Aku hanya sedang kepikiran.. Ada undangan jamuan makan yang harus kuhadiri waktu dekat ini..”
“Kenapa mencemaskan undangan makan?”

“Penyelenggaranya Author.. Dia orang yang sangat menyeramkan dan tidak dapat ditebak! Aku sedang menyiapkan mental saja untuk bertemu dengannya..”
“Ahahahaha.. Pasti orang yang sangat menyenangkan..”

Jun melihat Ella yang tidak tertawa selepas biasanya. Ia menghela nafas.

“Mungkin aku tidak berhak meminta ini..”, katanya mendapat perhatian Ella. “Aku hanya kolega yang datang dari Jepang dan kau adalah tuan rumahnya.. Tapi waktu yang kita habiskan bersama selama ini, membuatku berpikir kalau kau adalah seorang teman yang baik..”, ujar Jun. “Aku sudah menganggapmu sebagai temanku.. Dan aku harap tidak sepihak..”

“Aku juga menganggapmu sebagai temanku, Jun.. Kau orang yang baik..”
“Terimakasih, Ella.. Sebagai seorang teman, aku harus meminta ini padamu..”
“Apa?”
“Kalau kau ada masalah, ceritalah.. Kami semua kebingungan dan merindukan Ella yang ceria.. Kalau kau tidak memberitahu kami, kami akan merasa bersalah dan tidak mampu menjadi temanmu.. Apapun masalahnya, aku atau Taeyong past iakan membantumu.. Meski hanya sekadar masukan..”

Ella tersenyum. Jun ada benarnya. Tidak ada salahnya dia cerita. Selain melegakan, dia juga bisa mendapatkan pencerahan. Baiklah.
Ketika Ella dan Jun mengobrol di ruang tamu, Taeyong yang ada di beranda lantai dua depan kamarnya, sedang bermain game baru. Tetris.

“Ah! Salah masuk! Ck.. Jadi mengganjal begini susunannya.. Sial..”, gerutunya duduk bersandar pada pagar beranda. “Eh? Ada panggilan masuk dari Kris hyung..”, ia merasakan ponselnya bergetar. “Yoboseyo? Wae?”, tanya Taeyong sama sekali tak ramah. Ia terganggu tidak bisa main!

“Hee dasar.. Aku mau tanya keadaan Ella..”, jawab Kris.
“Oh dia baik.. Sehat.. Masih makan dengan teratur..”
“Bukan itu, bocah :”)..”

“Hah, ya ya.. Aku tahu maksudmu.. Akhir-akhir ini nuna terlihat murung.. keadaannya semakin hari semakin buruk.. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai membuatnya tertekan begitu..”
“Aku sudah tanya tuan Lee.. Kondisi perusahaan juga dalam keadaan stabil dan baik.. Ia juga tidak tahu kalau Ella murung..”
“Makanya cepat pulang.. Mungkin dia jablai..”
“Aku juga jablai, Taeyong :”)...”
“Ih, ngaku.. Hahahaha..”

“Hei! Kirimkan aku foto Ella yang terbaru ya! Dia belum bisa kuhubungi.. Aku sudah sangat merindukannya..”
“Nantilah gampang..”
“Kuberi upah..”
“Mau minta berapa kali foto?”

Selesai ditelfon Kris, Taeyong hendak melanjutkan kembali gamenya. Tapi tiba-tiba sebuah ide nakal muncul di otaknya. Ia lalu tersenyum penuh arti.

“Aku kirim foto selfieku saja lah ke Kris hyung... Kekekeke.. Dia pasti kesal! Pft!”, ujarnya kemudian mengambil foto selfie dengan ponselnya. “Send..”, kemudian dikirim ke Kris.

Sepuluh foto Taeyong kini telah sampai di ponsel Kris.

“Anak ini memang butuh asupan tinjuku..”, gerundel Kris melihat hanya foto-foto Taeyong yang masuk ke ponselnya.

Baru saja Kris hendak menghapus foto-foto itu, matanya menangkap sesuatu di foto Taeyong. Bukan, bukan penampakan makhluk astral. Ini.....

@@@@@

Lima puluh kali. Lima puluh kali Kris mencoba menghubungi Ella hari itu. Taeyong juga tidak menerima panggilan darinya. Anak itu pasti berpikir ini lucu dan sedang mengerjainya.
Setiap Kris meletakkan ponsel, gagal menghubungi Ella, hatinya jadi semakin takut. Apa yang dia lakukan disana? Benarkah itu Ella yang dia lihat di foto Taeyong? Kenapa dia seperti itu?
Banyak pertanyaan yang menghinggapi kepala Kris. Ia terus mencoba untuk berpikir positif, tapi tetap saja ketakutannya membuat Kris tidak tenang.

“Permisi, Kris..”, seorang pria berjas rapi masuk ke ruangannya.
“Ada apa?”
“Ini adalah hasil rapat besar dan data laporan terakhir..”, pria itu memberikan beberapa map.
“Secepat itu?”
“Beberapa hari ini kami lembur.. Kami rasa, anda sudah terlalu lama disini.. Semakin hari anda semakin murung, kami pikir anda merindukan rumah.. Jadi kami mempercepat kinerja agar anda dapat pulang lebih awal..”, jelas pria baik itu.

Kris tersenyum lebar dan memeluk pria tersebut erat. Ia berterimakasih padanya dan pada seluruh karyawan yang telah membantunya selama disini. Yang paling melegakan adalah..

Akhirnya ia bisa pulang.

@@@@@

Apa ini? Banyak sekali misscall dari Kris. Oh, Kris! Betapa ia sangat merindukan nama dan sosok itu. Harus telfon balik.

Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, tinggalkan pesan setelah bunyi berikut

“Hmm, aneh.. Tidak aktif setelah menelfonku berulang kali?”, batin Ella.

Ella berjalan menuju ke kamar Taeyong.

“Taeyong-a..”
“Hm?”, jawab Taeyong sibuk bermain Tetris.
“Apa Kris menghubungimu?”
“Iya.. Berulang kali.. Tapi kubiarkan..”
“Apa? Kenapa dibiarkan? Dia menghubungi sampai berpuluhan kali begitu pasti ada apa-apa..”

Taeyong menghela nafas meletakkan ponselnya. Ia menatap Ella.

“Aku mengerjainya.. Dia merindukanmu dan ingin minta fotomu yang paling terbaru.. Tapi aku mengiriminya fotoku..”, jelas Taeyong.
“Pft! Hahahaha.. Dia pasti kesal sekali.. Coba kulihat foto apa saja yang kau kirim..”
“Tidak boleh! Sembarang buka ponsel orang.. Ck..”

Ella mencibir. Setelah bicara pada Jun, hatinya jadi lebih tenang dan ia bisa berpikir dengan jernih. Dan tentu saja! Dia akan membalas semua kejahilan Taeyong selama ia murung!

“Kemarikan!”, Ella merebut ponsel Taeyong dan langsung berlari keluar kamar.
Ya!!!!”, Taeyong mengejar tak terima.

Mereka kejar-kejaran mengelilingi seisi rumah. Ella tertawa puas sedang Taeyong menggerutu. Sampai di kolam renang, Taeyong berhasil menangkap Ella. Namun karena kehilangan keseimbangan, mereka berdua kemudian jatuh masuk ke dalam kolam renang.

‘Byur!’

“Ponselku!!!!!”, Taeyong mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan menatapnya khawatir. Masih menyala. “Oh, syukurlah..”, helanya lega.

‘Plak!’ ‘Plung!’

Ella yang muncul ke permukaan, tak sengaja menampik tangan Taeyong yang memegangi ponselnya. Dadah, ponsel. Selamat tenggelam sehat ya.

“OvO”, ini ekspresi Taeyong menatap ponselnya.
“Huah, segar sekali!”, ujar Ella.
“OvO”, ini masih ekspresi Taeyong.
“Taeyong-a.. Kau kenapa mematung begitu? Hei, Taeyong!”

OvO
OvO
OvO
OvO

Ponselku bagaimana.. Apa ini semacam karma?

@@@@@

Ella dan Taeyong mendekap tubuh mereka dengan handuk lebar. Mereka duduk di kursi santai pinggir kolam. Hanya terdengar suara tawa Ella yang menggelegar.

“Kau senang sekali..”, lirih Taeyong menundukkan kepala dengan ponsel basah di sebelahnya.
“Jarang-jarang aku melihatmu tersiksa! Hahahahahaha..”
“Ugh, kau...”

Awalnya Taeyong hendak menyentil dahi Ella dengan ekspresi marah, namun ketika melihat Ella tertawa dengan mata berkaca-kaca, tangannya terhenti. Ia menatap Ella yang masih tertawa dengan heran.

“Hahahahaha.. Lucu ya!”, kata Ella.
“Lucu?”
“Kehidupan ini lucu..!”

Taeyong kembali ke posisi semula. Ia mendengarkan.

“Kita diberi alam yang indah, terbentang luas di depan mata.. Tapi ketika kita sudah menemukan satu yang paling spesial, semuanya didiamkan begitu saja..”, ujar Ella. “Tak peduli apa kata orang, tak peduli bagaimana tatapan mereka, tak mempedulikan apapun asalkan orang spesial tersebut masih mengisi hatinya..”

Taeyong diam tak menjawab. Ia juga tak melihat ke arah Ella.

“Hidup itu tidak adil.. Kenapa harus ada kata cinta? Padahal cinta itu tidak memiliki definisi yang konkrit..”, lanjut Ella menatap air kolam renangnya.
“Cinta ada untuk melindungi keindahan yang ada di depan mata kita.. Dan dia harus ada.. Meskipun terkadang ia terlalu semena-mena mempermainkan perasaan manusia..”, kali ini Taeyong menatap Ella.

“Seperti ia mempermainkan perasaanku..”, kalimat itu membuat Ella menoleh. “Aku tahu aku salah kalau aku mencintai dan ingin memilikimu.. Kau adalah tunangan kakak sepupuku.. Apapun yang terjadi, suka atau tidak suka, selain menjadi adik iparmu, aku juga akan menjadi pria yang mencintaimu.. Karena itu, kalau ada orang yang mengganggu hubunganmu dengan Kris hyung, aku tidak akan membiarkannya begitu saja.. Begitu juga kalau Kris hyung bermain-main dengan keseriusanmu.. Aku tidak akan segan berdiri di depanmu..”

Tatapan Taeyong berbeda dengan tatapannya selama ini. Tatapannya dalam, penuh ketulusan.

“Taeyong-a..”
“Jangan khawatir, nuna..”, ucap Taeyong memebrikan senyumannya.

@@@@@

Bercakap dengan Taeyong, membuat hati Ella terasa begitu lega entah kenapa. Meski ia tidak menceritakan masalahnya, Taeyong seakan menyerap semua kekhawatirannya. Hal ini membuat Ella kembali menjadi Ella yang penuh dengan senyuman.

Kali ini, ia dan Jun sedang berada di sebuah resort melihat-lihat desain bangunan dan fasilitas yang ada. Tentu saja Taeyong menjadi ekornya Ella. Selain itu ia juga jadi nyamuk ._.

Nuna.. Aku ke toilet sebentar..”, ujar Taeyong.
“Ya..”, jawab Ella.

Taeyong memanyunkan bibirnya. Biasa, kalau sudah sama Jun, dia jadi begitu cuek terhadap dirinya. Hah, sudahlah. Pipis dulu.

“Akhirnya aku bisa lihat senyuman itu lagi..”, ujar Jun.
“Hahaha.. Kau ini.. Terimakasih ya.. Kau benar-benar baik..”
“Tak perlu sungkan.. Aku akan selalu ada untuk membantumu..”, Jun mengacak rambut Ella.
“Duh.. Jangan rusak tatanan rambut wanita, Jun! Pantas saja kau masih menjomblo sampai sekarang..”, ledek Ella.
“Heih, dasar.. Oh ya.. Aku punya sesuatu untukmu..”
“Hm? Apa itu?”

Jun mengambil sesuatu di sakunya. Sebuah kalung.

“Wah, cantik sekali..”, Ella terlihat menyukai model kalung yang dibawa Jun.
“Ini hadiah untukmu.. Kau mau memakainya?”
“Tentu!”
“Kau tidak keberatan kalau kupakaikan?”
“Tentu saja.. Ini kan hadiah yang kau berikan..”

Jun lalu memakaikan kalung itu ke leher Ella. Terlihat sangat pas dan coock dipakai olehnya.

“Manis sekali..”, puji Jun.
“Aha, terimakasih..”
“Hadiah ini kuberikan sekaligus untuk perpisahan..”
“Eh?”
“Aku akan kembali ke Jepang..”
“Apa? Kenapa cepat sekali? Bukankah masih ada proyek yang harus kau selesaikan dengan ayahku?”
“Akan kupantau dari Jepang.. Perusahaanku sudah membutuhkanku..”
“Yah, Jun......”

Ella cemberut sedih. Ia tak rela satu-satunya teman yang menemaninya akhirnya akan pulang ke Jepang, meninggalkannya.

“Jangan pasang wajah itu, nona.. Kita masih bisa saling mengontak..”, kata Jun.

Ella lalu memeluk Jun. Pria itu agak terkejut dengan pelukan yang diberikan Ella. Perlahan dan hati-hati, Jun membalas pelukan Ella.

“Ella..”, suara yang tak asing masuk ke gendang telinga Ella.

@@@@@

Kris menaiki anak tangga menuju ke rooftop. Barusaja tiba, ia langsung disambut dengan pemandangan yang luar biasa menusuknya.

“Ella..”, panggil Kris.

Perempuan itu melepas pelukan perpisahannya pada Jun. Ia menoleh dan melihat sosok Kris, tunangannya, pria yang paling ia rindukan, berdiri mematung disana.

“Kris!”, sapa Ella balik.

Kris menatap Jun. Pria itu adalah pria yang sama yang ia lihat dari foto Taeyong. Dia juga yang memeluk Ella di ruang tamu.

“Kau sudah kembali! Kenapa tidak beri kabar?”, tanya Ella menghampiri Kris.
“Kalau kuberi kabar, apa kau akan menjauhi pria ini terlebih dulu?”
“Eh? Apa maksudmu?”

“Ayo kita pulang..”, Kris menangkap pergelangan tangan Ella dengan erat dan kencang.
“Ah, Kris! Sakit!”, rintih Ella.

Kris tak peduli. Ia terus menarik Ella tanpa mempedulikan rintihan kesakitannya. Jun menghentikan Kris dengan menarik bahunya.

“Kau menyakitinya..”, ujar Jun melepas pegangan tangan Kris dari Ella.

Tanpa berkata apa-apa, Kris berbalik dan langsung memukul wajah Jun.

“Kris!!”, pekik Ella terkejut. “Apa yang kau lakukan?! Kau tak apa Jun?”, Ella menghampiri Jun yang terjatuh.
“Pulang, sekarang..!”, bentak Kris kembali menarik tangan Ella kasar.
“Lepas, Kris! Kenapa sih denganmu?! Kau menyakitiku!”

“Lepaskan, hyung..”

Kris menoleh dan mendapati Taeyong berdiri menangkap tangannya. Anak itu menatap Kris dengan tajam.

“Kau tidak perlu ikut campur, Taeyong.. Pulanglah.. Terimakasih sudah MENJAGA Ella selama aku tidak ada..”, kata Kris penuh penekanan.
“Kau tidak boleh menyakiti wanita.. Tak akan kuizinkan kau pergi darisini membawanya..”
“Jadi kau mau melawanku?”
“Aku sudah pernah berucap di depan nuna.. Aku akan berdiri di depannya, aku yang akan kau hadapi pertama kalau kau menyakitinya..”
“Kau menggelikan.. Kau hanya menggertak..”

Kris kembali melangkah dengan menarik Ella kasar. Taeyong pun ambil tindakan. Ia berjalan cepat kehadapan Kris dan memukulnya.

“Apa kau harus dipukul supaya sadar?!”, bentaknya.

Kris tak menjawab. Ia membalas pukulan Taeyong. Terjadi pergulatan disitu.

“Hentikan! Kris! Taeyong!!”, teriak Ella.

Mereka berdua berhenti berkelahi. Ella berjalan menatap Kris.

“Kau barusaja kembali, tidak tahu apa-apa, langsung seenaknya! Apa maumu?!”, bentak Ella.
“Tidak tahu apa-apa? Aku tahu! Aku tahu semua yang kau lakukan selama aku tidak ada, Ella!”
“Oh ya? Kau benar tahu? Lalu kenapa kau memukul Jun dan berkelahi dengan Taeyong? Kenapa kau begitu kasar terhadapku?”
“Aku tidak akan memberikanmu ke pria itu! Kau adalah calon istriku, milikku!”
“Aku bukan barang yang bisa kau miliki atau kau berikan pada siapapun!!”

Kris terdiam.

“Awalnya aku bimbang dan meragukan keseriusanmu padaku.. Tapi berkat Jun dan Taeyong! Aku yakin kalau kau adalah pria tepat untukku! Tapi sekarang apa?! Kau sendiri yang membuktikan kalau kau tidak pantas untukku!”
“Apa? Tidak pantas? Aku terus memantau keadaanmu meski aku sedang sibuk.. Tapi kau menghindariku karena ada pria lain! Kau tidak memberiku kabar, tidak menjawab panggilanku, tidak membalas pesanku, kau menambah beban pikiran dan kecemasanku! Kau pikir kau pantas untukku?!”

“Oh, baik.. Jadi aku tidak pantas karena tidak bisa menjaga kelabilan kecemburuanmu itu! Kau hanya memantauku melalui sekotak mesin canggih! Apa yang kulakukan lebih besar dari itu! Dan aku tidak butuh telfon dan smsmu! Aku butuh dirimu hadir menemaniku! Di sisiku! Tapi kau selalu pergi! Selama ini kau tidak ada disini!”
“Aku bekerja, Ella..”
“Aku juga bekerja, Jun juga bekerja, Taeyong juga bekerja, semua orang bekerja!! Kenapa kau harus memakai pekerjaan sebagai alasan kalau kau tidak serius terhadapku?!”

@@@@@

Setelah beradu pendapat dan saling meluapkan emosi, Ella pergi meninggalkan Kris dengan begitu dingin. Rasanya dingin sekali. Dari luar, dalam, ia tidak bisa merasakan tubuhnya. Jemarinya kaku, lidahnya kelu, dadanya sesak. Apa ini yang dirasakan orang ketika hatinya pecah?

@@@@@

Nuna baik-baik saja?”, tanya Taeyong melihat pergelangan tangan Ella yang merah.

Ella hanya mengangguk. Ia terdiam dengan pikiran kosong. Ia tak tahu apa yang ada di sekitarnya saat itu. Sungguh. Otaknya berhenti bekerja. Itu suara apa, itu benda apa, dan ini.. perasaan apa?

Ia ingin menangis rasanya. Kenapa ia harus ikut emosi ketika Kris emosi? Kenapa mereka harus saling membentak? Kenapa hubungan yang telah lama dijaga dengan baik, retak begitu saja? Apakah hanya segini kekuatan tali yang mengikat mereka berdua?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar