Selasa, 08 Maret 2016

CARAMEL POPPORN STORY

Eighth Bite

Rin terlihat tidak bersemangat. Ia menopang dagu melihat ke gerbang sekolah dari jendela kelasnya. Bagaimana tidak kesal? Ia kira pagi ini Rin bisa berbagi masalah dengan Taeyong. Ia pikir ia akan lega. Tapi apa? Taeyong absen. Lalu Haku? Dia juga absen.

“Hah.. Kemana sih semuanya?”, gumam Rin tak melepas pandangan dari gerbang sekolah.
“Kau menunggu jodoh?”, celetuk Ten mendekati Rin.
“Aku sudah punya jodoh..”, jawab Rin lemas.
“Kalau kau cari Taeyong-senpai.. Dia absen..”
“Aku tahu itu, Ten..”
“Ke rumahnya saja lah, kenapa repot menunggunya muncul? Dia sudah sangat terlambat untuk datang ke sekolah..”, ujar Ten santai.
“Hm..”, dehem Rin singkat.

Ten melirik mengamati gadis dengan wajah biasa itu. Bagi seorang Ten, selihai apapun wanita menyembunyikan perasaannya, mereka tidak akan bisa lepas dari mata Ten. Pria itu tahu apa yang sedang Rin pikirkan meski tak tergambar di wajah Rin. Cemas.


$$$$$


“Nakamoto-san.. Sebenarnya kau siapa?”

Yuta tersenyum lalu menatap langit. Otot punggungnya lebih rileks sekarang setelah disandarkan ke sandaran bangku taman.

“Saa na (entahlah)..”, jawab Yuta menghela nafas.

“Hei yang disana!”, suara seorang pria mengalihkan pandangan Yuta dan Hakuro.
“Taeyong-senpai..”
“Oh, Taeyong..”
“Jangan hanya oh-Taeyong, dasar tidak setia kawan..!!”, geram Taeyong mencekik Yuta dengan lengannya.
“Aduh aduh! Iya iya! Maaf..!!”, panik Yuta meronta.
“Kau meninggalkanku disana! Aku sampai bingung mencarimu kemana-mana! Ternyata kau malah asyik berduaan dengan Hayashi!”, omel Taeyong.

Yuta hanya cemberut menatap Taeyong yang melipat tangan dengan kesal.

“Eh? Betulan Hayashi ternyata..”, beberapa detik kemudian Taeyong sadar.
“K-konnichiwa..”, sapa Hakuro.
“Sedang apa kau di- oh.. Ya.. Maaf, tidak seharusnya aku tanya..”, Taeyong sedikit menundukkan kepalanya. Bodoh, untuk apa dia menanyakan hal yang ia sudah tahu? Pasti Hakuro sedih karena pertanyaan konyolnya itu.
“Tak apa.. Ngomong-ngomong, Taeyong-senpai.. Kau baik-baik saja kan?”
“Hm? Baik kok..”
“Apa kata dokter?”

“Aku harus banyak istirahat, makan teratur, minum vitamin, jogging, ya seputar itulah..”, jelas Taeyong santai. “Jangan cemas Hayashi, kemarin aku hanya kelelahan bergadang saja..”, lanjutnya.
“Eh? Lelah... Bergadang..?”, Hakuro memiringkan kepalanya heran.
“Ya.. Akhir-akhir ini aku sering bergadang tak tidur sama sekali.. Jadi ambruk..”
“Tapi kata Nakamoto-san..........”, lirih Hakuro sambil menoleh pelan ke Yuta.

Pria itu sudah terkekeh menutupi mulutnya. Wajahnya merah semua. Demi Tuhan dia sudah banyak tertawa! Keterlaluan.

“Nakamoto-san! Kau membohongiku?!!”, bentak Hakuro kesal.
“Hahahahahahahahahahahahahaha!!! Ekspresimu lucu sih!! Hahahaha, aku jadi tidak tahan ingin menggodamu!! Hahahahahaha!!”
“Keterlaluan sekali.. Ugh! Hei, tertawamu terlalu puas tahu..?!”

Taeyong dengan seulas senyum hanya bisa memiringkan kepala bingung. Apa yang dibicarakan dua manusia ini?

“Taeyong-senpai!”, panggil Hakuro masih sebal.
“Hai!”, Taeyong malah tersendat kaget.
“Nakamoto-san bilang kalau kau mengidap leukimia!! Sekarang dia sedang menemanimu check-up!!”, Hakuro mengadu.

“Kau percaya?”, suara Taeyong merendah dengan wajah serius.

“Eh..? A-apakah.. Benar..?”, Hakuro yang melihat ekspresi Taeyong pun......

“Tidaklah! Kau tertipu dua kali, Hayashi! Hahahahahahahahaha..!”, Taeyong ikut tertawa dan masuk ke lingkaran Yuta.
“Kejam sekali.. Kalian tidak adil!”, kesal Hakuro dengan wajah merah karena malu.
“Bagaimana bisa kau percaya pada kebohongan seperti itu? Dua kali pula!”, kata Yuta menghapus airmata geli yang keluar dari ujung matanya.
“Dia sungguh menggemaskan sekali! Hahahaha..”, mereka berdua pun melakukan tos keberhasilan.

Melihat Taeyong dan Yuta yang asyik menertawakannya begitu, membuat Hakuro memasang ekspresi datar. Cih.

“Aku permisi dulu..”, pamitnya datar.
“Hei hei hei, jangan marah..!”, cegah Yuta menarik tangan Hakuro dari tempat duduknya.
“Tidak ada yang perlu kulakukan lagi disini..”, ujar Hakuro masih datar.
“Kami minta maaf.. Taeyong memang keterlaluan..”, sahut Yuta.
“Yang mulai kan kau, sialan!!!”, protes Taeyong.

Hakuro diam duduk di samping Yuta. Aneh, pikir Yuta. Dalam sedetik, gadis ini berubah begitu saja. Ia saling tatap dengan Taeyong. Bukankah tadi Hakuro sempat ceria dan ekspresif? Lalu sekarang, kenapa dia diam dan melihat kekosongan lagi?

“Hayashi, aku benar-benar minta maaf.. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu cemas..”, jelas Yuta.
“Bukan..”, jawab Hakuro.
“Hm?”
“Aku tidak keberatan bercanda seperti itu..”
“Tiba-tiba kau diam, jadi aku pikir......”
“Aku memikirkan Rin..”

Rin. Nama itu membuat kepekaan Taeyong meningkat. Ia memperhatikan Hakuro.

“Dia pergi dari rumah..”
“Eh..?”

Desiran angin mengisi keheningan di antara mereka bertiga. Kenapa. Itu yang ingin Taeyong tanyakan. Tapi tak bisa. Suaranya tak mau keluar. Tak ada yang berbicara sama sekali selama beberapa saat.

“Hayashi...”, panggil Yuta. “Kau membalas candaan kami dengan hal menarik!”, lanjutnya berpose keren dengan senyum lebar.
“Eh? Bercanda?”, tanya Taeyong polos.
“Pft..! Hahahahahahahaha! Taeyong-senpai, wajahmu! Wajahmu lucu sekali!!”, kali ini Hakuro yang bisa tertawa puas. “Nakamoto-senpai memang sulit dibohongi ya!”, katanya.

Yuta tertegun seketika.

“Lho? Bohongan? Kau membalasku?! Adik kelas kurang ajar.. Awas saja kau ya! Bikin orang panik! Huh!”, Taeyong menjitak kepala Hakuro.
“Aduh, sakit! Akan kuadukan Rin lho..!”, ancam gadis itu.
“Tidak peduli..”
“Kalau kuadukan kau bergadang tidak tidur sampai jatuh pingsan, Rin pasti akan menghancurkan harddiskmu!”
“Eh jangan.. Jangan ya, Hayashi.. Nanti kubelikan ikat rambut deh.. Yang polkadot..”
“Hahahahaha, konyol sekali...!”

Taeyong akhirnya menyadari diamnya Yuta. Ia menoleh dan mendapati pria itu masih menatap Hakuro dengan mata melebar.

“Oi, kau kenapa?”, tanya Taeyong.
“Senpai..”, lirihnya.
“Hah?”, Taeyong maju mendekat untuk mendengar lebih jelas.
“Nakamoto-senpai.. Hayashi memanggilku Nakamoto-senpai!! Dia memanggilku senpai, Taeyong!!!!!!”, teriak Yuta heboh mengguncang-guncangkan tubuh Taeyong.
“Hentikan! Hentikan, baka Yuta!! Aku bisa masuk rumah sakit lagi!!!”


$$$$$


Lima puluh tujuh kali. Aku sudah menghubungi ponsel Taeyong sebanyak murid di kelasku. Tapi hasilnya nol. Aku mengirim pesan yang mungkin bisa dilaporkan sebagai tindak spaming.

“Taeyong-senpai kamu kemana?!”, teriakku dalam hati.

Aku tak peduli. Saat ini aku berjalan dengan api berkobar-kobar membakar tubuhku. Wajahku tampak sangar dan menyeramkan. Hatiku terus meneriaki Taeyong. Awas saja kalau dia muncul di hadapanku nanti. Akan kupeluk sampai tidak bisa nafas! Hah!

“Takamura, selamat siang!”, sapa Johnny lewat membawa peta.
“Siang..!”, jawabku dengan suara pria. Sial, kenapa kegeramanku keluar secara nyata dalam situasi begini.
“Eh?! Kamu kenapa kok jadi makhluk mutan?!”, Johnny agak panik disana.
“Johnny-senpai memang suka bercanda.. Aku tak apa..”, jelasku masih dalam keadaan yang sama.

Johnny hanya bisa melihatku melangkah meninggalkannya. Sweatdrop~

“Takamura-senpai..”, kali ini si malaikat Jae yang menyapa.
“Hm..”, aku menoleh dengan wajah sangar.
“Sepertinya senpai sedang semangat ya..”
“Ya, aku sudah tidak sabar membully Lee Taeyong-san..”, jawabku malah tampak semakin seram.

Oh, sial. Kenapa kekesalanku sampai tampak keluar begini sih? Oh ayolah, Taeyong adalah murid yang sering bolos. Ini bukan kali pertama ia membolos kan? Kenapa ia harus sekesal ini?

Iie.

Bukan ketidakhadiran Taeyong yang membuatku kesal. Tanpa kabar. Itulah yang membuatku sebal. Tak memberitahuku apa-apa, tiba-tiba menghilang puff.. begitu saja. Aku takut.
Ya. Ketakutanku akan kehilangan Taeyong telah membuatku marah. Pada diriku sendiri.


$$$$$


Aku, Yuta, dan Hayashi. Kami memutuskan untuk membolos bersama. Haha, bagus aku terjebak. Aku jadi pengganggu disini. Sial.

“Akan kubelikan.. Kau mau yang mana?”, tawar Yuta.
“A-aku akan beli sendiri..”, jawab Hayashi.
“Tidak, biar aku yang belikan.. Ini sebagai hadiah karena kau sudah memanggilku senpai..”, kata Yuta. Meh, kata-kata manis level dasar.
“Ja.. Aku pilih fruit milk..”, lirih Hayashi.
“Oke, rasa apa?”
“Anggur..”

Aku menatap mereka dari jarak dua ratus senti. Aku sengaja menjaga jarak ini. Kalau aku terlalu dekat, rasanya mau nangis. Aku rindu Rin, huhuhuhu. Aku juga mau bolos bareng, hah...

“Taeyong, kau tidak beli?”, tanya Yuta.
“Kalian minggir dulu..”
“Eh? Kenapa?”
“Pokoknya jaga jarak! Aku tidak mau terlihat menyedihkan berada di antara kalian.. Mengganggu kencan orang itu bukan tipeku..”

“K-kencan?!!”, mereka sama-sama memerah malu.

Fufufufu, pasangan bodoh. Aku memilih oolong tea. Saat melirik Yuta dan Hayashi, mereka tenggelam dalam kecanggungan luar biasa. Hebat, ternyata Yuta yang doyan wanita bisa juga bertingkah linglung. Ah, kepalanya kan memang kosong.

“Kalian mau kemana?”, tanyaku membuka percakapan.
“K-kau?”, balas Yuta.
“Aku mau ke toko aksesoris..”
“Kenapa kesana?”
“Hah, tentu saja beli oleh-oleh untuk Rin..”
“Kita di kota yang sama dengannya! Jangan sebut hadiah itu oleh-oleh, Taeyong!”, Yuta tiba-tiba sewot mengepalkan tangannya.
“Lho? Dia kan belum pernah melangkah ke dunia membolos begini.. Jadi kubelikan oleh-oleh dari dunia membolos bersama YuHaku couple..”, jelasku memasang tampang datar.
“Taeyong!!!!”, Yuta kembali memerah sampai ke telinganya.

Ah, dia imut sekali. Seperti menggoda anak kecil. Oh! Aku harus memikirkan Hayashi juga. Daritadi dia diam menyembunyikan wajahnya yang merah itu. Aku sudah membuatnya tak nyaman. Tapi siapa yang peduli?

“Hayashi..”, panggilku terdengar seperti ayahnya.
“H-hai!”, jawab Hayashi gugup.
“Ketika berjalan nanti, kau harus menggandeng tangan anak ini dengan erat.. Dia bisa keluyuran dan mengikuti bibi-bibi bedak tebal jika tidak diawasi..”, jelasku persis seperti seorang ayah.
“Eh?! M-menggandeng?!”
“Taeyong kamu mau mati cepat?!”, Yuta yang sekarang merahnya sampai leher mengancamku.

Nikmatnya~ Menggoda orang sensasinya memang bikin ketagihan. Fufufufu, lumayanlah. Hitung-hitung mengobati perasaanku yang terluka karena Rin tidak disini.
Ngomong-ngomong Rin, tumben sekali anak itu tidak mencariku? Aku belum sempat mengabarinya tadi. Aku merogoh saku mencari ponsel. Kempes. Saku celanaku rata.
Aku menatap saku celanaku horor. Ini pasti kesalahan. Pasti di saku lain. Aku memeriksa kedua saku jaket. Kali ini jaketku yang kutatap horor. Apa-apaan ini? Kenapa malah ada kondom bekas? Dimana ponselku?

“Taeyong.. Sudah cukup kau menatap tubuhmu dengan horor.. Aku tahu tubuhmu horor..”, kata Yuta.

Tidak tidak tidak. Ponselku pasti ada di sekitar tubuhku. Apa di dalam baju? Apa kusimpan di celana dalam? Atau kaus kaki? Apa jangan-jangan.... Kutelan. Aku menatap Yuta horor.

“Eh? A-apa?”, tanyanya.
“Ponselku.. Dimana ponselku?”
“Ponselmu, hmmm.. Tadi aku menemukanmu terkapar di lantai.. Aku langsung membawamu ke rumah sakit.. Sepertinya masih di dalam tas..”

Tas. Tubuhku lemas. Ini pasti cobaan dari Tuhan. Aku sudah melangkah terlalu jauh dari jalan kebenaran. Oh, Tuhan maafkan aku. Karena aku sudah minta maaf, sekarang kirimkan ponselku kemari Tuhan. Kumohon.

“Taeyong-senpai.. Kau baik-baik saja?”, tanya Hayashi.
“Tidak.. Aku belum mengabari Rin.. Aku tidak bisa bercakap dengannya tanpa ponselku.. Aku mau pulang..”, jawabku lemas.
“Pulang? Hah, kau gila? Tidak! Tidak boleh!”, larang Yuta. Tentu saja dia langsung melarangku.
“Aku mau ambil ponsel..”, rengekku.
“Sebentar lagi kau harus ambil obat dan melakukan beberapa pemeriksaan.. Kau tidak boleh terlalu jauh dari rumah sakit hari ini, kau tahu itu kan?”
“Tapi tapi tapi........”
“Akan kuambilkan.. Kau temani Hayashi selagi kuambilkan..”

Aku menatap Yuta. Tawaran macam apa itu? Dia mau melepas kesempatan ini begitu saja? Dia mau pergi meninggalkan Hayashi denganku hanya untuk mengambil ponselku?

“Tidak..”, tolakku cepat.
“Tidak? Nanti kau menangis meraung di tengah jalan malah.. Sudah kuambilkan, mana kunci kosmu?”
“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi dari sisi Hayashi..”
“Hah? Kau ini bicara apa?”
“Hari ini adalah hari YuHaku!! Haha!”
“Jangan bicara sembarangan!!!”

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan.. Hayashi, aku boleh pinjam ponselmu?”, aku kembali bersikap lembut.
“Tentu..”
“Akan kupakai untuk menghubungi Rin, tak apa kan?”
“Ya, pakai saja..”

Aku tersenyum lalu menempelkan ponsel ke telinga. Aih sudah tidak sabar mendengar suara Rin! Oh oh oh! Dia pasti akan mengomel dan kesal karena tidak mengabarinya. Duh, pasti wajahnya sangat imut. Ayo cepatlah tersambung~

“Halo-“
“Moshi moshi, Rin ak-“
“maaf ya aku sedang sibuk sekarang, tinggalkan pesan setelah bunyi beep”

‘Jleng....’

Balon-balon merah mudanya langsung lenyap. Shit. Aku lupa ini masih jam sekolah.


$$$$$


Rin memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung di kelasnya. Ia begitu rajin mencatat semua hal penting meski dalam keadaan tidak mood.

“Sore wa (itu).. Boku no mono da (barangku)..”

Tubuh Rin agak menegang. Suara Taeyong. Kejadian itu. Tiba-tiba kembali terputar di benak Rin.

“Akan kutambah dengan angka sepuluh supaya jadi seratus..”

Rin tersenyum. Memori indah memang tidak bisa diprediksi ya kemunculannya. Pft, tapi pertemuan dengan Taeyong waktu itu cukup menggelikan sih.

Rin berjalan menuju ke ruang guru. Ini adalah tahun pertamanya di Kaijou, tapi Rin sudah menjadi sorotan para guru. Anak itu memang pandai dan disiplin. Ketika ia berjalan mendekap bukunya dengan santai, ia melihat secarik kertas terselip di antara bunga-bunga tanaman samping bangunan.

“Hm? Ini...”

Kertas ujian. Hah?! N-n-n-nol..?

“Sore wa.. Boku no mono da..”

Rin menoleh dan mendapati seorang pria tampan berwajah asing sedang menunjuk kertas yang ia bawa. Sesaat Rin terdiam mengagumi lekuk wajah pria itu.

“Oi..”, panggil pria itu mengibaskan tangan di depan mata Rin.
“Eh! S-sumimasen.. Hai!”, Rin mengulurkan kertas tersebut.
“Arigatou na..”

Dasi kuning. Kelas dua ya? Kakak kelas ternyata.

“Oh! Kau pasti Takamura Rin, benarkan?” tanyanya.
“H-hai.. Sou desu..”, jawab Rin.
“Kau ramai dibicarakan murid Kaijou lho.. Katanya kau berhasil terpilih jadi ketua OSIS meski masih kelas satu.. Hebat ya..!”
“Arigatou..”
“Yoshh, ganbatte na.. Ja ne (dah)!”

Pria itu pergi. Rin hanya bisa menatap punggung pria itu semakin menjauh. Ahh, dia tidak sempat melihat namanya. Tapi..

“Oh ya!”, pria itu kembali mengejutkan Rin yang melamun.
“Eh! H-hai..?!”
“Soal nilai ini.. Jangan beritahu siapa-siapa ya..”
“Hn..?”
“Akan kutambah dengan angka sepuluh supaya jadi seratus.. Ini adalah rahasia kita..”
“Rahasia..?”
“Mohon kerjasamanya, Takamura-san..”
“Hai...”, jawab Rin.

Lee Taeyong. Pria keturunan Korea dengan wajah tampan dan senyum sejuk itu namanya Taeyong.
Sekali dua kali tiga kali berkali-kali Rin berharap bisa bertemu lagi dengan kakak kelasnya. Terkadang ia berpikir mungkin sekarang Rin sudah menjadi orang yang serakah. Tapi tidak salah kan berharap bisa bertemu dengan Taeyong lagi?

“Pst..”

Rin membalikkan badan.

“Taeyong-san.. Kenapa kau bersembunyi di balik sampah?”
“Aku sedang main petak umpet dengan temanku.. Cepat kemari, nanti ketahuan..!”

Rin menurut saja. Ia ikut bersembunyi di sebelah Taeyong. Kalau dpikir-pikir, kenapa ia jadi terseret ke permainan anak SD begini?

“Eee.. Taeyong-san, aku akan ke-“
“Kekekekekekeke..”, Taeyong menahan kekehan gelinya.
“Taeyong-san?”
“Ah, maaf.. Aku selalu ingin tertawa kalau melihat wajah konyol temanku disana itu..”
“Maksudmu Nakamoto Yuta-san?”
“Kau kenal?”
“Dia cukup mencolok dengan kepopulerannya di klub band..”
“Heee.. Sou ka?”
“Ya.. Meski klub band populer begitu, aku tetap tidak begitu suka..”
“Kenapa?”
“Mereka klub yang sangat tertutup dan sombong sekali.. Aku lebih suka klub dance.. Mereka mau menerima semua murid tanpa terkecuali, berjuang bersama, dan mengajari sampai bisa.. Bukankah lebih mulia?”

Rin akhirnya sadar kalau Taeyong mengamati wajahnya. Ia pun agak kikuk sendiri disana. Tatapan Taeyong terlalu intens!

“A-apa ada yang salah..?”, tanya Rin.
“Tidak.. Aku hanya sedang mengingat-ingat wajahmu yang tertidur pulas.. Sepertinya agak beda dengan wajahmu sekarang..”
“Eh?! Taeyong-san! K-kapan.. Kapan kau melihatku tidur?!”, Rin jadi panik mendengar pernyataan Taeyong.
“Hahaha, sudah kuduga.. Murid teladan sepertimu, tidur di tengah pelajaran Kakihara-sensei, pasti akan gawat kalau sampai ada yang tahu..”

Rin menggigit bibir bawahnya takut. Ah, ini bisa merusak imagenya.

“Tenang saja.. Hanya aku saja yang tahu..”
“Eh? Hanya.. Taeyong-san..?”
“Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa.. Ini akan jadi rahasia kita berdua..”

Lagi-lagi senyum itu. Senyum manis menyejukkan. Entah kenapa jika melihat Taeyong tersenyum, Rin juga ingin tersenyum.
Sejak permintaannya untuk bertemu Taeyong dikabulkan, Rin jadi semakin penasaran. Ia terus memperhatikan Taeyong di tengah kesibukannya di OSIS maupun di kelas.

“Wajahnya tidak punya banyak ekspresi.. Kalau sedang diam datar hawanya seperti orang serius yang marah.. Tapi kalau senyum... Ah!!! Tidak adil! Senyumnya bisa membuat bunga bermekaran!”, pikir Rin di tengah pelajaran berlangsung.

Suatu hari, Rin tak melihat Taeyong sama sekali. Ia pikir Taeyong absen. Tapi salah. Ketika ia sedang meninjau gedung lama yang dipertahankan oleh para alumni, ia melihat Taeyong.
Dia sedang tertidur di taman belakang gedung lama itu. Rin memberanikan diri untuk mendekat. Wah, wajahnya juga masih tampan dalam keadaan pulas begini. Damai dan tenang sekali sih, seperti bayi.

“Eng.. Beri aku blowjob..”

...

Hai?
M-mengingau? A-apa yang dia mimpikan di siang bolong seperti ini?! Kenapa ada blowjob segala?!

“Hng? Tidak mau pakai kondom? Hehe.. Rasa strawberry......”

Taeyong-san bangun!!!!!!!!!!
Wajah Rin merah padam. Ia menggeleng cepat.

“Tae-taeyong.. san..”, panggil Rin sedikit mengguncangkan tubuh Taeyong.
“Hm..?”, pria itu membuka mata.
“Jangan tidur disini.. Kau bisa sakit..”
“Hoaammmm.. Mimpiku indah sekali..”, ujar Taeyong bangkit duduk.

Itu mimpi yang aneh, please!!

“Ano.. Apakah Taeyong-san sering kesini sendirian?”
“Tentu.. Aku suka daerah yang sepi.. Aku bisa tidur dengan tenang..”
“Kenapa tidak di ruang kesehatan saja?”
“Bahaya.. Kalau sedang tidur, aku sering mengigau..”

Angin berhembus membuat rambut mereka menari gemulai. Hening beberapa detik untuk mencerna situasi.

“Kau... Mendengarku mengigau..?”, tanya Taeyong mendapat sekali anggukan kepala Rin.

Taeyong membuang muka. Wajahnya perlahan merah karena malu.

“Itu.. Anu.. Eee...”, Taeyong mencoba mencari kata tepat di benaknya.
“Pft..”
“Hm?”
“Hahahahahahahaha, Taeyong-san lucu sekali! Bisa-bisanya memimpikan hal berbahaya di sekolah! Gawat kalau sampai ada yang tahu.. Pft, hahahahahahaha!”, Rin tertawa keras disana.
“Kenapa kau malah tertawa?”
“Habisnya lucu! Baru kali ini aku mendengarkan igauan seperti itu! Hahaha..”
“Kau.. Tidak takut padaku?”
“Eh? Takut? Kenapa harus?”, Rin duduk di samping Taeyong.
“Para gadis biasanya akan langsung menjauhiku setelah mengetahui hal ini.. Mereka akan melarikan diri dalam keadaan canggung..”

“Heee, kejam..”
“Kau sendiri? Apakah kau tidak merasa aneh dan menganggapku mesum?”
“Tentu saja tidak.. Blowjob, kondom rasa strawberry, itu adalah hasrat normal yang dilalui para remaja terutama kaum laki-laki.. Lagipula aku ada juga karena seks dari orangtuaku.. Ya kan?”

Taeyong menatap Rin dalam diam. Ia tertegun.

“Aku ini pandai juga lho pada pelajaran biologi..”
“Takamura..”
“Hm?”
“Ayo kita jadian..”

Waktu itu, aku tidak bisa berpikir kenapa tiba-tiba Taeyong memintaku untuk jadi pacarnya. Aku pikir ia hanya bercanda dan ingin menggodaku. Aku juga tidak tahu kenapa kepalaku refleks mengangguk secara otomatis ketika aku menatap matanya. Tapi aku tidak menyesal. Semua pradugaku juga terpatahkan ketika Taeyong menjadi kekasihku.
Dia benar-benar serius denganku. Dan perasaanku, tidak hanya sekadar simpati sementara. Kami saling mencintai. Dan cinta itu semakin berkembang dari waktu ke waktu. Banyak rahasia yang kami bagikan satu sama lain. Hobi aneh kami, keluargaku, dan jati diri asli kami.


$$$$$


Taeyong menatap sebuah phone-strap couple dengan kosong. Ia masih tenggelam dalam kehampaan hati. Waktu rasanya berjalan lebih lambat. Kapan dia bisa menghubungi Rin? Kapan kapan kapan kapan kapan?????

“Ano.. Nakamoto-senpai.. Apakah tak apa membiarkan Taeyong-senpai berkeliaran sendirian?”, tanya Hakuro melihat Taeyong mengadahkan kepala protes pada dunia.
“Diamkan saja.. Efek sakit..”, jawab Yuta singkat.

Hakuro tersenyum geli. Taeyong mirip dengan Rin. Di luar mereka sangat kuat dan kokoh, tapi sebenarnya mereka hanya bayi yang manja dan butuh kasih sayang. Hahaha.
Ah, Rin ya. Memikirkannya, Hakuro menundukkan kepala. Yuta melirik ke arah Hakuro. Ia lalu kembali mencari aksesoris di etalase kaca.

“Boleh aku melihatnya?”, pinta Yuta ke penjaga toko.
“Silakan, tuan..”
“Oi, Hayashi.. Kemari sebentar..”

Hakuro berjalan mendekat. Tubuhnya menegang begitu cepat ketika Yuta memasangkan kalung di lehernya. Jaraknya tadi dekat sekali! Dia bahkan bisa mencium aroma parfum Yuta!

“Wah, kalung itu cocok sekali dipakai nona ini..”, ujar penjaga toko.
“Tentu saja kau akan bilang cocok, kan ini barang daganganmu.. Coba ambilkan yang itu..”, Yuta meminta model lain karena ia tidak puas dengan kalung yang ini.
“Baik, tuan..”

Setelah mendapat kalung yang ia minta, Yuta kembali memasangkannya pada Hakuro. Gadis itu masih mematung di tempatnya tak bergerak sesenti pun.

“Hhmm.. Hayashi memang cocok dengan sakura ya! Hahaha.. Paman, aku ambil kalung yang ini.. Berapa?”
“Yang itu empat puluh ribu yen..”

Hakuro dengan cepat menoleh menatap paman penjaga toko itu dengan sangat kaget. Empat puluh ribu yen?! Mahal sekali!!

“Kemahalan.. Beri diskon, aku masih pelajar..”, kata Yuta.
“Iya iya, akan kudiskon.. Tiga puluh sembilan ribu yen..”
“Nah, terimakasih atas diskonnya..”

Cuma dikurangi seribu yen! Ini masih terlalu mahal!!

“N-nakamoto-senpai!”, panggil Hakuro akhirnya bisa bersuara.
“Hm?”
“T-tidak usah membelikanku kalung ini..”
“Lho? Kau tidak suka?”
“Suka sih.. Tapi ini mahal sekali..”
“Paman ini sudah memberi diskon, jadi tak apa..”
“Tapi Nakamoto-senpai, diskonnya tidak tulus begitu..”
“Suka tidak suka, mau tidak mau, akan tetap kubeli..”
“T-tapi..”
“Ini hadiah..”
“Hadiah.. Untuk?”
“Entahlah.. Aku hanya ingin memberimu hadiah.. Apa butuh alasan?”

Kalau alasannya seperti itu beli yang lebih murah saja kenapa sih? Ini terlalu mahal, tidak mungkin Hakuro tega menghabiskan uang tabungan Yuta hanya karena kalung ini.

“Lagipula bukankah kau suka sakura?”
“Eh? Y-ya.. Darimana-“
“Hayashi baunya sakura sih..”

Barusaja Hakuro bisa bergerak, ia kembali terpaku. Apa Yuta mencium aroma tubuhnya? Bisa-bisanya bicara seperti itu.

“Eh? Bunyi apa itu? Dug dug dug begitu..”, Yuta menatap ruangan mencari asal suara.

Apa dia tidak tahu kalau jantung Hakuro sudah berlomba? Tapi tidak mungkin Yuta sampai dengar kan?

‘Duk duk duk duk duk’, suara itu memang terdengar. Tapi bukan dari jantung Hakuro.

“Yuta!!!!”, teriak Taeyong (si biang suara dukduk) berlari mantap menerjang Yuta.
“Taeyong apa yang- Uwah!!!!!”, Taeyong melompat ke gendongan Yuta.
“Aku pinjam uangmu besok pasti akan kukembalikan aku mau beli ini tapi uangku untuk beli obat jadi kumohon pinjami aku uangmu dulu ya ya ya ya ya ya!!!!”, begitu cepat penjelasan Taeyong :’)
“I-iya.. K-kau cepat turun.. K-kau berat.. K-kau mencekikku..”, Yuta kehabisan nafas saking eratnya pegangan Taeyong.
“Yatta (hore)! Terimakasih! Kau memang sahabatku!”

“Taeyong-senpai beli apa?”, tanya Hakuro mengikuti Taeyong ke kasir yang ada di belakang Yuta.
“Gelang kaki untuk Rin..”
“Wah, kawaii!”
“Hehe! Hiasan kepala-kepala kucing ini akan selalu menerornya..! Hahahaha..”, Taeyong tertawa jahat.
“Meneror Rin? Kenapa?”
“Dia akan selalu ingat kalau dia pernah pakai kostum pelayan kucing.. Dan lagi, kakinya Rin itu besar.. Pasti akan semakin seru untuk menggoda Rin dengan membelikan gelang kaki..”, bisik Taeyong.
“Pft..! Jahat sekali.. Hahaha..”

Taeyong menatap gelang kaki yang ia beli, meski hutang dulu sama Yuta. Ia tersenyum disana.

“Hmm, hari ini tidak ada yang spesial.. Apa aku bolos saja?”

Taeyong berjalan santai sambil memikirkan niatan buruk.

“Ah, atau kutemui Takamura saja? Tapi dia kan ketua OSIS pasti sibuknya bukan main..”

Kejadian yang terekam baik di otaknya sampai saat ini pun kembali terputar. Kejadian dimana sebuah rahasia kembali mengisi tabungan hubungan Taeyong dan Rin.

“O-oi.. Takamura.. Kau, kenapa..?”, tanya Taeyong agak tertegun.
“Tinggalkan aku.. Aku tidak ingin kau melihatku sekarang..”, jawab Rin dengan suara parau.

Saat itu, untuk pertama kalinya Taeyong melihat Rin menangis. Ia benar-benar menangis tak bisa berhenti di sudut gudang penyimpanan alat olahraga. Taeyong berjalan mendekat lalu ikut duduk di samping Rin dalam diam. Ia hanya menemani Rin disana. Suara isakan dan tetesan air mata Rin adalah penguasa ruangan disitu.

“Kenapa..”, ujar Rin. “Kenapa kau tidak bicara apa-apa?”
“Karena aku tidak mengerti bahasa air mata.. Jadi aku tidak tahu bagaimana aku harus bicara padamu saat ini..”
“Aku kesal pada diriku..”, kata Rin masih tak menatap Taeyong. “Kenapa aku selalu menyesali keputusanku? Aku menyesal telah membenci ayahku.. Tapi aku juga menyesal telah menyayanginya.. Aku menyesal telah memikirkan untuk pergi dari rumah.. Tapi pada akhirnya aku juga menyesal kenapa aku tidak melanjutkan niatan itu..”, jelas Rin.

Taeyong masih terdiam mendengarkan Rin. Ia juga tak memberikan tatapan iba ke Rin. Taeyong justru menatap lantai.

“Aku sudah berusaha sebaik mungkin melampaui batasku sendiri.. Tapi ayah tetap membelakangiku.. Aku ingin dia memberikan perhatiannya padaku.. Sehari saja, tidak, hanya sejam pun juga tak apa.. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk menyalurkan perasaanku padanya..”

Rin menatap Taeyong dengan wajah basah dan mata merah. Ia masih sedikit terisak disana. Taeyong tersenyum sambil menyeka air mata Rin dengan jemarinya.

“Mulai sekarang, lakukanlah yang terbaik demi diriku.. Dan berjuanglah untuk dirimu sendiri..”, ujar Taeyong. “Orang yang memunggungimu tentu akan berbalik dengan sendirinya untuk melihat sinar terang di belakangnya..”
“Berjuang demi dirimu dan.. diriku?”
“Ya.. Maka dari itu apapun hasilnya kau harus puas, karena itu adalah usahamu.. Kau tidak akan menyesal..”

Rin menatap mata Taeyong yang menatapnya dengan tenang. Ia tersenyum lalu mengusap wajahnya agar segar kembali.

“Terimakasih, Taeyong-senpai.. Oh ya, kau tahu?”, tanya Rin dengan nada lebih ringan.
“Apa?”
“Kau adalah orang pertama yang melihat air mataku..”
“Heee, omoshiroii (menarik).. Kalau begitu seharusnya kupotret ya.. Hmmm..”
“Dame yo (tidak boleh)! Jadikan ini rahasia antara kita saja.. Ya?”

Senyum Taeyong lebih lebar. Ia mengusap kepala Rin dan mengangguk. “Tentu..”


$$$$$


Rin mengecek ponselnya setelah kelas usai. Ada sebuah panggilan tak terjawab disana. Dari Hakuro.

“Hm?”, ia pun menghubungi Hakuro balik.
“Moshi moshi, Haku?”
“Ah, Rin..”
“Ada apa menelfonku? Oh ya! Kenapa kau tidak masuk? Apa kau sakit? Kau baik-baik saja kan?”
“Aku menjenguk ibu, Rin.. Aku baik-baik saja kok.. Sebenarnya yang menelfonmu adalah Taeyong-senpai..”
“Taeyong... Senpai?”
“Un..! Taeyong-senpai, ini Rin.. Bicaralah..”

“Woh, itu Rin? Nice! Halo, Rin! Ah, akhirnya aku bisa menghubungimu! Hahaha..”, Taeyong terdengar riang secara maksimal.
“Harusnya aku yang bilang begitu!!!! Aku sudah mencoba untuk menghubungimu berulang kali!!!!”, bentak Rin geregetan.
“Ah, itu.. Ponselku ketinggalan.. He he he..”
“He? Memang kau kemana? Kenapa absen?!”
“Aku menemani Yuta..”
“Nakamoto-senpai? Kenapa?”
“Dia leukimia, jadi kutemani check-up di rumah sakit.. Lalu kami bertemu Hayashi dan memutuskan untuk bolos bersama.. Aku bawakan oleh-oleh untukmu lho!”
“Bukan waktunya senang!!! Apa maksudmu Nakamoto-senpai leukimia? Kau jangan main-main denganku ya!”
“Ah, Rin memang susah dibohongi.. Hahahaha.. Aku bangga sebagai pacarmu..”
“Taeyong-senpai..!! Huh! Lalu sebenarnya kenapa kalian absen? Kemana???”
“Eeemmmm.. Rahasia!”
“Hah? Rahasia??”
“Sudah ya, Rin! Nanti kukabari lagi! Baibai~”
“T-tunggu, Taeyong-senpai!!”

Hubungan pun terputus. Rin menatap ponselnya dalam diam. Kenapa rahasia? Kenapa kata itu harus meluncur dari mulut Taeyong? Kenapa ia menyimpan rahasia darinya?

“Tidak.. Aku tidak boleh berpikir macam-macam..”, batin Rin menggeleng-gelengkan kepalanya agar sadar.

Tapi... Ini pertama kalinya Taeyong merahasiakan sesuatu dari Rin. Kenapa?


$$$$$


Taeyong menatap ponsel Hakuro sejenak. Rahasia. Seratus persen Taeyong mengatakannya tepat di telinga Rin. Taeyong menghela nafas lalu berbalik dan mengembalikan ponsel tersebut ke pemiliknya.

“Terimakasih, Hayashi..”, ujar Taeyong.

Pria itu lalu melangkah menghampiri perawat yang sudah menunggunya di ambang pintu ruang praktek dokter.

“Kalian jalan-jalan saja.. Jangan tunggu aku..”, kata Taeyong.
“Aku akan tunggu sampai selesai.. Jangan cerewet cepat masuk!”, sahut Yuta tegas.

Sepeninggalan Taeyong, Yuta kembali duduk di sebelah Hakuro. Mereka hening tak tahu harus bicara apa.

“Taeyong-senpai.. Akan baik-baik saja kan?”, tanya Hakuro.
“Dia sedang mengusahakannya.. Jangan khawatir..”, jawab Yuta.

Lelucon? Bercanda? Tipuan? Taeyonglah yang tertipu.

“Tapi anak itu pasti tak ingin siapa pun tahu tentang penyakitnya.. Mungkin dia akan mengomeliku setelah ini karena sudah menceritakannya padamu..”, kata Yuta.
“Taeyong-senpai pasti sangat tersiksa..”
“Dia mungkin akan mengangkat topik lain untuk menutupi rahasianya itu.. Jadi, Hayashi.. Ikuti saja dia.. Ya..?”, pinta Yuta menatap Hakuro yang juga menatapnya.
“Hai..”

Orang bodoh mana yang percaya kalau Taeyong hanya kelelahan karena bergadang? Dengan keadaan seperti itu, bisa-bisanya dia masih tertawa dan menjaili temannya. Taeyong sanggup tersenyum.

“Setelah ini akan kuantarkan kau pulang..”, kata Yuta menoleh ke arah Hakuro.
“Tidak perlu, Nakamoto-senpai.. Aku bisa sendiri..”
“Dame.. Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri..”
“Kau sudah sangat baik padaku hari ini.. Membelikan minuman, kalung, dan berbicara padaku.. Kalung ini, pasti akan kuganti..”
“Hah? Kau bercanda? Aku kan sudah bilang itu hadiah.. Kenapa diganti?”
“Tidak adil, Nakamoto-senpai.. Pokoknya akan kuganti..”
“Hmmm, baik gantilah.. Tapi aku tidak terima uang..”
“Eh?”
“Besok.. Bawa dua bekal.. Aku ingin kau makan bersamaku..”


$$$$$


Aku merebahkan diri di kasur kamar hotel ini. Aku sedang berpikir. Sampai kapan aku akan tinggal disini? Apakah sampai ayah menemukanku? Atau sampai tabunganku habis?
Aku mengecek ponsel. Ayah, nenek, bibi, paman, sampai kepala pelayan, semuanya menghubungiku. Repot juga sih, baterai ponselku jadi cepat habis karena panggilan mereka yang tak berhenti-berhenti.

“Ternyata mereka punya hati juga untuk memikirkanku.. Heh..”, ucapku tersenyum simpul.

Hari ini aku memikirkan banyak hal diluar kegiatan sekolah. Pertama, Haku. Dia tidak muncul di sekolah, tidak memberiku kabar, apa dia marah padaku? Kedua, Taeyong. Sampai sekarang dia belum menghubungiku lagi. Apa yang dia lakukan? Dimana dia? Pada siapa aku harus bercerita masalahku?

“Tunggu.. Aku tidak bisa beritahu Taeyong-senpai.. Dia bisa mengomel memarahiku.. Dan ini akan membuatnya cemas.. Aku tidak suka itu..”, pikir Rin duduk di pinggir kasur.

Tapi bukankah tadi dia bersama Haku? Apakah Haku cerita? Sepertinya tidak. Buktinya Taeyong masih berbicara dengan nada ceria begitu. Ah aku penasaran mereka kemana!!! Sialan pakai main rahasia segala! Curang sekali!!!
Aku memukuli bantal empuk tak berdosa di atas kasur ini. Setelah puas, aku mendekapnya. Menenggelamkan wajahku disana. Bau hotel. Bantal ini tidak bau Haku. Tidak bauku. Dan yang pasti tidak bau Taeyong.
Aku merasa sangat asing di kamar ini. Sejujurnya, tanpa Taeyong dan Haku hari ini, aku merasa sangat berbeda. Aku pikir aku akan menjadi gadis yang lebih lega dan bahagia bisa keluar dari rumah. Tapi....

“Aku kembali dilema.. Taeyong-senpai.. Sepertinya aku kembali menyesali keputusanku..”, gumam Rin.

Barusaja aku hendak tiduran, bel kamarku berbunyi. Dengan malas aku berjalan ke pintu dan melihat siapa yang datang dari intercom.
Mataku membulat sempurna, lidahku kelu seketika, tubuhku menegang dan terpaku.

“Ayah...”


$$$$$


Kediaman Takamura. Disinilah aku sekarang. Tanpa Rin, aku tidak bisa menyebut bangunan ini sebagai rumah. Ini adalah kediaman Takamura.

“Dasar anak sialan.. Bisa-bisanya dia tidak mau memberitahu keluarga Rin kemana anak itu pergi..”, bisik wanita berbibir merah berambut pendek.
“Dia memang tidak tahu diuntung.. Sudah baik kakak membantu pengobatan ibunya.. Kakak juga merawatnya dengan adil! Tidak tahu malu!”, tambah wanita lain yang tampak lebih muda.
“Untung adik ipar punya channel yang bagus.. Jadi bisa menemukan putrinya dengan cepat tanpa bantuan anak sialan itu!”, sahut pria berjas rapi dengan mata sipit.
“Makanya ibu tidak pernah mengizinkan Yoshiko memasukkan para Hayashi itu ke keluarga Takamura.. Mereka tidak layak sama sekali bersanding dengan kita..”, timpal wanita tua yang diketahui sebagai nenek Takamura.

Tuli adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untuk menghadapi mereka. Aku harus ke dapur menyiapkan bekal untuk besok kubawa. Aku bisa saja beli, tapi Nakamoto-senpai sudah sangat baik. Jadi akan kuturuti permintaannya itu.

“Kau mau kemana malam-malam keluar dari kamar, hah?”, tanya bibi Michiko, adik paman Takamura.
“Saya mau ke dapur..”, jawabku menundukkan kepala sopan.
“Ke dapur malam-malam, kau mau membakar rumah?”, kali ini kakak paman Takamura, bibi Aiko yang menanyaiku.
“Saya hendak menyiapkan bekal untuk besok.. Mohon izinkan saya untuk memakai dapurnya sebentar..”, pintaku menundukkan kepala lebih dalam.
“Memakai dapur untuk membuat bekal? Kau pikir kau bisa seenaknya memakai bahan-bahan itu? Sudah menumpang, gratis, tidak tahu diri, masih seenaknya saja! Sadarlah dengan posisimu!”, paman Ryosuke, suami bibi Aiko, benar-benar melarangku dengan nada keras.
“Tapi saya ada janji yang-“

“Omong kosong..”, sela nenek datar.

Mulutku terdiam tak berani bersuara. Nafas pun sedikit kutahan. Oh, tidak. Nenek Takamura begitu menyeramkan. Kata-katanya sangat tajam dan menusuk. Aku tidak tahu harus mengontrol hatiku dengan cara apa kalau nenek Takamura marah.
Aku mendengar suara langkah sepatu kulit jutaan yen milik nenek mendekatiku. Tubuhku agak gemetar dalam sedetik. Aku meremas tanganku meredam ketakutan.

“Aku tidak akan membiarkan sampah sepertimu mengotori dapur mahal mendiang menantuku.. Aku tidak tahu gen apa yang membentukmu.. Ah, tentu saja gen tidak berguna keluargamu.. Ayah tidak bertanggungjawab yang melarikan diri dari keluarganya sendiri.. Dan ibu murahan yang menggoda pria-pria kaya..”

Mata, wajah, kepala, dan dadaku panas. Begitu sesak. Rasanya aku tidak bisa bernafas sama sekali. Nenek menarik daguku mengarahkan wajahku untuk menatap wajahnya yang bersih tanpa noda.

“Asal kau tahu saja.. Kalau tidak karena kuasa hukum yang konyol itu, kau dan ibumu sudah mati di tanganku..”, ucap nenek dengan nada kalem.

Aku menangis. Airmataku akhirnya mengalir saat aku menatap nenek. Setelah ia melepas pegangannya pada daguku, aku langsung berlari masuk ke kamar. Aku takut. Rin, aku sangat takut. Aku tidak bisa kuat seperti perkataanmu. Rin..


$$$$$


“Rin.. Ayah tahu kau di dalam.. Cepat buka pintunya..”

Aku masih berdiri mematung di tempatku. Ah, benar. Ayah adalah orang yang patut ditakuti karena kekuasaannya. Aku terlalu naif berpikir bisa lepas dari ayah begitu mudah. Ha ha.
Aku meraih gagang pintu dan membuka kuncinya. Dapat kulihat dengan jelas sosok ayahku berdiri tegak menatapku dengan kedua matanya. Belum-belum sorot matanya sudah membuatku tidak nyaman. Apa dia akan menyeretku pulang dengan kekerasan? Tapi aku tidak melihat bodyguard di sekitarnya.

“Rin..”, panggil ayahku dengan suara pelan.
“Aku tidak mau pulang..”, potongku tanpa menatap ayah.

Tiba-tiba bukan tamparan atau bentakan yang kudapat. Melainkan sebuah pelukan. Pelukan yang... tak pernah kurasakan.
Aku terkejut sampai jantungku rasanya mau lepas. Aku baru sadar ternyata dekapan seorang ayah berbeda dari dekapan kekasih. Pelukan ayah begitu besar dan bisa menyelimuti badanku.

“A-ayah...”
“Kau pasti kecewa dan ketakutan selama ini.. Ayah sudah meninggalkanmu sendiri dalam waktu yang sangat lama.. Ayah hanya baik dalam bekerja, tapi ayah sangat buruk dalam mempertahankan senyumanmu.. Ayah sudah melanggar janji ayah pada ibumu.. Ayah minta maaf, Rin..”

Aku baru tahu kalau suara ayah ternyata semerdu ini. Suaranya rendah dan halus. Kapan terakhir aku mendengar nada seperti ini? Tanpa kusadari ternyata air mata sudah membuat jejaknya di kedua pipiku.

“Ayah tidak tahu ternyata selama ini kau begitu menderita.. Ayah pikir dengan bekerja keras dan memberimu sarana berlebih, kau akan bahagia.. Pikiran ayah terlalu sempit ya?”

Suaraku hilang. Bahkan hanya untuk mengucapkan ‘ayah’ saja sangat sulit. Tatapan ayah lebih lembut dari biasanya. Itu yang membuatku tercengang sampai kehabisan kata-kata. Aku terus menatapnya memperhatikan ekspresi yang sama sekali belum pernah kulihat di wajah ayah.

“Setelah kau pergi dari rumah.. Ayah akhirnya sadar kalau perbuatan ayah itu salah.. Ayah mohon, Rin.. Jangan tinggalkan ayah.. Jangan pergi dari sisi ayah seperti ibumu meninggalkan ayah..”

Ah, sou desu ne (begitu ya). Melihat wajah ayah yang sangat menyesal dan hampir menangis, membuat ku tersadar akan sesuatu. Kita berdua sama-sama takut. Dibalik figur kerasnya ayah, sebenarnya dia ketakutan sepertiku.

“Ayah..”, aku memanggilnya dengan kepala tertunduk. “Maukah kau memelukku lagi?”, pintaku masih tak menatapnya.

Tanpa berpikir ayah langsung memelukku. Hatiku rasanya sakit. Bukan karena luka, tapi bahagia.

“Sebelum meninggal ibu pernah bilang padaku.. Aku tidak boleh menangis sembarangan..”, kataku di dekapan ayah. “Aku hanya boleh menangis di tempat sepi atau.....”, aku menggantungkan kalimat membalas pelukan ayahku sejenak. “Di pelukan ayah..”

Aku menangis menumpahkan semua kesedihanku. Aku sudah tidak menghitung berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Aku tidak peduli mataku akan sembab atau isakanku akan menghalangiku untuk bicara lancar. Aku hanya menangis dan menangis disini. Terus menangis sembari ayah membelai kepala dan menepuk punggungku seperti menenangkan anak kecil.


$$$$$


Yoshiko, ayah Rin, tak datang untuk menjemput putrinya. Dia justru datang memberi waktu sendiri untuk Rin. Lagipula Rin juga tidak berniat untuk kembali ke rumah terlebih dulu. Ia memang butuh waktu sendiri, terlepas dari keluarga Takamura. Dan yang paling penting, Yoshiko sama sekali tidak menyinggung masalah perjodohan untuk mempererat hubungan kerjasama perusahaannya.
Saat ini ayah-anak itu sedang menikmati langit malam yang bertabur bintang di beranda kamar Rin.

“Kapan-kapan kau harus membawa anak bernama Taeyong itu ke rumah.. Kenalkan ayah padanya.. Ya?”, ujar Yoshiko dengan nada menggoda.
“Nanti ada waktunya..”, jawab Rin belum siap menunjukkan sosok kekasihnya yang kurang se-ons.
“Hah.. Ibumu pasti ikut tidak sabar di atas sana.. Dia pasti akan menjadi orang paling antusias untuk melihat kekasih Rin..”
“Iya juga ya.. Hahaha..”

“Ayah..”, panggil Rin.
“Hm?”
“Maafkan aku..”, kalimat itu membuat Yoshiko menoleh. “Sekarang ayah harus memikirkan cara lain untuk membangun hubungan kerja dengan perusahaan besar yang menjadi incaranmu selama bertahun-tahun..”
“Kau mengkhawatirkan perusahaan ayah?”
“Tentu saja.. Pekerjaan ayah adalah hal yang paling kau sukai..”
“Hahaha, kau tidak usah khawatir.. Ayah dengar putra pemilik perusahaan itu kabur dari rumah..”
“Hah? Kabur? Lalu kalau aku setuju, berarti aku hanya menikahi nama putra mereka saja?”
“Sepertinya begitu.. Tapi ini masih rumor.. Ayah belum mengecek kebenarannya..”
“Wah.. Ngeri..”
“Begitulah.. Kau tidak perlu khawatir.. Pasti ada cara lain..”

“Oh ya, ayah..”
“Ya?”
“Haku... Apa dia baik-baik saja di rumah?”
“Sepertinya baik.. Kenapa?”
“Aku juga mengkhawatirkan Haku.. Dia sedikit, eee, pemalu dan penakut..? Dia sering dibully juga..”, ucap Rin ragu.
“Nanti biar ayah urus.. Ayah akan menugaskan beberapa orang untuk menjaganya agar tidak dibully..”
“Eh? Maksud ayah bodyguard?”
“Tentu saja!”

Awalnya Rin hendak melarang ayahnya berbuat sejauh itu. Tapi.... Menempatkan bodyguard untuk melindungi Hakuro? Kenapa tidak? Pasti akan menarik. Haha, Nakamoto-senpai~ Hati-hatilah mulai sekarang.


$$$$$


Ah sial. Kutaruh dimana obatku? Di saku jaket? Atau di atas meja makan? Ah, sakit! Kepalaku perih sekali. Duh, tubuhku perlahan juga melemas begini. Mana obatku?
Saking tak bisa mengontrol tubuhku sendiri, aku tak bisa menghindarkan menabrak dan menjatuhkan barang-barang yang ada di kamarku. Suara berisik ini pasti akan membuat Yuta terbangun.

“Taeyong!”, benar kan kataku.
“Yuta.. Obat..”, kataku mengusahakan kalimat.

Dengan sigap Yuta meraih kotak obat di dekat meja makan. Ia mengambilkan obat dan segelas air putih yang ada di meja untukku. Ah, lega. Obat ini hebat sekali. Sekali telan langsung meredakan nyeri. Hmm, akan kunamai vitamin sajalah. Toh mulai sekarang aku harus meminumnya secara teratur. Seperti minum vitamin gitu.

“Sudah baikan?”, tanya Yuta.
“Un, terimakasih..”, jawabku. “Maaf ya, kau jadi repot..”
“Kau bicara apa? Repot apa? Kau kan tahu kalau aku ini nganggur..”
“Ya sudah pijat kakiku sini..”
“Bukan pesuruhmu juga!”, bantahnya menjitak kepalaku pelan.

Yuta berdiri meletakkan gelas dan obat itu ke meja yang lebih mudah kujangkau. Aku tiduran menatap langit-langit kamar.

“Kenapa kau tidak beritahu Takamura?”, pertanyaan itu tepat sasaran sekali.
“Mana bisa aku memberitahunya hal seperti ini? Baka Yuta..”, jawabku datar.
“Dia bahkan tahu kelakuan mesummu.. Dia tahu koleksi dan hobi unikmu.. Dia termasuk orang yang paling mengerti dirimu..”
“Paling mengerti diriku ya..?”, aku mengulang kalimat itu dengan ragu.

Aku dapat merasakan Yuta duduk bersandar pada kasurku. Anak ini kalau sudah bangun pasti susah tidur lagi. Hah, aku jadi merasa bersalah.

“Takamura adalah orang pertama yang bicara padamu waktu kau kehilangan jejak menuju Kaijou kan? Dia juga perempuan pertama yang menerima semua keanehanmu.. Kenapa tak coba kau ceritakan saja?”, kata Yuta.
“Tentu saja aku tidak tega menceritakan ini ke Rin.. Kau pikir bagaimana perasaannya nanti? Dia pasti akan sangat terluka dan sedih..”
“Takamura itu kuat.. Dia bukan tipe gadis yang bisa kau cemaskan bersedih hanya karena ini.. Dia adalah tipe yang akan berdiri di sampingmu, membantumu..”
“Kurasa aku tidak siap.. Melihatnya mencemaskanku..”

Kami lalu larut dalam keheningan. Berpikir pada pikiran masing-masing, kurasa. Aku memikirkan download-an blue film terbaru, sedang Yuta memikirkan hubunganku dengan Rin. Haha, bercanda. Aku memikirkan cara untuk bersikap normal di hadapan Rin besok.

“Tapi, Taeyong.. Tetap saja kau harus-“
“Sudah, daripada menasihatiku terus.. Lebih baik kau mempersiapkan lomba kreasi itu.. Sebentar lagi lho..”, selaku sebelum Yuta kembali merusuhi permasalahanku.
“Cih.. Kau kan juga ketuanya..”

“Oi, Yuta..”
“Apa?”, nada Yuta menjadi kesal.
“Hayashi.. Menurutmu dia percaya padaku?”
“Percaya pada kebohonganmu bergadang itu?”
“Ya..”, jawabku singkat.
“Kurasa seperti itu.. Bukankah kau mengharapkan dia untuk percaya?”
“Tentu saja..”
“Kalau begitu percayalah padanya..”

Ah, Yuta. Kau baik sekali. Kau memperbolehkanku mempercayai gadis yang kau sukai? Fufufufu. Tapi Yuta memang bukan tipe posesif sih. Terus kenapa aku malah memikirkan Yuta? Ah, bikin otak kotor saja.

“Sana cepat pacaran sama Hayashi.. Aku lelah melihat kalian.. Geregetan sendiri, tahu?”, celetukku sukses membuat Yuta tergagap.
“U-urusai (b-berisik)! Tidur saja, cepat!”

Aku terkekeh sambil memejamkan mata. Haha. Aku tidak sabar melihat YuHaku benar-benar terwujud. Kapan ya? Aku juga tidak sabar.. Bertemu dengan Rin besok. Aku pasti akan bangun kan? Tuhan, tambahkan sehari pada umurku setiap aku melihat senyum Rin.


$$$$$


Jam sudah menunjukkan lima pagi. Kediaman Takamura sangat hening saat ini. Kecuali dapur.
Hakuro sedang membuat dua set bento. Karena tak ingin memakai bahan keluarga Takamura, ia beli bahan di pasar subuh tadi. Asyik juga, masih sepi dan segar-segar sayurnya.

“Nona.. Apa yang sedang anda lakukan?”, tanya seorang pelayan yang akan menyiapkan sarapan.
“Oh, selamat pagi.. Maaf aku menggunakan dapur tanpa izin darimu..”, kata Hakuro.
“Aduh, nona.. Jangan terlalu sopan pada pelayan seperti saya.. Nona sedang apa? Ada yang bisa saya bantu?”
“Tidak, aku sudah selesai kok..”
“Bento ini untuk siapa?”
“Ee itu.. Untuk......”
“Untuk nona Takamura dan nona ya?”, tebak pelayan itu.
“Y-ya..”, jawab Hakuro tak yakin.

“Wah, ternyata nona pandai memasak juga ya.. Memakai dapurnya juga rapi dan teratur.. Persisi seperti nyonya Takamura..”
“Eh? Ibunya Rin?”
“Ya.. Beliau adalah wanita yang sangat ramah dan suka sekali memasak.. Masakannya sangat lezat lho!”

Hakuro hanya bisa berpikir. Kenapa Rin tidak pintar masak juga? Apa karena dia tidak suka? Ah, tapi untung ada Taeyong yang bisa ‘memaksa’ Rin untuk masuk dapur. Haha.

“Nakamoto-senpai... Mungkin ini bento pertama dan terakhir yang bisa kubuatkan untukmu.. Semoga kau suka..”, batin Hakuro menatap bento yang sudah siap dibawa ke sekolah.

“Eh? Maaf, paman.. Saya tidak begitu paham..”
“Aku tidak bisa memaksa putriku untuk membantuku dalam urusan pekerjaan ini.. Karena itu aku butuh bantuanmu, Hakuro..”
“Tapi....”

“Kau menolak? Tidak suka? Tidak tahu diri sekali..”, celetuk Michiko sinis.
“Michiko..”, tegas Yoshiko. “Hakuro, kau tidak perlu menyetujuinya kalau ini memberatkanmu.. Kau juga punya jalan dan pilihan sendiri..”

Hakuro masih diam menundukkan kepala. Menggantikan Rin..?

“Paman.. Saya bukannya menolak.. Tapi saya tidak sesempurna Rin.. Saya tidak yakin dengan mengajukan saya sebagai mempelai wanita dalam perjodohan itu, akan membuahkan hasil yang anda inginkan..”, ujar Hakuro.
“Bisa berpikir juga ya dirimu.. Kau tahu kalau kau tidak layak, bagus..”, kali ini Aiko yang berkomentar dengan sangat sinis.
“Kak Aiko, jangan seperti itu..!”, Yoshiko kembali menegaskan untuk tidak ikut campur. “Hakuro.. Kau itu cantik dan pandai.. Kau hanya kurang percaya diri.. Itu saja..”

Hakuro menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang ditatap Yoshiko.

“Anggap saja dia setuju.. Aku tidak sudi menghabiskan waktu hanya untuk menunggu jawaban dari orang yang menjadi parasit Takamura..”, kata nenek Takamura lalu bangkit berdiri sambil membuka kipas tangannya.

Nenek melangkah meninggalkan ruangan diikuti oleh para bibi dan paman.

“Hakuro.. Kau tidak keberatan kan?”, tanya Yoshiko.

Parasit Takamura. Menumpang. Tidak tahu diuntung. Kulakukan ini untuk balas budi.

“Ya, paman.. Aku bersedia..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar